Davidian Today This is the official website of GADSDA

Languages

Social

Global search
Use these syntaxes below to make advanced search
Sentence search: "Ancient David also was a young boy"
AndX search: King David
OrX search: King | David
NotX search: King ! David
Book search
Use these syntaxes below to make advanced search witin books
Reference search: 1tg2: or 1tg2:18 or 1tg2:18.3
Sentence search within book: 1tg2::"Ancient David also was a young boy"
Sentence search within book categories (tracts): tr::"The Jews before Christ’s day"
AndX search within book: 1tg2::King David
OrX search within book: 1tg2::King | David
NotX search within book: 1tg2::King ! David

Gunung Sion Pada Jam Kesebelas

144.000 berdiri di Gunung Sion bersama Anak Domba, apa yang dilakukan dan bagaimana mereka pergi ke Kerajaan Allah dengan membawa Rombongan Besar?

.

Hak Cipta, 1937, 1941

V. T. HOUTEFF

Demi kepentingan menjangkau setiap pikiran para pencari kebenaran yang ingin terluput dari jalan yang membawa kepada kebinasaan tubuh dan jiwa, traktat ini dibagikan tanpa biaya selama persediaan masih ada.

TRAKTAT NO. 8

GUNUNG SION PADA “JAM KESEBELAS” 

“Karena sebab Sion tiada Aku hendak berdiam diri-Ku, dan karena sebab Yerusalem tiada Aku hendak berhenti beristirahat, sampai kebenarannya terbit seperti cahaya terang, dan keselamatan seperti lampu yang bernyala. Maka segala orang Kapir akan menyaksikan kebenaranmu, dan segala raja akan kemuliaanmu; maka kamu akan dipanggil dengan sebuah nama yang baru, yang akan ditentukan oleh mulut Tuhan. Engkau juga akan menjadi sebuah mahkota kemuliaan di dalam tangan Tuhan, dan sebuah tengkuluk kerajaan di dalam tangan Allahmu.” Yesaya 62 : 1 - 3.

Ajaibnya kasih Ilahi! Hasil dari “perjanjian yang termahal” bahwa Allah akan terus berbicara kepadanya sampai kelak ia menjadi sebuah terang yang besar, kuat, dan gilang-gemilang cahayanya di seluruh dunia dan “sebuah mahkota kemuliaan di dalam tangan Tuhan” — yaitu sidang yang terlihat 

Berdiri Bersama-sama Dengan Anak Domba Di Atas Gunung Sion. 

“Wahyu dari Yesus Kristus, yang dianugerahkan Allah kepada-Nya, untuk ditunjukkan kepada hamba-hamba-Nya perkara-perkara yang harus jadi dengan segeranya; maka diutus-Nya malaikat-Nya memberitahukan kepada hamba-Nya Yohanes.” Wahyu 1 : 1.

Penegasan ini bahwa peristiwa-peristiwa nubuatan yang Yohanes telah dikuasakan untuk mencatat, “akan jadi”, bukan sebelumnya, melainkan “segera” setelah ia memperoleh Wahyu dari hal mereka itu, menunjukkan bahwa nubuatan-nubuatan dari buku Wahyu akan digenapi

dalam masa periode sejarah Wasiat Baru.

“Dan aku melihat, dan lihatlah, Anak Domba itu berdiri di atas Gunung Sion, dan bersama-sama dengan Dia ada seratus empat puluh empat ribu orang yang memiliki nama Bapa-Nya tertulis pada dahi mereka. Maka aku dengar suatu suara dari langit seperti bunyi banyak air menderu dan seperti bunyi guruh yang besar; dan aku mendengar bunyi para pemetik kecapi yang memetik kecapinya; dan mereka itu menyanyikan sebuah nyanyian yang baru bunyinya di hadapan tahta itu, dan di hadapan keempat binatang itu dan para tua-tua itu; dan tiada seorang pun dapat mempelajari nyanyian itu, terkecuali mereka yang seratus empat puluh empat ribu yang telah ditebus dari bumi.” Wahyu 14 : 1 - 3.

Mendahului peristiwa nubuatan ini (berdirinya mereka yang 144.000 itu di atas Gunung Sion) “sebuah pintu telah terbuka di dalam sorga; dan suara yang pertama sekali ku dengar”, demikian kata Yohanes, “ialah bagaikan sebuah trompet yang berbicara kepadaku yang mengatakan : Naiklah kemari, maka aku akan menunjukkan kepadamu perkara-perkara yang harus terjadi kemudian. Dan segeralah aku berada dalam Roh : maka tengoklah, sebuah tahta diletakkan di sorga, dan seseorang duduk di atas tahta itu. Dan Ia yang duduk itu rupanya seperti permata yaspis dan permata sardis; dan adalah sebuah pelangi mengelilingi tahta itu, seperti zamrud rupanya. Maka sekeliling tahta itu terdapat dua puluh empat tempat duduk, dan pada tempat duduk-tempat duduk itu aku melihat dua puluh empat tua-tua sedang duduk, yang berpakaian putih-putih, dan di atas kepala mereka itu terdapat mahkota emas. Dan di hadapan tahta itu terdapat suatu

laut kaca yang bagaikan kristal dan di tengah-tengah tahta itu; dan sekeliling tahta, terdapat empat binatang yang penuh dengan mata di hadapan dan di belakang.” Wahyu 4 : 1 - 4, 6.

“Maka setelah diambilnya kitab itu bersujudlah keempat binatang itu dan dua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba, masing-masingnya memiliki kecapi dan botol emas yang penuh dengan bau-bauan, yaitu segala doa dari semua orang suci. Dan aku memandang, maka aku dengar suara dari banyak malaikat yang mengelilingi tahta itu dan binatang-binatang itu dan para tua-tua itu; maka jumlah mereka itu adalah sepuluh ribu kali sepuluh ribu, dan beribu-ribu; yang mengatakan dengan suara keras : ‘Berlayaklah Anak Domba yang sudah tersembelih itu menerima kuasa dan semua kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan berkat.” Wahyu 5 : 8, 11, 12.

Anak Domba itu, pada mulanya berdiri di hadapan tahta di dalam sorga, Ia kemudian berdiri bersama-sama dengan mereka yang 144.000 itu di atas Gunung Sion, di bumi, walaupun para Tua-Tua dan Binatang-Binatang yang berada mengelilingi tahta itu tetap berada di dalam sorga. Dengan demikian, maka untuk memahami peristiwa nubuatan ini secara keseluruhan dengan tepat, kita harus membedakan dengan teliti bagian mana yang terjadi di dalam sorga daripada bagian mana yang terjadi di bumi.

Tujuh pelita itu (ayat 5) yang merupakan bagian dari perlengkapan-perlengkapan tempat kesucian, memberikan bukti nyata, bahwa pemandangan tahta sorgawi itu memang terjadi di dalam tempat kesucian, sebaliknya pemandangan Sion yang berikutnya itu berlangsung di atas Gunung Sion, yaitu tanah pekarangan istana Raja di bumi, bukan di atas Gunung Moriah, tanah-tanah pekarangan tempat kesucian itu, dimana ia itu mungkin perlu harus

mengambil tempat kalau saja sekiranya ia itu menunjukkan bahwa peristiwa itu terjadi di dalam tempat kesucian. Sebab itu kedua pemandangan ini adalah mengenai dua peristiwa yang berbeda, di dua lokasi yang berbeda — yaitu berdirinya tahta itu di dalam sorga, dan berdirinya orang-orang tebusan bersama-sama dengan Anak Domba itu di bumi sementara kegiatan-kegiatan di dalam pemandangan tahta itu masih berlangsung.

Lagi pula, perkataan yang berbunyi : “Aku hendak menunjukkan kepadamu perkara-perkara yang harus jadi kemudian kelak”, menempatkan peristiwa-peristiwa ini dalam sejarah Kristen. Dan perkataan yang berbunyi : ‘berdiri seekor Anak Domba yang bagaikan telah tersembelih” (bermandikan darah sebagai pengganti manusia yang berdosa), menempatkan mereka itu dalam masa kasihan.

Kemudian oleh memperbandingkan Daniel 7 : 9, 10, 13, dengan Wahyu 4 : 2 dan Wahyu 5 : 1, 11 (sudah dikutip), maka nyatalah jelas bahwa kedua khayal itu adalah mengenai peristiwa yang sama — yaitu pehukuman. Yang satunya mengungkapkan peristiwa itu yang jadi dalam masa periode tahap kedua dari binatang tak tergambarkan, yaitu setelah tanduknya yang memiliki mata manusia dan sebuah mulut yang berbicara perkara-perkara yang besar-besar yang telah menghojat itu (sesudah Romawi Kristen memerintah), dan sebelum binatang itu dibunuh dan tubuhnya dibuang di dalam api yang bernyala-nyala (Daniel 7 : 11) sebelum kebinasaan Romawi. Dan khayal yang lainnya mengungkapkan peristiwa itu yang jadi dalam sesuatu masa sejarah Kristen, dan selama dalam masa kasihan.

Daniel menyaksikan tahta-tahta itu turun, dan “Yang Tiada Berkesudahan Hari-Nya itu”, yaitu Hakim itu duduk, menunjukkan bahwa baik Dia maupun tahta-tahta-Nya itu sebelumnya tidak ada di situ. Jelaslah pada tahta-tahta yang

sisanya itu, “tempat duduk-tempat duduk”, telah duduk dua puluh empat tua-tua itu. Dan akhirnya ia melihat “Anak Manusia”, yaitu Kristus, Pembela itu, yang dibawa ke hadapan “Yang Tiada Berkesudahan Hari-Nya itu”. Baik Daniel maupun Yohanes sama-sama menyaksikan “sidang pehukuman ….. duduk, dan buku-buku itu …… dibuka”.

Maka karena Yohanes menyaksikan mereka yang 144.000 itu berdiri di Gunung Sion bersama-sama dengan Anak Domba itu setelah sidang pehukuman dimulai dan sebelum ia itu berakhir, maka peristiwa itu dengan sendirinya akan datang bukan sebelumnya ataupun sesudah pehukuman itu, melainkan selama sidang pehukuman itu berlangsung.

Dan sekarang ingatlah bahwa khayal Yohanes mengenai “Anak Domba itu berdiri di atas Gunung Sion” (Wahyu 14 : 1) mengungkapkan Kristus sebagai Juruselamat, sebaliknya khayalnya mengenai “Singa dari suku bangsa Yehuda” yang berdiri di hadapan sidang pehukuman itu mengungkapkan Dia sebagai Raja. Secara berkaitan, keduanya itu menunjukkan bahwa sementara Ia pada waktu itu adalah Juruselamat, Ia pun pada waktu yang sama adalah Raja atas segala raja.

Sekarang jelaslah dari hal kapan mereka yang 144.000 itu muncul, maka menyusul perhatian yang lebih meningkat lagi terhadap siapa sebenarnya mereka itu. Melihat bahwa mereka itu adalah pengikut-pengikut Anak Domba itu (orang-orang Kristen), dan juga adalah “anak-anak Yakub”, maka sebab itu mereka adalah

Orang-Orang Israel Yang Sesungguhnya — Bukan Orang-Orang Kapir.

Siapa sajapun yang sudah bertobat menjadi Kristen, menerima Kristus sebagai Juruselamat pribadinya, ia telah memiliki suatu pengalaman yang selengkapnya telah meruntuhkan dan telah merobah semua rencana dan harapannya yang semula, yaitu keseluruhan jalan kehidupannya. Ia telah menyangkal dunia berikut semua “kesenangan dosanya yang hanya sementara waktu itu” (Ibrani 11 : 25), dan ia telah menjadi suatu

makhluk kejadian baru di dalam Kristus, dilahirkan kembali, menjadi pewaris kerajaan yang sesuai dengan perjanjian itu! Inilah yang Yesus maksudkan pada waktu Ia mengatakan kepada Nikodemus : “Engkau harus dilahirkan kembali.” Dan Paulus, karena ingat akan pengalaman ini, ia mengatakan : “Jika kamu adalah milik Kristus, maka kamu adalah benih Abraham, dan pewaris-pewaris yang sesuai dengan perjanjian itu.” Galatia 3 : 29.

Oleh sebab itu, tanpa memandang apakah seseorang adalah Yahudi atau Kapir, ia tidak mungkin memperoleh bagian di dalam kerajaan Kristus, terkecuali melalui kelahiran yang kedua kali, oleh mana ia akan menjadi salah satu dari benih Abraham. Namun demikian, perobahan kerohanian ini tidak akan menentukan identitas bangsa dan garis keturunan suku bangsa seseorang. Dengan kata lain, perobahan kerohanian itu tidak mungkin membuat seseorang menjadi orang Yehuda jika ia bukanlah keturunan dari Yehuda, ataupun membuatnya menjadi seorang Ephraim jika ia bukan keturunan dari Ephraim. Akibatnya, karena mereka yang 144.000 itu adalah anak-anak Yakub, mereka tidak mungkin berasal dari bangsa-bangsa Kapir. Oleh sebab itu, maka mereka terutama adalah dari garis keturunan Yakub, walaupun

Tidak Perlu Berasal Dari Bangsa Yahudi Yang Dikenal Yang Ada Sekarang.

Sepuluh suku bangsa itu (kerajaan Israel) telah dibawa pergi, tercerai-berai di seluruh kota-kota orang-orang Medi (2 Raja-Raja 17 : 6), dan dengan demikian mereka telah tenggelam di dalam lautan kehidupan dari bangsa-bangsa sekitarnya dan telah berassimilasi dengan mereka itu, sehingga sebagai bangsa mereka tidak lagi dikenal dalam perhitungan manusia.

Demikian pula halnya, karena dua suku bangsa itu (kerajaan Yehuda) telah dibawa pergi masuk ke Babil, dengan hanya

sebagian kecil yang kembali ke Yerusalem sesudah tujuh puluh tahun perhambaan mereka selesai, maka sejumlah besar mereka itu pun telah kehilangan identitasnya.

Kemudian juga, sidang Kristen yang mula-mula telah dibentuk terdiri dari hanya orang-orang Yahudi, yaitu para rasul, mereka yang 120 orang itu yang berada di dalam ruangan atas (Kisah 1 : 15), dan 3000 orang yang telah bertobat pada hari Pantekosta (Kisah 2 : 41) sekaliannya adalah orang-orang Yahudi, karena sesungguhnya adalah hampir semua mereka yang “telah bertambah setiap hari” selama tiga setengah tahun pertama sesudah penyaliban itu (Daniel 9 : 26, 27; Kisah 2 : 47). Dan juga sesudah masa periode ini berlalu, dan para rasul itu ditugaskan untuk membawa Injil kepada orang-orang Kapir (Kisah 13 : 46), maka lebih banyak lagi orang-orang Yahudi yang telah menjadi Kristen, dan selanjutnya sebagai orang-orang Kristen, bukan sebagai orang-orang Yahudi, mereka telah tercerai-berai di antara bangsa-bangsa di dunia.

Oleh sebab itu, jelaslah bahwa dalam masing-masing contoh peristiwa kebanyakan anak-anak Yakub itu telah kehilangan ciri-ciri kebangsaannya. Tetapi, karena Tuhan senantiasa tetap memeliharakan silsilah keturunan dari segala bangsa, khususnya dari anak-anak Yakub itu, maka sebagaimana telah dijanjikan-Nya, Ia akan “menyebut Rahab dan Babil bagi mereka yang mengenal akan Daku; lihatlah, orang Philistine, dan Tsur, dengan orang Ethiopia; orang ini lahir di sana. Dan dari hal Sion akan dikatakan, bahwa orang ini dan orang itu telah lahir di dalamnya, maka Allah Yang Maha Tinggi juga yang akan meneguhkan dia. Tuhan akan menghitung, apabila didaftarkan-Nya umat itu, bahwa orang ini telah lahir di sana. Selah.” Mazmur  87 : 4 - 6.

Dengan demikian adalah jelas dan aneh tetapi itulah kenyataan, bahwa tidak seorang pun yang ada sekarang dapat membuktikan asal keturunannya terkecuali

orang Yahudi yang dikenal, dengan hasil bahwa mereka yang 144.000 itu akan dapat dihimpun dari hampir setiap bangsa, suku bangsa, bahasa, dan umat, dan merekapun adalah anak-anak Yakub.

“Maka akan jadi kelak pada hari itu“, demikianlah firman nubuatan dalam hubungan ini, “bahwa Tuhan akan kembali mengangkat tangan-Nya pada kedua kalinya untuk mendapatkan kembali umat-Nya yang lagi tinggal itu, yang lagi tinggal dari Assiria, dan dari Mesir, dan dari Patros, dan dari Kush, dan dari Elam, dan dari Shinar, dan dari Hamath, dan dari pulau-pulau yang di lautan. Maka Ia akan menegakkan suatu tanda alamat bagi segala bangsa, dan akan dihimpunkan-Nya segala orang Israel yang sudah terhalau itu, dan mengumpulkan bersama semua orang Yehuda yang tercerai-berai itu dari seluruh empat penjuru bumi. Dan akan jadi kelak pada hari itu, bahwa Tuhan akan mengirik mulai dari saluran sungai itu sampai ke aliran di Mesir, maka kamu akan dihimpunkan satu demi satu, hai bani Israel.” Yesaya 11 : 11, 12; 27 : 12.

Oleh sebab itu, karena sejarah, logika, dan Injil mengkombinasikan kenyataan-kenyataan sekaliannya untuk membuktikan secara bersyarat, bahwa Allah telah memeliharakan silsilah keturunan dari cabang yang terpilih dari bangsa manusia ke depan sejak dari Adam sampai kepada Nuh (Matius 1 : 1 - 17), dan ke belakang sejak dari Yesus sampai kepada Adam (Lukas 3 : 23 - 38), maka Ia harus juga, demi untuk suatu alasan yang sama, dapat memeliharakan identitas dari umat pilihan yang ada sekarang. Dan ini, kita saksikan, adalah tepat sama dengan yang diperbuat-Nya dalam menentukan garis keturunan dari mereka yang 144.000 itu, yaitu “berasal dari semua suku bangsa bani Israel”. Wahyu 7 : 4.

Dan sungguhpun kita belum mengetahui siapakah kita ini, maka Dia Yang Maha Mengetahui semua dari hal kita, bahkan sampai kepada helai rambut yang terakhir dari masing-masing kepala kita, Ia mengetahui dengan tepat asal usul keturunan kita, walaupun mereka yang dari antara kita itu yang akan kelak dihimpun dari benih Yakub, oleh nabi itu dikatakan, adalah “seperti pasir di laut”, sebaliknya secara perbandingan, bangsa Yahudi yang dapat dikenal pada waktu ini hanya berupa segelintir manusia di antara bangsa-bangsa, sehingga oleh karenanya mereka tidak mungkin pada waktu ini tergolong orang-orang yang diaplikasikan dengan 

Sebutan-Sebutan Israel, Ephraim, Yusuf Itu.

Kembali sejenak kepada pendekatan sejarah terhadap pokok masalah kita, kita ingat bahwa setelah kematian Solaiman, maka bangsa Israel (dua belas suku itu) telah terbagi menjadi dua kerajaan yang terpisah (1 Raja-Raja 11 : 11, 12; 12 : 19, 27). Kerajaan sepuluh suku yang menempati bagian utara dari tanah perjanjian adalah disebut “Israel”, juga Ephraim, dan kadang-kadang juga disebut rumah Yusuf : disebut “Israel”, karena sebab mayoritas dari suku bangsa itu; Ephraim (Yesaya 11 : 13), karena raja-rajanya berasal dari Ephraim; dan Yusuf (Yehezkiel 37 : 16), karena ia adalah ayah dari Ephraim. Tetapi kerajaan dari dua suku itu yang menempati bagian selatan, telah disebut “Yehuda”, karena raja-rajanya berasal dari suku Yehuda, dan oleh sebab itu semua keturunannya disebut “orang-orang Yahudi”. Sesuai dengan itu, maka sebutan “Israel” seringkali hanya berlaku terhadap sepuluh suku itu saja. Dengan demikian apabila sesudah ini selanjutnya di dalam halaman-halaman buku ini pembaca menjumpai sebutan-sebutan “Yehuda”, “Israel”, “Ephraim”, dan “Yusuf”, ia akan dapat memahami dengan tepat siapa

yang dimasudkan oleh mereka itu, lalu dengan demikian sementara kita terus maju, mereka akan lebih memahami rencana Allah bagi pengumpulan dua belas suku bangsa Israel itu, dan untuk menghimpunkan mereka kembali di dalam 

Sebuah Kerajaan Besar. 

“Kerajaan sorga itu”, demikian kata Kristus, “adalah diumpamakan dengan sebiji sesawi yang diambil orang lalu ditaburkannya di ladangnya. Sungguhpun itu adalah yang terkecil daripada segala benih, namun apabila ia tumbuh, maka ia adalah yang terbesar di antara segala pokok sayur-sayuran, dan ia akan menjadi sebuah pohon sehingga burung-burung di udara datang dan hinggap pada segala dahannya.” Matius 13 : 31, 32. “Namun demikian bilangan bani Israel akan kelak bagaikan pasir di pantai laut, yang tidak dapat diukur ataupun dihitung banyaknya; maka akan jadi kelak, bahwa di tempat dimana pernah dikatakan kepada mereka, ‘kamu bukanlah umat-Ku’, di sanalah akan dikatakan kepada mereka, ‘kamulah anak-anak laki-laki dari Allah yang hidup.” Hosea 1 : 10.

Setelah mendengarkan ajaran-ajaran Kristus, kemudian menolak-Nya dan menyalibkan Dia, maka bangsa Yahudi telah mendatangkan atas kepala mereka malapetaka yang telah diucapkan Allah atas mereka itu sewaktu oleh perantaraan nabi-Nya Ia mengatakan : “Kamu bukanlah umat-Ku, dan Aku tidak mau menjadi Allahmu”, walaupun pada waktu yang sama dengan kemurahan-Nya yang besar, Ia telah meninggalkan janji yang  tertulis sebagai berikut : “Di tempat dimana pernah dikatakan kepada mereka (Israel kuno), ‘Kamu bukanlah umat-Ku’, di sanalah akan dikatakan kepada mereka (Israel kuno), ‘Kamulah anak-anak laki-laki dari Allah yang hidup.” (Lihat Roma 9 : 24 - 26).

Demikianlah dengan gembira, maka umat yang sama itu, yaitu Israel dan Yehuda, yang pernah telah disingkirkan dan di cerai-beraikan, mereka kelak “pada hari” itu (sejarah kita sekarang) disambut kembali lalu “berhimpun bersama-sama, lalu diangkat oleh mereka sendiri seorang kepala, lalu mereka akan keluar dari tanah itu.” Hosea 1 : 11.

Setelah tinggal “berhari-hari lamanya tanpa raja” (nasib mereka semenjak dari zaman perhambaan mereka di Babil sampai kepada hari ini), “maka bani Israel itu akan ..... pada akhirnya” (pada sesuatu masa yang akan datang), demikianlah kata Injil, “..... kembali, lalu mencari Tuhan Allah mereka, dan Daud raja mereka; maka mereka akan takut akan Tuhan dan akan kebaikan-Nya di akhir zaman.” Hosea 3 : 4, 5.

Tetapi karena Daud, raja dari Israel kuno itu, telah mati bertahun-tahun lamanya pada waktu nubuatan ini dibuat, dan karena ini pun tidak akan pernah jadi, maka ia itu adalah contoh dari Daud yang akan datang.

Sesuai dengan itu, maka itu adalah mereka yang “takut akan Tuhan dan akan kebaikan-Nya (orang-orang Kristen) di akhir zaman” (sejarah kita sekarang), yang akan mengangkat seorang “kepala” atau “raja” — Daud contoh saingan itu.

(Bagi penyelidikan yang lengkap terhadap Hosea 1 dan 2, bacalah buku kami yang berjudul, Berita-Berita Terakhir Bagi Ibu, Traktat No. 4).

Dari fakta-fakta yang jelas di dalam paragraf-paragraf terdahulu kita saksikan, bahwa bani Israel yang telah tercerai-berai dan tanpa raja selama “banyak hari” ini, mereka akan “kembali”, bukan sebagai orang-orang Yahudi, melainkan sebagai orang-orang Kristen. Penggabungan kembali kedua

kerajaan kuno itu, yaitu Yehuda dan Israel, adalah dikemukakan dalam simbol 

Dua Potongan Kayu Yang Tergabung. 

“Adapun engkau, hai anak Adam,” demikianlah firman Tuhan, “ambillah akan dirimu sepotong kayu, dan tuliskanlah di atasnya, bagi Yehuda, dan bagi segala bani Israel kawan-kawannya; kemudian ambillah sepotong kayu yang lain, dan tulislah di atasnya, bagi Yusuf, kayu Ephraim, dan bagi seluruh isi rumah Israel kawan-kawannya; lalu gabungkanlah keduanya satu dengan yang lainnya menjadi satu potong kayu, maka keduanya akan menjadi satu jua di dalam tanganmu.”

“Maka bilamana bani bangsamu kelak berkata kepadamu bunyinya : Tidakkah engkau mau memberitahukan kami apa yang kamu maksudkan dengan semua ini? Katakanlah kepada mereka,

___ GAMBAR ___

___ GAMBAR ___ 

demikianlah firman Tuhan Hua, tengoklah, Aku akan mengambil kayu Yusuf yang di tangan Ephraim itu dan segala suku bangsa Israel kawan-kawannya, dan Aku akan memperhubungkan mereka dengan dia, yaitu dengan kayu Yehuda, dan Ku jadikan mereka itu sepotong kayu jua, maka mereka akan kelak menjadi satu di dalam tangan-Ku”. “Maka kayu-kayu yang padanya telah engkau tulisi itu hendaklah berada di dalam tanganmu di hadapan mata mereka itu. Lalu katakanlah kepada mereka itu, demikianlah

firman Tuhan Hua, bahwasanya Aku akan mengambil kelak bani Israel dari antara segala orang Kapir ke mana mereka itu telah pergi, dan Aku akan menghimpunkan mereka itu dari mana-mana, lalu membawa kembali mereka ke dalam negeri mereka sendiri. Dan Aku akan menjadikan mereka satu bangsa jua di tanah di atas segala pegunungan Israel; dan seorang raja akan menjadi raja atas mereka sekaliannya, dan tiada lagi mereka itu dua bangsa, dan tiada lagi mereka itu dibagi menjadi dua kerajaan. Dan tiada lagi mereka itu akan mencemarkan dirinya dengan segala berhalanya, atau dengan segala barang yang keji ataupun dengan apapun juga pelanggarannya, melainkan Aku akan melepaskan mereka itu dari segala tempat dimana mereka itu telah berbuat dosa, dan Aku akan menyucikan mereka itu. Demikianlah mereka akan menjadi umat-Ku, dan Aku akan menjadi Allahnya. Dan hamba-Ku Daud akan menjadi raja atas mereka itu, maka mereka semuanya akan memiliki seorang gembala, mereka juga akan berjalan menurut hukum-hukum-Ku serta mematuhi semua syariat-Ku dan melaksanakannya. Dan mereka akan tinggal di dalam negeri yang telah Ku karuniakan kepada Yakub hamba-Ku di tempat mana telah diam segala nenek moyangmu; maka mereka akan diam di sana, baik mereka baik segala anak cucunya sampai selama-lamanya; dan Daud hamba-Ku akan menjadi raja mereka itu sampai selama-lamanya.”  Yehezkiel 37 : 16 - 25.

Gambaran nubuatan ini hampir-hampir tidak perlu lagi diinterpretasikan, karena ia itu sudah cukup jelas; menunjukkan bahwa kedua kerajaan kuno itu, yaitu Yehuda dan Israel, masih akan dihimpunkan lagi dari antara “orang-orang Kapir”, di antara siapa mereka itu sudah lama tercerai-berai, dan bahwa mereka akan kembali menjadi suatu bangsa yang besar — “suatu

kerajaan, yang kelak tidak pernah lagi dapat dibinasakan.” Daniel 2 : 44.

