Davidian Today This is the official website of GADSDA

Languages

Social

Global search
Use these syntaxes below to make advanced search
Sentence search: "Ancient David also was a young boy"
AndX search: King David
OrX search: King | David
NotX search: King ! David
Book search
Use these syntaxes below to make advanced search witin books
Reference search: 1tg2: or 1tg2:18 or 1tg2:18.3
Sentence search within book: 1tg2::"Ancient David also was a young boy"
Sentence search within book categories (tracts): tr::"The Jews before Christ’s day"
AndX search within book: 1tg2::King David
OrX search within book: 1tg2::King | David
NotX search within book: 1tg2::King ! David

Tanya Jawab Buku No. 2

Tanya jawab topik-topik kebenaran sekarang yang diminati anggota Masehi Advent Hari Ketujuh

.

Copyright 1944,

V.T. Houteff

Hak cipta terjamin

Agar setiap orang yang haus akan kebenaran dapat memilikinya, maka buku kecil ini, sebagai bagian pelayanan Kristen, dikirimkan tanpa biaya. Hubungi kami untuk mendapatkannya. Tidak ada pungutan yang dituntut: kecuali tanggung jawab setiap jiwa itu sendiri untuk menguji segala sesuatu dan memegang yang baik. Satu-satunya yang mengikat hadiah kecil bebas biaya ini adalah untaian emas Eden dan benang merah Kalvari-menjadi satu tali pengikatnya

TANYA JAWAB

Buku No. 2 

Berbagai Pertanyaan dan Jawaban terhadap Pokok-Pokok Masalah Kebenaran Sekarang dalam Perhatian Para Anggota dan Para Pembaca Masehi Advent Hari Ketujuh

terhadap buku 

TONGKAT GEMBALA 

Oleh :

V. T. Houteff 

“Ahli Torat” ini, yang diutus ke dalam kerajaan surga, “mengeluarkan.....perkara-perkara yang baru dan lama.” Matius 13:52 

Sekarang “kuduskanlah Tuhan Allahmu di dalam hatimu : dan bersiaplah selalu untuk menjawab dengan lemah lembut dan hormat kepada setiap orang yang menanyakan kamu akan hal alasan pengharapan yang ada di dalam kamu.” 1 Petrus 3 : 15. 

Universal Publishing Association

PO. Box 6965/JAT-PK, Jakarta 13710

e-mail : gadsdaid@yahoo.com

DAFTAR ISI

HIMBAUAN PERKENALAN DARI

TANYA JAWAB INI 

Sebuah Khotbah Stephanus Bagi

Sidang di Waktu Ini 

“Hai Tuan-Tuan, Saudara-Saudara, Dan Bapak-Bapak sekalian, dengarlah : Bahwa Allah yang maha mulia telah menyatakan diri-Nya kepada nenek moyang kita Abraham, tatkala ia berada di Mesopotamia, sebelum ia berdiam di negeri Haran. Maka firman Tuhan kepadanya : Keluarlah engkau dari tanah airmu, dan dari kaum keluargamu, dan pergilah ke suatu negeri yang akan Ku tunjukkan kepadamu.” Kisah Rasul-Rasul 7 : 2, 3. “Maka berangkatlah Abraham dari sana sesuai yang difirmankan Tuhan kepadanya” (Kejadian 12 : 4), lalu pergi sesuai bimbingan-Nya memasuki Kanaan, dan disanalah ia tinggal, walaupun Tuhan “tidak memberikan kepadanya harta milik apapun di dalamnya, setapak kakipun tidak, namun Ia berjanji bahwa Ia akan mengaruniakannya kepadanya untuk menjadi miliknya dan milik keturunannya, sekalipun pada waktu itu ia belum beranak.” Kisah Rasul-Rasul 7 : 5.

Kemudian pada waktunya, Tuhan bermaksud memimpin Yakub dan rumah tangganya keluar dari Kanaan, turun ke Mesir. Walaupun demikian, karena mengetahui bahwa putera-putera Yakub itu tidak mungkin mau pergi seperti halnya Abraham, dengan hanya begitu saja menyuruh mereka itu pergi, maka sebab itu dalam kekuasaan-Nya Ia menciptakan di dalam hati Yakub suatu kasih sayang yang lebih besar  kepada Yusuf lebih daripada kepada anak-anaknya yang lain. Inilah yang menimbulkan kedengkian dan iri hati di dalam mereka, yang pada gilirannya menimbulkan kebencian dan gelojoh, yang dimanifestasikan dalam perbuatan mereka yang kejam sampai menjual Yusuf, yang akibatnya ia telah dibawa pergi sebagai budak ke Mesir.

Bertahun-tahun kemudian sewaktu saudara-saudaranya Yusuf itu memasuki Mesir untuk mencari makanan selama kelaparan tujuh tahun itu, maka Yusuf, yang mengerti akan rencana kuasa Ilahi dalam drama kehidupannya yang ajaib itu dari perbudakan sampai kepada menduduki tahta kerajaan, mengatakan kepada saudara-saudaranya sambil “memperkenalkan dirinya” kepada mereka : “Janganlah bersedih hati ataupun marah di antara sesamamu, karena kamu telah menjual diriku ke sini; karena Allah telah mengutus aku mendahului kamu untuk memelihara nyawa orang ..... dan ..... untuk memeliharakan kamu sebagai suatu keturunan di bumi, dan untuk menyelamatkan nyawamu oleh suatu kelepasan yang besar.” Kejadian 45 : 1, 5, 7.

Demikianlah Tuhan sesuai kuasa takdir telah meninggikan Yusuf untuk ikut menduduki tahta Mesir untuk mempengaruhi Phiraun supaya mengijinkan Israel memasuki tanah itu.

Berikutnya, untuk menarik mereka ke sana, Ia mendatangkan ke sana kelimpahan selama tujuh tahun, yang kemudian menyusul tujuh tahun kelaparan itu. Kemudian disampaikannya pesan kepada Yakub bahwa Yusuf masih hidup. Oleh berita yang sangat menggembirakan itu, bangkitlah di dalam hati bapanya suatu kerinduan yang tak dapat dihalangi untuk menengok anaknya. Hal inilah berikut derita kelaparan yang menimpa saudara-saudara Yusuf itu, telah memaksa mereka untuk pindah memasuki tanah Phiraun yang berkelimpahan itu, dimana disana mereka telah hidup seperti raja-raja.

Tetapi, karena bukan direncanakan untuk membiarkan mereka di sana untuk selamanya, maka Tuhan tidak membiarkan hidup mereka terus menyenangkan seperti pada mulanya, supaya jangan mereka menolak mematuhi Musa apabila ia datang membawakan firman bahwa saatnya telah tiba bagi mereka untuk kembali pulang. Tetapi Ia mendatangkan lagi suatu takdir

penyelamatan yang lain, kali ini membiarkan kesengsaraan menimpa mereka, supaya apabila dipanggil, mereka akan menyambut dengan suka cita. Demikian itulah mereka telah jadi seperti ‘budak-budak; bahkan lebih berat lagi, telah dirampas dari mereka anak-anak laki-lakinya, kemudian dengan pukulan-pukulan cemeti di punggung-punggung mereka secara kejam, mereka diharuskan menghasilkan lebih banyak lagi batu-batu bata.

Demikianlah kuasa Roh yang bergabung dengan ngerinya penderitaan dari perbudakan mereka yang berat di Mesir itu, telah merupakan dorongan kuat yang memaksa mereka untuk meninggalkan tanah kapir itu untuk kembali ke tanah airnya sendiri.

Kemudian, pada perjalanan mereka kembali menjumpai lagi suatu kejadian takdir ilahi yang lain -- yaitu pengembaraan mereka yang lama di padang belantara, empat puluh tahun lamanya -- yang telah dibiarkan Allah untuk maksud memisahkan dari antara mereka orang-orang yang tidak percaya, yaitu rombongan besar orang-orang yang tidak setia yang telah mengikuti Pergerakan itu keluar dari Mesir. Setelah mereka ini dibinasakan, maka orang-orang yang luput itu secara mentaajubkan menyeberangi sungai Yordan, sama seperti halnya empat puluh tahun sebelumnya mereka menyeberangi Laut Merah. Di sana setelah menyingkirkan dari tengah-tengah mereka seorang berdosa, yang bernama Akhan, yang telah muncul di antara mereka pada waktu itu, maka mereka kemudian memasuki tanah perjanjian itu lalu menjadi kerajaan yang sangat gilang gemilang pada zamannya. Budak-budak itu kemudian menjadi raja-raja -- sungguh mentaajubkan!

Dengan sendirinya orang dapat berpikir, bahwa suatu umat yang dengan keajaiban telah dibebaskan Allah dari perbudakan, dan kemudian secara sama mentaajubkan telah dibuatkan Allah bagi mereka sebuah kerajaan, kini pasti tidak akan pernah lagi jatuh karena mereka

adalah kuat. Tetapi karena melalaikan Kekuatan mereka, maka mereka kembali jatuh ke dalam tawanan! Dalam kelemahan sebagai budak-budak di bawah Phiraun, Allah telah mengangkat mereka mencapai kekuatan melebihi majikan-majikan Mesir mereka; kini dalam kekuatan mereka sendiri sebagai majikan-majikan, Ia kembali merendahkan mereka menjadi tawanan bangsa-bangsa di sekeliling mereka! Dua kali keajaiban.

Di sini terdapat bukti yang pasti bahwa Tuhan telah mendirikan mereka, dan Tuhan juga yang meruntuhkan mereka (2 Tawarikh 36 : 13 – 23), “supaya mereka”, sesuai firman-Nya, “dapat mengetahui semenjak dari matahari terbit, dan semenjak dari barat, bahwa tidak ada lagi yang lain selain Aku. Akulah Tuhan, dan tidak ada lagi yang lain.” Yesaya 45 : 6.

Dalam perjalanan masa, dengan genapnya tujuh puluh tahun yang dinubuatkan oleh Yeremia (Yeremia 29 : 10), maka Allah sekali lagi menghantarkan Israel ke dalam tanah airnya sendiri. Tetapi setelah bertahun-tahun lewat, generasi-generasi lama diganti oleh generasi-generasi baru, maka Israel kembali melalaikan Tuhan Kekuatan mereka, kali ini selengkapnya mereka lalaikan, sehingga pada waktu Messias yang telah lama dinanti-nantikan itu akhirnya datang, maka mereka menolak-Nya, menyalibkan-Nya, dan bahkan meludahi-Nya!

Sebagai pembalasan Ilahi, maka dalam murka-Nya Allah memalingkan wajah-Nya dari mereka, lalu menyerahkan mereka ke tangan para penindasnya, yang membinasakan kaabah mereka dan kota bentengnya, yang menghalaukan mereka keluar dari tanah airnya, dan membiarkan mereka sebagai bangsa yang telah ditinggalkan, yang terbuang tanpa Allah, tanpa mata uang, tanpa negeri, sebagai suatu bangsa yang dibenci oleh semua bangsa semenjak dari hari itu sampai sekarang!

Tetapi, tidak semua telah dibuang sedemikian ini. Sejumlah besar dari mereka telah terbuka matanya akan kenyataan bahwa orang-orang besarnya telah menuduh-nuduh Tuhan secara palsu, memutarbalikkan nubuatan-nubuatan yang berkenan dengan diri-Nya, dan menyesatkan orang banyak itu. Oleh perantaraan mereka yang tetap setia ini, Ia mempertahankan benih Israel itu. Oleh menerima Kristus dan menjadi orang-orang Kristen, maka putera-putera Yakub yang setia ini telah diganti nama mereka dari Yahudi menjadi Kristen, sama seperti yang dibayangkan dalam penggantian nama nenek moyang mereka oleh Allah dari Yakub menjadi Israel, dan leluhur mereka dari Abram menjadi Abraham.

Dimulai dengan 120 orang murid yang dipenuhi Roh, maka sidang Kristen Yahudi ini telah menobatkan 3000 jiwa pada hari Pantekosta oleh mengkhotbahkan hanya sebuah khotbah sederhana yang mengandung kuasa Roh, dan kemudian “menambahkan kepada sidang setiap harinya sedemikian ini sesuai orang-orang yang akan diselamatkan.” Kisah Rasul-Rasul 2 : 47.

Pengumpulan jiwa-jiwa yang banyak ini sangat menimbulkan amarah Setan sehingga ia membalasnya dengan “menganiaya perempuan itu (sidang Kristen Yahudi itu) yang telah melahirkan bayi laki-laki itu” (Wahyu 12 : 3), sedemikian rupa untuk menghalanginya mentobatkan orang, dan untuk menghalangi orang-orang yang telah berhasil ditobatkannya untuk menggabungkan diri dengannya.

(Dari bantuan dasar fakta-fakta bahwa anak wanita itu, yaitu Kristus, yang “telah dibawa kepada Allah”, ayat 5, telah lahir di dalam sidang Yahudi, dan bahwa sidang Kristen muncul dari sidang Yahudi, mendirikan dengan kokoh wanita itu sebagai lambang hamba-hamba Allah yang setia

baik di dalam sidang wasiat lama maupun wasiat baru).

Sebagai akibat penganiayaan terhadap perempuan itu, maka Setan, gantinya menghalangi rencana ilahi itu, ia malahan secara ironis hanya membantunya. Memang, di ladang sidang (Matius 13 : 38) hanya bertumbuh “gandum-gandum” yang murni, “pukat” itu (ayat 47) hanya menangkap “ikan-ikan” yang baik saja, karena aniaya terhadap mereka yang sedemikian ini akan membuat orang-orang yang setia itu makin berani memihak kepada Kebenaran dan menjadi anggota-anggota dari sekte agama yang dibenci. Oleh sebab itu, setelah melihat hasil-hasil penindasannya, maka dengan segera ia merubah siasatnya.

Gibbon mengatakan : “Dengan beberapa keputusan toleransi ia (Constantine) telah menyingkirkan semua hambatan-hambatan sementara yang sampai pada waktu itu telah menghalangi kemajuan-kemajuan Kristen; maka pendeta-pendetanya yang giat dan yang berjumlah besar itu memperoleh ijin kebebasan, yaitu suatu dorongan terbuka untuk menganjurkan kebenaran-kebenaran hasil ungkapan yang sehat dari setiap argumentasi yang dapat mempengaruhi akal sehat atau kesetiaan manusia. Keseimbangan yang merata kedua agama itu (Kristen dan Kekapiran) berlangsung hanya sementara ..... Kota-kota yang menunjukkan semangat kemajuannya oleh merusakkan secara suka rela kuil-kuil (Kekapiran) mereka, memperoleh penghargaan hak-hak istimewa kota, dan dihadiahi dengan pemberian-pemberian resmi. ..... Keselamatan rakyat biasa dapat dibeli dengan tarif pembayaran yang murah, sekiranya ia itu benar, sehingga dalam setahun saja dua belas ribu orang telah dibaptiskan di Roma, belum terhitung sejumlah yang sama wanita dan anak-anak, dan bahwa sebuah

jubah putih, berikut dua puluh keping emas, telah dijanjikan oleh kaizar kepada setiap orang yang bertobat.” Inilah “sebuah undang-undang dari Constantine, yang memberikan kebebasan kepada semua budak yang hendak memeluk agama Kristen.” -- Gibbon’s Rome, vol. 2, pp. 273, 274 (Milman Edition).

Segera setelah Setan menyuruh agen-agennya menghentikan penindasan terhadap orang-orang Kristen, dan mulai menggabungkan diri dengan mereka, maka ia membohongi mereka itu supaya berpikir bahwa ia adalah kawan mereka. Demikianlah setelah aniayanya itu berakhir, tertidurlah mereka secara rohani; dan sementara mereka itu tidur, ia menaburkan benih-benih lalang.

Memang, ia telah membuat suatu perubahan total dan bahkan mendesak orang-orang Kapir untuk menggabungkan diri dengan sidang, dengan demikian “ia menyemburkan air dari dalam mulutnya bagaikan air bah mengikuti perempuan itu dari belakang, supaya dapat ia menghanyutkannya dengan air bah itu.” Wahyu 12 : 15. Gantinya menganiaya orang-orang yang mau menggabungkan diri dengan sidang, ia berbalik menganiaya orang-orang yang tidak mau menggabungkan diri dengan sidang, supaya sidang dapat dibanjiri dengan orang-orang Kapir yang tidak bertobat dan dengan demikian ia akan “dihanyutkan oleh air bah itu.” Wahyu 12 : 15.

Untuk mempertahankan orang banyak itu dalam kegelapan di zaman pelopor-pelopor reformasi itu, ia seolah-olah memasang klem mengunci mereka, kemudian ia membuka lebar-lebar alat pemadam untuk mematikan terang yang bernyala-nyala itu, dan setelah itu pun gagal, maka dipasangnya “pendeta-pendeta yang tidur yang berkhotbah kepada suatu umat yang tidur.” -- Testimonies, vol. 2, p. 337.

Cara yang sangat berhasil ini telah ditempuhnya berulang kali semenjak dahulu, sehingga

akibatnya sidang pada waktu ini hampir-hampir telah dipenuhi dengan lalang-lalang. Ia itu seolah-olah telah dirembesi oleh pasukan musuh.

Hamba Tuhan mengatakan dalam suatu pandangan yang nyata mengenai kondisi ini sebagai berikut : “Malam itu saya bermimpi, bahwa saya berada di Battle Creek sementara memandang keluar melalui sisi kaca pada pintu, maka ku tampak suatu rombongan yang sedang berbaris maju mendatangi rumah, dengan berdua-dua. Mereka tampaknya tegas dan bertekad. Saya mengenal mereka dengan baik, lalu saya menoleh hendak membuka pintu depan untuk menyambut mereka, namun ku pikir saya hendak melihat kembali. Pemandangan itu berubah. Rombongan itu kini memperlihat bentuk suatu upacara Katholik. Seseorang membawa di dalam tangannya sebuah salib, seorang lainnya membawa sesuatu alat buluh. Dan sementara mereka itu mendekat, maka orang yang membawa alat buluh itu membuat lingkaran sekeliling rumah, sambil mengatakan sebanyak tiga kali : ‘Rumah ini adalah terlarang. Barang-barangnya harus disita. Mereka telah berbicara menentang tata tertib kami yang suci.’ Saya dicekam ketakutan, lalu saya berlari melalui rumah, keluar dari pintu utara, lalu mendapati diri saya di tengah-tengah suatu rombongan orang, sebagiannya saya kenal, tetapi saya tidak berani mengucapkan sepatakata kepada mereka karena takut dikhianati. Saya berusaha mencarikan suatu tempat istirahat dimana saya dapat meratap dan berdoa tanpa dilihat orang yang ingin tahu kemanapun saya menoleh. Saya berulang kali mencoba, ‘Sekiranya saya dapat hanya memahami hal ini! Sekiranya mereka mau memberitahukan kepada saya apa yang telah saya katakan, atau apa yang telah saya perbuat!’

“Saya banyak meratap dan berdoa setelah saya melihat barang-barang kami disita. Saya mencoba membaca perasaan simpathi atau kasihan terhadap diri saya pada pandangan orang-orang yang mengelilingi saya, dan menandai wajah kebanyakan

orang yang kukira akan berbicara kepada saya dan menghiburkan saya sekiranya mereka tidak takut bahwa mereka akan dimata-matai oleh orang lain. Saya mencoba untuk meloloskan diri dari rombongan orang banyak itu, namun karena melihat bahwa saya telah dimata-matai, maka saya merahasiakan semua niat hati saya. Saya mulai lagi meratap dengan nyaring sambil mengatakan : ‘Sekiranya mereka mau hanya memberitahukan kepada saya apa yang telah saya perbuat, atau apa yang telah saya katakan!’ Suamiku yang tidur di dalam ruangan yang sama, setelah mendengar aku meratap dengan nyaringnya, lalu membangunkan saya. Bantalku basah dengan air mataku, dan roh-roh depresi yang sangat menyedihkan menimpa diriku.” -- Testimonies, vol. 1, p. 578.

Tetapi, janjinya adalah bahwa membanjirnya lalang-lalang itu akan tinggal di dalamnya hanya sampai kepada masa penuaian, yaitu musim bagi pemisahan mereka -- akhir dunia itu.

Selama Setan masih berhasil meneruskan pekerjaan membanjiri sidang dengan pergerakan secara diam-diam, maka ia tidak akan pernah menggerakkan jarinya untuk menganiaya seseorang pun karena menggabungkan diri dengan sidang, supaya jangan dengan cara demikian ia menghalangi rancangan jahatnya sendiri untuk mempersatukan barisan anggota-anggota sidang dengan agen-agennya -- air bah itu, atau lalang-lalang itu. Untuk menjamin keberhasilan pekerjaan yang penuh tipu muslihat ini, maka ia membuang keluar orang-orang yang berani menghayati ketetapan kehidupan Kristen yang berada di antara lalang-lalang itu, sementara ia terus berusaha dengan alat pemandamnya yang terpasang, untuk mematikan setiap cahaya terang kehidupan.

Sungguhpun demikian, pada akhirnya sesuai, yang diungkapkan oleh nubuatan, maka meja-meja itu akan berbalik, dan pertikaian yang panjang itu akan berakhir dengan dibuang Tuhan dan dibinasakan-Nya (Wahyu 12 : 16) akan agen-agen Setan, “air bah” itu (lalang-lalang dan ikan-ikan yang jelek), dan

kemudian menerangi bumi dengan kemuliaan dari malaikat-Nya (Wahyu 18 : 1)!

Di sini kita saksikan bahwa pekerjaan yang sedang mendekat untuk bebas dari air bah itu, dengan cara membebaskan sidang dari orang-orang yang tidak bertobat, ialah pekerjaan “penuaian itu” di “akhir dunia.” Matius 13 : 39. Berikutnya kita harus menentukan apakah “akhir dunia” itu menghantarkan zaman kedamaian seribu tahun millenium itu atau masa kesusahan yang besar itu yang sedemikian itu belum pernah ada. Untuk menentukan yang mana, maka kita harus mencarikan petunjuk-petunjuk melalui peristiwa-peristiwa berikutnya.

Karena adalah sesudah bumi menelan air bah itu, baru naik amarah naga terhadap perempuan itu lalu pergi ia “memerangi yang tersisa dari benihnya, yaitu mereka yang memeliharakan hukum-hukum Allah, dan memiliki kesaksian Yesus Kristus itu” (Wahyu 12 : 16, 17), adalah tidak terhindar dari kesimpulan, bahwa penuaian itu, dalam mana air bah Setan itu dibuang keluar dari sidang, yaitu lalang-lalangnya yang banyak itu, tentunya tidak akan menghantarkan masa seribu tahun millenium yang damai. Memang tidak, melainkan sebaliknya ia itu akan menghantarkan murka Allah -- masa kesukaran itu yang sedemikian itu belum pernah ada sebelumnya; yaitu masa dimana umat Allah di Babilon dipanggil “untuk keluar daripadanya” dan masuk ke dalam sidang-Nya yang sudah disucikan -- Kerajaan itu.

