Davidian Today This is the official website of GADSDA

Languages

Social

Global search
Use these syntaxes below to make advanced search
Sentence search: "Ancient David also was a young boy"
AndX search: King David
OrX search: King | David
NotX search: King ! David
Book search
Use these syntaxes below to make advanced search witin books
Reference search: 1tg2: or 1tg2:18 or 1tg2:18.3
Sentence search within book: 1tg2::"Ancient David also was a young boy"
Sentence search within book categories (tracts): tr::"The Jews before Christ’s day"
AndX search within book: 1tg2::King David
OrX search within book: 1tg2::King | David
NotX search within book: 1tg2::King ! David

Tongkat Gembala Jilid 2

Tongkat Gembala Jilid 2

TONGKAT GEMBALA
Jilid 2

By V. T. HOUTEFF

"Karena itu setiap ahli Taurat yang menerima

pelajaran dari hal Kerajaan Sorga itu seumpama tuan rumah

yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama

dari perbendaharaannya." Matius 13:52

TONGKAT GEMBALA, Jilid 2
Copyright, 1932

By

V.T. HOUTEFF

Universal Publishing Association

PO. Box 6965/JAT-PK, Jakarta 13710

e-mail : gadsdaid@yahoo.com

DAFTAR DARI GAMBAR-GAMBAR

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

PENGANTAR 

Buku ini diterbitkan bukan untuk menjelaskan, ataupun mengomentari kebenaran-kebenaran yang sudah diungkapkan sebelumnya, dan yang sudah diterima sebagai kebenaran, melainkan untuk mengungkapkan kenyataan-kenyataan yang sudah Allah pertahankan sepanjang banyak generasi, bukan saja untuk mencegah hilangnya, melainkan juga untuk mencegah ungkapan pengertiannya dari kebijaksanaan manusia. Dengan demikian, Dia yang mengawasi Alkitab itu akan dapat mengungkapkan kebenaran sekarang kepada umat-Nya pada sesuatu masa apabila diperlukan. Oleh sebab itu, walaupun kebenaran-kebenaran yang sedemikian ini aslinya adalah nubuatan, semua itu akan menjadi baru dan akan terbuka sebagai suatu surat yang langsung dari Allah kepada manusia pada masa pengungkapannya. “Demikianlah firman Allah Tuhan itu, ..... Bahwasanya perkara-perkara yang dahulu itu sekarang terjadi, dan perkara-perkara yang baru akan Ku nyatakan : sebelum hal-hal itu muncul Aku memberitahukannya kepadamu.” (Yesaya 42 : 5, 9). Sebab itu, akan terbukti bahwa isi dari buku ini adalah baru, menarik, bersifat petunjuk, membesarkan hati, dan mengubahkan. Pekabaran yang dibawakannya diajarkan melalui simbol-simbol dan contoh-contoh yang dilukiskan pada gambar-gambar bagan, menjadi sederhana, sehingga semua orang yang menyelidikinya mencari kebenaran dengan tujuan untuk mempersiapkan diri mereka pantas bagi lumbung surga, akan dapat dengan mudah memahaminya. 

Buku “Wahyu” dikatakan sebagai sebuah buku yang tertutup yang penuh dengan rahasia-rahasia simbolis, yang tidak dapat dimengerti oleh umat manusia. Ini memang benar berisikan semua kebenaran-kebenaran nubuatan. Orang yang mengakui akan kenyataan ini mengenai buku “Wahyu”, dengan sendirinya mengakui bahwa ia belum mengerti Alkitab; sebab semua buku Alkitab bertemu dan berakhir di dalam “Wahyu”. Oleh sebab itu, memahami buku itu berarti memahami Alkitab. “Dia yang mengungkapkan segala rahasia itu kepada Yohanes akan mengaruniakan kepada penyelidik kebenaran yang rajin suatu rasa pendahuluan terhadap perkara-perkara Samawi. Orang-orang yang hatinya terbuka untuk menerima kebenaran akan kelak dimungkinkan untuk memahami ajaran-ajaran dari kebenaran itu, dan mereka akan dikaruniai berkat yang dijanjikan kepada orang-orang yang ‘mendengarkan segala perkataan nubuatan ini, dan yang memeliharakan segala perkara yang tertulis di dalamnya’.” -- “The Acts of the Apostles”, halaman 584, 585. Dengan demikian, apabila buku Wahyu dapat dipahami, maka ia itu akan membuka pintu Rumah Perbendaharaan yang besar dan mengungkapkan semua rahasia nubuatan yang tersimpan di dalamnya. 

Pekabaran di dalam buku ini telah dinubuatkan waktunya melalui perumpamaan tentang “Tuan Rumah” yang mengutus para pekerja ke dalam “Kebun Anggur”-Nya. (Matius 20 : 1 – 16). Membuktikannya sebagai “panggilan” “jam kesebelas”, -- yang terakhir, dan pada masanya yang tepat. Kenyataan bahwa ungkapan Alkitab yang indah ini tidak dapat ditentang, membuktikan bahwa pekabaran ini benar dan Ilhamnya pun benar. Panggilan nubuatan ini didasarkan pada nubuatan-nubuatan Daniel, dan penjelasannya yang dibuat

oleh buku Wahyu. Demikianlah ia itu dijelaskan secara simbolis. Simbol-simbol nubuatan mengenai binatang-binatang buas, sayap-sayap, tanduk-tanduk, kepala-kepala, mahkota-mahkota dan sebagainya, membuktikan merupakan simbol-simbol yang sangat sempurna dalam mengungkapkan kebenaran yang dilambangkan olehnya dan bilamana diaplikasikan dengan benar maka pasti pengertiannya tidak dapat disalah-artikan.

Karena kekacauan zaman ini dan kesalah-pahaman terhadap Alkitab di antara dunia Kristen dibuktikan oleh banyaknya sekte agama yang ada, adalah jelas bahwa gereja-gereja sedang berada dalam tuduhan Laodikea : “Menyedihkan, dan sengsara, dan miskin, dan buta, dan bertelanjang”. Maka oleh menyangkal tuduhan dari pernyataan yang jelas ini membuktikan bahwa kata-kata dari “Saksi Yang Setia” yang berbunyi, “padahal tidak kamu ketahui”, adalah benar. Sementara mereka itu mengira mereka adalah benar, maka “Saksi Yang Setia” menyatakan : “Kamu sekalian adalah salah”. Bukankah ini kesesatan yang besar sekali? (Bacalah Wahyu 3 : 14 – 18). Oleh karena Alkitab mengatakan dengan jelas, bahwa adalah “kebenaran” yang akan “membebaskan” kita, maka kita tidak dapat memeriksa diri sendiri dengan seksama berikut perkara-perkara yang kita percayai, karena jika dari Kekristenan yang multi-sekte ini saja tidak ada dua sekte yang sama pahamnya, maka jelas bahwa kebanyakan mereka, jika bukan semuanya, adalah buta. Dan karena Alkitab adalah benar dalam kata-katanya : “Jika orang buta memimpin sesama orang buta, keduanya akan jatuh ke dalam selokan”, maka tidak akan ada gunanya untuk memperdebatkan kebenaran -- dunia sedang menuju ke dalam “selokan”. Tidakkah ucapan yang tak terbantahkan ini membangunkan umat Allah dari kantuk dan tidur mereka? Pengalaman-pengalaman yang lalu membuktikan, bahwa banyak orang akan mengatakan “Itu bukan saya”. Karena mengetahui bahwa kesesatan ini akan muncul di akhir zaman, maka Allah telah menciptakan gambaran lambang kebenaran ini, dengan mana Ia dapat menerangi sidang-Nya dan memanggil keluar umat-Nya.

Sementara musuh berhasil mengacaukan Firman yang tertulis, maka Allah menerangi bumi dengan kemuliaan-Nya melalui wahyu-wahyu simbolis ini; dan dengan mana Ia mengungkapkan seluruh kebenaran dan mengungkapkan semua jerat-jerat Iblis. Demikianlah melalui contoh-contoh dan simbol-simbol Ia membuat orang-orang yang sederhana menjadi bijaksana, dan orang-orang yang pandai menjadi kacau oleh menunjukkan, bahwa dimana tidak ada contoh maka di sana pun tidak ada kebenaran.

Buku ini berisikan suatu wahyu simbolis yang lengkap mengenai seluruh sejarah dunia, baik sipil maupun agama. Alasan mengapa semua keajaiban ini digambarkan dengan simbol-simbol adalah sama dengan apa yang telah menyebabkan Kristus mengajar melalui perumpamaan-perumpamaan. “Maka datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya (Kristus) : Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka itu dalam perumpamaan-perumpamaan? Jawab Yesus kepada mereka itu; Karena telah dikaruniakan kepadamu untuk mengetahui segala rahasia tentang kerajaan surga, tetapi kepada mereka itu tidak dikaruniakan.” (Matius 13 : 10, 11). “Tetapi orang jahat itu akan makin berbuat jahat; dan tak seorangpun dari orang jahat itu akan mengerti; tetapi orang bijaksana akan mengerti.” (Daniel 12 : 10). “Maksud utama dari mengajar dengan menggunakan perumpamaan-perumpamaan ialah supaya kebenaran itu dapat diungkapkan kepada anak-anak Allah dan pada waktu yang sama ia itu dirahasiakan dari musuh-musuh-Nya. ..... Karena alasan-alasan yang sama inilah nubuatan-nubuatan yang menggambarkan kuasa-kuasa

anti-Kristen berikut pekerjaan mereka sejak mulanya sampai kepada akhir sejarah harus diselimuti dalam bahasa simbolis dan perumpamaan untuk menjamin penyimpanannya.” -- “Pelajaran Sekolah Sabat Kwartalan”, halaman 33. Kwartal Kedua, tahun 1932. “Kristus adalah landasan dari perekonomian orang-orang Yahudi. Keseluruhan sistem mengenai contoh-contoh dan simbol-simbol adalah merupakan suatu nubuatan Injil yang padat, yaitu suatu penyajian dalam mana terikat janji-janji penebusan.” -- “The Acts of the Apostles”, halaman 14.

Masing-masing pokok masalah ini masih dapat diperbesar seluas-luasnya, tetapi kalau saja kami berbuat begitu, maka buku ini akan menjadi berjilid-jilid lagi, dan juga akan menjadi kurang berarti. Demikianlah kami tidak menggunakan banyak perincian yang mendetail. 

PENULIS

(Semua penebalan huruf adalah dari kami)

DALAM CARA BAGAIMANAKAH INJIL TELAH DIBERIKAN? 

CARANYA ALLAH BERBICARA KEPADA KITA

“Allah yang pada beberapa kali dan dalam berbagai cara telah berbicara pada zaman dahulu kepada segala nenek moyang oleh perantaraan para nabi, di akhir zaman ini Ia telah berbicara kepada kita oleh perantaraan Anak-Nya.” (Ibrani 1 : 1). Allah memanggil Abraham oleh suara-Nya, Ia juga bercakap-cakap dengan dia oleh perantaraan malaikat-malaikat, dan berbagai mimpi. (Kejadian 12 : 1; 15 : 12, 13; 17 : 1 – 6; 18 : 1 – 22). Yakub juga memiliki pengalaman yang sama. (Lihat Kejadian 28 : 12; 32 : 1, 2). Aku yang besar itu berbicara kepada hamba-Nya Musa dari dalam belukar duri yang bernyala-nyala. (Keluaran 3 : 1 - 10). Israel mendengar suara Allah dari awan-awan yang di atas gunung Sinai. (Keluaran 20 : 18, 19). Sepuluh perintah itu telah “ditulis dengan jari Allah”. (Keluaran 31 : 18). Firaun raja Mesir dan Nebukadnezar raja Babil telah diberikan mimpi-mimpi, tetapi Roh Allah oleh perantaraan Yusuf dan Daniel mengungkapkan rahasia-rahasianya. (Kejadian 41 : 28 – 36; Daniel 2 : 19). Daud dan Salomo menulis kitab Mazmur dan kitab Amsal, bukan oleh perantaraan khayal-khayal, mimpi-mimpi ataupun malaikat-malaikat, melainkan oleh suara Roh Allah yang diam yang tertera di dalam pikiran dari hamba-hamba-Nya. Allah berbicara kepada Esther dan Ruth melalui pengalaman-pengalaman yang telah dialami karena takdir Ilahi. Yohanes memperoleh “Wahyu” melalui berbagai khayal. Allah berbicara kepada kita juga melalui contoh-contoh dan contoh-contoh saingan -- melalui hukum upacara bayangan, melalui para kepala suku, dan melalui pengalaman-pengalaman dari Israel kuno yang lalu. (Lihat “Tongkat Gembala”, Jilid I, halaman 223 – 235, bahasa Inggris).

Allah menggunakan orang mati dan orang hidup, binatang-binatang buas di padang, burung-burung di udara, ikan di laut, daratan dan air, matahari, bulan dan bintang-bintang, untuk mengungkapkan rencana Ilahi-Nya dan untuk menunjang semua hamba-Nya, dan sebagainya. (Lihat Kejadian 16 : 7, 9; 1 Samuel 6 : 7 – 15; Bilangan 22 : 30; 1 Raja-raja 17 : 4 – 6; Yunus 2 : 10; Matius 17 : 27; Bilangan 16 : 32; Matius 24 : 29). Allah mempunyai seribu satu macam cara oleh mana Ia dapat memberikan bantuan dalam sekejap mata. Sesungguhnya apa lagi yang dapat diperbuat oleh kasih Ilahi bagi umat manusia yang jatuh? 

BAGAIMANAKAH INJIL DIUNGKAPKAN, DAN DIINTERPRETASIKAN DENGAN SEPATUTNYA? 

Analisa terhadap sejarah kuno dan modern, baik mengenai hal-hal yang suci maupun yang duniawi, membuktikan bahwa kebenaran yang termeterai atau kebenaran nubuatan tidak pernah diungkapkan melalui sistem pendidikan dunia, atau oleh kepandaian manusia, melainkan hanya oleh kuasa Allah. Jika sekiranya benar, maka memang demikianlah halnya. Yesus mengatakan : “Apabila Ia, yaitu Roh Kebenaran, Datang, maka Ia akan memimpin kamu ke dalam semua kebenaran.” (Yohanes 16 : 13). Kristus menyatakan dengan jelas, bahwa kita dipimpin ke dalam kebenaran, bukan oleh kepintaran manusia melainkan oleh Roh Allah. Bukan ke dalam beberapa kebenaran, melainkan dalam semua

kebenaran. Bilamana Allah mengungkapkan kebenaran, maka Ia mampu untuk memimpin semua hamba-Nya dalam segala kebenaran, dan Ia tidak akan membiarkan peralatan-peralatan yang sedemikian untuk mencampurkan kebenaran-Nya dengan kesalahan. Walaupun mereka mungkin belum dapat memahami semuanya, namun pekabaran yang mereka bawa adalah kebenaran dan tak lain terkecuali kebenaran. Oleh sebab itu, kebenaran-kebenaran yang sedemikian ini pada dasarnya diungkapkan oleh Ilham saja. Apabila waktu yang ditentukan secara Ilahi digenapi, maka Allah memanggil hamba-hamba pilihan-Nya sendiri, lalu oleh Roh Kebenaran diungkapkan sebagian dari Firman-Nya kepada mereka. Biasanya dalam bentuk sebuah pekabaran yang harus pertama sekali mereka bawa kepada sidang.

Oleh kuasa yang sama Allah menggerakkan banyak hamba-Nya, yaitu para nabi, masing-masing mereka menuliskan satu bagian dari Alkitab; dan setelah dikumpulkan ia itu menjadi sebuah buku yang lengkap, yang membicarakan hanya suatu masalah utama -- yaitu keselamatan dalam Kristus. Walaupun sebagian dari para penulis ini hidup beratus-ratus tahun secara terpisah, namun setiap bagian dari Injil adalah sejalan dengan sempurna, -- yang satu menerangi yang lainnya. Dengan demikian terbukti bahwa Allah adalah pengawas dari Alkitab dan Ia memimpin semua hamba-Nya dengan cekatan ke dalam semua kebenaran. 

DOSA MELAWAN ROH SUCI, APAKAH ITU? 

Sebagaimana Alkitab adalah bebas dari kekeliruan, maka demikian pula hasil interpretasinya di bawah Roh Ilham yang sama harus juga benar. Oleh karena itu, hasil interpretasi Alkitab adalah benar, hanya apabila ia itu diungkapkan melalui sesuatu saluran Ilham. Tidak ada cara lain, dimana Allah dapat memimpin umat-Nya ke dalam segala kebenaran. Apapun saja yang kurang dari ini tidak akan dapat mengungkapkan kebenaran Alkitab, betapapun sederhananya. Kata malaikat itu kepada Daniel : “Tetapi aku akan menunjukkan kepadamu apa yang tertulis di dalam Injil kebenaran : dan tidak ada seorangpun yang membantuku dalam segala perkara ini, terkecuali Mikhail penghulumu.” (Daniel 10 : 21). Salah satu dari karunia-karunia bagi sidang dalam sejarah Kristen ialah “nabi-nabi”. “Maka Ia mengaruniakan sebagian orang, rasul-rasul; dan sebagian nabi-nabi.” (Efesus 4 : 11). 

Kembali Paulus menyatakan mengenai Alkitab pada zamannya dan kemudian : “Yang pada segala zaman lainnya belum diberitahukan kepada segala anak manusia, seperti halnya sekarang diungkapkan kepada Rasul-Rasul dan Nabi-Nabi-Nya yang suci oleh perantaraan Roh.” (Efesus 3 : 5). Apabila kebenaran Injil disampaikan oleh hamba-hamba Allah, “surat itu” dapat dipahami oleh semua orang yang mempelajarinya; tetapi roh yang sama dibutuhkan untuk memeteraikan, mengubah hati, dan mengarahkan langkah-langkah ke dalam kehidupan yang baru. Kuasa pengubahan ini diberikan hanya setelah penerima kebenaran bertobat dari dosanya dengan kerendahan hati, menyangkal dunia dan menerima Kristus. Bilamana pekabaran yang sedemikian ini disampaikan, orang-orang yang menentang juru-kabarnya dan menolak kebenaran, mereka itu menolak Roh, dan berdosa melawan Dia. Roh yang terdapat dalam sebuah pekabaran adalah satu-satunya media untuk membangkitkan hati. Bilamana mendurhaka melawannya, maka orang berdosa itu memutuskan dirinya dari saluran komunikasi yang menghubungkan dia dengan Allah. “Oleh sebab itu

Aku mengatakan kepadamu : Semua jenis dosa dan hujat manusia akan diampuni tetapi Hujat melawan Rohulkudus tidak akan dapat diampuni. Maka barangsiapa mengucapkan sesuatu perkataan melawan Anak Manusia, akan dapat diampuni; tetapi barangsiapa berbicara melawan Rohulkudus, tidak akan dapat diampuni, baik di dalam dunia ini, maupun di dalam dunia yang akan datang.” (Matius 12 : 31, 32).

Dunia sebelum air bah telah berdosa melawan Rohulkudus, sebab mereka tidak percaya kepada pekabaran kebenaran yang telah dikirim untuk menyelamatkan mereka dari air bah yang mengerikan itu. Oleh sebab itu, mereka telah binasa dalam dosa yang tidak pernah lagi dapat diampuni. Inipun sama halnya apabila seseorang memberontak melawan pekabaran samawi dalam setiap generasi. Manusia bukanlah dihukum karena mereka telah berdosa, melainkan mereka dihukum apabila mereka menutup telinganya terhadap panggilan Ilahi yang akan menyelamatkan mereka dari dosanya. 

Karena semua kebenaran nubuatan adalah diungkapkan pada masanya, maka terbukti, bahwa tidak ada apapun yang dapat diungkapkan oleh kepintaran manusia, betapapun sederhana hal itu. Bilamana Allah mengungkapkan sebagian dari Firman-Nya yang suci melalui salah satu dari alat-alat pilihan-Nya, maka analisa sejarah membuktikan, bahwa semua itu tidak pernah salah sejauh yang bersangkutan dengan pekabaran yang mereka kemukakan. Adalah juga benar, bahwa orang-orang yang keliru dalam pekabaran kebenaran perkiraan mereka, mereka itu belum memiliki kebenaran apapun. Demikian inilah rasul yang besar itu mengatakan : “Tetapi Allah telah mengungkapkan semuanya itu kepada kita oleh Roh-Nya : karena Roh itu menyelidiki segala perkara, walaupun perkara-perkara Allah yang dalam sekalipun. Karena siapakah gerangan mengetahui perkara-perkara manusia selain roh manusia sendiri yang terdapat di dalam dirinya? Demikian pula tiada seorangpun mengetahui perkara-perkara Allah, terkecuali Roh Allah saja. Sekarang kita telah menerima roh bukan dari dunia ini, melainkan Roh yang berasal dari Allah; supaya kita dapat mengetahui segala perkara yang dikaruniakan Allah kepada kita dengan cuma-cuma. Perkara-perkara mana juga yang kita bicarakan, bukan dalam kata-kata yang diajarkan oleh kepintaran manusia, melainkan yang diajarkan oleh Rohulkudus; bandingkanlah perkara-perkara rohani dengan rohani. Tetapi manusia yang fana tidak mau menerima perkara-perkara yang berasal dari Roh Allah : karena semuanya itu baginya adalah kebodohan : dan tiada ia mengenalinya karena semua itu harus dilihat secara rohani.” (1 Korintus 2 : 10 – 14). Oleh sebab itu, apabila sesuatu pekabaran diberitakan, maka itu akan merupakan seluruhnya kebenaran atau tidak ada kebenaran sama sekali di dalamnya, terkecuali hanya tulisan-tulisan dari para nabi. 

“Namun dari kenyataan bahwa Allah telah mengungkapkan kehendak-Nya kepada manusia melalui Firman-Nya, bukanlah memberikan kehadiran dan bimbingan Roh Suci yang terus menerus itu secara tak berguna. Sebaliknya Roh itu memang dijanjikan oleh Juruselamat kita untuk membuka Firman kepada hamba-hamba-Nya, untuk menerangi dan menggunakan ajaran-ajaran-Nya. Dan karena itu adalah Roh Allah yang telah mengilhami Alkitab, maka adalah tidak mungkin bahwa ajaran dari Roh pernah bertentangan terhadap apa yang berasal dari Firman.” -- “The Great Controversy”, halaman VII.

Barangsiapa yang cenderung untuk mempertanyakan kemampuan Allah untuk memimpin seseorang ke dalam semua kebenaran, adalah bukan saja menyangkal kesetiaan Firman-Nya secara tidak sadar, melainkan juga mereka mengecilkan kuasa-Nya oleh perbuatan mereka, dan dengan demikian mereka “Membatasi Dia yang Suci dari Israel itu”. (Mazmur 78 : 41). 

“Roh bukanlah diberikan -- ataupun dapat ia itu senantiasa dikaruniakan -- untuk menggantikan Alkitab; karena Injil menyatakan secara terbuka bahwa Firman Allah adalah standar ukuran oleh mana semua ajaran dan pengalaman harus diuji. Rasul Yohanes mengatakan, ‘Janganlah percaya setiap roh, melainkan ujilah roh-roh itu apakah mereka itu dari Allah datangnya : sebab banyak nabi palsu telah keluar ke dalam dunia.’ (1 Yohanes 4 : 1). Dan Yesaya menyatakan, ‘Akan Torat dan Kesaksian, jika mereka itu berbicara tidak sesuai dengan perkataan ini, ia itu adalah karena tidak ada terang dalam mereka.’ “ (Yesaya 8 : 20) -- “The Great Controversy”, halaman VII. 

“Sebutan ‘nabi’ sebagaimana digunakan di dalam Alkitab ..... adalah digunakan untuk menunjukkan laki-laki dan perempuan yang melibatkan diri dalam suatu pelayanan yang luas dalam kaitannya dengan pekerjaan Allah. Sebagian dari mereka ini tidak pernah mengucapkan sesuatu nubuatan sebagaimana umumnya dipahami ..... Sebagian mereka digunakan hanya bagi suatu kesempatan khusus, yang lain-lainnya bagi suatu urutan tahun-tahun yang panjang. Sebagian mereka menuliskan pekabaran yang diungkapkan Allah kepada mereka, dan yang lainnya menyampaikan semuanya itu secara lisan saja. Kepada beberapa orang, seperti dalam halnya Daniel dan lain-lainnya telah diberikan nubuatan-nubuatan yang berlaku sampai kepada masa depan yang jauh, yang mana sebagiannya sampai kepada hari ini belum lagi digenapi. 

“Sebagian mereka adalah utusan-utusan Allah yang bangkit dalam periode-periode krisis yang hebat, untuk mengamarkan kepada sidang dan dunia mengenai pehukuman-pehukuman yang mengancam, serta untuk memanggil manusia kembali setia kepada Allah. Mereka yang sedemikian ini adalah Samuel, Eliyah, Yohanes Pembaptis, dan lain-lain. Yohanes menolak gelar nabi itu, ia lebih suka disebut suara Allah atau seorang utusan Allah yang dikirim untuk mempersiapkan jalan Tuhan dalam memanggil Israel kepada pertobatannya. Tetapi sebagai utusan Allah ia oleh Kristus dinyatakan sebagai seorang nabi, dan ‘bahkan lebih daripada seorang nabi’. Lukas 7 : 26. ‘Sesungguhnya Tuhan tidak akan berbuat sesuatu perkara, terkecuali Ia mengungkapkan segala rahasia-Nya kepada hamba-hamba-Nya, yaitu nabi-nabi’.” Amos 3 : 7. -- “The Present Truth”, Jilid 5, No. 72. 

“Dalam hal yang setinggi-tingginya nabi adalah seseorang yang berbicara dengan diilhami secara langsung, yang meneruskan kepada umat pekabaran-pekabaran yang diperolehnya dari Allah. Tetapi nama ini diberikan juga kepada orang-orang, yang walaupun tidak diilhami secara langsung, mereka adalah dipanggil oleh Tuhan untuk memberi petunjuk kepada umat dalam semua perbuatan dan jalan-jalan Allah.” -- “Education”, halaman 46. 

Utusan-utusan surga ini umumnya adalah laki-laki dan perempuan-perempuan yang bertabiat sederhana; sebagian mereka tidak dapat membaca ataupun menulis. Walaupun tidak memiliki keuntungan-keuntungan yang biasa dipunyai oleh orang-orang besar, namun alat-alat ini di dalam tangan Yang Maha Kuasa, membuat pengetahuan manusia dan kebesaran dunia ini tenggelam menjadi tak berarti. Demikianlah

melalui metoda-metoda ini Allah telah mengungkapkan kuasa pengubahan-Nya dalam mesin manusia; baik dalam kepandaian maupun dalam tabiatnya. Mendurhaka melawan alat-alat pilihan Allah ialah tidak mengakui kuasa-Nya dalam hubungan dengan manusia, sehingga menempatkan manusia yang terbatas di atas Tuhan yang tak terbatas, yang dapat mendatangkan lebih banyak pengetahuan dalam sekejap, daripada manusia yang dapat melakukannya dalam seumur hidupnya. 

Walaupun semua kebenaran diungkapkan melalui saluran-saluran yang diilhami, namun peralatan dari kejahatan seringkali mencampuradukkan semua kebenaran itu dengan kekeliruan. Pekerja-pekerja kejahatan yang sedemikian ini seringkali menggunakan bagian-bagian dari ungkapan Ilahi, menggunakannya secara tidak sah sebagai pegangan untuk menyampaikan kekeliruan, lalu dengan demikian menyesatkan yang sederhana. Janganlah seorangpun menyombongkan dirinya bahwa mereka dapat menghindari cengkeraman-cengkeraman Iblis oleh usaha orang lain yang bersungguh-sungguh. Setiap orang harus menyelidiki bagi dirinya sendiri untuk memahami kedudukannya, lalu dengan pikiran sehat siap untuk mendengar semua orang dengan suatu roh dapat diajar dari anak kecil. “Sesungguh-sungguhnya Aku berkata kepadamu, Barangsiapa yang tidak menerima kerajaan Allah itu seperti seorang anak kecil, tiadalah ia akan masuk ke dalamnya.” (Markus 10 : 15). Keraguan-keraguan, telah menyesatkan dan menghancurkan lebih banyak jiwa daripada setiap jerat yang pernah dibuat oleh penipu yang besar itu. Orang yang menolak untuk mendengarkan alasan-alasan yang dikemukakan oleh orang lain ialah orang yang terbodoh. Orang yang sedemikian ini biasanya ragu-ragu sebab argumentasi yang dikemukakan kepadanya bertentangan dengan pandangannya mengenai masalah tersebut, atau mungkin karena ia menganggap dirinya lebih pandai atau berkedudukan sosial yang tinggi sekali. Orang-orang lain tidak mau mendengar kebenaran, sebab kebenaran itu melukai hati mereka yang berdosa dan karena mereka takut bahwa mereka harus berpisah meninggalkan keinginan pribadi mereka. Kelas orang-orang ini berada di bawah kuasa Iblis, dan sedang dalam perjalanan menuju kepada kebinasaan yang kekal -- karena berdosa melawan Rohulkudus. Orang-orang yang jujur dalam kesalahan-kesalahan mereka ialah orang-orang yang didapati di dalam keranjang penyanderaan Iblis. Kelas orang-orang ini adalah yang tersulit untuk dibuat insyaf, bahwa mereka sedang dalam perjalanan menuju ke neraka. 

* * *

MEMPERKENALKAN KRISTUS PENEBUS KITA 

TIGA HARI DAN TIGA MALAM DI DALAM JANTUNG BUMI 

Pertanyaan mengenai berapa lama Kristus tinggal di dalam kubur, dan hari pada saat Ia dikuburkan dan dibangkitkan, telah banyak diperbincangkan seperti juga halnya dengan setiap masalah Alkitab lainnya. Sejumlah teori telah dikemukakan dan tidak dapat disangkal bahwa banyak waktu yang berharga telah dihabiskan; namun, kekacauan yang timbul dari masalah tersebut tidak berkurang, melainkan justru meningkat. 

Ada orang yang bertanya, “Apakah hubungannya itu dengan keselamatan kita?” Itu mungkin tidak banyak berhubungan dengan keselamatan seseorang, tetapi tampaknya bahwa dengan orang-orang lain itu banyak hubungannya. Salah seorang Saudari mengatakan sebagai berikut : “Saya percaya semua yang diajarkan oleh gereja S___ tetapi saya tidak dapat menyetujui pendirian yang dipegang oleh Saudari W___ mengenai masalah penguburan dan kebangkitan Kristus. Saya tahu bahwa Kristus selama tiga hari dan tiga malam berada di dalam kubur, tetapi Saudari W___ mengatakan bahwa Ia dikuburkan pada hari Jumat sore dan bangkit pada hari Minggu pagi. Oleh sebab itu saya tidak dapat mempercayai semua tulisannya, dan karena alasan inilah saya tidak jadi dan tidak mau menjadi anggota dari gereja anda.”

Kesalah-pahaman mengenai masalah ini telah menghalangi Saudari ini untuk menggabungkan diri dengan sidang. Kini, kalau saja gereja yang dimaksud itu memiliki kebenaran bagi dunia pada waktu ini, dan kesalah-pahaman Saudari ini telah menghalanginya dari menyambut kebenaran itu, maka kita harus akui bahwa masalah yang banyak diperbincangkan ini sedikit-sedikitnya ada hubungannya dengan keselamatan sebagian orang. 

Yesus mengatakan : “Pintalah, maka ia itu akan diberikan kepadamu; caharilah, maka engkau akan mendapatkannya; ketuklah, maka ia itu akan dibukakan bagimu : karena setiap orang yang meminta akan memperoleh; dan barangsiapa yang mencari akan menemukan; dan kepada orang yang mengetuk ia itu akan dibukakan.” (Matius 7 : 7, 8). 

Tidak ada apapun yang lebih berkenan kepada Allah daripada bagi salah seorang dari anak-anak-Nya yang memohon kepada-Nya dalam iman akan jalan kebenaran. Kalau saja terdapat sesuatu kuasa dalam kata-kata Yesus, maka sesungguhnya barangsiapa yang rindu mengetahui kebenaran dan rela mematuhinya, walaupun ia itu mungkin mengharuskan dia menjualkan semua hartanya untuk diberikan kepada orang miskin, serta menyangkal dunia berikut semua daya tariknya, jiwanya tidak akan mungkin tetap tinggal dalam kegelapan. Hendaklah penyelidik kebenaran bertekad sedemikian ini kepada Allah lalu dengan demikian mencoba kuasa-Nya dan janji-janji-Nya yang tidak pernah gagal itu

melalui kata-kata dari Anak-Nya. Tetapi walaupun hal itu mungkin menyesatkan manusia, kita tidak pernah dapat memperdaya Allah, karena Ia tahu apa yang terkandung di dalam hati. 

Salah satu alasan utama mengapa timbul kekacauan di antara para penyelidik Alkitab ialah karena mereka tidak sepenuhnya bergantung pada ucapan kata-kata dari Alkitab. Mereka menyangka dirinya lebih pandai daripada para nabi yang telah diilhami dengan Roh Allah, lalu dengan demikian mereka ingin mengoreksi beberapa kata dan arti dari Alkitab yang suci itu. Oleh karena itu orang-orang fana yang serba terbatas telah mencoba untuk meluruskan dan mengoreksi Dia Yang Tak Terbatas itu, yang hikmat pengetahuan-Nya, kuasa-Nya, dan penglihatan-Nya adalah tak terduga. Walaupun mereka sadar bahwa hasil interpretasinya terhadap sesuatu ayat adalah sama sekali tidak sesuai dengan keseluruhan isi buku dan hukum, mereka tidak melihat adanya luka, dan mereka tidak takut kepada Allah. Dan bilamana kenyataan ini diungkapkan mereka tetap menolak untuk menggantikan kekeliruan mereka itu dengan kebenaran, sebab kebenaran ini bertentangan dengan theologi mereka yang palsu. Kami mengundang perhatian pembaca yang sungguh-sungguh terhadap masalah ini, dan agar ia memperhatikan akan keselarasan Injil yang indah dan hikmat pengetahuan besar yang digunakan di dalamnya. 

Saudari itu ditanya : “Di mana terdapat bukti anda, bahwa Kristus berada tiga hari dan tiga malam di dalam kubur?” Ia mengatakan : “Jawaban saya adalah terdapat di dalam Matius 12 :  40, ‘Karena sebagaimana Yunus selama tiga hari dan tiga malam berada di dalam perut ikan paus, demikian itu pula kelak Anak Manusia akan berada selama tiga hari dan tiga malam di dalam jantung bumi’.” Kembali ia ditanya, “Pada hari apakah menurut anda Kristus telah mati?” Ia mengatakan : “Yohanes 19 : 31 memberikan jawabannya : “Maka sebab hari itu adalah hari persiapan, datanglah orang-orang Yahudi itu memohon kepada Pilatus, agar jangan mayat-mayat mereka itu tetap tergantung di kayu salib pada hari Sabat (karena hari Sabat adalah hari Besar), mereka memohon agar kaki-kaki mereka itu dapat dipatahkan saja, dan agar mayat-mayat itu dapat dibawa pergi.” Di sini dijelaskan oleh perempuan itu bahwa itu tidak mungkin hari persiapan menghadapi Sabat hari yang ketujuh, karena Sabat itu adalah suatu hari ‘Besar’. Jadi itu adalah persiapan menghadapi paskah -- Hari Rabu. Kemudian ia mulai menghitung, “Kamis (1), Jumat (2), Sabtu (3); Rabu malam (1), Kamis malam (2), Jumat malam (3). Dengan demikian ada tiga hari dan tiga malam.” 

Menurut alasan yang dibuat oleh Saudari ini ia menyangka bahwa penjelasannya itu adalah benar tak dapat dibantah lagi. Tetapi perhatikan bahwa Kristus mati pada jam sembilan, tepat tiga jam sebelum berakhirnya hari itu (Matius 27 : 46 – 50) dan Ia dikuburkan pada saat masuk matahari -- yaitu jam 12. (Lukas 23 : 52 – 56). 

Kalau saja Ia dikuburkan pada hari Rabu, Ia sudah akan berada selama tiga hari penuh dan empat malam penuh di dalam kubur, karena Alkitab menyatakan dengan jelas : “Pada akhir dari Sabat itu, yaitu waktu dini hari pada hari yang pertama dari minggu itu, (hari Minggu pagi), datanglah Maria Magdalena dan Maria yang lain itu hendak melihat kubur itu.” (Matius 28 : 1). Kembali kita kutip dari Markus 16 : 9, “Kini setelah

Yesus bangkit pagi-pagi sekali pada hari yang pertama dari minggu itu, maka pertama sekali kelihatanlah Ia kepada Maria Magdalena.” 

Marilah kita memeriksa teori ini dari segi pandangan yang lain. Yesus mengatakan : “Kamu tahu bahwa dua hari lagi adalah perayaan Paskah, maka Anak Manusia akan dihianati untuk disalibkan.” (Matius 26 : 2). “Kemudian (setelah dua hari itu) berkumpullah imam-imam kepala ..... dan mereka berunding bagaimana mereka dapat mengambil Yesus secara tipu muslihat dan membunuh-Nya.” (Ayat 3, 4). Waktu Yesus mengucapkan kata-kata : “Kamu tahu bahwa dua hari lagi adalah perayaan Paskah”, tidak mungkin lebih lambat daripada permulaan hari Selasa, kalau memang perayaan Paskah itu berlangsung pada hari Kamis. Kemudian semua yang terjadi dalam kaitannya dengan pemeriksaan terhadap diri-Nya, penyaliban-Nya, kematian-Nya, dan penguburan-Nya harus sudah terlaksana semenjak hari Selasa pagi sampai kepada hari Rabu masuk matahari, yang mana tidak akan mungkin sesuai dengan daftar waktu dari Alkitab seperti yang hendak kami kemukakan. 

Perhatikan firman Injil berikut ini : “Sekarang hari pertama dari perayaan hari raya roti tidak beragi datanglah murid-murid itu kepada Yesus lalu mengatakan, ‘Di manakah Engkau mau agar kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?’ Inilah hari persiapan bagi perjamuan Paskah itu. “Maka kata-Nya, Pergilah kamu ke dalam kota kepada seseorang yang sedemikian, lalu katakanlah kepadanya, Pesan Guru, Waktu-Ku hampir tiba; Aku hendak merayakan Paskah di rumahmu bersama-sama dengan murid-murid-Ku. Maka murid-murid itupun berbuat sesuai yang ditugaskan Yesus kepada mereka; lalu mereka mempersiapkan Paskah itu. Sekarang setelah malam tiba, duduklah Ia bersama-sama dengan dua belas murid-Nya itu. Dan sementara mereka makan, maka kata-Nya, sesungguhnya Aku berkata kepadamu, bahwa salah seorang dari antara kamu akan menghianati Aku.” (Matius 26 : 17 – 22). Perayaan Paskah itu hanya dapat diselenggarakan sesudah matahari masuk pada permulaan dari hari yang pertama dari hari raya roti tidak beragi : “Pada hari keempat belas dari bulan pertama pada malam hari adalah Paskah Tuhan”. (Imamat 23 : 5). Ini adalah hari yang terakhir persiapan bagi Paskah itu. Oleh karena itu, Yesus belum lagi berada dalam tangan imam-imam itu pada waktu persiapan bagi perayaan Paskah itu, bahkan sama sekali Ia belum lagi disalibkan. Selanjutnya, Kata-kata Matius adalah jelas mengenai masalah ini sehingga tidak mungkin lagi untuk dibantah : “Dan sementara mereka makan (Paskah itu), maka kata-Nya, sesungguhnya Aku berkata kepadamu, bahwa salah seorang dari antara kamu akan menghianati Aku.” (Matius 26 : 21). Bagaimanakah dapat Yesus makan Paskah bersama-sama dengan dua belas murid-Nya itu kalau memang Ia sudah disalibkan dan dikuburkan? Kita selalu bersedia untuk menerima kebenaran, tetapi bilamana teorinya bertentangan dengan Injil, maka janganlah kita tunduk kepada kesimpulan-kesimpulan yang salah, karena, barang-siapa yang percaya kepada sesuatu kebohongan ialah suatu kekejian bagi Allah. 

Ijinkanlah kami menjernihkan pertentangan ini oleh kenyataan-kenyataan yang dapat tahan uji. Hendaklah diingat oleh pembaca, bahwa Paskah adalah suatu perayaan tujuh hari, atau juga disebut “mingguan Paskah”. Kami kutip Imamat 23 : 4 – 8 : “Maka inilah semua masa perayaan Tuhan, yaitu perkumpulan-perkumpulan yang suci, yang harus kamu serukan pada masanya. Pada hari

yang keempat belas dari bulan yang pertama pada malam harinya ialah Paskah Tuhan. Dan pada hari yang kelima belas dari bulan yang sama ialah hari raya roti tidak beragi bagi Tuhan; Tujuh Hari lamanya kamu harus makan roti yang tidak beragi. Pada hari yang pertama itu engkau harus mengadakan suatu perkumpulan yang suci : janganlah engkau melakukan sesuatu pekerjaan rendah apapun juga pada hari itu. Tetapi selama tujuh hari lamanya hendaklah kamu mempersembahkan korban bakaran kepada Tuhan; pada hari yang ketujuh adalah suatu perkumpulan yang suci; pekerjaan rendah apapun jangan kamu lakukan pada hari itu.” 

Sekarang catatlah, bahwa Sabat hari yang ketujuh adalah diawasi oleh putaran mingguan, dan paskah oleh kalender bulanan. Oleh sebab itu, dalam setiap minggu paskah terdapat satu Sabat hari yang ketujuh, dan ia itu dapat saja jatuh pada sesuatu hari dari tujuh hari Paskah itu. Kembali, perhatikanlah bahwa hari yang keempat belas adalah disebut hari “Paskah”, tetapi hari yang kelima belas ialah “Perayaan” Paskah. (Lihat Bilangan 28 : 17; Yosua 5 : 11). Sabat hari ketujuh itu disebut “Hari Sabat”. Seikat gandum persembahan itu ialah buah-buah pertama hasil penuaian dan ia itu harus dipersembahkan ke hadapan Tuhan pada besok paginya setelah Sabat; yaitu, pada hari yang pertama dari minggu, yang umumnya disebut hari Minggu. (Lihat Imamat 23 : 11). Persembahan seikat gandum itu merupakan suatu contoh dari kebangkitan orang mati -- buah-buah pertama. Rasul itu mengatakan : “Tetapi sekarang Kristus telah bangkit dari kematian, dan menjadi buah-buah pertama dari mereka yang tidur” -- mereka yang dibangkitkan-Nya. (1 Korintus 15 : 20; juga Matius 27 : 52, 53). 

Dengan demikian Kristus “telah menghantarkan orang-orang tahanan menjadi tawanan” pada hari yang ditunjukkan oleh contoh itu. 

PERSIAPAN PASKAH

Paskah adalah suatu perayaan selama tujuh hari; oleh sebab itu, persiapan bagi minggu itu memerlukan waktu yang lebih panjang daripada sehari. Mengutip Keluaran 12 : 3, 6 : “Pada hari yang kesepuluh dari bulan ini (bulan yang pertama) mereka harus mengambil bagiannya masing-masing seekor anak domba ….. Dan hendaklah kamu ikat akan dia sampai kepada hari yang keempat belas dari bulan yang sama.” Orang banyak itu diperintahkan untuk mulai mengadakan persiapan pada hari yang kesepuluh dari bulan itu. Pada hari yang keempat belas, sebelum masuk matahari, semua ragi harus sudah dibuang dari rumah-rumah mereka. Kemudian datanglah hari yang kelima belas, merupakan hari yang pertama dari roti yang tidak beragi, dan mulailah minggu paskah dengan cara membunuh domba paskah itu. “Tujuh hari lamanya hendaklah kamu makan roti yang tidak beragi; bahkan hari yang pertama hendaklah kamu membuang semua ragi dari dalam rumahmu.” (Ayat 15). Oleh sebab itu, hari yang keempat belas adalah hari persiapan yang terakhir, dan hari yang kelima belas, atau hari yang pertama dari perayaan itu, ialah suatu hari pertemuan kudus, dan mereka tidak boleh melakukan pekerjaan rendah apapun pada hari itu. Matius 26 : 17, menunjuk kepada hari yang sama ini dimana Yesus telah makan paskah bersama-sama dengan dua belas murid-Nya. (Lihat ayat 20, 21). 

Hari-hari yang hanya mungkin bagi minggu paskah itu adalah kelak

___ GAMBAR ____

___ GAMBAR ____

sebagai berikut : Hari yang keempat belas dari bulan yang pertama tahun itu jatuh pada hari Rabu, dan hari itu berakhir pada masuk matahari (malam). Hari yang pertama dari perayaan paskah itu (hari yang ke 15 dari bulan itu) jatuh pada hari Kamis; hari yang kedua pada hari Jumat; hari yang ketiga pada hari Sabtu (hari Sabat); hari yang keempat pada hari Minggu; hari yang kelima pada hari Senin; hari yang keenam pada hari Selasa; hari yang ketujuh dan yang terakhir dari perayaan itu pada hari Rabu, hari yang ke 21 dari bulan itu. (Lihatlah gambar bagan pada halaman 22, bahasa Inggris). 

TABEL WAKTU SEMENJAK DARI PASKAH SAMPAI KEPADA KEBANGKITAN 

Anak domba itu tidak mungkin dapat dibunuh sebelum hari yang keempat belas malamnya lalu disebut “Anak Domba Paskah” sesuai dengan petunjuk yang diberikan dalam Firman yang berikut ini : “Dan hendaklah segenap sidang Israel menyembelih akan dia (anak domba itu) pada malamnya”. (Keluaran 12 : 6). Andaikata segala-galanya sudah siap dan anak domba itu dibunuh segera setelah matahari masuk. Itu akan menghabiskan kira-kira lima belas menit baginya untuk mati; kemudian kulit bulunya harus dilepaskan. Sebagai tambahan untuk ini setiap bagiannya harus dirapihkan, dicuci dan ditaruh kembali di dalam korban itu dan yang terbuka dijahit kembali, karena tidak ada satupun bagiannya boleh dibuang, terkecuali hanya sisa-sisa kotoran. Oleh sebab itu persiapan untuk memanggang di atas api korban itu akan membutuhkan waktu tidak kurang dari sejam lamanya. Demikianlah kita baca : ”Janganlah kamu makan dia mentah atau direbus dengan air, melainkan supaya dipanggang di atas api; kepalanya bersama-sama dengan kaki-kakinya, dan dengan isi perutnya.” (Ayat 9). 

Metode memanggang cara kuno memerlukan lebih banyak waktu daripada cara modern kita sekarang. Sebuah tongkat ditusuk melalui tubuh korban itu, kemudian ia itu ditaruh di atas bara api, lalu dibolak-balikkan dengan bantuan tongkat tadi. Cara memanggang ini membutuhkan waktu kira-kira empat jam. Untuk makan paskah, melaksanakan perjamuan Tuhan, dan upacara kerendahan hati, kemudian menyanyikan sebuah lagu, sudah akan menambah satu setengah jam lagi. Kemudian daripada itu mereka pergi ke gunung Zaitun. (Lihat Markus 14 : 26). Gunung itu terletak kira-kira setengah mil di sebelah timur dari tembok yang ketiga dari kota. Oleh sebab itu, ia itu adalah agak jauh dari tempat dimana paskah itu diselenggarakan. Dengan demikian mereka sudah harus menghabiskan waktu setengah jam untuk sampai ke sana dengan berjalan kaki; setelah mana Yesus membawa ketiga orang itu ke taman Getsemani. 

Di sana tidak mungkin kurang dari satu setengah jam dihabiskan selama di atas gunung dan di taman sewaktu Yesus berdoa; setelah mana kepada rasul-rasul itu diberitahukan untuk beristirahat dan tidur; karena Yesus keluar berdoa tiga kali, dan pada waktu kembali, dua kali Ia mendapatkan mereka itu tertidur, ”maka kembalilah Ia kepada murid-murid itu, didapati-Nya mereka itu tertidur, lalu kata-Nya kepada Petrus : Tiadakah kamu sanggup berjaga satu jam saja bersama-sama dengan Aku?” (Matius 26 : 40). Kita dapat mengira-ngira mereka itu

menghabiskan sedikit-dikitnya satu jam untuk tidur, sebab jika tidak kata-kata Guru mereka sewaktu Ia kembali yang ketiga kali : “Beristirahatlah” (Ayat 45) sudah akan diucapkan dengan sia-sia. Setelah berlalu semua pengalaman ini, maka datanglah Yudas bersama-sama dengan orang banyak dan hanya ada sedikit waktu yang dihabiskan untuk menangkap Yesus; dan selama mereka membawa-Nya kepada imam-imam ia itu sudah harus menghabiskan waktu tidak kurang dari dua jam. Sesuai dengan perhitungan waktu ini, maka jumlah jam yang terpakai semenjak dari masuk matahari hari Rabu malam (permulaan paskah oleh pembunuhan anak domba) sampai kepada waktu Yesus dibawa ke hadapan imam besar tidak mungkin menghabiskan waktu kurang dari dua belas jam. 

Analisa mengenai tabel waktu di atas, membuktikan bahwa pada waktu Yesus dibawa ke hadapan Kayafas, imam besar itu, waktunya adalah kira-kira jam dua belas, atau sedikit menjelang siang pada hari Kamis pagi; dan sesudah pemeriksaan terhadap diri-Nya di hadapan imam besar itu, “kemudian mereka membawa Yesus dari Kayafas ke gedung pengadilan : dan itu adalah pada pagi-pagi sekali.” (Yohanes 18 : 28). “Dan itu adalah Persiapan bagi Paskah, dan kira-kira pada jam enam : maka kata Pilatus kepada orang-orang Yahudi itu, Tengoklah Rajamu!” (Yohanes 19 : 14). Sebagaimana Yohanes menegaskan bahwa ia itu pada pagi-pagi sekali sewaktu mereka membawa-Nya dari Kayafas ke gedung pengadilan, dan sebagaimana ia juga menegaskan bahwa ia itu adalah pada kira-kira jam enam (mungkin tengah malam atau mungkin tengah hari menurut waktu kuno), maka ia itu harus terjadi beberapa saat sesudah tengah malam (kira-kira jam enam) pada waktu Pilatus mengatakan kepada orang-orang Yahudi itu, ‘Tengoklah Rajamu’, karena Yohanes tidak mungkin menyebut tengah hari itu dengan pagi-pagi sekali. Oleh sebab itu, sesudah Ia diadili oleh Sanhedrin mereka memanggil Pilatus, lalu kemudian mereka pergi ke gedung pengadilan. Ini dilakukan pada pagi hari berikutnya, sesudah mereka mengambil Yesus dari taman itu -- pada hari Jumat pagi-pagi sekali. 

Yohanes mengatakan : “Dan itu adalah persiapan bagi paskah”. Kami telah menjelaskan sebelumnya bahwa persiapan bagi paskah anak domba itu bukan hanya satu hari, melainkan suatu kesibukan empat hari. 

Selanjutnya, Matius mengatakan dengan jelas : “Mereka telah mempersiapkan Paskah. Sekarang bilamana malam tiba, Ia (Kristus) duduk bersama-sama dengan dua belas murid itu. Dan ….. mereka makan.“ (Matius 26 : 19 – 21). Oleh sebab itu, persiapan paskah yang disebut oleh Yohanes, itu tidak mungkin merupakan persiapan bagi paskah anak domba, melainkan sebaliknya persiapan bagi paskah Sabat (hari yang ketujuh), yang disebut “persiapan paskah sebab ia itu terdapat dalam minggu paskah, karena ia itu terjadi hanya sekali setahun. Maka sebab itu hari Jumat itu disebut “persiapan paskah”. Dengan demikian Sabat hari ketujuh yang terdapat dalam minggu paskah itu telah disebut suatu “Hari Besar”, sebab itu adalah suatu Sabat di dalam satu Sabat -- hari terbesar dalam tahun. 

Menurut tabel waktu para pemimpin Yahudi telah mengadili Yesus semenjak jam dua belas Kamis pagi sampai pada kira-kira jam enam Jumat pagi (waktu kuno). Sembilan jam kemudian -- pada jam tiga (Jumat), Yesus telah disalibkan. (Lihat Markus 15 : 25). Sesudah

Ia berada pada kayu salib selama tiga jam matahari telah menjadi gelap (pada jam enam -- tengah hari. Lihat Markus 15 : 33). Tiga jam kemudian Yesus mati dan matahari kembali memberikan cahayanya. (Lihat Matius 27 : 45 – 50). Selama tiga jam tersisa sampai pada masuk matahari persiapan yang sangat terburu-buru telah dilakukan lalu Juruselamat diletakkan dalam kubur kepunyaan Yusuf yang baru tepat menjelang dimulainya Sabat hari yang ketujuh. Kami kutip Lukas 23 : 53 – 56 : “Lalu diturunkannya mayat itu dan dibungkus dengan kain kafan, lalu diletakkannya mayat itu ke dalam kubur batu yang berpahat, dimana belum pernah diletakkan barang seorangpun. Maka hari itu adalah hari persiapan, dan hari Sabat pun sudah hampir. Maka perempuan-perempuan itu yang datang bersama-sama dengan Dia dari Galilea, mengikuti dan melihat kubur itu, dan bagaimana mayat-Nya diletakkan. Lalu mereka kembali, dan mereka mempersiapkan rempah-rempah dan minyak bau-bauan; lalu mereka berhenti pada hari Sabat menurut hukum Torat.” Demikianlah Yesus tinggal di dalam kubur semenjak dari jam dua belas Jumat sore sampai pada kira-kira jam dua belas Minggu pagi. Ini juga dibuktikan oleh Markus 16 : 9, “Sekarang setelah Yesus bangkit pagi-pagi sekali pada hari yang pertama dari minggu itu.” Oleh sebab itu, sejumlah kira-kira tiga puluh enam jam di dalam kubur; dan jumlah keseluruhannya delapan puluh empat jam semenjak dari permulaan paskah sampai kepada kebangkitan. 

Sekarang tandailah, bahwa semenjak dari waktu orang-orang Yahudi menangkap Kristus (Kamis jam dua belas) sampai kepada kebangkitan-Nya (Minggu jam dua belas), ada tujuh puluh dua jam tepat atau tiga hari dan tiga malam. Demikianlah genap kata-kata Yesus : “Karena sebagaimana Yunus berada tiga hari dan tiga malam di dalam perut ikan paus; sedemikian itu pula kelak Anak Manusia akan berada di dalam jantung bumi.” (Matius 12 : 40). Pendapat yang mengatakan bahwa di dalam “jantung bumi” berarti di dalam kubur adalah perkiraan manusia tanpa landasan Alkitab. Kalau saja yang Juruselamat maksudkan adalah mengenai pengalaman-Nya di dalam kubur, maka Ia sudah akan mengatakan demikian. Jika kubur-Nya berada di dalam pusat bumi -- kira-kira 4000 mil di bawah permukaan (jantung bumi) maka orang dapat mengira bahwa yang dimaksudkan-Nya jantung bumi. Yesus menggunakan kata-kata itu untuk menunjukkan bahwa Ia akan berada tiga hari dan tiga malam dalam tangan orang-orang berdosa, dan di dalam kubur. Mengapakah orang-orang berdosa disebut “jantung bumi”? Sebab manusia telah diciptakan dari bumi menurut Kejadian 3 : 19, “Karena kamu adalah tanah, dan kepada tanah juga kamu akan kembali”. 

Untuk hal ini kami ingin menarik perhatian pembaca kepada bagan pada halaman 22, bahasa Inggris. Perhatikanlah mengenai pengetahuan yang tak terbatas yang digunakan untuk menciptakan gambaran mengenai korban yang besar (Salib) itu bagi umat manusia, yang merupakan suatu bukti akan kasih Allah yang tak terhingga. Pertama-tama perhatikanlah, bahwa jarum lonceng itu telah memutar tiga kali. Catatlah bahwa setiap peristiwa ada tiga jam tersendiri (3 x 9 dan 6 x 12), membentuk salib itu. 

Sekarang perhatikanlah bahwa kedudukan dari salib itu seperti terlihat pada lonceng tidak memperlihatkan keseimbangan yang tepat. Tetapi jika pembaca mau

memutar diagram itu terbalik seperti semula, yang akan menunjukkan bagaimana lonceng kuno mengatur waktu   -- yang diatur oleh masuk matahari pada jam dua belas, maka salib itu akan kelihatan dalam bentuknya yang sempurna; demikianlah kita memperoleh suatu gambaran lain dari hal kesempurnaan Ilahi. 

Garis yang memotong permukaan jam di antara jam empat dan lima, sepuluh dan sebelas -- menandai kutub utara dan kutub selatan, memberikan kedudukan yang tepat dari bumi selama perjalanannya pada orbit tahunannya. Sekarang lihatlah ke atas sebelah kanan pada matahari seperti halnya pada waktu itu dalam hubungannya yang tepat dengan bumi, sementara ia itu gelap dari jam enam sampai jam sembilan dan kita saksikan matahari berdiri dalam posisinya yang tepat di atas jam-jam itu yang tetap dalam kegelapan. Bukankah gambar ini sempurna -- tidak dapat dibantah? Jika demikian, dapatkah seorang mahluk yang bijaksana membayangkan bahwa semua ini telah terjadi secara kebetulan? Bukankah ini menunjukkan bukti yang tidak mungkin salah, bahwa Allah telah lebih dahulu mengatur semuanya, dan bahwa oleh kuasa-Nya yang besar ia itu telah terjadi untuk mengajarkan kepada anak-anak-Nya mengenai rencana-Nya, dan keselamatan yang ditawarkan kepada mereka? Rasul Paulus mengatakan : “Segala pekerjaan itu sudah lengkap semenjak dari masa kejadian dunia”. (Ibrani 4 : 3). Yohanes juga menyatakan bahwa anak domba telah dibantai semenjak dari kejadian dunia. (Lihat Wahyu 13 : 8). Orang berdosa, “Tengoklah Anak Domba Allah yang menghapuskan dosa dunia”. 

Walaupun anak domba paskah itu melambangkan penyaliban Kristus, bukanlah dimaksudkan bahwa Ia harus dikorbankan pada hari anak domba itu dibunuh. Kenyataan ini terbukti dengan sendirinya, karena anak domba itu dibunuh di malam hari dan Kristus disalibkan pada pagi hari -- tiga jam setelah matahari terbit,   -- dan Ia mati tiga jam sebelum malam. 

* * *

NUBUATAN DARI DANIEL DAN WAHYU DARI YOHANES BERISIKAN SEJARAH DUNIA

“Berbahagialah orang yang membaca, dan mereka yang mendengarkan kata-kata dari nubuatan ini, dan memeliharakan segala perkara itu yang tertulis di dalamnya : karena masanya sudah dekat.” (Wahyu 1 : 3).

“Janganlah seorangpun mengira, bahwa karena mereka tidak dapat menjelaskan arti dari setiap simbol yang ada di dalam buku Wahyu, maka tak ada gunanya bagi mereka untuk menyelidiki buku ini dalam usahanya untuk mengetahui arti dari kebenaran yang terkandung di dalamnya. Dia yang mengungkapkan rahasia-rahasia ini kepada Yohanes akan memberikan kepada penyelidik kebenaran yang tekun suatu selera terhadap perkara-perkara samawi. Orang-orang yang hatinya selalu terbuka untuk menerima kebenaran akan mampu memahami ajaran-ajarannya, dan mereka akan dikaruniai berkat-berkat yang dijanjikan kepada orang-orang yang ‘mendengarkan kata-kata dari nubuatan ini, dan memeliharakan segala perkara itu yang tertulis di dalamnya’.” -- “The Acts of the Apostles”, halaman 584. 

“Di dalam buku Wahyu semua buku Alkitab bertemu dan berakhir. Di sinilah pelengkap dari buku Daniel itu. Yang satu adalah nubuatan; yang lainnya sebuah Wahyu. Buku yang termeterai itu bukanlah buku Wahyu, melainkan bagian dari nubuatan Daniel itu yang berhubungan dengan akhir zaman. Malaikat itu memerintahkan, ‘Tetapi akan dikau, hai Daniel, tutuplah semua perkataan itu, dan meteraikanlah buku itu, sampai kepada akhir zaman’.” -- “The Acts of the Apostles”, halaman 585. 

“Angka bilangan tujuh menunjukkan kelengkapan ….. sebaliknya simbol-simbol yang digunakan itu mengungkapkan keadaan sidang pada periode yang berbeda-beda dalam sejarah dunia.” -- “The Acts of the Apostles”, halaman 585.

“Manusia-manusia yang serba terbatas hendaklah berhati-hati mencoba untuk mengontrol sesama mereka, dengan mengambil tempat yang disediakan bagi Roh Suci. Janganlah ada orang yang merasa bahwa adalah hak mereka untuk memberikan kepada dunia apa saja yang disangkanya kebenaran, lalu menolak setiap perkara yang akan diberikan bertentangan dengan pendapat-pendapat mereka. Ini bukan tugas mereka. Banyak perkara akan tampak jelas sebagai kebenaran, tetapi kelak tidak akan diterima oleh mereka yang menyangka hasil-hasil interpretasinya sendiri terhadap Firman adalah selalu benar. Perubahan-perubahan yang sangat menentukan harus ditempuh terhadap pendapat-pendapat yang telah diterima sebagian orang sebagai tanpa salah.” -- “Testimonies to Ministers”, p. 76.

Sebagian besar dunia Kristen mengakui bahwa kita kini hidup dalam akhir zaman dari sejarah dunia ini. Ketika Yesus ditanya oleh murid-murid-Nya mengenai tanda-tanda kedatangan-Nya kembali ke bumi, dan mengenai akhir dunia ini, maka salah satu dari banyak tanda yang diberitahukan-Nya adalah, “Sebab itu apabila kamu kelak menyaksikan kekejian yang mendatangkan kebinasaan itu seperti yang dibicarakan oleh nabi Daniel, maka berdirilah di tempat yang suci, (barangsiapa

yang membaca hendaklah ia mengerti).”  (Matius 24 : 15). Ternyata dari kata-kata Guru bahwa buku Daniel berisikan informasi mengenai tanda-tanda zaman dan akhir dunia. Nubuatan-nubuatan Daniel itu adalah tidak banyak berarti bagi murid-murid itu maupun sidang Kristen yang mula-mula, sebab Daniel mengatakan buku itu adalah tersegel sampai ke akhir zaman. (Daniel 12 : 4). Maka karena buku itu kini telah terbuka, jelaslah bahwa kita sekarang berada di akhir zaman. (Wahyu 22 : 6 – 10). Tetapi buku itu akan terbuka bagi kelas umat yang satu dan tertutup bagi kelas yang lainnya, karena ditegaskan-Nya lagi, “Banyak orang akan disucikan dan diputihkan, dan dicobai; tetapi orang jahat akan makin berbuat kejahatan; dan tak seorangpun dari orang-orang jahat itu akan mengerti; tetapi orang-orang bijaksana akan mengerti.” (Daniel 12 : 10). Oleh sebab itu, adalah penting sekali bahwa kita seharusnya bebas dari segala bentuk kejahatan dan supaya mematuhi semua persyaratan-persyaratan Ilahi, jika kita ingin mengerti dan menerima semua berkat yang terkandung di dalam buku itu. 

Tujuan dari penerbitan ini bukanlah untuk menjelaskan simbol-simbol yang sampai pada waktu ini telah sepenuhnya dijelaskan di dalam berbagai macam penerbitan dan telah dibuktikan benar dalam garis besarnya sampai sekarang, tetapi maksud kami adalah untuk menjernihkan beberapa bagian tertentu yang telah dirahasiakan oleh Roh Allah selama sesuatu masa. Simbol-simbol terkenal yang banyak telah dikenal oleh siswa-siswa Alkitab, akan digambarkan secara singkat, sekedar cukup untuk menghubungkan ingatan dengan simbol-simbol itu yang akan dijelaskan. Kami akan berusaha untuk membuktikan bahwa simbol-simbol dari buku Daniel dan buku Wahyu berisikan keseluruhan sejarah dunia, baik sipil maupun agama, semenjak dari kejadian dunia sampai kepada penebusan. 

Di dalam Daniel pasal dua, dimulai dengan kerajaan dunia yang pertama (Babil) sesudah air bah, kita memperoleh sejarah dunia semenjak dari sana sampai kepada kedatangan Kristus yang kedua kali, atau sampai kepada akhir dunia ini, yang ditunjukkan dalam bentuk sebuah patung logam yang besar. “Ya Raja, tuanku telah melihat, maka tengoklah ada sebuah patung besar. Patung yang besar ini, yang keindahannya adalah sempurna berdiri di hadapan tuanku, dan bentuknya adalah hebat. Kepala patung ini terbuat dari emas tua, dadanya dan lengannya dari perak, perut dan pinggangnya dari tembaga, pahanya dari besi, kaki-kakinya sebagian dari besi dan sebagiannya dari tanah liat. Terlihat oleh tuanku hingga sebuah batu terpotong keluar tanpa pertolongan tangan, yang menimpa patung ini pada kakinya yang berasal dari besi dan tanah liat itu, dan dihancurkannya berkeping-keping. ….. Maka dalam zaman raja-raja ini oleh Allah yang di surga akan didirikan sebuah kerajaan, yang tidak akan pernah dapat dibinasakan : maka kerajaan itu tidak akan diserahkan kepada bangsa lain, tetapi ia itu akan menghancurkan berkeping-keping, dan melenyapkan semua kerajaan ini, dan ia sendiri akan berdiri selama-lamanya. Karena sebagaimana tuanku melihat batu itu terpotong keluar dari gunung tanpa pertolongan tangan, dan bahwa ia itu menghancurkan berkeping-keping besi, tembaga, tanah liat, perak, dan emas : maka Allah yang besar telah memberitahukan kepada raja apa yang kelak akan

___ GAMBAR ____

jadi kemudian : dan mimpi itu adalah pasti, dan interpretasinya pun adalah benar.” (Daniel 2 : 31 – 34, 44, 45).

Emas, perak, tembaga, dan besi telah diinterpretasikan melambangkan Babil, Medo-Persia, Yunani dan Romawi. Campuran besi dan tanah liat -- kaki dan jari-jari -- kerajaan-kerajaan yang ada sekarang yang datang setelah keruntuhan Romawi. Betapa indahnya nubuatan ini, begitu sederhananya dan benar. Tetapi patung yang besar ini hanya mengungkapkan kerangka dari sejarah dunia kita yang ada.

Di dalam Daniel pasal tujuh kita memperoleh juga susunan kronologis yang sama dalam bentuk simbol-simbol dari berbagai binatang buas. Alasan bagi adanya penyalinan ini ialah untuk mengungkapkan secara terperinci peristiwa-peristiwa sejarah yang akan terjadi di dalam kerangka dari patung besar itu. “Maka jawab Daniel, katanya : Aku tampak dalam khayalku pada malam, maka tengoklah, telah turun empat angin dari langit yang menimpa ke atas lautan yang luas. Maka empat binatang buas yang besar-besar naik dari dalam laut itu, yang satu berlainan daripada yang lainnya. Yang pertama itu seperti singa dan ia bersayap seperti burung garuda : maka ku lihat sampai tercabut sayap-sayap itu, lalu ia itu diangkat dari bumi, dan dibuat berdiri pada kakinya seperti manusia, dan kepadanya diberikan hati manusia. Maka tengoklah seekor binatang lain, yang kedua, rupanya seperti beruang, maka berdirilah ia pada sisi yang satu, dan ada tiga tulang rusuk dalam mulutnya di antara gigi-giginya : maka kata mereka kepadanya demikian, Bangkitlah, makanlah olehmu daging yang banyak. Kemudian daripada ini ku lihat, bahwasanya ada pula seekor binatang yang lain, seperti macan tutul rupanya, dan padanya ada empat sayap burung pada belakangnya; dan lagi ia berkepala empat; maka telah diberikan kepadanya pemerintahan. Kemudian dari ini aku lihat dalam khayal pada malam, bahwa sesungguhnya ada binatang yang keempat, mengerikan dan hebat, dan sangat kuat rupanya; maka ia itu memiliki gigi-gigi besi yang besar-besar : maka ditelan olehnya dan dihancurkannya, dan dipijak-pijaknya dengan kakinya semua yang tersisa : dan ia berbeda daripada segala binatang yang mendahuluinya; dan ia memiliki sepuluh tanduk. Maka sementara aku mengamat-amati tanduk-tanduk itu, maka tengok, muncullah di antara tanduk-tanduk itu sebuah tanduk kecil lainnya, olehnya juga tiga tanduk dari tanduk-tanduk yang terdahulu itu tercabut sampai dengan akar-akarnya; maka sesungguhnya pada tanduk yang kecil ini terdapat mata seperti mata manusia dan suatu mulut yang membicarakan perkara-perkara yang besar.” (Daniel 7 : 2 – 8). 

Singa, beruang, macan tutul, dan binatang yang tak tergambarkan itu menggambarkan kerajaan-kerajaan yang sama seperti halnya emas, perak, tembaga dan besi. Lambang-lambang yang aneh dan yang tidak alamiah yang berkaitan dengan binatang-binatang itu, yaitu, sayap-sayap, tulang-tulang rusuk, tanduk-tanduk, dan kepala-kepala, adalah sanggup mengungkapkan rahasia-rahasia dari peristiwa-peristiwa sejarah yang akan terjadi di dalam periode-periode nubuatan yang besar itu. Hal yang sangat ajaib mengenai simbol-simbol nubuatan ini ialah, bahwa semuanya itu adalah benar-benar mampu untuk mengungkapkan kebenaran, dan sekali dapat dipahami dengan benar, maka semuanya itu tidak dapat dipertentangkan lagi. Setiap interpretasi terhadap nubuatan-nubuatan simbolis yang tidak tepat sempurna dengan penjelasan yang diberikan tidak akan pernah menjadi pegangan. Interpretasi terhadap simbol-simbol yang sedemikian ini tidak

____ GAMBAR ____

[empty page]

hanya harus sejalan sesuai dengan keseluruhan tujuan dari buku dan hukum Allah, melainkan ia juga harus menunjukkan sesuatu pelajaran penting bagi umat Allah; sehingga apabila suatu penjelasan yang sedemikian ini, seperti yang dimaksud, diambil dari Injil, maka hanya dengan begitulah kita memperoleh kebenaran. 

Sementara kepala yang dari emas pada patung besar itu melambangkan kerajaan Babil pada puncak kebesarannya, maka singa itu meliputi suatu masa periode yang luas sesuai dengan yang tertulis pada Kejadian 10 : 8 – 10 : “Maka Kusy memperanakkan Nimrod; maka mulailah ia menjadi seorang yang perkasa di bumi. Ia adalah seorang pemburu yang perkasa di hadapan Allah : oleh sebab itu akan halnya dikatakan, laksana Nimrod pemburu yang gagah perkasa itu di hadapan Tuhan. Dan permulaan dari kerajaannya adalah Babil, dan Erekh, dan Akad, dan Kalneh, semuanya di tanah Sinear.” Permulaan dari kerajaannya Nimrod ialah “Babil”, atau sebagaimana di dalam bahasa Yunani disebut “Babilon”. Pemerintahannya meliputi empat kota di dataran itu; yaitu Babilon, Erekh, Akad, dan Kalneh. Kalau saja pembaca mau melihat kepada Kejadian 8 : 1 – 8 lalu dengan seksama menghitung-hitung orang-orang yang dilahirkan dari keluarga Nuh sesudah mereka itu keluar dari bahtera yang selamat dari air bah itu sampai kepada kelahiran Nimrod, maka dapatlah dicatat bahwa Nimrod adalah orang yang ke 26 yang lahir sesudah air bah. Lokasi dari kota itu adalah di tanah Sinear, sesuai yang tertulis di dalam Kejadian 11 : 2 : “Maka jadilah kelak, tatkala mereka itu berjalan dari sebelah timur, bahwa didapatinya suatu padang yang luas di tanah Sinear; maka tinggallah mereka di sana.” 

