Davidian Today This is the official website of GADSDA

Languages

Social

Global search
Use these syntaxes below to make advanced search
Sentence search: "Ancient David also was a young boy"
AndX search: King David
OrX search: King | David
NotX search: King ! David
Book search
Use these syntaxes below to make advanced search witin books
Reference search: 1tg2: or 1tg2:18 or 1tg2:18.3
Sentence search within book: 1tg2::"Ancient David also was a young boy"
Sentence search within book categories (tracts): tr::"The Jews before Christ’s day"
AndX search within book: 1tg2::King David
OrX search within book: 1tg2::King | David
NotX search within book: 1tg2::King ! David

Tongkat Gembala Jilid 2

Tongkat Gembala Jilid 2

TONGKAT GEMBALA
Jilid 2

By V. T. HOUTEFF

"Karena itu setiap ahli Taurat yang menerima

pelajaran dari hal Kerajaan Sorga itu seumpama tuan rumah

yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama

dari perbendaharaannya." Matius 13:52

TONGKAT GEMBALA, Jilid 2
Copyright, 1932

By

V.T. HOUTEFF

Universal Publishing Association

PO. Box 6965/JAT-PK, Jakarta 13710

e-mail : gadsdaid@yahoo.com

DAFTAR DARI GAMBAR-GAMBAR

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

PENGANTAR 

Buku ini diterbitkan bukan untuk menjelaskan, ataupun mengomentari kebenaran-kebenaran yang sudah diungkapkan sebelumnya, dan yang sudah diterima sebagai kebenaran, melainkan untuk mengungkapkan kenyataan-kenyataan yang sudah Allah pertahankan sepanjang banyak generasi, bukan saja untuk mencegah hilangnya, melainkan juga untuk mencegah ungkapan pengertiannya dari kebijaksanaan manusia. Dengan demikian, Dia yang mengawasi Alkitab itu akan dapat mengungkapkan kebenaran sekarang kepada umat-Nya pada sesuatu masa apabila diperlukan. Oleh sebab itu, walaupun kebenaran-kebenaran yang sedemikian ini aslinya adalah nubuatan, semua itu akan menjadi baru dan akan terbuka sebagai suatu surat yang langsung dari Allah kepada manusia pada masa pengungkapannya. “Demikianlah firman Allah Tuhan itu, ..... Bahwasanya perkara-perkara yang dahulu itu sekarang terjadi, dan perkara-perkara yang baru akan Ku nyatakan : sebelum hal-hal itu muncul Aku memberitahukannya kepadamu.” (Yesaya 42 : 5, 9). Sebab itu, akan terbukti bahwa isi dari buku ini adalah baru, menarik, bersifat petunjuk, membesarkan hati, dan mengubahkan. Pekabaran yang dibawakannya diajarkan melalui simbol-simbol dan contoh-contoh yang dilukiskan pada gambar-gambar bagan, menjadi sederhana, sehingga semua orang yang menyelidikinya mencari kebenaran dengan tujuan untuk mempersiapkan diri mereka pantas bagi lumbung surga, akan dapat dengan mudah memahaminya. 

Buku “Wahyu” dikatakan sebagai sebuah buku yang tertutup yang penuh dengan rahasia-rahasia simbolis, yang tidak dapat dimengerti oleh umat manusia. Ini memang benar berisikan semua kebenaran-kebenaran nubuatan. Orang yang mengakui akan kenyataan ini mengenai buku “Wahyu”, dengan sendirinya mengakui bahwa ia belum mengerti Alkitab; sebab semua buku Alkitab bertemu dan berakhir di dalam “Wahyu”. Oleh sebab itu, memahami buku itu berarti memahami Alkitab. “Dia yang mengungkapkan segala rahasia itu kepada Yohanes akan mengaruniakan kepada penyelidik kebenaran yang rajin suatu rasa pendahuluan terhadap perkara-perkara Samawi. Orang-orang yang hatinya terbuka untuk menerima kebenaran akan kelak dimungkinkan untuk memahami ajaran-ajaran dari kebenaran itu, dan mereka akan dikaruniai berkat yang dijanjikan kepada orang-orang yang ‘mendengarkan segala perkataan nubuatan ini, dan yang memeliharakan segala perkara yang tertulis di dalamnya’.” -- “The Acts of the Apostles”, halaman 584, 585. Dengan demikian, apabila buku Wahyu dapat dipahami, maka ia itu akan membuka pintu Rumah Perbendaharaan yang besar dan mengungkapkan semua rahasia nubuatan yang tersimpan di dalamnya. 

Pekabaran di dalam buku ini telah dinubuatkan waktunya melalui perumpamaan tentang “Tuan Rumah” yang mengutus para pekerja ke dalam “Kebun Anggur”-Nya. (Matius 20 : 1 – 16). Membuktikannya sebagai “panggilan” “jam kesebelas”, -- yang terakhir, dan pada masanya yang tepat. Kenyataan bahwa ungkapan Alkitab yang indah ini tidak dapat ditentang, membuktikan bahwa pekabaran ini benar dan Ilhamnya pun benar. Panggilan nubuatan ini didasarkan pada nubuatan-nubuatan Daniel, dan penjelasannya yang dibuat

oleh buku Wahyu. Demikianlah ia itu dijelaskan secara simbolis. Simbol-simbol nubuatan mengenai binatang-binatang buas, sayap-sayap, tanduk-tanduk, kepala-kepala, mahkota-mahkota dan sebagainya, membuktikan merupakan simbol-simbol yang sangat sempurna dalam mengungkapkan kebenaran yang dilambangkan olehnya dan bilamana diaplikasikan dengan benar maka pasti pengertiannya tidak dapat disalah-artikan.

Karena kekacauan zaman ini dan kesalah-pahaman terhadap Alkitab di antara dunia Kristen dibuktikan oleh banyaknya sekte agama yang ada, adalah jelas bahwa gereja-gereja sedang berada dalam tuduhan Laodikea : “Menyedihkan, dan sengsara, dan miskin, dan buta, dan bertelanjang”. Maka oleh menyangkal tuduhan dari pernyataan yang jelas ini membuktikan bahwa kata-kata dari “Saksi Yang Setia” yang berbunyi, “padahal tidak kamu ketahui”, adalah benar. Sementara mereka itu mengira mereka adalah benar, maka “Saksi Yang Setia” menyatakan : “Kamu sekalian adalah salah”. Bukankah ini kesesatan yang besar sekali? (Bacalah Wahyu 3 : 14 – 18). Oleh karena Alkitab mengatakan dengan jelas, bahwa adalah “kebenaran” yang akan “membebaskan” kita, maka kita tidak dapat memeriksa diri sendiri dengan seksama berikut perkara-perkara yang kita percayai, karena jika dari Kekristenan yang multi-sekte ini saja tidak ada dua sekte yang sama pahamnya, maka jelas bahwa kebanyakan mereka, jika bukan semuanya, adalah buta. Dan karena Alkitab adalah benar dalam kata-katanya : “Jika orang buta memimpin sesama orang buta, keduanya akan jatuh ke dalam selokan”, maka tidak akan ada gunanya untuk memperdebatkan kebenaran -- dunia sedang menuju ke dalam “selokan”. Tidakkah ucapan yang tak terbantahkan ini membangunkan umat Allah dari kantuk dan tidur mereka? Pengalaman-pengalaman yang lalu membuktikan, bahwa banyak orang akan mengatakan “Itu bukan saya”. Karena mengetahui bahwa kesesatan ini akan muncul di akhir zaman, maka Allah telah menciptakan gambaran lambang kebenaran ini, dengan mana Ia dapat menerangi sidang-Nya dan memanggil keluar umat-Nya.

Sementara musuh berhasil mengacaukan Firman yang tertulis, maka Allah menerangi bumi dengan kemuliaan-Nya melalui wahyu-wahyu simbolis ini; dan dengan mana Ia mengungkapkan seluruh kebenaran dan mengungkapkan semua jerat-jerat Iblis. Demikianlah melalui contoh-contoh dan simbol-simbol Ia membuat orang-orang yang sederhana menjadi bijaksana, dan orang-orang yang pandai menjadi kacau oleh menunjukkan, bahwa dimana tidak ada contoh maka di sana pun tidak ada kebenaran.

Buku ini berisikan suatu wahyu simbolis yang lengkap mengenai seluruh sejarah dunia, baik sipil maupun agama. Alasan mengapa semua keajaiban ini digambarkan dengan simbol-simbol adalah sama dengan apa yang telah menyebabkan Kristus mengajar melalui perumpamaan-perumpamaan. “Maka datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya (Kristus) : Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka itu dalam perumpamaan-perumpamaan? Jawab Yesus kepada mereka itu; Karena telah dikaruniakan kepadamu untuk mengetahui segala rahasia tentang kerajaan surga, tetapi kepada mereka itu tidak dikaruniakan.” (Matius 13 : 10, 11). “Tetapi orang jahat itu akan makin berbuat jahat; dan tak seorangpun dari orang jahat itu akan mengerti; tetapi orang bijaksana akan mengerti.” (Daniel 12 : 10). “Maksud utama dari mengajar dengan menggunakan perumpamaan-perumpamaan ialah supaya kebenaran itu dapat diungkapkan kepada anak-anak Allah dan pada waktu yang sama ia itu dirahasiakan dari musuh-musuh-Nya. ..... Karena alasan-alasan yang sama inilah nubuatan-nubuatan yang menggambarkan kuasa-kuasa

anti-Kristen berikut pekerjaan mereka sejak mulanya sampai kepada akhir sejarah harus diselimuti dalam bahasa simbolis dan perumpamaan untuk menjamin penyimpanannya.” -- “Pelajaran Sekolah Sabat Kwartalan”, halaman 33. Kwartal Kedua, tahun 1932. “Kristus adalah landasan dari perekonomian orang-orang Yahudi. Keseluruhan sistem mengenai contoh-contoh dan simbol-simbol adalah merupakan suatu nubuatan Injil yang padat, yaitu suatu penyajian dalam mana terikat janji-janji penebusan.” -- “The Acts of the Apostles”, halaman 14.

Masing-masing pokok masalah ini masih dapat diperbesar seluas-luasnya, tetapi kalau saja kami berbuat begitu, maka buku ini akan menjadi berjilid-jilid lagi, dan juga akan menjadi kurang berarti. Demikianlah kami tidak menggunakan banyak perincian yang mendetail. 

PENULIS

(Semua penebalan huruf adalah dari kami)

DALAM CARA BAGAIMANAKAH INJIL TELAH DIBERIKAN? 

CARANYA ALLAH BERBICARA KEPADA KITA

“Allah yang pada beberapa kali dan dalam berbagai cara telah berbicara pada zaman dahulu kepada segala nenek moyang oleh perantaraan para nabi, di akhir zaman ini Ia telah berbicara kepada kita oleh perantaraan Anak-Nya.” (Ibrani 1 : 1). Allah memanggil Abraham oleh suara-Nya, Ia juga bercakap-cakap dengan dia oleh perantaraan malaikat-malaikat, dan berbagai mimpi. (Kejadian 12 : 1; 15 : 12, 13; 17 : 1 – 6; 18 : 1 – 22). Yakub juga memiliki pengalaman yang sama. (Lihat Kejadian 28 : 12; 32 : 1, 2). Aku yang besar itu berbicara kepada hamba-Nya Musa dari dalam belukar duri yang bernyala-nyala. (Keluaran 3 : 1 - 10). Israel mendengar suara Allah dari awan-awan yang di atas gunung Sinai. (Keluaran 20 : 18, 19). Sepuluh perintah itu telah “ditulis dengan jari Allah”. (Keluaran 31 : 18). Firaun raja Mesir dan Nebukadnezar raja Babil telah diberikan mimpi-mimpi, tetapi Roh Allah oleh perantaraan Yusuf dan Daniel mengungkapkan rahasia-rahasianya. (Kejadian 41 : 28 – 36; Daniel 2 : 19). Daud dan Salomo menulis kitab Mazmur dan kitab Amsal, bukan oleh perantaraan khayal-khayal, mimpi-mimpi ataupun malaikat-malaikat, melainkan oleh suara Roh Allah yang diam yang tertera di dalam pikiran dari hamba-hamba-Nya. Allah berbicara kepada Esther dan Ruth melalui pengalaman-pengalaman yang telah dialami karena takdir Ilahi. Yohanes memperoleh “Wahyu” melalui berbagai khayal. Allah berbicara kepada kita juga melalui contoh-contoh dan contoh-contoh saingan -- melalui hukum upacara bayangan, melalui para kepala suku, dan melalui pengalaman-pengalaman dari Israel kuno yang lalu. (Lihat “Tongkat Gembala”, Jilid I, halaman 223 – 235, bahasa Inggris).

Allah menggunakan orang mati dan orang hidup, binatang-binatang buas di padang, burung-burung di udara, ikan di laut, daratan dan air, matahari, bulan dan bintang-bintang, untuk mengungkapkan rencana Ilahi-Nya dan untuk menunjang semua hamba-Nya, dan sebagainya. (Lihat Kejadian 16 : 7, 9; 1 Samuel 6 : 7 – 15; Bilangan 22 : 30; 1 Raja-raja 17 : 4 – 6; Yunus 2 : 10; Matius 17 : 27; Bilangan 16 : 32; Matius 24 : 29). Allah mempunyai seribu satu macam cara oleh mana Ia dapat memberikan bantuan dalam sekejap mata. Sesungguhnya apa lagi yang dapat diperbuat oleh kasih Ilahi bagi umat manusia yang jatuh? 

BAGAIMANAKAH INJIL DIUNGKAPKAN, DAN DIINTERPRETASIKAN DENGAN SEPATUTNYA? 

Analisa terhadap sejarah kuno dan modern, baik mengenai hal-hal yang suci maupun yang duniawi, membuktikan bahwa kebenaran yang termeterai atau kebenaran nubuatan tidak pernah diungkapkan melalui sistem pendidikan dunia, atau oleh kepandaian manusia, melainkan hanya oleh kuasa Allah. Jika sekiranya benar, maka memang demikianlah halnya. Yesus mengatakan : “Apabila Ia, yaitu Roh Kebenaran, Datang, maka Ia akan memimpin kamu ke dalam semua kebenaran.” (Yohanes 16 : 13). Kristus menyatakan dengan jelas, bahwa kita dipimpin ke dalam kebenaran, bukan oleh kepintaran manusia melainkan oleh Roh Allah. Bukan ke dalam beberapa kebenaran, melainkan dalam semua

kebenaran. Bilamana Allah mengungkapkan kebenaran, maka Ia mampu untuk memimpin semua hamba-Nya dalam segala kebenaran, dan Ia tidak akan membiarkan peralatan-peralatan yang sedemikian untuk mencampurkan kebenaran-Nya dengan kesalahan. Walaupun mereka mungkin belum dapat memahami semuanya, namun pekabaran yang mereka bawa adalah kebenaran dan tak lain terkecuali kebenaran. Oleh sebab itu, kebenaran-kebenaran yang sedemikian ini pada dasarnya diungkapkan oleh Ilham saja. Apabila waktu yang ditentukan secara Ilahi digenapi, maka Allah memanggil hamba-hamba pilihan-Nya sendiri, lalu oleh Roh Kebenaran diungkapkan sebagian dari Firman-Nya kepada mereka. Biasanya dalam bentuk sebuah pekabaran yang harus pertama sekali mereka bawa kepada sidang.

Oleh kuasa yang sama Allah menggerakkan banyak hamba-Nya, yaitu para nabi, masing-masing mereka menuliskan satu bagian dari Alkitab; dan setelah dikumpulkan ia itu menjadi sebuah buku yang lengkap, yang membicarakan hanya suatu masalah utama -- yaitu keselamatan dalam Kristus. Walaupun sebagian dari para penulis ini hidup beratus-ratus tahun secara terpisah, namun setiap bagian dari Injil adalah sejalan dengan sempurna, -- yang satu menerangi yang lainnya. Dengan demikian terbukti bahwa Allah adalah pengawas dari Alkitab dan Ia memimpin semua hamba-Nya dengan cekatan ke dalam semua kebenaran. 

DOSA MELAWAN ROH SUCI, APAKAH ITU? 

Sebagaimana Alkitab adalah bebas dari kekeliruan, maka demikian pula hasil interpretasinya di bawah Roh Ilham yang sama harus juga benar. Oleh karena itu, hasil interpretasi Alkitab adalah benar, hanya apabila ia itu diungkapkan melalui sesuatu saluran Ilham. Tidak ada cara lain, dimana Allah dapat memimpin umat-Nya ke dalam segala kebenaran. Apapun saja yang kurang dari ini tidak akan dapat mengungkapkan kebenaran Alkitab, betapapun sederhananya. Kata malaikat itu kepada Daniel : “Tetapi aku akan menunjukkan kepadamu apa yang tertulis di dalam Injil kebenaran : dan tidak ada seorangpun yang membantuku dalam segala perkara ini, terkecuali Mikhail penghulumu.” (Daniel 10 : 21). Salah satu dari karunia-karunia bagi sidang dalam sejarah Kristen ialah “nabi-nabi”. “Maka Ia mengaruniakan sebagian orang, rasul-rasul; dan sebagian nabi-nabi.” (Efesus 4 : 11). 

Kembali Paulus menyatakan mengenai Alkitab pada zamannya dan kemudian : “Yang pada segala zaman lainnya belum diberitahukan kepada segala anak manusia, seperti halnya sekarang diungkapkan kepada Rasul-Rasul dan Nabi-Nabi-Nya yang suci oleh perantaraan Roh.” (Efesus 3 : 5). Apabila kebenaran Injil disampaikan oleh hamba-hamba Allah, “surat itu” dapat dipahami oleh semua orang yang mempelajarinya; tetapi roh yang sama dibutuhkan untuk memeteraikan, mengubah hati, dan mengarahkan langkah-langkah ke dalam kehidupan yang baru. Kuasa pengubahan ini diberikan hanya setelah penerima kebenaran bertobat dari dosanya dengan kerendahan hati, menyangkal dunia dan menerima Kristus. Bilamana pekabaran yang sedemikian ini disampaikan, orang-orang yang menentang juru-kabarnya dan menolak kebenaran, mereka itu menolak Roh, dan berdosa melawan Dia. Roh yang terdapat dalam sebuah pekabaran adalah satu-satunya media untuk membangkitkan hati. Bilamana mendurhaka melawannya, maka orang berdosa itu memutuskan dirinya dari saluran komunikasi yang menghubungkan dia dengan Allah. “Oleh sebab itu

Aku mengatakan kepadamu : Semua jenis dosa dan hujat manusia akan diampuni tetapi Hujat melawan Rohulkudus tidak akan dapat diampuni. Maka barangsiapa mengucapkan sesuatu perkataan melawan Anak Manusia, akan dapat diampuni; tetapi barangsiapa berbicara melawan Rohulkudus, tidak akan dapat diampuni, baik di dalam dunia ini, maupun di dalam dunia yang akan datang.” (Matius 12 : 31, 32).

Dunia sebelum air bah telah berdosa melawan Rohulkudus, sebab mereka tidak percaya kepada pekabaran kebenaran yang telah dikirim untuk menyelamatkan mereka dari air bah yang mengerikan itu. Oleh sebab itu, mereka telah binasa dalam dosa yang tidak pernah lagi dapat diampuni. Inipun sama halnya apabila seseorang memberontak melawan pekabaran samawi dalam setiap generasi. Manusia bukanlah dihukum karena mereka telah berdosa, melainkan mereka dihukum apabila mereka menutup telinganya terhadap panggilan Ilahi yang akan menyelamatkan mereka dari dosanya. 

Karena semua kebenaran nubuatan adalah diungkapkan pada masanya, maka terbukti, bahwa tidak ada apapun yang dapat diungkapkan oleh kepintaran manusia, betapapun sederhana hal itu. Bilamana Allah mengungkapkan sebagian dari Firman-Nya yang suci melalui salah satu dari alat-alat pilihan-Nya, maka analisa sejarah membuktikan, bahwa semua itu tidak pernah salah sejauh yang bersangkutan dengan pekabaran yang mereka kemukakan. Adalah juga benar, bahwa orang-orang yang keliru dalam pekabaran kebenaran perkiraan mereka, mereka itu belum memiliki kebenaran apapun. Demikian inilah rasul yang besar itu mengatakan : “Tetapi Allah telah mengungkapkan semuanya itu kepada kita oleh Roh-Nya : karena Roh itu menyelidiki segala perkara, walaupun perkara-perkara Allah yang dalam sekalipun. Karena siapakah gerangan mengetahui perkara-perkara manusia selain roh manusia sendiri yang terdapat di dalam dirinya? Demikian pula tiada seorangpun mengetahui perkara-perkara Allah, terkecuali Roh Allah saja. Sekarang kita telah menerima roh bukan dari dunia ini, melainkan Roh yang berasal dari Allah; supaya kita dapat mengetahui segala perkara yang dikaruniakan Allah kepada kita dengan cuma-cuma. Perkara-perkara mana juga yang kita bicarakan, bukan dalam kata-kata yang diajarkan oleh kepintaran manusia, melainkan yang diajarkan oleh Rohulkudus; bandingkanlah perkara-perkara rohani dengan rohani. Tetapi manusia yang fana tidak mau menerima perkara-perkara yang berasal dari Roh Allah : karena semuanya itu baginya adalah kebodohan : dan tiada ia mengenalinya karena semua itu harus dilihat secara rohani.” (1 Korintus 2 : 10 – 14). Oleh sebab itu, apabila sesuatu pekabaran diberitakan, maka itu akan merupakan seluruhnya kebenaran atau tidak ada kebenaran sama sekali di dalamnya, terkecuali hanya tulisan-tulisan dari para nabi. 

“Namun dari kenyataan bahwa Allah telah mengungkapkan kehendak-Nya kepada manusia melalui Firman-Nya, bukanlah memberikan kehadiran dan bimbingan Roh Suci yang terus menerus itu secara tak berguna. Sebaliknya Roh itu memang dijanjikan oleh Juruselamat kita untuk membuka Firman kepada hamba-hamba-Nya, untuk menerangi dan menggunakan ajaran-ajaran-Nya. Dan karena itu adalah Roh Allah yang telah mengilhami Alkitab, maka adalah tidak mungkin bahwa ajaran dari Roh pernah bertentangan terhadap apa yang berasal dari Firman.” -- “The Great Controversy”, halaman VII.

Barangsiapa yang cenderung untuk mempertanyakan kemampuan Allah untuk memimpin seseorang ke dalam semua kebenaran, adalah bukan saja menyangkal kesetiaan Firman-Nya secara tidak sadar, melainkan juga mereka mengecilkan kuasa-Nya oleh perbuatan mereka, dan dengan demikian mereka “Membatasi Dia yang Suci dari Israel itu”. (Mazmur 78 : 41). 

“Roh bukanlah diberikan -- ataupun dapat ia itu senantiasa dikaruniakan -- untuk menggantikan Alkitab; karena Injil menyatakan secara terbuka bahwa Firman Allah adalah standar ukuran oleh mana semua ajaran dan pengalaman harus diuji. Rasul Yohanes mengatakan, ‘Janganlah percaya setiap roh, melainkan ujilah roh-roh itu apakah mereka itu dari Allah datangnya : sebab banyak nabi palsu telah keluar ke dalam dunia.’ (1 Yohanes 4 : 1). Dan Yesaya menyatakan, ‘Akan Torat dan Kesaksian, jika mereka itu berbicara tidak sesuai dengan perkataan ini, ia itu adalah karena tidak ada terang dalam mereka.’ “ (Yesaya 8 : 20) -- “The Great Controversy”, halaman VII. 

“Sebutan ‘nabi’ sebagaimana digunakan di dalam Alkitab ..... adalah digunakan untuk menunjukkan laki-laki dan perempuan yang melibatkan diri dalam suatu pelayanan yang luas dalam kaitannya dengan pekerjaan Allah. Sebagian dari mereka ini tidak pernah mengucapkan sesuatu nubuatan sebagaimana umumnya dipahami ..... Sebagian mereka digunakan hanya bagi suatu kesempatan khusus, yang lain-lainnya bagi suatu urutan tahun-tahun yang panjang. Sebagian mereka menuliskan pekabaran yang diungkapkan Allah kepada mereka, dan yang lainnya menyampaikan semuanya itu secara lisan saja. Kepada beberapa orang, seperti dalam halnya Daniel dan lain-lainnya telah diberikan nubuatan-nubuatan yang berlaku sampai kepada masa depan yang jauh, yang mana sebagiannya sampai kepada hari ini belum lagi digenapi. 

“Sebagian mereka adalah utusan-utusan Allah yang bangkit dalam periode-periode krisis yang hebat, untuk mengamarkan kepada sidang dan dunia mengenai pehukuman-pehukuman yang mengancam, serta untuk memanggil manusia kembali setia kepada Allah. Mereka yang sedemikian ini adalah Samuel, Eliyah, Yohanes Pembaptis, dan lain-lain. Yohanes menolak gelar nabi itu, ia lebih suka disebut suara Allah atau seorang utusan Allah yang dikirim untuk mempersiapkan jalan Tuhan dalam memanggil Israel kepada pertobatannya. Tetapi sebagai utusan Allah ia oleh Kristus dinyatakan sebagai seorang nabi, dan ‘bahkan lebih daripada seorang nabi’. Lukas 7 : 26. ‘Sesungguhnya Tuhan tidak akan berbuat sesuatu perkara, terkecuali Ia mengungkapkan segala rahasia-Nya kepada hamba-hamba-Nya, yaitu nabi-nabi’.” Amos 3 : 7. -- “The Present Truth”, Jilid 5, No. 72. 

“Dalam hal yang setinggi-tingginya nabi adalah seseorang yang berbicara dengan diilhami secara langsung, yang meneruskan kepada umat pekabaran-pekabaran yang diperolehnya dari Allah. Tetapi nama ini diberikan juga kepada orang-orang, yang walaupun tidak diilhami secara langsung, mereka adalah dipanggil oleh Tuhan untuk memberi petunjuk kepada umat dalam semua perbuatan dan jalan-jalan Allah.” -- “Education”, halaman 46. 

Utusan-utusan surga ini umumnya adalah laki-laki dan perempuan-perempuan yang bertabiat sederhana; sebagian mereka tidak dapat membaca ataupun menulis. Walaupun tidak memiliki keuntungan-keuntungan yang biasa dipunyai oleh orang-orang besar, namun alat-alat ini di dalam tangan Yang Maha Kuasa, membuat pengetahuan manusia dan kebesaran dunia ini tenggelam menjadi tak berarti. Demikianlah

melalui metoda-metoda ini Allah telah mengungkapkan kuasa pengubahan-Nya dalam mesin manusia; baik dalam kepandaian maupun dalam tabiatnya. Mendurhaka melawan alat-alat pilihan Allah ialah tidak mengakui kuasa-Nya dalam hubungan dengan manusia, sehingga menempatkan manusia yang terbatas di atas Tuhan yang tak terbatas, yang dapat mendatangkan lebih banyak pengetahuan dalam sekejap, daripada manusia yang dapat melakukannya dalam seumur hidupnya. 

Walaupun semua kebenaran diungkapkan melalui saluran-saluran yang diilhami, namun peralatan dari kejahatan seringkali mencampuradukkan semua kebenaran itu dengan kekeliruan. Pekerja-pekerja kejahatan yang sedemikian ini seringkali menggunakan bagian-bagian dari ungkapan Ilahi, menggunakannya secara tidak sah sebagai pegangan untuk menyampaikan kekeliruan, lalu dengan demikian menyesatkan yang sederhana. Janganlah seorangpun menyombongkan dirinya bahwa mereka dapat menghindari cengkeraman-cengkeraman Iblis oleh usaha orang lain yang bersungguh-sungguh. Setiap orang harus menyelidiki bagi dirinya sendiri untuk memahami kedudukannya, lalu dengan pikiran sehat siap untuk mendengar semua orang dengan suatu roh dapat diajar dari anak kecil. “Sesungguh-sungguhnya Aku berkata kepadamu, Barangsiapa yang tidak menerima kerajaan Allah itu seperti seorang anak kecil, tiadalah ia akan masuk ke dalamnya.” (Markus 10 : 15). Keraguan-keraguan, telah menyesatkan dan menghancurkan lebih banyak jiwa daripada setiap jerat yang pernah dibuat oleh penipu yang besar itu. Orang yang menolak untuk mendengarkan alasan-alasan yang dikemukakan oleh orang lain ialah orang yang terbodoh. Orang yang sedemikian ini biasanya ragu-ragu sebab argumentasi yang dikemukakan kepadanya bertentangan dengan pandangannya mengenai masalah tersebut, atau mungkin karena ia menganggap dirinya lebih pandai atau berkedudukan sosial yang tinggi sekali. Orang-orang lain tidak mau mendengar kebenaran, sebab kebenaran itu melukai hati mereka yang berdosa dan karena mereka takut bahwa mereka harus berpisah meninggalkan keinginan pribadi mereka. Kelas orang-orang ini berada di bawah kuasa Iblis, dan sedang dalam perjalanan menuju kepada kebinasaan yang kekal -- karena berdosa melawan Rohulkudus. Orang-orang yang jujur dalam kesalahan-kesalahan mereka ialah orang-orang yang didapati di dalam keranjang penyanderaan Iblis. Kelas orang-orang ini adalah yang tersulit untuk dibuat insyaf, bahwa mereka sedang dalam perjalanan menuju ke neraka. 

* * *

MEMPERKENALKAN KRISTUS PENEBUS KITA 

TIGA HARI DAN TIGA MALAM DI DALAM JANTUNG BUMI 

Pertanyaan mengenai berapa lama Kristus tinggal di dalam kubur, dan hari pada saat Ia dikuburkan dan dibangkitkan, telah banyak diperbincangkan seperti juga halnya dengan setiap masalah Alkitab lainnya. Sejumlah teori telah dikemukakan dan tidak dapat disangkal bahwa banyak waktu yang berharga telah dihabiskan; namun, kekacauan yang timbul dari masalah tersebut tidak berkurang, melainkan justru meningkat. 

Ada orang yang bertanya, “Apakah hubungannya itu dengan keselamatan kita?” Itu mungkin tidak banyak berhubungan dengan keselamatan seseorang, tetapi tampaknya bahwa dengan orang-orang lain itu banyak hubungannya. Salah seorang Saudari mengatakan sebagai berikut : “Saya percaya semua yang diajarkan oleh gereja S___ tetapi saya tidak dapat menyetujui pendirian yang dipegang oleh Saudari W___ mengenai masalah penguburan dan kebangkitan Kristus. Saya tahu bahwa Kristus selama tiga hari dan tiga malam berada di dalam kubur, tetapi Saudari W___ mengatakan bahwa Ia dikuburkan pada hari Jumat sore dan bangkit pada hari Minggu pagi. Oleh sebab itu saya tidak dapat mempercayai semua tulisannya, dan karena alasan inilah saya tidak jadi dan tidak mau menjadi anggota dari gereja anda.”

Kesalah-pahaman mengenai masalah ini telah menghalangi Saudari ini untuk menggabungkan diri dengan sidang. Kini, kalau saja gereja yang dimaksud itu memiliki kebenaran bagi dunia pada waktu ini, dan kesalah-pahaman Saudari ini telah menghalanginya dari menyambut kebenaran itu, maka kita harus akui bahwa masalah yang banyak diperbincangkan ini sedikit-sedikitnya ada hubungannya dengan keselamatan sebagian orang. 

Yesus mengatakan : “Pintalah, maka ia itu akan diberikan kepadamu; caharilah, maka engkau akan mendapatkannya; ketuklah, maka ia itu akan dibukakan bagimu : karena setiap orang yang meminta akan memperoleh; dan barangsiapa yang mencari akan menemukan; dan kepada orang yang mengetuk ia itu akan dibukakan.” (Matius 7 : 7, 8). 

Tidak ada apapun yang lebih berkenan kepada Allah daripada bagi salah seorang dari anak-anak-Nya yang memohon kepada-Nya dalam iman akan jalan kebenaran. Kalau saja terdapat sesuatu kuasa dalam kata-kata Yesus, maka sesungguhnya barangsiapa yang rindu mengetahui kebenaran dan rela mematuhinya, walaupun ia itu mungkin mengharuskan dia menjualkan semua hartanya untuk diberikan kepada orang miskin, serta menyangkal dunia berikut semua daya tariknya, jiwanya tidak akan mungkin tetap tinggal dalam kegelapan. Hendaklah penyelidik kebenaran bertekad sedemikian ini kepada Allah lalu dengan demikian mencoba kuasa-Nya dan janji-janji-Nya yang tidak pernah gagal itu

melalui kata-kata dari Anak-Nya. Tetapi walaupun hal itu mungkin menyesatkan manusia, kita tidak pernah dapat memperdaya Allah, karena Ia tahu apa yang terkandung di dalam hati. 

Salah satu alasan utama mengapa timbul kekacauan di antara para penyelidik Alkitab ialah karena mereka tidak sepenuhnya bergantung pada ucapan kata-kata dari Alkitab. Mereka menyangka dirinya lebih pandai daripada para nabi yang telah diilhami dengan Roh Allah, lalu dengan demikian mereka ingin mengoreksi beberapa kata dan arti dari Alkitab yang suci itu. Oleh karena itu orang-orang fana yang serba terbatas telah mencoba untuk meluruskan dan mengoreksi Dia Yang Tak Terbatas itu, yang hikmat pengetahuan-Nya, kuasa-Nya, dan penglihatan-Nya adalah tak terduga. Walaupun mereka sadar bahwa hasil interpretasinya terhadap sesuatu ayat adalah sama sekali tidak sesuai dengan keseluruhan isi buku dan hukum, mereka tidak melihat adanya luka, dan mereka tidak takut kepada Allah. Dan bilamana kenyataan ini diungkapkan mereka tetap menolak untuk menggantikan kekeliruan mereka itu dengan kebenaran, sebab kebenaran ini bertentangan dengan theologi mereka yang palsu. Kami mengundang perhatian pembaca yang sungguh-sungguh terhadap masalah ini, dan agar ia memperhatikan akan keselarasan Injil yang indah dan hikmat pengetahuan besar yang digunakan di dalamnya. 

Saudari itu ditanya : “Di mana terdapat bukti anda, bahwa Kristus berada tiga hari dan tiga malam di dalam kubur?” Ia mengatakan : “Jawaban saya adalah terdapat di dalam Matius 12 :  40, ‘Karena sebagaimana Yunus selama tiga hari dan tiga malam berada di dalam perut ikan paus, demikian itu pula kelak Anak Manusia akan berada selama tiga hari dan tiga malam di dalam jantung bumi’.” Kembali ia ditanya, “Pada hari apakah menurut anda Kristus telah mati?” Ia mengatakan : “Yohanes 19 : 31 memberikan jawabannya : “Maka sebab hari itu adalah hari persiapan, datanglah orang-orang Yahudi itu memohon kepada Pilatus, agar jangan mayat-mayat mereka itu tetap tergantung di kayu salib pada hari Sabat (karena hari Sabat adalah hari Besar), mereka memohon agar kaki-kaki mereka itu dapat dipatahkan saja, dan agar mayat-mayat itu dapat dibawa pergi.” Di sini dijelaskan oleh perempuan itu bahwa itu tidak mungkin hari persiapan menghadapi Sabat hari yang ketujuh, karena Sabat itu adalah suatu hari ‘Besar’. Jadi itu adalah persiapan menghadapi paskah -- Hari Rabu. Kemudian ia mulai menghitung, “Kamis (1), Jumat (2), Sabtu (3); Rabu malam (1), Kamis malam (2), Jumat malam (3). Dengan demikian ada tiga hari dan tiga malam.” 

Menurut alasan yang dibuat oleh Saudari ini ia menyangka bahwa penjelasannya itu adalah benar tak dapat dibantah lagi. Tetapi perhatikan bahwa Kristus mati pada jam sembilan, tepat tiga jam sebelum berakhirnya hari itu (Matius 27 : 46 – 50) dan Ia dikuburkan pada saat masuk matahari -- yaitu jam 12. (Lukas 23 : 52 – 56). 

Kalau saja Ia dikuburkan pada hari Rabu, Ia sudah akan berada selama tiga hari penuh dan empat malam penuh di dalam kubur, karena Alkitab menyatakan dengan jelas : “Pada akhir dari Sabat itu, yaitu waktu dini hari pada hari yang pertama dari minggu itu, (hari Minggu pagi), datanglah Maria Magdalena dan Maria yang lain itu hendak melihat kubur itu.” (Matius 28 : 1). Kembali kita kutip dari Markus 16 : 9, “Kini setelah

Yesus bangkit pagi-pagi sekali pada hari yang pertama dari minggu itu, maka pertama sekali kelihatanlah Ia kepada Maria Magdalena.” 

Marilah kita memeriksa teori ini dari segi pandangan yang lain. Yesus mengatakan : “Kamu tahu bahwa dua hari lagi adalah perayaan Paskah, maka Anak Manusia akan dihianati untuk disalibkan.” (Matius 26 : 2). “Kemudian (setelah dua hari itu) berkumpullah imam-imam kepala ..... dan mereka berunding bagaimana mereka dapat mengambil Yesus secara tipu muslihat dan membunuh-Nya.” (Ayat 3, 4). Waktu Yesus mengucapkan kata-kata : “Kamu tahu bahwa dua hari lagi adalah perayaan Paskah”, tidak mungkin lebih lambat daripada permulaan hari Selasa, kalau memang perayaan Paskah itu berlangsung pada hari Kamis. Kemudian semua yang terjadi dalam kaitannya dengan pemeriksaan terhadap diri-Nya, penyaliban-Nya, kematian-Nya, dan penguburan-Nya harus sudah terlaksana semenjak hari Selasa pagi sampai kepada hari Rabu masuk matahari, yang mana tidak akan mungkin sesuai dengan daftar waktu dari Alkitab seperti yang hendak kami kemukakan. 

Perhatikan firman Injil berikut ini : “Sekarang hari pertama dari perayaan hari raya roti tidak beragi datanglah murid-murid itu kepada Yesus lalu mengatakan, ‘Di manakah Engkau mau agar kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?’ Inilah hari persiapan bagi perjamuan Paskah itu. “Maka kata-Nya, Pergilah kamu ke dalam kota kepada seseorang yang sedemikian, lalu katakanlah kepadanya, Pesan Guru, Waktu-Ku hampir tiba; Aku hendak merayakan Paskah di rumahmu bersama-sama dengan murid-murid-Ku. Maka murid-murid itupun berbuat sesuai yang ditugaskan Yesus kepada mereka; lalu mereka mempersiapkan Paskah itu. Sekarang setelah malam tiba, duduklah Ia bersama-sama dengan dua belas murid-Nya itu. Dan sementara mereka makan, maka kata-Nya, sesungguhnya Aku berkata kepadamu, bahwa salah seorang dari antara kamu akan menghianati Aku.” (Matius 26 : 17 – 22). Perayaan Paskah itu hanya dapat diselenggarakan sesudah matahari masuk pada permulaan dari hari yang pertama dari hari raya roti tidak beragi : “Pada hari keempat belas dari bulan pertama pada malam hari adalah Paskah Tuhan”. (Imamat 23 : 5). Ini adalah hari yang terakhir persiapan bagi Paskah itu. Oleh karena itu, Yesus belum lagi berada dalam tangan imam-imam itu pada waktu persiapan bagi perayaan Paskah itu, bahkan sama sekali Ia belum lagi disalibkan. Selanjutnya, Kata-kata Matius adalah jelas mengenai masalah ini sehingga tidak mungkin lagi untuk dibantah : “Dan sementara mereka makan (Paskah itu), maka kata-Nya, sesungguhnya Aku berkata kepadamu, bahwa salah seorang dari antara kamu akan menghianati Aku.” (Matius 26 : 21). Bagaimanakah dapat Yesus makan Paskah bersama-sama dengan dua belas murid-Nya itu kalau memang Ia sudah disalibkan dan dikuburkan? Kita selalu bersedia untuk menerima kebenaran, tetapi bilamana teorinya bertentangan dengan Injil, maka janganlah kita tunduk kepada kesimpulan-kesimpulan yang salah, karena, barang-siapa yang percaya kepada sesuatu kebohongan ialah suatu kekejian bagi Allah. 

Ijinkanlah kami menjernihkan pertentangan ini oleh kenyataan-kenyataan yang dapat tahan uji. Hendaklah diingat oleh pembaca, bahwa Paskah adalah suatu perayaan tujuh hari, atau juga disebut “mingguan Paskah”. Kami kutip Imamat 23 : 4 – 8 : “Maka inilah semua masa perayaan Tuhan, yaitu perkumpulan-perkumpulan yang suci, yang harus kamu serukan pada masanya. Pada hari

yang keempat belas dari bulan yang pertama pada malam harinya ialah Paskah Tuhan. Dan pada hari yang kelima belas dari bulan yang sama ialah hari raya roti tidak beragi bagi Tuhan; Tujuh Hari lamanya kamu harus makan roti yang tidak beragi. Pada hari yang pertama itu engkau harus mengadakan suatu perkumpulan yang suci : janganlah engkau melakukan sesuatu pekerjaan rendah apapun juga pada hari itu. Tetapi selama tujuh hari lamanya hendaklah kamu mempersembahkan korban bakaran kepada Tuhan; pada hari yang ketujuh adalah suatu perkumpulan yang suci; pekerjaan rendah apapun jangan kamu lakukan pada hari itu.” 

Sekarang catatlah, bahwa Sabat hari yang ketujuh adalah diawasi oleh putaran mingguan, dan paskah oleh kalender bulanan. Oleh sebab itu, dalam setiap minggu paskah terdapat satu Sabat hari yang ketujuh, dan ia itu dapat saja jatuh pada sesuatu hari dari tujuh hari Paskah itu. Kembali, perhatikanlah bahwa hari yang keempat belas adalah disebut hari “Paskah”, tetapi hari yang kelima belas ialah “Perayaan” Paskah. (Lihat Bilangan 28 : 17; Yosua 5 : 11). Sabat hari ketujuh itu disebut “Hari Sabat”. Seikat gandum persembahan itu ialah buah-buah pertama hasil penuaian dan ia itu harus dipersembahkan ke hadapan Tuhan pada besok paginya setelah Sabat; yaitu, pada hari yang pertama dari minggu, yang umumnya disebut hari Minggu. (Lihat Imamat 23 : 11). Persembahan seikat gandum itu merupakan suatu contoh dari kebangkitan orang mati -- buah-buah pertama. Rasul itu mengatakan : “Tetapi sekarang Kristus telah bangkit dari kematian, dan menjadi buah-buah pertama dari mereka yang tidur” -- mereka yang dibangkitkan-Nya. (1 Korintus 15 : 20; juga Matius 27 : 52, 53). 

Dengan demikian Kristus “telah menghantarkan orang-orang tahanan menjadi tawanan” pada hari yang ditunjukkan oleh contoh itu. 

PERSIAPAN PASKAH

Paskah adalah suatu perayaan selama tujuh hari; oleh sebab itu, persiapan bagi minggu itu memerlukan waktu yang lebih panjang daripada sehari. Mengutip Keluaran 12 : 3, 6 : “Pada hari yang kesepuluh dari bulan ini (bulan yang pertama) mereka harus mengambil bagiannya masing-masing seekor anak domba ….. Dan hendaklah kamu ikat akan dia sampai kepada hari yang keempat belas dari bulan yang sama.” Orang banyak itu diperintahkan untuk mulai mengadakan persiapan pada hari yang kesepuluh dari bulan itu. Pada hari yang keempat belas, sebelum masuk matahari, semua ragi harus sudah dibuang dari rumah-rumah mereka. Kemudian datanglah hari yang kelima belas, merupakan hari yang pertama dari roti yang tidak beragi, dan mulailah minggu paskah dengan cara membunuh domba paskah itu. “Tujuh hari lamanya hendaklah kamu makan roti yang tidak beragi; bahkan hari yang pertama hendaklah kamu membuang semua ragi dari dalam rumahmu.” (Ayat 15). Oleh sebab itu, hari yang keempat belas adalah hari persiapan yang terakhir, dan hari yang kelima belas, atau hari yang pertama dari perayaan itu, ialah suatu hari pertemuan kudus, dan mereka tidak boleh melakukan pekerjaan rendah apapun pada hari itu. Matius 26 : 17, menunjuk kepada hari yang sama ini dimana Yesus telah makan paskah bersama-sama dengan dua belas murid-Nya. (Lihat ayat 20, 21). 