Oleh sebab itu, maka penuaian itu akan merupakan suatu masa periode singkat sebelum, dan bukan pada saat munculnya Kristus di dalam awan-awan di langit. Itu adalah hari-hari masa kasihan yang terakhir bagi kerajaan-kerajaan di bumi, -- yaitu hari-hari dan pekerjaan yang menghantarkan akhir dunia.

Kenyataan bahwa ada terdapat suatu umat yang sisa (yang tertinggal) dari benih perempuan itu, menunjukkan bahwa benihnya telah terbagi menjadi dua bagian, dan bahwa dengan sendirinya simbol itu memperlihatkan tiga kelompok orang-orang : (1) perempuan itu; (2) bagian pertama dari benihnya -- yaitu orang-orang yang dalam peristiwa ini adalah bukan umat yang tersisa; (3) bagian kedua dari benihnya -- yaitu orang-orang, yang merupakan umat yang tersisa itu.

Dalam terang dari gambaran simbolis ini, perempuan itu sendiri terlihat melambangkan bagian yang merupakan ibu daripada sidang -- yaitu para pendeta pilihan Allah yang dipenuhi Roh yang membawa masuk orang-orang bertobat yang telah dilahirkan kembali (Yohanes 3 : 3). Sesuai dengan itu, maka bagian pertama benihnya itu harus merupakan buah-buah pertama, yaitu mereka yang 144.000 itu, yang telah memisahkan diri dari orang-orang berdosa yang terdapat di antaranya, yang akan dibawa ke Gunung Sion, untuk berdiri di sana bersama-sama dengan Anak Domba itu (Wahyu 14 : 1). Oleh sebab itu, maka “yang tersisa dari benihnya itu” dalam peristiwa ini ialah orang-orang yang masih tertinggal di bumi sewaktu Babilon menunggangi binatang itu (Wahyu 17). Dengan demikian mereka adalah buah-buah yang kedua yang terakhir yang akan diambil untuk dibawa ke sidang yang sudah disucikan itu, yaitu Kerajaan itu, di mana tidak lagi terdapat dosa ataupun ketakutan terhadap bela-bela Babilon yang jatuh menimpa mereka (Wahyu 18 : 4).

Maka sekarang, oleh karena dalam perkembangan sejarahnya, perempuan itu melambangkan setiap dinas kependetaan yang berikutnya, maka pada waktu naga itu murka terhadap perempuan itu, ia pastilah harus melambangkan dinas kependetaan terpilih yang terakhir, yaitu mereka yang 144.000 itu, yang akan menghantarkan semua saudaranya keluar dari segala bangsa menuju ke “bukit kesucian Yerusalem” (Yesaya 66 : 20) kepunyaan Allah.

Dengan terang ini yang menerangi masalah itu, maka kebenarannya terlihat jelas bahwa sesudah bumi menelan air bah itu, sesudah malaikat-malaikat memisahkan orang-orang jahat (“lalang-lalang”, “ikan yang jelek”) dari orang-orang benar (“gandum”, “ikan yang baik”) di dalam sidang, dan menghantarkan orang-orang benar ke Gunung Sion (“lumbung itu”, keranjang-keranjang itu” -- Matius 13 : 30, 48), maka naga itu akan murka terhadap perempuan itu (hamba-hamba Allah), dan sebagai akibatnya ia akan memerangi benihnya yang sisa (buah-buah kedua itu, yaitu mereka yang kemudian akan dipanggil keluar dari Babilon -- Wahyu 18 : 4).

“Di akhir zaman”, demikian kata Mikha dalam ramalannya mengenai waktu di mana buah-buah pertama itu berdiri bersama-sama dengan Anak Domba di atas Gunung Sion, dan di mana buah-buah kedua itu meninggalkan Babilon pergi ke Gunung Sion, “akan jadi kelak, bahwa gunung rumah Tuhan akan diperdirikan pada puncak gunung-gunung, dan ia itu akan ditinggikan melebihi segala bukit; maka banyak orang akan mengalir datang kepadanya.

“Maka banyak bangsa akan datang, dan mengatakan : Datanglah, dan marilah kita naik ke gunung Tuhan itu, dan ke rumah Allah Yakub itu; maka Ia akan mengajarkan kepada kita segala jalan-Nya, dan kita akan berjalan di dalam segala jalan-Nya karena hukum akan terbit dari Sion, dan firman Tuhan dari Yerusalem.

“Maka Ia akan mengadili di antara banyak bangsa, dan menghukum bangsa-bangsa yang kuat yang jauh-jauh; maka mereka akan menempa pendang-pedangnya menjadi penggali, dan tombak-tombaknya menjadi sabit: bangsa tidak akan mengangkat pedang

melawan bangsa, mereka tidak lagi akan belajar perang. Melainkan mereka akan duduk masing-masing di bawah pokok anggurnya dan di bawah pokok aranya; dan tidak seorang pun akan membuat mereka takut; karena mulut Tuhan serwa sekalian alam telah mengucapkannya.” Mikha  4 : 1 – 4.

Oleh sebab itu kesimpulannya adalah, bahwa sidang Kerajaan itu harus “didirikan” sebelum Iblis berbalik menghantam benih yang sisa itu, yaitu mereka yang tertinggal di belakang dan yang kemudian dihimpunkan, dan yang diserang Iblis karena mereka menolak menyembahnya dalam pribadi binatang itu dan patungnya (Wahyu 13 : 15).

Dalam terang yang kumulatif ini, orang belum pernah menyaksikan sedemikian jelasnya bahwa walaupun Tuhan akan membiarkan aniaya datang kembali menimpa umat-Nya di Babilon, Ia akan berbuat sedemikian itu hanya untuk melaksanakan rencana-Nya sendiri untuk membuat mereka itu keluar dari kekuasaan perempuan itu (sama seperti yang diperbuat-Nya terhadap umat-Nya yang dahulu supaya mereka itu keluar dari Mesir), dan pergi ke dalam sidang-Kerajaan -- yaitu satu-satunya tempat di bumi dimana tidak lagi terdapat dosa dan dimana kebinasaan bela-bela itu tidak akan menimpanya. (Baca Wahyu 18 : 4).

“Sesunguhnya kemarahan manusia itu akan memuji Dikau”, ya Tuhan, dan “sisa amarah akan Engkau tahani.” Mazmur 76 : 10.

Pemisahan orang-orang jahat dari antara orang-orang benar selama pengembaraan di padang belantara di zaman Musa, sebelum memasuki tanah perjanjian itu, telah dilaksanakan bukan saja bagi kepentingan sidang di waktu itu (Israel contoh) melainkan juga bagi suatu contoh teladan

bagi sidang di waktu ini (Israel contoh saingan), yang secara contoh menunjukkan kepada pemisahan yang akan datang yang jelek dari antara yang baik (Matius 13 : 48) sebelum yang baik itu dibawa masuk ke dalam Kerajaan, tanah air mereka sendiri, “lumbung itu.” Matius 13 : 30. Oleh sebab itu Paulus mengatakan : “Segala perkara ini telah berlaku terhadap mereka untuk menjadi teladan-teladan : dan sekaliannya itu ada tertulis untuk menjadi nasehat bagi kita, terhadap siapa segala akhir dunia ini akan datang.” 1 Korintus 10 : 11.

Melalui amaran yang ada di sini, dari kuasa takdir yang mendesak ini, maka Tuhan kembali menghimbau kepada setiap orang percaya Kebenaran Sekarang sebagai berikut:

“Bangunlah, bersinarlah, karena terangmu ada datang, dan kemuliaan Tuhan ada terbit atas kamu. Kerena, tengoklah, kegelapan akan menutupi bumi, dan kegelapan yang pekat akan menutupi orang banyak itu : tetapi Tuhan akan bangkit atasmu, dan kemuliaan akan terlihat atas kamu. Maka orang-orang Kapir akan datang kepada terangmu, dan raja-raja kepada cerahnya kebangkitanmu.”

“Angkatlah matamu berkeliling, dan lihatlah : semua mereka itu berhimpun bersama-sama, mereka datang kepadamu : putera-puteramu akan datang dari jauh, dan puteri-puterimu akan diasuh pada sisimu. Kemudian engkau akan melihat, dan mengalir datang bersama-sama, dan hatimu akan gentar bercampur suka cita, karena sebab kelimpahan laut akan diubahkan kepadamu, dan tentara bangsa-bangsa Kapir akan datang kepadamu.”

“Bahwa sejumlah besar unta akan menudungi kamu, yaitu unta yang pantas dari Midian dan Efah; semua mereka dari Sheba akan datang : mereka akan membawakan emas dan kemenyan; dan

mereka akan memasyurkan kepujian-kepujian Tuhan. Segala domba Kedar akan dikumpulkan bagimu, segala domba jantan Nebayot akan melayani kamu : sekaliannya akan naik ke atas medzbah-Ku dengan keridlaan hati, dan Aku akan memulaikan rumah-Ku yang mulia itu.”

“Siapakah mereka ini yang terbang bagaikan sebuah awan, dan seperti burung merpati ke pintu sarangnya? Sesungguhnya pulau-pulau itu akan menantikan Daku, dan kapal-kapal Tarshis pertama-tama, akan menghantarkan putera-puteramu dari jauh, bersama-sama dengan perak mereka dan emas mereka, kepada nama Tuhan Allahmu, dan kepada Yang Maha Suci Israel itu, sebab Ia telah memuliakan kamu. Maka putera-putera orang-orang asing akan mendirikan pagar tembokmu, dan raja-raja mereka akan melayani dikau : karena dalam murka-Ku Aku telah memalu engkau, tetapi dalam kemurahan-Ku Aku telah mengasihani dikau.”

“Oleh sebab itu segala pintu gerbangmu akan terbuka selalu; sekaliannya itu tidak akan tertutup baik siang maupun malam; supaya dapat orang-orang menghantarkan kepadamu segala tentara bangsa-bangsa Kapir, dan supaya raja-raja mereka itu dapat dibawa. Karena bangsa dan kerajaan yang tidak mau melayani dikau akan binasa; bahkan bangsa-bangsa itu akan ditumpas habis.” Yesaya 60 : 1 – 12.

Demikianlah, Saudara-Saudara Laodikea yang kekasih, adalah cukup jelas bahwa “sementara pemeriksaan hukum berlangsung di dalam surga, sementara dosa-dosa orang-orang percaya yang bertobat disingkirkan dari dalam tempat kesucian itu, akan ada suatu pekerjaan pembersihan khusus, pembuangan dosa, di antara umat Allah di atas bumi.” -- The Great Controversy, p. 425.

Kemudian, “dengan berpakaian senjata kebenaran Kristus, sidang akan memasuki peperangannya yang terakhir. ‘Indah bagaikan bulan, cerah bagaikan matahari, dan hebat bagaikan suatu bala tentara dengan panji-panjinya’, ia akan keluar ke dalam seluruh dunia dengan kemenangan dan untuk memenangkan.” -- Prophets and Kings, p. 725. Pada waktu itu “hanya orang-orang yang telah bertahan melawan cobaan dalam kekuatan Dia Yang Maha Kuasa itu yang akan diijinkan mengambil bagian dalam memberitakannya (Pekabaran Malaikat Yang Ketiga) apabila ia itu kelak berkembang menjadi seruan keras.” -- The Review and Herald, No. 19, 1908.

Sebagai sebuah obor yang bernyala-nyala di dalam kegelapan malam, muncul berdiri kebenaran bahwa masa kesukaran yang sedemikian itu belum pernah ada sebelumnya, akan menemukan sidang bebas dari kebanjiran lalang-lalang, bebas dari “ikan-ikan yang jelek”, sebagai akibatnya bukan saja mampu tahan menghadapi Iblis melainkan juga untuk pergi keluar dengan kemenangan dan untuk memenangkan lagi dalam kuasa kekuatan Mikhail, Yang berdiri-Nya itu akan melepaskan “setiap orang yang akan ditemukan namanya tercatat di dalam kitab.” Daniel 12 : 1.

Dari ulangan sejarah umat Allah yang panjang ini, kita saksikan bahwa Abraham adalah satu-satunya orang yang terhadap siapa Allah tidak pernah memaksa untuk memperoleh hasil-hasil yang diingini, dengan menggunakan sesuatu selain dari perintah sederhana yang mengatakan : “Keluarlah kamu dari negerimu, dan dari bangsamu, dan dari rumah bapamu, pergi ke suatu negeri yang akan Ku tunjukkan kepadamu.” (Kejadian 12 : 1).

Kepatuhan dan kesetiaan iman Abraham dan penurutannya tanpa ragu-ragu kepada

perintah Tuhan yang sederhana dalam setiap kesempatan, telah membuatnya menjadi seorang “teman Allah”, “bapa dari segala orang beriman”, dan sebuah tonggak besar kebenaran yang hidup, dengan sebuah nama untuk dikenang dan dipuja sepanjang masa.

Iman Yakub kepada janji-janji Allah, dan kerinduannya yang kuat untuk mempekerjakan dirinya ke dalam rencana-rencana Tuhan dan untuk melaksanakannya, berhasil dengan dirinya menjadi leluhur daripada buah-buah pertama atau dinas kependetaan sidang -- Kerajaan itu -- yaitu mereka yang akan berdiri bersama-sama dengan Anak Domba itu di Gunung Sion (Wahyu 14 : 1).

Kesetiaan Yusuf tanpa mengenal kompromi kepada prinsip yang telah menghantarkan dia ke dalam kedudukan yang tertinggi, dalam mana ia telah menjadi penyedia kebutuhan dunia yang terbesar, sebagai contoh dari Kristus, Penyedia Kerohanian yang Besar itu.

Musa, dalam kelemah-lembutannya (kesederhanaan) dan dalam tekadnya “untuk lebih baik menderita sengsara bersama-sama dengan umat Allah, daripada menikmati keplesiran dosa untuk sementara” (Ibrani 11 : 25), telah bangkit menjadi jenderal yang terbesar, pemimpin, dan penyelamat dari segala zaman, dan bahkan berdiri pada gunung tranfigurasi.

Pengorbanan hidup rasul-rasul bagi kepentingan Kristus dan Kebenaran-Nya, telah memenangkan bagi mereka kehormatan yang tinggi, yaitu nama-nama mereka ditempatkan pada landasan-landasan Kota Suci (Wahyu 21 : 14).

Keberanian Luther dan usaha-usahanya yang tekun untuk mengangkat Kebenaran yang telah diinjak-injak itu (Daniel 8 : 11, 12; 11 : 31),

telah melahirkan paham Protestantisme.

Namun demikian Saudara, Saudariku, tidak satu pun kedudukan-kedudukan tunggal yang mulia ini akan lebih besar daripada kedudukanmu berdiri bersama-sama dengan Anak Domba di Gunung Sion. Oleh sebab itu, kami menghimbau anda, supaya “bangunlah, bercahayalah; karena terangmu ada datang”! Yesaya 60 : 1.

Kini bahwa di satu pihak Tuhan sedang menghimbau agar supaya anda berpegang pada terang Kebenaran-Nya yang penuh kuasa itu dan olehnya memisahkan diri dari dosa, supaya anda dapat melepaskan diri daripada pembalasan-Nya, diluputkan dari kesusahan besar yang akan datang, dan memperoleh bagian dalam memberitakan Seruan Keras dari Pekabaran Malaikat Yang Ketiga itu; bahwa di lain pihak Setan sedang menghimbau agar anda berpegang pada alat pembasminya yang mematikan itu; anda sedang dibawa ke lembah keputusan itu. Kini telah sampai saat yang menentukan itu, untuk memutuskan apakah anda mau ataukah tidak, sekiranya Tuhan itu Allah, ikutilah Kebenaran-Nya yang penuh kuasa itu, atau sekiranya Baal itu Allah, ikutilah orang-orang yang berkuasa itu.

Juruselamat mengatakan : “Tengoklah, Aku berdiri di muka pintu, dan mengetuk : Jika seseorang mendengar suara-Ku, dan membuka pintu, Aku akan masuk kepadanya, dan Aku akan makan bersamanya, dan ia dengan Aku. Wahyu 3 : 20.

Tidak maukah anda berbuat seperti orang-orang yang setia di masa lalu itu, dan menjadi orang-orang besar milik Allah di waktu ini! Saudara, Saudariku, jangan lagi membiarkan apapun berkompromi dan menetralisir segala usahamu untuk mendapatkan janji itu sekarang -- yaitu kesempatan istimewa yang tak ada bandingannya untuk menjadi imam-imam dan raja-raja di Sion!

“Barangsiapa yang bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh......” Wahyu 3 : 22.

TANYA JAWAB 

BOLEHKAH KITA MENGETAHUI JAMNYA? 

Pertanyaan No. 15 :

Buku “Early Writings”, halaman 285 mengatakan bahwa Allah akan memberitahukan hari dan jam kedatangan kembali-Nya. Dan “Tongkat Gembala”, jilid 2, halaman 364 menyimpulkan dari pembicaraannya terhadap air bah itu bahwa peristiwa besar dari segala zaman itu akan datang pada sesuatu malam Rabu. Tetapi Kristus mengatakan : “..... mengenai hari dan jam itu tidak seorang pun yang tahu, bahkan malaikat-malaikat surga pun tidak tahu, terkecuali Bapa saja.” Matius 24 : 36. Bagaimanakah kedua pernyataan itu dapat dicocokkan?

Jawab :

Tongkat Gembala sama sekali tidak menetapkan waktu kembalinya Kristus. Walaupun dari Penyelidikan Air Bah itu tersimpul, bahwa Ia mungkin datang bagi milik-Nya pada sesuatu malam pertengahan minggu, Ia itu sama sekali tidak mempersyaratkan pada malam Rabu yang mana kemungkinan hal itu terjadi. Tongkat Gembala tidak menganggap dirinya mengetahui akan hari atau jam itu. Dan mengenai kata-kata di dalam Early Writings, kata-kata Kristus di dalam Matius 24 : 36 itu tidak menghindari kemungkinan Ia kelak memberitahukan hari dan jam kedatangan-Nya. Memang, walaupun Alkitab mengatakan bahwa malaikat-malaikat sekalipun tidak akan tahu jamnya, namun jika mereka kelak harus bersiap-siap untuk pergi bersama-sama dengan Tuhan pada kedatangan-Nya yang kedua kali, maka mereka tentunya harus diberitahu akan hal itu pada sesuatu hari sebelumnya, supaya mereka bersiap-siap dan berangkat. Dan walaupun tidak seorang pun sekarang mengetahui akan hari atau jamnya, namun sekiranya Bapa menganggap pantas untuk memberitakannya, maka kita pasti akan mengetahuinya.

Lagi pula, kedatangan yang rahasia ini (Matius 24 : 36) mungkin adalah suatu kedatangan yang lain daripada kedatangan yang biasanya dipahami sebagai “kedatangan yang kedua kali.” (Untuk penyelidikan selanjutnya akan masalah ini, bacalah buku kecil kami Traktat No. 3, Penuaian). 

APAKAH TAHTA ALLAH YANG BERJALAN ITU MERUPAKAN SEBUAH LOKOMOTIP?

Pertanyaan No. 16 :

Kepada saya diceritakan bahwa orang-orang Davidian mengajarkan bahwa tahta dari Yesaya pasal 6 itu adalah sebuah kereta yang ditarik oleh sebuah lokomotip yang mengeluarkan asap. Benarkah mereka mengajarkan sedemikian itu?

Jawab :

Tidak ada satupun pendapat yang sedemikian ini akan ditemukan di mana pun di dalam buku-buku terbitan Tongkat Gembala, pada mana semua ajaran Davidian dilandaskan, karena membaca literatur ini dengan teliti akan selengkapnya teruji.

Perkataan “kereta” (“train”) adalah dikutip dari Alkitab, dan berarti “kereta” (“retinue”), sesuai yang dijelaskan di dalam buku kecil kami Traktat No. 1, Hampir Jam Kesebelas Ekstra. 

APAKAH PELEPAH-PELEPAH KURMA TERDAPAT DI DALAM TANGAN SEBAGIAN ATAU DI DALAM TANGAN SEMUA ORANG?

Pertanyaan No. 17 :

“Tongkat Gembala” jilid 1, halaman 57, mengatakan bahwa rombongan besar orang banyak itu yang memiliki pelepah kurma di dalam tangan mereka adalah hanya buah-buah kedua dari penuaian bumi, sedangkan buku “The Great Controversy”, p. 646,

dalam berbicara mengenai semua “orang yang menang” mengatakan : “Di dalam setiap tangan ditempatkan pelapah kurma kemenangan dan kecapi yang mengkilap.” Bagaimanakah kedua pernyataan ini dapat dicocokkan?

Jawab :

Rombongan besar orang banyak yang dibicarakan oleh Tongkat Gembala dan rombongan besar orang banyak yang dibicarakan oleh buku The Great Controversy itu, adalah dua rombongan yang berbeda, pada dua lokasi yang berbeda dan pada dua peristiwa yang berbeda. Yang pertama, rombongan besar dari Wahyu 7 : 9 itu memegang pelepah-pelepah kurma mereka di bumi; yang kedua, rombongan besar dari buku The Great Controversy itu menerima pelepah-pelepah kurma dan kecapi mereka itu di surga. Kenyataan-kenyataan ini dapat dengan jelas terlihat dari membaca ucapan-ucapan yang dipertanyakan itu.

KAPANKAH DIMULAI MASA KESUDAHAN ITU?

Pertanyaan No. 18 :

Kapankah dimulai “masa kesudahan itu” dimana buku Daniel itu diungkapkan?

Jawab :

Malaikat yang memberi petunjuk kepada Daniel, menyatakan bahwa buku itu akan ditutup sampai masa kesudahan. Sesuai dengan itu, maka bukan sebelumnya ataupun sesudah itu, melainkan di dalam masa kesudahan, buku itu harus terbuka.

Masa periode ini ditandai oleh suatu peningkatan pengetahuan dan oleh “pergi datangnya” orang-orang. Daniel 12 : 4, 9. Karena sebagian besar buku Daniel itu kini sudah dimengerti,

dan dan karena kita sekarang berada dalam zaman otomotip, yaitu zaman meningkatnya pengetahuan, dengan orang-orang yang berlarian ke sana ke mari, maka jelaslah bahwa kita sekarang hidup “di dalam masa kesudahan itu.” (Masa kesudahan -- masa akhir zaman).

Daniel 11 : 40 memperjelas bahwa pada (at) masa kesudahan, bukan di dalam (in), masa kesudahan itu, Raja dari Utara akan mengadakan beberapa peperangan yang berhasil melawan Raja dari Selatan. Dengan sendirinya, “masa akhir zaman itu” harus sudah dimulai pada penutupan abad ke delapan belas dan pada permulaan abad kesembilan belas, dengan kemenangan-kemenangan yang diraih oleh Raja dari Utara. (Lihatlah peta di dalam buku kecil kami Traktat No. 12, Dunia Kemarin, Hari Ini, Dan Esok). 

MENGAPAKAH NUBUATAN-NUBUATAN MENGGANTIKAN KASIH? 

