Davidian Today This is the official website of GADSDA

Languages

Social

Global search
Use these syntaxes below to make advanced search
Sentence search: "Ancient David also was a young boy"
AndX search: King David
OrX search: King | David
NotX search: King ! David
Book search
Use these syntaxes below to make advanced search witin books
Reference search: 1tg2: or 1tg2:18 or 1tg2:18.3
Sentence search within book: 1tg2::"Ancient David also was a young boy"
Sentence search within book categories (tracts): tr::"The Jews before Christ’s day"
AndX search within book: 1tg2::King David
OrX search within book: 1tg2::King | David
NotX search within book: 1tg2::King ! David

Surat Yang Melampiri Kartu Keanggotaan

Sebagai acuan bagi para pemilik kartu keanggotaan untuk bertumbuh menjadi Kristen yang matang

SEBUAH SURAT

YANG MELAMPIRI

KARTU KEANGGOTAAN

Rekan Anggota yang kekasih,

Dalam mengirim kartu keanggotaan Saudara bagi tahun ini, kami ingin membagikan kepada Saudara beberapa pemikiran Alkitab yang kami temukan sangat membantu dari hari ke hari sementara kita menempuh perjalanan Kristen yang panjang.

Saudara tahu, bahwa masing-masing kita di dalam tubuh ini secara alami melewati tiga masa periode: (1) masa kanak-kanak, (2) masa akil baliq, dan (3) masa dewasa. Demikian pula, dalam kerohanian kita, sebagaimana terlihat di dalam Amaran Sekarang, Jilid 2, No. 39, dan buku Traktat No. 14, "Kabar-Kabar Perang Meramalkan", kita melewati tiga pertumbuhan yang sedemikian: (1) Pembenaran oleh Karunia, yang sama dengan apa yang merupakan masa kanak-kanak secara rohani (sesudah dilahirkan kembali), (2) Pembenaran oleh Iman, yang sama dengan masa akil baliq, dan (3) Pembenaran Kristus, yang dalam kenyataan merupakan kedewasaan rohani. Dan karena periode "kanak-kanak", Pembenaran oleh Karunia itu pada waktu ini sudah lewat menurut "Amaran Sekarang", Jilid 2 No. 39, dan kita kini telah sampai pada masa periode Pembenaran oleh Iman dari masa periode "akil baliq", dimana keamanan kita dan kepentingan samawi kita berada, maka janganlah kita lalai berpegang teguh pada kedewasaan Kristen yang penuh, yaitu Pembenaran Kristus itu, kalau saja kita ingin diberi pahalan hidup kekal disertai sebuah rumah tinggal di dalam kerajaan-Nya. Oleh sebab itu kami ingin dengan seksama mencatat beberapa ciri dari seseorang Kristen yang dewasa - Davidian yang sejati itu. Seseorang tidak dapat tertolong jika tidak ia itu 

Membagikan Suatu Kontribusi Yang Patut Kepada Dunia

Kristen yang dewasa cukup memahami bahwa ia telah dilahirkan ke dunia ini untuk memperbaikinya, secara material maupun secara spiritual; bahwa ia tidak datang hanya untuk hidup bagi dirinya sendiri di dalamnya lalu pergi meninggalkannya dengan sesuatu ucapan "terimakasih" yang besar, melainkan untuk memberkatinya, untuk meninggalkan sesuatu kenangan terhadap apa yang Allah telah mampu menyelesaikan melalui dia bagi manusia, baik secara materi maupun secara rohani; sehingga ia adalah bagaikan sebatang pohon yang subur dengan buah-buahan di atas sebuah padang tandus, karena ia tahu bahwa "setiap pohon yang tidak mengeluarkan buah yang baik akan ditebang, dan dicampakkan ke dalam api". Matius 3 : 10. Dan, juga, bahwa seorang Kristen yang dewasa secara utuh adalah 

Memiliki Sebuah Khayal dan Sebuah Tujuan

Ia melihat bahwa ia memperoleh sebuah khayal tentang apa yang Allah kehendaki untuk dia perbuat. Ia tidak pernah bergerak maju seperti gaya seekor kupu-kupu; ia tahu apa yang harus diselesaikan dan ia melakukannya. Ia tidak mau memberi kesempatan bagi isyarat apapun yang dapat mengalihkan perhatian dan tenaganya dari mengejar cita-citanya. Ia cukup mengerti, bahwa "dimana tidak ada khayal, maka binasalah umat". Amsal 29 : 18. Lagi pula ia adalah seorang yang

Memikirkan Orang Lain.

