Davidian Today This is the official website of GADSDA

Languages

Social

Global search
Use these syntaxes below to make advanced search
Sentence search: "Ancient David also was a young boy"
AndX search: King David
OrX search: King | David
NotX search: King ! David
Book search
Use these syntaxes below to make advanced search witin books
Reference search: 1tg2: or 1tg2:18 or 1tg2:18.3
Sentence search within book: 1tg2::"Ancient David also was a young boy"
Sentence search within book categories (tracts): tr::"The Jews before Christ’s day"
AndX search within book: 1tg2::King David
OrX search within book: 1tg2::King | David
NotX search within book: 1tg2::King ! David

Keimamatan

Berisikan Undang-Undang Dasar dan Undang-Undang Pelaksanaan organisasi (By Laws) dan bagaimana diberlakukan

.

PENGANTAR 

Untuk sementara berdirinya dan nama, Persekutuan Davidian Masehi Advent Hari Ketujuh, adalah hanya untuk menyelesaikan suatu tugas ketentuan ilahi di dalam lingkungan organisasi madzab Masehi Advent Hari Ketujuh, maka di dalamnya ia membatasi segala kegiatannya secara ketat. Sementara tugasnya di dalam Masehi Advent Hari Ketujuh akan segera berakhir, dan “hamba-hamba dari Allah kita” itu (Wahyu 7 : 3) dimeteraikan, maka namanya akan diganti (Yesaya 56 : 5; 62 : 2; 65 : 15) dan maksudnya berikut tugasnya akan sepenuhnya merangkul injil (Matius 17 : 11; Yesaya 61 : 4 – 7). Kemudian Undang-Undang Dasarnya berikut Undang-Undang Pelengkapnya seperti yang dirumuskan di sini akan berlaku sepenunya.

DAFTAR ISI 

KEIMAMATAN DARI DAVIDIAN MASEHI ADVENT HARI KETUJUH

 

 

KEIMAMATAN

Dari

DAVIDIAN MASEHI ADVENT HARI KETUJUH 

UNDANG-UNDANG DASAR 

BAB I  -- NAMA 

Bagian I. Persekutuan ini akan dikenal untuk sementara dengan Davidian Masehi Advent Hari Ketujuh, yaitu keturunan nubuatan yang lahir dari sidang induk Masehi Advent Hari Ketujuh, yaitu sidang Laodikea. 

Nama, Davidian, berasal dari nama raja Israel kuno yang lalu, yang muncul dengan Persekutuan ini oleh alasan beberapa pendapat sebagai berikut : Pertama, ia berdedikasi kepada tugas memberitakan dan mengemukakan kembalinya kerajaan Daud itu dalam contoh saingannya (seperti yang diramalkan di dalam Hosea 1 : 11; 3 : 5), yang di atas tahtanya Kristus “putera Daud itu” akan duduk. kedua, ia menyatakan dirinya sendiri untuk menjadi yang pertama dari buah-buah pertama orang-orang hidup, yaitu barisan terdepan dari antara orang-orang keturunan Yahudi yang ada sekarang yang telah  membentuk Gereja Kristen mula-mula. Dengan munculnya barisan terdepan ini berikut bala tentaranya buah-buah pertama itu, dari mana akan dipilih masing-masing 12.000 orang dari kedua belas suku bangsa Yakub, yaitu “mereka yang 144.000 itu” (Wahyu 14 : 1; 7 : 2 – 8) yang akan berdiri di atas Gunung Sion bersama-sama dengan Anak Domba itu (Wahyu 14 : 1; 7 : 2 – 8), maka dimulailah pemerintahan Daud contoh saingan itu.

Nama Masehi Advent Hari Ketujuh yang diwarisi oleh Persekutuan ini dari induk organisasi adalah sementara (Yesaya 62 : 2), dan hanya untuk selama masa tugasnya di dalam induk organisasi. 

Bagian 2. Literatur (buku-buku bacaan) kepunyaan Persekutuan ini, rangkaian buku-buku Tongkat Gembala, mengambil judulnya dari tongkat Musa gembala dari Midian itu. Pada masa eksodus (keluar dari Mesir) di zamannya tongkat itulah yang telah membebaskan bani Israel dari tangan orang-orang Mesir dan kemudian telah memalu segala air Laut Merah, sehingga telah memberikan sebuah tempat berlindung bagi orang-orang pelarian itu dan bahkan telah memasang sebuah jerat yang mematikan menghadapi musuh-musuh mereka yang mengejar mereka dari belakang. Karena alasan inilah literatur itu memakai nama “Tongkat Gembala” untuk mengindetifikasi dan memperkenalkan tugasnya yang istimewa yang telah ditulis oleh Yesaya sebagai berikut : “Maka akan jadi kelak pada hari itu, bahwa Tuhan akan membentangkan tangan-Nya kembali pada kedua kalinya untuk menyambut kembali umat-Nya yang sisa, yang akan tertinggal, dari Asyur, dan dari Mesir, dan dari Pathros, dan dari Cush, dan dari Elam, dan dari Shinar, dan dari Hamath, dan dari kepulauan di luatan” (Yesaya 11 : 11); dan untuk menundang perhatian kepada satu-satunya kegenapan nubuatan Mikha yang berbunyi : “Suara Tuhan berseru-seru kepada negeri itu, maka orang yang bijaksana akan menyaksikan namamu : Dengarlah olehmu akan tongkat itu, dan Dia yang telah menentukannya.” Mikha 6 : 9.

BAB II --- TUJUAN 

Bagian 1. Tujuan dari Persekutuan ini ialah untuk mengadakan di antara umat Allah reformasi yang dianjurkan di dalam buku Testimonie for the Church, Volume 9, halaman 126, sebagai prasyarat pergerakan untuk menyampaikan “Panggilan Jam Kesebelas” (Matius 20 : 6, 7) dari “injil yang kekal itu …. Kepada setiap bangsa, dan suku-suku bangsa, dan bahasa, dan orang banyak.” Wahyu 14 : 6. Melalui panggilan ini, yakni Seruan Keras dari pekabaran-pekabaran tiga malaikat itu, akan dihimpunkan “orang-orang umat kesucian dari Yang Maha Tinggi" (Daniel 7 : 27) ke dalam kerajaan “yang kelak akan menghancurkan dan menghabiskan semua …. Kerajaan.” Daniel 2 : 44. Demikianlah ia itu akan menghantarkan datang pemerintahan Kristus sebagai Tuhan atas segala tuan dan Raja atas segala raja yang memerintah atas seluruh bumi untuk selama-lamanya. 

BAB III --- KEANGGOTAAN 

Bagian 1. Keanggotaan dari Persekutuan ini akan terdiri hanya dari orang-orang yang berjanji mematuhi seluruh kepercayaan dan yang menghayati dalam kehidupan mereka semua acara dari Persekutuan tersebut di atas. 

BAB IV --- PARA PEGAWAI DAN TUGAS-TUGASNYA

Bagian 1.

(a)  Pegawai-pegawai tetap dari Persekutuan ini

akan berupa seorang ketua, seorang wakil ketua, seorang sekretaris, dan seorang bendahara. 

(b)  Ketua akan dipanggil dan dipilih sesuai dengan tata cara yang dikemukakan di dalam buku Keluaran pasal tiga ayat sepuluh, lima belas, dan enam belas; pasal empat, ayat tujuh belas; Yeheskiel pasal tiga, ayat tujuh belas; dan Lukas pasal enam, ayat tiga belas. 

(c)  Semua pegawai lainnya dari Persekutuan ini akan ditunjuk sesuai dengan tata cara yang dikemukakan di dalam Bilangan pasal sebelas, ayat enam belas, tujuh belas, dua puluh empat, dan dua puluh lima dan di dalam Kisah Rasul-Rasul pasal enam, ayat satu sampai tujuh; dan pasal tiga belas, ayat satu sampai tiga. 

Bagian 2. Ketua, seperti contohnya di dalam Keluaran, pasal empat, dan di dalam Bilangan pasal enam belas, ayat dua belas dan dua puluh lima sampai tiga puluh dua, akan bertindak sebagai pemimpin dari Majelis Pelaksana, sebagai administrator utama dari segala persoalan Persekutuan, dan sebagai seorang pekerja dan pendeta dalam kepentingan umum Persekutuan. 

Bagian 3. Wakil ketua, sesuai dengan contoh teladan yang terdapat di dalam buku Keluaran, pasal tujuh, ayat satu dan dua harus membantu ketua dalam memimpin segala persoalan Persekutuan.

Bagian 4. Sekretaris harus memegang hasil-hasil dari semua pertemuan rapat Persekutuan, dan melaksanakan tugas-tugas lainnya yang sedemikian ini sesuai dengan keperluan kantor. 

Bagian 5. Bendahara harus menerima semua dana Persekutuan dan membayarkannya sesuai dengan contoh-contoh yang tercatat di dalam ayat-ayat injil berikut ini : Keluaran pasal tiga puluh enam, ayat tiga; Ezra pasal delapan, ayat dua puluh satu, dua puluh empat sampai tiga puluh; Kisah Rasul-Rasul pasal empat, ayat tiga puluh lima sampai tiga puluh tujuh; dan pasal enam, ayat tiga. 

BAB V – PERSIDANGAN 

Bagian 1. Persekutuan ini akan mengadakan sidang-sidang secara tetap pada waktu dan tempat yang akan ditentukan oleh Majelis Pelaksana melalui pemberitahuan di dalam The Symbolic Code, yaitu majalah resmi milik organisasi, di dalam dua terbitannya yang berturut-turut mendahului tanggal pembukaan sidang itu. 

Bagian 2.

(a)  Sidang-sidang istimewa dapat diundang dengan cara yang sama dalam mana sesuatu sidang yang tetap diadakan. 

(b) Keputusan-keputusan pada sidang-sidang istimewa akan memiliki kekuatan yang sama dengan keputusan-keputusan yang diambil pada sidang-sidang yang tetap.

BAB VI ---  UNDANG-UNDANG PELENGKAP 

Bagian 1. Undang-undang pelengkap dapat merangkul setiap perkara yang tidak bertentangan dengan Undang-Undang Dasar. 

Bagian 2. Persekutuan ini, pada setiap sidangnya, dapat membuat, merubah, atau mencabut kembali undang-undang pelengkap melalui suatu perwakilan dan pungutan suara seperti yang dicontohkan di dalam buku The Acts of the Apostles, halaman 195, 196.

UNDANG-UNDANG PELENGKAP

BAB I --- MAJELIS PELAKSANA 

Bagian 1.

(a) Majelis Pelaksana harus dibentuk sesuai pola majelis yang digambarkan di dalam Kisah Rasul-Rasul pasal enam, ayat dua sampai enam.

(b) Ia harus memiliki kuasa penuh untuk melaksanakan dan mengurus di antara masa sidang-sidang dari Persekutuan.

(c) ia harus dilengkapi dalam kekuasaan untuk memberikan surat-surat kuasa dan surat-surat ijin, dan untuk mengisi lowongan-lowongan yang mungkin timbul pada sesuatu kantor milik Persekutuan, terkecuali jabatan Ketua.

Bagian 2. Suatu jumlah mayoritas dari keanggota Majelis Pelaksana yang lengkap, sesudah diberikan pengumuman yang tepat kepada para anggota yang ada, akan merupakan suatu kuorum dari Majelis Pelaksana.

Bagian 3.

(a) Rapat-rapat pertemuan Majelis Pelaksana dapat diundang oleh Ketua atau oleh seseorang anggota Majelis yang ditunjuk untuk itu atau yang diberi kuasa olehnya.

(b) Rapat-rapat pertemuan dapat diadakan pada setiap waktu.

(c) Rapat-rapat itu harus diselenggarakan di markas besar, terkecuali sebaliknya ditentukan oleh suatu kuorum dari Majelis.

Bagian 4. Rapat-rapat kecil dengan jumlah anggota Majelis yang kurang dari tujuh orang dapat diselenggarakan di Kantor Tata Usaha Umum

untuk pelaksanaan soal-soal yang penting atau pun rutin 

BAB II --- PENGGANTIAN BIAYA PARA PEKERJA 

Bagian 1. Penggantian dan belanja dari semua pekerja yang dipekerjakan di dalam Persekutuan akan ditetapkan daan disesuaikan oleh Majelis Pelaksana.

Bagian 2.

(a)  Dana-dana Persekutuan bagi pekerja yang penting akan terdiri dari perpuluhan-perpuluhan dan persembahan-persembahan tatangan.

Dana-dana yang tak disangka-sangka akan terdiri dari sumbangan-sumbangan, warisan-warisan, peninggalan-peninggalan, dan penghasilan-penghasilan intern. 

BAB III --- PENGANGKATAN PENDETA

Bagian 1.

(a) Davidian Masehi Advent Hari Tujuh akan mengakui hanya hukum pengakatan dari Alkitab; yaitu : (1) bahwa panggilan kepada pelayanan injil harus datang dari Allah kepada pribadi, dan bahwa (2) ia harus diikuti dalam kesetiaan yang ketat kepada persyaratan-persyaratan tata tertib injil, sebagaimana diucapkan di dalam kitab Lukas pasal sepuluh, ayat tiga sampai sembilan; Matius pasal sepuluh, ayat lima sampai sebelas; dan pertama Timotius pasal tiga, ayat satu sampai tujuh.

(b) Karena dan setelah bukti diperoleh sepenuhnya, bahwa pelayanan seseorang memenuhi semua persyaratan ini, maka Majelis Pelaksana kemudian

akan memberikan pengakuan terhadap panggilannya untuk bergabung dalam tugas pelayanan yang suci sebagaimana pada dasarnya digariskan di dalam Matius, pasal sepuluh, dan Majelis akan mengangkatnya atau memberi ijin kepadanya sesuai keadaan yang memungkinkan. 

Bagian 2. Seseorang pendeta yang telah diangkat (diurapi) akan diberikan hak untuk berkhotbah dan mengajarkan segala kebenaran, prinsip-prinsip, dan pelajaran-pelajaran, dan untuk melaksanakan tugas-tugas kependetaan, pelayanan-pelayanan, dan upacara-upacara, yang dikemukakan di dalam Firman. 

Bagian 3. Seorang pendeta yang diberi ijin akan diberi kuasa untuk berkhotbah dan mengajarkan segala kebenaran, prinsip-prinsip, dan pelajaran-pelajaran yang dikemukakan di dalam Firman, tetapi tidak untuk melaksanakan tugas-tugas kependetaan, pelayanan-pelayanan dan upacara-upacara yang dikemukakan di dalamnya, terkecuali pada kesempatan-kesempatan yang sedemikian menjamin Majelis menganugerahkan secara khusus hak-hak tersebut.

ASAL MULA, NAMA, MISI POLA TELADAN 

Orang-orang Davidian adalah tunas-tunas yang muncul keluar dari Masehi Advent Hari Ketujuh yang sudah merosot jatuh yang secara nubuatan diperlihatkan dalam khayal di dalam buku Yeheskiel pasal sembilan. Anggota-anggotanya adalah terutama orang-orang yang telah dibuang keluar dan dirampas keanggotaannya dari gereja-gereja Masehi Advent Hari Ketujuh. Dengan demikian karena dipisahkan dari gereja mereka dan disangkal namanya karena sebab kepatuhan mereka kepada bunyi suara Tongkat, yaitu suara dari Gembala yang baik itu, maka mereka tersebut dengan nama yang dikaitkan pada tugas daripada Tongkat itu, “Davidian Masehi Advent Hari Ketujuh.” Sampai pada saatnya apabila mereka kelak “disebut dengan suatu nama yang baru, yang oleh mulut Tuhan sendiri akan diucapkan. Yesaya 62 : 2. 

Dengan demikian telah bangkit karena terpaksa, bukan karena memilih, maka Persekutuan ini di dalam organisasi Masehi Advent Hari Ketujuh telah dilantik pada tugas dari suatu tujuan tiga rangkap : yaitu (1)  Ia harus pergi kepada isi rumah “Israel dan Yehuda” (Yeheskiel 9 : 9), dan “mengatakan kepada mereka yang telah  diundang itu, Marilah; karena segala perkara kini sudah siap.” Lukas 14 : 17. Dan walaupun mereka yang pertama sekali mendengar panggilan itu mungkin memohon maaf akan dirinya karena berhalangan (ayat 8 – 20), namun “orang-orang miskin, dan orang-orang buntung, dan orang-orang timpang, dan orang-orang buta” dari “jalan-jalan dan lorong-lorong kota” (ayat 21, 22) akan menyambutnya. (2) Sesuai dengan itu, maka adalah untuk diimplementasikan bahwa “pergerakan reformasi yang besar” dan pembersihan adalah diserukan “di antara umat Allah.” – Testimonies for the Church, vol.

5, p. 80; vol. 9, p. 126. Dengan menyusul buah-buah dari pekerjaan ini, yaitu yang pertama dari penuaian, maka ia itu akan menghantarkan datang Kerajaan itu (Mikha 4 :  1, 2) (3) Kemudian dengan suatu seruan keras ia akan “pergi memasuhi jalan -jalan  raya dan semak-semak” (Lukas 14 :  23), memberitakan kepada setiap bangsa, dan suku-suku bangsa, dan bahasa, dan orang banyak” (Wahyu 14 : 6), “membaptiskan …. Dalam nama Bapa, dan nama Anak, dan Roh Kudus : mengajarkan kepada mereka untuk mematuhi segala perkara apapun” yang diperintahkan oleh Kristus (Matius 28 : 19, 20). Dengan buah-buah berikutnya dari hasil pekerjaan ini, yang kedua dari penuaian, maka ia akan memperluas Kerajaan itu sehingga ia itu akan memenuhi seluruh bumi (Daniel 2 : 35). 

Dengan demikian dalam mendemonstrasikan “melalui tanda-tanda dan keajaiban-keajaiban yang besar, oleh kuasa Roh Allah” (Roma 15 : 19), kuasa besar dari Kerajaan itu, maka ia akan memberikan kesaksian yang menyeluruh di seluruh dunia, bahwa Kristus berada bersama-sama dengan sidang-Nya “senantiasa bahkan sampai kepada akhir dunia.” Matius 28 : 20. 

Karena dipanggil secara nubuatan ke dalam kebun anggur Tuhan pada “jam kesebelas”, maka orang-orang Davidian Masehi Advent Hari Ketujuh akan memberitakan Kebenaran Sekarang yang terungkap dalam gulungan suratan nubuatan yang sedang terbuka (Testimonies for the Church, vol. 6, p. 17). Kebenaran-kebenarannya yang tepat waktunya itu “membuka ke hadapan orang-orang yang menaruh harap pada jaminan-jaminan ilahi dari Firman Allah.” “Kemungkinan-kemungkinan yang indah” dan

“hak-hak istimewa dan kewajiban-kewajiban yang mereka pun tidak meragukan terdapat di dalam Alkitab.” – Testimonies for the Church, vol. 8, p. 322. 

Sebagai landasan yang sesuai dengan struktur interpretasi Alkitab mereka, maka orang-orang Davidian berpegang bahwa “pengalaman-pengalaman Israel yang dahulu telah tercatat sebagai petunjuk bagi kita” (Education, p. 50); bahwa sesungguhnya “segala perkara ini telah jadi terhadap mereka untuk menjadi teladan-teladan : dan …. Adalah tertulis sebagai nasehat bagi kita, terhadap siapa segala nasib akhir dunia akan datang” (1 Korintus 10 : 11); bahwa, oleh karena itulah, dimana tidak terdapat suatu contoh dasar, maka tidak mungkin ada dan tidak akan ada suatu kebenaran dasar, suatu contoh saingan; dan bahwa dengan sendirinya, barangsiapa yang tidak mau “mendengar akan ….. Musa dan nabi-nabi, mereka pun tidak akan dapat dibujuk, walau seseorang bangkit dari kematian sekalipun.” Lukas 16 : 31. 

Sesuai dengan itu, maka persekutuan reformasi ini, sebagai usus perut bagi organisasi Masehi Advent Hari Ketujuh, akan merangkul suatu Alkitab dasar yang menyeluruh. Sehingga adalah perlu dibantu dengan Undang-Undang Dasar dan Undang-Undang Pelengkap yang membentuk prinsip-prinsip pemerintahan dan sistem dari empat kali penggantian pergerakan Eksodus yang berturut-turut, kerajaan Daud, Hakim-Hakim, dan Rasul-Rasul, seperti yang dijelaskan oleh Roh Nubuatan di dalam bagian-bagian berikut yang mengungkapkan bahwa Allah adalah pusat kekuasaan, dan bahwa orang-orang pilihan-Nya adalah para administrator daripada hukum-Nya :

PEMERINTAHAN 

PEMERINTAHAN MUSA --- SEBUAH CONTOH 

Pemerintahan Israel telah dibentuk sesuai sifat dari organisasi yang sangat menyeluruh, sama mentaajubkan karena kelengkapannya dan kesederhanaannya. Susunannya adalah demikian menyolok terlihat dalam kesempurnaan dan pengaturan semua pekerjaan ciptaan Allah yang tampak dalam perekonomian orang-orang Ibrani itu. Allah adalah pusat dari kekuasaan dan pemerintahan, kedaulatan Israel. Musa berdiri sebagai pemimpin mereka yang dapat dilihat, oleh pilihan Allah, untuk mengelola hukum-hukum atas nama-Nya. Dari para tua-tua suku-suku bangsa itu sebuah majelis yang terdiri dari tujuh puluh orang kemudian telah dipilih untuk membantu Musa dalam urusan-urusan umum bangsa itu. Selanjutnya datang imam-imam, yang meminta petunjuk Tuhan di dalam kaabah. Para panglima, atau para penghulu, memerintah atas suku-suku bangsa itu. Di bawah mereka ini terdapat ‘para perwira yang berkuasa atas masing-masing seribu orang, dan para perwira atas seratus orang, dan para perwira atas lima puluh orang, dan para perwira atas sepuluh orang’; dan yang terakhir sekali, para pegawai yang dapat dipekerjakan bagi tugas-tugas khusus.” – Patriarchs and Prophets, p. 374. 

Selaras dengan rencana ini, maka ‘Musa telah memilih orang-orang yang mampu dari antara seluruh Israel, dan menjadikan mereka itu kepala-kepala atas orang banyak itu, yaitu para pemimpn atas seribuan orang, para pemimpin atas seratusan orang, para pemimpin atas lima puluhan orang, dan para pemimpin atas sepuluhan orang. Maka mereka menilai orang banyak itu pada segala waktu : persoalan-persoalan yang berat diteruskan oleh mereka kepada Musa, tetapi setiap masalah kecil mereka selesaikan sendiri.

“Kemudian, sewaktu memilih tujuh puluh orang tua-tua untuk membagi dengan dia tanggung jawab-tanggung jawab kepemimpinan, maka Musa secara hati-hati telah memilih sebagai pembantu-pembantunya, orang-orang yang memiliki martabat, penilaian yang sehat, dan pengalaman. Dalam pesannya kepada para tua-tua ini pada waktu pelantikan mereka ia telah menggariskan beberapa persyaratan yang cocok bagi seseorang untuk menjadi seorang pemimpin yang bijaksana di dalam sidang. ‘Dengarlah akan berbagai persoalan di antara saudara-saudaramu’, demikian kata Musa, ‘dan putuskanlah secara adil di antara setiap orang dengan saudaranya, dan dengan orang asing yang berada dengan dia. Janganlah kamu menaruh hormat pada orang-orang dalam melakukan pengadilan; melainkan hendaklah kamu mendengar baik terhadap orang kecil maupun terhadap orang besar; janganlah kamu takut terhadap rupa orang; karena pengadilan itu adalah kepunyaan Allah”. – The Acts of the Apostles, pp. 93, 94. 

“Pemerintahan Israel telah dikelola dalam nama dan oleh kuasa Allah. Tugas pekerjaan Musa, tugas pekerjaan dari tujuh puluh tua-tua itu, tugas pekerjaan para pemimpin dan hakim-hakim itu, hanyalah untuk menegakkan undang-undang yang telah dikaruniakan Allah kepada mereka. Mereka tidak mempunyai kekuasaan apapun untuk membuat peraturan bagi bangsa itu. Inilah yang telah  menjadi dan terus akan menjadi persyaratan bagi adanya Israel sebagai suatu bangsa. Dari abad ke abad orang-orang yang diilhami Allah telah diutus untuk memberi petunjuk kepada umat, dan untuk mengendalikan mereka. 