Pertanyaan No. 19 :

Mengapakah orang-orang Davidian tidak lebih banyak menggunakan waktu untuk mengajarkan kasih Kristus -- bagian Alkitab yang terpenting itu -- daripada mengajarkan doktrin-doktrin dan nubuatan-nubatan?

Jawab :

Orang-orang Davidian mengikuti prosedur ini karena sebab Injil yang berbunyi : “Kita juga memiliki suatu perkataan nubuatan yang lebih pasti ; maka baiklah kamu memperhatikannya, bagaikan akan sebuah terang yang bercahaya di dalam tempat yang gelap, sampai fajar pagi dan bintang siang terbit di dalam hati kamu sekalian.” 2 Petrus 1 : 19. Oleh sebab itu, nubuatan-nubuatan menciptakan kasih bagi Allah di dalam hati penyelidiknya, karena tidak mungkin dapat diciptakan oleh apapun yang lain.

Lagi pula, jika nubuatan-nubuatan kurang penting dibandingkan dengan bagian-bagian Alkitab lainnya, maka mengapakah Tuhan menugaskan hamba-hamba-Nya menulis sekian banyak nubuatan? Jelaslah, bahwa sekaliannya itu adalah penting. Buku Wahyu yang dialamatkan langsung kepada umat yang akan hidup tepat menjelang kedatangan Tuhan, adalah terdiri dari nubuatan-nubuatan simbolis, terhadap mana Tuhan mengatakan :

“Berbahagialah orang yang membaca, dan mereka yang mendengarkan segala perkataan nubuatan ini, dan yang memeliharakan segala perkara yang tercatat di dalamnya; karena masanya sudah dekat.” Wahyu 1 : 3. “Tengkoklah, Aku datang dengan segera; berbahagialah orang yang memeliharakan segala perkataan nubuatan kitab ini ..... Maka aku menyatakan kepada setiap orang yang mendengar segala perkataan nubuatan kitab ini, bahwa jikalau seseorang menambahkan apa-apa kepada segala perkara ini, Allah akan menambahkan kepadanya berbagai bela yang tertulis di dalam kitab ini; dan jikalau seseorang   mengurangkan sesuatu dari segala perkataan kitab nubuatan ini, maka Allah akan menghilangkan bagiannya dari kitab hayat, dan dari kota suci itu, dan daripada segala perkara yang tertulis di dalam kitab ini.” Wahyu 22 : 7, 18, 19.

Benar, bahwa kasih Yesus adalah sangat diperlukan, namun dengan hanya mengkhotbahkannya tanpa mengkhotbahkan doktrin-doktrin dan nubuatan-nubuatan, tidak akan bermanfaat apapun juga bagi orang, karena oleh perantaraan nubuatan-nubuatan dan oleh doktrin-doktrin orang mempelajari bukan saja kasih Yesus melainkan juga bagaimana berbakti kepada-Nya. Rasul Paulus mengatakan : “Semua injil itu

adalah dikaruniakan oleh ilham dari Allah, dan adalah berguna bagi doktrin, untuk menegur yang salah, untuk memperbaiki, sebagai petunjuk dalam kebenaran : supaya umat Allah dapat menjadi sempurna, dipersiapkan selengkapnya bagi semua pekerjaan yang baik.” 2 Timotius 3 : 16, 17.

Kalau saja sidang-sidang pada waktu ini sudah mengajarkan nubuatan-nubuatan dan doktrin-doktrin dengan mengesampingkan kasih Yesus, maka tentunya orang-orang Davidian sudah akan bertahan dengan lebih kukuh pada kasih Yesus daripada nubuatan-nubuatan. Tetapi karena persoalannya adalah sebaliknya, yaitu kasih Yesus dibesarkan dengan melalaikan nubuatan-nubuatan, maka tentunya kebutuhan kita yang utama dan tertinggi ialah mempelajari kasih Yesus itu melalui doktrin-doktrin; kemudian, dengan demikian tanggung jawab kita yang terbesar ialah mengajarkannya.

Sementara injil kasih itu mengilhami kita untuk mengasihi Tuhan, maka semua doktrin mengajarkan kepada kita cara yang benar untuk bagaimana mengasihi Dia, dan terang nubuatan-nubuatan menuntun kaki-kaki kita pada jalan yang lurus dan sempit itu sepanjang perjalanan sampai ke kota Allah, sama seperti halnya di malam hari lampu-lampu mobil menunjukkan kepada kita jalan menuju ke rumah. Tanpa itu semua, maka kita pasti akan segera kehilangan jalan, bertabrakan, dan berantakan di dalam kegelapan -- suatu kehancuran dan kematian, yang tak disangka-sangka. Dengan demikian sementara kita memerlukan yang satu, maka kita pun sama memerlukan yang lainnya. Oleh sebab itu orang-orang Davidian mengkombinasikan kedua-duanya, yaitu mengajarkan kasih Yesus melalui doktrin-doktrin, dan jalan menuju Kerajaan itu melalui nubuatan-nubuatan.

KAPANKAH METERAI-METERAI ITU DIMULAI? 

Pertanyaan No. 20 :

Bukti Alkitab apakah yang ada untuk menunjukkan bahwa peristiwa-peristiwa Tujuh Meterai (Wahyu pasal 4 - 8) itu meliputi seluruh sejarah dunia, yang bertentangan dengan ajaran Organisasi bahwa meterai-meterai itu hanya meliputi masa periode sidang Kristen? Tidakkah anda ketahui bahwa kitab dengan meterai-meterai itu adalah melambangkan buku Daniel dan buku Wahyu?

Jawab :

Landasan dimana Organisasi mendasari pendiriannya bahwa meterai-meterai itu adalah bersifat nubuatan mengenai peristiwa-peristiwa di dalam masa periode Wasiat Baru, ialah interpretasi mereka terhadap meterai yang pertama, yang oleh Yohanes dikatakan :

“Maka aku tampak, dan tengoklah sebuah kuda putih : dan dia yang duduk di atasnya itu memiliki sebuah panah; dan seuah mahkota dikaruniakan kepadanya; maka keluarlah ia dengan kemenangan dan untuk memenangkan lagi.” Wahyu 6 : 2.

Kata-kata injil ini secara tidak sah telah diinterpretasikan dengan di artikan kepada sidang Kristen yang mula-mula. Kenyataan-kenyataan bahwa kuda dalam khayal itu adalah putih dan sidang yang muda itu murni, penunggangnya terus menang dan sidang itu terus bertumbuh, kenyataan-kenyataan ini saja belum merupakan landasan yang kukuh untuk membangun suatu teori di atasnya bahwa peristiwa-peristiwa meterai-meterai itu dimulai dengan sidang Kristen.

Dalam khayal telah diperlihatkan kepada Yohanes meterai-meterai itu kira-kira enam puluh lima tahun sesudah Pantekosta, yaitu dalam masa periode sewaktu sidang itu sudah terus merosot dari puncak kesucian dan pertumbuhannya

yang tetap. Suara itu mengatakan kepadanya : “Marilah kemari, maka Aku akan menunjukkan kepadamu perkara-perkara yang pasti jadi kemudian dari sekarang”. Wahyu 4 : 1. Dengan perkataan lain, peristiwa-peristiwa yang sedang akan diperlihat kepadanya itu akan berkembang di masa depan semenjak dari saat ia memperoleh khayal itu. Sekarang marilah kita memperhatikan apa yang dilihatnya :

Yohanes mengatakan : “Aku berada dalam Roh, maka tengoklah, sebuah tahta berdiri di dalam surga, dan Seseorang duduk di atas tahta itu. ..... Maka aku tampak di dalam tangan kanan Dia yang duduk pada tahta itu sebuah kitab yang tertulis di dalam dan di luarnya, yang termeterai dengan tujuh meterai. ..... Maka tidak ada seorang pun di dalam surga, maupun di bumi, ataupun di bawah bumi, yang mampu membuka kitab itu, ataupun memandang atasnya. Maka menangislah aku dengan amat sangat, ..... Lalu seorang dari para tua-tua itu mengatakan kepadaku : Jangan menangis : tengoklah, Singa dari suku bangsa Yehuda itu, Akar Daud itu, telah berhasil membuka kitab itu, dan melepaskan seluruh tujuh meterainya.” Wahyu 4 : 2; 5 : 1, 3 – 5.

Tandailah bahwa peristiwa-peristiwa yang dilambangkan itu akan menjadi kenyataan pada sesuatu waktu sesudah Yohanes memperoleh khayal itu, dan bukan sebelumnya. Selanjutnya, di manakah dalam sesuatu contoh Alkitab pernah melambangkan sidang dengan seseorang yang mengendarai kuda? Jika sekiranya kuda melambangkan sidang, maka apakah yang akan melambangkan orang?

Jadi jelaslah, bahwa dalam khayal ini Yohanes sedang memandang ke depan kepada permulaan sesuatu peristiwa penting yang akan jadi di masa depan dari saat ia

memperoleh khayal itu, bukan di belakang sewaktu sidang itu dimulai. Lagi pula, ia itu akan jadi di surga, bukan di bumi. Karena beribu-ribu bahkan beribu-beribu orang berada mengelilingi tahta itu yang diduduki oleh Hakim Agung yang memegang kitab itu yang termeterai dengan tujuh meterai, maka jelas peristiwa itu lebih merupakan permulaan sidang Pengadilan dari Daniel 7 : 9, 10 daripada merupakan permulaan pemberitaan Injil.

Berbicara mengenai kitab yang termeterai dengan tujuh meterai itu, Roh Kebenaran mengatakan : “Demikianlah para pemimpin Yahudi itu membuat pilihan mereka. Keputusan mereka itu ada tercatat di dalam kitab yang dilihat oleh Yohanes di dalam tangan Dia yang duduk di atas tahta itu, yaitu kitab yang tidak seorang pun dapat membukanya. Dalam semua pembalasannya keputusan ini akan muncul terlihat di hadapan mereka pada hari apabila kitab ini dibuka dari meterai-meterainya oleh Singa dari Suku Bangsa Yehuda itu.” -- Christ’s Object Lessons, p. 294.

Dalam kaitan ini setiap bagian komponen dari keseluruhan simbolisasi itu cocok dengan sejarah Alkitab maupun dengan sejarah dunia, dan juga dengan Pekabaran Malaikat Yang Ketiga itu sendiri -- sehingga dengan demikian memberikan “Kekuasaan dan kekuatan” kepada yang kemudian. 

APAKAH METERAI ITU? 

Pertanyaan No. 21 :

Apakah meterai Allah yang terdapat pada dahi mereka yang 144.000 itu (Wahyu 7 : 3)? Apakah meterai Sabat atau suatu meterai yang lain?

Jawab :

Karena dimeteraikan dalam Kristus “dengan Roh Suci perjanjian itu”, setelah sudah “mendengarkan firman kebenaran” (Efesus 1 : 13; 4 : 30), maka umat kesucian dengan sendirinya dimeteraikan oleh Kebenaran Sekarang -- yaitu kebenaran yang dikhotbahkan dalam zaman mereka sendiri.

“Meterai dari Allah yang hidup itu”, yaitu Kebenaran, oleh mana mereka yang 144.000 itu dimeteraikan (Wahyu 7 : 2), adalah suatu meterai khusus, yang sama dengan “tanda itu” dari Yehezkiel pasal 9. (Lihat buku Testimonies to Ministers, p. 445; Testimonies, vol. 3, p. 267; Testimonies, vol. 5, p. 211). Ia itu menuntut keluh-kesah dan seruan seseorang terhadap segala kekejian yang mencemarkan dirinya, dan yang mencemarkan Sabat maupun rumah Allah, khususnya terhadap penjualan buku-buku dan penentuan berbagai macam target selama berlangsung acara-acara Sabat. Karena umat kesucian memiliki meterai atau tanda ini pada dahi mereka, maka malaikat-malaikat akan melewati mereka, tidak membantai mereka. Itu itu akan sama halnya dengan darah pada ambang pintu pada malam Paskah di Mesir dahulu. Malaikat itu akan menempatkan suatu tanda pada dahi semua orang yang karena mengeluh terhadap dosa-dosanya sendiri, dan terhadap dosa-dosa di dalam rumah Allah, maka mereka menunjukkan kesetiaan kepada Kebenaran. Kemudian malaikat-malaikat pembinasa akan menyusul, untuk membantai seluruhnya baik tua maupun muda yang telah lalai memperoleh meterai itu. (Lihat Testimonies, vol. 5, p. 505).

Jadi, meterai yang pertama itu akan memungkinkan si penerimanya bangkit dari kematian pada kebangkitan

orang-orang benar, sedangkan metrai yang kedua itu memungkinkan orang yang berkeluh kesah dan berseru, itu untuk meloloskan diri dari kematian dan untuk hidup selama-lamanya bagi Allah.

APAKAH PEMETERAIAN ITU MASIH BERLANGSUNG? SIAPAKAH YANG DIMETERAIKAN?

ADAKAH ORANG-ORANG YANG MASIH BERBUAT DOSA?

Pertanyaan No. 22 :

Jika pekabaran pemeteraian mereka yang 144.000 itu telah disampaikan kepada sidang semenjak tahun 1929, sudahkah mereka yang 144.000 itu sebagian (atau seluruhnya) dimeteraikan? Juga, jika sekiranya tidak seorang pun dapat dimeteraikan terkecuali mereka bebas dari dosa, dan jika sekiranya sebagian mereka kini sedang dimeteraikan, maka sudahkah mereka itu berhasil menyeberang melewati perbuatan dosa?

Jawab :

Jika pemeteraian itu tidak terus maju sekarang, maka pekabaran pemeteraian itu yang telah kita bawa semenjak tahun 1929 yang lalu tidak akan lagi merupakan kebenaran sekarang di waktu ini sama saja halnya dengan pemberitaan tentang Pehukuman orang-orang mati yang telah menjadi kebenaran sekarang semenjak dari tahun 1844 sampai tahun 1929, sekiranya orang-orang mati itu tidak diadili selama periode itu. Jadi, adalah pasti, bahwa pekabaran pemeteraian itu dan pemeteraian itu sendiri berjalan bersama-sama bagaikan jarum dan benang berjalan bersama-sama sampai jahitan itu selesai.

Tuhan memerintahkan malaikat yang membawa pena penyurat itu untuk “membubuh suatu tanda pada dahi orang-orang yang berkeluh kesah dan berseru karena segala kekejian yang diperbuat di tengah-tengahnya” -- di dalam sidang -- supaya apabila orang-orang yang membawa senjata-senjata pembantai itu mulai membunuh, mereka dapat melewati

orang-orang yang memiliki tanda itu. Dengan demikian, keluh-kesah dan menangis semenjak tahun 1929 karena kekejian-kekejian di dalam sidang, telah merupakan kenyataan yang utama bahwa kita sekarang hidup dalam masa periode pemeteraian itu.

Dan karena reformasi tidak pernah terjadi tanpa sesuatu wahyu yang mengungkapkan sesuatu kebenaran baru, maka “pekerjaan penghabisan bagi sidang” ini harus diikuti dengan sebuah pekabaran (Testimonies, vol. 3, p. 266), dan harus diberitakan kepada semua orang. Maka orang yang tidak mau bereformasi pada saat ia yakin akan Kebenaran itu, ia tidak akan lagi bereformasi kemudian. Oleh sebab itu, karena pekabaran pemeteraian itu merintis jalannya melalui sidang, maka hanya orang-orang yang sadar dan bereformasi (berkeluh-kesah) dan berusaha membagikan kepada orang-orang lain (berseru) terang yang yang sedang bercahaya atas mereka, yang akan menerima meterai itu. Mereka kemudian akan dinilai tidak berdosa melalui kesempurnaan Kristus yang diberikan untuk kepentingan mereka sampai kelak mereka diberikan “hati yang baru” yang dijanjikan di dalam Yehezkiel 36 : 26, setelah mana mereka akan menjadi tidak berdosa untuk selamanya -- untuk selamanya tanpa alasan untuk bertobat.

Tuhan berfirman : “Apabila Aku mengatakan kepada orang jahat itu”, ‘Engkau pasti harus mati’; dan tiada engkau menasehatkan dia ataupun mengamarkan dia daripada jalannya yang jahat itu, untuk menyelamatkan jiwanya, sehingga orang jahat itu mati dalam kejahatannya; maka darahnya akan Ku tuntut daripada tanganmu.” Yehezkiel 3 : 18.

Jika seseorang tidak dapat berpisah dari dosa-dosanya sekarang, maka kemudian pun ia tidak akan mau berpisah. Dan karena ia tidak mungkin dapat

menipu Allah, maka ia akan dibiarkan tanpa meterai, sekalipun mungkin ia adalah seorang guru besar (profesor) Kebenaran. Bagaimanapun juga, seorang Kristen yang benar tidak pernah akan membanggakan diri karena telah mencapai kesempurnaan, karena ia senantiasa bercita-cita untuk makin lebih tinggi dan lebih tinggi sementara ia terus mendaki jalan yang sempit itu. Dan sementara ia datang makin hari makin dekat kepada-Nya pada Siapa kesempurnaan itu mulai dan berakhir, maka ia akan mengatakan bersama dengan nabi itu : “Celakalah aku! Karena aku binasa; sebab aku ini seorang yang berbibir najis, dan aku tinggal di tengah-tengah suatu bangsa yang berbibir najis; karena mataku telah melihat Raja, Tuhan serwa sekalian alam itu.” Yesaya 6 : 5.

Demikianlah terbukti bahwa belum seorang pun yang telah mencapai kesempurnaan itu yang hendak dicapainya dalam keadaannya yang akan datang, namun pengikut Kristus yang benar telah mencapai kesempurnaan itu dari keadaan yang ada sekarang. Ia tidak pernah semenit pun terlambat atau seinci pun di bawah anak tangga yang tertinggi yang dapat dicapai pada saat ini. Ia terus berkembang sempurna sama seperti halnya butir jagung semenjak dari hari ia itu muncul keluar sampai kepada hari ia itu dituai.

Jika sesuatu dosa dilakukan orang yang sedemikian ini, maka ia itu bukan diketahui atau dosa yang disengaja. “Bagi orang yang tahu berbuat baik, tetapi tidak melaksanakannya, baginya itulah dosa.” Yakobus 4 : 17. Ia akan diadili “karena kejahatan yang disadarinya.” 1 Samuel 3 : 13. Dengan sendirinya, bagi orang yang memanfaatkan bagi dirinya setiap kesempatan untuk mengetahui Kebenaran dan yang secara bersungguh-sungguh mematuhi segala tuntutan Kebenaran itu, maka itulah yang diperhitungkan benar (Roma 4 : 3) -- hidup tanpa dosa.

BUKANKAH PENUAIAN ITU IALAH AKHIR DUNIA? 

Pertanyaan No. 23 :

Bagaimanakah ajaran Saudara tentang pemisahan lalang daripada gandum di dalam sidang itu dapat disesuaikan dengan ucapan yang berbunyi : “Lalang dan gandum itu akan bertumbuh bersama-sama sampai kepada penuaian; maka penuaian itu ialah akhir masa kasihan. ..... Apabila pekerjaan pekerjaan Injil selesai, maka segera menyusul pemisahan di antara yang baik dan yang jahat, maka nasib dari setiap kelas akan diputuskan untuk selama-lamanya”? -- Christ’s Object Lessons, pp. 72, 123.

Jawab :

Benar, sesuai dengan pernyataan di dalam pertanyaan itu, “penuaian” itu ialah akhir dari masa kasihan, yang mengambil tempat pada, bukan sesudah, penutupan masa kasihan. Dan dari kenyataan bahwa tindakan-tindakan Pemeriksaan Pengadilan terhadap perkara seseorang sesudah pengalaman hidupnya dalam hubungan dengan keselamatan telah berakhir dan sementara masa kasihan masih terbuka, adalah suatu bukti lain bahwa “penuaian” itu ialah bagian yang terakhir dari masa kasihan. Ini sesuai dengan ucapan Yeremia yang berbunyi : “Penuaian sudah berlalu, musim panas sudah berakhir, tetapi kita belum juga selamat.” Yeremia 8 : 20. Ini menunjukkan bahwa penuaian itu adalah suatu masa periode, yang memiliki permulaan dan akhirnya, dan bahwa selama masanya itu orang-orang diselamatkan. Dan di dalam buku Early Writings, p. 118 diungkapkan bahwa Malaikat yang Ketiga adalah orang yang melaksanakan penuaian itu, sementara Matius 13 : 30 menunjukkan juga bahwa malaikat-malaikat itu memisahkan lalang daripada gandum “dalam masa penuaian”.

Oleh sebab itu perintah Kristus yang berbunyi : “Biarkanlah keduanya bertumbuh bersama-sama sampai kepada penuaian”, menunjukkan kepada sejarah kita sekarang, yaitu “akhir zaman”, yaitu periode di mana penuaian itu akan diwujudkan dan “lalang-lalang” itu dipisahkan daripada “gandum”.

Demikianlah bagi semua maksud yang praktis “penuaian itu” benar-benar adalah “akhir dunia” -- yaitu berakhirnya semua orang jahat.

Satu-satunya jalan dalam mana seseorang mungkin memahami sebaliknya Christ’s Object Lessons, ialah karena lalai menyadari, bahwa dunia sekarang sudah berada pada hampir “akhiratnya.” Karena lalai menyadari akan apa sesungguhnya arti akhirat itu, maka dengan demikian orang tidak mampu untuk menghubung-hubungkan pokok-pokok masalah penuaian yang saling berkaitan itu dengan benar.

Alkitab mengajarkan bahwa Tuhan “hendak memeriksa Yerusalem (sidang) dengan lampu-lampu, dan menghukum orang-orang yang duduk-duduk dengan santainya : yaitu mereka yang mengatakan di dalam hatinya, bahwa Tuhan tidak akan berbuat baik, Ia juga tidak akan berbuat jahat” (Zefanya 1 : 12); artinya, Ia akan menghukum mereka yang oleh tindakan-tindakan perbuatannya mengatakan : “Tuhan tidak banyak menghiraukan apa yang kita lakukan”; padahal dalam amaran kebenaran yang serius Allah mengatakan : “Aku hendak memeriksa Yerusalem”, bukan secara acuh dan dalam kegelapan, melainkan secara benar-benar teliti dengan menggunakan lampu-lampu.

“Aku hendak menampi isi rumah Israel di tengah-tengah segala bangsa, bagaikan gandum yang ditampi di dalam nyiru, namun tidak sedikit pun butirnya kelak jatuh ke tanah. Semua orang berdosa dari umat-Ku akan mati dimakan pedang, yaitu mereka yang mengatakan : Kejahatan itu tidak akan mencapai kami juga tidak akan menghalangi kami.” Amos 9 : 9, 10.

“Akan jadi kelak bagaikan guncangan sebuah pohon zaitun, dan bagaikan pengumpulan buah-buahan sesudah panen. Mereka akan mengangkat suaranya, mereka akan menyanyi bagi kebesaran Tuhan.” Yesaya 24 : 13, 14.