Nama Babil (Babilon dalam bahasa Yunani) lahir pada waktu itu selagi tugu Babil sementara dibangun, setelah mana Allah mengacaukan orang banyak itu oleh bahasa yang berlain-lainan. Menurut Daniel ibukota dari Babilon terletak pada dataran yang sama : “Maka Tuhan menyerahkan Yoyakim, raja Yehuda ke dalam tangannya (Raja Babilon), ..... yang dibawanya ke tanah Sinear.” (Daniel 1 : 2). Oleh sebab itu Babilon telah didirikan segera sesudah air bah, kira-kira di antara tahun 2400 dan 2300 Sebelum Tarik Masehi, dan ia telah mencapai puncak kebesarannya sebagai suatu kerajaan dunia umumnya di antara tahun 400 atau 500 Sebelum Tarik Masehi. Babilon dalam perkembangannya telah meliputi suatu masa periode kira-kira 1800 tahun atau lebih. Tentu saja tidak seorangpun akan mengira bahwa Babilon adalah terlalu cepat dalam usahanya untuk menguasai dunia tua yang lalu. 

LAMBANG DARI SAYAP DAN TULANG-TULANG RUSUK 

Kita dapat sekarang mempertanyakan arti dari sayap-sayap yang terdapat pada singa itu dan pada macan tutul; juga tulang-tulang rusuk yang terdapat di dalam mulut beruang. Sayap-sayap pada singa itu tentunya tidak mungkin melambangkan kecepatan, sebagaimana yang diajarkan oleh beberapa orang. Jika sekiranya sayap harus melambangkan kecepatan, maka sayap-sayap itu sudah harus terdapat pada beruang, sebab Koresh dan Darius mengalahkan Babilon tua itu pada malam hari. Selanjutnya, jika sayap melambangkan kecepatan pada binatang yang satu, sayap-sayap itu harus juga melambangkan yang sama pada binatang yang lainnya. Dapatkah sayap-sayap itu melambangkan kecepatan pada binatang macan tutul yang berkepala empat itu? Tentu saja tidak. Suatu penelitian yang seksama terhadap simbol-simbol

menunjukkan, bahwa binatang macan tutul itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan kemenangan Alexander atas Medo-Persia. Macan tutul itu melambangkan kerajaan yang ada sesudah kemenangan itu dicapai. Empat kepala itu adalah empat bagian Yunani setelah kematian Alexander, yaitu “Cassander, Lycimachus, Ptolemy, dan Seleucus”. 

Peperangan dan kemenangan di antara Medo-Persia dan Yunani disampaikan kepada perhatian kita di dalam Daniel 8 : 5 – 7 : “Maka sementara aku memperhatikannya, tampaklah seekor kambing jantan datang dari sebelah barat yang melintasi seluruh muka bumi, tanpa menyentuh tanah : dan kambing jantan itu mempunyai sebuah tanduk yang terkenal di antara kedua matanya. Maka datanglah ia mendapatkan domba jantan yang memiliki dua tanduk itu, dan yang telah ku lihat berdiri di hadapan sungai itu, maka ia pun menerjangnya dengan sangat kuatnya. Dan aku melihatnya datang mendekati domba jantan itu, dan ia menerjangnya dengan geramnya, dan menanduknya dan mematahkan kedua pucuk tanduknya; maka domba jantan itu tiada berdaya lagi untuk berdiri di hadapannya, maka dihempaskannya akan dia ke tanah, dan dipijak-pijaknya akan dia, dan tak seorangpun yang dapat melepaskan domba jantan itu dari kuasanya.” 

Di dalam ayat 20, 21 kepada Daniel diceritakan oleh malaikat, bahwa kambing jantan itu “ialah Yunani”, domba jantan itu ialah “Medo-Persia”, dan tanduk yang terkenal di antara kedua matanya itu ialah, “rajanya yang pertama.” Oleh sebab itu kemenangan Alexander yang cepat itulah yang dilambangkan oleh “kambing jantan itu” yang tidak menyentuh tanah. Jika sayap harus melambangkan kecepatan, maka sayap-sayap itu sudah akan terdapat pada “kambing jantan” dan bukan pada macan tutul itu. Oleh karena kebenaran dari apa yang telah dikatakan di atas tidak dapat disangkal, dan karena pendapat yang telah dipegang oleh sebagian orang adalah bertentangan dengan simbol-simbol itu, maka kita harus mencari dari tempat lain untuk pemakaian “sayap-sayap” itu. Kami kira adalah jauh lebih aman dan bijaksana, bahkan lebih beralasan bagi seseorang untuk mengakui kekeliruannya -- karena sebagai orang-orang fana kita banyak berbuat kekeliruan -- daripada ikut terlibat dalam interpretasi-interpretasi terhadap Firman Allah yang bertentangan. 

Pertama-tama kita harus mengerti, bahwa oleh bantuan simbol-simbol ini Ilham sedang mencatat keseluruhan sejarah dunia. Janganlah kita lupa bahwa ada sebuah dunia pada sebelum air bah yang lalu. Jika seseorang dari kita hendak mengusahakan prestasi arsitektural yang indah ini untuk merencanakan suatu kerangka, atau bagan, dari sejarah dunia ini, maka kita tentunya akan memikirkan suatu perhitungan yang lengkap dari keseluruhan bagian-bagiannya. Allah yang tak terbatas kepintaran-Nya itu maupun kuasa-Nya tentu saja tidak akan mau melewati begitu saja atau dengan sengaja melalaikan di dalam bagan peristiwa-peristiwa sejarah-Nya yang besar itu untuk mempertimbangkan juga dunia-Nya sebelum air bah.

Suatu catatan dari sebuah penyelidikan Ilahi mengenai sejarah dunia ini semenjak dari kejadian dunia sampai kepada penebusan akan sangat penting pada waktu ini. Dalam suatu zaman kekapiran, atheisme, dan kemunafikan, orang-orang yang mengaku dirinya bijaksana secara duniawi, maupun dalam masalah-masalah agama, mereka telah sesat dari sumber kepintaran dan pengetahuan yang sebenarnya. “Sebab itu, apabila mereka mengenal Allah, mereka tidak akan memuliakan-Nya sebagai Allah, ataupun

____ GAMBAR _____

DANIEL 7 : 2, 4

[empty page]

___ GAMBAR ___

DANIEL 7 : 5

[empty page]

___ GAMBAR___

DANIEL 7 : 6 

[empty page]

bersyukur kepada-Nya; melainkan mereka menjadi sia-sia di dalam semua kepikirannya, dan hatinya yang bodoh menjadi digelapkan. Mengaku dirinya pintar, maka mereka menjadi orang-orang bodoh.” (Roma 1 : 21, 22). Bahkan orang-orang yang mengaku dirinya guru-guru kebenaran, mereka telah kehilangan iman mereka dalam perhitungan Alkitab mengenai kejadian dunia. Allah karena mengetahui akan penolakan terhadap firman-Nya secara sesat sekarang ini, maka Ia telah merencanakan suatu kerangka nubuatan dalam simbol dari binatang-binatang buas, sayap-sayap, tulang-tulang rusuk, tanduk-tanduk, kepala-kepala, mahkota-mahkota, dan sebagainya, oleh mana Ia menunjukkan di dalam gambaran nubuatan ini kepada kenyataan-kenyataan, dengan disertai kuasa yang akan merendahkan manusia serta menunjukkan kepada mereka itu keseluruhan kebodohannya dan kegagalan kepintarannya.

Menurut perhitungan Alkitab air bah itu datang lebih dari 1600 tahun sesudah kejadian dunia. Allah menciptakan keturunan umat manusia itu berasal dari Adam dan Hawa. Oleh sebab itu, hanya ada satu umat, satu keturunan, satu bahasa dan bangsa semenjak dari kejadian dunia sampai kepada air bah. Pemerintahan yang dikaruniakan kepada Adam itu kami sebut kerajaan dunia Adam yang pertama. Babilon adalah yang kedua; Medo-Persia yang ketiga; Yunani yang keempat; Romawi yang kelima; Romawi yang terpecah-pecah (yang dilambangkan oleh kaki-kaki dan jari-jari kaki dari patung besar Daniel pasal 2, yang merupakan bangsa-bangsa beradab yang tidak stabil sekarang ini) ialah yang keenam; dan semenjak dari berakhirnya seribu tahun millenium setelah kebangkitan orang-orang jahat sampai kepada kematian mereka yang kedua kali, ialah yang ketujuh dan terakhir. Demikianlah angka bilangan Alkitab tujuh sebagaimana biasanya menunjukkan kelengkapan. Oleh sebab itu, tujuh kerajaan dunia yang sedemikian ini mengungkapkan sebuah sejarah dunia yang lengkap, menunjukkan akhir dari dosa dan pemerintahannya.

Kalau saja kita manusia yang fana harus merencanakan suatu bagan yang sedemikian ini oleh simbol binatang-binatang buas, maka pasti kita akan memiliki inteligensia yang cukup untuk memberi nomor kepada setiap binatang menurut urutannya yang benar. Kita tidak mungkin mengira bahwa Allah adalah kurang teliti dalam ketepatan-Nya yang menakjubkan. Oleh sebab itu Ia telah menentukan nomor setiap binatang. Kita pertama-tama harus menyadari bahwa sejarah Wasiat Lama telah dilambangkan oleh patung logam yang besar; yaitu, Emas -- Babilon; perak -- Medo-Persia; tembaga -- Yunani. Emas ialah yang utama dari semua logam yang akan berdiri sebagai nomor satu; perak adalah yang kedua dari emas, sebab itulah nomor dua; tembaga adalah yang ketiga dari emas, berarti nomor tiga. Singa, beruang, dan macan tutul diberi nomor dengan cara sedemikian ini. Singa adalah raja atau yang utama dari binatang-binatang buas, maka sebab itu nomor satu, sejajar dengan emas. Beruang ialah yang kedua dari singa, sebab itu nomor dua, sejajar dengan perak. Macan tutul ialah yang ketiga dari singa, karena itulah nomor tiga, sejajar dengan tembaga. Semuanya ini adalah rangkaian nomor yang pertama, tetapi masih ada rangkaian nomor lainnya yang harus kita bicarakan.

Semuanya ini akan membawa kita kembali kepada pokok masalah kita mengenai apa yang dimaksudkan dengan sayap-sayap yang terdapat pada singa maupun pada macan tutul itu, dan tulang-tulang rusuk yang terdapat di dalam mulut beruang. Allah tentunya tidak akan menggambarkan peta sejarah dunia, semenjak dari air bah sampai kepada akhirat, dan

gagal memperhitungkan semua bagian-bagiannya. Harus ada sesuatu di dalam bagan mengenai peristiwa-peristiwa sejarah ini untuk menunjukkan bahwa Ia mempunyai suatu kerajaan dunia sebelum air bah itu, seperti yang dijelaskan sebelumnya. Bahwa kerajaan itu merupakan yang pertama, dengan sendirinya berdiri sebagai nomor satu; Babilon nomor dua; Medo-Persia nomor tiga; dan Yunani nomor empat. Jika pernyataan ini benar, maka kita harus mencarikan rangkaian angka-angka ini pada singa, beruang dan macan tutul itu.

Sayap-sayap pada singa itu menunjukkan kerajaan nomor dua. Singa secara alamiah adalah yang pertama -- yang pertama dari air bah, tetapi (secara tidak alamiah) karena dua sayapnya, maka adalah yang kedua semenjak dari kejadian dunia. Tulang-tulang rusuk di dalam mulut beruang itu menunjukkan kerajaan nomor tiga. Beruang itu secara alamiah adalah yang kedua semenjak dari air bah, tetapi (secara tidak alamiah) karena tiga tulang rusuk itu adalah yang ketiga semenjak dari kejadian dunia; tulang-tulang rusuk telah digunakan, karena sayap selalu berpasangan. Empat sayap yang terdapat pada macan tutul itu menunjukkan, bahwa Yunani adalah kerajaan dunia yang keempat. Macan tutul secara alamiah adalah yang ketiga semenjak dari air bah, tetapi (secara tidak alamiah) karena sayap-sayap itu, ia adalah yang keempat semenjak dari kejadian dunia. Sejarah terus terbang, maka sebab itu sayap merupakan simbol yang tepat. 

“BANGKITLAH, MAKANLAH DAGING YANG BANYAK”

“Bangkitlah engkau, makanlah daging yang banyak”, demikian kata rusuk-rusuk itu kepada beruang. (Daniel 7 : 5). Kerajaan Medo-Persia membuka jalan bagi peperangan-peperangan antara kerajaan, oleh sebab itu : “Bangkitlah engkau, makanlah daging yang banyak”. Demikianlah kerajaan demi kerajaan terjerumus jatuh ke dalam peperangan-peperangan berdarah. Tulang-tulang rusuk di dalam mulut beruang itu tidak mungkin berarti bangsa-bangsa, seperti yang diajarkan oleh sebagian orang, karena bangsa-bangsa dilambangkan oleh tanduk-tanduk, dan bukan oleh tulang-tulang rusuk. Juga tidak mungkin rusuk-rusuk itu menunjuk kepada daerah-daerah propinsi tertentu yang tidak berhasil dikuasai oleh Medo-Persia, karena ia sudah menguasai rusuk-rusuk itu di dalam mulutnya, dan adalah tidak konsisten untuk mengira bahwa orang-orang Persia itu sudah akan menindas negara-negara bagian tertentu lebih daripada yang lainnya. Kalau memang hal itu demikian, beruang itu sudah akan memijak-mijak mereka seperti yang diperbuat oleh binatang yang tak tergambarkan itu. (Ayat 7). Simbolnya adalah bertentangan dengan perkiraan yang sedemikian itu, maka tidak ada satupun bukti ataupun pelajaran yang dapat ditarik dari sesuatu teori yang sedemikian itu. 

TERCABUT SAYAP-SAYAP DARI SINGA ITU

Kita kembali kepada singa, lambang dari Babilon, Daniel mengatakan : “Yang pertama itu adalah seperti singa, dan ia memiliki sayap-sayap burung garuda : maka kulihat sampai tercabutlah sayap-sayapnya itu, maka terangkatlah ia dari atas bumi, lalu ia dibuat berdiri pada kakinya seperti manusia, dan diberikan kepadanya suatu hati manusia.” (Daniel 7 : 4). “Sayap-sayapnya tercabut”. Simbol ini menunjukkan hal yang sama seperti tercabutnya tiga pucuk tanduk dari binatang yang tak tergambarkan itu. (Ayat 8). Jika tercabutnya tanduk-tanduk itu menunjukkan kerajaan-kerajaan mereka diambil dari padanya, maka tercabutnya sayap-sayap itu akan menunjukkan bahwa Babilon sebagai kerajaan nomor dua akan berlalu, menggenapi hasil interpretasi Daniel mengenai tulisan tangan yang terdapat pada

[empty page]

___ GAMBAR ____

tembok : “Inilah interpretasi dari perkataan itu : Mene, Allah telah  menghitung kerajaan tuanku, dan mengakhirinya.” (Daniel 5 : 26). Oleh sebab itu, Babilon jatuh ke dalam tangan dari raja-raja Medo-Persia itu. Dengan demikian sayap-sayapnya “tercabut”, dan kerajaan Medo-Persia itu, nomor tiga, menggantikan singa, yaitu nomor dua. 

JANTUNG HATI (HEART) MANUSIA DIBERIKAN KEPADANYA 

Setelah sayap-sayap dari singa itu tercabut, maka Daniel mengatakan : “Ia dibuat berdiri pada kakinya seperti manusia, dan suatu hati manusia diberikan kepadanya.” Apapun yang diartikan oleh kedudukan dari binatang itu dan perubahan hatinya, aplikasinya adalah tetap sesudah Babilon jatuh ke bawah pemerintahan Medo-Persia, sebab ia berdiri sebagai manusia setelah sayap-sayapnya “tercabut”. Jika kita hendak memperoleh pengertian dari simbol itu, kita harus pertama-tama memikirkan fungsi dari jantung/hati (heart), sebab simbol itu sendiri harus sempurna, sebab jika tidak, kebenarannya tidak dapat ditentukan. 

Fungsi dari jantung (heart) ialah untuk mempertahankan daya hidup di dalam tubuh. Biarkanlah jantung itu berhenti, maka segala-galanya akan lenyap. Organ tubuh yang sangat penting ini adalah pengatur tubuh. Seperti halnya sebuah kerajaan adalah terdiri dari banyak orang pribadi, berikut berbagai kebutuhan mereka, demikian itu pula dengan tubuh yang hidup terdiri dari sejumlah besar sel-sel hidup, berikut semua kepentingannya. Sebagaimana tugas dari seorang raja adalah mempertahankan daya hidup di dalam kerajaannya, juga menghukum atau mencabut sampai kepada akar-akar segala kejahatan serta mengawasi melindungi semua yang baik, demikian itu pula yang diperbuat oleh jantung. Dengan cara mengembang dan mengempis ia mengontrol dan memberikan aliran, daya hidup dalam bentuk darah bersih. Bukti yang dikumpulkan sejauh ini membuktikan bahwa jantung adalah lambang yang tepat dari seorang raja. Namun kita harus memperinci perbedaan di antara hati manusia dan hati binatang. Daniel 4 : 16, berbicara mengenai hukuman yang dijatuhkan atas raja itu sebelum ia diusir keluar dari tahtanya ke padang bersama-sama dengan binatang-binatang, mengatakan : “Biarlah hatinya berubah dari hati manusia dan biarlah hati binatang diberikan kepadanya; dan biarlah tujuh masa berlaku baginya.” Setelah hati raja itu berubah, maka ia kehilangan rasionya, dan secara alamiah ia menjadi sama dengan seekor lembu. “Maka pada jam yang sama itu juga perkara itu genaplah atas Nebukadnezar; maka ia diusir dari antara manusia, lalu ia memakan rumput seperti lembu dan tubuhnya basah dengan air embun, dari langit, sehingga rambutnya tumbuh bagaikan bulu burung garuda, dan kuku-kukunya seperti cakar unggas.” (Daniel 4 : 33). 

Kecerdasan manusia tidak terdapat dalam bentuk lahiriah dari kemanusiaannya, melainkan sebaliknya ia itu terdapat di dalam hati manusia. Pendapat ini adalah tegas dianut oleh Injil : “Karena dari dalam kelimpahan hati mulut berbicara.” Oleh sebab itu, simbol (hati manusia) dapat menunjukkan intelegensia. Tetapi simbol ini tidak dapat menyimpulkan pandangan manusia, melainkan sebaliknya suatu

pengertian Allah yang tepat, karena Alkitab mengatakan : “Orang bodoh mengatakan di dalam hatinya, bahwa tidak ada Allah.” (Mazmur 53 : 1). Memperoleh suatu pandangan yang jelas mengenai kekuasaan yang tak terhingga dari Dia Yang Kekal itu ialah yang Allah sebut pendidikan yang benar. Kesimpulan dari simbol itu ialah, bahwa Babilon dipaksa untuk mengakui adanya Dia Yang Maha Tinggi dengan cara menyingkirkan raja yang satu (hati binatang) dan mendudukkan raja yang lain (hati manusia). 

Setelah menjelaskan apa yang tampaknya dimaksudkan oleh simbol itu, kita harus meninjau sejenak kepada kerajaan kuno itu untuk melihat apakah memang hasil interpretasi ini sepenuhnya dapat ditunjang oleh hati simbolis itu. Karena contoh yang kekal yang dikemukakan melalui air bah itu bagi generasi-generasi yang akan datang ternyata telah gagal untuk mengajarkan kepada para pemimpin orang Kasdim itu akan kuasa Allah dan eksistensi-Nya, maka Pencipta manusia dalam kemurahan-Nya, panjang sabar-Nya, tidak rela membiarkan seorangpun binasa, telah melakukan suatu usaha terbesar untuk menyelamatkan bangsa itu. “Tuhan tidak berlambatan mengenai janji-Nya, sebagaimana sebagian orang menganggapnya lambat; melainkan Ia adalah panjang sabar terhadap kita, tidak rela seorangpun binasa, melainkan agar hendaknya semuanya datang kepada pertobatan.” (2 Petrus 3 : 9). 

Pada waktu mimpi mengenai patung yang besar itu diberikan kepada Nebukadnezar ingatannya mengenai obyek itu lenyap, tetapi kesan yang tertinggal di dalam pikirannya adalah sangat meningkat. Setelah tuntutannya yang mendesak dari orang-orang pintarnya gagal mengungkapkan mimpi raja itu, maka Daniel, oleh perantaraan wahyu Ilahi, mengungkapkan rahasia keajaiban itu dengan cara menginterpretasikan mimpinya itu. Keajaiban yang menakjubkan ini seharusnya sudah menobatkan raja itu berikut semua orang pintarnya di Babilon kepada ibadahnya bangsa Ibrani, karena oleh kuasa dari Allahnya Daniel mereka telah luput dari hukuman mati. Tetapi ternyata tidak ada perubahan apapun bagi yang lebih baik. Walaupun raja itu menghormati Allah dengan bibirnya, hatinya ternyata jauh dari pada-Nya. Raja itu tidak juga membinasakan segala dewa yang ada di negeri itu, melainkan justru dalam kebutaannya ia terus maju mendirikan dewa-dewa yang lebih hebat lagi; karena tak lama kemudian sesudah mimpinya itu diungkapkan pengertiannya ia telah meminta kepada semua rakyatnya untuk menyembah “patung emas” yang didirikannya di lapangan Dura. (Bacalah Daniel pasal tiga).

Penolakan tiga pemuda Ibrani itu untuk menyembah sujud kepada dewa, serta keajaiban dengan mana mereka telah diselamatkan dari dapur api yang bernyala-nyala itu, sangat mempengaruhi pikiran para pemimpin pemerintahan, tetapi itupun gagal untuk merubah hati raja itu. Kembali ia menghormati Allah segala ilah itu hanya dengan bibirnya tetapi bukan dengan perbuatannya. Segala perbuatan raja yang tidak benar itu membuatnya perlu mendapatkan suatu hukuman alamiah yang luar biasa. Sebab itu suatu usaha besar untuk menyadarkan dia untuk bergantung kepada Khaliknya adalah perlu. Mimpi yang diberikan kepadanya (di dalam pasal empat), mengenai pohon yang besar itu -- suatu simbol dari dirinya sendiri -- dan interpretasinya oleh Daniel, telah menyadarkan raja yang keras hati itu akan kebenarannya, serta hukuman yang akan menimpa dirinya, terkecuali ia bertobat. Daniel mengatakan : “Maka sebab itu, ya tuanku, hendaklah kiranya bicara hamba ini berkenan di hadapan tuanku raja, buangkanlah kiranya segala dosa tuanku oleh kebenaran

dan segala kesalahan tuanku oleh belas kasihan akan orang miskin, supaya dilanjutkan kiranya selamat sejahtera tuanku. ….. Dua belas bulan kemudian berjalanlah baginda raja di dalam istana kerajaan Babilon ..... Maka pada jam itu juga genaplah perkara itu atas diri Nebukadnezar; maka ia dihalau dari antara manusia, lalu ia memakan rumput seperti lembu, dan tubuhnya basah dengan embun dari langit, sehingga rambutnya bertumbuh seperti bulu burung garuda, dan kuku-kukunya seperti cakar burung.” (Daniel 4 : 27, 29, 33). 

Pada akhir dari pengalaman yang penuh penderitaan itu, raja itu berkata : “Sekarang aku Nebukadnezar memuji dan membesarkan dan memuliakan Raja surga itu, karena segala perbuatan-Nya adalah kebenaran, dan semua jalan–Nya adalah keadilan : maka barangsiapa yang berjalan dalam kesombongan Ia pun dapat merendahkan.” (Ayat 37). Walaupun ia mengakui kuasa dari Dia yang Kekal itu, ia menyembah sujud kepada-Nya, dan mengucapkan kata-kata pujian dengan ucapan yang sangat mulia, raja itu lalai menyerahkan hati kapirnya dan meninggalkan cara ibadah kekapirannya. Ia lalai untuk memeluk kepentingan utama meneruskan pengetahuan Yehovahnya kepada keturunannya bagi kesejahteraan mereka dan bagi kekekalan kerajaannya. 

Pengalaman-pengalaman yang indah ini adalah merupakan suatu objek pelajaran bagi raja-raja yang akan datang. Tak lama kemudian sesudah kegenapan mimpi itu, maka naiklah cucunya ke atas tahta. Dalam adat kebiasaan kekapirannya ia mencoba menentang Allah atas segala dewa, dan Raja atas segala raja itu yang mampu membuat lembu dari raja-raja dan raja-raja dari lembu, dan para penghulu dari budak-budak. “Karena kenaikan itu datangnya bukan dari sebelah timur ataupun dari sebelah barat ataupun dari sebelah selatan. Tetapi Allah adalah hakim; Dialah yang menurunkan seseorang, dan Dialah yang menempatkan seseorang lainnya.” (Mazmur 75 : 6, 7). 

Bejana-bejana yang suci itu belum pernah sebelumnya dicemarkan oleh seseorang raja seperti halnya di dalam pesta perayaan mabuk-mabukan Belsyazar. Allah mau bersabar sampai manusia melangkah melewati garis perbatasan. Belsyazar ini telah berbuat dengan cara membawakan bejana-bejana yang suci itu ke hadapan para penghulunya, para gundiknya, dan dewa-dewa kekapirannya. Pada waktu terlihat tangan menulis pada tembok perasaan hatinya yang bersalah lalu menyusahkan dia; semua ikat pinggangnya terlepas, dan lutut-lutut gemetar yang satu menyentuh yang lainnya. Seperti halnya bapaknya, Belsyazar melalaikan Daniel, maka ia mengundang orang-orang pintar di Babilon untuk menginterpretasikan tulisan itu; walaupun ia seharusnya sudah tahu akan ketidak-mampuan mereka itu untuk mengungkapkan rahasia. Pada akhirnya Daniel juga yang dipanggil dan pada saat kedatangannya ia mengatakan : Mene; Allah telah menentukan angka bilangan kerajaan tuanku, dan mengakhirinya. Tekel; Tuanku telah ditimbang di atas neraca, dan telah didapati ringan. Peres; Kerajaan tuanku akan dibagi, dan diberikan kepada orang-orang Medo-Persia.” (Daniel 5 : 26 – 28). Pengalaman-pengalaman ayahnya yang tak ternilai pada waktu kenaikannya ke atas tahta itu sudah akan merupakan berkat-berkat yang abadi, tetapi karena melalaikan kuasa Allah raja itu telah membalikkan keuntungan-keuntungan yang berasal dari berkat menjadi kutuk, dan mengakhiri nasib kerajaannya. Setiap akal untuk membuat singa itu (Babilon) berdiri seperti manusia di bawah pemerintahan raja-raja Kasdim telah habis, dan setiap usaha gagal.

Oleh sebab itu, waktunya telah tiba bagi Tuhan untuk menggunakan pengobatan yang terakhir kepada kerajaan singa itu.

Koresh, yang oleh Allah telah dibicarakan melalui nabi-Nya bertahun-tahun sebelumnya itu diijinkan untuk memasuki ibukota dari raja Kasdim itu. (Lihat Yesaya 45 : 1). Babilon sebagai kerajaan nomor dua berlalu sudah, maka simbol mengenai sayap-sayap yang “tercabut” itu menemui kegenapannya. “Pada malam itu juga Belsyazar raja Kasdim itu dibunuh”. Hati singa itu ialah lambang dari raja kapir -- yaitu Belsyazar yang dibunuh itu -- dan demikianlah hati binatang itu telah disingkirkan. Manusia merencanakan, tetapi seringkali kekuasaan yang lain yang tidak dikuasainya itulah yang menentukan.

Daniel telah dijadikan presiden yang pertama atas 120 penghulu, sebab “terdapat di dalam dirinya suatu roh yang sempurna”. Baik Koresh maupun Darius telah bertobat menyembah sujud kepada Allah yang benar. Oleh sebab itu, Lengan yang kekal yang ikut campur tangan dalam persoalan-persoalan manusia telah mendudukkan seorang raja pilihan-Nya sendiri.

Dalam cara inilah simbol-simbol itu menemui kegenapannya dan singa itu “diangkat ke atas dari bumi, dan dibuat berdiri pada kakinya seperti seorang manusia, dan suatu hati manusia diberikan kepadanya.”

Jantung adalah suatu lambang yang cocok dari seorang pemimpin sesuatu bangsa. Perbedaan yang tegas di antara seorang raja yang beragama dan yang tidak beragama adalah sama luas perbedaannya seperti di antara hati manusia dan hati binatang. Jantung adalah daya pemberi hidup kepada tubuh manusia, sama seperti seorang raja adalah pemimpin dari sesuatu bangsa.

Setelah kebebasan diberikan kepada orang-orang Yahudi, maka Koresh dalam pernyataannya mengatakan : “Demikianlah kata Koresh raja Persia, Tuhan Allah di surga telah mengaruniakan kepadaku semua kerajaan di bumi; maka Ia telah menugaskan kepadaku untuk mendirikan bagi-Nya sebuah rumah di Yerusalem, yang terletak di Yehuda. Siapakah yang ada di antara kamu yang berasal dari umat-Nya? Allahnya menyertai dia, maka hendaklah ia pergi naik ke Yerusalem, yang di Yehuda itu, dan hendaklah ia mendirikan rumah Tuhan Allah Israel, (Ialah Allah), yang berada di Yerusalem.” (Ezra 1 : 2, 3). Pengaruh kesalehan dari raja-raja Medo-Persia ini tidak digunakan sampai bertahun-tahun kemudian. Keputusan yang dibuat oleh Koresh itu ditulis pada sebuah gulungan surat ditempatkan di Achmetha, di dalam istana yang berada di dalam propinsi orang-orang Medes. Beberapa tahun kemudian karena gulungan surat itu ditemukan oleh Darius, maka keputusan itu lalu segera dilaksanakan. Koresh telah memutuskan, bahwa semua orang harus memberikan suatu persembahan sukarela, dan raja itu sendiri telah menyumbangkan tanpa batas. Ia mengatakan : “dan lagi aku mengeluarkan suatu keputusan akan apa yang harus kamu perbuat bagi tua-tua dari orang-orang Yahudi ini supaya didirikannya rumah Allah bahwa dari harta benda raja, juga upeti dari seberang sungai, hendaklah diberikan dengan segera kepada orang-orang ini segala biayanya, agar mereka tidak dihalangi.” (Ezra 6 : 8). Ia selanjutnya memutuskan, bahwa semua keperluan untuk memelihara upacara-upacara korban supaya “diberikan kepada mereka setiap hari dengan tidak lalai”. Kemudian ia menambahkan “Supaya mereka mempersembahkan korban

yang harum baunya kepada Allah di surga dan berdoa bagi keselamatan hidup baginda dan anak-anaknya.” (Ezra 6 : 10). Nebukadnezar mengaku bertobat sesudah pengalamannya yang indah dengan Allah di surga, lalu ia menyatakan : “Maka segala orang yang diam di bumi itu kebaikannya bagaikan sia-sia adanya, maka dibuat-Nya akan segala tentara di langit dan di antara segala penduduk di bumi sesuai kehendak-Nya, maka tak seorangpun dapat menolak tangan-Nya, ataupun mengatakan kepada-Nya, Apakah yang Kau perbuat? Pada waktu yang sama akalku kembali kepadaku; dan untuk kemuliaan kerajaanku, maka kehormatan dan kebesaranku kembali kepadaku; maka segala penasehatku dan orang-orang besarku mencari akan daku; maka aku ditetapkan kembali di dalam kerajaanku, dan kebesaran sempurna dipertambahkan kepadaku. Kini aku Nebukadnezar memuji-muji dan meninggikan dan menghormati Raja surga itu, semua perbuatan-Nya adalah kebenaran, dan semua jalannya adalah keadilan; maka barangsiapa yang berjalan dalam kesombongan Ia mampu merendahkan.” (Daniel 4 : 35 – 37). 

Walaupun kata-kata luhur yang diucapkan oleh raja Kasdim itu tampaknya mengungkapkan suatu perubahan hatinya, segala perbuatannya menunjukkan kegagalan dalam apa yang bibirnya sendiri telah ucapkan. Alangkah bedanya di antara raja Babilon itu dan raja-raja Medo-Persia itu! Nebukadnezar menolak untuk membebaskan umat Allah; ia menolak untuk mengembalikan bejana-bejana yang suci itu kepada Raja surga; ia tidak mengeluarkan keputusan apapun untuk mendirikan kembali rumah Allah; ia tidak memberikan sumbangan jenis apapun kepada Raja atas segala raja itu; ia tidak memberikan pengetahuannya mengenai Yehovah kepada semua rakyatnya; ia membiarkan anak-anaknya dan rumah tangganya tetap menyembah sujud kepada dewa-dewa kekapiran yang terbuat dari kayu dan batu; ia tidak berusaha apa-apa untuk memberikan kepada Allah kemuliaan, terkecuali hanya dengan bibirnya saja. 

Walaupun kita memiliki semua teladan ini di hadapan kita, namun betapa seringnya kita mengakui dengan bibir kita akan apa yang benar dan betul, tetapi kita tidak berusaha apa-apa untuk mencapai uluran Tangan kasih Ilahi. Banyak orang tak terhitung jumlahnya sedang menirukan teladan yang dibuat oleh raja kuno itu. “Mereka ini datang dekat kepada-Ku dengan mulutnya, dan menghormati Aku dengan bibirnya, tetapi hati mereka itu jauh dari pada-Ku.” (Matius 15 : 8). 

Walaupun Nebukadnezar telah lalai dalam segala perkara yang suci ini, namun Allah, dalam kemurahan-Nya yang besar telah menyelamatkan raja itu. Allah cukup menahan sabar terhadap raja Babilon itu, tetapi “raja yang pernah tinggi hati itu telah menjadi seorang anak Allah yang rendah hati; pemimpin yang tiran, yang suka menguasai itu, telah menjadi raja yang bijaksana dan penuh kasih sayang. Dia yang telah menentang dan menghujat Allah di surga itu, kini mengakui akan kuasa Dia Yang Maha Tinggi, dan dengan sungguh-sungguh berusaha untuk mempromosikan takut akan Yehovah serta kebahagiaan rakyatnya. Karena teguran dari Dia yang Raja atas segala raja dan Tuhan atas segala tuan itu, maka Nebukadnezar telah mempelajari pelajaran yang terakhir yang perlu dipelajari oleh semua pemimpin.” -- “Prophets and Kings”, p. 521.

BERUANG DAN MACAN TUTUL 

Contoh yang dibuat dari raja-raja Babilon itu hendaknya menjadi sebuah objek pelajaran kepada semua raja-raja yang berikutnya. Pengaruh kehidupan beriman dari Koresh dapat juga dipertahankan, tetapi raja-raja Medo-Persia itu seperti juga halnya orang-orang Kasdim itu, mereka mencari kemuliaan duniawi tanpa takut akan Dia yang dapat mendirikan kerajaan-kerajaan, dan menyingkirkan raja-raja. 

Pelajaran yang tak ternilai yang diajarkan oleh pehukuman terhadap raja-raja Kasdim itu seharusnya merupakan berkat bagi mereka, tetapi di dalam ingatan mereka yang sia-sia mereka menjauhi diri dari sumber kebijaksanaan yang benar dan dari kekuasaan yang tidak pernah gagal. Dengan demikian apa yang dimaksudkan sebagai suatu berkat bagi mereka ternyata telah menjadi suatu hukuman. Oleh sebab itu, raja-raja dari Medo-Persia telah bertumbuh menjadi terburuk daripada raja-raja Yunani yang patung-patungnya adalah dewa-dewa mereka, dan selera-selera lidahnya yang kacau merupakan satu-satunya pedoman hidup mereka. Dengan demikian kembali tiba masanya bagi tulang-tulang rusuk di dalam mulut beruang itu untuk berbicara, “Bangkitlah kamu dan makanlah daging yang banyak”. Oleh karena itu, lengan Dia Yang Maha Kuasa itu ditarik dari raja Persia, dan Alexander dengan kecepatan seekor burung garuda maju menangkap mangsanya. Demikianlah Medo-Persia membuka pintu gerbangnya bagi peperangan-peperangan berdarah dalam sejarah dunia kita. Dengan cara inilah kata-kata yang berbunyi, “Bangkitlah kamu, makanlah daging yang banyak”, menemui kegenapannya. 

Daniel mengatakan : “Maka sementara aku memperhatikannya, tampaklah seekor kambing jantan datang dari sebelah barat yang melintasi seluruh muka bumi, tanpa menyentuh tanah; maka kambing jantan itu mempunyai sebuah tanduk yang terkenal di antara kedua matanya. Maka datanglah ia mendapatkan domba jantan yang memiliki dua tanduk itu, dan yang telah kulihat berdiri di hadapan sungai itu, maka ia pun menerjangnya dengan sangat kuatnya. Dan aku melihatnya datang mendekati domba jantan itu, dan ia menerjangnya dengan geramnya, dan menanduknya, dan mematahkan kedua pucuk tanduknya; maka domba jantan itu tiada berdaya lagi untuk berdiri di hadapannya, maka dihempaskannya akan dia ke tanah, dan dipijak-pijaknya akan dia : dan seorangpun tiada yang dapat melepaskan domba jantan itu dari tangannya. ..... Domba jantan yang kau lihat memiliki dua pucuk tanduk itu adalah raja-raja Medo-Persia. Dan kambing jantan yang kasar itu ialah raja dari Yunani; dan tanduk besar yang terdapat di antara kedua matanya itu ialah raja yang pertama.” (Daniel 8 : 5 – 7, 20, 21). Oleh sebab itu, Alexander, yang keinginannya untuk berkuasa tidak mengenal batas itu adalah yang pertama berhasil memimpin barat memerangi timur. 

Tetapi tak begitu lama Alexander mengalahkan kerajaan itu, terlibatlah ia dalam suatu pesta makan minum yang memabukkan, dan ia mati selagi ia masih muda. Dengan demikian tanduk dari “kambing jantan” itu patah dari antara kedua matanya, “maka gantinya telah muncul empat pucuk tanduk yang terkenal mengarah

___ GAMBAR ___

[empty page]

ke empat mata angin di langit.” Alexander karena tidak mempunyai seorang pengganti untuk mewarisi tahtanya, maka kerajaan itu terbagi di antara empat orang jenderalnya, yaitu Cassander, Lysimachus,

Ptolemy, dan Seleucus. Dengan demikian waktu dan takdir mendatangkan binatang macan tutul yang berkepala empat.

DOMBA JANTAN DAN KAMBING JANTAN

Seluruh pertikaian di antara bangsa-bangsa dilambangkan oleh domba jantan dan kambing jantan, dengan berbagai macam tanduk yang muncul dan yang patah. Mengapa domba jantan dan kambing jantan? Mengapa tidak jenis binatang yang lain? Yesus memberikan jawabannya : “Maka di hadapan-Nya akan berhimpun segala bangsa : dan Ia akan memisah-misahkan mereka itu satu daripada lainnya, seperti gembala memisahkan domba-dombanya dari kambing-kambing. Dan Ia akan menempatkan domba-domba itu pada sebelah kanan-Nya, tetapi kambing-kambing itu pada sebelah kirinya.” (Matius 25 : 32, 33).

Melalui binatang-binatang piaraan ini ilham membawakan pengertian bahwa penduduk bumi adalah hanya domba-domba dan kambing-kambing -- agama yang benar dan yang palsu. Itu juga menunjukkan bahwa peperangan itu adalah suatu pertentangan antara yang baik dan yang jahat. Tetapi mengapakah Medo-Persia dilambangkan oleh domba jantan dan Yunani oleh kambing jantan? Mengapa tidak sebaliknya? Raja-raja dari kerajaan Medo-Persia telah menjadi orang-orang percaya kepada Allah yang benar seperti yang dijelaskan terdahulu; dengan demikian mereka memiliki prinsip-prinsip yang bertentangan terhadap prinsip-prinsip yang dianut orang-orang Yunani. Karena alasan itulah Medo-Persia telah dilambangkan oleh seekor domba jantan, dan Yunani oleh seekor kambing jantan. Ajaib benar untuk dicatat betapa tepatnya dan bijaksananya hikmat pengetahuan yang besar serta pengawasan dari Dia Yang Tak Terbatas itu, seperti yang dilaksanakan dalam merencanakan semua simbol ini. Hanya Yang Maha Kuasa yang dapat menciptakan seni nubuatan yang sempurna sedemikian ini, yang meramalkan peristiwa-peristiwa sejarah. 

KERAJAAN TEMBAGA MEMERINTAH DUNIA

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa singa, beruang, dan macan tutul adalah binatang-binatang yang ditentukan nomor bilangannya secara Ilahi. Macan tutul karena merupakan kerajaan yang keempat semenjak kejadian dunia, dan karena angka nomor-nomor itu dalam cara penomoran ini berakhir dengannya, maka dengan sendirinya timbul pertanyaan : Mengapa urutan penomoran itu tidak dilanjutkan terhadap binatang-binatang yang datang menyusul macan tutul itu? Ada beberapa alasan bagi perubahan ini dengan binatang yang dimaksud. Karena Romawi secara perlahan-lahan bangkit dari dalam kerajaan Yunani ia pada akhirnya menarik bagian yang terakhir dari Yunani dan dinasti Ptolemy menjadi sebuah propinsi dari negara Romawi pada kira-kira tahun 27 sebelum Tarik Masehi. Dengan demikian Wasiat Lama berakhir dengan Yunani dan dengan Romawi Wasiat Baru dimulai. Oleh sebab itu, di antara Yunani dan Romawi terletak garis pemisah. Juga perlu dicatat bahwa binatang-binatang yang melambangkan Wasiat Lama adalah tidak bertanduk, tetapi binatang-binatang dalam Wasiat Baru adalah bertanduk. Semuanya menunjukkan berakhirnya periode contoh dan dimulainya periode contoh saingan.

Angka-angka dari Alkitab adalah bagaikan lapisan-lapisan logam yang terjadi di bawah permukaan bumi. Beribu-ribu orang melintasi perbendaharaan yang tidak dikenal ini sampai kemudian sesuatu kuasa yang tak terlihat membawakannya ke permukaan. Kita semua tahu bahwa Trinitas adalah yang terbaik dikemukakan dengan memakai sebutan, Bapa, Anak, dan Rohulkudus. Demikian juga kita mengemukakan sifat-sifat Allah itu dalam tiga sebutan, yaitu, tak terhingga kehadiran-Nya, tak terhingga ilmu-Nya, tak terhingga kuasa-Nya. Keistimewaan ini dapat diperluas sebesar-besarnya. 

Jika tiga adalah simbol dari Tritunggal Yehovah, maka empat harus menunjukkan apa yang keluar dari Dia, seperti yang diungkapkan dalam kejadian dunia. Cherubium-cherubium itu terdiri dari empat mahluk hidup, yang masing-masingnya secara berturut-turut memiliki wajah seekor singa, seekor anak lembu, seorang manusia, dan seekor burung garuda. Ada empat bagian bumi, yaitu Timur, Utara, Selatan, dan Barat, yang merupakan ungkapan kelengkapan arah; sama halnya : musim dingin, musim bunga, musim panas, dan musim gugur meliputi suatu putaran musim-musim yang lengkap. Sudah kita saksikan bahwa ada empat kerajaan dunia dalam sejarah dunia semenjak dari kejadian sampai kepada penyaliban Yesus. Dapat juga kita catat akan kenyataan yang berkaitan dengan pokok masalah ini, bahwa terdapat suatu kombinasi dari rangkap tiga dengan rangkap empat seperti yang jelas terlihat dalam pekerjaan menciptakan dunia dahulu, dimana empat hari yang pertama telah digunakan dalam membentuk bola dunia ini, dan tiga hari sisanya itu dalam menciptakan mahluk-mahluk hidup dan mencapai puncaknya pada suatu istirahat Sabat. Hari yang keempat melihat selesainya penciptaan barang-barang materi, dan pada hari yang kelima dan keenam, ialah mengisi bumi dengan penduduknya. Di dalam buku Wahyu di bawah judul tujuh meterai, kita perhatikan bahwa empat meterai yang pertama itu jelas-jelas dipisahkan dari tiga meterai yang terakhir oleh simbol-simbol dari empat ekor kuda. Dengan demikian terlihat bahwa ukuran empat rangkap dalam masing-masing kasus mendahului tiga rangkap, sama seperti dalam urutan kejadian dunia, masing-masing pembagian mencapai puncaknya dalam tujuh yang sempurna. Karena alasan inilah ada empat bagian dalam patung besar dari Daniel Dua, empat binatang dalam khayalnya Daniel, empat sayap dan empat kepala pada macan tutul dengan siapa nomor-nomor dalam cara urutan itu berakhir. Dengan demikian terbukti, bahwa Wasiat Lama berakhir dengan suatu nomor simbolis  -- empat (binatang macan tutul). Dengan menunjukkan bahwa semua persediaan yang perlu bagi keselamatan keluarga manusia adalah lengkap di bawah takdir nomor yang terkenal ini, yaitu “empat”, sebagaimana ia itu berakhir pada kira-kira waktu penyaliban. Demikianlah angka nomor ini telah digunakan dalam kaitannya dengan kejadian-kejadian yang timbul untuk mengartikan dunia secara luas. 

* * *

Tiuplah olehmu nafiri di Sion,

dan bunyikanlah suatu tanda bahaya

di dalam gunung kesucian-Ku;

hendaklah semua penduduk negeri gementar;

karena hari Tuhan itu datang,

karena sudah dekat sekali hari itu.

(Yoel 2 : 1).

BINATANG YANG TAK TERGAMBARKAN

Daniel 7 : 7 

Menyusul macan tutul yang berkepala empat itu datanglah binatang yang tak tergambarkan dari Daniel 7 : 7, melambangkan kerajaan dunia yang keempat semenjak dari air bah, tetapi yang kelima semenjak dari kejadian. Romawi telah dilambangkan oleh sebuah simbol yang lebih hebat lagi daripada kerajaan-kerajaan sebelumnya. Harus ada suatu alasan khusus mengapa kerajaan Romawi dilambangkan oleh seekor binatang yang tak tergambarkan. Simbol itu mengungkapkan bahwa sistem pemerintahan Romawi adalah suatu pengaturan yang tidak dapat digambarkan. Pendekatan yang terdekat untuk suatu nama yang tepat ialah sebutan -- tak tergambarkan. 

Kita akan melihat sekarang kepada administrasi pemerintahannya. Penyaliban terhadap Kristus dan mati sahid orang-orang Kristen membuktikan, bahwa penguasa eksekutif Romawi memberi kekuasaan resmi kepada paham kekapiran yang berperang melawan Kekristenan. Sebagaimana orang-orang Kristen ini dibunuh karena penolakan mereka untuk menyembah berhala-berhala orang banyak itu, maka jelaslah bahwa orang-orang Yahudi telah menggunakan alat penguasa sipil Romawi untuk mengadili dan memaksakan adat-adat kebiasaan agama mereka sendiri; Yesus merupakan suatu contoh, karena Ia telah disalibkan sebagai akibat dari pertentangan agama. Romawi dalam abad yang pertama telah menganiaya orang-orang Kristen, tetapi setelah menganut Kekristenan, ia menganiaya orang-orang Kapir, ia memaksa mereka untuk menggabungkan diri dengan yang disebut gereja Kristen. Dari bukti-bukti yang dikumpulkan jelaslah terlihat, bahwa kerajaan Romawi merupakan alat baik bagi orang Kapir, atau bagi orang Yahudi ataupun bagi orang Kristen; secara bergantian memilih yang satu kemudian yang lainnya. Sebab itu sebagaimana tabiat dari kekuasaan hukum kerajaan Romawi tidak dapat didefinisikan sebagai Kapir atau Yahudi atau Kristen, maka “tak tergambarkan” adalah satu-satunya simbol yang tepat. Dikatakan dari hal kaizar Constantine pada waktu kematiannya, bahwa para pengikutnya tidak tahu cara penguburan yang bagaimanakah yang akan diberikan kepadanya, karena ia adalah seorang yang mengaku dirinya Kristen, tetapi di hatinya ia seorang Kapir. Barangkali banyak bangsa-bangsa seperti juga sebagian orang yang mengaku dirinya Kristen pada waktu ini adalah orang-orang yang tak tergambarkan seperti orang-orang Romawi itu, karena rasul telah menggambarkan keadaan mereka itu demikian : “Karena masanya akan datang apabila orang tidak tahan akan pengajaran yang benar, tetapi sebab gatal telinganya hendak mendengar, maka dihimpunkannya guru-guru bagi dirinya menurut hawa napsunya sendiri, dipalingkannya telinganya dari yang benar, lalu berbalik kepada cerita-cerita dongeng.” (2 Timotius 4 : 3, 4). 

USAHA-USAHA UNTUK MENDIRIKAN PEMERINTAHAN-PEMERINTAHAN AGAMA 

Pertanyaan mungkin timbul : Apa yang Setan buat menghalangi pendirian sebuah kerajaan agama sebelum berakhirnya periode

___GAMBAR___

DANIEL 7 : 7

[empty page]

___GAMBAR___

DANIEL 7 : 25

[halaman kosong]

Wasiat Lama? Satu-satunya jawaban yang dapat diberikan ialah, bahwa bangsa Yahudi telah membiarkan dia menggelapkan mata mereka. Mereka diberitahu supaya tidak melakukan perserikatan dengan dunia, tetapi, tanpa menyadari akan perintah itu mereka telah bersekutu dengan orang-orang Romawi, dan itulah yang membantu Setan untuk menyelesaikan rencananya. 

Yang berikut ini akan menunjukkan, bahwa musuh manusia yang besar ini telah juga mencoba dengan prosedur yang sama ini di zaman kerajaan Babilon : “Baginda raja Nebukadnezar telah membuat sebuah patung emas, yang tingginya enam puluh hasta dan lebarnya enam hasta. Patung itu didirikannya di lembah Dura di propinsi Babilon. Kemudian berserulah seorang bentara dengan kuatnya : Hai kamu segala bangsa dan kaum dan orang-orang dari berbagai bahasa, kepadamu diperintahkan : ..... hendaklah kamu menyembah sujud kepada patung keemasan yang telah didirikan oleh baginda raja Nebukadnezar : maka barangsiapa yang tiada menyembah sujud pada ketika itu juga ia itu akan dicampakkan ke dalam dapur api yang bernyala-nyala ..... Maka sujudlah segala bangsa dan orang-orang dari berbagai bahasa itu menyembah patung keemasan itu.” (Daniel 3 : 1, 4 – 7). Tetapi ada tiga orang Ibrani yang ditemukan mendurhaka melawan perintah raja itu dan mereka menolak untuk menyembah sujud kepada dewa. “Maka Sadrakh dan Mesakh dan Abednego menjawab dan mengatakan sembahnya kepada baginda raja, Tuanku Nebukadnezar, tiada gunanya kami menjawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika memang demikian itu kelak halnya, maka Allah kami yang kami sembah itu akan mampu melepaskan kami dari dapur api yang bernyala-nyala itu, dan Ia akan melepaskan kami dari tangan tuanku raja. Tetapi jika tidak, maka ketahuilah olehmu tuanku raja, bahwa kami tidak mau berbakti kepada dewa-dewamu, ataupun menyembah sujud kepada patung keemasan yang tuanku dirikan itu. ..... Maka diperintahkan olehnya orang-orang yang sangat kuat dari bala tentaranya untuk mengikat Sadrakh, dan Mesakh, dan Abednego, dan mencampakkan mereka itu ke dalam dapur api yang bernyala-nyala ..... Sebab itu karena titah raja adalah sangat penting, dan dapur api itupun sangat panas, maka nyala api telah mematikan orang-orang itu yang telah membuang Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Dan ketiga mereka ini, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego jatuh dengan terikat ke tengah-tengah dapur api yang bernyala-nyala itu. Kemudian Nebukadnezar ..... menjawab dan mengatakan, Sesungguhnya aku melihat empat orang dengan terlepas ikatannya berjalan di tengah-tengah api, dan mereka tidak terluka; dan bentuk dari orang yang keempat itu adalah seperti Anak Allah. Kemudian Nebukadnezar datang menghampiri pintu dari dapur api yang bernyala-nyala itu, dan berbicara katanya, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, kamu hamba-hamba Allah yang Maha Tinggi, keluarlah, dan datanglah kemari.” (Ayat 16 – 18, 20, 22 – 26). 

Kemudian keluarlah orang-orang ini dengan tanpa terluka apapun. Adalah ajaib apa yang telah Allah lakukan terhadap hanya tiga orang budak ini melawan sebuah kerajaan dunia. Ketiga orang ini dengan iman kepada Allah telah menghancurkan peralatan Setan, dan menghapuskan pendirian sebuah pemerintahan agama dan menggagalkan keputusan raja. 

Setan telah menyusun suatu komplotan yang sama juga di dalam pemerintahan Medo-Persia dengan rencana-rencana yang dilaksanakan secara tipu, yang menyesatkan

secara tak disangka-sangka. Walaupun Daniel dibuang ke dalam lubang singa, ia pun telah keluar dengan tidak terluka apapun, tetapi musuh-musuhnya binasa seperti yang berlaku atas orang-orang yang mencampakkan ketiga orang Ibrani itu ke dalam dapur api yang bernyala-nyala. Dengan demikian kuasa Setan dihancurkan di dalam kedua kerajaan kuno itu. Kalau saja ada terdapat orang-orang yang sedemikian ini seperti halnya orang-orang Ibrani ini pada zaman berdirinya kerajaan Romawi, atau pada penutupan sejarah Wasiat Lama dan selama permulaan sejarah Wasiat Baru, maka keadaannya sudah akan berubah sama sekali. Dunia pada waktu ini sangat membutuhkan orang-orang yang seperti tiga pemuda Ibrani itu, yang lebih suka menyerahkan hidupnya yang ada daripada melawan Allah mereka -- orang-orang seperti Daniel, yang memandang dengan iman yang teguh kepada Tuhan dan tanpa didapati bersalah dalam tugas-tugas agamanya maupun tugas-tugas duniawinya. Oleh perantaraan orang-orang yang sedemikian ini dunia telah diberkahi dengan keuntungan-keuntungan yang kekal dan penghargaan-penghargaan yang tak dapat digambarkan oleh bibir manusia. 

“Betapa indahnya di atas gunung-gunung kaki-kaki orang yang membawakan kabar-kabar baik, yang memberitakan perdamaian; yang membawakan kabar-kabar baik yang berisikan kebaikan, yang memberitakan selamat; yang mengatakan kepada Sion, Allahmu memerintah! Semua pengawalmu akan mengangkat suara; dengan suara bersama-sama mereka akan menyanyi : karena mereka akan bersepakat, ketika Tuhan akan membawa kembali Sion.” (Yesaya 52 : 7, 8).

[halaman kosong]

___ GAMBAR____

WAHYU 12 SIDANG DAN ULAR NAGA 

NAGA MERAH

Wahyu 12 : 3 

“Maka kelihatanlah di langit suatu keajaiban besar; yaitu seorang perempuan bersalutkan matahari, dan bulan ada di bawah kakinya, dan pada kepalanya ada sebuah mahkota dengan dua belas bintang : dan ia sedang mengandung dan berteriak sebab sakit dan sengsara hendak melahirkan. Dan kelihatanlah suatu keajaiban yang lain lagi di langit; dan tengoklah seekor naga besar yang merah yang berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di kepalanya bermahkota tujuh. Maka ekornya menyeret sepertiga dari segala bintang di langit, lalu dicampakkannya ke bumi; maka berdirilah naga itu di hadapan perempuan yang sedang siap untuk melahirkan, untuk menelan anaknya segera setelah ia dilahirkan. ..... Lalu tercampaklah naga besar itu, yaitu ular tua, yang dinamakan Iblis, dan Setan, yang menyesatkan seluruh isi dunia : ia sudah tercampak ke bumi dan segala malaikatnya telah tercampak juga besertanya.” (Wahyu 12 : 1 – 4, 9). Naga itu terlihat di langit dan sedang “tercampak keluar”, maka jelaslah bahwa simbol ini adalah berasal dari surga. Dari halnya dikatakan : “Ular tua itu, yang dinamakan Iblis, dan Setan”. Perhatikan bahwa naga itu adalah lambang dari Setan, juga seperti halnya Anak Domba yang memiliki “tujuh tanduk dan tujuh mata” adalah lambang dari Kristus. (Wahyu 5 : 6). 

Oleh karena binatang-binatang yang banyak itu membentuk suatu rantai kerajaan-kerajaan dunia yang tak terputus, maka naga tidak mungkin memotong menyilang di antara sambungan-sambungan rantai itu sebagai lambang dari suatu sistem bumi yang terpisah; dengan demikian ia melambangkan tepat seperti apa yang Injil katakan : “Iblis, dan Setan”. Bentuk itu diberikan untuk mengungkapkan rencana Setan pada sesuatu masa tertentu dalam sejarah dunia kita. 

“Perempuan itu bersalutkan matahari” dapat dimengerti merupakan sidang Allah. Anak yang dilahirkannya itu ialah Kristus. Dua belas bintang yang membentuk mahkota dari perempuan itu pada dasarnya merupakan lambang-lambang dari dua belas kepala suku. Ini akan diperjelas dalam penyelidikan yang lain. Oleh sebab itu, kami hendak berusaha untuk memperjelas masa dari naga itu dan pekerjaannya. Dapatlah dicatat bahwa naga itu berdiri siap untuk menelan anak itu (Kristus) segera setelah Ia lahir. Terbuktilah, bahwa ular tua itu mempersenjatai dirinya dengan tujuh kepala dan sepuluh tanduk mendahului kelahiran Kristus. 

“Maka ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di Langit.” Firman ini sendiri sudah jelas siapa yang dilambangkan oleh bintang-bintang itu, karena Ilham mengatakan : “Ia tercampak keluar ke bumi, dan Malaikat-Malaikatnya telah tercampak keluar bersama-sama dengannya.” 

Oleh sebab itu, “sepertiga dari bintang-bintang” itu melambangkan malaikat-malaikat yang tertipu oleh perlawanan Setan. Mengutip buku “Testimonies for the Church”, Jilid 3, halaman 115 : “Setan dalam pemberontakannya telah mengikutsertakan sepertiga dari malaikat-malaikat. Mereka itu berbalik meninggalkan Bapa dan Anak-Nya, lalu menggabungkan diri dengan

penghasut pemberontakan itu.” Pertanyaan mungkin timbul : Mengapa ia menarik mereka itu dengan ekornya dan bukan dengan sesuatu cara yang lain? Simbol itu mampu dengan setepatnya menunjukkan cara bagaimana Setan menarik malaikat-malaikat itu ke bumi. Kalau saja ia telah menggunakan kuku-kukunya, maka itu menunjukkan bahwa Setan telah mengalahkan Mikhael (Kristus), lalu secara paksa ia menarik keluar sepertiga dari malaikat-malaikat itu. Tetapi karena ia menarik mereka itu dengan ekornya, maka pengertiannya ialah bahwa sepertiga dari malaikat-malaikat itu telah menggabungkan diri kepadanya untuk memberontak melawan Mikhael. Karena pada waktu naga itu tercampak keluar, kepalanya dengan sendirinya keluar lebih dulu; maka karena malaikat-malaikat itu ditariknya dengan ekornya, maka itu mengungkapkan bahwa mereka itu telah mengikuti dia secara sukarela. Dengan demikian Kristus tidak dapat berbuat apa-apa bagi mereka. 

PERANG DI DALAM SURGA 

“Maka terjadilah perang di dalam surga : Mikhael dan malaikat-malaikat-Nya berperang melawan naga itu; dan naga itu berperang bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya, maka naga dan malaikat-malaikatnya itu tiada menang, dan tempatnya pun sudah tidak terdapat lagi di dalam surga.” (Wahyu 12 : 7, 8). Pertikaian ini terjadi di dalam surga. Nama “Mikhael” berarti yang sama dengan Allah; maka itu adalah salah satu dari sekian banyak gelar dari Kristus. Daniel memanggil-Nya “Mikhael Penghulu Besar itu yang berdiri membela bani bangsamu”. (Daniel 12 : 1). Kristus memiliki banyak gelar, masing-masingnya berisikan suatu definisi mengenai sesuatu phase tertentu, atau sifat dari pekerjaan-Nya. Malaikat mengatakan kepada Yusuf, “maka hendaklah kamu menamakan Dia Yesus, karena Ia akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka.” Ia juga disebut “Immanuel”, yang berarti, “Allah beserta kita”, dan sebagainya. 

WAKTU TERCAMPAK KELUAR 

Setan tidak mungkin sudah tercampak keluar dari surga segera setelah ia berdosa, atau sewaktu ia menipu Adam dan Hawa, karena di dalam Ayub 1 : 6, 7 kita baca : “Kini pada suatu hari sewaktu anak-anak Allah datang hadir ke hadapan Tuhan, maka Setan juga datang di antara mereka itu. Maka firman Tuhan kepada Setan : Engkau dari mana? Maka sahut Setan kepada Tuhan, katanya : Dari berjalan keliling dan beredar-edar di bumi.” “Anak-anak Allah” adalah wakil-wakil dari dunia-dunia yang tidak jatuh, sama seperti Adam sebelum ia berdosa. Mereka diciptakan oleh tangan Allah, dan mereka adalah wakil-wakil dalam kedudukannya seperti Adam kalau saja ia tidak jatuh dari tahtanya karena dosa. Mengutip dari Roh Nubuat : “Para komandan dari kesatuan-kesatuan besar malaikat, yaitu anak-anak Allah wakil-wakil dari dunia-dunia yang tidak jatuh, mereka itu berkumpul. Dewan samawi, di hadapan mana Lucifer telah menuduh Allah dan Puteranya, ialah wakil-wakil dari dunia-dunia yang tak berdosa yang Setan telah mengira hendak mendirikan kerajaannya atas mereka itu.” -- “The Desire of Ages”, halaman 834.

Setan masih berkesempatan masuk ke surga di zaman Ayub. Oleh sebab itu, ia harus sudah dicampakkan keluar pada suatu hari kemudian. Yohanes mengatakan : “Maka apabila naga itu melihat bahwa dirinya sudah tercampak ke bumi, ia pun menganiaya perempuan itu yang telah melahirkan anak laki-laki itu.” (Wahyu 12 : 13). Langkah yang perlu berikutnya ialah mencari tahu kapan naga itu untuk pertama kalinya menganiaya “perempuan” itu (Gereja Kristen); maka kita akan memperoleh kebenaran dari hal kapan Setan dicampakkan keluar. Waktu aniaya itu tercatat di dalam Kisah Para Rasul 8 : 1, “Maka Saul pun berkenan akan hal kematiannya (Stephanus). Maka pada masa itu terjadilah suatu aniaya besar ke atas sidang yang di Yerusalem; lalu tercerai-berailah mereka itu sekalian ke segenap tanah Yudea dan Samaria, terkecuali rasul-rasul saja.” Demikianlah aniaya yang besar terhadap sidang itu adalah kira-kira pada tahun 34 TM yang lalu. Benar bahwa Setan telah menganiaya Kristus mendahului waktu itu, tetapi Kristus adalah bukan “perempuan” itu. Ia adalah “Anak” yang hendak di “telan” oleh Setan. Oleh sebab itu, Setan tercampak keluar segera setelah Kristus naik ke tempat Yang Maha Tinggi. Berbicara mengenai peristiwa itu Roh Nubuat mengatakan : 

“Semua mereka berada di sana untuk menyambut Juruselamat. Mereka rindu sekali untuk merayakan kemenangan-Nya dan untuk memuliakan Raja mereka. ..... Ia mempersembahkan kepada Allah berkas ikatan gandum yaitu orang-orang yang bangkit bersama-sama-Nya sebagai wakil-wakil dari rombongan besar orang-orang yang akan muncul keluar dari kubur-kubur mereka pada kedatangan-Nya yang kedua kali ..... Suara Allah terdengar memberitakan bahwa keadilan telah memuaskan. Setan telah ditaklukkan. Pergumulan dan usaha-usaha berat dari para pengikut Kristus di bumi telah “disambut dalam Yang Kekasih”. Di hadapan malaikat-malaikat surga dan wakil-wakil dari dunia-dunia yang tidak jatuh mereka itu dinyatakan dibenarkan.” 

“Setan melihat bahwa selubung kepalsuannya telah terbuka. Semua perbuatannya ditelanjangi di hadapan malaikat-malaikat yang tidak jatuh dan di hadapan seluruh alam semesta. Ia telah mengungkapkan dirinya sendiri sebagai pembunuh. Oleh menumpahkan darah Anak Allah, maka ia telah menarik dirinya sendiri keluar dari simpati mahluk-mahluk surga. Kemudian daripada itu pekerjaannya lalu dibatasi. Sikap apapun yang dipakainya ia tidak lagi dapat menunggui malaikat-malaikat sementara mereka itu datang dari ruangan-ruangan surga, lalu di hadapan mereka itu menuduh-nuduh saudara-saudaranya Kristus oleh berpakaikan baju-baju hitam dan kotor karena dosa. Tali ikatan simpati yang terakhir di antara Setan dan dunia samawi putus sudah.” -- “The Desire of Ages”, halaman 833, 834, 761. 

Waktu ia menarik sepertiga bintang-bintang (malaikat-malaikat) dari surga, dan waktu terjadinya perang di dalam surga, adalah dua peristiwa yang berbeda. Ia menarik malaikat-malaikat itu sewaktu mereka mengikutinya dari surga ke bumi dan berusaha untuk menelan Kristus. “Maka apabila naga itu melihat bahwa dirinya sudah tercampak ke bumi”; artinya, sesudah Kristus disalibkan, maka kembalinya Setan untuk masuk ke surga

lalu dilarang. Dengan demikian ia “melihat” -- mengerti bahwa dirinya sudah tercampak keluar. Kemudian daripada itulah ia menganiaya sidang. 

TANDUK-TANDUK DAN KEPALA-KEPALA DARI NAGA 

Satu-satunya waktu yang mungkin bagi berlakunya tanduk-tanduk, kepala-kepala, dan mahkota-mahkota simbolis ini akan terjadi pada penutupan sejarah Wasiat Lama, dan pada pembukaan sejarah Wasiat Baru. Sebab, naga itu kelihatan dalam bentuk itu sewaktu Kristus akan dilahirkan. Tanduk-tanduk itu melambangkan juga yang sama seperti yang biasa dilambangkannya pada setiap binatang simbolis. Berangka bilangan sepuluh simbolnya menunjukkan bahwa pengaruh dari rencananya terasa di seluruh dunia. Ini juga menunjukkan bahwa Setan telah memperoleh kuasa penuh atas segala bangsa yang dilambangkan oleh sepuluh tanduk binatang yang tak tergambarkan dari Daniel pasal 7; dan demikianlah ia menggerakkan Herodes untuk membunuh anak-anak kecil pada waktu kelahiran Kristus dengan harapan untuk membinasakan Juruselamat -- yaitu menelan “Anak” itu.

Janganlah kita melewati kenyataan, bahwa semua tanduk, kepala-kepala, dan mahkota-mahkota, semuanya itu ada pada waktu naga itu berdiri siap, “untuk menelan Anaknya”. Akibatnya, apapun arti dari simbol-simbol ini, semuanya harus ada pada waktu yang bersamaan. Kalau saja tidak demikian halnya, maka simbol-simbol mengenai kepala-kepala dan tanduk-tanduk itu sudah akan ditunjukkan sedemikian rupa dengan munculnya secara berurutan seperti halnya binatang-binatang itu, dan juga seperti tanduk-tanduk dari domba jantan dan kambing jantan dari Daniel pasal 8. Hal yang sama inipun benar dengan binatang yang tak tergambarkan dari Daniel 7 : 7, dari mana tiga dari sepuluh tanduknya telah “tercabut sampai dengan akar-akarnya”. Jika semua pemerintahan tidak berada dalam waktu yang bersamaan, maka simbol-simbolnya akan muncul satu menyusul yang lainnya secara teratur. Dengan demikian kita melihat bahwa Ilham adalah sempurna dalam segala hal, dan tanpa salah mengungkapkan kebenaran yang dimaksud. Oleh sebab itu, adalah tidak konsisten jika seseorang menyimpulkan bahwa “tanduk-tanduk” itu maupun “kepala-kepala” itu dapat melambangkan pemerintahan-pemerintahan yang datang secara berurutan selama semuanya itu terlihat dalam satu kelompok, dan dalam kesatuan dengan binatang yang membawanya.

Itupun tidak mungkin bahwa baik tanduk-tanduk maupun kepala-kepala dapat melambangkan pemerintahan-pemerintahan sipil atau raja-raja. Jika tanduk-tanduk melambangkan badan-badan politik, maka kepala-kepala itu tidak mungkin melambangkan juga demikian. Jika kepala yang terluka pada binatang yang menyerupai macan tutul dari Wahyu 13 : 1 – 3 melambangkan sebuah organisasi agama, maka semua kepala harus melambangkan badan-badan agama. Tetapi terdapat suatu pengecualian dengan macan tutul yang berkepala empat dari Daniel 7 : 6 itu, karena ia tidak bertanduk dan kepala-kepalanya terbukti merupakan pemerintahan sipil, terbukti dari empat tanduk dari kambing jantan itu. Adalah suatu kenyataan yang tak mungkin salah bahwa simbol-simbol itu dimaksudkan untuk mengungkapkan fase-fase sipil dan agama selama masa periode yang dilambangkan oleh binatang yang tak tergambarkan dalam kedua tahap kekuasaannya -- yaitu kerajaan Romawi dan Romawi kepausan.

Karena mahkota-mahkota melambangkan kekuasaan sipil dan karena semuanya itu terlihat pada kepala-kepala bukan pada tanduk-tanduk, maka jelaslah bahwa sidang dalam

masa periode itu sedang menggunakan kekuasaan diktator sipil untuk menyebarluaskan ajaran-ajaran dogmanya. Dengan demikian pelajaran-pelajaran yang terkandung di dalam simbol-simbol ini adalah jauh lebih besar daripada yang dapat kita pahami dalam sekejap saja. Karena kenyataan-kenyataan yang muncul mengenai keadaan dari simbol-simbol itu tidak dapat diragukan, maka kita memperoleh suatu landasan positif bagi pengaplikasiannya.