Hari-hari yang hanya mungkin bagi minggu paskah itu adalah kelak

___ GAMBAR ____

___ GAMBAR ____

sebagai berikut : Hari yang keempat belas dari bulan yang pertama tahun itu jatuh pada hari Rabu, dan hari itu berakhir pada masuk matahari (malam). Hari yang pertama dari perayaan paskah itu (hari yang ke 15 dari bulan itu) jatuh pada hari Kamis; hari yang kedua pada hari Jumat; hari yang ketiga pada hari Sabtu (hari Sabat); hari yang keempat pada hari Minggu; hari yang kelima pada hari Senin; hari yang keenam pada hari Selasa; hari yang ketujuh dan yang terakhir dari perayaan itu pada hari Rabu, hari yang ke 21 dari bulan itu. (Lihatlah gambar bagan pada halaman 22, bahasa Inggris). 

TABEL WAKTU SEMENJAK DARI PASKAH SAMPAI KEPADA KEBANGKITAN 

Anak domba itu tidak mungkin dapat dibunuh sebelum hari yang keempat belas malamnya lalu disebut “Anak Domba Paskah” sesuai dengan petunjuk yang diberikan dalam Firman yang berikut ini : “Dan hendaklah segenap sidang Israel menyembelih akan dia (anak domba itu) pada malamnya”. (Keluaran 12 : 6). Andaikata segala-galanya sudah siap dan anak domba itu dibunuh segera setelah matahari masuk. Itu akan menghabiskan kira-kira lima belas menit baginya untuk mati; kemudian kulit bulunya harus dilepaskan. Sebagai tambahan untuk ini setiap bagiannya harus dirapihkan, dicuci dan ditaruh kembali di dalam korban itu dan yang terbuka dijahit kembali, karena tidak ada satupun bagiannya boleh dibuang, terkecuali hanya sisa-sisa kotoran. Oleh sebab itu persiapan untuk memanggang di atas api korban itu akan membutuhkan waktu tidak kurang dari sejam lamanya. Demikianlah kita baca : ”Janganlah kamu makan dia mentah atau direbus dengan air, melainkan supaya dipanggang di atas api; kepalanya bersama-sama dengan kaki-kakinya, dan dengan isi perutnya.” (Ayat 9). 

Metode memanggang cara kuno memerlukan lebih banyak waktu daripada cara modern kita sekarang. Sebuah tongkat ditusuk melalui tubuh korban itu, kemudian ia itu ditaruh di atas bara api, lalu dibolak-balikkan dengan bantuan tongkat tadi. Cara memanggang ini membutuhkan waktu kira-kira empat jam. Untuk makan paskah, melaksanakan perjamuan Tuhan, dan upacara kerendahan hati, kemudian menyanyikan sebuah lagu, sudah akan menambah satu setengah jam lagi. Kemudian daripada itu mereka pergi ke gunung Zaitun. (Lihat Markus 14 : 26). Gunung itu terletak kira-kira setengah mil di sebelah timur dari tembok yang ketiga dari kota. Oleh sebab itu, ia itu adalah agak jauh dari tempat dimana paskah itu diselenggarakan. Dengan demikian mereka sudah harus menghabiskan waktu setengah jam untuk sampai ke sana dengan berjalan kaki; setelah mana Yesus membawa ketiga orang itu ke taman Getsemani. 

Di sana tidak mungkin kurang dari satu setengah jam dihabiskan selama di atas gunung dan di taman sewaktu Yesus berdoa; setelah mana kepada rasul-rasul itu diberitahukan untuk beristirahat dan tidur; karena Yesus keluar berdoa tiga kali, dan pada waktu kembali, dua kali Ia mendapatkan mereka itu tertidur, ”maka kembalilah Ia kepada murid-murid itu, didapati-Nya mereka itu tertidur, lalu kata-Nya kepada Petrus : Tiadakah kamu sanggup berjaga satu jam saja bersama-sama dengan Aku?” (Matius 26 : 40). Kita dapat mengira-ngira mereka itu

menghabiskan sedikit-dikitnya satu jam untuk tidur, sebab jika tidak kata-kata Guru mereka sewaktu Ia kembali yang ketiga kali : “Beristirahatlah” (Ayat 45) sudah akan diucapkan dengan sia-sia. Setelah berlalu semua pengalaman ini, maka datanglah Yudas bersama-sama dengan orang banyak dan hanya ada sedikit waktu yang dihabiskan untuk menangkap Yesus; dan selama mereka membawa-Nya kepada imam-imam ia itu sudah harus menghabiskan waktu tidak kurang dari dua jam. Sesuai dengan perhitungan waktu ini, maka jumlah jam yang terpakai semenjak dari masuk matahari hari Rabu malam (permulaan paskah oleh pembunuhan anak domba) sampai kepada waktu Yesus dibawa ke hadapan imam besar tidak mungkin menghabiskan waktu kurang dari dua belas jam. 

Analisa mengenai tabel waktu di atas, membuktikan bahwa pada waktu Yesus dibawa ke hadapan Kayafas, imam besar itu, waktunya adalah kira-kira jam dua belas, atau sedikit menjelang siang pada hari Kamis pagi; dan sesudah pemeriksaan terhadap diri-Nya di hadapan imam besar itu, “kemudian mereka membawa Yesus dari Kayafas ke gedung pengadilan : dan itu adalah pada pagi-pagi sekali.” (Yohanes 18 : 28). “Dan itu adalah Persiapan bagi Paskah, dan kira-kira pada jam enam : maka kata Pilatus kepada orang-orang Yahudi itu, Tengoklah Rajamu!” (Yohanes 19 : 14). Sebagaimana Yohanes menegaskan bahwa ia itu pada pagi-pagi sekali sewaktu mereka membawa-Nya dari Kayafas ke gedung pengadilan, dan sebagaimana ia juga menegaskan bahwa ia itu adalah pada kira-kira jam enam (mungkin tengah malam atau mungkin tengah hari menurut waktu kuno), maka ia itu harus terjadi beberapa saat sesudah tengah malam (kira-kira jam enam) pada waktu Pilatus mengatakan kepada orang-orang Yahudi itu, ‘Tengoklah Rajamu’, karena Yohanes tidak mungkin menyebut tengah hari itu dengan pagi-pagi sekali. Oleh sebab itu, sesudah Ia diadili oleh Sanhedrin mereka memanggil Pilatus, lalu kemudian mereka pergi ke gedung pengadilan. Ini dilakukan pada pagi hari berikutnya, sesudah mereka mengambil Yesus dari taman itu -- pada hari Jumat pagi-pagi sekali. 

Yohanes mengatakan : “Dan itu adalah persiapan bagi paskah”. Kami telah menjelaskan sebelumnya bahwa persiapan bagi paskah anak domba itu bukan hanya satu hari, melainkan suatu kesibukan empat hari. 

Selanjutnya, Matius mengatakan dengan jelas : “Mereka telah mempersiapkan Paskah. Sekarang bilamana malam tiba, Ia (Kristus) duduk bersama-sama dengan dua belas murid itu. Dan ….. mereka makan.“ (Matius 26 : 19 – 21). Oleh sebab itu, persiapan paskah yang disebut oleh Yohanes, itu tidak mungkin merupakan persiapan bagi paskah anak domba, melainkan sebaliknya persiapan bagi paskah Sabat (hari yang ketujuh), yang disebut “persiapan paskah sebab ia itu terdapat dalam minggu paskah, karena ia itu terjadi hanya sekali setahun. Maka sebab itu hari Jumat itu disebut “persiapan paskah”. Dengan demikian Sabat hari ketujuh yang terdapat dalam minggu paskah itu telah disebut suatu “Hari Besar”, sebab itu adalah suatu Sabat di dalam satu Sabat -- hari terbesar dalam tahun. 

Menurut tabel waktu para pemimpin Yahudi telah mengadili Yesus semenjak jam dua belas Kamis pagi sampai pada kira-kira jam enam Jumat pagi (waktu kuno). Sembilan jam kemudian -- pada jam tiga (Jumat), Yesus telah disalibkan. (Lihat Markus 15 : 25). Sesudah

Ia berada pada kayu salib selama tiga jam matahari telah menjadi gelap (pada jam enam -- tengah hari. Lihat Markus 15 : 33). Tiga jam kemudian Yesus mati dan matahari kembali memberikan cahayanya. (Lihat Matius 27 : 45 – 50). Selama tiga jam tersisa sampai pada masuk matahari persiapan yang sangat terburu-buru telah dilakukan lalu Juruselamat diletakkan dalam kubur kepunyaan Yusuf yang baru tepat menjelang dimulainya Sabat hari yang ketujuh. Kami kutip Lukas 23 : 53 – 56 : “Lalu diturunkannya mayat itu dan dibungkus dengan kain kafan, lalu diletakkannya mayat itu ke dalam kubur batu yang berpahat, dimana belum pernah diletakkan barang seorangpun. Maka hari itu adalah hari persiapan, dan hari Sabat pun sudah hampir. Maka perempuan-perempuan itu yang datang bersama-sama dengan Dia dari Galilea, mengikuti dan melihat kubur itu, dan bagaimana mayat-Nya diletakkan. Lalu mereka kembali, dan mereka mempersiapkan rempah-rempah dan minyak bau-bauan; lalu mereka berhenti pada hari Sabat menurut hukum Torat.” Demikianlah Yesus tinggal di dalam kubur semenjak dari jam dua belas Jumat sore sampai pada kira-kira jam dua belas Minggu pagi. Ini juga dibuktikan oleh Markus 16 : 9, “Sekarang setelah Yesus bangkit pagi-pagi sekali pada hari yang pertama dari minggu itu.” Oleh sebab itu, sejumlah kira-kira tiga puluh enam jam di dalam kubur; dan jumlah keseluruhannya delapan puluh empat jam semenjak dari permulaan paskah sampai kepada kebangkitan. 

Sekarang tandailah, bahwa semenjak dari waktu orang-orang Yahudi menangkap Kristus (Kamis jam dua belas) sampai kepada kebangkitan-Nya (Minggu jam dua belas), ada tujuh puluh dua jam tepat atau tiga hari dan tiga malam. Demikianlah genap kata-kata Yesus : “Karena sebagaimana Yunus berada tiga hari dan tiga malam di dalam perut ikan paus; sedemikian itu pula kelak Anak Manusia akan berada di dalam jantung bumi.” (Matius 12 : 40). Pendapat yang mengatakan bahwa di dalam “jantung bumi” berarti di dalam kubur adalah perkiraan manusia tanpa landasan Alkitab. Kalau saja yang Juruselamat maksudkan adalah mengenai pengalaman-Nya di dalam kubur, maka Ia sudah akan mengatakan demikian. Jika kubur-Nya berada di dalam pusat bumi -- kira-kira 4000 mil di bawah permukaan (jantung bumi) maka orang dapat mengira bahwa yang dimaksudkan-Nya jantung bumi. Yesus menggunakan kata-kata itu untuk menunjukkan bahwa Ia akan berada tiga hari dan tiga malam dalam tangan orang-orang berdosa, dan di dalam kubur. Mengapakah orang-orang berdosa disebut “jantung bumi”? Sebab manusia telah diciptakan dari bumi menurut Kejadian 3 : 19, “Karena kamu adalah tanah, dan kepada tanah juga kamu akan kembali”. 

Untuk hal ini kami ingin menarik perhatian pembaca kepada bagan pada halaman 22, bahasa Inggris. Perhatikanlah mengenai pengetahuan yang tak terbatas yang digunakan untuk menciptakan gambaran mengenai korban yang besar (Salib) itu bagi umat manusia, yang merupakan suatu bukti akan kasih Allah yang tak terhingga. Pertama-tama perhatikanlah, bahwa jarum lonceng itu telah memutar tiga kali. Catatlah bahwa setiap peristiwa ada tiga jam tersendiri (3 x 9 dan 6 x 12), membentuk salib itu. 

Sekarang perhatikanlah bahwa kedudukan dari salib itu seperti terlihat pada lonceng tidak memperlihatkan keseimbangan yang tepat. Tetapi jika pembaca mau

memutar diagram itu terbalik seperti semula, yang akan menunjukkan bagaimana lonceng kuno mengatur waktu   -- yang diatur oleh masuk matahari pada jam dua belas, maka salib itu akan kelihatan dalam bentuknya yang sempurna; demikianlah kita memperoleh suatu gambaran lain dari hal kesempurnaan Ilahi. 

Garis yang memotong permukaan jam di antara jam empat dan lima, sepuluh dan sebelas -- menandai kutub utara dan kutub selatan, memberikan kedudukan yang tepat dari bumi selama perjalanannya pada orbit tahunannya. Sekarang lihatlah ke atas sebelah kanan pada matahari seperti halnya pada waktu itu dalam hubungannya yang tepat dengan bumi, sementara ia itu gelap dari jam enam sampai jam sembilan dan kita saksikan matahari berdiri dalam posisinya yang tepat di atas jam-jam itu yang tetap dalam kegelapan. Bukankah gambar ini sempurna -- tidak dapat dibantah? Jika demikian, dapatkah seorang mahluk yang bijaksana membayangkan bahwa semua ini telah terjadi secara kebetulan? Bukankah ini menunjukkan bukti yang tidak mungkin salah, bahwa Allah telah lebih dahulu mengatur semuanya, dan bahwa oleh kuasa-Nya yang besar ia itu telah terjadi untuk mengajarkan kepada anak-anak-Nya mengenai rencana-Nya, dan keselamatan yang ditawarkan kepada mereka? Rasul Paulus mengatakan : “Segala pekerjaan itu sudah lengkap semenjak dari masa kejadian dunia”. (Ibrani 4 : 3). Yohanes juga menyatakan bahwa anak domba telah dibantai semenjak dari kejadian dunia. (Lihat Wahyu 13 : 8). Orang berdosa, “Tengoklah Anak Domba Allah yang menghapuskan dosa dunia”. 

Walaupun anak domba paskah itu melambangkan penyaliban Kristus, bukanlah dimaksudkan bahwa Ia harus dikorbankan pada hari anak domba itu dibunuh. Kenyataan ini terbukti dengan sendirinya, karena anak domba itu dibunuh di malam hari dan Kristus disalibkan pada pagi hari -- tiga jam setelah matahari terbit,   -- dan Ia mati tiga jam sebelum malam. 

* * *

NUBUATAN DARI DANIEL DAN WAHYU DARI YOHANES BERISIKAN SEJARAH DUNIA

“Berbahagialah orang yang membaca, dan mereka yang mendengarkan kata-kata dari nubuatan ini, dan memeliharakan segala perkara itu yang tertulis di dalamnya : karena masanya sudah dekat.” (Wahyu 1 : 3).

“Janganlah seorangpun mengira, bahwa karena mereka tidak dapat menjelaskan arti dari setiap simbol yang ada di dalam buku Wahyu, maka tak ada gunanya bagi mereka untuk menyelidiki buku ini dalam usahanya untuk mengetahui arti dari kebenaran yang terkandung di dalamnya. Dia yang mengungkapkan rahasia-rahasia ini kepada Yohanes akan memberikan kepada penyelidik kebenaran yang tekun suatu selera terhadap perkara-perkara samawi. Orang-orang yang hatinya selalu terbuka untuk menerima kebenaran akan mampu memahami ajaran-ajarannya, dan mereka akan dikaruniai berkat-berkat yang dijanjikan kepada orang-orang yang ‘mendengarkan kata-kata dari nubuatan ini, dan memeliharakan segala perkara itu yang tertulis di dalamnya’.” -- “The Acts of the Apostles”, halaman 584. 

“Di dalam buku Wahyu semua buku Alkitab bertemu dan berakhir. Di sinilah pelengkap dari buku Daniel itu. Yang satu adalah nubuatan; yang lainnya sebuah Wahyu. Buku yang termeterai itu bukanlah buku Wahyu, melainkan bagian dari nubuatan Daniel itu yang berhubungan dengan akhir zaman. Malaikat itu memerintahkan, ‘Tetapi akan dikau, hai Daniel, tutuplah semua perkataan itu, dan meteraikanlah buku itu, sampai kepada akhir zaman’.” -- “The Acts of the Apostles”, halaman 585. 

“Angka bilangan tujuh menunjukkan kelengkapan ….. sebaliknya simbol-simbol yang digunakan itu mengungkapkan keadaan sidang pada periode yang berbeda-beda dalam sejarah dunia.” -- “The Acts of the Apostles”, halaman 585.

“Manusia-manusia yang serba terbatas hendaklah berhati-hati mencoba untuk mengontrol sesama mereka, dengan mengambil tempat yang disediakan bagi Roh Suci. Janganlah ada orang yang merasa bahwa adalah hak mereka untuk memberikan kepada dunia apa saja yang disangkanya kebenaran, lalu menolak setiap perkara yang akan diberikan bertentangan dengan pendapat-pendapat mereka. Ini bukan tugas mereka. Banyak perkara akan tampak jelas sebagai kebenaran, tetapi kelak tidak akan diterima oleh mereka yang menyangka hasil-hasil interpretasinya sendiri terhadap Firman adalah selalu benar. Perubahan-perubahan yang sangat menentukan harus ditempuh terhadap pendapat-pendapat yang telah diterima sebagian orang sebagai tanpa salah.” -- “Testimonies to Ministers”, p. 76.

Sebagian besar dunia Kristen mengakui bahwa kita kini hidup dalam akhir zaman dari sejarah dunia ini. Ketika Yesus ditanya oleh murid-murid-Nya mengenai tanda-tanda kedatangan-Nya kembali ke bumi, dan mengenai akhir dunia ini, maka salah satu dari banyak tanda yang diberitahukan-Nya adalah, “Sebab itu apabila kamu kelak menyaksikan kekejian yang mendatangkan kebinasaan itu seperti yang dibicarakan oleh nabi Daniel, maka berdirilah di tempat yang suci, (barangsiapa

yang membaca hendaklah ia mengerti).”  (Matius 24 : 15). Ternyata dari kata-kata Guru bahwa buku Daniel berisikan informasi mengenai tanda-tanda zaman dan akhir dunia. Nubuatan-nubuatan Daniel itu adalah tidak banyak berarti bagi murid-murid itu maupun sidang Kristen yang mula-mula, sebab Daniel mengatakan buku itu adalah tersegel sampai ke akhir zaman. (Daniel 12 : 4). Maka karena buku itu kini telah terbuka, jelaslah bahwa kita sekarang berada di akhir zaman. (Wahyu 22 : 6 – 10). Tetapi buku itu akan terbuka bagi kelas umat yang satu dan tertutup bagi kelas yang lainnya, karena ditegaskan-Nya lagi, “Banyak orang akan disucikan dan diputihkan, dan dicobai; tetapi orang jahat akan makin berbuat kejahatan; dan tak seorangpun dari orang-orang jahat itu akan mengerti; tetapi orang-orang bijaksana akan mengerti.” (Daniel 12 : 10). Oleh sebab itu, adalah penting sekali bahwa kita seharusnya bebas dari segala bentuk kejahatan dan supaya mematuhi semua persyaratan-persyaratan Ilahi, jika kita ingin mengerti dan menerima semua berkat yang terkandung di dalam buku itu. 

Tujuan dari penerbitan ini bukanlah untuk menjelaskan simbol-simbol yang sampai pada waktu ini telah sepenuhnya dijelaskan di dalam berbagai macam penerbitan dan telah dibuktikan benar dalam garis besarnya sampai sekarang, tetapi maksud kami adalah untuk menjernihkan beberapa bagian tertentu yang telah dirahasiakan oleh Roh Allah selama sesuatu masa. Simbol-simbol terkenal yang banyak telah dikenal oleh siswa-siswa Alkitab, akan digambarkan secara singkat, sekedar cukup untuk menghubungkan ingatan dengan simbol-simbol itu yang akan dijelaskan. Kami akan berusaha untuk membuktikan bahwa simbol-simbol dari buku Daniel dan buku Wahyu berisikan keseluruhan sejarah dunia, baik sipil maupun agama, semenjak dari kejadian dunia sampai kepada penebusan. 

Di dalam Daniel pasal dua, dimulai dengan kerajaan dunia yang pertama (Babil) sesudah air bah, kita memperoleh sejarah dunia semenjak dari sana sampai kepada kedatangan Kristus yang kedua kali, atau sampai kepada akhir dunia ini, yang ditunjukkan dalam bentuk sebuah patung logam yang besar. “Ya Raja, tuanku telah melihat, maka tengoklah ada sebuah patung besar. Patung yang besar ini, yang keindahannya adalah sempurna berdiri di hadapan tuanku, dan bentuknya adalah hebat. Kepala patung ini terbuat dari emas tua, dadanya dan lengannya dari perak, perut dan pinggangnya dari tembaga, pahanya dari besi, kaki-kakinya sebagian dari besi dan sebagiannya dari tanah liat. Terlihat oleh tuanku hingga sebuah batu terpotong keluar tanpa pertolongan tangan, yang menimpa patung ini pada kakinya yang berasal dari besi dan tanah liat itu, dan dihancurkannya berkeping-keping. ….. Maka dalam zaman raja-raja ini oleh Allah yang di surga akan didirikan sebuah kerajaan, yang tidak akan pernah dapat dibinasakan : maka kerajaan itu tidak akan diserahkan kepada bangsa lain, tetapi ia itu akan menghancurkan berkeping-keping, dan melenyapkan semua kerajaan ini, dan ia sendiri akan berdiri selama-lamanya. Karena sebagaimana tuanku melihat batu itu terpotong keluar dari gunung tanpa pertolongan tangan, dan bahwa ia itu menghancurkan berkeping-keping besi, tembaga, tanah liat, perak, dan emas : maka Allah yang besar telah memberitahukan kepada raja apa yang kelak akan

___ GAMBAR ____

jadi kemudian : dan mimpi itu adalah pasti, dan interpretasinya pun adalah benar.” (Daniel 2 : 31 – 34, 44, 45).

Emas, perak, tembaga, dan besi telah diinterpretasikan melambangkan Babil, Medo-Persia, Yunani dan Romawi. Campuran besi dan tanah liat -- kaki dan jari-jari -- kerajaan-kerajaan yang ada sekarang yang datang setelah keruntuhan Romawi. Betapa indahnya nubuatan ini, begitu sederhananya dan benar. Tetapi patung yang besar ini hanya mengungkapkan kerangka dari sejarah dunia kita yang ada.

Di dalam Daniel pasal tujuh kita memperoleh juga susunan kronologis yang sama dalam bentuk simbol-simbol dari berbagai binatang buas. Alasan bagi adanya penyalinan ini ialah untuk mengungkapkan secara terperinci peristiwa-peristiwa sejarah yang akan terjadi di dalam kerangka dari patung besar itu. “Maka jawab Daniel, katanya : Aku tampak dalam khayalku pada malam, maka tengoklah, telah turun empat angin dari langit yang menimpa ke atas lautan yang luas. Maka empat binatang buas yang besar-besar naik dari dalam laut itu, yang satu berlainan daripada yang lainnya. Yang pertama itu seperti singa dan ia bersayap seperti burung garuda : maka ku lihat sampai tercabut sayap-sayap itu, lalu ia itu diangkat dari bumi, dan dibuat berdiri pada kakinya seperti manusia, dan kepadanya diberikan hati manusia. Maka tengoklah seekor binatang lain, yang kedua, rupanya seperti beruang, maka berdirilah ia pada sisi yang satu, dan ada tiga tulang rusuk dalam mulutnya di antara gigi-giginya : maka kata mereka kepadanya demikian, Bangkitlah, makanlah olehmu daging yang banyak. Kemudian daripada ini ku lihat, bahwasanya ada pula seekor binatang yang lain, seperti macan tutul rupanya, dan padanya ada empat sayap burung pada belakangnya; dan lagi ia berkepala empat; maka telah diberikan kepadanya pemerintahan. Kemudian dari ini aku lihat dalam khayal pada malam, bahwa sesungguhnya ada binatang yang keempat, mengerikan dan hebat, dan sangat kuat rupanya; maka ia itu memiliki gigi-gigi besi yang besar-besar : maka ditelan olehnya dan dihancurkannya, dan dipijak-pijaknya dengan kakinya semua yang tersisa : dan ia berbeda daripada segala binatang yang mendahuluinya; dan ia memiliki sepuluh tanduk. Maka sementara aku mengamat-amati tanduk-tanduk itu, maka tengok, muncullah di antara tanduk-tanduk itu sebuah tanduk kecil lainnya, olehnya juga tiga tanduk dari tanduk-tanduk yang terdahulu itu tercabut sampai dengan akar-akarnya; maka sesungguhnya pada tanduk yang kecil ini terdapat mata seperti mata manusia dan suatu mulut yang membicarakan perkara-perkara yang besar.” (Daniel 7 : 2 – 8). 

Singa, beruang, macan tutul, dan binatang yang tak tergambarkan itu menggambarkan kerajaan-kerajaan yang sama seperti halnya emas, perak, tembaga dan besi. Lambang-lambang yang aneh dan yang tidak alamiah yang berkaitan dengan binatang-binatang itu, yaitu, sayap-sayap, tulang-tulang rusuk, tanduk-tanduk, dan kepala-kepala, adalah sanggup mengungkapkan rahasia-rahasia dari peristiwa-peristiwa sejarah yang akan terjadi di dalam periode-periode nubuatan yang besar itu. Hal yang sangat ajaib mengenai simbol-simbol nubuatan ini ialah, bahwa semuanya itu adalah benar-benar mampu untuk mengungkapkan kebenaran, dan sekali dapat dipahami dengan benar, maka semuanya itu tidak dapat dipertentangkan lagi. Setiap interpretasi terhadap nubuatan-nubuatan simbolis yang tidak tepat sempurna dengan penjelasan yang diberikan tidak akan pernah menjadi pegangan. Interpretasi terhadap simbol-simbol yang sedemikian ini tidak

____ GAMBAR ____

[empty page]

hanya harus sejalan sesuai dengan keseluruhan tujuan dari buku dan hukum Allah, melainkan ia juga harus menunjukkan sesuatu pelajaran penting bagi umat Allah; sehingga apabila suatu penjelasan yang sedemikian ini, seperti yang dimaksud, diambil dari Injil, maka hanya dengan begitulah kita memperoleh kebenaran. 

Sementara kepala yang dari emas pada patung besar itu melambangkan kerajaan Babil pada puncak kebesarannya, maka singa itu meliputi suatu masa periode yang luas sesuai dengan yang tertulis pada Kejadian 10 : 8 – 10 : “Maka Kusy memperanakkan Nimrod; maka mulailah ia menjadi seorang yang perkasa di bumi. Ia adalah seorang pemburu yang perkasa di hadapan Allah : oleh sebab itu akan halnya dikatakan, laksana Nimrod pemburu yang gagah perkasa itu di hadapan Tuhan. Dan permulaan dari kerajaannya adalah Babil, dan Erekh, dan Akad, dan Kalneh, semuanya di tanah Sinear.” Permulaan dari kerajaannya Nimrod ialah “Babil”, atau sebagaimana di dalam bahasa Yunani disebut “Babilon”. Pemerintahannya meliputi empat kota di dataran itu; yaitu Babilon, Erekh, Akad, dan Kalneh. Kalau saja pembaca mau melihat kepada Kejadian 8 : 1 – 8 lalu dengan seksama menghitung-hitung orang-orang yang dilahirkan dari keluarga Nuh sesudah mereka itu keluar dari bahtera yang selamat dari air bah itu sampai kepada kelahiran Nimrod, maka dapatlah dicatat bahwa Nimrod adalah orang yang ke 26 yang lahir sesudah air bah. Lokasi dari kota itu adalah di tanah Sinear, sesuai yang tertulis di dalam Kejadian 11 : 2 : “Maka jadilah kelak, tatkala mereka itu berjalan dari sebelah timur, bahwa didapatinya suatu padang yang luas di tanah Sinear; maka tinggallah mereka di sana.” 

Nama Babil (Babilon dalam bahasa Yunani) lahir pada waktu itu selagi tugu Babil sementara dibangun, setelah mana Allah mengacaukan orang banyak itu oleh bahasa yang berlain-lainan. Menurut Daniel ibukota dari Babilon terletak pada dataran yang sama : “Maka Tuhan menyerahkan Yoyakim, raja Yehuda ke dalam tangannya (Raja Babilon), ..... yang dibawanya ke tanah Sinear.” (Daniel 1 : 2). Oleh sebab itu Babilon telah didirikan segera sesudah air bah, kira-kira di antara tahun 2400 dan 2300 Sebelum Tarik Masehi, dan ia telah mencapai puncak kebesarannya sebagai suatu kerajaan dunia umumnya di antara tahun 400 atau 500 Sebelum Tarik Masehi. Babilon dalam perkembangannya telah meliputi suatu masa periode kira-kira 1800 tahun atau lebih. Tentu saja tidak seorangpun akan mengira bahwa Babilon adalah terlalu cepat dalam usahanya untuk menguasai dunia tua yang lalu. 

LAMBANG DARI SAYAP DAN TULANG-TULANG RUSUK 

Kita dapat sekarang mempertanyakan arti dari sayap-sayap yang terdapat pada singa itu dan pada macan tutul; juga tulang-tulang rusuk yang terdapat di dalam mulut beruang. Sayap-sayap pada singa itu tentunya tidak mungkin melambangkan kecepatan, sebagaimana yang diajarkan oleh beberapa orang. Jika sekiranya sayap harus melambangkan kecepatan, maka sayap-sayap itu sudah harus terdapat pada beruang, sebab Koresh dan Darius mengalahkan Babilon tua itu pada malam hari. Selanjutnya, jika sayap melambangkan kecepatan pada binatang yang satu, sayap-sayap itu harus juga melambangkan yang sama pada binatang yang lainnya. Dapatkah sayap-sayap itu melambangkan kecepatan pada binatang macan tutul yang berkepala empat itu? Tentu saja tidak. Suatu penelitian yang seksama terhadap simbol-simbol

menunjukkan, bahwa binatang macan tutul itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan kemenangan Alexander atas Medo-Persia. Macan tutul itu melambangkan kerajaan yang ada sesudah kemenangan itu dicapai. Empat kepala itu adalah empat bagian Yunani setelah kematian Alexander, yaitu “Cassander, Lycimachus, Ptolemy, dan Seleucus”. 

Peperangan dan kemenangan di antara Medo-Persia dan Yunani disampaikan kepada perhatian kita di dalam Daniel 8 : 5 – 7 : “Maka sementara aku memperhatikannya, tampaklah seekor kambing jantan datang dari sebelah barat yang melintasi seluruh muka bumi, tanpa menyentuh tanah : dan kambing jantan itu mempunyai sebuah tanduk yang terkenal di antara kedua matanya. Maka datanglah ia mendapatkan domba jantan yang memiliki dua tanduk itu, dan yang telah ku lihat berdiri di hadapan sungai itu, maka ia pun menerjangnya dengan sangat kuatnya. Dan aku melihatnya datang mendekati domba jantan itu, dan ia menerjangnya dengan geramnya, dan menanduknya dan mematahkan kedua pucuk tanduknya; maka domba jantan itu tiada berdaya lagi untuk berdiri di hadapannya, maka dihempaskannya akan dia ke tanah, dan dipijak-pijaknya akan dia, dan tak seorangpun yang dapat melepaskan domba jantan itu dari kuasanya.” 

Di dalam ayat 20, 21 kepada Daniel diceritakan oleh malaikat, bahwa kambing jantan itu “ialah Yunani”, domba jantan itu ialah “Medo-Persia”, dan tanduk yang terkenal di antara kedua matanya itu ialah, “rajanya yang pertama.” Oleh sebab itu kemenangan Alexander yang cepat itulah yang dilambangkan oleh “kambing jantan itu” yang tidak menyentuh tanah. Jika sayap harus melambangkan kecepatan, maka sayap-sayap itu sudah akan terdapat pada “kambing jantan” dan bukan pada macan tutul itu. Oleh karena kebenaran dari apa yang telah dikatakan di atas tidak dapat disangkal, dan karena pendapat yang telah dipegang oleh sebagian orang adalah bertentangan dengan simbol-simbol itu, maka kita harus mencari dari tempat lain untuk pemakaian “sayap-sayap” itu. Kami kira adalah jauh lebih aman dan bijaksana, bahkan lebih beralasan bagi seseorang untuk mengakui kekeliruannya -- karena sebagai orang-orang fana kita banyak berbuat kekeliruan -- daripada ikut terlibat dalam interpretasi-interpretasi terhadap Firman Allah yang bertentangan. 

Pertama-tama kita harus mengerti, bahwa oleh bantuan simbol-simbol ini Ilham sedang mencatat keseluruhan sejarah dunia. Janganlah kita lupa bahwa ada sebuah dunia pada sebelum air bah yang lalu. Jika seseorang dari kita hendak mengusahakan prestasi arsitektural yang indah ini untuk merencanakan suatu kerangka, atau bagan, dari sejarah dunia ini, maka kita tentunya akan memikirkan suatu perhitungan yang lengkap dari keseluruhan bagian-bagiannya. Allah yang tak terbatas kepintaran-Nya itu maupun kuasa-Nya tentu saja tidak akan mau melewati begitu saja atau dengan sengaja melalaikan di dalam bagan peristiwa-peristiwa sejarah-Nya yang besar itu untuk mempertimbangkan juga dunia-Nya sebelum air bah.

Suatu catatan dari sebuah penyelidikan Ilahi mengenai sejarah dunia ini semenjak dari kejadian dunia sampai kepada penebusan akan sangat penting pada waktu ini. Dalam suatu zaman kekapiran, atheisme, dan kemunafikan, orang-orang yang mengaku dirinya bijaksana secara duniawi, maupun dalam masalah-masalah agama, mereka telah sesat dari sumber kepintaran dan pengetahuan yang sebenarnya. “Sebab itu, apabila mereka mengenal Allah, mereka tidak akan memuliakan-Nya sebagai Allah, ataupun

____ GAMBAR _____

DANIEL 7 : 2, 4

[empty page]

___ GAMBAR ___

DANIEL 7 : 5

[empty page]

___ GAMBAR___

DANIEL 7 : 6 

[empty page]

bersyukur kepada-Nya; melainkan mereka menjadi sia-sia di dalam semua kepikirannya, dan hatinya yang bodoh menjadi digelapkan. Mengaku dirinya pintar, maka mereka menjadi orang-orang bodoh.” (Roma 1 : 21, 22). Bahkan orang-orang yang mengaku dirinya guru-guru kebenaran, mereka telah kehilangan iman mereka dalam perhitungan Alkitab mengenai kejadian dunia. Allah karena mengetahui akan penolakan terhadap firman-Nya secara sesat sekarang ini, maka Ia telah merencanakan suatu kerangka nubuatan dalam simbol dari binatang-binatang buas, sayap-sayap, tulang-tulang rusuk, tanduk-tanduk, kepala-kepala, mahkota-mahkota, dan sebagainya, oleh mana Ia menunjukkan di dalam gambaran nubuatan ini kepada kenyataan-kenyataan, dengan disertai kuasa yang akan merendahkan manusia serta menunjukkan kepada mereka itu keseluruhan kebodohannya dan kegagalan kepintarannya.

Menurut perhitungan Alkitab air bah itu datang lebih dari 1600 tahun sesudah kejadian dunia. Allah menciptakan keturunan umat manusia itu berasal dari Adam dan Hawa. Oleh sebab itu, hanya ada satu umat, satu keturunan, satu bahasa dan bangsa semenjak dari kejadian dunia sampai kepada air bah. Pemerintahan yang dikaruniakan kepada Adam itu kami sebut kerajaan dunia Adam yang pertama. Babilon adalah yang kedua; Medo-Persia yang ketiga; Yunani yang keempat; Romawi yang kelima; Romawi yang terpecah-pecah (yang dilambangkan oleh kaki-kaki dan jari-jari kaki dari patung besar Daniel pasal 2, yang merupakan bangsa-bangsa beradab yang tidak stabil sekarang ini) ialah yang keenam; dan semenjak dari berakhirnya seribu tahun millenium setelah kebangkitan orang-orang jahat sampai kepada kematian mereka yang kedua kali, ialah yang ketujuh dan terakhir. Demikianlah angka bilangan Alkitab tujuh sebagaimana biasanya menunjukkan kelengkapan. Oleh sebab itu, tujuh kerajaan dunia yang sedemikian ini mengungkapkan sebuah sejarah dunia yang lengkap, menunjukkan akhir dari dosa dan pemerintahannya.

Kalau saja kita manusia yang fana harus merencanakan suatu bagan yang sedemikian ini oleh simbol binatang-binatang buas, maka pasti kita akan memiliki inteligensia yang cukup untuk memberi nomor kepada setiap binatang menurut urutannya yang benar. Kita tidak mungkin mengira bahwa Allah adalah kurang teliti dalam ketepatan-Nya yang menakjubkan. Oleh sebab itu Ia telah menentukan nomor setiap binatang. Kita pertama-tama harus menyadari bahwa sejarah Wasiat Lama telah dilambangkan oleh patung logam yang besar; yaitu, Emas -- Babilon; perak -- Medo-Persia; tembaga -- Yunani. Emas ialah yang utama dari semua logam yang akan berdiri sebagai nomor satu; perak adalah yang kedua dari emas, sebab itulah nomor dua; tembaga adalah yang ketiga dari emas, berarti nomor tiga. Singa, beruang, dan macan tutul diberi nomor dengan cara sedemikian ini. Singa adalah raja atau yang utama dari binatang-binatang buas, maka sebab itu nomor satu, sejajar dengan emas. Beruang ialah yang kedua dari singa, sebab itu nomor dua, sejajar dengan perak. Macan tutul ialah yang ketiga dari singa, karena itulah nomor tiga, sejajar dengan tembaga. Semuanya ini adalah rangkaian nomor yang pertama, tetapi masih ada rangkaian nomor lainnya yang harus kita bicarakan.

Semuanya ini akan membawa kita kembali kepada pokok masalah kita mengenai apa yang dimaksudkan dengan sayap-sayap yang terdapat pada singa maupun pada macan tutul itu, dan tulang-tulang rusuk yang terdapat di dalam mulut beruang. Allah tentunya tidak akan menggambarkan peta sejarah dunia, semenjak dari air bah sampai kepada akhirat, dan

gagal memperhitungkan semua bagian-bagiannya. Harus ada sesuatu di dalam bagan mengenai peristiwa-peristiwa sejarah ini untuk menunjukkan bahwa Ia mempunyai suatu kerajaan dunia sebelum air bah itu, seperti yang dijelaskan sebelumnya. Bahwa kerajaan itu merupakan yang pertama, dengan sendirinya berdiri sebagai nomor satu; Babilon nomor dua; Medo-Persia nomor tiga; dan Yunani nomor empat. Jika pernyataan ini benar, maka kita harus mencarikan rangkaian angka-angka ini pada singa, beruang dan macan tutul itu.

Sayap-sayap pada singa itu menunjukkan kerajaan nomor dua. Singa secara alamiah adalah yang pertama -- yang pertama dari air bah, tetapi (secara tidak alamiah) karena dua sayapnya, maka adalah yang kedua semenjak dari kejadian dunia. Tulang-tulang rusuk di dalam mulut beruang itu menunjukkan kerajaan nomor tiga. Beruang itu secara alamiah adalah yang kedua semenjak dari air bah, tetapi (secara tidak alamiah) karena tiga tulang rusuk itu adalah yang ketiga semenjak dari kejadian dunia; tulang-tulang rusuk telah digunakan, karena sayap selalu berpasangan. Empat sayap yang terdapat pada macan tutul itu menunjukkan, bahwa Yunani adalah kerajaan dunia yang keempat. Macan tutul secara alamiah adalah yang ketiga semenjak dari air bah, tetapi (secara tidak alamiah) karena sayap-sayap itu, ia adalah yang keempat semenjak dari kejadian dunia. Sejarah terus terbang, maka sebab itu sayap merupakan simbol yang tepat. 

“BANGKITLAH, MAKANLAH DAGING YANG BANYAK”

“Bangkitlah engkau, makanlah daging yang banyak”, demikian kata rusuk-rusuk itu kepada beruang. (Daniel 7 : 5). Kerajaan Medo-Persia membuka jalan bagi peperangan-peperangan antara kerajaan, oleh sebab itu : “Bangkitlah engkau, makanlah daging yang banyak”. Demikianlah kerajaan demi kerajaan terjerumus jatuh ke dalam peperangan-peperangan berdarah. Tulang-tulang rusuk di dalam mulut beruang itu tidak mungkin berarti bangsa-bangsa, seperti yang diajarkan oleh sebagian orang, karena bangsa-bangsa dilambangkan oleh tanduk-tanduk, dan bukan oleh tulang-tulang rusuk. Juga tidak mungkin rusuk-rusuk itu menunjuk kepada daerah-daerah propinsi tertentu yang tidak berhasil dikuasai oleh Medo-Persia, karena ia sudah menguasai rusuk-rusuk itu di dalam mulutnya, dan adalah tidak konsisten untuk mengira bahwa orang-orang Persia itu sudah akan menindas negara-negara bagian tertentu lebih daripada yang lainnya. Kalau memang hal itu demikian, beruang itu sudah akan memijak-mijak mereka seperti yang diperbuat oleh binatang yang tak tergambarkan itu. (Ayat 7). Simbolnya adalah bertentangan dengan perkiraan yang sedemikian itu, maka tidak ada satupun bukti ataupun pelajaran yang dapat ditarik dari sesuatu teori yang sedemikian itu. 

TERCABUT SAYAP-SAYAP DARI SINGA ITU

Kita kembali kepada singa, lambang dari Babilon, Daniel mengatakan : “Yang pertama itu adalah seperti singa, dan ia memiliki sayap-sayap burung garuda : maka kulihat sampai tercabutlah sayap-sayapnya itu, maka terangkatlah ia dari atas bumi, lalu ia dibuat berdiri pada kakinya seperti manusia, dan diberikan kepadanya suatu hati manusia.” (Daniel 7 : 4). “Sayap-sayapnya tercabut”. Simbol ini menunjukkan hal yang sama seperti tercabutnya tiga pucuk tanduk dari binatang yang tak tergambarkan itu. (Ayat 8). Jika tercabutnya tanduk-tanduk itu menunjukkan kerajaan-kerajaan mereka diambil dari padanya, maka tercabutnya sayap-sayap itu akan menunjukkan bahwa Babilon sebagai kerajaan nomor dua akan berlalu, menggenapi hasil interpretasi Daniel mengenai tulisan tangan yang terdapat pada

[empty page]

___ GAMBAR ____

tembok : “Inilah interpretasi dari perkataan itu : Mene, Allah telah  menghitung kerajaan tuanku, dan mengakhirinya.” (Daniel 5 : 26). Oleh sebab itu, Babilon jatuh ke dalam tangan dari raja-raja Medo-Persia itu. Dengan demikian sayap-sayapnya “tercabut”, dan kerajaan Medo-Persia itu, nomor tiga, menggantikan singa, yaitu nomor dua. 

JANTUNG HATI (HEART) MANUSIA DIBERIKAN KEPADANYA 

Setelah sayap-sayap dari singa itu tercabut, maka Daniel mengatakan : “Ia dibuat berdiri pada kakinya seperti manusia, dan suatu hati manusia diberikan kepadanya.” Apapun yang diartikan oleh kedudukan dari binatang itu dan perubahan hatinya, aplikasinya adalah tetap sesudah Babilon jatuh ke bawah pemerintahan Medo-Persia, sebab ia berdiri sebagai manusia setelah sayap-sayapnya “tercabut”. Jika kita hendak memperoleh pengertian dari simbol itu, kita harus pertama-tama memikirkan fungsi dari jantung/hati (heart), sebab simbol itu sendiri harus sempurna, sebab jika tidak, kebenarannya tidak dapat ditentukan. 