“Lagi pula”, demikianlah firman Tuhan, “Aku hendak membuat suatu perjanjian damai dengan mereka itu, yaitu suatu perjanjian yang kekal dengan mereka itu; maka Aku akan menempatkan mereka serta memperbanyak mereka itu, dan Aku akan menempatkan tempat suci-Ku di tengah-tengah mereka itu untuk selama-lamanya. Tempat kedudukan-Ku (tabernakel) akan juga berada dengan mereka itu, sesungguhnya Aku akan menjadi Allahnya, dan mereka akan menjadi umat-Ku. Maka segala orang Kapir kelak akan mengetahui, bahwa Akulah Tuhan yang menyucikan Israel, bilamana tempat suci-Ku kelak berada di tengah-tengah mereka itu untuk selama-lamanya.” Yehezkiel 37 : 26 - 28.

Oleh karena Allah mengatakan, bahwa Ia akan “memperbanyak mereka itu” apabila mereka kembali menjadi sebuah kerajaan, dan bahwa “segala orang Kapir akan mengetahui, bahwa Akulah Tuhan yang menyucikan Israel”, dan karena Ia tidak mungkin dapat “memperbanyak” ataupun “menyucikan” setelah masa kasihan berakhir, maka kedua kerajaan kuno itu harus didirikan kembali dan digabungkan selama masa kasihan, yaitu 

“Masa-Masa Pengembalian”.

Karena mereka yang 144.000 itu adalah “buah-buah pertama” maka harus ada buah-buah kedua, karena dimana terdapat yang pertama, harus ada yang kedua. Dan karena buah-buah pertama itu adalah “hamba-hamba Allah”, maka mereka selanjutnya harus diutus kepada segala bangsa untuk mengumpulkan buah-buah kedua itu (Yesaya 66 : 19, 20) — yaitu rombongan besar orang banyak itu (Wahyu 7 : 9) yang Yohanes telah saksikan setelah ia melihat pemeteraian yang 144.000 itu. (Untuk penyelidikan yang mendetail terhadap masalah ini, yaitu mereka yang 144.000 itu dan

rombongan besar orang banyak itu, — lihat Traktat kami No. 1 yang berjudul : Hampir Jam Kesebelas Extra; buku Tongkat Gembala, jilid 1).

Dari kenyataan bahwa “di dalam mulut mereka itu tidak terdapat tipu” (Wahyu 14 : 5), menunjukkan dengan jelas bahwa mereka tidak akan memberitakan apapun yang lain, terkecuali kebenaran Injil yang murni, dan membuat semua perkataan mereka itu penuh kuasa dan berbobot seperti halnya semua kata-kata tertulis dari para nabi dan rasul-rasul. Sesungguhnya buah-buah pertama ini dilengkapi dengan kemampuan dan kuasa yang lebih besar : “Pada hari itu Tuhan kelak akan melindungi semua penduduk Yerusalem;  maka orang yang lemah di antara mereka pada hari itu kelak akan jadi seperti Daud; dan rumah Daud akan jadi seperti Allah, seperti malaikat Tuhan di hadapan mereka itu.” Zakharia 12 : 8.

Juga “pada hari itu”, demikian kata Zakharia selanjutnya, “kelak akan ada mata air yang terbuka bagi isi rumah Daud dan bagi semua penduduk Yerusalem bagi penyucian dosa dan kecemaran.” Zakharia 13 : 1.

Apabila mata air ini “bagi penyucian dosa dan kecemaran” pada akhirnya terbuka “bagi isi rumah Daud”, maka puncak kenyataannya akan terlihat, bahwa penggabungan kedua kerajaan itu adalah suatu bukti kenyataan yang dicapai, dan bahwa masanya telah tiba bagi pemberitaan Injil ke seluruh dunia.

Dan “akan jadi kelak pada hari itu, demikianlah firman Tuhan serwa sekalian alam, bahwa Aku akan menghapuskan nama-nama dewa-dewa dari tanah itu, dan semuanya itu tidak akan lagi diingat; dan juga Aku akan melalukan

keluar dari tanah itu segala nabi dan roh yang najis.” Zakharia 13 : 2. Artinya, pada masa pemberitaan injil kerajaan ini didirikan, ia itu akan merupakan sebuah sidang yang tidak terdapat tipu di dalamnya — bebas dari orang-orang penyembah berhala dan guru-guru yang palsu. Dan ia itu akan diberi makan oleh “seorang gembala ..... yaitu hamba-Ku Daud; ia akan memberi makan mereka, dan ia akan menjadi gembala mereka itu. Dan Aku Tuhan akan menjadi Allah mereka, dan hamba-Ku Daud akan menjadi seorang penghulu di antara mereka itu.” Yehezkiel 34 : 23, 24.

Bilamana sedemikian ini Tuhan “memegang pemerintahan di dalam tangan-Nya sendiri” (Testimonies to Ministers, p. 300), lalu kembali memerintah sebagai sebuah kerajaan theokrasi (di akhir zaman), maka “akan jadi kelak”, seperti yang dikatakan Yesaya, ”..... bahwa gunung rumah Tuhan kelak akan diperdirikan di atas puncak segala gunung, dan ia itu akan ditinggikan di atas segala bukit; maka segala bangsa akan mengalir masuk ke dalamnya. Dan banyak orang akan pergi lalu mengatakan, Datanglah, dan marilah kita naik ke gunung Tuhan, ke rumah Allah Yakub; maka Ia akan mengajarkan kepada kita segala jalan-Nya, dan kita akan berjalan di dalam segala lorong-Nya; karena dari dalam Sion akan terbit hukum, dan firman Tuhan dari Yerusalem. Maka Ia akan mengadili di antara segala bangsa, dan Ia akan mempersalahkan banyak orang; maka mereka akan menempa segala pedangnya menjadi alat pembajak, dan tombak-tombaknya menjadi sabit; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang melawan bangsa, mereka juga tidak lagi belajar perang.” Yesaya 2 : 2 - 4.

Demikianlah dengan datangnya kerajaan yang kekal ini, dan menyusul kembalinya segala

perkara, maka kelak akan ada pada satu pihak suatu kebangunan besar di antara segala bangsa; mereka akan menghapuskan segala penyimpanan-penyimpanan peralatan perang yang luas yang telah ditimbunnya bertahun-tahun lamanya, mereka akan berusaha untuk naik menjadi warga dari kerajaan itu, lalu menggabungkan diri dengan bala tentara Tuhan, sehingga membiarkan Tuhan sendiri berperang bagi mereka; sebaliknya pada pihak yang lain kelak akan terdapat demam persiapan-persiapan perang di antara orang-orang yang menolak untuk sadar; sehingga menyeret semua orang ke dalam semua rencana persenjataan yang hebat, mereka merobah bahkan segala peralatan pertaniannya menjadi senjata-senjata perang melawan kerajaan Kristus – yaitu sidang-Nya. (Yoel 3 : 9 - 12; Zakharia 12 : 3).

“Sebab itu segala pintu gerbangmu akan terbuka selalu, baik siang baik malam tiada itu tertutup, supaya dibawa masuk orang kepadamu bala tentara orang Kapir, dan supaya raja-raja merekapun dapat dibawa. Pada masa itu akan datang kepadamu sambil menunduk-nunduk dirinya segala anak orang yang sudah menganiayakan dikau, dan segala orang yang sudah meremehkan dikau akan bersujud pada kakimu; maka mereka akan memanggilmu, Negeri Tuhan, Sion dari Yang Maha Suci orang Israel.” Yesaya 60 : 11, 14. (Untuk penyelidikan selanjutnya terhadap langkah dari masalah ini, lihatlah buku Tongkat Gembala, jilid 1, hal. 261 - 274, yang menjelaskan Mikha pasal 4. Dan untuk sebagai contoh gambaran mengenai peperangan itu menjadi peperangan Tuhan sendiri, bacalah 2 Tawarikh 20 : 15, 19, 24 - 30). Tetapi karena jauh, masih sangat jauh dari keadaan terhormat dan suci yang sedemikian ini, maka 

Sidang Harus Disucikan. 

Tidak seorang Kristen pun dari iman manapun juga yang dapat dengan jujur menolak perlunya penyucian sidang. Dan karena Tuhan

tidak pernah berbuat sesuatu tanpa terlebih dahulu mengamarkan sidang-Nya, maka Ia kini sedang mengirimkan kepadanya pekabaran tentang penyucian itu, untuk memberikan kepadanya suatu selera pendahuluan terhadap kemuliaan yang akan datang itu, supaya sementara panggilan sorga yang nyaring bagi reformasi terus menggema di antara umat-Nya, mereka boleh memperoleh rangsangan terhadap kebenaran-Nya, dan mereka dapat menyerahkan diri mereka sepenuh hatinya bagi tugas reformasi, sekarang juga selagi Ia masih menyajikan dengan jelas ke hadapan mereka rencana-Nya bagi pendirian kerajaan-Nya berikut akibat-akibat bagi orang-orang berdosa. Orang-orang yang mematuhi panggilan itu sepenuhnya kelak akan memperoleh suatu kerinduan yang tak terelakkan untuk masuk sepenuhnya ke dalam barisan dan supaya Tuhan kelak memisahkan mereka dari dosa dan orang-orang berdosa. Hanya merekalah yang kelak memperoleh meterai Allah sebagai buah-buah pertama dari kerajaan itu, yang berkekuatan 144.000 orang, yang berdiri bersama-sama dengan Anak Domba itu di atas “Gunung Sion”!

Keadaan kesucian sedemikian ini kelak pada waktu ini seperti halnya di masa lalu akan menaikkan amarah naga itu melawan perempuan itu, juga kini untuk berperang melawan mereka yang lagi tinggal dari-padanya (Wahyu 12 : 17), yaitu suatu pertikaian yang selanjutnya dilukiskan dalam kata-kata berikut ini :

”Aku tampak empat malaikat berdiri pada empat penjuru bumi (pada masa pemeteraian mereka yang 144.000 itu), memegang empat mata angin di bumi supaya angin tidak akan bertiup di bumi atau di laut, atau pada sesuatu pohon kayu. Maka aku tampak seorang malaikat yang lain naik dari sebelah timur, memegang meterai Allah yang hidup itu; maka berserulah ia dengan suara besar kepada keempat malaikat itu, kepada siapa telah diberikan kuasa untuk merusakkan bumi dan laut itu, katanya, Janganlah merusakkan bumi, atau laut, atau

pohon-pohon kayu, sebelum kami memeteraikan hamba-hamba Allah kami pada dahi mereka.” Wahyu 7 : 1 - 3.

Di sini dikemukakan dua pengrusakan yang akan terjadi, yang satu oleh perantaraan angin dan yang lainnya oleh perantaraan malaikat-malaikat. Dan kedua perintah yang disampaikan kepada malaikat-malaikat itu yang satu supaya mereka menahan angin-angin itu agar tidak bertiup ”ke atas bumi, atau pada lautan, atau pada sesuatu pohon kayu” (ayat 1); yang lainnya supaya malaikat-malaikat itu sendiri menahan diri dari merusakkan “bumi, ..... laut, dan pohon-pohon kayu”, sampai semua hamba Allah selesai dimeteraikan (ayat 2, 3). Oleh sebab itu, karena segera setelah hamba-hamba Allah dimeteraikan, baik angin-angin itu maupun malaikat-malaikat itu akan mulai melakukan pengrusakan, maka timbul pertanyaan apakah yang dilambangkan oleh pekerjaan angin-angin itu maupun malaikat-malaikat itu — pertikaian politikkah atau sesuatu yang lain? Karena bangsa-bangsa seringkali berperang, maka pekerjaan pengrusakan rangkap ini tidak mungkin melambangkan pertikaian politik. Dan sebagaimana Yesus mengatakan, bahwa pada akhir zaman “bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan” (Matius 24 : 7), maka jelaslah bahwa pengrusakan oleh angin-angin itu maupun pengrusakan oleh malaikat-malaikat itu, yang keduanya akan ditahan sampai mereka yang 144.000 dimeteraikan, maka harus melambangkan ditahannya ”masa kesusahan besar yang sedemikian itu belum pernah ada semenjak berdirinya sesuatu bangsa.” Daniel 12 : 1. Dengan begitu, maka dengan ditahan Allah akan keempat mata angin itu berarti ditahan-Nya kegiatan dari patung binatang itu (Wahyu 13 : 15 - 17) melawan orang-orang suci, sebaliknya ditahan-Nya akan keempat malaikat itu supaya mereka tidak merusak berarti Ia menunda pelaksanaan pembalasan-Nya (Yesaya 63 : 1 - 4;

Yeremia 51 : 18) terhadap orang-orang berdosa yang mengacau sidang, sampai selesai pemeteraian mereka yang 144.000 itu. Karena dirangkaikan, maka kedua pengrusakan ini akan mendatangkan masa kesusahan besar yang sedemikian itu belum pernah ada.

Oleh sebab itu, maka Wahyu 7 : 1 - 3 mengungkapkan suatu pertikaian rangkap; yaitu orang-orang jahat melawan Allah (tiupan angin-angin itu) dan Allah melawan mereka (malaikat-malaikat merusakkan mereka). Tetapi walaupun hembusan angin-angin itu dan pengrusakan dari malaikat-malaikat itu setelah hamba-hamba Allah dimeteraikan, akan mendatangkan “masa kesusahan besar”, namun “setiap orang yang kelak didapati namanya tertulis di dalam kitab” “akan diselamatkan”. Daniel 12 : 1.

Dari kenyataan-kenyataan ini kita saksikan, bahwa masa kesukaran ini ditahan untuk pengamanan pemeteraian hamba-hamba Allah yang 144.000 itu, supaya mereka, sebagai “orang-orang yang terpilih”, tidak akan dibawa turun menyembah patung binatang itu, ataupun dibunuh karena menolak.

Oleh karena “di dalam buku Wahyu semua buku Alkitab bertemu dan berakhir” (The Acts of the Apostles, p. 585) maka pemeteraian hamba-hamba Allah (Wahyu 7) harus ditemukan juga di dalam nubuatan-nubuatan yang lain. Di dalam Yehezkiel pasal 9 ada digambarkan mengenai pembubuhan tanda terhadap orang-orang yang berkeluh-kesah dan menangis “karena semua kekejian yang dilakukan di tengah-tengahnya” (di dalam Yehuda dan Israel), dan pembantaian terhadap orang-orang yang tidak berkeluh-kesah dan menangis sedemikian ini. Dan dari kenyataan, bahwa Allah belum pernah mengeluarkan orang-orang berdosa dari antara orang-orang yang benar di dalam Yehuda dan Israel, maka jelaslah bahwa nubuatan mengenai penyucian

dengan jalan pembantaian ini sesungguhnya belum pernah digenapi. Oleh karena itu, maka karena pembubuhan tanda itu adalah sama dengan pemeteraian, maka jelaslah pembantaian oleh malaikat-malaikat itu adalah sama saja dengan pengrusakan yang dilakukan oleh malaikat-malaikat itu.

Pengrusakan dan pemeteraian yang disaksikan oleh Yohanes ini, dan pembantaian dan pembubuhan tanda yang disaksikan oleh Yehezkiel, adalah kembali diketahui sebagai peristiwa yang sama sebagai berikut : “Pemeteraian hamba-hamba Allah ini adalah sama dengan yang diperlihatkan oleh Yehezkiel dalam khayal.” -- Testimonies to Ministers, p. 445; Testimonies, vol. 5, p. 211; vol. 3, p. 267.

Walaupun pembubuhan tanda dan pemeteraian itu (Yehezkiel 9) meliputi hanya sidang, — Yehuda dan Israel, — pengrusakan oleh angin-angin itu dan pengrusakan oleh malaikat-malaikat itu (Wahyu 7) adalah meluputi seluruh dunia — baik “bumi” maupun “lautan”, masing-masingnya menunjukkan lokasi yang berbeda : lautan, dalam alam ialah gudang tempat penyimpanan (rumah) dari segala air, maka sebab itu dalam dunia merupakan simbol-simbol tempat kelahiran bangsa-bangsa — Negeri Tua; bumi, kebalikan dari lautan, secara cocok adalah suatu tempat yang terpisah dari Negeri Tua itu. Bagi Yohanes ia itu berlokasi di tempat dari mana simbol binatang bertanduk dua itu keluar, bukan dari laut, melainkan “keluar dari bumi” (Wahyu 13 : 11), satu-satunya tempat dimana pohon-pohon biasanya bertumbuh. Dan karena menurut Daniel 4 : 20 - 22, pohon-pohon adalah melambangkan para pemimpin, oleh sebab itu pohon-pohon dalam contoh peristiwa ini melambangkan “tua-tua ..... yang di depan rumah itu” (Yehezkiel 9 : 6) — suatu kenyataan yang mengungkapkan, bahwa dalam periode ini, markas besar sidang terdapat di tempat pemerintahan binatang yang bertanduk dua itu – Dunia Baru, “bumi.”

Dalam terang dari kenyataan-kenyataan yang jelas di hadapan kita, dapatlah kita saksikan, bahwa objek yang utama dalam pemeteraian atau pembubuhan tanda hamba-hamba Allah ialah untuk membersihkan sidang dari dosa dan orang-orang berdosa, supaya ia mampu berdiri dengan kuat melawan patung binatang itu dalam masa kesusahan; dan supaya bilamana pekerjaan pembersihan ini berakhir, “akan jadi kelak, bahwa barangsiapa yang tertinggal di Sion, dan barangsiapa yang diam di Yerusalem akan kelak disebut suci, yaitu setiap orang yang tertulis namanya di antara orang-orang yang hidup yang di Yerusalem; apabila Tuhan kelak selesai membasuh kekotoran segala puteri Sion, dan kelak selesai membersihkan darah dari Yerusalem dari tengah-tengahnya oleh roh pehukuman, dan oleh roh pembakaran.” Yesaya 4 : 3, 4.

Bilamana “pekerjaan penyucian khusus, yaitu pekerjaan pembuangan dosa di antara umat Allah”, selesai, maka “sidang akan memasuki perjuangannya yang terakhir. ‘Indah seperti bulan, cerah seperti matahari, dan hebat bagaikan suatu bala tentara dengan panji-panjinya’, ia akan keluar ke seluruh dunia dengan kemenangan dan untuk memenangkan lagi.” -- The Great Controversy, p. 425; Prophets and Kings, p. 725.

“Pada masa itu akan dijadikan Tuhan sebuah awan dan asap pada siang hari dan suatu cahaya api yang bernyala-nyala pada malam hari di atas tiap-tiap tempat tinggal di Gunung Sion, dan di atas semua perhimpunannya, karena atas segala sesuatu kemuliaan akan menjadi sebuah tudungan. Maka pada masa itu akan ada sebuah pondok naungan dari panas siang hari dan akan perlindungan dari angin ribut

dan hujan.” “Pada masa itu akan dipanggil orang akan mereka itu, Umat yang suci, Umat tebusan Tuhan; dan engkau pun akan disebut, Yang kekasih, negeri yang tidak ditinggalkan.” Yesaya 4 : 5, 6; 62 : 12.

“Seluruh sidang, karena bertindak sebagai kesatuan, bercampur dalam suatu persekutuan yang kokoh, akan menjadi suatu agen penginjilan yang hidup dan aktif, yang digerakkan dan diawasi oleh Roh Suci.” “Semua yang diperbuat para rasul di masa lalu, setiap anggota sidang pada waktu ini akan melakukannya.” “Pada waktu itu para pekerja-Nya akan kelak sepakat, dan lengan Tuhan yaitu kuasa yang telah terlihat dalam kehidupan Kristus, akan kelak dinyatakan.” — Testimonies, jilid 8, p. 47; jilid 7, p. 33; jilid 9, p. 33.

Kemudian akan jadi kelak, demikianlah firman Tuhan, bahwa “Aku akan menguduskan nama-Ku yang besar itu, yang telah dicemarkan di antara segala bangsa Kapir, yaitu yang telah kamu cemarkan di tengah-tengah mereka itu; maka segala bangsa Kapir itu kelak akan mengetahui, bahwa Akulah Tuhan, demikianlah firman Tuhan Hua, apabila Aku kelak dikuduskan di antara kamu di hadapan mata mereka itu. Karena Aku akan mengambil kamu dari antara segala orang Kapir dan menghimpunkan kamu dari segala negeri lalu membawa kamu ke dalam negerimu sendiri.”

“Pada waktu itu akan Ku percikkan air bersih kepadamu, maka kamu akan menjadi suci dari segala kecemaranmu dan dari segala berhalamu Aku akan menyucikan kamu. Suatu hati yang baru juga akan Ku berikan kepadamu, dan suatu Roh yang baru akan Ku masukkan ke dalam dirimu, maka hati batu akan Ku lalukan dari dalam tubuhmu, dan hati daging akan Ku karuniakan kepadamu. Dan Aku akan mengaruniakan Roh-Ku ke dalam batinmu, dan Ku adakan supaya kamu menurut segala syariat-Ku, dan memelihara dan melakukan segala hukum-Ku.

Maka kamu akan duduk di dalam negeri yang sudah Ku karuniakan kepada nenek moyangmu; maka kamu akan menjadi umat-Ku, dan Aku akan menjadi Allahmu. Dan Aku juga akan melepaskan kamu dari segala kecemaranmu, dan Aku akan berseru mendatangkan gandum, dan akan melimpahkannya, dan tiada Aku membiarkan bela kelaparan di antara kamu. Dan Aku akan melimpahkan buah-buah segala pohon dan hasil segala ladang, sehingga tiada lagi kamu dicela oleh kelaparan di antara segala bangsa Kapir”.

“Pada masa itu kamu kelak ingat akan segala jalanmu yang jahat itu serta semua perbuatanmu yang tidak baik, maka kamu akan muak terhadap dirimu sendiri di hadapan pemandangan matamu karena semua kejahatanmu dan karena segala kekejianmu. Bukan karena kamu Aku berbuat ini, demikianlah firman Tuhan Hua, baiklah kamu tahu! Hendaklah kamu malu dan dipermalukan akan segala kelakuanmu, hai bangsa Israel. Demikianlah firman Tuhan Hua; pada hari Aku menyucikan kamu kelak dari segala kejahatanmu Aku akan juga membuat kamu berdiam di segala kota, maka segala kerobohan batu akan dibangun kembali. Pada masa itu akan diketahui oleh segala bangsa Kapir yang lagi tinggal sekelilingmu, bahwa Akulah Tuhan yang telah membangun kembali segala tempat yang binasa, dan menanam kembali apa yang telah tandus; bahwa Aku ini Tuhan sudah berfirman begitu, maka Aku akan melakukannya”. Yehezkiel 36 : 23 - 33, 36.

Sekali lagi, “dalam membersihkan kaabah dari orang-orang yang berjual-beli dunia ini, Yesus telah mengumumkan misi-Nya”, yaitu pertama, “membersihkan hati dari kekotoran dosa — dari keinginan-keinginan dunia, segala macam ketamakan yang bersifat mementingkan diri sendiri, kebiasaan-kebiasaan jahat yang mengacaukan jiwa”(Desire of Ages, p. 161); dan kedua,

untuk membersihkan seluruh sidang dari dosa dan orang-orang berdosa. Karena dua kali (sekali pada pemberitaan dari Yohanes Pembaptis mengenai kerajaan itu, dan pada pembukaan dari periode sejarah Injil pada permulaan dari pelayanan Kristus, dan sekali pada penutupan pekerjaan-Nya dan pada pembukaan dari pekerjaan para rasul — Special Testimonies to Ministers, No. 7, p. 54) Ia telah membersihkan kaabah dari perbuatan-perbuatan yang tidak suci oleh mana orang-orang Yahudi telah mencemarkannya (Yohanes 2 : 15, 16; Matius 21 : 12, 13), maka sebab itu Ia dua kali telah memberikan amaran dalam contoh agar juga pada penutupan periode sejarah Kristen Ia akan dua kali membersihkan sidang-Nya; yaitu sekali pada pemeteraian buah-buah pertama mereka yang 144.000 itu, dan kemudian pada pemeteraian buah-buah kedua, “rombongan besar orang banyak itu.” Wahyu 7 : 1 - 9.

Lagi pula, karena kedua pembersihan ini terjadi pada pesta perayaan Paskah, dan juga karena semua orang “tidak menyucikan dirinya dengan sempurna” (2 Tawarikh 30 : 3; Keluaran 12 : 3 - 6) dilarang mengambil bagian dalam Paskah dalam bulan pertama, tetapi diijinkan untuk bersiap-siap untuk itu dan untuk merayakannya dalam bulan yang kedua (Bilangan 9 : 11; 2 Tawarik 30 : 13) maka sebab itu, telah dilambangkan dengan contoh pembersihan sidang dalam dua bagian, sehingga dengan demikian sekali lagi menunjukkan, bahwa ada terdapat dua pengumpulan, dua pemeteraian, dua pemisahan, dua rombongan — yaitu buah-buah pertama dan buah-buah kedua. (Bagi pelayanan berikutnya dari hal kedua pemeteraian itu, lihatlah buku kami Traktat No. 1, Hampir Jam Kesebelas Extra!, dan untuk contoh saingan dari Paskah, lihat buku Tongkat Gembala, jilid 2, hal. 366, 367).

Roh Nubuatan mengatakan : “Tentu akan ada suatu penyucian lembaga-lembaga yang sama dengan penyucian Kristus terhadap kaabah di masa lalu. ‘Ada tertulis’, demikian firman Tuhan, bahwa Rumah-Ku kelak akan disebut rumah sembahyang, tetapi kamu telah membuatnya sebuah sarang maling-maling. Pada waktu ini terdapat transaksi-transaksi jual beli di dalam lembaga-lembaga kita yang sama dengan transaksi-transaksi yang terjadi di dalam serambi-serambi kaabah di zaman Kristus; maka seluruh isi sorga sedang memandang atasnya. ..... Tuhan akan bekerja untuk menyucikan sidang-Nya. Aku mengatakan kepadamu dalam kebenaran, bahwa Tuhan sedang akan membolak-balik di dalam lembaga-lembaga yang disebut dengan nama-Nya. Tetapi berapa cepatnya proses pembersihan ini akan dimulai, belum dapat ku katakan, namun ia itu tidak akan lama tertunda. Dia yang kipas-Nya terdapat di dalam tangan-Nya itu akan menyucikan kaabah-Nya dari kekotoran moralnya. Ia akan membersihkan seluruh lantai-Nya.” — Brethren in Responsible Positions, September 1895.

Dalam gambaran persamaan mengenai penyucian sidang, Kristus mengatakan : “……. malaikat-malaikat akan keluar, lalu memisahkan orang-orang jahat dari antara orang-orang benar” (Matius 13 : 49) — membuang yang jahat dan meninggalkan yang baik; sebaliknya di dalam buku Wahyu, dalam memberi amanat kepada orang-orang milik-Nya yang di dalam Babil, Ia berfirman : “keluarlah daripadanya hai umat-Ku” (Wahyu 18 : 4) — memanggil orang-orang benar keluar dan membiarkan orang-orang jahat di tempat. Yang pertama itu disucikan dengan cara orang-orang jahat dibuang keluar dari antara mereka; yang terakhir itu disucikan dengan cara mereka itu sendiri diambil keluar dari antara orang-orang jahat.