Matanya adalah peka terhadap berbagai kebutuhan orang lain, maka ia berbuat apa saja dalam kemampuannya untuk membantu semua kebutuhan itu tanpa menghiraukan hal-hal yang kurang menguntungkan bagi dirinya sendiri, serta usaha yang mungkin kelak dituntut dari dirinya. Ia juga memperhatikan waktu, berbagai perasaan, usia nama baik, serta berbagai kemampuan dari orang lain, terutama mengenai harta milik orang lain, karena "kasih itu tidak melukai sesamanya" Roma 13 : 10. "Jangan ada apapun yang dilakukan dengan cara bersaing atau sombong; melainkan dengan rendah hati masing-masing menghargai orang lain lebih baik daripada dirinya sendiri. Janganlah setiap orang memikirkan perkara-perkaranya sendiri, melainkan juga terhadap perkara-perkara orang lain". Filipi 2 : 3, 4. Ia sama sekali

Tidak Mementingkan Diri.    

Ia selalu bergembira atas keberuntungan orang lain, dan ia suka orang lain mendapat nama baik bagi sesuatu yang mungkin telah berhasil diselesaikannya. Ia mengharapkan nama baik hanya dari Tuhan saja. Apa yang diperbuat oleh tangan kanannya, tangan kirinya tetap tidak tahu menahu (Matius 6 : 3, 4). Dia juga

 

Pemberani dan Tidak Takut.

Ia tidak mengenal takut terkecuali takut akan Allah saja. Ia memiliki keberanian untuk berdiri teguh tetapi bijak demi prinsip-prinsip yang benar tanpa menghiraukan akibat-akibatnya bagi dirinya sendiri. Ia tahu bahwa tidak seorangpun dapat melukainya jika Allah tidak mengijinkannya. Lagi pula, ia memahami bahwa sekalipun orang dapat membunuh tubuhnya, mereka tidak mungkin dapat menyentuh jiwanya (Matius 10 : 28). Allah saja yang menjadi pertahanannya. Selanjutnya ia adalah

D e r m a w a n.

Ia jujur dalam menilai pribadinya sendiri dan dermawan terhadap orang lain, karena ia sadar bahwa kalau saja latar belakangnya sendiri sama dengan mereka, maka ia sudah akan benar-benar sama dengan mereka; bahwa sementara orang lain melakukan sesuatu pelanggaran dalam sesuatu perkara, ia sendiripun mungkin melanggar dalam perkara-perkara yang lain. Ia tahu bahwa Allah mampu mengoreksi hamba-Nya sendiri (Roma 14 : 4 - 7), maka ia menjaga tangannya. Dia

Menguasai Semua Keadaan.

Ia selalu bersyukur dalam menghadapi keadaan  yang paling mengecewakan pada situasi atau lingkungan yang sulit. Ia tidak menghambur-hamburkan tenaganya dalam bersungut-sungut dan mengeluh, dan ia tidak berusaha menghindarkan diri dari tanggung jawab dan berbagai kenyataan yang mengecewakan. Ia juga tidak membiarkan dirinya dikalahkan dalam masa krisis, melainkan senantiasa siap "berdiri pada tugasnya", dan ia terus membawa sumber daya kerohaniannya agar berhasil menguasai semua keadaannya. Ia tidak jatuh di belakang Yusuf jaman dahulu, ia bahkan lebih maju darinya karena ia tahu bahwa ia sedang hidup di jaman yang lebih maju. Selanjutnya, ia adalah    

Tidak Pernah Berperasaan Sensitif.

Tuduhan-tuduhan yang bodoh tidak pernah mengacaukannya. Ia tidak menjadi marah menghadapi sekaliannya itu. Ia tidak pernah butuh untuk dilayani dengan sarung tangan. Pikirannya tidak pernah terpaku terus pada sesuatu yang akan melukai hatinya. Jika ada sesuatu yang dikatakan orang melawan 

nya, ia tidak pernah terluka atau tersinggung karenanya, terutama jika ia tidak bersalah dalam hal itu. Ia tidak suka membalas dendam; ia selalu membiarkan perkara-perkara yang sia-sia itu mati sendiri. Ia tidak mau membiarkan kekecewaan masuk ke dalam pikirannya, bahkan sekalipun semua orang meninggalkannya. Ia selalu ingat bahwa bahkan Tuhan sendiri pernah ditinggalkan oleh para pengikutNya, dan bahwa dari sekian juta orang terdapat hanya dua, seratus persen bagi Musa - hanya Kaleb dan Yosua. Ia senantiasa ingat akan firman yang mengatakan: "Bukan oleh kuat, juga bukan oleh kuasa, melainkan oleh Roh-Ku saja, firman Tuhan serwa sekalian alam". Zakharia 4 : 6. Oleh karena itu ia 

Tidak Mencari Pujian Atau Ingin Dikasihani.