Fungsi dari jantung (heart) ialah untuk mempertahankan daya hidup di dalam tubuh. Biarkanlah jantung itu berhenti, maka segala-galanya akan lenyap. Organ tubuh yang sangat penting ini adalah pengatur tubuh. Seperti halnya sebuah kerajaan adalah terdiri dari banyak orang pribadi, berikut berbagai kebutuhan mereka, demikian itu pula dengan tubuh yang hidup terdiri dari sejumlah besar sel-sel hidup, berikut semua kepentingannya. Sebagaimana tugas dari seorang raja adalah mempertahankan daya hidup di dalam kerajaannya, juga menghukum atau mencabut sampai kepada akar-akar segala kejahatan serta mengawasi melindungi semua yang baik, demikian itu pula yang diperbuat oleh jantung. Dengan cara mengembang dan mengempis ia mengontrol dan memberikan aliran, daya hidup dalam bentuk darah bersih. Bukti yang dikumpulkan sejauh ini membuktikan bahwa jantung adalah lambang yang tepat dari seorang raja. Namun kita harus memperinci perbedaan di antara hati manusia dan hati binatang. Daniel 4 : 16, berbicara mengenai hukuman yang dijatuhkan atas raja itu sebelum ia diusir keluar dari tahtanya ke padang bersama-sama dengan binatang-binatang, mengatakan : “Biarlah hatinya berubah dari hati manusia dan biarlah hati binatang diberikan kepadanya; dan biarlah tujuh masa berlaku baginya.” Setelah hati raja itu berubah, maka ia kehilangan rasionya, dan secara alamiah ia menjadi sama dengan seekor lembu. “Maka pada jam yang sama itu juga perkara itu genaplah atas Nebukadnezar; maka ia diusir dari antara manusia, lalu ia memakan rumput seperti lembu dan tubuhnya basah dengan air embun, dari langit, sehingga rambutnya tumbuh bagaikan bulu burung garuda, dan kuku-kukunya seperti cakar unggas.” (Daniel 4 : 33). 

Kecerdasan manusia tidak terdapat dalam bentuk lahiriah dari kemanusiaannya, melainkan sebaliknya ia itu terdapat di dalam hati manusia. Pendapat ini adalah tegas dianut oleh Injil : “Karena dari dalam kelimpahan hati mulut berbicara.” Oleh sebab itu, simbol (hati manusia) dapat menunjukkan intelegensia. Tetapi simbol ini tidak dapat menyimpulkan pandangan manusia, melainkan sebaliknya suatu

pengertian Allah yang tepat, karena Alkitab mengatakan : “Orang bodoh mengatakan di dalam hatinya, bahwa tidak ada Allah.” (Mazmur 53 : 1). Memperoleh suatu pandangan yang jelas mengenai kekuasaan yang tak terhingga dari Dia Yang Kekal itu ialah yang Allah sebut pendidikan yang benar. Kesimpulan dari simbol itu ialah, bahwa Babilon dipaksa untuk mengakui adanya Dia Yang Maha Tinggi dengan cara menyingkirkan raja yang satu (hati binatang) dan mendudukkan raja yang lain (hati manusia). 

Setelah menjelaskan apa yang tampaknya dimaksudkan oleh simbol itu, kita harus meninjau sejenak kepada kerajaan kuno itu untuk melihat apakah memang hasil interpretasi ini sepenuhnya dapat ditunjang oleh hati simbolis itu. Karena contoh yang kekal yang dikemukakan melalui air bah itu bagi generasi-generasi yang akan datang ternyata telah gagal untuk mengajarkan kepada para pemimpin orang Kasdim itu akan kuasa Allah dan eksistensi-Nya, maka Pencipta manusia dalam kemurahan-Nya, panjang sabar-Nya, tidak rela membiarkan seorangpun binasa, telah melakukan suatu usaha terbesar untuk menyelamatkan bangsa itu. “Tuhan tidak berlambatan mengenai janji-Nya, sebagaimana sebagian orang menganggapnya lambat; melainkan Ia adalah panjang sabar terhadap kita, tidak rela seorangpun binasa, melainkan agar hendaknya semuanya datang kepada pertobatan.” (2 Petrus 3 : 9). 

Pada waktu mimpi mengenai patung yang besar itu diberikan kepada Nebukadnezar ingatannya mengenai obyek itu lenyap, tetapi kesan yang tertinggal di dalam pikirannya adalah sangat meningkat. Setelah tuntutannya yang mendesak dari orang-orang pintarnya gagal mengungkapkan mimpi raja itu, maka Daniel, oleh perantaraan wahyu Ilahi, mengungkapkan rahasia keajaiban itu dengan cara menginterpretasikan mimpinya itu. Keajaiban yang menakjubkan ini seharusnya sudah menobatkan raja itu berikut semua orang pintarnya di Babilon kepada ibadahnya bangsa Ibrani, karena oleh kuasa dari Allahnya Daniel mereka telah luput dari hukuman mati. Tetapi ternyata tidak ada perubahan apapun bagi yang lebih baik. Walaupun raja itu menghormati Allah dengan bibirnya, hatinya ternyata jauh dari pada-Nya. Raja itu tidak juga membinasakan segala dewa yang ada di negeri itu, melainkan justru dalam kebutaannya ia terus maju mendirikan dewa-dewa yang lebih hebat lagi; karena tak lama kemudian sesudah mimpinya itu diungkapkan pengertiannya ia telah meminta kepada semua rakyatnya untuk menyembah “patung emas” yang didirikannya di lapangan Dura. (Bacalah Daniel pasal tiga).

Penolakan tiga pemuda Ibrani itu untuk menyembah sujud kepada dewa, serta keajaiban dengan mana mereka telah diselamatkan dari dapur api yang bernyala-nyala itu, sangat mempengaruhi pikiran para pemimpin pemerintahan, tetapi itupun gagal untuk merubah hati raja itu. Kembali ia menghormati Allah segala ilah itu hanya dengan bibirnya tetapi bukan dengan perbuatannya. Segala perbuatan raja yang tidak benar itu membuatnya perlu mendapatkan suatu hukuman alamiah yang luar biasa. Sebab itu suatu usaha besar untuk menyadarkan dia untuk bergantung kepada Khaliknya adalah perlu. Mimpi yang diberikan kepadanya (di dalam pasal empat), mengenai pohon yang besar itu -- suatu simbol dari dirinya sendiri -- dan interpretasinya oleh Daniel, telah menyadarkan raja yang keras hati itu akan kebenarannya, serta hukuman yang akan menimpa dirinya, terkecuali ia bertobat. Daniel mengatakan : “Maka sebab itu, ya tuanku, hendaklah kiranya bicara hamba ini berkenan di hadapan tuanku raja, buangkanlah kiranya segala dosa tuanku oleh kebenaran

dan segala kesalahan tuanku oleh belas kasihan akan orang miskin, supaya dilanjutkan kiranya selamat sejahtera tuanku. ….. Dua belas bulan kemudian berjalanlah baginda raja di dalam istana kerajaan Babilon ..... Maka pada jam itu juga genaplah perkara itu atas diri Nebukadnezar; maka ia dihalau dari antara manusia, lalu ia memakan rumput seperti lembu, dan tubuhnya basah dengan embun dari langit, sehingga rambutnya bertumbuh seperti bulu burung garuda, dan kuku-kukunya seperti cakar burung.” (Daniel 4 : 27, 29, 33). 

Pada akhir dari pengalaman yang penuh penderitaan itu, raja itu berkata : “Sekarang aku Nebukadnezar memuji dan membesarkan dan memuliakan Raja surga itu, karena segala perbuatan-Nya adalah kebenaran, dan semua jalan–Nya adalah keadilan : maka barangsiapa yang berjalan dalam kesombongan Ia pun dapat merendahkan.” (Ayat 37). Walaupun ia mengakui kuasa dari Dia yang Kekal itu, ia menyembah sujud kepada-Nya, dan mengucapkan kata-kata pujian dengan ucapan yang sangat mulia, raja itu lalai menyerahkan hati kapirnya dan meninggalkan cara ibadah kekapirannya. Ia lalai untuk memeluk kepentingan utama meneruskan pengetahuan Yehovahnya kepada keturunannya bagi kesejahteraan mereka dan bagi kekekalan kerajaannya. 

Pengalaman-pengalaman yang indah ini adalah merupakan suatu objek pelajaran bagi raja-raja yang akan datang. Tak lama kemudian sesudah kegenapan mimpi itu, maka naiklah cucunya ke atas tahta. Dalam adat kebiasaan kekapirannya ia mencoba menentang Allah atas segala dewa, dan Raja atas segala raja itu yang mampu membuat lembu dari raja-raja dan raja-raja dari lembu, dan para penghulu dari budak-budak. “Karena kenaikan itu datangnya bukan dari sebelah timur ataupun dari sebelah barat ataupun dari sebelah selatan. Tetapi Allah adalah hakim; Dialah yang menurunkan seseorang, dan Dialah yang menempatkan seseorang lainnya.” (Mazmur 75 : 6, 7). 

Bejana-bejana yang suci itu belum pernah sebelumnya dicemarkan oleh seseorang raja seperti halnya di dalam pesta perayaan mabuk-mabukan Belsyazar. Allah mau bersabar sampai manusia melangkah melewati garis perbatasan. Belsyazar ini telah berbuat dengan cara membawakan bejana-bejana yang suci itu ke hadapan para penghulunya, para gundiknya, dan dewa-dewa kekapirannya. Pada waktu terlihat tangan menulis pada tembok perasaan hatinya yang bersalah lalu menyusahkan dia; semua ikat pinggangnya terlepas, dan lutut-lutut gemetar yang satu menyentuh yang lainnya. Seperti halnya bapaknya, Belsyazar melalaikan Daniel, maka ia mengundang orang-orang pintar di Babilon untuk menginterpretasikan tulisan itu; walaupun ia seharusnya sudah tahu akan ketidak-mampuan mereka itu untuk mengungkapkan rahasia. Pada akhirnya Daniel juga yang dipanggil dan pada saat kedatangannya ia mengatakan : Mene; Allah telah menentukan angka bilangan kerajaan tuanku, dan mengakhirinya. Tekel; Tuanku telah ditimbang di atas neraca, dan telah didapati ringan. Peres; Kerajaan tuanku akan dibagi, dan diberikan kepada orang-orang Medo-Persia.” (Daniel 5 : 26 – 28). Pengalaman-pengalaman ayahnya yang tak ternilai pada waktu kenaikannya ke atas tahta itu sudah akan merupakan berkat-berkat yang abadi, tetapi karena melalaikan kuasa Allah raja itu telah membalikkan keuntungan-keuntungan yang berasal dari berkat menjadi kutuk, dan mengakhiri nasib kerajaannya. Setiap akal untuk membuat singa itu (Babilon) berdiri seperti manusia di bawah pemerintahan raja-raja Kasdim telah habis, dan setiap usaha gagal.

Oleh sebab itu, waktunya telah tiba bagi Tuhan untuk menggunakan pengobatan yang terakhir kepada kerajaan singa itu.

Koresh, yang oleh Allah telah dibicarakan melalui nabi-Nya bertahun-tahun sebelumnya itu diijinkan untuk memasuki ibukota dari raja Kasdim itu. (Lihat Yesaya 45 : 1). Babilon sebagai kerajaan nomor dua berlalu sudah, maka simbol mengenai sayap-sayap yang “tercabut” itu menemui kegenapannya. “Pada malam itu juga Belsyazar raja Kasdim itu dibunuh”. Hati singa itu ialah lambang dari raja kapir -- yaitu Belsyazar yang dibunuh itu -- dan demikianlah hati binatang itu telah disingkirkan. Manusia merencanakan, tetapi seringkali kekuasaan yang lain yang tidak dikuasainya itulah yang menentukan.

Daniel telah dijadikan presiden yang pertama atas 120 penghulu, sebab “terdapat di dalam dirinya suatu roh yang sempurna”. Baik Koresh maupun Darius telah bertobat menyembah sujud kepada Allah yang benar. Oleh sebab itu, Lengan yang kekal yang ikut campur tangan dalam persoalan-persoalan manusia telah mendudukkan seorang raja pilihan-Nya sendiri.

Dalam cara inilah simbol-simbol itu menemui kegenapannya dan singa itu “diangkat ke atas dari bumi, dan dibuat berdiri pada kakinya seperti seorang manusia, dan suatu hati manusia diberikan kepadanya.”

Jantung adalah suatu lambang yang cocok dari seorang pemimpin sesuatu bangsa. Perbedaan yang tegas di antara seorang raja yang beragama dan yang tidak beragama adalah sama luas perbedaannya seperti di antara hati manusia dan hati binatang. Jantung adalah daya pemberi hidup kepada tubuh manusia, sama seperti seorang raja adalah pemimpin dari sesuatu bangsa.

Setelah kebebasan diberikan kepada orang-orang Yahudi, maka Koresh dalam pernyataannya mengatakan : “Demikianlah kata Koresh raja Persia, Tuhan Allah di surga telah mengaruniakan kepadaku semua kerajaan di bumi; maka Ia telah menugaskan kepadaku untuk mendirikan bagi-Nya sebuah rumah di Yerusalem, yang terletak di Yehuda. Siapakah yang ada di antara kamu yang berasal dari umat-Nya? Allahnya menyertai dia, maka hendaklah ia pergi naik ke Yerusalem, yang di Yehuda itu, dan hendaklah ia mendirikan rumah Tuhan Allah Israel, (Ialah Allah), yang berada di Yerusalem.” (Ezra 1 : 2, 3). Pengaruh kesalehan dari raja-raja Medo-Persia ini tidak digunakan sampai bertahun-tahun kemudian. Keputusan yang dibuat oleh Koresh itu ditulis pada sebuah gulungan surat ditempatkan di Achmetha, di dalam istana yang berada di dalam propinsi orang-orang Medes. Beberapa tahun kemudian karena gulungan surat itu ditemukan oleh Darius, maka keputusan itu lalu segera dilaksanakan. Koresh telah memutuskan, bahwa semua orang harus memberikan suatu persembahan sukarela, dan raja itu sendiri telah menyumbangkan tanpa batas. Ia mengatakan : “dan lagi aku mengeluarkan suatu keputusan akan apa yang harus kamu perbuat bagi tua-tua dari orang-orang Yahudi ini supaya didirikannya rumah Allah bahwa dari harta benda raja, juga upeti dari seberang sungai, hendaklah diberikan dengan segera kepada orang-orang ini segala biayanya, agar mereka tidak dihalangi.” (Ezra 6 : 8). Ia selanjutnya memutuskan, bahwa semua keperluan untuk memelihara upacara-upacara korban supaya “diberikan kepada mereka setiap hari dengan tidak lalai”. Kemudian ia menambahkan “Supaya mereka mempersembahkan korban

yang harum baunya kepada Allah di surga dan berdoa bagi keselamatan hidup baginda dan anak-anaknya.” (Ezra 6 : 10). Nebukadnezar mengaku bertobat sesudah pengalamannya yang indah dengan Allah di surga, lalu ia menyatakan : “Maka segala orang yang diam di bumi itu kebaikannya bagaikan sia-sia adanya, maka dibuat-Nya akan segala tentara di langit dan di antara segala penduduk di bumi sesuai kehendak-Nya, maka tak seorangpun dapat menolak tangan-Nya, ataupun mengatakan kepada-Nya, Apakah yang Kau perbuat? Pada waktu yang sama akalku kembali kepadaku; dan untuk kemuliaan kerajaanku, maka kehormatan dan kebesaranku kembali kepadaku; maka segala penasehatku dan orang-orang besarku mencari akan daku; maka aku ditetapkan kembali di dalam kerajaanku, dan kebesaran sempurna dipertambahkan kepadaku. Kini aku Nebukadnezar memuji-muji dan meninggikan dan menghormati Raja surga itu, semua perbuatan-Nya adalah kebenaran, dan semua jalannya adalah keadilan; maka barangsiapa yang berjalan dalam kesombongan Ia mampu merendahkan.” (Daniel 4 : 35 – 37). 

Walaupun kata-kata luhur yang diucapkan oleh raja Kasdim itu tampaknya mengungkapkan suatu perubahan hatinya, segala perbuatannya menunjukkan kegagalan dalam apa yang bibirnya sendiri telah ucapkan. Alangkah bedanya di antara raja Babilon itu dan raja-raja Medo-Persia itu! Nebukadnezar menolak untuk membebaskan umat Allah; ia menolak untuk mengembalikan bejana-bejana yang suci itu kepada Raja surga; ia tidak mengeluarkan keputusan apapun untuk mendirikan kembali rumah Allah; ia tidak memberikan sumbangan jenis apapun kepada Raja atas segala raja itu; ia tidak memberikan pengetahuannya mengenai Yehovah kepada semua rakyatnya; ia membiarkan anak-anaknya dan rumah tangganya tetap menyembah sujud kepada dewa-dewa kekapiran yang terbuat dari kayu dan batu; ia tidak berusaha apa-apa untuk memberikan kepada Allah kemuliaan, terkecuali hanya dengan bibirnya saja. 

Walaupun kita memiliki semua teladan ini di hadapan kita, namun betapa seringnya kita mengakui dengan bibir kita akan apa yang benar dan betul, tetapi kita tidak berusaha apa-apa untuk mencapai uluran Tangan kasih Ilahi. Banyak orang tak terhitung jumlahnya sedang menirukan teladan yang dibuat oleh raja kuno itu. “Mereka ini datang dekat kepada-Ku dengan mulutnya, dan menghormati Aku dengan bibirnya, tetapi hati mereka itu jauh dari pada-Ku.” (Matius 15 : 8). 

Walaupun Nebukadnezar telah lalai dalam segala perkara yang suci ini, namun Allah, dalam kemurahan-Nya yang besar telah menyelamatkan raja itu. Allah cukup menahan sabar terhadap raja Babilon itu, tetapi “raja yang pernah tinggi hati itu telah menjadi seorang anak Allah yang rendah hati; pemimpin yang tiran, yang suka menguasai itu, telah menjadi raja yang bijaksana dan penuh kasih sayang. Dia yang telah menentang dan menghujat Allah di surga itu, kini mengakui akan kuasa Dia Yang Maha Tinggi, dan dengan sungguh-sungguh berusaha untuk mempromosikan takut akan Yehovah serta kebahagiaan rakyatnya. Karena teguran dari Dia yang Raja atas segala raja dan Tuhan atas segala tuan itu, maka Nebukadnezar telah mempelajari pelajaran yang terakhir yang perlu dipelajari oleh semua pemimpin.” -- “Prophets and Kings”, p. 521.

BERUANG DAN MACAN TUTUL 

Contoh yang dibuat dari raja-raja Babilon itu hendaknya menjadi sebuah objek pelajaran kepada semua raja-raja yang berikutnya. Pengaruh kehidupan beriman dari Koresh dapat juga dipertahankan, tetapi raja-raja Medo-Persia itu seperti juga halnya orang-orang Kasdim itu, mereka mencari kemuliaan duniawi tanpa takut akan Dia yang dapat mendirikan kerajaan-kerajaan, dan menyingkirkan raja-raja. 

Pelajaran yang tak ternilai yang diajarkan oleh pehukuman terhadap raja-raja Kasdim itu seharusnya merupakan berkat bagi mereka, tetapi di dalam ingatan mereka yang sia-sia mereka menjauhi diri dari sumber kebijaksanaan yang benar dan dari kekuasaan yang tidak pernah gagal. Dengan demikian apa yang dimaksudkan sebagai suatu berkat bagi mereka ternyata telah menjadi suatu hukuman. Oleh sebab itu, raja-raja dari Medo-Persia telah bertumbuh menjadi terburuk daripada raja-raja Yunani yang patung-patungnya adalah dewa-dewa mereka, dan selera-selera lidahnya yang kacau merupakan satu-satunya pedoman hidup mereka. Dengan demikian kembali tiba masanya bagi tulang-tulang rusuk di dalam mulut beruang itu untuk berbicara, “Bangkitlah kamu dan makanlah daging yang banyak”. Oleh karena itu, lengan Dia Yang Maha Kuasa itu ditarik dari raja Persia, dan Alexander dengan kecepatan seekor burung garuda maju menangkap mangsanya. Demikianlah Medo-Persia membuka pintu gerbangnya bagi peperangan-peperangan berdarah dalam sejarah dunia kita. Dengan cara inilah kata-kata yang berbunyi, “Bangkitlah kamu, makanlah daging yang banyak”, menemui kegenapannya. 

Daniel mengatakan : “Maka sementara aku memperhatikannya, tampaklah seekor kambing jantan datang dari sebelah barat yang melintasi seluruh muka bumi, tanpa menyentuh tanah; maka kambing jantan itu mempunyai sebuah tanduk yang terkenal di antara kedua matanya. Maka datanglah ia mendapatkan domba jantan yang memiliki dua tanduk itu, dan yang telah kulihat berdiri di hadapan sungai itu, maka ia pun menerjangnya dengan sangat kuatnya. Dan aku melihatnya datang mendekati domba jantan itu, dan ia menerjangnya dengan geramnya, dan menanduknya, dan mematahkan kedua pucuk tanduknya; maka domba jantan itu tiada berdaya lagi untuk berdiri di hadapannya, maka dihempaskannya akan dia ke tanah, dan dipijak-pijaknya akan dia : dan seorangpun tiada yang dapat melepaskan domba jantan itu dari tangannya. ..... Domba jantan yang kau lihat memiliki dua pucuk tanduk itu adalah raja-raja Medo-Persia. Dan kambing jantan yang kasar itu ialah raja dari Yunani; dan tanduk besar yang terdapat di antara kedua matanya itu ialah raja yang pertama.” (Daniel 8 : 5 – 7, 20, 21). Oleh sebab itu, Alexander, yang keinginannya untuk berkuasa tidak mengenal batas itu adalah yang pertama berhasil memimpin barat memerangi timur. 

Tetapi tak begitu lama Alexander mengalahkan kerajaan itu, terlibatlah ia dalam suatu pesta makan minum yang memabukkan, dan ia mati selagi ia masih muda. Dengan demikian tanduk dari “kambing jantan” itu patah dari antara kedua matanya, “maka gantinya telah muncul empat pucuk tanduk yang terkenal mengarah

___ GAMBAR ___

[empty page]

ke empat mata angin di langit.” Alexander karena tidak mempunyai seorang pengganti untuk mewarisi tahtanya, maka kerajaan itu terbagi di antara empat orang jenderalnya, yaitu Cassander, Lysimachus,

Ptolemy, dan Seleucus. Dengan demikian waktu dan takdir mendatangkan binatang macan tutul yang berkepala empat.

DOMBA JANTAN DAN KAMBING JANTAN

Seluruh pertikaian di antara bangsa-bangsa dilambangkan oleh domba jantan dan kambing jantan, dengan berbagai macam tanduk yang muncul dan yang patah. Mengapa domba jantan dan kambing jantan? Mengapa tidak jenis binatang yang lain? Yesus memberikan jawabannya : “Maka di hadapan-Nya akan berhimpun segala bangsa : dan Ia akan memisah-misahkan mereka itu satu daripada lainnya, seperti gembala memisahkan domba-dombanya dari kambing-kambing. Dan Ia akan menempatkan domba-domba itu pada sebelah kanan-Nya, tetapi kambing-kambing itu pada sebelah kirinya.” (Matius 25 : 32, 33).

Melalui binatang-binatang piaraan ini ilham membawakan pengertian bahwa penduduk bumi adalah hanya domba-domba dan kambing-kambing -- agama yang benar dan yang palsu. Itu juga menunjukkan bahwa peperangan itu adalah suatu pertentangan antara yang baik dan yang jahat. Tetapi mengapakah Medo-Persia dilambangkan oleh domba jantan dan Yunani oleh kambing jantan? Mengapa tidak sebaliknya? Raja-raja dari kerajaan Medo-Persia telah menjadi orang-orang percaya kepada Allah yang benar seperti yang dijelaskan terdahulu; dengan demikian mereka memiliki prinsip-prinsip yang bertentangan terhadap prinsip-prinsip yang dianut orang-orang Yunani. Karena alasan itulah Medo-Persia telah dilambangkan oleh seekor domba jantan, dan Yunani oleh seekor kambing jantan. Ajaib benar untuk dicatat betapa tepatnya dan bijaksananya hikmat pengetahuan yang besar serta pengawasan dari Dia Yang Tak Terbatas itu, seperti yang dilaksanakan dalam merencanakan semua simbol ini. Hanya Yang Maha Kuasa yang dapat menciptakan seni nubuatan yang sempurna sedemikian ini, yang meramalkan peristiwa-peristiwa sejarah. 

KERAJAAN TEMBAGA MEMERINTAH DUNIA

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa singa, beruang, dan macan tutul adalah binatang-binatang yang ditentukan nomor bilangannya secara Ilahi. Macan tutul karena merupakan kerajaan yang keempat semenjak kejadian dunia, dan karena angka nomor-nomor itu dalam cara penomoran ini berakhir dengannya, maka dengan sendirinya timbul pertanyaan : Mengapa urutan penomoran itu tidak dilanjutkan terhadap binatang-binatang yang datang menyusul macan tutul itu? Ada beberapa alasan bagi perubahan ini dengan binatang yang dimaksud. Karena Romawi secara perlahan-lahan bangkit dari dalam kerajaan Yunani ia pada akhirnya menarik bagian yang terakhir dari Yunani dan dinasti Ptolemy menjadi sebuah propinsi dari negara Romawi pada kira-kira tahun 27 sebelum Tarik Masehi. Dengan demikian Wasiat Lama berakhir dengan Yunani dan dengan Romawi Wasiat Baru dimulai. Oleh sebab itu, di antara Yunani dan Romawi terletak garis pemisah. Juga perlu dicatat bahwa binatang-binatang yang melambangkan Wasiat Lama adalah tidak bertanduk, tetapi binatang-binatang dalam Wasiat Baru adalah bertanduk. Semuanya menunjukkan berakhirnya periode contoh dan dimulainya periode contoh saingan.

Angka-angka dari Alkitab adalah bagaikan lapisan-lapisan logam yang terjadi di bawah permukaan bumi. Beribu-ribu orang melintasi perbendaharaan yang tidak dikenal ini sampai kemudian sesuatu kuasa yang tak terlihat membawakannya ke permukaan. Kita semua tahu bahwa Trinitas adalah yang terbaik dikemukakan dengan memakai sebutan, Bapa, Anak, dan Rohulkudus. Demikian juga kita mengemukakan sifat-sifat Allah itu dalam tiga sebutan, yaitu, tak terhingga kehadiran-Nya, tak terhingga ilmu-Nya, tak terhingga kuasa-Nya. Keistimewaan ini dapat diperluas sebesar-besarnya. 

Jika tiga adalah simbol dari Tritunggal Yehovah, maka empat harus menunjukkan apa yang keluar dari Dia, seperti yang diungkapkan dalam kejadian dunia. Cherubium-cherubium itu terdiri dari empat mahluk hidup, yang masing-masingnya secara berturut-turut memiliki wajah seekor singa, seekor anak lembu, seorang manusia, dan seekor burung garuda. Ada empat bagian bumi, yaitu Timur, Utara, Selatan, dan Barat, yang merupakan ungkapan kelengkapan arah; sama halnya : musim dingin, musim bunga, musim panas, dan musim gugur meliputi suatu putaran musim-musim yang lengkap. Sudah kita saksikan bahwa ada empat kerajaan dunia dalam sejarah dunia semenjak dari kejadian sampai kepada penyaliban Yesus. Dapat juga kita catat akan kenyataan yang berkaitan dengan pokok masalah ini, bahwa terdapat suatu kombinasi dari rangkap tiga dengan rangkap empat seperti yang jelas terlihat dalam pekerjaan menciptakan dunia dahulu, dimana empat hari yang pertama telah digunakan dalam membentuk bola dunia ini, dan tiga hari sisanya itu dalam menciptakan mahluk-mahluk hidup dan mencapai puncaknya pada suatu istirahat Sabat. Hari yang keempat melihat selesainya penciptaan barang-barang materi, dan pada hari yang kelima dan keenam, ialah mengisi bumi dengan penduduknya. Di dalam buku Wahyu di bawah judul tujuh meterai, kita perhatikan bahwa empat meterai yang pertama itu jelas-jelas dipisahkan dari tiga meterai yang terakhir oleh simbol-simbol dari empat ekor kuda. Dengan demikian terlihat bahwa ukuran empat rangkap dalam masing-masing kasus mendahului tiga rangkap, sama seperti dalam urutan kejadian dunia, masing-masing pembagian mencapai puncaknya dalam tujuh yang sempurna. Karena alasan inilah ada empat bagian dalam patung besar dari Daniel Dua, empat binatang dalam khayalnya Daniel, empat sayap dan empat kepala pada macan tutul dengan siapa nomor-nomor dalam cara urutan itu berakhir. Dengan demikian terbukti, bahwa Wasiat Lama berakhir dengan suatu nomor simbolis  -- empat (binatang macan tutul). Dengan menunjukkan bahwa semua persediaan yang perlu bagi keselamatan keluarga manusia adalah lengkap di bawah takdir nomor yang terkenal ini, yaitu “empat”, sebagaimana ia itu berakhir pada kira-kira waktu penyaliban. Demikianlah angka nomor ini telah digunakan dalam kaitannya dengan kejadian-kejadian yang timbul untuk mengartikan dunia secara luas. 

* * *

Tiuplah olehmu nafiri di Sion,

dan bunyikanlah suatu tanda bahaya

di dalam gunung kesucian-Ku;

hendaklah semua penduduk negeri gementar;

karena hari Tuhan itu datang,

karena sudah dekat sekali hari itu.

(Yoel 2 : 1).

BINATANG YANG TAK TERGAMBARKAN

Daniel 7 : 7 

Menyusul macan tutul yang berkepala empat itu datanglah binatang yang tak tergambarkan dari Daniel 7 : 7, melambangkan kerajaan dunia yang keempat semenjak dari air bah, tetapi yang kelima semenjak dari kejadian. Romawi telah dilambangkan oleh sebuah simbol yang lebih hebat lagi daripada kerajaan-kerajaan sebelumnya. Harus ada suatu alasan khusus mengapa kerajaan Romawi dilambangkan oleh seekor binatang yang tak tergambarkan. Simbol itu mengungkapkan bahwa sistem pemerintahan Romawi adalah suatu pengaturan yang tidak dapat digambarkan. Pendekatan yang terdekat untuk suatu nama yang tepat ialah sebutan -- tak tergambarkan. 

Kita akan melihat sekarang kepada administrasi pemerintahannya. Penyaliban terhadap Kristus dan mati sahid orang-orang Kristen membuktikan, bahwa penguasa eksekutif Romawi memberi kekuasaan resmi kepada paham kekapiran yang berperang melawan Kekristenan. Sebagaimana orang-orang Kristen ini dibunuh karena penolakan mereka untuk menyembah berhala-berhala orang banyak itu, maka jelaslah bahwa orang-orang Yahudi telah menggunakan alat penguasa sipil Romawi untuk mengadili dan memaksakan adat-adat kebiasaan agama mereka sendiri; Yesus merupakan suatu contoh, karena Ia telah disalibkan sebagai akibat dari pertentangan agama. Romawi dalam abad yang pertama telah menganiaya orang-orang Kristen, tetapi setelah menganut Kekristenan, ia menganiaya orang-orang Kapir, ia memaksa mereka untuk menggabungkan diri dengan yang disebut gereja Kristen. Dari bukti-bukti yang dikumpulkan jelaslah terlihat, bahwa kerajaan Romawi merupakan alat baik bagi orang Kapir, atau bagi orang Yahudi ataupun bagi orang Kristen; secara bergantian memilih yang satu kemudian yang lainnya. Sebab itu sebagaimana tabiat dari kekuasaan hukum kerajaan Romawi tidak dapat didefinisikan sebagai Kapir atau Yahudi atau Kristen, maka “tak tergambarkan” adalah satu-satunya simbol yang tepat. Dikatakan dari hal kaizar Constantine pada waktu kematiannya, bahwa para pengikutnya tidak tahu cara penguburan yang bagaimanakah yang akan diberikan kepadanya, karena ia adalah seorang yang mengaku dirinya Kristen, tetapi di hatinya ia seorang Kapir. Barangkali banyak bangsa-bangsa seperti juga sebagian orang yang mengaku dirinya Kristen pada waktu ini adalah orang-orang yang tak tergambarkan seperti orang-orang Romawi itu, karena rasul telah menggambarkan keadaan mereka itu demikian : “Karena masanya akan datang apabila orang tidak tahan akan pengajaran yang benar, tetapi sebab gatal telinganya hendak mendengar, maka dihimpunkannya guru-guru bagi dirinya menurut hawa napsunya sendiri, dipalingkannya telinganya dari yang benar, lalu berbalik kepada cerita-cerita dongeng.” (2 Timotius 4 : 3, 4). 

USAHA-USAHA UNTUK MENDIRIKAN PEMERINTAHAN-PEMERINTAHAN AGAMA 

Pertanyaan mungkin timbul : Apa yang Setan buat menghalangi pendirian sebuah kerajaan agama sebelum berakhirnya periode

___GAMBAR___

DANIEL 7 : 7

[empty page]

___GAMBAR___

DANIEL 7 : 25

[halaman kosong]

Wasiat Lama? Satu-satunya jawaban yang dapat diberikan ialah, bahwa bangsa Yahudi telah membiarkan dia menggelapkan mata mereka. Mereka diberitahu supaya tidak melakukan perserikatan dengan dunia, tetapi, tanpa menyadari akan perintah itu mereka telah bersekutu dengan orang-orang Romawi, dan itulah yang membantu Setan untuk menyelesaikan rencananya. 

Yang berikut ini akan menunjukkan, bahwa musuh manusia yang besar ini telah juga mencoba dengan prosedur yang sama ini di zaman kerajaan Babilon : “Baginda raja Nebukadnezar telah membuat sebuah patung emas, yang tingginya enam puluh hasta dan lebarnya enam hasta. Patung itu didirikannya di lembah Dura di propinsi Babilon. Kemudian berserulah seorang bentara dengan kuatnya : Hai kamu segala bangsa dan kaum dan orang-orang dari berbagai bahasa, kepadamu diperintahkan : ..... hendaklah kamu menyembah sujud kepada patung keemasan yang telah didirikan oleh baginda raja Nebukadnezar : maka barangsiapa yang tiada menyembah sujud pada ketika itu juga ia itu akan dicampakkan ke dalam dapur api yang bernyala-nyala ..... Maka sujudlah segala bangsa dan orang-orang dari berbagai bahasa itu menyembah patung keemasan itu.” (Daniel 3 : 1, 4 – 7). Tetapi ada tiga orang Ibrani yang ditemukan mendurhaka melawan perintah raja itu dan mereka menolak untuk menyembah sujud kepada dewa. “Maka Sadrakh dan Mesakh dan Abednego menjawab dan mengatakan sembahnya kepada baginda raja, Tuanku Nebukadnezar, tiada gunanya kami menjawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika memang demikian itu kelak halnya, maka Allah kami yang kami sembah itu akan mampu melepaskan kami dari dapur api yang bernyala-nyala itu, dan Ia akan melepaskan kami dari tangan tuanku raja. Tetapi jika tidak, maka ketahuilah olehmu tuanku raja, bahwa kami tidak mau berbakti kepada dewa-dewamu, ataupun menyembah sujud kepada patung keemasan yang tuanku dirikan itu. ..... Maka diperintahkan olehnya orang-orang yang sangat kuat dari bala tentaranya untuk mengikat Sadrakh, dan Mesakh, dan Abednego, dan mencampakkan mereka itu ke dalam dapur api yang bernyala-nyala ..... Sebab itu karena titah raja adalah sangat penting, dan dapur api itupun sangat panas, maka nyala api telah mematikan orang-orang itu yang telah membuang Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Dan ketiga mereka ini, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego jatuh dengan terikat ke tengah-tengah dapur api yang bernyala-nyala itu. Kemudian Nebukadnezar ..... menjawab dan mengatakan, Sesungguhnya aku melihat empat orang dengan terlepas ikatannya berjalan di tengah-tengah api, dan mereka tidak terluka; dan bentuk dari orang yang keempat itu adalah seperti Anak Allah. Kemudian Nebukadnezar datang menghampiri pintu dari dapur api yang bernyala-nyala itu, dan berbicara katanya, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, kamu hamba-hamba Allah yang Maha Tinggi, keluarlah, dan datanglah kemari.” (Ayat 16 – 18, 20, 22 – 26). 

Kemudian keluarlah orang-orang ini dengan tanpa terluka apapun. Adalah ajaib apa yang telah Allah lakukan terhadap hanya tiga orang budak ini melawan sebuah kerajaan dunia. Ketiga orang ini dengan iman kepada Allah telah menghancurkan peralatan Setan, dan menghapuskan pendirian sebuah pemerintahan agama dan menggagalkan keputusan raja. 

Setan telah menyusun suatu komplotan yang sama juga di dalam pemerintahan Medo-Persia dengan rencana-rencana yang dilaksanakan secara tipu, yang menyesatkan

secara tak disangka-sangka. Walaupun Daniel dibuang ke dalam lubang singa, ia pun telah keluar dengan tidak terluka apapun, tetapi musuh-musuhnya binasa seperti yang berlaku atas orang-orang yang mencampakkan ketiga orang Ibrani itu ke dalam dapur api yang bernyala-nyala. Dengan demikian kuasa Setan dihancurkan di dalam kedua kerajaan kuno itu. Kalau saja ada terdapat orang-orang yang sedemikian ini seperti halnya orang-orang Ibrani ini pada zaman berdirinya kerajaan Romawi, atau pada penutupan sejarah Wasiat Lama dan selama permulaan sejarah Wasiat Baru, maka keadaannya sudah akan berubah sama sekali. Dunia pada waktu ini sangat membutuhkan orang-orang yang seperti tiga pemuda Ibrani itu, yang lebih suka menyerahkan hidupnya yang ada daripada melawan Allah mereka -- orang-orang seperti Daniel, yang memandang dengan iman yang teguh kepada Tuhan dan tanpa didapati bersalah dalam tugas-tugas agamanya maupun tugas-tugas duniawinya. Oleh perantaraan orang-orang yang sedemikian ini dunia telah diberkahi dengan keuntungan-keuntungan yang kekal dan penghargaan-penghargaan yang tak dapat digambarkan oleh bibir manusia. 

“Betapa indahnya di atas gunung-gunung kaki-kaki orang yang membawakan kabar-kabar baik, yang memberitakan perdamaian; yang membawakan kabar-kabar baik yang berisikan kebaikan, yang memberitakan selamat; yang mengatakan kepada Sion, Allahmu memerintah! Semua pengawalmu akan mengangkat suara; dengan suara bersama-sama mereka akan menyanyi : karena mereka akan bersepakat, ketika Tuhan akan membawa kembali Sion.” (Yesaya 52 : 7, 8).

[halaman kosong]

___ GAMBAR____

WAHYU 12 SIDANG DAN ULAR NAGA 

NAGA MERAH

Wahyu 12 : 3 

“Maka kelihatanlah di langit suatu keajaiban besar; yaitu seorang perempuan bersalutkan matahari, dan bulan ada di bawah kakinya, dan pada kepalanya ada sebuah mahkota dengan dua belas bintang : dan ia sedang mengandung dan berteriak sebab sakit dan sengsara hendak melahirkan. Dan kelihatanlah suatu keajaiban yang lain lagi di langit; dan tengoklah seekor naga besar yang merah yang berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di kepalanya bermahkota tujuh. Maka ekornya menyeret sepertiga dari segala bintang di langit, lalu dicampakkannya ke bumi; maka berdirilah naga itu di hadapan perempuan yang sedang siap untuk melahirkan, untuk menelan anaknya segera setelah ia dilahirkan. ..... Lalu tercampaklah naga besar itu, yaitu ular tua, yang dinamakan Iblis, dan Setan, yang menyesatkan seluruh isi dunia : ia sudah tercampak ke bumi dan segala malaikatnya telah tercampak juga besertanya.” (Wahyu 12 : 1 – 4, 9). Naga itu terlihat di langit dan sedang “tercampak keluar”, maka jelaslah bahwa simbol ini adalah berasal dari surga. Dari halnya dikatakan : “Ular tua itu, yang dinamakan Iblis, dan Setan”. Perhatikan bahwa naga itu adalah lambang dari Setan, juga seperti halnya Anak Domba yang memiliki “tujuh tanduk dan tujuh mata” adalah lambang dari Kristus. (Wahyu 5 : 6). 

Oleh karena binatang-binatang yang banyak itu membentuk suatu rantai kerajaan-kerajaan dunia yang tak terputus, maka naga tidak mungkin memotong menyilang di antara sambungan-sambungan rantai itu sebagai lambang dari suatu sistem bumi yang terpisah; dengan demikian ia melambangkan tepat seperti apa yang Injil katakan : “Iblis, dan Setan”. Bentuk itu diberikan untuk mengungkapkan rencana Setan pada sesuatu masa tertentu dalam sejarah dunia kita. 

“Perempuan itu bersalutkan matahari” dapat dimengerti merupakan sidang Allah. Anak yang dilahirkannya itu ialah Kristus. Dua belas bintang yang membentuk mahkota dari perempuan itu pada dasarnya merupakan lambang-lambang dari dua belas kepala suku. Ini akan diperjelas dalam penyelidikan yang lain. Oleh sebab itu, kami hendak berusaha untuk memperjelas masa dari naga itu dan pekerjaannya. Dapatlah dicatat bahwa naga itu berdiri siap untuk menelan anak itu (Kristus) segera setelah Ia lahir. Terbuktilah, bahwa ular tua itu mempersenjatai dirinya dengan tujuh kepala dan sepuluh tanduk mendahului kelahiran Kristus. 

“Maka ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di Langit.” Firman ini sendiri sudah jelas siapa yang dilambangkan oleh bintang-bintang itu, karena Ilham mengatakan : “Ia tercampak keluar ke bumi, dan Malaikat-Malaikatnya telah tercampak keluar bersama-sama dengannya.” 

Oleh sebab itu, “sepertiga dari bintang-bintang” itu melambangkan malaikat-malaikat yang tertipu oleh perlawanan Setan. Mengutip buku “Testimonies for the Church”, Jilid 3, halaman 115 : “Setan dalam pemberontakannya telah mengikutsertakan sepertiga dari malaikat-malaikat. Mereka itu berbalik meninggalkan Bapa dan Anak-Nya, lalu menggabungkan diri dengan

penghasut pemberontakan itu.” Pertanyaan mungkin timbul : Mengapa ia menarik mereka itu dengan ekornya dan bukan dengan sesuatu cara yang lain? Simbol itu mampu dengan setepatnya menunjukkan cara bagaimana Setan menarik malaikat-malaikat itu ke bumi. Kalau saja ia telah menggunakan kuku-kukunya, maka itu menunjukkan bahwa Setan telah mengalahkan Mikhael (Kristus), lalu secara paksa ia menarik keluar sepertiga dari malaikat-malaikat itu. Tetapi karena ia menarik mereka itu dengan ekornya, maka pengertiannya ialah bahwa sepertiga dari malaikat-malaikat itu telah menggabungkan diri kepadanya untuk memberontak melawan Mikhael. Karena pada waktu naga itu tercampak keluar, kepalanya dengan sendirinya keluar lebih dulu; maka karena malaikat-malaikat itu ditariknya dengan ekornya, maka itu mengungkapkan bahwa mereka itu telah mengikuti dia secara sukarela. Dengan demikian Kristus tidak dapat berbuat apa-apa bagi mereka. 

PERANG DI DALAM SURGA 

“Maka terjadilah perang di dalam surga : Mikhael dan malaikat-malaikat-Nya berperang melawan naga itu; dan naga itu berperang bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya, maka naga dan malaikat-malaikatnya itu tiada menang, dan tempatnya pun sudah tidak terdapat lagi di dalam surga.” (Wahyu 12 : 7, 8). Pertikaian ini terjadi di dalam surga. Nama “Mikhael” berarti yang sama dengan Allah; maka itu adalah salah satu dari sekian banyak gelar dari Kristus. Daniel memanggil-Nya “Mikhael Penghulu Besar itu yang berdiri membela bani bangsamu”. (Daniel 12 : 1). Kristus memiliki banyak gelar, masing-masingnya berisikan suatu definisi mengenai sesuatu phase tertentu, atau sifat dari pekerjaan-Nya. Malaikat mengatakan kepada Yusuf, “maka hendaklah kamu menamakan Dia Yesus, karena Ia akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka.” Ia juga disebut “Immanuel”, yang berarti, “Allah beserta kita”, dan sebagainya. 