PEMERINTAHAN DAUD --- SEBUAH CONTOH 

“Raja Daud, sampai kepada akhir pemerintahannya, telah menyampaikan suatu pesan penting kepada orang-orang yang memikul beban tugas pekerjaan Allah di

masa hidupnya. Dengan mengundang ke Yerusalem ‘semua penghulu Israel, para penghulu dari suku-suku bangsa, dan para perwira pasukan-pasukan yang siap melayani raja, dan para perwira atas seribuan, dan para perwira atas seratusan, dan para pengurus yang mengawasi semua barang dan harta milik raja, milik putera-puteranya, bersama-sama dengan para pengawai, dan dengan orang-orang yang gagah perkasa, dan dengan semua orang yang gagah berani.’ Raja yang sudah tua itu dengan penuh kesungguhan memsankan kepada mereka, ‘ di hadapan mata seluruh Israel perhimpunan Tuhan, dan di hadapan kehadiran Allah kita.’ Supaya ‘peliharakan dan berusaha mencarikan semua perintah Tuhan Allahmu.’ 

“Kepada Sulaiman sebagai seorang yang dipanggil untuk menduduki suatu jabatan tanggung jawab yang besar, Daud telah memberikan sebuah pesan khusus sebagai berikut : ‘Engkau, Sulaiman puteraku, ketahuilah olehmu akan Allah dari ayahmu, dan berbaktilah kepada-Nya dengan sebulat-bulat hati dan dengan pikiran yang rela : karena Tuhan menyelidiki semua hati, dan memahami semua bayangan pikiran manusia : jika engkau mencari Dia, maka Ia akan mau ditemukan olehmu; tetapi jika engkau meninggalkan Dia, maka Ia akan membuang engkau untuk selama-lamanya. Perhatikanlah sekarang; karena Tuhan telah memilih engkau : …. Jadilah kuat.” – The Acts of the Apostles, pp. 94, 95. 

PEMERINTAHAN EZRA --- SEBUAH CONTOH 

Kembali : “Sebagai tindakan berjaga-jaga khusus dalam mengamankan barang-barang perbendaharaan, maka Ezra ‘telah  memisahkan dua belas orang dari antara ketua para imam-iman.’ – yaitu orang-orang yang kesetiaan dan kejujurannya telah  terbukti, -- ‘lalu mebebankan kepada mereka perak,

dan emas, dan bejana-bejana, bahkan juga persembahan rumah Allah kita, yang telah  dipersembahkan oleh raja, dan para penasehatnya, dan orang-orang besarnya, dan semua Israel yang hadir di sana.’ Orang-orang ini diberi pesan dengan sungguh-sunggh untuk bertindak sebagai pengawal-pengawal yang selalu waspada atas semua barang perbendaharaan yang dipercayakan kepada pengawasan mereka. ‘Kamu adalah suci bagi Tuhan.’ Demikian kata Ezra; ‘bejana-bejana itu pun adalah suci; dan perak dan emas itu adalah suatu persembahan suka rela dari para nenek moyangmu kepada Tuhan Allah. Awasilah olehmu, dan peliharakanlah sekaliannya, sampai kelak kamu menimang-nimangkannya ke hadapan ketua dari imam-imam dan orang-orang Lewi itu, dan ketua dari bapa-bapa Israel, di Yerusalem, di dalam serambi-serambi rumah Tuhan.’ 

“Pengawasan yang dilakukan oleh Ezra dalam menyediakan pengakutan dan pengamanan terhadap barang-barang perbendaharaan Tuhan itu mengajarkan sebuah pelajaran yang patut mendapatkan penyelidikan yang penuh perhatian. Hanya orang-orang yang kesetiaannya yang terbukti, yang telah dipilih; dan mereka yang diberi petunjuk dengan jelas mengenai tanggung jawab yang berada dengan mereka. Dalam penunjukkan pegawai-pegawai yang setia untuk bertindak sebagai bendahara-bendahara atas barang-barang milik Tuhan, Ezra mengenal akan perlunya dan nilai tata tertib dan organisasi dalam kaitan dengan pekerjaan Allah.” – Prophets and Kings, pp. 616, 617. 

PEMERINTAHAN RASUL-RASUL --- SEBUAH CONTOH 

Prinsip-prinsip yang sama mengenai kejujuran dan keadilan yang mengendalikan para pemimpin di antara umat Allah di zaman Musa dan Daud, itu juga diikuti oleh orang-orang yang diberikan

kekuasaan mengawasi terhadap sidang Allah yang baru diorganisir di dalam sejarah injil dalam pekerjaan menertibkan segala perkara di dalam semua gereja-gereja, dan melantik orang-orang yang pantas untuk bertindak sebagai pegawai-pegawai, para rasul menjunjung tinggi standar-standar kempimpinan yang digariskan di dalam Injil Wasiat Lama. Mereka tetap mempertahankan bahwa orang yang akan dipanggil untuk berdiri dalam jabatan tanggung jawab kepemimpinan di dalam gereja, ‘harus bebas dari tuduhan bersalah, sebagai penatalayan Allah; bukan yang mementingkan kehendak diri sendiri, tidak cepat marah, bukan peminum anggur, bukan orang pengolok, tidak cenderung kepada laba yang keji; melainkan orang yang ramah tamah, pencinta terhadap orang-orang yang baik hati, sederhana, adil, suci, berkepala dingin; yang berpegang teguh kepada perkataan yang setia sesuai yang diajarkan kepadanya, bahwa ia mungkin mampu oleh ajaran yang sehat untuk menasehati maupun untuk menginsyafkan orang-orang yang menyangkal.’”  -- The Acts of the Apostles, p. 95. 

“Dengan mengundang suatu rapat pertemuan orang-orang percaya, maka rasul-rasul itu telah dipimpin oleh Roh Suci untuk menggariskan suatu rencana bagi organisasi yang lebih baik daripada semua kekuatan kerja sidang. Saatnya sudah tiba, demikian ditegaskan oleh para rasul itu, apabila para pemimpin kerohanian yang memiliki pengawasan atas sidang harus dilepaskan dari tugas membagi-bagikan kepada orang-orang miskin dan dari beban-beban yang sama, supaya mereka dapat bebas memajukan pekerjaan memberitakan injil. ‘Sebab itu, Saudara-Saudara.’ Demikian kata mereka, ‘carilah dari antara kamu tujuh orang yang dikenal jujur, yang penuh dengan Roh Suci dan akal budi, yang dapat kita tunjuk atas pekerjaan ini. Namun kita akan

menyerahkan diri selalu kepada doa, dan kepada pelayanan perkataan itu’. Anjuran ini diikuti, maka oleh doa dan oleh tumpangan tangan tujuh orang yang terpilih telah dipisahkan secara tersendiri bagi tugas-tugas mereka sebagai diakon. 

“Penunjukan tujuh orang itu untuk menjabat tugas pengawasan terhadap garis-garis pekerjaan yang khusus telah membuktikan suatu berkat besar kepada sidang. Para pengawai ini telah menaruh perhatian yang seksama terhadap kebutuhan-kebutuhan pribadi maupun terhadap kepentingan-kepentingan keuangan sidang pada umumnya; maka oleh managemen mereka yang seksama dan teladan peribadatan mereka, mereka telah merupakan suatu bantuan penting bagi rekan-rekan pegawai mereka dalam mengikat bersama-sama berbagai kepentingan sidang menjadi suatu kesatuan yang menyeluruh. 

“Bahwa langkah ini adalah sesuai dengan tata tertib Allah, adalah diungkapkan dalam hasil-hasil yang cepat bagi kebaikan yang terlihat. ‘Firman Allah telah meningkat; dan jumlah murid-murid berlipat ganda dengan cepat di Yerusalem; maka suatu rombongan besar imam-imam telah setia mematuhi iman.’ Pengumpulan jiwa-jiwa ini adalah disebabkan karena kebebasan yang lebih besar yang diperoleh rasul-rasul itu, dan kedua karena semangat dan kuasa yang ditunjukkan oleh tujuh orang diakon itu. Kenyataan bahwa saudara-saudara ini telah dilantik untuk tugas khusus mengawasi segala kebutuhan orang miskin, sama sekali tidak mengesampingkan mereka daripada mengajarkan iman. Sebaliknya, mereka telah sepenuhnya memenuhi syarat untuk mengajar orang lain dalam kebenaran, dan mereka telah melibatkan diri dalam pekerjaan itu dengan kesungguhnan hati yang besar dan berhasil.” – The Acts of the Apostles, pp. 89, 90.

TATA TERTIB 

“Allah adalah suatu Allah yang tertib. Setiap perkara yang berkaitan dengan sorga adalah dalam ketertiban yang sempurna; kepatuhan dan disiplin yang menyeluruh menandai gerakan-gerakan rombongan besar malaikat. Keberhasilan hanya dapat mendatangi ketertiban dan tindakan yang selaras. Allah menuntut ketertiban dan tata cara di dalam pekerjaan-Nya di waktu ini tidak kurang daripada di zaman Israel dahulu. Semua orang yang sedang bekerja bagi-Nya harus bekerja dengan bijaksana, bukan dengan cara sembrono yan tidak teratur. Ia ingin melihat pekerjaan-Nya terlaksana dengan iman dan ketepatan, supaya dapat Ia menempatkan meterai perkenan-Nya pada hasil pekerjaan itu.” – Patriarchs and Prophets, p. 376. 

“Allah adalah bukan pencipta kekacauan, melainkan pencipta perdamaian, seperti halnya di dalam semua sidang orang-orang suci.’ Ia menghendaki agar tata tertib dan tata cara dipatuhi di dalam perilaku segala persoalan sidang di waktu ini, tidak kurang daripada di zaman dahulu. Ia ingin pekerjaan-Nya dimajukan dengan lengkap keseluruhannya dan dengan ketepatan, supaya dapat Ia menempatkan di atasnya meterai perkenan-Nya itu. Kristen harus dipersatukan dengan Kristen, sidang dengan sidang, peralatan manusia bekerjasama dengan peralatan ilahi, setiap perwakilan tunduk kepada Roh Suci, dan semuanya tergabung dalam memberikan kepada dunia kabar-kabar baik mengenai karunia Allah.” – The Acts of the Apostles, p. 96. 

“Waktu dan kekuatan dari orang-orang yang dalam kehendak Allah telah ditempatkan pada jabatan-jabatan pemimpin yang bertanggung jawab di dalam sidang, harus digunakan menangani perkara-perkara yang lebih berat yang memerlukan kepintaran

khusus dan kebesaran hati. Bukanlah menurut tata tertib Allah bahwa orang-orang yang sedemikian ini harus dihimbau untuk menetralisasikan masalah-masalah kecil dimana orang-orang lainnya cukup mampu untuk menanganinya. ‘Setiap perkara besar harus mereka bawa kepadamu.’ Demikian anjuran Jethro kepada Musa, ‘tetapi setiap perkara kecil harus mereka putuskan : dengan demikian ia itu akan menjadi lebih ringan bagi dirimu, dan mereka akan memikul beban bersama-sama dengan kamu. Jika engkau harus melakukan perkara ini, dan Allah memerintahkan demikian itu kepadamu, maka engkau akan mampu bertahan, dan semua bangsa ini akan juga kembali ke tempat mereka dengan damai.” – The Acts of the Apostles, p. 93. 

SIDANG WASIAT LAMA – SEBUAH CONTOH 

Perkemahan Ibrani itu telah diatur dalam tata tertib yang tepat. Perkemahan itu telah dibagi ke dalam tiga bagian besar, masing-masing memperoleh tempatnya sendiri-sendiri yang ditunjuk di dalam perkemahan itu. Di tengah-tengah terdapat tabernakel, tempat tinggal dari Raja yang tak kelihatan. Sekeliling para imam-imam dan orang-orang Lewi bertempat tinggal. Di seberang sana dari mereka itu berkemah semua orang dari suku-suku bangsa lainnya. 

“Kepada orang-orang Lewi telah diberikan tugas melayani tabernakel berikut semua yang berhubungan dengan itu, baik di dalam perkemahan maupun sepanjang perjalanan. Apabila perkemahan itu dimajukan, maka mereka harus menurunkan tenda yang suci itu; apabila tempat berhenti telah dicapai, maka mereka harus mendirikannya. Tidak seorang pun dari sesuatu suku yang lain diperkenankan datang mendekat, karena ancaman kematian. Orang-orang Lewi itu dipisah-pisahkan ke dalam tiga bagian, yaitu keturunan-keturunan dari tiga putera Lewi, dan kepada masing-masingnya ditunjuk

kedudukan dan pekerjaannya yang khusus. Di depan tabernakel itu, dan terdekat dengannya terdapat tenda-tenda dari Musa dan Harun. Pada sebelah selatan terdapat orang-orang Kohathite, yaitu mereka yang tugasnya adalah menjaga peti perjanjian dan perabotan lainnya; di sebelah utara terdapat orang-orang Merarite, yaitu mereka yang ditempatkan disana dalam tugas menjaga tiang-tiang pilar, persendian-persendian, papan-papan, dan sebagainya; di belakang terdapat orang-orang Gershonite, kepada siapa dipercayakan pengawasan terhadap kain-kain tirai dan gantungan-gantungan lainnya. 

“Kedudukan dari masing-masing suku bangsa juga ditentukan secara terperinci. Masing-masing harus berbaris dan berkemah di samping standarnya sendiri, sesuai dengan yang diperintahkan Tuhan : ‘Setiap orang dari bani Israel haru mendirikan tendanya di samping standarnya sendiri, dengan tanda alamat rumah bapa mereka. Jauh sekeliling tabernakel perhimpunan itu harus mereka pasang tendanya.’ ‘Sebagaimana mereka berkemah, maka demikian itu pula mereka harus maju, masing-masing orang pada tempatnya dekat dengan standar mereka.’ Rombongan campuran yang telah  mengikuti Israel dari Mesir tidak diijinkan untuk menduduki tempat-tempat tinggal yang sama dengan suku-suku bangsa itu, tetapi mereka harus tinggal sama dengan suku-suku bangsa itu, tetapi mereka harus tinggal di pinggiran perkemahan; dan anak-anak mereka harus dikeluarkan dari masyarakat itu sampai kepada keturunan yang ketiga. 

* * * 

“Dalam seluruh perjalanan Israel, ‘peti perjanjian Tuhan berjalan di depan mereka, …… untuk mencarikan suatu tempat istirahat bagi mereka.’ Dengan dibawa oleh putera-putera Kohath, maka peti suci yang berisikan hukum Allah yang suci itu memimpin kereta pengangkut itu. Di depannya berjalan Musa dan Harun; dan para imam yang membawa trompet-trompet

perak berada di dekatnya. Imam-imam ini menerima petunjuk-petunjuk dari Musa, yang oleh mereka dikomunikasikan langsung kepada orang banyak itu melalui trompet-trompet. Itulah tugas para pemimpin dari masing-masing rombongan untuk memberikan pengarahan-pengarahan yang pasti mengenai semua pergerakan yang akan ditempuh sebagaimana ditunjukkan oleh trompet-trompet itu. Siapapun yang lalai menyesuaikan diri dengan petunjuk-petunjuk yang diberikan itu dihukum dengan hukuman mati.” – Patriarchs and Prophets, pp. 374, 375, 376. 

SIDANG WASIAT BARU --- SEBUAH CONTOH 

“Hanya setelah mereka bersatu dengan Kristus, baru dapatlah para rasul itu berharap untuk memperoleh kuasa pendamping dari Roh Suci, dan kerja sama malaikat-malaikat sorga. Dengan bantuan perwakilan-perwakilan ilahi ini mereka akan muncul ke hadapan dunia sebagai suatu front kesatuan, dan akan menjadi pemenang dalam peperangan yang terpaksa mereka tempuh secara tak habis-habisnya melawan kuasa-kuasa kegelapan. Karena mereka harus terus bekerja secara bersatu, maka utusan-utusan sorga akan berjalan mendahului mereka sambil membuka jalan; banyak hati akan dipersiapkan untuk menyambut kebenaran; dan banyak orang akan dimenangkan bagi Kristus. Selama mereka tetap bersatu, maka sidang akan keluar, “indah bagaikan bulan, cerah bagaikan matahari, dan hebat bagaikan suatu bala tentara dengan panji-panjinya.’ Tidak ada yang dapat menahan gerak maju mereka. Sidang akan terus maju dari kemenangan kepada kemenangan memenuhi misi ilahinya secara gilang gemilang memberitakan injil kepada dunia.

 

“Organisasi sidang di Yerusalem itu akan melayani sebagai suatu model bagi organisasi sidang-sidang di setiap tempat lainnya dimana utusan-utusan kebenaran harus memenangkan orang-orang bertobat kepada Injil. Mereka yang diberikan tanggung jawab pengawasan sidang secara umum bukanlah untuk menjadikan majikan atas milik pusaka Allah, melainkan, sebagai gembala-gembala yang bijaksana mereka harus ‘memberi makan kawanan domba Allah, …. Menjadi teladan-teladan kepada kawanan domba itu’; dan para diakon harus menjadi ‘orang-orang yang terkenal jujur, penuh Rohulkudus dan akal budi.’ Orang-orang ini harus mengambil tempat mereka secara bersatu di pihak yang benar dan mempertahankannya dengan teguh dan pasti. Dengan demikian mereka akan memiliki suatu pengaruh pemersatu atas seluruh kawanan domba. 

“Terakhir dalam sejarah sidang yang mula-mula sewaktu di berbagai bagian dunia banyak kelompok orang-orang percaya telah terbentuk menjadi sidang-sidang, maka organisasi sidang selanjutnya disempurnakan, sehingga tata tertib dan keserasian tindakan dapat dipertahankan. Setiap anggota didesak untuk melaksanakan bagiannya dengan sebaik-baiknya. Masing-masing harus memanfaatkan dengan bijaksana talenta-talenta yang dipercayakan kepadanya. Sebagian orang diberkati oleh Roh Suci dengan karunia-karunia khusus, --- ‘pertama-tama rasul-rasul, kedua nabi-nabi, ketiga guru-guru, setelah itu keajaiban-keajaiban, kemudian karunia-karunia menyembuhkan, pertolongan-pertolongan, pemerintahan-pemerintahan, berbagai-bagai bahasa.’ Tetapi semua kelas pekerja-pekerja ini harus bekerja dalam keserasian. 

“Ada terdapat berbagai karunia-karunia yang berbeda-beda, namun Rohnya sama. Dan ada terdapat pengelolaan-pengelolaan

yang berbeda-beda, tetapi Tuhannya sama. Dan ada berbagai-bagai usaha, namun adalah Allah yang sama itu juga yang bekerja dalam segala-galanya. Namun manifestasi Roh itu dikaruniakan kepada setiap orang untuk mengambil manfaat daripadanya. Karena kepada yang satu oleh Roh dikaruniakan perkataan yang bijaksana; kepada yang lainnya dikaruniakan perkataan pengetahuan oleh Roh yang sama; kepada yang lainnya dikaruniakan iman oleh Roh yang sama; kepada yang lainnya dikaruniakan bakat-bakat menyembuhkan oleh Roh yang sama; kepada yang lainnya dikaruniakan kemampuan membuat keajaiban-keajaiban; kepada yang lainnya dikaruniakan nubuatan; kepada yang lainnya dikaruniakan kemampuan melihat roh-roh; kepada yang lainnya dikaruniakan berbagai jenis bahasa-bahasa; kepada yang lainnya dikaruniakan kemampuan menginterpretasikan bahasa-bahasa; tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang sama yang satu itu juga, yang membagi-bagikan kepada setiap orang seberapa banyak sesuai kehendak-Nya. Karena sebagaimana tubuh adalah satu, tetapi memiliki banyak anggota, maka semua anggota dari tubuh yang satu ini, yang banyak jumlahnya, adalah satu tubuh : demikian juga Kristus.’” – The Acts of the Apostles, pp. 90 – 92. 

“Tata tertib yang dipertahankan di dalam sidang Kristen yang mula-mula telah memungkinkan mereka untuk bergerak maju dengan gigih sebagai suatu bala tentara yang berdisiplin baik yang berpakaikan senjata Allah. Rombongan-rombongan orang-orang percaya itu, walaupun tercerai-berai di seluruh daerah teritorial yang luas, sekaliannya adalah anggota-anggota dalam kesarasian antara satu dengan yang lainnya. Bilamana timbul perselisihan di dalam suatu sidang setempat seperti yang kemudian terjadi di Antiochi dan lain-lainnya, maka persoalan-persoalan sedemikian ini tidak dibiarkan

menimbulkan perpecahan di dalam sidang, melainkan telah diserahkan kepada suatu majelis umum dari seluruh badan orang-orang percaya yang dibentuk terdiri dari anggota-anggota delegasi yang ditunjuk dari berbagai sidang-sidang setempat, bersama-sama dengan para rasul dan tua-tua dalam jabatan-jabatan kepemimpinan yang bertanggung jawab. Dengan demikian semua usaha Setan untuk menyerang sidang di tempat-tempat yang terpencil jauh telah dihadapi dengan tindakan bersama dari semua pihak; sehingga segala rencana musuh untuk mengacau dan membinasakan telah dihalangi.” – The Acts of the Apostles, pp. 95, 96. 

“Alkitab secara khusus mengajarkan kepada kita untuk berhati-hati jangan sedikitpun membawakan tuduhan-tuduhan menentang orang-orang yang telah dipanggil Allah untuk bertindak sebagai utusan-utusan-Nya. Rasul Petrus dalam menggambarkan suatu kelas orang-orang yang sengaja menjadi orang-orang berdosa, mengatakan : ‘Mereka adalah sombong, keras kepala, mereka tidak takut membicarakan jahat melawan martabat-martabat orang. Sedangkan malaikat-malaikat yang jauh lebih berkuasa dan lebih kuat tidak menyerang mereka itu dengan tuduhan-tuduhan di hadapan Tuhan. Dan Paulus, dalam petunjuknya bagi mereka yang ditempatkan mengawasi sidang, mengatakan : ‘Terhadap seorang tua-tua janganlah menerima sesuatu tuduhan, terkecuali di depan dua atau tiga orang saksi.’ Dia yang telah menempatkan atas orang-orang tanggung jawab berat sebagai pemimpin-pemimpin dan guru-guru bagi umat-Nya, akan menuntut orang banyak itu bertanggung jawab atas cara-cara dalam mana mereka melayani hamba-hamba-Nya. Kita harus menghargai orang-orang yang telah dihargai Allah.” – Patriarchs and Prophets, p. 386.

DISIPLIN 

“Allah telah memilih Musa, dan telah menaruh Roh-Nya di atasnya; maka Miriam dan Harus oleh persungutan-persungutan mereka, mereka telah bersalah karena tidak setia, bukan saja kepada pemimpin mereka yang terpilih itu, melainkan juga kepada Allah sendiri. Para pembisik hasutan itu diundang ke tabernakel, lalu dibawa muka dengan muka menghadap Musa. Maka turunlah Yehovah di dalam tiang awan, lalu berdiri di pintu tabernakel itu, lalu memanggil Harun dan Miriam.’ Tuntutan mereka akan karunia nubuatan tidak ditolak; Allah sudah mungkin dapat berbicara kepada mereka dalam khayal-khayal dan mimpi-mimpi. Namun kepada Musa, yang oleh Tuhan sendiri telah  dinyatakan ‘setia di dalam seluruh rumah-Ku’, suatu hubungan yang lebih dekat telah diijinkan. Dengan dia Allah berbicara dari mulut ke mulut. ‘Maka sebab itu tidakkah kamu takut untuk berbicara menentang hamba-Ku Musa? Maka naiklah murka Tuhan terhadap mereka itu, lalu menghilanglah Ia.’ Awan itu lenyap dari tabernakel menandakan ketidak-senangan Allah, lalu Miriam dipalu. Ia “kemudian menjadi penderita kusta, seluruh tubuhnya menjadi putih seperti salju.’ Harun luput, namun ia dimarahi dengan sangat dalam hukuman terhadap Miriam. Kini, kesombongan mereka direndahkan sampai ke tanah, Harun mengakui dosa mereka, lalu ia memohon kiranya adiknya itu tidak dibiarkan binasa oleh pukulan yang memuakkan dan mematikan itu. Sebagai jawaban kepada doa-doa Musa, maka kusta itu kemudian sembuh. Namun Miriam dikucilkan dari perkemahan untuk tujuh hari lamanya. Bukannya setelah Miriam disingkirkan dari perkemahan untuk tujuh hari lamanya. Bukannya setelah Miriam disingkirkan dari perkemahan itu

lalu lambang perkenan Allah kembali berada di atas tabernakel. Sebagai penghargaan terhadap kedudukannya yang tinggi, dan sebagai kesedihan karena pukulan yang telah menimpa dirinya, maka seluruh rombongan tetap tinggal di Hazeroth, sambil menantikan dia kembali.” – Patriarchs and Prophets, pp. 384, 385. 

Kemudian “suatu komplotan yang cukup kuat terbentuk yaitu hasil dari suatu tekad maksud untuk meruntuhkan otoritas para pemimpin yang telah ditunjuk oleh Allah sendiri. 