Ia tidak ingin dikasihani orang lain, ia juga tidak menyayangi dirinya sendiri; ia menolak membuang-buang waktu mempersalahkan orang lain karena berbagai keadaan yang tidak menyenangkan atau hal terjadi sebaliknya atau keterbatasan-keterbatasan; Ia juga tidak mengharapkan pujian bagi semua perbuatannya atau semua yang patut baginya. Ia tidak pernah meniup terompetnya sendiri. Adalah cukup baginya untuk mengetahui bahwa ia sedang melayani Allah, maka Allah saja yang akan memberikan kepadanya pahala secara terbuka. Juga sebagai tambahan, ia selalu siap sedia mendengar; ia adalah    

Berpikiran Terbuka.

Ia senantiasa berusaha mengetahui lebih banyak tentang Allah dan mengenai apa yang Allah kehendaki untuk ia perbuat, tanpa menghiraukan melalui saluran mana terang akan datang. Ia tidak pernah mempersalahkan pendapat seseorang sebelum secara jujur dan penuh doa meneliti pendapat tersebut. Ia tidak pernah melatikan diri dari apapun, karena ia bergantung pada Roh Kebenaran dari Allah untuk menjaganya dari semua kesalahan, fanatisme, dan kesombongan. Ia tidak pernah membuat daging sebagai lengan tempat menyandarkan Kebenaran. Ia bergantung kepada Roh ALlah untuk menunjukkan kepadanya apa artinya kebenaran dan mana yang keliru. Benar-benar ia adalah seorang Berea (Kisah Rasul-Rasul 17 : 10, 11). Pemeliharaan terhadap Hukum Allah dan Kesaksian Yesus Kristus (Wahyu 12 : 17) adalah peta baginya menuju Kerajaan. Disamping itu, ia adalah 

Berpikir Logis dan Berpikiran Sehat.

Semua keputusannya dalam segala hal adalah bebas, berlandaskan pada logika dan pemikiran yang sehat, bukan pada emosi, atau karena berpihak, atau karena "hormat pada seseorang", ataupun demi keuntungan yang bersifat mementingkan diri sendiri. Cara Allah selalu merupakan tongkat pengukurnya. Oleh sebab itu ia tidak pernah hidup dalam penyesalan karena sesuatu, terkecuali karena dosa-dosanya sendiri. Bersama dengan ini, ia adalah 

Teguh Konsisten.

Ia tidak dikenal sebagai orang yang gampang berobah. Ia merubah pikirannya hanya apabila ia menemukan dirinya keliru atau khilaf. Ia benar-benar adalah Daud pada masanya. Ia adalah teguh dan dapat diandalkan di dalam apapun yang ditugaskan kepadanya, maka ia senantiasa 

Bersedia Menerima Koreksi.

Ia tidak tersinggung terhadap kritikan orang, melainkan justru berterima kasih karenanya, lalu ia memanfaatkan semua kritikan yang bersifat membangun. Ia tidak memaafkan semua kekeliruannya, melainkan memanfaatkan sekaliannya itu sebagai batu loncatan bagi perbaikan. Ia memiliki

Keberanian Tak Tergoyahkan.

Ia melupakan masa lalu, dan selalu mendesak mengejar nilai yang lebih tinggi dihadapannya. Oleh sebab itu, ia berusaha dengan segala kemampuan untuk memperbaiki semua penyebab dari kesulitan-kesulitannya, dan apa yang tidak dapat diperbaiki ia terima dan menyesuaikan dirinya sendiri terhadapnya. Ia adalah Musa di jamannya. Ia mungkin jatuh tujuh kali sehari, namun secepatnya bangkit lagi dan berlari ke depan, dan senantiasa berharap dan 

Memperhatikan Takdir Allah.

Melalui iman dan pengalaman ia yakin bahwa Allah sedang memimpinnya dan Dia akan memberikan secara bebas kebijaksanaan dan kekuatan yang dibutuhkan untuk menghadapi masalah-masalah kehidupan yang paling berat sekalipun. Dalam hal ini ia seperti Rut, wanita Moab itu. Ia tidak pernah membiarkan suatu kesempatan lepas, dan ia memiliki

Pikiran Yang Damai Sempurna.