WAKTU TERCAMPAK KELUAR 

Setan tidak mungkin sudah tercampak keluar dari surga segera setelah ia berdosa, atau sewaktu ia menipu Adam dan Hawa, karena di dalam Ayub 1 : 6, 7 kita baca : “Kini pada suatu hari sewaktu anak-anak Allah datang hadir ke hadapan Tuhan, maka Setan juga datang di antara mereka itu. Maka firman Tuhan kepada Setan : Engkau dari mana? Maka sahut Setan kepada Tuhan, katanya : Dari berjalan keliling dan beredar-edar di bumi.” “Anak-anak Allah” adalah wakil-wakil dari dunia-dunia yang tidak jatuh, sama seperti Adam sebelum ia berdosa. Mereka diciptakan oleh tangan Allah, dan mereka adalah wakil-wakil dalam kedudukannya seperti Adam kalau saja ia tidak jatuh dari tahtanya karena dosa. Mengutip dari Roh Nubuat : “Para komandan dari kesatuan-kesatuan besar malaikat, yaitu anak-anak Allah wakil-wakil dari dunia-dunia yang tidak jatuh, mereka itu berkumpul. Dewan samawi, di hadapan mana Lucifer telah menuduh Allah dan Puteranya, ialah wakil-wakil dari dunia-dunia yang tak berdosa yang Setan telah mengira hendak mendirikan kerajaannya atas mereka itu.” -- “The Desire of Ages”, halaman 834.

Setan masih berkesempatan masuk ke surga di zaman Ayub. Oleh sebab itu, ia harus sudah dicampakkan keluar pada suatu hari kemudian. Yohanes mengatakan : “Maka apabila naga itu melihat bahwa dirinya sudah tercampak ke bumi, ia pun menganiaya perempuan itu yang telah melahirkan anak laki-laki itu.” (Wahyu 12 : 13). Langkah yang perlu berikutnya ialah mencari tahu kapan naga itu untuk pertama kalinya menganiaya “perempuan” itu (Gereja Kristen); maka kita akan memperoleh kebenaran dari hal kapan Setan dicampakkan keluar. Waktu aniaya itu tercatat di dalam Kisah Para Rasul 8 : 1, “Maka Saul pun berkenan akan hal kematiannya (Stephanus). Maka pada masa itu terjadilah suatu aniaya besar ke atas sidang yang di Yerusalem; lalu tercerai-berailah mereka itu sekalian ke segenap tanah Yudea dan Samaria, terkecuali rasul-rasul saja.” Demikianlah aniaya yang besar terhadap sidang itu adalah kira-kira pada tahun 34 TM yang lalu. Benar bahwa Setan telah menganiaya Kristus mendahului waktu itu, tetapi Kristus adalah bukan “perempuan” itu. Ia adalah “Anak” yang hendak di “telan” oleh Setan. Oleh sebab itu, Setan tercampak keluar segera setelah Kristus naik ke tempat Yang Maha Tinggi. Berbicara mengenai peristiwa itu Roh Nubuat mengatakan : 

“Semua mereka berada di sana untuk menyambut Juruselamat. Mereka rindu sekali untuk merayakan kemenangan-Nya dan untuk memuliakan Raja mereka. ..... Ia mempersembahkan kepada Allah berkas ikatan gandum yaitu orang-orang yang bangkit bersama-sama-Nya sebagai wakil-wakil dari rombongan besar orang-orang yang akan muncul keluar dari kubur-kubur mereka pada kedatangan-Nya yang kedua kali ..... Suara Allah terdengar memberitakan bahwa keadilan telah memuaskan. Setan telah ditaklukkan. Pergumulan dan usaha-usaha berat dari para pengikut Kristus di bumi telah “disambut dalam Yang Kekasih”. Di hadapan malaikat-malaikat surga dan wakil-wakil dari dunia-dunia yang tidak jatuh mereka itu dinyatakan dibenarkan.” 

“Setan melihat bahwa selubung kepalsuannya telah terbuka. Semua perbuatannya ditelanjangi di hadapan malaikat-malaikat yang tidak jatuh dan di hadapan seluruh alam semesta. Ia telah mengungkapkan dirinya sendiri sebagai pembunuh. Oleh menumpahkan darah Anak Allah, maka ia telah menarik dirinya sendiri keluar dari simpati mahluk-mahluk surga. Kemudian daripada itu pekerjaannya lalu dibatasi. Sikap apapun yang dipakainya ia tidak lagi dapat menunggui malaikat-malaikat sementara mereka itu datang dari ruangan-ruangan surga, lalu di hadapan mereka itu menuduh-nuduh saudara-saudaranya Kristus oleh berpakaikan baju-baju hitam dan kotor karena dosa. Tali ikatan simpati yang terakhir di antara Setan dan dunia samawi putus sudah.” -- “The Desire of Ages”, halaman 833, 834, 761. 

Waktu ia menarik sepertiga bintang-bintang (malaikat-malaikat) dari surga, dan waktu terjadinya perang di dalam surga, adalah dua peristiwa yang berbeda. Ia menarik malaikat-malaikat itu sewaktu mereka mengikutinya dari surga ke bumi dan berusaha untuk menelan Kristus. “Maka apabila naga itu melihat bahwa dirinya sudah tercampak ke bumi”; artinya, sesudah Kristus disalibkan, maka kembalinya Setan untuk masuk ke surga

lalu dilarang. Dengan demikian ia “melihat” -- mengerti bahwa dirinya sudah tercampak keluar. Kemudian daripada itulah ia menganiaya sidang. 

TANDUK-TANDUK DAN KEPALA-KEPALA DARI NAGA 

Satu-satunya waktu yang mungkin bagi berlakunya tanduk-tanduk, kepala-kepala, dan mahkota-mahkota simbolis ini akan terjadi pada penutupan sejarah Wasiat Lama, dan pada pembukaan sejarah Wasiat Baru. Sebab, naga itu kelihatan dalam bentuk itu sewaktu Kristus akan dilahirkan. Tanduk-tanduk itu melambangkan juga yang sama seperti yang biasa dilambangkannya pada setiap binatang simbolis. Berangka bilangan sepuluh simbolnya menunjukkan bahwa pengaruh dari rencananya terasa di seluruh dunia. Ini juga menunjukkan bahwa Setan telah memperoleh kuasa penuh atas segala bangsa yang dilambangkan oleh sepuluh tanduk binatang yang tak tergambarkan dari Daniel pasal 7; dan demikianlah ia menggerakkan Herodes untuk membunuh anak-anak kecil pada waktu kelahiran Kristus dengan harapan untuk membinasakan Juruselamat -- yaitu menelan “Anak” itu.

Janganlah kita melewati kenyataan, bahwa semua tanduk, kepala-kepala, dan mahkota-mahkota, semuanya itu ada pada waktu naga itu berdiri siap, “untuk menelan Anaknya”. Akibatnya, apapun arti dari simbol-simbol ini, semuanya harus ada pada waktu yang bersamaan. Kalau saja tidak demikian halnya, maka simbol-simbol mengenai kepala-kepala dan tanduk-tanduk itu sudah akan ditunjukkan sedemikian rupa dengan munculnya secara berurutan seperti halnya binatang-binatang itu, dan juga seperti tanduk-tanduk dari domba jantan dan kambing jantan dari Daniel pasal 8. Hal yang sama inipun benar dengan binatang yang tak tergambarkan dari Daniel 7 : 7, dari mana tiga dari sepuluh tanduknya telah “tercabut sampai dengan akar-akarnya”. Jika semua pemerintahan tidak berada dalam waktu yang bersamaan, maka simbol-simbolnya akan muncul satu menyusul yang lainnya secara teratur. Dengan demikian kita melihat bahwa Ilham adalah sempurna dalam segala hal, dan tanpa salah mengungkapkan kebenaran yang dimaksud. Oleh sebab itu, adalah tidak konsisten jika seseorang menyimpulkan bahwa “tanduk-tanduk” itu maupun “kepala-kepala” itu dapat melambangkan pemerintahan-pemerintahan yang datang secara berurutan selama semuanya itu terlihat dalam satu kelompok, dan dalam kesatuan dengan binatang yang membawanya.

Itupun tidak mungkin bahwa baik tanduk-tanduk maupun kepala-kepala dapat melambangkan pemerintahan-pemerintahan sipil atau raja-raja. Jika tanduk-tanduk melambangkan badan-badan politik, maka kepala-kepala itu tidak mungkin melambangkan juga demikian. Jika kepala yang terluka pada binatang yang menyerupai macan tutul dari Wahyu 13 : 1 – 3 melambangkan sebuah organisasi agama, maka semua kepala harus melambangkan badan-badan agama. Tetapi terdapat suatu pengecualian dengan macan tutul yang berkepala empat dari Daniel 7 : 6 itu, karena ia tidak bertanduk dan kepala-kepalanya terbukti merupakan pemerintahan sipil, terbukti dari empat tanduk dari kambing jantan itu. Adalah suatu kenyataan yang tak mungkin salah bahwa simbol-simbol itu dimaksudkan untuk mengungkapkan fase-fase sipil dan agama selama masa periode yang dilambangkan oleh binatang yang tak tergambarkan dalam kedua tahap kekuasaannya -- yaitu kerajaan Romawi dan Romawi kepausan.

Karena mahkota-mahkota melambangkan kekuasaan sipil dan karena semuanya itu terlihat pada kepala-kepala bukan pada tanduk-tanduk, maka jelaslah bahwa sidang dalam

masa periode itu sedang menggunakan kekuasaan diktator sipil untuk menyebarluaskan ajaran-ajaran dogmanya. Dengan demikian pelajaran-pelajaran yang terkandung di dalam simbol-simbol ini adalah jauh lebih besar daripada yang dapat kita pahami dalam sekejap saja. Karena kenyataan-kenyataan yang muncul mengenai keadaan dari simbol-simbol itu tidak dapat diragukan, maka kita memperoleh suatu landasan positif bagi pengaplikasiannya.

Naga itu dengan sepuluh tanduknya dan tujuh kepalanya, dengan mahkota-mahkota pada kepala-kepalanya, terlihat pada saat kelahiran Kristus seperti yang dijelaskan terdahulu, dan ia itu menempati masa periode yang sejajar dengan binatang yang tak tergambarkan itu. Kepala-kepalanya dilambangkan oleh angka bilangan Alkitab “tujuh”, yang berarti “kelengkapan”, dan meliputi setiap organisasi agama di zaman Kristus. Karena naga itu melambangkan Iblis yang menguasai kepala-kepala, maka simbol itu menunjukkan secara tegas akan adanya suatu kemurtadan yang lengkap. Bukanlah dimaksudkan untuk mengungkapkan bahwa sistem peribadatan kekapiran itu dikepalai oleh Iblis, karena ia itu tidak pernah ada sebaliknya. Itu adalah sidang Yahudi yang telah murtad, dan itulah yang membuat angka bilangan Alkitab “tujuh kepala”. Justru kemurtadan yang sedemikian itulah yang telah  mencekam dunia di zaman Nuh; dan kejahatannya telah membuat kelanjutan dunia menjadi tidak mungkin. Oleh karena itu, perlu, demi kebaikan umat manusia, datanglah air bah. Kemurtadan hebat dari orang-orang Yahudi telah mendatangkan bencana lain yang tak terhindarkan yang sama dengan banjir besar yang mengerikan itu. Karena Allah tidak akan meruntuhkan dunia pada kedua kalinya dengan air, lalu juga tetap mempertahankan janji-Nya yang tidak pernah gagal itu kepada hamba-Nya Nuh yang setia itu, maka Ia mengutus Anak-Nya untuk mati menggantikan dunia. Oleh sebab itu, dunia tidak binasa, karena adanya korban yang mulia dari Anak Allah; dan dunia berada pada hari ini karena Kristus telah bangkit dari kematian. 

MAHKOTA-MAHKOTA DARI NAGA ITU 

Berikutnya kita perhatikan mahkota-mahkota itu dan pengertiannya. Telah dijelaskan bahwa mahkota-mahkota menunjukkan kekuasaan sipil. Kepala-kepala itu bermahkota, ia itu mengungkapkan bahwa gereja-gereja dari zaman itu menggunakan alat-alat kekuasaan sipil dari negara. Kalau saja ini tidak benar, maka orang-orang Yahudi tidak akan dapat menyalibkan Tuhan yang mulia itu; mereka juga tidak mugkin dapat melontari Stephanus dengan batu sampai mati, atau memenggal kepala dan membunuh orang-orang lainnya. Itu adalah penguasa sipil dari Romawi yang dikepalai oleh naga itu, melalui mana orang-orang Yahudi telah melibatkan diri dalam kejahatan-kejahatan yang hebat ini; yang berakhir dengan kebinasaan mereka. 

PENUDUH SAUDARA-SAUDARA 

Setelah naga itu tercampak jatuh dari surga sesuai dengan khayal, Yohanes mengatakan : “Maka aku dengar suatu suara yang besar mengatakan di dalam surga : Sekarang sampailah keselamatan, dan kuat, dan kerajaan dari Allah kita, dan kuasa dari Kristus-Nya : karena penuduh segala saudara kita itu telah tercampak ke bawah, yaitu dia yang telah menuduh mereka itu di hadapan Allah kita siang dan malam.” (Wahyu 12 : 10). “Tuduhan-tuduhan Setan melawan orang-orang

yang berusaha mencari Tuhan bukanlah terdorong karena ketidak-puasannya melihat dosa mereka. Ia justru bersukaria karena tabiat-tabiat mereka yang cacat itu : karena ia tahu bahwa hanya oleh pelanggaran mereka melawan hukum Allah, dapatlah ia memperoleh kuasa atas mereka itu.” -- “Prophets and Kings”, halaman 585, 586. Apabila Roh Allah menggerakkan untuk menegur, maka Ia akan mengungkapkan dosa dan menghukum orang berdosa itu. Tetapi Setan mendorong orang berdosa untuk melibatkan dirinya secara tidak sadar dalam pelanggaran, kemudian ia menuduhnya di hadapan Hakim yang Besar di dalam Surga, sebagai “berpakaikan baju-baju yang hitam dan kotor karena dosa”, untuk mendapatkan hukumannya. Umat Allah harus belajar untuk dapat mengenali suara dari Roh Kristus maupun suara dari roh Setan. Apabila keduanya bertubrukan, maka Yang Satunya akan berjuang untuk mematuhi Firman Allah, tetapi yang lainnya itu akan memaafkan dosa lalu bersimpati dengan orang yang berdosa. Dalam cara ini Setan akan menang berpijak, karena orang berdosa biasanya mencintai dosanya. 

* * *

SIDANG ALLAH DALAM LAMBANG SEORANG PEREMPUAN

WAHYU PASAL 12 

“Maka kelihatanlah di langit suatu keajaiban besar; yaitu seorang perempuan bersalutkan matahari, dan bulan berada di bawah kakinya, dan pada kepalanya ada sebuah mahkota dengan dua belas bintang : adalah ia itu sedang mengandung dan berteriak sebab sakit dan sengsara hendak melahirkan. Maka kelihatanlah suatu keajaiban yang lain lagi di langit, maka tengoklah seekor naga besar yang merah yang berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di kepalanya bermahkota tujuh. Maka ekornya menyeret sepertiga dari segala bintang di langit, lalu dicampakkannya ke bumi : maka berdirilah naga itu di hadapan perempuan yang sedang hendak melahirkan itu, supaya apabila ia sudah melahirkan naga itu dapat menelan anaknya itu. Lalu ia memperanakkan seorang anak laki-laki yang akan memerintahkan segala bangsa dengan sebuah tongkat besi : maka anaknya itu ditangkap dibawa kepada Allah, dan kepada tahta-Nya. Maka perempuan itupun larilah ke padang belantara, di situ ada suatu tempat disediakan Allah baginya, supaya mereka memeliharakannya di sana seribu dua ratus enam puluh hari lamanya.” (Wahyu 12 : 1 - 6). 

Perhatikan, bahwa semua obyek yang diperlihatkan dalam khayal ini terdapat di dalam surga, bukan di bumi. Oleh sebab itu, apapun yang terkandung di dalam simbol-simbol ini, semuanya itu harus berasal dari surga datangnya. Kembali lagi perhatikan, bahwa satu-satunya pakaiannya ialah matahari, dan bahwa mahkotanya adalah khusus terdiri dari “dua belas bintang”. Amatilah, bahwa ia bukan berdiri di atas “bulan”, karena Pewahyu mengatakan : “Bulan berada di bawah kakinya.” Kita harus dengan teliti mempelajari sifat dari semua simbol ini, karena hanya dengan demikianlah dapat kita mengetahui pengertiannya. Juga supaya tandailah bahwa ia sedang akan melahirkan seorang bayi laki-laki, dan bahwa bayi itu “ditangkap dibawa kepada Allah dan kepada tahta-Nya”. 

Adalah suatu kenyataan yang diakui bahwa anak itu ialah Kristus, yang telah naik ke tempat Yang Maha Tinggi sesudah kebangkitan-Nya. (Markus 16 : 19). Simbol itu berasal dari surga, maka “perempuan” itu tidak mungkin melambangkan Maria, ibu dari Kristus, tetapi ia menunjuk kepada sidang (“perempuan”) yang akan melahirkan, atau yang di dalamnya Kristus dilahirkan. Dengan demikian Yohanes dalam khayalnya ini sedang memandang ke belakang jauh sebelum Kristus dilahirkan. 

Telah diajarkan oleh sebagian orang bahwa “perempuan” itu adalah lambang dari gereja Kristen, dan bahwa bulan di bawah kakinya itu menunjukkan kepada masa periode Musa atau sistem upacara korban yang telah berlalu, dan bersalutkan matahari, berarti kemuliaan dari Injil di dalam periode sejarah Wasiat Baru. Sesuai dengan yang berikut ini, maka semua pernyataan ini terbukti tidak benar.

Jika “perempuan” itu melambangkan gereja Kristen, maka bagaimanakah dapat gereja yang sama (perempuan) mengandung di dalam kandungannya Kristus, oleh siapa gereja telah didirikan tiga puluh tahun kemudian? Jika kita mengatakan bahwa ia melambangkan gereja Yahudi, maka bagaimanakah dapat ia terbang ke dalam padang belantara lalu tinggal di sana semenjak dari tahun 538 sampai tahun 1798, dalam masa periode Kristen? Jika “bulan” yang berada di bawah kakinya itu menunjukkan akhir dari upacara korban Musa, maka mengapakah ia itu tidak berakhir sebelum kelahiran Kristus, sebab bulan itu berada di bawah kakinya sebelum Kristus lahir. Jika sekiranya ia itu berakhir pada waktu itu, tidakkah ia itu merupakan lambang dari kematian Kristus? Jika bajunya dari matahari itu merupakan lambang dari Injil di dalam sejarah Kristen, maka bagaimana mungkin sidang (perempuan) itu berpakaikan Injil itu bertahun-tahun lamanya sebelum sejarah Injil dimulai, yaitu bersalutkan Injil sebelum anak itu lahir? Yang manakah dari antara kedua sidang itu, sidang Yahudi atau sidang Kristen, yang melahirkan Kristus? Jika sekiranya itu adalah sidang Yahudi, maka bagaimanakah mungkin terang dengan mana ia bersalutkan itu diaplikasikan kepada sidang Kristen? Jika semua pertanyaan ini tidak dapat dijawab, maka kita wajib masuk lebih dalam lagi dalam masalah ini. 

Pendapat yang dikemukakan bahwa “perempuan” itu adalah lambang dari hanya sidang Kristen, dan “bulan” dari sistem upacara Yahudi, terbukti adalah tidak benar. Sidang Kristen didirikan kira-kira pada tahun 31 TM, atau tidak lebih dini dari tahun 27, pada waktu mana Kristus mulai berkhotbah; sewaktu berumur kira-kira tiga puluh tahun. Oleh sebab itu simbol itu menunjuk ke belakang sedikitnya tiga puluh satu tahun sebelum dimulainya sidang Kristen, karena “perempuan” itu (sidang) dalam kesakitan mengandung, dan sakit hendak melahirkan. 

Dengan demikian adalah sidang Yahudi yang telah  “melahirkan” Anak Allah dan bukan Kristen. Oleh sebab itu, perempuan itu (sidang Yahudi) mengandung, berteriak, gelisah kesakitan, dan sakit hendak melahirkan”; artinya, janji itu dibuat kepada Israel bahwa Mesias akan lahir melalui bangsa itu oleh sidang yang dimaksudkan itu (“perempuan”). Ular naga yang tua itu setelah mengetahui salurannya melalui mana “anak” itu akan datang, ia lalu mengawasi dengan seksama dengan maksud untuk membinasakan Dia yang dijanjikan itu segera setelah Ia lahir. Adalah pada waktu itu, maka naga yang tua itu melalui tangan Herodes, “membantai semua anak yang berada di Betlehem dan di semua pesisir pantainya,” dengan harapan untuk melenyapkan Raja yang datang itu. (Lihat Matius 2 : 16). 

Kenyataan membuktikan, bahwa simbol dari hal “perempuan” itu berlaku untuk dua periode, baik sebelum Tarik Masehi maupun sesudah Tarik Masehi. Oleh sebab itu, sebagaimana bulan berada di bawah kakinya pada sebelum kelahiran Kristus, maka ia itu harus merupakan lambang dari sesuatu masa periode yang mendahului sidang Yahudi. Karena “perempuan” itu “bersalutkan matahari” sebelum ia melahirkan “Anak” itu, maka ternyata bahwa simbol “bersalutkan matahari”, itu telah digenapi sebelum Kristus lahir. Jika bulan itu adalah

[halaman kosong]

___ GAMBAR ___

lambang, maka simbol dari “matahari” harus merupakan obyek utama, sebab, “bulan bergantung kepada matahari untuk mendapatkan terangnya, dan “perempuan” itu adalah bersalutkannya. Dengan demikian, maka “matahari” dan “bulan” harus dipertimbangkan. Di dalam Kejadian 1 : 16, kepada kita diceritakan bahwa matahari dan bulan akan menguasai siang dan malam hari. Dengan begitu “matahari” harus menunjukkan suatu masa periode di mana sidang Allah telah diberikan terang besar, dan “bulan” harus melambangkan masa periode sebelumnya. Terang besar itu tidak mungkin merupakan Injil Kristus di dalam Wasiat Baru. Juga tidak mungkin “bulan” melambangkan upacara bayangan di bawah perekonomian Yahudi, karena “perempuan” itu bersalutkan “matahari”, dan “bulan berada di bawah kakinya” selagi upacara bayangan itu masih ada, karena anak itu lahir sesudah “perempuan” itu bersalutkan “matahari”. Kristus sendiri, oleh makan Paskah tepat menjelang penyaliban terhadap diri-Nya, Ia telah meneguhkan kenyataan bahwa hukum upacara bayangan itu masih tetap ada 34 tahun sesudah kelahiran-Nya. (Lihat Matius 26 : 18 – 21). 

Jika pernyataan di atas adalah benar, maka kita harus mencarikan dua periode yang sedemikian ini yang akan cocok dengan simbol-simbol itu dengan setepatnya. Yang pertama ialah yang sebelum Alkitab muncul, dan yang kedua ialah yang ada bersama-sama dengan Alkitab -- “bersalutkan Terang” -- Firman Allah yang tertulis. Dengan demikian secara simbolis, periode yang pertama dapat disebut, malam, yang dikuasai oleh “bulan”, dan yang kedua disebut, siang, yang dikuasai oleh “matahari”. Oleh sebab itu, “perempuan yang bersalutkan matahari”, dan “gelisah kesakitan karena mengandung”, ialah periode sesudah Israel keluar dari Mesir, dan pada masa itu periode tanpa Alkitab, yaitu “bulan”, sedang berlalu. 

Kami akan mengemukakan suatu bukti yang lain dari segi pandangan yang berbeda, yang lebih meyakinkan lagi dari hal pendapat bahwa “perempuan” itu melambangkan periode -- yaitu sebelum dan sesudah Kristus. Wahyu 12 : 14 mengatakan : “Maka kepada perempuan itu dikaruniakan dua sayap burung garuda yang besar, agar ia dapat terbang masuk ke dalam padang belantara, yaitu ke tempatnya, dimana ia akan dipelihara selama satu masa, dan dua masa, dan setengah masa, jauh dari wajah ular itu.” Perhatikan, bahwa diberikan dua sayap dari seekor burung garuda yang besar. Jika sayap-sayap itu tidak melambangkan sesuatu, maka apakah tujuannya? Sebagaimana sayap-sayap dari singa dan dari macan tutul berkepala empat dari Daniel 7 melambangkan periode-periode, seperti yang dijelaskan terdahulu pada halaman 33 – 34, bahasa Inggris, maka dua sayap besar itu harus juga menunjukkan dua periode sejarah dunia yang panjang. Burung garuda adalah raja dari burung-burung, maka sebagaimana ditekankan bahwa sayap-sayap itu adalah dari seekor “burung garuda yang besar”, jelaslah bahwa simbol itu harus mengungkapkan masing-masing periode semenjak dari permulaannya. Dengan demikian salah satu dari sayap-sayap itu akan meliputi seluruh sejarah dunia semenjak dari kejatuhan Adam dalam dosa sampai kepada penyaliban Kristus, dan sayap yang satunya semenjak dari penyaliban Kristus sampai kepada akhir dunia ini (kedatangan Kristus yang kedua kali). Demikianlah terbukti, bahwa hanya ada satu sidang yang benar dalam segala zaman. 

Mahkotanya dari dua belas bintang itu pada dasarnya melambangkan dua belas

kepala suku dan kemudian dua belas suku bangsa setelah mereka itu keluar dari Mesir, pada waktu mana terang yang indah itu bercahaya dari Firman Allah yang tertulis (Alkitab), yang menyelubungi sidang (perempuan) selagi ia masih gelisah kesakitan mengandung “anak” (Mesias yang dijanjikan itu). Tetapi mahkota dengan dua belas bintang di dalam periode Wasiat Baru melambangkan dua belas rasul. Angka bilangan dua belas adalah lambang dari pemerintahan. Yesus mengatakan kepada mereka itu : “Kamu juga akan duduk di atas dua belas tahta, mengadili dua belas suku bangsa Israel”. (Matius 19 : 28). Kenyataan ini dibuktikan oleh contoh itu (dua belas suku bangsa itu). Dapatlah dicatat, bahwa dalam menghitung suku-suku bangsa dari Israel Rohani (144.000 itu) oleh contohnya (Israel badani) seperti terdapat di dalam Wahyu 7 : 5 – 8, suku Dan ditiadakan, dan sebagai gantinya suku Manaseh, yaitu anak sulung dari Yusuf diperhitungkan. Contoh ini berkaitan tepat dengan contoh saingannya, karena, Yudas Iskariot adalah salah seorang dari “dua belas rasul” itu, telah ditinggalkan, yang mana suku Dan merupakan lambangnya. Dan sebagai gantinya Paulus dari Tarsus telah dimasukkan, yang mana Manaseh ialah lambangnya. Oleh sebab itu, kita menyaksikan kecocokan yang sempurna antara contoh dan contoh saingannya. Pelajaran dalam peristiwa ini melalui simbol-simbol yang tak dapat salah, mengajarkan kepada kita bahwa Allah telah memiliki hanya sebuah sidang, sebuah kebenaran, dan sebuah jalan keselamatan bagi semua generasi manusia. Yang sama inipun dikemukakan oleh kata-kata Paulus : “Ada satu tubuh, dan satu Roh, yaitu seperti yang kamu sudah dipanggil dalam satu pengharapan atas hal yang kamu sudah dipanggil itu; satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa bagi semua orang.” (Efesus 4 : 4 – 6). 

Sidang Allah telah dilambangkan juga oleh objek-objek di bumi; kita berbicara mengenai simbol-simbol oleh perempuan-perempuan, yaitu Hagar dan Sarah. Yang pertama adalah lambang dari sidang Yahudi, dan yang kedua adalah lambang dari sidang Kristen. (Lihat buku “Tongkat Gembala”, Jilid I, halaman 136, bahasa Inggris). Simbol-simbol bumi ini menunjukkan sidang Allah dalam bagian-bagian dan kondisi-kondisi yang berbeda-beda. Tetapi “perempuan yang bersalutkan matahari” dan “sayap-sayap burung garudanya” yang berasal dari surga itu, menunjukkan sidang Allah yang benar (kebenaran) dalam suatu garis yang berkelanjutan, dan Anaknya, yaitu satu-satunya Juruselamat dan Penebus kita dalam kedua periode itu -- sebelum maupun sesudah Kristus. 

MAHKOTA DUA BELAS BINTANG DI DALAM PERIODE WASIAT BARU 

Khayalnya Yohanes yang terdapat di dalam Wahyu pasal dua belas, membicarakan dua pokok masalah utama, yaitu “perempuan yang bersalutkan matahari”, dan “naga yang merah” itu. Naga yang berwarna merah itu telah dijelaskan. (Lihat halaman 65 – 69, bahasa Inggris). Lambang dari “perempuan” itu dalam masa sejarah Wasiat Baru meliputi tiga bagian. Pertama, periode sejarah rasul-rasul; kedua, menghilangnya sidang dari peradaban manusia (di padang belantara) selama 1260 hari (tahun-tahun dari aniaya kepausan, ayat 6, 14); ketiga, periode yang terakhir dari sidang sementara dalam pertikaiannya melawan naga itu. (Ayat 15 – 17). Periode pertama dan periode kedua akan dijelaskan dalam

kaitannya dengan pelajaran yang lain. Sebuah penjelasan mengenai periode yang ketiga terdapat di dalam buku “Tongkat Gembala”, Jilid I, halaman 151, 152, bahasa Inggris.

Oleh sebab itu, maksud kami dalam pasal ini ialah melukiskan secara singkat pelajaran yang telah diajarkan dari “mahkota dua belas bintang” perempuan itu. Kami kemukakan pertanyaan : Siapakah yang menentukan penguasa-penguasa rasul ciptaan sendiri masa kini yang ada sekarang? Telah dikatakan bahwa sesudah rasul-rasul meninggal, maka suatu kesatuan lain dari jumlah yang sama mempunyai hak untuk menjadi rasul-rasul. Andaikata pernyataan ini benar; ada beratus-ratus sidang, dan jika masing-masingnya memiliki dua belas orang rasul, maka akan terdapat berlipat ganda ribuan rasul pada suatu masa, dan jika tindakan itu diulangi dalam setiap zaman, maka akan ada sejumlah besar rasul yang tak terhitung banyaknya pada kedatangan Kristus yang akan datang. Jika terdapat beribu-ribu rasul, maka nyatalah oleh perantaraan Firman berikut ini bahwa mereka tidak akan pernah masuk ke dalam kota Allah sebagai rasul-rasul, sebab Ilham mengatakan : “Maka tembok kota itu mempunyai dua belas pondasi, dan terukir di dalamnya nama dari dua belas rasul dari Anak Domba itu.” (Wahyu 21 : 14).

Apakah perbedaan di antara seorang rasul dan seorang pendeta Injil? Jika tidak ada perbedaan, maka sudah seharusnya terdapat lebih dari dua belas orang rasul di dalam sidang yang mula-mula, sebab ada lebih dari dua belas orang yang melibatkan diri dalam tugas-tugas kependetaan. Kristus telah menentukan dua belas orang, tetapi Yudas telah dikeluarkan, sehingga tertinggal hanya sebelas orang. Sesudah Kristus naik ke surga mereka yang sebelas itu bersepakat untuk memilih seseorang yang lain untuk menggantikan Yudas : “Maka hasil undiannya jatuh pada Mathias; lalu ia diperhitungkan masuk bersama-sama dengan sebelas murid itu”. (Kisah Para Rasul 1 : 26). Oleh sebab itu, mereka telah menggenapi jumlah angka itu. Kini jika Mathias memang menggantikan tempatnya Yudas, maka seharusnya ada tiga belas orang yang sedemikian itu menurut Roma 1 : 1 yang berbunyi : “Paulus, seorang hamba dari Yesus Kristus, terpanggil untuk menjadi Rasul, diasingkan bagi Injil Allah.”

Perhatikanlah dengan seksama bahwa mahkota dari perempuan itu memiliki hanya “dua belas bintang”, dan pada pondasi dari negeri itu hanya ada nama-nama dari dua belas rasul. Yang manakah dari antara dua orang itu, Mathias ataukah Paulus, yang tidak dikenal oleh Dia yang telah meletakkan pondasi yang mahal dari Negeri Suci itu? Jika kita mengatakan Paulus, maka kita membuatnya menjadi seorang pembohong. Jika kita mengatakan Mathias, maka pelantikannya oleh mereka yang sebelas orang itu tidak mempunyai pengaruh apa-apa dalam memiliki seorang rasul. Jadi bagaimana? Di dalam Kisah Para Rasul 1 : 26, adalah yang pertama sekali dan yang terakhir kita dengar dari hal Mathias, tetapi tidak demikian halnya dari hal Paulus. Jika Mathias adalah seorang rasul, maka pasti ia tidaklah sepantas Paulus. Yang manakah dari kedua pelantikan itu yang menjadi sangat terhormat? Bukankah pelantikan Paulus itu oleh Kristus sendiri sewaktu Ia menjumpainya dalam perjalanannya ke Damaskus, ataukah pelantikan Mathias oleh tangan-tangan para rasul itu?

Pertanyaan ini adalah jelas. Tak ada tangan seorangpun yang sanggup untuk melantik seorang rasul, betapapun tinggi kedudukannya dalam hubungan dengan Injil. Hanya tangan-tangan suci Kristus serta kehadiran pribadi-Nya yang dapat melantik seseorang untuk jabatan yang sedemikian. Ini adalah

bukti yang tak dapat disangsikan, sebab “perempuan” itu memiliki sebuah mahkota dari hanya “dua belas bintang”. Oleh sebab itu, siapakah yang berkuasa untuk melantik orang lain lalu dengan demikian memperlipat-gandakan jumlah “bintang-bintang” itu? 

Apakah artinya seorang rasul? Jawab : -- Seseorang yang “diasingkan bagi Injil Allah”. Tetapi jika ini adalah satu-satunya pengertian bagi gelar itu, maka semua orang yang melibatkan diri dalam pemberitaan Injil, yang diasingkan, harus menjadi rasul-rasul. Oleh karena itu, kata-kata, “rasul”,  harus memiliki pengertian khusus dan maksud yang dalam daripada hanya diasingkan bagi Injil Allah. Rasul Paulus dipanggil untuk menjadi seorang rasul bagi orang-orang Kapir. Dengan demikian ia bersama-sama dengan mereka yang sebelas itu telah menjadi pendiri-pendiri sidang dari orang-orang Kapir di bumi ini, dan Kristus sebagai pemimpin samawinya. Berbicara mengenai karunia-karunia di dalam sidang, maka rasul-rasul adalah yang pertama, karena tanpa seorang pendiri maka tak akan ada organisasi, dengan demikian karunia-karunia sisanya akan menyusul. (Lihat 1 Korintus 12 : 28). 

Mahkota adalah kemuliaan perempuan itu, dan bintang-bintang (duabelas rasul) adalah satu-satunya penguasa bumi miliknya. Di sinilah suatu bukti yang tegas, bahwa rasul-rasul zaman ini adalah palsu. Seorang nabi dapat menuntut kekuasaannya sebagai nabi tetapi tidak pernah sebagai seorang rasul. Tetapi ada perbedaan di antara nabi-nabi Wasiat Lama dan nabi-nabi dari Wasiat Baru; nabi-nabi Wasiat Baru berada di bawah kekuasaan nabi-nabi Wasiat Lama; dengan kata lain, ia dapat menjadi seorang penterjemah atau pengungkap Alkitab : “Sebab semua nabi dan hukum (upacara -- dalam contoh) bernubuat sampai kepada Yohanes.” (Matius 11 : 13). Hasil interpretasi adalah benar hanya apabila diilhami oleh Roh yang sama, dengan demikian ucapan-ucapan yang tepat pada waktunya diungkapkan. Bukan saja penemuan-penemuan sejarah membuktikan hal ini, tetapi juga Alkitab sangat menekankan kepada pokok masalah ini, karena telah dikatakannya dengan jelas bahwa kita adalah, “Dibangun di atas landasan segala rasul dan nabi-nabi, dan Yesus Kristus sendiri merupakan batu penjurunya”. (Efesus 2 : 20). Kembali kita baca : “Akan tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, maka Ia akan memimpin kamu kepada segala kebenaran; karena Ia tidak akan berkata-kata menurut kehendaknya sendiri, melainkan apapun yang akan didengarnya, itu juga yang akan dibicarakannya; dan Ia akan menunjukkan kepadamu segala perkara yang akan datang.” (Yohanes 16 :  13). Di manakah dibutuhkan rasul-rasul yang sedemikian ini? Bukankah kata-kata dari rasul-rasul itu yang terdapat di dalam Alkitab? Jika kita hendak mengangkat seperangkat orang-orang yang sedemikian ini, tidakkah kita mengesampingkan “perempuan” itu berikut “mahkota dua belas bintangnya”? Jika kita mengesampingkan “mahkota” itu dengan cara melaksanakan pemilihan rasul-rasul secara sukarela, apakah yang akan kita perbuat dengan Injil yang dipercayakan kepada sidang oleh rasul-rasul Kristus yang diurapi? Dengarkanlah otoritas dari mahkota yang berbintang-bintang itu : “Walaupun kami ini atau seorang malaikat dari surga sekalipun, mengkhotbahkan kepadamu sesuatu Injil lain daripada yang sudah kami khotbahkan kepadamu, biarlah ia terkena kutuk. Sebagaimana yang telah kami katakan terdahulu, sekarang pun kembali kukatakan begitu. Jikalau barang seorang mengkhotbahkan sesuatu Injil yang lain kepadamu dari apa yang sudah kamu terima, biarlah ia terkena kutuk.” (Galatia 1 : 8, 9). “Karena orang-orang yang semacam itu adalah rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja penyesat,

yang menyatakan dirinya seolah-olah rasul-rasul Kristus.” (2 Korintus 11 : 13). Dunia dipenuhi dengan rasul-rasul dan sekte-sekte agama yang sedemikian itu dari berbagai jenis, bukankah demikian? Sekaranglah waktunya bagi umat Allah untuk menyembah sujud ke hadapan Khaliknya, dan untuk menyelidiki Firman bagi dirinya sendiri, agar mereka dapat mengerti apa sebenarnya kebenaran itu. Mengapa orang harus menerima saja keputusan orang lain bagi dirinya? Oleh berbuat begitu pengalaman kita sendiri dirampas dari kita. Jika begitu halnya, maka tidakkah kita akan bertanya, Bagaimanakah gambaran hari depan dunia ini? Tidak seorangpun diselamatkan karena mungkin ia mengakui akan kenyataan dari kebenaran, atau karena mungkin ia tergabung di dalam sidang yang benar, atau paham yang benar. Adalah hanya oleh pengalamannya sendiri yang didasarkan di atas bukti-bukti kebenaran, yang diterima di dalam hati, yang dapat memperbaharui pikiran, dan memperbaharui jiwa, sehingga ia dapat berjalan dalam kehidupan yang baru. Adalah sama sekali tidak mungkin untuk masuk ke dalam kerajaan Kristus tanpa suatu sentuhan pribadi terhadap kemuliaan Ilahi. Yesus mengatakan : “Sesungguhnya Aku mengatakan kepadamu, Jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat kerajaan Allah.” (Yohanes 3 : 3). Firman berikut inipun mengandung bukti yang sama. “Karena Yahudi yang sebenarnya itu bukannya Yahudi secara lahiriah saja, dan sunat yang sebenarnya itu bukannya sunat secara lahiriah pada daging saja; melainkan Yahudi yang sebenarnya ialah Yahudi yang pada bathinnya, dan sunat yang sebenarnya ialah; sunat hati, dalam roh, dan bukan menurut ketentuan saja; maka kepujian mereka itu bukanlah dari manusia, melainkan dari Allah.” (Roma 2 : 28, 29).

“Sunat tidak berarti apa-apa, dan tidak bersunat itupun tidak berarti apa-apa, terkecuali mematuhi Hukum-Hukum Allah.” (1 Korintus 7 : 19). “Koyakkanlah hatimu, dan bukan pakaianmu, dan kembalilah kepada Tuhan Allahmu : karena Ia adalah amat mengasihani dan mulia, panjang sabar, dan besarlah kemurahannya, dan bersesallah Ia akan yang jahat itu.” (Yoel 2 : 13). “Karena orang-orang yang semacam ini tidak berbakti kepada Tuhan Yesus Kristus kita, melainkan kepada perutnya sendiri; dan dengan perkataan yang manis-manis dan pembicaraan-pembicaraan yang indah-indah mereka memperdaya orang-orang yang tulus hatinya.” (Roma 16 : 18).

Kembali kepada pemikiran kita yang semula : Mereka yang sebelas itu dibiarkan melaksanakan pelantikan terhadap Mathias untuk menjadi sebuah pelajaran sampai kepada hari ini dengan agama model baru ciptaannya itu, yang menunjukkan bahwa Allah tidak menyerahkan otoritas kekuasaan rasul itu kepada siapapun -- terkecuali hanya kepada mereka yang dua belas itu saja. Perintah yang diberikan kepada pihak kependetaan adalah : “Sebab itu pergilah kamu, dan ajarkanlah segala bangsa, baptiskanlah mereka itu dalam nama Bapa, Anak, dan Rohulkudus : Ajarlah mereka itu untuk mematuhi segala perkara yang sudah Ku pesankan kepadamu; maka tengoklah, Aku menyertai kamu selalu, bahkan sampai kepada akhir dunia.” (Matius 28 : 19, 20). “Adapun akan dikau, hai anak Manusia, Aku sudah mengangkat engkau menjadi penjaga bagi isi rumah Israel, sebab itu engkau harus mendengarkan firman dari mulut-Ku, dan supaya engkau menasehatkan mereka itu dari pihak-Ku. Apabila Aku mengatakan kepada orang jahat itu, hai orang jahat, engkau pasti akan mati; jika engkau tidak berbicara mengamarkan si jahat itu dari jalannya, sehingga orang jahat itu akan mati dalam kejahatannya; tetapi darahnya akan Ku tuntut dari tanganmu.” (Yehezkiel 33 : 7, 8).

Sesungguhnya kedua belas “bintang” yang terdapat di atas “mahkota perempuan” itu pada dasarnya

melambangkan dua belas kepala suku; kemudian dua belas suku bangsa dari Israel badani; sesudah itu dua belas rasul-rasul itu; dan terakhir dua belas suku bangsa dari Israel Rohani (mereka yang 144.000 itu). Dengan demikian kembali dibuktikannya angka bilangan “empat” merupakan suatu angka bilangan yang penting, dan bahwa oleh “perempuan” itu empat masa periode ini telah dilambangkan.

Allah yang lebih dulu telah melihat akan sifat mementingkan diri manusia, Ia telah memerintahkan kepada nabinya untuk menuliskan yang berikut ini : “Bahwa kamu mengenyangkan dirimu dengan lemaknya, dan kamu memakaikan dirimu dengan bulunya, dan yang tambun-tambun kamu bantai, tetapi tiada kamu menggembalakan kawanan domba itu. Yang lemah tiada kamu kuatkan, dan yang sakit tiada kamu obati, dan yang luka tiada kamu bebati, dan yang terhalau tiada kamu bawa balik, dan yang sesat tiada kamu cari, melainkan kamu sudah memerintahkan dia dengan kekerasan dan bengis. Sebab itu tercerai berailah mereka itu dengan tiada bergembala dan telah menjadi makanan segala binatang buas di padang, sebab tersesatlah mereka. Bahwa kawanan domba-Ku sesatlah di atas segala gunung yang tinggi dan di atas puncak segala bukit; dan tercerai-berailah kawanan domba-Ku di seluruh muka bumi; maka seorangpun tiada yang peduli, seorangpun tiada yang mencari akan dia. Sebab itu, hai kamu gembala-gembala, dengarlah olehmu firman Tuhan; Sesungguhnya Aku ini hidup, demikianlah firman Tuhan Hua, sesungguhnya karena sebab kawanan domba-Ku telah menjadi rampasan, dan kawanan domba-Ku telah menjadi makanan segala binatang buas di padang, dan karena sebab tiada gembala, dan segala gembala-Ku tiada perduli akan kawanan domba-Ku, dan karena sebab gembala-gembala itu menggembalakan dirinya sendiri dan tiada digembalakannya kawanan domba-Ku; sebab itu, hai gembala-gembala, dengarlah olehmu firman Tuhan; Demikianlah firman Tuhan Hua : Bahwasanya, Aku membalas kelak kepada segala gembala itu dan Ku tuntut domba-domba-Ku dari tangan mereka dan Ku pecat mereka itu dari pangkat gembala, sehingga tiada lagi gembala-gembala itu menggembalakan dirinya sendiri; karena Aku akan melepaskan kawanan domba-Ku dari mulut mereka, supaya domba-domba itu tidak lagi menjadi makanan mereka. Karena demikianlah firman Tuhan Hua; Bahwasanya Aku, bahkan Aku sendiri, akan bertanya akan hal domba-Ku dan Aku akan mencari akan dia.” (Yehezkiel 34 : 3 – 11).