Kata-kata Injil ini menunjukkan bahwa sesudah sidang diguncangkan oleh kunjungan hukuman Tuhan, maka anggota-anggotanya yang setia yang tertinggal itu akan “menyanyi bagi kebesaran Tuhan.” Keguncangan itu akan menjadikan sidang sebagaimana yang sepatutnya.

“Tetapi siapakah yang dapat tahan pada hari kedatangan-Nya? Dan siapakah dapat berdiri apabila Ia muncul? Karena Ia adalah bagaikan suatu api pembersih, dan bagaikan sabun binara.” Maleakhi 3 : 2.

“Dalam penyaringan yang maha kuat itu yang segera akan berlaku, kita kelak akan lebih mampu mengukur kekuatan (jumlah) Israel. Tanda-tanda mengungkapkan bahwa waktu itu sudah dekat apabila Tuhan akan menyatakan bahwa kipas-Nya sudah ada di dalam tangan-Nya, maka ia akan membersihkan seluruh lantai-Nya.” -- Testimonies, vol. 5, p. 80.

Demikianlah, baik Alkitab maupun Roh Nubuatan keduanya memberitahukan bahwa Ia Sendiri akan membersihkan sidang, dan bahwa setelah sidang dibersihkan sedemikian ini, maka “orang-orang Kapir akan menyaksikan kebenarannya, dan semua raja akan kemuliaannya.” Yesaya 62 : 2. 

KAPANKAH AKAN DIPISAHKANNYA LALANG DARIPADA GANDUM? 

Pertanyaan No. 24 :

Buku “Christ’s Object Lessons”, p. 123 mengatakan : “Setelah pekerjaan injil selesai,

maka segera menyusul pemisahan di antara yang baik dan yang jahat.” Bukankah pemisahan yang disebut di sini terjadi pada kedatangan Yesus yang kedua kali?

Jawab :

Pemisahan yang terjadi pada waktu Yesus datang pada kedua kalinya, ialah dibawa-Nya orang-orang suci ke surga bersama-sama dengan-Nya (Yohanes 14 : 3; 1 Tesalonika 4 : 17) dan membiarkan orang-orang jahat mati di bumi (2 Tesalonika 2 : 7, 8). Dalam hal ini kedatangan-Nya yang kedua kali itu mengadakan suatu pemisahan fisik. Tetapi pemisahan pendahuluan yang terjadi sebelum kedatangan Kristus yang kedua kali, ialah pada kedatangan-Nya yang tidak kelihatan, yaitu sewaktu Ia menaruh “domba-domba” itu pada sebelah kanan-Nya dan “kambing-kambing” itu pada sebelah kiri-Nya (Matius 25 : 32, 33; 13 : 30; Wahyu 18 : 4; Matius 13 : 48).

Nyonya White mengatakan : “Aku tampak orang-orang suci itu meninggikan kota-kota dan kampung-kampung, lalu bergabung bersama dalam kelompok-kelompok, dan hidup di tempat-tempat yang sangat terpencil. Malaikat-malaikat memberi mereka makanan dan air, sedangkan orang-orang jahat menderita karena kelaparan dan kehausan. Kemudian aku tampak para pemimpin dunia bersama-sama berkonsultasi, dan Setan berikut malaikat-malaikatnya sibuk mengelilingi mereka itu. Aku tampak sebuah tulisan, yang salinan-salinannya disebarkan di berbagai tempat tanah itu, memberikan perintah-perintah bahwa jika umat kesucian itu tidak melepaskan iman mereka yang aneh itu, melepaskan Sabat, dan mematuhi hari yang pertama dari minggu, maka setelah sesuatu waktu tertentu orang banyak itu akan bebas untuk membunuh mereka. Namun dalam

cobaan inilah umat kesucian itu tetap tenang dan bersatu, sambil menaruh harap sepenuhnya pada Allah, dan bersandar pada janji-Nya bahwa suatu jalan kelepasan akan dibuat bagi mereka. Di beberapa tempat, sebelum saat keputusan itu dilaksanakan, orang-orang jahat menyerbu mendatangi orang-orang suci hendak membantai mereka; namun malaikat-malaikat dalam bentuk prajurit-prajurit berperang bagi mereka. Setan ingin memiliki hak kekuasaan untuk membinasakan umat kesucian dari Yang Maha Tinggi itu; tetapi Yesus meminta para malaikat-Nya untuk mengawasi mereka. Allah akan dimuliakan oleh membuat suatu janji kepada orang-orang yang memeliharakan hukum-Nya di depan pandangan orang-orang Kapir yang berada di sekitar mereka itu; dan Yesus akan dimuliakan karena mengubahkan orang-orang yang setia yang menunggui-Nya itu, yang sudah lama mengharap-harapkan-Nya, menjadi tidak lagi mengalami mati.” -- Early Writings, pp. 282, 283.

Kenyataan bahwa umat kesucian itu secara nubuatan terlihat mereka di dalam kelompok-kelompok sebelum kedatangan Kristus yang kedua kali, kembali membuktikan bahwa pemisahan di antara umat kesucian dan orang-orang berdosa itu terjadi sebelum kedatangan-Nya. Namun, bagaimanapun, pemisahan yang diakibatkan oleh kedatangan yang kedua kali Kristus itu masih akan lebih besar lagi.

Sebab itu, walaupun pekabaran di dalam buku Christ’s Object Lessons, p. 123 itu berlaku bagi pemisahan (orang-orang benar dibawa ke surga dan orang-orang jahat dibiarkan tertinggal di bumi) pada kedatangan Kristus yang kedua kali, namun ia itu tidak sama sekali meniadakan pemisahan “lalang-lalang” daripada “gandum” (Matius 13 : 30),

atau “domba-domba” daripada “kambing-kambing” (Matius 25 : 32).

Dan sekarang, oleh karena kebenaran yang terkenal mengenai Pemeriksaan Hukum di dalam surga itu adalah merupakan kaca pembesar doktrin Masehi Advent Hari Ketujuh, maka marilah kita memanfaatkannya terhadap pokok masalah pemisahan itu.

Bagian mengenai Pemeriksaan Hukum orang-orang hidup itu, oleh mana diputuskan siapa-siapa yang dosa-dosanya dihapuskan dan sebagai hasilnya dikaruniakan hidup kekal, adalah disejajarkan di bumi oleh pekerjaan malaikat yang membawa “pena penyurat”, yang diberi tugas membubuhi “tanda” (meterai) pada setiap orang yang berkeluh-kesah dan berseru karena segala kekejian di dalam Yehuda dan Israel -- sidang. Dan tugas dari kelima malaikat lainnya yang mengikutinya untuk membantai semua orang yang tidak memiliki “tanda” (meterai) itu, adalah disejajarkan di dalam surga dengan menghapuskan nama-nama orang-orang berdosa dari Kitab Hayat. (Lihat Yehezkiel pasal 9 ; -- Testimonies to Ministers, p. 445; Testimonies, vol. 5, p. 211).

Demikianlah kita saksikan bahwa pekerjaan rangkap nubuatan mengenai pemisahan nama-nama orang-orang berdosa dari nama-nama orang-orang benar di dalam kaabah kesucian, dan pemisahan orang-orang berdosa dari orang-orang benar di dalam sidang, adalah sama dengan pekerjaan yang ditentukan di dalam perumpamaan-perumpamaan : pemisahan lalang daripada gandum (Matius 13 : 30); pemisahan ikan yang jelek daripada ikan yang baik (Matius 13 : 48); pemisahan orang-orang yang tidak memakai pakaian kawin daripada orang-orang yang memakainya (Matius 22 : 1 – 13);

pemisahan orang-orang yang tidak memperbaiki talenta-talentanya daripada orang-orang yang memperbaikinya (Matius 25 : 20 – 30).

Karena semua pemisahan yang seimbang sama ini sekaliannya terjadi selama Pemeriksaan Hukum itu, sebelum perkawinan, penobatan, resepsi kerajaan itu (Daniel 7 : 9, 10, 13, 14), maka terbuktilah bahwa penuaian dan Pehukuman itu merupakan sesama rekan (counterparts), dan bahwa keduanya itu terjadi sebelum masa kasihan berakhir -- yaitu sewaktu Tuhan secara tiba-tiba datang ke kaabah-Nya untuk “menyucikan bani Lewi.” Maleakhi 3 : 1 – 3. Dan karena Pehukuman orang-orang mati itu disusul oleh Pehukuman orang-orang hidup, maka Pehukuman terhadap sidang akan disusul oleh Pehukuman terhadap dunia. Maka “jikalau ia itu pertama-tama mulai terhadap kita, apakah kelak nasib orang-orang yang tidak mematuhi injil Allah?” (1 Petrus 4 : 17) -- sewaktu Hakim Agung itu duduk di atas tahta kemuliaan-Nya, sewaktu semua bangsa-bangsa berhimpun di hadapan-Nya, apabila sebagai gembala Ia memisah-memisahkan domba-domba-Nya (Matius 25 : 31 – 46). 

APAKAH PEMBANTAIAN DARI YEHEZKIEL PASAL 9 ITU BENAR-BENAR PEMBANTAIAN YANG SESUNGGUHNYA? 

Pertanyaan No. 25 :

“Tongkat Gembala” mengajarkan bahwa pembantaian dari Yehezkiel pasal 9 itu ialah pembantaian yang sebenarnya. Tidakkah itu mungkin merupakan suatu pembinasaan seperti yang ditimbulkan oleh yang disebut “perbuatan-perbuatan Allah” -- gempa bumi, kelaparan, bela sampar, tujuh bela, atau sejenisnya?

Jawab :

Kelima agen yang membinasakan orang-orang jahat

di dalam sidang itu bukanlah kekuatan-kekuatan alam melainkan orang-orang yang membawa senjata-senjata pembantai di dalam tangan mereka. Mereka adalah mahluk-mahluk luar biasa, bukan unsur-unsur alami. Oleh sebab itu mereka tidak mungkin secara tepat melambangkan gempa-gempa bumi, atau yang sejenisnya.

Juga tidak mungkin mereka melambangkan tujuh malaikat yang membawakan tujuh bela yang terakhir itu, karena malaikat-malaikat ini adalah tujuh jumlahnya, bukan lima. Lagi pula, mereka tidak memiliki “senjata-senjata pembantai” di dalam tangannya, melainkan piala-piala. Selanjutnya, bela-bela itu jatuh di Babilon (Wahyu 18 : 4), sedangkan pembantaian Yehezkiel pasal 9 itu terjadi di dalam Yehuda dan Israel (Yehezkiel 9 : 9).

Apakah Yehezkiel pasal 9 itu benar-benar nyata ataupun kiasan, ia itu tetap menimbulkan suatu pemisahan di antara yang baik dan yang jelek, pemisahan lalang daripada gandum, di dalam sidang (Yehuda dan Israel), sama seperti yang pada akhirnya diperbuat oleh bela-bela itu di Babilon (Wahyu 18 : 4). Dan karena bela-bela itu adalah benar-benar nyata, maka bagaimanakah mungkin pembantaian itu merupakan sesuatu yang kurang nyata?

Malaikat yang membawa pena penulis itu akan membubuhi suatu tanda pada dahi semua orang yang berkeluh-kesah dan berseru karena segala kekejian, maka malaikat-malaikat pembantai akan membantai baik orang-orang tua maupun orang-orang muda (Yehezkiel 9 : 4 – 6).

“Sidang -- yaitu tempat kesucian Tuhan”, ialah yang pertama sekali akan merasakan pukulan dari murka Allah itu. Orang-orang bangsawan, yaitu mereka kepada siapa Allah telah mengaruniakan terang besar, dan yang telah berdiri sebagai pengawal-pengawal dari segala kepentingan kerohanian umat, mereka telah mengkhianati kepercayaan yang diberikan

kepada mereka. Mereka telah mengambil tempat agar kita tidak perlu mengharapkan mujizat-mujizat dan manifestasi-manifestasi kuasa Allah yang nyata seperti halnya di zaman dahulu. Zaman telah berubah. Semua perkataan ini menguatkan ketidak-percayaan mereka sehingga mereka mengatakan : Tuhan tidak akan berbuat baik, juga Ia tidak akan berbuat jahat. Ia adalah sangat pemurah untuk menghukum umat-Nya dalam pehukuman. Demikianlah damai dan sejahtera adalah teriakan dari orang-orang yang tidak pernah lagi mengangkat suaranya bagaikan trompet untuk menunjukkan kepada umat Allah segala pelanggaran mereka dan kepada isi rumah Yakub segala dosa mereka. Anjing-anjing yang bisu ini, yang tidak mau menyalak, ialah orang-orang yang merasakan pembalasan yang adil dari suatu Allah yang murka. Laki-laki, perempuan-perempuan; dan anak-anak kecil, sekaliannya binasa bersama-sama.” -- Testimonies, vol. 5, p. 211.

Sebagaimana di dalam buku The Great Controversy, p. 656, hanya suatu garis pararel yang tidak langsung dapat ditarik di antara pembantaian dari Yehezkiel pasal 9 dan kejatuhan bela-bela itu, sebab suatu nasib akhir (kematian) yang biasa menimpa baik orang-orang jahat di dalam sidang Laodikea maupun orang-orang jahat di dalam sidang-sidang Babilon. Dan hanya orang-orang yang mengatakan : “Kita tidak perlu mengharapkan mujizat-mujizat dan manifestasi-manifestasi nyata dari kuasa Allah seperti di zaman dahulu”, yang mengira pembantaian itu bukanlah benar-benar nyata. 

SIAPAKAH WANITA ITU DAN YANG TERTINGGAL DARIPADANYA? 

Pertanyaan No. 26 :

Apakah yang dimaksudkan dengan Wahyu 12 : 13 – 17?

Jawab :

“Maka setelah naga itu menyadari bahwa dirinya telah tercampakkan ke bumi, ia lalu menganiayakan perempuan itu yang telah melahirkan bayi laki-laki itu. Maka kepada perempuan itu karuniakan dua sayap dari sesuatu burung garuda, supaya dapat ia terbang ke dalam padang belantara, ke dalam tempatnya, di mana di sana ia akan dipeliharakan selama satu masa, dan dua masa, dan setengah masa, dari pandangan ular itu. Maka ular itu menyemburkan air dari dalam mulutnya bagaikan suatu air bah mengikuti perempuan itu dari belakang, agar dapat ia menghanyutkannya dengan air bah itu. Tetapi bumi telah membantu perempuan itu, maka bumi telah membuka mulutnya, dan menelan air bah itu yang telah disemburkan dari dalam mulut naga itu. Maka naiklah marah naga itu akan perempuan itu, lalu pergilah ia memerangi mereka yang tertinggal dari benihnya, yaitu mereka yang memeliharakan perintah-perintah Allah dan yang memiliki kesaksian Yesus Kristus.” Wahyu 12 : 13 – 17.

Hampir semua orang Kristen sepaham bahwa satu-satunya interpretasi yang dapat dipertahankan mengenai “perempuan” itu yang disebutkan di sini, ialah bahwa ia itu melambangkan sidang. Dan kenyataan bahwa ia telah melahirkan bayi laki-laki itu, yaitu Kristus, menunjukkan bahwa oleh karenanya ia melambangkan sidang sekurang-kurangnya dalam sejarah Kristen.

Sementara naga itu menganiayanya (perempuan itu) oleh perantaraan para imam Yahudi yang tertipu itu yang telah menolak Kristus sebagai Mesias, maka “terdapat suatu aniaya besar terhadap sidang yang di Yerusalem; maka sekalian mereka itu tercerai-berailah keluar ke seluruh

daerah Yudea dan Samaria, terkecuali rasul-rasul itu. Maka orang-orang yang setia menghantarkan Stephanus ke tempat pemakamannya, dan meratapi dia dengan amat sangat. Tetapi bagi Saul, ia berusaha membinasakan sidang itu, sambil masuk dari rumah ke rumah lalu menyeret mereka laki-laki dan perempuan-perempuan keluar dan menyerahkan mereka untuk dimasukkan ke dalam penjara. Oleh karena itulah mereka yang tercerai-berai keluar itu pergi ke mana-mana mengkhotbahkan Firman itu.” Kisah Rasul-Rasul 8 : 1 – 14.

Oleh sebab itu kepadanya telah dikaruniakan sayap-sayap dari burung garuda yang besar -- yang artinya alat transportasinya ke dalam padang belantara. Dan karena merupakan kebalikan dari kebun anggur (“isi rumah Israel, dan orang-orang Yehuda sebagai tanaman kesayangan-Nya” -- Yesaya 5 : 7), maka padang belantara itu jelas menunjukkan bangsa-bangsa Kapir. Oleh sebab itu, dalam menanggapi nubuatan ini, maka para rasul itu telah diperintahkan dan telah dikaruniakan sayap-sayap, untuk dengan cepat pergi berkhotbah kepada segala bangsa.

“Maka Paulus dan Barnabas menjadi tambah berani, lalu mengatakan : Memang kepada kamulah firman Allah harus diberitakan lebih dulu, tetapi karena kamu menolaknya dan menganggap dirimu tidak layak untuk beroleh hidup yang kekal, maka kami beralih kepada bangsa-bangsa Kapir. Karena demikianlah yang diperintahkan Tuhan kepada kami, kata-Nya : Aku telah menempatkan kamu menjadi terang bagi bangsa-bangsa Kapir, supaya kamu membawakan keselamatan kepada segala hujung bumi. Maka setelah orang-orang Kapir itu mendengar akan hal ini, bergembiralah mereka, lalu memuliakan Firman Tuhan : maka sebanyak orang-orang yang telah dipilih bagi kehidupan yang kekal itu, sekaliannya percaya. Maka Firman Tuhan diberitakan di seluruh daerah.” Kisah Rasul-Rasul 13 : 46 – 49.

Karena melihat akan hal ini, maka ular itu lalu berusaha membinasakan kegunaannya perempuan itu di antara bangsa-bangsa Kapir : ia lalu “menyemburkan air dari mulutnya bagaikan suatu air bah dari belakang perempuan itu, supaya dapat ia menghanyutkan dengan air bah itu.” Wahyu 12 : 15.

Setiap orang dapat melihat bahwa “air bah” ini hanya dapat melambangkan sidang secara tiba-tiba sedang dimasuki orang-orang kapir yang tidak bertobat, yang sebagaimana di zaman kaizar Constantine dan untuk bertahun-tahun kemudian dari zamannya itu, mereka telah dibawa secara masal dan dipaksa memasuki baptisan. Dalam perumpamaan-perumpamaan Kristus “air bah” yang sama inipun telah dilukiskan, tetapi dengan sebutan yang berbeda, yaitu “lalang-lalang.” Dan kenyataan membuktikan bahwa mereka itu masih sangat banyak terdapat di dalam sidang, mendorong kita untuk menyadarinya dengan penuh keprihatinan bahwa bumi masih belum lagi menelan air bah itu.

“Air bah” dan “lalang-lalang” adalah kiasan-kiasan yang sama. Oleh sebab itu, maka ditelannya air bah itu akan sama saja artinya dengan pembakaran lalang-lalang itu seperti yang diartikan di dalam perumpamaan mengenai penuaian (Matius 13 : 30).

Lagi pula, Pewahyu menunjukkan bahwa sesudah air bah itu ditelan oleh bumi, sesudah orang-orang yang tidak bertobat “dibantai” dan dikebumikan, dan oleh karenanya sidang disucikan, barulah naga itu akan memerangi dengan kejamnya mereka yang tertinggal dari benih perempuan itu. Oleh sebab itu, maka masa penuaian di dalam sidang, masa bumi menelan air bah itu, adalah sebelum ular naga itu berperang melawan orang-orang yang tertinggal itu.

“Buah-buah” yang dikumpulkan adalah hasil dari suatu penuaian. Apabila 144.000 itu, yaitu buah-buah yang pertama itu (Wahyu 14 : 4) dikumpulkan, dan lalang-lalang (air bah) dibinasakan (ditelan) dari antara mereka, maka mereka yang 144.000 itu akan dibawa ke Gunung Sion, di sana mereka kemudian membentuk sidang Induk, yaitu wanita yang bermahkotakan dua belas bintang, di bawah perlindungan Anak Domba itu, yaitu Dia yang bersama-sama dengan mereka itu. Dengan dilindungi demikian ini, maka ia (wanita itu) akan aman dari serangan ular naga itu kemudian terhadapnya. Sebab itu ia hanya akan memerangi “yang lagi tinggal dari benihnya” saja, yaitu orang-orang yang masih akan dikumpulkan -- yaitu buah-buah kedua yang masih tersebar di seluruh dunia, di luar Gunung Sion. Puncak dari segala zaman ini adalah diramalkan dengan jelas sekali oleh Yesaya dan Mikha sebagai berikut :

Mikha mengatakan : “Tetapi di akhir zaman, ia itu akan jadi kelak, bahwa gunung rumah Tuhan akan diperdirikan pada puncak segala gunung, dan ia itu akan ditinggikan melebihi segala bukit; maka orang banyak akan mengalir mendatanginya. Dan banyak bangsa akan datang, lalu mengatakan : Datanglah, dan marilah kita naik ke gunung Tuhan itu, dan ke rumah Allah Yakub itu; maka Ia akan mengajarkan kepada kita segala jalan-Nya, dan kita akan berjalan di dalam segala lorong-Nya; karena hukum akan terbit dari Sion, dan firman Tuhan dari Yerusalem.” Mikha 4 : 1, 2. (Lihat juga Yesaya pasal 2).

Dari kata-kata injil ini, terlihat jelas bahwa Gunung Sion akan menjadi markas besar bagi pekerjaan injil yang terakhir di bumi, setelah mereka yang 144.000 itu tiba di sana, dan selama

ular naga itu berperang melawan orang-orang yang lagi tinggal itu, “karena hukum akan terbit dari Sion, dan Firman Tuhan dari Yerusalem” -- tidak lagi dari General Conference, ataupun dari Mount Carmel Center.

Kemudian banyak bangsa akan mengatakan : “Datanglah, dan marilah kita naik ke gunung Tuhan itu, dan ke rumah Allah Yakub itu; maka Ia akan mengajarkan kepada kita segala jalan-Nya, dan kita akan berjalan di dalam segala lorong-Nya.” Mikha 4 : 2.

SIAPAKAH YANG MENGINDENTIFIKASI PLANET-PLANET YANG TERLIHAT DALAM KHAYAL?