Juga terdapat dua perumpamaan yang menyolok dari hal talenta-talenta (Matius 25 : 15 - 30; Lukas 19 : 13 - 27), yang mana keduanya

masuk dalam gambar secara jelas dalam gambarannya yang sekarang. Dalam perumpamaan yang satu ada tiga orang hamba; dalam perumpamaan yang lainnya, sepuluh orang hamba. Perbedaan yang berarti ini menunjukkan, bahwa yang pertama itu hanya berlaku setempat, sebaliknya yang kedua itu berlaku meliputi seluruh dunia (sepintas lalu menunjukkan, seperti yang dilakukan oleh Tongkat Gembala, jilid 2, hal. 83-86, bahwa di dalam Injil angka bilangan “sepuluh” menunjukkan universal dan angka bilangan “tiga” menunjukkan Trinitas di dalam sidang).

Kebenaran-kebenaran yang tidak dapat berobah ini mengenai contoh dan perumpamaan dan “perkataan kesaksian-Nya”, menghadapkan kita muka dengan muka kepada kenyataan yang sungguh, bahwa kita telah sampai kepada sejarah dari Paskah contoh saingan dan pembersihan kaabah itu, dan kepada penuaian dunia, — yaitu “hari Tuhan yang besar dan mengerikan itu.” Roh Allah mengundang kita “dengan kesungguhan yang betul-betul menakutkan, ‘Bersedialah, bersedialah, bersedialah, karena kehangatan murka Tuhan itu akan segera datang. Murka-Nya akan dituangkan tanpa dicampuri dengan kemurahan, dan kamu tidak bersedia. Koyakkanlah hati dan bukan pakaian.” — Early Writings, p. 119.

Oh janganlah seorangpun keliru berpikir, bahwa setelah masa kasihan berakhir, atau sesudah kedatangan Kristus yang kedua kali (setelah orang-orang berdosa di bumi dibinasakan), sidang Allah akan mencapai standart tabiat yang mulia, dan akan mencapai jabatan yang tinggi yang ditentukan sorga, dan disucikan dari dosa dan dari orang-orang berdosa. Bahkan sebaliknya, “pada hari itu” (sebelum orang-orang berdosa di bumi

dibinasakan), demikianlah firman Tuhan, “Aku akan membuat Yerusalem menjadi sebuah batu tanggungan bagi segala bangsa; semua orang yang membebani dirinya dengan batu itu akan dihancurkan, sekalipun berhimpun segala bangsa di bumi melawannya. Pada hari itu Tuhan kelak akan mempertahankan semua penduduk Yerusalem; maka yang lemah di antara mereka itu pada hari itu akan jadi seperti Daud; dan rumah Daud akan jadi seperti Allah, seperti malaikat Tuhan di hadapan mereka itu. Dan akan jadi kelak pada hari itu, bahwa Aku akan berusaha membinasakan segala bangsa yang datang melawan Yerusalem.” “Pada hari itu akan terdapat pada lonceng-lonceng yang tergantung pada kuda-kuda, KESUCIAN BAGI TUHAN; dan semua pot di dalam rumah Tuhan akan jadi seperti bejana-bejana yang di depan medzbah. Bahkan setiap pot di Yerusalem dan di Yehuda akan menjadi suci bagi Tuhan serwa sekalian alam; maka semua mereka yang mempersembahkan korban akan mengambilnya dan menanak di dalamnya, dan pada hari itu tidak akan ada lagi orang Kanani di dalam rumah Tuhan serwa sekalian alam.” Zakharia 12 : 3, 8, 9; 14 : 20, 21.

Ayat-ayat ini secara jelas menyatakan bahwa sidang kelak akan jadi “seperti Allah, seperti malaikat Tuhan di hadapan mereka itu”, selama masa kesusahan, apabila segala bangsa akan kelak berhimpun melawannya, dan Tuhan sebagai pembalasnya akan kemudian memalu mereka. Masa kasihan masih berlangsung sementara rangkaian peristiwa-peristiwa ini terjadi, “semua mereka yang berkorban” (suatu tindakan yang dilakukan sebelum masa kasihan berakhir) kelak oleh karenanya akan menjadi suci, dan “kelak tidak akan ada lagi orang

Kanani di dalam rumah Tuhan.”

Setiap siswa Alkitab yang benar mengetahui, bahwa sidang harus mencapai kesucian hati dan tabiat dan kedudukan ini, bukan sesudah, melainkan sebelum tugas pembelaan Kristus berakhir dan sebelum “korban” itu berhenti. Semua siswa yang sedemikian ini juga tahu, bahwa Allah belum dapat menyatakan kuasa-Nya yang besar itu untuk mempertahankan mereka dalam masa dimana “semua orang di bumi berhimpun bersama-sama melawan” mereka, juga belum dapat mengaruniakan Roh-Nya ke atas mereka seperti yang dilakukan-Nya ke atas orang-orang Kristen yang mula-mula pada hari Pantekosta, jika terdapat orang-orang berdosa di antara umat-Nya, dan jika seluruh sidang belum berada “sehati dan sepaham” (Kisah 2 : 1), “berpakaikan kelengkapan senjata kebenaran Kristus ..... indah bagaikan bulan, cerah seperti matahari, dan hebat seperti bala tentara dengan panji-panjinya” — seperti halnya sidang rasul-rasul yang lalu, kepada siapa Roh telah turun bagaikan sebuah “hembusan angin yang keras.” Kisah 2 : 2.

Roh Nubuatan mengatakan : “Hanya mereka yang telah melawan dan mengalahkan pencobaan oleh kekuatan dari Dia Yang Maha Kuasa akan diijinkan mengambil bagian dalam memberitakan pekabaran ini, apabila ia kelak berkembang menjadi Seruan Keras.” -- Review and Herald, 19 November, 1908.

Maka karena seruan keras itu tidak akan gagal membunyikan suaranya pada waktunya, maka mereka yang tidak menang mereka yang “menghianati kepercayaan yang telah diberikan kepadanya”, — yaitu “para tua-tua, yaitu mereka yang kepadanya Allah telah berikan terang besar, dan mereka yang telah berdiri sebagai pengawal-pengawal dari semua

kepentingan kerohanian umat”, — mereka harus disingkirkan. “Ini dikemukakan dengan tegas sekali oleh gambaran nabi itu mengenai pekerjaan penghabisan dalam bentuk orang-orang yang masing-masingnya memegang senjata yang membinasakan di dalam tangannya.” — Testimonies, vol. 3, p. 266. “Laki-laki, perempuan-perempuan, dan anak-anak kecil, sekaliannya binasa bersama-sama.” — Testimonies, vol. 5, p. 211.

Menghadapi kepastian yang muncul menonjol dari hal penyucian sidang, pemeteraian, dan menyusul kemuliaan yang pasti akan jadi, maka kita segera menghadapi 

Keadaan Sidang Pada Menjelang Penyuciannya Itu.

“Betapa besarnya kesesatan yang dapat menimpa pikiran manusia daripada suatu keyakinan, bahwa mereka adalah benar, padahal mereka sekaliannya adalah salah!  Pekabaran dari Saksi Yang Setia itu menemukan umat Allah dalam suatu kesesatan yang menyedihkan, namun mereka jujur dalam kesesatan itu. Mereka tidak mengetahui, bahwa mereka adalah menyedihkan dalam pemandangan Allah. Sementara mereka yang ditegor ini menyombongkan dirinya, bahwa mereka sedang berada di dalam kondisi kerohanian yang tinggi, maka Pekabaran dari Saksi Yang Setia itu memecahkan ketenangan mereka dengan tuduhan yang mengejutkan dari hal kondisi kerohanian mereka yang sebenarnya, yaitu buta rohani, melarat, dan sengsara. Kesaksian yang sedemikian tajam dan keras ini, tidak mungkin salah, karena adalah Saksi Yang Setia itu sendiri yang berbicara, maka kesaksian-Nya harus benar.” — Testimonies, vol. 3, pp. 252, 253.

“Siapakah yang dapat mengatakan dengan benar, bahwa ‘Emas kita adalah emas yang sudah teruji di dalam api, pakaian-pakaian kita adalah tidak ternoda oleh dunia’? Aku tampak bahwa Penunjuk jalan kita itu menunjuk kepada

pakaian-pakaian dari apa yang disebut orang-orang benar itu. Ia menelanjangi mereka, Ia membuka semua kekotoran mereka itu di bawah. Kemudian Ia mengatakan kepadaku : ‘Tidakkah kamu melihat bagaimana mereka itu dengan berpura-pura menutupi kekotoran dan kebusukan tabiat mereka, ‘Bagaimana negeri yang setia itu telah menjadi seorang pelacur? Rumah Bapa-Ku telah dibuat menjadi sebuah rumah dagang, yaitu sebuah tempat dari mana kehadiran dan kemuliaan Ilahi telah lenyap berlalu. Karena sebab inilah terdapat kelemahan, dan kuasa telah gagal’.” — Testimonies, vol. 8, p. 250.

“Para tua-tua, yaitu mereka yang kepadanya Allah telah mengaruniakan terang besar, dan mereka telah berdiri sebagai pengawal-pengawal dari segala kepentingan kerohanian umat, mereka telah menghianati kepercayaan yang diberikan kepada mereka ...... Anjing-anjing yang bisu ini, yang tidak mau menyalak, adalah orang-orang yang akan merasakan pembalasan yang adil dari suatu Allah yang murka. Laki-laki, perempuan-perempuan, dan anak-anak kecil, sekaliannya binasa bersama-sama.” – Testimonies, vol. 5, p. 211.

“Adalah sulit bagi mereka yang merasa aman dengan pegangan-pegangannya, dan meyakini dirinya kaya dalam pengetahuan rohani, untuk menyambut pekabaran yang menyatakan bahwa mereka adalah sesat dan memerlukan setiap karunia rohani. Hati yang tidak suci itu adalah penipu di atas segala-galanya, dan tidak berketentuan jahatnya.” – Testimonies, vol. 3, p. 253.

“Ada banyak orang yang tidak memiliki kebijaksanaan Josua, dan mereka tidak memiliki tugas khusus untuk menyelidiki kesalahan-kesalahan, dan untuk menangani dengan cepat dosa-dosa yang ada di antara mereka. Janganlah mereka itu menghalangi orang-orang lain yang dibebani tugas ini.

Janganlah mereka berdiri menghalangi orang-orang yang mempunyai tugas ini untuk dilaksanakan. Sebagian orang membuatnya menjadi suatu masalah yang dipertanyakan, dan yang meragukan, lalu mencari-cari salah, sebab orang-orang lain melakukan perbuatan yang Allah tidak bebankan ke atas mereka. Mereka ini menghalangi langsung orang-orang yang Allah telah tugaskan untuk menegor dan memperbaiki dosa-dosa, supaya kiranya murka-Nya dapat dialihkan dari umat-Nya. Jika sekiranya suatu perkara seperti halnya perkara Akhan itu terdapat di antara kita, maka akan ada banyak orang yang akan menuduh mereka yang bertindak sebagai Josua dalam menyelidiki kesalahan, karena mereka itu memiliki suatu roh jahat yang suka mencari-cari salah. Allah tidak dapat dipermainkan, maka semua amaran-Nya yang dilalaikan oleh suatu umat yang mendurhaka tidak akan berlalu tanpa hukuman”.

“Kekecewaan Allah adalah terhadap umat-Nya, maka Ia tidak mau menyatakan kuasa-Nya di tengah-tengah mereka itu selama dosa-dosa masih terdapat di antara mereka, dan dibantu perkembangannya oleh orang-orang yang menduduki jabatan-jabatan bertanggung jawab.”

“Orang-orang yang bekerja dalam takut akan Allah untuk melepaskan sidang daripada halangan-halangannya, dan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang menyedihkan, supaya umat Allah dapat melihat perlunya membenci dosa itu, dan supaya ia dapat maju dalam kesucian, dan supaya nama Allah dapat dipermuliakan, mereka akan senantiasa menghadapi pengaruh-pengaruh yang menentang dari pihak orang-orang yang tidak bertobat. Demikinlah Zefanya melukiskan keadaan yang sebenarnya dari kelas orang-orang ini, dan hukuman-hukuman yang mengerikan yang akan datang menimpa mereka sebagai berikut :

“’Maka akan jadi kelak pada masa itu, bahwa Aku hendak memeriksa Yerusalem dengan menggunakan lilin, dan menghukum

orang-orang yang duduk dengan sentosanya; yang mengatakan dalam hatinya, bahwa Tuhan tidak akan berbuat baik, Ia juga tidak akan berbuat jahat.’ ‘Hari Tuhan yang besar itu adalah dekat, ia itu sudah dekat, dan cepat sekali datangnya, yaitu suara dari hari Tuhan itu; bahwa orang-orang perkasa akan menangis di sana tersedu-sedu.’ .........”

“Apabila suatu krisis pada akhirnya datang, seperti yang sesungguhnya ia itu akan datang, dan Allah akan berbicara menggantikan umat-Nya, maka orang-orang yang telah berdosa, mereka yang telah menjadi awan kegelapan, dan yang telah berdiri menghalangi pekerjaan Allah bagi umat-Nya, mereka akan menjadi gempar sepanjang mereka telah pergi dengan bersungut-sungut dan mendatangkan kekecewaan terhadap pekerjaan itu; maka seperti halnya Akhan, mereka akan menjadi takut, mereka akan mengetahui bahwa mereka telah berdosa. Tetapi semua pengakuan mereka itu sudah terlambat, dan sekaliannya itu bukanlah cara yang tepat untuk membawa manfaat bagi mereka, walaupun mereka mungkin membantu pekerjaan Allah itu .......”

“Orang-orang yang hampir selama hidupnya dikontrol oleh suatu roh yang lain daripada Roh Allah seperti halnya Akhan, mereka akan sangat lamban apabila masa itu datang bagi semua orang untuk bertindak secara menentukan. Mereka tidak akan menyatakan berdiri pada pihak manapun juga.” – Testimonies, vol. 3 pp. 270 - 272.

“Kita telah cenderung berpikir, bahwa dimana tidak terdapat pendeta-pendeta yang setia, maka tidak mungkin terdapat orang-orang Kristen yang benar; tetapi ini bukanlah jawabannya. Allah telah berjanji, bahwa dimana para gembala adalah tidak benar, Ia akan mengawasi kawanan domba itu sendiri. Allah tidak pernah membiarkan kawanan domba itu sepenuhnya bergantung

pada alat-alat manusia. Tetapi hari-hari penyucian sidang itu sedang datang dengan segeranya. Allah hendak memiliki suatu umat yang suci dan benar. Dalam penyaringan yang besar yang segera akan jadi, kita akan lebih mampu untuk mengukur kekuatan Israel. Tanda-tanda mengungkapkan, bahwa masa itu sudah dekat apabila Tuhan akan menyatakan bahwa kipas-Nya ada di dalam tangan-Nya, maka Ia akan membersihkan selengkapnya seluruh lantai-Nya.”

“..... Orang-orang yang menaruh harap pada kemampuan berpikir, kecerdasan, atau talenta, tidak akan berdiri pada waktu itu pada barisan terdepan. Mereka tidak menyesuaikan langkahnya dengan terang. Orang-orang yang telah membuktikan dirinya tidak setia tidak akan dipercayakan kepada mereka kawanan domba pada waktu itu. Dalam pekerjaan penghabisan yang serius itu hanya sedikit saja orang-orang besar yang akan terlibat. Mereka adalah orang-orang yang merasa kecukupan sendiri, terlepas dari Allah, maka Ia tidak dapat menggunakan mereka. Tuhan memiliki hamba-hamba yang setia, yang dalam masa kegoncangan dan ujian mereka itu akan muncul keluar. Ada orang-orang yang berharga yang kini masih tersembunyi yang tidak menyembah sujud kepada Baal. Mereka  belum memiliki terang itu yang telah bercahaya dalam suatu pemusatan sinar ke atasmu. Namun, mungkin sekali di bawah selubung lahiriah yang kasar dan tak menarik kecerahan yang bersih dari suatu tabiat Kristen yang murni akan dinyatakan.”—Testimonies, vol. 5, pp. 80, 81.

Barisan pernyataan-pernyataan yang dikemukakan di atas menunjukkan, bahwa sidang harus disucikan sebelum umat Allah yang sisa dihimpunkan “keluar dari segala” negeri. Kemudian “pada hari-hari itu, dan pada masa itu, apabila Aku kelak membawa kembali para tawanan Yehuda dan Yerusalem”, demikianlah firman Tuhan, “Aku pun akan menghimpunkan

segala bangsa, dan akan menghantarkan mereka itu turun ke dalam lembah Yehoshafat, dan Aku akan berbicara dengan mereka di sana demi karena umat-Ku dan karena bagian pusaka-Ku Israel yang telah mereka cerai-beraikan di antara segala bangsa, dan telah membagi-bagikan tanah-Ku.” Yoel 3 : 1, 2.

Tetapi untuk dibebaskan dari tawanan, dan untuk mendengarkan Tuhan “berbicara ….. di sana” demi karena umat-Nya, maka orang tak akan berani sekarang menolak akan 

Himbauan-Nya.

“Mereka mengatakan : Jikalau seseorang lelaki sudah membuang istrinya, lalu ia pergi meninggalkan lelaki itu, dan menjadi istri seseorang lelaki lain, maka haruskah ia kembali lagi kepada wanita itu? Bukankah negeri itu sangat dicemarkan? Tetapi anda sudah berbuat zinah dengan banyak kekasih; tetapi pun kembali lagi kepada-Ku, demikianlah firman Tuhan. Angkatlah matamu ke atas ke tempat-tempat yang tinggi, dan lihatlah di mana anda tidak pernah ditiduri. Pada sisi jalan-jalan anda telah duduk menunggui mereka itu, seperti orang Arab di padang belantara; maka anda  telah mencemarkan negeri itu dengan segala zinahmu dan dengan segala kejahatanmu. Sebab itu curahan hujan telah ditahan, dan hujan akhir pun tidak datang; tetapi anda memiliki suatu dahi perempuan sundal, anda tidak mengenal malu. Tidakkah anda mau semenjak waktu ini berseru kepada-Ku, Hai Bapaku, Engkaulah Pemimpinku semenjak masa mudaku?”

“Pergilah dan beritakanlah segala perkataan ini ke arah utara dan katakanlah : Kembalilah kamu, hai Israel yang murtad, demikianlah firman Tuhan; maka Aku tidak akan menumpahkan murka-Ku ke atas kamu. Karena Aku Pemurah adanya, demikianlah firman Tuhan, maka tiada Aku menaruh murka untuk selama-lamanya. Hanya akuilah olehmu akan kesalahanmu, bahwa kamu telah mendurhaka

melawan Tuhan Allahmu, dan kamu telah tercerai berai segala jalanmu mengikuti orang-orang asing di bawah setiap pohon kayu yang hijau, dan tiada kamu dengar akan suara-Ku, demikianlah firman Tuhan. Kembalilah kamu, hai anak-anak yang murtad, demikianlah firman Tuhan; karena Aku mangawinimu : maka Aku akan mengambil kamu seseorang dari sebuah negeri, dan dua orang dari sesuatu keluarga, dan Aku akan menghantarkan kamu ke Sion; maka Aku akan memberikan bagimu gembala-gembala yang sesuai dengan hati-Ku, yang akan memberi makan kamu dengan pengetahuan dan pengertian. Maka akan jadi kelak, apabila kamu kelak diperlipat-gandakan dan dipertambahkan di tanah itu, pada hari-hari itu, demikianlah firman Tuhan, maka mereka tidak akan lagi mengatakan, Tabut Perjanjian Tuhan, itu pun tidak lagi akan timbul di dalam hati, mereka pun tidak lagi ingat akan dia, mereka pun tidak akan lagi mencarinya, atau membuatnya kembali. Pada masa itu mereka akan menyebut Yerusalem tahta Tuhan; dan segala bangsa akan datang berhimpun kepadanya, kepada nama Tuhan, ke Yerusalem; mereka tidak lagi berjalan mengikuti persangkaan hati mereka yang jahat itu. Pada hari-hari itu isi rumah Yehuda akan berjalan bersama-sama dengan isi rumah Israrel, dan mereka akan bersama-sama datang keluar dari tahta utara menuju ke tanah yang telah Ku kuraniakan kepada nenek moyangmu sebagai milik pusaka.” Yeremia 3 : 1 - 4, 12 - 18.

Karena demikianlah firman Tuhan : “Tengoklah, Aku akan mengutus kepadamu Eliyah nabi itu sebelum datang hari Tuhan yang besar dan mengerikan itu; maka ia akan membalikkan hati segala bapa kepada anak-anak, dan hati anak-anak kepada

bapa-bapa mereka, supaya jangan Aku datang lalu memalu bumi dengan kutuk.” Maleakhi 4 : 5, 6.

“Tengoklah, Aku akan mengirim utusan-Ku, maka ia akan menyediakan jalan di hadapan-Ku; maka Tuhan, yang kamu cari itu akan kelak datang dengan tiba-tiba ke kaabah-Nya ….. Tetapi siapakah yang dapat tahan akan hari kedatangan-Nya itu, dan siapakah akan tahan berdiri apabila Ia kelihatan? Karena Ia adalah bagaikan suatu api pembersih, dan seperti sabun binara; maka Ia akan duduk seperti seorang pembersih dan pemurni perak, dan Ia akan menyucikan bani Lewi, dan membersihkan mereka itu bagaikan emas dan perak, supaya mereka dapat mempersembahkan kepada Tuhan suatu persembahan dalam kebenaran. Pada masa itulah kelak persembahan dari Yehuda dan Yerusalem akan berkenan kepada Tuhan, seperti halnya di hari-hari yang dahulu, dan seperti pada tahun-tahun yang terdahulu. Maka Aku akan menghampiri kamu hendak berhukum; dan Aku akan menjadi seorang saksi yang cepat melawan segala tukang sihir, dan melawan segala orang yang berbuat zinah, dan melawan segala orang yang bersumpah palsu, dan melawan segala orang yang menindas hamba-hamba upahan terhadap upah-upah mereka, yang menindas perempuan janda dan anak-anak piatu, dan yang menolak orang-orang asing dari haknya, dan yang tidak takut akan Daku, demikianlah firman Tuhan serwa sekalian alam. Karena Akulah Tuhan, Aku tidak berobah; maka sebab itulah kamu bani Yakub belum ditumpas.”

“Bahkan semenjak dari zaman nenek moyangmu pun kamu telah menyeleweng dari segala syariat-Ku, dan tiada kamu memeliharakannya. Kembalilah kepada-Ku, maka Aku akan kembali kepadamu, demikianlah firman Tuhan serwa sekalian alam. Tetapi katamu, Dalam hal yang mana harus kami kembali?”

“Hendakkah seseorang merampok Allah? Namun kamu sudah merampok Aku. Tetapi katamu, dalam hal apakah kami telah merampok akan Dikau?

Dalam perpuluhan-perpuluhan dan persembahan-persembahan. Kamu adalah dikutuk dengan suatu kutuk, karena kamu sudah merampok Aku, bahkan seluruh bangsa ini sudah merampok Aku. Bawalah olehmu segala perpuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya kiranya ada tersedia makanan di dalam rumah-Ku, dan cobailah akan Daku sekarang juga di sini dengannya, demikianlah firman Tuhan serwa sekalian alam, jikalau tiada Aku akan membukakan bagimu pintu-pintu langit, lalu mencurahkan kepadamu suatu berkat, yang kelak tidak akan cukup ruangan untuk menampungnya. Dan oleh karenamu juga Aku akan menghukum si pembinasa, sehingga ia tidak akan merusak hasil-hasil dari tanahmu; pokok anggurmupun tidak akan mengeluarkan buahnya sebelum masanya di padang, demikianlah firman Tuhan serwa sekalian alam. Maka segala bangsa akan menyebut kamu berbahagia; karena kamu kelak menjadi suatu tanah yang permai, demikianlah firman Tuhan serwa sekalian alam.”

“Segala perkataanmu sudah terlalu keras melawan Aku, demikianlah firman Tuhan. Tetapi kamu mengatakan, Apakah yang telah kami bicarakan sedemikian banyak melawan Dikau? Kamu telah mengatakan, Adalah sia-sia berbakti kepada Allah dan apakah untungnya bahwa kita telah memeliharakan segala perintah-Nya, dan bahwa kita telah berjalan dengan berkabung di hadapan Tuhan serwa sekalian alam? Maka kini kita menyebut orang yang sombong itu berbahagia; bahwasanya mereka yang berbuat kejahatan itu akan ditegakkan; bahwasanya mereka yang mencobai Allah itu akan dilepaskan.”

“Pada masa itu mereka yang takut akan Tuhan akan sering berbicara satu kepada yang lainnya, maka Tuhan memperhatikannya dan mendengarkannya, maka sebuah buku peringatan adalah tertulis di hadapan-Nya bagi mereka yang takut akan Tuhan, dan yang ingat akan nama-Nya. Maka mereka akan menjadi milik-Ku, demikianlah firman Tuhan serwa sekalian alam, pada hari itu apabila Aku akan mengumpulkan mutiara-mutiara-Ku; dan Aku akan melindungi mereka seperti halnya seseorang melindungi anak lelakinya sendiri yang berbakti kepadanya.

Pada masa itu kamu akan kembali, dan kamu akan melihat bedanya antara kebenaran dan kejahatan, di antara dia yang berbakti kepada Allah dan dia yang tidak berbakti kepada-Nya.” Maleakhi 3 : 1 - 18.

“Sebab itu, demikianlah firman Tuhan Hua, Tengoklah, Aku meletakkan sebuah batu di Sion bagi suatu pondasi, sebuah batu yang telah teruji, sebuah batu penjuru yang berharga, suatu pondasi yang teguh; barangsiapa yang percaya tidak akan gelisah. Keadilan juga akan Ku letakkan menurut tali pengukur, dan kebenaran menurut bandulan pengukur tegak lurus; maka hujan es akan menyapu bersih perlindungan segala kebohongan, dan air-air akan menghanyutkan tempat persembunyian.”

“Maka perjanjianmu dengan maut akan dihapuskan, dan persetujuanmu dengan neraka tidak akan tetap berlaku; apabila cemeti yang menghancurkan itu akan berjalan lalu, maka kamupun akan dipijak-pijak olehnya. Semenjak dari saat ia itu keluar ia akan menyeret kamu; karena pagi demi pagi ia itu akan lewat, baik pada siang hari baik pada malam hari; maka akan jadi suatu kegentaran hanya untuk memahami berita itu. Karena tempat tidur adalah lebih pendek daripada ukuran seseorang yang dapat membaringkan dirinya di atas, dan selimut adalah lebih kecil daripada yang dapat ia pakai untuk menyelimuti dirinya. Karena Tuhan akan bangkit seperti di atas gunung Perazim, Ia akan naik murka-Nya seperti di lembah Gibeon, supaya Ia dapat melakukan pekerjaan-Nya, pekerjaan-Nya yang aneh itu; dan melaksanakan tindakan-Nya, tindakan-Nya yang aneh itu. Sebab itu sekarang janganlah kamu menjadi orang pengolok-olok, supaya jangan belenggumu dibuat makin keras ikatannya, karena telah Ku dengar dari Tuhan Hua serwa sekalian alam dari hal kebinasaan yang telah ditentukan atas seluruh bumi.”

“Berilah telingamu, dan dengarlah akan suara-Ku; camkanlah, dan dengarlah akan perkataan-Ku.” Yesaya 28 : 16 - 23.

Karena “Allah telah berjanji bahwa dimana para gembala didapati tidak benar Ia akan mengawasi sendiri kawanan domba itu” (Testimonies, vol. 5, p. 80; Testimonies to Ministers, p. 300; Yeremia 3 : 17), dan karena para keturunan dari Yakub itu akan kembali menjadi sebuah kerajaan, mereka akan mengangkat baginya seorang kepala (Hosea 1 : 11), “Daud raja mereka” (Hosea 3 : 5), “lalu mencari Tuhan Allah mereka”, maka jelaslah bahwa sidang dalam masa Seruan Keras dari Pekabaran Malaikat Yang Ketiga, 

Akan Menjadi Sebuah Pemerintahan Theokrasi.