Sebagai satu perbandingan Roh Allah telah menarik suatu gambaran nyata dari kawanan domba dan gembala-gembalanya; umat Allah sebagai kawanan domba; dan pihak kependetaan sebagai gembala-gembala. Umat Allah yang benar akan meniru domba-domba itu, dan para pengawal-Nya akan meniru gembala-gembala yang baik yang menggembalakan domba-dombanya. Apa saja yang kurang daripada ini ialah kekejian di hadapan pemandangan Allah. Jika kita harus mempelajari pelajaran yang dimaksud, kita harus pertama sekali mencarikan suatu pengertian yang jelas mengenai contoh dari (gembala-gembala dan kawanan domba) sebab, contoh saingannya (para pendeta dan para anggota gereja) diminta untuk meniru contoh itu.

Gambaran ini diambil dari cara menggembalakan kawanan domba di masa dahulu. Lapangan rumput terbuka dari gunung-gunung dan bukit-bukit itu meminta pengawasan yang teliti yang terus menerus dari para gembala terhadap domba-domba mereka. Daerah teritorial yang luas menarik domba-domba itu dan para gembalanya kepada suatu jarak yang sangat jauh dari rumah, dan perjalanan yang terus menerus melintasi daerah itu membuatnya menjadi tidak mungkin untuk memperoleh suatu perlindungan yang permanen jenis apapun bagi domba-domba itu, ataupun

gembala-gembalanya. Akibatnya, pertolongan orang lain diperlukan. Setiap gembala memiliki sejumlah tertentu anjing-anjing, tergantung kepada besarnya kawanan domba, untuk keselamatan domba-domba itu dari manusia dan binatang-binatang buas. Sebagaimana perkara yang satu menarik perkara lainnya, maka seekor lembu biasanya digunakan untuk memikul barang-barang kebutuhan yang diperlukan bagi domba-domba, anjing-anjing dan para gembala. Semua ini terdiri dari pakaian, kain selimut untuk malam hari, makanan bagi para gembala maupun bagi anjing-anjing, obat-obatan, pembalut luka, dan sebagainya. Binatang yang setia ini membawa beban itu pada punggungnya setiap hari pada sepanjang tahun. Pada akhir dari hari gembala menghitung domba-dombanya. Jika seekor domba hilang, maka ia segera pergi mencarinya, karena adalah tidak aman bagi seekor domba berjalan terpisah tersendiri dari kawanannya.

Kondisi menakjubkan dari domba merupakan bukti kesetiaan gembalanya dan kepantasan tugas upahannya. Ia tidak saja harus mencarikan padang rumput yang baik, melainkan juga bertindak sebagai dokter hewan yang baik. Seringkali seekor domba patah kakinya dan adalah kewajiban dari gembalanya untuk secara tangkas meluruskannya kembali, menyerpih dan membebat lukanya itu. Dalam perjalanan melintasi permukaan tanah yang kasar, dimana terdapat batu-batu karang dan belukar-belukar kecil, kecelakaan-kecelakaan sering terjadi. Kadang-kadang duri akan masuk ke dalam daging, atau luka kecil lainnya terjadi, yang mungkin sekali tidak menimbulkan sakit, dan tidak akan diperhatikan oleh gembala, namun seekor lalat kecil dapat menanamkan telurnya di dalam luka yang terbuka itu, lalu benih lalat dapat segera berkembang dan mencarikan jalannya di bawah kulit dan sampai ke tulang; ini adalah kejadian yang biasa. Pada saat yang sedemikian ini perhatian gembala itu akan tertuju kepada penyakit dari domba itu dan ia kemudian harus memberikan kepadanya pengawasan khusus dan bebatan terhadap luka itu.

Apabila seekor anak domba, ataupun seekor domba sakit dan terlalu lemah untuk mengikuti rombongan kawan-kawannya, maka adalah kewajiban dari gembala untuk mengawasi dan membawanya. Jika ia harus menggendong seekor anak domba di dalam tangannya, maka induk domba itu akan selalu berada pada sisinya dengan melihat kepada anaknya itu sambil berbicara kepadanya. Mahluk-mahluk yang mulia ini menjaga, memberi makan, dan memeliharakan anak-anak dombanya dengan bersih tidak bercacat. Adakah ibu-ibu berbuat juga sedemikian ini bagi anak-anak anda? Adakah anda para gembala (para pendeta) dari kawanan domba Allah sedang melakukan semua yang dilakukan para gembala kuno itu bagi domba-dombanya? Ataukah anda memberi makan dan mengawasi dirimu sendiri lebih banyak daripada yang anda perbuat bagi kawanan domba Allah? Adakah anda pantas dengan tugas upahan anda?

Para gembala yang dahulu harus mempertanggung-jawabkan secara lengkap keseluruhan kawanan dombanya, bahkan sampai kepada masalah-masalah yang terkecil. Adakah anda mengira bahwa Allah akan meminta lebih kurang dari itu daripadamu? Bukankah domba-domba-Nya adalah jauh lebih berharga? Daud mempertaruhkan hidupnya bagi seekor anak domba, tetapi Allah melepaskan dia dari singa dan beruang. Demi untuk kehormatan Allah dan keselamatan umat-Nya, maka Daud, telah membahayakan hidupnya sendiri, ia menghadapi Goliat Raksasa itu, tetapi Allah telah menyerahkan orang Filistin itu ke tangan Daud, dan menjadikan Daud raja atas bangsa-Nya. Adakah anda mengira bahwa Ia akan berbuat kurang bagimu, jika anda juga menirukan Gembala Yang Baik itu?

Yesus mengatakan : “Akulah gembala yang baik; gembala yang baik

menyerahkan hidupnya bagi domba-domba. Tetapi seorang upahan, yang bukan gembala, dan lagi domba itu bukan miliknya sendiri, apabila dilihatnya serigala datang, ditinggalkannya kawanan domba itu lalu lari melepaskan dirinya, maka serigala itu menerkam domba-domba itu sambil mencerai-beraikannya. Orang upahan itu lari, karena ia hanyalah seorang upahan, dan tiada ia pedulikan domba-domba itu. Akulah gembala yang baik, dan Aku kenal akan domba-domba-Ku, dan domba-domba-Ku itupun kenal akan Daku. Sebagaimana Bapa kenal akan Daku, demikian itu pula Aku kenal akan Bapa : dan Aku menyerahkan hidup-Ku untuk domba itu.” (Yohanes 10 : 11 – 15).

Nabi Yesaya sambil memandang ke depan sampai kepada kondisi-kondisi zaman ini mengatakan : “Sesungguhnya, mereka adalah anjing-anjing yang gelojoh yang tiada pernah dapat kenyang, dan mereka adalah gembala-gembala yang tidak dapat mengerti; mereka semua memandang kepada jalannya sendiri, masing-masingnya kepada keuntungannya sendiri, tanpa kecuali.” (Yesaya 56 : 11). 

* * *

[halaman kosong]

___ GAMBAR ___

BINATANG YANG MENYERUPAI MACAN TUTUL

Wahyu 13 : 1 - 10 

Binatang yang tak tergambarkan dari Daniel 7, yang melambangkan Romawi dalam tahap pertamanya, menunjukkan secara nubuatan melalui sepuluh tanduknya itu bahwa akan bangkit sepuluh orang raja dari dalam Romawi. Dalam tahap keduanya terlihat bahwa penguasa kepausan akan bangkit, mengalahkan tiga orang raja, dan menganiaya umat kesucian dari Yang Maha Tinggi selama jangka waktu 1260 tahun. Tetapi tidak dijelaskannya mengenai keruntuhan kerajaan Romawi atau penguasa kepausan itu. Ia juga diam saja sehubungan dengan reformasi yang datang sebelum atau sesudah tahun 1798 TM. Oleh sebab itu, tidak adanya informasi melalui simbol-simbol dari binatang ini, mestilah ditemukan di tempat lain di dalam nubuatan Firman Allah. Dan ini harus dicarikan di dalam buku Wahyu, karena buku Wahyu ialah pelengkap dari nubuatan-nubuatan Daniel.

Binatang yang menyerupai macan tutul dari Wahyu 13 : 1 – 10 adalah satu-satunya nubuatan simbolis yang menceritakan tentang keruntuhan kerajaan Romawi, dimahkotainya kesepuluh orang raja itu, terlukanya penguasa kepausan, reformasi dan bangkitnya Protestantisme, dan tertawannya Paus.

“Maka aku berdiri di pasir di tepi laut, dan aku tampak seekor binatang buas naik keluar dari dalam laut yang berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas tanduk-tanduknya itu bermahkota sepuluh, dan di atas kepala-kepalanya itu terdapat nama hujat.” (Wahyu 13 : 1). Perhatikanlah bahwa binatang ini memiliki jumlah tanduk yang sama dengan “binatang yang tak tergambarkan” dalam tahap permulaannya (kekaizaran Romawi). Daniel mengatakan, sepuluh tanduk pada binatang itu yang melambangkan Romawi adalah “sepuluh orang raja yang akan bangkit”. (Daniel 7 : 24). Tanduk-tanduk yang melambangkan dunia Romawi dalam bentuk kerajaannya itu juga menunjuk ke depan kepada masa apabila kerajaan itu akan terbagi menjadi sepuluh bagian, atau sepuluh kerajaan. Dengan perkataan lain, jika tanduk-tanduk itu pada mulanya melambangkan dunia Romawi dalam bentuk kerajaannya, maka semuanya itu pada kedua kalinya menunjuk kepada dunia yang ada sekarang dalam keadaannya yang terbagi-bagi semenjak dari keruntuhan Romawi -- yaitu yang bertalian dengan sepuluh jari kaki pada patung besar dari Daniel pasal 2.

Binatang yang tak tergambarkan itu dalam tahap permulaannya memiliki sepuluh tanduk. Karena dalam tahap keduanya tanduk kecil itu muncul, lalu tiga dari kesepuluh tanduk itu tercabut sampai dengan akar-akarnya, maka itu menunjukkan bahwa mereka itu tidak pernah lagi dapat dikukuhkan sebagai raja-raja. Tanduk-tanduk yang dikurangi itu sampai mencapai angka bilangan Alkitab tujuh, menunjukkan bahwa penguasa kepausan akan berkuasa sepenuhnya atas seluruh dunia sejauh yang berhubungan dengan sidang Kristen. Oleh sebab itu, sepuluh tanduk yang terdapat pada binatang yang menyerupai macan tutul dari Wahyu 13 : 1 itu tidak mungkin menunjukkan bahwa tiga pucuk tanduk yang tercabut itu telah kembali memperoleh kekuasaannya pada kedua kalinya.

Karena jumlah tanduk yang sama kembali muncul pada masing-masing binatang berturut-turut; yaitu, binatang yang tak tergambarkan (Daniel 7 : 7); binatang yang menyerupai macan

tutul (Wahyu 13 : 1); dan binatang merah kirmizi (Wahyu 17 : 3); yang melambangkan seluruh sejarah Wasiat Baru, maka terbuktilah melalui fakta-fakta yang terkumpul bahwa angka bilangan dari tanduk-tanduk itu dimaksudkan untuk menunjukkan dunia secara keseluruhan. Karena semuanya itu tidak ada terdapat pada binatang dari Wahyu 13 : 11 – 18, maka itu membuktikan bahwa binatang yang bertanduk dua itu menunjukkan suatu keadaan setempat. Oleh karena itu, jelaslah tak dapat dibantah, bahwa jumlah tanduk-tanduk yang telah ditetapkan itu (sepuluh) adalah dimaksudkan untuk melambangkan bangsa-bangsa dan pemerintahan-pemerintahan dunia secara keseluruhan. (Ikutilah gambar bagan pada halaman 84, bahasa Inggris).

Karena sebagaimana singa, beruang, macan tutul berkepala empat, dan binatang yang tak tergambarkan itu (lambang dari Babilon, Medo-Persia, Yunani dan Romawi) adalah berkaitan satu dengan lainnya, maka ikatan yang tak mungkin putus dari binatang-binatang itu membuatnya tidak mungkin bagi sesuatu binatang dunia lainnya (kerajaan) untuk memotong di tengah urut-urutan mereka itu. Akibatnya, maka binatang yang menyerupai macan tutul dari Wahyu 13 : 1 - 9 harus mengikuti binatang yang tak tergambarkan itu (Romawi).

Ayat 2, 3 : “Maka binatang yang ku tampak itu adalah bagaikan seekor macan tutul, dan kaki-kakinya adalah seperti kaki beruang, dan mulutnya seperti mulut singa; maka naga itu memberikan kepadanya kekuatannya, dan kedudukannya dan kuasa besar. Dan aku tampak salah satu kepalanya itu bagaikan terluka yang membawa mati; tetapi luka parahnya itu sudah sembuh : dan seluruh dunia heranlah akan binatang itu.” Pembentukan binatang ini mengungkapkan kenyataan bahwa ia adalah turunan dari empat binatang yang mendahuluinya. Mulutnya adalah mulut singa, kakinya kaki beruang, badannya badan macan tutul, dan jumlah tanduk-tanduknya, semuanya menunjuk ke belakang kepada sifat-sifat keturunannya yang berasal dari Babilon, Medo-Persia, Yunani, dan Romawi. Kenyataan yang tak dapat dibantah ini membuktikan bahwa ialah binatang dunia yang kelima.

Binatang yang menyerupai macan tutul itu muncul keluar dari dalam laut dalam cara yang sama seperti keempat binatang yang mendahuluinya. (Daniel 7 : 3). Oleh sebab itu, binatang dari Wahyu 13 : 1 – 9 itu tercipta dari hasil-hasil peperangan dan kegemparan di antara bangsa-bangsa, dalam cara yang sama seperti halnya Babilon, Medo-Persia, Yunani, dan Romawi. Oleh karena kenyataan yang diungkapkan oleh simbol itu tidak dapat dipermasalahkan, maka binatang yang menyerupai macan tutul itu akan menggenapi periode sesudah keruntuhan kerajaan Romawi, sama dengan kaki-kaki dan jari-jari kaki -- yaitu besi dan tanah liat dari patung besar di dalam Daniel pasal 2. Dengan perkataan lain, binatang yang menyerupai macan tutul itu datang bersama-sama dengan berakhirnya periode yang dilambangkan oleh tahap permulaan dari binatang yang tak tergambarkan itu, sebaliknya tahap kedua dari yang terkemudian itu (Romawi Kepausan) terus berlangsung sampai tahun 1798. Akibatnya, proses pembukaan dari yang satu jatuh bersamaan dengan menurunnya yang lainnya. Kepada Yohanes binatang yang menyerupai macan tutul itu diperlihatkan bukan dalam proses pembukaannya, melainkan sebaliknya dalam tindakannya yang terakhir, karena dikatakan olehnya, “Dan luka parahnya itu sudahlah sembuh”. Ia melihat dalam khayal binatang itu setelah luka parahnya sembuh, karena ia menggunakan kata kerja masa lalu (past tense), “was”. Tetapi dalam khayal Daniel perbuatan dari binatang yang tak tergambarkan itu semuanya terdapat di

masa depan. Nabi itu mengatakan : “Maka ia akan berbicara perkataan-perkataan yang besar melawan Yang Maha Tinggi, dan ia akan menganiaya umat kesucian dari Yang Maha Tinggi, dan merencanakan untuk merubah masa dan hukum-hukum : dan mereka akan diserahkan kepada tangannya sampai satu masa dan dua masa dan setengah masa.” (Daniel 7 : 25). Daniel dalam khayal menyaksikan sejarah yang dilambangkan oleh binatang-binatang, ke depan; sebaliknya Yohanes memandangnya ke belakang; atau dengan perkataan lain, Daniel melihat apa yang akan dilakukan oleh binatang itu, sebaliknya kepada Yohanes diperlihatkan apa yang telah diperbuat oleh binatang itu. 

MAHKOTA-MAHKOTA DAN TANDUK-TANDUK 

Dari hal binatang “yang memiliki tujuh kepala dan sepuluh tanduk, dan di atas tanduk-tanduknya itu terdapat sepuluh mahkota” Yohanes mengatakan, “Maka aku melihat salah satu dari kepala-kepalanya itu bagaikan terluka yang membawa mati”. Kepala yang terluka itu melambangkan penguasa kepausan, yang dilukai oleh Marthin Luther yang pada dasarnya dilambangkan oleh tanduk-kepala dari binatang yang tak tergambarkan yang menunjukkan hanya kekuatan paus dan kekuasaannya. Tetapi “binatang yang menyerupai macan tutul” itu menunjukkan penguasa kepausan dalam keadaannya yang terluka, dan tertawannya Paus. Dengan demikian kedua binatang itu (binatang yang tak tergambarkan dan binatang yang menyerupai macan tutul) saling meliputi yang lainnya, semenjak dari keruntuhan kerajaan Romawi sampai tahun 1798. Oleh sebab itu, sementara binatang yang tak tergambarkan itu dalam tahap keduanya melambangkan penguasa kepausan, maka kepausan itu sendiri pada tahap keduanya dilukiskan oleh “binatang yang menyerupai macan tutul”. Yang satu mengungkapkan kekuasaannya yang kejam itu, dan yang lainnya melukiskan keruntuhannya. Karena tanduk kecil itu akan menerima kuasa dan menganiaya umat kesucian dari yang Maha Tinggi selama 1260 tahun (Daniel 7 : 25). Tetapi binatang yang menyerupai macan tutul itu juga “membuka mulutnya dalam hujat”, dan kuasa dikaruniakan kepadanya untuk “melanjutkan empat puluh dua bulan” lamanya. (Wahyu 13 : 6, 5). Jumlah bulan-bulan itu adalah sama dengan “satu masa dan dua masa dan setengah masa” -- yaitu 1260 hari (tahun), dengan menghitung 30 hari untuk satu bulan.

Dengan terpenjaranya Paus Pius VI, dan kematiannya pada tanggal 19 Agustus 1799, maka suatu penggantian terjadi di antara binatang yang tak tergambarkan itu dan binatang yang menyerupai macan tutul. Kepala dan tanduk-tanduk dipindahkan dari yang satu kepada yang lainnya, demikianlah kita misalkan. Dalam melakukan perubahan itu tanduk kecil “yang memiliki mata seorang manusia dan sebuah mulut yang berbicara perkara-perkara yang besar”, dipindahkan dari tanduk-kepala ke suatu kepala biasa yang terluka, yang menunjukkan penguasa kepausan telah kehilangan kekuasaan agamanya, dan tidak lagi dilambangkan oleh sebuah tanduk-kepala (kombinasi gereja dan negara).

Karena peristiwa itu mengakhiri periode nubuatan 1260 tahun dari Daniel 7 : 25 dan Wahyu 13 : 5, maka ia itu selengkapnya memahkotai tanduk-tanduk dari binatang yang menyerupai macan tutul, menunjukkan bahwa negara kini telah lepas bebas dari gereja. Mahkota-mahkota yang terdapat di atas tanduk-tanduknya itu menunjukkan keruntuhan kerajaan Romawi, menunjukkan bahwa sepuluh raja yang dilambangkan oleh sepuluh tanduk dari binatang yang tak tergambarkan itu, telah memperoleh kerajaan mereka.

TANDUK-TANDUK DAN KEPALA-KEPALA SEMUANYA ADA

“Bahwa aku, Yohanes menyaksikan binatang itu memiliki tujuh kepala dan sepuluh tanduk, dan di atas tanduk-tanduknya itu terdapat sepuluh mahkota.” Janganlah kita mengabaikan kenyataan, bahwa semua tanduk, mahkota-mahkota, dan kepala-kepala itu semuanya berada pada binatang itu. Oleh sebab itu, apapun pengertian yang berasal dari lambang simbol itu, semuanya harus berada pada saat kepalanya yang terluka parah itu telah sembuh kembali. Kalau bukan demikian itu halnya, maka lambang-lambang mengenai kepala-kepala dan tanduk-tanduk itu sudah akan muncul secara berurutan satu menyusul yang lainnya sama seperti yang terjadi dengan tanduk kecil dan ketiga tanduk lainnya yang telah “tercabut” dari binatang yang tak tergambarkan dari Daniel 7 : 7. Suatu metode yang sama telah berlaku dalam penyelidikan tentang “kambing jantan”. Sesudah tanduk yang besar itu patah (Alexander), maka muncullah pada tempatnya empat tanduk (empat bagian dari Yunani), dan setelah ini muncullah tanduk yang sangat besar itu yang sejak semula melambangkan Romawi. (Daniel 8 : 8, 9).

Di mana sistem-sistem dan pemerintahan-pemerintahan tidak semuanya terdapat pada waktu yang bersamaan, maka simbol-simbol menunjukkan keadaannya yang berurutan. Faktor lain untuk diperhatikan ialah bahwa setiap simbol dari keseluruhan proses kemunculan binatang-binatang itu menunjukkan kenyataan-kenyataan yang akan jadi dalam masa periode yang dilambangkan oleh masing-masing binatang, dan tidak satupun dari mereka itu menunjuk kepada sesuatu perkara di masa lampau, terkecuali sifat-sifat tabiat keturunan dari leluhurnya.

Oleh karena itu, kepala-kepala ataupun tanduk-tanduk tidak akan menunjuk kepada setiap perkara apapun sebelum ataupun sesudah masa periode yang dilambangkan oleh binatang itu. Itu juga adalah tidak alamiah bagi kepala-kepala (anggota-anggota tubuh binatang itu) untuk berada sebelum atau sesudah adanya binatangnya sendiri. Oleh sebab itu, tidak akan konsisten untuk menyimpulkan, bahwa tanduk-tanduk maupun kepala-kepala itu dapat menunjukkan sistem-sistem yang berurutan sepanjang semuanya itu terlihat pada masa tindakan penutupan dari binatang itu. Binatang yang menyerupai macan tutul dalam keadaannya yang luka mestilah dimaksudkan untuk menunjukkan secara nubuatan kepada kondisi yang ada dalam peradaban sekarang. 

LAMBANG DARI KEPALA-KEPALA

Adalah tidak mungkin bahwa baik tanduk-tanduk maupun kepala-kepala kedua-duanya melambangkan pemerintahan-pemerintahan sipil atau raja-raja. Jika tanduk-tanduk melambangkan pihak politikus, maka kepala-kepala tidak mungkin juga melambangkannya. Dari hal binatang yang menyerupai macan tutul Yohanes mengatakan, “Aku tampak salah satu dari kepala-kepalanya itu bagaikan terluka yang membawa mati”. Karena “kepala” yang “terluka” itu melambangkan suatu badan agama, maka keseluruhan tujuh kepala itu harus melambangkan badan-badan organisasi agama, karena semua kepala-kepala itu adalah sama, terkecuali kepala yang terluka. Demikianlah suatu kenyataan yang tak mungkin salah, bahwa simbol-simbol itu adalah dimaksudkan untuk mengungkapkan baik pihak pemerintahan sipil maupun pihak penguasa agama dari dunia yang ada.

Mahkota-mahkota melambangkan kekuasaan sipil seperti yang dijelaskan terdahulu. Kalau saja mahkota-mahkota itu terdapat pada kepala-kepala seperti halnya pada ular naga dari Wahyu 12 : 3, maka itu akan menunjukkan bahwa gereja-gereja sedang menggunakan bantuan

kekuatan sipil untuk mengembangkan dogma mereka seperti halnya di masa kekaizaran dan kepausan Romawi, yang dilambangkan oleh ular naga itu. Tetapi karena mahkota-mahkota itu berada pada tanduk-tanduk, dan negara adalah bebas dari gereja, hal itu membuktikan simbol dari mahkota-mahkota itu adalah tepat benar. Karena kenyataan-kenyataan yang dikemukakan mengenai keadaan dari simbol-simbol itu tidak dapat dibantah, terbuktilah bahwa kita memiliki suatu landasan positif bagi pengaplikasian simbol-simbol itu. 

Binatang yang menyerupai macan tutul itu adalah suatu turunan dari empat kerajaan kuno. Oleh sebab itu, ia melambangkan dunia, tetapi lebih tepat lagi yaitu keseluruhan peradaban barat berikut pemerintahan-pemerintahan sipil dan organisasi-organisasi agamanya. Akibatnya kepala-kepala itu melambangkan hanya dunia Kristen saja. Yohanes mengatakan : “Binatang itu memiliki tujuh kepala dan sepuluh tanduk dan di atas tanduk-tanduknya itu terdapat sepuluh mahkota, dan di atas kepala-kepalanya itu terdapat nama hujat.” Kenyataan bahwa terdapat nama hujat di atas kepala-kepala itu merupakan suatu bukti tambahan bahwa semuanya itu hanya dapat melambangkan badan-badan organisasi agama, sebab hujat adalah sama saja dengan munafik, dan munafik berarti suatu usaha untuk mencampur adukkan yang suci dengan yang biasa. Tetapi Tuhan berfirman : “Aku tahu hujat mereka itu yang mengatakan mereka adalah orang-orang Yahudi (orang-orang Kristen), tetapi bukan, melainkan mereka adalah jemaat Iblis.” (Wahyu 2 : 9). “Demikianlah Himeneus dan Alexander yang sudah aku serahkan kepada Iblis, supaya mereka itu diajar jangan menghujat.” (1 Timotius 1 : 20). “Sebab itu, hai anak manusia, katakanlah kepada bangsa Israel, dan katakanlah kepadanya, Demikianlah firman Tuhan Hua; dalam inipun segala bapamu sudah menghujat Aku, dalam hal itu mereka sudah mendurhaka melawan Aku.” (Yehezkiel 20 : 27). “Baik kejahatanmu baik kejahatan segala nenek moyangmu yang sudah membakar dupa di atas gunung dan yang menghujat Aku di atas bukit-bukit : oleh sebab itu Aku akan mengukur pekerjaan mereka yang dahulu itu ke dalam diri mereka.” (Yesaya 65 : 7). Pendurhakaan terhadap Firman Allah ialah hujat. 

Dengan sendirinya timbul pertanyaan, siapakah yang merupakan gereja-gereja yang menghujat ini? Mereka tentunya banyak jumlahnya; bayangkanlah begitu banyak sekte yang ada. Firman nubuatan dari Allah, berbicara mengenai masa yang ada ini menegaskan : “Pertama-tama sekali ketahuilah, bahwa pada akhir zaman akan datang kelak pengolok-olok yang berjalan menurut hawa napsunya sendiri.” (2 Petrus 3 : 3). “Karena masanya akan datang kelak manakala orang tidak tahan akan pengajaran yang benar, tetapi sebab gatal telinganya hendak mendengar, maka dihimpunkannya guru-guru bagi dirinya sendiri menurut hawa napsunya sendiri; maka mereka akan berpaling telinganya dari kebenaran, lalu menyimpang kepada segala cerita dongeng.” (2 Timotius 4 : 3, 4). 

Apakah yang menimbulkan kekacauan masa sekarang ini? Sebab mereka telah berpaling dari kebenaran Alkitab yang murni, itulah satu-satunya jawaban yang dapat diberikan. Mungkinkah bahwa semua dapat benar sementara dua orang sajapun tidak ada yang sama percayanya, dengan hanya sebuah Alkitab, sebuah Injil, satu Tuhan, satu neraka yang ditinggalkan dan satu surga yang dikejar? Yesus mengatakan : “Ada lagi pada-Ku domba lain,

yang bukan berasal dari kandang ini : semua itu juga harus Ku bawa, dan domba-domba itu akan mendengar suara-Ku; lalu akan menjadi satu kandang, dan gembala seorang saja.” (Yohanes 10 : 16). 

Kekacauan Setan yang sedemikian seperti halnya kekacauan yang ada pada sekarang ini bagaikan yang telah timbul di masa rasul Paulus yang lalu. Sementara Roh Allah menggerakkan dia, maka diucapkannya kata-kata dengan suatu teguran keras : “Hai Saudara-Saudaraku, sekarang aku minta kepadamu demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya hendaklah kamu berbicara perkara yang sama, dan supaya tidak terdapat perpecahan di antara kamu, melainkan supaya kamu sekalian bersatu dengan satu hati dan satu keputusan. Karena sudah diberitahukan kepadaku dari hal kamu, hai Saudara-Saudaraku, oleh isi rumah Kloe, bahwa ada terdapat pertengkaran di antara kamu. Kini aku tegaskan, bahwa masing-masing kamu mengatakan : bahwa aku ini dari pihak Paulus, aku ini dari pihak Apolos, aku ini dari pihak Kefas, aku ini dari pihak Kristus.” Adakah Kristus itu terbagi-bagi? Adakah Paulus disalibkan karena kamu? Atau dengan nama Pauluskah kamu dibaptiskan? (1 Korintus 1 : 10 – 13). Betapa besarnya perbedaan di antara kedudukan yang diambil oleh hamba Allah yang dipenuhi Roh dan rasul-rasul ciptaan sendiri yang ada sekarang. 

Yesus mengatakan, “Semua perkara ini akan diperbuat mereka itu kepadamu, sebab tiada dikenalnya Bapa, atau Aku.” (Yohanes 16 : 3). Kalau saja apa yang disebut pemimpin-pemimpin Kristen ini telah dipimpin oleh Roh Allah, maka mereka sudah akan meniru teladan yang dikemukakan oleh para nabi dan para rasul; maka tidak mungkin terdapat perpecahan apapun dalam kebenaran Alkitab. Keadaan sekarang ini betul-betul merupakan suatu hujat dan menggenapi kata-kata Tuhan yang berbunyi : “Karena akan bangkit kelak Kristus-Kristus palsu, dan nabi-nabi palsu, dan akan menunjukkan tanda-tanda ajaib yang besar-besar; yang sedemikian itu, sehingga jika mungkin mereka akan menyesatkan orang-orang pilihan.” (Matius 24 : 24). 

Melihat kepada kekacauan yang besar ini, terdapat kesulitan yang nyata untuk dengan cepat menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Yesus mengatakan : “Lagi pula Aku berkata kepadamu : Bahwa jika ada dua orang dari padamu yang sepakat di atas bumi ini dalam barang sesuatu yang hendak dipintanya, ia itu akan dikabulkan baginya oleh Bapa-Ku yang di surga.” (Matius 18 : 19). Tidak ada lagi yang dapat lebih berkenan bagi Allah daripada bagi salah satu dari anak-anak-Nya untuk meminta jalan kebenaran dengan sejujurnya. Oleh sebab itu, orang yang sedemikian ini tidak akan dibiarkan dalam kegelapan : “Pintalah, maka ia itu akan diberikan kepadamu; caharilah, maka engkau akan dapat; ketuklah, maka ia itu akan dibukakan kepadamu.” (Matius 7 : 7).

Jika orang suka mencari kebenaran, maka itu dapat dengan mudah terlaksana. Tetapi kenyataannya ialah, bahwa mereka tidak menghiraukannya. Orang banyak lebih suka tertipu daripada memohon kepada Allah untuk menunjukkan kepada mereka kebenaran-Nya. Benar, mereka berdoa, tetapi doa mereka tidak didengar, sebab : “Barangsiapa yang memalingkan telinganya dari mendengarkan hukum, bahkan doanya akan menjadi kekejian.” (Amsal 28 : 9). Orang-orang yang disebut Kristen masa kini, mengatakan, “Bahwa Injil adalah terdapat dalam Wasiat Lama dan hanya berlaku bagi

orang-orang Yahudi saja.” Kita menoleh kepada Wasiat Baru untuk mendapatkan terang bagi masalah ini sebagai berikut : “Sebab itu barangsiapa hendak merombak salah satu dari perintah-perintah yang terkecil ini, dan akan mengajarkan demikian ini kepada orang lain, ia akan disebut yang terkecil di dalam kerajaan surga; tetapi barangsiapa yang akan melakukan dan mengajarkan semuanya, ia akan disebut besar di dalam kerajaan surga.” (Matius 5 : 19). Orang yang jujur hatinya, dengan terkejut, mendengarkan pada waktu itu kata-kata orang pengolok-olok yang tidak beriman : “Itu bukan dimaksudkan kepada hukum Allah; itu adalah perintah dari Yesus : Hendaklah kamu mengasihi sesamamu seperti akan dirimu sendiri.” Benar, tetapi yang manakah dari sepuluh perintah itu yang dapat kamu rombak, lalu juga kamu mematuhi perintah-perintah dari Yesus? Maka jika kamu mengasihi sesamamu, maukah kamu mempermalukan Allahmu? Bukankah empat perintah yang pertama itu dipatuhi untuk menunjukkan hormat kepada Allah; dan enam perintah yang terakhir itu untuk menguji berapa besar kasih kita kepada sesama manusia? 

Yesus mengatakan : “Pada kedua perintah inilah bergantung semua hukum Torat dan kitab nabi-nabi”. (Matius 22 : 40). Adakah Putera Allah yang tunggal itu bekerja bertentangan dengan Bapa-Nya? “Wahyu dari Yesus Kristus, yang diberikan Allah kepada-Nya, untuk menunjukkan kepada semua hamba-Nya perkara-perkara yang harus jadi dengan segeranya; maka disuruh-Nya malaikat-Nya memberitahukannya kepada hamba-Nya Yohanes.” (Wahyu 1 : 1). “Di sinilah terdapat sabar dari orang-orang saleh : yaitu mereka yang memeliharakan perintah-perintah Allah, dan iman kepada Yesus.” (Wahyu 14 : 12). Tidakkah Yesus mengatakan, bahwa orang-orang saleh-Nya memeliharakan perintah-perintah Allah? Kembali lagi pikiran yang berdosa mengemukakan sanggahannya sebagai berikut : “Mereka itu memeliharakan perintah-perintah Allah, tetapi bukan hukum.” Tetapi Roh menyatakan : “Jika kamu menilik akan rupa orang, kamu berbuat dosa, dan kamu dihukumkan oleh hukum itu sebagai pelanggar-pelanggar hukum. Karena barangsiapa yang memelihara segenap hukum, tetapi melanggar salah satu perkara, maka salahlah ia terhadap semuanya. Karena Ia yang berfirman : ‘Jangan berzinah’, Ia juga berfirman, ‘Jangan membunuh’. Jikalau engkau tiada berzinah, tetapi membunuh, maka engkau sudah menjadi seorang pelanggar hukum. Katakanlah begitu dan perbuatlah begitu seperti orang yang akan diadili oleh hukum kebebasan.” (Yakobus 2 : 9 – 12). “Berbahagialah segala orang yang melakukan perintah-perintah-Nya, sehingga mereka itu berhak menghampiri pohon hayat itu, dan boleh masuk melalui pintu-pintu gerbang ke dalam negeri itu.” (Wahyu 22 : 14). 

Pemeliharaan terhadap perintah-perintah-Nya adalah tiket untuk masuk ke surga. “Akan Torat dan akan Kesaksian : jika mereka berbicara tidak sesuai dengan perkataan ini, itu karena tidak ada terang dalam mereka.” (Yesaya 8 : 20). “Karena pikiran yang bersifat duniawi adalah bermusuhan melawan Allah : karena ia itu tidak tunduk kepada hukum Allah, bahkan juga tidak mungkin baginya.” (Roma 8 : 7). “Barangsiapa yang mengatakan, aku kenal Dia, tetapi tidak memeliharakan perintah-perintah-Nya, ia adalah pembohong, maka kebenaran tidak terdapat di dalamnya.” (1 Yohanes 2 : 4). Sesudah lepas dari lubang penglihatan Iblis yang satu, pikiran yang bersifat duniawi itu berpegang lagi kepada yang lainnya; memutuskan untuk melayani Iblis dan menyesatkan dirinya sendiri, lalu dengan angkuhnya ia mengucapkan kata-kata, “Kami tidak memeliharakan hukum itu sesuai hurufnya melainkan sesuai dengan Roh,

‘Sebab huruf itu membunuh tetapi Roh memberi hidup.’” Pemahamannya yang keliru terhadap kebenaran, memimpinnya untuk mempercayai, bahwa untuk memeliharakan Hukum sesuai dengan Roh ia harus mengesampingkan Firman Allah yang tertulis, dan memeliharakan Hukum Ilahi itu sesuai dengan cara-caranya sendiri, dan selaras dengan pikiran yang bersifat duniawi itu; membatalkan tulisan Yehovah sendiri (Lihat Keluaran 31 : 18), dengan demikian meninggikan yang sia-sia di atas Yang Tak Terhingga! Betapa besarnya hujat yang dapat melibatkan seseorang sedemikian ini? Berikut ini kami kemukakan suatu penjelasan singkat mengenai masalah ini.

Memeliharakan hukum sesuai dengan hurufnya ialah mendirikan sebuah tembok mengelilinginya seperti yang diperbuat oleh orang-orang Parisi yang sombong dahulu. Kami kutip 1 Yohanes 3 : 15, “Siapapun juga yang membenci saudaranya adalah seorang pembunuh”. Oleh karena itu, walaupun kita tidak membunuh, tetapi membenci saudara kita, kita telah mematuhi hukum itu dengan tidak bersalah sesuai dengan hurufnya, tetapi bukan sesuai dengan Rohnya. Mematuhi hukum sesuai dengan Roh mempunyai pengertian yang lebih luas daripada yang dapat ditangkap oleh pikiran yang bersifat duniawi. Jika saya harus mematuhi semua hukum, maka saya harus mematuhi seluruh Firman Allah dalam segala hal, sebab jika tidak, maka saya akan menghina Dia, dan saya akan menjadi seorang pelanggar hukum seperti seorang anak durhaka yang mempermalukan orangtuanya di bumi, dan menjadi bersalah melawan perintah yang kelima di dalam hukum itu.

“Adakah kita diselamatkan oleh hukum Torat?” Sesungguhnya tidak! Kita diadili oleh hukum Torat. Dengan demikian, jika kita dengan sengaja melanggar Firman Allah, maka kita jatuh di bawah tuduhan bersalah dari hukum Torat. “Karena jika kita berbuat dosa dengan sengaja setelah kita memperoleh pengetahuan akan kebenaran itu, maka tidak ada lagi korban karena dosa.” (Ibrani 10 : 26). Tetapi jika kita mencintai pembenaran dari Allah seperti yang dikemukakan di dalam hukum-Nya, dan berketetapan hati untuk mematuhi Firman-Nya yang Suci di mana saja dijumpai (di dalam Alkitab ataupun Roh Nubuat) sesuai dengan ungkapan dari Roh-Nya, maka kita akan memperoleh kuasa yang memungkinkan kita untuk memenuhi maksud Ilahi, lalu olehnya juga dosa-dosa kita dihapuskan oleh darah Kristus, dan demikianlah kita dibuat menjadi merdeka dari hukum itu berikut tuduhannya -- kita ditempatkan di bawah karunia Ilahi.

Benar adanya bahwa banyak orang suka disesatkan, mereka menyombongkan dirinya bahwa mereka berada dalam perjalanan ke surga, sementara Setan sedang mengedipkan mata karena kebodohan mereka itu. Firman Allah menegaskan : “Maka banyak orang akan mengikuti jalan-jalan mereka yang jahat, dan jalan yang benar akan dicela orang oleh sebab mereka itu. ..... Tetapi orang-orang ini, bagaikan binatang-binatang alamiah yang bengis, yang diciptakan untuk ditangkap dan dibinasakan, mencela segala perkara yang mereka sendiri tidak mengerti; maka mereka akan sepenuhnya binasa dalam kejahatannya sendiri.” (2 Petrus 2 : 2, 12). Ini membuktikan bagaimana semangat untuk membela golongan agama sendiri telah muncul.

Sebagaimana telah dibuktikan dan telah diterima secara umum, bahwa “tujuh sidang” dari buku Wahyu itu, pasal dua dan tiga, melambangkan sejarah gereja dalam sejarah Kristen, ternyata bahwa sidang telah terbagi dalam tujuh bagian. Laodikea merupakan yang terakhir, ia pun berada dalam bahaya kejatuhan sesuai dengan kesaksian

dari Saksi yang benar : “Oleh sebab engkau begitu suam, dan panas pun tidak dingin pun tidak, maka Aku hendak meludahkan kamu keluar dari dalam mulut-Ku.” (Wahyu 3 : 16). Allah telah mengirimkan pekabaran demi pekabaran untuk memberikan terang ke atas Firman tertulis-Nya. Semuanya itu dimaksudkan untuk memperbaiki yang salah, menegur dosa, dan memperbaiki orang berdosa; tetapi para pemimpin dari masing-masing sidang itu membuang pekabaran-pekabaran itu, dan sebagian kecil orang-orang yang rela mengorbankan segala-galanya untuk mendapatkan kebenaran itu telah dipaksa untuk berpisah meninggalkan gereja-gereja dan maju terus dengan terang itu. Kalau saja para pemimpin mau rela untuk memperbaiki kekeliruan-kekeliruan mereka lalu menyucikan sidang, maka sudah akan ada hanya satu sidang saja. Oleh penolakan terhadap kebenaran itu, maka masing-masing sidang memutuskan dirinya sendiri dari lengan Allah Yang Maha Kuasa. Dengan demikian, tidak ada satupun dari sidang-sidang ini memiliki terang tambahan atas Firman Injil daripada apa yang telah diberikan kepada mereka oleh para pendiri dari masing-masing pergerakan sidang mereka itu. Kenyataan ini membuktikan benarnya nubuatan Firman Allah, dan makin tua periode sidang itu makin besar tuduhan hukumannya. Oleh sebab itu, maka semua sidang ini dilambangkan dengan “kepala-kepala”; “nama hujat” di atas seluruh kepala-kepala itu, menunjukkan kejatuhan mereka. Kalau mereka menolak juga panggilan yang terakhir ini, maka ungkapan dari semua kenyataan ini akan menentang mereka, dan akan mendatangkan kehancuran mereka yang terakhir.

Pekabaran mengenai mereka yang 144.000 itu, serta suatu panggilan bagi reformasi yang disampaikan kepada gereja Masehi Advent Hari Ketujuh dalam tahun 1930 telah sama juga ditolak. Oleh karena itu, sebagaimana halnya para pemimpin dari sidang-sidang belum pernah menyambut sesuatu pekabaran pada masa manapun, maka mereka tentunya sedang menggenapi kata-kata nubuatan berikut ini : “Orang-orang bijaksana akan menjadi malu, mereka akan terkejut dan tertangkap : sesungguhnya mereka telah menolak firman Tuhan; maka kebijaksanaan apakah yang masih ada pada mereka? ..... Karena segala gembala akan menjadi bodoh, tiada dicarinya Tuhan; sebab itu mereka tidak akan berbahagia, dan semua kawanan dombanya akan tercerai-berai.” (Yeremia 8 : 9; 10 : 21).

“Tujuh kepala” dari “binatang yang menyerupai macan tutul” itu melambangkan rahasia dari kemunafikan dan ketidak berimanan ini, menunjukkan bagaimana masing-masingnya jatuh ke dalam jerat yang ditujunya. Oleh karena itu, semenjak dari masa Luther dan seterusnya Allah telah membiarkan agar umat-Nya dihanyutkan oleh air bah kepunyaan Setan (orang-orang yang tidak bertobat). Dengan demikian Ia terus memanggil sidang-Nya dari pergerakan yang satu kepada pergerakan yang lain. 

Oleh sebab itu, mereka yang merendahkan standar dan menolak untuk bereformasi mengikuti suara trompet, mereka adalah orang-orang yang menciptakan perpecahan di dalam sidang Allah. “Sekarang aku minta kepadamu Saudara-Saudaraku, tandailah mereka yang menciptakan perpecahan dan perselisihan yang bertentangan dengan pengajaran yang telah kamu pelajari; maka jauhilah mereka itu. Sebab orang-orang yang sedemikian itu tidak berbakti kepada Tuhan kita Yesus Kristus, melainkan melayani perut mereka sendiri; dan dengan kata-kata yang manis dan pidato-pidato yang menarik mereka menyesatkan orang-orang yang tulus hatinya.” (Roma 16 : 17, 18). 