Naga itu dengan sepuluh tanduknya dan tujuh kepalanya, dengan mahkota-mahkota pada kepala-kepalanya, terlihat pada saat kelahiran Kristus seperti yang dijelaskan terdahulu, dan ia itu menempati masa periode yang sejajar dengan binatang yang tak tergambarkan itu. Kepala-kepalanya dilambangkan oleh angka bilangan Alkitab “tujuh”, yang berarti “kelengkapan”, dan meliputi setiap organisasi agama di zaman Kristus. Karena naga itu melambangkan Iblis yang menguasai kepala-kepala, maka simbol itu menunjukkan secara tegas akan adanya suatu kemurtadan yang lengkap. Bukanlah dimaksudkan untuk mengungkapkan bahwa sistem peribadatan kekapiran itu dikepalai oleh Iblis, karena ia itu tidak pernah ada sebaliknya. Itu adalah sidang Yahudi yang telah murtad, dan itulah yang membuat angka bilangan Alkitab “tujuh kepala”. Justru kemurtadan yang sedemikian itulah yang telah  mencekam dunia di zaman Nuh; dan kejahatannya telah membuat kelanjutan dunia menjadi tidak mungkin. Oleh karena itu, perlu, demi kebaikan umat manusia, datanglah air bah. Kemurtadan hebat dari orang-orang Yahudi telah mendatangkan bencana lain yang tak terhindarkan yang sama dengan banjir besar yang mengerikan itu. Karena Allah tidak akan meruntuhkan dunia pada kedua kalinya dengan air, lalu juga tetap mempertahankan janji-Nya yang tidak pernah gagal itu kepada hamba-Nya Nuh yang setia itu, maka Ia mengutus Anak-Nya untuk mati menggantikan dunia. Oleh sebab itu, dunia tidak binasa, karena adanya korban yang mulia dari Anak Allah; dan dunia berada pada hari ini karena Kristus telah bangkit dari kematian. 

MAHKOTA-MAHKOTA DARI NAGA ITU 

Berikutnya kita perhatikan mahkota-mahkota itu dan pengertiannya. Telah dijelaskan bahwa mahkota-mahkota menunjukkan kekuasaan sipil. Kepala-kepala itu bermahkota, ia itu mengungkapkan bahwa gereja-gereja dari zaman itu menggunakan alat-alat kekuasaan sipil dari negara. Kalau saja ini tidak benar, maka orang-orang Yahudi tidak akan dapat menyalibkan Tuhan yang mulia itu; mereka juga tidak mugkin dapat melontari Stephanus dengan batu sampai mati, atau memenggal kepala dan membunuh orang-orang lainnya. Itu adalah penguasa sipil dari Romawi yang dikepalai oleh naga itu, melalui mana orang-orang Yahudi telah melibatkan diri dalam kejahatan-kejahatan yang hebat ini; yang berakhir dengan kebinasaan mereka. 

PENUDUH SAUDARA-SAUDARA 

Setelah naga itu tercampak jatuh dari surga sesuai dengan khayal, Yohanes mengatakan : “Maka aku dengar suatu suara yang besar mengatakan di dalam surga : Sekarang sampailah keselamatan, dan kuat, dan kerajaan dari Allah kita, dan kuasa dari Kristus-Nya : karena penuduh segala saudara kita itu telah tercampak ke bawah, yaitu dia yang telah menuduh mereka itu di hadapan Allah kita siang dan malam.” (Wahyu 12 : 10). “Tuduhan-tuduhan Setan melawan orang-orang

yang berusaha mencari Tuhan bukanlah terdorong karena ketidak-puasannya melihat dosa mereka. Ia justru bersukaria karena tabiat-tabiat mereka yang cacat itu : karena ia tahu bahwa hanya oleh pelanggaran mereka melawan hukum Allah, dapatlah ia memperoleh kuasa atas mereka itu.” -- “Prophets and Kings”, halaman 585, 586. Apabila Roh Allah menggerakkan untuk menegur, maka Ia akan mengungkapkan dosa dan menghukum orang berdosa itu. Tetapi Setan mendorong orang berdosa untuk melibatkan dirinya secara tidak sadar dalam pelanggaran, kemudian ia menuduhnya di hadapan Hakim yang Besar di dalam Surga, sebagai “berpakaikan baju-baju yang hitam dan kotor karena dosa”, untuk mendapatkan hukumannya. Umat Allah harus belajar untuk dapat mengenali suara dari Roh Kristus maupun suara dari roh Setan. Apabila keduanya bertubrukan, maka Yang Satunya akan berjuang untuk mematuhi Firman Allah, tetapi yang lainnya itu akan memaafkan dosa lalu bersimpati dengan orang yang berdosa. Dalam cara ini Setan akan menang berpijak, karena orang berdosa biasanya mencintai dosanya. 

* * *

SIDANG ALLAH DALAM LAMBANG SEORANG PEREMPUAN

WAHYU PASAL 12 

“Maka kelihatanlah di langit suatu keajaiban besar; yaitu seorang perempuan bersalutkan matahari, dan bulan berada di bawah kakinya, dan pada kepalanya ada sebuah mahkota dengan dua belas bintang : adalah ia itu sedang mengandung dan berteriak sebab sakit dan sengsara hendak melahirkan. Maka kelihatanlah suatu keajaiban yang lain lagi di langit, maka tengoklah seekor naga besar yang merah yang berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di kepalanya bermahkota tujuh. Maka ekornya menyeret sepertiga dari segala bintang di langit, lalu dicampakkannya ke bumi : maka berdirilah naga itu di hadapan perempuan yang sedang hendak melahirkan itu, supaya apabila ia sudah melahirkan naga itu dapat menelan anaknya itu. Lalu ia memperanakkan seorang anak laki-laki yang akan memerintahkan segala bangsa dengan sebuah tongkat besi : maka anaknya itu ditangkap dibawa kepada Allah, dan kepada tahta-Nya. Maka perempuan itupun larilah ke padang belantara, di situ ada suatu tempat disediakan Allah baginya, supaya mereka memeliharakannya di sana seribu dua ratus enam puluh hari lamanya.” (Wahyu 12 : 1 - 6). 

Perhatikan, bahwa semua obyek yang diperlihatkan dalam khayal ini terdapat di dalam surga, bukan di bumi. Oleh sebab itu, apapun yang terkandung di dalam simbol-simbol ini, semuanya itu harus berasal dari surga datangnya. Kembali lagi perhatikan, bahwa satu-satunya pakaiannya ialah matahari, dan bahwa mahkotanya adalah khusus terdiri dari “dua belas bintang”. Amatilah, bahwa ia bukan berdiri di atas “bulan”, karena Pewahyu mengatakan : “Bulan berada di bawah kakinya.” Kita harus dengan teliti mempelajari sifat dari semua simbol ini, karena hanya dengan demikianlah dapat kita mengetahui pengertiannya. Juga supaya tandailah bahwa ia sedang akan melahirkan seorang bayi laki-laki, dan bahwa bayi itu “ditangkap dibawa kepada Allah dan kepada tahta-Nya”. 

Adalah suatu kenyataan yang diakui bahwa anak itu ialah Kristus, yang telah naik ke tempat Yang Maha Tinggi sesudah kebangkitan-Nya. (Markus 16 : 19). Simbol itu berasal dari surga, maka “perempuan” itu tidak mungkin melambangkan Maria, ibu dari Kristus, tetapi ia menunjuk kepada sidang (“perempuan”) yang akan melahirkan, atau yang di dalamnya Kristus dilahirkan. Dengan demikian Yohanes dalam khayalnya ini sedang memandang ke belakang jauh sebelum Kristus dilahirkan. 

Telah diajarkan oleh sebagian orang bahwa “perempuan” itu adalah lambang dari gereja Kristen, dan bahwa bulan di bawah kakinya itu menunjukkan kepada masa periode Musa atau sistem upacara korban yang telah berlalu, dan bersalutkan matahari, berarti kemuliaan dari Injil di dalam periode sejarah Wasiat Baru. Sesuai dengan yang berikut ini, maka semua pernyataan ini terbukti tidak benar.

Jika “perempuan” itu melambangkan gereja Kristen, maka bagaimanakah dapat gereja yang sama (perempuan) mengandung di dalam kandungannya Kristus, oleh siapa gereja telah didirikan tiga puluh tahun kemudian? Jika kita mengatakan bahwa ia melambangkan gereja Yahudi, maka bagaimanakah dapat ia terbang ke dalam padang belantara lalu tinggal di sana semenjak dari tahun 538 sampai tahun 1798, dalam masa periode Kristen? Jika “bulan” yang berada di bawah kakinya itu menunjukkan akhir dari upacara korban Musa, maka mengapakah ia itu tidak berakhir sebelum kelahiran Kristus, sebab bulan itu berada di bawah kakinya sebelum Kristus lahir. Jika sekiranya ia itu berakhir pada waktu itu, tidakkah ia itu merupakan lambang dari kematian Kristus? Jika bajunya dari matahari itu merupakan lambang dari Injil di dalam sejarah Kristen, maka bagaimana mungkin sidang (perempuan) itu berpakaikan Injil itu bertahun-tahun lamanya sebelum sejarah Injil dimulai, yaitu bersalutkan Injil sebelum anak itu lahir? Yang manakah dari antara kedua sidang itu, sidang Yahudi atau sidang Kristen, yang melahirkan Kristus? Jika sekiranya itu adalah sidang Yahudi, maka bagaimanakah mungkin terang dengan mana ia bersalutkan itu diaplikasikan kepada sidang Kristen? Jika semua pertanyaan ini tidak dapat dijawab, maka kita wajib masuk lebih dalam lagi dalam masalah ini. 

Pendapat yang dikemukakan bahwa “perempuan” itu adalah lambang dari hanya sidang Kristen, dan “bulan” dari sistem upacara Yahudi, terbukti adalah tidak benar. Sidang Kristen didirikan kira-kira pada tahun 31 TM, atau tidak lebih dini dari tahun 27, pada waktu mana Kristus mulai berkhotbah; sewaktu berumur kira-kira tiga puluh tahun. Oleh sebab itu simbol itu menunjuk ke belakang sedikitnya tiga puluh satu tahun sebelum dimulainya sidang Kristen, karena “perempuan” itu (sidang) dalam kesakitan mengandung, dan sakit hendak melahirkan. 

Dengan demikian adalah sidang Yahudi yang telah  “melahirkan” Anak Allah dan bukan Kristen. Oleh sebab itu, perempuan itu (sidang Yahudi) mengandung, berteriak, gelisah kesakitan, dan sakit hendak melahirkan”; artinya, janji itu dibuat kepada Israel bahwa Mesias akan lahir melalui bangsa itu oleh sidang yang dimaksudkan itu (“perempuan”). Ular naga yang tua itu setelah mengetahui salurannya melalui mana “anak” itu akan datang, ia lalu mengawasi dengan seksama dengan maksud untuk membinasakan Dia yang dijanjikan itu segera setelah Ia lahir. Adalah pada waktu itu, maka naga yang tua itu melalui tangan Herodes, “membantai semua anak yang berada di Betlehem dan di semua pesisir pantainya,” dengan harapan untuk melenyapkan Raja yang datang itu. (Lihat Matius 2 : 16). 

Kenyataan membuktikan, bahwa simbol dari hal “perempuan” itu berlaku untuk dua periode, baik sebelum Tarik Masehi maupun sesudah Tarik Masehi. Oleh sebab itu, sebagaimana bulan berada di bawah kakinya pada sebelum kelahiran Kristus, maka ia itu harus merupakan lambang dari sesuatu masa periode yang mendahului sidang Yahudi. Karena “perempuan” itu “bersalutkan matahari” sebelum ia melahirkan “Anak” itu, maka ternyata bahwa simbol “bersalutkan matahari”, itu telah digenapi sebelum Kristus lahir. Jika bulan itu adalah

[halaman kosong]

___ GAMBAR ___

lambang, maka simbol dari “matahari” harus merupakan obyek utama, sebab, “bulan bergantung kepada matahari untuk mendapatkan terangnya, dan “perempuan” itu adalah bersalutkannya. Dengan demikian, maka “matahari” dan “bulan” harus dipertimbangkan. Di dalam Kejadian 1 : 16, kepada kita diceritakan bahwa matahari dan bulan akan menguasai siang dan malam hari. Dengan begitu “matahari” harus menunjukkan suatu masa periode di mana sidang Allah telah diberikan terang besar, dan “bulan” harus melambangkan masa periode sebelumnya. Terang besar itu tidak mungkin merupakan Injil Kristus di dalam Wasiat Baru. Juga tidak mungkin “bulan” melambangkan upacara bayangan di bawah perekonomian Yahudi, karena “perempuan” itu bersalutkan “matahari”, dan “bulan berada di bawah kakinya” selagi upacara bayangan itu masih ada, karena anak itu lahir sesudah “perempuan” itu bersalutkan “matahari”. Kristus sendiri, oleh makan Paskah tepat menjelang penyaliban terhadap diri-Nya, Ia telah meneguhkan kenyataan bahwa hukum upacara bayangan itu masih tetap ada 34 tahun sesudah kelahiran-Nya. (Lihat Matius 26 : 18 – 21). 

Jika pernyataan di atas adalah benar, maka kita harus mencarikan dua periode yang sedemikian ini yang akan cocok dengan simbol-simbol itu dengan setepatnya. Yang pertama ialah yang sebelum Alkitab muncul, dan yang kedua ialah yang ada bersama-sama dengan Alkitab -- “bersalutkan Terang” -- Firman Allah yang tertulis. Dengan demikian secara simbolis, periode yang pertama dapat disebut, malam, yang dikuasai oleh “bulan”, dan yang kedua disebut, siang, yang dikuasai oleh “matahari”. Oleh sebab itu, “perempuan yang bersalutkan matahari”, dan “gelisah kesakitan karena mengandung”, ialah periode sesudah Israel keluar dari Mesir, dan pada masa itu periode tanpa Alkitab, yaitu “bulan”, sedang berlalu. 

Kami akan mengemukakan suatu bukti yang lain dari segi pandangan yang berbeda, yang lebih meyakinkan lagi dari hal pendapat bahwa “perempuan” itu melambangkan periode -- yaitu sebelum dan sesudah Kristus. Wahyu 12 : 14 mengatakan : “Maka kepada perempuan itu dikaruniakan dua sayap burung garuda yang besar, agar ia dapat terbang masuk ke dalam padang belantara, yaitu ke tempatnya, dimana ia akan dipelihara selama satu masa, dan dua masa, dan setengah masa, jauh dari wajah ular itu.” Perhatikan, bahwa diberikan dua sayap dari seekor burung garuda yang besar. Jika sayap-sayap itu tidak melambangkan sesuatu, maka apakah tujuannya? Sebagaimana sayap-sayap dari singa dan dari macan tutul berkepala empat dari Daniel 7 melambangkan periode-periode, seperti yang dijelaskan terdahulu pada halaman 33 – 34, bahasa Inggris, maka dua sayap besar itu harus juga menunjukkan dua periode sejarah dunia yang panjang. Burung garuda adalah raja dari burung-burung, maka sebagaimana ditekankan bahwa sayap-sayap itu adalah dari seekor “burung garuda yang besar”, jelaslah bahwa simbol itu harus mengungkapkan masing-masing periode semenjak dari permulaannya. Dengan demikian salah satu dari sayap-sayap itu akan meliputi seluruh sejarah dunia semenjak dari kejatuhan Adam dalam dosa sampai kepada penyaliban Kristus, dan sayap yang satunya semenjak dari penyaliban Kristus sampai kepada akhir dunia ini (kedatangan Kristus yang kedua kali). Demikianlah terbukti, bahwa hanya ada satu sidang yang benar dalam segala zaman. 

Mahkotanya dari dua belas bintang itu pada dasarnya melambangkan dua belas

kepala suku dan kemudian dua belas suku bangsa setelah mereka itu keluar dari Mesir, pada waktu mana terang yang indah itu bercahaya dari Firman Allah yang tertulis (Alkitab), yang menyelubungi sidang (perempuan) selagi ia masih gelisah kesakitan mengandung “anak” (Mesias yang dijanjikan itu). Tetapi mahkota dengan dua belas bintang di dalam periode Wasiat Baru melambangkan dua belas rasul. Angka bilangan dua belas adalah lambang dari pemerintahan. Yesus mengatakan kepada mereka itu : “Kamu juga akan duduk di atas dua belas tahta, mengadili dua belas suku bangsa Israel”. (Matius 19 : 28). Kenyataan ini dibuktikan oleh contoh itu (dua belas suku bangsa itu). Dapatlah dicatat, bahwa dalam menghitung suku-suku bangsa dari Israel Rohani (144.000 itu) oleh contohnya (Israel badani) seperti terdapat di dalam Wahyu 7 : 5 – 8, suku Dan ditiadakan, dan sebagai gantinya suku Manaseh, yaitu anak sulung dari Yusuf diperhitungkan. Contoh ini berkaitan tepat dengan contoh saingannya, karena, Yudas Iskariot adalah salah seorang dari “dua belas rasul” itu, telah ditinggalkan, yang mana suku Dan merupakan lambangnya. Dan sebagai gantinya Paulus dari Tarsus telah dimasukkan, yang mana Manaseh ialah lambangnya. Oleh sebab itu, kita menyaksikan kecocokan yang sempurna antara contoh dan contoh saingannya. Pelajaran dalam peristiwa ini melalui simbol-simbol yang tak dapat salah, mengajarkan kepada kita bahwa Allah telah memiliki hanya sebuah sidang, sebuah kebenaran, dan sebuah jalan keselamatan bagi semua generasi manusia. Yang sama inipun dikemukakan oleh kata-kata Paulus : “Ada satu tubuh, dan satu Roh, yaitu seperti yang kamu sudah dipanggil dalam satu pengharapan atas hal yang kamu sudah dipanggil itu; satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa bagi semua orang.” (Efesus 4 : 4 – 6). 

Sidang Allah telah dilambangkan juga oleh objek-objek di bumi; kita berbicara mengenai simbol-simbol oleh perempuan-perempuan, yaitu Hagar dan Sarah. Yang pertama adalah lambang dari sidang Yahudi, dan yang kedua adalah lambang dari sidang Kristen. (Lihat buku “Tongkat Gembala”, Jilid I, halaman 136, bahasa Inggris). Simbol-simbol bumi ini menunjukkan sidang Allah dalam bagian-bagian dan kondisi-kondisi yang berbeda-beda. Tetapi “perempuan yang bersalutkan matahari” dan “sayap-sayap burung garudanya” yang berasal dari surga itu, menunjukkan sidang Allah yang benar (kebenaran) dalam suatu garis yang berkelanjutan, dan Anaknya, yaitu satu-satunya Juruselamat dan Penebus kita dalam kedua periode itu -- sebelum maupun sesudah Kristus. 

MAHKOTA DUA BELAS BINTANG DI DALAM PERIODE WASIAT BARU 

Khayalnya Yohanes yang terdapat di dalam Wahyu pasal dua belas, membicarakan dua pokok masalah utama, yaitu “perempuan yang bersalutkan matahari”, dan “naga yang merah” itu. Naga yang berwarna merah itu telah dijelaskan. (Lihat halaman 65 – 69, bahasa Inggris). Lambang dari “perempuan” itu dalam masa sejarah Wasiat Baru meliputi tiga bagian. Pertama, periode sejarah rasul-rasul; kedua, menghilangnya sidang dari peradaban manusia (di padang belantara) selama 1260 hari (tahun-tahun dari aniaya kepausan, ayat 6, 14); ketiga, periode yang terakhir dari sidang sementara dalam pertikaiannya melawan naga itu. (Ayat 15 – 17). Periode pertama dan periode kedua akan dijelaskan dalam

kaitannya dengan pelajaran yang lain. Sebuah penjelasan mengenai periode yang ketiga terdapat di dalam buku “Tongkat Gembala”, Jilid I, halaman 151, 152, bahasa Inggris.

Oleh sebab itu, maksud kami dalam pasal ini ialah melukiskan secara singkat pelajaran yang telah diajarkan dari “mahkota dua belas bintang” perempuan itu. Kami kemukakan pertanyaan : Siapakah yang menentukan penguasa-penguasa rasul ciptaan sendiri masa kini yang ada sekarang? Telah dikatakan bahwa sesudah rasul-rasul meninggal, maka suatu kesatuan lain dari jumlah yang sama mempunyai hak untuk menjadi rasul-rasul. Andaikata pernyataan ini benar; ada beratus-ratus sidang, dan jika masing-masingnya memiliki dua belas orang rasul, maka akan terdapat berlipat ganda ribuan rasul pada suatu masa, dan jika tindakan itu diulangi dalam setiap zaman, maka akan ada sejumlah besar rasul yang tak terhitung banyaknya pada kedatangan Kristus yang akan datang. Jika terdapat beribu-ribu rasul, maka nyatalah oleh perantaraan Firman berikut ini bahwa mereka tidak akan pernah masuk ke dalam kota Allah sebagai rasul-rasul, sebab Ilham mengatakan : “Maka tembok kota itu mempunyai dua belas pondasi, dan terukir di dalamnya nama dari dua belas rasul dari Anak Domba itu.” (Wahyu 21 : 14).

Apakah perbedaan di antara seorang rasul dan seorang pendeta Injil? Jika tidak ada perbedaan, maka sudah seharusnya terdapat lebih dari dua belas orang rasul di dalam sidang yang mula-mula, sebab ada lebih dari dua belas orang yang melibatkan diri dalam tugas-tugas kependetaan. Kristus telah menentukan dua belas orang, tetapi Yudas telah dikeluarkan, sehingga tertinggal hanya sebelas orang. Sesudah Kristus naik ke surga mereka yang sebelas itu bersepakat untuk memilih seseorang yang lain untuk menggantikan Yudas : “Maka hasil undiannya jatuh pada Mathias; lalu ia diperhitungkan masuk bersama-sama dengan sebelas murid itu”. (Kisah Para Rasul 1 : 26). Oleh sebab itu, mereka telah menggenapi jumlah angka itu. Kini jika Mathias memang menggantikan tempatnya Yudas, maka seharusnya ada tiga belas orang yang sedemikian itu menurut Roma 1 : 1 yang berbunyi : “Paulus, seorang hamba dari Yesus Kristus, terpanggil untuk menjadi Rasul, diasingkan bagi Injil Allah.”

Perhatikanlah dengan seksama bahwa mahkota dari perempuan itu memiliki hanya “dua belas bintang”, dan pada pondasi dari negeri itu hanya ada nama-nama dari dua belas rasul. Yang manakah dari antara dua orang itu, Mathias ataukah Paulus, yang tidak dikenal oleh Dia yang telah meletakkan pondasi yang mahal dari Negeri Suci itu? Jika kita mengatakan Paulus, maka kita membuatnya menjadi seorang pembohong. Jika kita mengatakan Mathias, maka pelantikannya oleh mereka yang sebelas orang itu tidak mempunyai pengaruh apa-apa dalam memiliki seorang rasul. Jadi bagaimana? Di dalam Kisah Para Rasul 1 : 26, adalah yang pertama sekali dan yang terakhir kita dengar dari hal Mathias, tetapi tidak demikian halnya dari hal Paulus. Jika Mathias adalah seorang rasul, maka pasti ia tidaklah sepantas Paulus. Yang manakah dari kedua pelantikan itu yang menjadi sangat terhormat? Bukankah pelantikan Paulus itu oleh Kristus sendiri sewaktu Ia menjumpainya dalam perjalanannya ke Damaskus, ataukah pelantikan Mathias oleh tangan-tangan para rasul itu?

Pertanyaan ini adalah jelas. Tak ada tangan seorangpun yang sanggup untuk melantik seorang rasul, betapapun tinggi kedudukannya dalam hubungan dengan Injil. Hanya tangan-tangan suci Kristus serta kehadiran pribadi-Nya yang dapat melantik seseorang untuk jabatan yang sedemikian. Ini adalah

bukti yang tak dapat disangsikan, sebab “perempuan” itu memiliki sebuah mahkota dari hanya “dua belas bintang”. Oleh sebab itu, siapakah yang berkuasa untuk melantik orang lain lalu dengan demikian memperlipat-gandakan jumlah “bintang-bintang” itu? 

Apakah artinya seorang rasul? Jawab : -- Seseorang yang “diasingkan bagi Injil Allah”. Tetapi jika ini adalah satu-satunya pengertian bagi gelar itu, maka semua orang yang melibatkan diri dalam pemberitaan Injil, yang diasingkan, harus menjadi rasul-rasul. Oleh karena itu, kata-kata, “rasul”,  harus memiliki pengertian khusus dan maksud yang dalam daripada hanya diasingkan bagi Injil Allah. Rasul Paulus dipanggil untuk menjadi seorang rasul bagi orang-orang Kapir. Dengan demikian ia bersama-sama dengan mereka yang sebelas itu telah menjadi pendiri-pendiri sidang dari orang-orang Kapir di bumi ini, dan Kristus sebagai pemimpin samawinya. Berbicara mengenai karunia-karunia di dalam sidang, maka rasul-rasul adalah yang pertama, karena tanpa seorang pendiri maka tak akan ada organisasi, dengan demikian karunia-karunia sisanya akan menyusul. (Lihat 1 Korintus 12 : 28). 

Mahkota adalah kemuliaan perempuan itu, dan bintang-bintang (duabelas rasul) adalah satu-satunya penguasa bumi miliknya. Di sinilah suatu bukti yang tegas, bahwa rasul-rasul zaman ini adalah palsu. Seorang nabi dapat menuntut kekuasaannya sebagai nabi tetapi tidak pernah sebagai seorang rasul. Tetapi ada perbedaan di antara nabi-nabi Wasiat Lama dan nabi-nabi dari Wasiat Baru; nabi-nabi Wasiat Baru berada di bawah kekuasaan nabi-nabi Wasiat Lama; dengan kata lain, ia dapat menjadi seorang penterjemah atau pengungkap Alkitab : “Sebab semua nabi dan hukum (upacara -- dalam contoh) bernubuat sampai kepada Yohanes.” (Matius 11 : 13). Hasil interpretasi adalah benar hanya apabila diilhami oleh Roh yang sama, dengan demikian ucapan-ucapan yang tepat pada waktunya diungkapkan. Bukan saja penemuan-penemuan sejarah membuktikan hal ini, tetapi juga Alkitab sangat menekankan kepada pokok masalah ini, karena telah dikatakannya dengan jelas bahwa kita adalah, “Dibangun di atas landasan segala rasul dan nabi-nabi, dan Yesus Kristus sendiri merupakan batu penjurunya”. (Efesus 2 : 20). Kembali kita baca : “Akan tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, maka Ia akan memimpin kamu kepada segala kebenaran; karena Ia tidak akan berkata-kata menurut kehendaknya sendiri, melainkan apapun yang akan didengarnya, itu juga yang akan dibicarakannya; dan Ia akan menunjukkan kepadamu segala perkara yang akan datang.” (Yohanes 16 :  13). Di manakah dibutuhkan rasul-rasul yang sedemikian ini? Bukankah kata-kata dari rasul-rasul itu yang terdapat di dalam Alkitab? Jika kita hendak mengangkat seperangkat orang-orang yang sedemikian ini, tidakkah kita mengesampingkan “perempuan” itu berikut “mahkota dua belas bintangnya”? Jika kita mengesampingkan “mahkota” itu dengan cara melaksanakan pemilihan rasul-rasul secara sukarela, apakah yang akan kita perbuat dengan Injil yang dipercayakan kepada sidang oleh rasul-rasul Kristus yang diurapi? Dengarkanlah otoritas dari mahkota yang berbintang-bintang itu : “Walaupun kami ini atau seorang malaikat dari surga sekalipun, mengkhotbahkan kepadamu sesuatu Injil lain daripada yang sudah kami khotbahkan kepadamu, biarlah ia terkena kutuk. Sebagaimana yang telah kami katakan terdahulu, sekarang pun kembali kukatakan begitu. Jikalau barang seorang mengkhotbahkan sesuatu Injil yang lain kepadamu dari apa yang sudah kamu terima, biarlah ia terkena kutuk.” (Galatia 1 : 8, 9). “Karena orang-orang yang semacam itu adalah rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja penyesat,

yang menyatakan dirinya seolah-olah rasul-rasul Kristus.” (2 Korintus 11 : 13). Dunia dipenuhi dengan rasul-rasul dan sekte-sekte agama yang sedemikian itu dari berbagai jenis, bukankah demikian? Sekaranglah waktunya bagi umat Allah untuk menyembah sujud ke hadapan Khaliknya, dan untuk menyelidiki Firman bagi dirinya sendiri, agar mereka dapat mengerti apa sebenarnya kebenaran itu. Mengapa orang harus menerima saja keputusan orang lain bagi dirinya? Oleh berbuat begitu pengalaman kita sendiri dirampas dari kita. Jika begitu halnya, maka tidakkah kita akan bertanya, Bagaimanakah gambaran hari depan dunia ini? Tidak seorangpun diselamatkan karena mungkin ia mengakui akan kenyataan dari kebenaran, atau karena mungkin ia tergabung di dalam sidang yang benar, atau paham yang benar. Adalah hanya oleh pengalamannya sendiri yang didasarkan di atas bukti-bukti kebenaran, yang diterima di dalam hati, yang dapat memperbaharui pikiran, dan memperbaharui jiwa, sehingga ia dapat berjalan dalam kehidupan yang baru. Adalah sama sekali tidak mungkin untuk masuk ke dalam kerajaan Kristus tanpa suatu sentuhan pribadi terhadap kemuliaan Ilahi. Yesus mengatakan : “Sesungguhnya Aku mengatakan kepadamu, Jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat kerajaan Allah.” (Yohanes 3 : 3). Firman berikut inipun mengandung bukti yang sama. “Karena Yahudi yang sebenarnya itu bukannya Yahudi secara lahiriah saja, dan sunat yang sebenarnya itu bukannya sunat secara lahiriah pada daging saja; melainkan Yahudi yang sebenarnya ialah Yahudi yang pada bathinnya, dan sunat yang sebenarnya ialah; sunat hati, dalam roh, dan bukan menurut ketentuan saja; maka kepujian mereka itu bukanlah dari manusia, melainkan dari Allah.” (Roma 2 : 28, 29).

“Sunat tidak berarti apa-apa, dan tidak bersunat itupun tidak berarti apa-apa, terkecuali mematuhi Hukum-Hukum Allah.” (1 Korintus 7 : 19). “Koyakkanlah hatimu, dan bukan pakaianmu, dan kembalilah kepada Tuhan Allahmu : karena Ia adalah amat mengasihani dan mulia, panjang sabar, dan besarlah kemurahannya, dan bersesallah Ia akan yang jahat itu.” (Yoel 2 : 13). “Karena orang-orang yang semacam ini tidak berbakti kepada Tuhan Yesus Kristus kita, melainkan kepada perutnya sendiri; dan dengan perkataan yang manis-manis dan pembicaraan-pembicaraan yang indah-indah mereka memperdaya orang-orang yang tulus hatinya.” (Roma 16 : 18).

Kembali kepada pemikiran kita yang semula : Mereka yang sebelas itu dibiarkan melaksanakan pelantikan terhadap Mathias untuk menjadi sebuah pelajaran sampai kepada hari ini dengan agama model baru ciptaannya itu, yang menunjukkan bahwa Allah tidak menyerahkan otoritas kekuasaan rasul itu kepada siapapun -- terkecuali hanya kepada mereka yang dua belas itu saja. Perintah yang diberikan kepada pihak kependetaan adalah : “Sebab itu pergilah kamu, dan ajarkanlah segala bangsa, baptiskanlah mereka itu dalam nama Bapa, Anak, dan Rohulkudus : Ajarlah mereka itu untuk mematuhi segala perkara yang sudah Ku pesankan kepadamu; maka tengoklah, Aku menyertai kamu selalu, bahkan sampai kepada akhir dunia.” (Matius 28 : 19, 20). “Adapun akan dikau, hai anak Manusia, Aku sudah mengangkat engkau menjadi penjaga bagi isi rumah Israel, sebab itu engkau harus mendengarkan firman dari mulut-Ku, dan supaya engkau menasehatkan mereka itu dari pihak-Ku. Apabila Aku mengatakan kepada orang jahat itu, hai orang jahat, engkau pasti akan mati; jika engkau tidak berbicara mengamarkan si jahat itu dari jalannya, sehingga orang jahat itu akan mati dalam kejahatannya; tetapi darahnya akan Ku tuntut dari tanganmu.” (Yehezkiel 33 : 7, 8).

Sesungguhnya kedua belas “bintang” yang terdapat di atas “mahkota perempuan” itu pada dasarnya

melambangkan dua belas kepala suku; kemudian dua belas suku bangsa dari Israel badani; sesudah itu dua belas rasul-rasul itu; dan terakhir dua belas suku bangsa dari Israel Rohani (mereka yang 144.000 itu). Dengan demikian kembali dibuktikannya angka bilangan “empat” merupakan suatu angka bilangan yang penting, dan bahwa oleh “perempuan” itu empat masa periode ini telah dilambangkan.

Allah yang lebih dulu telah melihat akan sifat mementingkan diri manusia, Ia telah memerintahkan kepada nabinya untuk menuliskan yang berikut ini : “Bahwa kamu mengenyangkan dirimu dengan lemaknya, dan kamu memakaikan dirimu dengan bulunya, dan yang tambun-tambun kamu bantai, tetapi tiada kamu menggembalakan kawanan domba itu. Yang lemah tiada kamu kuatkan, dan yang sakit tiada kamu obati, dan yang luka tiada kamu bebati, dan yang terhalau tiada kamu bawa balik, dan yang sesat tiada kamu cari, melainkan kamu sudah memerintahkan dia dengan kekerasan dan bengis. Sebab itu tercerai berailah mereka itu dengan tiada bergembala dan telah menjadi makanan segala binatang buas di padang, sebab tersesatlah mereka. Bahwa kawanan domba-Ku sesatlah di atas segala gunung yang tinggi dan di atas puncak segala bukit; dan tercerai-berailah kawanan domba-Ku di seluruh muka bumi; maka seorangpun tiada yang peduli, seorangpun tiada yang mencari akan dia. Sebab itu, hai kamu gembala-gembala, dengarlah olehmu firman Tuhan; Sesungguhnya Aku ini hidup, demikianlah firman Tuhan Hua, sesungguhnya karena sebab kawanan domba-Ku telah menjadi rampasan, dan kawanan domba-Ku telah menjadi makanan segala binatang buas di padang, dan karena sebab tiada gembala, dan segala gembala-Ku tiada perduli akan kawanan domba-Ku, dan karena sebab gembala-gembala itu menggembalakan dirinya sendiri dan tiada digembalakannya kawanan domba-Ku; sebab itu, hai gembala-gembala, dengarlah olehmu firman Tuhan; Demikianlah firman Tuhan Hua : Bahwasanya, Aku membalas kelak kepada segala gembala itu dan Ku tuntut domba-domba-Ku dari tangan mereka dan Ku pecat mereka itu dari pangkat gembala, sehingga tiada lagi gembala-gembala itu menggembalakan dirinya sendiri; karena Aku akan melepaskan kawanan domba-Ku dari mulut mereka, supaya domba-domba itu tidak lagi menjadi makanan mereka. Karena demikianlah firman Tuhan Hua; Bahwasanya Aku, bahkan Aku sendiri, akan bertanya akan hal domba-Ku dan Aku akan mencari akan dia.” (Yehezkiel 34 : 3 – 11).

Sebagai satu perbandingan Roh Allah telah menarik suatu gambaran nyata dari kawanan domba dan gembala-gembalanya; umat Allah sebagai kawanan domba; dan pihak kependetaan sebagai gembala-gembala. Umat Allah yang benar akan meniru domba-domba itu, dan para pengawal-Nya akan meniru gembala-gembala yang baik yang menggembalakan domba-dombanya. Apa saja yang kurang daripada ini ialah kekejian di hadapan pemandangan Allah. Jika kita harus mempelajari pelajaran yang dimaksud, kita harus pertama sekali mencarikan suatu pengertian yang jelas mengenai contoh dari (gembala-gembala dan kawanan domba) sebab, contoh saingannya (para pendeta dan para anggota gereja) diminta untuk meniru contoh itu.

Gambaran ini diambil dari cara menggembalakan kawanan domba di masa dahulu. Lapangan rumput terbuka dari gunung-gunung dan bukit-bukit itu meminta pengawasan yang teliti yang terus menerus dari para gembala terhadap domba-domba mereka. Daerah teritorial yang luas menarik domba-domba itu dan para gembalanya kepada suatu jarak yang sangat jauh dari rumah, dan perjalanan yang terus menerus melintasi daerah itu membuatnya menjadi tidak mungkin untuk memperoleh suatu perlindungan yang permanen jenis apapun bagi domba-domba itu, ataupun

gembala-gembalanya. Akibatnya, pertolongan orang lain diperlukan. Setiap gembala memiliki sejumlah tertentu anjing-anjing, tergantung kepada besarnya kawanan domba, untuk keselamatan domba-domba itu dari manusia dan binatang-binatang buas. Sebagaimana perkara yang satu menarik perkara lainnya, maka seekor lembu biasanya digunakan untuk memikul barang-barang kebutuhan yang diperlukan bagi domba-domba, anjing-anjing dan para gembala. Semua ini terdiri dari pakaian, kain selimut untuk malam hari, makanan bagi para gembala maupun bagi anjing-anjing, obat-obatan, pembalut luka, dan sebagainya. Binatang yang setia ini membawa beban itu pada punggungnya setiap hari pada sepanjang tahun. Pada akhir dari hari gembala menghitung domba-dombanya. Jika seekor domba hilang, maka ia segera pergi mencarinya, karena adalah tidak aman bagi seekor domba berjalan terpisah tersendiri dari kawanannya.

Kondisi menakjubkan dari domba merupakan bukti kesetiaan gembalanya dan kepantasan tugas upahannya. Ia tidak saja harus mencarikan padang rumput yang baik, melainkan juga bertindak sebagai dokter hewan yang baik. Seringkali seekor domba patah kakinya dan adalah kewajiban dari gembalanya untuk secara tangkas meluruskannya kembali, menyerpih dan membebat lukanya itu. Dalam perjalanan melintasi permukaan tanah yang kasar, dimana terdapat batu-batu karang dan belukar-belukar kecil, kecelakaan-kecelakaan sering terjadi. Kadang-kadang duri akan masuk ke dalam daging, atau luka kecil lainnya terjadi, yang mungkin sekali tidak menimbulkan sakit, dan tidak akan diperhatikan oleh gembala, namun seekor lalat kecil dapat menanamkan telurnya di dalam luka yang terbuka itu, lalu benih lalat dapat segera berkembang dan mencarikan jalannya di bawah kulit dan sampai ke tulang; ini adalah kejadian yang biasa. Pada saat yang sedemikian ini perhatian gembala itu akan tertuju kepada penyakit dari domba itu dan ia kemudian harus memberikan kepadanya pengawasan khusus dan bebatan terhadap luka itu.

Apabila seekor anak domba, ataupun seekor domba sakit dan terlalu lemah untuk mengikuti rombongan kawan-kawannya, maka adalah kewajiban dari gembala untuk mengawasi dan membawanya. Jika ia harus menggendong seekor anak domba di dalam tangannya, maka induk domba itu akan selalu berada pada sisinya dengan melihat kepada anaknya itu sambil berbicara kepadanya. Mahluk-mahluk yang mulia ini menjaga, memberi makan, dan memeliharakan anak-anak dombanya dengan bersih tidak bercacat. Adakah ibu-ibu berbuat juga sedemikian ini bagi anak-anak anda? Adakah anda para gembala (para pendeta) dari kawanan domba Allah sedang melakukan semua yang dilakukan para gembala kuno itu bagi domba-dombanya? Ataukah anda memberi makan dan mengawasi dirimu sendiri lebih banyak daripada yang anda perbuat bagi kawanan domba Allah? Adakah anda pantas dengan tugas upahan anda?

Para gembala yang dahulu harus mempertanggung-jawabkan secara lengkap keseluruhan kawanan dombanya, bahkan sampai kepada masalah-masalah yang terkecil. Adakah anda mengira bahwa Allah akan meminta lebih kurang dari itu daripadamu? Bukankah domba-domba-Nya adalah jauh lebih berharga? Daud mempertaruhkan hidupnya bagi seekor anak domba, tetapi Allah melepaskan dia dari singa dan beruang. Demi untuk kehormatan Allah dan keselamatan umat-Nya, maka Daud, telah membahayakan hidupnya sendiri, ia menghadapi Goliat Raksasa itu, tetapi Allah telah menyerahkan orang Filistin itu ke tangan Daud, dan menjadikan Daud raja atas bangsa-Nya. Adakah anda mengira bahwa Ia akan berbuat kurang bagimu, jika anda juga menirukan Gembala Yang Baik itu?

Yesus mengatakan : “Akulah gembala yang baik; gembala yang baik

menyerahkan hidupnya bagi domba-domba. Tetapi seorang upahan, yang bukan gembala, dan lagi domba itu bukan miliknya sendiri, apabila dilihatnya serigala datang, ditinggalkannya kawanan domba itu lalu lari melepaskan dirinya, maka serigala itu menerkam domba-domba itu sambil mencerai-beraikannya. Orang upahan itu lari, karena ia hanyalah seorang upahan, dan tiada ia pedulikan domba-domba itu. Akulah gembala yang baik, dan Aku kenal akan domba-domba-Ku, dan domba-domba-Ku itupun kenal akan Daku. Sebagaimana Bapa kenal akan Daku, demikian itu pula Aku kenal akan Bapa : dan Aku menyerahkan hidup-Ku untuk domba itu.” (Yohanes 10 : 11 – 15).

Nabi Yesaya sambil memandang ke depan sampai kepada kondisi-kondisi zaman ini mengatakan : “Sesungguhnya, mereka adalah anjing-anjing yang gelojoh yang tiada pernah dapat kenyang, dan mereka adalah gembala-gembala yang tidak dapat mengerti; mereka semua memandang kepada jalannya sendiri, masing-masingnya kepada keuntungannya sendiri, tanpa kecuali.” (Yesaya 56 : 11). 

* * *

[halaman kosong]

___ GAMBAR ___

BINATANG YANG MENYERUPAI MACAN TUTUL

Wahyu 13 : 1 - 10 

Binatang yang tak tergambarkan dari Daniel 7, yang melambangkan Romawi dalam tahap pertamanya, menunjukkan secara nubuatan melalui sepuluh tanduknya itu bahwa akan bangkit sepuluh orang raja dari dalam Romawi. Dalam tahap keduanya terlihat bahwa penguasa kepausan akan bangkit, mengalahkan tiga orang raja, dan menganiaya umat kesucian dari Yang Maha Tinggi selama jangka waktu 1260 tahun. Tetapi tidak dijelaskannya mengenai keruntuhan kerajaan Romawi atau penguasa kepausan itu. Ia juga diam saja sehubungan dengan reformasi yang datang sebelum atau sesudah tahun 1798 TM. Oleh sebab itu, tidak adanya informasi melalui simbol-simbol dari binatang ini, mestilah ditemukan di tempat lain di dalam nubuatan Firman Allah. Dan ini harus dicarikan di dalam buku Wahyu, karena buku Wahyu ialah pelengkap dari nubuatan-nubuatan Daniel.

Binatang yang menyerupai macan tutul dari Wahyu 13 : 1 – 10 adalah satu-satunya nubuatan simbolis yang menceritakan tentang keruntuhan kerajaan Romawi, dimahkotainya kesepuluh orang raja itu, terlukanya penguasa kepausan, reformasi dan bangkitnya Protestantisme, dan tertawannya Paus.

“Maka aku berdiri di pasir di tepi laut, dan aku tampak seekor binatang buas naik keluar dari dalam laut yang berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas tanduk-tanduknya itu bermahkota sepuluh, dan di atas kepala-kepalanya itu terdapat nama hujat.” (Wahyu 13 : 1). Perhatikanlah bahwa binatang ini memiliki jumlah tanduk yang sama dengan “binatang yang tak tergambarkan” dalam tahap permulaannya (kekaizaran Romawi). Daniel mengatakan, sepuluh tanduk pada binatang itu yang melambangkan Romawi adalah “sepuluh orang raja yang akan bangkit”. (Daniel 7 : 24). Tanduk-tanduk yang melambangkan dunia Romawi dalam bentuk kerajaannya itu juga menunjuk ke depan kepada masa apabila kerajaan itu akan terbagi menjadi sepuluh bagian, atau sepuluh kerajaan. Dengan perkataan lain, jika tanduk-tanduk itu pada mulanya melambangkan dunia Romawi dalam bentuk kerajaannya, maka semuanya itu pada kedua kalinya menunjuk kepada dunia yang ada sekarang dalam keadaannya yang terbagi-bagi semenjak dari keruntuhan Romawi -- yaitu yang bertalian dengan sepuluh jari kaki pada patung besar dari Daniel pasal 2.

Binatang yang tak tergambarkan itu dalam tahap permulaannya memiliki sepuluh tanduk. Karena dalam tahap keduanya tanduk kecil itu muncul, lalu tiga dari kesepuluh tanduk itu tercabut sampai dengan akar-akarnya, maka itu menunjukkan bahwa mereka itu tidak pernah lagi dapat dikukuhkan sebagai raja-raja. Tanduk-tanduk yang dikurangi itu sampai mencapai angka bilangan Alkitab tujuh, menunjukkan bahwa penguasa kepausan akan berkuasa sepenuhnya atas seluruh dunia sejauh yang berhubungan dengan sidang Kristen. Oleh sebab itu, sepuluh tanduk yang terdapat pada binatang yang menyerupai macan tutul dari Wahyu 13 : 1 itu tidak mungkin menunjukkan bahwa tiga pucuk tanduk yang tercabut itu telah kembali memperoleh kekuasaannya pada kedua kalinya.

Karena jumlah tanduk yang sama kembali muncul pada masing-masing binatang berturut-turut; yaitu, binatang yang tak tergambarkan (Daniel 7 : 7); binatang yang menyerupai macan

tutul (Wahyu 13 : 1); dan binatang merah kirmizi (Wahyu 17 : 3); yang melambangkan seluruh sejarah Wasiat Baru, maka terbuktilah melalui fakta-fakta yang terkumpul bahwa angka bilangan dari tanduk-tanduk itu dimaksudkan untuk menunjukkan dunia secara keseluruhan. Karena semuanya itu tidak ada terdapat pada binatang dari Wahyu 13 : 11 – 18, maka itu membuktikan bahwa binatang yang bertanduk dua itu menunjukkan suatu keadaan setempat. Oleh karena itu, jelaslah tak dapat dibantah, bahwa jumlah tanduk-tanduk yang telah ditetapkan itu (sepuluh) adalah dimaksudkan untuk melambangkan bangsa-bangsa dan pemerintahan-pemerintahan dunia secara keseluruhan. (Ikutilah gambar bagan pada halaman 84, bahasa Inggris).

Karena sebagaimana singa, beruang, macan tutul berkepala empat, dan binatang yang tak tergambarkan itu (lambang dari Babilon, Medo-Persia, Yunani dan Romawi) adalah berkaitan satu dengan lainnya, maka ikatan yang tak mungkin putus dari binatang-binatang itu membuatnya tidak mungkin bagi sesuatu binatang dunia lainnya (kerajaan) untuk memotong di tengah urut-urutan mereka itu. Akibatnya, maka binatang yang menyerupai macan tutul dari Wahyu 13 : 1 - 9 harus mengikuti binatang yang tak tergambarkan itu (Romawi).

Ayat 2, 3 : “Maka binatang yang ku tampak itu adalah bagaikan seekor macan tutul, dan kaki-kakinya adalah seperti kaki beruang, dan mulutnya seperti mulut singa; maka naga itu memberikan kepadanya kekuatannya, dan kedudukannya dan kuasa besar. Dan aku tampak salah satu kepalanya itu bagaikan terluka yang membawa mati; tetapi luka parahnya itu sudah sembuh : dan seluruh dunia heranlah akan binatang itu.” Pembentukan binatang ini mengungkapkan kenyataan bahwa ia adalah turunan dari empat binatang yang mendahuluinya. Mulutnya adalah mulut singa, kakinya kaki beruang, badannya badan macan tutul, dan jumlah tanduk-tanduknya, semuanya menunjuk ke belakang kepada sifat-sifat keturunannya yang berasal dari Babilon, Medo-Persia, Yunani, dan Romawi. Kenyataan yang tak dapat dibantah ini membuktikan bahwa ialah binatang dunia yang kelima.

Binatang yang menyerupai macan tutul itu muncul keluar dari dalam laut dalam cara yang sama seperti keempat binatang yang mendahuluinya. (Daniel 7 : 3). Oleh sebab itu, binatang dari Wahyu 13 : 1 – 9 itu tercipta dari hasil-hasil peperangan dan kegemparan di antara bangsa-bangsa, dalam cara yang sama seperti halnya Babilon, Medo-Persia, Yunani, dan Romawi. Oleh karena kenyataan yang diungkapkan oleh simbol itu tidak dapat dipermasalahkan, maka binatang yang menyerupai macan tutul itu akan menggenapi periode sesudah keruntuhan kerajaan Romawi, sama dengan kaki-kaki dan jari-jari kaki -- yaitu besi dan tanah liat dari patung besar di dalam Daniel pasal 2. Dengan perkataan lain, binatang yang menyerupai macan tutul itu datang bersama-sama dengan berakhirnya periode yang dilambangkan oleh tahap permulaan dari binatang yang tak tergambarkan itu, sebaliknya tahap kedua dari yang terkemudian itu (Romawi Kepausan) terus berlangsung sampai tahun 1798. Akibatnya, proses pembukaan dari yang satu jatuh bersamaan dengan menurunnya yang lainnya. Kepada Yohanes binatang yang menyerupai macan tutul itu diperlihatkan bukan dalam proses pembukaannya, melainkan sebaliknya dalam tindakannya yang terakhir, karena dikatakan olehnya, “Dan luka parahnya itu sudahlah sembuh”. Ia melihat dalam khayal binatang itu setelah luka parahnya sembuh, karena ia menggunakan kata kerja masa lalu (past tense), “was”. Tetapi dalam khayal Daniel perbuatan dari binatang yang tak tergambarkan itu semuanya terdapat di

masa depan. Nabi itu mengatakan : “Maka ia akan berbicara perkataan-perkataan yang besar melawan Yang Maha Tinggi, dan ia akan menganiaya umat kesucian dari Yang Maha Tinggi, dan merencanakan untuk merubah masa dan hukum-hukum : dan mereka akan diserahkan kepada tangannya sampai satu masa dan dua masa dan setengah masa.” (Daniel 7 : 25). Daniel dalam khayal menyaksikan sejarah yang dilambangkan oleh binatang-binatang, ke depan; sebaliknya Yohanes memandangnya ke belakang; atau dengan perkataan lain, Daniel melihat apa yang akan dilakukan oleh binatang itu, sebaliknya kepada Yohanes diperlihatkan apa yang telah diperbuat oleh binatang itu. 

MAHKOTA-MAHKOTA DAN TANDUK-TANDUK 

Dari hal binatang “yang memiliki tujuh kepala dan sepuluh tanduk, dan di atas tanduk-tanduknya itu terdapat sepuluh mahkota” Yohanes mengatakan, “Maka aku melihat salah satu dari kepala-kepalanya itu bagaikan terluka yang membawa mati”. Kepala yang terluka itu melambangkan penguasa kepausan, yang dilukai oleh Marthin Luther yang pada dasarnya dilambangkan oleh tanduk-kepala dari binatang yang tak tergambarkan yang menunjukkan hanya kekuatan paus dan kekuasaannya. Tetapi “binatang yang menyerupai macan tutul” itu menunjukkan penguasa kepausan dalam keadaannya yang terluka, dan tertawannya Paus. Dengan demikian kedua binatang itu (binatang yang tak tergambarkan dan binatang yang menyerupai macan tutul) saling meliputi yang lainnya, semenjak dari keruntuhan kerajaan Romawi sampai tahun 1798. Oleh sebab itu, sementara binatang yang tak tergambarkan itu dalam tahap keduanya melambangkan penguasa kepausan, maka kepausan itu sendiri pada tahap keduanya dilukiskan oleh “binatang yang menyerupai macan tutul”. Yang satu mengungkapkan kekuasaannya yang kejam itu, dan yang lainnya melukiskan keruntuhannya. Karena tanduk kecil itu akan menerima kuasa dan menganiaya umat kesucian dari yang Maha Tinggi selama 1260 tahun (Daniel 7 : 25). Tetapi binatang yang menyerupai macan tutul itu juga “membuka mulutnya dalam hujat”, dan kuasa dikaruniakan kepadanya untuk “melanjutkan empat puluh dua bulan” lamanya. (Wahyu 13 : 6, 5). Jumlah bulan-bulan itu adalah sama dengan “satu masa dan dua masa dan setengah masa” -- yaitu 1260 hari (tahun), dengan menghitung 30 hari untuk satu bulan.

Dengan terpenjaranya Paus Pius VI, dan kematiannya pada tanggal 19 Agustus 1799, maka suatu penggantian terjadi di antara binatang yang tak tergambarkan itu dan binatang yang menyerupai macan tutul. Kepala dan tanduk-tanduk dipindahkan dari yang satu kepada yang lainnya, demikianlah kita misalkan. Dalam melakukan perubahan itu tanduk kecil “yang memiliki mata seorang manusia dan sebuah mulut yang berbicara perkara-perkara yang besar”, dipindahkan dari tanduk-kepala ke suatu kepala biasa yang terluka, yang menunjukkan penguasa kepausan telah kehilangan kekuasaan agamanya, dan tidak lagi dilambangkan oleh sebuah tanduk-kepala (kombinasi gereja dan negara).

Karena peristiwa itu mengakhiri periode nubuatan 1260 tahun dari Daniel 7 : 25 dan Wahyu 13 : 5, maka ia itu selengkapnya memahkotai tanduk-tanduk dari binatang yang menyerupai macan tutul, menunjukkan bahwa negara kini telah lepas bebas dari gereja. Mahkota-mahkota yang terdapat di atas tanduk-tanduknya itu menunjukkan keruntuhan kerajaan Romawi, menunjukkan bahwa sepuluh raja yang dilambangkan oleh sepuluh tanduk dari binatang yang tak tergambarkan itu, telah memperoleh kerajaan mereka.

TANDUK-TANDUK DAN KEPALA-KEPALA SEMUANYA ADA

“Bahwa aku, Yohanes menyaksikan binatang itu memiliki tujuh kepala dan sepuluh tanduk, dan di atas tanduk-tanduknya itu terdapat sepuluh mahkota.” Janganlah kita mengabaikan kenyataan, bahwa semua tanduk, mahkota-mahkota, dan kepala-kepala itu semuanya berada pada binatang itu. Oleh sebab itu, apapun pengertian yang berasal dari lambang simbol itu, semuanya harus berada pada saat kepalanya yang terluka parah itu telah sembuh kembali. Kalau bukan demikian itu halnya, maka lambang-lambang mengenai kepala-kepala dan tanduk-tanduk itu sudah akan muncul secara berurutan satu menyusul yang lainnya sama seperti yang terjadi dengan tanduk kecil dan ketiga tanduk lainnya yang telah “tercabut” dari binatang yang tak tergambarkan dari Daniel 7 : 7. Suatu metode yang sama telah berlaku dalam penyelidikan tentang “kambing jantan”. Sesudah tanduk yang besar itu patah (Alexander), maka muncullah pada tempatnya empat tanduk (empat bagian dari Yunani), dan setelah ini muncullah tanduk yang sangat besar itu yang sejak semula melambangkan Romawi. (Daniel 8 : 8, 9).

Di mana sistem-sistem dan pemerintahan-pemerintahan tidak semuanya terdapat pada waktu yang bersamaan, maka simbol-simbol menunjukkan keadaannya yang berurutan. Faktor lain untuk diperhatikan ialah bahwa setiap simbol dari keseluruhan proses kemunculan binatang-binatang itu menunjukkan kenyataan-kenyataan yang akan jadi dalam masa periode yang dilambangkan oleh masing-masing binatang, dan tidak satupun dari mereka itu menunjuk kepada sesuatu perkara di masa lampau, terkecuali sifat-sifat tabiat keturunan dari leluhurnya.

Oleh karena itu, kepala-kepala ataupun tanduk-tanduk tidak akan menunjuk kepada setiap perkara apapun sebelum ataupun sesudah masa periode yang dilambangkan oleh binatang itu. Itu juga adalah tidak alamiah bagi kepala-kepala (anggota-anggota tubuh binatang itu) untuk berada sebelum atau sesudah adanya binatangnya sendiri. Oleh sebab itu, tidak akan konsisten untuk menyimpulkan, bahwa tanduk-tanduk maupun kepala-kepala itu dapat menunjukkan sistem-sistem yang berurutan sepanjang semuanya itu terlihat pada masa tindakan penutupan dari binatang itu. Binatang yang menyerupai macan tutul dalam keadaannya yang luka mestilah dimaksudkan untuk menunjukkan secara nubuatan kepada kondisi yang ada dalam peradaban sekarang. 

LAMBANG DARI KEPALA-KEPALA

Adalah tidak mungkin bahwa baik tanduk-tanduk maupun kepala-kepala kedua-duanya melambangkan pemerintahan-pemerintahan sipil atau raja-raja. Jika tanduk-tanduk melambangkan pihak politikus, maka kepala-kepala tidak mungkin juga melambangkannya. Dari hal binatang yang menyerupai macan tutul Yohanes mengatakan, “Aku tampak salah satu dari kepala-kepalanya itu bagaikan terluka yang membawa mati”. Karena “kepala” yang “terluka” itu melambangkan suatu badan agama, maka keseluruhan tujuh kepala itu harus melambangkan badan-badan organisasi agama, karena semua kepala-kepala itu adalah sama, terkecuali kepala yang terluka. Demikianlah suatu kenyataan yang tak mungkin salah, bahwa simbol-simbol itu adalah dimaksudkan untuk mengungkapkan baik pihak pemerintahan sipil maupun pihak penguasa agama dari dunia yang ada.

Mahkota-mahkota melambangkan kekuasaan sipil seperti yang dijelaskan terdahulu. Kalau saja mahkota-mahkota itu terdapat pada kepala-kepala seperti halnya pada ular naga dari Wahyu 12 : 3, maka itu akan menunjukkan bahwa gereja-gereja sedang menggunakan bantuan

kekuatan sipil untuk mengembangkan dogma mereka seperti halnya di masa kekaizaran dan kepausan Romawi, yang dilambangkan oleh ular naga itu. Tetapi karena mahkota-mahkota itu berada pada tanduk-tanduk, dan negara adalah bebas dari gereja, hal itu membuktikan simbol dari mahkota-mahkota itu adalah tepat benar. Karena kenyataan-kenyataan yang dikemukakan mengenai keadaan dari simbol-simbol itu tidak dapat dibantah, terbuktilah bahwa kita memiliki suatu landasan positif bagi pengaplikasian simbol-simbol itu. 

Binatang yang menyerupai macan tutul itu adalah suatu turunan dari empat kerajaan kuno. Oleh sebab itu, ia melambangkan dunia, tetapi lebih tepat lagi yaitu keseluruhan peradaban barat berikut pemerintahan-pemerintahan sipil dan organisasi-organisasi agamanya. Akibatnya kepala-kepala itu melambangkan hanya dunia Kristen saja. Yohanes mengatakan : “Binatang itu memiliki tujuh kepala dan sepuluh tanduk dan di atas tanduk-tanduknya itu terdapat sepuluh mahkota, dan di atas kepala-kepalanya itu terdapat nama hujat.” Kenyataan bahwa terdapat nama hujat di atas kepala-kepala itu merupakan suatu bukti tambahan bahwa semuanya itu hanya dapat melambangkan badan-badan organisasi agama, sebab hujat adalah sama saja dengan munafik, dan munafik berarti suatu usaha untuk mencampur adukkan yang suci dengan yang biasa. Tetapi Tuhan berfirman : “Aku tahu hujat mereka itu yang mengatakan mereka adalah orang-orang Yahudi (orang-orang Kristen), tetapi bukan, melainkan mereka adalah jemaat Iblis.” (Wahyu 2 : 9). “Demikianlah Himeneus dan Alexander yang sudah aku serahkan kepada Iblis, supaya mereka itu diajar jangan menghujat.” (1 Timotius 1 : 20). “Sebab itu, hai anak manusia, katakanlah kepada bangsa Israel, dan katakanlah kepadanya, Demikianlah firman Tuhan Hua; dalam inipun segala bapamu sudah menghujat Aku, dalam hal itu mereka sudah mendurhaka melawan Aku.” (Yehezkiel 20 : 27). “Baik kejahatanmu baik kejahatan segala nenek moyangmu yang sudah membakar dupa di atas gunung dan yang menghujat Aku di atas bukit-bukit : oleh sebab itu Aku akan mengukur pekerjaan mereka yang dahulu itu ke dalam diri mereka.” (Yesaya 65 : 7). Pendurhakaan terhadap Firman Allah ialah hujat. 

Dengan sendirinya timbul pertanyaan, siapakah yang merupakan gereja-gereja yang menghujat ini? Mereka tentunya banyak jumlahnya; bayangkanlah begitu banyak sekte yang ada. Firman nubuatan dari Allah, berbicara mengenai masa yang ada ini menegaskan : “Pertama-tama sekali ketahuilah, bahwa pada akhir zaman akan datang kelak pengolok-olok yang berjalan menurut hawa napsunya sendiri.” (2 Petrus 3 : 3). “Karena masanya akan datang kelak manakala orang tidak tahan akan pengajaran yang benar, tetapi sebab gatal telinganya hendak mendengar, maka dihimpunkannya guru-guru bagi dirinya sendiri menurut hawa napsunya sendiri; maka mereka akan berpaling telinganya dari kebenaran, lalu menyimpang kepada segala cerita dongeng.” (2 Timotius 4 : 3, 4). 

Apakah yang menimbulkan kekacauan masa sekarang ini? Sebab mereka telah berpaling dari kebenaran Alkitab yang murni, itulah satu-satunya jawaban yang dapat diberikan. Mungkinkah bahwa semua dapat benar sementara dua orang sajapun tidak ada yang sama percayanya, dengan hanya sebuah Alkitab, sebuah Injil, satu Tuhan, satu neraka yang ditinggalkan dan satu surga yang dikejar? Yesus mengatakan : “Ada lagi pada-Ku domba lain,

yang bukan berasal dari kandang ini : semua itu juga harus Ku bawa, dan domba-domba itu akan mendengar suara-Ku; lalu akan menjadi satu kandang, dan gembala seorang saja.” (Yohanes 10 : 16). 

Kekacauan Setan yang sedemikian seperti halnya kekacauan yang ada pada sekarang ini bagaikan yang telah timbul di masa rasul Paulus yang lalu. Sementara Roh Allah menggerakkan dia, maka diucapkannya kata-kata dengan suatu teguran keras : “Hai Saudara-Saudaraku, sekarang aku minta kepadamu demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya hendaklah kamu berbicara perkara yang sama, dan supaya tidak terdapat perpecahan di antara kamu, melainkan supaya kamu sekalian bersatu dengan satu hati dan satu keputusan. Karena sudah diberitahukan kepadaku dari hal kamu, hai Saudara-Saudaraku, oleh isi rumah Kloe, bahwa ada terdapat pertengkaran di antara kamu. Kini aku tegaskan, bahwa masing-masing kamu mengatakan : bahwa aku ini dari pihak Paulus, aku ini dari pihak Apolos, aku ini dari pihak Kefas, aku ini dari pihak Kristus.” Adakah Kristus itu terbagi-bagi? Adakah Paulus disalibkan karena kamu? Atau dengan nama Pauluskah kamu dibaptiskan? (1 Korintus 1 : 10 – 13). Betapa besarnya perbedaan di antara kedudukan yang diambil oleh hamba Allah yang dipenuhi Roh dan rasul-rasul ciptaan sendiri yang ada sekarang. 

Yesus mengatakan, “Semua perkara ini akan diperbuat mereka itu kepadamu, sebab tiada dikenalnya Bapa, atau Aku.” (Yohanes 16 : 3). Kalau saja apa yang disebut pemimpin-pemimpin Kristen ini telah dipimpin oleh Roh Allah, maka mereka sudah akan meniru teladan yang dikemukakan oleh para nabi dan para rasul; maka tidak mungkin terdapat perpecahan apapun dalam kebenaran Alkitab. Keadaan sekarang ini betul-betul merupakan suatu hujat dan menggenapi kata-kata Tuhan yang berbunyi : “Karena akan bangkit kelak Kristus-Kristus palsu, dan nabi-nabi palsu, dan akan menunjukkan tanda-tanda ajaib yang besar-besar; yang sedemikian itu, sehingga jika mungkin mereka akan menyesatkan orang-orang pilihan.” (Matius 24 : 24). 

Melihat kepada kekacauan yang besar ini, terdapat kesulitan yang nyata untuk dengan cepat menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Yesus mengatakan : “Lagi pula Aku berkata kepadamu : Bahwa jika ada dua orang dari padamu yang sepakat di atas bumi ini dalam barang sesuatu yang hendak dipintanya, ia itu akan dikabulkan baginya oleh Bapa-Ku yang di surga.” (Matius 18 : 19). Tidak ada lagi yang dapat lebih berkenan bagi Allah daripada bagi salah satu dari anak-anak-Nya untuk meminta jalan kebenaran dengan sejujurnya. Oleh sebab itu, orang yang sedemikian ini tidak akan dibiarkan dalam kegelapan : “Pintalah, maka ia itu akan diberikan kepadamu; caharilah, maka engkau akan dapat; ketuklah, maka ia itu akan dibukakan kepadamu.” (Matius 7 : 7).

Jika orang suka mencari kebenaran, maka itu dapat dengan mudah terlaksana. Tetapi kenyataannya ialah, bahwa mereka tidak menghiraukannya. Orang banyak lebih suka tertipu daripada memohon kepada Allah untuk menunjukkan kepada mereka kebenaran-Nya. Benar, mereka berdoa, tetapi doa mereka tidak didengar, sebab : “Barangsiapa yang memalingkan telinganya dari mendengarkan hukum, bahkan doanya akan menjadi kekejian.” (Amsal 28 : 9). Orang-orang yang disebut Kristen masa kini, mengatakan, “Bahwa Injil adalah terdapat dalam Wasiat Lama dan hanya berlaku bagi

orang-orang Yahudi saja.” Kita menoleh kepada Wasiat Baru untuk mendapatkan terang bagi masalah ini sebagai berikut : “Sebab itu barangsiapa hendak merombak salah satu dari perintah-perintah yang terkecil ini, dan akan mengajarkan demikian ini kepada orang lain, ia akan disebut yang terkecil di dalam kerajaan surga; tetapi barangsiapa yang akan melakukan dan mengajarkan semuanya, ia akan disebut besar di dalam kerajaan surga.” (Matius 5 : 19). Orang yang jujur hatinya, dengan terkejut, mendengarkan pada waktu itu kata-kata orang pengolok-olok yang tidak beriman : “Itu bukan dimaksudkan kepada hukum Allah; itu adalah perintah dari Yesus : Hendaklah kamu mengasihi sesamamu seperti akan dirimu sendiri.” Benar, tetapi yang manakah dari sepuluh perintah itu yang dapat kamu rombak, lalu juga kamu mematuhi perintah-perintah dari Yesus? Maka jika kamu mengasihi sesamamu, maukah kamu mempermalukan Allahmu? Bukankah empat perintah yang pertama itu dipatuhi untuk menunjukkan hormat kepada Allah; dan enam perintah yang terakhir itu untuk menguji berapa besar kasih kita kepada sesama manusia? 

Yesus mengatakan : “Pada kedua perintah inilah bergantung semua hukum Torat dan kitab nabi-nabi”. (Matius 22 : 40). Adakah Putera Allah yang tunggal itu bekerja bertentangan dengan Bapa-Nya? “Wahyu dari Yesus Kristus, yang diberikan Allah kepada-Nya, untuk menunjukkan kepada semua hamba-Nya perkara-perkara yang harus jadi dengan segeranya; maka disuruh-Nya malaikat-Nya memberitahukannya kepada hamba-Nya Yohanes.” (Wahyu 1 : 1). “Di sinilah terdapat sabar dari orang-orang saleh : yaitu mereka yang memeliharakan perintah-perintah Allah, dan iman kepada Yesus.” (Wahyu 14 : 12). Tidakkah Yesus mengatakan, bahwa orang-orang saleh-Nya memeliharakan perintah-perintah Allah? Kembali lagi pikiran yang berdosa mengemukakan sanggahannya sebagai berikut : “Mereka itu memeliharakan perintah-perintah Allah, tetapi bukan hukum.” Tetapi Roh menyatakan : “Jika kamu menilik akan rupa orang, kamu berbuat dosa, dan kamu dihukumkan oleh hukum itu sebagai pelanggar-pelanggar hukum. Karena barangsiapa yang memelihara segenap hukum, tetapi melanggar salah satu perkara, maka salahlah ia terhadap semuanya. Karena Ia yang berfirman : ‘Jangan berzinah’, Ia juga berfirman, ‘Jangan membunuh’. Jikalau engkau tiada berzinah, tetapi membunuh, maka engkau sudah menjadi seorang pelanggar hukum. Katakanlah begitu dan perbuatlah begitu seperti orang yang akan diadili oleh hukum kebebasan.” (Yakobus 2 : 9 – 12). “Berbahagialah segala orang yang melakukan perintah-perintah-Nya, sehingga mereka itu berhak menghampiri pohon hayat itu, dan boleh masuk melalui pintu-pintu gerbang ke dalam negeri itu.” (Wahyu 22 : 14). 

Pemeliharaan terhadap perintah-perintah-Nya adalah tiket untuk masuk ke surga. “Akan Torat dan akan Kesaksian : jika mereka berbicara tidak sesuai dengan perkataan ini, itu karena tidak ada terang dalam mereka.” (Yesaya 8 : 20). “Karena pikiran yang bersifat duniawi adalah bermusuhan melawan Allah : karena ia itu tidak tunduk kepada hukum Allah, bahkan juga tidak mungkin baginya.” (Roma 8 : 7). “Barangsiapa yang mengatakan, aku kenal Dia, tetapi tidak memeliharakan perintah-perintah-Nya, ia adalah pembohong, maka kebenaran tidak terdapat di dalamnya.” (1 Yohanes 2 : 4). Sesudah lepas dari lubang penglihatan Iblis yang satu, pikiran yang bersifat duniawi itu berpegang lagi kepada yang lainnya; memutuskan untuk melayani Iblis dan menyesatkan dirinya sendiri, lalu dengan angkuhnya ia mengucapkan kata-kata, “Kami tidak memeliharakan hukum itu sesuai hurufnya melainkan sesuai dengan Roh,

‘Sebab huruf itu membunuh tetapi Roh memberi hidup.’” Pemahamannya yang keliru terhadap kebenaran, memimpinnya untuk mempercayai, bahwa untuk memeliharakan Hukum sesuai dengan Roh ia harus mengesampingkan Firman Allah yang tertulis, dan memeliharakan Hukum Ilahi itu sesuai dengan cara-caranya sendiri, dan selaras dengan pikiran yang bersifat duniawi itu; membatalkan tulisan Yehovah sendiri (Lihat Keluaran 31 : 18), dengan demikian meninggikan yang sia-sia di atas Yang Tak Terhingga! Betapa besarnya hujat yang dapat melibatkan seseorang sedemikian ini? Berikut ini kami kemukakan suatu penjelasan singkat mengenai masalah ini.

Memeliharakan hukum sesuai dengan hurufnya ialah mendirikan sebuah tembok mengelilinginya seperti yang diperbuat oleh orang-orang Parisi yang sombong dahulu. Kami kutip 1 Yohanes 3 : 15, “Siapapun juga yang membenci saudaranya adalah seorang pembunuh”. Oleh karena itu, walaupun kita tidak membunuh, tetapi membenci saudara kita, kita telah mematuhi hukum itu dengan tidak bersalah sesuai dengan hurufnya, tetapi bukan sesuai dengan Rohnya. Mematuhi hukum sesuai dengan Roh mempunyai pengertian yang lebih luas daripada yang dapat ditangkap oleh pikiran yang bersifat duniawi. Jika saya harus mematuhi semua hukum, maka saya harus mematuhi seluruh Firman Allah dalam segala hal, sebab jika tidak, maka saya akan menghina Dia, dan saya akan menjadi seorang pelanggar hukum seperti seorang anak durhaka yang mempermalukan orangtuanya di bumi, dan menjadi bersalah melawan perintah yang kelima di dalam hukum itu.