“Tongkat kerajaan itu tidak akan berlalu dari Yehuda, pemberi hukumpun tidak akan berlalu dari antara kedua kakinya, sehingga datang Silo; maka kepadanyalah kelak berhimpun orang banyak itu.” Kejadian 49 : 10.

“Bahwasanya, seorang raja akan memerintah dalam kebenaran, dan para penghulu akan memimpin dalam keadilan. Dan seorang laki-laki akan jadi bagaikan suatu tempat berlindung dari angin, dan suatu tempat persembunyian dari angin ribut; seperti sungai-sungai yang berair di suatu tempat yang kering, seperti bayangan dari sebuah batu besar di tanah yang tandus.” Yesaya 32 : 1, 2.

“Karena bagi kita seorang anak telah lahir, bagi kita seorang putera telah dikaruniakan; maka pemerintahan akan berada di atas pundak-Nya; dan nama-Nya akan disebut Ajaib, Penasehat, Allah yang perkasa, Bapa yang kekal, Raja Damai. Dari hal peningkatan pemerintahan dan perdamaian-Nya kelak tidak akan ada akhirnya, pada tahta

Daud dan pada kerajaan-Nya, ia itu diatur dan didirikan dengan hukum dan keadilan semenjak dari sekarang sampai selama-lamanya. Semangat dari Tuhan serwa sekalian alam akan melaksanakan ini. Tuhan telah mengirimkan suatu firman kepada Yakub, maka ia itu telah menerangi ke atas Israel.” Yesaya 9 : 6 - 8.

“Bahwasanya, Tuhan Hua akan datang dengan tangan yang kuat, maka lengan-Nya akan memerintah bagi-Nya; bahwasanya pahala-Nya ada bersama-sama dengan-Nya (Ia akan mengaruniakan kepada mereka pada masa kerajaan itu) dan pekerjaan-Nya di hadapan-Nya (Ia akan menghimpunkan umat-Nya pada masa itu).” Yesaya 40 : 10.

“Maka kelak akan terbit keluar dari batang Isai sebuah pucuk”, nubuatan-nubuatan Yesaya dalam gambaran simbolis mengenai kemenangan maksud Allah yang gilang-gemilang ini, ”dan sebuah Cabang akan bertumbuh keluar dari akar-akarnya; maka Roh Tuhan akan tinggal di atasnya, yaitu Roh kebijaksanaan dan pengertian, Roh berbicara dan kuat, Roh pengetahuan dan takut akan Tuhan; maka ia itu akan membuatnya menjadi seseorang yang cepat mengerti dalam takut akan Tuhan; maka ia tidak akan mengadili menurut pemandangan matanya sendiri, ia juga tidak akan menegor menurut pendengarannya sendiri, melainkan dengan kebenaran ia akan mengadili orang-orang miskin, dan ia akan menegor secara adil bagi segala orang yang lemah di bumi; maka ia akan memalu bumi dengan Tongkat yang ada di mulutnya, dan dengan napas mulutnya ia akan membunuh segala orang jahat. Maka kebenaran akan menjadi pengikat pinggangnya, dan kesetiaan menjadi pengikat segala pemerintahannya.” Yesaya 11 : 1 - 5.

___ GAMBAR ___ 

Di dalam gambaran ini terdapat tiga orang yang dikemukakan, yaitu Isai (ayah dari Daud), pucuk (Daud), dan Cabang (Kristus). Ikatan hubungan ini menunjukkan, bahwa Daud (pucuk itu) adalah bukan Kristus (Cabang), karena “pucuk” itu keluar dari batang Isai, dan Cabang itu keluar dari pucuk —

suatu kenyataan yang telah terbit dalam seruan orang banyak sewaktu Kristus memasuki Yerusalem. Mereka itu berseru : “Hosanah bagi putera Daud.” Matius 21 : 15. Sebab itu jelaslah, bahwa “pucuk”  itu yang datang dari batang Isai adalah melambangkan Daud; dan Cabang itu yang datang keluar dari pucuk melambangkan putera Daud — Kristus.

Pada “lambang” inilah (Cabang dan pucuk) “Roh Tuhan itu akan tinggal ....., yaitu Roh kepandaian dan pengertian, Roh nasehat dan kuasa, Roh pengetahuan dan takut akan Tuhan; maka ia itu akan membuatnya menjadi seseorang yang cepat mengerti dan takut akan Tuhan; maka ia tidak akan mengadili menurut pandangan matanya sendiri, ia juga tidak akan menegor menurut pendengarannya sendiri, melainkan dengan kebenaran ia akan mengadili orang-orang miskin, dan ia akan menegor secara adil bagi segala orang yang lemah di bumi; maka ia akan memalu bumi dengan tongkat dari mulutnya, dan dengan napas mulutnya ia akan membunuh segala orang jahat. Maka kebenaran akan menjadi pengikat pinggangnya, dan kesetiaan menjadi pengikat segala pemerintahan.” Yesaya 11 : 2 - 5.

Sebab itu walaupun “lambang” itu melambangkan hubungan antara tiga orang (Isai, akar; Daud, pucuk; dan Kristus, Cabang), namun kuasa dan kepintaran dari Kristus adalah merupakan kekuatan penopang dan pengawasnya. Sebab itulah Kristus mengatakan : ”Aku adalah akar dan benih dari Daud, dan Bintang Fajar yang gilang-gemilang itu” (Wahyu 22 : 16), membuktikan, bahwa Ia adalah segala-galanya dan Ia berada di dalam segala-galanya.

Sebab itu karena dari “batang” Isai telah keluar “pucuk” (Daud), dan dari pucuk itu telah muncul keluar Cabang (Kristus), maka Daud raja yang kelihatan itu dan Kristus Raja yang tak kelihatan atas segala raja itu kelak “pada hari itu” — dalam sejarah kita — membentuk “lambang” itu, lalu “kepadanyalah kelak segala orang Kapir akan datang mencari-cari; maka peristirahatan-Nya (atau tempat istirahat-Nya — yaitu lokasi dimana “pucuk” atau “lambang” itu berdiri — kerajaan itu) kelak akan menjadi mulia.” Sesungguhnya “Aku hendak membuat tempat berdiri-Ku menjadi mulia.” (Yesaya 60 : 13), demikianlah firman Tuhan.

“Dan Ku angkat atasnya kelak seorang gembala yang akan menggembalakan mereka itu, yaitu Daud hamba-Ku; maka ia pun akan memberi makan mereka itu, dan ia akan menjadi gembalanya. Dan Aku ini Tuhan dan Allah bagi mereka itu, dan hamba-Ku Daud akan menjadi seorang raja di tengah-tengahnya; bahwa Aku ini Tuhan sudah berfirman begitu. Dan Aku akan membuat suatu perjanjian selamat dengan mereka itu, dan Ku hapuskan kelak segala binatang buas dari tanah itu, sehingga mereka itu boleh duduk di padang belantara dengan sentosa dan boleh tidur di tengah-tengah hutan.” Yehezkiel 34 : 23 - 25.

Demikian sidang-Nya, atau kerajaan-Nya itu akan kembali terlihat tanpa “cacad, atau kerut, ataupun sesuatu perkara yang sedemikian ini” (Epesus 5 : 27), sebuah pemerintahan agama yang damai, aman, dan tak terkalahkan, di bawah pemerintahan seorang gembala dan seorang raja — Daud, hamba-Nya. Tetapi dari kenyataannya bahwa banyak raja telah memerintah atas Israel maka mungkin timbul di dalam pikiran sebagian orang pertanyaan : 

Mengapa Daud Merupakan Contoh?

Memang tak dapat dielakkan karena ia adalah satu-satunya orang yang tepat secara sempurna untuk cocok dengan contoh saingannya — yaitu kepemimpinan dalam

masa Seruan Keras dari Pekabaran Malaikat Yang Ketiga. Karena demikian inilah halnya, maka adalah perlu untuk diikuti, bahwa Saul, raja yang pertama memerintah atas Israel dan yang banyak bertanggung jawab bagi pengalaman hidup Daud yang mula-mula, adalah merupakan sebuah contoh dari kepemimpinan sidang dalam masa periode mendahului Seruan Keras itu — yaitu kepemimpinan yang bangkit dalam tahun 1844 dengan satu-satunya maksud untuk menghimpunkan mereka yang 144.000 itu, yaitu buah-buah pertama dari kerajaan itu. Dalam setiap hal, contoh menyaingi dengan sempurna contoh saingannya.

Melihat kepada keadaan lahiriahnya yang pantas sebagai raja, maka Saul telah dipilih oleh orang banyak itu untuk menjadi raja mereka, walaupun Allah tidak memperkenankannya (1 Samuel 8 : 7). Maka pada akhirnya setelah Allah menolaknya dan setelah mengurapi Daud untuk menjadi raja menggantikannya, maka Saul memutuskan untuk mempertahankan tahta dengan cara berusaha membunuh Daud. Namun usahanya berakhir karena ia dengan sengaja membunuh dirinya sendiri  (1 Samuel 31 : 4).

Sejarah telah mendemonstrasikan, bahwa organisasi Masehi Advent Hari Ketujuh sedang menggenapi contoh itu. Karena lebih suka untuk membentuk badan organisasi, dan memilih para pemimpin melalui pungutan suara orang banyak, maka dengan begitu mereka telah memperlihatkan, bahwa mereka tidak banyak berusaha untuk dapat berkenan kepada Allah dengan berlaku sebagai “suatu umat yang istimewa”, seperti yang diinginkan-Nya bagi mereka, karena mereka sebanyak mungkin lebih memuaskan dirinya sendiri mengikuti organisasi-organisasi gereja lain — sama seperti halnya di zaman Saul dahulu orang banyak itu ingin supaya mereka sama dengan bangsa-bangsa yang ada di sekitarnya (1 Samuel 8 : 5, 7).

Dan walaupun telah dipilih oleh orang banyak, namun para pejabat General Conference itu bagaimanapun juga telah diterima Allah untuk menjadi pemimpin-pemimpin atas umat sekarang, sama seperti halnya Saul dahulu. Tetapi karena ia menghianati kepercayaan yang telah diberikan kepadanya dengan cara tidak mematuhi firman Allah yang disampaikan kepadanya oleh nabi Samuel, maka sedemikian itu pula organisasi sidang yang ada sekarang, “para tua-tua ..... di hadapan rumah itu telah menghianati kepercayaan yang telah diberikan kepada mereka.” — Testimonies, vol. 5, p. 211, demikianlah kata nabi kepada sidang di waktu ini. (Bagi pelayanan yang lebih lengkap terhadap pokok masalah organisasi, bacalah Organization Manual (Pedoman Organisasi) kita).

Berbicara kepada kepemimpinan Masehi Advent Hari Ketujuh, maka hamba Tuhan mengatakan : “Kamu tidak berhak untuk mengatur, jika tidak kamu mengatur sesuai tata pengaturan Allah. Adakah kamu berada di bawah pengawasan Allah? Adakah kamu melihat akan tanggung jawabmu kepada-Nya? ..... Bahwa orang-orang ini akan berdiri pada tempat yang suci untuk jadi sebagai suara Allah kepada umat, seperti yang pernah kita percaya yaitu General Conference, — itu sudah berlalu. Apa yang kita perlukan sekarang ialah reorganisasi.” -- General Conference Bulletin, Session ke-34, vol. 4, Extra No. 1, 3 April 1901, p. 23, cols. 1 dan 2.

Ungkapan pernyataan ini membuktikan secara khusus, bahwa sesudah pertemuan Minneapolis yang bersejarah itu dalam tahun 1888, setelah para pemimpin menolak pekabaran maupun nasehat yang telah diberikan kepada mereka (Testimonies to Ministers, p. 468), maka Tuhan tidak lagi menganggap General Conference sebagai hamba-hamba-Nya, sama seperti halnya Ia tidak lagi

memandang Saul sebagai raja atas Israel setelah ia memalingkan dirinya dari perintah-perintah Tuhan yang disampaikan kepadanya. Dan sekarang, setelah sekian lama semenjak memenuhi keinginan umum untuk mengorganisir General Conference itu, dalam menggenapi contohnya, maka Allah memperingatkan bahwa kini kesabaran-Nya telah sampai pada akhirnya sama seperti halnya di zaman dahulu. Dengan tegas Roh Nubuatan memberitakan :

“Allah menyerukan supaya dilaksanakan suatu pembangunan rohani dan suatu reformasi rohani. Jika ini tidak dilaksanakan, maka mereka yang suam itu akan terus bertumbuh dengan makin menjijikkan di hadapan Tuhan, sampai kelak Ia akan menolak untuk mengakui mereka sebagai anak-anak-Nya.”

“Suatu pembangunan dan suatu reformasi harus dilaksanakan di bawah pengendalian Roh Suci. Pembangunan dan reformasi adalah dua perkara yang berbeda. Pembangunan berarti suatu pembaharuan kembali terhadap kehidupan rohani, suatu kebangkitan dari segala kuasa pikiran dan hati, suatu kebangkitan kembali dari mati rohani. Reformasi berarti suatu reorganisasi, suatu pengobahan dalam pendapat-pendapat dan teori-teori, kebiasaan-kebiasaan dan perbuatan-perbuatan. Reformasi tidak akan mengeluarkan buah kebenaran yang baik jika ia tidak dikaitkan dengan pembangunan dari Roh. Pembangunan dan reformasi akan melaksanakan tugas mereka yang telah ditentukan, dan dalam melakukan tugas ini keduanya harus bergabung.” — Christ Our Righteousness, p. 154, dicetak kembali dari Review and Herald, 25 Februari 1902.

Sebagaimana kejatuhan Saul itu datang dari kelalaiannya mematuhi firman Allah sampai kepada huruf, dan karena kemudian

ia memaafkan pendurhakaannya dengan dalih, bahwa ia telah mempersiapkan domba-domba yang terbaik untuk korban dalam perbaktian kepada Allah, maka demikian pula halnya dengan kepemimpinan sekarang. Walaupun telah diperintahkan kepada mereka supaya meninggalkan semua hubungan dan jalan-jalan yang bersifat keduniawian, dan supaya menjauhkan semua bentuk usaha pada hari Sabat, seperti misalnya menjual buku-buku, mengemukakan tujuan-tujuan target untuk dicapai (goals) dan sebagainya, namun demikian mereka secara mendurhaka telah bergabung dengan dunia dan mengikuti dalam jalan-jalan yang terlarang, bahkan mengembalikan rumah Allah menjadi sebuah rumah dagang (Testimonies, vol. 8, p. 250). Kemudian dengan terus mengikuti mode ala Saul mereka menyatakan perbuatan cemar dan durhaka ini sebagai ringan saja dengan alasan, bahwa perbuatan yang sedemikian adalah tugas pekabar injil yang baik. Tetapi Roh Nubuatan mengatakan :

“Suatu kesalahan besar telah dilakukan oleh sebagian orang yang mengakui kebenaran sekarang, oleh menawarkan barang-barang dagangan selama berlangsung pertemuan-pertemuan, sehingga oleh perdagangan mereka, mereka mengalihkan banyak perhatian dari tujuan pertemuan-pertemuan itu. Jika sekiranya Kristus sekarang berada di bumi, Ia akan menghalau keluar para penjaja barang-barang  dan  para  pedagang  ini  dengan sebuah cambuk dari benang-benang halus, apakah mereka itu pendeta ataupun umat, sama seperti pada waktu Ia memasuki kaabah dahulu, ‘lalu mencampakkan keluar semua mereka yang berjual beli di dalam kaabah, dan membalikkan meja-meja penukaran uang dan tempat-tempat duduk mereka yang menjual burung-burung dara. Sambil mengatakan kepada mereka : Adalah tertulis, bahwa rumah-Ku kelak akan disebut rumah sembahyang, tetapi kamu telah membuatnya menjadi sebuah sarang pencuri-pencuri.’ Para pedagang ini mungkin saja membela dirinya dengan alasan bahwa barang-barang yang ditawarkan itu adalah

bagi persembahan-persembahan korban. Namun tujuan mereka adalah untuk memperoleh laba, untuk memperoleh uang, untuk menimbun keuntungan.”

“Kepada saya ditunjukkan, bahwa jika kemampuan-kemampuan moral dan kecerdasan tidak digelapkan oleh kebiasaan-kebiasaan hidup yang salah, maka para pendeta dan umat sudah akan bangkit melihat akan akibat-akibat jahat dari pencampuran perkara-perkara yang suci dengan perkara-perkara yang biasa. Para pendeta telah berdiri di mimbar dan mengkhotbahkan suatu khotbah yang sangat menarik, dan kemudian oleh menawarkan barang dagangan, dan bertindak sebagian sebagai seorang pedagang, bahkan di dalam rumah Allah, mereka telah mengalihkan perhatian para pendengarnya dari kesan-kesan yang diterima, dan menghancurkan buah dari usaha mereka sendiri.” — Testimonies, vol. 1, pp. 471, 472.

Walaupun mengakui Samuel sebagai nabi Allah, namun Saul pada waktu yang sama dengan sengaja menolak mematuhi kata-katanya; demikian pula, walaupun mengakui Ny. White sebagai hamba Allah, General Conference pada waktu ini, dengan sedih harus dikatakan, bahwa oleh jalan yang ditempuhnya, mereka sesungguhnya sedang menyangkal kekuasaannya. Kenyataan yang tak dapat disangkal ini telah dikemukakan berkali-kali di dalam Roh Nubuat, salah satunya dipilih sebagai berikut :

“Orang-orang yang menaruh harap kepada kecerdasan berpikir, kepandaian istimewa, atau talenta, tidak akan berdiri pada waktu itu (sesudah penyucian sidang) pada barisan depan orang banyak. Mereka tidak mengatur langkahnya sejalan dengan terang itu. ..... Mereka adalah orang-orang yang merasa kecukupan sendiri, lepas dari Allah, maka Ia tidak dapat menggunakan mereka. Tuhan memiliki hamba-hamba yang setia, yang dalam masa kegoncangan, yaitu masa ujian akan kelak

muncul kelihatan.” — Testimonies, vol. 5, p. 80.

“Jika mereka terus saja dalam keadaan ini, maka Allah akan menolak mereka.” — Testimonies, vol. 6, p. 427.

Akibatnya, sebagaimana yang dihasilkan oleh perbuatan Saul yang kelihatan, yaitu hanya dirinya sendiri yang diturunkan dari tahta oleh seorang raja yang lain, maka demikian itu pula kelak orang-orang besar yang ada sekarang, yaitu mereka yang berada pada kepemimpinan pekerjaan, dan yang menaruh harap kepada “kecerdasan berpikir, kepandaian istimewa, atau talenta”, mereka akan kelak diganti oleh orang-orang yang walaupun tidak memiliki lahiriah yang tergosok rapih, akan kelak “muncul keluar” pada masa ini, sambil mengungkapkan suatu tabiat Kristen asli yang cerah dan murni.” (Untuk penyelidikan selanjutnya terhadap  penggantian kepemimpinan ini, lihatlah buku Traktat kami No. 2 yang berjudul “Paradoks Besar Sepanjang Zaman”).

Selanjutnya, sebagaimana Saul telah menentang Allah oleh menolak meninggalkan tahtanya, dan oleh berusaha menghilangkan nyawa orang yang telah diurapi-Nya, yaitu raja Daud, maka demikian pula sekarang pada bunyi trompet yang ada sekarang kita menemui General Conference sedang menolak untuk membiarkan Allah memegang pemerintahan di dalam tangan-Nya sendiri (Testimonies to Ministers, p. 300), mereka berusaha merebut tahta-Nya dengan cara berketetapan hati, bahwa mereka akan memerintah gereja sampai kepada akhir sejarah dunia ini, dan mereka menggunakan segala kesempatan yang ada untuk membuang kita keluar dari tengah-tengahnya dengan tujuan untuk mengamankan pengawasannya atas gereja. Orang-orang yang sedang melakukan segala perkara ini adalah mereka yang oleh nabi Yehezkiel didengar secara nubuatan mengatakan : “Kota ini adalah kuali, dan kami menjadi dagingnya.” Yehezkiel 11 : 3. Mereka sekarang sedang berbuat apa

saja yang mungkin untuk meninggikan dan untuk mempertahankan mereka secara abadi pada kekuasaan, dan untuk melepaskan diri mereka dari orang-orang yang dalam nama Tuhan telah “memberitakan damai”, dan menghantarkan kepada mereka “kabar-kabar baik” bahwa “orang jahat” kelak tidak lagi berjalan lalu melewati kamu; ia telah ditumpas selengkapnya.” Nahum 1 : 15. Tetapi “kota ini tidak akan menjadi kualimu, demikianlah firman Tuhan, juga kamu tidak akan menjadi daging di tengah-tengahnya; tetapi Aku akan mengadili kamu pada perbatasan Israel.” Yehezkiel 11 : 11.

Mereka yang ingin mengetahui kebenaran bagi dirinya sendiri tentang jenis penanganan apa yang telah kami terima di tangan penguasa-penguasa gereja (seperti yang diperoleh Daud di tangan Saul), dapatlah membaca buku kecil kami Traktat No. 7, Menghitung Semua Bukti Kenyataan Pada Kedua Belah Pihak Sebelum Menentang Ataupun Membela.

Oleh menolak pekabaran yang telah datang kepada mereka dengan amaran-amaran dan tegoran-tegoran, dan karena terus saja mengikuti jalan-jalan mereka yang jahat, maka saudara-saudara kita itu sedang mendesak Tuhan untuk memalu mereka dengan senjata-senjata pembantai dari Yehezkiel pasal 9, kalau saja tidak cepat mereka bertobat. Walaupun mereka sedang dalam perjalanan hendak membunuh diri bersama-sama dengan Saul, namun mereka masih saja mengatakan di dalam hatinya : “Tuhan tidak mau berbuat yang baik, juga Ia tidak mau berbuat yang jahat. Ia adalah terlalu panjang sabar untuk mendatangkan pehukuman atas umat-Nya. Demikianlah damai dan sejahtera adalah merupakan teriakan dari orang-orang yang tidak pernah lagi mengangkat suaranya bagaikan trompet untuk menunjukkan kepada umat Allah segala pendurhakaan mereka dan isi rumah Yakub segala dosa mereka. Anjing-anjing bisu ini, yang tidak mau menyalak, ialah orang-orang yang akan merasakan pembalasan yang adil dari suatu Allah yang murka. Laki-laki, wanita-

wanita dan anak-anak kecil, sekaliannya akan binasa bersama-sama.” — Testimonies, vol. 5, p. 211.

Dan selanjutnya, sebagaimana Saul adalah bertanggung jawab atas kematian bukan saja anak-anaknya, melainkan juga rakyatnya, (1 Samuel 31 : 6), maka demikian pula pihak kependetaan akan bertanggung jawab atas “orang-orang laki-laki, perempuan-perempuan, dan anak-anak kecil” yang gagal memperoleh meterai, dan yang akibatnya binasa di dalam pembantaian itu.

Sungguhpun demikian, walaupun dosa mereka besar serta nasib hukuman mereka sudah pasti, Daud contoh itu, mengungkapkan kenyataan bahwa walaupun mungkin kita memotong rok dari jubah mereka selagi mereka benci dan murka terhadap kita, dan sementara mereka mengejar kita mengelilingi “kandang-kandang domba di tepi jalan” (1 Samuel 24 : 3, 4), atau mungkin kita mengambil “tombak dan tempat air” dari “bantalan kepala” mereka selagi mereka berada dalam “tidur lelap dari Tuhan”, atau bahwa kita mungkin mengasihani mereka, sementara kita mungkin menemukan mereka tertidur di dalam “parit”, atau sedang menutupi kaki mereka di tempat-tempat persembunyian kita (1 Samuel 26 : 7 - 12) dan kita berkesempatan dan mampu untuk menyusahkan mereka, namun tidak kita melukai mereka sedikitpun, tetapi justru kita menemani mereka.

Dan sementara mereka terus menganiaya kita, seperti halnya Saul menganiaya Daud, maka setiap orang yang berada dalam kesusahan, dan setiap orang yang berhutang, dan setiap orang yang berada dalam ketidakpuasan, seperti yang ditunjukkan oleh contoh, akan menggabungkan diri dengan kita (1 Samuel 22 : 2);  sebaliknya semua orang “yang panas tidak dingin pun tidak, …… suam” (merasa puas) bersama-sama dengan malaikat sidang Laodikea berada dalam

bahaya yang kritis karena tetap tinggal “dengan tidak dikasihani dan sengsara, dan miskin, dan buta, dan telanjang”, sebagai akibatnya “akan diludahkan”, yaitu ditolak — “dibunuh.” — Testimonies, vol. 6, p. 427; vol. 5, p. 80; vol. 1, p. 190; vol. 5, p. 211.

Dalam ungkapan yang terdahulu kita saksikan, bahwa mereka yang mematuhi suara dari Gembala yang baik itu adalah dilambangkan dengan pengikut-pengikut Daud, dan bahwa mereka yang tidak mematuhinya dilambangkan dengan Saul dan pengikut-pengikutnya.

Dalam perumpamaan dari Lukas mengenai perjamuan besar Kristus kembali mengemukakan kedua kelas orang-orang itu. Pada satu pihak orang-orang yang bersimpati kepada Saul dalam perumpamaan ini melambangkan orang-orang yang memaafkan diri mereka dengan alasan, bahwa mereka adalah sangat sibuk dalam urusan pekerjaan, sehingga akhirnya “dengan persetujuan bersama mereka mulai berdalih-dalih.” Yang pertama mengatakan kepada-Nya, “Saya telah membeli sepotong tanah, maka saya harus perlu melihatnya; saya mohon kiranya saya dimaafkan. Dan yang lainnya mengatakan, saya telah membeli lembu lima pasang, maka saya akan pergi mencobanya; saya mohon kiranya saya dimaafkan. Dan yang lainnya mengatakan, saya baru kawin, maka sebab itu saya tak dapat datang.” Sebaliknya, para pengikut Daud melambangkan orang-orang yang ditemui di “jalan-jalan dan lorong-lorong” dari negeri itu — yaitu “orang-orang miskin, dan orang-orang buntung, dan orang-orang timpang, dan orang-orang buta.” Lukas 14 : 17 - 24.

Tak lama kemudian setelah diberitahukan kepada Saul oleh Samuel, bahwa karena ketidaksetiaannya, Allah telah menolaknya sebagai pemimpin atas umat-Nya, maka secara diam-diam Samuel telah diutus untuk mengurapi Daud untuk memerintah

menggantikan Saul. Dan walaupun Saul telah diberitahu, bahwa Tuhan telah menolaknya, namun ia menolak untuk melepaskan tahtanya, dengan akibat bahwa orang-orang Philistin sedang mengepung tentaranya, dan sedang akan merebut kerajaan itu. Raksasa Goliat itu telah “berdiri dan berseru kepada bala tentara Israel, sambil mengatakan kepada mereka, mengapa kamu keluar hendak mengikat perang? Bukankah aku ini seorang Philistin dan kamu sekalian hamba dari Saul? Pilihlah bagimu akan seorang, dan biarlah ia datang kepadaku. Jikalau dapat ia berperang dengan aku dan mengalahkan daku, maka kami sekalian akan menjadi hambamu, tetapi jikalau aku mengalahkan dia dan membunuhnya, maka kamu kelak akan menjadi hamba-hamba kami dan takluk kepada kami.  Dan lagi kata orang Philistin itu : Pada hari ini aku menetang segala bala tentara Israel; berikanlah kepadaku seorang laki-laki supaya kita berperang bersama-sama. Setelah segala perkataan orang Philistin itu didengar oleh Saul dan seluruh Israel, maka tercenganglah mereka dengan ketakutan yang amat sangat.” 1 Samuel 17 : 8 - 11.