“Korah, roh yang memimpin dalam pergerakan ini, adalah seorang Lewi, yang berasal dari keluarga Kohath, dan adalah saudara sepupu dari Musa, ia adalah seseorang yang berkemampuan dan berpengaruh luas. Walaupun telah ditunjuk pada tugas melayani tabernakel, ia ternyata telah menjadi kecewa dengan kedudukannya itu, lalu mencita-citakan untuk menduduki martabat keimamatan. Penganugerahan jabatan keimamatan kepada Harus dan isi rumahnya, yang dahulu dipindahkan ke atas anak lelaki yang pertama lahir di dalam setiap keluarga, telah menimbulkan irihati dan ketidak-puasan, sehingga selama beberapa waktu Korah secara diam-diam telah menentang otoritas Musa dan Harun, walaupun ia belum bergerak dengan sesuatu tindakan pemberontakan secara terbuka. Pada akhirnya timbullah di dalam hatinya rencana yang berani itu untuk meruntuhkan baik kekuasaan sipil maupun kekuasaan agama. Ia tidak henti-hentinya mencari para simpatisan yang bersimpati kepadanya. Dekat dengan tenda-tenda Korah dan orang-orang Kohathite, pada sebelah selatan dari tabernakel, terdapat perkemahan dari suku Reuben, yaitu tenda-tenda dari Dathan dan Abiram, dua penghulu suku ini yang tak jauh letaknya dari tenda-tenda Korah. Para penghulu ini secepatnya

menggabungkan diri kepada rencana-rencana yang ambisius itu. Karena adalah keturunan-keturunan dari putera tertua Yakub, maka mereka menyatakan bahwa kekuasaan sipil itu adalah milik mereka, maka mereka bertekad untuk membagi-bagi dengan Korah segala kehormatan keimamatan itu. 

“Suasana perasaan di antara orang banyak itu menyetujui semua rencana Korah. Dalam kepahitan kekecewaan mereka, maka keragu-raguan mereka yang dahulu, irihati, dan kebencian itu kembali lagi, lalu kembali keluhan-keluhan mereka itu diarahkan kepada pemimpin mereka yang sabar itu. Orang-orang Israel itu selalu lalai melihat kepada kenyataan bahwa mereka berada di bawah bimbingan ilahi. Mereka lupa bahwa Malaikat perjanjian itu adalah pemimpin mereka yang tak kelihatan, bahwa, dengan terselubung oleh tiang awan kehadiran Kristus berjalan di depan mereka, dan bahwa daripada-Nyalah Musa menerima semua pengarahannya. 

“Mereka tidak rela untuk menyerah kepada kalimat yang mengerikan bahwa mereka semuanya harus mati di padang belantara, dan sebab itulah mereka siap untuk berpegang pada setiap dalih untuk percaya bahwa adalah bukan Allah melainkan Musa yang telah memimpin mereka itu, dan yang telah mengucapkan nasib bahaya mereka. Usaha-usaha yang terbaik dari pada orang yang terlembut hatinya di bumi itu tidak dapat mengalahkan keras hati umat ini; dan walaupun tanda-tanda murka Allah terhadap keras kepala mereka yang terdahulu masih ada di hadapan mereka dalam pecahnya barisan-barisan mereka dan hilangnya sejumlah bilangan mereka, mereka tidak juga mau memanfaatkan pelajaran itu. Kembali mereka dikalahkan oleh cobaan. 

* * *

“Mereka telah berhasil menyesatkan dua ratus lima puluh penghulu, yaitu orang-orang yang terkenal di dalam perhimpunan itu. Bersama dengan para pendukung yang kuat dan berpengaruh ini mereka merasa yakin dapat mengadakan suatu perubahan yang radikal di dalam pemerintahan, dan akan banyak memperbaiki administrasi Musa dan Harun. 

“Irihati telah mendatangkan curiga, dan curiga mendatangkan pemberontakan. Mereka telah membicarakan persoalan hak kekuasaan Musa yang sedemikian besarnya dan terhormat, sehingga akhirnya mereka sampai kepada menganggap dia menduduki suatu jabatan yang sangat menimbulkan irihati, yang dapat diisi oleh salah seorang dari mereka seperti halnya Musa. Maka mereka telah menipu dirinya sendiri dan saling menipu di antara sesamanya dengan berpikir bahwa Musa dan Harun sendirilah yang telah menduduki jabatan yang dipegangnya itu. Orang-orang yang tidak puas itu mengatakan bahwa para pemimpin ini telah meninggikan dirinya sendiri di atas perhimpunan Tuhan karena mengambil bagi dirinya jabatan keimamatan dan pemerintahan, sedangkan isi rumah mereka tidak diistimewakan di atas orang-orang lainnya di Israel mereka juga tidak lebih suci daripada orang banyak itu, dan seharusnya cukup bagi mereka untuk berada pada tingkat yang sama tinggi dengan saudara-saudaranya yang sama-sama berkenan kepada kehadiran dan perlindungan Allah yang istimewa. 

“Pekerjaan berikutnya dari para pengkhianat itu adalah ditujukan kepada orang banyak itu. kepada orang-orang yang berada dalam kekeliruan, sehingga patut mendapat teguran, tidak ada lagi yang lebih menyenangkan hatinya daripada menerima simpathi dan pujian dari orang lain. Maka demikianlah Korah dan kawan-kawannya telah berhasil menarik perhatian dan memperoleh dukungan dari perhimpunan orang banyak itu.

Tuduhan bahwa persungutan-persungutan orang banyak itu telah  mendatangkan atas mereka murka Allah, telah dinyatakan sebagai suatu kekeliruan. Mereka mengatakan bahwa perhimpunan orang banyak itu tidak bersalah sebab mereka tidak lain hanya menginginkan hak-hak mereka; tetapi Musa adalah seorang pemimpin yang gila kekuasaan; sehingga ia telah menegur orang banyak itu sebagai orang-orang berdosa, sedangkan mereka adalah suatu umat yang suci, dan Tuhan berada di antara mereka. 

* * * 

“Dalam pekerjaan tidak setia ini telah terjadi ikatan persatuan dan keharmonisan yang lebih besar di antara unsur-unsur pemecah-belah perhimpunan orang banyak itu daripada yang pernah ada sebelumnya. Keberhasilah Korah dengan orang banyak itu menaikkan keyakinannya dan mengukuhkan dirinya dalam kepercayaannnya bahwa perampasan kekuasaan oleh Musa itu, jika tidak diawasi, akan berbahaya bagi kebebasan Israel. Ia juga mengatakan bahwa Allah telah membuka masalah itu kepadanya, dan telah memberi kuasa kepadanya untuk melaksanakan suatu perubahan di dalam pemerintahan sebelum ia itu kelak terlambat. Tetapi banyak orang tidak bersedia untuk menyambut semua tuduhan Korah melawan Musa. Kenangan terhadap kesabaran Musa dan segala pengorbanan dirinya telah datang di hadapan mereka, sehingga hati mereka menjadi kacau. Oleh sebab itu perlu menunjukkan sesuatu motif yang bersifat mementingkan diri sendiri untuk perhatinnya yang mendalam terhadap Israel; maka tuduhan yang lama kemudian diulangi bahwa ia telah membawa mereka itu keluar untuk binasa di padang belantara, supaya dapat ia menguasai semua harta milik mereka. 

“Selama sesuatu waktu pekerjaan ini diteruskan secara diam-diam. Namun segera setelah pergerakan itu

berhasil memperoleh cukup kekuatan untuk menjamin suatu perpecahan yang terbuka, maka muncullah Korah sebagai pemimpin orang-orang itu, lalu secara resmi menuduh Musa dan Harun merampas kekuasaan yang sama-sama diberikan juga kepada Korah dan kawan-kawannya. Selanjutnya dituduhkan, bahwa orang banyak itu telah dirampas dari kebebasan dan kemerdekaan mereka. ‘Anda terlalu banyak mengambi kekuasaan bagi diri anda’, demikian kata para pengkhianat itu, ‘karena seluruh perhimpunan adalah suci masing-masingnya, dan Tuhan berada di antara mereka; maka mengapakah anda mengangkat diri anda melebihi perhimpunan Tuhan?” 

“Musa sebelumnya tidak mencurigai komplotan yang terencana ini, sehingga sewaktu akibatnya yang sangat berbahaya itu pecah menimpa dirinya, maka jatuhlah ia tersungkur dalam doa secara diam-diam kepada Allah. Ia kemudian bangkit dengan penuh kesedihan, namun benar-benar tenang dan gigih. Petunjuk ilahi telah dikaruniakan kepadanya. ‘Bahkan juga besok’, demikianlah katanya, ‘Tuhan akan menunjukkan siapa sebenarnya milik-Nya, dan siapa sebenarnya yang suci; maka Tuhan akan menyuruh orang itu datang hampir kepada-Nya, bahkan orang yang telah dipilih-Nya itu juga akan disuruh-Nya datang hampir kepada-Nya.’ Pengujian itu ditunda sampai besok supaya semua orang memiliki cukup waktu untuk berpikir, kemudian mereka yang bercita-cita menduduki jabatan keimamatan itu akan datang masing-masingnya dengan sebuah pedupaan, lalu mempersembahkan kemenyan pada tabernakel itu di hadapan perhimpunan orang banyak itu. Peraturan hukum adalah sangat jelas bahwa hanya mereka yang telah dilantik bagi jabatan yang suci itulah yang harus melayani di dalam kaabah. Dan bahkan imam-imam Nadab dan Abihu telah  dibinasakan karena mencoba-coba

mempersembahkan ‘api yang lain’, dengan melalaikan perintah ilahi. Namun Musa menantang para penuduhnya, jika mereka berani melangkah memasuki suatu undangan yang begitu berbahaya untuk menunjukkan persoalan itu kepada Allah. 

“Dengan mengkhususkan Korah dan teman-teman sesama orang-orang Lewinya itu, Musa mengatakan : ‘Apakah tampak bagimu hanya sesuatu masalah kecil bahwa Allah Israel telah  memisahkan kamu dari antara perhimpunan orang Israel untuk menghantarkan kamu hampir kepada-Nya, untuk melaksanakan pelayanan tabernakel Tuhan, dan untuk berdiri di hadpaan perhimpunan orang banyak itu melayani mereka? Maka Ia telah membawa kamu hampir kepada-Nya, berikut semua saudaramu bani Lewi itu bersama-sama dengan dikau; maka diusahakan juga olehmu mendapatkan keimamatan itu untuk hal mana baik kamu maupun semua rombonganmu berkumpul bersama-sama melawan Tuhan? Dan apakah Harun itu sehingga kamu bersungut-sungut melawan dia? 

“Dathan dan Abiram tidak menempuh pendirian yang sedemikian tegas seperti halnya Korah; maka Musa, yang berharap bahwa mereka telah mungkin ditarik ke dalam komplotan itu tanpa sepenuhnya menyeleweng, telah mengundang mereka untuk datang ke hadapannya, agar dapat ia mendengarkan tuduhan-tuduhan mereka melawannya. Tetapi mereka tidak mau datang, dan mereka secara angkuh menolak mengakui kekuasaannya. Jawaban mereka, yang diucapkan pada pendengaran perhimpunan orang banyak itu adalah, ‘Apakah itu suatu persoalan kecil bahwa engkau telah  menghantarkan kamu keluar dari suatu negeri yang berlimpahan susu dan madu, untuk membunuh kami di padang belantara, tetapi engkau membuat dirimu sendiri menjadi penghulu atas kami? Lagi pula engkau

tidak membawa kami ke dalam suatu negeri yang berkelimphanan susu dan madu, atau memberi kamu mempusakai padang-padang rumput dan kebun-kebun anggur; maukah engkau mencungkil mata orang-orang ini? Kami tidak mau datang.’ 

* * * 

“Pada keesokan harinya dua ratus lima puluh orang penghulu bersama-sama dengan Korah sebagai pemimpin mereka datang hadir dengan pedupaan-pedupaan mereka. Mereka dihantarkan ke dalam sidang tabernakel itu, sementara orang banyak itu berkumpul di luar, untuk menungggu hasilnya. Bukannya Musa yang telah menghimpunkan perhimpunan orang banyak itu untuk menyaksikan kekalahan Korah dan rombongannya, melainkan para pemberontak itu sendiri yang dalam persangkaan merkea yang buta telah mengundang orang banyak itu bersama-msama untuk menyaksikan kemenangan mereka. Sebagian besar perhimpunan orang banyak itu secara terbuka memihak kepada Korah yang semua harapannya adalah tinggi untuk membawakan tuduhan melawan Harun.

“Sementara mereka berhimpun sedemikian ini di hadapan Allah, maka ‘kelihatanlah kemuliaan Tuhan bagi semua perhimpunan orang banyak itu.’ Amaran ilahi disampaikan kepada Musa dan Harun adalah : ‘Berpisahlah kamu dari antara perhimpunan orang banyak ini, supaya dapat Aku dapat menghapuskan mereka dalam sejenak.’ Namun mereka jatuh tersungkur dengan mukanya ke tanah dan berdoa : ‘Ya Allah, Allah daripada roh-roh dari semua orang, apakah karena dosa seorang, maka engkau akan murka terhadap seluruh perhimpunan orang banyak ini?’ 

“Korah telah menarik diri dari kumpulan orang banyak itu untuk bergabung dengan Dathan dan Abiram sewaktu Musa yang diikuti oleh tujuh puluh tua-tua itu

turun dengan sebuah amaran terakhir kepada orang-orang yang menolak datang kepadanya. Orang banyak itu mengikutinya, dan sebelum menyampaikan pesannya, maka Musa dibawa petunjuk ilahi mengundang orang banyak itu : ‘Saya mohon kepadamu agar jauhilah dirimu dari tenda-tenda perkemahan orang-orang jahat ini, dan janganlah menyentuh apapun milik mereka, supaya jangan kamu dihabiskan dalam semua dosa mereka itu.’ Amaran ini dipatuhi, karena menyadari akan pehukuman yang akan menimpa semua orang. Para pemimpin pemberontakan itu menyaksikan diri mereka ditinggalkan oleh orang-orang yang suda mereka sesatkan itu, namu kegigihan mereka tetap tidak goyah. Mereka tetap berdiri bersama-sama dengan keluarga mereka pada pintu kemah-kemah mereka, seolah-olah menantang perintah ilahi itu. 

“Dalam nama Allah Israel Musa kini menyatakan kepada pendengaran perhimpunan orang banyak itu sebagai berikut : ‘Dengan ini kamu akan mengetahui bahwa Tuhan telah  mengutus aku untuk berbuat segala perkerjaan ini; karena bukannya aku yang telah  melakukan semuanya itu menurut pikiranku sendiri. Jika orang-orang ini mati dengan kematian biasa orang-orang pada umumnya, atau jika mereka dibunuh kemudian dari kematian semua orang, maka bukanlah Tuhan yang telah mengutus aku. Tetapi jika Tuhan membuat sesuatu perkara baru, dan bumi mengangakan mulutnya. Lalu menelan merka itu, berikut semua orang milik mereka, lalu mereka turun dengan cepatnya ke dalam lubang, maka hendaklah kamu mengerti bahwa orang-orang inilah yang telah  menghasut Tuhan.’ 

“Segala mata seluruh Israel terpaku pada Musa sementara mereka berdiri dalam ketakutan dan harapan menantikan peristiwa itu. Setelah ia berhenti bicara, maka tanah yang padat itupun terbelah, lalu para pemberontak itu turun hidup-hidup ke dalam lubang bersama-sama

dengan semua milik mereka, dan ‘binasalah mereka itu dari perhimpunan orang banyak itu.’ Orang banyak itu melarikan diri, mereka bersalah sendiri karena ikut serta dalam dosa itu.

“Tetapi pehukuman-pehukuman itu belum berakhir. Api yang sambar menyambar dari awan kemudian menghabiskan dua ratus lima puluh penghulu-penghulu itu yang telah mempersembahkan kemenyan. Orang-orang ini karena bukan merupakan yang pertama dalam pemberontakan, maka mereka tidak dibinasakan bersama-sama dengan para pemimpin komplotan. Mereka telah diijinkan untuk mempertimbangkan nasib mereka, dan memperoleh kesempatan untuk bertobat; namun mereka bersimpati dengan pemberontak-pemberontak itu, sehingga mereka ikut memikul nasib mereka itu.

“Sewaktu Musa menghimbau Israel supaya melarikan diri dari kebinasaan yang akan datang itu, hukuman ilahi itupun masih dapat ditahan di saat itu jika sekiranya Korah dan rombongannya telah  bertobat dan mencarikan pengampunan. Namun kegigihan keras kepala mereka itu telah  memeteraikan nasib celaka merka. Kesluruhan perhimpunan orang banyak itu telah ikut dalam kesalahan mereka, karena semua mereka baik sedikit ataupun banyak telah bersimpati dengan merkea itu. Namun Allah dalam kemurahan-Nya yang besar telah membedakan di antara para pemimpn dalam pemberontakan itu dan orang-orang yang dipimpinnya. Orang-orang yang telah membiarkan diri mereka disesatkan masih diberikan kesempatan untuk bertobat. Kenyataan yang berada dimana-mana telah diberikan agar merka didapati keliru, dan bahwa Musalah yang benar. Pertanda manifestasi kuasa Allah menyikirkan semua ketidak-pastian. 

* * * 

“Semua Israel telah melarikan diri dalam ketakutan karena tangisan orang-orang berdosa yang kena bencana itu yang turun ke

dalam lubang, karena katanya : ‘Supaya jangan kita pun ditelah oleh mumi.’ Tetapi pada keesokan harinya semua perhimpunan bani Israel itu bersungut-sungut menentang Musa dan Harun, katanya, Engkau telah membunuh umat Tuhan itu.’ Dan mereka sedang akan maju melakukan kekerasan melawan para pemimpin mereka yang setia dan yang berkorban itu. 

* * * 

“Tetapi pelaksanaan murka telah keluar; celaka itu sedang melakukan pekerjaannya yang mematikan. Oleh petunjuk saudaranya, maka Harun telah mengambil sebuah pedupaan, lalu bergegas-gagas masuk ke tengah-tengah perhimpunan orang banyak itu untuk ‘melaksanakan suatu grafirat bagi mereka.’ Maka berdirilah ia di antara orang-orang yang mati dan yang hidup.’ Sementara asap kemenyan itu naik, maka doa-doa dari Musa di dalam tabernakel naik kepada Allah; lalu celaka itu ditahan; tetapi belum sampai nyata kesalahan persungutan dan pemberontakan empat belas ribu orang telah didapati mati. 

“Tetapi kenyataan berikutnya telah diberikan bahwa keimamatan telah ditegakkan di dalam keluarga Harun. Oleh petunjuk ilahi masing-masing suku mempersiapkan sebuah tongkat, lalu menulis di atasnya nama dari sukunya. Nama Harun terdapat pada tongkat Lewi. Tongkat-tongkat itu ditaruh di dalam tabernakel, ‘di hadapan kesaksian itu.’ Berkembangnya sesuatu tongkat akan menjadi pertanda bahwa Tuhan telah memilih suku itu bagi tugas keimamatan. Pada keesokan harinya, ‘bahwasanya, tongkat Harun bagi isi rumah Lewi itu telah bersemi, lalu mengeluarkan tunas-tunas, lalu berkembang, dan memberikan buah-buah amandel.’

Ini diperlihatkan kepada orang banyak itu dan kemudian diletakkan di dalam tabernakel sebagai seuatu saksi bagi generasi-generasi berikutnya. Keajaiban ini secara tepat menyelesaikan persoalan keimamatan itu. 

“Sekaranglah sepenuhnya dikuatkan bahwa Musa dan Harun telah berbicara oleh kuasa ilahi; maka orang banyak itu dipaksa untuk percaya kepada kebenaran yang tak disukai itu bahwa mereka harus mati di padang belantara. ‘Bahwasanya’, demikian kata mereka, ‘kami binasa, kami seluruhnya binasa.’ Mereka mengakui bahwa mereka telah berdosa karena mendurhaka melawan para pemimpin merekea, dan bahwa Korah dan rombongannya telah menderita dari hukuman Allah yang adil. – Patriarchs and Prophets, p.p 395 – 403. 

Di zaman Ezra sejumlah kecil para pemimpin Israel telah mendekati dia dengan suatu keberatan yang serius. “Sebagian ‘umat Israel dan para imam-imam dan orang-orang Lewi.’ Sedemikian jauh telah meninggalkan perintah-perintah Yehovah yang suci mengenai kawin campur dengan bangsa-bangsa di sekelilingnya. Mereka telah mengawini anak-anak gadis mereka itu, dan mereka mengawini putera-puteranya dengan anak-anak gadis mereka itu’, demikian dilaporkan kepada Ezra, ‘ sehingga benih yang suci itu telah bercampur baur dirinya dengan bangsa’ dari negeri-negeri kapir; ‘sesungguhnya, tangan para penghulu dan pemimpin itu telah menjadi yang utama dalam pelanggaran ini.’ 

* * * 

“Pada waktu upacara korban malam hari Ezra telah bangkit, lalu sekali lagi merobek-robek pakaiannya dan jubahnya, ia jatuh tersungkur pada kedua lututnya, lalu melepaskan beban jiwanya dalam permohonan ke Sorga. Sambil membuka kedua lengan tangannya kepada

Tuhan ia berseru : ‘Ya Allahku, aku malu dan merah mukaku untuk mengangkat wajahku kepada-Mu, Allahku; karena segala kejahatan kami telah  meningkat melebihi kepala kami, dan pelanggaran kami telah  bertumbuh sampai kepada segala langit. 

* * * 

Salah seorang dari mereka yang ada, bernama Shechaniah, mengakui kebenaran semua kata-kata yang diucapkan oleh Ezra itu. ‘Kami telah  melanggar melawan Allah kami.’ Demikian pengakuannya, ‘dan kami telah memperistri istri-istri asing yang berasal dari bangsa negeri itu : namun sekarang masih ada harapan di dalam Israel mengenai perkara ini.’ Shechaniah mengusul agar semua orang yang melanggar hendaknya membuat suatu janji kepada Allah untuk meninggalkan dosa mereka, dan supaya diputuskan ‘sesuai hukum.’ ‘Bangkitlah.’ Demikian permintaan kepada Ezra; ‘karena ini adalah persoalanmu : kami juga akan berdiri bersama-sama denganmu; jangan takut.’ ‘Kemudian Ezra bangkit lalu menyuruyh imam-imam besar, orang-orang Lewi, dan semua Israel, supaya bersumpah bahwa mereka akan berbuat sesuai dengan perkataan ini.’ 

“Inilah permulaan dari suatu pembaharuan yang indah. Dengan disertai kesabaran yang tak terbatas dan kebijaksanaan, dengan suatu pertimbangan yang seksama bagi hak-hak dan kebahagiaan setiap pribadi yang bersangkutan, maka Ezra dan kawan-kawannya berjuang untuk memimpin Israel yang bertobat ke dalam jalan yang benar. Di atas segala-galanya yang lain Ezra adalah seorang guru yang mengajarkan hukum; dan karena ia menaruh perhatian pribadi kepada pemeriksaan setiap kasus perkara, maka ia berusaha memberi kesan kepada orang banyak itu akan kesucian hukum ini, dan berkat-berkat yang dapat diperoleh melalui penurutan.” – Prophets and Kings, pp. 619, 622.

PENDIDIKAN

POLA DAN KURIKULUM SEKOLAH 

Objek Pendidikan Yang Sebenarnya

“Objek pendidikan yang sebenarnya ialah mengembalikan peta Allah di dalam jiwa. Pada mula pertama Allah menciptakan manusia di dalam kesamaan-Nya sendiri. Ia mengisinya dengan sifat-sifat yang mulia. Pikirannya adalah seimbang dengan sempurna, dan semua kemampuan dirinya adalah selaras. Tetapi kejatuhan dan akibat-akibatnya telah mengacaukan semua karunia ini. Dosa telah  menodai dan hampir menghapuskan sama sekali peta Allah di dalam manusia. Adalah untuk mengembalikan peta Allah inilah sehingga rencana penyelamatan itu telah disusun, dan suatu kehidupan yang berasal dari karunia diberikan kepada manusia. Untuk membawanya kembali kepada kesempurnaan dalam mana ia pertama sekali telah diciptakan, adalah tujuah kehidupan yang besar, -- yaitu objek yang menggaris-bawahi setiap objek lainnya. Inilah tugas para orangtua dan para guru, dalam pendidikan orang muda, untuk bekerja sama dengan maksud ilahi; maka dengan berbuat demikian ini mereka adalah ‘pekerja-pekerja yang bersama-sama dengan Allah.’ 