“Adakah kita diselamatkan oleh hukum Torat?” Sesungguhnya tidak! Kita diadili oleh hukum Torat. Dengan demikian, jika kita dengan sengaja melanggar Firman Allah, maka kita jatuh di bawah tuduhan bersalah dari hukum Torat. “Karena jika kita berbuat dosa dengan sengaja setelah kita memperoleh pengetahuan akan kebenaran itu, maka tidak ada lagi korban karena dosa.” (Ibrani 10 : 26). Tetapi jika kita mencintai pembenaran dari Allah seperti yang dikemukakan di dalam hukum-Nya, dan berketetapan hati untuk mematuhi Firman-Nya yang Suci di mana saja dijumpai (di dalam Alkitab ataupun Roh Nubuat) sesuai dengan ungkapan dari Roh-Nya, maka kita akan memperoleh kuasa yang memungkinkan kita untuk memenuhi maksud Ilahi, lalu olehnya juga dosa-dosa kita dihapuskan oleh darah Kristus, dan demikianlah kita dibuat menjadi merdeka dari hukum itu berikut tuduhannya -- kita ditempatkan di bawah karunia Ilahi.

Benar adanya bahwa banyak orang suka disesatkan, mereka menyombongkan dirinya bahwa mereka berada dalam perjalanan ke surga, sementara Setan sedang mengedipkan mata karena kebodohan mereka itu. Firman Allah menegaskan : “Maka banyak orang akan mengikuti jalan-jalan mereka yang jahat, dan jalan yang benar akan dicela orang oleh sebab mereka itu. ..... Tetapi orang-orang ini, bagaikan binatang-binatang alamiah yang bengis, yang diciptakan untuk ditangkap dan dibinasakan, mencela segala perkara yang mereka sendiri tidak mengerti; maka mereka akan sepenuhnya binasa dalam kejahatannya sendiri.” (2 Petrus 2 : 2, 12). Ini membuktikan bagaimana semangat untuk membela golongan agama sendiri telah muncul.

Sebagaimana telah dibuktikan dan telah diterima secara umum, bahwa “tujuh sidang” dari buku Wahyu itu, pasal dua dan tiga, melambangkan sejarah gereja dalam sejarah Kristen, ternyata bahwa sidang telah terbagi dalam tujuh bagian. Laodikea merupakan yang terakhir, ia pun berada dalam bahaya kejatuhan sesuai dengan kesaksian

dari Saksi yang benar : “Oleh sebab engkau begitu suam, dan panas pun tidak dingin pun tidak, maka Aku hendak meludahkan kamu keluar dari dalam mulut-Ku.” (Wahyu 3 : 16). Allah telah mengirimkan pekabaran demi pekabaran untuk memberikan terang ke atas Firman tertulis-Nya. Semuanya itu dimaksudkan untuk memperbaiki yang salah, menegur dosa, dan memperbaiki orang berdosa; tetapi para pemimpin dari masing-masing sidang itu membuang pekabaran-pekabaran itu, dan sebagian kecil orang-orang yang rela mengorbankan segala-galanya untuk mendapatkan kebenaran itu telah dipaksa untuk berpisah meninggalkan gereja-gereja dan maju terus dengan terang itu. Kalau saja para pemimpin mau rela untuk memperbaiki kekeliruan-kekeliruan mereka lalu menyucikan sidang, maka sudah akan ada hanya satu sidang saja. Oleh penolakan terhadap kebenaran itu, maka masing-masing sidang memutuskan dirinya sendiri dari lengan Allah Yang Maha Kuasa. Dengan demikian, tidak ada satupun dari sidang-sidang ini memiliki terang tambahan atas Firman Injil daripada apa yang telah diberikan kepada mereka oleh para pendiri dari masing-masing pergerakan sidang mereka itu. Kenyataan ini membuktikan benarnya nubuatan Firman Allah, dan makin tua periode sidang itu makin besar tuduhan hukumannya. Oleh sebab itu, maka semua sidang ini dilambangkan dengan “kepala-kepala”; “nama hujat” di atas seluruh kepala-kepala itu, menunjukkan kejatuhan mereka. Kalau mereka menolak juga panggilan yang terakhir ini, maka ungkapan dari semua kenyataan ini akan menentang mereka, dan akan mendatangkan kehancuran mereka yang terakhir.

Pekabaran mengenai mereka yang 144.000 itu, serta suatu panggilan bagi reformasi yang disampaikan kepada gereja Masehi Advent Hari Ketujuh dalam tahun 1930 telah sama juga ditolak. Oleh karena itu, sebagaimana halnya para pemimpin dari sidang-sidang belum pernah menyambut sesuatu pekabaran pada masa manapun, maka mereka tentunya sedang menggenapi kata-kata nubuatan berikut ini : “Orang-orang bijaksana akan menjadi malu, mereka akan terkejut dan tertangkap : sesungguhnya mereka telah menolak firman Tuhan; maka kebijaksanaan apakah yang masih ada pada mereka? ..... Karena segala gembala akan menjadi bodoh, tiada dicarinya Tuhan; sebab itu mereka tidak akan berbahagia, dan semua kawanan dombanya akan tercerai-berai.” (Yeremia 8 : 9; 10 : 21).

“Tujuh kepala” dari “binatang yang menyerupai macan tutul” itu melambangkan rahasia dari kemunafikan dan ketidak berimanan ini, menunjukkan bagaimana masing-masingnya jatuh ke dalam jerat yang ditujunya. Oleh karena itu, semenjak dari masa Luther dan seterusnya Allah telah membiarkan agar umat-Nya dihanyutkan oleh air bah kepunyaan Setan (orang-orang yang tidak bertobat). Dengan demikian Ia terus memanggil sidang-Nya dari pergerakan yang satu kepada pergerakan yang lain. 

Oleh sebab itu, mereka yang merendahkan standar dan menolak untuk bereformasi mengikuti suara trompet, mereka adalah orang-orang yang menciptakan perpecahan di dalam sidang Allah. “Sekarang aku minta kepadamu Saudara-Saudaraku, tandailah mereka yang menciptakan perpecahan dan perselisihan yang bertentangan dengan pengajaran yang telah kamu pelajari; maka jauhilah mereka itu. Sebab orang-orang yang sedemikian itu tidak berbakti kepada Tuhan kita Yesus Kristus, melainkan melayani perut mereka sendiri; dan dengan kata-kata yang manis dan pidato-pidato yang menarik mereka menyesatkan orang-orang yang tulus hatinya.” (Roma 16 : 17, 18). 

Semenjak sejarah gereja adalah sedemikian ini, dan bagian gereja

yang terakhir (Orang-orang Laodikea) berada dalam keadaan yang terburuk, dan berada di bawah tuduhan yang lebih keras lagi daripada setiap sidang sebelumnya, dan karena tidak ada lagi waktu yang tinggal untuk membangkitkan suatu pergerakan yang baru, maka suatu pekabaran mengenai terang yang menakjubkan dan teguran yang tegas melalui Firman Allah, disertai manifestasi-manifestasi mengenai keputusan-keputusan Ilahi, adalah satu-satunya obat yang dapat membawakan pertobatan yang benar dan pembaharuan. Demikianlah mempersiapkan sebuah sidang untuk berdiri “tanpa cacat cela, berkerut ataupun sesuatu perkara yang sedemikian ini”, yang hanya olehnya juga dapat dikatakan : “Maka marahlah naga kepada perempuan itu (sidang sebagai sebuah badan) lalu pergi memerangi yang lagi tinggal dari benihnya, yaitu mereka yang memeliharakan hukum-hukum Allah, dan yang memiliki kesaksian Yesus Kristus.” (Wahyu 12 : 17). Adalah karena kesucian daripada sidang yang telah menimbulkan amarah dari naga itu. 

“Tujuh sidang” inipun dilambangkan oleh “tujuh kakidian”, dan kepemimpinan dari sidang-sidang ini, dilambangkan oleh “tujuh malaikat”. Demikianlah kita baca : “Rahasia dari tujuh bintang yang engkau lihat di dalam tangan kananku, dan tujuh kakidian emas itu. Ketujuh bintang itu ialah malaikat-malaikat dari tujuh sidang itu : dan tujuh kakidian itu ialah tujuh sidang.” (Wahyu 1 : 20). “Dan kepada malaikat dari sidangnya orang-orang Laodikea tuliskanlah.” (Wahyu 3 : 14). Perhatikanlah pekabaran itu ditujukan kepada malaikat (kepemimpinan), dan bukan kepada kakidian (sidang sebagai sebuah badan). Oleh karena itu, tuduhan itu bukanlah ditujukan kepada kakidian, melainkan kepada malaikat. “Sebab katamu, aku kaya, dan bertambah-tambah dengan kekayaan, dan tidak memerlukan sesuatu apapun; dan tidak mengetahui bahwa engkau adalah orang yang malang, dan sengsara, dan miskin, dan buta, dan bertelanjang.” (Wahyu 3 : 17). Saudara-saudaraku, ini adalah bukan menentang kamu, karena adalah Kristus yang berbicara, yang telah mati bagimu, hal ini sungguh-sungguh terjadi, kalau engkau tidak mau merubah jalan kehidupanmu.

Jika Kristus, oleh menghimpunkan ketujuh sidang ini ke dalam sebuah kelompok yang terdiri dari tujuh kakidian dan memberikan catatan yang tergelap terhadap sidang yang terakhir, tidak juga menyebutkan orang-orang Laodikea itu Babil, maka demikian pula interpretasi mengenai “kepala-kepala” itu tidak dibuat sama. Bukannya karena orang-orang Laodikea itu adalah lebih baik sehingga mereka tidak disebut Babil, karena catatan mengenai diri mereka adalah terburuk, melainkan adalah untuk menunjukkan bahwa karena alasan bertambahnya terang mereka, maka Ia akan melayani mereka secara terpisah. Adalah untuk membuktikan, bahwa jika “malaikat” (kepemimpinan) dari sidangnya orang-orang Laodikea menolak pekabaran dari “Saksi Yang Benar”, maka Ia tak dapat memanggil mereka yang 144.000 itu keluar dari tengah-tengah mereka itu masuk ke dalam sesuatu pergerakan yang lain melalui panggilan dari Wahyu 18 : “Keluarlah dari padanya hai umat-Ku supaya jangan kamu terbabit dengan segala dosanya, dan supaya jangan kamu ikut terkena segala celakanya,” (ayat 4), melainkan sebaliknya melalui pekabaran dari Wahyu 7 dan Yehezkiel 9. Dengan demikian secepat mungkin melepaskan umat-Nya, dan selekasnya “menyelesaikan pekerjaan dan mempersingkatkannya dalam kebenaran : sebab suatu tugas yang singkat hendak Tuhan lakukan di atas bumi.” (Roma 9 : 28).

Durhaka terhadap Firman Allah adalah hujat, dan hujat

ialah kemunafikan; yaitu yang dikatakan, bahwa mereka bukanlah sebagaimana yang mereka mengakui dirinya. Kemunafikan menyembunyikan tangisan-tangisan dosa di bawah selubung kebaikan. Dosa munafik seperti ini sukar sekali untuk disembuhkan karena tidak mudah ia itu ditemui oleh manusia. Kita tidak dapat memahami hati orang lain. Juga tidak dapat membedakan di antara selubung kemunafikan dan kehidupan yang suci. Asal mulanya suatu penipuan rohani dari suatu keadaan bukan dari sifat azasi manusia. Oleh sebab itu, rencananya adalah sangat licik sehingga ia itu tidak dapat dilihat oleh penglihatan manusia yang serba terbatas. Jenis penipuan ini hanya dapat dikenal di bawah penglihatan yang seksama dari Firman Allah yang suci dan oleh bantuan Roh-Nya. 

“Cara-cara yang efektif untuk mengobati perencanaan penipuan yang tersusun rapih sedemikian ini ialah dengan suatu keyakinan yang teguh bahwa ada suatu mata Allah yang melihat semua; yang melihat akan dosa itu dimana pun juga berada, dan yang akan membawanya ke dalam pehukuman. Seorang munafik dapat saja menyembunyikan dosanya dari penglihatan orang lain bahkan kadang-kadang dari hati kecilnya sendiri, tetapi ia itu tidak pernah mungkin tersembunyi dari Allah.” Paulus, dalam memandang ke depan kepada suatu masa yang sedemikian ini, mengatakan, “Karena masanya akan datang apabila orang tidak akan tahan terhadap pengajaran yang benar; tetapi sebab gatal telinganya hendak mendengar, maka dihimpunkannya guru-guru bagi dirinya menurut hawa napsunya sendiri. Maka dipalingkannya telinganya dari kebenaran, lalu menyimpang kepada semua cerita dongeng.” (2 Timotius 4 : 3, 4). “Oleh sebab itu, hai engkau yang mengajar orang lain, tidakkah engkau mengajar dirimu sendiri? Engkau yang mengajar : “Jangan mencuri”, mengapa engkau sendiri mencuri? Engkau yang berkata : “Jangan berzinah”, mengapa engkau sendiri berzinah? Engkau yang jijik akan segala berhala, mengapa engkau sendiri merampok rumah berhala? Engkau yang bermegah atas hukum Torat, mengapa engkau sendiri menghina Allah dengan melanggar hukum Torat itu?” (Roma 2 : 21 – 23). Bagi orang-orang yang acuh tak acuh dan yang sembrono; Ayub menegaskan sebagai berikut : “Kelak akan menghabiskan kekuatan kulitnya : bahkan anak sulung dari maut akan menghabiskan kekuatannya.” (Ayub 18 : 13). 

Tujuh kepala itu secara simbolis menunjukkan kepada “tempat-tempat yang tinggi” ini yang dipimpin oleh para pemimpin yang tidak suci yang telah mencoba untuk mencampur-adukkan perkara-perkara yang suci dengan yang biasa, dan yang menolak untuk mendengarkan Firman Tuhan. Angka bilangan Alkitab “tujuh” menunjukkan kepada kelengkapan, yang dengan sendirinya akan meliputi seluruh dunia Kristen pada masa kebenaran nubuatan ini diungkapkan untuk diketahui umum. Kemunafikan yang sedemikian ini bukanlah sesuatu yang asing dalam sejarah umat Allah, karena berulang kali sidang telah jatuh dihanyutkan oleh air bah Setan itu. Di masa Luther keadaannya adalah sama buruknya seperti pada masa sidang menyalibkan Kristus dahulu.

Jika generasi ini adalah lebih jahat daripada setiap generasi yang mendahuluinya, maka apakah yang dapat membuat sidang tahan uji terhadap sesuatu kemurtadan yang sedemikian? Adalah diakui oleh kebanyakan siswa Alkitab, bahwa nubuatan-nubuatan yang seperti ini hanya akan dapat dimengerti apabila objek nubuatan dalam penglihatan telah sepenuhnya berkembang. Oleh sebab itu, sekaranglah masanya dimana simbol-simbol itu berbicara. Tetapi ada suatu segi lain lagi untuk ini, dengan mana kami akan membuktikan bahwa semua fakta yang dikemukakan adalah benar.

SEBUAH KEPALA TERLUKA MEMBAWA MATI

Yohanes mengatakan : “Aku tampak salah satu dari kepala-kepalanya itu bagaikan terluka membawa mati”. Karena kepala yang terluka itu menunjuk kepada pukulan yang dilakukan oleh Luther terhadap kepausan, maka pengasingan paus dalam tahun 1798 merupakan pertanda mengenai lengkapnya luka itu dan bahwa periode nubuatan itu telah berakhir. Dengan demikian menggenapi kata-kata : “Barangsiapa yang membawa orang ke dalam tawanan ia sendiri akan masuk ke dalam tawanan.” (Wahyu 13 : 10). Kalau saja penguasa kepausan tidak memperoleh luka yang membawa mati oleh Luther, maka paus tidak mungkin dapat dimasukkan ke dalam penjara oleh jenderal Prancis, sebab sebelum kekuasaan kepausan itu dilukai oleh pedangnya Luther, paus memerintah dengan penuh kekuasaan. Tetapi pukulan itulah yang telah melemahkan kekuasaannya, maka akibatnya ialah bahwa paham Protestan telah muncul ke atas pentas. Pukulan yang terus menerus mulai melukai “kepala” itu, sampai pada akhirnya paus dimasukkan ke dalam penjara. Pukulan itu terus berlangsung sampai tahun 1870, pada waktu mana akhirnya kekuasaan sementara kepausan lalu disingkirkan. Itu merupakan gangguan terakhir dari “kepala” itu, maka ini menunjukkan bahwa ia itu dibiarkan sampai sembuh sendiri “lukanya yang membawa mati” itu.

Dengan mengutip kata-kata Luther yang menjelaskan bagaimana kepausan telah dilukai : “Saya kemukakan firman Allah; saya berkhotbah dan menulis -- semuanya inilah yang saya telah lakukan. Dan walaupun selagi saya tidur, ..... Firman yang telah saya khotbahkan itulah yang telah meruntuhkan kekuasaan kepausan, sehingga bukan pangeran ataupun kaizar yang telah menimbulkan kehancuran yang sebesar itu. Tetapi saya tidak berbuat apa-apa; Firman itu sendirilah yang telah melakukannya.” -- “The Great Controversy”, halaman 190. “Saya memulai pekerjaan ini dengan nama Allah”, demikianlah kata Luther, “itupun akan berakhir bukan oleh saya, melainkan oleh kuasa-Nya.” -- “The Great Controversy”, halaman 142. Janganlah seorangpun salah menafsirkan ucapan yang berikut ini karena penulis yang sama itu juga yang telah menuliskan kedua-duanya. Oleh sebab itu, adalah tidak adil untuk salah mengartikan ucapan yang satunya, karena dengan berbuat begitu kita akan membuat yang satu tidak harmonis terhadap yang lainnya. Berbicara mengenai 1260 tahun itu kita baca : “Periode ini, sebagaimana dikemukakan di dalam pasal-pasal yang terdahulu, dimulai dengan unggulnya kekuasaan kepausan, tahun 538, dan berakhir dalam tahun 1798. Pada waktu itu, paus telah ditawan oleh tentara Prancis, maka kekuasaan kepausan memperoleh lukanya yang membawa mati, dan ramalan itu genaplah, “Barangsiapa yang memasukkan orang di dalam tawanan ia sendiri akan masuk ke dalam tawanan!” -- “The Great Controversy”, halaman 439. Perhatikanlah bahwa tujuan dari penulis pernyataan ini bukan untuk memberitahukan bagaimana luka itu diperoleh, melainkan untuk menunjukkan bahwa periode nubuatan berakhir dengan dipenjarakannya paus, yang mana bukan menggenapi kata-kata, “Maka aku tampak salah satu dari kepala-kepalanya bagaikan telah terluka yang membawa mati” (ayat 3); melainkan lebih tepat yang dikutip dari Alkitab, “Barangsiapa yang memasukkan orang ke dalam tawanan ia sendiri akan masuk ke dalam tawanan.”  (Ayat 10). Maukah kita mengabaikan Allah dan Roh-Nya, lalu memberikan penghargaan kepada Berthier, lalu dengan demikian membenarkan kebodohan? 

LUKANYA YANG MEMBAWA MATI ITU TELAH SEMBUH

“Maka aku tampak salah satu dari kepala-kepalanya itu telah terluka membawa mati; dan lukanya yang membawa mati itu sembuhlah sudah : maka seluruh dunia heran

terhadap binatang itu.” (Wahyu 13 : 3). William Miller memberitakan periode nubuatan tentang 2300 hari itu sebelum tahun 1844. Nubuatan yang ajaib itu telah disampaikan kepada dunia Kristen dengan kuasa besar oleh Roh Allah. Walaupun para pemimpin dari gereja-gereja yang semula itu tidak dapat menentang melawan kebenaran yang disampaikan oleh Miller, mereka memalingkan juga telinganya daripada mendengarkan ajaran doktrin yang diajarkan olehnya. 

Tetapi karena telah datang kekecewaan besar dalam tahun 1844 oleh salah pengertian terhadap apa yang akan jadi pada akhir dari periode nubuatan itu, maka pergerakan yang diciptakan oleh Miller itu berakhirlah sudah. Pekabaran malaikat yang kedua dari Wahyu 14 : 8, telah memberitakan bahwa Babil (gereja-gereja yang mendahului tahun 1844) telah jatuh. Itu artinya, bahwa Allah tidak akan membiarkan terang apapun juga bercahaya atas firman-Nya melalui gereja-gereja yang jatuh ini. Kalau saja Allah tidak memanggil keluar sesuatu pergerakan Protestan yang lain lagi, maka luka yang membawa mati itu sudah akan sembuh pada waktu itu. 

Oleh perantaraan pergerakan panggilan Ilahi itu, dan yang dibantu oleh tulisan-tulisan “Roh Nubuatan”, maka maksud Allah adalah mempertahankan “luka yang membawa mati itu” tetap pada “kepala” itu. Tetapi nubuatan Firman Allah mengatakan : “Lukanya yang membawa mati itu sudah sembuh”. Karena Firman Allah yang Suci menyatakan bahwa lukanya itu sudah sembuh, dan karena nubuatan tidak dapat gagal, adalah nyata bahwa luka itu “telah sembuh”. 

Tetapi karena Protestantisme oleh mematuhi Firman Allah telah menimbulkan luka itu, maka hanya Protestantisme yang benar saja yang akan dapat mempertahankan luka yang menyakitkan itu pada kepala binatang itu. Jika luka itu sembuh, maka terbuktilah, bahwa mereka yang dipercayakan Allah dengan pekabaran bagi sebuah dunia yang akan binasa, tentu telah dikalahkan dengan cara yang sama seperti yang dialami oleh setiap pergerakan yang ada semenjak permulaan dunia. Adalah sesuatu perkara yang ajaib untuk dicatat bagaimana musuh yang tua itu telah berhasil mencemarkan sidang dalam setiap masa melalui kepemimpinannya sendiri. Kepintaran manusia yang tertinggi terus menerus dibawa ke dalam kekeliruan sehingga dengan demikian mereka melayani Setan bagi kejatuhannya sendiri. Tidakkah pernah umat Allah mau mengambil manfaat dari semua kenyataan sejarah dan Alkitab ini? Bukankah segala perkara ini tertulis sebagai nasehat bagi orang-orang yang hidup di akhir zaman? Allah, melalui Firman-Nya yang Suci, memerintahkan : “Berhentilah bergantung pada manusia, yaitu mereka yang napas hidupnya terdapat di dalam lubang hidungnya : karena dalam hal apakah ia dapat dipertanggung-jawabkan?” (Yesaya 2 : 22). 

Sebagaimana telah diakui, bahwa pengasingan paus dalam tahun 1798 itu merupakan suatu pertanda, bahwa pukulan tersebut telah selengkapnya dilakukan, maka dengan begitu karena ia telah berhasil lagi memperoleh kekuasaannya membuktikan selanjutnya bahwa lukanya itu telah sembuh. Kenyataan-kenyataan ini tidak dapat dibantah, karena telah diakui bahwa peristiwa tahun 1798 itu adalah benar; oleh sebab itu peristiwa satunya yang terjadi dalam tahun 1929 tidak dapat disangkal. Memang demikianlah halnya, bahwa inilah masanya dimana simbol nubuatan itu berbicara, “lukanya yang membawa mati telah sembuh”. Bacalah “Tongkat Gembala”, Jilid I, karena seluruh jilid itu membicarakan masalah ini.

SELURUH DUNIA KAGUM TERHADAP BINATANG ITU 

“Lukanya yang membawa mati itu telah sembuh”, demikianlah kata Yohanes, “Dan seluruh dunia kagum terhadap binatang itu”. Perhatikan bahwa dunia kagum terhadap binatang itu, dan bukan kepada kepala itu. Oleh sebab itu, ia itu tidaklah berarti bahwa dunia harus perlu mendaftarkan diri ke dalam keanggotaan dari badan yang dilambangkan oleh kepala itu. Artinya ialah, bahwa seluruh dunia telah mengikuti roh dari binatang itu -- yaitu keduniawian. Dunia pada umumnya tidak pernah sebaliknya keadaannya. Tidak mungkin dapat dikatakan, bahwa “seluruh dunia kagum terhadap binatang itu” jika umat yang dipercayakan Allah dengan Injil adalah bebas dari roh binatang itu. Tetapi harus jadi bahwa mereka telah menghianati kepercayaan yang diberikan kepada mereka, lalu ikut serta dalam rohnya. Dimanakah perbedaan di antara sidang dan dunia! 

NAMA HUJAT 

“Dan di atas kepala-kepalanya terdapat nama hujat.” Artinya penolakan terhadap kebenaran yang diperkenalkan, yang ditunjukkan dengan cara ketidaksetiaan yang menentang dan tidak hormat kepada Allah, atau kepada perkara-perkara yang harus dijunjung suci -- menghina pribadi Allah dan kekuasaan-Nya. Nabi Yesaya, sambil memandang ke depan kepada sejarah kita sekarang ini yang penuh dengan penipuan besar yang dikepalai oleh apa yang disebut para pemimpin kerohanian, mengatakan : “Maka pada hari itu tujuh orang perempuan akan berpegang pada seorang laki-laki, sambil mengatakan, Kami akan makan roti kami sendiri, dan memakaikan pakaian kami sendiri; hanya saja biarkanlah kami dipanggil dengan namamu, untuk menyingkirkan kecelaan kami.” (Yesaya 4 : 1).

Adalah suatu kenyataan yang diakui di antara para siswa Alkitab, bahwa gereja-gereja dilambangkan oleh “perempuan-perempuan”. Perempuan yang suci -- gereja yang suci, seperti yang terdapat di dalam Yeremia 6 : 2, Wahyu 12 : 1; perempuan yang cemar -- gereja yang kacau, seperti yang terdapat di dalam Wahyu 17 : 4, 5. Yesaya mengatakan, bahwa ada “tujuh” orang perempuan. Angka bilangan itu terdiri dari gereja-gereja yang sama ini juga. Mereka mengatakan, “Kami akan makan roti kami sendiri”. Artinya, mereka menghendaki mengikuti jalan mereka sendiri; mereka tidak menghiraukan jalan Allah (Firman). “Kami hendak memakaikan pakaian kami sendiri”; artinya, mereka menghendaki rencana-rencananya sendiri daripada rencana-rencana Allah atau pembenaran-Nya. Dengan begitu, mereka memakaikan pada dirinya sendiri dengan pembenaran ciptaannya sendiri. Tujuannya ialah untuk dapat dipanggil dengan nama seorang laki-laki; artinya, dengan nama Kristus (orang-orang Kristen) untuk menyingkirkan kecelaan mereka. Orang banyak telah datang mengira bahwa mereka dapat berbuat apa saja di bawah samaran Kekristenan lalu pergi dengannya. Allah akan membiarkan mereka terus mengikuti jalannya sampai kelak mereka, seperti halnya Belsyazar, melewati garis perbatasan kemurahan Ilahi, maka kemudian Ia akan memanggil mereka untuk mempertanggung-jawabkannya.

“Maka mereka menyembah naga itu yang telah memberikan kuasa kepada binatang itu : dan mereka menyembah binatang itu sambil mengatakan, Siapakah yang sama dengan binatang itu? Siapakah yang mampu berperang melawan dia?” (Wahyu 13 : 4). Mungkin dapat ditanyakan, Bagaimanakah dapat orang-orang

Kristen menyembah naga? Jawabannya mudah saja, maka penyembahan kepada naga itu dapat jelas terlihat. Cara penyembahan yang sekarang yang dilakukan oleh apa yang disebut lembaga-lembaga Kristen tak dapat dibantah adalah cara kekapiran. Pemeliharaan Hari Minggu, Hari Natal, dan Hari Paskah, dan sebagainya, berasal dari Babil kuno, dari agama kapir yang tua untuk menghormati dewa matahari. Orang-orang Kristen di zaman modern, menghormati Allah Yang Maha Tinggi dengan memakaikan adat istiadat kekapiran dengan menyebutkannya “Ajaran-Ajaran Kristen”. Protestantisme telah berpegang teguh kepada festival-festival kekapiran ini sebagai suatu lintah yang melekat pada tubuh manusia. Sebagaimana si pemalas menghisap darah secara tidak sadar sehingga kepuasannya menghantarkannya kepada kebinasaan, demikian pula dengan orang-orang Protestan berikut hari-hari peringatan kekapiran mereka; bahkan dengan berani menyebutkan diri mereka dengan nama Kristus. Sungguh benar-benar hujat! Setiap pelajar yang menyelidiki sejarah kuno mengetahui hal ini adalah benar; demikian pula setiap siswa Alkitab mengetahui bahwa semua yang disebut hari-hari besar Kristen ini adalah tidak berlandaskan Alkitab, demikian pula tidak bersifat Kristen. Kalau saja lembaga-lembaga ini adalah Kristen, atau bersifat Alkitab, maka mereka tentunya telah membicarakan dari dalam Alkitab. Tetapi karena mereka tidak menemukan di dalam Firman Allah, maka orang-orang Kristen sebaiknya meninggalkan semuanya itu supaya jangan mereka juga didapati menyembah naga. 

Yeremia, sambil memandang ke depan kepada masa kemurtadan ini, mengatakan : “Demikianlah firman Tuhan, Janganlah kamu belajar jalan orang kapir, dan janganlah kamu gentar terhadap tanda-tanda di langit; karena segala orang kapir juga gentar olehnya. Karena segala adat istiadat orang banyak itu adalah sia-sia : karena  seorang menebang sebatang pohon kayu dari hutan, yang dikerjakan dengan pahat oleh tukang kayu. Mereka memperindahnya dengan perak dan dengan emas; mereka mengikatkannya dengan paku-paku dan dengan palu-palu, sehingga ia itu tidak bergerak.” (Yeremia 10 : 2 – 4). Walaupun Firman menyatakan, “Janganlah kamu belajar jalan-jalan orang kapir”, para pendeta Injil hendak menebang juga sebatang pohon kayu dari hutan lalu menghiasinya dengan perak dan emas, kemudian dengan berani memanggilnya dengan nama Kristus -- pohon natal (Christmas tree). Betapa besarnya hujat yang dibuat orang! Apakah para pendeta dan guru-guru agama tidak mengetahui akan segala perkara ini? Yesus mengatakan, “Allah ialah suatu Roh : maka barangsiapa yang menyembah Dia wajib menyembah Dia dalam roh dan dalam kebenaran.” 

Yohanes mendengar orang-orang menantang Allah dengan mengatakan, “Siapakah yang sama dengan binatang ini? Siapakah yang mampu berperang melawan dia?” Artinya, siapakah yang dapat menghapuskan sistem ibadah kekapiran ini; adakah seseorang? Mereka menantang kekuasaan Allah. Ia itu mungkin tidak dapat dikatakan dengan kata-kata, tetapi adalah sangat pasti ia itu diperlihatkan melalui perbuatan. Penglihatan manusia telah dibutakan oleh dosa, sehingga apabila suatu percobaan dibuat untuk menggabungkan perkara-perkara yang suci dengan yang biasa atau yang kapir, maka mereka tidak melihat adanya dosa di dalamnya. Walaupun Firman Allah menegaskan : “Tetapi dalam segala perkara kami menyatakan diri kami sendiri sebagai hamba-hamba Allah, dalam banyak kesabaran, dalam berbagai penderitaan, dalam kesukaran, dalam ketakutan, dengan kena sesah, dalam penahanan-penahanan penjara, dalam berbagai huru-hara, dengan berlelah, dengan berjaga-jaga, dengan puasa; oleh kesucian, oleh pengetahuan, oleh panjang sabar, dengan kemurahan, oleh Roh Suci, oleh kasih yang

tulus, oleh kata-kata kebenaran, oleh kuasa Allah, oleh senjata kebenaran pada tangan kanan dan pada tangan kiri, oleh kemuliaan dan kehinaan, oleh kabar buruk dan kabar baik : laksana para penipu tetapi juga benar; Laksana tiada dikenal, tetapi terkenal; seperti mati, tetapi sesungguhnya kami hidup; seperti disiksa, tetapi tiada mati; seperti dukacita tetapi senantiasa bersukacita; seperti orang miskin, tetapi membuat kaya banyak orang; seperti tiada memiliki sesuatu, tetapi memiliki segala perkara. Hai kamu orang-orang Korintus, mulut kami terbuka bagimu dan hati kami lapang ..... Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tidak percaya; sebab persamaan apakah terdapat di antara kebenaran dengan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan kegelapan? Dan persamaan apakah terdapat di antara Kristus dengan Belial? Atau apakah bagian orang yang percaya dengan orang kapir? Apakah hubungan antara bait Allah dengan berhala-berhala? Karena kamulah kaabah dari Allah yang hidup; karena Allah telah berfirman, Aku akan tinggal di dalam mereka itu, dan berjalan di dalam mereka itu; dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umat-Ku. Oleh sebab itu keluarlah dari antara mereka itu, dan berpisahlah kamu, demikianlah firman Tuhan, dan janganlah menjamah perkara yang keji; maka Aku akan menyambut kamu, dan Aku akan menjadi seorang Bapa bagimu, dan kamu akan menjadi putera-putera-Ku dan puteri-puteri-Ku, demikianlah firman Tuhan Yang Maha Kuasa.” (2 Korintus 6 : 4 – 11, 14 – 18). 

Adalah pendurhakaan terang-terangan melawan “demikianlah firman Tuhan” yang cukup jelas itu yang telah membawa kekacauan dan malu di dalam dunia Kristen pada waktu ini. Para reformator yang benar ini belum melihat semua kesalahan ini, dan mereka tidak bertanggung-jawab untuknya, karena mereka belum memperoleh terang mengenai semuanya itu. Karena Allah telah memberikan terang ke atas Firman-Nya, secara bertahap, yang memungkinkan untuk menangkap kebenaran, maka Ia mengharapkan dari kita untuk menyambutnya, lalu dengan demikian menghantarkan kita sampai kepada kemenangan.

Tetapi orang mungkin akan mengatakan, jika Allah dapat menyelamatkan orang-orang lain dengan hanya sedikit terang, mengapakah Ia memberikan kepada kita lebih banyak lagi terang? Dari sekian banyak alasan kami akan mengomentari hanya dua. Oleh bertambahnya terang atas Firman, Allah akan dapat menyelamatkan sejumlah besar orang-orang dan bukan hanya sedikit. Alasan yang kedua ialah, bahwa karena bagian terakhir dari sidang itu akan kelak diubahkan bukan dibangkitkan, maka kita memerlukan terang yang cukup untuk mempersiapkan kita untuk bertemu dengan Allah dan dengan semua mahluk yang tidak mati.

Justru kebodohan terhadap Firman Allah yang sedemikian ini di zaman Nuh telah membawa dunia kepada kebinasaannya oleh air. Suatu kondisi kejahatan yang sama telah menghancurkan kota-kota Sodom dan Gomora sampai menjadi abu. Jika di zaman Kristus kemunafikan yang sedemikian ini, di bawah selubung kebaikan, telah meminta nyawa Anak Allah untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran, maka apakah yang akan jadi pada waktu ini? Allah tidak dapat membinasakan dunia, karena Ia masih memiliki sejumlah besar orang untuk diselamatkan. Ia tidak memiliki seorang Putera yang lain untuk dihadiahkan bagi sidang, karena Kristus ialah “satu-satunya” Putera Allah. Jika cita-cita Allah adalah memberkati dunia melalui perantaraan sidang-Nya di bumi, tetapi mereka kepada siapa Injil bagi dunia

telah dipercayakan, telah membiarkan domba-domba dan sedang melayani Iblis di dalam diri mereka sendiri, maka di manakah terdapat harapan bagi dunia ini? Satu-satunya jawaban yang dapat diberikan ialah, celaka bagi orang-orang berdosa di Sion. Allah akan menghimpun domba-domba-Nya. Ia akan memiliki sebuah sidang; tetapi apakah kelak upah bagi orang-orang yang diperintahkan untuk memberi makan domba-domba tetapi sedang mengenyangkan dirinya sendiri? Kristus, telah melihat akhir segala perkara dari mulanya, dan dengan memusatkan perhatian-Nya pada masa sekarang, Ia telah mengatakan, “Siapakah hamba yang setia dan bijaksana yang telah diangkat oleh tuannya menjadi penguasa atas orang-orang isi rumahnya, untuk memberikan kepada mereka makanan pada waktunya? Berbahagialah hamba itu, ketika tuannya datang didapati sedang melakukan tugasnya demikian. Sesungguhnya aku berkata kepadamu, bahwa tuannya itu akan mengangkat dia menjadi penguasa atas segala harta miliknya. Tetapi jikalau hamba yang jahat itu akan berkata di dalam hatinya, ‘Tuanku memperlambat kedatangannya; Lalu ia mulai memukuli hamba-hamba sesamanya, lalu ia makan minum dengan orang-orang pemabuk; Tuan dari hamba itu akan datang pada suatu hari yang tidak disangka-sangkanya, dan pada suatu jam yang tidak diketahuinya, lalu menyesahkan dia teramat sangat, sambil menetapkan bagiannya bersama-sama dengan orang-orang munafik (dengan kepala-kepala dari binatang itu); maka di sanalah kelak terjadi tangisan dan keretak gigi.” (Matius 24 : 45 – 51). 

MEMISAHKAN LALANG-LALANG DARI GANDUM 

Petrus menyaksikan sesuatu masa ketika Allah akan mengadili sidang : “Karena masanya akan datang bahwa pehukuman harus dimulai pada rumah Allah; dan jika ia itu pertama dimulai terhadap kita, maka apakah kelak nasib mereka yang tidak mematuhi Injil Allah?” (1 Petrus 4 : 17). Apakah kelak nasib orang yang tidak mau memasuki bahtera keselamatan, bahkan dengan beraninya menghalangi orang-orang lain untuk masuk? Sementara nabi itu menyaksikan hari pembalasan terhadap orang-orang berdosa di Sion, dan pada waktu Tuhan kembali dari pembantaian itu, maka ia bertanya : “Siapakah ini yang datang dari Edom, yang datang dari Bozrah dengan baju-baju berwarna merah? Siapakah ini yang bersemarak dengan pakaian-Nya, yang berjalan dalam kebesaran kekuatan-Nya? Aku yang berbicara dalam kebenaran, berkuasa untuk menyelamatkan ..... Karena hari pembalasan itu sudah Ku rencanakan, dan tahun dari umat tebusan-Ku ada datang. Lalu Ku pandang, maka tak seorangpun yang menolong-Ku, maka Aku tertegun karena tidak seorangpun yang membantu : oleh sebab itu lengan-Ku sendiri membawakan keselamatan bagi-Ku; dan kehangatan murka-Ku itulah yang membantu-Ku. Maka Aku akan memijak-mijak orang banyak itu dalam murka-Ku, dan membuat mereka itu mabuk dalam kehangatan amarah-Ku, dan Aku akan meruntuhkan kekuatan mereka itu sampai ke tanah.” (Yesaya 63 : 1, 4 – 6). 

Benar-benar mengerikan hari itu yang segera akan menimpa pengawal yang berdiri di atas pagar-pagar tembok Sion, karena hanya orang-orang yang benar yang akan diselamatkan. “Orang-orang yang lebih menyukai mati daripada melaksanakan sesuatu tindakan yang salah adalah hanya mereka yang akan didapati setia.” -- “Testimonies for the Church”, Jilid 5, halaman 53. Pemisahan orang-orang yang suci dari mereka yang tidak suci ini adalah digambarkan secara lengkap oleh Yehezkiel. Orang-orang yang layak untuk

luput dari kebinasaan itu akan diberi tanda oleh orang yang membawa pena penyurat, setelah mana lima orang yang membawa senjata-senjata pembantai akan membunuh kelas orang-orang itu yang dibiarkan tanpa diberi tanda. Tuhan berfirman : “Bunuhlah semuanya baik tua maupun muda, baik anak-anak dara, maupun anak-anak kecil, dan kaum perempuan : tetapi janganlah menghampiri setiap orang yang padanya terdapat tanda itu; dan mulailah pada tempat kesucian-Ku. Kemudian mulailah mereka terhadap orang-orang bangsawan yang berada di depan rumah itu. Lalu katanya kepada mereka itu, Najiskanlah rumah itu, dan penuhilah semua serambinya dengan bangkai-bangkai orang yang dibunuh : pergilah kamu. Maka pergilah mereka itu, lalu membunuh di dalam kota.” (Yehezkiel 9 : 6, 7). Pada waktu inilah lalang-lalang itu dipisahkan dari gandum sesuai dengan kata-kata Kristus : “Biarkanlah keduanya itu bertumbuh bersama-sama sampai kepada masa penuaian : maka dalam masa penuaian itu Aku akan mengatakan kepada para penuai, Himpunkanlah olehmu pertama lalang-lalang itu, dan ikatkanlah semuanya itu berberkas-berkas untuk dibakar : tetapi kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbung-Ku.” (Matius 13 : 30).

Penyucian sidang Allah menandai penuaian atau “Seruan Keras” dari Pekabaran Malaikat Yang Ketiga, karena Tuhan dari penuaian itu menegaskan, “Biarkanlah keduanya bertumbuh bersama-sama sampai pada masa penuaian”. Gandum yang dikumpulkan pada permulaan penuaian dan pada pemisahan dari lalang-lalang di dalam sidang, disebut buah-buah pertama hasil penuaian. Sementara Yohanes memandang kepada rombongan orang-orang itu ia mendengar suatu lagu kegembiraan, yang tidak dapat dilukiskan oleh setiap mulut manusia : “Maka mereka menyanyi seperti suatu nyanyian baru di depan tahta, di depan empat binatang itu, dan di depan para tua-tua itu : dan tak seorangpun dapat mempelajari nyanyian itu terkecuali mereka yang 144.000 itu saja, yaitu mereka yang telah ditebus dari bumi. Inilah mereka yang tidak mencemarkan dirinya dengan perempuan-perempuan; karena mereka adalah anak-anak dara. Inilah mereka yang mengikuti Anak Domba itu kemana saja Ia pergi. Mereka ini telah ditebus dari antara manusia, merupakan buah-buah pertama bagi Allah dan bagi Anak Domba itu.” (Wahyu 14 : 3, 4). “Maka tak seorangpun dapat mempelajari nyanyian itu.” Hanya pengalaman yang dapat menceritakan kegembiraan yang terdapat di dalam hati seseorang pada sesuatu masa apabila ia diluputkan dari kebinasaan yang kekal, lalu dikaruniai hidup yang kekal tanpa merasai mati -- dikumpulkan ke dalam kekekalan yang tak terhingga berabad-abad lamanya! -- yaitu suatu kehidupan yang sama ukurannya dengan kehidupan Allah. 

MENARUH PERCAYA PADA MANUSIA IALAH JERAT IBLIS YANG PASTI 

Kita dapat memeriksa jauh ke belakang sejauh yang kita ingini dan pastilah, bahwa kita akan menemukan secara mengejutkan dan menyedihkan, bahwa kepemimpinan sidang telah sedemikian jauh sesat, sehingga dalam setiap periode mereka telah gagal untuk mengetahui adanya gulungan surat yang terbuka; dan karena orang banyak yang buta berpihak kepada para pemimpin yang mendurhaka itu menentang kebenaran yang diungkapkan, maka mereka memecah-belah sidang Allah ke dalam banyak bagian. Dengan demikian oleh mengalahkan mereka yang terkemuka, maka Setan berhasil menarik mereka untuk bekerja baginya, lalu dengan begitu menjatuhkan sidang itu seluruhnya sebagai suatu badan. Untuk menentukan ketepatan kata-kata yang diucapkan di atas tidaklah

perlu mengomentari berbagai kenyataan jauh sebelum kedatangan Kristus yang pertama. Oleh sebab itu, suatu penyelidikan singkat terhadap sejarah Kristen akan kita tinjau berikut ini. 

Iblis telah menyapu mata hati manusia yang tercerdas sekalipun dengan “sapu kotornya” pada akhir sejarah Wasiat Lama yang lalu. Mata rohani mereka secara licik telah ditutup sehingga mereka tidak dapat melihat sebuah sambaran kilat yang secerah matahari, di dalam kegelapan malam yang pekat. Kegenapan dari nubuatan, keajaiban-keajaiban seputar kelahiran Kristus, tabiat-Nya yang tidak bercacat cela, jerih payahnya yang tidak mementingkan diri serta keajaiban-keajaiban dalam setiap langkah, sentuhan, pandangan dan tindakan, telah memenuhi suasana itu dengan kasih Ilahi. Orang-orang yang kekurangan indera penglihatan dari semenjak lahir merasakan kuasa penyembuhan dari Dia Yang Tak Terbatas itu. Orang-orang buta melihat Tuhan yang penuh kemuliaan dan memuji-muji Allah, tetapi para guru agama Israel sama sekali tidak tergerak hatinya oleh kuasa yang telah menggerakkan bahkan benda-benda yang mati itu. Gempa bumi; dan matahari menutupi wajahnya, batu-batu karang terpecah-belah dan kubur-kubur terbuka; orang-orang mati bangkit lalu memandang kepada Anak Allah. Tetapi orang-orang Parisi, para imam, dan para rabi yang sombong yaitu mereka yang dijunjung tinggi sebagai orang-orang yang tidak pernah keliru itu, sama sekali tidak dapat merasakannya, melihat bahkan mendengar. Tidak ada keajaiban apapun yang lebih besar daripada apa yang tertulis oleh tindakan-tindakan para pemimpin buta dari zaman itu. Berbicara mengenai pengalaman itu, Yohanes mengatakan : “Dalam Dia ada kehidupan dan kehidupan itu ialah terang manusia. Maka terang itu bercahaya di dalam gelap : tetapi gelap itu tidak menguasainya.” (Yohanes 1 : 4, 5). 

Setiap sinar terang yang mungkin menunjuk kepada kedatangan “Anak Domba Allah” itu telah diberikan kepada umat yang pernah dipilih; tetapi ia itu tidak membawa manfaat apapun kepada mereka. Yesus mengatakan : “Oleh sebab itu jikalau terang yang ada di dalammu itu menjadi gelap, maka alangkah besarnya kegelapan itu!” Mudah-mudahan kiranya pengalaman-pengalaman ini dapat membangunkan para pemimpin dan orang banyak pada masa ini daripada percaya diri sendiri dan kesentausaan palsu yang ada, kepada suatu penyelidikan yang bersungguh-sungguh terhadap kebenaran Alkitab yang pasti. 

Dalam cara yang sama inilah sidang Kristen yang mula-mula telah ditarik masuk ke dalam zaman kegelapan yang lalu. Segera setelah Rasul-Rasul meninggal dunia Setan menyebarkan agen-agennya, yaitu orang-orang yang terkenal, masuk ke dalam sidang. Para pemimpin yang sedianya sudah buta itu meletakkan tangan mereka mengurapi orang-orang itu, bukan dari segi penyerahan kesucian, melainkan karena terkenalnya mereka itu, dan demikianlah mereka membentuk orang-orang itu menjadi gembala-gembala bagi kawanan domba yang ada. Dalam jam yang tergelap dari sidang Kristen itu, Allah oleh perantaraan Luther, telah mengundang perhatian orang banyak kepada kesesatan yang mengerikan, tetapi hanya sedikit yang bersedia mendengarkan suara biarawan yang sederhana itu. Seseorang mungkin saja mengira bahwa orang yang terpandai seharusnya pertama sekali melihat dalam terang yang jelas“demikianlah firman Tuhan”. Luther, dengan suatu perjuangan yang besar, dan dengan penuh resiko hidupnya, telah mendirikan organisasi gereja Lutheran. Tetapi setelah ia meninggal, pergerakannya itupun sama saja telah dikacaukan dan mereka telah mengeraskan hatinya melawan terang baru atas Firman Allah.

perlu mengomentari berbagai kenyataan jauh sebelum kedatangan Kristus yang pertama. Oleh sebab itu, suatu penyelidikan singkat terhadap sejarah Kristen akan kita tinjau berikut ini.

 

Iblis telah menyapu mata hati manusia yang tercerdas sekalipun dengan “sapu kotornya” pada akhir sejarah Wasiat Lama yang lalu. Mata rohani mereka secara licik telah ditutup sehingga mereka tidak dapat melihat sebuah sambaran kilat yang secerah matahari, di dalam kegelapan malam yang pekat. Kegenapan dari nubuatan, keajaiban-keajaiban seputar kelahiran Kristus, tabiat-Nya yang tidak bercacat cela, jerih payahnya yang tidak mementingkan diri serta keajaiban-keajaiban dalam setiap langkah, sentuhan, pandangan dan tindakan, telah memenuhi suasana itu dengan kasih Ilahi. Orang-orang yang kekurangan indera penglihatan dari semenjak lahir merasakan kuasa penyembuhan dari Dia Yang Tak Terbatas itu. Orang-orang buta melihat Tuhan yang penuh kemuliaan dan memuji-muji Allah, tetapi para guru agama Israel sama sekali tidak tergerak hatinya oleh kuasa yang telah menggerakkan bahkan benda-benda yang mati itu. Gempa bumi; dan matahari menutupi wajahnya, batu-batu karang terpecah-belah dan kubur-kubur terbuka; orang-orang mati bangkit lalu memandang kepada Anak Allah. Tetapi orang-orang Parisi, para imam, dan para rabi yang sombong yaitu mereka yang dijunjung tinggi sebagai orang-orang yang tidak pernah keliru itu, sama sekali tidak dapat merasakannya, melihat bahkan mendengar. Tidak ada keajaiban apapun yang lebih besar daripada apa yang tertulis oleh tindakan-tindakan para pemimpin buta dari zaman itu. Berbicara mengenai pengalaman itu, Yohanes mengatakan : “Dalam Dia ada kehidupan dan kehidupan itu ialah terang manusia. Maka terang itu bercahaya di dalam gelap : tetapi gelap itu tidak menguasainya.” (Yohanes 1 : 4, 5). 

Setiap sinar terang yang mungkin menunjuk kepada kedatangan “Anak Domba Allah” itu telah diberikan kepada umat yang pernah dipilih; tetapi ia itu tidak membawa manfaat apapun kepada mereka. Yesus mengatakan : “Oleh sebab itu jikalau terang yang ada di dalammu itu menjadi gelap, maka alangkah besarnya kegelapan itu!” Mudah-mudahan kiranya pengalaman-pengalaman ini dapat membangunkan para pemimpin dan orang banyak pada masa ini daripada percaya diri sendiri dan kesentausaan palsu yang ada, kepada suatu penyelidikan yang bersungguh-sungguh terhadap kebenaran Alkitab yang pasti. 

Dalam cara yang sama inilah sidang Kristen yang mula-mula telah ditarik masuk ke dalam zaman kegelapan yang lalu. Segera setelah Rasul-Rasul meninggal dunia Setan menyebarkan agen-agennya, yaitu orang-orang yang terkenal, masuk ke dalam sidang. Para pemimpin yang sedianya sudah buta itu meletakkan tangan mereka mengurapi orang-orang itu, bukan dari segi penyerahan kesucian, melainkan karena terkenalnya mereka itu, dan demikianlah mereka membentuk orang-orang itu menjadi gembala-gembala bagi kawanan domba yang ada. Dalam jam yang tergelap dari sidang Kristen itu, Allah oleh perantaraan Luther, telah mengundang perhatian orang banyak kepada kesesatan yang mengerikan, tetapi hanya sedikit yang bersedia mendengarkan suara biarawan yang sederhana itu. Seseorang mungkin saja mengira bahwa orang yang terpandai seharusnya pertama sekali melihat dalam terang yang jelas“demikianlah firman Tuhan”. Luther, dengan suatu perjuangan yang besar, dan dengan penuh resiko hidupnya, telah mendirikan organisasi gereja Lutheran. Tetapi setelah ia meninggal, pergerakannya itupun sama saja telah dikacaukan dan mereka telah mengeraskan hatinya melawan terang baru atas Firman Allah.

Sebagaimana John Knox telah datang dengan kebenaran tambahan, para pemimpin sidang menolak untuk memperkenankannya, dan demikianlah perlunya lahir lagi organisasi gereja Presbyterian. Pengalaman-pengalaman ini telah berulang kembali dengan Wesley, Campbell, Miller, dan White. (Lihat buku Tongkat Gembala, Jilid I, halaman 32 - 114, bahasa Inggris). “Kita harus lebih waspada terhadap yang dari dalam daripada yang dari luar. Penghalang-penghalang terhadap kekuatan dan keberhasilan adalah jauh lebih besar datangnya dari sidang itu sendiri daripada yang datang dari dunia.” -- “The Review and Herald”, March 22, 1887. Jikalau bahaya melawan sidang itu sedianya datang dari dalam, karena menaruh percaya pada kepemimpinan yang menyesatkan diri sendiri dalam setiap zaman, maka apakah yang akan merubah segala perkara pada waktu ini? 

Kenyataan-kenyataan ini yang berkenan dengan jerat-jerat Iblis yang pasti, terus berulang kali disuarakan dengan keras untuk membangunkan orang yang tidur pada waktu sekarang ini. Dengarkanlah bunyi trompet itu : “Kebaskanlah abu daripadamu, bangunlah dan duduklah, hai Yerusalem : lepaskanlah segala pengikat lehermu, hai puteri Sion yang tertawan.” (Yesaya 52 : 2). Keragu-raguan, dengan bergantung pada manusia, dalam keyakinan memiliki semua kebenaran dan tidak memerlukan apa-apa lagi, telah menelan lebih banyak jiwa daripada setiap jerat manapun yang pernah dibuat oleh musuh manusia. Kelas orang-orang yang menerima begitu saja keputusan-keputusan orang lain tanpa menyelidikinya sendiri, lalu menolak untuk dipuaskan dengan cara mendengar dan menguji Firman, mereka telah disesatkan dari kebenaran sekarang dalam setiap masa. “Karena kepintaran dunia ini adalah kebodohan bagi Allah. Karena ada tersurat, bahwa Tuhan menangkap orang pandai itu dalam kebijaksanaannya sendiri. Dan lagi, Tuhan mengetahui akan pikiran orang pandai itu, bahwa mereka itu sia-sia adanya.” (1 Korintus 3 : 19, 20). 

Orang-orang yang sangat dijunjung tinggi oleh dunia, jarang sekali dapat digunakan oleh Allah. Pada umumnya, para pendidik yang besar dari zaman ini adalah orang-orang yang berpikiran tabiat duniawi, sebab itu hasil dari sekolah-sekolah manusia adalah bermusuhan melawan Allah. “Karena pikiran yang bersifat duniawi bermusuhan melawan Allah, sebab ia itu tidak takluk ke bawah hukum Allah, bahkan juga tidak mungkin baginya.” (Roma 8 : 7). Kalau saja Allah mau menggunakan mereka, mereka harus pertama-tama sekali bersama-sama dengan rasul yang besar itu, menyangkal dirinya. Rasul Paulus menegaskan : “Memberitakan Injil : bukan dengan kepintaran kata-kata, supaya jangan salib Kristus itu menjadi sia-sia. Karena ada tertulis, bahwa Aku akan membinasakan kepintaran orang-orang pandai, dan kebijaksanaan orang yang bijak itu akan Ku lenyapkan.” (1 Korintus 1 : 17, 19). “Demikian aku pun, ketika aku sudah datang kepadamu, hai Saudara-Saudaraku, bukannya aku datang dengan fasih lidah atau dengan kepintaran, dalam hal aku memberitakan kepadamu kesaksian Allah itu. Karena aku sudah memutuskan untuk tidak mau tahu apapun di antara kamu, terkecuali Yesus Kristus, dan Dia yang tersalib itu. Dan aku sudah berada bersama kamu dalam kelemahan, dalam takut, dan dalam banyak gentar. Maka pembicaraanku dan pemberitaanku bukannya dengan kata-kata menarik orang pandai, melainkan dalam mendemonstrasikan Roh dan kuasa Allah.” (1 Korintus 2 : 1 –  4).

 Allah membawa Musa ke padang belantara dan di sana di bawah pengawasan-

Sebagaimana John Knox telah datang dengan kebenaran tambahan, para pemimpin sidang menolak untuk memperkenankannya, dan demikianlah perlunya lahir lagi organisasi gereja Presbyterian. Pengalaman-pengalaman ini telah berulang kembali dengan Wesley, Campbell, Miller, dan White. (Lihat buku Tongkat Gembala, Jilid I, halaman 32 - 114, bahasa Inggris). “Kita harus lebih waspada terhadap yang dari dalam daripada yang dari luar. Penghalang-penghalang terhadap kekuatan dan keberhasilan adalah jauh lebih besar datangnya dari sidang itu sendiri daripada yang datang dari dunia.” -- “The Review and Herald”, March 22, 1887. Jikalau bahaya melawan sidang itu sedianya datang dari dalam, karena menaruh percaya pada kepemimpinan yang menyesatkan diri sendiri dalam setiap zaman, maka apakah yang akan merubah segala perkara pada waktu ini? 

Kenyataan-kenyataan ini yang berkenan dengan jerat-jerat Iblis yang pasti, terus berulang kali disuarakan dengan keras untuk membangunkan orang yang tidur pada waktu sekarang ini. Dengarkanlah bunyi trompet itu : “Kebaskanlah abu daripadamu, bangunlah dan duduklah, hai Yerusalem : lepaskanlah segala pengikat lehermu, hai puteri Sion yang tertawan.” (Yesaya 52 : 2). Keragu-raguan, dengan bergantung pada manusia, dalam keyakinan memiliki semua kebenaran dan tidak memerlukan apa-apa lagi, telah menelan lebih banyak jiwa daripada setiap jerat manapun yang pernah dibuat oleh musuh manusia. Kelas orang-orang yang menerima begitu saja keputusan-keputusan orang lain tanpa menyelidikinya sendiri, lalu menolak untuk dipuaskan dengan cara mendengar dan menguji Firman, mereka telah disesatkan dari kebenaran sekarang dalam setiap masa. “Karena kepintaran dunia ini adalah kebodohan bagi Allah. Karena ada tersurat, bahwa Tuhan menangkap orang pandai itu dalam kebijaksanaannya sendiri. Dan lagi, Tuhan mengetahui akan pikiran orang pandai itu, bahwa mereka itu sia-sia adanya.” (1 Korintus 3 : 19, 20). 

Orang-orang yang sangat dijunjung tinggi oleh dunia, jarang sekali dapat digunakan oleh Allah. Pada umumnya, para pendidik yang besar dari zaman ini adalah orang-orang yang berpikiran tabiat duniawi, sebab itu hasil dari sekolah-sekolah manusia adalah bermusuhan melawan Allah. “Karena pikiran yang bersifat duniawi bermusuhan melawan Allah, sebab ia itu tidak takluk ke bawah hukum Allah, bahkan juga tidak mungkin baginya.” (Roma 8 : 7). Kalau saja Allah mau menggunakan mereka, mereka harus pertama-tama sekali bersama-sama dengan rasul yang besar itu, menyangkal dirinya. Rasul Paulus menegaskan : “Memberitakan Injil : bukan dengan kepintaran kata-kata, supaya jangan salib Kristus itu menjadi sia-sia. Karena ada tertulis, bahwa Aku akan membinasakan kepintaran orang-orang pandai, dan kebijaksanaan orang yang bijak itu akan Ku lenyapkan.” (1 Korintus 1 : 17, 19). “Demikian aku pun, ketika aku sudah datang kepadamu, hai Saudara-Saudaraku, bukannya aku datang dengan fasih lidah atau dengan kepintaran, dalam hal aku memberitakan kepadamu kesaksian Allah itu. Karena aku sudah memutuskan untuk tidak mau tahu apapun di antara kamu, terkecuali Yesus Kristus, dan Dia yang tersalib itu. Dan aku sudah berada bersama kamu dalam kelemahan, dalam takut, dan dalam banyak gentar. Maka pembicaraanku dan pemberitaanku bukannya dengan kata-kata menarik orang pandai, melainkan dalam mendemonstrasikan Roh dan kuasa Allah.” (1 Korintus 2 : 1 –  4).

 Allah membawa Musa ke padang belantara dan di sana di bawah pengawasan-

Nya Ia telah melatih Musa selama empat puluh tahun lamanya -- pada waktu itulah Musa melepaskan semua yang telah diperolehnya di dalam sekolah-sekolah Mesir, hanya sesudah itulah baru Allah dapat menggunakannya sebagai suatu alat di dalam tangan-Nya yang Maha Kuasa. Pada waktu Musa merasa mampu untuk membebaskan Israel dari perhambaan Mesir ia justru gagal; tetapi setelah ia menyadari akan dirinya sendiri sebagai tak berdaya, maka pada waktu itulah ia kuat. Jika Allah hendak memberikan terang besar kepada seseorang yang merasa dirinya sendiri tinggi, dan yang juga dijunjung tinggi oleh dunia, maka manusia akan memuliakan dirinya sendiri dan merampok dari Allah kemuliaan-Nya. “Pada waktu inilah Yesus menjawab dan mengatakan, “Ya Bapa, Tuhan daripada langit dan bumi, Aku bersyukur kepada-Mu, sebab Engkau telah  menyembunyikan segala perkara ini dari orang-orang bijaksana dan orang-orang pandai, tetapi telah mengungkapkannya kepada bayi-bayi.” (Matius 11 : 25). Allah mengungkapkan diri-Nya melalui alat-alat dan cara-cara yang hampir-hampir tak disangka oleh manusia. Demikianlah Ia memperlihatkan suatu keajaiban dengan cara membuat segala-galanya yang tidak mungkin menjadi mungkin, mengungkapkan kuasa-Nya dan membangkitkan orang yang tidur dengan menggunakan terang dan suara Ilahi. Orang-orang yang terkenal jarang sekali menerima sesuatu terang atas Firman Allah hanya karena nilai kebenarannya; kelas orang-orang ini umumnya menyambut kebenaran Alkitab itu setelah kebenaran itu menjadi terkenal dan apabila ia itu dikhotbahkan oleh orang-orang yang dihargai lebih tinggi daripada diri mereka sendiri.

Kata Nabi itu, “Janganlah berharap pada manusia, yaitu mereka yang napas hidupnya terdapat di dalam lubang hidungnya : dan sebagai apakah ia dapat dianggap?” (Yesaya 2 : 22). “Adalah lebih baik berharap kepada Tuhan daripada menaruh kepercayaan pada manusia.” (Mazmur 118 : 8). Sambil memandang ke depan kepada masa kesentausaan dunia sekarang ini, nabi Mikha mengatakan, “Janganlah kamu percaya kepada seorang sahabat, jangan lagi menaruh harap pada penunjuk jalan.” (Mikha 7 : 5). Umat Allah harus belajar untuk berharap serta bergantung kepada-Nya saja, “demikianlah firman Tuhan”. Ia dapat menggunakan alat manusia untuk menyampaikan terang, tetapi terang itulah yang akan bercahaya atas Firman Allah yang tidak pernah salah. Terang yang sedemikian ini akan mengusir dosa dan akan menghukum orang berdosa, meninggikan Kristus, memuliakan Allah, dan merendahkan manusia. “Manusia yang sombong akan direndahkan dan orang yang angkuh akan ditundukkan, maka Tuhan sajalah yang akan ditinggikan pada hari itu. Karena hari Tuhan Serwa Sekalian Alam akan datang atas setiap orang yang sombong dan angkuh, dan atas setiap orang yang ditinggikan; maka ia itu akan direndahkan.” (Yesaya 2 : 11, 12).

Setan mengetahui bagaimana caranya menyesatkan sehingga ia itu tidak mudah dapat diketahui. Ia mempelajari kecenderungan-kecenderungan dari umat itu, maka pada perkara yang paling menarik di situlah ia meletakkan jeratnya. Karena generasi ini sedang menaruh percaya pada kepintaran manusia dan mereka rela agar orang lain berpikir bagi mereka, maka Iblis akan hadir kepada kelas orang-orang ini dengan pribadi yang sangat menakjubkan yang pernah diharapkan oleh dunia. Kata rasul itu : “Maka janganlah heran, karena Setan sendiri mewujudkan dirinya seperti malaikat terang.” (2 Korintus 11 : 14).

Alat-alat Allah yang berguna untuk menghubungkan terang itu ke atas Firman-Nya akan bertentangan dengan alat-alat kepunyaan Setan. “Aku bersyukur kepada-Mu, Ya Bapa, Tuhan langit dan bumi, sebab Engkau telah menyembunyikan segala perkara ini dari orang-orang bijaksana dan pandai, dan Engkau telah mengungkapkannya

Nya Ia telah melatih Musa selama empat puluh tahun lamanya -- pada waktu itulah Musa melepaskan semua yang telah diperolehnya di dalam sekolah-sekolah Mesir, hanya sesudah itulah baru Allah dapat menggunakannya sebagai suatu alat di dalam tangan-Nya yang Maha Kuasa. Pada waktu Musa merasa mampu untuk membebaskan Israel dari perhambaan Mesir ia justru gagal; tetapi setelah ia menyadari akan dirinya sendiri sebagai tak berdaya, maka pada waktu itulah ia kuat. Jika Allah hendak memberikan terang besar kepada seseorang yang merasa dirinya sendiri tinggi, dan yang juga dijunjung tinggi oleh dunia, maka manusia akan memuliakan dirinya sendiri dan merampok dari Allah kemuliaan-Nya. “Pada waktu inilah Yesus menjawab dan mengatakan, “Ya Bapa, Tuhan daripada langit dan bumi, Aku bersyukur kepada-Mu, sebab Engkau telah  menyembunyikan segala perkara ini dari orang-orang bijaksana dan orang-orang pandai, tetapi telah mengungkapkannya kepada bayi-bayi.” (Matius 11 : 25). Allah mengungkapkan diri-Nya melalui alat-alat dan cara-cara yang hampir-hampir tak disangka oleh manusia. Demikianlah Ia memperlihatkan suatu keajaiban dengan cara membuat segala-galanya yang tidak mungkin menjadi mungkin, mengungkapkan kuasa-Nya dan membangkitkan orang yang tidur dengan menggunakan terang dan suara Ilahi. Orang-orang yang terkenal jarang sekali menerima sesuatu terang atas Firman Allah hanya karena nilai kebenarannya; kelas orang-orang ini umumnya menyambut kebenaran Alkitab itu setelah kebenaran itu menjadi terkenal dan apabila ia itu dikhotbahkan oleh orang-orang yang dihargai lebih tinggi daripada diri mereka sendiri.

Kata Nabi itu, “Janganlah berharap pada manusia, yaitu mereka yang napas hidupnya terdapat di dalam lubang hidungnya : dan sebagai apakah ia dapat dianggap?” (Yesaya 2 : 22). “Adalah lebih baik berharap kepada Tuhan daripada menaruh kepercayaan pada manusia.” (Mazmur 118 : 8). Sambil memandang ke depan kepada masa kesentausaan dunia sekarang ini, nabi Mikha mengatakan, “Janganlah kamu percaya kepada seorang sahabat, jangan lagi menaruh harap pada penunjuk jalan.” (Mikha 7 : 5). Umat Allah harus belajar untuk berharap serta bergantung kepada-Nya saja, “demikianlah firman Tuhan”. Ia dapat menggunakan alat manusia untuk menyampaikan terang, tetapi terang itulah yang akan bercahaya atas Firman Allah yang tidak pernah salah. Terang yang sedemikian ini akan mengusir dosa dan akan menghukum orang berdosa, meninggikan Kristus, memuliakan Allah, dan merendahkan manusia. “Manusia yang sombong akan direndahkan dan orang yang angkuh akan ditundukkan, maka Tuhan sajalah yang akan ditinggikan pada hari itu. Karena hari Tuhan Serwa Sekalian Alam akan datang atas setiap orang yang sombong dan angkuh, dan atas setiap orang yang ditinggikan; maka ia itu akan direndahkan.” (Yesaya 2 : 11, 12).

Setan mengetahui bagaimana caranya menyesatkan sehingga ia itu tidak mudah dapat diketahui. Ia mempelajari kecenderungan-kecenderungan dari umat itu, maka pada perkara yang paling menarik di situlah ia meletakkan jeratnya. Karena generasi ini sedang menaruh percaya pada kepintaran manusia dan mereka rela agar orang lain berpikir bagi mereka, maka Iblis akan hadir kepada kelas orang-orang ini dengan pribadi yang sangat menakjubkan yang pernah diharapkan oleh dunia. Kata rasul itu : “Maka janganlah heran, karena Setan sendiri mewujudkan dirinya seperti malaikat terang.” (2 Korintus 11 : 14).

Alat-alat Allah yang berguna untuk menghubungkan terang itu ke atas Firman-Nya akan bertentangan dengan alat-alat kepunyaan Setan. “Aku bersyukur kepada-Mu, Ya Bapa, Tuhan langit dan bumi, sebab Engkau telah menyembunyikan segala perkara ini dari orang-orang bijaksana dan pandai, dan Engkau telah mengungkapkannya

kepada bayi-bayi.” Demikian kata Yesus (Matius 11 : 25). Kepada nabi Yesaya telah diungkapkan, bahwa Allah akan menggunakan orang-orang yang sederhana untuk merendahkan orang-orang yang sombong : “Karena sesungguhnya, Tuhan, Tuhan serwa sekalian alam, akan melalukan dari Yerusalem dan dari Yehuda baik tongkat maupun batang, yaitu segala tongkat roti dan segala batang air. Orang perkasa, dan prajurit, hakim, dan nabi, dan orang yang pandai, dan orang tua-tua, dan penghulu lima puluh orang, dan orang yang terhormat, dan penasehat, dan menteri, dan tukang yang pandai, dan pembicara yang ulung. Maka anak-anak akan kujadikan raja-raja mereka itu, dan bayi-bayi akan memerintah mereka itu. Maka orang banyak itu akan ditindas, masing-masing oleh yang lainnya, dan masing-masing oleh tetangganya : anak kecil akan membanggakan dirinya melawan tua-tua, dan yang terendah melawan yang terhormat.” (Yesaya 3 : 1 – 5). Yesus mengatakan : “Oleh sebab itu barangsiapa merendahkan dirinya seperti anak kecil, dialah kelak menjadi yang terbesar di dalam kerajaan surga. Dan barangsiapa kelak menerima anak kecil yang sedemikian ini dalam nama-Ku ia juga menerima Aku.” (Matius 18 : 4, 5). 

RINGKASAN SINGKAT DARI HAL BINATANG YANG MENYERUPAI MACAN TUTUL 

Telah dibuktikan sebelumnya, bahwa binatang yang menyerupai macan tutul itu, tujuh kepalanya dan sepuluh tanduknya adalah melambangkan suatu sistem yang bersifat universal. Empat binatang dari Daniel pasal 7, yaitu, singa, beruang, macan tutul, dan binatang yang tak tergambarkan telah ditunjukkan dalam khayal itu sebagai empat kerajaan dunia yang muncul satu menyusul yang lainnya. Dengan demikian, baik nubuatan maupun sejarah, membuktikan bahwa Babel, Medo-Persia, Yunani, dan Romawi telah datang yang satu menyusul yang lainnya. Empat mata rantai yang tak terpisahkan ini membuatnya menjadi tidak mungkin untuk memotong salah satunya dari empat binatang itu dengan suatu sistem yang universal. Oleh sebab itu binatang yang menyerupai macan tutul itu harus datang kemudian secara berurutan sesudah binatang yang keempat. Karena “sepuluh tanduk” dari binatang yang tak tergambarkan itu melambangkan “sepuluh orang raja” yang akan naik dari kerajaan Romawi, maka “mahkota-mahkota pada tanduk-tanduk” itu membuktikan, bahwa binatang yang menyerupai macan tutul itu melambangkan masa periode sesudah runtuhnya kerajaan Romawi, pada waktu mana “sepuluh orang raja” itu memperoleh kerajaan mereka. Karena ia juga “telah datang keluar dari Laut”, maka jelaslah bahwa ia pun akan diciptakan dari hasil peperangan. Demikianlah runtuhnya kerajaan Romawi telah melahirkan seekor binatang yang kelima. Mulutnya adalah mulut singa, kakinya kaki beruang, badannya berbadan seekor macan tutul, dan memiliki sepuluh tanduk, menunjukkan bahwa ia adalah suatu turunan dari Babel, Medo-Persia, Yunani, dan Romawi. 