Pikirannya sudah mantap untuk menang dan memajukan Kerajaan Allah dan, oleh karena itu, ia tidak takut menghadapi kelaparan ataupun kematian. Ia sama sekali tidak kuatir dengan masa depan. Ia tidak pernah mengeluh dalam berbagai kelemahannya; ia senantiasa bersyukur dan sadar bahwa ada ribuan kasus yang lebih buruk daripada permasalahannya. Ia tahu bahwa ia tidak mungkin mati jika Allah menghendaki ia hidup, dan bahwa ia tidak mungkin dapat hidup jika Allah menghendaki ia mati. Ia adalah Ayub dan ia adalah Paulus di jamannya. Ia menunggu dengan sabar, karena mengetahui bahwa "segala perkara bekerja bersama-sama bagi kebaikan mereka yang mencintai Allah, bagi mereka yang sudah terpanggil sesuai dengan maksud-Nya". Roma 8 : 28. Ia benar-benar mengetahui setiap awan gelap, dan mendung di tengah badai itu juga memiliki sisi cerah berkilau keperakan, dan ia senantiasa memandang pada sisi cerah itu. Ia adalah sangat

Berhati-hati Terhadap Apa Yang Dilakukan dan Bagaimana Melakukannya.

Ia  mencari dan menemukan keindahan yang terdapat di dalam semua ciptaan Allah, maka ia selalu berusaha memasukkan seni ke dalam semua yang diperbuatnya. Ia adalah orang yang   

Sangat Memilih-Milih.

Ia tidak pernah duduk bersama-sama dengan para pencemooh (Mazmur 1 : 1), tidak pernah makan dimana para pemabu makan, ia sangat khusus dalam memilih-milih kelompoknya. Bahan bacaannya, musik, seni, dll. tidak diragukan lagi. Untuk itulah ia mendapati dirinya   

Banyak Dibutuhkan.

Ia tidak pernah membuat musuh, dan selalu berusaha membuat banyak kawan. Ia berpikir positif, pikiran-pikiran yang berguna, maka dengan begitu ia adalah seorang yang tenang dan terbuka, berguna, orang yang bergembira, banyak dibutuhkan orang. Bahkan musuh-musuhnyapun menaruh hormat khusus kepadanya. Namun demikian ia adalah sangat      

Sederhana.

Ia tidak mencoba menarik perhatian orang kepada dirinya sendiri, melainkan lebih kepada    

 

permasalahan yang dibawanya, ia sederhana dalam berbusana, berbicara, dan berperilaku, dan ia menolak memamerkan diri dengan kemuliaan orang lain. Dalam keberhasilannya ia sungguh rendah hati dan bersyukur. Ia memuliakan Allah bagi semua perbuatannya dan keberhasilannya dan sekiranya ada sesuatu kemuliaan manusia, maka ia membaginya dengan sesama rekannya. Dan di atas segala-galanya ia selalu ingat dan 

Patuh Kepada Hukum-Hukum Allah.

Ia mempertahankan iman dalam sebuah masa depan yang lebih baik. Ia melakukan semuanya untuk hidup dan melayani, dan dengan demikian ia makan untuk kekuatan, bukan untuk kemabukan. Ia menghindarkan dirinya dari apa yang oleh Allah telah dinyatakan haram. Ia tidak pernah fanatik, ia juga tidak sembrono. Ia berjalan di tengah dimana terang bersinar paling cemerlang. Ia tidak terbawa dengan setiap angin ajaran; Ia memikirkan kekuasaan, dan menghindar dari umpatan orang. Sebelum ia masuk ke dalam bangsal "tamu" (Matius 22 : 11), ia memastikan diri bahwa ia  

Mengenakan Pakaian Pesta.

Ia sadar bahwa Kerajaan Allah itu terbentuk oleh orang-orang Kristen yang "dewasa", "tidak bercacat-cela atau berkerut, ataupun sesuatu perkara yang sedemikian." oleh sebab itu ia tidak menyia-nyiakan waktu untuk memandang bintik-bintik ataupun balok-balok di dalam mata orang lain (Matius 7 : 1 - 5). Kalau saja ada, maka ia berusaha untuk melihat agar tidak ada sesuatupun terdapat di dalam matanya sendiri. Ia tahu bahwa Tuhan Allah tidak mengangkat dirinya menjadi hakim atas umatNya, atau menjadi pembetul kesalahan orang-orang yang suka menentang. Ia melakukan apa yang dikatakan oleh kebenaran, dan bagi mereka yang ingin masuk dalam barisannya diperbolehkan, tapi ia tidak pernah berusaha mendorong mereka untuk berpihak pada sisinya.

Saya berharap dalam doa kiranya semua pemikiran yang berlandaskan Alkitab ini akan banyak membantu dan mendorong Saudara dan semua yang berada di sekitar Saudara. Semoga Allah memberkati Saudara. 

Salam saudaramu dalam iman dan

keberanian yang baik,

 

V.T. Houteff

VTH:cs

Incl.

Previous
2AS7
Saat Dari “ Masa Kesusahan” Dan Upah Dari Iman Seseorang Di Dalam Allah
Next
KGC
Khusus General Conference 1950