* * * 

“Takut akan Tuhan adalah permulaan daripada himat kepintaran; dan pengetahuan terhadap Yang Suci Itu ialah pengertian.’ Tugas kehidupan yang besar ialah pembangunan tabiat maka suatu pengenalan akan Allah adalah landasan dari semua pendidikan yang benar. Untuk memberikan pengetahuan ini, dan untuk mengubah tabiat sesuai dengannya, hendaklah merupakan objek daripada tugas guru.

Hukum Allah ialah sebuah pantulan dari tabiat-Nya. Oleh sebab itu pemazmur mengatakan : ‘Semua hukum-hukum-Mu adalah benar; dan ‘melalui perintah-perintah-Mu aku memperoleh pengertian.’” – Patriarchs and Prophets, pp. 595, 596. 

Latihan Bagi Orang Muda Sejak Semula 

“Di dalam undang-undang yang diberikan kepada Israel, petunjuk yang tegas telah diberikan mengenai pendidikan. Kepada Musa di gunung Sinai Allah telah mengungkapkan diri-Nya sebagai ‘Allah yang pemurah dan pengampun, yang panjang sabar, dan yang berkelimpahan dalam kebaikan dalam kebenaran.’ Prinsip-prinsip ini, yang diwujudkan di dalam hukum-Nya, harus diajarkan oleh para bapa dan para ibu di Israel kepada anak-anak mereka, Musa melalui petunjuk ilahi menyatakan keapda mereka : ‘Kata-kata ini, yang ku perintahkan kepadamu pada hari ini, harus berada di dalam hatimu; maka kamu harus mengajarkannya dengan rajin kepada anak-anakmu, dan harus membicarakannya sewaktu engkau duduk di dalam rumahmu, dan sewaktu engkau berjalan-jalan  di tepi jalan, dan sewaktu engkau berbaring, dan sewaktu engkau bangun dari tidurmu.’” – Education, p. 40.

“Tuhan sendiri mengarahkan pendidikan Israel. Pengawasannya tidak terbatas pada kepentingan-kepentingan agama mereka saja; apapun yang mempengaruhi mental mereka atau kebahagiaan fisik mereka juga merupakan pokok dari pemeliharaan ilahi yang seksama, dan berada di dalam batas hukum ilahi.

“Allah telah memerintahkan orang-orang Ibrani untuk mengajarkan kepada anak-anak mereka semua tuntunan-Nya, dan supaya membuat mereka itu kenal dengan semua hubungan-Nya

dengan para nenek moyang mereka itu. Ini adalah salah satu kewajiban istimewa dari setiap orangtua, -- yaitu kewajiban yang tidak dapat didelegasikan kepada orang lain. Sebagai pengganti bibir-bibir yang asing, maka hati bapa dan ibu yang mengasihi harus memberikan petunjuk kepada anak-anak mereka. Pemikiran-pemikiran Allah haru digabungkan dengan semua peristitwa hidup sehari-hari. Perbuatan-perbuatan Allah yang hebat perkasa dalam melepaskan umat-Nya, dan janji-janji dari hal Juruselamat yang akan datang, harus sering diceritakan di dalam rumah-rumah tangga Israel; dan penggunaan lambang-lambang dan simbol-simbol yan gmembuat pelajaran-pelajaran yang diberikan lebih kuat tertanam di dalam ingatan. Kebenaran-kebenaran besar mengenai pemeliharaan Allah dan mengenai kehidupan yang akan datang terkesan di dalam pikiran muda. Ia itu dilatih untuk melihat Alah yang sama dalam gambaran-gambaran alam dan kata-kata wahyu. Bintang-bintang di langit, pohon-pohon dan bunga-bunga di padang, gunung-gunung yang tinggi, bunyi riak selokan-selokan, -- semuanya berbicara mengenai Khalik Pencipta. Upacara korban yang hikmat dan perbaktian di kaabah, dan upacara-upacara para nabi, adalah suatu wahyu dari Allah. 

“Yang sedemikian inilah yang dilatihkan kepada Musa di bulik rumah yang sederha di Goshen; yang dilatihkan kepada Samuel oleh Hanna yang setia itu; yang dilatih Daud di bukit tempat tinggalnya di Bethelhem; yang dilatih Daniel sebelum gambaran tentang tawanan yang telah  memisahkannya dari rumah para nenek moyangnya. Demikian ini juga, adalah kehiduapn Kristus yang mula-mula di Nazaret; latihan yang sedemikian inilah oleh mana budak Timotius telah belajar dari bibir

‘neneknya Lois, dan ibunya Eunice’, kebenaran-kebenaran dari Kitab Suci. 

Sekolah-Sekolah Nabi-Nabi 

“Penyediaan berikutnya dibuat untuk menjadi petunjuk bagi orang muda, oleh mendirikan sekolah-sekolah nabi-nabi. Jika seseorang muda ingin menyelidiki lebih dalam ke dalam kebenaran-kebenaran dari Firman Allah, dan berusaha mendapatkan hikmat kepintaran dari atas supaya ia dapat menjadi guru di Israel, mak sekolah-sekolah ini terbuka baginya. Sekolah-sekolah nabi-nabi ini didirikan oleh Samuel untuk melayani sebagai pagar yang membatasi penyelewengan yang menyebar luas, untuk menyediakan bagi kebahagiaan orang muda secara moral maupun secara rohani, dan untuk meningkatkan kemakmuran masa depan bangsa oleh melengkapinya dnegan orang-orang yang mampu bertindak dalam takut akan Allah sebagai pemimpin-pemimpin dan penasehat-penasehat. Dalam melaksanakan tujuan ini Samuel telah mengumpulkan kelompok-kelompok orang-orang muda yang setia, cerdas, dan rajin. Mereka ini disebut putera-putera dari para nabi. Karena mereka berhubungan erat dengan Allah, dan menyelidiki Firman-Nya dan segala perbuatan-Nya, maka hikmat kepintaran dari atas dipertambahkan kepada berkat-berkat alamiah mereka. Para pelatih adalah orang-orang yang bukan hanya paham dan terlatih dalam kebenaran ilahi, melainkan juga orang-orang yang telah menikmati hubungan erat dengan Allah, yang telah menerima berkat istimewa dari Roh-Nya. Mereka menikmati penghargaan dan kepercayaan dari orang banyak itu baik karena terpelajarnya maupun karena kesetiaannya. 

“Di zaman Samuel ada terdapat dua buah sekolah-sekolah ini, -- sebuah di Rama, rumah tempat tinggal

nabi itu, dan yang lainnya di Kirjathejearim, dimana peti perjanjian dahulu berada. Yang lain-lainnya didirikan di masa-masa kemudian.

* * * 

“Pokok-pokok penyelidikan yang terutama di dalam sekolah-sekolah ini adalah hukum Allah, berikut petunjuk-petunjuk yang diberikan kepada Musa, sejarah yang suci, musik yang suci, dan sajak-sajak. Cara memberi petunjuk adalah jauh berbeda daripada apa yang terdapat di dalam sekolah-sekolah theologia zaman in, dari mana banyak mahasiswa tamat dengan pengetahuan akan Alah dan kebenaran agama yang kurang realistis daripada sewaktu merka masuk. Di dalam sekolah-sekolah zaman dahulu itu objek terbesar dari semua penyelidikan adalah mempelajari kehendak Allah dan kewajiban manusia kepada-Nya. Di dalam catatan-catatan sejarah yang suci dapat diikuti langkah-langkah dari Yehovah. Kebenaran-kebenaran besar yang dikemukakan oleh contoh-contoh disajikan ke depan, lalu iman memegang objek inti daripada keseluruhan sistem itu, -- yaitu Anak Domba Allah yang akan membuang dosa dunia ini.

“Suatu roh curahan perhatian telah dihargai. Bukan saja para siswa diajarkan kewajiban berdoa, tetapi mereka diajarkan juga bagaimana berdoa, bagaimana mendekati Khalik mereka, bagaimana melatih iman dalam Dia, dan bagaimana memahami dan mematuhi ajaran-ajaran dari Roh-Nya. Orang-orang pandai yang disucikan mengeluarkan dari rumah perbendaharaan Allah perkara-perkara yang baru maupun lama, dan Roh Allah dimanifestskan di dalam nubuatan dan nyanyian yang suci. 

* * * 

“Para siswa dari sekolah-sekolah ini menunjang

dirinya oleh usaha mereka sendiri dalam mengolah tanah atau dalam sesuatu pekerjaan mekanis. Di Israel ini dianggap aneh atau rendah derajat; sesungguhnya, adalah dianggap kejahatan membiarkan anak-anak bertumbuh dengan bodoh terhdap pekerjaan yang berguna. Oleh perintah Allah, setiap anak diajarkan sebagaimana pengetahuan berdagang, walaupun ia akan dididik bagi jabatan pekerjaan yang suci. Banyak dari guru-guru agama menunjang dirinya oleh usaha tangan. Bahkan demikian itu kemudian di zaman rasul-rasul, Paulus dan Aquila tidak kurang dihormati karena mereka memperoleh hidup dari usaha memperdagangkan tenda-tenda yang dibuatnya.” – Patriarchs and Prophets, pp. 592 – 594. 

* * * 

“Latihan fisik maupun latihan agama yang dipraktikkan di sekolah-sekolah orang Ibrani itu dapat dipejari dengan bermanfaat. Nilai dari latihan yang sedemikian ini adalah tidak disukai. Ada suatu hubungan erat di antara pikiran dan tubuh, maka untuk mencapai suatu standar moral dan hasil kepandaian yang tinggi, hukum-hukum yang mengontrol keadaan fisik kita harus dipatuhi. Untuk mendapatkan suatu tabiat yang kuat dan seimbang, maka baik kemampuan-kemampuan mental maupun fisik harus dilatih dan dikembangkan. Penyelidikan apakah yang dapat lebih penting bagi orang muda daripada apa yang menangani organisme yang indah ini yang telah Allah berikan kepada kita, dan mengenai hukum-hukum oleh mana ia itu mungkin dapat dipelihara dalam kesehatan?

“Dan sekarang, seperti halnya di zaman Israel dahulu, setiap orang muda harus diberi petunjuk dalam kewajiban-kewajiban hidup yang praktis. Masing-masing harus memperoleh pengetahuan dari sesuatu cabang pekerjaan tangan oleh mana, jika diperlukan, ia boleh memperoleh nafkah daripadanya. Ini adalah penting bukan saja sebagai pengaman menghadapi perubahan-perubahan hidup, melainkan juga dari akibatnya terhadap fisik, mental, dan perkembangan moral. Bahkan sekiranya adalah pasti bahwa seseorang sama sekali tidak akan memerlukan melatih diri pada pekerjaan tangan bagi tunjangan hidupnya, namun ia masih harus diajarkan untuk bekerja. Tanpa latihan fisik, maka tidak seorang pun dapat memiliki suatu susunan tubuh yang sehat dan kesehatan yang kuat; dan disiplin pekerjaan yang teratur adalah tidak kurang pentingnya bagi mendapatkan suatu pikiran yang kuat dan aktif dan suatu tabiat yang mulia. 

“Setiap siswa harus menggunakan sebagian dari setap hari untuk bekerja yang aktif. Dengan demikian kebiasaan-kebiasaan rajin dan tekun dapat dibentuk, dan suatu roh percaya diri sendiri dapat ditanamkan, sementara pemuda dapat dilindungi dari banyak kejahatan dan perbuatan-perbuatan yang rendah yang seringkali merupakan akibat daripada pengangguran. Dan ini semuanya adalah sejalan dengan tujuan utama pendidikan; karena dalam mendorong kegiatan, kerajinan, dan kemurnian, kita akan masuk ke dalam keharmonisan dengan Khalik Pencipta kita.” – Patriarchs and Prophets, p. 601.

“Mengerjakan tanah adalah salah satu dari jenis-jenis pekerjaan yang terbaik, yang mengundang semua otot untuk aktif dan mengistirahatkan pikiran. Belajar dalam bidang-bidang pertanian merupakan pendidikan dari A, B, dan C, yang harus diberikan di sekolah-sekolah kita. Ini adalah pekerjaan yang pertama sekali

yang harus diikuti. Sekolah-sekolah kita tidak boleh bergantung pada hasil-hasil yang diimport, karena gandum dan sayur-sayuran dan buah-buahan adalah penting sekali bagi kesehatan. Orang-orang muda kita memerlukan suatu pendidikan dalam menebang kayu dan mengolah tanah sama seperti halnya dalam bidang-bidang bacaan buku-buku. Guru-guru yang berbeda-beda harus ditunjuk untuk mengawasi sejumlah siswa pada pekerjaan mereka, dan harus bekerja bersama-sama dengan mereka. Dengan demikian para guru itu sendiri akan belajar memikul tanggung jawab-tanggung jawab sebagai para pelaksana. Para siswa yang pantas pun harus dalam cara ini dididik untuk memikul tanggung jawab-tanggung jawab, dan untuk menjadi pekerja-pekerja bersama-sama dengan guru-guru. Semua mereka harus saling memberi nasehat mencarikan metode-metode yang terbaik untuk meneruskan pekerjaan. 

* * * 

“Latihan yang mengajarkan kepada tangan untuk menjadi berguna, dan yang melatih orang muda untuk memikul bagian beban-beban hidup mereka, memberikan kekuatan fisik dan mengembangkan setiap kemampuan. Semua orang harus mencarikan sesuatu untuk diperbuat yang dapat bermanfaat bagi dirinya dan membantu bagi orang-orang lain. Allah telah menentukan pekerjaan sebgai suatu berkat, maka hanya pekerja yang rajin akan menemukan kemuliaan yang sejati dan kegembiraan hidup. 

“Otak dan otot harus dibebani dengan seimbang, jika kesehatan dan kekautan akan dipertahankan. Pemuda kemudian dapat membawa kepada penyelidikan Firman Allah daya tangkap yang sehat dan syarat-syarat yang seimbang. Mereka akan memiliki pemikiran-pemikiran yang sehat, dan dapat mempertahankan perkara-perkara yang bernilai yang didatangkan dari Firman. Mereka akan mencernakan kebenaran-kebenarannya,

dan sebagai hasilnya mereka akan memiliki kemampuan otak untuk melihat apa artinya kebenaran. Kemudian, karena kesempatan menghendaki, maka mereka akan dapat memberikan kepada setiap orang yang bertanyakan alasan harapan yang ada di dalam diri mereka dengan lemah lembut dan takut.” – Testimonies, vol. 6, pp. 179, 180. 

Alkitab Dan Alam Sebagai Buku-Buku Pelajaran 

“Sebagai suatu kekuatan mendidik, maka Alkitab tidak dapat ditandingi. Di dalam Firman Allah pikiran menemukan pokok bagi pemikiran yang terdalam, yaitu cita-cita yang tertinggi. Alkitab adalah sejarah yang sangat bersifat petunjuk yang dimiliki manusia. Ia itu secara segar berasal dari sumber kebenaran yang kekal, dan suatu tangan ilahi telah mempertahankan keaslian kemurniannya sepanjang segala abad lamanya. Ia menerangi masa lampau yang sangat jauh, dimana usaha-usaha penyelidikan manusia gagal menembusinya. Di dalam Firman Allah kita memandang pada kuasa yang telah  meletakkan landasan bumi dan yang telah  membentangkan segala langit. Hanya di sinilah dapat kita menemukan sebuah sejarah dari hal turunan kita yang tidak tercemar oleh keragu-raguan manusia atau kesombongan manusia. Di sinilah tercatat peperangan-peperangan, kekalahan-kekalahan, dan kemenangan-kemenangan dari orang-orang terbesar yang pernah dikenal di dunia ini. Di sinilah persoalan-persoalan besar mengenai kewajiban dan nasib diungkapkan. Tirai yang memisahkan dunia yang terlihat dan dunia yang tak dapat dilihat diangkat, maka kita memandang pertikaian kekuatan-kekuatan yang saling bertentangan di antara baik dan jahat, semenjak dari pertama dosa masuk sampai kepada keberhasilan yang benar yang terakhir dan kebenaran; dan segala-galanya itu hanyalah suatu ungkapan dari tabiat Allah. Dan renungan hormat terhadap kebenaran-kebenaran yang disajikan di dalam Firman-Nya, pikiran

siswa akan dibawa ke dalam hubungan erat dengan pikiran yang tak terbatas itu. Suatu penyelidikan yang sedemikian ini bukan saja akan memperhalus dan mempermuliakan tabiat, namun ia tidak mungkin gagal untuk mengembangkan dan menguatkan kemampuan mental. 

“Ajaran Alkitab memberikan suatu sikap penting pada kemakmuran manusia dalam semua hubungan hidup ini. Ia mengungkapkan prinsip-prinsip yang merupakan batu penjuru bagi sesuatu kemakmuran bangsa, -- yaitu prinsip-prinsip dengan mana terikat kesejahteraan masyarakat, dan yang merupakan pelindung bagi keluarga, -- yaitu prinsip-prinsip, yang tanpa berlandaskannya, maka tidak seorang pun dapat memperoleh manfaat, kebahagiaan, dan hormat dalam hidup ini, atau pun dapat berharap untuk mendapatkan hidup kekal hari depan. Tidak ada kedudukan dalam hidup, tidak ada tahap pengalaman manusia, untuk mana ajaran Alktiab tidak akan merupakan persiapan yang penting baginya. Dengan dipelajari dan dipatuhi, maka Firman Allah akan memberikan kepada dunia manusia-manusia yang memiliki kecerdasan yang lebih kuat dan lebih aktif daripada yang dapat diberikan oleh penerapan yang ketat pada semua pokok yang dirangkul oleh falsafah manusia. Ia itu akan memberikan manusia-manusia yang bertabiat kuat dan kukuh, yang memiliki penglihatan yang tajam dan penilaian yang sehat – yaitu orang-orang yang akan menjadi suatu kehormatan bagi Allah dan suatu berkat bagi dunia. 

“Dalam penyelidikan ilmu-ilmu pun, kita akan memperoleh suatu pengetahuan tentang Khalik Pencipta. Semua ilmu pengetahuan yang benar adalah hanya suatu interpretasi tulisan tangan Allah di dalam dunia materi. Ilmu pengetahuan membawakan dari hasil penyelidikannya hanya kenyataan-kenyataan yang segar dari hikmat dan kuasa Allah. Jika dipahami dengan tepat, maka baik

buku alam maupun firman tertulis akan membuat kita kenal dengan Allah dengan cara mengajarkan kepada kita sesuatu mengenai hukum-hukum yang bijaksana dan bersifat dermawan melalui mana Ia bekerja. 

“Siswa harus dibimbing untuk melihat Allah di dalam semua perbuatan ciptaan-Nya. Para guru harus meniru teladan Guru Yang Besar itu, dari gambaran-gambaran alamiah yang biasa mereka harus menarik ilustrasi-ilustrasi yang menyederhanakan ajaran-ajaran-Nya, lalu menanamkan kesan ajaran-ajaran itu lebih dalam pada pikiran para pendengar-Nya. Burung-burung yang berkicau di dalam cabang-cabang yang rimbun, bunga-bunga di lembah-lembah, pohon-pohon yang tinggi, tanah-tanah yang subur, biji-bijian yang muncul keluar, tanah-tanah tandus, penempatan matahari yang menyepuh segala langit dengan sorotan cahaya keemasan, --- sekaliannya berfungsi sebagai pemberi petunjuk. Ia mengaitkan perbuatan-perbuatan Khalik Pencipta yang terlihat dengan kata-kata kehidupan yang diucapkan-Nya, bahwa kapan saja objek-objek ini disajikan ke hadapan mata para pendengar-Nya, maka pemikiran-pemikiran mereka dapat kembali kepada pelajaran-pelajaran kebenaran yang telah  dirangkaikan-Nya dengan objek-objek itu.” – Patriarchs and Prophets, pp. 596, 599. 

“Tuhan mengharapkan dari para guru kita untuk menyingkirkan dari sekolah-sekolah kita buku-buku yang mengajarkan perasaan-perasaan yang tidak sesuai dengan Firman-Nya, dan supaya memberikan tempat bagi buku-buku yang bernilai tertinggi.” – Fundamentals of Christian Education, p. 517. 

PERSYARATAN-PERSYARATAN DAN KEWAJIBAN-KEWAJIBAN PARA GURU 

“Dalam memilih guru kita harus menggunakan setiap tindakan pencegahan, mengingat bahwa ini adalah sama

pentingnya dengan memilih orang-orang bagi jabatan kependetaan. Orang-orang yang bijaksana yang dapat meniliti tabiat harus melaksanakan pemilihan itu; karena talenta yang terbaik yang dapat terjamin adalah diperlukan untuk mendidik dan membentuk pikiran-pikiran orang muda, dan untuk meneruskan dengan berhasil banyak bidang pekerjaan yang akan perlu dilakukan oleh guru di sekolah-sekolah gereja kita. Jangan sekali orang yang berpandangan picik atau sempit ditempatkan mengawasi satupun dari sekolah-sekolah ini. Jangan menempatkan guru-guru yang berusia muda dan tidak berpengalaman yang sama sekali belum memiliki kemampuan memimpin untuk menguasai anak-anak; karena segala usaha mereka itu akan cenderung memecahkan persekutuan anak-anak itu. Tata tertib adalah hukum sorga yang terutama, maka setiap sekolah dalam hal ini harus menjadi sebuah model dari sorga.” – Testimonies, vol. 6, pp. 200, 201. 

“Talenta pelayanan pendeta yang terbaik harus digunakan dalam mengajarkan Alkitab di sekolah-sekolah kita. Mereka yang terpilih bagi tugas ini perlu menjadi siswa-siswa Alkitab yang menyeluruh, dan memiliki pengalaman Kristen yang mendalam; dan gaji mereka harus dibayar dari uang perpuluhan.” – Testimonies, vol. 6, pp. 134, 135. 

Sebelum seseorang dipersiapkan untuk menjadi guru yang mengajarkan kebenaran kepada orang-orang yang berada dalam kegelapan, ia harus menjadi seorang pelajar. Ia harus rela untuk diberi nasehat. Ia tidak dapat menaruh kakinya pada anak tangga kemajuan yang ketiga, keempat, atau kelima sebelum ia memulai pada anak tangga yang pertama. Banyak orang merasa bahwa mereka adalah cocok bagi tugas ini padahal mereka hampir-hampir tidak mengetahui apapun dari halnya. Jika

orang-orang yang sedemikian ini diijinkan mulai bekerja dalam keyakinan dirinya sendiri, maka mereka akan gagal menerima pengetahuan itu, yang mana adalah kesempatan mereka untuk memperolehnya, maka mereka pada akhirnya akan bergumul dengan banyak kesulitan untuk mana mereka sama sekali belum siap.” – Fundamentasl of Christian Education, p. 107. 

Kebiasaan-kebiasaan dan prinsip-prinsip pokok seorang guru harus dipertimbangkan sebagai yang lebih besar pentingnya dripada kemampuan-kemampuannya yang nyata. Jika ia adalah seorang Kristen yang jujur, maka ia akan merasa perlu menaruh perhatian yang sama pada pendidikan jasmani, mental, moral, dan kerohanian para siswanya. Untuk menggunakan pengaruh yang tepat ia harus menguasai dirinya sendiri dengan sempurna, dan hatinya sendiri harus dengan limpah dikaruniai dengan kasih sayang terhadap anak-anak didiknya, yang akan terlihat dalam air mukanya, kata-katanya, dan tindakan-tindakannya. Ia harus memiliki keteguhan tabiat, dan kemudian dapatlah ia membentuk pikiran-pikiran dari para siswanya serta mengajarkan mereka kepada ilmu-ilmu pengetahuan. Pendidikan orang muda yang mula-mula sekali pada umumnya akan membentuk tabiat mereka untuk hidup. Barangsiapa yang menangani orang muda hendaknya sangat berhati-hati untuk mengundang keluar kualitas-kualitas pikiran, supaya mereka dapat mengetahui dengan lebih baik bagaimana mengendalikan kemampuan-kemampuan pikirannya, sehingga mereka dapat dilatih kepada hal-hal yang terbaik.” – Fundamentals of Christian Education, p. 19. 

“Seseorang mungkin memiliki pendidikan dan pengetahuan yang cukup dalam ilmu untuk mengajar; namun apakah itu sudah tentu bahwa ia memiliki kebijaksanaan dan kepintaran untuk menangi pikiran-pikiran manusia? Jika para pendidik belum memiliki kasih

Kristus yang menetap di dalam hatinya, maka mereka belum pantas untuk dibawa berhubungan dengan anak-anak dan untuk memikul tanggung jawab-tanggung jawab besar yang dilimpahkan ke atas mereka, untuk mendidik anak-anak dan orang-orang muda ini. Mereka masih belum memiliki pendidikan dan latihan yang lebih tinggi di dalam dirinya, dan mereka belum tahu bagaimana untuk menangani pikiran-pikiran manusia. Masih ada roh keras hatinya sendiri, yaitu hati alamiah yang sedang berjuang untuk berkuasa, maka menundukkan pikiran-pikiran dan tabiat-tabiat plastik anak-anak kepada suatu disiplin yang sedemikian ini, adalah sama dengan meninggalkan goresan-goresan dan luka pada pikiran yang tidak pernah dapat dihapus.” – Fundamentals of Christian Education, pp. 260, 261. 