Karena ia telah membuka mulutnya mengucapkan hujat selama empat puluh dua bulan lamanya, atau seribu dua ratus enam puluh tahun, maka tak dapat dibantah bahwa ia melambangkan periode masa kepausan semenjak dari tahun 538 TM sampai tahun 1798 TM -- yaitu waktu dimana kepala kepausan itu memperoleh lukanya yang membawa mati itu. Tetapi karena lukanya itu kelak akan sembuh kembali pada sesuatu waktu sesudah tahun 1798, maka jelaslah bahwa ia juga melambangkan sejarah dunia ini setelah tertawannya Paus Pius VI sampai kepada saat “lukanya yang parah itu sembuh kembali”; semua periode inilah yang telah melahirkan paham Katholikisme dan Protestantisme.

kepada bayi-bayi.” Demikian kata Yesus (Matius 11 : 25). Kepada nabi Yesaya telah diungkapkan, bahwa Allah akan menggunakan orang-orang yang sederhana untuk merendahkan orang-orang yang sombong : “Karena sesungguhnya, Tuhan, Tuhan serwa sekalian alam, akan melalukan dari Yerusalem dan dari Yehuda baik tongkat maupun batang, yaitu segala tongkat roti dan segala batang air. Orang perkasa, dan prajurit, hakim, dan nabi, dan orang yang pandai, dan orang tua-tua, dan penghulu lima puluh orang, dan orang yang terhormat, dan penasehat, dan menteri, dan tukang yang pandai, dan pembicara yang ulung. Maka anak-anak akan kujadikan raja-raja mereka itu, dan bayi-bayi akan memerintah mereka itu. Maka orang banyak itu akan ditindas, masing-masing oleh yang lainnya, dan masing-masing oleh tetangganya : anak kecil akan membanggakan dirinya melawan tua-tua, dan yang terendah melawan yang terhormat.” (Yesaya 3 : 1 – 5). Yesus mengatakan : “Oleh sebab itu barangsiapa merendahkan dirinya seperti anak kecil, dialah kelak menjadi yang terbesar di dalam kerajaan surga. Dan barangsiapa kelak menerima anak kecil yang sedemikian ini dalam nama-Ku ia juga menerima Aku.” (Matius 18 : 4, 5). 

RINGKASAN SINGKAT DARI HAL BINATANG YANG MENYERUPAI MACAN TUTUL 

Telah dibuktikan sebelumnya, bahwa binatang yang menyerupai macan tutul itu, tujuh kepalanya dan sepuluh tanduknya adalah melambangkan suatu sistem yang bersifat universal. Empat binatang dari Daniel pasal 7, yaitu, singa, beruang, macan tutul, dan binatang yang tak tergambarkan telah ditunjukkan dalam khayal itu sebagai empat kerajaan dunia yang muncul satu menyusul yang lainnya. Dengan demikian, baik nubuatan maupun sejarah, membuktikan bahwa Babel, Medo-Persia, Yunani, dan Romawi telah datang yang satu menyusul yang lainnya. Empat mata rantai yang tak terpisahkan ini membuatnya menjadi tidak mungkin untuk memotong salah satunya dari empat binatang itu dengan suatu sistem yang universal. Oleh sebab itu binatang yang menyerupai macan tutul itu harus datang kemudian secara berurutan sesudah binatang yang keempat. Karena “sepuluh tanduk” dari binatang yang tak tergambarkan itu melambangkan “sepuluh orang raja” yang akan naik dari kerajaan Romawi, maka “mahkota-mahkota pada tanduk-tanduk” itu membuktikan, bahwa binatang yang menyerupai macan tutul itu melambangkan masa periode sesudah runtuhnya kerajaan Romawi, pada waktu mana “sepuluh orang raja” itu memperoleh kerajaan mereka. Karena ia juga “telah datang keluar dari Laut”, maka jelaslah bahwa ia pun akan diciptakan dari hasil peperangan. Demikianlah runtuhnya kerajaan Romawi telah melahirkan seekor binatang yang kelima. Mulutnya adalah mulut singa, kakinya kaki beruang, badannya berbadan seekor macan tutul, dan memiliki sepuluh tanduk, menunjukkan bahwa ia adalah suatu turunan dari Babel, Medo-Persia, Yunani, dan Romawi. 

Karena ia telah membuka mulutnya mengucapkan hujat selama empat puluh dua bulan lamanya, atau seribu dua ratus enam puluh tahun, maka tak dapat dibantah bahwa ia melambangkan periode masa kepausan semenjak dari tahun 538 TM sampai tahun 1798 TM -- yaitu waktu dimana kepala kepausan itu memperoleh lukanya yang membawa mati itu. Tetapi karena lukanya itu kelak akan sembuh kembali pada sesuatu waktu sesudah tahun 1798, maka jelaslah bahwa ia juga melambangkan sejarah dunia ini setelah tertawannya Paus Pius VI sampai kepada saat “lukanya yang parah itu sembuh kembali”; semua periode inilah yang telah melahirkan paham Katholikisme dan Protestantisme.

Adalah tidak bijaksana dan sia-sia saja merencanakan binatang nubuatan ini jika simbol-simbol itu gagal mengungkapkan paham Protestantisme seperti yang diungkapkannya mengenai paham Katholikisme. Sebelum masa seribu dua ratus enam puluh tahun itu berakhir dalam tahun 1798, empat organisasi gereja Protestan sudah berdiri; yaitu, gereja Lutheran, gereja Presbyterian, gereja Methodist, dan gereja Christian. Tetapi sesudah tahun 1798 datanglah lagi Firstday Adventist (Adventist Hari Pertama); dan Masehi Advent Hari Ketujuh semenjak dari tahun 1844 sampai tahun 1929 melengkapi tujuh kepalanya itu. Karena paham Protestantisme itu runtuh oleh pemberitaan dari Pekabaran Malaikat yang Kedua sesudah tahun 1844, dan karena simbol dari Wahyu pasal 13 dalam tahun 1930 mengungkapkan, bahwa orang-orang Masehi Advent Hari Ketujuh “heran terhadap binatang itu” (dunia), maka kedua peristiwa ini telah  menyembuhkan luka parah itu, lalu menarik selendang kata-kata hujat itu meliputi keseluruhan tujuh kepala itu. Dengan demikian, lengkapnya kegenapan dari nubuatan simbolis ini mengungkapkan kebenaran dari binatang itu. Karena semua sekte agama lainnya adalah hanya pasilan-pasilan (offshoots) yang memisahkan diri dari tujuh organisasi ini, maka kepala-kepala itu adalah meliputi seluruh dunia Kristen sampai pada tahun 1930. Karena nubuatan Firman Allah mengatakan, “Seluruh dunia heran terhadap binatang itu” (keduniawian), dan bukan heran kepada kepala itu (kepausan), maka ini menunjukkan bahwa mereka itu mengagumi dunia, dan bukan mengagumi paham Katholikisme. Keluar dari kemurtadan yang besar ini pekabaran Wahyu 7 : 1 – 8, akan memeteraikan dan menyelamatkan 144.000 orang-orang suci, dari gereja Masehi Advent Hari Ketujuh yang kelak tidak akan merasai kematian. Tetapi pekabaran yang dilambangkan oleh malaikat Wahyu pasal 18, yang dengan kemuliaannya bumi akan diterangi, pekabaran itu akan memanggil keluar dari dunia “rombongan besar orang-orang” dari Wahyu 7 : 9. 

Allah, Yang sangat teliti memperhatikan kebaikan sidang-Nya dalam mengungkapkan kebenaran-Nya kepada umat-Nya, telah memberikan kepada kita gambaran-gambaran peristiwa-peristiwa sejarah yang ajaib; yang merupakan bukti kasih sayang-Nya yang kekal bagi Israel pilihan-Nya -- yaitu buah-buah pertama dari hasil penuaian-Nya. Dengan demikian “Allah Yakub itu”, beribu-ribu tahun sebelumnya, telah menggariskan rencana-rencana-Nya untuk disampaikan kepada umat-Nya suatu tugas seni nubuatan dengan sentuhan Ilahi. 

* * *

Adalah tidak bijaksana dan sia-sia saja merencanakan binatang nubuatan ini jika simbol-simbol itu gagal mengungkapkan paham Protestantisme seperti yang diungkapkannya mengenai paham Katholikisme. Sebelum masa seribu dua ratus enam puluh tahun itu berakhir dalam tahun 1798, empat organisasi gereja Protestan sudah berdiri; yaitu, gereja Lutheran, gereja Presbyterian, gereja Methodist, dan gereja Christian. Tetapi sesudah tahun 1798 datanglah lagi Firstday Adventist (Adventist Hari Pertama); dan Masehi Advent Hari Ketujuh semenjak dari tahun 1844 sampai tahun 1929 melengkapi tujuh kepalanya itu. Karena paham Protestantisme itu runtuh oleh pemberitaan dari Pekabaran Malaikat yang Kedua sesudah tahun 1844, dan karena simbol dari Wahyu pasal 13 dalam tahun 1930 mengungkapkan, bahwa orang-orang Masehi Advent Hari Ketujuh “heran terhadap binatang itu” (dunia), maka kedua peristiwa ini telah  menyembuhkan luka parah itu, lalu menarik selendang kata-kata hujat itu meliputi keseluruhan tujuh kepala itu. Dengan demikian, lengkapnya kegenapan dari nubuatan simbolis ini mengungkapkan kebenaran dari binatang itu. Karena semua sekte agama lainnya adalah hanya pasilan-pasilan (offshoots) yang memisahkan diri dari tujuh organisasi ini, maka kepala-kepala itu adalah meliputi seluruh dunia Kristen sampai pada tahun 1930. Karena nubuatan Firman Allah mengatakan, “Seluruh dunia heran terhadap binatang itu” (keduniawian), dan bukan heran kepada kepala itu (kepausan), maka ini menunjukkan bahwa mereka itu mengagumi dunia, dan bukan mengagumi paham Katholikisme. Keluar dari kemurtadan yang besar ini pekabaran Wahyu 7 : 1 – 8, akan memeteraikan dan menyelamatkan 144.000 orang-orang suci, dari gereja Masehi Advent Hari Ketujuh yang kelak tidak akan merasai kematian. Tetapi pekabaran yang dilambangkan oleh malaikat Wahyu pasal 18, yang dengan kemuliaannya bumi akan diterangi, pekabaran itu akan memanggil keluar dari dunia “rombongan besar orang-orang” dari Wahyu 7 : 9. 

Allah, Yang sangat teliti memperhatikan kebaikan sidang-Nya dalam mengungkapkan kebenaran-Nya kepada umat-Nya, telah memberikan kepada kita gambaran-gambaran peristiwa-peristiwa sejarah yang ajaib; yang merupakan bukti kasih sayang-Nya yang kekal bagi Israel pilihan-Nya -- yaitu buah-buah pertama dari hasil penuaian-Nya. Dengan demikian “Allah Yakub itu”, beribu-ribu tahun sebelumnya, telah menggariskan rencana-rencana-Nya untuk disampaikan kepada umat-Nya suatu tugas seni nubuatan dengan sentuhan Ilahi. 

* * *

BINATANG YANG BERTANDUK DUA

Wahyu 13 : 11 – 18

Sementara Yohanes memandang kepada khayal itu dengan seksama, maka perhatiannya kemudian diarahkan kepada suatu objek menarik lainnya : “Dan aku tampak seekor binatang lain datang keluar dari bumi; dan ia memiliki dua tanduk seperti tanduk anak domba, lalu ia berbicara seperti seekor naga.” (Ayat 11). Tepat menjelang tahap kedua dan terakhir dari binatang yang tak tergambarkan itu telah berakhir, maka suatu penguasa bumi yang lain lagi akan naik ke atas pentas, sesuai dengan khayal itu. Adalah ajaib untuk dicatat betapa tepatnya simbol-simbol itu, bahkan sampai kepada masa dan urutannya yang tepat. Binatang yang memiliki tanduk-tanduk seperti tanduk anak domba itu (janji mengenai pertumbuhan) adalah suatu lambang yang tidak dapat dibantah dari sesuatu bangsa “yang bangkit secara perlahan-lahan bagaikan dari suatu rencana yang kecil sampai menjadi suatu kerajaan yang kuat.” “Seperti anak domba”, adalah gambaran dari pemerintahan itu yang sedang naik dalam tahun 1776 TM. (Lihat “The Great Controversy”, halaman 439 – 441).

Binatang ini telah diterima sebagai simbol dari Amerika Serikat. Oleh sebab itu, perhatian kami bukanlah untuk mengeluarkan fakta-fakta kenyataan yang berhubungan dengan aplikasinya. Tujuan kami adalah, seperti yang telah dikemukakan terdahulu, untuk menghubungkan secara singkat binatang yang satu dengan yang lainnya dengan cara melemparkan terang pada simbol-simbol yang belum dapat dimengerti. 

Dapatlah dicatat bahwa setiap binatang yang melambangkan sejarah Wasiat Baru memiliki sepuluh tanduk, terkecuali binatang yang satu ini. Kami ulangi, bahwa sepuluh tanduk itu berdiri sebagai lambang dari sistem-sistem pemerintahan universal. Kenyataan ini membuktikan, bahwa binatang yang bertanduk dua itu melambangkan sebuah pemerintahan setempat. Karena penguasa-penguasa sipil atau pemerintahan-pemerintahan dilambangkan oleh tanduk-tanduk, binatang yang satu ini memiliki dua buah tanduk, maka jelas bahwa bangsa yang dilambangkan oleh simbol ini, akan memiliki suatu bentuk pemerintahan rangkap dua. Sebagaimana Yohanes mengatakan, “Binatang itu berbicara seperti seekor naga”, maka ia itu jelas mengungkapkan bahwa ia akan menanggalkan undang-undang dasarnya, dan kemerdekaan karunia Allah dari para warganya akan kelak ditiadakan. Menurut ayat 12, penguasa ini akan kelak meniru binatang yang “mendahuluinya” (pemerintahan kepausan) : “Maka ia melakukan segala kuasa dari binatang yang pertama yang mendahuluinya, dan menyuruh bumi dan mereka yang tinggal di dalamnya untuk menyembah binatang yang pertama itu, yaitu dia yang luka parahnya itu telah sembuh.” Jika bangsa yang besar ini harus mengambil manfaat yang tidak sepatutnya dari pikiran para warganya melalui perundang-undangan, mengenai bagaimana mereka boleh beribadah, ataupun tidak boleh, maka itu kelak akan bertentangan terhadap ketentuan-ketentuan yang ada di dalam undang-undang dasarnya -- yaitu berbicara seperti seekor naga. Mengutip undang-undang dasar Amerika Serikat, amandemen yang pertama yang berkenaan dengan masalah-masalah agama, berbunyi : “Majelis Permusyawaratan Rakyat tidak diperkenankan membuat undang-undang apapun membenarkan sesuatu pendirian agama, atau melarang kebebasan orang melaksanakannya.” Jika negara ini kelak tidak lagi mengakui amandemen ini, maka ini kelak sepenuhnya menggenapi kegenapan dari ketentuan simbol itu.

BINATANG YANG BERTANDUK DUA

Wahyu 13 : 11 – 18

Sementara Yohanes memandang kepada khayal itu dengan seksama, maka perhatiannya kemudian diarahkan kepada suatu objek menarik lainnya : “Dan aku tampak seekor binatang lain datang keluar dari bumi; dan ia memiliki dua tanduk seperti tanduk anak domba, lalu ia berbicara seperti seekor naga.” (Ayat 11). Tepat menjelang tahap kedua dan terakhir dari binatang yang tak tergambarkan itu telah berakhir, maka suatu penguasa bumi yang lain lagi akan naik ke atas pentas, sesuai dengan khayal itu. Adalah ajaib untuk dicatat betapa tepatnya simbol-simbol itu, bahkan sampai kepada masa dan urutannya yang tepat. Binatang yang memiliki tanduk-tanduk seperti tanduk anak domba itu (janji mengenai pertumbuhan) adalah suatu lambang yang tidak dapat dibantah dari sesuatu bangsa “yang bangkit secara perlahan-lahan bagaikan dari suatu rencana yang kecil sampai menjadi suatu kerajaan yang kuat.” “Seperti anak domba”, adalah gambaran dari pemerintahan itu yang sedang naik dalam tahun 1776 TM. (Lihat “The Great Controversy”, halaman 439 – 441).

Binatang ini telah diterima sebagai simbol dari Amerika Serikat. Oleh sebab itu, perhatian kami bukanlah untuk mengeluarkan fakta-fakta kenyataan yang berhubungan dengan aplikasinya. Tujuan kami adalah, seperti yang telah dikemukakan terdahulu, untuk menghubungkan secara singkat binatang yang satu dengan yang lainnya dengan cara melemparkan terang pada simbol-simbol yang belum dapat dimengerti. 

Dapatlah dicatat bahwa setiap binatang yang melambangkan sejarah Wasiat Baru memiliki sepuluh tanduk, terkecuali binatang yang satu ini. Kami ulangi, bahwa sepuluh tanduk itu berdiri sebagai lambang dari sistem-sistem pemerintahan universal. Kenyataan ini membuktikan, bahwa binatang yang bertanduk dua itu melambangkan sebuah pemerintahan setempat. Karena penguasa-penguasa sipil atau pemerintahan-pemerintahan dilambangkan oleh tanduk-tanduk, binatang yang satu ini memiliki dua buah tanduk, maka jelas bahwa bangsa yang dilambangkan oleh simbol ini, akan memiliki suatu bentuk pemerintahan rangkap dua. Sebagaimana Yohanes mengatakan, “Binatang itu berbicara seperti seekor naga”, maka ia itu jelas mengungkapkan bahwa ia akan menanggalkan undang-undang dasarnya, dan kemerdekaan karunia Allah dari para warganya akan kelak ditiadakan. Menurut ayat 12, penguasa ini akan kelak meniru binatang yang “mendahuluinya” (pemerintahan kepausan) : “Maka ia melakukan segala kuasa dari binatang yang pertama yang mendahuluinya, dan menyuruh bumi dan mereka yang tinggal di dalamnya untuk menyembah binatang yang pertama itu, yaitu dia yang luka parahnya itu telah sembuh.” Jika bangsa yang besar ini harus mengambil manfaat yang tidak sepatutnya dari pikiran para warganya melalui perundang-undangan, mengenai bagaimana mereka boleh beribadah, ataupun tidak boleh, maka itu kelak akan bertentangan terhadap ketentuan-ketentuan yang ada di dalam undang-undang dasarnya -- yaitu berbicara seperti seekor naga. Mengutip undang-undang dasar Amerika Serikat, amandemen yang pertama yang berkenaan dengan masalah-masalah agama, berbunyi : “Majelis Permusyawaratan Rakyat tidak diperkenankan membuat undang-undang apapun membenarkan sesuatu pendirian agama, atau melarang kebebasan orang melaksanakannya.” Jika negara ini kelak tidak lagi mengakui amandemen ini, maka ini kelak sepenuhnya menggenapi kegenapan dari ketentuan simbol itu.

Ayat yang berikut mengungkapkan kenyataan, bahwa naga yang tua itu kelak akan melakukan kuasanya untuk menyesatkan sebanyak mungkin orang-orang : “Maka ia melakukan keajaiban-keajaiban besar, sehingga ia menurunkan api dari langit ke atas bumi di hadapan mata orang-orang. Dan ia menyesatkan mereka yang tinggal di atas bumi dengan keajaiban-keajaiban itu yang telah dikuasakan kepadanya untuk dilakukan di hadapan mata binatang itu; mengatakan kepada mereka yang tinggal di bumi, bahwa mereka harus membuatkan sebuah patung bagi binatang itu, yang telah terkena luka oleh sebuah pedang, tetapi telah hidup itu.” (Wahyu 13 : 13, 14). Demikianlah ia akan melakukan berbagai kekuasaan aniaya maupun berbagai perbuatan keajaiban. 

Karena Firman mengungkapkan penipuan yang besar ini, maka orang akan berpikir bahwa dunia pasti akan membuka matanya dan menolak untuk dipikat oleh keajaiban-keajaiban Iblis yang sedemikian ini. Namun Iblis tahu, bahwa orang banyak itu tidak menghiraukan Firman Allah, dan bahwa perasaan-perasaan mereka itu akan mudah digerakkan oleh hal-hal gaib yang mengherankan serta oleh fasih lidah manusia. Oleh sebab itu, ia akan menyempurnakan berbagai ikhtiarnya sehingga banyak orang akan jatuh ke dalamnya walaupun telah diberikan amaran-amaran. Pikiran manusia tidak dapat memahami akan kuasa yang misterius dan yang tak dapat dielakkan itu yang segera akan menyebarkan bayangannya yang menakutkan itu atas semua penduduk bumi. Tidak ada satupun mahluk fana dapat tahan berdiri melawan bentuk organisasi agama dan sipil yang gaib itu. Mereka yang adalah siswa-siswa dari Firman, yang sedang berharap pada Allah tanpa syarat, lalu dengan demikian itu dipenuhi dengan Roh Suci, merekalah yang akan luput dari jerat yang mengerikan itu. 

“Hanya orang-orang yang lebih menghendaki mati daripada melakukan sesuatu tindakan salah yang kelak akan didapati setia.” – “Testimonies for the Church”, Jilid 5, halaman 53. Satu-satunya jaminan mereka itu ialah, “demikianlah firman Tuhan”. Mereka harus memandang kepada Allah sebagai satu-satunya pelepas mereka, seperti yang diperbuat oleh ketiga pemuda Ibrani di Babilon kuno yang lalu, dan seperti halnya Daniel di dalam lubang singa. Apapun mungkin akibatnya, umat Allah dapat memperoleh perlindungan hanya oleh berdiri seperti Sadrakh, Messakh dan Abednego, seperti sewaktu mereka memberi jawaban kepada raja : “Ya, raja Nebukadnezar, tidak ada gunanya kami memberi jawaban kepada tuanku dalam hal ini. Jikalau sudah pasti perkara itu atas kami, maka Allah kami yang kepada-Nya kami beribadah itu juga berkuasa untuk melepaskan kami dari dalam dapur api yang bernyala-nyala, dan Ia akan melepaskan kami dari tangan tuanku raja. Tetapi jikalau tidak, maka kiranya diketahui oleh tuanku raja, bahwa sekali-kali tiada kami akan menyembah sujud kepada patung keemasan yang telah tuanku dirikan itu.” (Daniel 3 : 16 - 18). 

Umat Allah, bersama-sama dengan Daniel, akan mampu untuk mengatakan pada masa kelepasan mereka : “Allahku telah mengutus malaikat-Nya, dan telah mengatup semua mulut singa-singa itu, sehingga mereka tidak melukai aku, sebab telah didapati akan daku tiada bersalah di hadapan-Nya; dan lagi akan tuanku tiada aku berbuat barang sesuatu yang salah.” (Daniel 6 : 22). Dalam masa cobaan yang sedemikian ini jelaslah terlihat kelak siapa yang berbakti kepada Allah dan siapa yang tidak berbakti kepada-Nya. Masa kesusahan itu akan membagi penduduk bumi ke dalam dua kelas yang terpisah dan menyolok, bagaikan domba-domba dan kambing-kambing.

Ayat yang berikut mengungkapkan kenyataan, bahwa naga yang tua itu kelak akan melakukan kuasanya untuk menyesatkan sebanyak mungkin orang-orang : “Maka ia melakukan keajaiban-keajaiban besar, sehingga ia menurunkan api dari langit ke atas bumi di hadapan mata orang-orang. Dan ia menyesatkan mereka yang tinggal di atas bumi dengan keajaiban-keajaiban itu yang telah dikuasakan kepadanya untuk dilakukan di hadapan mata binatang itu; mengatakan kepada mereka yang tinggal di bumi, bahwa mereka harus membuatkan sebuah patung bagi binatang itu, yang telah terkena luka oleh sebuah pedang, tetapi telah hidup itu.” (Wahyu 13 : 13, 14). Demikianlah ia akan melakukan berbagai kekuasaan aniaya maupun berbagai perbuatan keajaiban. 

Karena Firman mengungkapkan penipuan yang besar ini, maka orang akan berpikir bahwa dunia pasti akan membuka matanya dan menolak untuk dipikat oleh keajaiban-keajaiban Iblis yang sedemikian ini. Namun Iblis tahu, bahwa orang banyak itu tidak menghiraukan Firman Allah, dan bahwa perasaan-perasaan mereka itu akan mudah digerakkan oleh hal-hal gaib yang mengherankan serta oleh fasih lidah manusia. Oleh sebab itu, ia akan menyempurnakan berbagai ikhtiarnya sehingga banyak orang akan jatuh ke dalamnya walaupun telah diberikan amaran-amaran. Pikiran manusia tidak dapat memahami akan kuasa yang misterius dan yang tak dapat dielakkan itu yang segera akan menyebarkan bayangannya yang menakutkan itu atas semua penduduk bumi. Tidak ada satupun mahluk fana dapat tahan berdiri melawan bentuk organisasi agama dan sipil yang gaib itu. Mereka yang adalah siswa-siswa dari Firman, yang sedang berharap pada Allah tanpa syarat, lalu dengan demikian itu dipenuhi dengan Roh Suci, merekalah yang akan luput dari jerat yang mengerikan itu. 

“Hanya orang-orang yang lebih menghendaki mati daripada melakukan sesuatu tindakan salah yang kelak akan didapati setia.” – “Testimonies for the Church”, Jilid 5, halaman 53. Satu-satunya jaminan mereka itu ialah, “demikianlah firman Tuhan”. Mereka harus memandang kepada Allah sebagai satu-satunya pelepas mereka, seperti yang diperbuat oleh ketiga pemuda Ibrani di Babilon kuno yang lalu, dan seperti halnya Daniel di dalam lubang singa. Apapun mungkin akibatnya, umat Allah dapat memperoleh perlindungan hanya oleh berdiri seperti Sadrakh, Messakh dan Abednego, seperti sewaktu mereka memberi jawaban kepada raja : “Ya, raja Nebukadnezar, tidak ada gunanya kami memberi jawaban kepada tuanku dalam hal ini. Jikalau sudah pasti perkara itu atas kami, maka Allah kami yang kepada-Nya kami beribadah itu juga berkuasa untuk melepaskan kami dari dalam dapur api yang bernyala-nyala, dan Ia akan melepaskan kami dari tangan tuanku raja. Tetapi jikalau tidak, maka kiranya diketahui oleh tuanku raja, bahwa sekali-kali tiada kami akan menyembah sujud kepada patung keemasan yang telah tuanku dirikan itu.” (Daniel 3 : 16 - 18). 

Umat Allah, bersama-sama dengan Daniel, akan mampu untuk mengatakan pada masa kelepasan mereka : “Allahku telah mengutus malaikat-Nya, dan telah mengatup semua mulut singa-singa itu, sehingga mereka tidak melukai aku, sebab telah didapati akan daku tiada bersalah di hadapan-Nya; dan lagi akan tuanku tiada aku berbuat barang sesuatu yang salah.” (Daniel 6 : 22). Dalam masa cobaan yang sedemikian ini jelaslah terlihat kelak siapa yang berbakti kepada Allah dan siapa yang tidak berbakti kepada-Nya. Masa kesusahan itu akan membagi penduduk bumi ke dalam dua kelas yang terpisah dan menyolok, bagaikan domba-domba dan kambing-kambing.

“Maka ia pun diberi kuasa untuk memberikan napas hidup kepada patung binatang itu, supaya patung binatang itu berkata-kata, dan membuat seberapa banyak orang yang tiada menyembah patung binatang itu harus dibunuh. Dan ia membuat sekalian orang, kecil dan besar, kaya dan miskin, merdeka dan hamba, supaya semuanya itu menerima suatu tanda dalam tangan kanan mereka, atau dalam dahi mereka : dan supaya tidak seorangpun dapat menjual ataupun membeli, terkecuali orang yang memiliki tanda itu, atau nama dari binatang itu, atau angka bilangan dari namanya.” (Wahyu 13 : 15 – 17). 

Keputusan yang drastis dari binatang yang bertanduk dua ini akan dipakai oleh bangsa-bangsa di dunia, dan patung dari binatang itu, yang akan menuntut kepatuhan kepada suatu bentuk peribadatan agama, yang akan didirikan secara internasional. Tanda dari binatang itu ialah pemeliharaan Hari Minggu. Dengan dalih apapun juga, mereka yang lalai dan acuh tak acuh akan menyembah patung binatang itu dan menerima tanda itu. Hanya orang-orang yang telah memperkuat diri mereka dengan iman dalam Allah, dalam pengetahuan akan Firman-Nya, dan mematuhi ketentuan-ketentuan Ilahi melalui penyucian hati oleh kuasa Roh Suci, yang akan mampu melepaskan diri dari tangkapan Iblis. Apabila umat Allah dilarang berjual beli, maka satu-satunya sumber ketergantungan mereka kelak melalui takdir Ilahi.  Satu dan lain cara, untuk jangka waktu yang singkat itu, Allah akan menjamin dan memperhatikan umat-Nya. Tetapi ia itu mungkin sekali sama keadaannya selama perjalanan di padang belantara. 

“Masa itu tidak jauh lagi, apabila, seperti halnya para rasul di masa lalu, kita akan dipaksa untuk mencari tempat berlindung di tempat-tempat sepi dan terpencil. Sebagaimana pengepungan Yerusalem oleh tentara Romawi telah merupakan pertanda untuk melarikan diri bagi orang-orang Kristen Yahudi, maka demikian pula apabila bangsa kita (bangsa Amerika) memegang kuasa, mengeluarkan keputusan memaksakan pemeliharan Sabat kepausan itu, maka ia itu kelak merupakan suatu amaran bagi kita. Pada waktu itulah masanya untuk meninggalkan kota-kota besar, persiapan untuk meninggalkan kota-kota kecil untuk tinggal di tempat-tempat terpencil sebagai rumah-rumah istirahat di antara gunung-gunung.” -- “Testimonies for the Church”, Jilid 5, halaman 464, 465. Ayat 18 dari Wahyu 13 akan dijelaskan pada penyelidikan yang lain. 

* * *

BINATANG MERAH KIRMIZI

Wahyu 17 

“Demikianlah ia menghantarkan daku dalam roh ke dalam padang belantara : maka aku tampak seorang perempuan duduk di atas seekor binatang yang merah kirmizi warnanya, yang penuh dengan nama-nama hujat, memiliki tujuh kepala dan sepuluh tanduk.” (Ayat 3). Binatang yang istimewa ini tidak mungkin melambangkan Romawi seperti disangka sebagian orang. Alasan yang pertama ialah, bahwa binatang yang tak tergambarkan dari Daniel pasal 7 itu, seperti yang dijelaskan terdahulu, adalah lambang dari Romawi, dan telah terlihat keluar dari laut; tetapi binatang yang merah kirmizi oleh Yohanes dikatakan, berada di padang belantara. Oleh sebab itu, kekuatan-kekuatan yang telah menghantarkan binatang merah kirmizi itu ke atas pentas adalah bertentangan dengan apa yang telah ditimbulkan oleh binatang yang tak tergambarkan itu. 

Alasan yang kedua ialah, sementara malaikat itu sedang akan memperlihatkan khayal itu kepada Yohanes, maka katanya kepadanya, “Marilah ke sini; aku hendak menunjukkan kepadamu pehukuman dari sundal besar itu yang duduk di atas banyak air”. (Ayat 1). Kemudian Yohanes dibawa ke dalam padang belantara dan di sanalah ia menyaksikan perempuan itu mengendarai binatang itu. Mengapa khayal ini diberikan ialah untuk menunjukkan kepadanya pehukuman dari perempuan itu. Tetapi ia tidak diadili di zaman Romawi; pehukumannya masih akan jadi di masa depan, dan akan dilaksanakan di bawah malaikat “Seruan Keras” dari Wahyu pasal 18. (Lihat ayat 8, 10). Mengendarai binatang itu ialah tindakannya yang terakhir; oleh sebab itu, binatang itu harus melambangkan masa periode dimana ia akan diadili. Masih ada lagi alasan yang ketiga mengapa binatang itu tidak mungkin merupakan lambang dari Romawi. Buku Daniel, dan buku Wahyu khusus telah ditulis bagi generasi yang hidup di akhir zaman, dan bukan sedemikian itu bagi dunia Romawi. (Lihat Daniel 12 : 4). Mereka sama sekali tidak mengerti akan tulisan-tulisan itu yang berhubungan dengan akhir zaman, dan demikianlah mereka tidak memperoleh manfaat apapun dari tulisan-tulisan itu. Oleh sebab itu, tidaklah sepantasnya dan tidak bijaksana jika Allah mengaplikasikan semua binatang itu hanya kepada Romawi, dan membiarkan masa periode yang dimaksudkan oleh buku-buku ini tanpa diberi lambang apapun. 

Kami yakin bahwa harus masih lebih banyak lagi simbol pemberitahuan yang lengkap bagi generasi sekarang ini daripada bagi setiap generasi sebelumnya. Jadi, adalah sangat tidak konsisten dan tidak masuk akal orang-orang yang mengaplikasikan “binatang yang menyerupai macan tutul” dari Wahyu 13, dan “binatang merah kirmizi” dari Wahyu 17, ditambah “binatang yang tak tergambarkan” dari Daniel 7, sebagai lambang-lambang dari Romawi. Mengapa begitu banyak lambang bagi Romawi dan tak ada satupun lambang bagi masa periode untuk mana buku-buku itu telah ditulis? Lagi pula, tidak terdapat satu fakta apapun yang menunjang pernyataan-pernyataan yang sedemikian itu. Kesalahan yang terbesar terhadap penentuan-penentuan sedemikian ini ialah karena mereka menarik pelajaran yang sama dari binatang yang satu seperti juga yang mereka lakukan terhadap binatang yang lainnya. Jika tidak

ada pelajaran khusus mengenai masing-masing simbol itu, maka mengapakah simbol-simbol itu diberikan? Dengan mengaplikasikan kepala-kepala, seperti yang mereka lakukan dengan tanduk-tanduk itu, kepada lambang-lambang dari pemerintahan-pemerintahan sipil, ini menunjukkan bahwa mereka tidak memperoleh terang apapun dari Allah yang besar dan maha tahu. Jika setiap kata itu berarti pemerintah, mengapakah Ilham menggunakan kedua-duanya tanduk-tanduk dan kepala-kepala?

Perhatikanlah betapa janggalnya jika mengaplikasikan perempuan yang menunggangi binatang itu, atau yang duduk di atas kepala-kepala itu kepada paham Katholikisme di dalam sejarah Wasiat Baru, dan kepala-kepala itu kepada tujuh bentuk pemerintahan yang saling menyusul di dalam masa periode Wasiat Lama. Malaikat itu mengatakan : “Tujuh kepala itu adalah tujuh buah gunung, pada mana perempuan itu duduk”. (Ayat 9). Jika gereja kepausan itu berdiri dalam tahun 508 TM, maka bagaimanakah perempuan itu dapat “duduk” pada setiap pemerintahan berabad-abad sebelumnya? Lagi pula, jika kepala-kepala itu yang satu menggantikan yang lainnya, maka dimanakah buktinya? Bukankah semuanya itu ada bersama-sama pada binatang itu lalu perempuan itu duduk di atas sekaliannya? Karena binatang merah kirmizi itu oleh sepuluh tanduk dan tujuh kepalanya itu membuktikan keseluruhan yang universal, maka urut-urutan mata rantai binatang-binatang itu (singa, beruang, macan tutul berkepala empat, binatang yang tak tergambarkan, dan binatang yang menyerupai macan tutul) tidak lagi memungkinkan bagi sesuatu binatang universal lain untuk ditempatkan memotong rangkaian lima mata rantai yang erat berkaitan itu. Perbuatan yang sedemikian ini akan merupakan suatu usaha untuk meruntuhkan nubuatan, dan sejarah. Oleh sebab itu, satu-satunya masa periode yang mungkin dapat dilambangkan olehnya ialah periode sesudah “luka parah” dari binatang yang menyerupai macan tutul itu sembuh kembali -- menjadi binatang universal yang keenam.

Karena “binatang merah kirmizi” itu adalah yang terakhir dalam urutan binatang-binatang simbolis, maka ia harus memiliki semua ciri dari leluhur-leluhurnya. Sepuluh tanduk dari binatang yang tak tergambarkan, tujuh kepala dari binatang yang menyerupai macan tutul, dan kepala-kepalanya sendiri yang tidak terganggu itu, menunjukkan bahwa ia datang ke atas pentas sesudah luka parah itu sembuh kembali. Warna kirmizinya itu menunjukkan kutuk, sama seperti yang ditunjukkan pada ular naga (Iblis), di dalam Wahyu 12 : 3, dan kata-kata, “masuk ke dalam kebinasaan”, (Wahyu 17 : 11), mengungkapkan bahwa ia akan membawa dunia ini kepada ajalnya oleh suatu kutuk yang akan berakhir dalam “kehancuran seluruhnya; kebinasaan sempurna, kesengsaraan yang akan datang atau kematian kekal.” -- “Standard Dictionary.”

Oleh sebab itu, jika binatang ini melambangkan dunia kita pada sekarang ini, maka bukankah Allah itu bodoh adanya jika lalai meramalkan sekian banyaknya sekte agama yang ada, berikut kekacauan besar di antara dunia Kristen, jika simbol-simbol dari binatang ini gagal mengungkapkan keadaan gereja-gereja yang sebenarnya? Sebagaimana binatang yang tak tergambarkan itu menceritakan dari hal kejatuhan sidang di dalam masa periode yang dilambangkannya, maka demikian itu juga seharusnya dilakukan oleh binatang merah kirmizi. Sesungguhnya, inilah alasan utama mengapa binatang-binatang nubuatan ini telah diperlihatkan.

Binatang merah kirmizi ialah binatang simbolis yang terakhir dalam rantai peristiwa-peristiwa sejarah yang terus menerus. Binatang ini tidak naik dari laut seperti halnya binatang-binatang yang mendahuluinya, melainkan ia terlihat di padang belantara. Oleh sebab itu, binatang merah kirmizi ini adalah diciptakan oleh suatu kejadian

ada pelajaran khusus mengenai masing-masing simbol itu, maka mengapakah simbol-simbol itu diberikan? Dengan mengaplikasikan kepala-kepala, seperti yang mereka lakukan dengan tanduk-tanduk itu, kepada lambang-lambang dari pemerintahan-pemerintahan sipil, ini menunjukkan bahwa mereka tidak memperoleh terang apapun dari Allah yang besar dan maha tahu. Jika setiap kata itu berarti pemerintah, mengapakah Ilham menggunakan kedua-duanya tanduk-tanduk dan kepala-kepala?

Perhatikanlah betapa janggalnya jika mengaplikasikan perempuan yang menunggangi binatang itu, atau yang duduk di atas kepala-kepala itu kepada paham Katholikisme di dalam sejarah Wasiat Baru, dan kepala-kepala itu kepada tujuh bentuk pemerintahan yang saling menyusul di dalam masa periode Wasiat Lama. Malaikat itu mengatakan : “Tujuh kepala itu adalah tujuh buah gunung, pada mana perempuan itu duduk”. (Ayat 9). Jika gereja kepausan itu berdiri dalam tahun 508 TM, maka bagaimanakah perempuan itu dapat “duduk” pada setiap pemerintahan berabad-abad sebelumnya? Lagi pula, jika kepala-kepala itu yang satu menggantikan yang lainnya, maka dimanakah buktinya? Bukankah semuanya itu ada bersama-sama pada binatang itu lalu perempuan itu duduk di atas sekaliannya? Karena binatang merah kirmizi itu oleh sepuluh tanduk dan tujuh kepalanya itu membuktikan keseluruhan yang universal, maka urut-urutan mata rantai binatang-binatang itu (singa, beruang, macan tutul berkepala empat, binatang yang tak tergambarkan, dan binatang yang menyerupai macan tutul) tidak lagi memungkinkan bagi sesuatu binatang universal lain untuk ditempatkan memotong rangkaian lima mata rantai yang erat berkaitan itu. Perbuatan yang sedemikian ini akan merupakan suatu usaha untuk meruntuhkan nubuatan, dan sejarah. Oleh sebab itu, satu-satunya masa periode yang mungkin dapat dilambangkan olehnya ialah periode sesudah “luka parah” dari binatang yang menyerupai macan tutul itu sembuh kembali -- menjadi binatang universal yang keenam.

Karena “binatang merah kirmizi” itu adalah yang terakhir dalam urutan binatang-binatang simbolis, maka ia harus memiliki semua ciri dari leluhur-leluhurnya. Sepuluh tanduk dari binatang yang tak tergambarkan, tujuh kepala dari binatang yang menyerupai macan tutul, dan kepala-kepalanya sendiri yang tidak terganggu itu, menunjukkan bahwa ia datang ke atas pentas sesudah luka parah itu sembuh kembali. Warna kirmizinya itu menunjukkan kutuk, sama seperti yang ditunjukkan pada ular naga (Iblis), di dalam Wahyu 12 : 3, dan kata-kata, “masuk ke dalam kebinasaan”, (Wahyu 17 : 11), mengungkapkan bahwa ia akan membawa dunia ini kepada ajalnya oleh suatu kutuk yang akan berakhir dalam “kehancuran seluruhnya; kebinasaan sempurna, kesengsaraan yang akan datang atau kematian kekal.” -- “Standard Dictionary.”

Oleh sebab itu, jika binatang ini melambangkan dunia kita pada sekarang ini, maka bukankah Allah itu bodoh adanya jika lalai meramalkan sekian banyaknya sekte agama yang ada, berikut kekacauan besar di antara dunia Kristen, jika simbol-simbol dari binatang ini gagal mengungkapkan keadaan gereja-gereja yang sebenarnya? Sebagaimana binatang yang tak tergambarkan itu menceritakan dari hal kejatuhan sidang di dalam masa periode yang dilambangkannya, maka demikian itu juga seharusnya dilakukan oleh binatang merah kirmizi. Sesungguhnya, inilah alasan utama mengapa binatang-binatang nubuatan ini telah diperlihatkan.

Binatang merah kirmizi ialah binatang simbolis yang terakhir dalam rantai peristiwa-peristiwa sejarah yang terus menerus. Binatang ini tidak naik dari laut seperti halnya binatang-binatang yang mendahuluinya, melainkan ia terlihat di padang belantara. Oleh sebab itu, binatang merah kirmizi ini adalah diciptakan oleh suatu kejadian

sejarah yang tidak sama dengan binatang-binatang yang mendahuluinya. Simbol itu menunjukkan, bahwa bukanlah perjuangan dan peperangan di antara bangsa-bangsa yang telah menghantarkan binatang ini ke atas pentas, melainkan sebaliknya suatu prinsip yang bertentangan dengan simbol itu -- yaitu lautan yang bergelora. 

Ia memiliki sepuluh tanduk dan tujuh kepala, sama seperti binatang yang menyerupai macan tutul dari Wahyu 13 : 1 – 3. Satu-satunya perbedaan di antara kepala-kepala dari kedua binatang itu ialah luka parah yang terdapat pada binatang yang menyerupai macan tutul. Karena “lukanya telah sembuh”, maka jelaslah bahwa “binatang merah kirmizi” itu adalah kelanjutan dari “binatang yang menyerupai macan tutul”. Yohanes mengatakan : “Maka luka parahnya itu telah sembuh”.

Demikianlah binatang merah kirmizi itu memiliki tujuh kepala yang tidak terganggu. Tujuh kepala itu melambangkan dunia Kristen, sama seperti yang dilambangkannya pada binatang yang menyerupai macan tutul, tetapi ini terdapat dalam lambang binatang merah kirmizi, sehingga semuanya itu disebut Babilon. Karena ia adalah penuh dengan nama-nama dan hujat, maka ini membuktikan kenyataan bahwa ia melambangkan suatu masa periode yang sangat berdosa. “Penuh dengan nama-nama”, mengandung arti suatu masa periode dari apa yang disebut sekte-sekte Kristen yang sekian banyaknya; “dan hujat”, karena menolak kebenaran sekarang, (menolak untuk diperbaiki) tetapi berani menyebut dirinya sendiri dengan nama Kristus (orang-orang Kristen).

“Sepuluh” tanduk itu menunjukkan yang sama seperti yang terdapat pada binatang-binatang yang mendahuluinya, yang berarti suatu bentuk universal. Jika kepala-kepala dari binatang yang menyerupai macan tutul itu melambangkan organisasi-organisasi gereja, kemudian (binatang yang merah kirmizi) itu akan meliputi seluruh peradaban sekarang, baik sipil maupun agama (tanduk-tanduk dan kepala-kepala). Perhatikan bahwa naga dari Wahyu 12 : 3 itu memiliki mahkota-mahkota pada kepala-kepalanya, bukan pada tanduk-tanduknya. Telah dijelaskan sebelumnya, bahwa bilamana mahkota-mahkota muncul pada kepala-kepala, maka itu menunjukkan suatu sistem agama politik. Tetapi jika mahkota-mahkota itu muncul pada tanduk-tanduk, ini mengungkapkan bahwa negara adalah terlepas dari gereja.

Dapatlah dicatat bahwa binatang merah kirmizi itu tidak bermahkota, sama seperti binatang yang tak tergambarkan dari Daniel 7 : 7, 8. Sepuluh tanduk itu dalam tahap permulaan dari binatang yang tak tergambarkan, melambangkan kekaizaran Romawi. Tanduk- tanduk itu tidak bermahkota, sebab mereka belum menerima kerajaannya. Tetapi dalam tahap keduanya (sesudah runtuhnya kekaizaran Romawi) sesungguhnya mereka sudah harus dimahkotai; “tanduk kecil” yang memiliki “mata manusia dan sebuah mulut yang membicarakan perkara-perkara besar” (suatu kombinasi antara tanduk dan kepala —  gabungan gereja dan negara — yaitu kepausan) karena berkuasa penuh, tanduk-tanduk itu tidak dapat memiliki mahkota-mahkotanya, menunjukkan bahwa kepausan memerintah atas seluruh raja-raja. Binatang merah kirmizi itu juga dikuasai oleh perempuan yang menungganginya (gereja dan negara). Demikianlah ditunjukkan, bahwa perempuan itu berkuasa, atau mahkota, karena ialah yang memerintah binatang itu. Inilah salah satu alasan mengapa mahkota-mahkota itu tidak terdapat pada binatang ini. Yang terakhir ialah gambaran dari yang pertama, membuktikan kenyataan bahwa binatang merah kirmizi itu melambangkan periode “patung dari binatang itu, yang menggenapi Wahyu 13 : 12, 15 : “Maka ia melakukan segala kuasa dari binatang yang pertama yang mendahuluinya, dan menyebabkan

bumi berikut semua yang mendiaminya untuk menyembah binatang yang pertama, yaitu yang luka  parahnya telah sembuh kembali. Dan ia memiliki kuasa untuk memberi napas hidup kepada patung binatang itu, supaya patung binatang itu berkata-kata dan membuat sebanyak-banyaknya orang yang tidak mau menyembah patung binatang itu supaya dibunuh.” Perbedaan di antara dua sistem yang drastis itu diungkapkan oleh dua simbol (tanduk-kepala pada binatang yang satu, dan perempuan yang menunggangi pada binatang yang lainnya). 

Binatang tak tergambarkan itu memiliki hanya satu “tanduk kepala” -- suatu lambang dari sebuah bentuk agama monosekte oleh penggabungan antara kekuasaan sipil dengan peraturan-peraturan agama. Tetapi binatang merah kirmizi itu memiliki tujuh kepala, yang menunjukkan suatu kombinasi multi sekte yang berada di bawah sebuah kekuasaan hukum agama politik yang berkuasa penuh (perempuan itu). Ia melambangkan dunia kita pada akhirnya, berikut kekuasaannya yang berdaulat penuh dan ajaran agama teoritisnya di bawah pemerintahan dari “perempuan” itu. 

Periode yang dilambangkan oleh binatang merah kirmizi itu dimulai dalam tahun 1929, pada saat mana luka parah itu sembuh kembali. Tetapi pekerjaannya belum sepenuhnya berkembang sampai “perempuan itu” kelak menungganginya. 

Permulaan dari tindakan itu akan kelak dapat ditandai apabila ramalan yang berikut ini sepenuhnya menjadi kenyataan : “Apabila Protestantisme kelak merentangkan tangannya melewati selat untuk menangkap tangannya penguasa Romawi, apabila ia kelak berusaha sampai melewati jurang untuk bergandengan tangan dengan Spiritualisme, apabila di bawah pengaruh dari kesatuan tiga rangkap ini negara kita (Amerika Serikat) kelak membatalkan setiap prinsip dari undang-undang dasarnya sebagai sebuah pemerintahan Protestan dan pemerintahan Republik, lalu kelak bersiap-siap menyebarkan berbagai kepalsuan dan tipu daya dari Kepausan, kemudian dapatlah kita ketahui bahwa masanya telah sampai bagi pekerjaan Setan yang menakjubkan, dan bahwa akhirat sudah dekat.” -- “Testimonies for the Church”, Jilid 5, halaman 451.

Wahyu 17 : 8, “Adapun binatang yang engkau tampak itu dahulu ada, sekarang tidak ada; dan mereka yang diam di bumi akan heran, yaitu mereka yang nama-namanya tidak tertulis di dalam kitab kehidupan semenjak dari kejadian dunia, apabila mereka memandang binatang itu yang dahulu ada, dan sekarang tidak ada, dan yang akan datang.” Kata malaikat itu, “Binatang yang kau tampak itu” (binatang merah kirmizi) “dahulu ada dan sekarang tidak ada”. Sebagaimana yang dijelaskan terdahulu, binatang itu pertama muncul ke atas pentas sejarah dalam tahun 1929. Oleh sebab itu, kata-kata “dahulu ada”, itu melambangkan masa periode semenjak dari tahun yang dinyatakan di atas sampai kepada masa apabila ia kelak, “tidak ada”.

Masa periode yang dilambangkan oleh kata “tidak ada”, itu ialah seribu tahun Setan dirantai -- yaitu millenium : “Maka ia pun memegang naga itu, yaitu ular tua itu, yaitu Iblis, dan Setan, lalu merantaikan dia seribu tahun lamanya, dan mencampakkan dia ke dalam lubang  yang tak terduga dalamnya, lalu menutup lubang itu, dan membubuhi meterai di atasnya, supaya ia tidak menyesatkan segala bangsa lagi, sampai genap seribu

bumi berikut semua yang mendiaminya untuk menyembah binatang yang pertama, yaitu yang luka  parahnya telah sembuh kembali. Dan ia memiliki kuasa untuk memberi napas hidup kepada patung binatang itu, supaya patung binatang itu berkata-kata dan membuat sebanyak-banyaknya orang yang tidak mau menyembah patung binatang itu supaya dibunuh.” Perbedaan di antara dua sistem yang drastis itu diungkapkan oleh dua simbol (tanduk-kepala pada binatang yang satu, dan perempuan yang menunggangi pada binatang yang lainnya). 

Binatang tak tergambarkan itu memiliki hanya satu “tanduk kepala” -- suatu lambang dari sebuah bentuk agama monosekte oleh penggabungan antara kekuasaan sipil dengan peraturan-peraturan agama. Tetapi binatang merah kirmizi itu memiliki tujuh kepala, yang menunjukkan suatu kombinasi multi sekte yang berada di bawah sebuah kekuasaan hukum agama politik yang berkuasa penuh (perempuan itu). Ia melambangkan dunia kita pada akhirnya, berikut kekuasaannya yang berdaulat penuh dan ajaran agama teoritisnya di bawah pemerintahan dari “perempuan” itu. 

Periode yang dilambangkan oleh binatang merah kirmizi itu dimulai dalam tahun 1929, pada saat mana luka parah itu sembuh kembali. Tetapi pekerjaannya belum sepenuhnya berkembang sampai “perempuan itu” kelak menungganginya. 

Permulaan dari tindakan itu akan kelak dapat ditandai apabila ramalan yang berikut ini sepenuhnya menjadi kenyataan : “Apabila Protestantisme kelak merentangkan tangannya melewati selat untuk menangkap tangannya penguasa Romawi, apabila ia kelak berusaha sampai melewati jurang untuk bergandengan tangan dengan Spiritualisme, apabila di bawah pengaruh dari kesatuan tiga rangkap ini negara kita (Amerika Serikat) kelak membatalkan setiap prinsip dari undang-undang dasarnya sebagai sebuah pemerintahan Protestan dan pemerintahan Republik, lalu kelak bersiap-siap menyebarkan berbagai kepalsuan dan tipu daya dari Kepausan, kemudian dapatlah kita ketahui bahwa masanya telah sampai bagi pekerjaan Setan yang menakjubkan, dan bahwa akhirat sudah dekat.” -- “Testimonies for the Church”, Jilid 5, halaman 451.

Wahyu 17 : 8, “Adapun binatang yang engkau tampak itu dahulu ada, sekarang tidak ada; dan mereka yang diam di bumi akan heran, yaitu mereka yang nama-namanya tidak tertulis di dalam kitab kehidupan semenjak dari kejadian dunia, apabila mereka memandang binatang itu yang dahulu ada, dan sekarang tidak ada, dan yang akan datang.” Kata malaikat itu, “Binatang yang kau tampak itu” (binatang merah kirmizi) “dahulu ada dan sekarang tidak ada”. Sebagaimana yang dijelaskan terdahulu, binatang itu pertama muncul ke atas pentas sejarah dalam tahun 1929. Oleh sebab itu, kata-kata “dahulu ada”, itu melambangkan masa periode semenjak dari tahun yang dinyatakan di atas sampai kepada masa apabila ia kelak, “tidak ada”.

Masa periode yang dilambangkan oleh kata “tidak ada”, itu ialah seribu tahun Setan dirantai -- yaitu millenium : “Maka ia pun memegang naga itu, yaitu ular tua itu, yaitu Iblis, dan Setan, lalu merantaikan dia seribu tahun lamanya, dan mencampakkan dia ke dalam lubang  yang tak terduga dalamnya, lalu menutup lubang itu, dan membubuhi meterai di atasnya, supaya ia tidak menyesatkan segala bangsa lagi, sampai genap seribu

tahun itu : dan kemudian daripada itu ia harus dilepaskan sedikit masa lamanya.” (Wahyu 20 : 2, 3). 

Masa periode ini dimulai dengan saat kedatangan Kristus dan berakhirnya dunia yang sekarang ini. Pada waktu itu Injil dari Wahyu 20 : 6, akan digenapi : “Berbahagialah dan kuduslah orang yang memperoleh bagian dalam kebangkitan yang pertama : maka mati yang kedua tidak berkuasa atas mereka itu, melainkan mereka akan menjadi imam-imam Allah dan Kristus, dan mereka akan memerintah bersama dengan Dia seribu tahun lamanya.” Setelah orang-orang mati yang benar dibangkitkan dan bergabung dengan orang-orang hidup, maka nubuatan Yeremia kelak akan sepenuhnya menjadi kenyataan : “Bahwa aku melihat, dan heran, tempat yang subur itu adalah bagaikan padang belantara, dan semua negerinya telah rubuh di hadapan hadirat Tuhan, dan oleh kehangatan murka-Nya. Karena demikianlah firman Tuhan, bahwa keseluruhan tanah itu akan menjadi sunyi; tetapi aku belum mengakhirinya sepenuhnya.” (Yeremia 4 : 26, 27). 

Bilamana kota-kota hancur berantakan dan tanah itu menjadi kosong, maka harapan dari orang-orang tebusan akan kelak diselesaikan : “Karena Tuhan sendiri akan turun dari surga dengan suatu seruan, dengan suara penghulu malaikat, dan dengan bunyi sangkakala Allah : maka segala orang yang telah mati dalam Kristus akan bangkit lebih dahulu : kemudian kita yang hidup dan yang tinggal ini akan diambil bersama-sama dengan mereka itu ke dalam awan-awan untuk bertemu dengan Tuhan di udara : demikianlah kelak kita akan senantiasa bersama-sama dengan Tuhan.” (1 Tesalonika 4 : 16, 17). Pada saat yang mulia itu pada waktu orang-orang suci berangkat, bumi akan ditinggalkan dalam kegelapan seperti yang dilukiskan oleh Yeremia : “Karena inilah bumi kelak  akan murung, dan segala langit yang di atas menjadi hitam : sebab sudah aku membicarakannya, sudah aku merencanakannya, maka tiada aku menyesal, dan juga tiada aku akan berpaling dari padanya. Seluruh orang isi negeri akan lari karena bunyi orang-orang berkuda dan orang-orang pemanah; mereka akan masuk ke dalam hutan-hutan dan naik ke atas batu-batu karang : setiap kota akan ditinggalkan, dan tiada seorangpun akan tinggal di dalamnya.” (Yeremia 4 : 28, 29).

Kemudian, sementara orang-orang suci masuk melewati pintu-pintu gerbang mutiara khayal Yohanes akan menemui kegenapannya : “Maka aku tampak beberapa tahta, dan mereka duduk di atasnya, maka kepada mereka dikaruniakan kuasa untuk mengadili : maka aku tampak jiwa-jiwa dari mereka yang telah dipancung kepalanya karena menjadi saksi Yesus, dan karena Firman Allah, dan yang tidak menyembah binatang itu, maupun akan patungnya, atau tidak menerima tandanya pada dahi-dahi mereka, atau dalam tangan mereka : maka mereka itu hidup dan memerintah bersama dengan Kristus seribu tahun lamanya.” (Wahyu 20 : 4). Orang-orang benar itu akan menghabiskan waktu seribu tahun lamanya mengadili orang-orang mati yang jahat. Untuk penyelidikan selanjutnya mengenai millenium lihatlah buku “Patriarchs and Prophets”, halaman 103; “The Great Controversy”, halaman 321, 662. 

“Tetapi segala orang mati yang lainnya itu tiada hidup kembali sebelum genap masa seribu tahun itu. Inilah kebangkitan yang pertama ..... dan aku tampak segala orang mati, kecil besar, berdiri di hadapan Allah, maka kitab-kitab pun dibukalah; dan sebuah kitab lainnya pun terbuka, yaitu kitab kehidupan : maka segala orang mati itu diadili menurut segala perkara yang tercatat

di dalam kitab-kitab itu, sesuai dengan perbuatan-perbuatan mereka.” (Wahyu 20 : 5, 12). Kitab-kitab itu berisikan catatan-catatan tentang orang-orang jahat itu; kitab hayat terbuka dan diperiksa oleh orang-orang suci itu, maka di dalamnya mereka melihat hanya nama-nama dari orang-orang benar. Nama-nama dari beberapa orang yang pernah terlihat di dalamnya telah dicoret, sementara nama-nama dari yang lain-lainnya tidak pernah dimasukkan di antara halaman-halamannya.

Kembali kepada pokok pembicaraan kita : “Binatang yang telah engkau lihat itu dahulu ada, dan sekarang tidak ada; maka ia akan naik keluar dari lubang yang tak terduga dalamnya.” Sedemikian jauh kami telah menjelaskan bagian pertama dari Injil yang diucapkan itu (dahulu ada dan sekarang tidak ada). Sekarang kita catat kata-kata itu, “Maka ia akan naik keluar dari lubang yang tak terduga dalamnya.” Dalam masa periode millenium itu orang-orang jahat akan diadili, dan pada saat akhirnya Kristus dan orang-orang suci akan kembali ke bumi. Yohanes memberi kesaksian dari hal ini, “Maka aku Yohanes melihat kota suci itu, yaitu Yerusalem baru, turun dari Allah dari dalam surga, yang dipersiapkan bagaikan seorang pengantin wanita yang dihiasi bagi suaminya.” (Wahyu 21 : 2). Sementara Kristus bersama-sama dengan orang-orang suci dan kota itu turun, maka genaplah kata-kata Firman berikut ini : “Maka laut mengeluarkan segala orang mati yang di dalamnya; dan maut dan neraka mengeluarkan segala orang mati yang ada di dalamnya : maka mereka itu telah diadili masing-masingnya sesuai dengan perbuatan-perbuatan mereka.” (Wahyu 20 : 13). Perhatikanlah kata kerja, “were”, yang tertulis dalam masa lampau (past tense), menunjukkan bahwa mereka itu telah diadili lebih dulu sebelum kebangkitannya. Oleh kebangkitan orang-orang jahat itu, maka Setan akan dilepaskan dari ikatannya untuk “sementara waktu”. (Lihat Wahyu 20 : 3). Dalam cara inilah binatang itu (dunia) kelak akan “naik keluar dari dalam lubang yang tak terduga dalamnya”.

Tetapi malaikat itu juga mengatakan, bahwa binatang itu “masuk ke dalam kebinasaan”; yaitu setelah ia naik keluar. Setan dilepaskan hanya untuk sedikit masa lamanya. Ia dan orang-orang jahat itu akan hidup selama seratus tahun setelah kebangkitan mereka. (“Tongkat Gembala”, Jilid I, halaman 164, 165, bahasa Inggris). Alkitab mengatakan bahwa pada akhir dari seratus tahun itu “Kematian dan neraka akan dicampakkan ke dalam lautan api. Ini adalah kematian yang kedua. Maka barangsiapa yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam buku kehidupan akan dicampakkan ke dalam lautan api.” (Wahyu 20 : 14, 15). Kematian kedua dari orang-orang jahat itu adalah suatu kematian yang kekal, “maka mereka kelak akan jadi seolah-olah mereka tidak ada sebelumnya.” (Obaja 16). Berbicara mengenai kebinasaan Setan itu, nabi itu mengatakan : “Mereka itu sekalian di antara segala bangsa yang mengenal akan dikau akan tercengang karenamu : engkau akan menjadi suatu bencana, maka engkau kelak tidak akan ada lagi.” (Yehezkiel 28 : 19).“Karena, sesungguhnya, hari itu datang, kelak bernyala-nyala seperti dapur api; dan segala orang sombong dan segala orang yang berbuat jahat, akan seperti jerami; maka hari yang datang itu akan membakar mereka itu, demikianlah firman Tuhan serwa sekalian alam, sehingga baik akar maupun cabang tiada lagi tinggal pada mereka itu.” (Maleakhi 4 : 1). Dalam cara inilah binatang itu akan masuk ke dalam kebinasaan. (Definisi dari Webster mengenai kata ‘perdition’ adalah : “Kebinasaan total, kehilangan jiwa atau kebahagiaan selengkapnya dalam suatu keadaan yang akan datang”). 

Dapatlah disimpulkan sebagai berikut : Binatang itu yang “dahulu ada” ialah

masa periode yang mendahului millenium; dan “sekarang tidak ada”, ialah selama masa periode millenium itu; dan “akan naik keluar dari dalam lubang yang tak terduga dalamnya”, ialah masa periode sesudah millenium, pada waktu mana semua orang jahat akan dibangkitkan lalu pergi masuk ke dalam kebinasaan; artinya, pada akhir dari seratus tahun itu, orang-orang jahat, Setan dan malaikat-malaikatnya akan dihapuskan dengan api.

“Dan mereka yang diam di bumi akan heran, yaitu mereka yang nama-namanya tidak terdapat di dalam buku kehidupan semenjak dari kejadian dunia, apabila mereka memandang akan binatang itu yang dahulu ada, dan sekarang tidak ada, dan akan ada lagi.” (Wahyu 17 : 8). Betapa menakjubkan kelak bagi orang-orang jahat itu nanti bilamana mereka menyaksikan rombongan besar orang banyak itu, yang seperti pasir di laut jumlahnya, yang secara tiba-tiba hidup kembali. Kelak merupakan sesuatu yang tidak pernah terpikirkan di dalam ingatan mereka. Perhatikan kalimat yang berbunyi : “Semenjak dari kejadian dunia”. Kata-kata ini meliputi semua orang jahat semenjak dari permulaan dunia dan membuktikan secara pasti bahwa interpretasi ini adalah benar.

Ayat 9, “Maka di sinilah akal yang mengandung hikmat. Bahwa tujuh kepala itu adalah tujuh buah gunung, pada mana perempuan itu telah duduk.” Semua kepala itu berada bersama-sama pada binatang itu, dan perempuan itu duduk di atas mereka, membuktikan bahwa keseluruhan tujuh “gunung” itu harus ada pada waktu yang sama. Adanya gunung-gunung itu tidak mungkin secara berurutan satu menyusul yang lainnya, sebab perempuan itu duduk di atas kesemuanya, menunjukkan suatu perserikatan dari kepala-kepala itu melalui perantaraan perempuan itu. Mereka itu disebut “gunung-gunung”, sama seperti halnya gereja Allah disebut “gunung”, di dalam Yesaya 2 : 2, dan Mikha 4 : 1. “Gunung” (tunggal) adalah gereja Allah, tetapi “gunung-gunung” (jamak oleh Yesaya dan Mikha) menunjukkan kepada gereja-gereja yang sama yang dilambangkan oleh kepala-kepala pada binatang itu. Dengan demikian “tujuh kepala itu adalah tujuh buah gunung”.

Ayat 10, “Dan ada tujuh orang raja : lima orang sudah jatuh, dan seorang masih ada, dan yang lainnya belum lagi datang; maka apabila ia datang, ia harus meneruskan sedikit masa lamanya.” Perhatikanlah bahwa ia itu tidak mengatakan “mereka adalah”, melainkan, “ada”. Oleh sebab itu “kepala-kepala itu” tidak mungkin merupakan lambang-lambang dari raja-raja itu. Raja-raja itu memerintah secara berurutan, sebab, lima raja sudah jatuh, dan seorang masih ada, dan yang lainnya belum lagi datang. Perhatikanlah bahwa angka bilangan Alkitab “tujuh”, berarti kelengkapan. Karena binatang itu juga melambangkan orang-orang jahat yang akan bangkit dari kematian sesudah masa seribu tahun millenium, dan jika semua orang yang hidup semenjak dari Kain sampai kepada akhir dari generasi sekarang ini akan dibangkitkan, maka tujuh orang raja itu dalam kaitannya dengan binatang itu harus berlaku terhadap seluruh sejarah dunia semenjak dari kejadian sampai kepada akhir sejarah dunia. “Siapakah gerangan yang sudah mengadakan dan membuat itu, yang memanggil segala bangsa semenjak dari mula pertama? Akulah Tuhan, yang pertama, dan yang bersama-sama dengan yang terakhir; Akulah Dia.” (Yesaya 41 : 4). 

Karena penjelasan dari nubuatan simbolis ini adalah pertama sekali dapat dimengerti pada waktu sekarang ini, dan karena nubuatan-nubuatan yang sedemikian ini adalah hanya dapat diungkapkan pada masanya, dan pelajaran yang ditarik daripadanya itu adalah berkenaan dengan generasi sekarang

ini, maka ramalan ini adalah kebenaran sekarang. Oleh sebab itu, kita harus memikirkan penggunaan masa lampau dan masa sekarang dari Alkitab itu (Biblical past and present tense). Aturan gramatika ini dianut di dalam Alkitab, dan ini adalah suatu cara untuk mengenali kebenaran sekarang. Janganlah membiarkan musuh menyesatkan anda dalam hal ini oleh falsafah atau theologi yang sia-sia. Injil itu sendiri adalah sempurna. Terjemahan versi King James dapat dipercaya sebagai terjemahan yang “baik”. Perhatikanlah penjelasan-penjelasan oleh terjemahan-terjemahan yang anda sendiri tidak mengerti. Janganlah percaya kepada siapapun. 

“Maka ada tujuh orang raja : lima orang sudah jatuh, dan seorang masih ada, dan yang lainnya itu belum datang; maka apabila ia datang kelak ia harus meneruskan sedikit masa lamanya.” (Wahyu 17 : 10). “Raja” yang “ada” itu, adalah dia yang ada pada waktu sekarang ini, dan raja yang satu “belum datang” itu, harus ada di masa depan. Dengan sendirinya, maka lima orang raja yang “jatuh” itu, harus berada di masa silam. Ini akan merupakan satu-satunya pendirian yang adil bagi seseorang untuk diambil tanpa membuat kekeliruan terhadap Firman Allah. Karena ia itu menunjuk kepada keseluruhan sejarah dunia dalam dosa, maka kita harus meninjau bilangan dari kerajaan-kerajaan dunia, atau periode-periode, semenjak dari permulaan dunia. Ada satu kerajaan dunia sebelum air bah, seperti yang telah dijelaskan terdahulu; kerajaan yang kedua ialah Babil; yang ketiga, Medo-Persia; yang keempat, Yunani; dan yang kelima ialah kerajaan Romawi. Kelima kerajaan ini sudah jatuh. Kerajaan yang satunya yang “ada”, ialah peradaban yang ada sekarang semenjak dari keruntuhan Romawi di bawah lambang “binatang yang menyerupai macan tutul” dan binatang “merah kirmizi”, sampai kepada permulaan dari seribu tahun millenium itu, periode ini disebut dengan kata-kata Romawi dalam keadaannya yang terpecah-pecah, yang dilambangkan oleh kaki-kaki dan jari-jari kaki dari patung binatang Daniel pasal 2. Sekaliannya inilah enam orang raja itu. “Lima orang sudah jatuh” dan yang “satunya” “masih ada”. Raja yang lainnya yang “belum datang” itu, harus merupakan masa periode sesudah seribu tahun millenium, yang berkaitan dengan binatang yang akan naik dari dalam lubang yang tak terduga dalamnya itu. 

Ajaib sekali untuk dicatat bagaimana Allah melukiskan sejarah dunia kita ini dengan simbol-simbol yang sedemikian tepatnya, dengan menggunakan angka-angka bilangan kelengkapan dalam masing-masing contoh peristiwanya. Demikianlah rencana, peraturan, dan petunjuk Ilahi-Nya bagi semua umat-Nya, diungkapkan dari generasi kepada generasi. Berbicara mengenai raja yang ketujuh, yaitu raja setelah seribu tahun millenium itu, ayatnya mengatakan, “Apabila ia datang kelak ia harus meneruskan sedikit masa lamanya”, berkaitan dengan apa yang terdapat dalam Wahyu 20 : 3, “Maka sesudah itu ia (Setan) akan dilepaskan sedikit saja masa lamanya.”