Pertanyaan No. 27 :

Dalam sejarahnya mengenai Pergerakan Advent Pendeta Loughborough menceritakan : “Dalam bulan November 1846 telah diadakan suatu rapat di Topsham, Maine, dimana Pendeta Bates hadir. Pada pertemuan itu Nyonya White .....memperoleh sebuah khayal yang mana telah membuat Pendeta Bates menjadi sangat puas karena keaslian otentik ilahi dari pada sekaliannya.....Nyonya White, selama dalam khayal itu, mulai berbicara mengenai bintang-bintang, sambil memberikan suatu gambaran yang bersinar-sinar mengenai gelang-gelang berwarna merah yang dilihatnya melintasi permukaan sebagian planet, dan menambahkan : “Saya melihat empat buah bulan.” Pendeta Bates mengatakan : “Oh, ia sedang melihat Jupiter” kemudian setelah membuat gerakan-gerakan seolah-olah sedang berjalan-jalan di angkasa, maka mulailah ia memberi gambaran mengenai gelang-gelang dan lingkaran-lingkaran itu dalam berbagai keindahannya yang senantiasa bervariasi, dan mengatakan : ‘Saya melihat tujuh buah bulan.’ Pendeta Bates kemudian mengatakan : ‘Ia sedang melukiskan Saturnus.’ Berikutnya Nyonya White mengatakan : ‘Saya melihat enam buah bulan’, dan serentak mulailah suatu gambaran mengenai ‘terbukanya segala langit’, dengan kemuliaannya.....” -- The Great Second Advent Movement, pp. 257, 258.

Teleskop-teleskop yang jauh lebih kuat dan pemotretan bintang masa kini telah memungkinkan para ahli bintang untuk menemukan bahwa Jupiter mempunyai sembilan buah bulan, dan

Saturnus mempunyai sepuluh buah. Tambahan lima buah bulan dari Jupiter itu ditemukan di antara tahun-tahun 1892 dan 1914. Bulan yang kedelapan dari Saturnus itu ditemukan dalam tahun 1848, dan yang kesembilan ditemukan dalam tahun 1899, dan yang kesepuluh dalam tahun 1905. Dan karena khayalnya itu, telah ditemukan bahwa Uranus hanya memiliki empat buah bulan dan bukan enam buah.

Dalam terang dari bukti-bukti kenyataan astronomis ini, bagaimanakah tanggapan Saudara terhadap ilham dari tulisan-tulisan Nyonya White itu?

Jawab :

Buku “The Great Second Advent Movement” pp. 257, 258 itu, sama sekali tidak mengatakan bahwa Nyonya White menyebut nama planet-planet itu, melainkan sedang diulangi kembali apa yang diakui dikatakan oleh orang-orang yang hadir pada waktu Nyonya White memperoleh khayal mengenai planet-planet itu. Lagi pula, ia itu juga tidak mengisyaratkan bahwa Nyonya White telah setuju dengan semua penunjukan itu yang oleh Pendeta Bates (dalam terang pengetahuan astronomis yang ada pada waktu itu) telah diberikan kepada planet-planet yang dibayangkan Nyonya White di waktu itu. Bagaimanapun adalah lumrah baginya untuk mengindentifikasi planet-planet itu seperti yang dilakukannya karena sekaliannya itu cocok dengan ajaran-ajaran astronomis pada waktu itu. Sebab itu, karena ia hanya pada saat penuh perhatian yang bukan sesuai dengan ungkapan Ilahi, telah mengindentifikasi dan mengesahkan apa yang bukan diidentifikasi dan disahkan Allah, maka itupun tidak akan sama dengan tuduhan-tuduhan yang dilontarkan kepada Nyonya White di dalam pertanyaan di atas.

Nyonya White jelas tidak mengetahui apapun tentang nama-nama dari planet-planet itu; Pendeta Bates tidak banyak mengetahuinya; dan kita di waktu ini pun hanya mengetahui sedikit saja

sekiranya ada. Jika dan apabila Allah menganggapnya perlu untuk memberitahukan nama-nama planet-planet itu, maka indentifikasi-Nya terhadap planet-planet itu akan tepat; sehingga kita akan mengetahui. 

APAKAH SELURUH ISI BUKU A WORD TO THE LITTLE FLOCK ITU OTENTIK?

Pertanyaan No. 28 :

Buku “The Shepherd’s Rod”, vol. 2, p. 151 mengutip dari buku “A Word to the Little Flock” mengenai bilangan dari binatang yang bertanduk dua itu. Namun, karena buku kecil itu telah ditulis sebagiannya oleh Pendeta James White dan sebagiannya lagi oleh Sister White, maka kami ingin mengetahui siapakah dari keduanya itu yang telah menuliskan ucapan pernyataan yang disebutkan itu; sebab jika sekiranya itu berasal dari Pendeta James White, maka kami belum melihat bagaimana keotentitasnya, dan mengapa Tongkat Gembala berpegang pada tulisannya itu.

Jawab :

Meskipun kutipan itu berasal dari pena tulisan Pendeta White, namun kenyataan yang sesungguhnya adalah, bahwa buku A Word to the Little Flock itu telah ditulis secara bersama-sama oleh Pendeta White dan isterinya, menunjukkan bahwa Nyonya White menunjang bahan-bahan tulisannya di dalam buku kecil itu yang sama-sama memiliki kekuatan seperti tulisannya sendiri. Jika tidak demikian, Nyonya White tidak akan pernah membiarkan tulisannya diterbitkan menjadi satu bersama-sama dengan tulisan-tulisannya. Lagi pula, kebenaran apapun juga yang dipeluk di zaman itu oleh suaminya ataupun oleh setiap pelopor yang lainnya, sekaliannya itu pada dasarnya telah diperoleh melalui dirinya. Dengan perkataan lain, dalam menulis apa pun yang dimasukkannya di dalam buku A Word to the Little Flock, ia sesungguhnya hanya menempatkan kembali apa yang telah diungkapkan sebelumnya melalui Sister White. Kebenaran dari hal ini akan cepat terlihat dari kenyataan bahwa ucapannya (Nyonya White) mengenai bilangan binatang itu, pada halaman 19, selengkapnya membenarkan ucapan Pendeta White pada halaman 9, yaitu bagian

yang dikutip oleh Tongkat Gembala. Oleh sebab itu, penyambutan terhadap pandangan Pendeta White mengenai masalah itu sama saja dengan penyambutan terhadap pandangan Sister White. 

ADAKAH TERDAPAT PERCAMPURAN MANUSIA DAN BINATANG? 

Pertanyaan No. 29 :

Nyonya White mengatakan : “Semenjak dari air bah telah terdapat percampuran manusia dan binatang, seperti yang dapat terlihat hampir tak habis-habisnya berbagai macam jenis binatang-binatang, dan dalam bangsa-bangsa manusia tertentu.” -- Spiritual Gifts, vol. 3, p. 75 (1864). Bagaimana ini terjadi?

Jawab :

Kenyataan bahwa interpretasi yang diberikan kepada ucapan Sister White mengenai percampuran itu, mengartikan suatu ketidak-mungkinan biologis yang sedemikian rupa sehingga hanya orang yang paling dungu dan bodoh saja dapat menganutnya, adalah merupakan bukti yang tegas bahwa kata-katanya itu telah dikacaukan sama sekali. Apapun juga yang mungkin dituntut oleh seseorang terhadap pengertian gramatika dari kalimat, “percampuran manusia dan binatang” itu, kenyataannya tetap terbukti di bawah terang dari apa yang ia tulis di mana saja mengenai masalah itu, dan dalam latar belakang pikiran yang sehat, juga mengenai pengertiannya yang luas tentang Alkitab, berikut kurang pengalamannya yang mula-mula menggunakan kata-kata, bahwa ia sedang mencoba menunjukkan dua jenis percampuran -- yang satu di antara berbagai bangsa manusia, yang lainnya di antara berbagai macam dan jenis-jenis binatang : seperti misalnya percampuran orang Ibrani dengan orang-orang Kanani, dan percampuran keledai dengan kuda, yang menghasilkan suatu

bangsa peranakan pada contoh yang satu, dan suatu jenis percampuran pada contoh yang lainnya. Dia sendiri menjelaskan : “Setiap jenis binatang yang telah diciptakan Allah telah dipertahankan di dalam bahtera. Jenis yang kacau yang bukan ciptaan Allah, yang dihasilkan oleh percampuran, telah dibinasakan oleh air bah.” -- Spiritual Gifts, p. 75. 

MENGAPAKAH TIDAK BERKEMBANG DENGAN LEBIH BAIK? 

Pertanyaan No. 30 :

Melihat kepada luasnya pekerjaan dan singkatnya waktu, maka mengapakah pekabaran tentang pemeteraian itu belum juga maju dengan lebih baik lagi?

Jawab :

Kalau saja yang keluar meninggalkan Mesir di zaman Musa itu bukan suatu rombongan besar orang-orang yang bercampur (Mixed Mutitude), maka Pergerakan Eksodus itu sudah akan berhasil memasuki tanah perjanjian dalam beberapa minggu saja. Namun karena dalam perjalanan Pergerakan itu mereka telah diikuti oleh banyak orang yang telah memiliki suatu roh yang berbeda dari pada roh yang dimiliki Kalep dan Yosua, maka Pergerakan itu akhirnya terlambat empat puluh tahun lamanya dari rencana untuk memasuki tanah perjanjian itu!

Dan meskipun pekerjaan Yesus pada kedatangan-Nya yang pertama dahulu belum sedemikian luas seperti halnya pekerjaan kita sekarang, namun pekerjaan-Nya itu adalah jauh lebih penting dan lebih singkat daripada pekerjaan kita sekarang. Tetapi, tampaknya pekerjaan Yesus itu sama sekali tidak membuat kemajuan apapun apabila kita pikirkan bahwa semua orang di waktu itu telah meninggalkan Dia sewaktu Ia diadili, dan bahwa Petrus, rasul yang paling bersemangat

itupun, bahkan telah mengucapkan kutuk dan bersumpah, bahwa ia bukan pengikut Kristus. Tetapi, bertentangan dengan semua yang tampaknya telah gagal itu, Yesus justru menyatakan sewaktu Ia tergantung di kayu salib, bahwa pekerjaan-Nya telah selesai.

Juga, kemudian, sesudah kebangkitan-Nya, Ia bertolak melakukan perjalanan ke atas,  meninggalkan hanya sejumlah kecil pengikut-pengikut-Nya yang belum sepenuhnya bertobat untuk meneruskan pekerjaan itu. Yang sedemikian inilah hasil-hasil dari semua usaha Yohanes Pembaptis dan Yesus yang tidak kenal lelah itu. Oleh sebab itu, dari jumlah besar orang-orang yang telah dibaptis oleh Yohanes dan Yesus itu ternyata hanya seratus dua puluh orang murid yang didapati bersepakat untuk menerima curahan Roh Allah pada hari Pantekosta itu.

Memang, pekerjaan itu bukan saja kecil dan tak berarti kelihatan di waktu itu, namun juga tampaknya tidak mungkin untuk maju. Namun karena orang-orang yang ragu-ragu di antara rombongan orang banyak itu merasa beralasan karena kekalahan total yang tampak pada penyaliban Yesus, maka mereka lalu memisahkan diri dari antara orang-orang yang setia. Dan karena para pengikut-Nya yang masih tertinggal itu telah kehilangan kepercayaan pada diri sendiri, mereka menyangkal dirinya, lalu mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh pada saat tidak ada lagi harapan di dalam diri mereka untuk melanjutkan pekerjaan itu, mereka memberikan kepada Tuhan kesempatan untuk memanifestasikan kebesaran kuasa-Nya untuk memajukan pekerjaan-Nya dengan kecepatan yang sedemikian besar sehingga dengan satu khotbah saja tiga ribu jiwa telah ditobatkan dalam sehari. Kemudian setiap hari sesudah itu telah ditambahkan hanya “sebanyak yang akan diselamatkan” -- yaitu sebanyak

orang-orang yang penuh bertobat. Demikianlah pekerjaan injil itu mulai bertumbuh dengan cepatnya, segera setelah Tuhan menemukan sekelompok orang yang dapat dipercayai dan digunakannya.

Sama halnya dengan Pergerakan Advent, segera setelah Pertemuan Minneapolis dalam tahun 1888, pekerjaan dari Malaikat Seruan Keras itu sudah akan dimulai, tetapi karena akibat ketidak-percayaan banyak orang pada Kesaksian-Kesaksian dari Roh Allah maka “seruan” itu telah menjadi diam selama empat puluh tahun, sementara Pergerakan itu kembali mundur “menuju Mesir.” -- Testimonies, vol. 5, p. 217.

Dalam tahun 1930, Allah kembali berbicara kepada umat-Nya seperti halnya Ia berbicara kepada Israel di zaman Yosua, tetapi kini, seperti halnya di masa itu, ada terdapat di antara kita sepuluh orang mata-mata, yaitu Korah-Korah, Dathan-Dathan, dan Abiram-Abiram, dan Akhan-Akhan -- yaitu orang-orang yang seperti mereka itu yang suka memberikan laporan-laporan yang mengecewakan, yaitu orang-orang yang mencari kedudukan, yang mengingini baju Babilonia, perak, dan batangan emas. Dan sebagai akibatnya kita juga telah dihambat, dan akan terus dihambat sampai kelak Tuhan memanifestasikan kuasa-Nya dan mengeluarkan dari antara kita orang-orang yang berpura-pura itu, membebaskan kita dari dosa dan dari orang-orang berdosa, seperti di zaman Korah, dan seperti di zaman Akhan, lalu mengatakan kepada kita seperti Ia berbicara kepada Yosua : “Seberangilah sungai Yordan ini, yaitu kamu dan semua umat ini, ke dalam tanah yang Ku karuniakan kepada mereka, yaitu kepada bani Israel.” Yosua 1 : 2.

Meskipun seringkali kita kecewa secara mendalam karena melihat di antara kita orang-orang yang tidak setia,

yang ragu-ragu, yang suka mencari-cari salah, rombongan besar orang banyak yang suka meninggikan diri, termasuk orang-orang yang telah meninggalkan Tuhan; dan juga orang-orang yang apabila diadili atau diuji karena iman mereka bahkan mengutuk dan bersumpah bahwa mereka bukan pengikut-pengikut pekabaran Tongkat Gembala; berikut juga orang-orang yang pada kenyataan percaya dan yang menyatakan bahwa mereka berdiri teguh membela pekabaran, tetapi mereka sedang melemparkan batu pada kita dan pada pekerjaan kita; -- sungguhpun kita tentunya belum merasa bangga karena adanya unsur sedemikian ini, namun kita belum sama sekali putus asa, melainkan sebaliknya dengan gembira berdiri sendiri membela kebenaran dan keadilan apabila bagian terbesar orang-orang meninggalkan kita.

Kita tak dapat tiada hanya bisa mengatakan dengan rendah hati : Ya Tuhan, bantulah kami untuk tetap berdiri dengan setia bagi-Mu meskipun seluruh dunia meninggalkan Dikau, atau walaupun kami harus mati seperti halnya rasul-rasul jika diperlukan. Kiranya kami boleh menjadi seperti Daniel, Shadrach, Meshak, dan Abednego -- yang berdiri dengan benar menghadapi bahaya yang mengancam jiwa kami, supaya Tuhan dapat memperoleh kesempatan melepaskan kami dari lubang singa, atau dari dapur api yang bernyala-nyala, jika diperlukan, sehingga dengan demikian membuat diri-Mu termasyur kepada seluruh dunia melalui kesetiaan kami. Kiranya kami dapat dibakar dengan semangat Nuh sementara kami melibatkan diri dalam membangun bahtera zaman ini, sementara banyak saudara-saudara yang mengaku percaya pada pekabaran ini mempertanyakan dan mengeritik pekerjaan dan kedudukan kami (Testimonies, vol. 5, p. 690) dan menghalangi kemajuan pekerjaan, dan sementara yang lainnya menuduh-nuduh kami karena terlalu banyak mengambil bagian kami.

Kiranya jangan sekali kita mengatakan : “Tuhan memperlambat kedatangan-Nya”; atau, “Kita tidak mampu untuk pergi naik menghadapi orang banyak itu, karena mereka lebih kuat daripada kita”; atau, “Tanah itu, yang telah selesai kita tinjau, adalah sebuah tanah yang memakan habis semua penduduknya; dan semua orang yang kita lihat di dalamnya adalah orang-orang yang berpostur besar-besar. Dan di sana kita melihat raksasa-raksasa; yaitu anak-anak keturunan Anak, yang berasal dari raksasa-raksasa; dan kita pada pemandangan sendiri hanyalah bagaikan belalang-belalang, dan demikianlah keadaan kita pada pemandangan mata mereka.” Bilangan 13 : 31 – 33. Kiranya jangan sekali kita menjadi sedemikian bodoh dan sedih seperti ini. 

MENGAPA MENGGANGGU DIMANA TIDAK DIPERLUKAN? 

Pertanyaan No. 31 :

Jika orang-orang Davidian menyangka dirinya memiliki sebuah pekabaran, maka mengapakah mereka tidak merasa puas untuk mengikuti jalannya sendiri, dan membiarkan orang-orang lain mengikuti jalan mereka sendiri? Mengapa mereka harus mengganggu dengan pekabarannya di dalam gereja kami?

Jawab :

Dengan menelusuri sejarah sidang sepanjang zaman turun sampai kepada hari ini, kita akan menemukan bahwa sekiranya semua orang telah mengambil pendirian yang sama dengan pendirian si penanya di atas, maka Kebenaran yang terus maju itu tidak akan pernah sampai kepada sidang dalam setiap masa. Sekiranya utusan-utusan Allah pada berbagai masa yang berbeda-beda telah lalai mengganggu dengan pekabaran mereka di dalam sidang-sidangnya sendiri, maka bagaimanakah mungkin pekabaran-pekabaran reformasi yang beraneka ragam itu berhasil mencapai umat-Nya? Bukankah Ia lebih memperhatikan mereka dari pada orang-orang Kapir? Yohanes Pembaptis, Yesus, dan para rasul, sekaliannya telah mengorbankan

nyawa mereka untuk bisa menghantarkan pekabaran mereka kepada sidang-sidangnya sendiri. Maka mengapakah orang-orang Davidian tidak diperkenankan berbuat juga yang sama?

“Terhadap mereka ini (Wycliff, Huss, Luther, Tyndale, Baxter, Wesley), aniaya telah berjalan dengan kejamnya; namun mereka tidak berhenti memberitakan kebenaran itu. Masa-masa periode yang berbeda-beda dalam sejarah sidang masing-masingnya telah ditandai oleh berkembangnya sesuatu kebenaran khusus, yang sesuai dengan kebutuhan umat Allah pada masa periode yang bersangkutan. Setiap kebenaran baru telah maju menghadapi kebencian dan perlawanan; orang-orang yang diberkati dengan terangnya telah dicobai dan dianiaya. Tuhan mengaruniakan sebuah kebenaran khusus bagi umat dalam suatu keadaan yang mendesak. Siapakah yang berani menolak memberitakannya? Ia memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk menyampaikan undangan kemurahan yang terakhir kepada dunia. Mereka tidak dapat tetap berdiam diri, terkecuali karena bahaya terhadap jiwa mereka.” -- The Great Controversy, p. 609.

Dengan sendirinya, maka kita tidak berani menolak untuk memberitakan kebenaran Davidian yang istimewa itu bagi sidang di waktu ini. 

BEKERJA DI DALAM ATAU DI LUAR? 

Pertanyaan No. 32 :

Di satu pihak saya menemukan buku-buku Saudara mengajarkan kepada para penganutnya supaya jangan meninggalkan barisan orang-orang yang ada di dalam sidang Induk, sedangkan di pihak lain saya menemukannya menimbulkan kekacauan yang tidak habis-habisnya bagi sidang. Bagaimanakah dapat Saudara menyesuaikan ajaran-ajaranmu dengan contoh teladanmu? Mengapakah tidak mencurahkan waktumu untuk usaha-usaha pengabaran injil, membawa jiwa-jiwa yang bersalah kepada pengetahuan kebenaran, dan membiarkan sidang sendiri?

Jawab :

Kami benar-benar yakin bahwa sekarang ini bukan lagi masanya untuk berpisah sendiri-sendiri, melainkan benar-benar untuk berhimpun bersama-sama. Maka pekabaran yang kami bawa sekarang kepada sidang, bukan saja tidak mengandung ajaran yang membenarkan kami meninggalkan barisan-barisannya untuk menjadi suatu sekte agama yang terpisah, melainkan sebaliknya secara mutlak melarang kami berbuat sedemikian itu. Karena alasan-alasan inilah, maka sejak mulanya kami telah menolak dengan tegas untuk meninggalkan sidang Induk, walaupun dengan menghadapi tindakan yang keras.

Oleh sebab itu, maka sejauh yang kami tahu pertentangan dan perbedaan pendapat yang ada adalah merupakan tanggung jawab saudara-saudara pemimpin Madzab Organisasi sendiri, dan sama sekali bukan tanggung jawab kami, karena kami hanya membawakan peraturan dan teladan Tuhan yang resmi yang tidak pernah mengorbankan Kebenaran. Dan mereka sendiri akui, bahwa kita harus mematuhi Allah dan bukan manusia. Oleh sebab itu, pada merekalah terletak beban kesalahan yang berat karena mengulangi kembali kebodohan tragis orang-orang Yahudi di zaman Kristus, karena menolak pekabaran dari hal jam, “mereka sendiri tidak masuk” ke dalam perluasan Kebenaran itu, mereka menghalangi orang-orang yang hendak masuk, dan membuang keluar orang-orang yang masuk.

Sebab itu, bagi kami menghabiskan waktu untuk menginjil kepada dunia, sementara melalaikan sidang sendiri, adalah merupakan suatu perbuatan kejahatan, yaitu suatu pengkhianatan yang terbesar baik terhadap Allah maupun terhadap umat-Nya. Sidang harus pertama sekali diselamatkan dari

kondisi Laodikeanya yang berupa “tidak terkasihan dan sengsara dan miskin dan buta dan bertelanjang.” Adalah sidang dan bukan dunia, yang sedang akan diludahkan keluar. Ia “adalah satu-satunya objek di bumi pada mana Allah menaruh perhatian-Nya yang besar.” -- Testimonies to Ministers, p. 15.

Namun dalam keadaannya yang buta dan melarat yang menyedihkan sekarang ini seperti yang diungkapkan oleh Saksi Yang Benar itu (Wahyu 3 : 14 – 18), ia (sidang) sama sekali belum mampu untuk memikul tugas yang dibebankan kepadanya, ia harus diselamatkan dari kesesatannya yang menyedihkan itu sebelum ia dapat menjadi suatu tempat berlindung yang aman dan suatu pengaruh yang menyelamatkan bagi orang-orang yang mau bergabung dengan barisannya. Sekiranya Allah akan meninggalkannya dalam kondisi Laodikea di mana ia sekarang berada, maka bukan saja dia sendiri yang akan hilang sebagai akibatnya, tetapi juga seluruh dunia   akan hilang mengikutinya. Oleh sebab itu, Ia harus membangunkannya atau sebaliknya membangkitkan suatu sidang yang lain untuk melaksanakan tugas itu yang masih harus diselesaikan.

Sungguhpun demikian, bayangkanlah betapa kekalnya kegembiraannya kelak bagi Tuhan untuk melengkapinya dan menggunakannya (sidang) bagi kemuliaan-Nya, gantinya meninggalkan dia! Sebab itu sebelum membangkitkan suatu sidang yang lain sebagai usaha terakhir, Ia sedang mencoba untuk menyelamatkannya, dan Ia hendak menyelamatkannya, seperti yang dijanjikan-Nya.