“Menempatkan guru-guru yang sombong dan tidak mengasihi memimpin anak-anak muda adalah kejahatan. Seseorang guru yang dicap sedemikian ini akan banyak merusak bagi anak-anak yang sedang berkembang tabiat dengan cepatnya. Jika para guru tidak berserah diri kepada Allah, jika mereka tidak memiliki kasih sayang terhadap anak-anak yang mereka pimpin, atau jika mereka menunjukkan pilih kasih bagi anak-anak yang menyenangi kesukaan mereka, dan mengacuhkan mereka yang kurang tertarik kepada kesukaannya, atau kepada anak-anak yang gelisah dan gugup, maka mereka ini boleh dipekerjakan; sebab hasil pekerjaannya akan menjadi kerugian menjadi kerugian jiwa-jiwa bagi Kristus. 

“Guru-guru adalah diperlukan, terutama bagi anak-anak diperlukan guru-guru yang tenang dan baik hati, yang memanifestasikan sabar dan kasih sayang bagi anak-anak yang sangat memerlukannya. Yesus mencintai anak-anak; Ia menganggap mereka sebagai anggota-anggota keluarga Tuhan yang lebih muda. Ia selalu melayani mereka dengan sopan santun dan penghargaan, maka para guru harus

mengikuti teladan-Nya. Mereka yang memiliki roh missionaris yang benar; karena anak-anak akan dilatih untuk menjadi missionaris. Mereka harus merasa bahwa Tuhan telah mempercayakan kepada mereka jiwa-jiwa dari anak-anak dan orang muda sebgai sesuatu yang penting. Sekolah-sekolah gereja kita memerlukan guru-guru yang memiliki kualitas-kualitas moral yang tinggi; yaitu mereka yang dapat dipercaya; mereka yang sehati imannya, dan yang bijaksana dan sabar; yaitu mereka yang berjalan bersama-sama dengan Allah, dan yang menjauhkan diri dari segala sesuatu yang terlihat jahat. Dalam pekerjaan mereka akan menemukan awan-awan. Dalam pekerjaan mereka, mereka akan menemukan awan-awan. Akan terdapat awan-awan dan kegelapan, angin-angin ribut dan topan-topan, syakwasangka, yang akan dihadapi dari para orangtua yang memiliki persangkaan-persangkaan yang tidak benar mengenai tabiat-tabiat ayng akan dibentuk oleh anak-anak mereka; karena ada banyak orang yang menyatakan percaya Alkitab, tetapi mereka lalu membawakan prinsip-prinsipnya ke dalam kehidupan rumah tangga. Tetapi jika para guru adalah pelajar-pelajar yang setia di dalam sekolah Kristus, maka keadaan-keadaan yang sedemikian ini tidak akan pernah dapat menang atas mereka.” – Testimonies, vol. 6, pp. 200, 201. 

“Kewajiban-kewajiban guru adalah berat dan suci, namun tidak satupun bagian pekerjaan itu yang lebih penting daripada mengawasi orang muda dengan lemah lembut, perhatian yang penuh kasih, sehingga dapat mereka merasa bahwa kita berkawan dengan mereka. Sekali berhasil memenangkan kepercayaan mereka, maka engkau akan dapat memimpin mereka, mengontrol mereka, dan melatih mereka dengan mudah. Motif-motif yang suci dari prinsip-prinsip Kristen kita harus dibawa masuk ke dalam kehidupan kita. Penyelamatan siswa-siswa kita adalah kepentingan yang tertinggi yang dipercayakan kepada guru yang takut akan Allah. Ia

adalah pekerja milik Kristus, maka usahanya yang terutama dan pasti seharusnya menyelamatkan jiwa-jiwa dari kebinasaan dan memenangkan mereka bagi Yesus Kristus. Allah akan menuntut hal ini dari tangan para guru. Masing-masing harus mengendalikan suatu kehidupan yang setia, yang bersih, yang berusaha dengan keras dalam melaksanakan setiap tugas. Jika hati terus bercahaya dengan kasih Allah, maka akan terdapat kasih sayang yang murni, yang adalah penting; doa-doa akan menjadi bersungguh-sungguh, dan amaran-amaran yang setia akan diberikan. Melalaikan ini semuanya, maka jiwa-jiwa yang berada di bawah pengawasanmu akan berbahaya. Lebih baik menghabiskan sedikit saja waktu dalam pembicaraan-pembicaraan yang panjang-panjang, atau dalam mendalami penyelidikan, lalu menangani tugas-tugas yang ditinggalkan ini.” – Fundamentals of Christian Education, pp. 116, 117. 

“Allah menghendaki para guru di dalam sekolah-sekolah kita menjadi tepat guna. Jika mereka maju dalam pengertian kerohanian, maka merkea akan merasakan bahwa adalah penting agar merkea jangan hampa dalam pengetahuan ilmu-ilmu pengetahuan. Kesetiaan dan pengalaman agama terletak pada landasan yang sesungguhnya dari pendidikan yang benar. Namun jangan seorang pun mengira bahw dengan memiliki kesungguhan dalam masalah-masalah agama sudah merupakan segala-galanya yang penting untuk menjadi pendidik-pendidik. Sementara mereka memerlukan kesetiaan yang tidak sedikit, mereka juga memerlukan pengenalan yang menyeluruh terhadap ilmu-ilmu pengetahuan. Ini akan membuat mereka bukan saja menjadi baik, menjadi orang-orang Kristen yang praktis, melainkan juga akan memungkinkan mereka untuk mendidik orang-orang muda, dan pada waktu yang sama mereka akan memperoleh kepintaran sorga untuk memimpin mereka kepada sumber segala air hidup. Ia adalah seorang Kristen yang ercita-cita mencapai pegangan yang tertinggi

bagi maksud membuat orang-orang lain menjadi baik. Pengetahuan yang bercampur secara selaras dengan tabiat Kristus akan membuat seseorang benar-benar menjadi terang bagi dunia.” – Fundamentals of Christian Education, p. 119. 

“Semua orang yang mengajar di dalam sekolah-sekolah kita harus memiliki suatu hubungan erat dengan Allah, dan suatu pengertian akan Firman-Nya yang menyeluruh, supaya mereka mampu membawakan kepintaran dan pengetahuan ilahi ke dalam tugas mendidik orang-orang muda bagi kegunaan dalam hidup ini, dan bagi kehidupan kekal yang akan datang. Mereka haru menjadi orang-orang laki-laki dan wanita yang bukan saja memiliki pengetahuan kebenaran, melainkan juga menjadi pelaksana-pelaksana firman Allah itu. ‘Ada tertulis’ harus terungkap dalam kata-kata mereka dan juga dari kehidupan mereka. Oleh praktik perbuatan mereka sendiri harus mengajarkan kesederhanaan dan kebiasaan-kebiasaan yang bersih dalam segala perkara. Tidak seorang pria atau wanita pun boleh dipekerjakan di sekolah-sekolah kita sebagai pendidik sebelum ia memiliki pengalaman dalam mematuhi firman Tuhan.” – Testimonies, vol. 6, p. 153. 

“Guru-guru di sekolah-sekolah kita memikul suatu tanggung jawab yang berat. Mereka harus sesuai dengan kata-kata dan sifat tabiat seperti yang mereka inginkan pada siswa-siswanya, -- yaitu laki-laki dan wanita yang takut akan Allah dan yang berbuat benar. Jika mereka sendiri sudah dikenal dengan cara itu, maka mereka akan dapat melatih orang-orang muda untuk berjalan di dalamnya. Mereka tidak akan hanya mengajarkan kepda orang-orang muda itu dalam ilmu-ilmu pengetahuan, melainkan juga melatih mereka itu untuk memiliki kebebasan moral, untuk bekerja bagi Yesus, dan untuk memikul beban-beban karena nama-Nya.” – Fundamentals of Christian Education, p. 190.

“Orang-orang yang secara alamiah adalah suka rewel (cerewet), mudah kena hasutan, dan yang memiliki kebiasaan mengeritik, suka menyangka jahat, hendaklah mencari jenis pekerjaan lain supaya tidak kemblai menghasilkan sesuatu sifat-sifat tabiat mereka yang tidak ramah itu di dalam anak-anak dan orang muda, karena sekaliannya itu adalah terlalu mahal harganya. Sorga melihat di dalam anak, laki-laki dan wanita yang belum berkembang, dengan kemampuan-kemampuan dan kuasa-kuasa yang, jika dipimpin dan dikembangkan dengan benar dengan kepintaran samawi, akan menjadi perantara-perantara manusia yang olehnya juga pengaruh-pengaruh ilahi dapat bekerja sama menjadi pekerja-pekerja bersama-sama dengan Allah. Perkataan-perkataan yang tajam, dan celaan yang terus menerus akan membingungkan anak, tetapi tidak pernah dapat memperbaharuinya. Tinggalkanlah perkataan yang rendah itu : pertahankanlah rohmu sendiri di bawah disiplin kepada Yesus Kristus; kemudian barulah engkau belajar bagaimana menyayangi dan bersimpati kepada orang-orang yang telah  dihantarkan ke bawah pengaruhmu. Jangan memperlihatkan ketidak-sabaran dan kekasaran, karena jika anak-anak ini tidak memerlukan didikan, maka mereka tidak akan membutuhkan manfaat-manfaat dari sekolah. Mereka harus dibawa naik tangga kemajuan dengan sabar, ramah, dan dalam kasih sayang, memanjat langkah demi langkah untuk mendapatkan pengetahuan.” – Fundamentals of Christian Education, p. 263. 

“Perlu ada guru-guru yang bijaksana, yang sabar akan kelemahan dan kekurangan dan dosa-dosanya snediri, dan yang tidak mau bertindak secara menindas dan mengecilkan hati anak-anak dan orang muda. Diperlukan banyak berdoa, banyak iman, banyak tahan sabar dan keberanian, yang mana Tuhan siap untuk menganugerahkan. Karena Allah melihat setiap cobaan, maka suatu

pengaruh yang indah dapat digunakan oleh para guru jika mereka mau mempraktikkan ajaran-ajaran yang telah  diberikan Kristus kepada mereka. Tetapi maukah guru-guru ini memikirkan ketidak-patuhannya sendiri, bahwa mereka membuat usaha-usaha yang sangat lemah untuk belajar di dalam sekolah Kristus dan lalai mempraktikkan kelemah-lembutan dan kerendahan hati Kristus? Para guru itu sendiri harus patuh kepada Yesus Kristus, dan senantiasa mempraktikkan semua firman-Nya, supaya mereka dapat membeberkan tabiat Yesus Kristus kepada para siswa. Hendaklah terangmu bercahaya dalam perbuatan-perbuatan baik, dalam menjaga dan mengawasi dengan setia kawanan domba-domba itu, dengan sabar, dengan lemah lembut, dan kasih Yesus di dalam hatimu sendiri.” – Fundamentals of Christian Education, p. 269. 

“Hendaklah setiap guru yang menerima tanggung jawab mendidik anak-anak dan orang muda, memeriksa dirinya sendiri, dan mempelajari dengan seksama dari sebab sampai kepada akibatnya.  Apakah kebenaran Allah menguasai jiwamu? Apakah kepintaran yang datang dari Yesus Kristus itu, yang semula murni, kemudian mendamaikan, ramah, dan mudah diminta, penuh kemurahan dan buah-buah yang baik, tanpa pilih kasih dan tanpa kemunafikan, telah dimasukkan ke dalam tabiatku? Sementara saya berdiri dalam jabatan yang bertanggung jawab sebagai seorang pendidik, adakah saya memeliharakan prinsip bahwa “buah kebenaran itu ditabur dalam damai oleh mereka yang berbuat kedamaian’?  Kebenaran itu bukanlah dipegang untuk dipraktikkan bilamana kita merasa kebetulan menyukainya, melainkan pada segala waktu dan di segala tempat.

“Pikiran-pikiran yang seimbang dan tabiat-tabiat yang simetris adalah dipersyaratkan bagi guru-guru pada setiap bidang. Janganlah memberikan tugas ini ke dalam tangan wanita-wanita muda dan pria-pria muda yang belum mengetahui bagaimana menangani pikiran-pikiran manusia.” – Fundamentals of Christian Education, p. 266. 

“Tidak ada satu guru pun dapat melakukan tugas yang benar jika ia tidak ingat akan kekurangan-kekurangannya sendiri dan mengesampingkan dari penghitungannya semua rencana yang dapat melemahkan hidup kerohaniannya. Apabila para guru mau rela mengesampingkan dari perkerjaan mereka setiap perkara yang tidak penting bagi hidup kekal, maka mereka dapat disebut benar-benar sedang mengusaha penyelamatan dirinya dengan takut dan gentar, dan sedang membangun dengan kebijaksanaan bagi kekekalan yang akan datang. 

“Saya diperintahkan untuk mengatakan bahwa sebagaian dari guru-guru kita adalah jauh ketinggalan dalam pengertian mengenai jenis pendidikan yang diperlukan bagi periode sejarah dunia sekarang ini. Ini bukanlah masanya bagi para siswa untuk menghimpunkan suatu kumpulan pengetahuan yang tidak mungkin dapat mereka bawa serta ke sekolah yang di atas. Marilah kita secara hati-hati membuat keluar dari cara penyelidikan kita semua yang dapat dikecualikan, supaya dapat kita memiliki cukup tempat di dalam pikiran para siswa itu untuk menanamkan benih-benih kebenaran. Petunjuk ini akan membawa hasil bagi kehidupan kekal. 

“Setiap guru harus menjadi pelajar setiap hari di dalam sekolah Kristus, supaya jangan ia kehilangan kesadaran tentang apa yang membentuk kesempurnaan fisik mental, dan moral yang sesungguhnya. Tidak seorangpun boleh menempatkan dirinya sebagai guru atas orang-orang lain,

jika ia tidak senantiasa mengusahakan penyelamatannya sendiri dengan cara menerima dan memberikan suatu pendidikan apa saja. Guru yang benar akan mendidik dirinya sendiri dalam keunggulan moral, sehingga oleh ajaran dan teladan dapatlah ia memimpin jiwa-jiwa memahami pelajaran-pelajaran dari Guru Yang Besar itu. Jangan menganjurkan siapapun juga untuk melakukan tugas mengajar jika ia akan puas dengan hanya suatu standar yang rendah. Tidak seorang pun pantas untuk mengajarkan rahasia-rahasia ketuhanan yang luas sebelum Kristus terbentuk di dalam dirinya, yaitu harapan yang mulia itu. 

“Setiap guru perlu menerima kebenaran dalam kasih dari prinsip-prinsipnya yang suci; maka ia tidak mungkin lalai menggunakan suatu pengaruh yang akan menyucikan dan meninggalkan. Guru yang jiwanya tertambat pada Kristus akan berbicara dan bertindak sebagai seorang Kristen. Seseorang yang sedemikian ini tidak akan mau puas sebelum kebenaran itu membersihkan kehidupannya dari setiap perkara yang tidak penting. Ia tidak akan mau puas jika pikirannya tidak dibentuk setiap hari oleh pengaruh-pengaruh Roh Allah. Kemudian Kristus dapat berbicara kepada hati, dan suara-Nya, yang mengatakan : ‘Inilah jalan  itu; berjalanlah di dalamnya’, akan didengar dan dipatuhi. 

“Guru yang memiliki pengertian yang benar tentang tugas pendidikan yang sesungguhnya, tidak mau menganggapnya cukup sekarang, lalu kemudian menunjukkan begitu saja kepada Kristus. Dengan hatinya sendiri yang hangat dengan kasih Allah ia akan senantiasa menjunjung tinggi Manusia di Golgota itu. Jiwanya sendiri diberkati dengan Roh Allah, maka ia akan berusaha menambatkan perhatian

para siswanya pada teladan, yaitu Yesus Kristus, yang terutama di antara sepuluh ribu, yaitu Dia yang juga indah itu. 

* * * 

“Ingatlah bahwa Tuhan akan menyambut sebagai guru hanya mereka yang akan menjadi guru-guru injil. Suatu tanggung jawab besar berada pada orang-orang yang mencoba mengajarkan pekabaran injil yang terakhir. Mereka harus menjadi pekerja-pekerja bersama-sama dengan Allah dalam melatih pikiran manusia. Guru yang lalai mempertahankan standar Alkitab selalu di hadapannya akan kehilangan suat kesempatan untuk menjadi pekerja bersama-sama dengan Allah dalam memberikan kepada pikiran bentukan yang penting bagi suatu tempat di dalam ruangan-ruangan sorga.” –Fundamentals of Christian Education, pp. 525, 526, 527. 

“Dia yang berdiri pada pimpinan sesuatu sekolah harus menaruh semua perhatiannya yang tak terbagi pada tugas menjadikan sekolah itu sesuai dengan yang direncanakan oleh Tuhan. Jika ia berambisi untuk naik lebih tinggi dan lebih tinggi lagi, jika yang dicapainya melebihi kebaikan-kebaikan nyata dari tugasnya, dan melebihi kesederhanaannya, lalu mengabaikan prinsip-prinsip sorga yang suci, maka hendaklah ia belajar dari pengalaman Musa bahwa Tuhan pasti akan menunjukkan kemarahan-Nya karena kegagalan mencapai standar-standar yang telah ditetapkan di hadapannya. 

“Terutama hendaklah kepala sesuatu sekolah dengan teliti semua keuangan lembaga itu. Ia harus mengerti landasan prinsip-prinsip pembukuan. Ia harus melaporkan dengan setia penggunaan semua uang

yang lewat melalui tangannya bagi keperluan sekolah. Dana-dana sekolah tidak boleh dipakai habis, tetapi setiap usaha dibuat untuk meningkatkan kegunaan daripada sekolah. Orang-orang yang dipercayakan menangani managemen keuangan lembaga-lembaga pendidikan kita, jangan sekali membiarkan kecerobohan dalam perbelanjaan uang-uang. Setiap perkara yang berkaitan dengan keuangan-keuangan sekolah-sekolah kita harus lurus dengan sempurna. Jalan Tuhan harus diikuti dengan ketat, walaupun ini mungkin tidak selaras dengan jalan-jalan manusia. 

“Bagi mereka yang bertugas mengawasi sekolah-sekolah kita, saya ingin mengatakan : Adakah anda sedang menjadikan Allah dan hukum-Nya sebagai kesenanganmu? Adakah prinsip-prinsip yang anda ikuti itu sehat dan murni dan tidak tercemar? Adakah anda melihat perlunya mematuhi Dia dalam segala hal? Jika anda dicobai untuk mengambil bagi diri sendiri uang yang masuk ke sekolah, dengan cara-cara yang sama sekali tidak mendatangkan manfaat bagi sekolah, maka standard prinsipmu perlu dikeritik dengan seksama, agar kiranya saatnya tidak akandatang apabila anda akan harus dikeritik dan didapati kurang. Siapakah juru buku anda? Siapakah bendahara anda? Siapakah manager usaha anda? Adakah mereka itu cukup teliti dan mampu? Perhatikanlah hal ini. Adalah mungkin bagi sesuatu sekolah untuk terus menerus merugi karena pengeluaran-pengeluaran yang tidak bijaksana. Mereka

yang bertugas mengawasi mungkin merasakan kerugian ini secara tajam, namun mereka mengira mereka telah berbuat dengan sebaik-baiknya. Tetapi mengapakah mereka membiarkan hutang-hutang menumpuk? Hendaklah orang-orang yang bertugas mengawasi sesuatu sekolah setiap bulan menemukan keadaan keuangan yang sebenarnya dari sekolah itu.” – Fundamentals of Christian Education, pp. 510, 511.

“Allah telah memberikan kepada kita suatu masa pencobaan dalam mana dapat kita mempersiapkan diri bagi sekolah yang lebih tinggi itu. Bagi sekolah ini orang muda akan dididik, didisiplinkan, dan dilatih dengan cara membentuk tabiat-tabiat, moral dan kecerdasan yang sedemikian rupa sesuai dengan yang dikehendaki Allah. Mereka akan menerima suatu latihan, bukan dalam kebiasaan-kebiasaan dan keplesiran-keplesiran dan pertandingan-pertandingan masyarakat dunia yang tercemar ini, melainkan dalam garis-garis petunjuk Kristus, suatu latihan yang akan mempersiapkan mereka untuk menjadi orang-orang yang akan bekerja sama dengan mahluk-mahluk cerdas samawi. Tetapi alangkah lucunya pendidikan itu yang diperoleh dalam bidang-bidang kesusasteraan, sekiranya ia itu harus dilucuti dari pelajarannya sekiranya ia telah diperhitungkan pantas untuk memasuki kehidupan ituyang terukur dengan kehidupan Allah, maka ia sendiri diselamatkan bagaikan oleh api.” – Fundamentals of Christian Education, p. 397.

“Sifat pekerjaan yang dilakukan di dalam sekolah-sekolah gereja kita hars sesuai dengan ketertiban yang sangat tinggi. Yesus Kristus, Pengembali segala perkara itu, adalah satu-satunya obat bagi pendidikan yang keliru, dan pelajaran-pelajaran yang diajarkan di dalam Firman-Nya harus senantiasa dipertahankan di depan orang-orang muda dalam bentuk yang sangat menarik. Disiplin sekolah harus melengkapi latihan di rumah, dan kedua-duanya baik di rumah maupun di sekolah kesederhanaan dan ketuhanan harus dieprtahankan. Laki-laki dan wantia-wanita akan ditemukan, yaitu mereka yang memiliki talenta untuk bekerja di dalam sekolah-sekolah yang kecil ini, tetapi mereka tidak

dapat bekerja mencapai keuntungan di dalam sekolah-sekolah yang lebih besar. Karena mereka mempraktikan pelajaran-pelajaran Alkitab, maka mereka sendiri akan menerima suatu pendidikan yang tertinggi nilainya.” – Testimonies, vol. 6, p. 200. 

KERJASAMA DENGAN PARA ORANGTUA 

“Hendaklah para orangtua mencari Tuhan dengan kesungguhan yang mendalam, supaya jangan mereka jangan menjadi balok penghalang merintangi jalan  anak-anak mereka. Hendaklah sangka-sangka jahat dan irihati dihapuskan dari hati, dan hendaklah kedamaian Kristus itu masuk menyatukan anggota-anggota sidang di dalam persekutan Kristen yang sebenarnya. Hendaklah pintu-pintu jiwa ditutup rapat dari malaria bumi yang sangat berracun, dan hendaklah sekaliannya itu terbuka arah ke sorga untuk menerima sinar-sinar penyembuhan dari cahaya matahari kebenaran Kristus. Sebelum roh mengeritik dan sangka-sangka jahat lenyap dari dalam hati, maka Tuhan tidak dapat berbuat bagi sidang apa yang Ia rindu lakukan dalam membuka jalan bagi pendirian sekolah-sekolah; sebelum terdapat persekutuan, maka Ia tidak akan mau menggerakkan orang-orang yang telah Ia percayakan dengan uang dan kemampuan untuk memajukan pekerjaan ini. Para orangtua harus mencapai suatu standar yang tinggi, memeliharakan jalan Tuhan dan mempraktikkan kebenaran, sehingga mereka dapat menjadi pembawa-pembawa terang. Harus terdapat suatu perubahan pikiran dan tabiat yang menyeluruh. Suatu roh perpecahan yang disimpan di dalam hati sejumlah kecil orang-orang akan berkomunikasi dengan orang-orang lain, dan akan merusak pengaruh bagi kebaikan yang hendak digunakan oleh sekolah. Jika para orangtua tidak siap dan

tidak sungguh-sungguh ingin untuk bekerjasama dengan guru bagi penyelmatan anak-anak merkea, maka merka tidak akan siap untuk memperoleh sebuah sekolah yang didirikan di antara mereka.” – Testimonies, vol. 6, p. 202. 