Wahyu 17 : 11, “Maka binatang yang dahulu ada, dan yang sekarang tidak, ialah yang ke delapan, dan ia berasal dari yang ketujuh itu, dan ia masuk ke dalam kebinasaan.” Untuk membuka tabir rahasia ini, maka segala-galanya yang perlu, ialah menghitung binatang-binatang nubuatan yang melambangkan masa-masa periode dan bangsa-bangsa. Dimulai dengan binatang yang pertama dan karena kita tutup dengan binatang yang terakhir, maka ia itu tentunya adalah yang “ke delapan” dan “ia berasal dari yang ketujuh”. Singa (Babil) adalah yang pertama; beruang (Medo-Persia) ialah yang kedua; macan tutul berkepala empat (Yunani) ialah yang ketiga; binatang yang tak tergambarkan (Romawi)

mereka sekali lagi. Ia akan memimpin bala tentara dari segala bangsa pada akhir dari seratus tahun itu untuk melawan kota suci -- yaitu Yerusalem Baru, dan demikianlah ia berperang melawan Anak Domba itu : “Setelah masa seribu tahun itu berakhir, Setan akan dilepaskan dari penjaranya, maka ia akan pergi keluar untuk menipu segala bangsa yang berada pada seluruh empat penjuru bumi, yaitu Gog dan Magog, untuk menghimpunkan mereka bersama-sama untuk berperang : jumlah mereka adalah seperti pasir di pantai laut. Maka naiklah mereka itu ke atas luas bumi, lalu mengepung perkemahan orang-orang suci itu berkeliling, serta kota yang dikasihi itu : maka turunlah api dari Allah dari dalam surga, dan menelan mereka itu. Maka Iblis yang menyesatkan mereka itu dicampakkan ke dalam lautan api dan belerang, dimana terdapat binatang dan nabi palsu itu, maka mereka akan disiksa siang dan malam selama-lamanya.” (Wahyu 20 : 7 – 10). 

“Disiksa siang dan malam selama-lamanya”. Perhatikan bahwa yang dikatakan bukan “sedang disiksa” (bahasa Inggris : tormenting), melainkan disiksa (tormented); artinya, mereka itu dihukum sekali untuk selamanya. “Siang dan malam”, berarti bahwa mereka itu akan dihukum dan dibinasakan dengan cara yang sama seperti orang-orang jahat sebelum air bah yang lalu -- oleh hujan yang terus menerus, “siang dan malam”, — air di masa dahulu, dan oleh api di masa kemudian. 

Warna dari binatang itu (merah kirmizi) mengungkapkan, bahwa umat Allah sudah akan terlebih dulu dipanggil keluar oleh pekabaran dari “seruan keras”, dan dengan demikian terpisah dan menyolok berbeda dari dunia. Dengan demikian, meninggalkan binatang itu “merah kirmizi” (meluncur -- terpisah), suatu pertanda berada di bawah tuduhan bersalah, dibiarkan tanpa dimaafkan -- siap untuk binasa. “Penuh nama-nama dan hujat”, menunjukkan sekian banyaknya sekte-sekte agama dan kemunafikan. Tandingan dari pasal ini akan dijelaskan dalam penyelidikan yang lain. 

* * *

mereka sekali lagi. Ia akan memimpin bala tentara dari segala bangsa pada akhir dari seratus tahun itu untuk melawan kota suci -- yaitu Yerusalem Baru, dan demikianlah ia berperang melawan Anak Domba itu : “Setelah masa seribu tahun itu berakhir, Setan akan dilepaskan dari penjaranya, maka ia akan pergi keluar untuk menipu segala bangsa yang berada pada seluruh empat penjuru bumi, yaitu Gog dan Magog, untuk menghimpunkan mereka bersama-sama untuk berperang : jumlah mereka adalah seperti pasir di pantai laut. Maka naiklah mereka itu ke atas luas bumi, lalu mengepung perkemahan orang-orang suci itu berkeliling, serta kota yang dikasihi itu : maka turunlah api dari Allah dari dalam surga, dan menelan mereka itu. Maka Iblis yang menyesatkan mereka itu dicampakkan ke dalam lautan api dan belerang, dimana terdapat binatang dan nabi palsu itu, maka mereka akan disiksa siang dan malam selama-lamanya.” (Wahyu 20 : 7 – 10). 

“Disiksa siang dan malam selama-lamanya”. Perhatikan bahwa yang dikatakan bukan “sedang disiksa” (bahasa Inggris : tormenting), melainkan disiksa (tormented); artinya, mereka itu dihukum sekali untuk selamanya. “Siang dan malam”, berarti bahwa mereka itu akan dihukum dan dibinasakan dengan cara yang sama seperti orang-orang jahat sebelum air bah yang lalu -- oleh hujan yang terus menerus, “siang dan malam”, — air di masa dahulu, dan oleh api di masa kemudian. 

Warna dari binatang itu (merah kirmizi) mengungkapkan, bahwa umat Allah sudah akan terlebih dulu dipanggil keluar oleh pekabaran dari “seruan keras”, dan dengan demikian terpisah dan menyolok berbeda dari dunia. Dengan demikian, meninggalkan binatang itu “merah kirmizi” (meluncur -- terpisah), suatu pertanda berada di bawah tuduhan bersalah, dibiarkan tanpa dimaafkan -- siap untuk binasa. “Penuh nama-nama dan hujat”, menunjukkan sekian banyaknya sekte-sekte agama dan kemunafikan. Tandingan dari pasal ini akan dijelaskan dalam penyelidikan yang lain. 

* * *

raja di bumi adalah bersalah oleh persundalan rohani dengan “perempuan” itu (mabuk dengan ajaran-ajaran palsu), sehingga oleh karenanya terikat dalam jerat-jeratnya yang menarik itu.

Setiap organisasi yang disebut Kristen yang menangani ajaran-ajaran palsu di bawah selubung kebaikan, jelas diperintah oleh kuasa dari “perempuan” itu. Asal mula dari semua ajaran-ajaran sesat yang sedemikian ini dapat ditemukan jejaknya ke dalam cawan keemasan itu. Kata malaikat itu : “Adapun tujuh kepala itu ialah tujuh buah gunung, pada mana perempuan itu duduk.” Telah dijelaskan sebelumnya, bahwa kepala-kepala itu adalah melambangkan organisasi-organisasi gereja Kristen, dan karena perempuan itu duduk di atas mereka sekaliannya, maka ini menunjukkan adanya suatu persekutuan gereja-gereja di bawah suatu pimpinan -- yaitu “perempuan” itu. Angka bilangan Alkitab “tujuh” adalah berarti semua organisasi yang sedemikian ini.

Kalau saja semua gereja-gereja itu pada waktu sekarang ini telah dipimpin oleh Roh Suci, maka tidak akan mungkin ada kekacauan apapun di antara berbagai sekte agama Kristen yang ada. Karena tidak akan mungkin bagi sekaliannya untuk didapati benar sementara dua saja di antaranya tidak ada yang sama percaya, sehingga dapatlah dipastikan bahwa mereka itu yang sedang minum air anggur dari “cawan persundalan perempuan itu”, tidaklah sedikit jumlahnya, karena Ilham menegaskan : “Maka semua penduduk bumi telah dibuat mabuk oleh air anggur persundalannya. (Ayat 2, bagian terakhir).

Perhatikanlah bahwa “perempuan” itu duduk di atas “banyak air”, juga di atas “kepala-kepala”, dan di atas “binatang” itu. (Lihat Wahyu 17 : 1, 3, 9). Karena adalah tidak mungkin bagi seseorang untuk duduk di atas keseluruhan tiga objek pada waktu yang bersamaan, maka jelas simbol-simbol nubuatan itu mengungkapkan suatu penipuan rohani yang dilakukan dalam tiga masa periode yang berbeda. Demikianlah Yohanes mengatakan : “Aku tampak seorang perempuan duduk pada seekor binatang yang merah kirmizi”. Bukan di atas “banyak air”, bukan juga di atas “kepala-kepala”. Sebelum Yohanes melihat perempuan itu, malaikat itu mengatakan, Perempuan itu “duduk di atas banyak air”. Adalah malaikat itu juga yang telah menambahkan, bahwa “Adapun tujuh kepala itu ialah tujuh buah gunung, pada mana perempuan itu duduk.” (Lihat ayat 1, dan 9). Dengan demikian, Yohanes hanya menyaksikan perbuatan perempuan itu yang terakhir (yaitu duduk di atas binatang itu). Dengan sendirinya, lambang perempuan itu duduk di atas “banyak air” adalah perbuatannya yang pertama sekali, sesuai dengan khayal itu. 

Oleh sebab itu, keberhasilannya yang pertama (“duduk di atas banyak air”) telah terjadi di masa lalu mendahului simbol nubuatan ini diungkapkan. Kemudian, duduk di atas kepala-kepala akan menjadi keberhasilannya yang kedua, dan duduk di atas Binatang ialah keberhasilannya yang terakhir; pada waktu mana ia akan diadili.

Karena gereja-gereja Protestan adalah dilambangkan oleh kepala-kepala, maka ia belum mungkin berhasil duduk di atas mereka itu sebelum reformasi, sebab pada waktu itu mereka itu belum ada. Karena kepala-kepala itu pada mana “perempuan itu duduk” adalah tidak terluka, maka jelaslah bahwa simbol nubuatan ini akan menemui kegenapannya pada sesuatu masa sesudah luka parah binatang yang menyerupai macan tutul dari Wahyu 13 : 3, telah sembuh.

Simbol perempuan itu duduk pada kepala-kepala menunjukkan persekutuan gereja-gereja, karena ia duduk di atas mereka. 

Oleh sebab itu, apabila Katholikisme, Protestantisme, dan Spiritualisme saling bergandengan tangan satu sama lainnya melalui pembentukan suatu liga persekutuan, maka dapatlah dikatakan, bahwa “perempuan itu duduk di atas kepala-kepala”.

Simbol mengenai “perempuan itu duduk pada binatang itu”, akan menemui kegenapannya apabila federasi agama itu akan membentuk suatu aliansi dengan penguasa-penguasa dunia. Tidakkah yang sedemikian ini akan memberikan kepada perempuan itu pengawasan penuh atas keseluruhan binatang itu, tanduk-tanduknya dan kepala-kepalanya -- dunia. Pada waktu itu Firman yang berikut ini akan menemukan kegenapannya dengan tepat : “Maka ia memaksakan semua orang, kecil besar, kaya miskin, orang merdeka maupun hamba, untuk menerima suatu tanda pada tangan kanan mereka, atau pada dahi mereka : Dan supaya tidak seorangpun dapat berjual beli, terkecuali orang yang memiliki tanda itu, atau nama dari binatang itu.” (Wahyu 13 : 16, 17).

Demikianlah simbol mengenai “perempuan itu” duduk di atas “banyak air”, melambangkan masa periode sebelum reformasi. Ini benar terjadi selama periode kekuasaan kepausan, karena pada waktu itu paus menguasai dunia Romawi -- “beberapa kaum, dan orang banyak, dan bangsa-bangsa, dan beberapa bahasa”. Dengan demikian “perempuan” itu duduk di atas “banyak air” selama seribu dua ratus enam puluh tahun nubuatan dari Daniel 7 : 25, tetapi ia belum lagi duduk pada “kepala-kepala”, dan pada “binatang” itu. Kalau saja ia duduk pada binatang yang tak tergambarkan sebagai gantinya di atas “banyak air”, maka itu sudah akan keliru dilambangkan, sebab, “perempuan” itu, sebagai alat dari Katholikisme tidak memerintah atas seluruh dunia (binatang), melainkan hanya atas beberapa “kaum, dan banyak orang, dan bangsa-bangsa, dan beberapa bahasa” (banyak air). Oleh sebab itu, simbol mengenai “duduk di atas binatang merah kirmizi”, menunjuk kepada suatu organisasi agama-politik internasional.

SUDAH BERAPA LAMAKAH ADANYA PEREMPUAN ITU?

Pertanyaan ini dapat dijawab melalui kata-kata Injil berikut ini : “Maka aku tampak perempuan itu mabuk dengan darah orang-orang suci, dan dengan darah orang-orang yang mati sahid karena Yesus : Dan ketika aku tampak akan perempuan itu, heranlah aku dengan amat sangatnya.” (Ayat 6). Ini tepatnya dapat dikatakan terhadap gereja Romawi, sebab ia telah menganiaya orang-orang Kristen dan mereka telah mati sahid dalam tangannya. Oleh karena itu ia “mabuk” dengan darah mereka itu. Sesungguhnya, gereja Romawi telah mengikat hubungan melanggar hukum dengan “perempuan” itu; dahulu dan sekarang pun ia mabuk dengan air anggur persundalan perempuan itu.

“Perempuan itu” bukannya berasal dari gereja Romawi, melainkan ia justru yang melahirkan gereja itu. Oleh sebab itu, kita harus mengikuti jejaknya itu jauh sebelum adanya kepausan. Wahyu 18 : 24 menyinari masalah ini : “Dan di dalamnya (perempuan itu) terdapat darah dari para nabi, dan darah orang-orang suci, serta darah dari semua orang yang mati dibunuh di bumi.” Firman Allah yang suci menyatakan bahwa “perempuan” itu

bersalah atas darah semua orang yang mati sahid sepanjang segala zaman. Oleh sebab itu, “perempuan” itu mabuk dengan darah Habil, dan demikianlah darah “semua” orang yang mati sahid terdapat di dalamnya; membuktikan bahwa Kain adalah langganannya yang pertama yang mempersembahkan suatu korban yang palsu (ajaran palsu), dan karena membunuh adiknya. 

Ada banyak orang yang disebut Kristen, yang seperti Kain mengatakan, bahwa “Itu tidak ada apa-apa bedanya; semua perkara sama saja baiknya.” Tetapi Allah tidak mau menerima sesuatu penggantian apapun dan Allah tidak mau menerima agama ciptaan manusia apapun. Apa yang diciptakan oleh kepandaian manusia ialah kebenaran manusia, bukan kebenaran Kristus. Oleh sebab itu, itu adalah suatu kekejian pada pemandangan Allah. Sifat akhlak penurutan manusia kepada tuntutan-tuntutan Ilahi terus menjadi lemah, dan kecenderungan-kecenderungan dosa menjadi kuat dari generasi ke generasi, sifat alamiah manusia tidak dapat menjadi lebih baik pada waktu sekarang ini daripada sewaktu para murid dulu bertanya kepada Yesus : “Tahukah Rabi, bahwa orang-orang Farisi itu sakit hati, setelah mereka mendengar perkataan ini?” Orang-orang yang disebut Kristen, seperti halnya orang-orang Farisi itu, menjadi sakit hati apabila kepada mereka ditunjukkan kesalahan-kesalahannya, dan ditegur karena dosa-dosanya. “Tetapi jawab-Nya sambil mengatakan : “Setiap tanaman yang tiada ditanam oleh Bapa-Ku di surga, ia itu akan dicabut. Biarkanlah mereka itu. Mereka itu pemimpin-pemimpin buta yang berasal dari orang buta. Jikalau orang buta memimpin orang buta, keduanya akan jatuh ke dalam lubang.” (Matius 15 : 12 – 14). 

“Dan pada dahi perempuan itu tertulis suatu nama, yaitu Rahasia, Babil yang Besar, Ibu dari segala Sundal dan Kekejian-Kekejian di Bumi.” (Wahyu 17 : 5). Perempuan yang menunggangi binatang itu ialah ibu. Tujuh kepala di atas binatang itu adalah melambangkan anak-anak gadisnya (Segala Sundal Itu). Katholikisme ialah gadisnya yang pertama di dalam simbol ini, dan karena Protestantisme muncul dari Katholikisme, maka Protestantisme murtad yang terdapat dalam sekian banyaknya sekte-sekte agama yang ada, mereka pun adalah anak-anak gadisnya. Atau dapat juga dikatakan, bahwa “perempuan” itu ialah ibu dari Katholikisme, dan Katholikisme ialah ibu dari Protestantisme. Pewahyu mengatakan : “Aku tampak seorang perempuan duduk di atas seekor binatang merah kirmizi, yang penuh dengan nama-nama hujat.” (Ayat 3). Dengan demikian angka bilangan dari “kepala-kepala”, dan “penuh dengan nama-nama”, adalah meliputi juga semua pasilan (offshoots) yang muncul keluar dari Protestantisme dan Katholikisme. Kalau saja tidak ada sebutan “penuh dengan nama-nama”, yang lebih dari tujuh, dan sebutan “merah kirmizi”, yang menunjukkan bahwa umat Allah telah dipanggil keluar daripadanya, oleh karenanya, “merah kirmizi” -- tersaring -- di bawah kutukan siap untuk binasa, maka angka bilangan Alkitab “tujuh kepala”, sudah akan meliputi juga orang-orang yang sedang membawakan pekabaran Allah seperti dalam masa periode binatang yang menyerupai macan tutul dari Wahyu 13 : 1, pada waktu luka parahnya itu sembuh. Oleh sebab itu, sudah tidak akan diijinkan lagi kepada sidang yang “memeliharakan perintah-perintah Allah, dan Iman Yesus”, lalu dengan demikian itu bertentangan terhadap Firman berikut ini : “Maka naiklah amarah naga akan perempuan itu (sidang Allah), lalu pergi berperang dengan benih perempuan itu

yang lagi tinggal (Israel yang benar -- mereka yang 144.000 itu), yang memeliharakan perintah-perintah Allah, dan  yang memiliki kesaksian Yesus Kristus.” (Wahyu 12 : 17). 

Allah tidak pernah memiliki lebih dari satu pergerakan dalam suatu masa yang sama dan tidak akan mungkin terjadi sebaliknya sekarang karena Kristus tidak dapat dibagi-bagi. (Lihat 1 Korintus 1 : 13). Sidang Allah jelas ditandai pada setiap generasi oleh penurutannya kepada kebenaran sekarang. Faktanya sendiri akan membuktikan kebenaran pernyataan ini karena hanya ada satu sidang dalam masa periode binatang itu yang memiliki “Roh Nubuat” dan keseluruhan perintah itu seperti yang ditulis oleh jari Allah. Yesus mengatakan : “Sebab itu barangsiapa merombak salah satu dari perintah-perintah yang tersedikit ini, dan mengajarkan demikian kepada orang lain, ia akan disebut yang terkecil di dalam kerajaan surga; tetapi barang-siapa yang mematuhi dan mengajarkan semuanya, ia akan disebut besar di dalam kerajaan surga.” (Matius 5 : 19). Prinsip Ilahi inilah yang akan membagi dunia ke dalam dua kelas saja -- yaitu perintah-perintah Allah dan tradisi-tradisi manusia. Maka di hadapan-Nya akan berhimpun segala bangsa; dan Ia akan memisahkan mereka itu satu dari yang lainnya, seperti seorang gembala memisahkan domba-dombanya dari kambing-kambing. Maka Ia akan menempatkan domba-domba itu pada sebelah kanannya, tetapi kambing-kambing itu pada sebelah kirinya.” (Matius 25 : 32, 33). 

* * *

yang lagi tinggal (Israel yang benar -- mereka yang 144.000 itu), yang memeliharakan perintah-perintah Allah, dan  yang memiliki kesaksian Yesus Kristus.” (Wahyu 12 : 17). 

Allah tidak pernah memiliki lebih dari satu pergerakan dalam suatu masa yang sama dan tidak akan mungkin terjadi sebaliknya sekarang karena Kristus tidak dapat dibagi-bagi. (Lihat 1 Korintus 1 : 13). Sidang Allah jelas ditandai pada setiap generasi oleh penurutannya kepada kebenaran sekarang. Faktanya sendiri akan membuktikan kebenaran pernyataan ini karena hanya ada satu sidang dalam masa periode binatang itu yang memiliki “Roh Nubuat” dan keseluruhan perintah itu seperti yang ditulis oleh jari Allah. Yesus mengatakan : “Sebab itu barangsiapa merombak salah satu dari perintah-perintah yang tersedikit ini, dan mengajarkan demikian kepada orang lain, ia akan disebut yang terkecil di dalam kerajaan surga; tetapi barang-siapa yang mematuhi dan mengajarkan semuanya, ia akan disebut besar di dalam kerajaan surga.” (Matius 5 : 19). Prinsip Ilahi inilah yang akan membagi dunia ke dalam dua kelas saja -- yaitu perintah-perintah Allah dan tradisi-tradisi manusia. Maka di hadapan-Nya akan berhimpun segala bangsa; dan Ia akan memisahkan mereka itu satu dari yang lainnya, seperti seorang gembala memisahkan domba-dombanya dari kambing-kambing. Maka Ia akan menempatkan domba-domba itu pada sebelah kanannya, tetapi kambing-kambing itu pada sebelah kirinya.” (Matius 25 : 32, 33). 

* * *

pemerintahan Romawi. Ia akan bangkit berdiri “apabila para pendurhaka itu telah penuh kejahatannya”. Orang-orang Yunani itu belum pernah menjadi pendurhaka; oleh sebab itu, petunjuk di atas hanya dapat diaplikasikan kepada bangsa Yahudi, pada waktu mana bangsa yang pernah menjadi umat pilihan Allah itu akan mengungguli setiap rekor kebejatan moral dan Kerohaniannya sebelumnya. Bangsa Yahudi sampai pada kondisi itu pada masa kekuasaan Romawi, dan pada kedatangan Kristus yang pertama. Oleh sebab itu, raja yang “berwajah bengis” ini ialah raja Romawi, setelah “para pendurhaka” itu (orang-orang Yahudi) sampai “penuh” kejahatan mereka.

KEKUASAAN ROMAWI BUKAN MILIKNYA SENDIRI;

MENGERTI KALIMAT-KALIMAT GAIB

“Maka kuasanya akan menjadi hebat, tetapi bukan oleh kekuatan dirinya sendiri : dan ia akan membinasakan secara gemilang, dan ia akan berhasil, dan melakukannya, dan ia akan membinasakan umat yang kuat dan suci. Dan oleh kebijaksanaannya ia juga akan melakukan tipu supaya berhasil di dalam tangannya; maka ia akan membesarkan dirinya sendiri dalam hatinya, dan dengan damai ia akan membinasakan banyak orang; ia juga akan bangkit berdiri melawan Penghulu dari segala penghulu itu; tetapi ia akan hancur tanpa pertolongan tangan.” (Daniel 8 : 24, 25). 

“Ia akan memahami kalimat-kalimat gaib”, dan “kuasanya akan menjadi hebat, tetapi bukan oleh kekuatannya sendiri”. Keberhasilannya diselesaikan dengan damai; maka, jika dengan damai, Injil tidak dapat memiliki petunjuk apapun mengenai ambisi perebutan teritorial. Kuasanya akan diarahkan untuk melawan umat kesucian (orang-orang Kristen). “Ia juga akan bangkit berdiri melawan Penghulu dari segala penghulu itu” (Kristus). 

Agar supaya seseorang dapat memahami kalimat-kalimat gaib, ia harus menggunakan kekuatan gaib, maka kekuatan itu tidak mungkin merupakan kekuatannya sendiri. Pertanyaan akan timbul mengenai di mana ia akan memperoleh kekuasaannya yang hebat itu. Jika serangannya adalah melawan Kristus dan umat-Nya, maka tidaklah sulit untuk mengetahui jenis kekuasaan yang digunakannya. Tetapi, Yohanes memberikan kepada kita sumber dari kekuatan gaib ini.

“Maka kelihatanlah suatu keajaiban besar di langit; seorang perempuan bersalutkan matahari, dan bulan berada di bawah kakinya, dan di atas kepalanya terdapat sebuah mahkota berisikan dua belas bintang : adalah ia itu mengandung dan berteriak sebab kesakitan hendak melahirkan. Maka kelihatan lagi suatu keajaiban yang lain di langit; tengoklah seekor naga besar yang merah menyala, memiliki tujuh kepala dan sepuluh tanduk, dan tujuh mahkota di atas kepala-kepalanya itu. Maka ekornya itu menyeret sepertiga bagian dari bintang-bintang di langit, lalu mencampakkan semuanya itu ke bumi : lalu naga itu berdiri di hadapan perempuan yang siap hendak melahirkan itu, untuk menelan anaknya segera setelah ia lahir. Maka dilahirkan olehnya seorang anak laki-laki, yang akan memerintah segala bangsa dengan tongkat besi : maka anaknya itu pun dirampas dibawa kepada Allah, dan kepada tahta–Nya.” (Wahyu 12 : 1 – 5).

pemerintahan Romawi. Ia akan bangkit berdiri “apabila para pendurhaka itu telah penuh kejahatannya”. Orang-orang Yunani itu belum pernah menjadi pendurhaka; oleh sebab itu, petunjuk di atas hanya dapat diaplikasikan kepada bangsa Yahudi, pada waktu mana bangsa yang pernah menjadi umat pilihan Allah itu akan mengungguli setiap rekor kebejatan moral dan Kerohaniannya sebelumnya. Bangsa Yahudi sampai pada kondisi itu pada masa kekuasaan Romawi, dan pada kedatangan Kristus yang pertama. Oleh sebab itu, raja yang “berwajah bengis” ini ialah raja Romawi, setelah “para pendurhaka” itu (orang-orang Yahudi) sampai “penuh” kejahatan mereka.

KEKUASAAN ROMAWI BUKAN MILIKNYA SENDIRI; MENGERTI KALIMAT-KALIMAT GAIB

“Maka kuasanya akan menjadi hebat, tetapi bukan oleh kekuatan dirinya sendiri : dan ia akan membinasakan secara gemilang, dan ia akan berhasil, dan melakukannya, dan ia akan membinasakan umat yang kuat dan suci. Dan oleh kebijaksanaannya ia juga akan melakukan tipu supaya berhasil di dalam tangannya; maka ia akan membesarkan dirinya sendiri dalam hatinya, dan dengan damai ia akan membinasakan banyak orang; ia juga akan bangkit berdiri melawan Penghulu dari segala penghulu itu; tetapi ia akan hancur tanpa pertolongan tangan.” (Daniel 8 : 24, 25). 

“Ia akan memahami kalimat-kalimat gaib”, dan “kuasanya akan menjadi hebat, tetapi bukan oleh kekuatannya sendiri”. Keberhasilannya diselesaikan dengan damai; maka, jika dengan damai, Injil tidak dapat memiliki petunjuk apapun mengenai ambisi perebutan teritorial. Kuasanya akan diarahkan untuk melawan umat kesucian (orang-orang Kristen). “Ia juga akan bangkit berdiri melawan Penghulu dari segala penghulu itu” (Kristus). 

Agar supaya seseorang dapat memahami kalimat-kalimat gaib, ia harus menggunakan kekuatan gaib, maka kekuatan itu tidak mungkin merupakan kekuatannya sendiri. Pertanyaan akan timbul mengenai di mana ia akan memperoleh kekuasaannya yang hebat itu. Jika serangannya adalah melawan Kristus dan umat-Nya, maka tidaklah sulit untuk mengetahui jenis kekuasaan yang digunakannya. Tetapi, Yohanes memberikan kepada kita sumber dari kekuatan gaib ini.

“Maka kelihatanlah suatu keajaiban besar di langit; seorang perempuan bersalutkan matahari, dan bulan berada di bawah kakinya, dan di atas kepalanya terdapat sebuah mahkota berisikan dua belas bintang : adalah ia itu mengandung dan berteriak sebab kesakitan hendak melahirkan. Maka kelihatan lagi suatu keajaiban yang lain di langit; tengoklah seekor naga besar yang merah menyala, memiliki tujuh kepala dan sepuluh tanduk, dan tujuh mahkota di atas kepala-kepalanya itu. Maka ekornya itu menyeret sepertiga bagian dari bintang-bintang di langit, lalu mencampakkan semuanya itu ke bumi : lalu naga itu berdiri di hadapan perempuan yang siap hendak melahirkan itu, untuk menelan anaknya segera setelah ia lahir. Maka dilahirkan olehnya seorang anak laki-laki, yang akan memerintah segala bangsa dengan tongkat besi : maka anaknya itu pun dirampas dibawa kepada Allah, dan kepada tahta–Nya.” (Wahyu 12 : 1 – 5).

Perempuan itu adalah melambangkan sidang Allah; mahkota yang berisikan dua belas bintang ialah kekuasaannya atau pemerintahannya (dua belas rasul), dan anak itu ialah Kristus. Di dalam ayat sembilan kepada kita diberitahukan, bahwa naga itu ialah “Iblis, dan Setan”. Adalah dengan bentuk Herodes naga itu berdiri di hadapan perempuan itu, bersiap-siap untuk menelan anaknya segera setelah kelahirannya.

“Sepeninggal orang-orang majus itu, maka kelihatanlah kepada Yusuf dalam mimpi seorang malaikat yang mengatakan, Bangunlah engkau, ambillah anak itu bersama ibu-Nya, dan larilah ke Mesir, dan tinggallah kamu di sana sampai aku beritahukan lagi kepadamu; karena Herodes akan mencari anak itu untuk membinasakan Dia.”

Oleh sebab itu, kekuasaan yang Romawi gunakan dalam kekejamannya melawan “umat kesucian dan Penghulu dari segala penghulu itu” adalah kuasa dari naga itu, dan karena itulah raja-raja Romawi “memahami kalimat-kalimat gaib” dengan mana ia, yaitu Iblis, telah berketetapan hati untuk membinasakan Kristus dan semua pengikut-Nya. (Ikutilah gambar pada halaman 128, bahasa Inggris). 

TANDUK MENGUNGKAPKAN APA YANG BINATANG ITU GAGAL MELAKSANAKAN

Sebagaimana Medo-Persia dan Yunani masing-masing telah dilambangkan dengan dua simbol -- yaitu Medo-Persia pertama oleh domba jantan dan kedua oleh beruang; dan Yunani pertama oleh kambing jantan dan kedua oleh binatang macan tutul berkepala empat, maka demikian itu pula Romawi telah dilambangkan pertama oleh tanduk yang sangat besar pada kambing jantan itu, dan kedua oleh binatang yang tak tergambarkan. Tahap pertama dari binatang yang keempat melambangkan kekaizaran Romawi, tetapi tahap keduanya setelah tiga tanduknya itu tercabut, ini melambangkan Romawi kepausan. (Lihat halaman 56 – 59, bahasa Inggris). Binatang yang melambangkan kekaizaran Romawi itu tidak banyak memberikan informasi mengenai bentuk pemerintahan Romawi, tetapi apa yang tidak diungkapkan oleh binatang itu justru dapat diketahui dari tanduk kambing jantan yang besar itu. Oleh karena itu, kita harus meninjau kekuasaan dari tanduk yang besar itu berikut tindak tanduknya. 

MENGGUGURKAN BALA TENTARA DAN BINTANG-BINTANG 

Daniel mengatakan : “Oleh sebab itu, kambing jantan itu menjadi sangat besar : dan setelah ia menjadi kuat, maka tanduk yang besar itu patah; dan sebagai gantinya tumbuhlah empat tanduk yang terkenal yang mengarah ke empat mata angin di langit. Maka bertambah besarlah ia sampai kepada bala tentara langit; lalu ia menggugurkan beberapa dari tentara itu dan beberapa bintang ke tanah, lalu dipijak-pijaknya akan mereka itu.” (Daniel 8 : 8, 10).

“Bala tentara langit itu” tidak mungkin dimaksudkan kepada bangsa Yahudi pada waktu itu karena orang-orang Yahudi telah membunuh nabi-nabi, dan mereka telah menolak setiap pekabaran yang telah dikirim Allah kepada mereka melalui perantaraan hamba-hamba-Nya yang sederhana, sehingga tidak ada lagi penyembuhan bagi mereka. Dengan demikian mereka telah tinggal tanpa seorang nabi pun semenjak zaman Maleakhi. Kalau saja mereka mematuhi suara Allah melalui

perantaraan utusan-utusan-Nya, maka Ia tidak akan membiarkan mereka jatuh di bawah penjajahan Romawi.

Orang-orang Yahudi itu mengemukakan alasan seperti yang dilakukan kebanyakan orang Kristen pada waktu ini. Mereka mengikuti pendirian bahwa mereka adalah bijaksana dan bahwa mereka adalah berkenan kepada Allah, walaupun mereka menolak setiap sinar terang, dan sepenuhnya mereka meremehkan himbauan-himbauan dan kemurahan-kemurahan dari Allah. Kekeliruan mereka terhadap kebenaran Allah, dan keragu-raguan mereka terhadap terang yang menyinari Firman Allah, telah merampas dari mereka hikmah dan pengetahuan terhadap Yang Maha Tinggi, sehingga akhirnya mereka dibawa masuk ke dalam dosa dan tuduhan yang mengerikan. Pada waktu mereka menolak pekabaran yang dibawakan kepada mereka oleh para rasul yang dipenuhi dengan kuasa Roh Suci, maka berdosalah mereka itu melawan Rohulkudus, sehingga oleh karena itulah mereka telah menutup satu-satunya saluran melalui mana Allah berkomunikasi dengan mereka.

Oleh sebab itu, maka orang-orang Yahudi itu, dibawah tuduhan yang sedemikian ini, tidak mungkin disebut “bala tentara langit”, ataupun sedikitnya “bintang-bintang”. “Bahkan dibesarkan dirinya sampai kepada Penghulu dari bala tentara itu”. (Ayat 11). “Penghulu itu” ialah Kristus, dan “bala tentara itu” adalah orang-orang Kristen. Ini adalah satu-satunya aplikasi yang tepat yang dapat dibuat untuk ucapan kata-kata di atas.

“Bintang-bintang” itu tak lain adalah para rasul, sama seperti mereka itu telah dilambangkan oleh mahkota dari perempuan yang terdapat dalam Wahyu 12 : 1. Oleh karena itu, “bintang-bintang” yang telah digugurkan itu dimaksudkan kepada para rasul, dan “bala tentara” itu dimaksudkan kepada orang-orang Kristen sesudah penyaliban Kristus, pada waktu Romawi bersama-sama dengan orang-orang Yahudi, menganiaya dan membunuh (“menggugurkan sampai ke tanah”). “Bahkan ia membesarkan dirinya sampai kepada penghulu dari bala tentara itu”; artinya, kekuasaan Romawi itu membesarkan dirinya melawan Kristus — Penghulu dari orang-orang Kristen. 

YANG SEHARI-HARI ITU DAN TEMPAT KESUCIAN DIHEMPASKAN KE TANAH

“Dan olehnya korban yang sehari-hari itu ditiadakan, dan tempat kesuciannya itu dirubuhkan. Maka suatu tentara diserahkan kepadanya melawan korban yang sehari-hari itu karena alasan pendurhakaan, dan dihempaskannya kebenaran itu ke tanah, maka dalam segala yang dibuatnya itu beruntunglah ia.” (Daniel 8 : 11, 12).

Dalam mengomentari ayat ini Roh Nubuat mengatakan : “Kemudian aku tampak dalam kaitannya dengan “yang sehari-hari itu”, Daniel 8 : 12, bahwa perkataan “korban” itu telah disisipkan oleh kepintaran manusia, dan bukan merupakan bagian dari ayat itu.” -- “Early Writings”, halaman 74. Ini adalah benar, maka kita harus meninggalkan perkataan “korban” itu, tetapi berpegang kepada “yang sehari-hari” itu, walaupun perkataan “korban” itu tertulis miring, yang menunjukkan bahwa ia itu disisipkan, suatu khayal telah diberikan berkenaan dengan ayat ini, membuktikan bahwa suatu kebenaran penting adalah terkandung di dalam kata-kata “yang sehari-hari” dan “tempat kesucian”. Apapun juga “yang sehari-hari” itu, ia itu telah ditiadakan oleh “Tanduk Besar” itu.

Di dalam Daniel 11 : 31 terdapat petunjuk mengenai peristiwa yang sama :

“Dan tentara akan berdiri pada pihaknya, maka mereka akan menajiskan kekuatan tempat kesucian itu, dan mereka akan meniadakan yang sehari-hari itu, ..... dan mereka akan menempatkan kekejian yang membinasakan itu.” 

Ayat yang baru dikutip ini memperjelas pengertian bahwa baik “yang sehari-hari” itu maupun “tempat kesucian” itu harus merupakan sebagian dari kebenaran Allah. Pemikiran ini tidak mungkin salah diartikan tanpa merusak Injil. Perhatikanlah bahasa yang digunakan : “Maka mereka akan menajiskan kekuatan tempat kesucian itu dan mereka akan meniadakan “yang sehari-hari” itu. Sesudah menajiskan “tempat kesucian” itu dan menyingkirkan “yang sehari-hari” itu, kemudian dikatakan : “Mereka akan menempatkan kekejian yang membinasakan.” Itu artinya : “Tempat kesucian” itu dan “yang sehari-hari” itu diganti dengan kekejian. Kekejian itu harus merupakan sesuatu lembaga agama Kapir, dan bahwa ajaran Kapir itu (“kekejian”) yang akan membinasakan. Artinya, ia itu menghancurkan “tempat kesucian” itu, “yang sehari-hari” itu, dan “kebenaran” itu; atau seperti yang diucapkan di dalam Daniel 8 : 13 : “Diinjak-injak di bawah telapak kaki”. “Dan ia mencampakkan kebenaran itu ke tanah, dan dalam segala yang dibuatnya itu beruntunglah ia.” (Ayat 12). 

Berbicara mengenai peristiwa yang sama Yesus mengatakan : “Sebab itu, apabila kamu melihat kelak kekejian yang membinasakan itu, yang dibicarakan oleh nabi Daniel, berdirilah di tempat kudus, (barangsiapa yang membaca, hendaklah ia mengerti).” (Matius 24 : 15). 

Yesus menyebut “yang sehari-hari” itu dan “tempat kesucian” itu, “tempat kudus”. Tidak ada satupun tempat kesucian Kapir yang akan disebut Tuhan dengan kata-kata “tempat kudus”; bahkan ia itu pun tidak pernah dapat dinajiskan, sebab ia itu memang selalu najis. Tidak ada satupun hari-hari kepunyaan Kapir yang dapat disebut suci. Oleh sebab itu, “yang sehari-hari” dan “tempat kesucian” itu harus memegang kebenaran sebagai yang terpenting bagi gereja Kristen, dan nabi itu menyatakan, bahwa ia itu “diinjak-injak di bawah telapak kaki”. Perkataan “korban” itu dalam hubungannya dengan “yang sehari-hari” itu telah diperlihatkan disisipkan oleh akal manusia, seperti yang dikemukakan terdahulu. Telah juga ditunjukkan, bahwa perkataan “yang sehari-hari” itu adalah benar. Oleh karena itu, maka ia itu tidak dapat ditambah dengan perkataan lain; itu harus tetap saja sebagaimana adanya.

Sementara Daniel mengamat-amati dengan seksama pemandangan itu di dalam khayal, maka katanya : “Kemudian aku dengar seorang suci berkata-kata, dan seorang suci yang lain mengatakan kepada orang suci yang berkata-kata itu, Berapa lamakah kelak khayal mengenai yang sehari-hari itu, dan pendurhakaan yang membinasakan itu, untuk memberikan kepada tempat kesucian dan tentara-tentara itu untuk diinjak-injak di bawah telapak kaki? Maka katanya kepadaku, Sampai dua ribu tiga ratus hari; kemudian tempat kesucian itu akan disucikan.” (Daniel 8 : 13, 14).

Periode nubuatan dari 2300 hari (tahun) itu, suatu kebenaran Alkitab yang terkenal, pertama sekali diajarkan oleh William Miller sebelum tahun 1844. Oleh sebab itu, maka kami tidak akan memberikan penjelasannya di sini. Cukuplah untuk dikatakan bahwa periode nubuatan yang panjang itu berakhir dalam tahun 1844. Pertanyaan yang dikemukakan oleh seorang yang suci, Berapa lamakah kelak khayal

“Dan tentara akan berdiri pada pihaknya, maka mereka akan menajiskan kekuatan tempat kesucian itu, dan mereka akan meniadakan yang sehari-hari itu, ..... dan mereka akan menempatkan kekejian yang membinasakan itu.” 

Ayat yang baru dikutip ini memperjelas pengertian bahwa baik “yang sehari-hari” itu maupun “tempat kesucian” itu harus merupakan sebagian dari kebenaran Allah. Pemikiran ini tidak mungkin salah diartikan tanpa merusak Injil. Perhatikanlah bahasa yang digunakan : “Maka mereka akan menajiskan kekuatan tempat kesucian itu dan mereka akan meniadakan “yang sehari-hari” itu. Sesudah menajiskan “tempat kesucian” itu dan menyingkirkan “yang sehari-hari” itu, kemudian dikatakan : “Mereka akan menempatkan kekejian yang membinasakan.” Itu artinya : “Tempat kesucian” itu dan “yang sehari-hari” itu diganti dengan kekejian. Kekejian itu harus merupakan sesuatu lembaga agama Kapir, dan bahwa ajaran Kapir itu (“kekejian”) yang akan membinasakan. Artinya, ia itu menghancurkan “tempat kesucian” itu, “yang sehari-hari” itu, dan “kebenaran” itu; atau seperti yang diucapkan di dalam Daniel 8 : 13 : “Diinjak-injak di bawah telapak kaki”. “Dan ia mencampakkan kebenaran itu ke tanah, dan dalam segala yang dibuatnya itu beruntunglah ia.” (Ayat 12). 

Berbicara mengenai peristiwa yang sama Yesus mengatakan : “Sebab itu, apabila kamu melihat kelak kekejian yang membinasakan itu, yang dibicarakan oleh nabi Daniel, berdirilah di tempat kudus, (barangsiapa yang membaca, hendaklah ia mengerti).” (Matius 24 : 15). 

Yesus menyebut “yang sehari-hari” itu dan “tempat kesucian” itu, “tempat kudus”. Tidak ada satupun tempat kesucian Kapir yang akan disebut Tuhan dengan kata-kata “tempat kudus”; bahkan ia itu pun tidak pernah dapat dinajiskan, sebab ia itu memang selalu najis. Tidak ada satupun hari-hari kepunyaan Kapir yang dapat disebut suci. Oleh sebab itu, “yang sehari-hari” dan “tempat kesucian” itu harus memegang kebenaran sebagai yang terpenting bagi gereja Kristen, dan nabi itu menyatakan, bahwa ia itu “diinjak-injak di bawah telapak kaki”. Perkataan “korban” itu dalam hubungannya dengan “yang sehari-hari” itu telah diperlihatkan disisipkan oleh akal manusia, seperti yang dikemukakan terdahulu. Telah juga ditunjukkan, bahwa perkataan “yang sehari-hari” itu adalah benar. Oleh karena itu, maka ia itu tidak dapat ditambah dengan perkataan lain; itu harus tetap saja sebagaimana adanya.

Sementara Daniel mengamat-amati dengan seksama pemandangan itu di dalam khayal, maka katanya : “Kemudian aku dengar seorang suci berkata-kata, dan seorang suci yang lain mengatakan kepada orang suci yang berkata-kata itu, Berapa lamakah kelak khayal mengenai yang sehari-hari itu, dan pendurhakaan yang membinasakan itu, untuk memberikan kepada tempat kesucian dan tentara-tentara itu untuk diinjak-injak di bawah telapak kaki? Maka katanya kepadaku, Sampai dua ribu tiga ratus hari; kemudian tempat kesucian itu akan disucikan.” (Daniel 8 : 13, 14).

Periode nubuatan dari 2300 hari (tahun) itu, suatu kebenaran Alkitab yang terkenal, pertama sekali diajarkan oleh William Miller sebelum tahun 1844. Oleh sebab itu, maka kami tidak akan memberikan penjelasannya di sini. Cukuplah untuk dikatakan bahwa periode nubuatan yang panjang itu berakhir dalam tahun 1844. Pertanyaan yang dikemukakan oleh seorang yang suci, Berapa lamakah kelak khayal

Kebenaran-kebenaran mengenai tempat kesucian dan Sabat dikembalikan ke tempatnya yang patut dalam tahun 1844. Tetapi permasalahan mengenai kapan kedua pokok doktrin yang suci ini “dibuang ke tanah”, atau “diinjak-injak di bawah telapak kaki”, masih harus dijawab. Malaikat itu dalam pembicaraannya kepada Daniel dalam kaitannya dengan waktu itu, mengatakan : “Maka semenjak dari saat yang sehari-hari itu kelak ditiadakan, dan kekejian yang membinasakan itu ditegakkan, akan terdapat seribu dua ratus sembilan puluh hari. Berbahagialah orang yang menanti-nanti, dan yang sampai kepada seribu tiga ratus tiga puluh lima hari itu.” (Daniel 12 : 11, 12). 

Dapatlah dicatat bahwa tidak ada satupun berkat dijanjikan pada akhir dari 1290 hari nubuatan (tahun) itu, tetapi ada suatu berkat istimewa dijanjikan kepada orang-orang yang menanti-nanti sampai kepada 1335 hari (tahun) itu digenapi. Oleh sebab itu, maka pada akhir dari 1335 tahun itu “Yang sehari-hari” itu (Sabat) akan dikembalikan, dan berkat ini adalah bagi mereka yang akan hidup semenjak dari waktu itu dan seterusnya, jika mereka mengerti dan mau menerima kebenarannya. 

Untuk menentukan masa nubuatan kapan Sabat Hari Ketujuh (“yang sehari-hari”), dan “kebenaran” (“tempat kesucian”) telah diinjak-injak di bawah telapak kaki, dan pemeliharaan Hari Minggu berikut keimamatan Kapirnya ditegakkan sebagai gantinya, maka kita perlu mengurangi 1335 tahun dari tahun 1844, sehingga kita akan dibawa ke belakang ke tahun 508 TM, (dihitung dengan kalender Ibrani). Dalam tahun itu “Yang sehari-hari” itu (kebenaran Sabat) dan Kebenaran mengenai “Tempat Kesucian” telah “dibuang ke tanah”, dan “Kekejian” (Hari Minggu) “telah ditegakkan”. 

Untuk dapat memahami kebenaran mengenai 1290 tahun (“hari-hari”) itu, tambahkanlah angka itu kepada 508, maka kita akan dibawa kepada tahun 1798 TM, saat mana 1260 hari nubuatan dari Daniel 7 : 25 berakhir dengan tertawannya Paus Pius VI. Demikianlah penindasan nubuatan terhadap “tentara-tentara” itu berakhir dalam tahun 1798, tetapi kebenaran “tempat kesucian” dan kebenaran mengenai “yang sehari-hari” itu belum lagi dipulihkan dan ditempatkan di dalam sidang sampai genap 1335 hari (tahun) itu dalam tahun 1844. Kenyataan yang tak dapat dibantah ini membuktikan, bahwa pergerakan yang timbul dalam tahun 1844 adalah sidang Allah yang benar, yang telah diramalkan secara Ilahi. Sebab itu, ini menjernihkan kekacauan yang luas yang ada di dalam dunia Kristen mengenai mana gereja yang memiliki kebenaran bagi zaman ini. Ini juga mengikis habis semua kepalsuan lainnya, karena adalah hanya satu pergerakan yang memiliki kebenaran mengenai tempat kesucian itu.

Karena kebenaran mengenai dua pokok doktrin yang tak terpisahkan itu telah dibuang dalam tahun 508 TM mendahului berdirinya kepausan, maka demikian itu pula tertawannya paus dalam tahun 1798 merupakan persiapan bagi kembalinya kebenaran-kebenaran Alkitab itu diajarkan secara bersama-sama, yaitu kebenaran Sabat dan kebenaran Tempat Kesucian. Tanggung jawab yang terletak pada kepausan bukannya karena pemeliharaan dari hari, melainkan sebaliknya, karena keinginannya untuk merubah hukum Allah, seperti yang ditunjukkan dalam Daniel 7 : 25 : “Merencanakan untuk merubah masa dan hukum.” Kepausan merencanakan untuk menghapus Sabat Hari Ketujuh

itu dari hukum yang kekal, lalu memasukkan hari yang pertama dari minggu sebagai penggantinya. 

BAGAIMANA GEREJA DIKAPIRKAN? 

Adalah raja-raja Romawi yang telah mengkapirkan gereja, dan karena orang-orang kapir selalu menyucikan Hari Minggu, maka Sabat telah disingkirkan sejauh yang berkaitan dengan penguasa-penguasa gereja, imam-imam dan raja-raja. Orang-orang kapir sama sekali tidak menghiraukan Sabat itu. Kepada mereka tidak diajarkan mengenai kesuciannya, dan orang-orang Kristen yang sedikit jumlahnya yang mencoba untuk tetap memeliharakan hari yang suci itu telah hilang di dalam rombongan besar orang banyak itu. Segera upacara-upacara Sabat itu merupakan suatu perkara masa lampau. Ini berhasil terlaksana dalam tahun 508 TM yang lalu. Perbuatan Iblis ini membuka jalan, lalu kepausan ditegakkan dalam tahun 538. Paus telah dibuat menjadi pemerintah yang mutlak, raja atas segala raja, dan pengoreksi terhadap semua penentang pahamnya, karena kekuasaan ilahinya itu. Rencana itu adalah bagi kekekalan ajaran-ajaran palsunya, dan untuk tetap mempertahankan kebenaran selama-lamanya di bawah kakinya. Inilah suatu perkara yang sangat misterius, bagaimana caranya musuh bebuyutan manusia itu berhasil menipu orang-orang yang berinteligensia tinggi. Ia memagari mereka itu sampai kepada kehancuran mereka sendiri. Demikianlah telah terjadi pada segala zaman.

Seperti yang dijelaskan terdahulu, Romawi pertama sekali menganiaya orang-orang Kristen. Tetapi setelah ular naga tua itu melihat bahwa aniaya itu tidak dapat meruntuhkan iman mereka, maka ia merubah rencananya, lalu dibuatkan suatu rencana jahat yang lebih licik untuk membinasakan sidang. Sebagaimana biasanya, ia bekerja melalui perantaraan hati manusia biasa, dengan menggunakan alat manusia untuk membawakan suatu penipuan yang tidak terlihat oleh mata orang berdosa.

“Gibbon’s Rome”, Jilid 2, halaman 273, 274, mengatakan : “Dengan beberapa keputusan toleransi, maka ia (Constantine) telah menyingkirkan segala halangan yang bersifat sementara yang sampai pada waktu itu telah memperlambat kemajuan Kekristenan; maka para pendetanya yang banyak dan giat itu memperoleh suatu ijin bebas, yaitu suatu dorongan yang tidak terikat, untuk mengemukakan kebenaran-kebenaran wahyu yang terpuji dengan setiap argumentasi yang dapat mempengaruhi akal dan kepatuhan manusia. Keseimbangan yang betul-betul seimbang di antara dua agama itu (Kristen dan Kapir) berlangsung hanya sementara. ..... Kota-kota yang telah menunjukkan suatu semangat kemauan yang maju oleh membinasakan secara sukarela semua kuil-kuil (milik kekapiran) mereka telah diberi hak-hak istimewa sebagai warga kota, serta dihadiahi dengan pemberian-pemberian yang terkenal ..... Keselamatan dari orang-orang biasa telah dibeli dengan harga yang mudah, jika itu benar, maka dalam setahun saja, dua belas ribu pria telah dibaptiskan di Roma, disamping sejumlah yang sama wanita dan anak-anak, dan bahwa sebuah pakaian putih berikut dua puluh keping emas telah dijanjikan oleh kaizar kepada setiap orang yang bertobat ..... Ini adalah sebuah undang-undang dari Constantine, yang menganugerahkan kemerdekaan kepada semua budak yang akan memeluk Kekristenan.”

Dengan cara inilah, Romawi telah mengkapirkan sidang, maka apa yang telah gagal dilakukan melalui aniaya, kini melalui hadiah-hadiah dan penghargaan-penghargaan berhasil diselesaikan. Karena

orang-orang Kristen yang menang itu terus mendesak maju melawan tembok aniaya yang tak terkalahkan itu yang ditunjang sendiri oleh Iblis, maka Iblis tiba-tiba menarik diri, membiarkannya rubuh. Demikian inilah, maka karena aniaya itu berhenti, maka ia itu membuat mereka seolah-olah jatuh oleh dorongannya sendiri. Demikianlah apa yang kuasa Setan gagal melaksanakan melalui aniaya, ia ternyata berhasil menyelesaikannya dengan cara mengundurkan diri tiba-tiba. Apabila ular naga yang tua itu melihat bahwa ia tidak berhasil meruntuhkan rumah kerohanian dengan jalan aniaya, maka ia kemudian merubah rencananya lalu menggunakan kekuatannya untuk meruntuhkan pondasi rasul-rasul itu melalui pemberian hadiah-hadiah dan berbagai dorongan kepada orang-orang kapir dengan kemurahan hati orang-orang Kristen. Karena orang-orang kapir berduyun-duyun menggabungkan diri dengan sidang, maka aliran kemurtadan berbalik menghantam orang-orang Kristen. Gantinya sidang mengkristenkan dunia, maka dunialah yang mengkapirkan sidang. Dengan jalan inilah orang-orang Kristen jatuh ke bawah kekuasaan dari “ular naga” itu dan karenanya mereka ditelan oleh kepala-kepalanya (dikapirkan). Tetapi karena Setan merencanakan untuk menjamin sepenuhnya maksudnya, maka ia kembali mengarahkan aniayanya terhadap orang-orang kapir, ia takut kalau-kalau semangat Kristen yang benar itu akan hidup kembali jika kedua sekte ini, yaitu Kristen dan Kapir tetap ada. 

Gibbon mengatakan : “Di bawah pemerintahannya (pemerintahan Athanasius) Kristen memperoleh suatu kemenangan yang mudah dan lama; maka segera setelah senyuman dari perlindungan raja ditarik, kecerdasan paham Kekapiran yang telah dibina dan dipelihara dengan sepenuh hati melalui kesenian-kesenian Julian, lalu tenggelam untuk seterusnya di dalam debu.” -- “Gibbon’s Rome”, Jilid 2, p. 521. 

“Suatu jabatan khusus telah diberikan kepada Cynegius, polisi Preatoria dari sebelah Timur, dan kemudian kepada Counts Jovius dan Gaudentius, dua perwira dari barisan yang terkenal di sebelah Barat; oleh mana mereka diarahkan untuk menutup kuil-kuil, merampas atau membinasakan peralatan-peralatan penyembahan berhala, menghapuskan hak-hak istimewa dari para imam, dan menyita harta benda yang suci bagi kepentingan kaizar, gereja, atau tentara ..... Banyak dari kuil-kuil itu adalah monumen-monumen arsitektur Yunani yang sangat indah dan cantik; dan kaizar sendiri lebih senang untuk tidak merusak keindahan dari kota-kotanya, ataupun mengurangi nilai-nilai dari harta miliknya sendiri ..... Di Syria, Marcellus yang menakjubkan dan hebat itu, sebagaimana ia diberi corak oleh Theodoret, seorang bishop yang hidup dengan semangat kerasulan Paus, telah memutuskan untuk meruntuhkan kuil-kuil yang megah ..... Tetapi pada waktu sebuah keputusan penghancuran terhadap dewa-dewa Alexandria diumumkan, maka orang-orang Kristen lalu mengeluarkan seruan kegembiraan dan penuh sukacita sementara orang-orang Kapir yang malang itu, yang amarahnya telah mereda menjadi ketakutan, mereka dengan cepat mundur secara diam-diam ….. Theophilus maju keluar membinasakan kuil Serapis, ….. lalu memuaskan dirinya sendiri dengan mengurangi gedung itu sendiri sampai menjadi sebuah timbunan sampah, sebagiannya tak lama kemudian dibersihkan, untuk mempersiapkan tempat bagi sebuah gereja, yang didirikan sebagai penghargaan terhadap para martir Kristen.” -- Sda., Jilid 3, halaman 140 – 146.

orang-orang Kristen yang menang itu terus mendesak maju melawan tembok aniaya yang tak terkalahkan itu yang ditunjang sendiri oleh Iblis, maka Iblis tiba-tiba menarik diri, membiarkannya rubuh. Demikian inilah, maka karena aniaya itu berhenti, maka ia itu membuat mereka seolah-olah jatuh oleh dorongannya sendiri. Demikianlah apa yang kuasa Setan gagal melaksanakan melalui aniaya, ia ternyata berhasil menyelesaikannya dengan cara mengundurkan diri tiba-tiba. Apabila ular naga yang tua itu melihat bahwa ia tidak berhasil meruntuhkan rumah kerohanian dengan jalan aniaya, maka ia kemudian merubah rencananya lalu menggunakan kekuatannya untuk meruntuhkan pondasi rasul-rasul itu melalui pemberian hadiah-hadiah dan berbagai dorongan kepada orang-orang kapir dengan kemurahan hati orang-orang Kristen. Karena orang-orang kapir berduyun-duyun menggabungkan diri dengan sidang, maka aliran kemurtadan berbalik menghantam orang-orang Kristen. Gantinya sidang mengkristenkan dunia, maka dunialah yang mengkapirkan sidang. Dengan jalan inilah orang-orang Kristen jatuh ke bawah kekuasaan dari “ular naga” itu dan karenanya mereka ditelan oleh kepala-kepalanya (dikapirkan). Tetapi karena Setan merencanakan untuk menjamin sepenuhnya maksudnya, maka ia kembali mengarahkan aniayanya terhadap orang-orang kapir, ia takut kalau-kalau semangat Kristen yang benar itu akan hidup kembali jika kedua sekte ini, yaitu Kristen dan Kapir tetap ada. 

Gibbon mengatakan : “Di bawah pemerintahannya (pemerintahan Athanasius) Kristen memperoleh suatu kemenangan yang mudah dan lama; maka segera setelah senyuman dari perlindungan raja ditarik, kecerdasan paham Kekapiran yang telah dibina dan dipelihara dengan sepenuh hati melalui kesenian-kesenian Julian, lalu tenggelam untuk seterusnya di dalam debu.” -- “Gibbon’s Rome”, Jilid 2, p. 521. 

“Suatu jabatan khusus telah diberikan kepada Cynegius, polisi Preatoria dari sebelah Timur, dan kemudian kepada Counts Jovius dan Gaudentius, dua perwira dari barisan yang terkenal di sebelah Barat; oleh mana mereka diarahkan untuk menutup kuil-kuil, merampas atau membinasakan peralatan-peralatan penyembahan berhala, menghapuskan hak-hak istimewa dari para imam, dan menyita harta benda yang suci bagi kepentingan kaizar, gereja, atau tentara ..... Banyak dari kuil-kuil itu adalah monumen-monumen arsitektur Yunani yang sangat indah dan cantik; dan kaizar sendiri lebih senang untuk tidak merusak keindahan dari kota-kotanya, ataupun mengurangi nilai-nilai dari harta miliknya sendiri ..... Di Syria, Marcellus yang menakjubkan dan hebat itu, sebagaimana ia diberi corak oleh Theodoret, seorang bishop yang hidup dengan semangat kerasulan Paus, telah memutuskan untuk meruntuhkan kuil-kuil yang megah ..... Tetapi pada waktu sebuah keputusan penghancuran terhadap dewa-dewa Alexandria diumumkan, maka orang-orang Kristen lalu mengeluarkan seruan kegembiraan dan penuh sukacita sementara orang-orang Kapir yang malang itu, yang amarahnya telah mereda menjadi ketakutan, mereka dengan cepat mundur secara diam-diam ….. Theophilus maju keluar membinasakan kuil Serapis, ….. lalu memuaskan dirinya sendiri dengan mengurangi gedung itu sendiri sampai menjadi sebuah timbunan sampah, sebagiannya tak lama kemudian dibersihkan, untuk mempersiapkan tempat bagi sebuah gereja, yang didirikan sebagai penghargaan terhadap para martir Kristen.” -- Sda., Jilid 3, halaman 140 – 146.

Demikianlah orang-orang Kapir telah menggabungkan diri dengan gereja Kristen melalui paksaan dan penyuapan dan bukan oleh pengakuan dosa, maka karena itulah Kristen telah membuka jalan kepada penyembahan berhala. Gibbon mengatakan : “Kedua agama secara bergantian telah dibuat malu oleh pemeluk-pemeluk agama baru yang tidak sepatutnya yang tampaknya terus bertambah, oleh orang-orang penggemar agama yang berpakaian ungu-ungu yang dapat ke sana ke mari tanpa alasan, tanpa malu, dari sidang ke kaabah, dan dari mezbah-mezbah Jupiter ke meja yang suci dari orang-orang Kristen.” -- Sda., Jilid 2, halaman 522. 

Sidang dalam kesuciannya, yang dipenuhi dengan roh lemah lembut dan kerendahan hati dari Yesus, berperang melawan penindasan dan kekejaman. Mereka berdoa bagi orang-orang yang hendak merampas nyawa mereka, dengan mengatakan, “Tuhan, ampunilah mereka, karena mereka tidak mengetahui apa yang mereka perbuat.” Seperti halnya Stephanus, mereka bertelut di bawah lemparan-lemparan batu yang berjatuhan, sambil memohon : “Tuhan, janganlah bebankan dosa ini atas mereka”. Tetapi orang-orang Kristen yang tadinya sangat bersemangat mempertahankan standard yang murni dari sidang, mereka telah memakai mahkota penguasa sipil, lalu memaksa orang-orang Kapir untuk bergabung ke dalam barisan mereka. 

Karena orang-orang Kapir dan orang-orang Kristen sudah bersatu, maka ular naga itu lalu menggunakan kekuatan dan kekuasaannya yang besar ke dalam kepausan. Melalui pemusatan kerajaan agama ini ia menghapus Sabat Hari Ketujuh itu dari hukum Allah, lalu pada tempatnya dimasukkannya Hari Minggu kekapiran itu. Pada titik inilah ia mengendalikan kekuasaannya melawan setiap ketidaksetiaan kepada semua tuntutan kepausan. Kekuasaan kepausan ini terus menyengsarakan umat kesucian dari Yang Maha Tinggi, seperti yang terdapat di dalam Daniel 7 : 25. Sebagaimana Shadrakh, Meshakh, dan Abednego di Babilon, dan Daniel di Medo-Persia, telah mencegah berdirinya pemerintahan agama, dan meniadakan keputusan raja, maka demikian itu pula Luther telah menghapuskan kerajaan kepausan itu, dan mengakhiri kekuasaan dari paus. Karena pukulan Luther telah melemahkan kekuasaannya, dan Protestantisme terus menggganggu lukanya, maka oleh tangan Berthier, paus lalu dimasukkan ke dalam penjara. 

BAGAIMANA PENYEMBAHAN BERHALA MERAYAP MASUK KE DALAM SIDANG 

Beberapa baris lagi dari tulisan Gibbon, yang menggambarkan bagaimana penyembahan berhala dan penyembahan orang suci merayap masuk ke dalam sidang Kristen : “Mayat-mayat dari St. Andreas, St. Lukas, dan St. Timotius, telah terbaring hampir tiga ratus tahun di dalam kubur-kubur yang gelap, dari sana mereka itu telah diangkut, dalam upacara besar yang hikmah, menuju ke gereja dari para rasul, yang telah didirikan oleh kebesaran Constantine pada kedua tepi sungai Thracian Bosphorus. Kira-kira lima puluh tahun kemudian, kedua tepi sungai yang sama ini telah dimuliakan oleh kehadiran Samuel, yaitu hakim dan nabi dari umat Israel. Abunya, yang tersimpan di dalam sebuah bokor emas, dan yang tertutup dengan sebuah kerudung sutera, telah dibagi-bagikan oleh para imam senior ke dalam tangan sesamanya ..... Dalam jangka panjang selama seribu dua ratus tahun, yang terbentang antara pemerintahan

yang sempurna untuk menyelamatkan sidang, jika diikuti dengan seksama. Ia tidak memerlukan bantuan manusia, Ia juga tidak dapat menerima alat-alat ciptaan manusia. 

“Karena aku membuktikan kepada setiap orang yang mendengarkan segala perkataan nubuatan dari kitab ini, Jika seseorang kelak menambah kepada segala perkara ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya celaka-celaka yang tertulis di dalam kitab ini; Dan jika seseorang kelak mengurangi dari segala perkataan dari kitab nubuatan ini, Allah akan menghapuskan bagiannya dari dalam kitab hayat, dan dari dalam kota suci, dan dari segala perkara yang tertulis di dalam kitab ini.” (Wahyu 22 : 18, 19). 

Gereja Romawi telah menggantikan kesederhanaan kebenaran dengan kepintaran manusia dan tradisi-tradisi manusia. Atau sebagaimana yang dikatakan oleh Daniel : “Suatu bala tentara (air bah Kekapiran) telah diserahkan kepadanya melawan yang sehari-hari itu karena alasan durhaka, maka ia itu membuang kebenaran ke tanah; dan segala yang dibuatnya itu, berbahagialah ia.” (Daniel 8 : 12). “Bala tentara” yang melawan “yang sehari-hari” itu ialah orang-orang Kapir yang tidak bertobat yang dimasukkan ke dalam sidang; oleh sebab itulah, “karena alasan durhaka”. Betapa bedanya dari metode yang digunakan oleh Yohanes Pembaptis! “Tetapi setelah ia melihat banyak dari orang-orang Farisi dan Saduki datang kepada baptisannya, maka katanya kepada mereka itu, Hai keturunan ular, siapakah yang telah mengamarkan kepadamu untuk lari dari murka yang akan datang? Oleh sebab itu keluarkanlah olehmu buah-buah yang sepadan bagi pertobatan.” (Matius 3 : 7, 8).

Adalah mungkin bermanfaat untuk bertanya : Adakah sidang pada waktu ini sedang meniru Yohanes atau orang-orang Romawi itu? Adakah anggota-anggotanya orang-orang Kristen atau orang-orang Kapir? Tuhan menugaskan kepada hamba-Nya untuk mengamarkan kepada Israel kuno yang lalu terhadap suatu praktik berbahaya yang sama. Firman-Nya : “Maka hendaklah kamu mengatakan kepada orang durhaka itu, yaitu isi rumah Israel, Demikianlah firman Tuhan Hua; hai isi rumah Israel, cukuplah sudah bagimu segala perbuatanmu yang keji itu, karena kamu telah membawa masuk ke dalam tempat kesucian-Ku orang-orang asing, yaitu orang-orang yang tidak bersunat hatinya, dan tiada bersunat tubuhnya, untuk tinggal di dalam tempat kesucian-Ku, mencemarkannya, yaitu rumah-Ku.” (Yehezkiel 44 : 6, 7).

Sesungguhnya, adakah orang-orang sedang bekerja bagi Allah atau bagi dirinya sendiri? Malaikat itu, dalam memberikan petunjuk kepada Daniel, menyebutkan Sabat itu dan kebenaran tempat suci itu, ”Kebenaran”. (Lihat Daniel 8 : 12). Benar, itu memang kebenaran. Dengan memeliharakan Sabat kita memuliakan Allah dengan cara mengakui hari peringatan kejadian dunia milik Kristus yang suci itu.

“Allah, yang pada berbagai masa dan dengan bermacam cara di masa lalu telah berbicara kepada segala nenek moyang kita oleh mulut nabi-nabi, Di zaman akhir ini telah berbicara kepada kita melalui Putera-Nya, yang telah ditetapkan-Nya sebagai waris dari segala perkara, oleh-Nya juga Ia telah menjadikan segala dunia.” (Ibrani 1 : 1, 2).

Karena dosa telah memasuki keluarga manusia, maka Tuhan telah mengadakan kebenaran tempat kesucian, yang secara contoh melukiskan pengorbanan-Nya, kematian-Nya, dan kebangkitan-Nya – yaitu wahyu dari hal penebusan kita. Demikianlah, dalam memeliharakan Sabat dan kebenaran tempat kesucian itu, kita secara terbuka mengakui bahwa

Constantine dan reformasi Luther, penyembahan kepada orang-orang suci dan benda-benda peninggalan telah merusak kesederhanaan yang murni dan sempurna dari cara peribadatan Kristen : dan beberapa gejala kemerosotannya dapat dilihat juga dalam generasi-generasi pertama yang menganut dan memelihara pembaharuan yang jahat ini. ..... Orang-orang Kristen seringkali mendatangi kubur-kubur dari para martir, dengan harapan untuk memperoleh dari tugas perantara mereka yang kuat itu, setiap jenis berkat rohani, tetapi teristimewa berkat-berkat kebutuhan sekarang. Mereka memohon dengan sangat akan terpeliharanya kesehatan mereka, atau akan penyembuhan segala kelemahan mereka; kesuburan bagi isteri-isteri mereka yang mandul, atau keselamatan dan kebahagiaan bagi anak-anaknya.” -- Sda., Jilid 3, halaman 156, 157, 162. 

Kedua kelas orang-orang itu secara tidak sepatutnya dianjurkan, supaya orang-orang Kristen melupakan saja roh dari Injil, dan orang-orang Kapir supaya menghayati roh dari gereja. Ajaran agama yang luhur dan sederhana dari orang-orang Kristen primitif yang dahulu secara berangsur-angsur dikacaukan. Kekuatan Setan diperhambat. Walaupun ia tidak dapat mengalahkan operasi-operasi dari para penggerak Kristen dengan cara aniaya, namun ia berhasil dengan cara tipu. 

Karena aniaya yang tidak adil melawan orang-orang Kristen itu telah berhenti, maka sidang menempuh langkah menurun. Sungguh pun ada sebagian kecil orang-orang yang menghormati kesucian Sabat itu, mereka tidak diganggu sampai setelah kerajaan agama itu didirikan dalam tahun 538. Ular naga itu telah memutuskan dengan seksama untuk tetap mempertahankan kelangsungan agama nasional kombinasi itu, yaitu Kristen dalam nama tetapi Kapir dalam perbuatan. Setan bermaksud untuk menegakkan kepausan itu, dan “menyengsarakan orang-orang suci dari Yang Maha Tinggi”. Aniaya itu, pertama-tama terhadap sidang Kristen yang mula-mula, dan kedua, terhadap kekapiran dengan persetujuan Kristen, telah dibalik di bawah pemerintahan kepausan. Orang-orang Kristen yang sedikit jumlahnya itu yang menjunjung tinggi Sabat Hari Ketujuh, dalam beberapa hal telah dikejar-kejar bagaikan kelinci, dan telah dituntut dari mereka kepatuhan yang sungguh-sungguh kepada agama yang sah dari kepausan walaupun bukan agama Kristen.

Kembali kepada judul pembicaraan kita, -- “Tanduk yang sangat besar itu.” Romawi dalam keadaannya yang terbagi-bagi telah membuang kebenaran itu dan menginjak-injaknya. Tetapi ia itu tidak selesai dalam suatu cara tiba-tiba atau yang sewenang-wenang. Pemeliharaan Hari Minggu yang berangsur-angsur merayap masuk ke dalam sidang Kristen. Pada mulanya jam-jam paginya dianggap agak suci, sebab Tuhan telah bangkit pagi-pagi sekali pada hari itu. Setelah ia itu menjadi umum, maka lebih banyak lagi kesucian dikaitkan kepadanya, sehingga jam-jam itu dilanjutkan lagi sampai siang hari. Akhirnya, keseluruhan hari itu dipisahkan tersendiri sebagai suatu hari perbaktian.

Sementara Hari Minggu terus berkembang menjadi makin suci, maka Sabat Hari Ketujuh terus merosot, dan makin menjadi kurang suci. Di sinilah kita saksikan suatu contoh yang harus ditandai dengan seksama oleh semua orang Kristen. Menambah sesuatu kepada agama Kristus, walaupun ia itu secara lahiriah mungkin terlihat baik, akan kelak berakhir dengan suatu racun yang mematikan dari bawah. Allah kita telah merencanakan membuat suatu agama

Kristus ialah Pencipta dan Penebus. “Oleh sebab itu Anak Manusia ialah juga Tuhan atas Hari Sabat itu.” (Markus 2 : 28).

Alkitab ialah wahyu dari hal kejadian dunia dan penebusan dalam Kristus -- yaitu Pencipta dan Penebus. Oleh sebab itu, maka Sabat dan Tempat Kesucian membentuk “Kebenaran Itu”. (Lihat Ibrani 9 : 10; 4 : 4 – 10). Demikianlah kedua pokok doktrin ini merupakan pasangan, yang tidak dapat dipisahkan, dan keduanya mengandung keseluruhan kebenaran.

Bagaimanakah caranya kita memeliharakan kebenaran Tempat Kesucian itu? Ia itu dipelihara, bukan dalam contohnya, melainkan dalam contoh saingannya. Oleh iman kita percaya bahwa Kristus, Imam Besar kita itu, sedang bertugas membela kita di dalam tempat kesucian yang di dalam surga, sebagaimana telah diajarkan dalam contoh melalui tempat kesucian di bumi, yang dibangun oleh Musa. Sebagaimana Israel telah mengikuti semua persyaratan pelayanannya dalam contoh, maka demikian pula kita harus mengikutinya dalam contoh saingannya. Dengan demikian kita “memberitakan kebenaran (Sabat dan Tempat Kesucian) itu dengan lebih sempurna.” 