Walaupun tak berarti bahkan seorang remaja yang diremehkan oleh saudara-saudaranya, dan bahkan dianggap rendah oleh orang-orang lainnya, maka kata Daud kepada Saul : “Jangan seorang pun kecil hati karena orang itu; hambamu akan pergi dan memerangi orang Philistin itu. Lalu diambilnya tongkatnya di dalam tangannya, dan dipilihnya lima buah batu yang licin dari sungai, lalu dimasukkannya ke dalam kantong gembala yang ada padanya, yaitu di dalam tempat batunya; dan ali-alinya berada dalam tangannya; lalu datanglah ia menghampiri orang Philistin itu. Maka Daud memasukkan tangannya ke dalam kantongnya, lalu mengeluarkan sebuah batu, lalu diayunkannya batu itu, dan ia itu kena pada dahi orang Philistin itu, sehingga batu itu terbenam dalam dahinya, lalu rebahlah ia tersungkur dengan mukanya

ke bumi. Demikianlah Daud telah menang atas orang Philistin itu dengan sebuah ali-ali dan sebuah batu dan ia berhasil memalu orang Philistin itu dan membunuhnya; tetapi tiada sebuah pedang pun di dalam tangan Daud. Sebab itu berlarilah Daud datang dan berdirilah ia di atas tubuh orang Philistin itu, diambilnya akan pedangnya, dihunuskannya pedang itu dari sarungnya, lalu dibunuhnya akan dia dan dipancungkannya kepalanya dengan pedang itu. Maka setelah orang-orang Philistin itu melihat pahlawan mereka telah mati, maka larilah mereka itu sekaliannya.” – 1 Samuel 17 : 32, 40, 49 - 51.

Kemenangan Daud atas raksasa itu terhadap siapa tak seorangpun mampu memeranginya, adalah melambangkan kemenangan sidang (isi rumah Daud—Zakharia 12 : 8), dalam “masa kesusahan besar yang sedemikian itu belum pernah ada”, atas binatang itu dan patungnya (Goliat contoh saingan), yang karena kehebatannya Pewahyu bertanya : “Siapakah yang sama dengan binatang itu? Siapakah yang mampu memerangi dia?” dengan begitu, maka raksasa itu, Goliat, melambangkan orang-orang yang kini menentang hamba-hamba Allah, dan yang kelak membentuk patung dari binatang itu, yaitu gabungan agama-politik yang kelak menentang bala tentara Tuhan, lalu mengeluarkan keputusan “supaya tak seorang pun boleh membeli atau menjual, terkecuali orang yang memiliki tanda itu, atau nama binatang itu, atau angka bilangan dari namanya ….. dan membuat agar sebanyak orang yang tidak mau menyembah patung binatang itu supaya dibunuh.” Wahyu 13 : 17, 15.

Tetapi “pada hari itu”, demikianlah firman Tuhan, “Aku akan membuat Yerusalem menjadi sebuah batu penumbuk bagi segala bangsa; segala orang yang membebani dirinya dengan batu itu akan dihancurkan

berkeping-keping, sekalipun segala bangsa di bumi akan dihimpunkan melawannya. Pada hari itu Tuhan akan kelak melindungi semua penduduk Yerusalem; maka orang yang lemah di antara mereka pada hari itu akan jadi seperti Daud; dan isi rumah Daud akan jadi seperti Allah, seperti malaikat Tuhan di hadapan mereka itu.Zakharia 12 : 3, 8.

Lima batu yang licin di dalam kantong Daud itu, yang dengan salah satunya ia membunuh Goliat, adalah melambangkan lima rangkap kuasa di dalam kantong gembala contoh saingan (Alkitab), yang dengan salah satu bagiannya Allah akan memalu binatang itu dan patungnya di waktu ini, yaitu bangsa-bangsa — yaitu Goliat contoh saingan. Dan karena sebagai kita ketahui, bahwa adalah oleh firman-Nya, dalam bentuk sebuah pekabaran, Ia akan memalu bangsa-bangsa, maka jelaslah bahwa lima buah batu yang licin itu adalah melambangkan lima pekabaran, dan pekabaran yang terakhir itulah yang akan melukai binatang itu, membinasakan patungnya, dan membebaskan umat Allah dari ketakutan terhadap orang-orang Kapir.

Dengan demikian sebagaimana lima buah batu di dalam kantong gembala itu adalah lambang dari lima pekabaran, maka sebab itu pekabaran-pekabaran itu perlu diatur jadwalnya di sesuatu tempat di dalam Alkitab. Sekaliannya itu terdapat dalam perumpamaan Kristus mengenai kebun anggur : pertama, pada jam “pagi-pagi sekali” (upacara bayangan); kedua : pada “jam tiga” (penyaliban dan kebangkitan Kristus); ketiga : pada “jam enam” (dua ribu tiga ratus hari dari Daniel 8 : 14); keempat : pada “jam sembilan” (pehukuman orang mati); kelima, dan yang terakhir : pada “jam kesebelas” (pehukuman orang hidup, masa dari seruan keras), yang akan

melukai binatang itu, dan dengan pedangnya sendiri (sepuluh tanduk dari Wahyu 17 : 16), memotong putus kepalanya, dan kemudian dengan api membinasakannya, sehingga luka itu tidak akan pernah sembuh kembali. Oleh sebab itu, dalam pekabaran mengenai jam terletak jaminan keselamatan bagi umat Allah. (Untuk suatu penyelidikan lengkap terhadap perumpamaan dari Matius 20 : 1 - 16, dan dari hal binatang Wahyu pasal 17, bacalah buku Tongkat Gembala, jilid II, hal. 315 - 341; 194 - 203).

Memberitakan “hari Tuhan yang besar dan mengerikan itu” (Malekahi 4 : 5), yaitu “suatu hari pembantaian” (Yesaya 30 : 25), dan “suatu hari kegelapan” (Yoel 2 : 2), maka pekabaran yang terakhir ini akan didengungkan pada jam kesebelas — yaitu sebelum masa di mana seperti yang diramalkan oleh Yohanes, bahwa “segala raja di bumi, dan orang-orang besar, dan orang-orang kaya, dan para penghulu, dan orang-orang gagah perkasa, dan setiap hamba sahaya, dan setiap orang yang merdeka, akan menyembunyikan diri mereka di dalam lubang-lubang dan di dalam batu-batu karang dari gunung-gunung; dan mengatakan kepada gunung-gunung dan batu-batu karang itu : ‘timpahlah kami, dan sembunyikanlah kami dari wajah Dia yang duduk pada tahta itu, dan dari murka Anak Domba itu, karena hari besar murka-Nya itu telah sampai; maka siapakah yang dapat berdiri” (Wahyu 6 : 15 - 17)? — tidak seorang pun terkecuali orang-orang benar, yaitu para pemimpin sidang yang akan datang, seperti yang dilambangkan oleh pemerintahan dari Daud.

“Siapakah yang telah membangkitkan orang benar itu dari timur, yang telah memanggilnya berdiri, menyerahkan segala bangsa ke hadapannya, dan menjadikan dia raja atas segala raja? Ia menyerahkan mereka itu bagaikan debu kepada pedangnya, dan bagaikan jerami

yang tertiup kepada panahnya. Ia mengejar mereka itu, dan berlalu dengan selamat, walaupun melalui jalan yang belum pernah dilaluinya dengan kakinya. Aku telah membangkitkan seseorang dari utara, maka ia akan datang kelak; dari sebelah matahari naik ia akan kelak menyebut nama-Ku; maka ia akan datang ke atas segala penghulu bagaikan atas mortir dan bagaikan tukang periuk yang menginjak-injak tanah liat.” Yesaya 41 : 2, 3, 25.

“Tengoklah, Aku telah memberikan dia bagi suatu saksi bagi bangsa itu, seorang pemimpin dan pemerintah bagi bangsa itu. Tengoklah engkau akan memanggil suatu bangsa yang tidak kamu kenal, dan bangsa-bangsa yang tidak mengenalmu akan berlarian datang kepadamu karena sebab Tuhan Allahmu, dan karena Dia Yang Suci dari Israel itu; karena Ia telah memuliakan kamu.”

“Carilah Tuhan selagi Ia masih dapat ditemui, berserulah kepada-Nya selagi Ia masih dekat.” Yesaya 55 : 4 - 6.

Karena, demi kehormatan Allah dan demi kebahagiaan umat-Nya, maka baik pekabaran Eliyah maupun pemerintahan Daud keduanya telah menghabiskan banyak nyawa orang (pekabaran Eliyah menghabiskan nyawa para guru yang murtad di Israel -- 1 Raja-raja 18 : 40); dan pemerintahan Daud menghabiskan nyawa orang-orang Kapir yang menentang Allah dan bala tentara-Nya — 1 Tawarikh 22 : 6 - 8), oleh sebab itu pekabaran Eliyah khususnya merupakan contoh dari hari pembantaian di dalam sidang, dan pemerintahan Daud merupakan contoh dari pembinasaan orang-orang Kapir dan penguasaan bumi (Zakharia 12 : 8, 9; Yeremia 30 : 3, 9). Atas mana Kristus (putera Daud itu) akan kelak muncul terlihat, mengambil bagi diri-Nya kerajaan-Nya (Lukas 19 : 15), lalu memuliakannya dengan perdamaian abadi (seperti yang dilambangkan oleh pemerintahan

yang damai dari putera Daud, yaitu Salomo). Maka pada masa peristiwa-peristiwa contoh saingan ini akan kelak menjadi kenyataan sepenuhnya perjanjian berikut ini :

“Akan jadi kelak apabila sudah genap bilangan hari hidupmu sehingga engkau (Daud) harus pulang kepada segala nenek moyangmu, bahwa Aku akan membangkitkan benihmu kemudian daripadamu, yaitu salah seorang daripada segala anakmu laki-laki, maka Aku akan menetapkan kerajaannya. Ia akan membangun bagi-Ku sebuah rumah, dan Aku akan menetapkan tahtanya untuk selama-lamanya. Aku akan menjadi Bapa baginya, dan ia akan menjadi anak-Ku laki-laki; maka tiada Aku akan melalukan kemurahan-Ku daripadanya, seperti yang sudah Ku lalukan daripada orang yang dahulu daripadamu itu.” 1 Tawarikh 17 : 11 - 13. “Apabila orang benar memegang kuasa, maka bersukacitalah orang banyak itu; tetapi apabila orang jahat itu memegang perintah, maka orang banyak itu merataplah.” Amsal 29 : 2.

Sementara bagi orang benar, Ia akan membuat kerajaan itu menjadi tempat dan perlindungan-Nya, sebaliknya bagi orang Kapir, 

Allah Akan Membuatnya Menjadi Senjata Perang-Nya. 

“Bahwa engkaulah bagi-Ku akan kapak, dan akan senjata-senjata perang,” demikianlah pernyataan Tuhan dalam menunjukkan kepada keturunan Yakub nasib mereka yang terakhir, ”karena dengan dikau akan Ku hancurkan segala bangsa, dan dengan dikau akan Ku binasakan segala kerajaan; dan dengan dikau akan Ku hancurkan kuda berikut pengendaranya; dan dengan dikau akan Ku hancurkan kereta dan penumpangnya; dengan dikau akan Ku hancurkan laki-laki dan perempuan, dan dengan dikau akan Ku hancurkan baik tua maupun muda; dan dengan dikau akan Ku hancurkan

baik teruna maupun anak dara; Aku juga akan membinasakan bersama-sama dengan dikau gembala berikut kawanan dombanya; dan dengan dikau akan Ku hancurkan petani dan pasangan lembunya; dan dengan dikau akan Ku hancurkan orang-orang besar dan pemerintah-pemerintah.” Yeremia 51 : 20 - 23.

“Batu itu” (Daniel 2 : 45; Zakharia 3 : 9), yaitu mereka yang 144.000 itu (Wahyu 14 : 1), “terpotong keluar dari gunung (sidang Laodikea) tanpa pertolongan tangan” (tanpa bantuan manusia), akan menghancurkan segala bangsa yang dilambangkan oleh “besi,  tembaga, tanah liat, perak, dan emas” dari patung yang besar itu. Maka “semua yang membebani diri mereka dengannya akan kelak dihancurkan, walaupun semua orang di bumi berhimpun bersama-sama melawannya.” Demikianlah “pada zaman raja-raja ini Allah dari sorga akan kelak mendirikan sebuah kerajaan yang tidak pernah akan dapat dibinasakan; dan kerajaan itu tidak akan diserahkan kepada bangsa lain, tetapi ia itu akan menghancurkan dan menghabiskan sekalian kerajaan ini, dan ia sendiri akan berdiri selama-lamanya.” Daniel 2 : 44.

“Tetapi di atas Gunung Sion akan terdapat kelepasan, dan akan terdapat di sana kesucian; maka isi rumah Yakub akan mewarisi harta milik mereka. Dan isi rumah Yakub akan jadi bagaikan api, dan isi rumah Yusuf seperti nyala api, dan isi rumah Esau seperti jerami, dan mereka akan menyalakan api dalam mereka itu, lalu memakan habis mereka itu; maka satupun tiada yang tertinggal dari isi rumah Esau; karena Tuhan telah berbicara begitu. Maka mereka yang dari selatan akan mewarisi gunung Esau; dan mereka yang dari tanah dataran akan mewarisi

negeri Philistin; dan mereka akan mewarisi padang-padang Ephraim, dan padang-padang Samaria; dan Benjamin akan mewarisi Gilead. Dan para tawanan rombongan besar bani Israel ini akan mewarisi tanah orang-orang Kanani, bahkan sampai ke Zarfat; dan para tawanan Yerusalem yang di Sefarat akan mewarisi kota-kota dari selatan. Maka beberapa orang penolong akan datang naik ke atas Gunung Sion untuk mengadili gunung Esau; maka kerajaan itu akan menjadi milik Tuhan.”

“Maka akan jadi kelak, bahwa barangsiapa yang kelak menyebut nama Tuhan ia akan terpelihara; karena di Gunung Sion dan di Yerusalem akan terdapat kelepasan, sesuai dengan firman Tuhan, demikian pula di dalam mereka yang sisa itu yang akan dipanggil oleh Tuhan.” - Obaja 1 : 17-21; Yoel 2 : 32.

“Karena bangsa dan kerajaan yang tidak mau berbakti kepada-Mu akan binasa; bahkan, bangsa-bangsa itu akan dihabiskan sama sekali.” Yesaya 60 : 12.

Dari kata-kata firman di atas kita saksikan, bahwa sebagai akibat dari menolak kebenaran yang diberitakan oleh sidang-Nya, maka orang-orang jahat akan masuk ke dalam kebinasaan. Dan dalam mendengungkan pemberitaan nubuatan ini mengenai hukuman mereka, Kristus mengatakan : “Maka orang yang menang, dan yang memelihara segala pekerjaan-Ku sampai kepada kesudahan, maka Aku akan memberikan kepadanya kuasa atas segala bangsa; maka ia akan memerintah mereka itu dengan sebuah tongkat besi; seperti periuk-periuk belanga dari tanah liat mereka itu akan hancur remuk; yaitu seperti yang Ku terima dari Bapa-Ku.” Wahyu 2 : 26, 27.

“Orang yang menang” adalah orang yang akan “memerintah” “bangsa-bangsa” dengan sebuah “tongkat besi”, maka

keperluan dan pekerjaan memenangkan itu bukanlah milik-Nya, melainkan milik para pengikut-Nya, maka kebenaran itu cukup jelas, bahwa Tuhan hendak memiliki suatu bangsa yang menang — yaitu suatu kerajaan yang oleh siapa Ia hendak memanifestasikan kuasa-Nya yang besar, dan yang kelak merupakan

Sebuah Kerajaan Perdamaian.

Bahwa suatu keamanan dan perdamaian yang menyerupai sorga akan memasuki kerajaan itu pada masa itu, bahwa Allah akan menggunakannya sebagai “senjata perang-Nya” dengan mana Ia akan memalu bangsa-bangsa; ini terbukti dari kata-kata firman berikut ini yang berbunyi :

“Serigala pun akan tinggal bersama-sama dengan anak domba, dan harimau kumbang akan berbaring bersama-sama dengan anak kambing; dan anak lembu dan singa muda dan lembu jantan akan bermain bersama-sama; dan seorang anak kecil akan menggembalakan mereka itu. Dan kerbau dan beruang akan makan bersama-sama; dan anak-anak merekapun akan berbaring bersama-sama; maka singa akan makan jerami seperti lembu. Maka anak penyusu akan berman-main pada lubang ular beludak, dan anak-anak yang baru lepas susu itu akan memasukkan tanganya ke dalam lobang ular tedung. Mereka tidak akan lagi melukai atau merusak di dalam seluruh bukit kesucian-Ku; karena bumi akan kelak penuh dengan pengetahuan dari Tuhan, sama seperti halnya segala air menutupi laut.” Yesaya 11 : 6 - 9. Bilamana keadaan ini mengenai pengetahuan dan perdamaian menguasai sepenuhnya di dalam kerajaan itu, maka “pada hari itulah kelak akan ada sebuah akar dari Isai, yang akan berdiri bagi suatu tanda alamat dari orang-orang itu; kepadanyalah segala orang Kapir akan bertanya-tanya : (dengan sendirinya ini akan terjadi dalam masa kasihan) dan ….. pada hari itu, ….. Tuhan akan merentangkan tangan-Nya kembali pada kedua kalinya

untuk menyambut umat-Nya yang sisa.” Yesaya 11 : 10, 11.

“Maka pada hari itu,” demikianlah firman Tuhan melalui nabi-Nya Hosea, dalam mengulangi kembali janji perdamian-Nya, “Aku akan membuat sebuah janji bagi mereka dengan segala binatang di padang, dan dengan segala unggas di langit, dan dengan segala binatang melata di tanah; dan Aku akan mematahkan panah dan pedang dan peperangan dari bumi, dan Aku akan membuat mereka itu berbaring dengan sentausa.” Hosea 2 : 18. (Untuk pelayanan yang lebih terperinci terhadap Hosea pasal satu dan dua bacalah buku kami Traktat No. 4, Berita-Berita Terakhir Bagi Ibu).

Seperti halnya di dalam bahtera Nuh, contoh itu, maka demikian pula di dalam bahtera contoh saingannya, kerajaan itu, tak ada sesuatupun yang akan menyakiti atau merusak; singa, serigala, anak domba, harimau kumbang, kambing jantan, dan anak lembu akan hidup damai bersama-sama, lalu seperti lembu sekalian mereka itu akan makan “jerami”. Demikianlah sekarang, seperti halnya di zaman Nuh, Allah akan mempertahankan sesuatu yang tertinggal dari manusia dan binatang dari seluruh ciptaan-Nya, dan bukan membasmi setiap mahluk yang hidup lalu kemudian menciptakan mereka kembali.

Oleh mengenali akan kenyataan ini, maka rasul Paulus mengatakan : “Sebab dengan sangat rindu seluruh mahluk  menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan. Karena seluruh mahluk telah ditaklukkan ke bawah kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, melainkan oleh kehendak dia yang menaklukkannya dalam harapan, karena mahluk itu sendiri pun akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah. Sebab kita tahu bahwa

sampai sekarang segala mahluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin. Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita.” Roma 8 : 19 - 23.

“Maka Ia akan membinasakan di atas Gunung ini (kerajaan perdamaian ini)”, demikian kata Yesaya, “tudung muka yang menudungi segala bangsa, dan kain selubung yang terhampar menutupi segala bangsa. Maka maut akan ditelan-Nya dengan kemenangan, dan air mata akan dihapus Tuhan Hua dari muka segala orang, dan dijauhkan-Nya kecelaan dari umat-Nya di atas seluruh muka bumi, karena demikianlah firman Tuhan.”

“Maka pada hari itu orang akan berkata demikian (pada hari Tuhan menghapuskan air mata dari wajah segala umat-Nya), ‘Lihat, inilah Allah kita, kita sudah menantikan Dia, maka Ia akan menyelamatkan kita. Inilah Tuhan, kita telah menantikan Dia, kita akan bersukaria dan bergembira dalam keselamatan-Nya. Karena tangan Tuhan akan diam di atas Gunung ini, dan Moab akan dipijak-pijak di bawahnya, bahkan bagaikan jerami dipijak-pijak menjadi timbunan sampah.” Yesaya 25 : 7 - 10. “Maka penduduk di situ tidak akan mengatakan, “Aku sakit”, semua orang yang diam di sana akan diampuni segala kesalahan mereka.” Yesaya 33 : 24.

“Pujilah Tuhan, hai jiwaku”, demikian kegembiraan Daud, “dan akan nama-Nya yang suci, hai segala sesuatu yang di dalam aku! Pujilah akan Tuhan, hai jiwaku dan janganlah engkau melupakan segala

kebajikan-Nya; Yang mengampuni semua kesalahanmu; Yang mengobati segala penyakitmu; Yang menebus hidupmu dari kebinasaan; Yang memahkotai dikau dengan kasih sayang dan kemurahan-kemurahan yang lemah lembut; Yang mengenyangkan mulutmu dengan kabar-kabar baik; sehingga masa mudamu diperbarui kembali bagaikan dari burung elang.” Mazmur 103 : 1 - 5. (Bagi penyelidikan selanjutnya terhadap masalah hidup yang berkelanjutan, lihatlah buku kami Traktat No. 5, Amaran Terakhir).

“Maka Aku akan memperkuat isi rumah Yehuda, dan Aku akan menyelamatkan isi rumah Yusuf, dan Aku akan membawa kembali mereka itu ke tempat mereka; karena Aku mengasihani mereka, maka mereka akan jadi kelak seolah-olah Aku belum pernah membuang mereka itu; karena Akulah Tuhan Allah mereka, dan akan mendengarkan mereka itu. Dan mereka yang dari Ephraim akan jadi kelak bagaikan seorang perkasa, dan hati mereka akan bersuka ria seperti orang yang mabuk air anggur; bahwasanya anak-anak mereka akan menyaksikannya, dan bergembira; hati mereka akan bersuka cita dalam Tuhan. Maka Aku akan mengisyaratkan bagi mereka itu, lalu mengumpulkan mereka itu, karena Aku sudah menebus mereka itu; maka mereka akan bertambah-tambah banyaknya seperti halnya mereka telah meningkat jumlahnya. Maka Aku akan menabur mereka itu di tengah-tengah segala bangsa; dan mereka akan mengenang akan Daku di negeri-negeri yang jauh; dan mereka akan hidup bersama-sama dengan anak-anaknya, lalu kembali lagi. Aku akan menghantarkan mereka kembali juga dari negeri Mesir, dan menghimpunkan mereka dari Assyiria; maka Aku akan membawa mereka itu masuk ke tanah Gilead dan Libanon; tetapi tempat tidak akan cukup ditemukan bagi mereka. Dan ia akan melewati laut dengan kepicikan, dan ia akan memalu segala ombak di laut, dan segala kedalaman sungai akan kering; maka kesombongan Assyiria akan ditumbangkan,

dan tongkat kerajaan Mesir akan menyingkir. Maka Aku akan menguatkan mereka itu dalam Tuhan; dan mereka akan berjalan ke sana kemari dalam nama-Nya, demikianlah firman Tuhan” (Zakharia 10 : 6 - 12) — jaminan yang tak mungkin gagal bahwa hak istimewa itu adalah milik kita untuk 

Menyerahkan Kepada Allah Memerintah Atas Kita.

Berabad-abad lamanya para pengikut Kristus telah berdoa, “Datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu.” Kini karena masa itu telah sampai bagi doa itu untuk digenapi, maka marilah kita menghidupkan doa-doa kita, supaya jangan seseorang dari kita kelak didapati di antara kelas orang-orang yang tidak setia itu dengan siapa Kristus menyimpulkan perumpamaan berikut ini :

“Sebab itu kata Yesus : ‘Ada seseorang bangsawan hendak berangkat ke negeri yang jauh hendak menerima kerajaan bagi dirinya, lalu kembali. Maka dipanggilnya sepuluh orang hambanya, lalu diberinya kepada mereka itu sepuluh kati perak, dan mengatakan kepada mereka : Pakailah ini untuk dagang sampai aku kembali. Tetapi warga negeri itu membenci dia, lalu mengirim berita mengikuti dia, mengatakan : Kami tidak mau orang ini menjadi raja atas kami. Tatkala ia kembali daripada menerima kerajaan itu, maka disuruhnya memanggil segala hamba yang telah diberinya uang perak itu datang kepadanya, supaya dapat ia ketahui berapa banyak masing-masing mereka telah memperoleh untung dari perdangan mereka itu.”

“Kemudian datanglah yang pertama itu menghadap sambil mengatakan, Ya Tuan, perak Tuan yang sekati itu telah menghasilkan sepuluh kati lebihnya. Maka kata Tuan itu kepadanya : Berbahagialah, hai hamba yang baik, karena kamu telah setia dalam sesuatu yang sangat sedikit, maka engkau diberikan kuasa memerintah atas sepuluh kota.”

“Maka datanglah yang kedua itu sambil mengatakan, Ya Tuan, perak Tuan yang sekati itu sudah menjadi lima kati lebihnya. Maka kata Tuan itu juga kepadanya, Engkau pun ditetapkan memerintah atas lima buah kota.”

“Maka datanglah yang lainnya menghadap, katanya : Ya Tuan, tengoklah, inilah perak Tuan yang sekati itu yang telah hamba simpan di dalam sebuah sapu tangan; karena hamba takut akan Tuan, sebab Tuan adalah seorang yang keras hati; Tuan mengambil apa yang Tuan tidak taruh, dan menuai apa yang tidak Tuan tabur. Maka kata Tuan itu kepadanya, hai hamba yang jahat, oleh perkataanmu itu juga Aku akan mengadilimu. Sudahkah engkau ketahui, bahwa Aku ini seorang yang keras hati yang mengambil barang yang tiada Ku taruh, dan menuai barang yang tiada Ku tabur? Apa sebabnya tiada engkau taruhkan uang perak-Ku itu di dalam bank, supaya pada kedatangan-Ku kembali dapat Ku ambil uang itu berikut bunganya? Lalu katanya kepada mereka yang berdiri di situ : Ambillah daripadanya perak yang sekati dan serahkanlah kepada dia yang memiliki sepuluh kati. (Maka kata mereka itu kepadanya, Tuan, ia telah memiliki sepuluh kati).”

“Karena Aku mengatakan kepadamu, bahwa kepada setiap orang yang memiliki, kepadanya akan diberikan; dan dari dia yang tidak memiliki, bahkan apa yang dipunyainyapun akan diambil daripadanya. Tetapi segala musuh-Ku itu yang tidak suka Aku memerintah atas mereka itu, bawalah kemari, bunuhlah mereka itu di hadapan-Ku.”— Lukas 19 : 12 - 27.

“Seseorang bangsawan itu” dalam perumpamaan ini ialah Kristus, Dia sendiri, Yang segera sesudah kebangkitan-Nya telah bertolak ke surga dari segala langit itu, yaitu “negeri yang jauh itu”, untuk dimahkotai sebagai Raja atas segala raja dan Tuhan atas segala tuhan. Hamba-hamba-

Nya yang sepuluh orang itu, yang akan berdagang sampai Ia datang melambangkan pihak kependetaan pada penutupan sejarah Injil. Dan warga-warga-Nya itu sesuai dengan itu melambangkan para anggota biasa —warga dari kerajaan-Nya. Maka hamba-hamba-Nya dan para warga-Nya itu bersama-sama membentuk keseluruhan kerajaan-Nya itu – sidang.