“Pada para bapa dan para ibu terletak suatu tanggung jawab bagi latihan mula-mula sekali anak mereka maupun latihan terkemudian anak mereka, maka bagi kedua orangtua tuntutan bagi persiapan yang seksama dan menyeluruh ini adalah sangat mendesak. Sebelum memakaikan pada diri mereka kemungkinan-kemungkinan sebagai bapa dan ibu, maka orang laki-laki dan wanita harus kenal dengan hukum-hukum mengenai perkembangan fisik tubuh manusia, -- yaitu dengan ilmu faal tubuh dan ilmu kesehatan, dengan sangkut paut mengenai pengaruh-pengaruh sebelum melahirkan anak, dengan hukum-hukum mengenai keturunan, sanitasi, pakaian, latihan dan olahraga, dan mengobati penyakit; mereka juga harus mengerti akan hukum-hukum mengenai perkembangan mental dan latihan moral. 

“Tugas pendidikan ini oleh Dia Yang Maha Kuasa telah diperhitungkan sangat penting para utusan dari tahta-Nya telah dikirim kepada seseorang yang pada waktu itu akan menjadi ibu, untuk menjawab pertanyaan sbeagai berikut : ‘Bagaimana kami akan mengatur anak itu, dan bagaimana akan kami perbuat kepadanya?’ dan untuk memberi petunjuk kepada seorang bapa mengenai pendidikan seseorang putera yang dijanjikan. 

“Tidak pernah pendidikan akan menyelesaikan semua yang dapat dan harus diselesaikannya sebelum pentingnya tugas para orangtua sepenuhnya diakui, dan mereka menerima suatu latihan bagi tanggung-jawab tanggung-jawabnya yang suci.” – Education, p. 276.

PERSYARATAN-PERSYARATAN BAGI DOKTER 

“Dokter yang ingin menjadi seorang pekerja sama dengan Kristus yang dapat diterima akan berjuang untuk menjadi tepat guna dalam setiap segi pekerjaannya. Ia akan menyelidiki dengan rajin, agar ia dapat memenuhi persyaratan bagi tanggungjawab-tanggungjawab profesi pekerjaannya, dan akan senantiasa berusaha untuk mencapai standard yang lebih tinggi, berusaha mencarikan pengetahuan yang meningkat, keahlian yang lebih besar, dan penglihatan yang lebih dalam. Setiap dokter harus menyadari, bahwa barangsiapa melakukan pekerjaan yang lemah dan tidak tepat guna adalah bukan saja memperberat bagi si penderita, tetapi juga sedang melakukan ketidak-adilan terhadap rekan-rekan sesama dokternya. Dokter yang merasa puas dengan suatu standard keahlian dan pengetahuan yang rendah bukan saja memperkecil arti profesi kedokteran, tetapi juga mempermalukan bagi Kristus, Dokter yang terutama itu. 

‘Barangsiapa yang menemukan dirinya tidak cocok bagi tugas kedokteran hendaklah memilih sesuatu pekerjaan yang lain. Mereka yang dapat menyesuaikan diri untuk pekerjaan mengawasi orang sakit, tetapi pendidikan dan kemampuan-kemampuan medisnya terbatas hendaklah bekerja menyandang bagian-bagian tugas yang lebih sederhana, melayani dengan setia sebagai juru-juru rawat. Oleh bekerja dengan sabar di bawah dokter-dokter yang ahli mereka dapat senantiasa belajar, dan oleh memperbaiki setiap kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan, maka mereka pada waktunya akan dapat mampu sepenuhnya bagi tugas seorang dokter. Janganlah para dokter muda, ‘sebagai pekerja-pekerja bersama-sama dengan Dia (Dokter Yang Terutama itu), …….menerima  karunia Allah itu dengan sia-sia, …….dalam hal apapun

janganlah menyakiti hati supaya pelayanan (terhadap si sakit) tidak dipersalahkan : tetapi dalam segala perkara sesuaikanlah diri kita sebagai pelayan-pelayan Allah.’ 

“Maksud Allah bagi kita ialah agar kita senantiasa akan bergerak maju. Dokter misionaris medis yang benar akan merupakan seorang dokter praktik yang terus meningkat keahliannya. Dokter-dokter Kristen yang berbakat, yang memiliki kemampuan profesional yang lebih unggul, harus dicari dan dianjurkan untuk bergabung dalam pelayanan Allah di tempat-tempat dimana mereka dapat mendidik dan melatih orang-orang lainnya untuk menjadi misionaris-misionaris medis. 

“Dokter harus mengumpulkan bagi jiwanya terang dari firman Allah. Ia harus bertumbuh terus menerus dalam karunia. Dengan dia, agama bukan hanya akan menjadi suatu pengaruh di antara orang-orang lainnya. Ia itu adalah untuk menjadi suatu pengaruh yang menguasai semua orang lainnya. Ia harus bertindak dari motif-motif yang tinggi dan suci, -- yaitu motif-motif yang penuh kuasa karena semuanya itu berasal dari Dia yang telah menyerahkan nyawa-Nya untuk melengkapi kita dengan kuasa untuk mengalahkan kejahatan. 

“Jika dokter itu dengan setia dan rajin berjuang membuat dirinya tepat guna dalam profesinya, jika ia mengabdikan dirinya kepada pelayanan Kristus, dan mengambil waktu untuk memeriksa hatinya sendiri, maka ia akan mengerti bagaimana menggenggam rahasia-rahasia panggilannya yang suci. Ia dapat sedemikian ini mendisiplin dan mendidik dirinya sendiri sehingga semua orang yang berada dalam lingkungan pengaruhnya akan melihat keunggulan pendidikan dan kepintaran yang dicapai oleh Dia yang berhubungan dengan Allah pohon pengetahuan dan kuasa itu.

Seorang Pembantu Ilahi Di Dalam Kamar Sakit 

Tidak ada satu tempatpun dimana terdapat suatu hubungan yang lebih erat dengan Kristus diperlukan daripada di dalam pekerjaan dokter. Barangsiapa yang hendak melaksanakan kewajiban-kewajiban dokter dengan tepat harus setiap hari dan bahkan setiap jam menghayati suatu kehidupan Kristus. Nyawa penderita berada di dalam tangan dokter. Satu saja diagnosa yang sembrono, satu saja resep yang keliru dalam suatu peristiwa yang kritis, atau satu gerakan tangan yang kaku dalam suatu operasi pembedahan, walaupun hanya sebesar sehelai rambut, maka suatu nyawa dapat dikorban, suatu jiwa terbuang untuk selama-lama. Betapa serius gambarnya! Betapa pentingnya bahwa dokter harus senantiasa berada di bawah pengawasan Dokter ilahi itu! 

“Juruselamat adalah rela membantu semua orang yang berseru kepada-Nya memohonkan hikmat pengetahuan dan pemikiran yang cerah. Maka siapakah yang memerlukan hikmat pengetahuan dan kecerahan pikiran lebih besar daripada yang diperlukan dokter, pada siapa keputusan-keputusan yang begitu banyak bergantung? Hendaklah orang yang sedang mencoba memperpanjang nyawa itu memandang dalam iman kepada Kristus untuk mengendalikan setiap gerakannya. Juruselamat akan mengaruniakan kepadanya kebijaksanaan dan keahlian untuk menangani masalah-masalah yang sulit. 

“Kesempatan-kesempatan yang indah sedang diberikan kepada para penunggu orang-orang sakit. Dalam segala-galanya yang dilakukan bagi mengembalikan kesehatan si penderita, hendaklah mereka pahami bahwa dokter sedang berusaha untuk membantu mereka bekerja sama dengan Allah dalam memerangi penyakit. Bimbinglah mereka untuk merasa bahwa pada setiap langkah yang diambil sesuai dengan

hukum-hukum Allah, maka mereka boleh mengharapkan pertolongan dari kuasa ilahi. 

“Para penderita dan si sakit akan lebih banyak menaruh harapan pada dokter yang oleh mereka diyakini sebagai dokter yang mencintai dan takut akan Allah. Mereka bergantung pada kata-katanya. Mereka merasa terjamin dalam kehadiran dan pelayanan dokter itu. 

“Karena mengenal Tuhan Yesus, maka adalah hak dan kesempatan istimewa bagi dokter Kristen yang berpraktik melalui doa untuk mengundang kehadiran-Nya di dalam kamar penderita. Sebelum melakukan sesuatu operasi pembedahan yang kritis, hendaklah si dokter memohonkan bantuan dari Dokter yang besar itu. Hendaklah ia memberikan jaminan kepada si penderita bahwa Allah dapat menghantarkannya dengan aman melalui cobaan yang besar itu, bahwa dalam segala saat yang sukar itu Ia adalah tempat berlindung yang aman bagi orang-orang yang menaruh harap pada-Nya. Dokter yang tidak dapat melakukan ini akan kehilangan satu demi satu kasusnya yang sesungguhnya sudah akan dapat diselamatkan. Sekiranya ia dapat mengucapkan kata-kata yang akan mengilhami iman pada Juruselamat yang penuh simpati itu, yang merasakan setiap denyut penderitaan, lalu ia menyampaikan semua kebutuhan jiwa kepada Dia dalam doa, maka saat-saat genting itu seringkali dapat dilalaui dengan aman.

“Hanya Dia yang membaca hati manusia dapat mengetahui betapa gentar dan ngerinya banyak penderita terpaksa setuju dioperasi di tangan dokter ahli bedah. Mereka sadar akan bahayanya. Sementara mereka mungkin yakin akan keahlian dokter yang bersangkutan, mereka juga tahu bahwa keahlian itu bukan mutlak sempurna. Namun setelah mereka melihat dokter itu tunduk berdoa, memohon bantuan dari Allah, maka mereka akan diilhami dengan keyakinan. Perasaan syukur

dari Allah, semua tenaga dari seluruh tubuh dihidupkan kembali, lalu kehidupan mendesak kepada kemenangan. 

“Bagi si dokter pun kehadiran Juruselamat akan merupakan suatu unsur kekuatan. Seringkali tanggung jawab-tanggung jawab dan kemungkinan-kemungkinan pekerjaan mendatangkan kengerian pada roh. Demam ketidak-pastian dan ketakutan akan membuat tangan menjadi tidak cekatan. Tetapi jaminan bahwa Penasehat ilahi itu berada di sampingnya, untuk memimpin dan untuk menunjang, memberikan ketenangan dan keberanian. Sentuhan Kristus pada tangan dokter akan membawa kekuatan, ketenangan, keyakinan, dan kuasa.

“Apabila saat krisis telah dilalui dengan aman, dan keberhasilan sudah tampak, maka hendaklah beberapa saat digunakan bersama-sama dengan penderita untuk mengucapkan doa. Berikanlah pernyataan untuk terima kasihmu bagi nyawa yang telah berhasil diselamatkan. Sementara kata-kata terima kasih mengalir dari mulut si penderita kepada dokter, maka hendaklah puji dan syukur diarahkan kepada Allah. Katakanlah kepada penderita bahwa nyawanya telah tergolong sebab ia berada di bawah perlindungan Dokter samawi.

“Dokter yang mengikuti cara yang sedemikian ini akan membimbing penderitanya kepada Dia yang pada-Nyalah penderita bergantung bagi nyawanya, yaitu Dia yang dapat menyelamatkan sampai kepada semua orang yang datang kepada-Nya. 

“Pelayanan Bagi Jiwa” 

“Ke dalam pekerjaan misionaris medis kedokteran hendaklah dimasukkan suatu kerinduan yang mendalam untuk

mendapatkan jiwa-jiwa. Kepada dokter yang sama sejajar dengan pendeta injil diberikan kepercayaan tertinggi yang pernah diberikan kepada manusia. Apakah disadarinya atau tidak setiap dokter adalah dipercayakan untuk mengobati jiwa-jiwa.

“Dalam tugas mereka menangani penyakit dan kematian, para dokter seringkali lalai melihat akan realitas-realitas penting mengenai kehidupan yang akan datang. Dalam usaha mereka yang sungguh-sungguh untuk mencegah bahaya terhadap tubuh, mereka lupa akan bahaya yang mengancam jiwa. Penderita yang sedang mereka layani mungkin akan kehilangan pegangan hidupnya. Kesempatan-kesempatannya yang terakhir sedang luput jatuh daripada genggaman si dokter. Jiwa ini si dokter harus temui kembali pada tahta pengadilan Kristus.

“Seringkali kita kehilangan berkat-berkat yang sangat bernilai karena lalai membicarakan sepatah kata pada waktunya. Jika kesempatan emas itu tidak ditunggu-tunggu, maka ia itu akan lenyap. Di sisi tempat tidur penderita janganlah sekali membicarakan paham kepercayaan atau pertentangan apapun. Tunjukkan kepada si penderita Dia yang selalu rela menyelamatkan semua orang yang datang kepada-Nya dalam iman. Berjuanglah dengan sungguh-sungguh dan dengan lemah lembut untuk membantu jiwa yang sedang terayun-ayun di antara hidup dan mati itu.

“Dokter yang mengetahui bahwa Kristus adalah Juruselamat pribadinya, karena ia sendiri telah  dibimbing kepada Perlindungan itu, mengetahui bagaimana menangani jiwa-jiwa yang gentar, yang bersalah, yang sakit dosa, yang datang kepadanya meminta pertolongan. Ia dapat menjawab akan pertanyaan : ‘Apakah yang harus ku perbuat untuk diselamatkan?’ Ia dapat menceritakan tentang kasih Juruselamat. Ia dapat berbicara dari pengalaman tentang kuasa pertobatan dan

iman. Dalam kata-kata yang sederhana dan bersungguh-sungguh ia dapat mempersembahkan kebutuhan jiwa itu kepada Allah dalam doa, dan ia dapat mendorong si sakit juga untuk memohon dan menyambut kemurahan Juruselamat yang penuh kasih sayang itu. Sementara ia melayani sedemikian ini pada sisi tempat tidur si sakit, sambil berjuang untuk membicarakan kata-kata yang akan membawakan pertolongan dan penghiburan, maka Tuhan akan bekerjasama dengannya dan oleh perantaraannya. Sementara pikiran si penderita diarahkan kepada Juruselamat, maka kedamaian Kristus akan memenuhi hatinya, dan kesehatan rohani yang datang kepadanya itu akan digunakan sebagai tangan pertolongan Allah dalam mengembalikan kesehatan tubuh.

“Dalam mendatangi si sakit dokter akan seringkali menemukan kesempatan untuk memberikan pelayanan kerohanian kepada teman-teman dari si penderita. Sementara mereka mengawasi di sisi tempat tidur si penderita, dan merasa tak berdaya untuk menghindari suatu perasaan sakit yang tiba-tiba datang, maka hati mereka akan tenang. Seringkali kesedihan yang disembunyikan dari orang-orang lain itu diungkapkan kepada dokter. Pada saat itulah kesempatan untuk mengarahkan orang-orang yang susah ini kepada Dia yang telah mengundang orang-orang yang telah dan yang menanggung berat untuk datang kepada-Nya. Seringkali doa dapat dipersembahkan bagi dan bersama-sama dengan mereka, sambil menyampaikan segala kebutuhan mereka kepada Penyembuh segala penyakit, yaitu Pengringan segala kesusahan. 

Janji-Janji Allah 

“Dokter memiliki kesempatan-kesempatan yang berharga untuk mengarahkan pada pasiennya kepada janji-janji dari Firman Allah. Ia harus mengeluarkan dari rumah perbendaharaan perkara-perkara yang baru maupun yang lama, sambil berbicara di sini dan disana kata-kata penghiburan

dan petunjuk yang sangat dirindukan. Dokter hendaknya membuat pikriannya menjadi suatu tempat simpanan pemikiran-pemikiran yang segar. Hendaklah ia menyelidiki Firman Allah dengan rajin, supaya ia dapat terbiasa dengan janji-janjinya. Hendaklah ia belajar mengucapkan kembali kata-kata penghiburan yang diucapkan Kristus selama pelayanan-Nya di bumi dahulu, sewaktu memberikan pelajaran-pelajaran-Nya dan menyembuhkan orang-orang sakit. Ia harus berbicara mengenai perbuatan-perbuatan penyembuhan yang diperbuat Kristus, mengenai lemah lembut dan kasih sayang-Nya. Jangan sekali ia lalai mengarahkan pikiran para pasiennya kepada Kristus, Dokter yang terutama itu. 

“Kuasa yang sama yang Kristus perlihatkan sewaktu ia berjalan kelihatan di antara orang-orang ialah Firman-Nya. Adalah oleh firman-Nya maka Yesus telah menyembuhkan penyakit dan mengusir keluar setan-setan; oleh firman-Nya Ia telah menenangkan lautan, dan membangkitkan orang mati; dan orang banyak itu menyaksikan bahwa dengan firman-Nya itu ada kuasa. Ia membicarakan firman Allah, sama seperti yang telah dibicarakan-Nya kepada semua nabi-nabi dan guru-guru Wasial Lama. Seluruh Alkitab adalah sebuah manifestasi dari hal Kristus. 

“Injil harus diterima sebagai Firman Allah bagi kita, bukan hanya tertulis, tetapi juga yang dibicarakan. Sewaktu orang-orang yang susah itu datang kepada Kristus, Ia memandang bukan saja kepada orang-orang yang memohon bantuan-Nya, tetapi juga kepada semua orang yang sepanjang zaman datang kepada-Nya dalam kebutuhan yang sama dan dengan iman yang sama. Sewaktu Ia mengatakan keapda pemuda yang lumpuh itu : ‘Hai anak, bersukacitalah hatimu; segala dosamu sudah diampuni’; sewaktu Ia mengatakan kepada wanita Capernaum itu : ‘Hai gadis, terhiburlah kamu; imanmu telah membuatmu

menjadi sempurna; pergilah dengan damai’, Ia telah  berbicara kepada orang-orang susah, orang-orang yang memikul beban dosa lainnya yang mencarikan pertolongan-Nya. 

“Demikianlah halnya dengan semua janji-janji dari Firman Allah. Di dalam sekaliannya itu Ia sedang berbicara sekarang kepada kita secara pribadi, berbicara secara langsung seolah-olah kita dapat memperhatikan suara-Nya. Adalah dalam janji-janji inilah maka Kristus mengkomunikasikan kepada kita karunia dan kuasa-Nya. Sekaliannya itu adalah daun-daunan dari pohon itu yang berguna ‘bagi penyembuhan segala bangsa.’ Apabila diterima, digabungkan, maka sekaliannya itu akan menjadi kekuatan bagi tabiat, inspirasi dan penunjang bagi kehidupan. Tidak ada apapun di samping itu yang dapat memberikan keberanian dan iman, yang memberikan tenaga vital bagi seluruh tubuh. 

“Kepada orang yang berdiri gemetar dengan ketakutan pada tepi kubur, kepada jiwa yang lelah oleh beban penderitaan dan dosa, hendaklah dokter sementara ia memiliki kesempatan supaya mengucapkan kembali kata-kata Juruselamat itu – karena semua kata-kata dari Kitab Suci adalah milik-Nya. 

“Janganlah takut; karena Aku sudah menebus kami, Aku sudah memanggil kamu oleh namamu sendiri; kamu adalah milik-Ku. Apabila kamu berjalan melalui banyak air, Aku akan berada sertamu; dan melalui sungai-sungai, sekaliannya itu tidak akan menghanyutkan kamu; apabila kamu berjalan melalui api, kamu tidak akan terbakar; nyala api pun tidak akan menyala atas kamu. Karena Akulah Tuhan Allahmu, Dia Yang Suci dari Israel itu, yaitu Juruselamatmu. …… karena engkau adalah berharga pada pemandangan-Ku, maka engkau telah dihargai, maka Aku

telah  mencintai kamu.’ Aku, bahkan Akulah Dia yang menghapuskan segala pelanggaranmu karena demi kepentingan-Ku sendiri, maka Aku tidak akan ingat lagi akan dosa-dosamu.’ ‘Janganlah takut; karena Aku menyertaimu.’” – Ministry of Healing, pp. 116 – 123. 

PERSYARATAN-PERSYARATAN BAGI PARA JURU RAWAT

“Di sanatorium-sanatorium dan rumah-rumah sakit dimana para juru rawat selalu bergabung dengan jumlah besar orang-orang sakit, adalah dipersyaratkan suatu usaha yang pasti untuk selalu menarik dan bergembira, dan menunjukkan perhatian yang seksama dalam setiap kata dan tindakan. Di dalam lembaga-lembaga ini adalah sangat penting agar para juru rawat berjuang melakukan tugas mereka dengan bijaksana dan bak. Mereka perlu senantiasa ingat bahwa dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban mereka sehari-hari mereka sedang melayani Tuhan Kristus. 

Pikiran Yang Siap

“Si penderita perlu mendapatkan kata-kata yang bijaksana diucapkan kepada mereka. Para juru rawat harus mempelajari Alkitab setiap hari, supaya mereka mampu membicarakan perkataan-perkataan yang dapat menerangi dan menolong segala penderitaan. Malaikat-malaikat Allah berada di dalam ruangan-ruangan dimana para penderita ini sedang dilayani kerohaniannya, maka suasana yang mengelilingi jiwa orang yang memberikan pelayanan harus bersih dan harum. Para dokter dan juru-juru rawat harus menghargai prinsip-prinsip Kristus. Dalam kehidupan mereka segala kebajikan-Nya harus terlihat. Kemudian, melalui apa yang mereka perbuat dan ucapkan mereka akan menarik si sakit kepada Juruselamat.

“Juru rawat Kristen, sambil melaksanakan pelayanan untuk mengembalikan kesehatan,

mereka akan menarik pikiran si penderita dengan berhasil dan menyenangkan kepada Kristus, penyembuh jiwa dan tubuh itu. Pemikiran-pemikiran yang dikemukakan, disini sedikit dan disana sedikit, akan mempunyai pengaruhnya sendiri. Para juru rawat yang lebih tua jangan sekali melepaskan kesempatan yang baik untuk menarik perhatian si sakit kepada Kristus. Mereka harus senantiasa siap untuk menggabungkan penyembuhan rohani dengan penyembuhan badani. 

“Dalam cara yang sangat ramah dan lemah lembut para juru rawat harus mengajarkan bahwa barangsiapa yang ingin sembuh harus berhenti dari melanggar hukum Allah. Ia harus berhenti daripada memilih kehidupan yang berdosa. Allah tidak dapat memberkati orang yang terus mendatangkan atas didinya penyakit dan penderitaan dengan cara sengaja melanggar hukum-hukum sorga. Namun Kristus oleh perantaraan Roh Suci akan datang sebagai suatu kuasa penyembuhan bagi mereka yang berhenti melakukan kejahatan lalu belajar berbuat baik.” – Ministry of Healing, pp. 222 – 224. 

Tepat guna Bergantung Pada Kekuatan Tenaga 

“Tepatguna juru rawat sebagian besarnya bergantung pada kekuatan fisik. Makin baik kesehatannya makin lebih mampu ia (perempuan itu) tahan menghadapi tekanan menunggu si sakit, dan ia akan lebih mampu melaksanakan kewajiban-kewajibannya dengan berhasil. Mereka yang menunggui orang sakit harus menaruh perhatian khusus terhadap makanan, kebersihan, udara segar, dan latihan. Perhatian yang sama di pihak keluarga akan juga memungkinkan mereka untuk tahan menghadapi beban-beban tambahan yang datang menimpa mereka, dan

akan membantu menghindari mereka untuk tidak terkena penyakit. …… 

“Juru-juru rawat berikut semua orang yang berurusan dengan ruangan penderita harus selalu gembira, tenang, dan menguasai diri. Semua yang tergesa-gesa, kegelisahan, atau kebingungan, harus dihindari. Pintu-pintu harus dibuka dan ditutup dengan hati-hati, dan seluruh isi rumah harus tetap tenang. Dalam hal terjadi demam, maka pengawasan khusus diperlukan sewaktu masa krisis datang sampai demam itu berlalu. Pada waktu itulah pengawasan yang tetap seringkali diperlukan. Kelalaian, kelupaan, dan kecerobohan telah menyebabkan kematian banyak orang yang seharusnya masih hidup sekiranya mereka itu memperoleh pengawasan yang pantas dari para juru rawat yang adil dan penuh perhatian.” – Counsels on Health, pp. 406, 407. 

Orang-orang muda yang tekun dan bersungguh-sungguh adalah diperlukan untuk masuk bekerja sebagai juru-juru rawat. Karena pemudi-pemudi ini menggunakan secara sadar pengetahuan yang mereka peroleh, maka mereka akan meningkat kemampuannya, sehingga makin hari makin mampu menjadi tangan pertolongan Tuhan. 