RINGKASAN

TANDUK ITU “MEMIKUL PEMERINTAHAN ATAS SELURUH BUMI”

Untuk sepenuhnya dapat memahami apa yang sedang diajarkan di dalam Bab ini, maka kami kembali mengundang perhatian kepada gambar bagan yang terdapat pada halaman 128, bahasa Inggris. Sekarang marilah kita ikuti bagan itu bersama-sama dengan bacaannya. Dalam penyelidikan sebelumnya telah terbukti, bahwa “tanduk yang sangat besar” dari “kambing jantan” itu tidak hanya melambangkan kekaizaran Romawi saja, melainkan juga kepausan Romawi, dan dunia yang ada sekarang; karena “tanduk” itu pertama sekali menganiaya Kristus dan pengikut-pengikut-Nya di bawah kekuasaan hukum kerajaan Romawi. Kebenaran yang diungkapkan oleh “Yang Sehari-hari” dan “Tempat Kesucian” itu telah diinjak-injak “karena alasan pendurhakaan” dalam masa periode Romawi yang terbagi-bagi sampai kepada tahun 508 TM; sebab pemerintahan kekaizaran itu berakhir dalam tahun 476. Lebih jauh, kuasa kepausan itu “menginjak-injak” kebenaran Allah di tanah sampai kepada akhir dari nubuatan 1260 tahun itu, dan berakhir dengan dipenjarakannya paus dalam tahun 1798. Tetapi “Tempat Kesucian” dan “Yang Sehari-hari” itu telah dihempaskan ke tanah oleh “Tanduk Besar” itu sampai tahun 1844. Pada waktu itulah ia kehilangan pengawasan atas mereka, maka kuasa dari “Pekabaran-Pekabaran Tiga Malaikat” mengangkat kebenaran itu dari tanah, atau dari “bawah telapak kaki” lalu menempatkannya di dalam sidang. Oleh sebab itu, “Tanduk Besar” itu adalah simbol dari keseluruhan periode Wasiat Baru sampai kepada kedatangan Kristus yang kedua kali -- sama hubungannya dengan kaki-kaki yang dari besi, dan telapak-telapak kaki dan jari-jari kaki dari patung besar Daniel pasal 2.

Semuanya ini adalah kenyataan-kenyataan yang tidak dapat dibantah. Tetapi, ada lagi suatu bukti lain yang memuat kenyataan yang sama. Kata nabi itu : “Maka sesudah tuanku (raja Babil) akan bangkit sebuah kerajaan yang lain yang lebih rendah daripada tuanku, dan sebuah kerajaan lain yang ketiga yang dari tembaga, yang akan memikul pemerintahan atas seluruh bumi.” (Daniel 2 : 39).

Kerajaan “tembaga” itu adalah diterima sebagai lambang Yunani, tetapi

yang sempurna untuk menyelamatkan sidang, jika diikuti dengan seksama. Ia tidak memerlukan bantuan manusia, Ia juga tidak dapat menerima alat-alat ciptaan manusia. 

“Karena aku membuktikan kepada setiap orang yang mendengarkan segala perkataan nubuatan dari kitab ini, Jika seseorang kelak menambah kepada segala perkara ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya celaka-celaka yang tertulis di dalam kitab ini; Dan jika seseorang kelak mengurangi dari segala perkataan dari kitab nubuatan ini, Allah akan menghapuskan bagiannya dari dalam kitab hayat, dan dari dalam kota suci, dan dari segala perkara yang tertulis di dalam kitab ini.” (Wahyu 22 : 18, 19). 

Gereja Romawi telah menggantikan kesederhanaan kebenaran dengan kepintaran manusia dan tradisi-tradisi manusia. Atau sebagaimana yang dikatakan oleh Daniel : “Suatu bala tentara (air bah Kekapiran) telah diserahkan kepadanya melawan yang sehari-hari itu karena alasan durhaka, maka ia itu membuang kebenaran ke tanah; dan segala yang dibuatnya itu, berbahagialah ia.” (Daniel 8 : 12). “Bala tentara” yang melawan “yang sehari-hari” itu ialah orang-orang Kapir yang tidak bertobat yang dimasukkan ke dalam sidang; oleh sebab itulah, “karena alasan durhaka”. Betapa bedanya dari metode yang digunakan oleh Yohanes Pembaptis! “Tetapi setelah ia melihat banyak dari orang-orang Farisi dan Saduki datang kepada baptisannya, maka katanya kepada mereka itu, Hai keturunan ular, siapakah yang telah mengamarkan kepadamu untuk lari dari murka yang akan datang? Oleh sebab itu keluarkanlah olehmu buah-buah yang sepadan bagi pertobatan.” (Matius 3 : 7, 8).

Adalah mungkin bermanfaat untuk bertanya : Adakah sidang pada waktu ini sedang meniru Yohanes atau orang-orang Romawi itu? Adakah anggota-anggotanya orang-orang Kristen atau orang-orang Kapir? Tuhan menugaskan kepada hamba-Nya untuk mengamarkan kepada Israel kuno yang lalu terhadap suatu praktik berbahaya yang sama. Firman-Nya : “Maka hendaklah kamu mengatakan kepada orang durhaka itu, yaitu isi rumah Israel, Demikianlah firman Tuhan Hua; hai isi rumah Israel, cukuplah sudah bagimu segala perbuatanmu yang keji itu, karena kamu telah membawa masuk ke dalam tempat kesucian-Ku orang-orang asing, yaitu orang-orang yang tidak bersunat hatinya, dan tiada bersunat tubuhnya, untuk tinggal di dalam tempat kesucian-Ku, mencemarkannya, yaitu rumah-Ku.” (Yehezkiel 44 : 6, 7).

Sesungguhnya, adakah orang-orang sedang bekerja bagi Allah atau bagi dirinya sendiri? Malaikat itu, dalam memberikan petunjuk kepada Daniel, menyebutkan Sabat itu dan kebenaran tempat suci itu, ”Kebenaran”. (Lihat Daniel 8 : 12). Benar, itu memang kebenaran. Dengan memeliharakan Sabat kita memuliakan Allah dengan cara mengakui hari peringatan kejadian dunia milik Kristus yang suci itu.

“Allah, yang pada berbagai masa dan dengan bermacam cara di masa lalu telah berbicara kepada segala nenek moyang kita oleh mulut nabi-nabi, Di zaman akhir ini telah berbicara kepada kita melalui Putera-Nya, yang telah ditetapkan-Nya sebagai waris dari segala perkara, oleh-Nya juga Ia telah menjadikan segala dunia.” (Ibrani 1 : 1, 2).

Karena dosa telah memasuki keluarga manusia, maka Tuhan telah mengadakan kebenaran tempat kesucian, yang secara contoh melukiskan pengorbanan-Nya, kematian-Nya, dan kebangkitan-Nya – yaitu wahyu dari hal penebusan kita. Demikianlah, dalam memeliharakan Sabat dan kebenaran tempat kesucian itu, kita secara terbuka mengakui bahwa

Kristus ialah Pencipta dan Penebus. “Oleh sebab itu Anak Manusia ialah juga Tuhan atas Hari Sabat itu.” (Markus 2 : 28).

Alkitab ialah wahyu dari hal kejadian dunia dan penebusan dalam Kristus -- yaitu Pencipta dan Penebus. Oleh sebab itu, maka Sabat dan Tempat Kesucian membentuk “Kebenaran Itu”. (Lihat Ibrani 9 : 10; 4 : 4 – 10). Demikianlah kedua pokok doktrin ini merupakan pasangan, yang tidak dapat dipisahkan, dan keduanya mengandung keseluruhan kebenaran.

Bagaimanakah caranya kita memeliharakan kebenaran Tempat Kesucian itu? Ia itu dipelihara, bukan dalam contohnya, melainkan dalam contoh saingannya. Oleh iman kita percaya bahwa Kristus, Imam Besar kita itu, sedang bertugas membela kita di dalam tempat kesucian yang di dalam surga, sebagaimana telah diajarkan dalam contoh melalui tempat kesucian di bumi, yang dibangun oleh Musa. Sebagaimana Israel telah mengikuti semua persyaratan pelayanannya dalam contoh, maka demikian pula kita harus mengikutinya dalam contoh saingannya. Dengan demikian kita “memberitakan kebenaran (Sabat dan Tempat Kesucian) itu dengan lebih sempurna.” 

RINGKASAN

TANDUK ITU “MEMIKUL PEMERINTAHAN ATAS SELURUH BUMI”

Untuk sepenuhnya dapat memahami apa yang sedang diajarkan di dalam Bab ini, maka kami kembali mengundang perhatian kepada gambar bagan yang terdapat pada halaman 128, bahasa Inggris. Sekarang marilah kita ikuti bagan itu bersama-sama dengan bacaannya. Dalam penyelidikan sebelumnya telah terbukti, bahwa “tanduk yang sangat besar” dari “kambing jantan” itu tidak hanya melambangkan kekaizaran Romawi saja, melainkan juga kepausan Romawi, dan dunia yang ada sekarang; karena “tanduk” itu pertama sekali menganiaya Kristus dan pengikut-pengikut-Nya di bawah kekuasaan hukum kerajaan Romawi. Kebenaran yang diungkapkan oleh “Yang Sehari-hari” dan “Tempat Kesucian” itu telah diinjak-injak “karena alasan pendurhakaan” dalam masa periode Romawi yang terbagi-bagi sampai kepada tahun 508 TM; sebab pemerintahan kekaizaran itu berakhir dalam tahun 476. Lebih jauh, kuasa kepausan itu “menginjak-injak” kebenaran Allah di tanah sampai kepada akhir dari nubuatan 1260 tahun itu, dan berakhir dengan dipenjarakannya paus dalam tahun 1798. Tetapi “Tempat Kesucian” dan “Yang Sehari-hari” itu telah dihempaskan ke tanah oleh “Tanduk Besar” itu sampai tahun 1844. Pada waktu itulah ia kehilangan pengawasan atas mereka, maka kuasa dari “Pekabaran-Pekabaran Tiga Malaikat” mengangkat kebenaran itu dari tanah, atau dari “bawah telapak kaki” lalu menempatkannya di dalam sidang. Oleh sebab itu, “Tanduk Besar” itu adalah simbol dari keseluruhan periode Wasiat Baru sampai kepada kedatangan Kristus yang kedua kali -- sama hubungannya dengan kaki-kaki yang dari besi, dan telapak-telapak kaki dan jari-jari kaki dari patung besar Daniel pasal 2.

Semuanya ini adalah kenyataan-kenyataan yang tidak dapat dibantah. Tetapi, ada lagi suatu bukti lain yang memuat kenyataan yang sama. Kata nabi itu : “Maka sesudah tuanku (raja Babil) akan bangkit sebuah kerajaan yang lain yang lebih rendah daripada tuanku, dan sebuah kerajaan lain yang ketiga yang dari tembaga, yang akan memikul pemerintahan atas seluruh bumi.” (Daniel 2 : 39).

Kerajaan “tembaga” itu adalah diterima sebagai lambang Yunani, tetapi

kenyataannya adalah bahwa Yunani tidak pernah memikul pemerintahan atas seluruh bumi. Titik penjuru bumi yang terjauh yang berhasil dicapai oleh Alexander Agung ialah sebagian dari India. Kekaizaran Romawi pun tidak pernah memerintah atas seluruh bumi. Jadi bagaimana? Mungkinkah Daniel keliru dalam menginterpretasikan mimpinya? Jika sekiranya terdapat sesuatu kekeliruan, maka Daniel tidak dapat dipersalahkan. Tanggung jawab itu dengan sendirinya terletak pada Allah yang adalah pengawas dari semua tulisan, dan semua hasil interpretasi dari Alkitab. Kalau saja Daniel telah membuat kekeliruan, maka adalah kewajiban Tuhan Allah sendiri untuk mengendalikan dia memperbaikinya. Tetapi karena Allah adalah sempurna dalam semua pekerjaan-Nya, maka Ia tak mungkin membiarkan adanya kekeliruan terdapat di dalam Firman-Nya yang Suci. Daniel adalah benar dalam interpretasinya dan kerajaan “tembaga” itu harus memikul pemerintahan atas seluruh bumi, karena segala-galanya yang lain mungkin saja gagal, tetapi Firman Allah akan tetap berdiri selama-lamanya. 

Ketika tanduk yang terkenal dari kambing jantan yang terletak di antara kedua matanya itu (Alexander) patah, maka empat tanduk lainnya telah muncul keluar menggantikannya (yaitu empat bagian dari Yunani). Kemudian daripada ini sepucuk tanduk kecil yang lain muncul keluar dari salah satu dari keempat tanduk itu, maka ia itu bertumbuh menjadi sangat besar, arah ke selatan, dan arah ke timur, dan arah ke tanah yang permai itu. (Daniel 8 : 9). Perhatikanlah bahwa tanduk ini bertumbuh menjadi sangat besar. Artinya ia adalah lebih besar daripada tanduk yang terdapat “di antara kedua matanya itu” (Alexander). Tanduk yang sangat besar ini menuju arah ke selatan, dan arah ke timur, dan arah ke tanah yang permai itu (Yerusalem) seperti yang terdapat di dalam Mazmur 106 : 24 dan Zakharia 7 : 14. Secara geografis, Babil, dimana Daniel memperoleh khayalnya itu, adalah terletak di sebelah timur dari Yerusalem. Dengan demikian, maka dalam khayal itu “kambing jantan” itu berdiri di Babil. Untuk membuat lingkaran itu, maka tanduk itu dengan sendirinya telah pergi arah keempat penjuru mata angin, atau, seperti yang dikatakan Daniel, yaitu “arah ke selatan, dan arah ke timur, dan arah ke tanah yang permai itu.” Simbol itu menunjukkan bahwa tanduk yang sangat besar itu akan memperluas kerajaannya meliputi seluruh bumi -- empat penjuru mata angin. Kenyataannya adalah, bahwa tanduk itu melambangkan Romawi dalam tiga tahap pembagiannya -- yaitu Kekaizaran Romawi, Romawi Kepausan, dan dunia yang tidak stabil sekarang ini. 

Alkitab adalah benar dalam membuat penegasannya mengenai kerajaan tembaga itu, “bahwa ia itu akan memikul pemerintahan atas seluruh bumi”, karena tembaga itu melambangkan “kambing jantan” itu. Demikianlah nabi itu menegaskan : “Bahwa seekor kambing jantan telah keluar dari sebelah barat pada permukaan seluruh bumi.” (Daniel 8 : 5). 

Kalau saja Daniel telah mengatakan dari hal binatang yang tak tergambarkan itu, yaitu simbol dari kekaizaran Romawi, dan Romawi Kepausan, bahwa ia akan memikul pemerintahan atas seluruh bumi, maka pernyataannya ini akan terbukti tidak benar. Binatang yang tak tergambarkan itu, pada tahap pertamanya, adalah melambangkan kekaizaran Romawi, dan pada tahap keduanya, melambangkan Romawi Kepausan sampai tahun 1798, pada waktu mana binatang itu menemui ajalnya bersamaan dengan tertawannya Paus Pius VI, lalu tempatnya diteruskan oleh “binatang yang menyerupai macan tutul” dari Wahyu 13 : 1 – 3.

Perhatikanlah betapa tepatnya ilham. Kalau saja nabi itu telah mengatakan, bahwa “kerajaan besi itu akan memikul pemerintahan atas seluruh bumi”, maka itu sudah akan benar sejauh mana besi memerintah, tetapi penegasan yang sedemikian ini sudah akan menodai pelajaran yang indah ini yang diajarkan oleh kambing jantan simbolis itu. Apa yang benar dengan besi dan tanah liat, juga benar dengan kambing jantan itu; maka yang satu sejalan dengan yang lainnya.

Tanduk itu meliputi waktu sampai melampaui tahun 1798, dan sampai kepada kedatangan Kristus yang kedua kali, sejalan dengan besi (kaki-kaki, telapak-telapak kaki dan jari-jari kaki) dari patung besar dalam Daniel 2. Dari hal “tanduk” itu kita baca, “Ia itu akan patah tanpa pertolongan tangan”. (Daniel 8 : 25). Kata-kata yang sama ini juga digunakan terhadap kaki-kaki dan jari-jari kaki dari patung besar dalam Daniel 2 : 45. “Pada zaman raja-raja ini”, demikian Daniel tegaskan, “Allah di surga akan mendirikan sebuah kerajaan yang tidak pernah akan binasa.” (Daniel 2 : 44). Oleh sebab itu, peradaban yang ada sekarang ialah hasil dari kambing jantan itu, atau kerajaan tembaga. Kalau saja Ilham telah mengatakan kerajaan besi akan memikul pemerintahan atas seluruh bumi, maka ia itu sudah akan menodai gambaran itu, sebab emas, perak dan tembaga (sejarah Wasiat Lama) itu berdiri di atas kaki-kaki yang dari besi (sejarah Wasiat Baru). Dengan demikian simbol itu membuktikan, bahwa periode Wasiat Lama berdiri di atas sejarah Kristen (Kristus); dan periode Wasiat Baru mendapat makanan dari sejarah Wasiat Lama.

Tubuh dari patung besar, menggambarkan suatu mahluk hidup yang berisikan semua organ hidup, sejalan dengan Alkitab, sebab Wasiat Lama itu adalah rumah perbendaharaan Firman Allah yang besar, maka Wasiat Baru mendapat makanan dari Wasiat Lama. Dalam sejarah Wasiat Lama Tuhan telah menghimpunkan Firman Allah itu ke dalam Alkitab untuk memberi makan kepada dunia dalam sejarah Wasiat Baru. Wasiat Baru adalah kegenapan dari Wasiat Lama. Firman Allah mengeja kesempurnaan dalam berbagai cara. 

SABAT ITU “DIINJAK-INJAK” HANYA SEKALI 

Kami sekali lagi meminta perhatian anda kepada “perempuan itu” (sidang) dari Wahyu pasal 12, dimana kepada kita dikatakan bahwa kepadanya telah dikaruniakan “Dua buah sayap dari burung garuda yang besar supaya ia dapat terbang ke dalam padang belantara ..... bahwa mereka akan memberi makan kepadanya di sana seribu dua ratus enam puluh hari lamanya.” (Ayat 14, 6). Karena sayap-sayap dari singa (Babil) dan macan tutul berkepala empat itu (empat bagian kerajaan Yunani), (Daniel 7 : 4, 6) melambangkan periode-periode sejarah dunia, (lihat halaman 33 – 42, bahasa Inggris), maka demikian itu pula sayap-sayap dari perempuan itu juga harus melambangkan dua periode sejarah sidang yang besar. Burung garuda merupakan raja dari burung-burung, sayap-sayapnya harus melambangkan yang terutama, kepala atau yang pertama. Oleh sebab itu, masing-masing sayap harus merupakan simbol dari salah satu dari dua periode besar ini semenjak dari permulaannya. 

Kalau saja Ilham tidak menekankan kepada kenyataan bahwa sayap-sayap itu adalah dari seekor burung garuda yang besar, maka kita mungkin dapat menyimpulkan bahwa salah satu dari padanya mungkin melambangkan periode Wasiat Lama, dan yang lainnya untuk sejarah

Kristen. Tetapi perkataan, besar, tidak memperbolehkan penyimpulan-penyimpulan sedemikian ini. Jadi, salah satu dari sayap-sayap itu harus melambangkan sejarah sidang semenjak dari kejadian dunia sampai kepada penyaliban Kristus, dan yang lainnya itu dari semenjak kebangkitan Kristus sampai kepada akhir sejarah dunia ini. Di sini, juga, adalah mungkin bagi kita untuk menyimpulkan, bahwa sayap yang satu dapat saja melambangkan periode sejarah sebelum Alkitab muncul, dan sayap yang lainnya itu melambangkan periode sejarah Alkitab sesudah eksodus. Tetapi kata-kata dari Pewahyu mengabaikan pendapat yang sedemikian itu, karena katanya : “Maka kepada perempuan itu telah dikaruniakan dua sayap dari seekor burung garuda yang besar, supaya ia dapat terbang ke dalam padang belantara, yaitu ke tempatnya, dimana di sana ia akan dipelihara selama satu masa, dua masa dan setengah masa, jauh dari hadapan ular itu.” (Wahyu 12 : 14). Oleh sebab itu, maka kepadanya diberikan sayap-sayap itu untuk terbang ke dalam padang belantara dalam sejarah Wasiat Baru.

Simbol itu mengungkapkan, bahwa Allah memiliki hanya sebuah sidang (kebenaran) dalam segala zaman, dan bahwa salib Kristus adalah satu-satunya pusat perhatian. Pelajaran itu mengajarkan, bahwa sidang Allah melarikan diri ke dalam padang belantara hanya sekali dalam keseluruhan sejarahnya, dan itu terjadi sejak tahun 538 sampai tahun 1798 Tarik Masehi. Selama masa periode ini kebenaran-kebenaran mengenai Sabat dan Tempat Kesucian itu telah “dibuang ke tanah”, atau “diinjak-injak”. Oleh sebab itu, maka kelanjutan dari kebenaran-kebenaran ini belum pernah sebelum tahun 538 dihalangi oleh kepemimpinan sidang. Walaupun kebenaran-kebenaran Ilahi ini mungkin tidak selalu dipatuhi oleh para anggota atau para pemimpin di dalam sidang, namun kebenaran-kebenaran ini tetap ada bagi mereka yang memerlukannya. Demikianlah, kebenaran Allah yang kekal telah dapat dipelihara oleh umat-Nya, secara terbuka, sepanjang segala zaman terkecuali dalam masa periode di bawah pemerintahan kepausan.

Kembali perhatikan, bahwa kebenaran itu telah dibuang, dan “perempuan” itu (sidang) telah melarikan diri ke dalam padang belantara. Ilham mengatakan : “Allah menyediakan suatu tempat baginya, supaya mereka kelak memberi makan kepadanya di sana”. (Lihat ayat 6, 14). Dengan begitu, maka sementara kebenaran “dibuang” oleh kepemimpinan sidang dalam masa periode itu, dan sementara “kekejian ditegakkan”, Allah memiliki sebagian orang yang tidak kelihatan yang tetap memeliharakan Sabat itu dan memiliki pengetahuan tentang kebenaran Tempat Kesucian itu sepanjang keseluruhan 1260 tahun perjalanan di padang belantara. Dengan demikian ia telah dipeliharakan (diberi makan), yang mengungkapkan bahwa ia kelak akan kembali. 

PERBAKTIAN RANGKAP DUA SEPANJANG ZAMAN 

Oleh memperhatikan gambar bagan itu, maka sejarah tentang pemeliharaan Sabat dan Hari Minggu, atau perbaktian yang benar dan palsu itu, akan dapat dicatat. Pada mula pertama Tuhan menciptakan Adam dan Hawa, lalu menempatkan pasangan yang suci itu di dalam taman Allah, tetapi para leluhur kita yang pertama itu telah mendurhaka melawan petunjuk dari Yang Maha Tinggi, sehingga dosa telah masuk ke dalam tempat kediaman Eden itu. Untuk tetap mempertahankan rencana-Nya yang semula bagi keluarga manusia, maka Tuhan terpaksa menyingkirkan para leluhur kita itu keluar dari tempat tinggal Eden mereka. Bagi mereka telah  lahir anak-anak laki-laki dan perempuan; lihat Kejadian 5 : 4. Kedua puteranya yang pertama telah dibawa kepada perhatian kita oleh Alkitab dalam

suatu perbedaan yang sangat menyolok, dan seorangnya yang seharusnya diperhatikan dengan seksama oleh setiap orang yang mengaku beragama. 

Pengorbanan dan peribadatan dari kedua anak yang pertama itu di dalam keluarga manusia, mengungkapkan bahwa Juruselamat dunia telah memberitahu rencana keselamatan Ilahi kepada keluarga Adam. Cara peribadatan mereka yang diciptakan oleh Khalik Sendiri, adalah sempurna, dan mampu untuk menyelamatkan orang berdosa dari dosanya. Kepatuhan beragama yang sungguh-sungguh dari Habil, yang sesuai dengan petunjuk dari Allah yang disembahnya, menunjukkan bahwa hanya peribadatan yang sedemikian, yaitu hormat dan pujian, yang dapat berkenan kepada Allah. Kain tidak menghiraukan perintah, sehingga dengan mempersembahkan barang yang tidak diminta oleh Allah, ia telah memulai mendirikan agama ciptaannya sendiri. Karena ia tak lama kemudian telah membunuh saudaranya maka ini hendaklah menjadi suatu contoh pelajaran bagi semua orang : bahwa sesuatu peribadatan yang sesuai dengan kecenderungan hati manusia, betapapun baik dan suci tampaknya sekalipun, ia itu tidak dapat menyucikan dan menyelamatkan penganutnya. Bahkan sebaliknya ia akan jatuh lebih dalam lagi dalam dosa dan akhirnya kebinasaan. Barangsiapa yang cenderung untuk menganiaya orang-orang yang tidak beribadah seperti mereka, ialah orang yang sedang menyembah sujud bersama-sama dengan Kain pada mezbah yang dibuat dari batu bata. Mezbah-mezbah yang sedemikian ini adalah buatan tangan manusia yang telah merubah bentuknya daripada yang aslinya; dan walaupun jauh lebih menarik daripada mezbah batu kelihatannya, tidak akan terdapat kuasa penyucian di dalamnya, dan peribadatan mereka itu adalah seperti racun yang mematikan. Kenyataannya tidak dapat dibantah bahwa kedua bentuk peribadatan itu (yang benar dan yang palsu) telah diperkenalkan pada kira-kira bersamaan waktunya, dan telah berjalan bersama-sama. Keduanya tampaknya suci dan telah diatur kira-kira dengan cara yang sama, dengan perbedaannya bahwa yang satu adalah sesuai dengan kitab dan hukum Allah, sedangkan yang lainnya tidak. 

Kedua garis jejak pada gambar itu, pada pihak Habil, adalah melambangkan kebenaran Allah yang kekal, yaitu Sabat dan Tempat Kesucian. Sabat itu berasal dari taman Allah. “Dan pada hari yang ketujuh Allah mengakhiri pekerjaan-Nya yang telah diperbuat-Nya; dan berhentilah Ia pada hari yang ketujuh itu dari segala pekerjaan-Nya yang telah diperbuat-Nya. Lalu diberkati Allah akan hari yang ketujuh itu dan disucikan-Nya dia : sebab di dalam Sabat Ia telah berhenti dari semua pekerjaan-Nya yang Allah ciptakan dan perbuat.” (Kejadian 2 : 2, 3). 

Karena dosa, maka kebenaran tentang tempat kesucian itu telah dipertambahkan sesudah kejatuhan Adam. Kedua kebenaran itu adalah sangat penting. Kita memelihara Sabat untuk menghindari dosa, tetapi kebenaran Tempat Kesucian itu adalah untuk menyelamatkan kita setelah kita berdosa. Yang satu adalah untuk memeliharakan kita dari kejatuhan, dan yang lainnya adalah untuk mengobati jika kita jatuh! Jika, setelah menerima pengetahuan dari hal kebenaran itu, kita melanggar Sabat, maka kita telah berdosa dan telah menyangkal Khalik, yang jauh lebih buruk daripada dosanya Adam. Karena tidak menyesuaikan diri dengan kebenaran Tempat Kesucian itu, maka kita menolak rencana Allah itu (atau obat), dan kita menolak Penebus dari Keselamatan kita. Bacalah buku “The Desire of Ages”, halaman 165. Sabat adalah sebagian dari Hukum Sepuluh

Perintah itu. (Keluaran 20 : 1 – 17). Kebenaran Tempat Kesucian itu ialah hukum bagi penyelamatan kita, sesudah kita berdosa. Adam telah berdosa karena memakan buah yang terlarang. Lucifer telah berdosa karena meninggikan dirinya seperti Allah. Katanya : “Aku hendak naik ke dalam surga, aku hendak meninggikan tahtaku di atas segala bintang Allah : aku juga hendak duduk di atas bukit perhimpunan, pada segala sisi dari sebelah utara : aku hendak naik di atas segala ketinggian awan-awan; aku ingin sama dengan Yang Maha Tinggi.” (Yesaya 14 : 13, 14). 

Oleh memakan buah yang terlarang, maka Adam telah melanggar hukum (makanan) kesehatan, dan karena berbuat demikian itu, ia juga, secara tidak langsung telah melanggar Hukum Sepuluh Perintah itu; karena oleh mendurhaka melawan Firman Allah ia telah mempermalukan-Nya seperti halnya seorang anak mempermalukan ayah duniawinya karena pendurhakaannya, sehingga dengan demikian ia melanggar perintah yang kelima. (Keluaran 20 : 12). Oleh sebab itu, Adam berdosa melanggar dua hukum, sebaliknya Lucifer hanya melanggar satu, yaitu Hukum Sepuluh Perintah, sebab ia tidak memakan apapun yang dilarang Allah. 

Pendurhakaan Adam telah membawa dirinya ke kubur (abu tanah); karena, sesudah makan buah yang terlarang itu, ia itu telah bereaksi pada keadaan fisiknya, sehingga dengan demikian kejahatan itu menurun dari ayah kepada anaknya. Tetapi karena Lucifer tidak mendurhaka melawan hukum kesehatan, maka kematian alami tidak berkuasa atas dirinya. Adam, oleh kepatuhannya kepada petunjuk-petunjuk yang telah disediakan bagi penebusannya -- menerima pengobatan -- akan dibuat hidup oleh kebangkitan kembali. Kepada Lucifer, karena menolak kesempatan yang sama dan karena menyesatkan keluarga manusia, maka Allah berfirman : “Engkau akan dicampakkan ke dalam neraka, ke segala sisi lubang yang dalam itu.” (Yesaya 14 : 15). “Engkau adalah sempurna dalam segala jalanmu semenjak dari hari engkau diciptakan, sampai kepada masa kejahatan ditemukan di dalam dirimu. ..... Aku akan membinasakan dikau, hai cherubium yang menaungi, dari antara segala permata yang gemerlapan itu. ..... Kamu telah mengotori segala tempat kesucianmu dengan begitu banyak kejahatanmu, dengan kejahatan perniagaanmu; maka sebab itu, aku akan menyuruh keluar api dari tengah-tengahmu, ia itu akan menelan kamu, dan aku akan membuat kamu menjadi abu di atas bumi di hadapan mata segala orang yang memandang akan dikau. Semua mereka yang mengenal kamu di antara segala bangsa akan tercengang akan dikau : engkau akan menjadi suatu kengerian, dan engkau tidak pernah akan ada lagi.” (Yehezkiel 28 : 15, 16, 18, 19).

Terdapat di sini suatu pelajaran yang patut mendapatkan perhatian kita. Hendaklah orang berdosa menempatkan jarinya atas dosanya. Oleh mengabaikan firman Allah dalam bentuk apapun, engkau akan melanggar salah satu atau lebih daripada hukum-hukum-Nya yang kekal. Ini adalah kesempatanmu yang terakhir untuk menerima atau untuk menolak keselamatan. Kemurahan sedang mengetuk pada pintu untuk yang terakhir kalinya. Maukah Saudara, dan Saudari, menyerahkan hatimu kepada Allah? 

Perhatian para pembaca sekali lagi diminta melihat kepada gambar bagan itu. Garis jejak rangkap dua yang melewati Habil dan mengelilingi salib itu menunjukkan, bahwa kebenaran-kebenaran Sabat dan Tempat Kesucian itu adalah kekal dan samawi, dan bahwa pengakuan akan kesucian kebenaran-kebenaran itu tidak pernah dibuang

keluar dari sidang Allah sampai setelah tahun 508 Tarik Masehi; pada waktu mana “kambing jantan” dengan tanduknya yang besar itu “membuang kebenaran itu ke tanah”. Tetapi dalam tahun 1844 oleh kuasa dari “Pekabaran-Pekabaran Tiga Malaikat”, kebenaran Allah kembali diterangi. Terbukti bahwa Sabat dan Tempat Kesucian itu, (hukum dan Injil) adalah tak dapat dipisahkan. Jika anda pernah tidak mematuhi firman Allah dalam setiap bentuknya, maukah anda sekarang, pada panggilan yang terakhir ini, mengatakan : “Tuhan, di sinilah hamba. Ambillah dari padaku hati batuku ini dan karuniakanlah kepadaku suatu hati daging.”  Malaikat sedang menunggu hendak memeteraikan anda dengan meterai Allah. Maukah anda memilih kegelapan daripada terang? Karena malaikat itu sedang menerangi bumi dengan kemuliaannya, maka maukah anda membiarkan dia menerangi hatimu? Hanya sebentar lagi dan kebenaran Allah akan menang, mengapakah engkau ketinggalan di belakang? Maukah anda berbakti dengan keras kepala, seperti Kain, dengan suatu agama yang tidak dapat menyelamatkan? Maukah anda mempermalukan Juruselamat yang telah mati bagimu, dan menghormati penentang dan musuh daripada jiwamu? Mengapakah anda hendak binasa sebentar lagi dalam seribu tahun millenium yang gelap itu? (Ikutilah gambar itu). Maukah anda bersedia apabila Yesus datang kelak menjemput orang-orang suci-Nya untuk dibawa ke tempat-tempat tinggal yang di atas? Catatlah bahwa pemeliharaan kebenaran ialah kereta yang menuju ke kota Allah. “Marilah kita dengarkan kesimpulan dari segala perkara itu : Takutlah akan Allah, dan peliharakanlah perintah-perintah-Nya : karena inilah keseluruhan kewajiban manusia.” (Pengkhotbah 12 : 13). 

Bahwa 1290 dan 1335 “hari” (tahun) itu, yang berkaitan dengan “yang sehari-hari” dan “tempat kesucian” dari Daniel 12 : 11, 12, adalah kini telah dapat dimengerti untuk pertama kalinya. Karena inilah waktunya dimana kebenaran-kebenaran itu diungkapkan, maka terbuktilah bahwa kita sedang menangani kebenaran sekarang. Oleh sebab itu, maka Firman ini sedang berbicara langsung kepada kita pada waktu sekarang ini. Dengan demikian, kutuk-kutuk maupun berkat-berkat yang disebutkan di dalam pasal ini berlaku terhadap generasi ini, dan kepada kita diberikan kesempatan istimewa untuk memilih salah satu dari keduanya itu. 

Adalah perlu supaya kita mengomentari dahulu ayat 10 dari Daniel 12, karena ia itu mengemukakan kenyataan bahwa pada masa Injil ini diungkapkan, “Banyak orang akan disucikan dan dibuat menjadi putih, dan dicobai; tetapi orang-orang jahat akan makin berbuat kejahatan dan tak seorangpun dari mereka akan dapat mengerti; tetapi orang-orang bijaksana akan mengerti.” Oleh sebab itu, adalah perlu supaya kita berpaling dari segala dosa dan memisahkan diri kita dari setiap jalan yang sesat, dengan demikian kita akan memiliki suatu pandangan yang jelas, sehingga kita dapat mengerti.

“Maka pada masa itu akan bangkit berdiri Mikhail, yaitu penghulu besar yang berdiri membela bani bangsamu : maka akan ada suatu masa kesusahan, yang sedemikian itu belum pernah terjadi semenjak berdirinya sesuatu bangsa sampai kepada masa itu : maka pada masa itu umatmu akan dilepaskan, yaitu setiap orang yang kelak didapati namanya tersurat di dalam kitab.” (Daniel 12 : 1). Nama “Mikhail”, berarti “yang sama dengan Allah”. “Kristus ialah bayangan yang nyata dari Bapa”, dan Penghulu besar dari umat-Nya.

Demikianlah gelar itu menunjuk kepada Kristus. Pada waktu ini, Kristus (Mikhail) akan bangkit berdiri bagi umat-Nya, maka setiap orang akan dilepaskan, yaitu mereka yang didapati tertulis namanya di dalam “Kitab Itu”. Dengan demikian umat Allah tidak perlu takut dalam masa kesukaran itu. 

“Maka banyak dari mereka yang tidur di dalam lebu bumi akan bangkit, sebagian kepada kehidupan yang kekal, dan sebagian kepada malu dan kehinaan yang kekal.” (Daniel 12 : 2). Dapatlah dicatat bahwa kebangkitan yang diramalkan dalam Firman ini adalah kebangkitan campuran — sebagian adalah orang-orang benar, sebaliknya yang lainnya adalah orang-orang jahat. Oleh sebab itu, ini adalah suatu kebangkitan istimewa, dan terlepas dari kebangkitan  yang dimaksudkan di dalam 1 Tesalonika 4 : 16, 17, karena ayat itu mengatakan dengan jelas : “Tuhan sendiri akan turun dari surga dengan suatu seruan keras, dengan suara penghulu malaikat, dan dengan sangkakala Allah : maka orang-orang mati dalam Kristus akan pertama-tama bangkit : kemudian kita yang hidup dan yang masih tinggal ini akan diangkat bersama-sama dengan mereka di dalam awan-awan, untuk bertemu dengan Tuhan di angkasa : dan demikianlah kita akan bersama-sama dengan Tuhan untuk selama-lamanya.” 

Yohanes juga menjelaskannya bahwa hanya orang benar yang akan dipanggil keluar pada saat kedatangan Tuhan, karena katanya : “Berbahagialah dan kuduslah orang yang mendapat bagian dalam kebangkitan yang pertama : terhadap mereka ini mati yang kedua tidak berkuasa.” (Wahyu 20 : 6). Dengan sendirinya, maka kebangkitan campuran itu harus mendahului kebangkitan yang terjadi pada saat kedatangan Kristus di dalam awan-awan. Mereka yang bangkit kepada “kehinaan yang kekal” adalah orang-orang yang telah menikam Kristus, dengan demikian menggenapi Firman yang berikut ini : “Tengoklah, Ia datang di awan-awan; dan setiap mata akan melihat Dia, dan juga mereka yang telah menikam Dia.” (Wahyu 1 : 7). 

“Maka mereka yang bijaksana itu akan bercahaya seperti cerahnya cakrawala; dan mereka yang membalikkan banyak orang kepada kebenaran itu seperti bintang-bintang selama-lamanya.” (Daniel 12 : 3). Mereka yang “bijaksana” adalah orang-orang yang akan “mengerti”, maka mereka akan membalikkan banyak orang kepada kebenaran; dengan demikian mereka akan bercahaya-cahaya seperti bintang-bintang “selama-lamanya”. Mereka ini bukanlah orang-orang yang telah dibangkitkan dalam kebangkitan istimewa itu, karena ia itu akan terjadi sesudah masa kasihan berakhir, dan kira-kira pada akhir dari bela yang ketujuh, sedikit waktu menjelang kedatangan Tuhan. Dengan demikian orang-orang yang bangkit itu tidak akan mempunyai kesempatan untuk membalikkan seseorang pun kepada kebenaran. Oleh sebab itu, mereka yang kelak bercahaya-cah `aya seperti bintang-bintang adalah 144.000 itu, berikut semua orang yang akan kelak mendapat bagian dalam pekerjaan Injil yang terakhir. Bayangkanlah betapa mulianya janji itu! Adakah sesuatu yang seperti itu di seluruh dunia? Apakah yang dapat anda perbandingkan dengan kebahagiaan surga di hadapan hadirat Allah? Kehidupan kekal, tanpa ada sakit atau air mata! Lihat Wahyu 7 : 17, dan Yesaya 11 : 6, 7; 65 : 25.

 “Tetapi akan dikau, hai Daniel, tutuplah segala perkataan ini, dan meteraikanlah kitab itu, sampai kepada akhir zaman : banyak orang akan berlarian pergi datang, dan pengetahuan akan dipertambahkan.” (Daniel 12 : 4). Bukti yang lebih jelas apakah yang dapat kita tanyakan untuk menginsyafkan kita, bahwa sekaranglah masa akhir

zaman itu? Sudahkah pengetahuan dipertambahkan? Adakah banyak orang sedang berlari-larian pergi datang? Jika Daniel tidak menceritakan bagaimana berlari-larian itu dilakukan, maka Nahumlah yang menceritakannya : “Kereta-kereta akan didapati dengan obor-obor yang bernyala-nyala pada hari persiapan-Nya ..... Kereta-kereta itu (mobil-mobil) akan melaju di jalan-jalan, mereka akan kejar mengejar di jalan-jalan raya : mereka akan terlihat seperti obor-obor, mereka akan berlarian seperti kilat.” (Nahum 2 : 3, 4). Nubuatan ini sudah dimengerti saat ini, membuktikan bahwa “kitab itu” telah diungkapkan, dan bahwa masa akhir zaman itu sudah ada dengan kita. 

“Kemudian aku Daniel melihat, tengoklah, ada berdiri dua orang yang lain, yang seorang pada tepi sungai sebelah sini, dan yang lainnya pada tepi sungai sebelah sana. Maka salah seorang mengatakan kepada orang yang berpakaikan kain kasah, yang berdiri di atas segala air sungai itu, berapa lama lagi kelak berakhir segala keajaiban ini? Lalu ku dengar orang yang berpakaikan kain kasah itu yang di atas segala air sungai itu, pada waktu ia mengangkat tangan kanannya dan tangan kirinya ke langit dan bersumpah demi Dia yang hidup selama-lamanya bahwa ia itu akan jadi selama satu masa, dan dua masa dan setengah masa; dan apabila ia kelak sudah selesai mencerai-beraikan kekuatan dari umat kesucian, maka semua perkara ini akan berakhir.” (Daniel 12 : 5 – 7). 

Pertanyaan yang dikemukakan : “Berapa lama lagi kelak berakhir segala keajaiban ini?” Jawabannya adalah, bahwa ia itu “akan jadi selama satu masa (satu tahun), dua masa (dua tahun), dan setengah masa (setengah tahun).” Satu bulan sama dengan 30 hari, satu tahun sama dengan 12 bulan, keseluruhannya sama dengan 1260 hari nubuatan (tahun). 

Masa periode nubuatan itu menunjuk ke belakang kepada kejayaannya kepausan, dan aniaya terhadap umat Allah dari tahun 538 sampai tahun 1798 Tarik Masehi yang lalu. (Lihat Daniel 7 : 25, dan Wahyu 12 : 6, 14; 13 : 5). Akhir dari masa periode nubuatan yang panjang itu dimana kepausan telah mencerai-beraikan kekuatan dari umat kesucian, ialah pada 130 tahun yang lalu. Malaikat itu menyatakan, dalam masa ini “semua perkara ini akan berakhir”. Bukankah semuanya ini membuktikan bahwa kita sekarang berada pada ambang dari kekekalan itu?

Maukah Saudara, maukah Saudari, memakaikan dirimu dengan kebenaran Kristus? Atau maukah anda menunggu lebih lama lagi, sampai setelah masa penuaian berlalu? Seseorang kelak akan mengucapkan kata-kata berikut ini dengan kekecewaan besar : “Penuaian telah berlalu, musim panas telah berakhir dan kita belum juga selamat.” (Yeremia 8 : 20). Siapakah kelak orang itu, Saudarakah, sayakah?

“Setelah ku dengar itu, tetapi tiada aku mengerti : lalu kataku, Oh Tuhanku, apakah kelak akhir dari segala perkara ini? Maka katanya : Pergilah, hai Daniel : karena segala perkara ini tertutup dan termeterai sampai akhir zaman.” (Daniel 12 : 8, 9). Masih tertutupkah semuanya itu sekarang? Jika tidak, maka bukankah sekarang ini waktu itu yang dimaksudkan oleh nabi itu? “Berbahagialah orang yang menanti-nanti, dan yang sampai kepada seribu tiga ratus tiga puluh lima hari itu.” (Daniel 12 : 12).

BINATANG (666), NABI PALSU, IBU SEGALA SUNDAL, ORANG DURHAKA ITU, SIAPAKAH MEREKA ITU? 

Angka bilangan mistik “666” dari binatang di dalam Wahyu 13 : 18, yang diaplikasikan kepada kepausan, terbukti tidak berdasarkan Injil dan bahkan tidak beralasan sama sekali. Jika huruf-huruf yang bersifat angka dari gelarnya Paus itu mengandung angka 666, maka masih ada banyak gelar lagi yang lain, maupun nama-nama perseorangan yang mengandung angka bilangan yang sama. Dengan hanya menghitung nilai angka dari huruf-huruf di dalam sesuatu gelar atau nama, kita akan menemukan banyak yang cocok, sebab itu kita harus mencarikan bukti Alkitab untuk membuat aplikasinya. Jika kita tidak membuktikan pendapat itu sedemikian ini, maka tidak akan tepat dan tidak adil mengaplikasikan simbol itu kepada seseorang pribadi.

Pendapat mengenai aplikasi simbolis dari nabi palsu pada Wahyu 19 : 20, perempuan yang mengendarai binatang merah kirmizi dari Wahyu 17, binatang yang menyerupai macan tutul dari Wahyu 13, binatang merah kirmizi dari Wahyu 17, dan binatang tak tergambarkan dari Daniel 7, yang dikatakan sebagai simbol-simbol dari kepausan, adalah tidak berdasarkan Alkitab dan juga tidak logis.

“Maka aku tampak seekor binatang lain datang keluar dari bumi; ia bertanduk dua seperti tanduk anak domba, dan ia berbicara seperti seekor naga. Maka ia melakukan semua kekuasaan dari binatang yang pertama yang mendahuluinya, dan menyebabkan bumi berikut semua orang yang diam di dalamnya supaya menyembah binatang yang pertama itu, yang luka parahnya telah sembuh. Dan ia melakukan berbagai tanda ajaib yang besar, sehingga ia menurunkan api dari langit ke atas bumi di hadapan mata orang banyak, Dan menyesatkan mereka yang diam di bumi dengan perantaraan segala tanda ajaib itu yang diberi kuasa kepadanya untuk dilakukan di hadapan binatang itu; sambil mengatakan kepada mereka yang diam di bumi, bahwa mereka harus membuat sebuah patung bagi binatang itu, yang sudah kena luka pedang, tetapi telah hidup kembali. Maka ia pun memiliki kuasa untuk memberi napas hidup kepada patung binatang itu, supaya patung binatang itu berkata-kata, dan membuat seberapa banyak orang yang tiada menyembah patung binatang itu harus dibunuh. Maka ia membuat semua orang, kecil besar, kaya miskin, merdeka ataupun hamba, supaya semuanya itu menerima suatu tanda dalam tangan kanan mereka, atau pada dahi mereka : dan supaya tiada seorangpun dapat berjual beli, terkecuali orang yang memiliki tanda itu, atau nama dari binatang itu, atau angka bilangan dari namanya. Di sinilah hikmat. Hendaklah orang yang mengerti menghitung angka bilangan binatang itu : karena ia itu adalah angka bilangan dari seseorang; dan bilangannya ialah enam ratus enam puluh enam.” (Wahyu 13 : 11 – 18).

“Dan ia menyesatkan mereka yang diam di bumi oleh perantaraan tanda-tanda ajaib itu yang mana ia telah memiliki kuasa untuk dilakukan di hadapan mata

__ GAMBAR __

binatang itu.” (Ayat 14). Binatang yang dibicarakan di sini ialah binatang yang bertanduk seperti tanduk anak domba. Tetapi ada seseorang yang lain yang telah  diperkenalkan dengan kata pengganti “dia” (he), yang “memiliki kuasa untuk melakukan berbagai keajaiban di hadapan mata binatang itu” (binatang yang seperti anak domba). Firman berikut ini akan memperjelas siapa orang itu yang melakukan berbagai keajaiban itu :

 “Maka binatang itu tertangkaplah dan bersama dengan dia nabi palsu itu yang telah mengadakan berbagai tanda ajaib di hadapannya (di hadapan binatang yang bertanduk dua itu) dengan mana ia telah menyesatkan mereka yang telah menerima tanda binatang itu, dan mereka yang telah menyembah patungnya. Keduanya ini dicampakkan hidup-hidup ke dalam lautan api yang bernyala-nyala yang bercampur belerang.” (Wahyu 19 : 20). Oleh sebab itu, maka tanda-tanda ajaib itu adalah dilakukan oleh nabi palsu itu di hadapan mata binatang yang bertanduk dua itu. 

Ada banyak binatang yang dibicarakan di dalam Alkitab, tetapi binatang yang bertanduk dua ini ialah satu-satunya yang dapat disebut dengan kata-kata “seseorang”. Dapatlah dicatat bahwa semenjak dari ayat 11 dan seterusnya, dari Wahyu pasal 13 itu, Injil terus berbicara mengenai binatang yang bertanduk dua dan mengakhiri dengan kata-kata : “Karena ia itu adalah angka bilangan dari seseorang; dan bilangannya ialah enam ratus enam puluh enam.” Oleh sebab itu, bilangan mistik ”666” itu, tak lain adalah kepunyaan binatang yang bertanduk dua itu. Tetapi bagaimanapun juga, kita tidak mungkin menyimpulkan begitu saja, bahwa tidak ada seorang- pun sebelumnya yang dapat memiliki sebuah angka bilangan yang sedemikian itu. 

Pendapat yang menyebut kepausan itu dengan binatang adalah sama sekali keliru. Kepausan telah dilambangkan dengan simbol-simbol pada dua binatang yang berbeda. Pertama, pada “binatang yang tak tergambarkan” dari Daniel 7, dilambangkan oleh “tanduk kecil yang memiliki mata seperti mata manusia, dan sebuah mulut yang membicarakan perkara-perkara besar”; kedua, pada “binatang yang menyerupai macan tutul” dari Wahyu 13, dilambangkan oleh kepala yang telah “terluka membawa mati”. Binatang-binatang ini adalah universal, melambangkan seluruh dunia dalam sejarah mereka, baik sipil maupun agama. Oleh sebab itu, tidak mungkin dapat dikatakan terhadap salah satu binatang itu dengan kata-kata, “ia itu adalah ..... seseorang”. Kepausan hanya merupakan sebagian dari kedua binatang (tanduk-kepala pada binatang yang satu, dan hanya sebuah kepala yang terluka pada binatang yang lainnya) tidak mungkin dapat disebut “binatang itu”. Binatang yang bertanduk dua itu adalah satu-satunya binatang yang melambangkan sebuah pemerintahan agama-politik setempat. Oleh sebab itu, maka dia sajalah yang dapat disebut dengan kata-kata, ia itu adalah “seseorang”. Dengan demikian siapapun saja yang kelak berdiri pada pucuk pimpinan dari kuasa penganiaya itu seperti yang digambarkan di dalam pasal ini, dan yang dilambangkan oleh binatang itu, maka dialah orang itu yang kelak membawa angka bilangan mistik 666 itu. Roh Nubuat juga menegaskan bahwa “Raja dari utara” yang dikemukakan di dalam Daniel 11 : 45, dan binatang bertanduk dua dari Wahyu 13, ialah penguasa yang sama dan bahwa ialah yang akan membawa angka bilangan mistik 666 ini. Kami mengutip : “Penguasa ini adalah yang terakhir yang menginjak-injak sidang Allah yang benar : maka sementara sidang yang benar itu masih diinjak-injak, dan dibuang oleh seluruh dunia Kristen, menyusul lagi bahwa kuasa penindasan yang terakhir itu belum ‘mencapai ajalnya’; dan Mikhail belum berdiri. Kuasa yang terakhir ini yang menginjak-injak umat kesucian adalah dikemukakan di dalam Wahyu 13 : 11 - 18.

Angka bilangannya ialah 666.” -- “A Word to the Little Flock”, pp. 8, 19. Kami telah membuktikan kebenaran angka bilangan itu dengan satu cara, maka kini kami akan membuktikannya dengan cara yang lain.      

KEBINASAAN DARI BINATANG DAN NABI ITU 

Kebinasaan dari “nabi palsu” dan “binatang” itu adalah jelas diramalkan : “Maka binatang itu tertangkaplah, dan bersama dengan dia nabi palsu itu yang telah melakukan berbagai tanda ajaib di hadapannya ..... Keduanya ini dicampakkan hidup-hidup ke dalam lautan api ..... Maka mereka yang lagi tinggal itu dibunuh dengan pedang dari dia yang duduk di atas kuda, pedang yang keluar dari dalam mulutnya : maka semua burung kenyanglah dengan daging mereka itu.” (Wahyu 19 : 20, 21). Nasib mereka yang terakhir adalah diselesaikan dengan cara dicampakkan hidup-hidup ke dalam suatu lautan api. Tetapi dunia selebihnya (“mereka yang lagi tinggal itu”) sekaliannya dibunuh dengan “pedang yang keluar dari dalam mulut-Nya : maka segala burung kenyang dengan daging mereka itu.”  

Lautan api ke dalam mana binatang dan nabi palsu itu dibuang, tidak mungkin terjadi pada kedatangan Kristus di dalam awan-awan, sebab orang-orang jahat itu bukannya dibinasakan oleh api pada waktu itu, melainkan “Dengan roh dari mulut-Nya, dan Ia akan membinasakan dengan cahaya kedatangan-Nya.” (2 Tesalonika 2 : 8). Binatang dan nabi palsu itu dibuang ke dalam lautan api sesudah bela yang keenam dan sebelum akhir dunia ini. Kebinasaan “mereka yang lagi tinggal” itu, yaitu orang-orang yang tertinggal setelah kebinasaan binatang dan nabi palsu itu, bukanlah sesudah seribu tahun millenium itu, karena orang-orang jahat pada waktu itu bukannya dibinasakan dengan pedang yang “keluar dari dalam mulut-Nya”, melainkan oleh api yang “turun dari Allah dari dalam surga yang menelan mereka itu”. (Wahyu 20 : 9). Sesudah seribu tahun millenium dan kebinasaan orang jahat tidak ada satupun mahluk hidup yang akan memakan sesamanya. (Lihat Yesaya 11 : 6 – 9). Oleh karena itu, maka binatang dan nabi palsu itu dibuang ke dalam lautan api pada sebelum seribu tahun millenium; dan bahwa lautan api itu menjadi sebuah contoh dari kebinasaan orang-orang jahat pada seberang sana dari seribu tahun millenium itu -- kematian yang kedua -- karena kebinasaan terakhir dari keseluruhan orang banyak itu adalah digambarkan dalam kata-kata : “Maka kematian dan neraka dicampakkan ke dalam suatu lautan api. Inilah kematian yang kedua. Maka barangsiapa yang tidak didapati namanya tersurat di dalam kitab hayat dicampakkan ke dalam lautan api itu.” (Wahyu 20 : 14, 15). Demikianlah kepada dunia akan diberikan suatu contoh mendahului seribu tahun millenium itu, mengenai kebinasaan yang terjadi sesudah berakhir masa seribu tahun itu. Contoh dari binatang dan nabi palsu itu akan menunjukkan, bahwa semua orang jahat kelak akan dicampakkan hidup-hidup ke dalam suatu lautan api, dan itulah kematian yang kedua. Berbicara mengenai kebinasaan kekal dari Iblis, Firman menegaskan : “Maka Iblis yang telah menyesatkan mereka itu dicampakkan ke dalam suatu lautan api dan belerang, di mana binatang dan nabi palsu itu berada.” (Wahyu 20 : 10). Artinya, binatang dan nabi palsu itu tidak akan bangkit keluar

dalam kebangkitan yang kedua, dan ini memberi contoh bahwa tidak ada kebangkitan apapun lagi dari kematian yang kedua. Kembali kita saksikan adanya sebuah contoh bagi setiap peristiwa, maka janganlah seorangpun meremehkan contoh-contoh, karena dimana tidak ada contoh, di sanapun tidak terdapat kebenaran. Angka bilangan 666 itu selanjutnya dibuktikan dengan 

KEBINASAAN DARI “ORANG DURHAKA” ITU 

Tandailah dengan seksama, sesuai dengan tulisan kesaksian berikut ini, kebinasaan dari kepausan adalah pada suatu kesempatan yang lain dan dengan proses yang berbeda. “Paulus mengatakan dengan jelas bahwa orang durhaka itu akan berlangsung terus sampai kepada kedatangan Yesus yang kedua kali. Sampai kepada menjelang akhir sejarah ia akan memajukan pekerjaan penipuannya.” -- “The Great Controversy”, p. 579. Dengan demikian kepausan akan tetap bertahan sampai kepada kedatangan Kristus yang kedua kali, pada waktu mana orang-orang jahat akan dibinasakan oleh cahaya kedatangan-Nya. Oleh sebab itu, maka kepausan adalah masalah tersendiri, dan nabi palsu itu adalah masalah lain, dan binatang itu masalah lain lagi. Binatang “666” dan nabi palsu yang akan dibuang ke dalam lautan api, adalah orang-orang yang akan mengembangkan patung dari binatang itu -- yaitu suatu ibadah yang sama dengan yang berlaku selama masa periode 1260 tahun yang lalu.

Zaman kesesatan yang menyeluruh itu sudah dekat sekali di ambang pintu. Untuk melepaskan diri dari jerat terkuat yang pernah dipasang oleh kebesaran penipuan Setan, maka diperlukan pengetahuan theologi luas yang lebih lagi. Tanda-tanda ajaib yang menakjubkan akan sangat meyakinkan, dan roh peribadatan yang terlihat murni akan menanamkan keyakinan yang mendalam pada diri orang-orang yang menjadi mangsa untuk disesatkan. Sementara orang-orang besar dunia menyatakan benar peribadatan dari ajaran palsu itu, maka beribu-ribu orang akan menyambut keputusan-keputusan mereka itu tanpa melakukan penyelidikan pribadi. Sebagai tambahan kepada semuanya ini adalah deklarasi dari penguasa-penguasa sipil berikut ini : “Seberapa banyak orang yang tidak mau menyembah patung binatang itu harus mati dibunuh”, maka kita memiliki suatu kuasa di atas segala-galanya yang kekuatan manusia tak dapat melawan barang sekejap pun. Hanya dengan memiliki suatu pengetahuan kebenaran nubuatan, disertai keyakinan dalam sesuatu “demikianlah firman Tuhan”, dan dalam kuasa Roh Suci, dapatlah seseorang melepaskan diri dari jerat-jerat Iblis yang licik itu. 

IBU DARI SEGALA SUNDAL BUKAN BINATANG ITU 

Telah dijelaskan bahwa kepausan akan tetap tinggal sampai kepada yang terakhir. Jika perempuan yang menunggangi binatang merah kirmizi itu (Babil yang besar) mencapai ajalnya pada suatu masa yang berbeda dan dengan cara yang lain, maka ia tidak mungkin merupakan simbol dari kepausan seperti yang disangka sebagian orang. Wahyu 17 : 16, dalam membicarakan perempuan itu dan tanduk-tanduk dari binatang merah kirmizi, mengatakan : “Maka sepuluh tanduk yang engkau lihat pada binatang itu, semuanya ini akan membenci perempuan sundal itu, dan mereka akan membuatnya sunyi dan bertelanjang, dan mereka akan makan dagingnya, dan membakarnya dengan api.”

Perhatikanlah, ia tidak dibuang ke dalam lautan api seperti halnya binatang dan nabi palsu itu, melainkan mereka (tanduk-tanduk) “akan membuatnya sunyi dan bertelanjang dan akan memakan dagingnya.” Dengan demikian kebinasaan perempuan itu adalah pada suatu masa yang berbeda, dan dengan cara yang lain daripada yang dialami kepausan, nabi palsu, dan binatang itu. Oleh karena apa yang telah dikatakan itu tidak mungkin dapat dibantah, maka jelaslah “binatang” itu adalah masalah tersendiri, “nabi palsu” adalah masalah lain, dan kepausan masalah lain lagi, dan “perempuan” itupun adalah masalah lain pula. Adalah penting sekali agar segala perkara ini dapat dipahami dengan tepat,  karena hanya oleh pengetahuan akan kebenaran, dapatlah Allah membawa umat-Nya sampai kepada kemenangan. 

SAAT DARI KEBINASAAN PEREMPUAN ITU 

Untuk menentukan saat dari kebinasaan Babil (perempuan itu), maka adalah perlu untuk menunjuk kepada Daniel 7 : 11, 12, “Kemudian daripada itu aku melihatnya karena bunyi perkataan-perkataan besar yang diucapkan oleh tanduk itu; aku melihat sampai binatang itu dibunuh, dan tubuhnya dibinasakan, dan diserahkah kepada api yang bernyala-nyala. Mengenai binatang-binatang yang lainnya, pemerintahan mereka itu telah dicabut : namun kehidupan mereka diperpanjang untuk selama satu musim dan satu masa.” Mengenai binatang-binatang yang lainnya itu -- yaitu singa, beruang, dan macan tutul, pemerintahan mereka itu telah dicabut, tetapi mereka masih tetap hidup, sebaliknya binatang yang tak tergambarkan itu telah sampai kepada ajalnya. Binatang-binatang yang masih hidup itu melambangkan keturunan-keturunan dari tiga kerajaan kuno itu. Sementara pemerintahan mereka dicabut, penduduk-penduduknya (binatang-binatang) yang ada di sini sekarang. Ajal dari sekalian binatang ini akan berarti berakhirlah dunia. 

Binatang yang tak tergambarkan itu bukanlah binatang yang terakhir dari sejarah dunia ini, karena ia diikuti oleh binatang yang menyerupai macan tutul dari Wahyu 13 : 1, dan binatang merah kirmizi dari Wahyu 17 : 3. Yang terakhir inilah merupakan simbol yang terakhir dari peristiwa-peristiwa sejarah, oleh mana dunia yang sekarang ini dan dunia sesudah seribu tahun millenium yang akan datang akan dibawa kepada ajalnya, sesuai yang dijelaskan terdahulu. Oleh sebab itu, kebinasaan binatang yang tak tergambarkan itu adalah sebelum kedatangan Kristus yang kedua kali. Jika kehidupan dari tiga binatang sebelumnya itu “diperpanjang”, maka masa hidup mereka itu tidak mungkin diperluas melewati kedatangan Kristus yang kedua kali. Daniel mengatakan : “Kehidupan mereka itu diperpanjang untuk selama satu musim dan satu masa.” Oleh sebab itu, maka semenjak dari saat tubuh binatang yang tak tergambarkan itu dibinasakan, akan terdapat “satu musim dan satu masa”, sampai kepada akhir dunia yang ada sekarang. 

Jika Daniel mengartikan “masa” dengan tahun, dan “setengah masa” dengan setengah tahun, di dalam ayat 25 dari pasal yang sama, maka ia harus mengartikan juga yang sama di dalam ayat 12. Jika interpretasi itu dipegang teguh pada ayat yang satu maka harus demikian pula dengan ayat lainnya. Oleh sebab itu, maka “satu masa” akan berarti satu tahun, dan satu “musim” berarti seperempat bagian dari setahun, sehingga dengan demikian berjumlah seluruhnya satu tahun dan tiga bulan. Tetapi, masa periode di dalam

ayat 25 itu memiliki suatu perkataan nubuatan dari 1260 hari (tahun), tetapi “masa” di dalam ayat dua belas tidak mungkin berupa perkataan nubuatan, sebab nanti akan berarti 450 tahun yang sebenarnya. Jadi jelaslah bahwa semenjak dari saat binatang itu dibinasakan sampai kepada akhir sejarah, akan terdapat lima belas bulan yang sebenarnya. 

Dapatlah dicatat bahwa kebinasaan dari “binatang” itu adalah bersifat nubuatan dari hal kebinasaan “perempuan” itu. Kami mengutip Injil yang menunjuk kepada keduanya itu : “Aku melihat sampai binatang itu dibunuh, dan tubuhnya dibinasakan, dan diserahkan ke dalam api yang bernyala-nyala.” (Daniel 7 : 11). “Maka sepuluh tanduk yang engkau lihat pada binatang itu, mereka ini akan membenci perempuan sundal itu, dan mereka akan membuatnya sunyi dan bertelanjang, dan mereka akan makan dagingnya, dan membakarnya dengan api.” (Wahyu 17 : 16). Kebinasaan itu adalah sama bagi keduanya (binatang dan perempuan itu). Selanjutnya, itu adalah periode di bawah simbol perempuan yang menunggangi binatang yang membuat sebuah patung dari binatang yang menyerupai macan tutul dalam tahap pertamanya (sebelum terluka) atau dari binatang yang tak tergambarkan itu dalam tahap keduanya; sebab, periode 1260 tahun itu telah dilambangkan oleh kedua binatang itu. Patung itu ialah suatu agama palsu yang didirikan secara internasional. Oleh sebab itu, yang satu adalah kesamaan dari yang lainnya. Dengan demikian kebinasaan dari yang asli (binatang yang tak tergambarkan) ialah suatu nubuatan tentang kebinasaan “perempuan” itu, maka kebinasaan dari yang satu, ialah kebinasaan dari yang lainnya. Ia itu menunjukkan secara nubuatan bahwa “patung” itu (perempuan yang menunggangi binatang itu -- gabungan dari bentuk organisasi agama-politik itu), akan binasa lima belas bulan (“musim dan satu masa”) mendahului “mereka yang lagi tinggal” itu (dunia selebihnya). Hendaklah diingat bahwa khayal dari Daniel ialah suatu nubuatan, dan khayal oleh Yohanes ialah suatu wahyu. Oleh sebab itu, maka kebinasaan binatang yang tak tergambarkan itu ialah nubuatan, dan kebinasaan perempuan itu ialah kegenapan dari nubuatan itu. 

Injil berikut ini yang menunjuk kepada saat dari kebinasaan “perempuan” itu, mengatakan : “Maka kemudian daripada segala perkara ini aku dengar suatu suara besar dari banyak orang di dalam surga, yang mengatakan, Halleluya; Selamat, dan kemuliaan, dan hormat, dan kuasa, bagi Tuhan Allah kita; sebab segala hukuman-Nya adalah benar dan adil : karena Ia telah menghukumkan sundal besar itu, yang telah merusak bumi dengan persundalannya, dan Ia telah membalas darah segala hamba-Nya ke dalam tangan perempuan itu. Lalu kembali mereka mengatakan, Halleluya. Maka asap apinya naik untuk selama-lamanya. Lalu dua puluh empat tua-tua itu dan empat binatang itu bersujudlah menyembah Allah yang duduk di atas tahta, sambil mengatakan, Amin, Halleluya. Dan kedengaranlah suatu suara dari dalam tahta, mengatakan, Pujilah Allah kita, hai kamu sekalian hamba-Nya, dan kamu yang takut akan Dia, baik kecil maupun besar.” (Wahyu 19 : 1 – 5). 

Perempuan itu dibinasakan dan asap apinya telah naik “untuk selama-lamanya”, sementara “para tua-tua” itu dan “binatang-binatang” itu berada di hadapan tahta. Ini membuktikan bahwa pehukuman di dalam tempat Yang Maha Suci itu belum berakhir, atau sedikit-dikitnya sidang pengadilan itu belum lagi

mengosongkan tempat pehukuman itu, (dijelaskan di dalam Bab yang lain) karena setelah orang-orang suci dihitung dan dimeteraikan, maka dosa-dosa mereka dihapuskan di dalam sidang pehukuman tersebut di atas, masa kasihan akan berakhir, dan tempat kesucian dimana pehukuman itu diadakan akan dikosongkan dari para tua-tua itu, dan dari binatang-binatang itu, maupun dari “Anak Domba” itu, berikut seluruh malaikat yang banyak itu. Sesudah itu “tidak seorangpun dapat memasuki kaabah itu, sampai kelak tujuh bela yang terakhir itu digenapi. (Lihat Wahyu 15 : 5 – 8). Dengan demikian jelaslah bahwa perempuan itu telah dibinasakan sebelum tujuh bela yang terakhir dituangkan ke bumi. 

Mengutip Wahyu 19 : 6, “Maka aku dengar seolah-olah bunyi suara orang ramai, dan seperti bunyi banyak air yang menderu, dan seperti bunyi guntur yang besar, mengatakan, Halleluya, karena Tuhan Allah yang maha kuasa memerintah.” Selagi Kristus berada di dalam tempat kesucian dan pehukuman berlangsung, Ia tidak memerintah, melainkan ia adalah seorang Imam dan Pembela, yang menghapuskan dosa orang-orang benar. Tetapi setelah Ia selesai mengikuti sidang pemeriksaan hukum itu, lalu Ia dimahkotai menjadi Raja atas segala raja dan Tuhan atas segala tuan. (Lihat ayat 16). 

Sesudah “asap api dari perempuan itu naik untuk selama-lamanya”, maka bala tentara surga yang banyak itu berserulah, “Halleluya : karena Tuhan Allah Yang Maha Kuasa memerintah”. Oleh karena itu, semua orang suci diadili mendahului kebinasaan dari “perempuan” itu, dan setelah ia dibakar dengan api, maka Kristus akan dimahkotai menjadi Raja atas segala raja dan Tuhan atas segala tuan; kemudian kaabah akan dikosongkan dan tujuh bela yang terakhir itu dituangkan ke bumi. 

Firman berikut ini membawakan bukti selanjutnya. Bala tentara surga yang banyak itu mengatakan : “Marilah kita bersukacita dan bergembira, dan hendaklah kita memberi Dia hormat, karena saat perkawinan Anak Domba itu sudah tiba, dan istrinya pun telah  mempersiapkan dirinya. Maka kepadanya telah dikaruniakan supaya ia boleh menghiasi dirinya dengan kain kasah halus, yang putih dan bersih; karena kain kasah halus itu ialah kebenaran dari orang-orang suci. Maka katanya kepadaku, Tuliskanlah, Berbahagialah segala orang yang diundang kepada perjamuan kawin Anak Domba itu.” Malaikat itu, selanjutnya menambahkan, “Marilah kemari, aku hendak menunjukkan kepadamu pengantin perempuan itu, yaitu istri Anak Domba itu ..... dan menunjukkan kepadaku kota yang besar itu, yaitu Yerusalem yang suci, yang turun dari surga dari Allah.” (Wahyu 19 : 7 – 9; 21 : 9, 10). Oleh sebab itu, maka istri dari Anak Domba itu ialah Kota Suci, dan bukan sidang, dan orang-orang yang diundang ke perjamuan kawin itu (orang-orang suci) ialah para tamu. (Lihat buku “The Great Controversy”, halaman 427). Mereka yang berada di hadapan tahta itu, mengatakan dari hal Yerusalem Baru : “Istrinya telah mempersiapkan dirinya. Dan kepadanya telah dikaruniakan (masuk ke kota itu) supaya ia boleh menghiasi dirinya dengan kain kasah halus, yang putih dan bersih ..... karena kain kasah halus itu ialah kebenaran dari orang-orang suci.” (Wahyu 19 : 7, 8). Oleh sebab itu, maka istri Anak Domba itu akan siap pada akhir masa kasihan pada waktu orang-orang suci dihitung jumlah bilangannya, karena mereka itulah “kain kasahnya”. Karena pada masa perempuan itu (Babil) dibakar, maka orang-orang suci (kain kasah) siaplah sudah. Kebinasaan perempuan itu akan merupakan suatu tanda, bahwa masa kasihan telah berakhir. Kemudian daripada itu sebagian orang akan

sadar akan nasib celakanya lalu mereka akan mengatakan, “Masa penuaian sudah berlalu, musim panas telah berakhir, dan kita belum juga selamat.” (Yeremia 8 : 20). Orang-orang lainnya akan “mengembara dari laut ke laut, dan dari utara sampai ke timur, mereka akan berlarian kesana-kemari mencari firman Tuhan, tetapi tidak akan menemukannya.” (Amos 8 : 12). Apabila umat Allah kelak mengakhiri tugas karunia Allah mereka, maka jawaban mereka kelak : “Kami tidak memiliki apa-apa lagi bagimu, penuaian telah berlalu, keselamatan telah berhenti, anda sudah sangat terlambat.” 