Sebagaimana halnya mereka “mengirim kabar mengikuti Dia, yang mengatakan, Kami tidak mau orang ini memerintah atas kami”, satu-satunya kesimpulan yang dapat diterima ialah bahwa tak lama sebelum Ia kembali, Kristus akan memberitahukan kepada “warga-Nya” bahwa Ia sedang memegang “tampuk pemerintahan di dalam tangan-Nya sendiri” untuk mendirikan kerajaan-Nya, dan bahwa mereka, setelah mendengar pemberitahuan ini, mereka akan menolak untuk menyerahkan dirinya kepada seseorang itu oleh siapa Ia akan memerintah.

Perhatikanlah, bahwa di dalam pesan yang mereka “kirim menyusul Dia itu”, hamba-hamba-Nya itu tidak mengatakan : “Kami tidak mau Engkau memerintah atas kami”, melainkan “kami tidak mau orang ini memerintah atas kami.” Apa yang menjadi keberatan mereka ialah pemerintahan Kristus atas mereka itu oleh perantaraan seseorang yang lain. Maka jelaslah, bahwa sebelum Ia dinobatkan sebagai Raja, dan mendahului kembali-Nya untuk membuat perhitungan dengan hamba-hamba-Nya itu, Ia akan menunjuk “seseorang” untuk memerintah atas mereka itu menggantikan-Nya. Sesudah mana mereka mengatakan kepada-Nya, oleh sikap dan pendirian mereka terhadap pekabaran-Nya, “Kami tidak mau orang ini memerintah atas kami”, walaupun “orang ini” sebagaimana kita ketahui sekarang adalah Daud contoh saingan (“alat sederhana” itu), yaitu raja yang kelihatan.

Dengan demikian apabila Kristus kembali dan membuat perhitungan dengan hamba-hamba-Nya, maka Ia akan memberi pahala kepada orang-orang yang setia seimbang sebagaimana mereka telah meningkatkan modal itu dengan mana mereka telah memulaikannya sejak mulanya. Tetapi Ia akan menghukum orang-orang yang tidak memikul beban tanggung jawab untuk bekerja bagi jiwa-jiwa dan untuk memajukan kerajaan-Nya, dan merasa puas membiarkan Dia sendiri bekerja tanpa bantuan pelayanan mereka. Karena ketidaksetiaan ini, maka Ia mengambil kembali dari mereka “uang perak itu”, yaitu terang kebenaran, dengan mana Ia telah mempercayakan kepada mereka, sambil menunjukkan, bahwa oleh karenanya semua orang akan diminta bertanggung jawab “bagi setiap sinar terang”, bagi setiap saat yang lenyap sia-sia, bagi setiap kesempatan yang dilalaikan. Maka mereka yang tidak mau Dia memerintah atas mereka itu, akan kelak, pada kedatangan-Nya kembali, dibunuh di hadapan-Nya sama seperti halnya orang-orang yang mendurhaka melawan pemerintahan Allah di zaman dahulu.

Orang-orang Yahudi pada kedatangan Kristus yang pertama salah mengartikan tugas misi-Nya, sebab mereka adalah buta terhadap apa yang diajarkan dari pekabaran mereka (upacara bayangan), dan terhadap apa yang telah ditulis oleh para nabi dari hal Dia, mereka telah salah mengartikan ajaran-Nya dari hal kerajaan itu. Karena terlalu mengharapkan hasil dari harapan mereka dari hal kerajaan itu yang sudah lama dianutnya, maka mereka telah menjadi bingung oleh ajaran-ajaran Kristus yang aneh, sehingga gantinya mereka menerima kesalahan-kesalahan mereka ditelanjangi di depan orang banyak yang mereka pelihara dalam kegelapan, mereka siap melempari-Nya dengan batu sampai mati. Demikianlah halnya dengan sidang pada waktu ini. Ia pun buta terhadap pekabaran dari hal jam, dan terhadap kebenaran dari hal kerajaan Kristus, sama seperti halnya dengan orang-orang Yahudi dalam sejarah mereka yang lalu. Maka sebagaimana pekabaran ini mengetok pada pintunya dengan amaran-amaran, maka jawabannya adalah, Pergilah daripadaku, aku

“kaya dan telah melimpah kekayaanku, sehingga tidak memerlukan apa-apa lagi”, walaupun ia sesungguhnya adalah “tidak terkasihan, dan sengsara, dan miskin, dan buta, dan telanjang.”

Sidang di zaman Kristus telah bertekad untuk mendirikan kerajaan pada masa itu sewaktu belum semua orang bersedia baginya; sidang di waktu ini bertekad bukan untuk mendirikannya sekarang, sewaktu “akhir dari segala perkara telah dekat” (1 Petrus 4 : 7), — sewaktu masanya sepenuhnya sudah sampai. Orang-orang Yahudi ingin mendapatkan kembali kerajaan itu yang telah lepas dari mereka — yaitu suatu kerajaan yang penuh dosa dan orang-orang berdosa. Mereka ingin sekali bebas dari hanya perhambaan Romawi daripada dosa dan dari orang-orang berdosa. Akibatnya, setelah Kristus mengatakan : “Kerajaan-Ku bukanlah dari dunia ini” (Yohanes 18 : 36), maka mereka tidak mau menyetujuinya begitu; sebaliknya sidang pada waktu ini, sambil dengan buta mengabaikan Injil yang dengan jelas menyatakan, bahwa Allah kini sedang mendirikan kerajaan-Nya yang tidak bercacad cela, dan Ia akan membebaskan umat-Nya bukan hanya dari perhambaan Babil, melainkan juga dari dosa dan orang-orang berdosa, mereka bertekad untuk menyingkirkannya sampai sesudah masa seribu tahun milenium. Demikianlah adanya pertentangan dari hati manusia yang kacau — justru dalam menghadapi kenyataan, bahwa dalam setiap perjalanan ia terlihat sudah sampai pada perbatasan dari kekekalan itu, 

Dalam Keadaannya Yang Suci.

Dalam salah satu dari nubuatan-nubuatan yang luas, Yesaya memproyeksikan dalam bentuk-bentuk yang sama dengan tepat contoh saingannya yang besar mengenai pergerakan Eksodus itu sebagai berikut : “Maka akan ada sebuah jalan raya bagi umat-Nya yang sisa, yang tertinggal

dari Assyiria; sama seperti halnya dengan Israel pada hari ia itu keluar dari negeri Mesir.” Yesaya 11 : 16. Seperti halnya “paskah” dan “pembantaian anak-anak sulung” (buah-buah pertama) yang tidak memiliki darah pada “ambang pintu”, telah melepaskan umat Allah yang dahulu dari perhambaan Mesir, maka demikian pula kelak paskah contoh saingan (Yehezkiel 9 : 4; Yesaya 66 : 16) akan melepaskan buah-buah pertama, mereka yang 144.000 itu, anak sulung-Nya yang sekarang, dari perhambaan dosa dan dari orang-orang berdosa di waktu ini.

“Maka akan jadi kelak, bahwa orang yang tertinggal di Sion, dan dia yang masih tinggal di Yerusalem akan kelak disebut suci, yaitu setiap orang yang tertulis namanya di antara orang-orang hidup yang di Yerusalem; apabila Tuhan kelak selesai membasuh kekotoran segala puteri Sion, dan kelak selesai membersihkan darah dari Yerusalem dari tengah-tengahnya oleh roh hukum dan oleh roh pembakaran. Maka Tuhan akan menciptakan di atas setiap tempat tinggal dari Gunung Sion, dan di atas seluruh perhimpunannya, sebuah awan dan asap pada siang hari, dan sebuah nyala api yang terang pada malam hari; karena di atas semuanya kemuliaan akan menjadi satu pertahanan. Maka akan terdapat sebuah tabernakel bagi tempat berteduh pada siang hari daripada panas, dan bagi sebuah tempat berlindung, dan bagi sebuah tempat sembunyi dari angin ribut dan dari hujan.” Yesaya 4 : 3 - 6. (Bagi suatu penyajian yang lebih terperinci dari hal pergerakan eksodus itu dalam contoh dan contoh saingannya, bacalah Tongkat Gembala, jilid 1, hal. 93 - 167).

Dalam terang dari kebenaran sekarang yang berkenan dengan kerajaan itu, maka nubuatan berikut ini (bersama-sama dengan

nubuatan-nubuatan lainnya yang banyak itu) adalah terbuka dengan sendirinya :

“Bangunlah, bangunlah, kenakanlah kuatmu, hai Sion, kenakanlah semua pakaian perhiasanmu hai Yerusalem, kota suci, karena mulai dari sekarang tidak akan lagi masuk ke dalammu orang-orang yang tidak bersunat maupun yang keji. Kebaskanlah abu daripadamu, bangunlah dan duduklah (pada tahtamu), hai Yerusalem; lepaskanlah pengikat-pengikat leher —(buatan manusia) mu, hai puteri Sion yang tertawan. Karena demikianlah Firman Tuhan, bahwa kamu sudah menjual dirimu sendiri dengan sia-sia, maka kamu pun akan ditebus dengan tiada harga. Karena demikianlah firman Tuhan Hua : Pada zaman dahulu kala umat-Ku telah turun ke Mesir hendak menumpang di sana sebagai orang asing, dan orang-orang Assyiria telah menganiaya mereka tanpa sebab. Sebab itu, sekarang, apalagi urusan-Ku di sini, demikianlah firman Tuhan, bahwa umat-Ku telah dibawa pergi dengan sia-sia? Mereka yang berkuasa atas mereka itu telah membuat mereka meratap, demikianlah firman Tuhan; dan nama-Ku setiap hari tak henti-hentinya dihojat. Sebab itu umat-Ku akan kelak mengetahui nama-Ku; sebab itu mereka akan mengetahui pada hari itu, bahwa Akulah Dia yang berbicara, bahwasanya itulah Aku.”

“Betapa indahnya di atas gunung-gunung kaki orang yang membawakan kabar-kabar baik, yang memberitakan damai; yang membawakan kabar-kabar baik dari hal yang baik, yang memberitakan keselamatan; yang mengatakan kepada Sion, bahwa Allahmu memerintah! Para pengawalmu akan mengangkat suara; dengan suara itu bersama-sama akan mereka menyanyi; karena mereka akan sepakat apabila Tuhan akan membawa kembali Sion.”

“Bertempiklah, bersoraklah bersama-sama, hai segala jajahan Yerusalem yang sudah rusak, karena Tuhan sudah menghiburkan umat-Nya, Ia sudah menebus Yerusalem. Bahwa Tuhan sudah menyingsingkan lengan kesucian-Nya di hadapan mata segala bangsa; dan segala hujung bumi akan menyaksikan selamat dari Allah kita.”

“Pergilah kamu, pergilah kamu, keluarlah kamu dari sana, janganlah kamu menjamah barang yang keji; keluarlah kamu dari tengah-tengahnya, jadilah kamu suci, kamu yang membawa bejana-bejana Tuhan. Karena kamu tidak akan keluar dengan tergopoh-gopoh, ataupun pergi dengan berlari; karena Tuhan akan pergi mendahului kamu, dan Allah orang Israel akan menjadi penutup barisanmu.”

“Lihatlah, hamba-Ku akan berlaku dengan akal budi, ia akan ditinggikan, disanjung dan dimuliakan. Seperti banyak orang tertegun melihat engkau; rupanya begitu buruk, lebih buruk daripada manusia, dan bentuknya lebih buruk daripada anak-anak Adam; demikianlah ia akan memercik air atas banyak bangsa, raja-raja akan mengatupkan mulut mereka melihat Dia, karena apa yang belum pernah diceritakan kepada mereka itu akan mereka saksikan, dan apa yang belum pernah mereka dengar itu akan mereka pikirkan.” Yesaya 52 : 1 - 15.

Karena diri kita sendiri berada pada tepi jurang kekekalan itu, maka kita adalah dipaksa untuk ikut bergabung dengan Pendeta James White dalam seruannya yang menggembirakan yang berbunyi : “Oh, Gloria! Haleluyah! Hatiku yang miskin ini adalah dibakar bagi kerajaan itu, selagi aku berpegang pada pengharapan yang manis ini, di hadapan orang percaya yang sebenarnya. Jika kita “berpegang teguh” hanya beberapa hari lagi, maka bayang-bayang kegelapan malam akan menghilang di hadapan kemuliaan dari pandangan-pandangan

persiapan kedatangan Anak Manusia itu.” A Word to the Little Flock, p .8.

Hanya mereka yang memperoleh bagian dalam pergerakan eksodus contoh saingan ini yang akan berkesempatan untuk menyanyikan “nyanyian Musa dan Anak Domba itu”, dan untuk memperoleh bagian dalam janji-janji dari 

Perjanjian Dalam Contoh Saingan. 

“Tengoklah, hari-hari itu datang, demikianlah firman Tuhan, bahwa Aku akan membuat suatu perjanjian yang baru dengan isi rumah Israel, dan dengan isi rumah Yehuda; bukan menurut seperti perjanjian yang sudah Ku perbuat dengan nenek moyang mereka tatkala Aku memegang tangan mereka dan menghantarkan mereka itu keluar dari negeri Mesir, yang mana perjanjian-Ku itu sudah dirombaknya, walaupun Aku adalah suami bagi mereka itu, demikianlah firman Tuhan; tetapi ini akan menjadi perjanjian yang akan Ku buat dengan isi rumah Israel. Sesudah hari itu, demikianlah firman Tuhan, maka Aku akan memasukkan hukum-Ku ke dalam batin mereka, dan menuliskannya dalam hati mereka; dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umat-Ku. Dan tiada lagi mereka itu akan mengajarkan seorang akan seorang dan saudara akan saudaranya dengan mengatakan, Hendaklah kamu mengenal akan Tuhan; karena mereka semuanya akan mengenal Aku, dari yang terkecilnya sampai kepada yang terbesarnya, demikianlah firman Tuhan; karena Aku akan mengampuni segala kejahatan mereka dan dosa mereka tidak akan Ku ingat lagi.” Yeremia 31 : 31 - 34.

“Perjanjian” yang lama atau kesepakatan di antara Allah dan umat-Nya adalah berlandaskan pada janji-janji dari kedua belah pihak; yaitu : “Dan akan jadi kelak,

bahwa jikalau kamu hendak mematuhi dengan rajin akan suara Tuhan Allahmu, menurut dan melaksanakan semua perintah-Nya yang ku pesankan kepadamu pada hari ini, maka kamu akan diangkat tinggi oleh Tuhan Allahmu melebihi segala bangsa yang di bumi; maka segala berkat ini akan kelak datang ke atasmu, dan ia itu akan sampai kepadamu, jikalau kamu hendak mematuhi suara Tuhan Allahmu. Berkatlah kelak kamu di dalam negeri, dan berkatlah kelak kamu di ladang. Berkatlah kelak buah kandunganmu, dan hasil dari tanahmu, dan hasil dari ternakmu, kandungan lembumu, dan kawanan dombamu. Berkatlah kelak keranjangmu dan gudangmu. Berkatlah kamu kelak apabila kamu masuk, dan berkatlah kamu kelak apabila kamu keluar. Tuhan akan membuat segala musuhmu yang bangkit melawan dikau dipalu di hadapan mukamu; mereka akan keluar melawan dikau dari satu jalan, dan berlarian di hadapanmu melalui tujuh jalan. Bahwa Tuhan akan menyuruhkan berkat menyertai kamu dalam segala perbendaharaanmu dan dalam semua yang kamu letakkan tanganmu. Maka Ia akan memberkati kamu di dalam negeri yang dikaruniakan Tuhan Allahmu kepadamu. Tuhan akan menetapkan kamu sebagai suatu umat yang suci bagi diri-Nya sendiri, seperti yang telah dijanjikan-Nya kepadamu pakai sumpah, jikalau kamu hendak memeliharakan perintah-perintah Tuhan Allahmu, dan berjalan dalam segala jalan-Nya.” “Maka sekalian orang banyak itu menjawab bersama-sama, dan mengatakan : Semua yang Tuhan telah bicarakan akan kami lakukan. Lalu Musa meneruskan semua perkataan orang banyak itu kepada Tuhan.” Ulangan 28 : 1-9; Keluaran 19 : 8.

Janji yang pertama ini mencapai semenjak dari saat ia itu dikukuhkan sampai kepada sebentar lagi dan pengumpulan terakhir dua belas suku bangsa itu sebagai sebuah kerajaan. Tetapi, walapun belum pernah dibatalkan oleh Allah, janji ini tegas-tegas telah ditiadakan oleh sidang Wasiat Baru, dan kesuciannya dicemarkan baik oleh sidang Wasiat Lama maupun oleh sidang Wasiat Baru, sampai kepada hari ini.  Demikianlah sebagai umat, karena melalaikan janji mereka, mereka telah merusak perintah-perintah Allah, sehingga karenanya mereka juga telah membatalkan “perjanjian yang telah dibuat Allah dengan nenek moyang mereka.”

Tetapi dalam perjajian yang baru, yang pada waktu ini Tuhan sedang akan penuhi, adalah tidak sama seperti dalam perjanjian yang lama, perintah-perintah Allah itu (Keluaran 20 : 1 - 17) tidak akan ditulis pada log-log batu (Keluaran 31 : 18), melainkan log-log hati daging, maka pada masa itu semua orang akan “mengenal Tuhan ….. sejak dari yang terkecil di antara mereka itu sampai kepada yang terbesarnya; (Yeremia 31 : 34) — memperlihatkan sebuah sidang yang tidak berisikan lalang-lalang di dalamnya.

Kekompakan ini yang sedang akan terjadi ialah perjanjian yang kedua, maka hukum-Nya yang tertulis pada hati itu akan dianut dengan sempurna. Kemudian, dan bukan sebelumnya, maka berbagai berkat yang gagal diperoleh umat-Nya yang dahulu itu akan menjadi kenyataan sepenuhnya.

 Yeremia juga memberikan kesaksian, bahwa janji yang diucapkan ini masih belum digenapi, namun ia itu akan dipenuhi sekarang dalam masa pengumpulan sekarang ini. Ia mengatakan :

“Demikianlah firman Tuhan Allah Israel, bunyinya : Suratkanlah olehmu semua firman yang telah Ku katakan kepadamu itu di dalam sebuah kitab. Karena sesungguhnya hari-hari itu akan datang kelak, demikianlah

firman Tuhan, bahwa Aku akan menghantarkan kembali tawanan umat-Ku Israel dan Yehuda, demikianlah firman Tuhan; dan Aku akan membuat mereka itu kembali ke negeri yang sudah Ku karuniakan kepada nenek moyang mereka itu, maka mereka akan memilikinya.” Yeremia 30 : 2, 3.

Ayat-ayat ini menunjukkan dengan jelas, bahwa Allah akan mengukuhkan janji yang kedua itu apabila Ia membawa kembali umat-Nya dari perhambaan mereka, sementara ayat-ayat berikut ini menentukan saat dari pelepasan atau pengumpulan ini sebagai berikut : “Karena akan jadi kelak pada hati itu, demikianlah firman Tuhan serwa sekalian alam, bahwa Aku akan mematahkan kuknya dari lehermu, dan Aku akan memutuskan semua tali pengikatmu, maka orang-orang asing tidak akan lagi memperhambakan dia; melainkan mereka akan melayani Tuhan Allah mereka dan Daud raja mereka, yang akan Ku angkat bagi mereka itu.” Yeremia 30 : 8, 9.

Jika kita perhatikan dengan seksama, nubuatan ini belum menemui kegenapannya pada waktu orang-orang Yahudi kembali dari tawanan mereka di Babilon kuno yang lalu, sebab pada waktu itu Allah belum “mengangkat” Daud raja mereka itu. Sesunggunya mereka sama sekali belum memiliki seorang raja pun dari mereka sendiri, melainkan mereka berada di bawah pemerintahan Medo-Persia. Oleh sebab itu, maka nubuatan ini tak mungkin dapat diaplikasikan kepada yang lain selain daripada sekarang ini, apabila keduanya “Israel dan Yehuda” akan bergabung bersama-sama menjadi sebuah kerajaan besar, yang diteguhkan dalam kebenaran yang kekal. Kemudian “sekalian mereka akan mengenal Aku, sejak dari yang terkecil dari mereka itu sampai kepada yang terbesar dari padanya“, demikianlah firman Tuhan. Dengan sendirinya, karena dari kenyataan bahwa belum pernah ada sesuatu masa semenjak dari hari kata-kata Injil ini

ditulis sampai kepada hari ini, bahwa setiap umat Allah sebagai sebuah sidang atau suatu bangsa, pernah mengenal Allah dan memeliharakan perintah-perintah-Nya, maka kembali lagi terbukti bahwa kegenapan dari janji yang kedua ini (yang mana pergerakan eksodus adalah contohnya) masih lagi di depan.

Demikianlah firman Tuhan, “Berapa lama lagi engkau hendak berlambatan, hai anak perempuan yang tiada taat? Karena Tuhan sudah menciptakan sesuatu yang baru di bumi, yaitu seorang perempuan akan mengurung seorang laki-laki.” Yeremia 31 : 22. “Perempuan” ini adalah simbol, karena tak ada seorang manusia pun yang mungkin dapat mengurung seorang yang lain. Untuk hal ini ia merupakan simbol dari sidang, dan “orang laki-laki” itu tentu adalah Kristus, yang kelak pada masa itu “telah membasuh segala kekotoran dari puteri-puteri Sion” — yaitu menyucikan sidang (Yesaya 4 : 4; Testimonies, vol. 5, p. 80). Kemudian Ia akan “jadi baginya sebuah tembok api sekelilingnya, dan ….. ia akan tinggal di tengah-tengahnya.” Zakharia 2 : 5, 11.

Walaupun banyak orang mengangkat suara mereka dengan bermacam-macam melawan pengukuhan Allah akan “benih Israel itu” sebagai suatu bangsa yang benar dan suci yang bebas dari orang-orang berdosa, mereka kelak akan gagal untuk menjatuhkan rencana-rencana dari Dia Yang “mengaruniakan matahari bagi suatu terang pada siang hari, dan peraturan-peraturan dari bulan dan bintang-bintang bagi sebuah terang pada malam hari, yang memisahkan laut apabila ombak-ombaknya bergelora; Tuhan serwa sekalian alam ialah nama-Nya; jika sekiranya semua peraturan itu lenyap dari hadapan-Ku, demikianlah firman Tuhan, maka benih

Israelpun akan berhenti daripada menjadi suatu bangsa di hadapan-Ku untuk selama-lamanya. Demikianlah firman Tuhan, jika kiranya langit di atas dapat diukur, dan segala alas bumi di bawah dapat diduga, maka Aku akan juga membuang segala benih Israel karena sebab segala perbuatannya, demikianlah firman Tuhan.” Yeremia 31 : 35 - 37.

Karena semua janji-janji itu dibuat hanya kepada Israel (benih dari Ibrahim), pokok anggur yang asli, yang telah diinjak-injak, maka sebab itu pokok anggur ini harus ditegakkan; kemudian orang-orang Kapir yang bertobat oleh pengangkatan dalam Kristus akan dicangkokkan ke dalam, sehingga hanya oleh demikian inilah akan menjadi sebagian dari tanaman Tuhan.

“Maka kataku : Sudahkah Allah membuang umat-Nya? Dijauhkan Allah kiranya ini. Karena Aku pun adalah seorang Israel, dari benih Ibrahim, dari suku bangsa Benjamin. Allah tidak membuang umat-Nya yang sudah diketahui-Nya lebih dahulu. Atau tidakkah kamu ketahui apa yang dikatakan Injil dari hal Eliyah, bagaimana ia telah mengaduhkan bani Israel kepada Allah, katanya, ya Tuhan mereka telah membunuh nabi-nabi-Mu, dan segala tempat korbannya telah dibongkarnya; maka aku tinggal seorang diri saja, dan mereka itu berusaha mencari nyawaku. Tetapi apakah yang dikatakan dari jawaban Allah kepadanya? Aku telah mencadangkan bagi diri-Ku tujuh ribu orang yang tidak bertekuk lutut kepada patung dari Baal. Maka bahkan juga pada masa ini ada terdapat sejumlah sisa yang sesuai dengan pilihan anugerah. Dan jika oleh anugerah, maka ia itu bukan lagi oleh perbuatan, sebab jikalau dari perbuatan, maka anugerah itu bukan lagi anugerah namanya. Tetapi jika itu dari perbuatan, maka itu bukan lagi anugerah, sebab jikalau dari anugerah, maka perbuatan itu bukan lagi perbuatan namanya.”

“Jadi bagaimanakah? Israel tidak memperoleh apa yang dikejarnya; tetapi orang-orang yang terpilih itu telah memperolehnya, dan mereka yang selebihnya telah dibutakan hatinya (seperti yang ada tersurat, bahwa Allah telah memberikan kepada mereka itu roh tidur, supaya mata mereka tidak dapat melihat, dan supaya telinga mereka tidak dapat mendengar) sampai kepada hari ini. Maka Daud berkata : Biarlah hidangan meja mereka itu menjadi suatu jerat, dan suatu perangkap, dan suatu penghalang, dan suatu pembalasan bagi mereka itu; biarlah mata mereka itu digelapkan, supaya tidak mereka tampak, dan supaya punggung mereka senantiasa dibungkukkan.”

“Maka kataku : Sudahkah mereka itu terantuk sehingga mereka harus jatuh? Dijauhkan Allah; tetapi karena kejatuhan mereka itu datanglah keselamatan bagi orang-orang Kapir; supaya membuat mereka cemburu. Kini jika kejatuhan mereka itu merupakan kekayaan bagi dunia, dan berkurangnya mereka itu menjadi kekayaan bagi orang-orang Kapir; betapa pula jika genap bilangan mereka itu?  Karena sesungguhnya aku mengatakan kepadamu, hai bangsa-bangsa Kapir, karena sebagai-mana aku adalah rasul bagi orang-orang Kapir, aku memuliakan jawatanku, jika sekiranya oleh sesuatu cara aku dapat membuat mereka itu cemburu, yaitu kaum sedarah dagingku itu, sehingga aku dapat menyelamatkan beberapa dari mereka itu. Sebab jika pembuangan mereka itu berarti perdamaian bagi dunia, apakah kelak jadi dengan penerimaan mereka itu, terkecuali hidup daripada mati? Karena jika buah-buah pertama itu (orang-orang Yahudi) suci, maka gumpalan itu (orang-orang Yahudi dan orang-orang Kapir) juga suci; dan jika akar itu (orang-orang Yahudi) suci, maka demikian pula cabang-cabangnya (apakah itu asli ataupun yang dicangkokkan). Maka jika beberapa cabang itu patah, maka kamu, yang adalah sebuah pokok zait liar (pohon Kapir), dicangkokkan di antara sekaliannya itu, lalu memperoleh bersama-sama bagian dari akar dan lemak dari pokok zait (yang benar) itu;

janganlah kamu bermegah-megah karena cabang itu. Jikalau kamu bermegah ingatlah, bahwa bukan kamu (Kapir) yang menopang akar itu, melainkan akar (Jahudi) itulah yang menopang kamu. Mungkin kamu akan mengatakan : Cabang-Cabang itu telah dipatahkan supaya aku dapat dicangkokkan padanya. Baiklah; karena ketidakpercayaan mereka telah dipatahkan, tetapi engkau berdiri tetap karena iman.”