“Tuhan menghendaki orang-orang laki-laki dan peremuan yang bijaksana, yang dapat bertindak dalam kemampuan juru-juru rawat untuk menghibur dan membantu orang-orang yang sakit dan menderita. Ya, alangkah baiknya jika semua orang yang menderita dapat dilayani oleh dokter-dokter dan juru-juru rawat Kriten yang dapat membantu meletakkan tubuh mereka yang lemah dan terkoyak kesakitan itu dalam pengawasan Penyembuhan Besar itu, dalam iman memandang kepada-Nya memohon penyembuhan. Jika melalui pelayanan yang adil penderita dibimbing untuk menyerahkan jiwanya

kepada Kristus dan membawa semua pemikirannya ke dalam kepatuhan kepada kehendak Allah, maka suatu kemenangan besar akan dicapai. …… 

“Ada banyak bidang pekerjaan untuk dimajukan oleh juru rawat misionaris. Ada banyak kesempatan bagi juru rawat – juru rawat yang terlatih baik untuk memasuki rumah-rumah lalu disana membangkitkan perhatian orang pada kebenaran. Dalam hampir setiap kelompok masyarakat terdapat jumlah-jumlah beasr orang-orang yang tidak mau mendengarkan ajaran Firman Allah atau mendatangi sesuatu acara agama. Sekiranya mereka ini akan dicapai oleh Injil, maka ia itu harus dihantarkan ke rumah-rumah mereka. Seringkali bantuan bagi kebutuhan-kebutuhan fisik mereka adalah satu-satunya jalan masuk oleh mana mereka dapat didekati. 

“Para juru rawat missionaris yang melayani orang sakit dan membantu kesulitan orang miskin akan menemukan banyak kesempatan untuk berdoa bersama-sama dengan mereka, untuk membaca bagi mereka dari Firman Allah, dan untuk berbicara dari hal Juruselamat. Mereka dapat berdoa bersama-sama dan bagi orang-orang yang tak berdaya yang tidak memiliki kemampuan kehendak untuk mengontrol selera-selera lidah yang telah direndahkan oleh napsu. Mereka dapat menghantarkan suatu sinar harapan ke dalam kehidupan orang-orang ini yang telah dikalahkan dan dikecewakan. Ungkapan kasing sayang yang tidak mementingkan diri, yang dimanifestasikan dalam tindakan-tindakan kebaikan yang tidak memihak, akan memudahkan bagi para penderita ini untuk percaya pada kasih Kristus.” – Counsels on Health, pp. 387, 388. 

“Allah memiliki suatu pekerjaan bagi setiap orang percaya yang bekerja di Sanatorium. Setiap juru rawat akan menjadi suatu saluran berkat, yang menerima terang

dari atas, lalu membiarkannya bercahaya kepada orang-orang lain. Para pekerja tidak boleh menyesuaikan diri kepada pameran mode-mode orang-orang yang datang ke Sanatorium untuk mendapatkan pelayanan, melainkan mereka harus menyerahkan dirinya kepada Allah. Suasana yang mengelilingi jiwa-jiwa mereka itu harus merupakan suatu nikmat hidup bagi kehidupan. Cobaan akan memerangi mereka pada setiap sisi, namun hendaklah mereka memohon kepada Allah akan kehadiran dan bimbingan-Nya. Tuhan berfirman kepada Musa : ‘Pasti Aku akan berada bersama-sama dengan dikau’; dan kepada setiap pekerja yang berserah diri dan setia jaminan yang sama itu pun diberikan.” – Testimonies, vol. 8, p. 144. 

PERSYARATAN-PERSYARATAN BAGI SEMUA ORANG 

“Dalam Firman-Nya Tuhan menyebutkan satu demi satu talenta-talenta dan karunia-karunia yang sangat diperlukan bagi semua orang yang berhubungan dengan pekerjaan-Nya. Ia tidak mengajarkan kita supaya meremehkan belajar atau menganggap enteng pendidikan; karena apabila dikontrol oleh kasih dan takut akan Allah, maka budaya kecerdasan adalah suatu berkat; namun ini bukan dikemukakan sebagai persyaratan yang sangat penting bagi pekerjaan pelayanan Allah. Yesus telah melewati orang-orang pandai di zaman-Nya, yaitu orang-orang yang berkedudukan dan berpendidikan, sebab mereka adalah sangat sombong dan merasa kecukupan sendiri dalam keunggulannya yang membanggakan itu sehingga mereka tidak dapat bersimpathi dengan penderitaan manusia, dan menjadi rekan-rekan kerja sama dengan Lelaki dari Nasareth itu. Dalam sikap keras mereka itu mereka telah mengejek untuk diajar oleh Kristus. Tuhan Yesus menginginkan orang-orang yang berhubungan dengan pekerjaan-Nya, yaitu mereka yang menyukai pekerjaan-Nya, yaitu mereka yang menyukai pekerjaan itu sebagai pekerjaan yang suci; kemudian mereka dapat bekerja sama dengan Allah. Mereka akan merupakan saluran-saluran yang lancar melalui

mana karunia-Nya dapat mengalir. Sifat-sifat tabiat Kristus dapat diberikan hanya kepada orang-orang yang tidak menaruh harap pada dirinya sendiri. Pendidikan ilmiah yang tertinggi sekalipun tidak dapat mengembangkan sendiri suatu tabiat Kristus. Buah-buah kepintaran yang benar hanya berasal dari Kristus. 

“Setiap pekerja harus menguji kemampuan-kemampuannya sendiri dengan Firman Allah adakah orang-orang yang sedang menangani perkara-perkara yang suci itu memiliki pengertian yang cerah, yaitu suatu penglihatan yang benar mengenai perkara-perkara dari hal kepentingan yang kekal? Adakah mereka berniat untuk menyerahkan diri kepada pekerjaan Roh Suci atau adakah mereka mengijinkan dirinya dikontrol oleh kecenderungan-kecenderungan sifat keturunan dan peliharaan mereka sendiri? Ini akan mengharuskan semua orang untuk memeriksa dirinya sendiri, apakah mereka benar-benar berada dalam iman. 

Kedudukan Dan Tanggung Jawab 

“Mereka yang menduduki jabatan-jabatan terpercaya di dalam pekerjaan Allah harus senantiasa ingat bahwa jabatan-jabatan ini meliputi juga tanggung jawab besar. Pelaksanaan yang benar pekerjaan yang penting ini bagi zaman ini, dan penyelematan jiwa-jiwa yang berkaitan dengan kita dalam cara apapun, sebagian besarnya bergantung pada kondisi kerohanian kita sendiri. Semua orang harus memeliharakan suatu perasaan tanggung jawab mereka yang nyata; karena kebahagiaan mereka sendiri yang ada sekarang dan nasib kekal mereka akan ditentukan oleh roh yang mereka bina. Jika sifat mementingkan diri dimasukkan ke dalam pekerjaan, maka itu adalah bagaikan mempersembahkan api yang asing menggantikan api yang suci. Pekerja-pekerja yang sedemikian ini mendatangkan kemarahan Tuhan.

Saudara, singkirkanlah tanganmu dari pekerjaan itu jika engkau tidak dapat membedakan antara api yang suci dan api yang biasa. 

“Mereka yang berdiri sebagai wakil-wakil manusia tidak semuanya adalah orang-orang Kristen yang terhormat. Ada suatu roh yang merajalela yang berusaha mencari keunggulan atas orang-orang lain. Orang-orang yang menganggap dirinya sendiri berkuasa, mereka mengeluarkan pendapat-pendapatnya dan menyetujui resolusi-resolusi mengenai hal-hal yang yang mana mereka sendiri sama sekali belum memiliki pengetahuan pengalamannya. Beberapa orang yang berhubungan dengan kantor penerbitan di ______, berjalan melalui kantor ini, berbicara dengan orang-orang yang berbeda-beda, memberikan petunjuk-petunjuk yang disangkanya pantas bagi mereka untuk memberikan, sedangkan mereka tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan.” 

Keadilan Dan Kejujuran 

“Ketidak-adilan yang besar dan bahkan ketidak-jujuran telah melibatkan orang-orang di dalam rapat-rapat pertemuan pengurus, dalam membawakan persoalan-persoalan ke hadapan orang-orang yang belum berpengalaman yang akan memungkinkan mereka menjadi hakim-hakim yang mampu. Naskah-naskah tulisan telah diletakkan di dalam tangan orang-orang untuk mengeritik, sedangkan mata pengertian mereka adalah sedemikian buta sehingga mereka tidak dapat melihat akan kepentingan rohani dari masalah itu yang sedang mereka tangani. Lebih-lebih lagi, mereka sama sekali tidak menguasai pengetahuan, tata buku. Mereka belum pernah belajar maupun berpraktek di bidang penerbitan buku-buku. Orang-orang telah menetapkan keputusan terhadap buku-buku dan naskah-naskah tulisan yang telah ditempatkan secara tidak bijaksana di dalam tangan-tangan merka, dimana mereka seharusnya

menolak untuk bekerja dalam sesuatu kemampuan yang sedemikian ini. Sudah seharusnya jujur saja bagi mereka untuk mengatakan : ‘Saya belum berpengalaman sama sekali dalam bidang pekerjaan ini, maka saya tentu akan berbuat ketidak-adilan bagi diri saya sendiri maupun kepada orang lain, dalam memberikan pendapat saya. Maafkan saya, saudara-saudara; gantinya memerintahkan orang-orang lain, saya memerlukan seseorang untuk mengajar saya.’ Tetapi ini adalah jauh dari pemikiran-pemikiran mereka. Mereka menyatakan dirinya bebas terhadap pokok-pokok masalah yang sama sekali tidak mereka pahami. Kesimpulan-kesimpulan telah disambut sebagai pendapat-pendapat orang-orang yang pandai, padahal semuanya itu hanya pendapat-pendapat orang-orang yang tidak berpengalaman. 

“Masanya telah tiba apabila dalam nama dan kekuatan Alah sidang harus bertindak bagi kebaikanjiwa-jiwa dan bagi kehormatan Allah. Tidak adanya man yang kuat dan penglihatan terhdap perkara-perkara yang suci harus dianggap cukup untuk menghalangi setiap orang berhubungan dengan pekerjaan Allah. Demikian pula pemanjaan sifat cepat marah, suatu roh yang kasar dan suka menguasai, mengungkapkan bahwa pribadi pemiliknya tidak boleh ditempatkan dimana ia akan diundang untuk menentukan masalah-masalah penting yang mempengaruhi warisan Allah. Seseorang yang bernapsu tidak boleh memperoleh bagian apapun untuk bertindak dalam mengurusi pikiran-pikiran manusia. Ia tidak dapat diberi kepercayaan untuk membentuk masalah-masalah yang bertalian dengan orang-orang yang telah dibeli oleh Kristus dengan harga yang tak ternilai. Sekrianya ia berusaha untuk mengatur orang-orang, maka ia akan menyakiti dan melukai jiwa mereka. Karena ia tidak memiliki sentuhan yang halus, yaitu kemampuan rasa yang enak, yang diberikan oleh karunia Kristus.

Hatinya sendiri perlu dihalusi, ditundukkan oleh Roh Allah; hati batu belum menjadi suatu hati daging.” 

Mewakili Kristus 

“Orang-orang yang salah mewakili Kristus sedemikian ini sedang meletakkan suatu bentukan corak yang keliru pada pekerjaan itu; karena mereka mendorong semua orang yang berhubungan dengannya untuk berbuat seperti mereka. Demi bagi kepentingan mereka, bagi kepentingan orang-orang yang sedang dalam bahaya karena pengaruh mereka, maka mereka seharusnya meninggalkan jabatan-jabatan mereka itu; karena catatan akan muncul terlihat di dalam sorga bahwa pelaksana yang salah itu memikul darah banyak jiwa pada baju-baju mereka. Ia telah membuat sebagian orang menjadi jengkel sehingga mereka telah melepaskan iman mereka; lain-lainnya telah diisi dengan sifat-sifat iblisnya sendiri, sehingga kejahatang yang diperbuat tidak mungkin untuk diperkirakan. Hanya orang-orang yang memperlihatkan secara nyata bahwa hati mereka sedang disucikan oleh kebenaran yang harus dipertahankan pada jabatan-jabatan kepercayaan di dalam pekerjaan Tuhan. 

“Hendaklah semua orang memikirkan bahwa apapun juga lapangan kerja mereka, mereka harus mewakili Kristus. Dengan maksud hati yang teguh hendaklah setiap orang berusaha memiliki pikiran Kristus. Terutama sekali orang-orang yang telah menerima jabatan-jabatan direktur atau penasehat harus merasa bahwa mereka dituntut untuk dalam segala hal menjadi orang-orang Kristen yang terhormat. Selagi, dalam menangani orang-orang lain kita harus selalu setia, kita tidak boleh kasar. Jiwa-jiwa yang harus kita layani adalah milik Tuhan yang telah

dibeli-Nya, maka jangan sekali kita membiarkan pernyataan yang suka menguasai dan terburu-buru keluar dari bibir kita.

“Saudara-saudara, layanilah manusia sebagaimana layaknya manusia, jangan bagaikan pelayan-pelayan, untuk diperintah kasar, yang suka menguasai, adalah lebih baik menjadi penjaga domba-domba, seperti yang dilakukan oleh Musa, maka dengan demikian ia dapat belajar bagaimana untuk menjadi seorang gembala yang benar. Musa telah memperoleh di Mesir suatu pengalaman sebagai seorang negarawan yang perkasa, dan sebagai seorang pemimpin angkatan perang, tetapi di sana ia tidak mempelajari pelajaran-pelajaran yang penting bagi kebesaran yang sesungguhnya. Ia membutuhkan suatu pengalaman dalam tugas-tugas yang lebih sederhana dan rendah, supaya ia dapat menjadi seorang pengwal yang ramah terhadap setiap mahluk yang hidup. Dalam memeliharakan kawanan domba milik Jethro, maka perasaan-perasaan simpatinya terpanggil keluar terhadap domba-domba dan anak-anaknya, lalu ia belajar mengawasi mahluk-mahluk ciptaan Allah ini dengan pengawasan yang baik sekali. Walaupun suara binatang-binatang itu tidak pernah bersungut atas sesuatu pelayanan yang kasar, namun sikap mereka dapat menunjukkan banyak hal. Allah mengawasi semua mahluk ciptaan yang telah diciptakan-Nya. Dalam bekerja bagi Allah pada lapangan yang rendah ini Musa telah belajar untuk menjadi seorang gembala yang ramah bagi Israel. 

Bergantung Pada Allah 

“Tuhan menghendaki agar kita mempelajari juga suatu pelajaran dari pengalaman Daniel. Ada banyak orang yang dapat menjadi orang-orang yang perkasa, jika sekiranya, seperti halnya Ibrani yang setia ini, merka mau bergantung pada Allah bagi karunia untuk menjadi orang-orang yang menang, dan bagi kekuatan dan tepatguna dalam usaha-usaha mereka. Daniel telah memanifestasikan

sikap sopan santun yang sangat sempurna, baik terhadap para tua-tuanya maupun terhadap orang-orang muda. Ia berdiri sebagai saksi bagi Allah dan berusah menempuah suatu cara yang sedemikian ini supaya ia tidak malu bagi Sorga untuk mendengarkan kata-katanya atau memandang akan perbuatan-perbuatannya. Sewaktu Daniel diminta untuk ikut mengambil bagian pada segala kemewahan makanan raja, ia tidak langsung terbang mengikuti napsu, ia juga tidak langsung menyatakan keputusannya untuk makan dan minum sesuai kesenangan hatinya. Tanpa mengucapkan sepatah-katapun yang menentang, ia lalu membawa persoalan itu kepada Allah. Dia dan teman-temannya memohon hikmat kebijaksanaan dari Tuhan, dan sewaktu merka keluar dari doa yang bersungguh-sungguh itu, keputusan mereka dibuat. Dengan keberanaian yang benar dan kesopanan Kristen Daniel menyampaikan masalah itu kepada perwira yang mengawasi mereka, sambil memohon agar mereka kiranya diberikan saja makanan yang sederhana. Orang-orang muda ini merasa bahwa prinsip-prinsip agamanya sedang terancam, maka mereka bergantung pada Allah yang mereka cintai dan berbakti. Permohonan mereka dikabulkan, karena mereka telah berkenan kepada Allah dan mereka disenangi manusia. 

“Orang-orang yang menduduki setiap jabatan kepercayaan perlu mengambil tempat mereka di dalam sekolah Kristus, lalu mematuhi anjuran dari Guru Besar itu yang berbunyi : ‘Belajarlah kepada-Ku; karena Aku adalah lemah lembut dan rendah hati :  maka kamu akan mendapatkan istirahat bagi jiwamu. Karena beban-Ku ringan, dan pikulan-Ku adalah tidak berat.’ Kita tidak punya alasan apapun untuk memanifestasikan sesuatu sifat tabiat yang salah. ‘Bukan oleh gagah, bukan oleh kuasa, melainkan oleh Roh-Ku saja, demikianlah firman Tuhan serwa sekalian alam.’ Dalam kamu menangani orang-orang lain, maka apapun yang kamu lihat

atau dengar yang perlu dikoreksi, pertama-tama berusahalah mencari Tuhan untuk hikmat kebijaksanaan dan kemurahan, supaya dalam usaha untuk menjadi setia, engkau tidak akan berlaku kasar. Mohonkan kepada-Nya untuk mnegaruniakan kepadamu kehormatan Kristus; maka engkau menjadi benar terhadap tugasmu, benar terhadap jabatan kepercayaanmu, dan benar kepada Allah, sebagai seorang penatalayan yang setia yang menguasai kecenderungan-kecenderungan jahat yang alami dan yang diperoleh.

“Tak ada orang lain terkecuali seorang Kristen yang sepenuh hati yang dapat menjadi seorang terhormat yang sempurna; tetapi jika Kristus tinggal di dalam jiwa, maka Roh-Nya akan terungkap dalam pembawaan hidup, kata-kata, dan tindakan-tindakan. Kehormatan dan kasih yang dipelihara di dalam hati yang terlihat dalam penyangkalan diri, dan dalam sopan-santun yang benar. Pekerja-pekerja yang sedemikian ini akan menjadi terang dunia.” – Testimonies to Ministers, pp. 259 – 264. 

PERSYARATAN-PERSYARATAN BAGI ANGGOTA-ANGGOTA SIDANG 

“Masuknya anggota-anggota yang belum memperbaharui hatinya dan belum mereformasikan hidupnya adalah merupakan sumber kelemahan bagi sidang. Kenyataan ini seringkali dilalaikan. Sebagian pendeta-pendeta dan gereja-gereja adalah demikian bernapsu untuk mendapatkan peningkatan jumlah anggota sehingga mereka tidak memberikan kesaksian yang jujur melawan kebiasaan-kebiasaan dan praktek-praktek yang bukan Kristen. Orang-orang yang menyambut kebenaran tidak diajarkan bahwa mereka tidak mungkin berhasil sebagai orang-orang duniawi dalam sikap sementara mereka adalah Kristen dalam nama saja. Sebelum ini mereka adalah pengikut-pengikut Setan; mulai sekarang mereka harus menjadi pengikut-pengikut Kristus. Kehidupan harus membuktikan kepada penggantian pemimpin. Pendapat

umum menyenangi pengakuan sebagai orang Kristen. Sedikit saja penyangkalan diri atau pengorbanan diri yang dipersyaratakan untuk memakaikan bentuk peribadatan, dan untuk mendaftarkan nama seseorang di dalam buku sidang. Sebab itu banyak orang menggabungkan diri dengan sidang tanpa terlebih dulu bersatu dengan Kristus. Dalam hal inilah Setan berhasil menang. Orang-orang bertobat yang sedemikian ini adalah agen-agennya yang paling tepat guna. Mereka melayani sebagai pemikat jiwa-jiwa yang lainnya. Mereka adalah terang-terang yang palsu yang membujuk-bujuk orang yang tidak waspada ke dalam kebinasaan. Adalah sia-sia orang yang berusaha membuat jalan Kristen itu menjadi luas dan menyenangkan bagi orangorang dunia. Allah tidak melicinkan ataupun melebarkan jalan yang kasar berbatu-batu dan sempit itu. Jika kita mau masuk ke dalam kehidupan, maka kita harus menelusuri jalan yang sama itu juga yang telah  dijalani oleh Yesus dan murid-murid-Nya, -- yaitu  jalan  kesederhanaan, penyangkalan diri, dan pengorbanan.” – Testimonies, vol. 5, p. 172. 

“Kristen – betapa banyak orang yang ada yang belum mengerti akan artinya itu! Itu bukanlah sesuatu yang dipakaikan di sebelah luar. Itu adalah suatu kehidupan yang ditempa dengan kehidupan Yesus. Itu berarti bahwa kita sedang memakaikan jubah kebenaran Kristus. Mengenai dunia, orang-orang Kristen akan mengatakan : Kami tidak mau mencampuri segala macam politik. Mereka akan mengatakan dengan tegas : Kami adalah musafir-musafir dan orang-orang asing; kewarganegaraan kami ada di atas. Mereka tidak akan terlihat memilih teman-teman bagi keplesiran. Mereka akan mengatakan : Kami telah  berhenti untuk dirangsang dengan perkara-perkara kekanak-kekanakan. Kami adalah orang-orang asing dan musafir-musafir, yang sedang mencari sebuah negeri yang berpondasi; yang pendiri dan pembuatnya adalah Allah.” – Testimonies to Ministers, p. 131.

“Satu saja langkah yang tidak bijaksana, satu saja tindakan yang sembrono akan menjerumuskan sidang ke dalam kesulitan-kesulitan dan cobaan-cobaan yang untuk bertahun-tahun lamanya ia mungkin tidak dapat sehat kembali. Satu saja anggota yang dipenuhi dengan ketidak-percayaan akan memberikan manfaat kepada musuh yang besar itu sehingga akan mempengaruhi kemakmuran seluruh sidang, dan banyak jiwa akan hilang sebagai akibatnya.” – Testimonies, vol. 3, p. 446. 

“Jika gereja-gereja menghendaki kekuatan, maka mereka harus menghidupkan kebenaran yang telah dikaruniakan Allah kepada mereka. Jika para anggota gereja-gereja kita melalaikan terang atas masalah ini, maka mereka akan menuai hasilnya yang pasti baik dalam kemerosotan kerohanian maupun dalam kemerosotan fisik. Dan pengaruh dari para anggota gereja yang lebih tua ini akan meracuni orang-orang yang baru datang kepada iman. Tuhan sekarang tidak bekerja untuk membawa masuk banyak jiwa ke dalam kebenaran, sebab adanya anggota-anggota gereja yang belum pernah bertobat, dan orang-orang yang pernah bertobat, mereka sebaliknya sudah jatuh kembali. Pengaruh apakah yang dapat diberikan oleh anggota-anggota yang tidak berserah diri ini kepada orang-orang baru? Tidakkah mereka akan menyia-nyiakan pekabaran karunia Allah itu yang harus dibawa oleh umat-Nya?” – Testimonies, vol. 6, p. 371. 

Baptisan – Suatu Tanda 

“Peraturan-peraturan baptisan dan perjamuan Tuhan adalah dua tonggak bangunan utama yang satu di luar dan yang satu di dalam sidang. Pada kedua peraturan inilah Kristus telah menuliskan nama Allah yang benar itu.

“Kristus telah menjadikan baptisan itu sebagai tanda masuk kepada kerajaan kerohanian-Nya. Ini telah dibuat-Nya menjadi suatu persyaratan yang pasti dengan mana semua orang harus mengikutinya, yaitu setiap orang yang ingin diakui sebagai berada di bawah kekuasaan Bapa, Anak, dan Rohulkudus. Sebelum orang dapat memperoleh suatu tempat tinggal di dalam sidang, sebelum melewati ambang pintu kerajaan kerohanian Allah, maka ia wajib terlebih dulu menerima cap nama ilahi, yaitu ‘Tuhan kebenaran Kita.’ Yeremia 23 : 6. 

“Baptisan adalah suatu penolakan terhadap dunia yang sangat bersungguh-sungguh. Orang-orang yang dibaptis dalam tiga nama dari Bapa, Anak, dan Rohulkudus, pada permulaan masuknya kehidupan kekristenan mereka itu menyatakan secara resmi bahwa mereka telah meninggalkan pekerjaan pelayanan Setan, dan telah menjadi anggota-anggota keluarga kerajaan, yaitu anak-anak dari Raja Samawi. Mereka telah mematuhi perintah : ‘Keluarlah dari antara mereka itu, dan berpisahlah kamu, ….. dan janganlah menjamah barang yang keji.’ Maka kepada mereka terpenuhilah janji yang berbunyi : ‘Aku akan menyambut kamu, dan Aku akan menjadi Bapa bagimu, maka kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan perempuan, demikianlah firman Tuhan Yang Maha Kuasa.’ 2 Korintus 6 : 17, 18. 