SIAPAKAH NABI PALSU ITU? 

Sebagaimana telah dijelaskan terdahulu nabi palsu itu bukanlah kepausan ataupun binatang yang bertanduk dua itu, ia juga bukan Iblis, sebab kita baca : “Maka Iblis yang menyesatkan mereka itu tercampaklah ke dalam lautan api dan belerang, di mana binatang dan nabi palsu itu berada.” (Wahyu 20 : 10). Oleh sebab itu, nabi palsu itu ialah seseorang yang akan mendahului munculnya Setan sendiri. Rasul itu mengatakan, “Maka janganlah heran; karena Setan sendiri akan menyamar sebagai seorang malaikat terang.” (2 Korintus 11 : 14). 

Karena ajaran-ajaran yang diajarkan oleh nabi palsu itu tidak mungkin sepenuhnya ditunjang oleh Alkitab, maka tanda-tanda keajaiban akan dipertunjukkan untuk menarik kepercayaan orang banyak. Oleh karena orang-orang besar dan para pemimpin agama menyatakan kepada umum bahwa apa yang disebut kebenaran yang benar itu benar adalah kebenaran dari Kristus, dan bahwa nabi palsu itu adalah hamba-Nya, maka beribu-ribu orang akan jatuh ke dalam jerat Setan. Ramalannya yang palsu mengenai kedatangan Tuhan, akan digenapi oleh Setan sendiri karena ia akan muncul seperti seorang malaikat terang. Cahayanya yang mempesona, dan kegenapan palsu dari ramalan nabi, ditambah lagi dengan penipuan-penipuan yang merajalela yang sudah ada, akan menjerat sejumlah besar orang-orang yang jauh lebih besar lagi daripada yang pertama. “Sambil muncul di depan anak-anak manusia sebagai seorang tabib besar yang dapat menyembuhkan segala macam penderitaan mereka, ia akan mendatangkan penyakit dan malapetaka, sehingga kota-kota yang padat penghuninya akan susut binasa dan menjadi sunyi.” -- “The Great Controversy”, halaman 589. 

PEREMPUAN ITU DUDUK DI ATAS KEPALA-KEPALA 

Kata malaikat itu : “Tujuh kepala itu ialah tujuh buah gunung, pada mana perempuan itu duduk.” (Wahyu 17 : 9). Telah dijelaskan sebelumnya bahwa kepala-kepala itu melambangkan dunia Kristen murtad yang ada sekarang, (Lihat halaman 88 - 96, bahasa Inggris). Mereka itu disebut “gunung-gunung” (organisasi-organisasi gereja), tujuh jumlahnya, yang berarti semua. Karena perempuan sundal itu duduk di atas semua tujuh kepala, maka simbol itu secara nyata yang tak mungkin keliru mengungkapkan bahwa Dunia Kristen akan menyerahkan dirinya untuk diperintah oleh satu pemimpin, yang dilambangkan oleh perempuan itu. (Lihat “The Great Controversy”, halaman 588).

Mendahului kuasa yang melakukan keajaiban-keajaiban itu, maka Protestantisme, Katholikisme, dan Spiritualisme, sudah akan terlebih dulu berjabatan tangan satu dengan yang lainnya oleh perantaraan sebuah federasi gereja. Perbedaan pendapat dalam masalah-masalah doktrin akan dianggap tidak lagi penting bagi keselamatan. Mereka akan menyaksikan di dalam penggabungannya yang terlihat suci itu suatu pergerakan besar baik bagi penyelesaian berbagai perbedaan maupun bagi pertobatan dunia. Dengan munculnya nabi palsu itu, dan dengan datangnya Setan sendiri, maka pengharapan-pengharapan mereka akan menjadi kenyataan, dan masuknya masa seribu tahun millenium yang penuh damai yang telah lama dinantikan itu akan diberitakannya segera terjadi. Demikianlah dari luar ia itu akan terlihat seolah-olah krisis dunia sudah akan berakhir. Tetapi sebagaimana umat Allah telah diberi amaran mengenai sekaliannya itu, mereka menolak menyembah patung binatang itu, yaitu suatu agama internasional palsu, maka mereka akan dituduh sebagai pemberontak, pengacau-pengacau ketertiban, dan pembuat gaduh. Hal ini akan mendatangkan aniaya besar seperti yang diramalkan di dalam Wahyu 12 : 17. 

Terhadap mereka itu akan dikatakan : “Engkaukah dia yang mengacau Israel?” Karena orang-orang suci itu menanggapi mereka menurut cara nabi Eliyah : “Tidak tetapi ..... karena kamu telah  meninggalkan perintah Tuhan, dan kamu telah mengikuti Baal”, maka ini akan menimbulkan kemarahan orang jahat lalu membuat mereka itu naik amarahnya melawan orang-orang yang tak bersalah itu. 

PEREMPUAN ITU DUDUK DI ATAS BINATANG 

Sementara Pewahyu menyaksikan dalam khayal binatang yang memiliki angka bilangan 666 itu, dan nabi palsu, yang memaksakan suatu agama palsu melalui hukum dan tanda-tanda keajaiban di dalam batas lingkungan pemerintahan yang dilambangkan oleh binatang bertanduk dua itu, ia telah memperlihatkan suatu pemandangan menarik yang lain lagi : “Maka aku tampak”, katanya, “seorang perempuan duduk di atas seekor binatang merah kirmizi, yang penuh nama-nama hujat, yang memiliki tujuh kepala dan sepuluh tanduk. Dan perempuan itu telah berhias dalam warna ungu dan merah kirmizi, dan dihiasi dengan emas dan batu-batu permata dan mutiara, sambil memegang sebuah cawan emas di dalam tangannya yang penuh dengan kekejian-kekejian dan kenajisan persundalannya.” (Wahyu 17 : 3, 4). Simbol ini mengungkapkan bahwa sesudah perempuan itu duduk di atas “kepala-kepala” (mempersatukan gereja-gereja) ia juga berhasil duduk di atas binatang itu. Binatang itu ialah simbol dari seluruh dunia yang ada sekarang – baik sipil (sepuluh tanduk) maupun agama (tujuh kepala). Karena duduknya perempuan itu di atas kepala-kepala menunjukkan gabungan gereja-gereja, demikian itu pula, duduknya dia di atas binatang itu melambangkan gereja dan pemerintah secara internasional yang diperintah oleh pemimpin yang sama (perempuan). Oleh sebab itu, suatu bentuk organisasi agama internasional dan suatu kombinasi gereja dan negara. Dalam bentuk organisasi yang sedemikian ini orang-orang besar dunia akan menyaksikan suatu gambaran penyelesaian berbagai krisis dunia, mendorong orang-orang dan bangsa-bangsa ke dalam suatu persaudaraan luas di seluruh dunia, yang kegenapannya melalui suatu perantaraan agama, 1 Tesalonika 5 : 3,

“Karena bilamana mereka itu kelak mengatakan, Damai dan sejahtera; maka tiba-tiba kebinasaan menimpa mereka itu, ..... dan mereka tidak akan dapat meloloskan diri.” Walaupun maksud mereka ialah untuk memperkecil kejahatan dan peperangan-peperangan, namun harapan mereka kelak akan sia-sia. 

CAWAN, PERHIASAN-PERHIASAN, DAN WARNA-WARNA YANG MENYOLOK 

Cawan di dalam tangan perempuan itu terbuat dari logam paling mulia, dan karena ia dihiasi dengan emas dan batu-batu permata, maka ini menunjukkan suatu godaan yang sangat menarik  -- sepenuhnya direalisasikan dalam kuasa melakukan tanda keajaiban oleh nabi palsu itu dan oleh Setan sendiri. Cawannya (buku-buku) berisikan ajaran-ajaran palsu, dan karena kelihatan “terbuat dari emas”, ia itu menunjukkan bahwa semuanya itu dilapisi dengan Kekristenan. Dengan demikian kata-kata nubuatan berikut ini akan menemukan kegenapannya : “Maka ia memiliki kuasa untuk memberikan nyawa kepada patung binatang itu, supaya patung binatang itu dapat berbicara dan membuat sebanyak mungkin orang yang tidak mau menyembah patung binatang itu harus dibunuh. Maka ia memaksa semua orang, baik kecil dan besar, kaya dan miskin, orang merdeka ataupun hamba, untuk menerima suatu tanda di dalam tangan kanan mereka atau di dalam dahi mereka; dan bahwa tidak seorangpun dapat berjual beli, terkecuali orang yang memiliki tanda, atau nama binatang itu, atau angka bilangan dari namanya.” (Wahyu 13 : 15 – 17).

“Sedemikian inilah kelak akan menjadi pengalaman-pengalaman umat Allah dalam perjuangan mereka yang terakhir melawan penguasa-penguasa jahat ..... Setan memimpin banyak orang untuk percaya, bahwa Allah akan mengabaikan kelalaian mereka dalam masalah-masalah kehidupan yang kecil; tetapi Tuhan menunjukkan dalam hubungan-Nya dengan Yakub, bahwa Ia sekali-kali tidak membenarkan ataupun mentolerir kejahatan. Semua orang yang berusaha untuk memaafkan atau menyembunyikan dosa-dosa mereka, lalu mengijinkan dosa-dosa itu tetap berada dalam buku-buku surga, tanpa diakui dan tanpa dimaafkan, mereka akan dikalahkan oleh Setan.” -- “Patriarchs and Prophets”, p. 202. “Barangsiapa yang berada tanpa perlindungan Allah tidak akan menemukan satupun tempat atau posisi yang aman di manapun juga.” -- “Testimonies for the Church”, Vol. 8, p. 50. Dari hal masa kesusahan itu Kristus mengatakan : “Barangsiapa yang memeliharakan nyawanya” demi untuk memenangkan restu manusia, “akan kehilangan nyawa : dan barangsiapa yang kehilangan nyawanya oleh sebab Aku akan mendapatkannya.” (Matius 10 : 39). Masa itu kelak akan mengungkapkan barangsiapa yang berbakti kepada Allah dan barangsiapa yang tidak berbakti kepada-Nya. Kemudian, dunia akan dibagi ke dalam dua kelas yang besar -- “Domba-domba pada sebelah kanan dan kambing-kambing pada sebelah kiri.” (Matius 25 : 33). Jelaslah terlihat kelak bahwa umat Allah harus binasa atau harus menyerahkan diri kepada tuntutan orang jahat, tetapi malaikat-malaikat perkasa yang unggul kekuatannya akan merubah aliran kebinasaan itu.

“Maka seorang malaikat perkasa mengangkat sebuah batu yang bagaikan sebuah batu kilangan besar, lalu mencampakkannya ke dalam laut, sambil mengatakan, Demikianlah dengan kekerasan kelak negeri Babil yang besar itu akan dilemparkan ke bawah, sehingga sekali-kali tiada ia akan ditemukan lagi. Maka bunyi orang yang bermain kecapi, dan para musisi, dan orang-orang yang meniup suling, dan trompet, sekali-kali tiada akan terdengar lagi di dalammu; dan tidak

seorangpun ahli kesenian atau apapun keahliannya akan ditemukan lagi di dalammu; dan bunyi kilangan tidak akan kedengaran lagi di dalammu. Dan cahaya lampu tidak akan lagi bersinar-sinar di dalammu, dan suara mempelai lelaki dan perempuan tidak akan kedengaran lagi di dalammu : karena segala pedangmu adalah orang-orang besar di bumi; karena oleh semua ilmu sihirmu segala bangsa telah disesatkan.” (Wahyu 18 : 21 - 23). 

Sementara orang banyak jatuh ke dalam jerat-jerat Iblis, dan karena ia sedang berusaha untuk menyapu bersih sidang, maka “Pekabaran Malaikat Ketiga” akan menerobos kemana-mana dengan kuasa besar dan dengan suatu “seruan keras” yang mengatakan, “Keluarlah dari padanya, hai umat-Ku, supaya tidak kamu terbabit dengan segala dosanya, dan supaya tidak kamu menerima segala celakanya.” (Wahyu 18 : 4). Dan karena “Seruan” malaikat itu (utusan) menggema di seluruh bumi suatu rombongan besar orang banyak dari segala bangsa akan meninggalkan sistem peribadatan palsu yang populer itu, lalu menentang semua restu duniawi dan mengambil pendirian yang berpihak kepada orang-orang suci di bawah lindungan kuasa Ilahi. Inilah yang akan menaikkan amarah ular naga itu. 

RINGKASAN

(IKUTILAH GAMBAR BAGAN PADA HALAMAN 150) 

Tabel peristiwa-peristiwa di dalam Bab ini sepenuhnya melukiskan kejadian-kejadian besar nubuatan yang akan terjadi dengan cepat secara berurutan seperti yang diperlihatkan di dalam gambar. Gabungan gereja-gereja yang dilambangkan dengan “perempuan” itu duduk di atas “kepala-kepala” harus terjadi sebelum kuasa kombinasi antara “binatang” dan “nabi palsu” itu sepenuhnya menjadi kenyataan. Simbol-simbol itu (“nabi palsu” dan “binatang itu”) mengungkapkan bahwa akan ada suatu aliansi nasional antara gereja dan negara. Tetapi perempuan yang menunggangi binatang itu menunjukkan suatu organisasi gereja dan negara internasional yang dipaksakan oleh undang-undang sipil, dan kekuasaan keajaiban. Pada saat berakhirnya masa kasihan, gabungan yang dilambangkan oleh simbol “binatang yang merah kirmizi” itu akan bubar karena binasanya “perempuan” itu atau pemimpin dari gabungan itu seperti yang digambarkan pada titik balik pada bagan itu. Dunia pada masa itu, seperti yang dilambangkan oleh tanduk-tanduk binatang itu, akan “membenci” perempuan sundal itu, mereka akan menurunkan perempuan itu dari kekuasaannya dan “membakarnya dengan api”; yang merupakan suatu revolusi melawan pemimpin dari organisasi agama-politik itu. Kemudian nubuatan dari Wahyu 16 : 19, akan menemui kegenapannya : “Maka negeri yang besar itu (Babil) dibagi menjadi tiga bagian.” Artinya, gabungan Protestantisme, Katholikisme, dan Spiritualisme itu akan bubar. Perhatikanlah akan kata kerja, “was”, karena tertulis dalam past tense, menunjukkan bahwa negeri Babil yang besar itu telah dibagi sebelum tujuh bela dituangkan; yaitu, pada penutupan masa

kasihan, pada waktu perempuan itu dijatuhkan dari kekuasaannya. “Dan negeri-negeri dari segala bangsa jatuh : dan Babil yang besar itu (dalam keadaannya yang terbagi-bagi) datang terkenang di hadapan Allah, untuk memberikan kepadanya cawan air anggur dari kehangatan murka-Nya.” (Ayat 19, bagian terakhir). Kehangatan murka Allah akan dituangkan ke atas Babil dalam keadaannya yang terbagi-bagi dalam masa tujuh bela. 

Kepala dari binatang yang tak tergambarkan dari Daniel tujuh, didalam api yang bernyala-nyala bersama-sama dengan “perempuan” itu sebagaimana digambarkan di dalam bagan, adalah melambangkan peristiwa yang sama. “Binatang itu” adalah sebuah nubuatan, dan “perempuan” itu ialah wahyu dari nubuatan itu. Kemudian empat malaikat dari wahyu tujuh, yang sedang “memegang empat mata angin di bumi (bangsa-bangsa dalam pengawasan), supaya angin itu tidak akan bertiup di bumi, atau di laut, atau pada sesuatu pohon kayu”, mereka akan membiarkan angin itu “bertiup”; maka karena tidak ada lagi apapun yang tinggal untuk menahan bangsa-bangsa dan orang banyak itu bersama-sama serta untuk mencegah berbagai permusuhan, maka pertikaian di dalam dan di luar akan berakibat dalam perang “Armagedon” yang terakhir. (Wahyu 16 : 14, 16). Dari titik itu pada bagan (berakhirnya masa kasihan) sampai kepada kedatangan Kristus yang kedua kali dan permulaan dari seribu tahun millenium itu, akan ada lima belas bulan -- yaitu “satu musim dan satu masa”. (Daniel 7 : 11, 12). 

Kira-kira pada masa bela yang ketujuh binatang dan nabi palsu itu akan dicampakkan ke dalam lautan api. Suatu peristiwa kegenapan yang sebenarnya, dan ini akan merupakan sebuah contoh dari kebinasaan terakhir orang-orang jahat sesudah seribu tahun millenium, yaitu kematian yang kedua. Kebinasaan perempuan yang menunggangi binatang merah kirmizi itu, dan nabi palsu bersama-sama dengan binatang bertanduk dua yang dicampakkan hidup-hidup ke dalam lautan api, menunjukkan bahwa badan organisasi agama-politik ini secara internasional akan dibubarkan.

Pada kedatangan Tuhan, orang-orang suci akan dihimpunkan (Matius 24 : 30), dan orang-orang jahat akan dibinasakan. (2 Tesalonika 2 : 8). Bangsa-bangsa dilambangkan oleh “binatang-binatang”, “orang durhaka” itu dilambangkan oleh “tanduk kecil yang memiliki mata manusia dan sebuah mulut yang membicarakan perkara-perkara besar.” (Daniel 7 : 25).

Patung besar dari Daniel dua, berkaitan dengan binatang-binatang dari Daniel tujuh. Binatang-binatang inipun dilambangkan oleh binatang yang menyerupai macan tutul dari Wahyu tiga belas -- mulutnya dari singa, kakinya dari beruang, tubuhnya dari macan tutul, dan sepuluh tanduk itu. Binatang merah kirmizi dari Wahyu tujuh belas ialah suatu kelanjutan dari binatang yang menyerupai macan tutul setelah lukanya yang mematikan itu sembuh kembali. Demikianlah ia digambarkan pada bagan itu menunjukkan bahwa ia memiliki ciri-ciri dari semua binatang yang mendahuluinya. Oleh sebab itu, kebinasaan dari binatang-binatang dari Daniel tujuh adalah juga kebinasaan dari binatang-binatang yang ditunjukkan kepada Yohanes dalam khayal; maka ajal dari semua binatang itu, berarti akhir sejarah dunia. 

Batu besar dari Daniel dua, yang menghantam patung itu pada

kakinya, ialah sebuah simbol tentang kedatangan Kristus; maka pecahnya patung itu menunjukkan pecahnya segala bangsa. Sebagaimana binatang merah kirmizi itu akan menghantarkan dunia yang ada ini kepada ajalnya, maka ia juga melambangkan dunia pada seberang sana dari seribu tahun millenium itu, yaitu setelah kebangkitan yang kedua. 

Api yang turun dari langit ke atas binatang itu, menunjukkan kematian yang kedua dari orang-orang jahat, yaitu seratus tahun sesudah kebangkitan yang kedua. Kemudian nubuatan dari Henok akan menemui kelengkapan kegenapannya : “Tengoklah, Tuhan datang, ..... hendak memutuskan hukum atas “semua orang”, dan untuk meyakinkan semua orang yang tidak beragama ..... terhadap semua perbuatannya yang fasik yang telah dilakukannya dengan jahatnya, dan terhadap semua pembicaraannya yang kasar yang telah  dibicarakan oleh orang-orang berdosa yang fasik itu melawan Dia.” (Yudas 14, 15). Jika ayat 14 dari Yudas itu berlaku terhadap kedatangan Kristus ke tempat Yang Maha Suci di dalam kaabah di surga, dan ayat 15 terhadap kedatangan-Nya yang kedua kali, maka kelengkapan dari kata-kata itu akan menemui kegenapannya sesudah seribu tahun millenium, karena hanya pada waktu itulah dapat Ia melaksanakan “pehukuman yang terakhir atas semua orang fasik”, semenjak dari Kain sampai kepada akhir dunia yang sekarang ini.        

Bagian pertama dari bagan itu, dari tahun 1929 sampai ke garis tikungan, yang ditandai Yehezkiel 9, ialah masa periode dimana 144.000 itu dimeteraikan -- yaitu pemisahan lalang-lalang dari gandum -- pembersihan sidang. Karena 144.000 itu adalah “buah-buah pertama”, maka kegenapan dari Yehezkiel 9 dan pemeteraian hamba-hamba Allah itu (144.000 itu), akan menandai permulaan dari penuaian yang terakhir, atau sebagaimana juga ia itu disebut, “Seruan Keras”. Pada waktu itu rombongan besar dari Wahyu 7 : 9, akan dikumpulkan di dalam sidang oleh hamba-hamba Allah (144.000 itu). (Lihat Yesaya 66 : 19, 20). 

Perkara-perkara dari semua orang yang dimeteraikan semenjak dari tahun 1929 sampai kepada penutupan masa kasihan yang terakhir akan diperiksa di depan tahta di dalam kaabah surga selagi masih hidup. Pemeriksaan itu dimulai setelah kegenapan Yehezkiel 9. Mereka yang dimeteraikan semenjak dari tahun 1929 sampai kepada kegenapan Yehezkiel 9 (berakhirnya masa kasihan bagi sidang), adalah orang-orang suci yang hidup, 144.000 jumlahnya, yang tidak pernah akan mati -- diubahkan tanpa merasai kematian. Kelas orang-orang yang melalaikan kesempatannya telah ditinggalkan tanpa meterai untuk binasa di bawah kehancuran dari Yehezkiel 9; Yesaya 63; dan Yesaya 66 : 15 – 17. Contoh kebinasaan orang-orang berdosa di dalam sidang ini, ialah sebuah contoh (type) dari kebinasaan orang-orang berdosa di dunia sesudah berakhir masa kasihan. Rombongan besar dari Wahyu 7 : 9. Mereka hidup pada masa penutupan masa kasihan bagi dunia, juga tidak akan pernah mati, karena mereka adalah contoh saingan dari 144.000 itu. Tetapi semua orang jahat yang telah ditinggalkan tanpa meterai, akan binasa. “Sampai di sinilah berakhir masalah itu”; “Takutlah akan Allah (bukan manusia) dan peliharakanlah semua perintah-Nya : karena inilah keseluruhan tugas manusia.” (Pengkhotbah 12 : 13).

MEREKA YANG 144.000 ITU

Wahyu Tujuh Dan Empat Belas 

Landasan dari pokok masalah yang terpenting ini secara luas telah dibicarakan di dalam buku “Tongkat Gembala” Jilid I. Oleh sebab itu, kami bermaksud untuk menguraikan hanya fase mana yang tidak terlihat di dalam Jilid yang pertama itu. Pertanyaan-pertanyaan berikut akan dijawab di dalam Bab ini : Pada waktu Tuhan memerintahkan malaikat untuk memeteraikan mereka (144.000 itu) apakah mereka itu ditemukan oleh pekabaran itu di dalam dunia atau di dalam sidang? Pada waktu yang manakah mereka itu dimeteraikan? Mengapakah mereka itu adalah “anak-anak dara”? Mengapa “tidak terdapat tipu di dalam mulut mereka”? Apakah mereka itu hanya kaum laki-laki atau kedua-duanya laki-laki dan perempuan? Mengapa mereka disebut “hamba-hamba Allah”? Mengapa mereka itu adalah Israel? 

Kami kutip dari tulisan-tulisan “Roh Nubuat” : ”Inilah masa kesukaran Yakub itu. Maka semua orang suci berseru dengan penuh penderitaan, lalu mereka dilepaskan oleh suara Allah. Mereka yang seratus empat puluh empat ribu itu berhasil menang. Wajah-wajah mereka bersinar-sinar dengan kemuliaan Allah.” -- “Life Sketches”, halaman 117. Perhatikanlah bahwa mereka yang 144.000 jumlahnya itu, ada dalam “masa kesukaran Yakub itu”. Menurut kutipan yang berikut ini, masa kesukaran itu dimulai segera setelah berakhir masa kasihan : “Bilamana kelak Kristus mengakhiri tugasnya sebagai perantara bagi manusia, lalu masa kesukaran ini akan dimulai.” -- “Patriarchs and Prophets”, halaman 201. Masa kesukaran itu adalah mendahului kebangkitan orang-orang suci, maka sebab itu mereka yang 144.000 itu tidak bangkit, melainkan mereka adalah orang-orang suci yang hidup yang tidak pernah merasai mati dan mereka akan diubahkan pada kedatangan Kristus yang kedua kali. 

MEREKA YANG 144.000 ITU DIMETERAIKAN SELAGI DI DALAM SIDANG 

Untuk menjelaskan hal ini maka kita harus mengomentari akan contoh hari grafirat itu. Hari yang terkenal itu dalam upacara bayangan adalah suatu hari penyucian, pehukuman, dan perlindungan. Perintah telah diberikan agar dalam bulan yang ketujuh dan pada hari yang kesepuluh dari bulan itu (hari grafirat), setiap orang Israel harus, menderita jiwanya, mengakui dosanya, dan membawakan suatu korban. Barangsiapa yang lalai mematuhi panggilan Ilahi ini akan dibunuh (dibinasakan) dari antara umat Allah. Oleh sebab itu, maka itulah hari pehukuman dan penyucian terhadap perkampungan Israel. Sementara orang berdosa binasa, maka orang-orang beriman dilindungi. Contoh yang hidup ini telah dikemukakan bagi keuntungan kita pada waktu sekarang ini, atas siapa hari grafirat contoh saingan itu akan datang. Gambaran ini yang terdapat di dalam tabernakel yang di bumi adalah dimaksudkan untuk menunjukkan pekerjaan yang berlangsung di dalam tabernakel surga.  

Pada waktu pehukuman dibuka dalam tahun 1844, seperti yang dijelaskan terdahulu, maka pemeriksaan itu dimulai terhadap orang-orang mati, dan apabila bagian dari pekerjaan itu selesai, lalu mulailah pehukuman terhadap orang-orang hidup. Sementara pemeriksaan terhadap perhimpunan orang-orang mati itu berlangsung, maka tidak mungkin ada pemisahan di antara perhimpunan orang-orang hidup. Tetapi apabila Imam Besar kita kelak memulaikan grafirat itu untuk orang-orang hidup, maka harus ada sebuah pekabaran kebenaran sekarang -- peniupan trompet -- yang menganjurkan kepada setiap orang untuk bergantung kepada Anak Domba Allah (Kristus) saja, yang hanya oleh, perantaraan-Nya dapatlah ia secara simbolis datang ke tempat kesucian itu, mengakui dosanya dan mendapatkan hidupnya. Jika akhir pehukuman terhadap orang-orang mati dan permulaan pehukuman terhadap orang-orang hidup itu tidak diberitahukan kepada kita, kita tidak akan memiliki sesuatu kebenaran sekarang apapun selagi pehukuman terhadap orang-orang hidup itu berlangsung. Pehukuman yang sedemikian ini tidak akan sah dan juga tidak adil. Barangsiapa yang lalai mematuhi undangan-undangan surga ini, akan dibiarkan tanpa meterai atau perlindungan Allah itu, dan karena itulah ia harus ditumpas keluar dari antara umat Allah, sebagaimana yang dilambangkan melalui upacara-upacara dalam contoh hari grafirat itu. 

Rasul itu mengatakan : “Karena masanya akan datang bahwa pehukuman harus dimulai terhadap rumah Allah.” (1 Petrus 4 : 17). Dari kenyataan bahwa hanya kepada gereja “Masehi Advent Hari Ketujuh” telah datang suatu pekabaran yang sedemikian ini seperti yang disebutkan di atas, yang telah disampaikan kepada mereka di dalam buku “Tongkat Gembala”, Jilid I, ialah suatu bukti tambahan bahwa gereja yang satu inilah rumah Allah itu. Masa pehukuman ini juga disebut “masa penuaian”. “Biarkanlah keduanya bertumbuh bersama-sama sampai kepada masa penuaian”, demikian kata Yesus, “maka dalam masa penuaian itu Aku akan mengatakan kepada para penuai, Kumpulkanlah dahulu olehmu lalang-lalang itu, dan ikatkanlah semuanya itu berberkas-berkas untuk dibakar : tetapi himpunkanlah gandum itu ke dalam lumbung-Ku.” (Matius 13 : 30). Kata-kata dari Tuhan kita itu adalah sesuai sekali dengan contoh hari grafirat itu, yang meramalkan bahwa itu adalah suatu hari pemisahan lalang-lalang dari gandum, atau penumpasan orang-orang berdosa yang tidak bertobat dari antara umat Allah (penyucian sidang). Oleh sebab itu, penuaian itu dimulai dengan pekerjaan penghabisan bagi sidang. Kristus mengatakan : “Biarkanlah keduanya bertumbuh bersama-sama sampai kepada masa penuaian.” Di dalam Wahyu 14 : 4, berbicara mengenai mereka yang 144.000 itu kita baca : “Mereka ini adalah buah-buah pertama bagi Allah dan bagi Anak Domba itu.” Oleh karena itu, jelaslah bahwa pada penyucian atau pemisahan lalang-lalang dari gandum di dalam sidang Allah, akan terdapat 144.000 orang yang telah mengakui dosa-dosa mereka; dan dengan demikianlah mereka dibuat menjadi putih dan bersih oleh darah Kristus yang mulia, karena mereka adalah “buah-buah pertama”. Ini juga dibuktikan oleh “Roh Nubuat”, karena kita baca : “Pemeteraian hamba-hamba Allah ini adalah sama dengan apa yang ditunjukkan kepada Yehezkiel dalam khayal.” -- “Testimonies to Ministers”, p. 445. Kami kutip dari “Testimonies for the Church”, Vol. 3, p. 266 : “Umat Allah yang benar, yaitu mereka yang memiliki roh pekerjaan Tuhan, dan roh penyelamatan jiwa-jiwa di dalam hati, akan senantiasa memandang akan dosa itu,

dalam tabiat dosanya yang sesungguhnya. Mereka akan selalu berdiri pada pihak penanganan yang jujur dan tegas terhadap dosa-dosa yang dengan mudah menguasai umat Allah. Terutama sekali dalam pekerjaan penghabisan bagi sidang, dalam masa pemeteraian mereka yang 144.000 itu. 

Sekali lagi pada halaman 267 : “Tandailah hal ini dengan seksama : Mereka yang menerima tanda kebenaran yang murni, yang dikerjakan di dalam diri mereka oleh kuasa Rohulkudus, yang dilambangkan oleh suatu tanda yang diberikan oleh orang yang berpakaian kain kasah, ialah orang-orang yang ‘berkeluh kesah dan menangis karena semua kekejian yang dibuat’ di dalam sidang ..... Bacalah pasal yang ke sembilan dari Yehezkiel. Tetapi pembantaian umum terhadap semua orang yang tidak melihat sedemikian ini betapa besarnya perbedaan di antara dosa dan kebenaran, dan yang tidak merasakan seperti orang-orang yang berdiri mematuhi petunjuk Allah dan menerima tanda itu, adalah digambarkan dalam perintah yang diberikan kepada lima orang yang memegang senjata-senjata pembantaian itu : “Pergilah kamu mengikuti dia ke dalam negeri itu, dan bunuhlah; janganlah matamu menaruh sayang, dan janganlah kamu menaruh kasihan; bunuhlah seluruhnya baik tua maupun muda, baik anak-anak gadis, anak-anak kecil maupun kaum perempuan : tetapi janganlah kamu menghampiri setiap orang yang padanya terdapat tanda itu; dan mulailah pada tempat kesucian-Ku.” 

Definisi dari kata “umum” ialah : “luas tetapi tidak universal”. Oleh sebab itu, maka itu bukan berarti kebinasaan dunia pada kedatangan Tuhan; melainkan ia itu menunjuk kepada orang-orang jahat di dalam sidang. Pembantaian ini adalah benar-benar akan terjadi; ia itu akan memisahkan dan melepaskan umat Allah dari dosa dan dari orang-orang berdosa; sebab jika tidak, maka pembubuhan tanda itu akan sia-sia saja. Persoalan yang sama inipun kembali dikemukakan di dalam “Testimonies for the Church”, Vol. 5, p. 211 : “Di sini kita saksikan, bahwa sidang -- yaitu tempat kesucian Tuhan -- ialah yang pertama sekali akan merasakan pukulan dari murka Allah.” Murka Allah tidak mungkin, dan tidak pernah mempunyai arti rohaniah. Kita kembali diingatkan bahwa mereka yang 144.000 itu adalah yang sisa : “Sekarang benar-benar mereka yang sisa itu adalah ‘orang-orang yang dikagumi’ ..... ‘Pada hari itu tunas Tuhan akan kelak indah dan mulia, dan buah dari bumi akan sempurna dan menarik bagi mereka yang luput dari Israel. Maka akan jadi kelak, bahwa barangsiapa yang tertinggal di Sion, dan barangsiapa yang menetap di Yerusalem, akan disebut suci, yaitu setiap orang yang tersurat namanya di antara orang-orang yang hidup di Yerusalem.’ ” -- Id. p. 476. Dengan demikian mereka yang 144.000 itu adalah orang-orang yang dimeteraikan dalam masa pehukuman bagi sidang, dan terhadap merekalah pehukuman bagi orang-orang yang hidup dimulai. Oleh sebab itu, maka mereka adalah buah-buah pertama. 

Apabila angka bilangan mereka ini dimeteraikan, masa kasihan akan berakhir bagi sidang, dan pehukuman bagi orang-orang yang ada di dunia akan dimulai. Sebagaimana “lalang-lalang” binasa pada saat bilamana masa kasihan berakhir bagi sidang, demikian itu pula kelak pada penutupan pehukuman bagi dunia orang-orang berdosa akan mencapai ajalnya; yang satu merupakan contoh bagi yang lainnya. Adalah dikatakan dari hal mereka yang 144.000 itu : “Inilah mereka yang tidak mencemarkan dirinya dengan perempuan-perempuan, karena mereka adalah anak-anak dara.” (Wahyu 14 : 4). “Perempuan-perempuan” yang disebutkan di dalam Firman ini adalah simbol-simbol dari gereja-gereja

yang tidak suci. “Perempuan-perempuan” ini adalah dikemukakan di dalam Wahyu 17, di bawah lambang perempuan itu yang duduk di atas binatang merah kirmizi. Kami mengutip ayat 5 : “Dan pada dahinya (perempuan itu) ada tertulis suatu nama, yaitu rahasia, Babil yang besar, ibu dari segala sundal dan kekejian di bumi.” Ibu ini berikut anak-anak gadisnya ialah “perempuan-perempuan” itu dengan siapa mereka yang 144.000 itu tidak mencemarkan diri, karena pekabaran tentang pemeteraian ini mendapatkan mereka itu di dalam sidang. Demikianlah karena berada di dalam sidang Allah pada waktu pemeteraian, maka mereka adalah “anak-anak dara” -- “tidak tercemar dengan perempuan-perempuan” (dengan gereja-gereja yang jatuh itu). 

HAMBA-HAMBA ALLAH DALAM MASA PENUAIAN 

Di dalam Wahyu 7 : 3, mereka yang 144.000 itu disebut “Hamba-hamba dari Allah kita”. Jika disebut hamba, maka mereka harus mempunyai tugas untuk dilaksanakan. Mereka kembali lagi dikemukakan oleh nabi Yesaya dalam kaitannya dengan penyucian sidang dan kebinasaan orang-orang jahat : “Maka aku akan menaruh suatu tanda di antara mereka itu, dan aku akan mengutus orang-orang yang luput (144.000 itu) dari antara mereka itu kepada segala bangsa ..... Maka mereka akan menghantarkan semua saudaramu bagi suatu persembahan kepada Tuhan keluar dari segala bangsa, ..... di dalam sebuah bejana yang suci ke dalam rumah Tuhan” -- Sidang. (Yesaya 66 : 19, 20). “Maka hasil dari bumi akan menjadi sempurna dan indah menarik bagi mereka yang sudah luput dari Israel.” (Yesaya 4 : 2). Oleh sebab itu, maka mereka yang 144.000 itu disebut “hamba-hamba”. (Untuk penyelidikan selanjutnya terhadap Yesaya 66, baca “Tongkat Gembala”, Jilid I, pp. 165 – 172, bahasa Inggris). 

Ada juga dikatakan mengenai rombongan yang mulia ini : “Dan di dalam mulut mereka tidak terdapat tipu”. (Wahyu 14 : 5). Firman ini mempertegaskannya bahwa Injil yang mereka beritakan itu sepenuhnya adalah Firman Allah yang benar. Oleh karena itu, pekabaran yang mereka sajikan kepada dunia itu tidak mungkin lagi diragukan kemurniannya. Nabi dari Patmos itu setelah berbicara mengenai pemeteraian mereka yang 144.000 itu mengatakan : “Sesudah ini aku tampak, dan heranlah, ada suatu rombongan besar, yang tak seorangpun dapat menghitungnya, mereka berasal dari segala bangsa, dan suku-suku bangsa, dan umat, dan berbagai bahasa, berdiri di hadapan tahta, dan di hadapan Anak Domba itu, dengan berpakaikan jubah-jubah putih, dan pelepah-pelepah kurma berada di dalam tangannya.” (Wahyu 7 : 9). Oleh sebab itu, maka rombongan besar ini dihimpun dari segala bangsa, sesudah pekerjaan penghabisan bagi sidang berakhir, dan dalam masa penuaian yang besar. Pelepah-pelepah kurma di dalam tangan mereka itu menunjukkan kemenangan mereka atas binatang itu dan patungnya, kematian dan kubur. Salah seorang dari para tua-tua yang berada di hadapan tahta itu mengatakan dari hal mereka itu : “Inilah orang-orang yang telah keluar dari masa kesusahan besar itu” (masa kesukaran Yakub itu). (Ayat 14). Hamba Tuhan juga menyaksikannya di dalam kutipan-kutipan berikut ini : “Dan langit itu lenyaplah seperti surat yang digulung, dan setiap gunung dan pulau telah berpindah keluar dari tempatnya. Dan segala raja di bumi dan orang-orang besar, dan orang-orang kaya, dan para penglima, dan orang-orang perkasa, dan setiap hamba dan orang merdeka; sekaliannya menyembunyikan diri di dalam gua-gua dan dicelah-celah batu karang; sambil mengatakan kepada

gunung-gunung dan batu-batu, Timpalah kami, dan sembunyikanlah kami dari hadapan wajah Dia yang duduk di atas tahta itu, dan dari murka Anak Domba itu : karena hari besar murka-Nya itu telah sampai; maka siapakah yang dapat tahan berdiri?” Wahyu 6 : 14 – 17.

“ ‘Sesudah ini aku tampak, dan heranlah, ada suatu rombongan besar, yang tak seorangpun dapat menghitungnya, mereka berasal dari segala bangsa, dan suku-suku bangsa, dan umat, dan berbagai bahasa, mereka itu berdiri di hadapan tahta, dan di hadapan Anak Domba itu, dengan berpakaian jubah-jubah putih, dan pelepah-pelepah kurma berada di dalam tangannya; maka mereka berseru dengan suatu suara besar, katanya : Selamatlah bagi Allah kita yang bersemayam di atas tahta, dan bagi Anak Domba itu .....  Inilah mereka yang telah keluar dari kesukaran besar itu; dan mereka telah  membasuh jubah-jubahnya dan membuatnya menjadi putih di dalam darah Anak Domba itu’ ..... ” Wahyu 7 : 9, 17.

Di dalam Firman ini ada dua rombongan yang dikemukakan. Rombongan yang satu telah membiarkan diri mereka disesatkan, dan mereka telah berpihak kepada orang-orang yang bermusuhan dengan Tuhan.” -- “Testimonies for the Church”, Vol. 9, pp. 267, 268. Sebagaimana diperlihatkan oleh Roh Nubuat kedua rombongan ini (yaitu mereka yang berseru-seru kepada batu-batu karang, dan mereka yang memiliki pelepah kurma di dalam tangannya) hidup dalam masa kesukaran dan murka Allah itu, adalah jelas bahwa rombongan besar orang-orang yang memiliki pelepah kurma di dalam tangannya itu adalah orang-orang suci yang hidup yang berhasil dimenangkan oleh Injil dalam masa penuaian oleh usaha mereka yang 144.000 itu. 

ADAKAH MEREKA YANG 144.000 ITU LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN? 

Perintah untuk membubuhi tanda pada rombongan ini supaya mereka tidak jatuh ke bawah senjata-senjata pembantai dari lima orang itu, adalah terbaca sebagai berikut : “Maka kata Tuhan kepadanya, Masuklah kamu melalui tengah-tengah kota itu, yaitu sampai ke tengah-tengah Yerusalem, dan bubuhlah suatu tanda pada dahi dari orang-orang yang berkeluh-kesah dan menangis karena segala kekejian yang dibuat di tengah-tengahnya.” (Yehezkiel 9 : 4). Karena Firman mengatakan : “Bubuhlah suatu tanda pada dahi dari orang-orang”, maka beberapa orang berpendirian bahwa seluruh rombongan itu terdiri dari hanya orang-orang laki-laki saja. Alasan kedua yang telah diberikan bagi pendapat yang kacau ini ialah, bahwa mereka akan menjadi raja-raja dan imam-imam sehingga karena itulah mereka harus terdiri dari kaum laki-laki saja. Pendapat yang dibawa oleh jalan-jalan pikiran yang sedemikian ini tidak mungkin ditunjang oleh bagian-bagian Alkitab lainnya. Dengan demikian kita terpaksa menyelidiki lebih dalam lagi masalah ini.

Jika Yehezkiel menyebut mereka itu “orang-orang” (bahasa Inggris : men), maka Yohanes mengatakan bahwa mereka itu adalah “anak-anak dara”. (Wahyu 14 : 4). Sekarang, jika kita hendak berpendirian bahwa yang dimaksudkan oleh Yehezkiel itu hanya kaum laki-laki (men) saja, maka dapat juga kita katakan, bahwa yang dimaksudkan oleh Yohanes itu hanya kaum perempuan saja. Mungkinkah itu bahwa penulis yang satu akan bertentangan dengan penulis yang lainnya? Tentu saja tidak. Jadi kita simpulkan dari Firman berikut ini bahwa mereka yang 144.000 itu adalah laki-laki dan perempuan : “Ia telah datang menjadi saksi, untuk memberi kesaksian mengenai terang itu, supaya semua orang (bahasa Inggris : men) oleh perantaraannya dapat percaya.” (Yohanes 1 : 7). “Semua orang”, harus meliputi laki-laki dan perempuan, sebab jika tidak maka keselamatan itu akan berlaku bagi kaum laki-laki saja. “Dan Aku, jikalau Aku

ini ditinggikan di atas bumi, Aku akan menarik semua orang (bahasa Inggris : men) kepada-Ku.” (Yohanes 12 : 32). Jika kata-kata semua orang di dalam ayat ini tidak meliputi laki-laki dan perempuan, maka kaum perempuan akan hilang. “Maka zaman kebodohan itu telah dibiarkan oleh Allah; tetapi sekarang Ia perintahkan kepada semua orang dimana-mana untuk bertobat.” (Kisah Para Rasul 17 : 30). Sekali lagi, jika kata-kata “semua orang” tidak meliputi laki-laki dan perempuan, maka berarti kaum perempuan tidak diperintahkan untuk bertobat. Jadi jelaslah bahwa kata benda orang-orang itu adalah suatu kata Alkitab kolektif mengenai laki-laki dan perempuan. Kata-kata inipun adalah benar dari kejadian, karena, Allah telah menjadikan perempuan dari laki-laki. Oleh sebab itu, ia adalah seorang perempuan. Kembali di dalam Galatia 3 : 28 kita baca : “Tidak ada laki-laki atau perempuan : karena kamu sekalian menjadi satu di dalam Kristus Yesus.” 

Karena tidak ada terdapat perbedaan di antara laki-laki dan perempuan di dalam Kristus, maka kita saksikan bahwa kaum perempuan maupun kaum laki-laki dapat menjadi raja-raja dan imam-imam. Pengertian yang sama ini dapat dibuktikan melalui pengalaman bangsa Yahudi : “Maka Debora, yaitu seorang nabiah (nabi perempuan), istri dari Lapidot, ia telah menghakimi Israel pada waktu itu ..... Dan bani Israel telah datang kepadanya bagi urusan hukum.” (Hakim-Hakim 4 : 4, 5). Perempuan ini menduduki suatu jabatan dari kaum laki-laki, yaitu menjadi seorang hakim atas umat Allah, yang mana adalah sejajar dengan seorang raja. Bukan hanya sebagai raja, tetapi ia juga adalah seorang nabiah. Kembali kita baca di dalam Lukas 2 : 36, 37, “Maka ada pula seorang nabiah, bernama Hana, anak dari Fanuel, berasal dari suku bangsa Asyer : ia sangat lanjut usianya, dan ia telah bersuami tujuh tahun lamanya semenjak dari masa perawannya; dan ia telah menjadi janda kira-kira umur delapan puluh empat tahun; maka tiada ia meninggalkan Bait Allah, melainkan berbakti kepada Allah dengan berpuasa dan berdoa siang dan malam.” Juga istri dari Shallum yang adalah seorang nabiah yang mengajar Israel dan yang mengatur sekolah. (Lihat 2 Raja-raja 22 : 14 – 16). Pilipus penginjil itu mempunyai empat anak perempuan yang juga bernubuat. (Lihat Kisah Para Rasul 21 : 8, 9). 

Dari pernyataan Paulus di dalam 1 Timotius 2 : 12, yang berbunyi : “Aku tiada mengizinkan seorang perempuan mengajar, atau mengambil kekuasaan atas orang laki-laki, melainkan supaya ia berdiam diri,” Saudara dapat mencatat pengertiannya di sini, yaitu bahwa perempuan harus tunduk kepada orang laki-laki sebagaimana yang telah ditentukan Allah, dan bukan bahwa ia dilarang untuk menduduki jabatan seorang guru. Kembali kami kutip, “Hendaklah semua perempuan berdiam diri di dalam gereja-gereja : karena tidaklah diijinkan bagi mereka itu untuk berbicara; melainkan mereka diperintahkan untuk tunduk, seperti juga yang dikatakan oleh hukum.” (1 Korintus 14 : 34). Bacalah pasal itu, maka Saudara akan melihat bahwa Paulus ingin menegakkan ketertiban di dalam gereja-gereja, karena terdapat banyak kekacauan karena berbicara dalam bahasa-bahasa yang tidak dikenal. Oleh sebab itu, maka untuk mendiamkan kekacauan itu ia mengatakan : “Hendaklah kaum perempuan berdiam diri di dalam sidang-sidang jemaat.” Ia tidak melarang mereka berbicara jika mereka mempunyai tugas untuk dilaksanakan. Jika ajaran ini dipatuhi dalam zaman ini maka akan terdapat suatu perubahan besar bagi yang lebih baik di dalam rumah Allah. 

Pada mula pertama Allah menciptakan laki-laki dan perempuan sama, bagaikan raja dan ratu. “Lalu Allah memberkati mereka, dan Allah berfirman

kepada keduanya, berbiaklah, dan bertambah-tambahlah, dan penuhilah bumi, dan taklukkanlah dia : dan berkuasalah atas segala ikan di laut, dan segala burung di udara, dan segala binatang hidup yang merayap di atas bumi.” (Kejadian 1 : 28). Perhatikanlah bahwa pemerintahan itu diberikan kepada mereka berdua. Tetapi sesudah mereka berdosa maka perubahan terjadi : “Kepada perempuan itu Tuhan berfirman : ..... kerinduanmu kelak kepada suamimu, dan ia akan memerintah atas kamu.” (Kejadian 3 : 16). Dengan begitu, maka setelah perempuan itu berdosa ia lalu jatuh ke bawah pemerintahan laki-laki. Tetapi apa yang telah lenyap dari Hawa karena penipuan itu, ia itu akan dikembalikan oleh penebusan. Demikianlah persamaan dari keduanya itu akan kembali ditegakkan sebagai raja-raja dan ratu-ratu. Oleh sebab itu, “maka tidak akan ada laki-laki ataupun perempuan di dalam Yesus Kristus.” Kristus sendiri mengukuhkan pendapat ini di dalam ucapan kata-kata berikut ini : “Karena apabila kelak bangkit mereka dari antara orang mati, tiadalah mereka kawin, atau dikawinkan, melainkan keadaan mereka itu seperti malaikat-malaikat yang di dalam surga.” (Markus 12 : 25).

Dengan demikian kata benda “orang-orang” (men) yang digunakan oleh Yehezkiel, dan kata benda “anak-anak dara” (virgins) yang digunakan oleh Yohanes ialah sebuah sebutan Alkitab kolektif yang mengandung arti kedua-duanya. Selanjutnya, jumlah keanggotaan gereja pada waktu ini adalah sedikit di atas 300.000 orang. Hanya kira-kira sepertiga dari mereka itu adalah laki-laki. Jika setiap laki-laki dimeteraikan dan diperhitungkan sebagai salah satu dari 144.000 orang itu, maka kita masih kekurangan untuk mencapai jumlah keseluruhan mereka itu. Kembali kita catat pada masa paskah di Mesir darah yang terdapat pada ambang pintu itu adalah merupakan contoh dari pembubuhan tanda atau pemeteraian. (“Tongkat Gembala”, Jilid I, halaman 96 – 98, bahasa Inggris).

Dalam malam itu di mana saja terlihat darah pada ambang pintu, anak sulung baik laki-laki maupun perempuan, tidak akan binasa; demikian pula halnya di waktu ini, mereka yang akan menerima pemeteraian, yaitu mereka yang telah memakaikan darah pada ambang pintu (dahi), dan sebagai anak sulung dari kedua kelas orang-orang, yaitu mereka yang mati dan mereka yang tidak, mereka merupakan sebuah contoh dari keimamatan yang ada sekarang (kependetaan), jelaslah, bahwa contoh ini menunjuk ke depan kepada suatu dinas kependetaan contoh saingan yang dibentuk terdiri dari laki-laki dan perempuan -- anak-anak sulung yang mati melambangkan kelas orang-orang yang akan jatuh ke bawah senjata-senjata pembantai dari lima orang itu; dan anak-anak sulung yang luput dari kematian, melambangkan kelas orang-orang yang akan menerima tanda dari orang yang membawa tinta penyurat itu dan yang berjalan melewati kematian kepada kehidupan. Demikianlah anak-anak sulung yang hidup dan yang berjalan lalu melewati laut Merah itu, adalah sebuah contoh dari mereka yang 144.000 itu. Buah-buah pertama dari penuaian itu, adalah hamba-hamba Allah yang berada dalam masa “seruan keras” dari Pekabaran Malaikat yang Ketiga.

Setelah penyucian sidang dan setelah pemeteraian hamba-hamba Allah itu, lalu pekabaran yang terdapat di dalam Wahyu pasal 18 akan mencapai puncaknya dengan sebuah “seruan keras” yang berbunyi : “Keluarlah dari padanya (perempuan itu), hai umat-Ku, supaya jangan kamu terbabit dengan segala dosanya, dan supaya tidak kamu menerima segala celakanya.” (Ayat 4). Karena orang-orang suci mendengar suara dari gembala yang baik dalam pekabaran Injil, maka mereka akan memisahkan dirinya dari dunia lalu menggabungkan diri kepada mereka yang 144.000 itu. Sementara proses penyaringan ini berlangsung dalam gereja-gereja yang jatuh itu, maka orang yang membawa

tinta penyurat itu akan memeteraikan mereka yang keluar memisahkan diri itu. Apabila semua umat kesucian kelak keluar meninggalkan Babil masuk ke dalam sidang, maka tugas orang yang membawa tinta penyurat itu akan berhenti dan masa kasihan akan berakhir. (Lihat “Early Writings”, p. 279). Oleh sebab itu, maka kegiatan dari lima orang pembawa senjata-senjata pembantaian itu akan terus berlangsung dan tugas mereka akan selesai apabila Kristus datang menjemput segala umat kesucian-Nya, karena adalah mereka itu yang memegang kuasa atas negeri itu -- sidang. (Lihat Yehezkiel 9 : 1; “The Great Controversy”, p. 656). Kemudian dunia yang ada ini akan berakhir, dan seribu tahun millenium kehancuran itu akan dimulai; dalam mana orang-orang suci akan mengadili orang-orang jahat.

Mereka yang 144.000 itu disebut Israel sebab pengalaman mereka adalah sama dengan pengalaman Israel kuno keluar dari Mesir untuk menguasai tanah perjanjian. Mesir kuno adalah lambang dari dunia. Perhambaan di Mesir adalah melambangkan perhambaan oleh dosa. Pergerakan eksodus ialah sebuah contoh dari sidang memisahkan diri dari dosa dan dari orang-orang berdosa. Kebinasaan anak-anak sulung di Mesir dan tenggelamnya para prajurit Mesir, di laut Merah menunjukkan kebinasaan orang-orang jahat dalam pemisahannya dari orang-orang suci. Padang belantara adalah melambangkan sidang berada terpisah dari dunia. Kebinasaan orang durhaka di padang belantara, ialah sebuah gambaran mengenai pemeliharaan terhadap sidang dalam keadaan bersih sesudah penyuciannya. Penguasaan atas tanah perjanjian ialah sebuah contoh dari Israel (orang-orang suci) menguasai dunia. Peperangan melawan orang-orang kapir di tanah perjanjian menunjukkan kebinasaan orang-orang jahat di dunia. Kita sedang berjalan melewati jalan itu sekali lagi, maka dalam berbuat sedemikian ini, kita harus menjauhi kekeliruan-kekeliruan yang pernah dibuat dalam pengalaman yang terdahulu. 

* * * 

PADA SAAT MASA KASIHAN BERAKHIR, KUBUR-KUBUR BERHENTI

Wahyu 14 Dan 15 

Wahyu 14 : 1, “Maka aku tampak, dan lihatlah, Anak Domba itu berdiri di atas gunung Sion, dan bersama-sama dengan Dia ada seratus empat puluh empat ribu orang, yang memiliki nama Bapa-Nya tertulis pada dahi mereka.” “Anak Domba” itu melambangkan Kristus, menunjukkan jabatan yang diduduki-Nya sebelum masa kasihan berakhir, selagi Ia masih bertindak sebagai perantara bagi umat-Nya; oleh sebab itu, sejumlah tertentu orang-orang suci berdiri bersama dengan Dia, di bumi selagi Ia masih berada di dalam tempat Yang Maha Suci. Gunung Sion yang terdapat di Yerusalem kuno ialah tempat lama dari kota itu, dan tempat dari istana Daud berikut para penerusnya. Oleh sebab itu, dari titik pandangan itulah kita harus menyajikan arti dari “Anak Domba” yang berdiri di atas gunung Sion. Oleh kata-kata Firman berikut ini kepada kita diberitahukan Tuhan telah membuat sebuah janji bahwa isi rumah Daud (Gunung Sion) telah merupakan sebuah terang baginya dan bagi semua anaknya sampai selama-lamanya. “Tetapi Tuhan

tidak mau menumpas seisi rumah Daud, karena sebab perjanjian yang telah dibuat-Nya dengan Daud, dan karena Ia menjanjikan untuk mengaruniakan sebuah terang kepadanya dan kepada semua puteranya sampai selama-lamanya.” (2 Tawarikh 21 : 7).  Janji itu bukan kepada Gunung Sion (isi rumah Daud) di Yerusalem kuno, karena keberadaan bangsa Yahudi adalah bersyarat.

“Kini kepada Abraham dan benihnya janji-janji itu telah dibuat : Ia bukan mengatakan, Dan kepada benih-benih, seolah-olah kepada orang banyak; melainkan seolah-olah kepada seorang, Dan kepada benihmu, yang adalah Kristus” -- “anak Daud”. (Galatia 3 : 16). Oleh sebab itu, Gunung Sion, seperti halnya di dalam Wahyu 14 : 1, adalah lokasi kerajaan yang terkenal di dalam Yerusalem samawi, seperti yang dikatakan oleh Daud sendiri : “Karena di sanalah ditaruh kursi-kursi pengadilan, yaitu kursi-kursi dari isi rumah Daud.” (Mazmur 122 : 5). Daud telah memandang ke depan kepada masa apabila pehukuman di dalam surga akan diselenggarakan : “Pada hari itu suatu pancaran air akan terbuka bagi isi rumah Daud dan bagi semua penghuni Yerusalem untuk membasuh semua dosa dan untuk semua kecemaran.” (Zakharia 13 : 1). 

Oleh sebab itu, maka khayal Yohanes mengenai mereka yang 144.000 sebagaimana mereka itu berdiri di atas Gunung Sion bersama-sama dengan Anak Domba, ialah suatu peristiwa sesudah rombongan istimewa orang-orang suci ini dimeteraikan, dan beberapa waktu sebelum masa kasihan berakhir. Pemeteraian mereka yang 144.000 itu adalah pada saat penutupan pehukuman terhadap orang-orang mati, dan pada permulaan pehukuman terhadap orang-orang hidup. Oleh sebab itu, mereka mempunyai suatu tugas besar untuk dilaksanakan di bumi dalam kaitannya dengan pehukuman. Pekerjaan mereka telah dicontohi oleh Israel kuno sewaktu mereka itu diwajibkan untuk menguasai Tanah Perjanjian. Nabi Zakharia telah  melukiskan dengan baik masa itu : “Pada hari itu Tuhan akan melindungi semua penduduk Yerusalem; maka yang lemah di antara mereka pada hari itu akan kelak jadi seperti Daud; maka isi rumah Daud akan jadi seperti Allah, seperti malaikat Tuhan di hadapan mereka itu. Dan akan jadi kelak pada hari itu, bahwa Aku akan mencari membinasakan segala bangsa yang datang melawan Yerusalem (sidang). Dan Aku akan menuangkan atas isi rumah Daud, dan ke atas semua penduduk Yerusalem, roh rahmat dan permintaan doa : lalu mereka akan memandang kepada-Ku, yang telah ditikamnya, (karena Ia telah mati bagi dosa-dosa mereka) dan mereka akan meratapi Dia seperti orang meratapi putera satu-satunya, dan mereka akan menangisi Dia tersedu-sedu, seperti orang menangisi anak sulungnya.” (Zakharia 12 : 8 – 11). Betapa indahnya pengalaman itu kelak nanti apabila kita sepenuhnya memahami akan kasih Allah dan harga yang telah dibayar bagi penebusan itu. 

Nabi Mikha menamakan mereka yang 144.000 itu, “mereka yang tersisa dari Yakub”. (Lihat “Tongkat Gembala”, Jilid I, halaman 102, bahasa Inggris). “Maka mereka akan menghabisi tanah Assiria dengan pedang, dan tanah Nimrod pada segala pintu masuknya : demikianlah kelak ia akan melepaskan kita dari orang Assiria, apabila ia datang ke dalam negeri kita, dan apabila ia berpijak di dalam daerah-daerah perbatasan kita. Maka mereka yang tersisa dari Yakub akan berada di tengah-tengah banyak bangsa bagaikan sebutir embun dari Tuhan, bagaikan curah hujan di atas rerumputan, yang tiada menantikan orang, ataupun yang tidak mengharap-

harapkan anak-anak manusia. Maka mereka yang tersisa dari Yakub itu akan terdapat di antara bangsa-bangsa Kapir di tengah-tengah banyak bangsa bagaikan seekor singa di antara segala binatang di hutan, bagaikan seekor singa muda di antara kawanan-kawanan domba : yang jika ia berjalan lalu, maka dipijaknya mangsanya dengan kaki maupun dicabik-cabiknya sampai hancur, dan tak satupun yang dapat lolos. Tanganmu akan ditinggikan atas segala pembencimu, dan segala musuhmu akan ditumpas ..... Maka Aku akan membalas dengan kehangatan murka-Ku terhadap orang kapir, sedemikian seperti yang tiada mereka itu mau dengar.” (Mikha 5 : 6 – 9, 15 -- KJV).

“Bagian Yakub itu tidaklah seperti mereka; karena ia adalah yang terdahulu daripada segala perkara : dan Israel ialah tongkat pusakanya : Tuhan serwa sekalian alam ialah namanya. Engkau adalah kampak perang-Ku dan senjata-senjata perang-Ku (144.000) : karena dengan dikau akan Ku hancurkan segala bangsa, dan dengan dikau akan Ku binasakan kerajaan-kerajaan; dan dengan dikau Aku akan menghancur-luluhkan kuda dan penunggangnya; dan dengan dikau Aku akan menghancur-luluhkan kereta dan pengendaranya; dan dengan dikau juga Aku akan menghancur-luluhkan laki-laki dan perempuan; dan dengan dikau Aku akan menghancurkan orang tua dan orang muda; dan dengan dikau Aku akan menghancurkan pemuda dan pemudi; dan Aku akan juga menghancurkan bersama dikau gembala berikut kawanan dombanya; dan dengan dikau Aku akan menghancurkan pengusaha kebun anggur berikut lembu pembajaknya, dan dengan dikau Aku akan menghancurkan para penguasa perang berikut para pemimpin pemerintahan.” (Yeremia 51 : 19 – 23). Oleh karena itu, pada kegenapan khayalnya Yohanes itu, mereka yang 144.000 itu “Berdiri di atas Gunung Sion”, bukanlah secara jasmani, melainkan dalam arti jabatan yang mereka duduki. Dalam cara yang sama seperti lima anak dara yang telah masuk bersama-sama dengan Dia ke perkawinan itu. (Lihat “The Great Controversy”, halaman 427). Sebagaimana halnya Israel kuno adalah pengacau teror terhadap orang-orang kapir yang tinggal di tanah perjanjian, demikianlah juga Israel Allah pada waktu ini akan menjadi suatu pengacau teror terhadap orang-orang berdosa di dunia, dan sebagaimana halnya Israel kuno sudah harus berperang dengan pedang untuk menguasai tanah itu, maka demikian itu pula Israel pada waktu ini harus berperang dengan “pedang dari Roh” untuk menguasai dunia (tanah perjanjian).

“Maka ku dengar suatu suara dari langit, seperti bunyi banyak air yang menderu, dan seperti bunyi suatu guruh yang besar : dan aku dengar bunyi suara orang pemetik kecapi memainkan kecapinya : dan mereka itu menyanyikan suatu nyanyian yang tampaknya baru di hadapan tahta, dan di hadapan empat  binatang, dan para tua-tua itu : dan tak seorangpun dapat mempelajari nyanyian itu terkecuali mereka yang 144.000 itu, yang telah ditebus dari bumi.” Wahyu 14 : 2, 3.

Nyanyian itu dinyanyikan di dalam surga oleh mahluk-mahluk surga di hadapan tahta, dan di hadapan binatang-binatang itu, dan para tua-tua itu. Oleh sebab itu, jelaslah bahwa persidangan hukum itu masih berlangsung. (Penjelasan selanjutnya akan menyusul). Perhatikanlah bahwa mereka yang 144.000 itu tidak menyanyi, namun mereka hanya dapat mempelajari “nyanyian” itu seperti yang dinyanyikan di dalam surga; artinya, mereka saja yang mengerti kebenaran samawi itu dalam masa yang istimewa itu dan kedudukan mereka dalam kaitannya dengan pekabaran yang harus mereka bawakan. 

“Maka aku dengar suatu suara dari langit yang mengatakan kepadaku, Tuliskanlah,

Berbahagialah segala orang yang sudah mati, yang mati dalam Tuhan semenjak dari sekarang ini : ya, kata Roh itu, bahwa mereka boleh berhenti dari segala pekerjaannya; dan segala perbuatannya mengikuti mereka itu.” (Wahyu 14 : 13). “Yang mati semenjak dari sekarang ini”, artinya, semenjak dari permulaan “seruan keras” itu. Dengan demikian firman itu menyatakan bahwa sebagian dari orang-orang suci akan meninggal selama masa penuaian itu (seruan keras). Kami mengutip dari “Counsels on Health”, halaman 375 : “Banyak orang akan ditidurkan (mati) sebelum siksaan masa kesusahan besar yang bernyala-nyala itu kelak datang menimpa dunia.” 

Sementara sebagian orang-orang suci kelak ditidurkan dalam masa “seruan keras” itu, adalah diperjelas oleh Wahyu 15 : 1, 2, bahwa semua orang yang hidup setelah masa kasihan berakhir dan sebelum permulaan dari curahan bela-bela itu, akan diubahkan tanpa merasakan kematian : “Maka aku tampak suatu tanda yang lain di langit, yang besar, dan menakjubkan, tujuh malaikat yang membawa tujuh bela yang terakhir itu; karena di dalam sekaliannya itu ada terisi murka Allah. Maka aku tampak seolah-olah suatu laut kaca yang bercampur dengan api : dan mereka yang telah  memperoleh kemenangan atas binatang itu, dan atas patungnya, dan atas tandanya, dan atas angka bilangan dari namanya, mereka berdiri di atas laut kaca, sambil memegang kecapi-kecapi Allah.” “Laut kaca” itu adalah melambangkan kehidupan yang kekal. (Dijelaskan di dalam Bab lain). Karena sebanyak sekalian mereka yang telah memperoleh kemenangan berdiri di atas laut itu, maka ini menunjukkan bahwa mereka telah melewati kematian sampai kepada kehidupan, dan tujuan akhir mereka sekarang adalah “Allah, Yerusalem baru.” 

Ayat 5 – 8 : “Maka sesudah itu aku tampak, dan, tengoklah, kaabah dari kemah kesaksian di dalam surga itu terbuka : lalu keluarlah dari dalam kaabah itu tujuh malaikat, yang memegang tujuh bela, mereka berpakaikan kain kasah asli dan putih, dan dada mereka dilapisi dengan cindai emas. Maka salah satu dari empat binatang itu memberikan kepada tujuh malaikat itu tujuh bokor emas yang penuh dengan murka dari Allah, yang hidup selama-lamanya. Maka kaabah itu dipenuhi dengan asap dari kemuliaan Allah, dan dari kuasa-Nya; dan tak seorangpun dapat masuk ke dalam kaabah itu, sampai tujuh bela dari tujuh malaikat itu digenapi.” Sesudah pemeriksaan hukum selesai dan setiap perkara diputuskan, kaabah kesaksian itu akan terbuka sama seperti pada waktu kaabah kesaksian contoh terbuka pada saat berakhirnya upacara korban : maka tirai yang memisahkan dua ruangan itu “tersobek menjadi dua dari atas sampai ke bawah.” (Lihat Matius 27 : 51).

Pintu yang dibukakan setelah masa kasihan berakhir ialah pintu masuk ke tempat suci yang tadinya tertutup dalam tahun 1844. Sesudah masa kasihan berakhir kaabah akan dipenuhi dengan kuasa dan kemuliaan Allah sehingga tidak seorangpun kelak dapat masuk sampai tujuh bela itu digenapi. Menunjukkan bahwa semua umat Allah berdiri di atas laut kaca (hidup kekal) dan kemudian pintu kasihan ditutup. Jadi sesudah Yesus meninggalkan tempat yang maha suci, hamba-hamba Allah tidak akan lagi mengucapkan khotbah-khotbah penguburan orang mati dan tidak ada lagi penginjilan bagi orang-orang berdosa. 

* * *

MATIUS PASAL DUA PULUH EMPAT, DAN TANDA-TANDA DARI KEDATANGAN KRISTUS 

“Tatkala Ia duduk di atas bukit Zaitun, murid-murid itu datang kepada-Nya secara diam-diam, lalu mengatakan, ‘Nyatakanlah kepada kami, kapankah segala perkara ini akan jadi? Dan apakah tanda kedatangan-Mu dan kesudahan dunia ini?’ Maka jawab Yesus kepada mereka itu, Berjaga-jagalah agar jangan seorangpun menyesatkan kamu. Karena banyak orang akan datang dalam nama-Ku, katanya, Aku inilah Kristus; maka mereka akan menyesatkan banyak orang. Maka kamu akan mendengar dari hal peperangan dan kabar-kabar peperangan : ketahuilah, janganlah kamu susah : karena segala perkara itu akan digenapi, tetapi itupun belum sampai kepada kesudahan itu. Karena bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan : maka akan terjadi bela kelaparan, dan wabah penyakit, dan gempa bumi, di beberapa tempat. Semuanya ini adalah permulaan dari segala kesusahan. Lalu pada masa itu kamu akan diserahkan orang untuk disiksa, dan kamu akan dibunuh orang, dan kamu akan dibenci oleh segala bangsa oleh sebab nama-Ku. Dan kemudian daripada itu banyak orang mendurhaka, dan mereka akan saling menghianati, dan saling membenci akan sesamanya. Maka banyak nabi palsu akan muncul, dan mereka akan menyesatkan banyak orang. Dan karena makin bertambah kejahatan, maka kasih dari banyak orang akan menjadi dingin. Tetapi barangsiapa yang bertahan sampai kepada akhirnya, ia akan diselamatkan. Dan Injil kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia untuk menjadi suatu kesaksian bagi segala bangsa; kemudian datang kesudahan itu.” (Ayat 3 – 14). 

Pertanyaan yang langsung disampaikan kepada Kristus dan jawaban-Nya yang memberi jaminan tentang kedatangan-Nya, dan akhir dari dunia yang sekarang ini, adalah cukup jelas dan sudah jelas dengan sendirinya, sehingga tidak mungkin dapat diragukan lagi. Ia tidak mengatakan bahwa akhir dari dunia berdosa yang sekarang ini tidak akan ada, tetapi ditegaskan-Nya dengan jelas bahwa ia itu akan terjadi. Tetapi bagaimanapun Ia mengatakan bahwa sebelum akhir dunia itu tiba, maka “Injil kerajaan ini (tanda-tanda kedatangan-Nya yang kedua kali seperti yang diramalkan di dalam pasal ini) akan diberitakan di seluruh dunia untuk menjadi suatu kesaksian bagi segala bangsa (bukan supaya semua bangsa kelak dapat ditobatkan, melainkan untuk menjadi suatu kesaksian) dan kemudian akan datang kesudahan.” Barangsiapa yang mengajar bertentangan dengan penegasan Tuhan yang jelas ini, adalah orang-orang yang dikatakan-Nya : “Banyak nabi palsu akan bangkit dan mereka akan menyesatkan banyak orang.” Selanjutnya, Tuhan mengatakan : “Karena seperti kilat memancar dari timur, dan bercahaya sampai ke barat; demikian itu pula kelak kedatangan Anak Manusia.” (Ayat 27). 

Sementara sebagian dari nabi-nabi palsu ini selengkapnya menyangkal akan kedatangan-Nya itu, orang-orang lainnya dengan berani mengatakan, “Ia sudah datang”. Yang lainnya lagi mengatakan bahwa tak seorangpun akan kelak melihat Dia pada kedatangan-Nya, tetapi, Ia akan mendirikan kerajaan-Nya di bumi, dan dunia ini tidak pernah akan sampai

kepada ajalnya, dan sebagainya. Kami ingin bertanya : Apakah Kristus sedang menceritakan sebuah cerita bohong, ataukah semua nabi palsu itu sedang menggenapi kata-kata ramalan-Nya dengan cara mencoba menyesatkan orang-orang suci mengenai kedatangan-Nya, lalu meruntuhkan kepercayaan mereka kepada kata-kata Firman Tuhan, lalu dengan demikian merampas dari mereka mahkota kehidupannya? Jika sekiranya mereka ini bukanlah para penyesat itu yang telah dibicarakan-Nya, maka siapakah sesungguhnya mereka itu?

Kalau saja para pelaku kejahatan yang sedemikian ini berani mencoba memutar-balikkan bahasa-Nya yang jelas itu seperti dalam contoh ini, maka tidakkah dapat diharapkan bahwa mereka juga akan kelak mencoba untuk meruntuhkan seluruh kebenaran Alkitab?

Apabila Kristus datang kelak “seperti kilat yang memancar keluar dari sebelah timur, lalu bercahaya sam