“Janganlah kamu sombong, melainkan takutlah; karena jika Allah tidak memelihara cabang-cabang yang asli (orang-orang Yahudi yang tidak percaya), perhatikanlah supaya jangan Ia juga tidak akan memelihara kamu. Sebab itu perhatikanlah kebaikan dan kekerasan Allah; kekerasan terhadap mereka yang jatuh, tetapi kebaikan terhadap kamu, jikalau kamu tetap dalam kebaikannya; jika tidak, kamu pun akan ditumpas. Tetapi merekapun akan dicangkokkan kembali, jika mereka tidak menetap dalam ketidak-percayaan mereka, karena Allah mampu untuk mencangkokkan mereka itu kembali. Sebab jika kamu telah dipotong dari pokok zait liar dan secara tidak alamaiah dicangkokkan ke dalam sebatang pokok zait yang baik, betapa pula kelak dengan mereka ini yang berasal dari cabang-cabang asli dicangkokkan kembali ke dalam pokok zaitnya sendiri?  Karena tiada aku suka hai Saudara-Saudaraku, bahwa kamu tidak mengetahui akan rahasia ini, supaya jangan kamu merasa dirimu pandai dalam kesombonganmu sendiri; bahwa kegelapan dalam sebagian telah menimpa Israel, sampai genap orang-orang Kapir itu masuk iman. Dan demikianlah semua Israel akan selamat, seperti yang tertulis : “Dari Sion akan datang Penebus, maka Ia akan menyingkirkan segala kefasikan dari Yakub; karena inilah perjanjian-Ku bagi mereka, apabila kelak Aku akan menyingkirkan dosa-dosa mereka.”

“Mengenai Injil mereka adalah musuh-musuh karena kamu; tetapi menyinggung pilihan itu mereka adalah yang dikasihi karena demi para nenek moyang. Karena Allah tiada menyesal akan segala karunia-Nya dan akan panggilan-Nya itu. Karena seperti kamu dahulu durhaka kepada Allah, tetapi sekarang kamu memperoleh anugerah oleh karena ketidakpercayaan mereka itu; demikian juga orang-orang ini sekarang telah mendurhaka, supaya oleh anugerahmu mereka juga dapat memperoleh anugerah. Karena Allah telah menutup sekalian mereka itu dalam ketidak-percayaan supaya dapat Ia memberikan anugerah atas semua.”

“Oh alangkah dalamnya kekayaan dari hikmat dan pengetahuan akan Allah! Betapa dalamnya keputusan-keputusan-Nya untuk diselidiki, betapa luasnya jalan-jalan-Nya untuk diselami! Karena siapakah yang dapat menyelami pikiran Tuhan, atau siapakah yang pernah menjadi penasehat-Nya? Atau siapakah yang pernah memberikan kepada-Nya, sehingga Ia harus digantikan kembali kepada-Nya? Karena segala sesuatu adalah dari Dia, dan melalui Dia, dan untuk Dia; kepada-Nyalah kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.” Roma 11.

“Dengarlah olehmu akan Daku, hai segala pulau; berilah telinga, hai segala bangsa yang jauh-jauh! Bahwa Tuhan sudah memanggil aku (Israel) sejak dari kandungan ibuku dan dari rahim ibuku sudah disebut-Nya namaku. Ia telah membuat mulutku bagaikan pedang yang tajam, dan membuat aku berlindung dalam naungan tangan-Nya, dan membuat aku menjadi sebuah anak panah yang runcing, dan menyembunyikan aku dalam tabung panah-Nya; dan firman-Nya kepadaku, ‘engkau adalah hamba-Ku hai Israel, maka olehmu juga Aku akan dipermuliakan.’ Maka kataku : ‘Aku sudah berlelah-lelah dengan percuma, dan sudah menghabiskan kekuatanku dengan sia-sia dan  tak berguna; tetapi

keputusanku berada dengan Tuhan, dan hasil pekerjaanku adalah dengan Allahku’.”

“Maka sekarang, firman Tuhan yang telah membentuk aku semenjak dari rahim untuk menjadi hamba-Nya, untuk membawa kembali Yakub (keturunannya) kepada-Nya. Walaupun Israel tidak terhimpun, namun aku akan menjadi mulia dalam pemandangan Tuhan, dan Allahku akan menjadi kuatku. (Kita juga dapat mengatakan, bahwa walaupun seluruh dunia akan menolak Allah dan pekabaran-Nya, “namun kita akan menaruh harap kepada Tuhan.”) Maka firman-Nya : Adalah suatu hal yang gampang bahwa kamu akan menjadi hamba-Ku untuk membangkitkan semua suku bangsa Yakub itu dan untuk mengembalikan (hanya) Israel yang terpelihara itu; Aku akan juga membuatmu menjadi terang bagi bangsa-bangsa Kapir, supaya kamu boleh menjadi selamat-Ku kepada seluruh ujung bumi.” Yesaya 49 : 1 - 6. Dengan perkataan lain, mereka (yang berasal dari Israel) yang memberitakan pekabaran pemeteraian mereka yang 144.000 itu kepada sidang, akan juga kelak memberitakan kemuliaan Allah di antara segala bangsa Kapir, sehingga demikianlah keselamatan-Nya akan sampai ke seluruh ujung bumi, lalu “menghantarkan semua saudara (mereka) bagi suatu persembahan kepada Tuhan keluar dari segala bangsa.” Yesaya 66 : 19, 20.

“Demikianlah firman Tuhan, Penebus Israel itu, dan Dia Yang Maha Suci-Nya, kepada Dia yang dicela segala orang (dia yang oleh mereka disebut, ”orang ini” (Lukas 19 : 4). Lihat hal. 123, 124), kepada Dia yang dijijikkan oleh bangsa itu, kepada seorang hamba dari penguasa-penguasa, Raja-Raja akan melihat dan bangkit berdiri, penghulu-penghulu juga akan menyembah sujud, oleh karena Tuhan yang setia, dan Yang Maha Suci Israel, maka Ia akan memilih kamu. Demikianlah firman Tuhan, pada suatu masa yang Aku berkenan sudah Aku dengar akan dikau, dan pada suatu hari keselamatan sudah Aku

menolong akan dikau; maka Aku akan memelihara akan dikau, dan memberikan engkau bagi suatu perjanjian bagi umat, untuk menegakkan bumi, untuk membuat semua harta pusaka yang ditinggalkan untuk dikuasai; supaya kamu dapat mengatakan kepada semua orang tawanan : ‘keluarlah’; kepada mereka yang dalam kegelapan : ‘tampillah!’. Mereka akan makan sepanjang jalan, dan padang-padang rumput mereka akan terdapat di tempat-tempat yang tinggi. Tiada mereka itu akan lapar atau dahaga dan panas terik atau panas matahari juga tidak akan menyengat mereka; karena Dia yang Pemurah terhadap mereka itu akan memimpin mereka, bahkan dekat dengan pencaran-pancaran air akan dibawa-Nya mereka itu. Maka Aku akan menjadikan semua gunung-Ku sebuah jalan rata, dan semua jalan-jalan-Ku akan ditinggikan. Tengoklah, mereka ini akan datang dari jauh; dan lihatlah, mereka ini dari sebelah utara dan dari sebelah barat; dan mereka ini dari tanah Sinim.”

“Menyanyilah, hai segala langit, dan bersukarialah, hai bumi dan bergembiralah dan menyanyi, hai segala gunung, karena Tuhan sudah menghiburkan umat-Nya, dan Ia akan menyayangi orang-orang susah miliki-Nya. Tetapi Sion mengatakan : Tuhan sudah meninggalkan daku, dan Tuhanku sudah melupakan daku.” Yesaya 49 : 7 - 14.

Sion seperti yang kita saksikan di sini, adalah berupa sidang dalam mana mereka yang 144.000 itu berada pada waktu pekabaran pemeteraian ini terdengar, dan adalah bagaikan biji mata-Nya, maka Tuhan bertanya kepadanya : “Dapatkah seorang wanita melupakan anak penyusunya, sehingga tiada ia mengasihani akan puteranya dari rahimnya itu? Walaupun mereka mungkin lupa, namun Aku tidak akan melupakan dikau. Bahwasanya, Aku sudah mengukir kamu pada telapak-telapak tangan-Ku; semua pagar tembokmu adalah senantiasa di depan-Ku.

Bahwa anak-anakmu akan bergegas-gegas, semua pembinasamu dan mereka yang merampok kamu itu akan lari meninggalkan kamu.” Yesaya 49 : 15 - 17. Artinya, orang-orang berdosa akan diambil keluar daripadanya, yaitu dibuang keluar “dari antara orang-orang yang benar.” Matius 13 : 48, 49.

“Angkatlah matamu berkeliling, dan tengoklah; mereka ini semuanya berkumpul bersama-sama, dan datang kepadamu. Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan, sesungguhnya mereka semuanya itu akan kamu pakai sebagai perhiasan, dan mereka akan kamu lilitkan padamu, seperti yang dilakukan oleh pengantin perempuan. (Lihat Zakharia 8 : 23; Tongkat Gembala, jilid 2, hal. 407).  Karena semua kerusakanmu dan semua tempatmu yang ditinggalkan, dan negeri kerusakanmu itu, sekarang bahkan akan terlalu sempit karena terlalu banyak penduduknya, dan mereka yang menelan engkau itu akan dihalau jauh-jauh. (Artinya, suatu rombongan besar orang-orang akan menggabungkan diri dengan sidang, tetapi orang-orang berdosa akan ditahan jauh-jauh daripadanya). Anak-anak yang akan kamu miliki (mereka yang akan dihimpunkan masuk), setelah kamu kehilangan yang lainnya (mereka yang jatuh di bawah pembantaian dari Yehezkiel 9), akan kembali mengatakan pada pendengaranmu, ‘tempat ini terlalu sempit, berilah aku tempat supaya aku boleh duduk.’ Maka akan kamu katakan dalam hatimu, Siapa gerangan yang sudah melahirkan semuanya ini bagiku? Karena aku sudah kehilangan anak-anakku, dan aku adalah sunyi, seorang tawanan, yang terbuang ke sana ke mari, maka siapakah yang telah membesarkan mereka ini? Tongoklah, aku tertinggal seorang diri; mereka ini, di manakah mereka berada tadinya? (Pertanyaan ini menunjukkan, bahwa sidang tidak mengetahui dari hal rombongan besar Wahyu 7 : 9 — buah-buah kedua itu). Demikianlah firman Tuhan Hua, Tengoklah, Aku akan mengangkat tangan-Ku kepada segala bangsa Kapir, dan menegakkan standard-Ku kepada

orang banyak itu; maka mereka akan menghantarkan anak-anamu laki-laki dalam gendongannya, dan anak-anakmu perempuan akan dibawanya pada bahu-bahu mereka.  Maka raja-raja akan menjadi bapa-bapa asuhmu, dan permaisuri-permaisuri mereka akan menjadi ibu asuhmu; mereka akan menyembah sujud ke hadapanmu dengan muka sampai ke tanah, dan menjilat debu kakimu; maka akan diketahui olehmu, bahwa Akulah Tuhan; karena mereka yang menunggui Aku tidak akan malu.”

“Dapatkah jarahan dirampas dari tangan orang-orang yang kuat, atau dapatkah tawanan dilepaskan? Tetapi demikianlah firman Tuhan, bahwa bahkan tawanan-tawanan milik orang gagah perkasa sekalipun akan dirampas dari-padanya, dan jarahan milik orang yang menakutkan sekalipun akan dilepaskan; karena Aku akan melawan orang yang menentang kamu dan Aku akan menyelamatkan anak-anakmu. Maka Aku akan memberi makan segala orang yang menganiaya akan dikau itu dengan dagingnya sendiri, dan mereka akan diberi minum dengan darahnya sendiri sampai mabuk bagaikan dengan air anggur yang manis; maka segala manusia akan mengetahui, bahwa Akulah Tuhan, Juruselamatmu dan Penebusmu, yaitu Yang Maha Kuasa dari Yakub itu.” Yesaya 49 : 18 - 26.

“Tetapi apabila ia melihat anak-anaknya, yaitu perbuatan tangan-Ku, di tengah-tengahnya, mereka akan menguduskan nama-Ku, dan menguduskan Yang Maha Suci dari Yakub itu, dan mereka akan takut kepada Allah Israel.” “Tengoklah, nama Tuhan datang dari jauh, murka-Nya bernyala-nyala dan sangatlah kehangatannya. Bibir-Nya penuh dengan geram dan lidah-Nya seperti api yang memakan habis; maka napas-Nya seperti aliran sungai yang meluap akan naik sampai ke tengah leher, untuk menyaring segala bangsa dengan penyaringan kesia-siaan, maka akan dibubuhkan suatu kekang

di mulut orang banyak itu yang membuat mereka itu keliru.” Yesaya 29 : 23; 30 : 27, 28.

“Tetapi orang dermawan itu merancang perkara-perkara kebajikan; dan oleh perkara-perkara kebajikan ia akan berdiri. Sebab segala istana akan ditinggalkan; orang banyak dari negeri itu akan dibiarkan; semua benteng dan menara-menara akan menjadi lubang-lubang gua untuk selama-lamanya, akan menjadi kesukaan bagi keledai-keledai liar, dan tempat rerumputan bagi kawanan hewan; sampai dicurahkan kepada kita Roh dari atas, dan padang belantara menjadi ladang buah yang subur, dan ladang buah yang subur itu akan dianggap sebagai hutan. Kemudian keadilan akan tinggal di padang belantara, dan kebenaran akan menetap di ladang buah yang subur. Maka perbuatan dari kebenaran akan menjadi damai, dan pengaruh dari kebenaran ialah ketenteraman dan jaminan untuk selama-lamanya. Maka umat-Ku akan tinggal di tempat yang damai, dan di tempat-tempat tinggal yang tenteram, dan di tempat-tempat peristirahatan yang aman; apabila hujan air beku kelak akan turun atas hutan; dan negeri itu akan direndahkan di tempat yang rendah. Berbahagialah kamu yang menabur di tepi segala air, yang mengirim ke sana lembu dan keledai.” Yesaya 32 : 8, 14 - 20.

“Dengarlah olehmu, hai kamu yang jauh, tentang apa yang telah Ku lakukan, dan kamu yang dekat, akuilah olehmu akan kuasa-Ku! Orang-orang berdosa di Sion dalam ketakutan; kegentaran berlaku atas segala orang munafik. Siapakah di antara kita yang akan tinggal bersama-sama dengan api yang memakan habis? Siapakah di antara kita yang akan tinggal bersama-sama dengan nyala-nyala api yang kekal? Orang yang berjalan benar, dan yang berbicara benar; orang yang menolak laba dari penindasan, yang mengebaskan tangannya dari menerima suap, yang menutup telinganya daripada mendengarkan darah, dan

yang menutup matanya daripada memandang akan kejahatan; ia akan duduk di tempat yang tinggi; kubu pertahanannya adalah bukit batu, roti akan diberikan kepadanya, airnya terjamin.”

“Bahwasanya matamu akan memandang Raja itu dalam keindahan-Nya : mereka akan memandang suatu tanah yang jauh. Hatimu akan memikirkan suatu ketakutan. Dimanakah juru tulis itu (sekretaris)? Di manakah orang yang menerima bea itu (bendahara)? Di manakah dia yang menghitung (sekretaris stastistik) segala bangunan (presiden-presiden dari conference)? Tidak lagi engkau akan melihat bangsa yang bengis, suatu bangsa yang amat dalam bahasanya sehingga hampir-hampir tak dapat kamu mengerti; dan yang berlidah gagap sehingga kamu tak dapat memahami dia (kamu akan berbicara dan memahami semua bahasa).” Yesaya 33 : 13 - 19.

“Kuatkanlah tangan yang lemah lesu, dan perteguhkanlah lutut-lutut yang goyah. Katakanlah kepada mereka yang tawar hati, “pertetapkanlah hatimu, jangan takut : Lihatlah, Allahmu akan datang dengan pembalasan, bahkan dengan ganjaran Allah, Ia akan datang dan menyelamatkan kamu. Kemudian semua mata orang-orang buta akan dicelekkan, dan semua telinga orang-orang yang tuli akan dibukakan. Kemudian orang-orang timpang akan meloncat seperti anak rusa, dan lidah orang-orang yang bisu akan menyanyi; karena di padang belantara akan keluar air yang banyak, dan aliran-aliran air di tanah yang kekeringan. Dan tanah pasir yang kekeringan akan berubah menjadi sebuah kolam air, dan dari tanah gersang akan menjadi sumber air; di tempat kediaman ular-ular naga dimana masing-masingnya berbaring akan tumbuh tebu dan pandan. Maka di sana akan ada satu jalan raya, dan sebuah jalan, maka ia itu akan disebut

Jalan Kesucian; seorang najispun tak boleh lalu daripadanya; tetapi ia itu akan tersedia bagi mereka; orang-orang pejalan kaki walaupun orang-orang bodoh sekalipun mereka tidak akan kesasar di dalamnya. Di sana tidak akan ada singa, dan sesuatu binatang yang ganas pun tiada akan sampai ke sana, ia itu tiada akan ditemukan di sana; tetapi orang-orang tebusan akan berjalan di sana. Maka segala orang tebusan Tuhan akan kembali, dan akan datang ke Sion dengan nyanyian-nyanyian dan kegembiraan kekal pada kepala mereka; mereka akan memperoleh kesukaan dan kegembiraan, maka kesusahan dan keluhan akan berlalu.” Yesaya 35 : 3 - 10.

Karena sebagaimana halnya “ladang” yang berisikan gandum dan lalang (Matius 13 : 30) dan “pukat” yang berisikan “ikan” yang baik dan ikan yang jelek (Matius 13 : 47, 48), keduanya melambangkan sidang Injil selama masa periode dimana orang-orang benar dan orang-orang munafik bergabung bersama-sama, maka “bejana-bejana” yang ke dalamnya dimasukkan “ikan yang baik” setelah ”ikan yang jelek” “dibuang” “dari antaranya”, dan “lumbung” yang ke dalamnya dimasukkan “gandum” setelah “lalang-lalang” dipisahkan daripadanya, harus melambangkan sidang yang beralih dari keadaannya yang cemar (ladang atau pukat) ke keadaannya yang lain, yaitu keadaan suci yang dilambangkan bukan oleh “ladang” atau oleh “pukat”, melainkan oleh “lumbung” dan oleh “bejana-bejana” — yaitu suatu tempat yang baru yang aman dan bersih — dimana “semenjak dari itu tidak akan lagi masuk …… orang-orang yang tidak bersunat dan mereka yang keji.” Yesaya 52 : 1.

Dengan demikian sebutan apapun juga yang akan kita berikan bagi tempat yang baru ini ke dalam mana orang-orang benar akan dihimpunkan, tempat itu sendiri akan mutlak bebas

dari dosa karena semua orang berdosa yang ada di antara orang-orang benar pada waktu itu sudah dibinasakan.

Karena setelah pemisahan orang-orang yang tidak bertobat dari antara umat Allah yang benar, maka sidang (kemudian terdiri dari 144.000 orang, yaitu buah-buah pertama dari dua belas suku bangsa bani Israel) akan muncul menjadi sebuah pemerintahan theokrasi; maka pastilah “bejana-bejana” itu melambangkan unit-unit bagian — yaitu suku-suku bangsa ke dalam mana orang-orang tebusan akan berhimpun berbondong-bondong, sementara sebaliknya “lumbung” melambangkan kesatuan unit, yaitu kerajaan ke dalam mana mereka itu berhimpun secara kolektip. Dan perhimpunan yang besar ini secara selektip, mutlak dan terakhir, seperti layaknya, berlangsung hanya untuk menunjukkan kembali, bahwa lahirnya kerajaan itu adalah mutlak bergantung pada pembersihan sidang.

“Aku Yesus telah mengutus malaikat-Ku untuk membuktikan kepadamu segala perkara ini di dalam sidang-sidang jemaat. Akulah akar dan benih Daud itu, Bintang Fajar yang gilang-gemilang itu.” Wahyu 22 : 16. “Bangkitlah kamu, supaya dapat kita naik ke sana melawan mereka itu; karena kami telah melihat tanah itu, dan, bahwasanya, ia itu baik sekali adanya; masakan kamu diam saja di sini?” (Hakim-Hakim 18 : 9). Janganlah berlambatan, bertindaklah cepat, bersiaplah, ikutilah 

Anak Domba Menuju Ke Penguasa Negeri Itu. 

“Kirimkanlah olehmu anak domba itu kepada penguasa negeri itu dari Sela ke padang belantara, sampai ke gunung puteri Sion. Karena akan jadi kelak, bahwa sebagaimana seekor burung yang melarat dibuang keluar dari sarangnya, demikian pula

segala puteri Moab akan berada di tempat-tempat penyeberangan sungai Arnon. Berembuklah, laksanakanlah keadilan; jadikanlah bayanganmu bagaikan malam di tengah-tengah siang tengah hari; sembunyikanlah orang-orang yang terbuang; janganlah mengkhianati dia yang mengembara itu. Biarlah segala orang-Ku yang terbuang itu tinggal bersamamu, hai Moab; jadilah engkau sebuah perlindungan bagi mereka dari wajah si pembinasa itu; karena tak lama lagi akan berakhir si penganiaya itu, pembinasa itu berakhir, para penindas akan habis lenyap dari tanah itu. Maka dalam kemurahan tahta itu akan diperdirikan; dan ia akan duduk di atasnya dalam kebenaran dalam tabernakel Daud, sambil mengadili dan mencari keadilan, dan mempercepat pembenaran.” Yesaya 16 : 1 - 5.

Walaupun ayat-ayat di atas mungkin tampaknya tidak mengandung apa-apa selain daripada bahasa irama mistik dari komplotan rahasia, namun ada juga pelajaran-pelajaran daripadanya yang telah dibuat untuk mentobatkan bahkan orang Kapir yang keras hati sekalipun kepada kebenaran tertentu dari Alkitab. Sesungguhnya, kalau saja umat Allah dapat maju tanpa ayat-ayat Injil ini, maka pasti Ia tidak akan merepotkan nabi itu untuk menuliskannya ataupun mengambil tempat di dalam Alkitab untuk mencatatkannya. Kalau saja ia itu singkatnya hanya merupakan suatu kegembiraan mistik dari gema nubuatan tanpa alasan, maka itu adalah tak lebih daripada sesuatu yang diulangi dengan sia-sia saja, yaitu sesuatu yang tidak sempurna — suatu perkara yang tidak mungkin bagi Allah. Dengan demikian, maka barangsiapa yang menambahkan kepada ayat-ayat itu sesuatu yang tidak penting ataupun tidak berarti, kelak akan dihukum secara menakutkan menurut kata-kata Injil berikut ini :

“Jika seseorang mengurangkan sesuatu dari kata-kata kitab nubuatan ini, maka Allah akan mengeluarkan bagiannya dari kitab alhayat, dan dari

kota suci, dan dari segala perkara yang tersurat di dalam kitab ini.” Wahyu 22 : 19.

Oleh sebab itu, karena kata-kata Yesaya harus mengandung terang, maka ketidak-adanya terang itu akan membiarkan kegelapan menguasai jalan kita, menghadapkan kita kepada resiko kejatuhan bersama-sama dengan orang-orang buta yang langsung masuk ke dalam lubang, tetapi penyelidik kebenaran yang rajin akan menemukan, bahwa walaupun ayat-ayat itu tampaknya gelap dan mengandung rahasia, ia itu adalah jelas dan sederhana apabila dilihat dalam terang yang bercahaya dari atas.

“Kirimlah olehmu anak domba itu kepada penguasa negeri itu dari Sela ke padang belantara sampai ke gunung puteri Sion.”

Kata sandang yang tertentu, “the”, memberikan arti mutlak kepada kata benda, “lamb” (anak domba), menunjukkan bahwa satu-satunya jenis yaitu seekor anak domba, ialah objek dari perintah itu untuk mengirimkan “anak domba itu” dari Moab “ke gunung puteri Sion” — Gunung Sion di Yerusalem.

“Karena akan jadi kelak, bahwa sebagaimana seekor burung yang melarat dibuang keluar dari sarangnya, demikian pula segala puteri Moab akan berada di tempat-tempat penyeberangan sungai Arnon.” Artinya, anak domba itu harus diambil dari Moab, karena orang-orang Moab itu akan “dibuang keluar” sebagai seekor burung yang merana”, di penyeberangan-penyeberangan sungai Arnon.” Yesaya 16 : 2.

Sejarah Alkitab mencatat bahwa anak domba yang satu itu yang diambil dari Moab sebelum orang-orang Moab itu ”dibuang keluar dari sarang (mereka)”, ialah Dia yang oleh Yohanes Pembaptis dikatakan : “Tengoklah Anak Domba Allah itu” —

yaitu Kristus. Nubuatan itu menunjukkan bahwa anak domba itu dilarikan ke Moab ke Gunung Sion (istana Daud di Yerusalem) —yaitu suatu peristiwa yang terjadi pada waktu Naomi dengan anak-anak lelakinya pergi ke Moab (“padang belantara” itu — yaitu suatu bangsa yang tidak berada di bawah pengawasan Tuhan yang langsung, dan karena itulah bukan sebuah kebun anggur) dan membawa serta Ruth, wanita Moab itu, dari Moab ke Yerusalem; karena Boaz mengambil Ruth, dan ia menjadi istrinya ….., dan ia melahirkan seorang putera, ….. dan mereka menamakannya Obed; ia adalah ayah dari Isai, yaitu ayah dari Daud ..... dan Isai melahirkan Daud.” Ruth 4 : 13 - 22.

Demikianlah Kristus, Putera Daud itu, telah “dikirim” dari Moab ke Gunung Sion — istana Daud; dan dengan demikian menunjukkan keilahian Kristus sebagai Putera Allah, dan kemanusiaan-Nya sebagai Putera yang bukan saja dari Daud melainkan juga dari Lot — Moab.

Oh betapa tepatnya secara menakjubkan Allah kita; nama-nama itu, yaitu Obed, Isai, dan Daud dalam bahasa Ibrani berarti Kristus — seorang hamba (Obed), yang akan menjadi kehadiran-Ku (Isai), yang dikasihi itu (Daud).

Kristus di dalam daging adalah seorang Moabi seperti juga halnya seorang Israel, Allah berfirman : “Biarlah segala orang-Ku yang terbuang itu tinggal bersamamu, hai Moab (Kristus); jadilah engkau sebuah perlindungan bagi mereka dari wajah si pembinasa itu.” “Dan seseorang laki-laki (kembali menunjuk kepada Kristus) akan jadi bagaikan suatu tempat berlindung dari angin, dan suatu tempat persembunyian dari angin ribut; seperti sungai-sungai yang berair di tempat-tempat yang kering, seperti bayangan dari sebuah batu besar di tanah yang tandus.” Yesaya 16 : 4; 32 : 2.

Dikirim untuk “berembuk, melaksanakan keadilan; menjadikan bayangan-Nya bagaikan malam di siang tengah hari; menyembunyikan orang-orang yang terbuang; jangan menghianati dia yang mengembara itu” (Yesaya 16 : 3), maka Kristus, “tempat persembunyian kita dari angin, dan sebuah tempat berlindung dari angin ribut” “di suatu tanah yang kering”, adalah sebuah bayangan yang sempurna dan besar, bahkan seperti tengah malam pada siang tengah hari. Demikian pula seperti yang ditegaskan oleh Pemazmur yang berbunyi : “Betapa sempurna kasih sayang-Mu, ya Allah! Oleh karenanya segala anak Adam menaruh harap di bawah bayangan sayap-sayap-Mu. Karena Engkau telah menjadi Penolongku, maka di bawah bayangan sayap-sayap-Mu aku akan bersukaria.” Mazmur 36 : 7; 63 : 7.

Maka “sebab itu”, demikianlah nabi Injil mengatakan, “bangsa yang kuat akan kelak memuliakan dikau, negeri dari bangsa-bangsa yang hebat besar akan takut kepadamu. Karena engkau teleh menjadi suatu kekuatan bagi orang yang miskin, suatu kekuatan bagi orang yang kekurangan dalam kepicikannya, suatu perlindungan dari angin ribut, suatu bayangan dari panas matahari, apabila amarah dari orang-orang yang hebat menakutkan itu datang bagaikan suatu angin ribut mengantam tembok.” Yesaya 25 : 3, 4.