Persiapan Bagi Baptisan 

“Adalah diperlukan suatu persiapan yang lebih menyeluruh pada pihak calon-calon baptisan. Mereka memerlukan petunjuk-petunjuk yang lebih jujur daripada yang biasanya diberikan kepada mereka. Prinsip-prinsip kehidupan Kristen harus diperjelas kepada mereka yang baru datang kepada kebenaran. Jangan bergantung pada

pengakuan iman mereka saja sebagai bukti bahwa mereka telah  mempunyai hubungan selamat dnegan Kristus. Kita tidak boeh hanya mengatakan, ‘Saya percaya.’ Melainkan wajib mempraktekkan kebenaran itu. Adalah oleh menyesuaikan diri kepada kehendak Allah dalam kata-kata kita, tindak tanduk kita, dan tabiat kita, barulah kita membuktikan hubungan kita dengan Dia. Apabila seseorang meninggalkan dosa, yaitu pelanggaran hukum, maka hidupnya akan dibawa ke dalam penyesuaian dengan hukum itu, yaitu ke dalam kepatuhan yang sempurna. Inlah pekerjaan dari Roh Suci. Terang dari Firman itu dipelajari dengan seksama, maka suara hati nurani, yaitu usaha-usaha Roh yang menghasilkan di dalam hati kasih bagi Kristus yang murni, yaitu Dia yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai suatu korban yang menyeluruh untuk menebus seluruh pribadi, tubuh, jiwa, dan roh. Maka kasih akan dimanifestasikan dalam kepatuhan penurutan. Garis demarkasi akan menjadi lebih jelas dan nyata di antara orang-orang yang mencintai Allah dan memeliharakan hukum-hukum-Nya, dan orang-orang yang tidak mencintai-Nya dan melalikan segala ketentuan hukum-hukum-Nya. 

“Orang-orang Kristen yang setia laki-laki dan wanita harus memiliki perhatian yang sungguh-sungguh untuk membimbing jiwa yang bersalah kepada suatu pengetahuan kebenaran yang benar dalam Kristus Yesus. Jika seseorang telah membiarkan keinginan bagi pemanjaan diri menjadi unggul dalam hidup mereka, maka orang-orang percaya yang setia harus mengawasi jiwa-jiwa ini karena merekalah yang harus mempertanggung jawabkannya. Mereka tidak boleh melalaikan petunjuk yang setia, lemah lembut, dan penuh kasih sayang yang begitu penting bagi orang-orang baru yang muda itu supaya kiranya tidak akan ada pekerjaan yang separuh hati. Pengalaman yang pertama sekali harus benar.

“Setan tidak menghendaki agar setiap orang dapat melihat akan perlunya suatu penyerahan yang menyeluruh kepada Allah. Bilamana jiwa gagal melakukan penyerahan ini, maka dosa tidak dapat ditinggalkan; selera-selera lidah dan napsu-napsu sedang berjuang untuk berkuasa; godaan-godaan mengacaukan pikiran, sehingga pertobatan yang benar tidak dapat terjadi. Jika sekiranya semua orang memiliki kesadaran mengenai pertikaian yang setiap jiwa harus hadapi melawan agen-agen Setan yang sedang berusaha untuk menjerat, membujuk, dan menyesatkan, maka akan ada lebih banyak lagi usaha yang rajin bagi orang-orang yang masih muda dalam iman. 

“Jiwa-jiwa ini, yang dibiarkan sendiri, adalah seringkali digodai, tetapi mereka tidak melihat akan jahatnya godaan itu. Hendaklah mereka merasakan perlu, bahwa adalah hak dan kesempatan mereka untuk meminta nasehat. Hendaklah mereka mencarikan masyarakat orang-orang yang dapat membantu mereka. Oleh bergabung dengan orang-orang yang mencintai dan takut akan Allah mereka akan memperoleh kekuatan.” – Testimonies, vol. 6, pp. 91 – 93. 

“Tidak ada ujian masuk keanggotaan yang dapat diberikan dengan demikian telitinya daripada yang harus diberikan kepada orang-orang yang menyerahkan dirinya kepada baptisan. Harus dimengerti apakah mereka itu sedang hanya mengambil nama sebagai orang-orang Masehi Advent Hari Ketujuh, atau apakah mereka sedang mengambil tempat untuk berdiri di pihak Tuhan, untuk keluar dari dunia dan berpisah, lalu tidak lagi menjamah barang yang keji. Sebelum baptisan perlu sekali diberikan pertanyaan-pertanyaan yang menyeluruh mengenai pengalaman-pengalaman dari para calon baptisan itu. Hendaklah pertanyaan ini dibuat bukan dalam cara yang dingin dan jauh, melainkan dengan ramah, lemah lembut, sambil menunjukkan orang-orang baru itu kepada Anak Domba Allah yang

telah menyingkirkan dosa dunia. Kemukakan persyaratan-persyaratan injil yang berlaku bagi para calon baptisan bagi baptisannya. 

“Salah satu pokok penting pada mana orang-orang yang baru datang kepada iman itu perlu diberi petunjuk ialah masalah pakaian. Hendaklah orang-orang baru itu ditangani dengan jujur. Apakah mereka itu sia-sia dalam berpakaian? Apakah mereka itu memeliharakan kesombongan di dalam hatinya? Berhala pakaian adalah suatu penyakit moral. Ia itu tidak boleh diikutsertakan ke dalam hidup yang baru. Dalam banyak hal, penyerahan kepada persyaratan-persyaratan injil menuntut suatu perubahan yang tegas dalam hal pakaian. 

“Semua perkataan Firman yang berhubungan dengan pakaian harus dipikirkan dengan seksama. Kita perlu mengerti akan apa yang disukai Tuhan sorga itu sampai kepada pakaian yang menutupi tubuh. Semua orang yang sungguh-sungguh berusaha mencari karunia Kristus akan mematuhi perkataan-perkataan petunjuk yang berharga yang diilhami Allah. Bahkan corak mode pakaian akan mencerminkan kebenaran injil.” – Testimonies, vol. 6, pp. 95, 96.. 

“Dan sebagaimana para rasul dahulu menyatakan bahwa tidak ada penyelamatan dalamnama lain di bawah langit, yang diberikan di antara manusia, maka demikian itu juga hamba-hamba Allah harus mengamarkan dengan setia dan berani kepada orang-orang yang memeluk hanya sebagian kebenaran-kebenaran yang berkaitan dengan pekabaran yang ketiga, bahwa mereka harus menyambut semau pekabaran sebagaimana yang telah dikaruniakan Allah kepada mereka, atau mereka tidak akan memperoleh bagian dalam masalah itu.” – Early Writings, pp. 188, 189.

“Di dalam setiap gereja jubah-jubah baptisan harus disediakan bagi calon baptisan. Ini janganlah dianggap sebagai perbelanjaan yang tidak perlu. Ini adalah salah satu dari perkara-perkara yang dituntut dalam penurutan kepada anjuran yang berbunyi : ‘Hendaklah segala perkara dilakukan dengan sopan dan tertib.’ 1 Korintus 14 : 40. 

“Adalah tidak baik bagi sesuatu gereja untuk hanya bergantung pada peminjaman jubah-jubah gereja lainnya. Seringkali apabila jubah-jubah itu diperlukan, maka sekaliannya itu tidak ditemukan; ada peminjam yang lalai mengembalikannya. Setiap gereja harus menyediakan bagi segala keperluannya sendiri dalam bidang ini. Kumpulkanlah suatu dana bagi maksud ini, jika seluruh gereja bersatu dalam hal ini, maka ia itu tidak akan menjadi beban yang berat. 

“Jubah-jubah itu harus dibuat dari bahan yang kuat, dari beberapa warna yang gelap agar supaya tidak mudah rusak oleh air, dan supaya diperberat pada bagian bawahnya. Jubah-jubah itu supaya bersih rapih, berupa baju-baju yang baik bentuknya, yang dibuat sesuai pola yang telah disetujui. Tidak boleh ada hiasan-hiasan, tidak boleh ada lipatan-lipatan atau dibuat ramping. Semua pameran, apakah itu berupa bentukan ramping atau perhiasan-perhiasan, sekaliannya tidak boleh ada. Bila calon-calon baptisan benar-benar memiliki kesadaran akan arti peraturan upacara itu, maka mereka tidak akan memiliki keinginan untuk menghiasi diri. Namun tidak boleh ada jorok atau ketidak-pantasan, karena ini adalah pelanggaran bagi Allah. Setiap perkara yang berkaitan dengan peraturan upacara yang suci ini harus memperlihatkan suatu persiapan yang sesempurna mungkin.” – Testimonies, vol. 6, pp. 97, 98.

“Apabila mungkin, maka hendaklah baptisan dilaksanakan di dalam danau yang jernih atau di dalam sungai yang mengalir. Dan manfaatkanlah kesempatan itu dengan segala kepentingan dan kesungguhan yang dapat dibawa ke dalamnya. Pada pelayanan yang sedemikian ini malaikat-malaikat Allah akan selalu hadir. 

“Orang yang melaksanakan upacara baptisan itu harus berusaha membuatnya menjadi suatu kesempatan yang hikmat, berpengaruh yang suci bagi semua penontonnya. Setiap upacara sidang harus sedemikian rupa diselenggarakan sehingga dijunjung tinggi dalam pengaruhnya. Jangan satupun dibuat menjadi biasa-biasa saja atau tak berharga, atau ditempatkan pada tingkat yang sama dengan hal-hal lainnya yang biasa. Gereja-gereja kita perlu dididik kepada rasa hormat yang lebih besar dan penghargaan bagi pekerjaan pelayanan Allah yang suci. Sambil para pendeta melaksanakan pelayanan-pelayanan yang berkaitan dengan perbaktian kepada Allah, demikian pula mereka mendidik dan melatih orang banyak itu. Tindakan-tindakan sedikit saja yang mendidik dan melatih dan mendisiplinkan jiwa bagi kehidupan yang kekal mempunyai akibat yang luas dalam meninggikan dan menyucikan sidang.” – Sda. 

Kewajiban-Kewajiban Sesudah Baptisan 

“Janji-janji yang kita ucapkan pada diri kita sewaktu baptisan merangkul banyak hal. Dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Suci, kita dikuburkan dalam kesamaan dengan kematian Kristus, dan dibangkitkan dalam kesamaan dengan kebangkitan-Nya, dan kita harus menghidupkan suatu kehidupan yang baru. Kehidupan kita akan terikat dengan kehidupan Kristus. Kemudian selanjutnya orang percaya harus ingat bahwa ia akan berdedikasi kepada Allah, kepada

Kristus, dan kepada Roh Suci. Ia harus membuat semua perhatian duniawi menjadi yang kedua daripada hubungan yang baru ini. Ia harus menyatakan dengan resmi bahwa ia tidak lagi mau hidup dalam kesombongan dan pemanjaan diri. Ia tidak boleh lagi hidup secara tak teratur, dan secara acuh tak acuh. Ia telah  membuat janji dengan Allah, ia telah  mati bagi dunia. Ia akan hidup kepada Tuhan, untuk menggunakan bagi-Nya semua kemampuan yang dipercayakan kepadanya, tidak pernah akan lupa bahwa ia selalu memikul tanda nama Allah, bahwa ia adalah warga kerajaan Kristus, yaitu seseorang yang ikut dalam alam keilahian. Ia hars berserah kepada Allah semua dirinya dan semua miliknya, sambil menggunakan semua talentanya bagi kemuliaan nama-Nya. 

“Segala kewajiban dalam persepakatan rohani yang diucapkan pada waktu baptisan adalah mengikat kedua belah pihak. Sebagai manusia yang melaksanakan bagian mereka dengan kepatuhan yang sepenuh hati, mereka berhak untuk berdoa, ‘Biarlah dikenal, Tuhan, bahwa Engkaulah Allah di Israel.’ Dari kenyatan bahwa engkau telah dibaptiskan dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Suci, adalah merupakan jaminan bahwa jika engkau meminta bantuan mereka, maka penguasa-penguasa ini akan membantumu dalam setiap keperluan yang mendesak. Tuhan mau mendengar dan menjawab doa-doa yang datang dari para pengikut-Nya yang jujur yang memikul beban Kristus dan yang mempelajari di dalam sekolah-Nya akan kelemah-lembutan-Nya dan kesederhanaan-Nya. 

“Maka jika engkau bangkit bersama dengan Kristus, maka carilah perkara yang di atas, dimana Kristus duduk di sebelah kanan Allah. Taruhlah segala cita-cita hatimu pada perkara-perkara yang di atas, jangan pada perkara-perkara yang di bumi. Karena engkau akan mati, maka nyawamu akan tersimpan dengan Kristus di dalam Allah.” Kolose 3 : 1 – 3.

“Sebab itu, sebagai umat pilihan Allah yang kudus dan dikasihi-Nya, hendaklah kamu bersalutkan belas kasihan, kemurahan, rendah hati, lemah lembut, panjang hati, bersabar seorang dengan seorang, dan bermaaf-maafan di antara sesamamu, jikalau barang seorang menaruh sakit hati terhadap yang lain; sebagaimana Kristus sudah mengampuni kamu, maka demikian itu pula hendaklah kamu mengampuni. Maka di atas segala perkara ini pakaikanlah kasih yang menjadi pengikat kesempurnaan. Maka hendaklah damai Allah itu memerintah di dalam hatimu, untuk mana kamu juga telah dipanggil ke dalam satu tubuh; maka hendaklah kamu bersyukur ……. Maka apapun yang kamu perbuat baik dalam kata atau perbuatan, hendaklah sekalian itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur kepada Allah dan kepada Bapa oleh Dia.’ Kolose 3 : 12 – 17.’ – Sda, p. 99. 

Hidup Yang Sehat 

“Pendidikan orang-orang Israel dahulu adalah meliputi semua kebiasaan hidup mereka. Setiap perkara yang berkenan dengan kebahagiaan mereka adalah merupakan pokok perhatian ilahi, dan telah  masuk di dalam batas lingkungan hukum ilahi. Bahkan dalam mengadakan makanan mereka, Allah telah mencarikan bagi mereka yang terbaik. Manna yang diberikan-Nya kepada mereka untuk dimakan di padang belantara itu adalah suatu makanan alamiah yang meningkatkan kekuatan fisik, mental, dan moral. Walaupun sekian banyak dari mereka mendurhaka menentang pembatasan makanan mereka itu, lalu rindu kembali kepada hari-hari sewaktu mereka mengatakan : ‘Kami duduk dekat dengan peruk daging, dan sewaktu kami makan roti sampai kenyang.’ Namun pilihan Allah yang bijaksana bagi mereka itu telah dipertahankan dalam cara yang mereka tidak dapat meramalkan. Meskipun banyak kesulitan hidup mereka di padang belantara,

ternyata tidak terdapat seorang pun yang lemah di antara semua suku bangsa itu.” – Education, p. 38.

“Banyak yang telah mengharapkan bahwa Allah akan menghindarkan mereka dari penyakit hanya karena mereka telah memohon kepada-Nya untuk berbuat demikian itu. Namun Allah tidak menghiraukan doa-doa mereka, sebab iman mereka tidak disempurnakan oleh perbuatan-perbuatannya. Allah tidak mau mengerjakan mujizat untuk memeliharakan mereka itu dari penyakit, yaitu mereka yang tidak memeliharakan dirinya sendiri, melainkan terus menerus menginjak-injak hukum-hukum kesehatan, dan sama sekali tidak berusaha untuk mencegah penyakit. Bilamana kita berusaha dengan sekuat tenaga kita untuk mendapatkan kesehatan, maka dapatlah kita berharap bahwa hasil-hasilnya yang diberkati akan menyusul, dan kita dapat memohon kepada Allah dalam iman untuk memberkati segala usaha kita bagi mempertahankan kesehatan. Ia kemudian akan menjawab doa kita, sekiranya nama-Nya dapat dipermuliakan olehnya. Namun hendaklah semua orang mengerti, bahwa mereka mempunyai suatu tugas untuk dilaksanakan. Allah tidak mau bekerja dalam cara yang mengherankan untuk mempertahankan kesehatan orang-orang yang karena kelalaiannya sendiri memperhatikan hukum-hukum kesehatan sehingga mereka sedang menempuh suatu jalan yang pasti akan membuat dirinya sakit.” – Counsels on Health, p. 59. 

Sanitasi (Kebersihani) 

Di Israel “peraturan-peraturan sanitasi yang berlaku menyeluruh telah ditegakkan. Sekaliannya ini telah diwajibkan kepada orang banyak itu bukan hanya perlu bagi kesehatan, melainkan juga sebagai persyarat untuk tetap mempertahankan kehadiran Dia Yang Maha Suci itu di tengah-tengah mereka. Oleh kuasa ilahi Musa telah memberitakan kepada mereka : ‘Tuhan Allahmu berjalan di tengah-tengah perkemahanmu, untuk melepaskan kamu; …..

oleh sebab itu perkemahanmu harus suci.” – Education, p. 38. 

“Kebersihan yang seksama maupun ketertiban yang ketat di seluruh perkemahan dan sekitarnya adalah diharuskan. Peraturan-peraturan sanitasi yang menyeluruh ditegakkan. Setiap orang yang cemar karena sesuatu sebab dilarang memasuki perkemahan. Tindakan-tindakan ini adalah perlu untuk memeliharakan kesehatan di antara sebagian besar rombongan orang banyak itu. Dan ia itu pun perlu agar ketertiban yang sempurna dan kemurnian dapat dipertahankan, supaya Israel dapat menikmati kehadiran seseorang Allah yang suci. Dengan demikian Ia menyatakan : ‘Tuhan Allahmu berjalan di tengah-tengah perkemahanmu, untuk melepaskan kamu, dan untuk menyerahkan segala musuhmu ke hadapanmu; sebab itu perkemahanmu harus suci.” – Patriarchs and Prophets, p. 375. 

“Apabila penyakit yang berat menimpa sesuatu keluarga, maka perlu sekali setiap anggota keluarga menaruh perhatian yang ketat kepada kebersihan pribadi, dan makanan, untuk mempertahankan dirinya dalam kondisi yang sehat, dengan demikian memperkuat dirinya sendiri melawan penyakit. Juga adalah penting sekali agar kamar si sakit, sejak pertama sekali diberi ventilasi (lubang-lubang udara pada tembok) yang memadai. Ini adalah bermanfaat bagi penderita, dan sangat perlu untuk memeliharakan dengan baik orang-orang yang terpaksa tinggal di dalam kamar si sakit untuk suatu jangka waktu lama. 

“Sejumlah besar penderita dapat ditolong jika semua orang mau berusaha mencegah penyakit dengan cara mematuhi dengan ketat hukum-hukum kesehatan. Kebiasaan-kebiasaan kebersihan yang ketat harus dipatuhi.

Banyak orang, selagi masih sehat, tidak mau bersusah payah untuk tetap bertahan dalam kondisi yang sehat. Mereka melalaikan kebersihan pribadi; dan mereka tidak berhati-hati memeliharakan pakaian mereka dengan bersih. Kotoran-kotoran adalah selalu dan secara tidak kelihatan lewat dari badan, melalui lubang pori-pori, dan jika sekiranya permukaan kulit tidak terpelihara dalam kondisi yang sehat, maka jaringan tubuh akan dibebani dengan hal-hal yang tidak bersih. Jika pakaian yang dipakai tidak seringkali dicuci, dan berulang kali dijemur di udara, maka ia itu akan menjadi kotor dengan kotoran-kotoran yang terbuang dari tubuh oleh keringat yang sehat maupun yang tidak sehat. Dan jika pakaian-pakaian yang dipakai tidak seringkali dicuci dari kotoran-kotoran ini, maka lubang pori-pori dari kulit akan kembali mengisap sisa kotoran yang terbuang itu. Kotoran-kotoran tubuh itu jika tidak dibuang, maka ia itu akan terambil kembali ke dalam darah, dan terdesak memasuki organ-organ tubuh yang di dalam. Untuk menolong dirinya sendiri dari kotoran-kotoran yang berracun. Usaha ini akan menghasilkan demam-demam, dan apa yang disebut penyakit. Tetapi pada waktu itu, jika mereka yang menderita itu mau membantu Alam dalam segala usahanya, dengan menggunakan air yang murni dan lunak, maka banyak penderita akan dapat dicegah. Tetapi banyak orang, gantinya berbuat demikian, dan berusaha menyingkirkan kotoran yang berracun itu dari jaringan tubuh, mereka justru memasukkan suatu racun yang lebih mematikan lagi ke dalam jaringan, untuk menyingkirkan suatu racun yang sudah ada di sana. 

“Jika setiap keluarga dapat menyadari akan hasil-hasil yang bermanfaat dari kebersihan yang menyeluruh, maka mereka akan melakukan usaha-usaha istimewa untuk menyingkirkan setiap kotoran dari pribadi-pribadi mereka, dan dari

rumah-rumah mereka, dan mereka akan memperluas usaha-usaha mereka smapai kepada tanah-tanah pekarangan mereka. Banyak orang menderita karena bahan tumbuh-tumbuhan yang membusuk yang tersisa di sekitar tanah pekarangan mereka. Mereka tidak sadar akan pengaruh dari benda-benda ini. Adalah selalu timbul dari bahan-bahan yang membusuh ini suatu bau yang meracuni udara. Oleh menghirup udara yang tidak bersih, maka darah akan terkena racun, paru-paru akan terkena akibatnya, dan hampir setiap jaringan tubuh terkena penyakit. Penyakit dari hampir setiap bentuk akan disebabkan karena menghirup udara yang diracuni oleh bahan-bahan yang membusuk. 

“Para keluarga telah menderita susah dengan demam-demam, sebagai anggota keluarga mereka telah meninggal, maak bagian lingkungan keluarga yang sisanya sudah hampir bersungut-sungut menantang Pencipta mereka karena kesedihan mereka ditinggal mati, sedangkan satu-satunya sebab dari semua penyakit dan kematian mereka itu adalah akibat dari kecerobohan mereka sendiri. Kotoran-kotoran di sekitar tanah pekarangan mereka sendiri telah mendatangkan atas mereka penyakit-penyakit menular, dan penderitaan-penderitaan yang menyedihkan itulah yang mereka tuduhkan kepada Allah. Setiap keluarga yang menghargai kesehatan harus membersihkan rumah-rumah mereka dan tanah-tanah pekarangan mereka dari semua bahan-bahan yang membusuk. 

“Allah memerintahkan bahwa bani Israel dilarang membiarkan kotoran-kotoran melekat pada pribadi-pribadi mereka, atau pada pakaian mereka. Mereka yang memiliki sesuatu kecemaran pribadi diasingkan di luar perkemahan sampai malam hari, dan kemudian mereka diharuskan membersihkan diri dan pakaiannya sebelum mereka diperkenankan masuk ke dalam

perkemahan. Mereka juga diperintahkan Allah supaya tidak memiliki kotoran-kotoran di tanah-tanah pekarangan-pekarangan mereka suatu jarak yang luas dari perkemahan itu, jangan sampai Tuhan berjalan lalu dan melihat akan kecemaran mereka itu.

“Mengenai kebersihan, apa yang dipersyaratkan Allah bagi umat-Nya di waktu ini tidak kurang daripada yang telah dipersyaratkan-Nya bagi Israel kuno yang lalu. Melalaikan kebersihan akan mendorong penyakit. Sakit dan kematian yang prematur tidak akan datang tanpa sebab. Demam-demam yang sukar disembuhkan dan penyakit-penyakit yang kejam telah merajalela di tetangga-tetangga dan kampung-kampung yang tadinya dianggap sehat, dan beberapa orang telah meninggal, sedangkan yang lainnya telah ditinggalkan dengan keadaan jasmani yang rusak, menjadi pincang dengan penyakit untuk seumur hidup. Dalam banyak contoh ternyata pekarangan-pekarangan mereka sendiri yang mengandung agen pembinasa itu, yang telah mengeluarkan racun yang mematikan ke dalam udara, dihirup oleh keluarga itu dan oleh tetangganya. Kelalaian dan kecerobohan yang seringkali disaksikan adalah seperti binatang, tetapi kebodohan terhadap akibat-akibat dari perkara-perkara yang sedemikian ini bagi kesehatan adalah mengherankan. Tempat-tempat yang sedemikian ini harus dibersihkan kembali, terutama dalam musim panas, dengan kapur atau habu, atau oleh penimbunan setiap hari dengan tanah.” – Counsels on Health, pp. 61 – 63.

__________________0____________________ 

“Tuhan mengetahui bagaimana melepaskan orang yang beriman itu dari segala godaan, dan menyimpan orang yang tidak benar itu sampai kepada hari pengadilan untuk dihukumkan; terutama mereka yang berjalan mengikuti keinginan daging itu dalam napsu yang cemar, dan yang meremehkan pemerintahan.” 2 Petrus 2 : 9, 10.

 “Hendaklah segala perkara dilakukan dengan senonoh dan dalam tata tertib.” 1 Korintus 14 : 40.

.

Previous
MIL
Military Stand (Pendirian Dalam Kemiliteran)
Next
2SY
Surat-Surat Yizreel No. 2