“Setan hendak mengerjakan mujizat-mujizatnya untuk menipu, ia hendak menegakkan kuasanya seunggul mungkin. Sidang akan kelihatan seolah-olah sedang akan runtuh, namun ia tidak akan runtuh. Ia akan tetap bertahan, sementara orang-orang berdosa di Sion akan disaring keluar. Sekam

akan dipisahkan dari gandum yang bernilai itu. Inilah suatu hukuman yang mengerikan, namun bagaimana pun juga ia itu harus jadi. Tidak seorang pun terkecuali orang-orang yang telah dimenangkan oleh darah Anak Domba dan perkataan kesaksian mereka akan ditemukan bersama-sama dengan orang-orang yang setia dan benar, tanpa cacat atau karatan dosa, tanpa tipu di dalam mulut mereka. Umat sisa yang menyucikan jiwa-jiwa mereka oleh mematuhi kebenaran itu menghimpunkan kekuatan dari proses ujian, memperlihatkan keindahan kesucian di tengah-tengah kemurtadan di sekelilingnya .....”

“Persoalan besar yang sudah dekat itu akan mengikis keluar orang-orang yang bukan pilihan Allah, maka Ia akan memiliki suatu dinas kependetaan yang bersih, benar, dan yang sudah disucikan yang dipersiapkan bagi hujan akhir itu.” -- B – 55 – 1886.

Sekiranya Tuhan -- Yang Sendiri telah menghabiskan semua waktu-Nya sewaktu di bumi dalam usaha terpisah menyelamatkan sidang-Nya yang hilang di waktu itu -- mengutus kita kepada dunia dan bukan kepada sidang-Nya yang hilang di waktu ini, maka Ia bukan saja memasukkan orang-orang yang tidak bersalah ke dalam kebinasaan bersama-sama dengan orang-orang yang bersalah, melainkan juga sama sekali memutar-balikkan perbuatan-Nya sendiri dan menentang Perintah-Nya sendiri kepada para rasul-Nya, bahwa mereka harus mengkhotbahkan kebenaran sekarang pertama sekali kepada sidang (Matius 10 : 5, 6).

Oleh sebab itu, maka dalam kemurahan dan sejalan dengan rencana kekal-Nya Ia telah merencanakan, bahwa “sementara pemeriksaan hukum itu berlangsung di dalam surga, sementara dosa-dosa dari orang-orang percaya yang bertobat disingkirkan dari tempat kesucian, maka akan ada suatu pekerjaana

pembersihan khusus, yaitu penyingkiran dosa, di antara umat(Nya) di bumi”. Inilah tugasnya (sidang) yang istimewa. “Kemudian sidang yang ..... pada kedatangan-Nya (Ia) akan menyambut bagi diri-Nya akan merupakan ‘suatu sidang yang mulia, tidak bercacat-cela, atau kerutan, atau sesuatu apapun yang sedemikian’.” -- The Great Controversy, p. 425.

Roh Kebenaran selanjutnya mengatakan : “Tuhan sekarang tidak bekerja untuk memasukkan banyak jiwa ke dalam kebenaran karena sebab anggota-anggota sidang sendiri yang tidak pernah bertobat, dan orang-orang yang pernah bertobat namun mereka telah murtad kembali. Pengaruh apakah yang dipunyai anggota-anggota yang tidak berserah diri ini terhadap orang-orang baru? Tidakkah mereka kelak menggagalkan pekabaran karunia Allah itu yang harus dibawa oleh umat-Nya?” -- Testimonies, vol. 6, p. 371.

Tetapi apabila orang-orang murtad dan orang-orang yang tidak bertobat, lalang-lalang itu, diambil keluar, “maka ia akan kelihatan ‘bagaikan hari pagi, indah bagaikan bulan cerah bagaikan matahari, dan hebat bagaikan suatu bala tentara dengan panji-panjinya’.” -- The Great Controversy, p. 425.

Benar, orang-orang kapir yang jujur harus dan akan diberi penginjilan, namun “domba-domba yang sesat di dalam rumah Israel” (Matius 10 : 6) harus terlebih dulu dicari. Oleh sebab itu, betapa seharusnya mereka bersyukur dan akan bersyukur, dan betapa seharusnya mereka bekerja sama, dan akan bekerja sama, apabila mereka menyadari bahwa bukannya kaya dan bertambah kekayaannya, sehingga tidak memerlukan apa-apa lagi, melainkan mereka sesungguhnya adalah “tidak terkasihan dan sengsara dan miskin dan

buta dan bertelanjang” -- kekurangan dalam segala perkara; dan bahwa Tuhan sedang mengharapkan mereka supaya sadar akan kenyataan, supaya Ia dapat menggunakan mereka sebagaimana sepatutnya.

Karena alasan-alasan inilah, maka Allah mengatakan sekarang untuk bekerja di dalam perhimpunan Laodikea dan bukan di luar. Maka apa yang dikatakan-Nya, itulah yang dimaksudkan-Nya, dan kami tidak berani melanggar, apapun yang dikatakan orang atau diperbuat orang. 

ADAKAH TONGKAT GEMBALA MASIH MENGAJARKAN “PERKARA-PERKARA YANG SAMA”? 

Pertanyaan No. 33 :

Pada permulaannya, “Tongkat Gembala” sepaham bersama-sama dengan Roh Nubuat, bahwa “yang lagi tinggal dari benihnya itu ialah mereka yang 144.000 itu, yaitu mereka yang diserang oleh ular naga itu.” -- The Shepherd’s Rod, vol. 2, p. 265. Kini, sepuluh tahun kemudian, ia mengajarkan bahwa “yang lagi tinggal dari benihnya itu” di dalam contoh ini ialah orang-orang yang masih akan tertinggal di dunia apabila Babilon menunggangi binatang itu (Wahyu pasal 17).” -- The Symbolic Code, July -- December, 1941, p. 9. Yang manakah yang benar -- yang semula ataukan yang sekarang?

Jawab :

Jika orang tidak dapat menyangkal bahwa mereka yang 144.000 itu, yaitu buah-buah pertama itu, adalah anggota-anggota sidang, maka orang tidak mungkin menyangkal, bahwa mereka itu adalah berasal dari benihnya. Dan karena mereka itu masih tetap hidup setelah pembantaian orang-orang yang tidak setia di tengah-tengahnya, maka oleh sebab itu mereka adalah “orang-orang yang tersisa” itu -- yaitu yang masih tertinggal itu. Dengan tanda logika yang sama, adalah sama tidak dapat dibantah bahwa karena wanita dari Wahyu pasal 12 itu melambangkan sidang sampai kepada akhir sejarah, maka buah-buah kedua dari benihnya, yaitu orang-orang yang masih

hidup setelah kebinasaan orang-orang jahat di seluruh dunia, juga tergolong suatu “umat yang sisa.”

Oleh sebab itu jelaslah, bahwa kedua ucapan itu adalah benar. Satu-satunya titik perbedaan di antara keduanya ialah, bahwa sewaktu yang satu di dalam Tongkat Gembala jilid 2 itu dibuat, Tongkat belum memiliki terang tambahan yang kemudian mengilhami yang satunya yang terdapat di dalam Symbolic Code itu, dan yang menunjukkan bahwa baik mereka yang 144.000 itu maupun rombongan besar orang banyak itu adalah sama-sama tergolong umat yang sisa : yang pertama karena mereka itu luput dari pembantaian Tuhan terhadap orang-orang yang tidak setia di dalam sidang (Yesaya 66 : 19), dan yang kedua karena mereka baru dipanggil keluar dari Babilon setelah yang pertama itu pergi ke tanah Israel (Yesaya 66 : 20), juga karena masih hidup setelah orang-orang jahat, dari antara siapa mereka itu dipanggil telah binasa. 

APAKAH MALAM MERUPAKAN AKHIR ATAUKAH PERMULAAN DARIPADA HARI? 

Pertanyaan No. 34 :

Buku Traktat No. 10, “The Sign of Jonah”, edisi tahun 1942, mengatakan bahwa malam adalah akhir, bukan permulaan, dari hari yang kedua puluh empat jam. Namun Kejadian 1 : 5 mengatakan malam dan pagi merupakan hari yang pertama. Bukankah ucapan ini telah menempatkan malam pada bagian yang pertama dari hari?

Jawab :

Adalah disetujui bahwa sesuai dengan Kejadian 1 : 5 malam benar-benar adalah bagian yang pertama dari hari. Sebagai contoh, Jumat malam adalah

bagian yang pertama dari Hari Sabat, dan Sabtu malam adalah bagian pertama dari hari Minggu. Kenyataan Alkitab ini sudah lama dikenal oleh umat Allah. Namun dari semula dalam sejarah Alkitab sampai kepada hari ini, sebutan “pada petang” (bahasa Inggris : “at even”) telah digunakan untuk menunjukkan bagian yang terakhir dari hari -- yaitu sore (Keluaran 12 : 6; 16 : 13; Markus 14 : 12, 13, 15, 71; Yohanes 20 : 19). Dengan demikian sebutan ini, walaupun biasa digunakan, sama sekali tidak dapat merubah kenyataan bahwa malam yang menyusul periode “pada petang” dan mendahului hari itu, akan dihitung sebagai bagian pertama dari siklus dua puluh empat jam itu, karena “malam dan pagi adalah hari yang keenam.” Kejadian 1 : 31. Dengan penjelasan inilah, maka ucapan pada halaman 17 dari buku Traktat No. 10 itu, supaya dimengerti. 

BENARKAH INI?

Pertanyaan No. 35 :

Kami ingin mengetahui sekiranya itu benar sesuai yang kami dengar, bahwa kebijaksanaan Pusat Mt. Carmel adalah menangani dengan sangat rahasia semua surat-menyurat dan permintaan buku-buku.

Jawab :

Adalah salah satu dari tata etika kantor pada Pusat Mt. Carmel yang tak dapat diganggu gugat ialah bahwa tidak satupun surat-menyurat atau permintaan-permintaan akan buku-buku akan dikemukakan kepada umum, terkecuali oleh kesempatan atau dengan persetujuan penulisnya. 

DALAM METERAI YANG MANA? 

Pertanyaan No. 36 :

Bagaimanakah mungkin pemeteraian mereka yang 144.000 itu (buah-buah pertama) dan rombongan besar orang banyak itu

(buah-buah kedua), keduanya terjadi di bawah meterai yang keenam, sebagaimana yang ditunjuk oleh Wahyu pasal 7 dari kedudukannya di antara peristiwa-peristiwa akhir dari meterai yang keenam dan pembukaan meterai yang ketujuh?

Jawab :

Wahyu pasal 7, yang datang di antara peristiwa-peristiwa terakhir dari meterai yang keenam dan pembukaan meterai yang ketujuh, secara biasa terlihat menempatkan pemeteraian mereka yang 144.000 itu maupun pemeteraian rombongan besar orang banyak itu di antara peristiwa-peristiwa dari meterai yang keenam. Namun penyelidikan yang seksama terhadap ketujuh meterai-meterai itu akan membuktikan, bahwa pasal enam berkaitan langsung dengan pasal delapan sebagai kelanjutannya. Oleh sebab itu pasal tujuh itu merupakan sisipan, dan tidak membatasi dirinya apakah ikut pada meterai yang keenam atau kepada meterai yang ketujuh.

Dengan perkataan lain, meskipun pasal tujuh itu menyusul peristiwa-peristiwa meterai yang keenam, dan mendahului peristiwa-peristiwa meterai yang ketujuh, namun pasal itu tidak lagi perlu diambil dalam urutan kronologis seperti halnya pasal 12 sampai pasal 22 yang diambil sebagai bagian dari meterai yang ketujuh hanya karena pasal-pasal itu telah tercatat segera menyusul peristiwa-peristiwanya. Waktu dari peristiwa-peristiwa pasal tujuh itu harus ditentukan secara berkaitan, dengan cara yang sama seperti yang diharuskan terhadap peristiwa-peristiwa pasal dua belas sampai pasal dua puluh dua. 

SIAPAKAH YANG MELARIKAN DIRI KE GUNUNG-GUNUNG? 

Pertanyaan No. 37 :

Jika umat Allah berada di dalam Kerajaan itu selama masa Seruan Keras, maka bagaimanakah mungkin mereka dimasukkan ke dalam penjara

atau dihalau ke gunung-gunung selama masa itu, seperti yang ditegaskan oleh Roh Nubuat akan hal mereka itu (“The Great Controversy”, p. 626)?

Jawab :

Apabila dapat dimengerti bahwa mereka yang 144.000 itu hanyalah buah-buah pertama, pelopor-pelopor atau pengawal terdepan dari suatu rombongan besar orang-orang dari buah-buah kedua, maka kesulitan yang dipertanyakan itu akan segera terpecahkan. Buah-buah pertama itu berdiri bersama-sama dengan Anak Domba itu, aman di atas Gunung Sion (di dalam Kerajaan itu). Dengan demikian orang-orang yang akan mencarikan perlindungan di gunung-gunung, dan orang-orang yang akan dimasukkan ke dalam penjara itu, hanya dapat terjadi di antara buah-buah kedua -- yaitu mereka yang kelak menyambut pekabaran itu dalam masa Seruan Keras, namun mereka pada waktu itu belum berhasil mencapai Kerajaan itu. (Bacalah buku Traktat kami No. 12, Dunia Kemarin, Hari ini, Esok) 

KAPANKAH IA KELAK MENINGGALKAN TEMPAT KESUCIAN ITU? 

Pertanyaan No. 38 :

Tongkat Gembala tampaknya mengatakan bahwa Yesus akan meninggalkan tempat Yang Maha Suci itu pada pelaksanaan eksekusi pembantaian Yehezkiel pasal 9, sedangkan buku Early Writings, p. 36 tampaknya mengatakan, bahwa ia akan meninggalkan tempat itu sesudah pekerjaan-Nya di dalam tempat kesucian itu selesai, dan kemudian akan datang tujuh bela yang terakhir itu. Bagaimanakah dapat Saudara mencocokkan kedua tulisan itu?

Jawab :

Walaupun penulis buku Early Writings itu mengatakan, bahwa Kristus tidak akan meninggalkan tempat kesucian itu sebelum “pekerjaan-Nya selesai”, namun di tempat lain

ia menulis : “Mereka akan hidup dari kekeliruan-kekeliruan dan kesalahan-kesalahan orang-orang lain, ‘sampai kelak’, demikian kata malaikat, ‘Tuhan Yesus akan bangkit dari tugas pembelaan-Nya di dalam tempat kesucian surga, dan akan memakaikan diri-Nya dengan pakaian-pakaian pembalasan, lalu mengejutkan mereka pada pesta perayaan mereka yang tidak suci itu, maka mereka akan menemukan dirinya tidak siap bagi pesta perkawinan Anak Domba itu’.” -- Testimonies, vol. 5, p. 690.

Melihat kepada pertanyaan itu di bawah terang dari kedua ucapan (Nyonya White) di atas, maka kita saksikan, bahwa Kristus akan meninggalkan tempat kesucian itu pada sesuatu saat pada “pembukaan gulungan suratan itu.” Setelah mendatangi sidang, maka Ia mendapatkan dia bukan dalam keadaan tidak bercacat-cela dan siap untuk menyambut-Nya, melainkan dalam dosa yang sangat dalam, namun sambil merasa puas diri mereka terus hidup dari kekeliruan-kekeliruan, kesalahan-kesalahan, dan kepalsuan-kepalsuan orang-orang lain.

Kini persoalan di depan kita bukanlah bagaimana mencocokkan Tongkat Gembala dengan Early Writings itu, melainkan mencocokkan Early Writings dengan Testimonies. Sekaliannya ini akan dengan sendirinya cocok apabila dimengerti, bahwa Kristus akan meninggalkan tempat kesucian lebih dari satu kali : sekali sesudah “pekerjaan penghabisan bagi sidang” (Testimonies, vol. 3, p. 266), dan kemudian sesudah pekerjaan penghabisan bagi dunia. 

SIAPAKAH YANG TELAH BERJALAN KELUAR DARI TONGGAK-TONGGAK PENUNJUK JALAN YANG TUA ITU? 

Pertanyaan No. 39 :

Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh selalu mengajarkan bahwa angka bilangan 666 itu berlaku pada binatang yang menyerupai macan tutul (Wahyu 13 : 1 – 10). Tetapi

“Tongkat Gembala” mengajarkan, bahwa ia itu berlaku pada binatang bertanduk dua (Wahyu 13 : 11). Bukankah Roh Nubuat menjelaskan kepada kita, bahwa “tidak ada garis kebenaran apa pun yang telah membuat umat Masehi Advent Hari Ketujuh sebagaimana adanya mereka sekarang, akan dilemahkan”? -- Testimonies, vol. 6, p. 17. Dan bukankah ia itu selanjutnya mengamarkan : “Celaka bagi orang yang akan mengalihkan sesuatu balok atau menggoyangkan sesuatu paku dari “pekabaran-pekabaran itu”? -- Early Writings, p. 258.

Jawab :

Memang Roh Nubuat mengajarkan begitu, maka untuk mencocokan seratus persen dengan masalah ini maupun terhadap semua yang lainnya, maka Tongkat itu secara saksama sedang mengupas dari Kebenaran itu lapisan-lapisan kotoran yang telah digunakan orang menutupinya, dan demikianlah sedang mengembalikannya kepada keasliannya yang semula. Demikianlah telah dilakukan terhadap kebenaran yang berkenan dengan angka bilangan 666 itu.

Walaupun angka bilangan ini sudah lama diakui berlaku pada binatang yang menyerupai macan tutul itu, namun aplikasi itu sesungguhnya bukan berasal dari para pendiri madzab organisasi Masehi Advent Hari Ketujuh, itupun belum pernah diajarkan oleh mereka dalam hari-hari permulaan Pergerakkan mereka di masa lalu. Melainkan sebaiknya, ia itu telah dimasukkan dari luar, dan telah dianyamkan ke dalam jaringan ajaran doktrin Masehi Advent Hari Ketujuh meskipun pada kenyataannya Roh Nubuat menyatakan melalui para pendiri Madzab Organisasi bahwa angka bilangan itu berlaku pada binatang yang bertanduk dua :

Pendeta G. W. Holt yang menulis pada hari-hari permulaan pekabaran itu mengatakan : “Binatang itu yang memiliki tujuh kepala dan sepuluh tanduk ialah binatang yang dimaksudkan : maka menurut pendapat saya patung itu, ialah binatang yang memiliki ‘dua tanduk yang bagaikan seekor anak domba’,

tetapi ‘berbicara seperti seekor naga.’ Angka bilangannya adalah 666.” -- The Present Truth, vol. 1, No. 8, March, 1850.

Pendeta White, yang menulis kira-kira pada waktu yang bersamaan, mengatakan : “Kuasa yang terakhir yang menginjak-injak umat kesucian adalah dikemukakan di dalam Wahyu 13 : 11 – 18. Angka bilangannya adalah 666.” -- A Word to the Little Flock, p. 9.

Dan akhirnya, Sister White dalam mengesahkan pendirian ini menyatakan : “Saya melihat semua orang yang “tidak mau menerima tanda Binatang itu, dan tanda Patungnya, pada dahi mereka atau di dalam tangan mereka’, tidak dapat berjual beli. Saya melihat angka bilangan (666) dari Patung Binatang itu telah terbentuk; dan bahwa itulah binatang yang menggantikan Sabat, dan Patung Binatang itu telah menyusul dari belakang, dan memeliharakan Sabat kepausan itu, dan bukan Sabat kepunyaan Allah.” -- sda, p. 19. (Catatan : Angka bilangan 666 itu telah disisipkan oleh penerbit buku A Word to the Little Flock).

Di sini kita peroleh dari tiga orang saksi bukti yang mutlak bahwa ajaran mengenai angka bilangan 666 kepunyaan Madzab Organisasi yang ada sekarang sama sekali tidak bersumber dan tidak dibenarkan oleh bapa-bapa pendirinya; bahwa, pada kenyataannya, ia itu bukan merupakan salah satu dari garis-garis kebenaran, bahkan juga merupakan salah satu dari balok-balok atau paku-paku dari pekabaran yang dikaruniakan Allah kepada umat ini. Lagi pula, Alkitab menempatkan angka bilangan itu pada binatang yang bertanduk dua. Perhatikanlah bahwa semua ciri-ciri yang berkenaan dengan binatang yang bertanduk sepuluh itu digambarkan di dalam ayat 1 – 10, dan bahwa semua ciri yang berkenaan

dengan binatang yang bertanduk dua itu digambarkan di dalam ayat 11 – 18. Karena angka bilangan itu mengakhiri penggambaran binatang yang bertanduk dua itu, maka secara rasional ia itu tidak mungkin diaplikasikan kepada binatang yang bertanduk sepuluh itu.

Justru salah satu dari sekian banyak penyelewengan-penyelewengan dari Kebenaran, yang telah membuat Sister White jauh sebelumnya (1882) menyerukan : “Sidang telah berbalik dari mengikuti Kristus Pemimpinnya, dan sedang terus-menerus kembali menuju Mesir. Namun ada sebagian kecil yang terjaga atau tercengang karena mereka kekurangan kuasa rohani. Keragu-raguan dan bahkan ketidak-percayaan kepada kesaksian-kesaksian Roh Allah, sedang meracuni gereja-gereja kita di mana-mana. Setan menghendakinya demikian. Pendeta-pendeta yang mengkhotbahkan diri sendiri sebagai pengganti Kristus menghendakinya demikian. Tulisan kesaksian-kesaksian itu tidak dibaca dan tidak disukai. Allah telah berbicara kepadamu. Terang telah bersinar-sinar menerangi dari firman-Nya dan dari tulisan kesaksian-kesaksian, tetapi keduanya telah diremehkan dan dilalaikan. Akibatnya adalah nyata dalam kehilangan kesucian dan penyerahan dan iman yang sungguh di antara kita.” -- Testimonies, vol. 5, p. 217.

“Kita telah berjalan keluar dari tonggak-tonggak penunjuk jalan yang tua itu. Marilah kita kembali. Jika Tuhan itu Allah, maka berbaktilah kepada-Nya; jika Baal itu Allah, berbaktilah kepadanya. Pada pihak manakah saudara ingin berada?” -- Testimonies, vol. 5, p. 137. 

PANDANGAN YANG MULA-MULA ATAUKAH YANG KEMUDIAN? 

Pertanyaan No. 40 :

Early Writings, p. 75 mengatakan : “Apabila persatuan ada, sebelum tahun 1844, maka hampir semua orang telah bersatu pada

pandangan yang tepat mengenai ‘yang sehari-hari’ itu; tetapi dalam kekacauan semenjak tahun 1844 itu, maka pandangan-pandangan lain telah dipeluk.” Jadi, mengapakah buku Traktat No. 3, “Pehukuman dan Penuaian”, h. 26, masih mengemukakan suatu pandangan lain yang bahkan sama sekali tidak dikenal di waktu itu? Bukankah “korban yang sehari-hari” dari Daniel 8 : 12 itu berarti “medzbah korban kepunyaan Yehovah?