“Maka dalam kemurahan tahta itu kelak akan diperdirikan; maka Ia akan duduk di atasnya dalam kebenaran di dalam kemah tabernakel Daud, sambil mengadili, dan mencarikan keadilan, dan mempercepatkan pembenaran.” Yesaya 16 : 5.

Oleh karena sesuai dengan kata-kata Injil ini pendirian tahta Kristus itu masih akan datang, dan karena selanjutnya ia itu akan diperdirikan di dalam kemah tabernakel Daud (yaitu yang belum pernah terlaksana pada kedatangan-Nya yang pertama), maka sebab itu, Kristus,

apabila Ia datang memerintah di dalam kerajaan-Nya yang akan datang, Ia akan duduk di atas tahta Daud. Dan karena Ia kemudian akan mengadili, mencari keadilan, dan mempercepat pembenaran, maka semua tindakan ini akan jadi sebelum masa kasihan berakhir — yaitu masa dimana Ia dapat mempercepat pembenaran itu. Dengan demikian, secara membesarkan hati, maka nubuatan dari hal silsilah keturunan Kristus ini berikut “pengambilan kekuasaan oleh-Nya dalam tangan-Nya sendiri”, telah diberikan bagi “nasehat dan pelajaran” bagi orang-orang yang akan hidup di akhir zaman, apabila “semua perkara ini akan jadi”. Sebab itu adalah sangat penting diperlukan untuk mengenangkan semua pelajaran penting yang terkandung di dalamnya, lalu bersama-sama dengan 

Mereka Yang Setia Bertindak Segera. 

Karena Lot maupun Ibrahim terlihat dalam silsilah keturunan Kristus, maka pertanyaan dengan sendirinya timbul : “Mengapa kedua orang ini begitu besar dihormati?” maka jawabannya yang menunggui kita adalah : Ibrahim memperoleh hormat yang besar ini karena ia setia kepada firman Allah dan ia tidak pernah mempermasalahkannya, walaupun segala perkara tampaknya tertuju untuk memenuhi perkara-perkara itu sendiri bertentangan dengan kepentingan-kepentingannya dan janji-janji Allah. Walaupun Allah telah menjanjikan untuk memberikan tanah itu kepadanya dan keturunannya bagi suatu harta pusaka yang kekal, Ibrahim secara pribadi tidak pernah menerima apa yang dijanjikan itu. Di samping menjalani ujian-ujian iman yang sangat berat ini, ia telah menunggu dua puluh lima tahun lamanya terhadap anak yang dijanjikan itu, hanya untuk diperintahkan supaya apabila putera satu-satunya itu telah menjadi seorang pemuda, supaya mempersembahkannya sebagai suatu korban bakaran. Selanjutnya, melalui

suatu cobaan ia tidak pernah lepas imannya dari Allah, melainkan sepenuhnya ia menaruh harap kepada-Nya dan mematuhi semua perintah-Nya. Karena alasan inilah Allah menghormati dia.

Namun ajaran istimewa itu di sini untuk dipelajari bukan hanya lebih banyak dari pengalaman Ibrahim daripada pengalamannya Lot, karena walaupun Lot kurang bermurah hati seperti halnya Ibrahim, dan tidak begitu rela untuk tinggal jauh terpisah dari dunia, namun imannya pada janji-janji Allah yang kepada Ibrahim itu adalah sama kuatnya seperti halnya iman Ibrahim sendiri, bahkan dalam beberapa hal imannya malahan lebih besar; karena Allah berbicara kepada Ibrahim secara pribadi, sedangkan kepada Lot Ia berbicara melalui perantaraan Ibrahim. Oleh sebab itu, maka Lot sudah harus memiliki keyakinan yang penuh, bahwa Allah telah berbicara kepadanya melalui Ibrahim.

Apalagi, karena di zaman Ibrahim itu belum terdapat satupun Alkitab oleh mana dapat dibuktikan apakah perginya dia keluar dari rumah orang tuanya itu benar-benar menggenapi nubuatan, dan apakah Allah benar-benar sedang memimpin dia untuk pergi meninggalkan Ur di Kasdim itu untuk menuju ke suatu tanah yang letaknyapun ia sendiri tidak mengetahui (Ibrani 11 : 8, 9), maka kita saksikan bahwa Lot adalah tidak sama dengan kebanyakan orang yang ada sekarang, yang mempermasalahkan dan mengeritik apa saja kebenaran yang dibukakan. Tanpa sedikitpun pertanyaan dan keragu-raguan ia menaruh harap sepenuhnya kepada Allahnya Ibrahim, dan dengan keyakinan penuh ia ikut dalam pencarian terhadap tanah perjanjian itu.

Alangkah bedanya antara tabiat dari Lot dan tabiat dari orang-orang Yahudi yang menolak

nabi-nabi dan bahkan membunuh mereka itu sampai mati. Karena alasan inilah Allah telah menghargai Lot dengan karunia terbesar yang sorga dapat berikan kepada umat manusia — yaitu memperoleh bagian sebagai leluhur di bumi dari Tuhan Kemuliaan itu, yaitu Raja yang kekal.

Selanjutnya, walaupun orang-orang keturunan dari Lot, yaitu orang-orang Moab dan orang-orang Amon itu tidak lebih baik daripada orang-orang Kapir lainnya, namun demi karena Lot, maka Allah tidak menangani mereka itu sama seperti yang dilakukan-Nya terhadap orang-orang Kapir lainnya, melainkan diperintahkan-Nya kepada Musa supaya “jangan menyusahkan orang-orang Moab itu dan jangan memerangi mereka, karena tidak akan Ku berikan kepadamu tanah mereka itu untuk milikmu; karena Aku telah mengaruniakan Ar kepada bani Lot sebagai miliknya.” “Dan apabila kamu sampai dekat menghadapi bani Ammon, janganlah kamu menyusahkan mereka itu, karena tiada Aku akan memberikan apapun dari tanah bani Ammon itu menjadi milikmu; karena sudah Ku karuniakan kepada bani Lot untuk milik mereka.” Ulangan 2 : 9, 19.

Maka kata Yesus, “Jika seseorang melayani Aku, hendaklah ia mengikut Aku; dan dimana Aku berada di sanapun hendaklah hamba-Ku berada; jika seseorang melayani Aku, dia akan dihargai oleh Bapa-Ku.” Yohanes 12 : 26. Juga kata Pemazmur, “Ia akan berseru kepada-Ku, dan Aku akan menjawabnya : Aku akan berada bersamanya dalam kesusahan; Aku akan melepaskan dia, dan Aku akan menghargai dia.” Mazmur 91 : 15.

Terlepas dari perbuatan yang menggembirakan oleh menunjukkan penyambutan yang ramah kepada malaikat-malaikat yang mengunjungi Sodom (Kejadian 19 : 1), tindakan termulia dalam catatan kehidupan Lot yang bernoda ialah bahwa ia telah mengikuti Ibrahim dalam

agama asing yang baru ditemukannya itu dan, bahwa untuk berbuat begitu ia telah berpisah meninggalkan rumah bapanya maupun tanah airnya, tanpa mengetahui ke mana ia sedang pergi. Sebagai akibatnya, maka disamping memperoleh berkat kekal oleh menjadi salah seorang leluhur Kristus di bumi ini (suatu berkat yang akan disadarinya melalui Kristus pada hari kebangkitan yang menggembirakan, dan bersuka ria untuk selama-lamanya), ia juga tidak berjalan dengan hampa tanpa berkat-berkat kebutuhannya yang ada, karena sementara dikelilingi oleh bahaya dunia ini, malaikat-malaikat utusan dari sorga juga telah melepaskannya dari bencana kota Sodom itu sebelum kota itu hangus menjadi abu. (Kejadian 19 : 16, 24, 25).

Walalupun demikian, kalau saja ia telah menunggu untuk melihat kenyataan yang lebih besar lagi apakah Allah benar sedang memimpinnya dalam detik-detik yang sangat menentukan bagi hidupnya itu; kalau saja ia mengatakan dalam hatinya : ‘Aku belum akan bertindak, tetapi aku akan menunggu sampai perjuangan ini terbukti berhasil. Aku akan pertama-tama menyelidiki sampai mengetahui dengan pasti bahwa tanah itu subur, dan alam cuacanya cocok bagi keluargaku, kawanan lembuku dan sebagainya, maka ia tidak pernah akan memperoleh bagian dalam pergerakan itu sendiri, ataupun dalam garis keturunan dari Tuhan Kemuliaan, atau dalam kerajaan kekal-Nya.

Saudara, saudariku, adakah anda memiliki iman dari Lot itu? “Semua perkara ini telah jadi terhadap mereka sebagai contoh-contoh; dan ..... tertulis sebagai nasehat bagi kita, kepada siapa akhir dunia ini akan datang.” 1 Korintus 10 : 11. Maka marilah kita mengikuti jejak dari orang-orang besar miliki Allah ini, menaruh harap pada firman-Nya yang tak berubah,  dan bertindak sesuai dengan

itu tanpa sedikitpun ragu-ragu. Janganlah mengikuti jalan orang-orang yang ragu-ragu, yang mempermasalahkan ini dan itu, dan yang mengeritik ini dan itu, dan yang berada dalam akibat-akibat berbahaya, yang tidak pernah sampai kepada pengetahuan kebenaran. Dari hal orang yang sedemikian ini yang pernah hidup dalam pergerakan Advent yang lalu, sejarah gereja menegaskannya sebagai berikut : “Orang banyak, karena menaruh harap sepenuhnya kepada pendeta-pendeta mereka, maka mereka telah menolak mendengarkan amaran; dan orang-orang lainnya, walaupun telah yakin akan kebenaran itu, mereka tidak berani mengakuinya, supaya tidak mereka ‘dibuang keluar dari kaabah’.”

“Halangan besar baik terhadap penyambutan maupun terhadap pemberitaan kebenaran ini, ialah karena kenyataan bahwa ini mengandung penghinaan dan hal-hal yang tidak menyenangkan. Inilah satu-satunya terhadap kebenaran yang oleh para penganjurnya tidak pernah dapat dibantah. Namun ini tidak sedikitpun menggoyahkan  pengikut-pengikut Kristus yang sejati. Mereka ini tidak menunggu akan kebenaran itu sampai menjadi populer disukai. Karena yakin akan kewajiban mereka, maka mereka dengan rela menerima salib, lalu bersama-sama dengan rasul Paulus membuat perhitungan, bahwa ‘penderitaan kita yang ringan, yang hanya sementara saja lamanya, mengerjakan bagi kita suatu kemuliaan kekal berbobot yang jauh lebih besar;’ dengan salib tua yang dulu itu, ‘menjunjung tinggi akan celaan Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar daripada harta kekayaan di Mesir’.” -- The Great Controversy, pp. 380, 460.

Baik orag-orang Moabi maupun orang-orang Ammon yang adalah keturunan dari Lot, dan Lot yang merupakan satu dengan Ibrahim, juga orang-orang Edom yang adalah keturunan dari Esau, saudara kembar dari Yakub, dari hal sekalian mereka itu Allah menyatakan, “tetapi dalam generasi yang keempat

mereka kelak akan kembali ke sini” (Kejadian 15 : 13 - 16), maka sebab itu mereka seharusnya sudah tahu bahwa masa itu sudah sampai bagi kegenapan dari peristiwa yang sudah lama dinantikan itu, dan seharusnya mereka sudah bersiap-siap sesuai dengan itu, atau, kalau saja mereka tidak melihat akan kebenaran itu, maka mereka seharusnya sudah mengenangnya kembali apabila mereka melihat akan pergerakan itu yang kini telah sampai pada perbatasan-perbatasan tanah mereka. Kalau saja mereka itu percaya kepada Allahnya Ibrahim seperti Lot percaya, maka mereka tentunya tidak akan menolak untuk mengijinkan bani Israel, keluarga sedarahnya itu, untuk berjalan melewati negeri mereka menuju ke tanah perjanjian, melainkan sebaliknya mereka sudah akan menggabungkan diri dengan bani Israel itu, seperti halnya Lot telah menggabungkan diri dengan Ibrahim, untuk membantu mereka itu menguasai tanah itu.

Ternyata benar, orang-orang Moabi itu telah melangkah sedemikian jauh dalam permusuhan mereka melawan saudara-saudara mereka sendiri sehingga mereka bahkan mengupah Billiam untuk mengucapkan kutuk atas mereka itu, walaupun pada kenyataannya bahwa Allah dalam mengingatkan orang-orang Israel itu akan janji-Nya kepada Lot, Ia telah memerintahkan kepada mereka itu supaya tidak mengganggu akan saudara-saudaranya. (Hakim-Hakim 11 : 16 - 18).

Dengan demikian karena menolak menyambut mereka itu dan karena menolak memberikan kepada mereka itu jalan aman melewati negerinya, maka orang-orang Moabi itu bukan saja menolak mengakui takdir Allah yang ajaib, melainkan juga mereka telah menolak Dia dalam pribadi umat-Nya yang sudah mereka kenal sebagai orang-orang yang telah dipimpin-Nya dengan tanda-tanda alamat dan keajaiban-keajaiban keluar dari tanah Mesir.

Kiranya pelajaran yang mengerikan ini dapat menerobos masuk ke dalam batin semua orang pada hari ini, sehingga membuat mereka mengakui kuasa Allah Yang Maha besar dalam menggenapi

nubuatan. Maukah orang-orang Kristen menjauhi kesalahan-kesalahan dan segala kekeliruan masa lalu, lalu tanpa ragu-ragu menggabungkan diri dengan umat Allah dalam barisan langkah maju mereka ke depan menuju ke tanah perjanjian contoh saingan itu? Atau maukah seseorang dalam zaman  yang diterangi sekarang ini tetap bersikeras melalaikan firman Allah, dan menentang umat-Nya, seperti yang diperbuat orang-orang Moabi dan orang-orang Ammon dahulu, yang akibatnya mereka telah kehilangan kerajaan mereka maupun hidup kekalnya? Oh, betapa celakanya sesudah diterangi oleh firman kebenaran sedemikian ini, mendengarkan hukuman yang sama mengerikan yang diucapkan terhadap diri sendiri, yaitu hukuman yang telah mengeluarkan orang-orang Moab dan orang-orang Ammon itu dari persekutuan umat Tuhan.

“Seorang Ammon atau pun seorang Moabi tidak diperbolehkan masuk ke dalam sidang jemaat Tuhan; bahkan sampai ke generasi mereka yang kesepuluh pun mereka dilarang masuk ke dalam sidang jemaat Tuhan sampai selama-lamanya; sebab tiada mereka itu menyambut kamu dengan roti dan dengan air sepanjang perjalanan, tatkala kamu keluar dari Mesir; dan untuk melawan kamu mereka telah mengupah Biliam bin Beor dari Pethor di Messopotamia, untuk mengucapkan kutuk atas kamu.” Ulangan 23 : 3, 4.

Pengupahan Biliam oleh orang-orang Moabi itu menarik perhatian kepada kenyataan, bahwa dalam contoh saingannya nanti, orang-orang yang sedang menyambut dan memberkati umat Allah, sebaliknya akan diupahi dengan janji-janji uang dan nama baik oleh hamba-hamba yang tidak jujur untuk mengucapkan kutuk terhadap mereka. Tetapi kita dihiburkan oleh kebenaran (dalam contohnya), bahwa apa yang Allah telah berkati, tak seorangpun dapat mengutuknya.

“Saya tercengang“, demikian kata hamba Tuhan, “bahwa oleh teladan-teladan yang ada di depan kita mengenai bagaimana seseorang mungkin keadaannya, dan apa yang dapat ia perbuat, kita sama sekali tidak terdorong terhadap usaha yang lebih besar untuk menandingi perbuatan-perbuatan baik dari orang-orang benar. Mungkin tidak semua dapat menduduki suatu jabatan tertinggi, namun semua orang dapat saja mengisi jabatan-jabatan yang berguna dan terpercaya, bahkan mungkin sekali oleh kesetiaan mereka yang bersungguh-sungguh, mereka dapat berbuat jauh lebih baik daripada yang mereka pikirkan. Mereka yang memeluk kebenaran hendaklah berusaha mencarikan suatu pengertian yang cerah terhadap Injil, dan suatu pengetahuan pengalaman dari hal suatu Penebus yang hidup. Inteligensia harus dipelihara ingatan harus diisi. Segala kemalasan inteligensia adalah dosa, dan tidur rohani ialah kematian.” — Testimonies, vol. 4, p. 399.

“Kami ingin supaya masing-masing kamu menunjukkan kesungguhan yang sama menuju kepada jaminan pengharapan yang penuh sampai terakhir, supaya kamu tidak menjadi lalai, melainkan menjadi pengikut-pengikut orang-orang yang oleh iman dan kesabaran mewarisi segala janji itu.” Ibrani 6 : 11, 12.

Mereka yang menunggu agar pendeta lebih dahulu menyambut pekabaran ini sebelum mereka sendiri bertindak oleh keyakinannya, mereka tidak akan pernah sampai pada pengetahuan akan kebenaran itu. Roh Nubuatan mengatakan :

“Sebagaimana terang dan kehidupan orang-orang itu telah ditolak oleh penguasa-penguasa agama di zaman Kristus yang lalu, maka demikian itu pula telah ditolak dalam setiap generasi berikutnya. Berulang kali sejarah pengunduran diri Kristus dari Yudea itu telah diulangi. Pada waktu para pelopor reformasi mengkhotbahkan

firman Allah, mereka sama sekali tidak memikirkan untuk memisahkan dirinya dari sidang yang ada; tetapi para penguasa agama tidak mau membiarkan terang itu bercahaya, maka mereka yang membawakannya itu dipaksa untuk mencarikan kelas orang-orang yang lain, yaitu mereka yang rindu akan kebenaran itu. Dalam sejarah kita yang sekarang hanya sedikit dari para pengikut pelopor-pelopor reformasi itu yang digerakkan oleh roh mereka. Hanya sedikit yang sedang mendengar akan suara Allah, dan siap untuk menyambut kebenaran dalam cara apapun juga ia itu disampaikan. Sering-kali orang-orang yang mengikuti jejak-jejak para pelopor Reformasi itu terpaksa berbalik meninggalkan gereja-gereja yang mereka cintai, demi untuk memberitakan ajaran Firman Allah yang jelas. Dan banyak sekali orang-orang yang sedang berusaha mencari terang oleh ajaran yang sama mereka terpaksa meninggalkan sidang dari para orangtuanya, supaya mereka dapat melaksanakan kepatuhannya.” — The Desire of Ages, p. 232, par. 2.

“Pada waktu itu dan pada masa itu, demikianlah firman Tuhan, akan datang segala bani Israel serta dengan segala bani Yehuda pun bersama-sama, sambil berjalan, sambil menangis; mereka akan pergi hendak mencari Tuhan Allah mereka. Mereka akan menanyakan jalan yang menuju ke Sion dan muka mereka sambil mengarah ke sana, sambil mengatakan, ‘Datanglah dan marilah kita bergabung dengan Tuhan dengan suatu perjanjian yang kekal yang tiada akan dilupakan.’ Bahwa umat-Ku telah menjadi laksana domba-domba yang sesat; gembala-gembalanya telah membuat mereka itu tercerai-berai; mereka telah mengusir domba-domba itu di atas gunung-gunung; mereka telah mengembara dari gunung ke bukit, mereka telah lupa akan tempat perhentiannya. Mereka telah ditelan oleh semua orang yang menemui mereka itu; dan kata segala musuhnya, ‘Kami

tidak bersalah, sebab mereka itu telah berdosa melawan Tuhan, tempat keadilan mereka itu, yaitu Tuhan, harapan dari segala nenek moyangnya. Larilah kamu keluar dari tengah-tengah Babil, dan keluarlah kamu dari negeri orang Kasdim, dan jadilah kamu seperti kambing-kambing jantan (pemimpin-pemimpin) di hadapan kawanan kambing-kambing.” Yeremia 50 : 4 - 8.

“Masanya sudah sampai bagi suatu reformasi yang menyeluruh untuk dilaksanakan. Bilamana reformasi ini dimulai, maka roh berdoa akan menggerakkan setiap orang percaya, sehingga akan menghapuskan dari sidang roh perpecahan dan suka menang sendiri. Orang-orang yang belum hidup dalam ikatan persaudaraan Kristus akan saling mendekati satu dengan yang lainnya. Anggota yang satu yang bekerja dalam garis-garis yang benar akan memimpin anggota-anggota lainnya untuk bergabung bersama-sama dengannya mengajukan permohonan untuk mendapatkan wahyu dari Roh Suci. Tidak akan ada lagi kekacauan, karena semua mereka akan berada dalam persatuan yang harmonis dengan pikiran yang berisikan Roh. Jurang-jurang yang memisahkan orang-orang percaya yang satu dengan yang lainnya akan hancur, maka hamba-hamba Allah akan berbicara perkara-perkara yang sama. Tuhan akan bekerja sama dengan hamba-hamba-Nya. Sekalian mereka akan mengucapkan doa yang diajarkan Kristus kepada hamba-hamba-Nya itu dengan penuh pengertian sebagai berikut : ‘Datanglah kerajaan-Mu. Jadilah kiranya kehendak-Mu di bumi seperti halnya di dalam sorga.’ Matius 6 : 10.” — Testimonies, vol. 8, p. 251.

“Tuhan berfirman kepada Tuhanku : Duduklah Engkau pada sebelah kanan-Ku, sampai kelak Ku jadikan semua musuh-Mu menjadi alas kaki-Mu. Tuhan akan mengirim tongkat kekuasaan-Mu dari dalam Sion; peganglah oleh-Mu perintah di tengah-tengah segala musuh-Mu. Umat-Mu akan merelakan diri pada hari kekuasaan-Mu, dalam segala keindahan kesucian

semenjak dari kandungan fajar, tampil bagimu embun dari masa mudamu. Tuhan telah bersumpah, dan Ia tidak akan menyesal, bahwa Engkau adalah imam untuk selama-lamanya semartabat dengan Melkhizhedek. Tuhan pada sebelah kananmu itu akan memalu segala raja pada hari murka-Nya. Ia akan mengadili di antara orang-orang Kapir, Ia akan memenuhi tempat-tempat dengan bangkai-bangkai orang mati; Ia akan melukai orang-orang yang menjadi kepala atas banyak negeri-negeri. Ia akan minum dari anak sungai selama perjalanan; sebab itu Ia akan mengangkat kepala.” Mazmur 110.

“Ingatlah akan istri Lot.”

“Larilah demi hidupmu.”

Dengan demikian tinggikanlah struktur kebenaran, sampaikanlah pekabaran, bahwa kerajaan itu akan diperdirikan kembali oleh nabi Eliyah contoh saingan itu, sebelum berakhir masa kasihan, namun karena bumi adalah tidak siap bagi orang-orang suci tinggal selama-lamanya di atasnya, maka sebab itu Yesus akan “datang kembali” dan menyambut semua umat tebusan (baik mereka yang bangkit dari kubur-kuburnya maupun mereka yang akan ditemukan hidup pada saat kedatangan-Nya — 1 Tesalonika 4 : 16, 17), lalu akan dibawa-Nya mereka itu ke rumah-rumah tinggal yang di atas, yang sudah Ia pergi menyediakannya (Yohanes 14 : 3). Kemudian karena orang-orang suci itu naik dan orang-orang jahat mati, maka bumi akan ditinggalkan kosong dan gelap (Yeremia 4 : 23 - 29) selama seribu tahun (Wahyu 20 : 3), setelah mana Tuhan akan turun bersama-sama dengan orang-orang suci (Wahyu 21 : 1 - 3) menyucikan bumi dengan api (2 Petrus 3 : 10 - 13) lalu mempersiapkannya kembali bagi tempat tinggal kekal bagi orang-orang suci (Yesaya 45 : 18)!

Sebab itu sekarang hendaklah imanmu kepada firman memperbaharui kembali kasihmu kepada kebenaran dan kepada janji kemuliaan yang akan datang itu sebagai berikut :

“Nyanyikanlah bagi Tuhan suatu nyanyian yang baru, karena telah diperbuat-Nya perkara-perkara yang menakjubkan, tangan kanan-Nya dan lengan kesucian-Nya telah membawakan kemenangan bagi-Nya. Tuhan telah memberitahukan selamat-Nya : Ia telah menyatakan kebenaran-Nya di hadapan segala mata orang Kapir. Maka telah teringatlah Ia akan kemurahan-Nya dan kebenaran-Nya terhadap isi rumah Israel; segala ujung bumi telah melihat selamat yang dari Allah kita. Bergembiralah secara ramai-ramai bagi Tuhan, hai seluruh bumi; nyaringkanlah suaramu, dan bersuka-citalah, dan nyanyikanlah puji-pujian. Nyanyikanlah bagi Tuhan dengan kecapi; dengan kecapi dan dengan suara mazmur. Dengan serunai dan bunyi trompet-trompet bersoraklah di hadapan hadirat Tuhan, Raja itu. Hendaklah laut dan segala isinya menderu-deru bunyinya, dan juga bumi serta dengan segala yang mendudukinya. Hendaklah segala banjir bertepuk tangan; hendaklah segala bukit bersukaria bersama-sama di hadapan Tuhan; karena Ia datang hendak mengadili bumi : dengan kebenaran akan diadili-Nya dunia dan segala bangsa dengan adil.” Mazmur 98.

Oh betapa mulianya gambaran-gambaran masa depan itu! Siapakah yang hendak melalaikannya? Saudara-saudariku, Anda harus berada di sana. Apapun juga kerugian yang Anda alami di sini, pertetapkanlah hatimu untuk memperoleh sebuah rumah di sana. ”..... Itu kelak merupakan suatu keberkatan yang kekal, suatu kebahagiaan kekal, yang mengungkapkan kemuliaan-kemuliaan baru sepanjang jalan segala zaman yang tak terhingga.” — Testimonies, vol. 8, p. 131.

Tengoklah “..... sungai yang jernih dan padang-padang yang hijau, pohon-pohon yang melambai-lambai dan mata-mata air yang hidup, kota yang bercahaya-cahaya dan para penyanyi yang berjubah-jubah putih, dari rumah samawi kita, — dunia yang cantik itu yang tak seorangpun artis dapat melukiskannya, tidak satupun bahasa manusia berdosa dapat menceritakannya. ‘Yang mata tiada tampak, dan telingapun belum pernah mendengar, ataupun pernah timbul di dalam hati manusia, yaitu perkara-perkara yang telah Allah sediakan bagi mereka yang mencintai-Nya’. 1 Korintus 2 : 9.”

“Untuk tinggal selama-lamanya di dalam rumah yang berbahagia ini, untuk dikandung di dalam jiwa, tubuh, dan roh, bukan bekas-bekas dosa dan kutuk yang gelap itu, melainkan kesamaan yang sempurna dengan Khalik kita, dan sepanjang zaman yang tak terhingga terus maju dalam hikmat pengetahuan, dan dalam kesucian, yang senantiasa menggali ladang-ladang ilmu yang baru, senantiasa menemukan keajaiban-keajaiban baru dan kemuliaan-kemuliaan baru, senantisa bertambah-tambah dalam kemampuan untuk mengetahui dan untuk menikmati dan untuk mencintai, sambil mengetahui bahwa masih ada lagi di seberang kita kegembiraan dan kasih dan hikmat pengetahuan yang tak terhingga, — yang sedemikian inilah objek yang dituju oleh harapan orang-orang Kristen .....” — Counsels to Teachers, p. 55. 

* * *

 

.

Previous
7TK
Pertentangan Besar Mengenai Tongkat Gembala
Next
9TK
" Tengok, Aku Menjadikan Segala Sesuatu Baru "