Semenjak sejarah gereja adalah sedemikian ini, dan bagian gereja

yang terakhir (Orang-orang Laodikea) berada dalam keadaan yang terburuk, dan berada di bawah tuduhan yang lebih keras lagi daripada setiap sidang sebelumnya, dan karena tidak ada lagi waktu yang tinggal untuk membangkitkan suatu pergerakan yang baru, maka suatu pekabaran mengenai terang yang menakjubkan dan teguran yang tegas melalui Firman Allah, disertai manifestasi-manifestasi mengenai keputusan-keputusan Ilahi, adalah satu-satunya obat yang dapat membawakan pertobatan yang benar dan pembaharuan. Demikianlah mempersiapkan sebuah sidang untuk berdiri “tanpa cacat cela, berkerut ataupun sesuatu perkara yang sedemikian ini”, yang hanya olehnya juga dapat dikatakan : “Maka marahlah naga kepada perempuan itu (sidang sebagai sebuah badan) lalu pergi memerangi yang lagi tinggal dari benihnya, yaitu mereka yang memeliharakan hukum-hukum Allah, dan yang memiliki kesaksian Yesus Kristus.” (Wahyu 12 : 17). Adalah karena kesucian daripada sidang yang telah menimbulkan amarah dari naga itu. 

“Tujuh sidang” inipun dilambangkan oleh “tujuh kakidian”, dan kepemimpinan dari sidang-sidang ini, dilambangkan oleh “tujuh malaikat”. Demikianlah kita baca : “Rahasia dari tujuh bintang yang engkau lihat di dalam tangan kananku, dan tujuh kakidian emas itu. Ketujuh bintang itu ialah malaikat-malaikat dari tujuh sidang itu : dan tujuh kakidian itu ialah tujuh sidang.” (Wahyu 1 : 20). “Dan kepada malaikat dari sidangnya orang-orang Laodikea tuliskanlah.” (Wahyu 3 : 14). Perhatikanlah pekabaran itu ditujukan kepada malaikat (kepemimpinan), dan bukan kepada kakidian (sidang sebagai sebuah badan). Oleh karena itu, tuduhan itu bukanlah ditujukan kepada kakidian, melainkan kepada malaikat. “Sebab katamu, aku kaya, dan bertambah-tambah dengan kekayaan, dan tidak memerlukan sesuatu apapun; dan tidak mengetahui bahwa engkau adalah orang yang malang, dan sengsara, dan miskin, dan buta, dan bertelanjang.” (Wahyu 3 : 17). Saudara-saudaraku, ini adalah bukan menentang kamu, karena adalah Kristus yang berbicara, yang telah mati bagimu, hal ini sungguh-sungguh terjadi, kalau engkau tidak mau merubah jalan kehidupanmu.

Jika Kristus, oleh menghimpunkan ketujuh sidang ini ke dalam sebuah kelompok yang terdiri dari tujuh kakidian dan memberikan catatan yang tergelap terhadap sidang yang terakhir, tidak juga menyebutkan orang-orang Laodikea itu Babil, maka demikian pula interpretasi mengenai “kepala-kepala” itu tidak dibuat sama. Bukannya karena orang-orang Laodikea itu adalah lebih baik sehingga mereka tidak disebut Babil, karena catatan mengenai diri mereka adalah terburuk, melainkan adalah untuk menunjukkan bahwa karena alasan bertambahnya terang mereka, maka Ia akan melayani mereka secara terpisah. Adalah untuk membuktikan, bahwa jika “malaikat” (kepemimpinan) dari sidangnya orang-orang Laodikea menolak pekabaran dari “Saksi Yang Benar”, maka Ia tak dapat memanggil mereka yang 144.000 itu keluar dari tengah-tengah mereka itu masuk ke dalam sesuatu pergerakan yang lain melalui panggilan dari Wahyu 18 : “Keluarlah dari padanya hai umat-Ku supaya jangan kamu terbabit dengan segala dosanya, dan supaya jangan kamu ikut terkena segala celakanya,” (ayat 4), melainkan sebaliknya melalui pekabaran dari Wahyu 7 dan Yehezkiel 9. Dengan demikian secepat mungkin melepaskan umat-Nya, dan selekasnya “menyelesaikan pekerjaan dan mempersingkatkannya dalam kebenaran : sebab suatu tugas yang singkat hendak Tuhan lakukan di atas bumi.” (Roma 9 : 28).

Durhaka terhadap Firman Allah adalah hujat, dan hujat

ialah kemunafikan; yaitu yang dikatakan, bahwa mereka bukanlah sebagaimana yang mereka mengakui dirinya. Kemunafikan menyembunyikan tangisan-tangisan dosa di bawah selubung kebaikan. Dosa munafik seperti ini sukar sekali untuk disembuhkan karena tidak mudah ia itu ditemui oleh manusia. Kita tidak dapat memahami hati orang lain. Juga tidak dapat membedakan di antara selubung kemunafikan dan kehidupan yang suci. Asal mulanya suatu penipuan rohani dari suatu keadaan bukan dari sifat azasi manusia. Oleh sebab itu, rencananya adalah sangat licik sehingga ia itu tidak dapat dilihat oleh penglihatan manusia yang serba terbatas. Jenis penipuan ini hanya dapat dikenal di bawah penglihatan yang seksama dari Firman Allah yang suci dan oleh bantuan Roh-Nya. 

“Cara-cara yang efektif untuk mengobati perencanaan penipuan yang tersusun rapih sedemikian ini ialah dengan suatu keyakinan yang teguh bahwa ada suatu mata Allah yang melihat semua; yang melihat akan dosa itu dimana pun juga berada, dan yang akan membawanya ke dalam pehukuman. Seorang munafik dapat saja menyembunyikan dosanya dari penglihatan orang lain bahkan kadang-kadang dari hati kecilnya sendiri, tetapi ia itu tidak pernah mungkin tersembunyi dari Allah.” Paulus, dalam memandang ke depan kepada suatu masa yang sedemikian ini, mengatakan, “Karena masanya akan datang apabila orang tidak akan tahan terhadap pengajaran yang benar; tetapi sebab gatal telinganya hendak mendengar, maka dihimpunkannya guru-guru bagi dirinya menurut hawa napsunya sendiri. Maka dipalingkannya telinganya dari kebenaran, lalu menyimpang kepada semua cerita dongeng.” (2 Timotius 4 : 3, 4). “Oleh sebab itu, hai engkau yang mengajar orang lain, tidakkah engkau mengajar dirimu sendiri? Engkau yang mengajar : “Jangan mencuri”, mengapa engkau sendiri mencuri? Engkau yang berkata : “Jangan berzinah”, mengapa engkau sendiri berzinah? Engkau yang jijik akan segala berhala, mengapa engkau sendiri merampok rumah berhala? Engkau yang bermegah atas hukum Torat, mengapa engkau sendiri menghina Allah dengan melanggar hukum Torat itu?” (Roma 2 : 21 – 23). Bagi orang-orang yang acuh tak acuh dan yang sembrono; Ayub menegaskan sebagai berikut : “Kelak akan menghabiskan kekuatan kulitnya : bahkan anak sulung dari maut akan menghabiskan kekuatannya.” (Ayub 18 : 13). 

Tujuh kepala itu secara simbolis menunjukkan kepada “tempat-tempat yang tinggi” ini yang dipimpin oleh para pemimpin yang tidak suci yang telah mencoba untuk mencampur-adukkan perkara-perkara yang suci dengan yang biasa, dan yang menolak untuk mendengarkan Firman Tuhan. Angka bilangan Alkitab “tujuh” menunjukkan kepada kelengkapan, yang dengan sendirinya akan meliputi seluruh dunia Kristen pada masa kebenaran nubuatan ini diungkapkan untuk diketahui umum. Kemunafikan yang sedemikian ini bukanlah sesuatu yang asing dalam sejarah umat Allah, karena berulang kali sidang telah jatuh dihanyutkan oleh air bah Setan itu. Di masa Luther keadaannya adalah sama buruknya seperti pada masa sidang menyalibkan Kristus dahulu.

Jika generasi ini adalah lebih jahat daripada setiap generasi yang mendahuluinya, maka apakah yang dapat membuat sidang tahan uji terhadap sesuatu kemurtadan yang sedemikian? Adalah diakui oleh kebanyakan siswa Alkitab, bahwa nubuatan-nubuatan yang seperti ini hanya akan dapat dimengerti apabila objek nubuatan dalam penglihatan telah sepenuhnya berkembang. Oleh sebab itu, sekaranglah masanya dimana simbol-simbol itu berbicara. Tetapi ada suatu segi lain lagi untuk ini, dengan mana kami akan membuktikan bahwa semua fakta yang dikemukakan adalah benar.

SEBUAH KEPALA TERLUKA MEMBAWA MATI

Yohanes mengatakan : “Aku tampak salah satu dari kepala-kepalanya itu bagaikan terluka membawa mati”. Karena kepala yang terluka itu menunjuk kepada pukulan yang dilakukan oleh Luther terhadap kepausan, maka pengasingan paus dalam tahun 1798 merupakan pertanda mengenai lengkapnya luka itu dan bahwa periode nubuatan itu telah berakhir. Dengan demikian menggenapi kata-kata : “Barangsiapa yang membawa orang ke dalam tawanan ia sendiri akan masuk ke dalam tawanan.” (Wahyu 13 : 10). Kalau saja penguasa kepausan tidak memperoleh luka yang membawa mati oleh Luther, maka paus tidak mungkin dapat dimasukkan ke dalam penjara oleh jenderal Prancis, sebab sebelum kekuasaan kepausan itu dilukai oleh pedangnya Luther, paus memerintah dengan penuh kekuasaan. Tetapi pukulan itulah yang telah melemahkan kekuasaannya, maka akibatnya ialah bahwa paham Protestan telah muncul ke atas pentas. Pukulan yang terus menerus mulai melukai “kepala” itu, sampai pada akhirnya paus dimasukkan ke dalam penjara. Pukulan itu terus berlangsung sampai tahun 1870, pada waktu mana akhirnya kekuasaan sementara kepausan lalu disingkirkan. Itu merupakan gangguan terakhir dari “kepala” itu, maka ini menunjukkan bahwa ia itu dibiarkan sampai sembuh sendiri “lukanya yang membawa mati” itu.

Dengan mengutip kata-kata Luther yang menjelaskan bagaimana kepausan telah dilukai : “Saya kemukakan firman Allah; saya berkhotbah dan menulis -- semuanya inilah yang saya telah lakukan. Dan walaupun selagi saya tidur, ..... Firman yang telah saya khotbahkan itulah yang telah meruntuhkan kekuasaan kepausan, sehingga bukan pangeran ataupun kaizar yang telah menimbulkan kehancuran yang sebesar itu. Tetapi saya tidak berbuat apa-apa; Firman itu sendirilah yang telah melakukannya.” -- “The Great Controversy”, halaman 190. “Saya memulai pekerjaan ini dengan nama Allah”, demikianlah kata Luther, “itupun akan berakhir bukan oleh saya, melainkan oleh kuasa-Nya.” -- “The Great Controversy”, halaman 142. Janganlah seorangpun salah menafsirkan ucapan yang berikut ini karena penulis yang sama itu juga yang telah menuliskan kedua-duanya. Oleh sebab itu, adalah tidak adil untuk salah mengartikan ucapan yang satunya, karena dengan berbuat begitu kita akan membuat yang satu tidak harmonis terhadap yang lainnya. Berbicara mengenai 1260 tahun itu kita baca : “Periode ini, sebagaimana dikemukakan di dalam pasal-pasal yang terdahulu, dimulai dengan unggulnya kekuasaan kepausan, tahun 538, dan berakhir dalam tahun 1798. Pada waktu itu, paus telah ditawan oleh tentara Prancis, maka kekuasaan kepausan memperoleh lukanya yang membawa mati, dan ramalan itu genaplah, “Barangsiapa yang memasukkan orang di dalam tawanan ia sendiri akan masuk ke dalam tawanan!” -- “The Great Controversy”, halaman 439. Perhatikanlah bahwa tujuan dari penulis pernyataan ini bukan untuk memberitahukan bagaimana luka itu diperoleh, melainkan untuk menunjukkan bahwa periode nubuatan berakhir dengan dipenjarakannya paus, yang mana bukan menggenapi kata-kata, “Maka aku tampak salah satu dari kepala-kepalanya bagaikan telah terluka yang membawa mati” (ayat 3); melainkan lebih tepat yang dikutip dari Alkitab, “Barangsiapa yang memasukkan orang ke dalam tawanan ia sendiri akan masuk ke dalam tawanan.”  (Ayat 10). Maukah kita mengabaikan Allah dan Roh-Nya, lalu memberikan penghargaan kepada Berthier, lalu dengan demikian membenarkan kebodohan? 

LUKANYA YANG MEMBAWA MATI ITU TELAH SEMBUH

“Maka aku tampak salah satu dari kepala-kepalanya itu telah terluka membawa mati; dan lukanya yang membawa mati itu sembuhlah sudah : maka seluruh dunia heran

terhadap binatang itu.” (Wahyu 13 : 3). William Miller memberitakan periode nubuatan tentang 2300 hari itu sebelum tahun 1844. Nubuatan yang ajaib itu telah disampaikan kepada dunia Kristen dengan kuasa besar oleh Roh Allah. Walaupun para pemimpin dari gereja-gereja yang semula itu tidak dapat menentang melawan kebenaran yang disampaikan oleh Miller, mereka memalingkan juga telinganya daripada mendengarkan ajaran doktrin yang diajarkan olehnya. 

Tetapi karena telah datang kekecewaan besar dalam tahun 1844 oleh salah pengertian terhadap apa yang akan jadi pada akhir dari periode nubuatan itu, maka pergerakan yang diciptakan oleh Miller itu berakhirlah sudah. Pekabaran malaikat yang kedua dari Wahyu 14 : 8, telah memberitakan bahwa Babil (gereja-gereja yang mendahului tahun 1844) telah jatuh. Itu artinya, bahwa Allah tidak akan membiarkan terang apapun juga bercahaya atas firman-Nya melalui gereja-gereja yang jatuh ini. Kalau saja Allah tidak memanggil keluar sesuatu pergerakan Protestan yang lain lagi, maka luka yang membawa mati itu sudah akan sembuh pada waktu itu. 

Oleh perantaraan pergerakan panggilan Ilahi itu, dan yang dibantu oleh tulisan-tulisan “Roh Nubuatan”, maka maksud Allah adalah mempertahankan “luka yang membawa mati itu” tetap pada “kepala” itu. Tetapi nubuatan Firman Allah mengatakan : “Lukanya yang membawa mati itu sudah sembuh”. Karena Firman Allah yang Suci menyatakan bahwa lukanya itu sudah sembuh, dan karena nubuatan tidak dapat gagal, adalah nyata bahwa luka itu “telah sembuh”. 

Tetapi karena Protestantisme oleh mematuhi Firman Allah telah menimbulkan luka itu, maka hanya Protestantisme yang benar saja yang akan dapat mempertahankan luka yang menyakitkan itu pada kepala binatang itu. Jika luka itu sembuh, maka terbuktilah, bahwa mereka yang dipercayakan Allah dengan pekabaran bagi sebuah dunia yang akan binasa, tentu telah dikalahkan dengan cara yang sama seperti yang dialami oleh setiap pergerakan yang ada semenjak permulaan dunia. Adalah sesuatu perkara yang ajaib untuk dicatat bagaimana musuh yang tua itu telah berhasil mencemarkan sidang dalam setiap masa melalui kepemimpinannya sendiri. Kepintaran manusia yang tertinggi terus menerus dibawa ke dalam kekeliruan sehingga dengan demikian mereka melayani Setan bagi kejatuhannya sendiri. Tidakkah pernah umat Allah mau mengambil manfaat dari semua kenyataan sejarah dan Alkitab ini? Bukankah segala perkara ini tertulis sebagai nasehat bagi orang-orang yang hidup di akhir zaman? Allah, melalui Firman-Nya yang Suci, memerintahkan : “Berhentilah bergantung pada manusia, yaitu mereka yang napas hidupnya terdapat di dalam lubang hidungnya : karena dalam hal apakah ia dapat dipertanggung-jawabkan?” (Yesaya 2 : 22). 

Sebagaimana telah diakui, bahwa pengasingan paus dalam tahun 1798 itu merupakan suatu pertanda, bahwa pukulan tersebut telah selengkapnya dilakukan, maka dengan begitu karena ia telah berhasil lagi memperoleh kekuasaannya membuktikan selanjutnya bahwa lukanya itu telah sembuh. Kenyataan-kenyataan ini tidak dapat dibantah, karena telah diakui bahwa peristiwa tahun 1798 itu adalah benar; oleh sebab itu peristiwa satunya yang terjadi dalam tahun 1929 tidak dapat disangkal. Memang demikianlah halnya, bahwa inilah masanya dimana simbol nubuatan itu berbicara, “lukanya yang membawa mati telah sembuh”. Bacalah “Tongkat Gembala”, Jilid I, karena seluruh jilid itu membicarakan masalah ini.

SELURUH DUNIA KAGUM TERHADAP BINATANG ITU 

“Lukanya yang membawa mati itu telah sembuh”, demikianlah kata Yohanes, “Dan seluruh dunia kagum terhadap binatang itu”. Perhatikan bahwa dunia kagum terhadap binatang itu, dan bukan kepada kepala itu. Oleh sebab itu, ia itu tidaklah berarti bahwa dunia harus perlu mendaftarkan diri ke dalam keanggotaan dari badan yang dilambangkan oleh kepala itu. Artinya ialah, bahwa seluruh dunia telah mengikuti roh dari binatang itu -- yaitu keduniawian. Dunia pada umumnya tidak pernah sebaliknya keadaannya. Tidak mungkin dapat dikatakan, bahwa “seluruh dunia kagum terhadap binatang itu” jika umat yang dipercayakan Allah dengan Injil adalah bebas dari roh binatang itu. Tetapi harus jadi bahwa mereka telah menghianati kepercayaan yang diberikan kepada mereka, lalu ikut serta dalam rohnya. Dimanakah perbedaan di antara sidang dan dunia! 

NAMA HUJAT 

“Dan di atas kepala-kepalanya terdapat nama hujat.” Artinya penolakan terhadap kebenaran yang diperkenalkan, yang ditunjukkan dengan cara ketidaksetiaan yang menentang dan tidak hormat kepada Allah, atau kepada perkara-perkara yang harus dijunjung suci -- menghina pribadi Allah dan kekuasaan-Nya. Nabi Yesaya, sambil memandang ke depan kepada sejarah kita sekarang ini yang penuh dengan penipuan besar yang dikepalai oleh apa yang disebut para pemimpin kerohanian, mengatakan : “Maka pada hari itu tujuh orang perempuan akan berpegang pada seorang laki-laki, sambil mengatakan, Kami akan makan roti kami sendiri, dan memakaikan pakaian kami sendiri; hanya saja biarkanlah kami dipanggil dengan namamu, untuk menyingkirkan kecelaan kami.” (Yesaya 4 : 1).

Adalah suatu kenyataan yang diakui di antara para siswa Alkitab, bahwa gereja-gereja dilambangkan oleh “perempuan-perempuan”. Perempuan yang suci -- gereja yang suci, seperti yang terdapat di dalam Yeremia 6 : 2, Wahyu 12 : 1; perempuan yang cemar -- gereja yang kacau, seperti yang terdapat di dalam Wahyu 17 : 4, 5. Yesaya mengatakan, bahwa ada “tujuh” orang perempuan. Angka bilangan itu terdiri dari gereja-gereja yang sama ini juga. Mereka mengatakan, “Kami akan makan roti kami sendiri”. Artinya, mereka menghendaki mengikuti jalan mereka sendiri; mereka tidak menghiraukan jalan Allah (Firman). “Kami hendak memakaikan pakaian kami sendiri”; artinya, mereka menghendaki rencana-rencananya sendiri daripada rencana-rencana Allah atau pembenaran-Nya. Dengan begitu, mereka memakaikan pada dirinya sendiri dengan pembenaran ciptaannya sendiri. Tujuannya ialah untuk dapat dipanggil dengan nama seorang laki-laki; artinya, dengan nama Kristus (orang-orang Kristen) untuk menyingkirkan kecelaan mereka. Orang banyak telah datang mengira bahwa mereka dapat berbuat apa saja di bawah samaran Kekristenan lalu pergi dengannya. Allah akan membiarkan mereka terus mengikuti jalannya sampai kelak mereka, seperti halnya Belsyazar, melewati garis perbatasan kemurahan Ilahi, maka kemudian Ia akan memanggil mereka untuk mempertanggung-jawabkannya.

“Maka mereka menyembah naga itu yang telah memberikan kuasa kepada binatang itu : dan mereka menyembah binatang itu sambil mengatakan, Siapakah yang sama dengan binatang itu? Siapakah yang mampu berperang melawan dia?” (Wahyu 13 : 4). Mungkin dapat ditanyakan, Bagaimanakah dapat orang-orang

Kristen menyembah naga? Jawabannya mudah saja, maka penyembahan kepada naga itu dapat jelas terlihat. Cara penyembahan yang sekarang yang dilakukan oleh apa yang disebut lembaga-lembaga Kristen tak dapat dibantah adalah cara kekapiran. Pemeliharaan Hari Minggu, Hari Natal, dan Hari Paskah, dan sebagainya, berasal dari Babil kuno, dari agama kapir yang tua untuk menghormati dewa matahari. Orang-orang Kristen di zaman modern, menghormati Allah Yang Maha Tinggi dengan memakaikan adat istiadat kekapiran dengan menyebutkannya “Ajaran-Ajaran Kristen”. Protestantisme telah berpegang teguh kepada festival-festival kekapiran ini sebagai suatu lintah yang melekat pada tubuh manusia. Sebagaimana si pemalas menghisap darah secara tidak sadar sehingga kepuasannya menghantarkannya kepada kebinasaan, demikian pula dengan orang-orang Protestan berikut hari-hari peringatan kekapiran mereka; bahkan dengan berani menyebutkan diri mereka dengan nama Kristus. Sungguh benar-benar hujat! Setiap pelajar yang menyelidiki sejarah kuno mengetahui hal ini adalah benar; demikian pula setiap siswa Alkitab mengetahui bahwa semua yang disebut hari-hari besar Kristen ini adalah tidak berlandaskan Alkitab, demikian pula tidak bersifat Kristen. Kalau saja lembaga-lembaga ini adalah Kristen, atau bersifat Alkitab, maka mereka tentunya telah membicarakan dari dalam Alkitab. Tetapi karena mereka tidak menemukan di dalam Firman Allah, maka orang-orang Kristen sebaiknya meninggalkan semuanya itu supaya jangan mereka juga didapati menyembah naga. 

Yeremia, sambil memandang ke depan kepada masa kemurtadan ini, mengatakan : “Demikianlah firman Tuhan, Janganlah kamu belajar jalan orang kapir, dan janganlah kamu gentar terhadap tanda-tanda di langit; karena segala orang kapir juga gentar olehnya. Karena segala adat istiadat orang banyak itu adalah sia-sia : karena  seorang menebang sebatang pohon kayu dari hutan, yang dikerjakan dengan pahat oleh tukang kayu. Mereka memperindahnya dengan perak dan dengan emas; mereka mengikatkannya dengan paku-paku dan dengan palu-palu, sehingga ia itu tidak bergerak.” (Yeremia 10 : 2 – 4). Walaupun Firman menyatakan, “Janganlah kamu belajar jalan-jalan orang kapir”, para pendeta Injil hendak menebang juga sebatang pohon kayu dari hutan lalu menghiasinya dengan perak dan emas, kemudian dengan berani memanggilnya dengan nama Kristus -- pohon natal (Christmas tree). Betapa besarnya hujat yang dibuat orang! Apakah para pendeta dan guru-guru agama tidak mengetahui akan segala perkara ini? Yesus mengatakan, “Allah ialah suatu Roh : maka barangsiapa yang menyembah Dia wajib menyembah Dia dalam roh dan dalam kebenaran.” 

Yohanes mendengar orang-orang menantang Allah dengan mengatakan, “Siapakah yang sama dengan binatang ini? Siapakah yang mampu berperang melawan dia?” Artinya, siapakah yang dapat menghapuskan sistem ibadah kekapiran ini; adakah seseorang? Mereka menantang kekuasaan Allah. Ia itu mungkin tidak dapat dikatakan dengan kata-kata, tetapi adalah sangat pasti ia itu diperlihatkan melalui perbuatan. Penglihatan manusia telah dibutakan oleh dosa, sehingga apabila suatu percobaan dibuat untuk menggabungkan perkara-perkara yang suci dengan yang biasa atau yang kapir, maka mereka tidak melihat adanya dosa di dalamnya. Walaupun Firman Allah menegaskan : “Tetapi dalam segala perkara kami menyatakan diri kami sendiri sebagai hamba-hamba Allah, dalam banyak kesabaran, dalam berbagai penderitaan, dalam kesukaran, dalam ketakutan, dengan kena sesah, dalam penahanan-penahanan penjara, dalam berbagai huru-hara, dengan berlelah, dengan berjaga-jaga, dengan puasa; oleh kesucian, oleh pengetahuan, oleh panjang sabar, dengan kemurahan, oleh Roh Suci, oleh kasih yang

tulus, oleh kata-kata kebenaran, oleh kuasa Allah, oleh senjata kebenaran pada tangan kanan dan pada tangan kiri, oleh kemuliaan dan kehinaan, oleh kabar buruk dan kabar baik : laksana para penipu tetapi juga benar; Laksana tiada dikenal, tetapi terkenal; seperti mati, tetapi sesungguhnya kami hidup; seperti disiksa, tetapi tiada mati; seperti dukacita tetapi senantiasa bersukacita; seperti orang miskin, tetapi membuat kaya banyak orang; seperti tiada memiliki sesuatu, tetapi memiliki segala perkara. Hai kamu orang-orang Korintus, mulut kami terbuka bagimu dan hati kami lapang ..... Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tidak percaya; sebab persamaan apakah terdapat di antara kebenaran dengan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan kegelapan? Dan persamaan apakah terdapat di antara Kristus dengan Belial? Atau apakah bagian orang yang percaya dengan orang kapir? Apakah hubungan antara bait Allah dengan berhala-berhala? Karena kamulah kaabah dari Allah yang hidup; karena Allah telah berfirman, Aku akan tinggal di dalam mereka itu, dan berjalan di dalam mereka itu; dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umat-Ku. Oleh sebab itu keluarlah dari antara mereka itu, dan berpisahlah kamu, demikianlah firman Tuhan, dan janganlah menjamah perkara yang keji; maka Aku akan menyambut kamu, dan Aku akan menjadi seorang Bapa bagimu, dan kamu akan menjadi putera-putera-Ku dan puteri-puteri-Ku, demikianlah firman Tuhan Yang Maha Kuasa.” (2 Korintus 6 : 4 – 11, 14 – 18). 

Adalah pendurhakaan terang-terangan melawan “demikianlah firman Tuhan” yang cukup jelas itu yang telah membawa kekacauan dan malu di dalam dunia Kristen pada waktu ini. Para reformator yang benar ini belum melihat semua kesalahan ini, dan mereka tidak bertanggung-jawab untuknya, karena mereka belum memperoleh terang mengenai semuanya itu. Karena Allah telah memberikan terang ke atas Firman-Nya, secara bertahap, yang memungkinkan untuk menangkap kebenaran, maka Ia mengharapkan dari kita untuk menyambutnya, lalu dengan demikian menghantarkan kita sampai kepada kemenangan.

Tetapi orang mungkin akan mengatakan, jika Allah dapat menyelamatkan orang-orang lain dengan hanya sedikit terang, mengapakah Ia memberikan kepada kita lebih banyak lagi terang? Dari sekian banyak alasan kami akan mengomentari hanya dua. Oleh bertambahnya terang atas Firman, Allah akan dapat menyelamatkan sejumlah besar orang-orang dan bukan hanya sedikit. Alasan yang kedua ialah, bahwa karena bagian terakhir dari sidang itu akan kelak diubahkan bukan dibangkitkan, maka kita memerlukan terang yang cukup untuk mempersiapkan kita untuk bertemu dengan Allah dan dengan semua mahluk yang tidak mati.

Justru kebodohan terhadap Firman Allah yang sedemikian ini di zaman Nuh telah membawa dunia kepada kebinasaannya oleh air. Suatu kondisi kejahatan yang sama telah menghancurkan kota-kota Sodom dan Gomora sampai menjadi abu. Jika di zaman Kristus kemunafikan yang sedemikian ini, di bawah selubung kebaikan, telah meminta nyawa Anak Allah untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran, maka apakah yang akan jadi pada waktu ini? Allah tidak dapat membinasakan dunia, karena Ia masih memiliki sejumlah besar orang untuk diselamatkan. Ia tidak memiliki seorang Putera yang lain untuk dihadiahkan bagi sidang, karena Kristus ialah “satu-satunya” Putera Allah. Jika cita-cita Allah adalah memberkati dunia melalui perantaraan sidang-Nya di bumi, tetapi mereka kepada siapa Injil bagi dunia

telah dipercayakan, telah membiarkan domba-domba dan sedang melayani Iblis di dalam diri mereka sendiri, maka di manakah terdapat harapan bagi dunia ini? Satu-satunya jawaban yang dapat diberikan ialah, celaka bagi orang-orang berdosa di Sion. Allah akan menghimpun domba-domba-Nya. Ia akan memiliki sebuah sidang; tetapi apakah kelak upah bagi orang-orang yang diperintahkan untuk memberi makan domba-domba tetapi sedang mengenyangkan dirinya sendiri? Kristus, telah melihat akhir segala perkara dari mulanya, dan dengan memusatkan perhatian-Nya pada masa sekarang, Ia telah mengatakan, “Siapakah hamba yang setia dan bijaksana yang telah diangkat oleh tuannya menjadi penguasa atas orang-orang isi rumahnya, untuk memberikan kepada mereka makanan pada waktunya? Berbahagialah hamba itu, ketika tuannya datang didapati sedang melakukan tugasnya demikian. Sesungguhnya aku berkata kepadamu, bahwa tuannya itu akan mengangkat dia menjadi penguasa atas segala harta miliknya. Tetapi jikalau hamba yang jahat itu akan berkata di dalam hatinya, ‘Tuanku memperlambat kedatangannya; Lalu ia mulai memukuli hamba-hamba sesamanya, lalu ia makan minum dengan orang-orang pemabuk; Tuan dari hamba itu akan datang pada suatu hari yang tidak disangka-sangkanya, dan pada suatu jam yang tidak diketahuinya, lalu menyesahkan dia teramat sangat, sambil menetapkan bagiannya bersama-sama dengan orang-orang munafik (dengan kepala-kepala dari binatang itu); maka di sanalah kelak terjadi tangisan dan keretak gigi.” (Matius 24 : 45 – 51). 

MEMISAHKAN LALANG-LALANG DARI GANDUM 

Petrus menyaksikan sesuatu masa ketika Allah akan mengadili sidang : “Karena masanya akan datang bahwa pehukuman harus dimulai pada rumah Allah; dan jika ia itu pertama dimulai terhadap kita, maka apakah kelak nasib mereka yang tidak mematuhi Injil Allah?” (1 Petrus 4 : 17). Apakah kelak nasib orang yang tidak mau memasuki bahtera keselamatan, bahkan dengan beraninya menghalangi orang-orang lain untuk masuk? Sementara nabi itu menyaksikan hari pembalasan terhadap orang-orang berdosa di Sion, dan pada waktu Tuhan kembali dari pembantaian itu, maka ia bertanya : “Siapakah ini yang datang dari Edom, yang datang dari Bozrah dengan baju-baju berwarna merah? Siapakah ini yang bersemarak dengan pakaian-Nya, yang berjalan dalam kebesaran kekuatan-Nya? Aku yang berbicara dalam kebenaran, berkuasa untuk menyelamatkan ..... Karena hari pembalasan itu sudah Ku rencanakan, dan tahun dari umat tebusan-Ku ada datang. Lalu Ku pandang, maka tak seorangpun yang menolong-Ku, maka Aku tertegun karena tidak seorangpun yang membantu : oleh sebab itu lengan-Ku sendiri membawakan keselamatan bagi-Ku; dan kehangatan murka-Ku itulah yang membantu-Ku. Maka Aku akan memijak-mijak orang banyak itu dalam murka-Ku, dan membuat mereka itu mabuk dalam kehangatan amarah-Ku, dan Aku akan meruntuhkan kekuatan mereka itu sampai ke tanah.” (Yesaya 63 : 1, 4 – 6). 

Benar-benar mengerikan hari itu yang segera akan menimpa pengawal yang berdiri di atas pagar-pagar tembok Sion, karena hanya orang-orang yang benar yang akan diselamatkan. “Orang-orang yang lebih menyukai mati daripada melaksanakan sesuatu tindakan yang salah adalah hanya mereka yang akan didapati setia.” -- “Testimonies for the Church”, Jilid 5, halaman 53. Pemisahan orang-orang yang suci dari mereka yang tidak suci ini adalah digambarkan secara lengkap oleh Yehezkiel. Orang-orang yang layak untuk

luput dari kebinasaan itu akan diberi tanda oleh orang yang membawa pena penyurat, setelah mana lima orang yang membawa senjata-senjata pembantai akan membunuh kelas orang-orang itu yang dibiarkan tanpa diberi tanda. Tuhan berfirman : “Bunuhlah semuanya baik tua maupun muda, baik anak-anak dara, maupun anak-anak kecil, dan kaum perempuan : tetapi janganlah menghampiri setiap orang yang padanya terdapat tanda itu; dan mulailah pada tempat kesucian-Ku. Kemudian mulailah mereka terhadap orang-orang bangsawan yang berada di depan rumah itu. Lalu katanya kepada mereka itu, Najiskanlah rumah itu, dan penuhilah semua serambinya dengan bangkai-bangkai orang yang dibunuh : pergilah kamu. Maka pergilah mereka itu, lalu membunuh di dalam kota.” (Yehezkiel 9 : 6, 7). Pada waktu inilah lalang-lalang itu dipisahkan dari gandum sesuai dengan kata-kata Kristus : “Biarkanlah keduanya itu bertumbuh bersama-sama sampai kepada masa penuaian : maka dalam masa penuaian itu Aku akan mengatakan kepada para penuai, Himpunkanlah olehmu pertama lalang-lalang itu, dan ikatkanlah semuanya itu berberkas-berkas untuk dibakar : tetapi kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbung-Ku.” (Matius 13 : 30).

Penyucian sidang Allah menandai penuaian atau “Seruan Keras” dari Pekabaran Malaikat Yang Ketiga, karena Tuhan dari penuaian itu menegaskan, “Biarkanlah keduanya bertumbuh bersama-sama sampai pada masa penuaian”. Gandum yang dikumpulkan pada permulaan penuaian dan pada pemisahan dari lalang-lalang di dalam sidang, disebut buah-buah pertama hasil penuaian. Sementara Yohanes memandang kepada rombongan orang-orang itu ia mendengar suatu lagu kegembiraan, yang tidak dapat dilukiskan oleh setiap mulut manusia : “Maka mereka menyanyi seperti suatu nyanyian baru di depan tahta, di depan empat binatang itu, dan di depan para tua-tua itu : dan tak seorangpun dapat mempelajari nyanyian itu terkecuali mereka yang 144.000 itu saja, yaitu mereka yang telah ditebus dari bumi. Inilah mereka yang tidak mencemarkan dirinya dengan perempuan-perempuan; karena mereka adalah anak-anak dara. Inilah mereka yang mengikuti Anak Domba itu kemana saja Ia pergi. Mereka ini telah ditebus dari antara manusia, merupakan buah-buah pertama bagi Allah dan bagi Anak Domba itu.” (Wahyu 14 : 3, 4). “Maka tak seorangpun dapat mempelajari nyanyian itu.” Hanya pengalaman yang dapat menceritakan kegembiraan yang terdapat di dalam hati seseorang pada sesuatu masa apabila ia diluputkan dari kebinasaan yang kekal, lalu dikaruniai hidup yang kekal tanpa merasai mati -- dikumpulkan ke dalam kekekalan yang tak terhingga berabad-abad lamanya! -- yaitu suatu kehidupan yang sama ukurannya dengan kehidupan Allah. 

MENARUH PERCAYA PADA MANUSIA IALAH JERAT IBLIS YANG PASTI 

Kita dapat memeriksa jauh ke belakang sejauh yang kita ingini dan pastilah, bahwa kita akan menemukan secara mengejutkan dan menyedihkan, bahwa kepemimpinan sidang telah sedemikian jauh sesat, sehingga dalam setiap periode mereka telah gagal untuk mengetahui adanya gulungan surat yang terbuka; dan karena orang banyak yang buta berpihak kepada para pemimpin yang mendurhaka itu menentang kebenaran yang diungkapkan, maka mereka memecah-belah sidang Allah ke dalam banyak bagian. Dengan demikian oleh mengalahkan mereka yang terkemuka, maka Setan berhasil menarik mereka untuk bekerja baginya, lalu dengan begitu menjatuhkan sidang itu seluruhnya sebagai suatu badan. Untuk menentukan ketepatan kata-kata yang diucapkan di atas tidaklah

perlu mengomentari berbagai kenyataan jauh sebelum kedatangan Kristus yang pertama. Oleh sebab itu, suatu penyelidikan singkat terhadap sejarah Kristen akan kita tinjau berikut ini. 

Iblis telah menyapu mata hati manusia yang tercerdas sekalipun dengan “sapu kotornya” pada akhir sejarah Wasiat Lama yang lalu. Mata rohani mereka secara licik telah ditutup sehingga mereka tidak dapat melihat sebuah sambaran kilat yang secerah matahari, di dalam kegelapan malam yang pekat. Kegenapan dari nubuatan, keajaiban-keajaiban seputar kelahiran Kristus, tabiat-Nya yang tidak bercacat cela, jerih payahnya yang tidak mementingkan diri serta keajaiban-keajaiban dalam setiap langkah, sentuhan, pandangan dan tindakan, telah memenuhi suasana itu dengan kasih Ilahi. Orang-orang yang kekurangan indera penglihatan dari semenjak lahir merasakan kuasa penyembuhan dari Dia Yang Tak Terbatas itu. Orang-orang buta melihat Tuhan yang penuh kemuliaan dan memuji-muji Allah, tetapi para guru agama Israel sama sekali tidak tergerak hatinya oleh kuasa yang telah menggerakkan bahkan benda-benda yang mati itu. Gempa bumi; dan matahari menutupi wajahnya, batu-batu karang terpecah-belah dan kubur-kubur terbuka; orang-orang mati bangkit lalu memandang kepada Anak Allah. Tetapi orang-orang Parisi, para imam, dan para rabi yang sombong yaitu mereka yang dijunjung tinggi sebagai orang-orang yang tidak pernah keliru itu, sama sekali tidak dapat merasakannya, melihat bahkan mendengar. Tidak ada keajaiban apapun yang lebih besar daripada apa yang tertulis oleh tindakan-tindakan para pemimpin buta dari zaman itu. Berbicara mengenai pengalaman itu, Yohanes mengatakan : “Dalam Dia ada kehidupan dan kehidupan itu ialah terang manusia. Maka terang itu bercahaya di dalam gelap : tetapi gelap itu tidak menguasainya.” (Yohanes 1 : 4, 5). 

Setiap sinar terang yang mungkin menunjuk kepada kedatangan “Anak Domba Allah” itu telah diberikan kepada umat yang pernah dipilih; tetapi ia itu tidak membawa manfaat apapun kepada mereka. Yesus mengatakan : “Oleh sebab itu jikalau terang yang ada di dalammu itu menjadi gelap, maka alangkah besarnya kegelapan itu!” Mudah-mudahan kiranya pengalaman-pengalaman ini dapat membangunkan para pemimpin dan orang banyak pada masa ini daripada percaya diri sendiri dan kesentausaan palsu yang ada, kepada suatu penyelidikan yang bersungguh-sungguh terhadap kebenaran Alkitab yang pasti. 

Dalam cara yang sama inilah sidang Kristen yang mula-mula telah ditarik masuk ke dalam zaman kegelapan yang lalu. Segera setelah Rasul-Rasul meninggal dunia Setan menyebarkan agen-agennya, yaitu orang-orang yang terkenal, masuk ke dalam sidang. Para pemimpin yang sedianya sudah buta itu meletakkan tangan mereka mengurapi orang-orang itu, bukan dari segi penyerahan kesucian, melainkan karena terkenalnya mereka itu, dan demikianlah mereka membentuk orang-orang itu menjadi gembala-gembala bagi kawanan domba yang ada. Dalam jam yang tergelap dari sidang Kristen itu, Allah oleh perantaraan Luther, telah mengundang perhatian orang banyak kepada kesesatan yang mengerikan, tetapi hanya sedikit yang bersedia mendengarkan suara biarawan yang sederhana itu. Seseorang mungkin saja mengira bahwa orang yang terpandai seharusnya pertama sekali melihat dalam terang yang jelas“demikianlah firman Tuhan”. Luther, dengan suatu perjuangan yang besar, dan dengan penuh resiko hidupnya, telah mendirikan organisasi gereja Lutheran. Tetapi setelah ia meninggal, pergerakannya itupun sama saja telah dikacaukan dan mereka telah mengeraskan hatinya melawan terang baru atas Firman Allah.

perlu mengomentari berbagai kenyataan jauh sebelum kedatangan Kristus yang pertama. Oleh sebab itu, suatu penyelidikan singkat terhadap sejarah Kristen akan kita tinjau berikut ini.

 

Iblis telah menyapu mata hati manusia yang tercerdas sekalipun dengan “sapu kotornya” pada akhir sejarah Wasiat Lama yang lalu. Mata rohani mereka secara licik telah ditutup sehingga mereka tidak dapat melihat sebuah sambaran kilat yang secerah matahari, di dalam kegelapan malam yang pekat. Kegenapan dari nubuatan, keajaiban-keajaiban seputar kelahiran Kristus, tabiat-Nya yang tidak bercacat cela, jerih payahnya yang tidak mementingkan diri serta keajaiban-keajaiban dalam setiap langkah, sentuhan, pandangan dan tindakan, telah memenuhi suasana itu dengan kasih Ilahi. Orang-orang yang kekurangan indera penglihatan dari semenjak lahir merasakan kuasa penyembuhan dari Dia Yang Tak Terbatas itu. Orang-orang buta melihat Tuhan yang penuh kemuliaan dan memuji-muji Allah, tetapi para guru agama Israel sama sekali tidak tergerak hatinya oleh kuasa yang telah menggerakkan bahkan benda-benda yang mati itu. Gempa bumi; dan matahari menutupi wajahnya, batu-batu karang terpecah-belah dan kubur-kubur terbuka; orang-orang mati bangkit lalu memandang kepada Anak Allah. Tetapi orang-orang Parisi, para imam, dan para rabi yang sombong yaitu mereka yang dijunjung tinggi sebagai orang-orang yang tidak pernah keliru itu, sama sekali tidak dapat merasakannya, melihat bahkan mendengar. Tidak ada keajaiban apapun yang lebih besar daripada apa yang tertulis oleh tindakan-tindakan para pemimpin buta dari zaman itu. Berbicara mengenai pengalaman itu, Yohanes mengatakan : “Dalam Dia ada kehidupan dan kehidupan itu ialah terang manusia. Maka terang itu bercahaya di dalam gelap : tetapi gelap itu tidak menguasainya.” (Yohanes 1 : 4, 5). 

Setiap sinar terang yang mungkin menunjuk kepada kedatangan “Anak Domba Allah” itu telah diberikan kepada umat yang pernah dipilih; tetapi ia itu tidak membawa manfaat apapun kepada mereka. Yesus mengatakan : “Oleh sebab itu jikalau terang yang ada di dalammu itu menjadi gelap, maka alangkah besarnya kegelapan itu!” Mudah-mudahan kiranya pengalaman-pengalaman ini dapat membangunkan para pemimpin dan orang banyak pada masa ini daripada percaya diri sendiri dan kesentausaan palsu yang ada, kepada suatu penyelidikan yang bersungguh-sungguh terhadap kebenaran Alkitab yang pasti. 