Jawab :

Benar, Early Writings memang mengatakan bahwa menjelang tahun 1844 hampir semua orang telah bersatu pada pandangan yang benar, namun tidak dikatakan pandangan apa yang dimaksudkan itu, dan tampaknya tidak seorangpun kini mengetahui. Hal itu mungkin sekali bahwa “yang sehari-hari” itu adalah “bukan sebuah pertanyaan ujian”, atau bahwa ia itu sama sekali tidak dipahami, dan bahwa semua orang dengan sendirinya sepakat bahwa dalam kondisi-kondisi yang ada di waktu itu, diam adalah yang terbaik; dengan demikian, itu sudah akan merupakan “pandangan yang tepat” untuk memahami persoalah itu. Sesungguhnya, ada terdapat banyak pandangan-pandangan yang mungkin pada mana mereka telah dapat bersatu, namun yang mana kiranya tidak perlu bergantung pada interpretasi yang tegas mengenai perkataan “yang sehari-hari” itu sia-sia. Tetapi, satu hal yang pasti : sekiranya mereka telah memiliki kebenaran mengenai “yang sehari-hari” itu, maka penulis buku Early Writings itu sudah akan menerbitkannya, dan sudah akan mengajarkannya; sehingga kita semua di waktu ini sudah akan mengerti apa artinya.

Bahwa pandangan itu bukan sedemikian seperti yang membuat “yang sehari-hari” itu menjadi “medzbah korban kepunyaan Yehovah”, sudah lebih dulu dikuatkan oleh kenyataan bahwa Early Writings, p. 74, mengatakan bahwa “perkataan ‘korban’ itu telah disisipkan oleh akal manusia, dan bukan merupakan sebagian dari kalimat itu.” Dan karena bukan merupakan pasangan dari perkataan

“korban”, maka perkataan “yang sehari-hari” itu dengan sendirinya tidak mungkin dapat dikaitkan dengan sesuatu medzbah apapun juga yang sedemikian ini.

Interpretasi mengenai “yang sehari-hari” itu di dalam buku Traktat No. 3 adalah sesuai dengan Alkitab dan juga dengan sejarah, dan karena itulah telah merupakan “ajaran yang sehat.” 

MENGAPAKAH TIGA GELAR BAGI KERAJAAN YANG PERNAH TERBAGI-BAGI? 

Pertanyaan No. 41 :

Maukah saudara  menjelaskan perbedaan dalam sebutan-sebutan : Yehuda, Efraim, dan Israel?

Jawab :

Dalam penunjukkannya yang aslinya dan sempurna “Israel” itu dimaksudkan kepada bani Israel semenjak dari zaman Yakub moyang mereka, sampai kepada akhir pemerintahan Raja Salomo.

Namun, dapatlah diingat, bahwa setelah kematian Salomo, kerajaan itu telah terpecah menjadi dua (1 Raja-Raja 11 : 11, 12; 12 : 19, 20, 21). Bagian yang satu, terdiri dari satu suku bangsa, yang mendiami bagian sebelah selatan Tanah Perjanjian, sedangkan bagian yang satunya, yang terdiri dari sepuluh suku bangsa, mendiami bagian sebelah utara. Yang pertama itu mengambil gelar “Yehuda” karena sebab suku Yehuda memerintah atasnya; yang kedua mengambil gelar “Israel” karena ia itu terbentuk dari mayoritas suku-suku bangsa itu. Oleh karena itu, bagi kerajaan sepuluh suku ini, sebutan “Israel” itu berlaku apabila digunakan dalam pengertian yang kedua, yaitu tanpa ikut serta dua suku, Yehuda dan Benjamin.

Sebutan “Efraim”, dalam hal gabungan, juga menunjukkan kesepuluh suku itu atau kerajaan di sebelah utara itu (Yesaya 7 : 1, 2) sebab suku Efraim memerintah atasnya. Dengan demikian sebutan-sebutan “Israel” (apabila digunakan tersendiri mengenai sepuluh suku itu) dan “Efraim” adalah berlaku bagi bagian yang di sebelah utara itu, dan sebutan “Yehuda” berlaku bagi bagian di sebelah selatan, untuk umat Allah di zaman dahulu. 

APAKAH KERAJAAN ITU AKAN DIDIRIKAN SEBELUM SERIBU TAHUN MILLENIUM ITU? 

Pertanyaan No. 42 :

Buku “The Great Controversy”, pp. 322, 323, mengajarkan, bahwa “sesudah kedatangan Kristus secara pribadi baru dapatlah umat-Nya menerima kerajaan itu ..... Tetapi apabila Yesus datang, Ia akan menganugerahkan keadaan tidak mati kepada umat-Nya; dan kemudian Ia memanggil mereka untuk mewarisi kerajaan itu yang sampai kepada saat itu mereka baru hanya menjadi pewaris-pewaris saja.” Maukah Saudara membantu mencocokkan Alkitab dan “Tongkat Gembala” dengan tulisan-tulisan ini dan bagian-bagian lainnya di dalam tulisan-tulisan Nyonya White yang berkenan dengan pendirian Kerajaan itu?

Jawab :

Walaupun doktrin mengenai Kerajaan itu mungkin belum terlihat selengkapnya di bawah kacamata tulisan-tulisan Nyonya White seperti halnya di bawah kacamata dari Tongkat Gembala, namun dengan demikian ini orang tidak akan berani secara picik menolaknya, melainkan harus lebih giat membanding-bandingkan kedua pandangan doktrin itu di bawah kacamata yang lebih unggul dari Alkitab. Ia harus selalu ingat bahwa kita tidak diberi kekuasaan untuk mencocokkan Alkitab dengan sesuatu tulisan apapun juga yang lain, terkecuali ditugaskan untuk mengukur segala-galanya yang lain itu dengan menggunakan Alkitab.

Pertama sekali, untuk berbuat adil terhadap Alkitab, terhadap tulisan-tulisan Nyonya White, dan terhadap Tongkat Gembala, maka pendirian masing-masing terhadap masalah itu harus dilihat di dalam terang dari Alkitab, dan secara tak dapat dibantah mengajarkan bahwa Tanah Perjanjian itu akan kembali didiami oleh umat Tuhan sendiri yang telah bertobat. (Baca Yesaya pasal 2; Mikha pasal 4; Yehezkiel pasal 36 dan 37; Yeremia pasal 31 – 33.)

Mengenai ucapan Nyonya White di dalam buku The Great Controversy, ia di sana berbicara mengenai Kerajaan itu yang sudah lengkap, sesudah orang-orang mati dibangkitkan, pada waktu umat kesucian menerimanya (Kerajaan itu). Inilah satu-satunya tahap dari masalah itu -- yaitu tahap yang sempurna -- yang diberitahukan oleh Yang Maha Kuasa sewaktu Nyonya White menulis. Kini setelah gulungan suratan Kebenaran Nubuatan lebih banyak terbuka semenjak dari masa hidupnya, maka Kerajaan itu dalam kenyataan terlihat memiliki suatu tahap menengah, tahap Davidian, dan juga tahap terakhir yang selama ini diketahui.

Di samping nubuatan-nubuatan yang bertalian dengan tahap nyata -- tahap Davidian -- Kerajaan, maka Alkitab masih berisikan banyak lagi masalah-masalah nubuatan yang lain yang juga belum dibicarakan di dalam tulisan-tulisan Nyonya White, yang dibiarkan begitu saja. Maka jika Tuhan tidak mengungkapkan sekaliannya itu sekarang kepada sidang untuk memenuhi kebutuhannya di waktu ini, maka sidang tidak akan siap menghadapi kegenapan peristiwa nubuatan-nubuatan itu, ia akan binasa dalam kondisi Laodikeanya yang tak terselesaikan. Oleh sebab itu nubuatan-nubuatan ini harus diungkapkan untuk menguatkan sidang dalam peperangannya yang terakhir. Jika tidak, maka untuk apakah semuanya itu ditulis?

Tidak ada satupun nabi Allah yang pernah berhasil menempa sebuah rantai peristiwa-peristiwa nubuatan yang lengkap, dengan tidak satupun mata rantainya yang kurang. Ia itu membutuhkan banyak penulis yang diilhami untuk melengkapi rantai nubutan yang panjang itu. Oleh sebab itu, maka pikiran, yang mengambil pendirian bahwa Nyonya White telah  melaksanakan apa yang tidak seorang nabi pun di dalam Alkitab ataupun di luarnya pernah berhasil melaksanakan, ialah pemikiran yang sama sekali mengabaikan prosedur Alkitab yang nyata dan juga mengabaikan Kebenaran yang sudah terungkap.

Ia sendiri mengatakan bahwa “tidak seorang pun, betapapun dihormati oleh Surga, pernah berhasil mencapai pengertian yang penuh mengenai rancana penebusan yang besar itu, ataupun mengerti dengan sempurna rencana ilahi dalam pekerjaan bagi masanya sendiri. Manusia tidak dapat sepenuhnya mengerti akan apa yang hendak Allah selesaikan dengan pekerjaan yang diberikan-Nya kepada mereka untuk dilaksanakan; mereka tidak dapat mengerti pekabaran yang mereka ucapkan dalam nama-Nya dalam semua arahnya.” -- The Great Controversy, p. 343.

Sebagian orang, yang bagaikan jenis burung nuri, mengucapkan pernyataan-pernyataan bagaikan burung nuri, tidak pernah berhenti untuk memikirkan apa yang mereka katakan, sehingga tampaknya tidak pernah menghiraukan apakah ucapan-ucapan mereka itu tegak atau jatuh. Orang-orang yang sedemikian inilah yang mengatakan bahwa tidak ada lagi peristiwa atau peristiwa lainnya yang dapat datang sebelum, di antara, ataupun sesudah sekaliannya itu yang dikemukakan di dalam tulisan-tulisan Nyonya White.

Sekiranya seseorang tetap berpegang bahwa kelanjutan peristiwa-peristiwa yang tercatat di dalam buku Early Writings, pp. 15 – 17, itu harus dipegang secara mutlak, dan bahwa tidak ada lagi peristiwa atau peristiwa-peristiwa yang lain dapat disisipi di antaranya, maka ia akan memasukkan dirinya ke dalam air

yang dalam, sebab halaman-halaman tersebut bahkan sama sekali tidak mengisyaratkan adanya tujuh bela yang terakhir itu atau seribu tahun millenium itu.

Kembali : Orang-orang Yahudi menolak Tuhan karena belum semua yang diajarkan dan ditulis oleh nabi-nabi ditemukan di dalam ajaran-ajaran Musa. Mereka mengatakan : “Kami tahu bahwa Allah berbicara kepada Musa : mengenai orang ini kami tidak mengerti dari mana asal-Nya.” Yohanes 9 : 29.

Karena tidak ada satupun tulisan-tulisan nabi pernah meramalkan seluruh Kebenaran yang diperlukan oleh sidang untuk menghantarkannya dengan jelas langsung sampai ke Kerajaan itu, dan karena nabi-nabi lainnya menyusul, ada yang memperluas atau menambahkan kepada nubuatan-nubuatan yang sudah ada tercatat di dalam Alkitab, maka siapapun juga yang menolak kabar-kabar baik dari hal Kerajaan itu oleh alasan, bahwa tahap ini mengenai Kerajaan itu tidak ditemukan di dalam tulisan-tulisan Nyonya White, ia sedang mengambil pendirian yang sama bahayanya yang tak dapat dimaafkan seperti yang diambil oleh orang-orang Yahudi dahulu. Itulah yang dikatakan : “Aku kaya, dan telah  bertambah kekayaanku, sehingga tidak memerlukan apa-apa lagi.” Wahyu 3 : 17. Sikap inilah yang memaksa Allah untuk meludahkan dari dalam mulut-Nya orang-orang Laodikea yang merasa puas yang suam itu.

Pekabaran jam kesebelas telah sampai waktunya dan telah direncanakan untuk mengungkapkan Kerajaan Davidian itu yang bangkit kembali sebelum kedatangan Kristus di dalam awan-awan. Tetapi, karena tidak memperoleh terang langsung, terhadap tahapan ini mengenai Kerajaan itu, maka The Great Controversy sendiri tidak lagi dapat mengucapkan dalam sebutan-sebutan yang pasti seperti yang digunakan oleh pekabaran di waktu ini, sama seperti halnya William Miller sendiri tidak lagi dapat mengucapkan

untuk masalah pembersihan tempat kesucian, dengan sebutan-sebutan yang sedemikian ini seperti yang kita baca di dalam buku The Great Controversy.

Adalah perlu, bahwa setiap pernyataan yang berkaitan dengan sesuatu pokok masalah yang masih belum terlihat di dalam Lembaran Gulungan Suratan yang terbuka, dikemukakan hanya dengan sebutan-sebutan kebenaran yang terbatas sesuai yang terlihat pada saat itu atau yang umumnya dimengerti. Maka jika pengertian yang biasa mengenai pernyataan-pernyataan yang terbatas ini keliru, penulisnya tidak dapat dituntut bertanggung jawab untuk apa yang telah  ia pinjam dari orang-orang lain, atau yang terlihat masih samar-samar dan oleh karenanya telah  dikemukakannya secara tidak pasti.

Sebagai contoh, di zaman Kristus “ajaran mengenai suatu keadaan eksistensi yang sadar di antara kematian dan kebangkitan telah dipegang oleh banyak orang di antara orang-orang yang telah mendengarkan segala perkataan Kristus. Juruselamat mengerti akan pikiran mereka, maka Ia telah menyusun perumpamaan-Nya sedemikian rupa untuk menanamkan kebenaran-kebenaran penting melalui pikiran-pikiran yang sudah terbentuk sebelumnya. Ia mengangkat tinggi-tinggi ke hadapan para pendengar-Nya sebuah cermin dimana mereka dapat melihat dirinya sendiri dalam hubungan mereka yang sebenarnya dengan Allah. Ia menggunakan pikiran yang umum di waktu itu untuk membawakan pendapat yang Ia ingin kemukakan kepada semua .....” -- Christ’s Object Lessons, p. 263.

Keadaan ini adalah biasa dan umum bagi setiap penulis yang menangani Kebenaran Sekarang, yang dimulai dengan penulis-penulis Wasiat Lama, dan terus-menerus semenjak itu, dan akan terus sedemikian ini sampai kelak setiap bagian komponen dari Kebenaran diberitahukan. Ini dibuktikan

dalam pekerjaan Yohanes Pembaptis. Ia harus memberitakan, bukan pendirian Kerajaan itu, melainkan kedatangan Raja itu. Namun dalam mengumumkan yang satu, ia secara terbatas harus juga menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkenaan dengan yang lainnya. Sewaktu berbicara tentang Raja yang akan datang, ia menyatakannya dalam sebutan-sebutan Kebenaran yang sudah diungkapkan. Tetapi sewaktu menyinggung secara tidak langsung kepada kedatangan Kerajaan itu, pada mana belum ada sama sekali terang yang khusus yang menerangi masalah itu di zamannya, maka ia terpaksa perlu menyatakannya dalam sebutan-sebutan doktrin-doktrin sesuai yang umumnya dipahami di waktu itu.

Meskipun demikian, setelah lembaran gulungan suratan terbuka lebih jauh mengungkapkan bahwa Kerajaan itu belum akan didirikan pada waktu itu, maka para pencari Kebenaran yang jujur, tidak mempersalahkan Yohanes maupun Kristus, melainkan dengan sukacita mereka terus mengikuti dengan seksama terbukanya lembaran gulungan suratan itu, lalu maju terus bersorak-sorai bersama-sama dengan Kebenaran. Sungguhpun demikian, tidaklah demikian halnya dengan mayoritas orang-orang yahudi yang banyak itu. Pikiran mereka yang sombong yang telah melarang mereka untuk meninggalkan kekeliruan-kekeliruannya dan memeluk Kebenaran yang terus berkembang, telah menjerumuskan mereka makin dalam ke dalam kekeliruan.

Roh Nubuat mengatakan : “Demikianlah halnya yang diperbuat orang-orang Yahudi di zaman Kristus, maka kita diamarkan supaya tidak berbuat seperti yang mereka lakukan, lalu dibawa untuk memilih kegelapan dan bukan terang, sebab terdapat di dalam mereka suatu hati tidak percaya yang jahat yang menyeleweng dari Allah yang hidup.” -- Testimonies on Sabbath School Work, pp. 66; Counsels on Sabbath School Work, p. 30.

Demikian juga halnya The Great Controversy dan Early Writings membuat masalah Kerajaan itu

hanya sejelas bagian yang telah terbuka dari lembaran gulungan suratan yang telah  mengijinkan penulisnya untuk memandangnya, dalam hanya satu dari tahapan-tahapannya, pada waktu ia menulis kedua buku itu.

Jika buku The Great Controversy mungkin tidak menunjukkan bahwa pendirian Kerajaan itu dan pewarisnya adalah dua peristiwa yang berbeda, maka di tempat lain Roh Nubuat menunjukkannya : Sementara murid-murid itu, katanya, “tidak wajib menunggui kedatangan Kerajaan itu di zamannya, maka pada kenyataannya Yesus mengajak mereka berdoa memohonkannya, adalah bukti bahwa dalam waktu pilihan Allah sendiri kerajaan itu pasti akan datang.

“Kerajaan kemurahan Allah itu kini sedang didirikan, sementara hari demi hari hati-hati yang telah penuh dengan dosa dan pendurhakaan menyerahkan diri kepada kedaulatan kasih-Nya. Tetapi pendirian yang penuh kerajaan kemuliaan-Nya itu tidak akan terjadi sebelum kedatangan Kristus yang kedua kali ke dunia ini. ‘Kerajaan dan pemerintahan, dan kebesaran kerajaan itu di bawah seluruh langit’, akan diberikan kepada ‘umat kesucian dari Yang Maha Tinggi’.” -- Mount of Blessings, p. 159.

Setiap orang Kristen hendaknya ingat bahwa karena Kebenaran itu senantiasa berkembang, maka Kebenaran itu tidak akan ditemukan di waktu ini di mana Ia itu sudah ada kemarin, dan bahwa karena sebab itulah para pengikut Kristus harus terus maju bersama-sama dengan-Nya. Mereka tidak akan mengikuti teladan-teladan orang-orang Yahudi dan orang-orang Romawi.

Sewaktu Musa menulis bagian pertama Alkitab itu, ia belum dikaruniakan semua terang yang

direncanakan Allah untuk diungkapkan kepada umat-Nya selama segala zaman. Dengan makin mendekatnya setiap jam bagi Kebenaran untuk berkembang, maka telah datang pertama-tama seorang nabi, kemudian seorang lagi yang lain, dalam suatu urutan yang panjang yang berakhir dengan Yohanes Pembaptis. Kemudian datang Kristus, para rasul, para reformator, William Miller, dan Nyonya White, masing-masing orang secara bergiliran mengajarkan kebenaran-kebenaran yang tidak mungkin dapat dikeluarkan seluruhnya oleh tulisan-tulisan dari setiap orang yang mendahuluinya. Untuk menemukan semua Kebenaran yang terungkap secara terus meningkat sedemikian ini, maka tulisan-tulisan dari semua mereka itu harus digabungkan.

Misalnya, dengan mengajukan undang-undang Paskah, dan dalam memerintahkan pelaksanaannya, Musa menulis sebagai berikut : “Maka hendaklah diambil olehmu seekor anak domba yang tiada bercacat-cela, yaitu jantan yang setahun umurnya : maka daripada segala domba atau dari pada segala kambing : hendaklah kamu ambil akan dia. Maka hendaklah kamu taruh akan dia sampai kepada hari yang keempat belas dari bulan yang sama, maka hendaklah seluruh perhimpunan sidang Israel membunuhnya di malam hari.” Keluaran 12 : 5, 6.

Alasan yang diberikan Musa bagi pelaksanaan Paskah itu adalah bahwa ia itu untuk memperingati keluarnya Israel dari Mesir (Ulangan 16 : 1 – 3). Namun, Yohanes Pembaptis, memberikan maknanya kepada kedatangan Kristus, yaitu ‘Anak Domba Allah” (Yohanes 1 : 29), sedangkan para rasul memberikannya bagi penyaliban-Nya : “Karena Kristuslah paskah kita”, demikianlah kata Paulus, “yang telah  dikorbankan bagi kita.” 1 Korintus 5 : 7. Maka makna dari pelaksanaan Paskah itu, kemudian dikaitkannya pada upacara perjamuan Tuhan (1 Korintus 11 : 26).

Sama halnya, Musa tidak menjelaskan bahwa keimamatan Lewi di dalam tempat kesucian bumi itu (Keluaran 40 : 15) hanya sesuatu yang sementara sehingga dengan demikian merupakan suatu keimamatan yang temporer, yaitu sesuatu yang melambangkan keimamatan Kristus di dalam tempat kesucian surga, seperti yang dijelaskan oleh rasul-rasul (Ibrani 6 : 19, 20; 9 : 12, 26).

Karena gagal berkembang maju bersama-sama dengan Kebenaran yang terus berkembang, maka setiap generasi orang-orang Yahudi selalu berselisih paham dengan masing-masing nabi mereka, yang mencapai puncaknya dengan para rasul dan sampai dengan Anak Allah sendiri. Orang-orang Yahudi membenarkan tindakan-tindakan mereka yang jahat itu atas alasan bahwa semua perkataan para nabi mereka, Kristus, maupun para rasul, sama sekali tidak didasarkan pada tulisan-tulisan Musa. Oleh sebab itu sambil membangga-banggakan tulisan-tulisan Musa, mereka menyangkal dan membunuh nabi-nabi yang telah datang kemudian dari Musa -- suatu amaran yang keras bagi kita, supaya jangan kita berbuat seperti mereka, dan mengalami nasib yang sama dengan mereka!

Oleh sebab itu persoalan yang utama sesungguhnya bukan terletak pada apakah tulisan-tulisan Nyonya White atau tulisan-tulisan Musa atau tulisan-tulisan orang ini atau itu berisikan semua pekabaran bagi hari ini, melainkan hanya apakah sekaliannya itu ditemukan, dan ditunjang, di dalam Alkitab.

Tongkat Gembala dengan sendirinya tidak mengatakan bahwa pekabarannya itu ada terdapat di dalam keseluruhan tulisan-tulisan seseorang nabi tertentu, melainkan sebaliknya terdapat di dalam tulisan-tulisan semua nabi -- “di sini sedikit, dan di sana sedikit.” Yesaya 28 : 13.

Oleh sebab itu janganlah seorang pun secara curang menggunakan tulisan-tulisan Nyonya White seperti halnya orang orang Yahudi menggunakan

tulisan-tulisan Musa, melawan Kebenaran yang berkembang, yang membawa kehancuran kekal bagi dirinya sendiri. Dari setiap segi pendekatan, Alkitab menjelaskan masalah Kerajaan itu, sehingga tidak mungkin lagi bagi siapapun untuk keliru jika ia mengikuti dengan seksama apa yang dikatakan Firman dari hal itu.