Dalam cara yang sama inilah sidang Kristen yang mula-mula telah ditarik masuk ke dalam zaman kegelapan yang lalu. Segera setelah Rasul-Rasul meninggal dunia Setan menyebarkan agen-agennya, yaitu orang-orang yang terkenal, masuk ke dalam sidang. Para pemimpin yang sedianya sudah buta itu meletakkan tangan mereka mengurapi orang-orang itu, bukan dari segi penyerahan kesucian, melainkan karena terkenalnya mereka itu, dan demikianlah mereka membentuk orang-orang itu menjadi gembala-gembala bagi kawanan domba yang ada. Dalam jam yang tergelap dari sidang Kristen itu, Allah oleh perantaraan Luther, telah mengundang perhatian orang banyak kepada kesesatan yang mengerikan, tetapi hanya sedikit yang bersedia mendengarkan suara biarawan yang sederhana itu. Seseorang mungkin saja mengira bahwa orang yang terpandai seharusnya pertama sekali melihat dalam terang yang jelas“demikianlah firman Tuhan”. Luther, dengan suatu perjuangan yang besar, dan dengan penuh resiko hidupnya, telah mendirikan organisasi gereja Lutheran. Tetapi setelah ia meninggal, pergerakannya itupun sama saja telah dikacaukan dan mereka telah mengeraskan hatinya melawan terang baru atas Firman Allah.

Sebagaimana John Knox telah datang dengan kebenaran tambahan, para pemimpin sidang menolak untuk memperkenankannya, dan demikianlah perlunya lahir lagi organisasi gereja Presbyterian. Pengalaman-pengalaman ini telah berulang kembali dengan Wesley, Campbell, Miller, dan White. (Lihat buku Tongkat Gembala, Jilid I, halaman 32 - 114, bahasa Inggris). “Kita harus lebih waspada terhadap yang dari dalam daripada yang dari luar. Penghalang-penghalang terhadap kekuatan dan keberhasilan adalah jauh lebih besar datangnya dari sidang itu sendiri daripada yang datang dari dunia.” -- “The Review and Herald”, March 22, 1887. Jikalau bahaya melawan sidang itu sedianya datang dari dalam, karena menaruh percaya pada kepemimpinan yang menyesatkan diri sendiri dalam setiap zaman, maka apakah yang akan merubah segala perkara pada waktu ini? 

Kenyataan-kenyataan ini yang berkenan dengan jerat-jerat Iblis yang pasti, terus berulang kali disuarakan dengan keras untuk membangunkan orang yang tidur pada waktu sekarang ini. Dengarkanlah bunyi trompet itu : “Kebaskanlah abu daripadamu, bangunlah dan duduklah, hai Yerusalem : lepaskanlah segala pengikat lehermu, hai puteri Sion yang tertawan.” (Yesaya 52 : 2). Keragu-raguan, dengan bergantung pada manusia, dalam keyakinan memiliki semua kebenaran dan tidak memerlukan apa-apa lagi, telah menelan lebih banyak jiwa daripada setiap jerat manapun yang pernah dibuat oleh musuh manusia. Kelas orang-orang yang menerima begitu saja keputusan-keputusan orang lain tanpa menyelidikinya sendiri, lalu menolak untuk dipuaskan dengan cara mendengar dan menguji Firman, mereka telah disesatkan dari kebenaran sekarang dalam setiap masa. “Karena kepintaran dunia ini adalah kebodohan bagi Allah. Karena ada tersurat, bahwa Tuhan menangkap orang pandai itu dalam kebijaksanaannya sendiri. Dan lagi, Tuhan mengetahui akan pikiran orang pandai itu, bahwa mereka itu sia-sia adanya.” (1 Korintus 3 : 19, 20). 

Orang-orang yang sangat dijunjung tinggi oleh dunia, jarang sekali dapat digunakan oleh Allah. Pada umumnya, para pendidik yang besar dari zaman ini adalah orang-orang yang berpikiran tabiat duniawi, sebab itu hasil dari sekolah-sekolah manusia adalah bermusuhan melawan Allah. “Karena pikiran yang bersifat duniawi bermusuhan melawan Allah, sebab ia itu tidak takluk ke bawah hukum Allah, bahkan juga tidak mungkin baginya.” (Roma 8 : 7). Kalau saja Allah mau menggunakan mereka, mereka harus pertama-tama sekali bersama-sama dengan rasul yang besar itu, menyangkal dirinya. Rasul Paulus menegaskan : “Memberitakan Injil : bukan dengan kepintaran kata-kata, supaya jangan salib Kristus itu menjadi sia-sia. Karena ada tertulis, bahwa Aku akan membinasakan kepintaran orang-orang pandai, dan kebijaksanaan orang yang bijak itu akan Ku lenyapkan.” (1 Korintus 1 : 17, 19). “Demikian aku pun, ketika aku sudah datang kepadamu, hai Saudara-Saudaraku, bukannya aku datang dengan fasih lidah atau dengan kepintaran, dalam hal aku memberitakan kepadamu kesaksian Allah itu. Karena aku sudah memutuskan untuk tidak mau tahu apapun di antara kamu, terkecuali Yesus Kristus, dan Dia yang tersalib itu. Dan aku sudah berada bersama kamu dalam kelemahan, dalam takut, dan dalam banyak gentar. Maka pembicaraanku dan pemberitaanku bukannya dengan kata-kata menarik orang pandai, melainkan dalam mendemonstrasikan Roh dan kuasa Allah.” (1 Korintus 2 : 1 –  4).

 Allah membawa Musa ke padang belantara dan di sana di bawah pengawasan-

Sebagaimana John Knox telah datang dengan kebenaran tambahan, para pemimpin sidang menolak untuk memperkenankannya, dan demikianlah perlunya lahir lagi organisasi gereja Presbyterian. Pengalaman-pengalaman ini telah berulang kembali dengan Wesley, Campbell, Miller, dan White. (Lihat buku Tongkat Gembala, Jilid I, halaman 32 - 114, bahasa Inggris). “Kita harus lebih waspada terhadap yang dari dalam daripada yang dari luar. Penghalang-penghalang terhadap kekuatan dan keberhasilan adalah jauh lebih besar datangnya dari sidang itu sendiri daripada yang datang dari dunia.” -- “The Review and Herald”, March 22, 1887. Jikalau bahaya melawan sidang itu sedianya datang dari dalam, karena menaruh percaya pada kepemimpinan yang menyesatkan diri sendiri dalam setiap zaman, maka apakah yang akan merubah segala perkara pada waktu ini? 

Kenyataan-kenyataan ini yang berkenan dengan jerat-jerat Iblis yang pasti, terus berulang kali disuarakan dengan keras untuk membangunkan orang yang tidur pada waktu sekarang ini. Dengarkanlah bunyi trompet itu : “Kebaskanlah abu daripadamu, bangunlah dan duduklah, hai Yerusalem : lepaskanlah segala pengikat lehermu, hai puteri Sion yang tertawan.” (Yesaya 52 : 2). Keragu-raguan, dengan bergantung pada manusia, dalam keyakinan memiliki semua kebenaran dan tidak memerlukan apa-apa lagi, telah menelan lebih banyak jiwa daripada setiap jerat manapun yang pernah dibuat oleh musuh manusia. Kelas orang-orang yang menerima begitu saja keputusan-keputusan orang lain tanpa menyelidikinya sendiri, lalu menolak untuk dipuaskan dengan cara mendengar dan menguji Firman, mereka telah disesatkan dari kebenaran sekarang dalam setiap masa. “Karena kepintaran dunia ini adalah kebodohan bagi Allah. Karena ada tersurat, bahwa Tuhan menangkap orang pandai itu dalam kebijaksanaannya sendiri. Dan lagi, Tuhan mengetahui akan pikiran orang pandai itu, bahwa mereka itu sia-sia adanya.” (1 Korintus 3 : 19, 20). 

Orang-orang yang sangat dijunjung tinggi oleh dunia, jarang sekali dapat digunakan oleh Allah. Pada umumnya, para pendidik yang besar dari zaman ini adalah orang-orang yang berpikiran tabiat duniawi, sebab itu hasil dari sekolah-sekolah manusia adalah bermusuhan melawan Allah. “Karena pikiran yang bersifat duniawi bermusuhan melawan Allah, sebab ia itu tidak takluk ke bawah hukum Allah, bahkan juga tidak mungkin baginya.” (Roma 8 : 7). Kalau saja Allah mau menggunakan mereka, mereka harus pertama-tama sekali bersama-sama dengan rasul yang besar itu, menyangkal dirinya. Rasul Paulus menegaskan : “Memberitakan Injil : bukan dengan kepintaran kata-kata, supaya jangan salib Kristus itu menjadi sia-sia. Karena ada tertulis, bahwa Aku akan membinasakan kepintaran orang-orang pandai, dan kebijaksanaan orang yang bijak itu akan Ku lenyapkan.” (1 Korintus 1 : 17, 19). “Demikian aku pun, ketika aku sudah datang kepadamu, hai Saudara-Saudaraku, bukannya aku datang dengan fasih lidah atau dengan kepintaran, dalam hal aku memberitakan kepadamu kesaksian Allah itu. Karena aku sudah memutuskan untuk tidak mau tahu apapun di antara kamu, terkecuali Yesus Kristus, dan Dia yang tersalib itu. Dan aku sudah berada bersama kamu dalam kelemahan, dalam takut, dan dalam banyak gentar. Maka pembicaraanku dan pemberitaanku bukannya dengan kata-kata menarik orang pandai, melainkan dalam mendemonstrasikan Roh dan kuasa Allah.” (1 Korintus 2 : 1 –  4).

 Allah membawa Musa ke padang belantara dan di sana di bawah pengawasan-

Nya Ia telah melatih Musa selama empat puluh tahun lamanya -- pada waktu itulah Musa melepaskan semua yang telah diperolehnya di dalam sekolah-sekolah Mesir, hanya sesudah itulah baru Allah dapat menggunakannya sebagai suatu alat di dalam tangan-Nya yang Maha Kuasa. Pada waktu Musa merasa mampu untuk membebaskan Israel dari perhambaan Mesir ia justru gagal; tetapi setelah ia menyadari akan dirinya sendiri sebagai tak berdaya, maka pada waktu itulah ia kuat. Jika Allah hendak memberikan terang besar kepada seseorang yang merasa dirinya sendiri tinggi, dan yang juga dijunjung tinggi oleh dunia, maka manusia akan memuliakan dirinya sendiri dan merampok dari Allah kemuliaan-Nya. “Pada waktu inilah Yesus menjawab dan mengatakan, “Ya Bapa, Tuhan daripada langit dan bumi, Aku bersyukur kepada-Mu, sebab Engkau telah  menyembunyikan segala perkara ini dari orang-orang bijaksana dan orang-orang pandai, tetapi telah mengungkapkannya kepada bayi-bayi.” (Matius 11 : 25). Allah mengungkapkan diri-Nya melalui alat-alat dan cara-cara yang hampir-hampir tak disangka oleh manusia. Demikianlah Ia memperlihatkan suatu keajaiban dengan cara membuat segala-galanya yang tidak mungkin menjadi mungkin, mengungkapkan kuasa-Nya dan membangkitkan orang yang tidur dengan menggunakan terang dan suara Ilahi. Orang-orang yang terkenal jarang sekali menerima sesuatu terang atas Firman Allah hanya karena nilai kebenarannya; kelas orang-orang ini umumnya menyambut kebenaran Alkitab itu setelah kebenaran itu menjadi terkenal dan apabila ia itu dikhotbahkan oleh orang-orang yang dihargai lebih tinggi daripada diri mereka sendiri.

Kata Nabi itu, “Janganlah berharap pada manusia, yaitu mereka yang napas hidupnya terdapat di dalam lubang hidungnya : dan sebagai apakah ia dapat dianggap?” (Yesaya 2 : 22). “Adalah lebih baik berharap kepada Tuhan daripada menaruh kepercayaan pada manusia.” (Mazmur 118 : 8). Sambil memandang ke depan kepada masa kesentausaan dunia sekarang ini, nabi Mikha mengatakan, “Janganlah kamu percaya kepada seorang sahabat, jangan lagi menaruh harap pada penunjuk jalan.” (Mikha 7 : 5). Umat Allah harus belajar untuk berharap serta bergantung kepada-Nya saja, “demikianlah firman Tuhan”. Ia dapat menggunakan alat manusia untuk menyampaikan terang, tetapi terang itulah yang akan bercahaya atas Firman Allah yang tidak pernah salah. Terang yang sedemikian ini akan mengusir dosa dan akan menghukum orang berdosa, meninggikan Kristus, memuliakan Allah, dan merendahkan manusia. “Manusia yang sombong akan direndahkan dan orang yang angkuh akan ditundukkan, maka Tuhan sajalah yang akan ditinggikan pada hari itu. Karena hari Tuhan Serwa Sekalian Alam akan datang atas setiap orang yang sombong dan angkuh, dan atas setiap orang yang ditinggikan; maka ia itu akan direndahkan.” (Yesaya 2 : 11, 12).

Setan mengetahui bagaimana caranya menyesatkan sehingga ia itu tidak mudah dapat diketahui. Ia mempelajari kecenderungan-kecenderungan dari umat itu, maka pada perkara yang paling menarik di situlah ia meletakkan jeratnya. Karena generasi ini sedang menaruh percaya pada kepintaran manusia dan mereka rela agar orang lain berpikir bagi mereka, maka Iblis akan hadir kepada kelas orang-orang ini dengan pribadi yang sangat menakjubkan yang pernah diharapkan oleh dunia. Kata rasul itu : “Maka janganlah heran, karena Setan sendiri mewujudkan dirinya seperti malaikat terang.” (2 Korintus 11 : 14).

Alat-alat Allah yang berguna untuk menghubungkan terang itu ke atas Firman-Nya akan bertentangan dengan alat-alat kepunyaan Setan. “Aku bersyukur kepada-Mu, Ya Bapa, Tuhan langit dan bumi, sebab Engkau telah menyembunyikan segala perkara ini dari orang-orang bijaksana dan pandai, dan Engkau telah mengungkapkannya

Nya Ia telah melatih Musa selama empat puluh tahun lamanya -- pada waktu itulah Musa melepaskan semua yang telah diperolehnya di dalam sekolah-sekolah Mesir, hanya sesudah itulah baru Allah dapat menggunakannya sebagai suatu alat di dalam tangan-Nya yang Maha Kuasa. Pada waktu Musa merasa mampu untuk membebaskan Israel dari perhambaan Mesir ia justru gagal; tetapi setelah ia menyadari akan dirinya sendiri sebagai tak berdaya, maka pada waktu itulah ia kuat. Jika Allah hendak memberikan terang besar kepada seseorang yang merasa dirinya sendiri tinggi, dan yang juga dijunjung tinggi oleh dunia, maka manusia akan memuliakan dirinya sendiri dan merampok dari Allah kemuliaan-Nya. “Pada waktu inilah Yesus menjawab dan mengatakan, “Ya Bapa, Tuhan daripada langit dan bumi, Aku bersyukur kepada-Mu, sebab Engkau telah  menyembunyikan segala perkara ini dari orang-orang bijaksana dan orang-orang pandai, tetapi telah mengungkapkannya kepada bayi-bayi.” (Matius 11 : 25). Allah mengungkapkan diri-Nya melalui alat-alat dan cara-cara yang hampir-hampir tak disangka oleh manusia. Demikianlah Ia memperlihatkan suatu keajaiban dengan cara membuat segala-galanya yang tidak mungkin menjadi mungkin, mengungkapkan kuasa-Nya dan membangkitkan orang yang tidur dengan menggunakan terang dan suara Ilahi. Orang-orang yang terkenal jarang sekali menerima sesuatu terang atas Firman Allah hanya karena nilai kebenarannya; kelas orang-orang ini umumnya menyambut kebenaran Alkitab itu setelah kebenaran itu menjadi terkenal dan apabila ia itu dikhotbahkan oleh orang-orang yang dihargai lebih tinggi daripada diri mereka sendiri.

Kata Nabi itu, “Janganlah berharap pada manusia, yaitu mereka yang napas hidupnya terdapat di dalam lubang hidungnya : dan sebagai apakah ia dapat dianggap?” (Yesaya 2 : 22). “Adalah lebih baik berharap kepada Tuhan daripada menaruh kepercayaan pada manusia.” (Mazmur 118 : 8). Sambil memandang ke depan kepada masa kesentausaan dunia sekarang ini, nabi Mikha mengatakan, “Janganlah kamu percaya kepada seorang sahabat, jangan lagi menaruh harap pada penunjuk jalan.” (Mikha 7 : 5). Umat Allah harus belajar untuk berharap serta bergantung kepada-Nya saja, “demikianlah firman Tuhan”. Ia dapat menggunakan alat manusia untuk menyampaikan terang, tetapi terang itulah yang akan bercahaya atas Firman Allah yang tidak pernah salah. Terang yang sedemikian ini akan mengusir dosa dan akan menghukum orang berdosa, meninggikan Kristus, memuliakan Allah, dan merendahkan manusia. “Manusia yang sombong akan direndahkan dan orang yang angkuh akan ditundukkan, maka Tuhan sajalah yang akan ditinggikan pada hari itu. Karena hari Tuhan Serwa Sekalian Alam akan datang atas setiap orang yang sombong dan angkuh, dan atas setiap orang yang ditinggikan; maka ia itu akan direndahkan.” (Yesaya 2 : 11, 12).

Setan mengetahui bagaimana caranya menyesatkan sehingga ia itu tidak mudah dapat diketahui. Ia mempelajari kecenderungan-kecenderungan dari umat itu, maka pada perkara yang paling menarik di situlah ia meletakkan jeratnya. Karena generasi ini sedang menaruh percaya pada kepintaran manusia dan mereka rela agar orang lain berpikir bagi mereka, maka Iblis akan hadir kepada kelas orang-orang ini dengan pribadi yang sangat menakjubkan yang pernah diharapkan oleh dunia. Kata rasul itu : “Maka janganlah heran, karena Setan sendiri mewujudkan dirinya seperti malaikat terang.” (2 Korintus 11 : 14).

Alat-alat Allah yang berguna untuk menghubungkan terang itu ke atas Firman-Nya akan bertentangan dengan alat-alat kepunyaan Setan. “Aku bersyukur kepada-Mu, Ya Bapa, Tuhan langit dan bumi, sebab Engkau telah menyembunyikan segala perkara ini dari orang-orang bijaksana dan pandai, dan Engkau telah mengungkapkannya

kepada bayi-bayi.” Demikian kata Yesus (Matius 11 : 25). Kepada nabi Yesaya telah diungkapkan, bahwa Allah akan menggunakan orang-orang yang sederhana untuk merendahkan orang-orang yang sombong : “Karena sesungguhnya, Tuhan, Tuhan serwa sekalian alam, akan melalukan dari Yerusalem dan dari Yehuda baik tongkat maupun batang, yaitu segala tongkat roti dan segala batang air. Orang perkasa, dan prajurit, hakim, dan nabi, dan orang yang pandai, dan orang tua-tua, dan penghulu lima puluh orang, dan orang yang terhormat, dan penasehat, dan menteri, dan tukang yang pandai, dan pembicara yang ulung. Maka anak-anak akan kujadikan raja-raja mereka itu, dan bayi-bayi akan memerintah mereka itu. Maka orang banyak itu akan ditindas, masing-masing oleh yang lainnya, dan masing-masing oleh tetangganya : anak kecil akan membanggakan dirinya melawan tua-tua, dan yang terendah melawan yang terhormat.” (Yesaya 3 : 1 – 5). Yesus mengatakan : “Oleh sebab itu barangsiapa merendahkan dirinya seperti anak kecil, dialah kelak menjadi yang terbesar di dalam kerajaan surga. Dan barangsiapa kelak menerima anak kecil yang sedemikian ini dalam nama-Ku ia juga menerima Aku.” (Matius 18 : 4, 5). 

RINGKASAN SINGKAT DARI HAL BINATANG YANG MENYERUPAI MACAN TUTUL 

Telah dibuktikan sebelumnya, bahwa binatang yang menyerupai macan tutul itu, tujuh kepalanya dan sepuluh tanduknya adalah melambangkan suatu sistem yang bersifat universal. Empat binatang dari Daniel pasal 7, yaitu, singa, beruang, macan tutul, dan binatang yang tak tergambarkan telah ditunjukkan dalam khayal itu sebagai empat kerajaan dunia yang muncul satu menyusul yang lainnya. Dengan demikian, baik nubuatan maupun sejarah, membuktikan bahwa Babel, Medo-Persia, Yunani, dan Romawi telah datang yang satu menyusul yang lainnya. Empat mata rantai yang tak terpisahkan ini membuatnya menjadi tidak mungkin untuk memotong salah satunya dari empat binatang itu dengan suatu sistem yang universal. Oleh sebab itu binatang yang menyerupai macan tutul itu harus datang kemudian secara berurutan sesudah binatang yang keempat. Karena “sepuluh tanduk” dari binatang yang tak tergambarkan itu melambangkan “sepuluh orang raja” yang akan naik dari kerajaan Romawi, maka “mahkota-mahkota pada tanduk-tanduk” itu membuktikan, bahwa binatang yang menyerupai macan tutul itu melambangkan masa periode sesudah runtuhnya kerajaan Romawi, pada waktu mana “sepuluh orang raja” itu memperoleh kerajaan mereka. Karena ia juga “telah datang keluar dari Laut”, maka jelaslah bahwa ia pun akan diciptakan dari hasil peperangan. Demikianlah runtuhnya kerajaan Romawi telah melahirkan seekor binatang yang kelima. Mulutnya adalah mulut singa, kakinya kaki beruang, badannya berbadan seekor macan tutul, dan memiliki sepuluh tanduk, menunjukkan bahwa ia adalah suatu turunan dari Babel, Medo-Persia, Yunani, dan Romawi. 

Karena ia telah membuka mulutnya mengucapkan hujat selama empat puluh dua bulan lamanya, atau seribu dua ratus enam puluh tahun, maka tak dapat dibantah bahwa ia melambangkan periode masa kepausan semenjak dari tahun 538 TM sampai tahun 1798 TM -- yaitu waktu dimana kepala kepausan itu memperoleh lukanya yang membawa mati itu. Tetapi karena lukanya itu kelak akan sembuh kembali pada sesuatu waktu sesudah tahun 1798, maka jelaslah bahwa ia juga melambangkan sejarah dunia ini setelah tertawannya Paus Pius VI sampai kepada saat “lukanya yang parah itu sembuh kembali”; semua periode inilah yang telah melahirkan paham Katholikisme dan Protestantisme.

kepada bayi-bayi.” Demikian kata Yesus (Matius 11 : 25). Kepada nabi Yesaya telah diungkapkan, bahwa Allah akan menggunakan orang-orang yang sederhana untuk merendahkan orang-orang yang sombong : “Karena sesungguhnya, Tuhan, Tuhan serwa sekalian alam, akan melalukan dari Yerusalem dan dari Yehuda baik tongkat maupun batang, yaitu segala tongkat roti dan segala batang air. Orang perkasa, dan prajurit, hakim, dan nabi, dan orang yang pandai, dan orang tua-tua, dan penghulu lima puluh orang, dan orang yang terhormat, dan penasehat, dan menteri, dan tukang yang pandai, dan pembicara yang ulung. Maka anak-anak akan kujadikan raja-raja mereka itu, dan bayi-bayi akan memerintah mereka itu. Maka orang banyak itu akan ditindas, masing-masing oleh yang lainnya, dan masing-masing oleh tetangganya : anak kecil akan membanggakan dirinya melawan tua-tua, dan yang terendah melawan yang terhormat.” (Yesaya 3 : 1 – 5). Yesus mengatakan : “Oleh sebab itu barangsiapa merendahkan dirinya seperti anak kecil, dialah kelak menjadi yang terbesar di dalam kerajaan surga. Dan barangsiapa kelak menerima anak kecil yang sedemikian ini dalam nama-Ku ia juga menerima Aku.” (Matius 18 : 4, 5). 

RINGKASAN SINGKAT DARI HAL BINATANG YANG MENYERUPAI MACAN TUTUL 

Telah dibuktikan sebelumnya, bahwa binatang yang menyerupai macan tutul itu, tujuh kepalanya dan sepuluh tanduknya adalah melambangkan suatu sistem yang bersifat universal. Empat binatang dari Daniel pasal 7, yaitu, singa, beruang, macan tutul, dan binatang yang tak tergambarkan telah ditunjukkan dalam khayal itu sebagai empat kerajaan dunia yang muncul satu menyusul yang lainnya. Dengan demikian, baik nubuatan maupun sejarah, membuktikan bahwa Babel, Medo-Persia, Yunani, dan Romawi telah datang yang satu menyusul yang lainnya. Empat mata rantai yang tak terpisahkan ini membuatnya menjadi tidak mungkin untuk memotong salah satunya dari empat binatang itu dengan suatu sistem yang universal. Oleh sebab itu binatang yang menyerupai macan tutul itu harus datang kemudian secara berurutan sesudah binatang yang keempat. Karena “sepuluh tanduk” dari binatang yang tak tergambarkan itu melambangkan “sepuluh orang raja” yang akan naik dari kerajaan Romawi, maka “mahkota-mahkota pada tanduk-tanduk” itu membuktikan, bahwa binatang yang menyerupai macan tutul itu melambangkan masa periode sesudah runtuhnya kerajaan Romawi, pada waktu mana “sepuluh orang raja” itu memperoleh kerajaan mereka. Karena ia juga “telah datang keluar dari Laut”, maka jelaslah bahwa ia pun akan diciptakan dari hasil peperangan. Demikianlah runtuhnya kerajaan Romawi telah melahirkan seekor binatang yang kelima. Mulutnya adalah mulut singa, kakinya kaki beruang, badannya berbadan seekor macan tutul, dan memiliki sepuluh tanduk, menunjukkan bahwa ia adalah suatu turunan dari Babel, Medo-Persia, Yunani, dan Romawi. 

Karena ia telah membuka mulutnya mengucapkan hujat selama empat puluh dua bulan lamanya, atau seribu dua ratus enam puluh tahun, maka tak dapat dibantah bahwa ia melambangkan periode masa kepausan semenjak dari tahun 538 TM sampai tahun 1798 TM -- yaitu waktu dimana kepala kepausan itu memperoleh lukanya yang membawa mati itu. Tetapi karena lukanya itu kelak akan sembuh kembali pada sesuatu waktu sesudah tahun 1798, maka jelaslah bahwa ia juga melambangkan sejarah dunia ini setelah tertawannya Paus Pius VI sampai kepada saat “lukanya yang parah itu sembuh kembali”; semua periode inilah yang telah melahirkan paham Katholikisme dan Protestantisme.

Adalah tidak bijaksana dan sia-sia saja merencanakan binatang nubuatan ini jika simbol-simbol itu gagal mengungkapkan paham Protestantisme seperti yang diungkapkannya mengenai paham Katholikisme. Sebelum masa seribu dua ratus enam puluh tahun itu berakhir dalam tahun 1798, empat organisasi gereja Protestan sudah berdiri; yaitu, gereja Lutheran, gereja Presbyterian, gereja Methodist, dan gereja Christian. Tetapi sesudah tahun 1798 datanglah lagi Firstday Adventist (Adventist Hari Pertama); dan Masehi Advent Hari Ketujuh semenjak dari tahun 1844 sampai tahun 1929 melengkapi tujuh kepalanya itu. Karena paham Protestantisme itu runtuh oleh pemberitaan dari Pekabaran Malaikat yang Kedua sesudah tahun 1844, dan karena simbol dari Wahyu pasal 13 dalam tahun 1930 mengungkapkan, bahwa orang-orang Masehi Advent Hari Ketujuh “heran terhadap binatang itu” (dunia), maka kedua peristiwa ini telah  menyembuhkan luka parah itu, lalu menarik selendang kata-kata hujat itu meliputi keseluruhan tujuh kepala itu. Dengan demikian, lengkapnya kegenapan dari nubuatan simbolis ini mengungkapkan kebenaran dari binatang itu. Karena semua sekte agama lainnya adalah hanya pasilan-pasilan (offshoots) yang memisahkan diri dari tujuh organisasi ini, maka kepala-kepala itu adalah meliputi seluruh dunia Kristen sampai pada tahun 1930. Karena nubuatan Firman Allah mengatakan, “Seluruh dunia heran terhadap binatang itu” (keduniawian), dan bukan heran kepada kepala itu (kepausan), maka ini menunjukkan bahwa mereka itu mengagumi dunia, dan bukan mengagumi paham Katholikisme. Keluar dari kemurtadan yang besar ini pekabaran Wahyu 7 : 1 – 8, akan memeteraikan dan menyelamatkan 144.000 orang-orang suci, dari gereja Masehi Advent Hari Ketujuh yang kelak tidak akan merasai kematian. Tetapi pekabaran yang dilambangkan oleh malaikat Wahyu pasal 18, yang dengan kemuliaannya bumi akan diterangi, pekabaran itu akan memanggil keluar dari dunia “rombongan besar orang-orang” dari Wahyu 7 : 9. 

Allah, Yang sangat teliti memperhatikan kebaikan sidang-Nya dalam mengungkapkan kebenaran-Nya kepada umat-Nya, telah memberikan kepada kita gambaran-gambaran peristiwa-peristiwa sejarah yang ajaib; yang merupakan bukti kasih sayang-Nya yang kekal bagi Israel pilihan-Nya -- yaitu buah-buah pertama dari hasil penuaian-Nya. Dengan demikian “Allah Yakub itu”, beribu-ribu tahun sebelumnya, telah menggariskan rencana-rencana-Nya untuk disampaikan kepada umat-Nya suatu tugas seni nubuatan dengan sentuhan Ilahi. 

* * *

Adalah tidak bijaksana dan sia-sia saja merencanakan binatang nubuatan ini jika simbol-simbol itu gagal mengungkapkan paham Protestantisme seperti yang diungkapkannya mengenai paham Katholikisme. Sebelum masa seribu dua ratus enam puluh tahun itu berakhir dalam tahun 1798, empat organisasi gereja Protestan sudah berdiri; yaitu, gereja Lutheran, gereja Presbyterian, gereja Methodist, dan gereja Christian. Tetapi sesudah tahun 1798 datanglah lagi Firstday Adventist (Adventist Hari Pertama); dan Masehi Advent Hari Ketujuh semenjak dari tahun 1844 sampai tahun 1929 melengkapi tujuh kepalanya itu. Karena paham Protestantisme itu runtuh oleh pemberitaan dari Pekabaran Malaikat yang Kedua sesudah tahun 1844, dan karena simbol dari Wahyu pasal 13 dalam tahun 1930 mengungkapkan, bahwa orang-orang Masehi Advent Hari Ketujuh “heran terhadap binatang itu” (dunia), maka kedua peristiwa ini telah  menyembuhkan luka parah itu, lalu menarik selendang kata-kata hujat itu meliputi keseluruhan tujuh kepala itu. Dengan demikian, lengkapnya kegenapan dari nubuatan simbolis ini mengungkapkan kebenaran dari binatang itu. Karena semua sekte agama lainnya adalah hanya pasilan-pasilan (offshoots) yang memisahkan diri dari tujuh organisasi ini, maka kepala-kepala itu adalah meliputi seluruh dunia Kristen sampai pada tahun 1930. Karena nubuatan Firman Allah mengatakan, “Seluruh dunia heran terhadap binatang itu” (keduniawian), dan bukan heran kepada kepala itu (kepausan), maka ini menunjukkan bahwa mereka itu mengagumi dunia, dan bukan mengagumi paham Katholikisme. Keluar dari kemurtadan yang besar ini pekabaran Wahyu 7 : 1 – 8, akan memeteraikan dan menyelamatkan 144.000 orang-orang suci, dari gereja Masehi Advent Hari Ketujuh yang kelak tidak akan merasai kematian. Tetapi pekabaran yang dilambangkan oleh malaikat Wahyu pasal 18, yang dengan kemuliaannya bumi akan diterangi, pekabaran itu akan memanggil keluar dari dunia “rombongan besar orang-orang” dari Wahyu 7 : 9. 

Allah, Yang sangat teliti memperhatikan kebaikan sidang-Nya dalam mengungkapkan kebenaran-Nya kepada umat-Nya, telah memberikan kepada kita gambaran-gambaran peristiwa-peristiwa sejarah yang ajaib; yang merupakan bukti kasih sayang-Nya yang kekal bagi Israel pilihan-Nya -- yaitu buah-buah pertama dari hasil penuaian-Nya. Dengan demikian “Allah Yakub itu”, beribu-ribu tahun sebelumnya, telah menggariskan rencana-rencana-Nya untuk disampaikan kepada umat-Nya suatu tugas seni nubuatan dengan sentuhan Ilahi. 

* * *

BINATANG YANG BERTANDUK DUA

Wahyu 13 : 11 – 18

Sementara Yohanes memandang kepada khayal itu dengan seksama, maka perhatiannya kemudian diarahkan kepada suatu objek menarik lainnya : “Dan aku tampak seekor binatang lain datang keluar dari bumi; dan ia memiliki dua tanduk seperti tanduk anak domba, lalu ia berbicara seperti seekor naga.” (Ayat 11). Tepat menjelang tahap kedua dan terakhir dari binatang yang tak tergambarkan itu telah berakhir, maka suatu penguasa bumi yang lain lagi akan naik ke atas pentas, sesuai dengan khayal itu. Adalah ajaib untuk dicatat betapa tepatnya simbol-simbol itu, bahkan sampai kepada masa dan urutannya yang tepat. Binatang yang memiliki tanduk-tanduk seperti tanduk anak domba itu (janji mengenai pertumbuhan) adalah suatu lambang yang tidak dapat dibantah dari sesuatu bangsa “yang bangkit secara perlahan-lahan bagaikan dari suatu rencana yang kecil sampai menjadi suatu kerajaan yang kuat.” “Seperti anak domba”, adalah gambaran dari pemerintahan itu yang sedang naik dalam tahun 1776 TM. (Lihat “The Great Controversy”, halaman 439 – 441).

Binatang ini telah diterima sebagai simbol dari Amerika Serikat. Oleh sebab itu, perhatian kami bukanlah untuk mengeluarkan fakta-fakta kenyataan yang berhubungan dengan aplikasinya. Tujuan kami adalah, seperti yang telah dikemukakan terdahulu, untuk menghubungkan secara singkat binatang yang satu dengan yang lainnya dengan cara melemparkan terang pada simbol-simbol yang belum dapat dimengerti. 

Dapatlah dicatat bahwa setiap binatang yang melambangkan sejarah Wasiat Baru memiliki sepuluh tanduk, terkecuali binatang yang satu ini. Kami ulangi, bahwa sepuluh tanduk itu berdiri sebagai lambang dari sistem-sistem pemerintahan universal. Kenyataan ini membuktikan, bahwa binatang yang bertanduk dua itu melambangkan sebuah pemerintahan setempat. Karena penguasa-penguasa sipil atau pemerintahan-pemerintahan dilambangkan oleh tanduk-tanduk, binatang yang satu ini memiliki dua buah tanduk, maka jelas bahwa bangsa yang dilambangkan oleh simbol ini, akan memiliki suatu bentuk pemerintahan rangkap dua. Sebagaimana Yohanes mengatakan, “Binatang itu berbicara seperti seekor naga”, maka ia itu jelas mengungkapkan bahwa ia akan menanggalkan undang-undang dasarnya, dan kemerdekaan karunia Allah dari para warganya akan kelak ditiadakan. Menurut ayat 12, penguasa ini akan kelak meniru binatang yang “mendahuluinya” (pemerintahan kepausan) : “Maka ia melakukan segala kuasa dari binatang yang pertama yang mendahuluinya, dan menyuruh bumi dan mereka yang tinggal di dalamnya untuk menyembah binatang yang pertama itu, yaitu dia yang luka parahnya itu telah sembuh.” Jika bangsa yang besar ini harus mengambil manfaat yang tidak sepatutnya dari pikiran para warganya melalui perundang-undangan, mengenai bagaimana mereka boleh beribadah, ataupun tidak boleh, maka itu kelak akan bertentangan terhadap ketentuan-ketentuan yang ada di dalam undang-undang dasarnya -- yaitu berbicara seperti seekor naga. Mengutip undang-undang dasar Amerika Serikat, amandemen yang pertama yang berkenaan dengan masalah-masalah agama, berbunyi : “Majelis Permusyawaratan Rakyat tidak diperkenankan membuat undang-undang apapun membenarkan sesuatu pendirian agama, atau melarang kebebasan orang melaksanakannya.” Jika negara ini kelak tidak lagi mengakui amandemen ini, maka ini kelak sepenuhnya menggenapi kegenapan dari ketentuan simbol itu.

BINATANG YANG BERTANDUK DUA

Wahyu 13 : 11 – 18

Sementara Yohanes memandang kepada khayal itu dengan seksama, maka perhatiannya kemudian diarahkan kepada suatu objek menarik lainnya : “Dan aku tampak seekor binatang lain datang keluar dari bumi; dan ia memiliki dua tanduk seperti tanduk anak domba, lalu ia berbicara seperti seekor naga.” (Ayat 11). Tepat menjelang tahap kedua dan terakhir dari binatang yang tak tergambarkan itu telah berakhir, maka suatu penguasa bumi yang lain lagi akan naik ke atas pentas, sesuai dengan khayal itu. Adalah ajaib untuk dicatat betapa tepatnya simbol-simbol itu, bahkan sampai kepada masa dan urutannya yang tepat. Binatang yang memiliki tanduk-tanduk seperti tanduk anak domba itu (janji mengenai pertumbuhan) adalah suatu lambang yang tidak dapat dibantah dari sesuatu bangsa “yang bangkit secara perlahan-lahan bagaikan dari suatu rencana yang kecil sampai menjadi suatu kerajaan yang kuat.” “Seperti anak domba”, adalah gambaran dari pemerintahan itu yang sedang naik dalam tahun 1776 TM. (Lihat “The Great Controversy”, halaman 439 – 441).

Binatang ini telah diterima sebagai simbol dari Amerika Serikat. Oleh sebab itu, perhatian kami bukanlah untuk mengeluarkan fakta-fakta kenyataan yang berhubungan dengan aplikasinya. Tujuan kami adalah, seperti yang telah dikemukakan terdahulu, untuk menghubungkan secara singkat binatang yang satu dengan yang lainnya dengan cara melemparkan terang pada simbol-simbol yang belum dapat dimengerti. 

Dapatlah dicatat bahwa setiap binatang yang melambangkan sejarah Wasiat Baru memiliki sepuluh tanduk, terkecuali binatang yang satu ini. Kami ulangi, bahwa sepuluh tanduk itu berdiri sebagai lambang dari sistem-sistem pemerintahan universal. Kenyataan ini membuktikan, bahwa binatang yang bertanduk dua itu melambangkan sebuah pemerintahan setempat. Karena penguasa-penguasa sipil atau pemerintahan-pemerintahan dilambangkan oleh tanduk-tanduk, binatang yang satu ini memiliki dua buah tanduk, maka jelas bahwa bangsa yang dilambangkan oleh simbol ini, akan memiliki suatu bentuk pemerintahan rangkap dua. Sebagaimana Yohanes mengatakan, “Binatang itu berbicara seperti seekor naga”, maka ia itu jelas mengungkapkan bahwa ia akan menanggalkan undang-undang dasarnya, dan kemerdekaan karunia Allah dari para warganya akan kelak ditiadakan. Menurut ayat 12, penguasa ini akan kelak meniru binatang yang “mendahuluinya” (pemerintahan kepausan) : “Maka ia melakukan segala kuasa dari binatang yang pertama yang mendahuluinya, dan menyuruh bumi dan mereka yang tinggal di dalamnya untuk menyembah binatang yang pertama itu, yaitu dia yang luka parahnya itu telah sembuh.” Jika bangsa yang besar ini harus mengambil manfaat yang tidak sepatutnya dari pikiran para warganya melalui perundang-undangan, mengenai bagaimana mereka boleh beribadah, ataupun tidak boleh, maka itu kelak akan bertentangan terhadap ketentuan-ketentuan yang ada di dalam undang-undang dasarnya -- yaitu berbicara seperti seekor naga. Mengutip undang-undang dasar Amerika Serikat, amandemen yang pertama yang berkenaan dengan masalah-masalah agama, berbunyi : “Majelis Permusyawaratan Rakyat tidak diperkenankan membuat undang-undang apapun membenarkan sesuatu pendirian agama, atau melarang kebebasan orang melaksanakannya.” Jika negara ini kelak tidak lagi mengakui amandemen ini, maka ini kelak sepenuhnya menggenapi kegenapan dari ketentuan simbol itu.

Ayat yang berikut mengungkapkan kenyataan, bahwa naga yang tua itu kelak akan melakukan kuasanya untuk menyesatkan sebanyak mungkin orang-orang : “Maka ia melakukan keajaiban-keajaiban besar, sehingga ia menurunkan api dari langit ke atas bumi di hadapan mata orang-orang. Dan ia menyesatkan mereka yang tinggal di atas bumi dengan keajaiban-keajaiban itu yang telah dikuasakan kepadanya untuk dilakukan di hadapan mata binatang itu; mengatakan kepada mereka yang tinggal di bumi, bahwa mereka harus membuatkan sebuah patung bagi binatang itu, yang telah terkena luka oleh sebuah pedang, tetapi telah hidup itu.” (Wahyu 13 : 13, 14). Demikianlah ia akan melakukan berbagai kekuasaan aniaya maupun berbagai perbuatan keajaiban. 

Karena Firman mengungkapkan penipuan yang besar ini, maka orang akan berpikir bahwa dunia pasti akan membuka matanya dan menolak untuk dipikat oleh keajaiban-keajaiban Iblis yang sedemikian ini. Namun Iblis tahu, bahwa orang banyak itu tidak menghiraukan Firman Allah, dan bahwa perasaan-perasaan mereka itu akan mudah digerakkan oleh hal-hal gaib yang mengherankan serta oleh fasih lidah manusia. Oleh sebab itu, ia akan menyempurnakan berbagai ikhtiarnya sehingga banyak orang akan jatuh ke dalamnya walaupun telah diberikan amaran-amaran. Pikiran manusia tidak dapat memahami akan kuasa yang misterius dan yang tak dapat dielakkan itu yang segera akan menyebarkan bayangannya yang menakutkan itu atas semua penduduk bumi. Tidak ada satupun mahluk fana dapat tahan berdiri melawan bentuk organisasi agama dan sipil yang gaib itu. Mereka yang adalah siswa-siswa dari Firman, yang sedang berharap pada Allah tanpa syarat, lalu dengan demikian itu dipenuhi dengan Roh Suci, merekalah yang akan luput dari jerat yang mengerikan itu. 

“Hanya orang-orang yang lebih menghendaki mati daripada melakukan sesuatu tindakan salah yang kelak akan didapati setia.” – “Testimonies for the Church”, Jilid 5, halaman 53. Satu-satunya jaminan mereka itu ialah, “demikianlah firman Tuhan”. Mereka harus memandang kepada Allah sebagai satu-satunya pelepas mereka, seperti yang diperbuat oleh ketiga pemuda Ibrani di Babilon kuno yang lalu, dan seperti halnya Daniel di dalam lubang singa. Apapun mungkin akibatnya, umat Allah dapat memperoleh perlindungan hanya oleh berdiri seperti Sadrakh, Messakh dan Abednego, seperti sewaktu mereka memberi jawaban kepada raja : “Ya, raja Nebukadnezar, tidak ada gunanya kami memberi jawaban kepada tuanku dalam hal ini. Jikalau sudah pasti perkara itu atas kami, maka Allah kami yang kepada-Nya kami beribadah itu juga berkuasa untuk melepaskan kami dari dalam dapur api yang bernyala-nyala, dan Ia akan melepaskan kami dari tangan tuanku raja. Tetapi jikalau tidak, maka kiranya diketahui oleh tuanku raja, bahwa sekali-kali tiada kami akan menyembah sujud kepada patung keemasan yang telah tuanku dirikan itu.” (Daniel 3 : 16 - 18). 

Umat Allah, bersama-sama dengan Daniel, akan mampu untuk mengatakan pada masa kelepasan mereka : “Allahku telah mengutus malaikat-Nya, dan telah mengatup semua mulut singa-singa itu, sehingga mereka tidak melukai aku, sebab telah didapati akan daku tiada bersalah di hadapan-Nya; dan lagi akan tuanku tiada aku berbuat barang sesuatu yang salah.” (Daniel 6 : 22). Dalam masa cobaan yang sedemikian ini jelaslah terlihat kelak siapa yang berbakti kepada Allah dan siapa yang tidak berbakti kepada-Nya. Masa kesusahan itu akan membagi penduduk bumi ke dalam dua kelas yang terpisah dan menyolok, bagaikan domba-domba dan kambing-kambing.