Tongkat Gembala tidak mengajarkan apakah Yerusalem itu akan dibangun kembali, ataupun bahwa ia itu tidak akan dibangun kembali, sebagai ibu kota dari Kerajaan itu, melainkan hanya bahwa Kerajaan itu pada permulaannya akan diperdirikan di Tanah Perjanjian. Dan dalam mengukuhkan kebenaran ini Yehezkiel menubuatkan tentang : 

Suatu Pembagian Baru Tanah Itu.

Nabi itu menyampaikan sebuah pembagian tanah itu yang sama sekali berbeda daripada pembagian yang ada di zaman Yosua (Yosua pasal 17) : ia itu akan berada dalam bidang-bidang pembagian dari timur sampai ke barat; dan akan memperoleh bagian yang pertama di sebelah utara, dan Gad, bagian yang terakhir di sebelah selatan; di antara batas-batas keduanya ini terdapat bagian-bagian dari suku-suku bangsa yang sisanya; kota itu akan berada di tengah-tengah tanah itu (Yehezkiel pasal 48).

Kenyataan bahwa pembagian Tanah Perjanjian itu yang sedemikian itu belum pernah dibuat, menunjukkan bahwa peristiwa itu masih akan datang. Juga kenyataan bahwa tempat kesucian akan berada di sana, sedangkan tempat kesucian itu tidak akan ada di dalam bumi yang sudah diperbaharui (Wahyu 21 : 22), kembali membuktikan bahwa pendirian yang unik ini akan terjadi sebelum masa seribu tahun millenium itu.

Sebagai tambahan, dari kenyataan rangkap bahwa nama kota itu adalah “Tuhan ada di sana”, dan bahwa lokasinya, sesuai dengan

pembagian tanah itu dalam beberapa hal tak dapat tiada berbeda daripada pembagian dari Yerusalem kuno yang lalu, menunjukkan bahwa Yerusalem yang ada sekarang, kota yang dipandang layak itu, mungkin sekali tidak akan dibangun kembali sebagai ibukota dari Kerajaan yang akan datang itu. (Bacalah Traktat No. 12, Dunia Kemarin, Hari Ini, Esok, halaman 47 – 49).

Jika Alkitab memperjelas dirinya sendiri terhadap setiap pokok masalah, maka ia tentunya juga memperjelaskan masalah Kerajaan itu. Dan memang demikian, karena Kerajaan itu adalah pengharapan Kristen yang termulia, 

Sasaran Tetap Setan, Balok Penghalang Orang Banyak Yang Berulang Kali.

Bahwa pertikaian besar di antara Kristus dan Setan memperebutkan harapan yang mulia ini, Kerajaan itu, terlihat dari petunjuk-petunjuk Tuhan yang berulang kali diberikan dalam nubuatan-nubuatan, dalam contoh-contoh, dan dalam perumpamaan-perumpamaan; dari usaha Setan yang tetap untuk mengusir keluar semua manusia dari dalamnya; dan terakhir, dari manusia-manusia yang secara berulang kali dikalahkan dalam peperangan mereka untuk menjadi pewaris-pewarisnya.

Sambil bekerja dengan penuh tekad semenjak dari mulanya untuk menjerumuskan semua manusia ke dalam neraka, Setan merencanakan strateginya yang luas menyesatkan mereka dari hal Kerajaan itu. Ia telah berhasil dengan sebagian besar orang-orang Yahudi, sebab mereka menghendaki Kerajaan itu didirikan sebelum masanya yang telah ditentukan, atau tidak sama sekali. Dan ia juga sedang berhasil dengan banyak orang-orang Laodikea di waktu ini, sebab kini setelah masanya yang ditentukan itu benar-benar telah tiba, mereka

ingin memperolehnya kemudian, atau tidak sama sekali! Betapa ganjilnya! Sungguh bertentangan! Memang, sebagaimana sejarah terus berulang, begitupun kebodohan!

Alkitab mengatakan : ‘Dalam zaman raja-raja ini (raja-raja yang dilambangkan oleh sepuluh jari kaki dari patung besar itu) Allah di surga akan mendirikan sebuah kerajaan, yang tidak akan pernah dapat dibinasakan ..... kerajaan itu akan menghancurkan dan menghabiskan semua kerajaan ini.” Daniel 2 : 44.

Perhatikan bahwa “batu itu” (Kerajaan itu) tidak akan berkembang menjadi sebuah gunung sampai setelah ia menghantam patung itu, menunjukkan bahwa Kerajaan itu mulai dalam bentuk kecilnya dengan hanya buah-buah pertama, yaitu mereka yang segera tak lama lagi akan berdiri di Gunung Sion bersama-sama dengan Anak Domba itu, dan yang kemudian, sesudah mereka berhasil mengumpulkan buah-buah kedua orang-orang hidup itu, mereka akan menghantam segala bangsa; akhirnya datanglah dari kubur orang-orang yang diselamatkan dari segala zaman yang akan sepenuhnya membentuk “gunung yang besar” itu -- Kerajaan yang lengkap!

Melihat kepada nubuatan-nubuatan yang sangat jelas dan yang berulang kali tersusun secara sistematis ini, kiranya tidak ada lagi seorang pun sedemikian bodoh untuk mengatakan, seperti halnya orang-orang Yahudi dahulu memberi jawabannya kepada nubuatan-nubuatan Yehezkiel : “Khayal yang dilihatnya itu adalah berlaku bagi banyak hari yang akan datang, dan ia bernubuat dari hal zaman yang masih jauh di depan” (Yehezkiel 12 : 27), sehingga dengan demikian mendatangkan atas kepala mereka bencana yang sama mengerikan.

APAKAH YERUSALEM TUA ITU AKAN DIBANGUN KEMBALI? 

Pertanyaan No. 43 :

Bagaimanakah Saudara mencocokkan ajaran “Tongkat Gembala” bahwa Kerajaan Davidian itu akan kembali diperdirikan di Palestina, dengan buku “Early Writings”, pp. 75, 76 : “Yerusalem tua itu tidak pernah akan dibagun”?

Jawab :

Isi dari penegasan buku Early Writings itu mengungkapkan, bahwa kata-kata itu ditujukan kepada Pergerakan Zionist Yahudi, dan ia itu menunjukkan bahwa maksud yang telah  menjadi tekad Pergerakan itu untuk mendirikan kembali suatu Tanah Air nasional Yahudi yang berpusat di Yerusalem yang sebenarnya, tidak akan pernah dapat direalisasikan; sehingga tidak pernah Yerusalem tua itu akan dapat dibangun kembali sesuai dengan pengertian Zionist, dan tidak pernah orang-orang Yahudi bukan Kristen itu akan menjadi warga dari Kerajaan itu. (Bacalah buku Traktat no. 8, Gunung Sion Pada Jam Kesebelas).

PERJAMUAN KAWIN ANAK DOMBA ITU DI SURGA ATAUKAH DI BUMI?

Pertanyaan No. 44 :

Apakah artinya perkawinan yang dibicarakan di dalam buku “Christ’s Object Lessons”, p. 307, dan di dalam buku “The Great Controversy”, pp. 426, 427? Dalam hal yang satu, ia itu dikatakan merupakan “penggabungan kemanusiaan dengan keilahian”; dalam hal yang satunya, ialah “penyambutan Kristus akan kerajaan-Nya”; dan dalam hal yang lainnya ia itu dikatakan bahwa perkawinan itu “terjadi di dalam surga, sedangkan (orang-orang suci itu) berada di bumi” sementara “menunggu Tuhan mereka, apabila Ia akan kembali dari perkawinan itu.” Maukah Saudara menjelaskan masalah yang rumit ini bagi kami?

Jawab :

Hendaklah kita ingat bahwa pembicaraan lambang-lambang ini, berikut banyak lagi yang lainnya, adalah hanya lukisan kebenaran-kebenaran, bukan kebenaran-kebenaran itu sendiri. Sebagai contoh, pendirian Kerajaan itu dilukiskan, dalam contoh yang satu dengan “penuaian”; semua warga Kerajaannya dilukiskan dengan “gandum”’ dan Kerajaan itu sendiri dengan “lumbung.” Matius 13 : 30. Dalam contoh yang lain, pendirian Kerajaan itu dan pemisahan orang-orang berdosa dari antara orang-orang benar, dilukiskan dengan malaikat-malaikat yang menarik “pukat” ke pantai, kemudian duduk, memisah-misahkan ikan yang jelek dari antara ikan yang baik, dan memasukkan yang baik itu ke dalam “keranjang-keranjang”, tetapi membuang keluar dari padanya ikan-ikan yang jelek itu (Matius 13 : 48). Dalam contoh ini warga Kerajaan itu sendiri dilambangkan dengan ikan-ikan yang baik; dan Kerajaan itu sendiri dilambangkan dengan “keranjang-keranjang.”

Dengan demikian, sementara itu adalah benar bahwa perkawinan Kristus ialah suatu “penggabungan kemanusiaan dengan keilahian” itupun juga benar bahwa perkawinan itu ialah “penyambutan kerajaan-Nya”, karena manusia yang membentuk Kerajaan itu. Oleh sebab itu, maka perkawinan adalah sama dengan penobatan; Kerajaan itu sendiri, sama dengan kota itu, atau pengantin wanita; dan para tamu adalah semua kesucian atau warga Kerajaan itu. Di sini kita lihat bahwa apabila Kristus menerima Kerajaan-Nya, maka Ia benar-benar akan menggabungkan kemanusiaan dengan keilahian.

Penyambutan Kerajaan-Nya itu terjadi di dalam surga sementara umat kesucian masih

berada di bumi, seperti yang dilihat oleh Daniel : “Aku tampak dalam khayal-khayal di malam hari, maka bahwasanya, seseorang seperti Anak Manusia datang dengan awan-awan di langit, dan Ia datang kepada Yang Tiada Berkesudahan hari-Nya itu, dan mereka menghantarkan-Nya hampir ke hadapan-Nya. Maka di sana dikaruniakan kepada-Nya pemerintahan, dan kemuliaan, dan sebuah kerajaan, supaya semua orang, bangsa-bangsa, dan bahasa-bahasa, berbakti kepada-Nya : bahwa pemerintahan-Nya adalah sebuah pemerintahan yang kekal, yang tidak akan berlalu, dan kerajaan-Nya itulah yang tidak dapat dibinasakan.” Daniel 7 : 13, 14.

Dengan memfokus secara nubuatan kepada peristiwa yang sama ini, maka Yesus melambangkannya sebagai berikut : “Seseorang bangsawan pergi ke suatu negeri yang jauh untuk menerima bagi diri-Nya sebuah kerajaan, dan kemudian kembali.” Lukas 19 : 12. Perhatikanlah bahwa Ia menerima Kerajaan itu (memperoleh hak atasnya) sementara Ia pergi, bukan sewaktu Ia kembali. (Lihat buku The Great Controversy, pp. 426, 427).

Demikian itulah, maka perkawinan itu ialah pentahbisan Kristus, yang terjadi di dalam kaabah surga sewaktu semua warga-Nya di bumi ini bersiap diri, sementara pekerjaan itu berlangsung mencapai penyelesaiannya, dan masa kasihan berakhir. Jadi, jelaslah, bahwa perkawinan itu terjadi sebelum Ia datang untuk “menyambut” semua umat kesucian bagi diri-Nya (Yohanes 14 : 3), dan sebelum mereka menemui Dia “di langit.” 1 Tesalonika 4 : 16, 17. Kemudian dari itu “perjamuan” diselenggarakan.

Dengan sendirinya, walaupun perkawinan itu terjadi di dalam surga, namun umat kesucian itu sementara di bumi adalah para tamu yang diharapkan menghadiri perjamuan kawin itu. Kemudian, sesudah perkawinan itu

diteguhkan di dalam Tempat Yang Maha Suci, maka Yesus kemudian turun dari langit lalu mengambil tamu-tamu bagi diri-Nya, sehingga di mana Ia berada, di sanapun mereka dapat berada (Yohanes 14 : 1 – 3). Di sanalah mereka “makan perjamuan perkawinan Anak Domba itu.” -- The Great Controversy, p. 427; Wahyu 19 : 9. Dalam hal ini, sementara orang-orang suci itu disebut sebagai para tamu, maka kota suci itu disebut sebagai “pengantin wanita.” Wahyu 21 : 9, 10.

Kembali : tepat sebelum perkawinan itu, sewaktu umat kesucian itu masih di bumi, kebenaran mereka disebut sebagai “kain khasah halus” kepunyaan pengantin wanita (kota) itu.” Wahyu 19 : 8.

Pelajaran-pelajaran yang diajarkan melalui ilustrasi-ilustrasi ini maupun yang lainnya akan menjadi mutiara-mutiara kebenaran yang tak ternilai bagi orang-orang yang memperhatikannya. 

KERAJAAN ALLAH ITU DI DALAM HATI, ATAUKAH DI BUMI? 

Pertanyaan No. 45 :

Oleh karena Yesus mengatakan “kerajaan Allah itu terdapat di dalam” kita (Lukas 17 : 21), maka bagaimanakah mungkin ia itu merupakan sebuah kerajaan bumi?

Jawab :

Jika pertanyaan yang dipertanyakan itu berarti bahwa tidak akan ada satupun Kerajaan Allah di bumi, maka dengan alasan yang sama itupun harus berarti bahwa juga tidak akan ada kerajaan apapun di dalam surga. Dan jika tidak akan ada satupun di bumi, dan tidak satupun di surga, maka sia-sialah pengharapan kita. Namun, sebagaimana biasanya, apa yang membuktikan terlalu banyak itu, tidak akan membuktikan apa-apa. Dengan sendirinya, untuk berdiri pada

persoalan yang dipertanyakan itu adalah sama dengan mengambil pendirian bahwa tidak akan ada kerajaan apapun yang sebenarnya (literal) baik di bumi atau di dalam surga, melainkan hanya suatu kerajaan rohani di dalam hati, yang akan memusnahkan masalah menjadi sesuatu yang mustahil. Itu berarti bermain langsung ke dalam tangan-tangan Iblis, yang suka sekali menggelapkan kebenaran Kerajaan itu, dan mengasingkan Kerajaan itu sendiri untuk dilupakan. Namun dalam hal ini, bersyukurlah kepada Allah, karena Firman menjamin kita bahwa ia telah ditakdirkan untuk gagal.

Oleh karena itu sebelum Kerajaan Allah itu didirikan di atas bumi ini, ia itu harus benar-benar dapat didirikan secara rohani di dalam kita jika kita senantiasa mempersiapkan diri untuk masuk apabila ia itu secara fisik didirikan di atas “bumi”, seperti halnya di dalam surga.

Sesuai dengan itu, maka kerajaan kerohanian Allah yang di dalam, ialah di dalam orang-orang yang menghayati prinsip-prinsip pemerintahannya sebelum Kerajaan secara fisik itu diperdirikan. Sebab itu kerajaan Allah yang “di dalam” ialah pengaturan kehidupan rohani; itulah persyaratan untuk mewarisi Kerajaan Allah yang kekal itu. 

KAPANKAH ANGIN-ANGIN ITU AKAN DILEPASKAN? 

Pertanyaan No. 46 :

Jika malaikat yang memeteraikan buah-buah pertama, mereka yang 144.000 itu, terus melanjutkan dengan memeteraikan buah-buah kedua, rombongan besar orang banyak itu (Wahyu 7 : 9), maka apakah empat malaikat itu akan menahan keempat angin itu (Wahyu 7 : 1) selama pemeteraian kedua buah-buah (pertama dan kedua) itu?

Jawab :

Sebagaimana Wahyu 7 : 14 mengatakan bahwa rombongan besar orang banyak itu (buah-buah kedua) “keluar dari kesusahan besar”, maka ia itu terbukti bahwa empat angin itu akan ditahan, sesuai dengan yang diperintahkan malaikat itu, “sampai sesudah kami memeteraikan hamba-hamba Allah kami .....” Wahyu 7 : 3. Oleh sebab itu, maka angin-angin itu, dilepaskan dan bertiup sesudah mereka yang 144.000 itu selesai dimeteraikan dan sementara rombongan besar orang banyak itu dikumpulkan dan dimeteraikan. Dengan demikian baru dapat ia itu dikatakan bahwa rombongan besar orang banyak itu keluar dari “kesusahan besar”, yaitu dari “suatu masa kesusahan yang sedemikian itu belum pernah ada semenjak berdirinya sesuatu bangsa sampai kepada saat itu.” Daniel 12 : 1. 

APAKAH ARTINYA AMARAH BANGSA-BANGSA? 

Pertanyaan No. 47 :

Nyonya White mengatakan : “Aku tampak bahwa amarah bangsa-bangsa, murka Allah, dan masa untuk mengadili orang-orang yang sudah mati, adalah terpisah dan jelas berbeda, yang satu menyusul yang lainnya, dan juga Mikhail belum bangkit berdiri, dan bahwa masa kesusahan besar itu yang sedemikian itu belum pernah ada, belum lagi mulai.” -- Early Writings, p. 36. Mungkinkah “amarah bangsa-bangsa ini” yang merupakan “perang Armageddon itu”?

Jawab :

Sementara khayal itu memperjelaskan bahwa tiga peristiwa yang pertama itu (pehukuman orang-orang yang sudah mati, amarah bangsa-bangsa, dan murka Allah) yang satu menyusul yang lainnya secara berurutan, menempati tiga masa periode yang terpisah, berurutan, dan berbeda, ia itu tidak menjelaskan masa dari peristiwa yang keempat -- bangkit berdirinya Mikhail itu.

Murka Allah sebagaimana biasanya dipahami, ialah tujuh bela yang terakhir (Wahyu 15 : 1), dan murka itu akan dituangkan selama masa periode di antara berakhirnya masa kasihan dan kedatangan Kristus yang kedua kali. Pehukuman orang-orang yang sudah mati itu, sebagaimana dipahami oleh hampir semua orang Adventist, meliputi dua masa periode : yang pertama dalam masa kasihan, segera mendahului pehukuman orang-orang hidup, dan kedua selama masa seribu tahun millenium itu. Demikian pula dengan murka Allah yang datang dalam masa periode semenjak dari berakhirnya masa kasihan sampai kepada kedatangan Kristus yang kedua kali, amarah bangsa-bangsa itu hanya dapat terjadi selama masa pehukuman orang-orang hidup -- yaitu selama Seruan Keras dari Pekabaran Malaikat Yang Ketiga.

Oleh sebab itu, amarah bangsa-bangsa tidak mungkin Armageddon itu, karena ia itu terjadi di dalam masa bela yang keenam (Wahyu 16 : 12 – 16), dalam masa periode murka Allah. Amarah bangsa-bangsa dan murka Allah, sebagaimana wajib selalu kita ingat adalah dua peristiwa “yang terpisah dan berbeda”, yang satu menyusul yang lainnya.”

Sesuai dengan itu, maka gantinya berupa Armageddon, amarah bangsa-bangsa itu justru adalah “masa kesusahan besar yang belum pernah ada” -- yaitu masa dimana Mikhail, sambil memegang “pemerintahan di dalam tangan-Nya sendiri” -- (Testimonies to Ministers, p. 300), akan bangkit berdiri untuk melepaskan “setiap orang yang kelak ditemukan namanya tercatat di dalam buku.” Daniel 12 : 1.

Karena amarah bangsa-bangsa itu terjadi dalam masa pehukuman orang-orang hidup, --

yaitu Seruan Keras dari Pekabaran Malaikat yang Ketiga, -- maka “amarah” itu jelas ditujukan kepada umat Allah, bukan kepada bangsa-bangsa itu sendiri. Jelaslah dalam kenyataan ini, bahwa karena bangsa-bangsa di antara sesamanya selalu bertengkar, dan sedang bertengkar di waktu ini, sungguhpun kita masih berada dalam masa pehukuman orang-orang yang sudah mati.

Amarah bangsa-bangsa” itu akan melaksanakan keputusan dari binatang yang bertanduk dua itu yang berbunyi : “seberapa banyak orang yang tidak mau menyembah patung binatang itu harus dibunuh” (Wahyu 13 : 15); pada waktu yang sama perempuan jahat itu, yaitu Babil yang Besar itu, akan menunggangi binatang yang merah kermizi itu (Wahyu 17) dan memerintah atas bangsa-bangsa. “Kesusahan yang sama inipun akan datang menimpa umat kita di seluruh bagian dunia.” -- Testimonies, vol. 6, p. 395.

Mengenai amarah bangsa-bangsa ini, yaitu persengkokolan dunia luas menentang orang-orang yang menolak menyembah sujud kepada binatang itu dan patungnya, Tuhan meramalkannya melalui nabi Zakharia sebagai berikut : “Maka pada hari itu Aku akan membuat Yerusalem menjadi sebuah batu tanggungan bagi semua orang : semua orang yang membebani dirinya dengan batu itu akan ditumpas habis, sekalipun semua orang di bumi berhimpun bersama-sama menentangnya.” Zakharia 12 : 3.

“Pada hari itu Tuhan akan kelak mempertahankan semua penduduk Yerusalem; maka orang yang lemah di antara mereka itu pada hari itu akan jadi kelak seperti Daud; dan rumah Daud akan jadi seperti Allah, seperti malaikat Tuhan di hadapan mereka itu.” Zakharia 12 : 8. Kemudian “dengan

bersenjatakan kebenaran Kristus”, demikian kata Roh Nubuat, “sidang akan memasuki pertikaiannya yang terakhir. ‘Indah bagaikan bulan, cerah bagaikan matahari, dan mengerikan bagaikan suatu bala tentara dengan panji-panji mereka’, ia akan keluar ke seluruh dunia dengan kemenangaan dan untuk memenangkan.” -- Prophets and Kings, p. 725.

“Orang-orang yang biasa malu-malu dan kurang mempercayai diri sendiri, akan menyatakan dirinya secara resmi bagi Kristus dan kebenaran-Nya. Orang yang terlemah dan ragu-ragu di dalam sidang, akan jadi kelak seperti Daud -- rela berbuat dan berani.” -- Testimonies, vol. 5, p. 81.

“Hanya orang-orang yang telah berhasil melawan pencobaan dalam kekuatan Dia Yang Maha Tinggi akan diijinkan ikut serta dalam memberitakannya (Pekabaran Malaikat Yang Ketiga) apabila ia itu kelak berkembang menjadi Seruan Keras.” -- The Review and Herald, No. 19, 1908. 

* * * 

(Semua Huruf miring dari kami) 

Apakah Yang Akan Menjadi Langkah Anda Berikutnya? 

Sekarang jika saudara mendapat kesenangan, menghargai, dan dikuatkan melalui buku Tanya Jawab No. 2 ini, dan jika saudara rindu untuk melanjutkan, mintalah buku No. 3. Ini akan dikirimkan sebagai pelayanan Kristen tanpa biaya atau kewajiban.

Previous
1TJ
Tanya Jawab Buku No. 1
Next
3TJ
Tanya Jawab Buku No. 3