Ayat yang berikut mengungkapkan kenyataan, bahwa naga yang tua itu kelak akan melakukan kuasanya untuk menyesatkan sebanyak mungkin orang-orang : “Maka ia melakukan keajaiban-keajaiban besar, sehingga ia menurunkan api dari langit ke atas bumi di hadapan mata orang-orang. Dan ia menyesatkan mereka yang tinggal di atas bumi dengan keajaiban-keajaiban itu yang telah dikuasakan kepadanya untuk dilakukan di hadapan mata binatang itu; mengatakan kepada mereka yang tinggal di bumi, bahwa mereka harus membuatkan sebuah patung bagi binatang itu, yang telah terkena luka oleh sebuah pedang, tetapi telah hidup itu.” (Wahyu 13 : 13, 14). Demikianlah ia akan melakukan berbagai kekuasaan aniaya maupun berbagai perbuatan keajaiban. 

Karena Firman mengungkapkan penipuan yang besar ini, maka orang akan berpikir bahwa dunia pasti akan membuka matanya dan menolak untuk dipikat oleh keajaiban-keajaiban Iblis yang sedemikian ini. Namun Iblis tahu, bahwa orang banyak itu tidak menghiraukan Firman Allah, dan bahwa perasaan-perasaan mereka itu akan mudah digerakkan oleh hal-hal gaib yang mengherankan serta oleh fasih lidah manusia. Oleh sebab itu, ia akan menyempurnakan berbagai ikhtiarnya sehingga banyak orang akan jatuh ke dalamnya walaupun telah diberikan amaran-amaran. Pikiran manusia tidak dapat memahami akan kuasa yang misterius dan yang tak dapat dielakkan itu yang segera akan menyebarkan bayangannya yang menakutkan itu atas semua penduduk bumi. Tidak ada satupun mahluk fana dapat tahan berdiri melawan bentuk organisasi agama dan sipil yang gaib itu. Mereka yang adalah siswa-siswa dari Firman, yang sedang berharap pada Allah tanpa syarat, lalu dengan demikian itu dipenuhi dengan Roh Suci, merekalah yang akan luput dari jerat yang mengerikan itu. 

“Hanya orang-orang yang lebih menghendaki mati daripada melakukan sesuatu tindakan salah yang kelak akan didapati setia.” – “Testimonies for the Church”, Jilid 5, halaman 53. Satu-satunya jaminan mereka itu ialah, “demikianlah firman Tuhan”. Mereka harus memandang kepada Allah sebagai satu-satunya pelepas mereka, seperti yang diperbuat oleh ketiga pemuda Ibrani di Babilon kuno yang lalu, dan seperti halnya Daniel di dalam lubang singa. Apapun mungkin akibatnya, umat Allah dapat memperoleh perlindungan hanya oleh berdiri seperti Sadrakh, Messakh dan Abednego, seperti sewaktu mereka memberi jawaban kepada raja : “Ya, raja Nebukadnezar, tidak ada gunanya kami memberi jawaban kepada tuanku dalam hal ini. Jikalau sudah pasti perkara itu atas kami, maka Allah kami yang kepada-Nya kami beribadah itu juga berkuasa untuk melepaskan kami dari dalam dapur api yang bernyala-nyala, dan Ia akan melepaskan kami dari tangan tuanku raja. Tetapi jikalau tidak, maka kiranya diketahui oleh tuanku raja, bahwa sekali-kali tiada kami akan menyembah sujud kepada patung keemasan yang telah tuanku dirikan itu.” (Daniel 3 : 16 - 18). 

Umat Allah, bersama-sama dengan Daniel, akan mampu untuk mengatakan pada masa kelepasan mereka : “Allahku telah mengutus malaikat-Nya, dan telah mengatup semua mulut singa-singa itu, sehingga mereka tidak melukai aku, sebab telah didapati akan daku tiada bersalah di hadapan-Nya; dan lagi akan tuanku tiada aku berbuat barang sesuatu yang salah.” (Daniel 6 : 22). Dalam masa cobaan yang sedemikian ini jelaslah terlihat kelak siapa yang berbakti kepada Allah dan siapa yang tidak berbakti kepada-Nya. Masa kesusahan itu akan membagi penduduk bumi ke dalam dua kelas yang terpisah dan menyolok, bagaikan domba-domba dan kambing-kambing.

“Maka ia pun diberi kuasa untuk memberikan napas hidup kepada patung binatang itu, supaya patung binatang itu berkata-kata, dan membuat seberapa banyak orang yang tiada menyembah patung binatang itu harus dibunuh. Dan ia membuat sekalian orang, kecil dan besar, kaya dan miskin, merdeka dan hamba, supaya semuanya itu menerima suatu tanda dalam tangan kanan mereka, atau dalam dahi mereka : dan supaya tidak seorangpun dapat menjual ataupun membeli, terkecuali orang yang memiliki tanda itu, atau nama dari binatang itu, atau angka bilangan dari namanya.” (Wahyu 13 : 15 – 17). 

Keputusan yang drastis dari binatang yang bertanduk dua ini akan dipakai oleh bangsa-bangsa di dunia, dan patung dari binatang itu, yang akan menuntut kepatuhan kepada suatu bentuk peribadatan agama, yang akan didirikan secara internasional. Tanda dari binatang itu ialah pemeliharaan Hari Minggu. Dengan dalih apapun juga, mereka yang lalai dan acuh tak acuh akan menyembah patung binatang itu dan menerima tanda itu. Hanya orang-orang yang telah memperkuat diri mereka dengan iman dalam Allah, dalam pengetahuan akan Firman-Nya, dan mematuhi ketentuan-ketentuan Ilahi melalui penyucian hati oleh kuasa Roh Suci, yang akan mampu melepaskan diri dari tangkapan Iblis. Apabila umat Allah dilarang berjual beli, maka satu-satunya sumber ketergantungan mereka kelak melalui takdir Ilahi.  Satu dan lain cara, untuk jangka waktu yang singkat itu, Allah akan menjamin dan memperhatikan umat-Nya. Tetapi ia itu mungkin sekali sama keadaannya selama perjalanan di padang belantara. 

“Masa itu tidak jauh lagi, apabila, seperti halnya para rasul di masa lalu, kita akan dipaksa untuk mencari tempat berlindung di tempat-tempat sepi dan terpencil. Sebagaimana pengepungan Yerusalem oleh tentara Romawi telah merupakan pertanda untuk melarikan diri bagi orang-orang Kristen Yahudi, maka demikian pula apabila bangsa kita (bangsa Amerika) memegang kuasa, mengeluarkan keputusan memaksakan pemeliharan Sabat kepausan itu, maka ia itu kelak merupakan suatu amaran bagi kita. Pada waktu itulah masanya untuk meninggalkan kota-kota besar, persiapan untuk meninggalkan kota-kota kecil untuk tinggal di tempat-tempat terpencil sebagai rumah-rumah istirahat di antara gunung-gunung.” -- “Testimonies for the Church”, Jilid 5, halaman 464, 465. Ayat 18 dari Wahyu 13 akan dijelaskan pada penyelidikan yang lain. 

* * *

BINATANG MERAH KIRMIZI

Wahyu 17 

“Demikianlah ia menghantarkan daku dalam roh ke dalam padang belantara : maka aku tampak seorang perempuan duduk di atas seekor binatang yang merah kirmizi warnanya, yang penuh dengan nama-nama hujat, memiliki tujuh kepala dan sepuluh tanduk.” (Ayat 3). Binatang yang istimewa ini tidak mungkin melambangkan Romawi seperti disangka sebagian orang. Alasan yang pertama ialah, bahwa binatang yang tak tergambarkan dari Daniel pasal 7 itu, seperti yang dijelaskan terdahulu, adalah lambang dari Romawi, dan telah terlihat keluar dari laut; tetapi binatang yang merah kirmizi oleh Yohanes dikatakan, berada di padang belantara. Oleh sebab itu, kekuatan-kekuatan yang telah menghantarkan binatang merah kirmizi itu ke atas pentas adalah bertentangan dengan apa yang telah ditimbulkan oleh binatang yang tak tergambarkan itu. 

Alasan yang kedua ialah, sementara malaikat itu sedang akan memperlihatkan khayal itu kepada Yohanes, maka katanya kepadanya, “Marilah ke sini; aku hendak menunjukkan kepadamu pehukuman dari sundal besar itu yang duduk di atas banyak air”. (Ayat 1). Kemudian Yohanes dibawa ke dalam padang belantara dan di sanalah ia menyaksikan perempuan itu mengendarai binatang itu. Mengapa khayal ini diberikan ialah untuk menunjukkan kepadanya pehukuman dari perempuan itu. Tetapi ia tidak diadili di zaman Romawi; pehukumannya masih akan jadi di masa depan, dan akan dilaksanakan di bawah malaikat “Seruan Keras” dari Wahyu pasal 18. (Lihat ayat 8, 10). Mengendarai binatang itu ialah tindakannya yang terakhir; oleh sebab itu, binatang itu harus melambangkan masa periode dimana ia akan diadili. Masih ada lagi alasan yang ketiga mengapa binatang itu tidak mungkin merupakan lambang dari Romawi. Buku Daniel, dan buku Wahyu khusus telah ditulis bagi generasi yang hidup di akhir zaman, dan bukan sedemikian itu bagi dunia Romawi. (Lihat Daniel 12 : 4). Mereka sama sekali tidak mengerti akan tulisan-tulisan itu yang berhubungan dengan akhir zaman, dan demikianlah mereka tidak memperoleh manfaat apapun dari tulisan-tulisan itu. Oleh sebab itu, tidaklah sepantasnya dan tidak bijaksana jika Allah mengaplikasikan semua binatang itu hanya kepada Romawi, dan membiarkan masa periode yang dimaksudkan oleh buku-buku ini tanpa diberi lambang apapun. 

Kami yakin bahwa harus masih lebih banyak lagi simbol pemberitahuan yang lengkap bagi generasi sekarang ini daripada bagi setiap generasi sebelumnya. Jadi, adalah sangat tidak konsisten dan tidak masuk akal orang-orang yang mengaplikasikan “binatang yang menyerupai macan tutul” dari Wahyu 13, dan “binatang merah kirmizi” dari Wahyu 17, ditambah “binatang yang tak tergambarkan” dari Daniel 7, sebagai lambang-lambang dari Romawi. Mengapa begitu banyak lambang bagi Romawi dan tak ada satupun lambang bagi masa periode untuk mana buku-buku itu telah ditulis? Lagi pula, tidak terdapat satu fakta apapun yang menunjang pernyataan-pernyataan yang sedemikian itu. Kesalahan yang terbesar terhadap penentuan-penentuan sedemikian ini ialah karena mereka menarik pelajaran yang sama dari binatang yang satu seperti juga yang mereka lakukan terhadap binatang yang lainnya. Jika tidak

ada pelajaran khusus mengenai masing-masing simbol itu, maka mengapakah simbol-simbol itu diberikan? Dengan mengaplikasikan kepala-kepala, seperti yang mereka lakukan dengan tanduk-tanduk itu, kepada lambang-lambang dari pemerintahan-pemerintahan sipil, ini menunjukkan bahwa mereka tidak memperoleh terang apapun dari Allah yang besar dan maha tahu. Jika setiap kata itu berarti pemerintah, mengapakah Ilham menggunakan kedua-duanya tanduk-tanduk dan kepala-kepala?

Perhatikanlah betapa janggalnya jika mengaplikasikan perempuan yang menunggangi binatang itu, atau yang duduk di atas kepala-kepala itu kepada paham Katholikisme di dalam sejarah Wasiat Baru, dan kepala-kepala itu kepada tujuh bentuk pemerintahan yang saling menyusul di dalam masa periode Wasiat Lama. Malaikat itu mengatakan : “Tujuh kepala itu adalah tujuh buah gunung, pada mana perempuan itu duduk”. (Ayat 9). Jika gereja kepausan itu berdiri dalam tahun 508 TM, maka bagaimanakah perempuan itu dapat “duduk” pada setiap pemerintahan berabad-abad sebelumnya? Lagi pula, jika kepala-kepala itu yang satu menggantikan yang lainnya, maka dimanakah buktinya? Bukankah semuanya itu ada bersama-sama pada binatang itu lalu perempuan itu duduk di atas sekaliannya? Karena binatang merah kirmizi itu oleh sepuluh tanduk dan tujuh kepalanya itu membuktikan keseluruhan yang universal, maka urut-urutan mata rantai binatang-binatang itu (singa, beruang, macan tutul berkepala empat, binatang yang tak tergambarkan, dan binatang yang menyerupai macan tutul) tidak lagi memungkinkan bagi sesuatu binatang universal lain untuk ditempatkan memotong rangkaian lima mata rantai yang erat berkaitan itu. Perbuatan yang sedemikian ini akan merupakan suatu usaha untuk meruntuhkan nubuatan, dan sejarah. Oleh sebab itu, satu-satunya masa periode yang mungkin dapat dilambangkan olehnya ialah periode sesudah “luka parah” dari binatang yang menyerupai macan tutul itu sembuh kembali -- menjadi binatang universal yang keenam.

Karena “binatang merah kirmizi” itu adalah yang terakhir dalam urutan binatang-binatang simbolis, maka ia harus memiliki semua ciri dari leluhur-leluhurnya. Sepuluh tanduk dari binatang yang tak tergambarkan, tujuh kepala dari binatang yang menyerupai macan tutul, dan kepala-kepalanya sendiri yang tidak terganggu itu, menunjukkan bahwa ia datang ke atas pentas sesudah luka parah itu sembuh kembali. Warna kirmizinya itu menunjukkan kutuk, sama seperti yang ditunjukkan pada ular naga (Iblis), di dalam Wahyu 12 : 3, dan kata-kata, “masuk ke dalam kebinasaan”, (Wahyu 17 : 11), mengungkapkan bahwa ia akan membawa dunia ini kepada ajalnya oleh suatu kutuk yang akan berakhir dalam “kehancuran seluruhnya; kebinasaan sempurna, kesengsaraan yang akan datang atau kematian kekal.” -- “Standard Dictionary.”

Oleh sebab itu, jika binatang ini melambangkan dunia kita pada sekarang ini, maka bukankah Allah itu bodoh adanya jika lalai meramalkan sekian banyaknya sekte agama yang ada, berikut kekacauan besar di antara dunia Kristen, jika simbol-simbol dari binatang ini gagal mengungkapkan keadaan gereja-gereja yang sebenarnya? Sebagaimana binatang yang tak tergambarkan itu menceritakan dari hal kejatuhan sidang di dalam masa periode yang dilambangkannya, maka demikian itu juga seharusnya dilakukan oleh binatang merah kirmizi. Sesungguhnya, inilah alasan utama mengapa binatang-binatang nubuatan ini telah diperlihatkan.

Binatang merah kirmizi ialah binatang simbolis yang terakhir dalam rantai peristiwa-peristiwa sejarah yang terus menerus. Binatang ini tidak naik dari laut seperti halnya binatang-binatang yang mendahuluinya, melainkan ia terlihat di padang belantara. Oleh sebab itu, binatang merah kirmizi ini adalah diciptakan oleh suatu kejadian

ada pelajaran khusus mengenai masing-masing simbol itu, maka mengapakah simbol-simbol itu diberikan? Dengan mengaplikasikan kepala-kepala, seperti yang mereka lakukan dengan tanduk-tanduk itu, kepada lambang-lambang dari pemerintahan-pemerintahan sipil, ini menunjukkan bahwa mereka tidak memperoleh terang apapun dari Allah yang besar dan maha tahu. Jika setiap kata itu berarti pemerintah, mengapakah Ilham menggunakan kedua-duanya tanduk-tanduk dan kepala-kepala?

Perhatikanlah betapa janggalnya jika mengaplikasikan perempuan yang menunggangi binatang itu, atau yang duduk di atas kepala-kepala itu kepada paham Katholikisme di dalam sejarah Wasiat Baru, dan kepala-kepala itu kepada tujuh bentuk pemerintahan yang saling menyusul di dalam masa periode Wasiat Lama. Malaikat itu mengatakan : “Tujuh kepala itu adalah tujuh buah gunung, pada mana perempuan itu duduk”. (Ayat 9). Jika gereja kepausan itu berdiri dalam tahun 508 TM, maka bagaimanakah perempuan itu dapat “duduk” pada setiap pemerintahan berabad-abad sebelumnya? Lagi pula, jika kepala-kepala itu yang satu menggantikan yang lainnya, maka dimanakah buktinya? Bukankah semuanya itu ada bersama-sama pada binatang itu lalu perempuan itu duduk di atas sekaliannya? Karena binatang merah kirmizi itu oleh sepuluh tanduk dan tujuh kepalanya itu membuktikan keseluruhan yang universal, maka urut-urutan mata rantai binatang-binatang itu (singa, beruang, macan tutul berkepala empat, binatang yang tak tergambarkan, dan binatang yang menyerupai macan tutul) tidak lagi memungkinkan bagi sesuatu binatang universal lain untuk ditempatkan memotong rangkaian lima mata rantai yang erat berkaitan itu. Perbuatan yang sedemikian ini akan merupakan suatu usaha untuk meruntuhkan nubuatan, dan sejarah. Oleh sebab itu, satu-satunya masa periode yang mungkin dapat dilambangkan olehnya ialah periode sesudah “luka parah” dari binatang yang menyerupai macan tutul itu sembuh kembali -- menjadi binatang universal yang keenam.

Karena “binatang merah kirmizi” itu adalah yang terakhir dalam urutan binatang-binatang simbolis, maka ia harus memiliki semua ciri dari leluhur-leluhurnya. Sepuluh tanduk dari binatang yang tak tergambarkan, tujuh kepala dari binatang yang menyerupai macan tutul, dan kepala-kepalanya sendiri yang tidak terganggu itu, menunjukkan bahwa ia datang ke atas pentas sesudah luka parah itu sembuh kembali. Warna kirmizinya itu menunjukkan kutuk, sama seperti yang ditunjukkan pada ular naga (Iblis), di dalam Wahyu 12 : 3, dan kata-kata, “masuk ke dalam kebinasaan”, (Wahyu 17 : 11), mengungkapkan bahwa ia akan membawa dunia ini kepada ajalnya oleh suatu kutuk yang akan berakhir dalam “kehancuran seluruhnya; kebinasaan sempurna, kesengsaraan yang akan datang atau kematian kekal.” -- “Standard Dictionary.”

Oleh sebab itu, jika binatang ini melambangkan dunia kita pada sekarang ini, maka bukankah Allah itu bodoh adanya jika lalai meramalkan sekian banyaknya sekte agama yang ada, berikut kekacauan besar di antara dunia Kristen, jika simbol-simbol dari binatang ini gagal mengungkapkan keadaan gereja-gereja yang sebenarnya? Sebagaimana binatang yang tak tergambarkan itu menceritakan dari hal kejatuhan sidang di dalam masa periode yang dilambangkannya, maka demikian itu juga seharusnya dilakukan oleh binatang merah kirmizi. Sesungguhnya, inilah alasan utama mengapa binatang-binatang nubuatan ini telah diperlihatkan.

Binatang merah kirmizi ialah binatang simbolis yang terakhir dalam rantai peristiwa-peristiwa sejarah yang terus menerus. Binatang ini tidak naik dari laut seperti halnya binatang-binatang yang mendahuluinya, melainkan ia terlihat di padang belantara. Oleh sebab itu, binatang merah kirmizi ini adalah diciptakan oleh suatu kejadian

sejarah yang tidak sama dengan binatang-binatang yang mendahuluinya. Simbol itu menunjukkan, bahwa bukanlah perjuangan dan peperangan di antara bangsa-bangsa yang telah menghantarkan binatang ini ke atas pentas, melainkan sebaliknya suatu prinsip yang bertentangan dengan simbol itu -- yaitu lautan yang bergelora. 

Ia memiliki sepuluh tanduk dan tujuh kepala, sama seperti binatang yang menyerupai macan tutul dari Wahyu 13 : 1 – 3. Satu-satunya perbedaan di antara kepala-kepala dari kedua binatang itu ialah luka parah yang terdapat pada binatang yang menyerupai macan tutul. Karena “lukanya telah sembuh”, maka jelaslah bahwa “binatang merah kirmizi” itu adalah kelanjutan dari “binatang yang menyerupai macan tutul”. Yohanes mengatakan : “Maka luka parahnya itu telah sembuh”.

Demikianlah binatang merah kirmizi itu memiliki tujuh kepala yang tidak terganggu. Tujuh kepala itu melambangkan dunia Kristen, sama seperti yang dilambangkannya pada binatang yang menyerupai macan tutul, tetapi ini terdapat dalam lambang binatang merah kirmizi, sehingga semuanya itu disebut Babilon. Karena ia adalah penuh dengan nama-nama dan hujat, maka ini membuktikan kenyataan bahwa ia melambangkan suatu masa periode yang sangat berdosa. “Penuh dengan nama-nama”, mengandung arti suatu masa periode dari apa yang disebut sekte-sekte Kristen yang sekian banyaknya; “dan hujat”, karena menolak kebenaran sekarang, (menolak untuk diperbaiki) tetapi berani menyebut dirinya sendiri dengan nama Kristus (orang-orang Kristen).

“Sepuluh” tanduk itu menunjukkan yang sama seperti yang terdapat pada binatang-binatang yang mendahuluinya, yang berarti suatu bentuk universal. Jika kepala-kepala dari binatang yang menyerupai macan tutul itu melambangkan organisasi-organisasi gereja, kemudian (binatang yang merah kirmizi) itu akan meliputi seluruh peradaban sekarang, baik sipil maupun agama (tanduk-tanduk dan kepala-kepala). Perhatikan bahwa naga dari Wahyu 12 : 3 itu memiliki mahkota-mahkota pada kepala-kepalanya, bukan pada tanduk-tanduknya. Telah dijelaskan sebelumnya, bahwa bilamana mahkota-mahkota muncul pada kepala-kepala, maka itu menunjukkan suatu sistem agama politik. Tetapi jika mahkota-mahkota itu muncul pada tanduk-tanduk, ini mengungkapkan bahwa negara adalah terlepas dari gereja.

Dapatlah dicatat bahwa binatang merah kirmizi itu tidak bermahkota, sama seperti binatang yang tak tergambarkan dari Daniel 7 : 7, 8. Sepuluh tanduk itu dalam tahap permulaan dari binatang yang tak tergambarkan, melambangkan kekaizaran Romawi. Tanduk- tanduk itu tidak bermahkota, sebab mereka belum menerima kerajaannya. Tetapi dalam tahap keduanya (sesudah runtuhnya kekaizaran Romawi) sesungguhnya mereka sudah harus dimahkotai; “tanduk kecil” yang memiliki “mata manusia dan sebuah mulut yang membicarakan perkara-perkara besar” (suatu kombinasi antara tanduk dan kepala —  gabungan gereja dan negara — yaitu kepausan) karena berkuasa penuh, tanduk-tanduk itu tidak dapat memiliki mahkota-mahkotanya, menunjukkan bahwa kepausan memerintah atas seluruh raja-raja. Binatang merah kirmizi itu juga dikuasai oleh perempuan yang menungganginya (gereja dan negara). Demikianlah ditunjukkan, bahwa perempuan itu berkuasa, atau mahkota, karena ialah yang memerintah binatang itu. Inilah salah satu alasan mengapa mahkota-mahkota itu tidak terdapat pada binatang ini. Yang terakhir ialah gambaran dari yang pertama, membuktikan kenyataan bahwa binatang merah kirmizi itu melambangkan periode “patung dari binatang itu, yang menggenapi Wahyu 13 : 12, 15 : “Maka ia melakukan segala kuasa dari binatang yang pertama yang mendahuluinya, dan menyebabkan

bumi berikut semua yang mendiaminya untuk menyembah binatang yang pertama, yaitu yang luka  parahnya telah sembuh kembali. Dan ia memiliki kuasa untuk memberi napas hidup kepada patung binatang itu, supaya patung binatang itu berkata-kata dan membuat sebanyak-banyaknya orang yang tidak mau menyembah patung binatang itu supaya dibunuh.” Perbedaan di antara dua sistem yang drastis itu diungkapkan oleh dua simbol (tanduk-kepala pada binatang yang satu, dan perempuan yang menunggangi pada binatang yang lainnya). 

Binatang tak tergambarkan itu memiliki hanya satu “tanduk kepala” -- suatu lambang dari sebuah bentuk agama monosekte oleh penggabungan antara kekuasaan sipil dengan peraturan-peraturan agama. Tetapi binatang merah kirmizi itu memiliki tujuh kepala, yang menunjukkan suatu kombinasi multi sekte yang berada di bawah sebuah kekuasaan hukum agama politik yang berkuasa penuh (perempuan itu). Ia melambangkan dunia kita pada akhirnya, berikut kekuasaannya yang berdaulat penuh dan ajaran agama teoritisnya di bawah pemerintahan dari “perempuan” itu. 

Periode yang dilambangkan oleh binatang merah kirmizi itu dimulai dalam tahun 1929, pada saat mana luka parah itu sembuh kembali. Tetapi pekerjaannya belum sepenuhnya berkembang sampai “perempuan itu” kelak menungganginya. 

Permulaan dari tindakan itu akan kelak dapat ditandai apabila ramalan yang berikut ini sepenuhnya menjadi kenyataan : “Apabila Protestantisme kelak merentangkan tangannya melewati selat untuk menangkap tangannya penguasa Romawi, apabila ia kelak berusaha sampai melewati jurang untuk bergandengan tangan dengan Spiritualisme, apabila di bawah pengaruh dari kesatuan tiga rangkap ini negara kita (Amerika Serikat) kelak membatalkan setiap prinsip dari undang-undang dasarnya sebagai sebuah pemerintahan Protestan dan pemerintahan Republik, lalu kelak bersiap-siap menyebarkan berbagai kepalsuan dan tipu daya dari Kepausan, kemudian dapatlah kita ketahui bahwa masanya telah sampai bagi pekerjaan Setan yang menakjubkan, dan bahwa akhirat sudah dekat.” -- “Testimonies for the Church”, Jilid 5, halaman 451.

Wahyu 17 : 8, “Adapun binatang yang engkau tampak itu dahulu ada, sekarang tidak ada; dan mereka yang diam di bumi akan heran, yaitu mereka yang nama-namanya tidak tertulis di dalam kitab kehidupan semenjak dari kejadian dunia, apabila mereka memandang binatang itu yang dahulu ada, dan sekarang tidak ada, dan yang akan datang.” Kata malaikat itu, “Binatang yang kau tampak itu” (binatang merah kirmizi) “dahulu ada dan sekarang tidak ada”. Sebagaimana yang dijelaskan terdahulu, binatang itu pertama muncul ke atas pentas sejarah dalam tahun 1929. Oleh sebab itu, kata-kata “dahulu ada”, itu melambangkan masa periode semenjak dari tahun yang dinyatakan di atas sampai kepada masa apabila ia kelak, “tidak ada”.

Masa periode yang dilambangkan oleh kata “tidak ada”, itu ialah seribu tahun Setan dirantai -- yaitu millenium : “Maka ia pun memegang naga itu, yaitu ular tua itu, yaitu Iblis, dan Setan, lalu merantaikan dia seribu tahun lamanya, dan mencampakkan dia ke dalam lubang  yang tak terduga dalamnya, lalu menutup lubang itu, dan membubuhi meterai di atasnya, supaya ia tidak menyesatkan segala bangsa lagi, sampai genap seribu

bumi berikut semua yang mendiaminya untuk menyembah binatang yang pertama, yaitu yang luka  parahnya telah sembuh kembali. Dan ia memiliki kuasa untuk memberi napas hidup kepada patung binatang itu, supaya patung binatang itu berkata-kata dan membuat sebanyak-banyaknya orang yang tidak mau menyembah patung binatang itu supaya dibunuh.” Perbedaan di antara dua sistem yang drastis itu diungkapkan oleh dua simbol (tanduk-kepala pada binatang yang satu, dan perempuan yang menunggangi pada binatang yang lainnya). 

Binatang tak tergambarkan itu memiliki hanya satu “tanduk kepala” -- suatu lambang dari sebuah bentuk agama monosekte oleh penggabungan antara kekuasaan sipil dengan peraturan-peraturan agama. Tetapi binatang merah kirmizi itu memiliki tujuh kepala, yang menunjukkan suatu kombinasi multi sekte yang berada di bawah sebuah kekuasaan hukum agama politik yang berkuasa penuh (perempuan itu). Ia melambangkan dunia kita pada akhirnya, berikut kekuasaannya yang berdaulat penuh dan ajaran agama teoritisnya di bawah pemerintahan dari “perempuan” itu. 

Periode yang dilambangkan oleh binatang merah kirmizi itu dimulai dalam tahun 1929, pada saat mana luka parah itu sembuh kembali. Tetapi pekerjaannya belum sepenuhnya berkembang sampai “perempuan itu” kelak menungganginya. 

Permulaan dari tindakan itu akan kelak dapat ditandai apabila ramalan yang berikut ini sepenuhnya menjadi kenyataan : “Apabila Protestantisme kelak merentangkan tangannya melewati selat untuk menangkap tangannya penguasa Romawi, apabila ia kelak berusaha sampai melewati jurang untuk bergandengan tangan dengan Spiritualisme, apabila di bawah pengaruh dari kesatuan tiga rangkap ini negara kita (Amerika Serikat) kelak membatalkan setiap prinsip dari undang-undang dasarnya sebagai sebuah pemerintahan Protestan dan pemerintahan Republik, lalu kelak bersiap-siap menyebarkan berbagai kepalsuan dan tipu daya dari Kepausan, kemudian dapatlah kita ketahui bahwa masanya telah sampai bagi pekerjaan Setan yang menakjubkan, dan bahwa akhirat sudah dekat.” -- “Testimonies for the Church”, Jilid 5, halaman 451.

Wahyu 17 : 8, “Adapun binatang yang engkau tampak itu dahulu ada, sekarang tidak ada; dan mereka yang diam di bumi akan heran, yaitu mereka yang nama-namanya tidak tertulis di dalam kitab kehidupan semenjak dari kejadian dunia, apabila mereka memandang binatang itu yang dahulu ada, dan sekarang tidak ada, dan yang akan datang.” Kata malaikat itu, “Binatang yang kau tampak itu” (binatang merah kirmizi) “dahulu ada dan sekarang tidak ada”. Sebagaimana yang dijelaskan terdahulu, binatang itu pertama muncul ke atas pentas sejarah dalam tahun 1929. Oleh sebab itu, kata-kata “dahulu ada”, itu melambangkan masa periode semenjak dari tahun yang dinyatakan di atas sampai kepada masa apabila ia kelak, “tidak ada”.

Masa periode yang dilambangkan oleh kata “tidak ada”, itu ialah seribu tahun Setan dirantai -- yaitu millenium : “Maka ia pun memegang naga itu, yaitu ular tua itu, yaitu Iblis, dan Setan, lalu merantaikan dia seribu tahun lamanya, dan mencampakkan dia ke dalam lubang  yang tak terduga dalamnya, lalu menutup lubang itu, dan membubuhi meterai di atasnya, supaya ia tidak menyesatkan segala bangsa lagi, sampai genap seribu

tahun itu : dan kemudian daripada itu ia harus dilepaskan sedikit masa lamanya.” (Wahyu 20 : 2, 3). 

Masa periode ini dimulai dengan saat kedatangan Kristus dan berakhirnya dunia yang sekarang ini. Pada waktu itu Injil dari Wahyu 20 : 6, akan digenapi : “Berbahagialah dan kuduslah orang yang memperoleh bagian dalam kebangkitan yang pertama : maka mati yang kedua tidak berkuasa atas mereka itu, melainkan mereka akan menjadi imam-imam Allah dan Kristus, dan mereka akan memerintah bersama dengan Dia seribu tahun lamanya.” Setelah orang-orang mati yang benar dibangkitkan dan bergabung dengan orang-orang hidup, maka nubuatan Yeremia kelak akan sepenuhnya menjadi kenyataan : “Bahwa aku melihat, dan heran, tempat yang subur itu adalah bagaikan padang belantara, dan semua negerinya telah rubuh di hadapan hadirat Tuhan, dan oleh kehangatan murka-Nya. Karena demikianlah firman Tuhan, bahwa keseluruhan tanah itu akan menjadi sunyi; tetapi aku belum mengakhirinya sepenuhnya.” (Yeremia 4 : 26, 27). 

Bilamana kota-kota hancur berantakan dan tanah itu menjadi kosong, maka harapan dari orang-orang tebusan akan kelak diselesaikan : “Karena Tuhan sendiri akan turun dari surga dengan suatu seruan, dengan suara penghulu malaikat, dan dengan bunyi sangkakala Allah : maka segala orang yang telah mati dalam Kristus akan bangkit lebih dahulu : kemudian kita yang hidup dan yang tinggal ini akan diambil bersama-sama dengan mereka itu ke dalam awan-awan untuk bertemu dengan Tuhan di udara : demikianlah kelak kita akan senantiasa bersama-sama dengan Tuhan.” (1 Tesalonika 4 : 16, 17). Pada saat yang mulia itu pada waktu orang-orang suci berangkat, bumi akan ditinggalkan dalam kegelapan seperti yang dilukiskan oleh Yeremia : “Karena inilah bumi kelak  akan murung, dan segala langit yang di atas menjadi hitam : sebab sudah aku membicarakannya, sudah aku merencanakannya, maka tiada aku menyesal, dan juga tiada aku akan berpaling dari padanya. Seluruh orang isi negeri akan lari karena bunyi orang-orang berkuda dan orang-orang pemanah; mereka akan masuk ke dalam hutan-hutan dan naik ke atas batu-batu karang : setiap kota akan ditinggalkan, dan tiada seorangpun akan tinggal di dalamnya.” (Yeremia 4 : 28, 29).

Kemudian, sementara orang-orang suci masuk melewati pintu-pintu gerbang mutiara khayal Yohanes akan menemui kegenapannya : “Maka aku tampak beberapa tahta, dan mereka duduk di atasnya, maka kepada mereka dikaruniakan kuasa untuk mengadili : maka aku tampak jiwa-jiwa dari mereka yang telah dipancung kepalanya karena menjadi saksi Yesus, dan karena Firman Allah, dan yang tidak menyembah binatang itu, maupun akan patungnya, atau tidak menerima tandanya pada dahi-dahi mereka, atau dalam tangan mereka : maka mereka itu hidup dan memerintah bersama dengan Kristus seribu tahun lamanya.” (Wahyu 20 : 4). Orang-orang benar itu akan menghabiskan waktu seribu tahun lamanya mengadili orang-orang mati yang jahat. Untuk penyelidikan selanjutnya mengenai millenium lihatlah buku “Patriarchs and Prophets”, halaman 103; “The Great Controversy”, halaman 321, 662. 

“Tetapi segala orang mati yang lainnya itu tiada hidup kembali sebelum genap masa seribu tahun itu. Inilah kebangkitan yang pertama ..... dan aku tampak segala orang mati, kecil besar, berdiri di hadapan Allah, maka kitab-kitab pun dibukalah; dan sebuah kitab lainnya pun terbuka, yaitu kitab kehidupan : maka segala orang mati itu diadili menurut segala perkara yang tercatat

di dalam kitab-kitab itu, sesuai dengan perbuatan-perbuatan mereka.” (Wahyu 20 : 5, 12). Kitab-kitab itu berisikan catatan-catatan tentang orang-orang jahat itu; kitab hayat terbuka dan diperiksa oleh orang-orang suci itu, maka di dalamnya mereka melihat hanya nama-nama dari orang-orang benar. Nama-nama dari beberapa orang yang pernah terlihat di dalamnya telah dicoret, sementara nama-nama dari yang lain-lainnya tidak pernah dimasukkan di antara halaman-halamannya.

Kembali kepada pokok pembicaraan kita : “Binatang yang telah engkau lihat itu dahulu ada, dan sekarang tidak ada; maka ia akan naik keluar dari lubang yang tak terduga dalamnya.” Sedemikian jauh kami telah menjelaskan bagian pertama dari Injil yang diucapkan itu (dahulu ada dan sekarang tidak ada). Sekarang kita catat kata-kata itu, “Maka ia akan naik keluar dari lubang yang tak terduga dalamnya.” Dalam masa periode millenium itu orang-orang jahat akan diadili, dan pada saat akhirnya Kristus dan orang-orang suci akan kembali ke bumi. Yohanes memberi kesaksian dari hal ini, “Maka aku Yohanes melihat kota suci itu, yaitu Yerusalem baru, turun dari Allah dari dalam surga, yang dipersiapkan bagaikan seorang pengantin wanita yang dihiasi bagi suaminya.” (Wahyu 21 : 2). Sementara Kristus bersama-sama dengan orang-orang suci dan kota itu turun, maka genaplah kata-kata Firman berikut ini : “Maka laut mengeluarkan segala orang mati yang di dalamnya; dan maut dan neraka mengeluarkan segala orang mati yang ada di dalamnya : maka mereka itu telah diadili masing-masingnya sesuai dengan perbuatan-perbuatan mereka.” (Wahyu 20 : 13). Perhatikanlah kata kerja, “were”, yang tertulis dalam masa lampau (past tense), menunjukkan bahwa mereka itu telah diadili lebih dulu sebelum kebangkitannya. Oleh kebangkitan orang-orang jahat itu, maka Setan akan dilepaskan dari ikatannya untuk “sementara waktu”. (Lihat Wahyu 20 : 3). Dalam cara inilah binatang itu (dunia) kelak akan “naik keluar dari dalam lubang yang tak terduga dalamnya”.

Tetapi malaikat itu juga mengatakan, bahwa binatang itu “masuk ke dalam kebinasaan”; yaitu setelah ia naik keluar. Setan dilepaskan hanya untuk sedikit masa lamanya. Ia dan orang-orang jahat itu akan hidup selama seratus tahun setelah kebangkitan mereka. (“Tongkat Gembala”, Jilid I, halaman 164, 165, bahasa Inggris). Alkitab mengatakan bahwa pada akhir dari seratus tahun itu “Kematian dan neraka akan dicampakkan ke dalam lautan api. Ini adalah kematian yang kedua. Maka barangsiapa yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam buku kehidupan akan dicampakkan ke dalam lautan api.” (Wahyu 20 : 14, 15). Kematian kedua dari orang-orang jahat itu adalah suatu kematian yang kekal, “maka mereka kelak akan jadi seolah-olah mereka tidak ada sebelumnya.” (Obaja 16). Berbicara mengenai kebinasaan Setan itu, nabi itu mengatakan : “Mereka itu sekalian di antara segala bangsa yang mengenal akan dikau akan tercengang karenamu : engkau akan menjadi suatu bencana, maka engkau kelak tidak akan ada lagi.” (Yehezkiel 28 : 19).“Karena, sesungguhnya, hari itu datang, kelak bernyala-nyala seperti dapur api; dan segala orang sombong dan segala orang yang berbuat jahat, akan seperti jerami; maka hari yang datang itu akan membakar mereka itu, demikianlah firman Tuhan serwa sekalian alam, sehingga baik akar maupun cabang tiada lagi tinggal pada mereka itu.” (Maleakhi 4 : 1). Dalam cara inilah binatang itu akan masuk ke dalam kebinasaan. (Definisi dari Webster mengenai kata ‘perdition’ adalah : “Kebinasaan total, kehilangan jiwa atau kebahagiaan selengkapnya dalam suatu keadaan yang akan datang”). 

Dapatlah disimpulkan sebagai berikut : Binatang itu yang “dahulu ada” ialah

masa periode yang mendahului millenium; dan “sekarang tidak ada”, ialah selama masa periode millenium itu; dan “akan naik keluar dari dalam lubang yang tak terduga dalamnya”, ialah masa periode sesudah millenium, pada waktu mana semua orang jahat akan dibangkitkan lalu pergi masuk ke dalam kebinasaan; artinya, pada akhir dari seratus tahun itu, orang-orang jahat, Setan dan malaikat-malaikatnya akan dihapuskan dengan api.

“Dan mereka yang diam di bumi akan heran, yaitu mereka yang nama-namanya tidak terdapat di dalam buku kehidupan semenjak dari kejadian dunia, apabila mereka memandang akan binatang itu yang dahulu ada, dan sekarang tidak ada, dan akan ada lagi.” (Wahyu 17 : 8). Betapa menakjubkan kelak bagi orang-orang jahat itu nanti bilamana mereka menyaksikan rombongan besar orang banyak itu, yang seperti pasir di laut jumlahnya, yang secara tiba-tiba hidup kembali. Kelak merupakan sesuatu yang tidak pernah terpikirkan di dalam ingatan mereka. Perhatikan kalimat yang berbunyi : “Semenjak dari kejadian dunia”. Kata-kata ini meliputi semua orang jahat semenjak dari permulaan dunia dan membuktikan secara pasti bahwa interpretasi ini adalah benar.

Ayat 9, “Maka di sinilah akal yang mengandung hikmat. Bahwa tujuh kepala itu adalah tujuh buah gunung, pada mana perempuan itu telah duduk.” Semua kepala itu berada bersama-sama pada binatang itu, dan perempuan itu duduk di atas mereka, membuktikan bahwa keseluruhan tujuh “gunung” itu harus ada pada waktu yang sama. Adanya gunung-gunung itu tidak mungkin secara berurutan satu menyusul yang lainnya, sebab perempuan itu duduk di atas kesemuanya, menunjukkan suatu perserikatan dari kepala-kepala itu melalui perantaraan perempuan itu. Mereka itu disebut “gunung-gunung”, sama seperti halnya gereja Allah disebut “gunung”, di dalam Yesaya 2 : 2, dan Mikha 4 : 1. “Gunung” (tunggal) adalah gereja Allah, tetapi “gunung-gunung” (jamak oleh Yesaya dan Mikha) menunjukkan kepada gereja-gereja yang sama yang dilambangkan oleh kepala-kepala pada binatang itu. Dengan demikian “tujuh kepala itu adalah tujuh buah gunung”.

Ayat 10, “Dan ada tujuh orang raja : lima orang sudah jatuh, dan seorang masih ada, dan yang lainnya belum lagi datang; maka apabila ia datang, ia harus meneruskan sedikit masa lamanya.” Perhatikanlah bahwa ia itu tidak mengatakan “mereka adalah”, melainkan, “ada”. Oleh sebab itu “kepala-kepala itu” tidak mungkin merupakan lambang-lambang dari raja-raja itu. Raja-raja itu memerintah secara berurutan, sebab, lima raja sudah jatuh, dan seorang masih ada, dan yang lainnya belum lagi datang. Perhatikanlah bahwa angka bilangan Alkitab “tujuh”, berarti kelengkapan. Karena binatang itu juga melambangkan orang-orang jahat yang akan bangkit dari kematian sesudah masa seribu tahun millenium, dan jika semua orang yang hidup semenjak dari Kain sampai kepada akhir dari generasi sekarang ini akan dibangkitkan, maka tujuh orang raja itu dalam kaitannya dengan binatang itu harus berlaku terhadap seluruh sejarah dunia semenjak dari kejadian sampai kepada akhir sejarah dunia. “Siapakah gerangan yang sudah mengadakan dan membuat itu, yang memanggil segala bangsa semenjak dari mula pertama? Akulah Tuhan, yang pertama, dan yang bersama-sama dengan yang terakhir; Akulah Dia.” (Yesaya 41 : 4). 

Karena penjelasan dari nubuatan simbolis ini adalah pertama sekali dapat dimengerti pada waktu sekarang ini, dan karena nubuatan-nubuatan yang sedemikian ini adalah hanya dapat diungkapkan pada masanya, dan pelajaran yang ditarik daripadanya itu adalah berkenaan dengan generasi sekarang

ini, maka ramalan ini adalah kebenaran sekarang. Oleh sebab itu, kita harus memikirkan penggunaan masa lampau dan masa sekarang dari Alkitab itu (Biblical past and present tense). Aturan gramatika ini dianut di dalam Alkitab, dan ini adalah suatu cara untuk mengenali kebenaran sekarang. Janganlah membiarkan musuh menyesatkan anda dalam hal ini oleh falsafah atau theologi yang sia-sia. Injil itu sendiri adalah sempurna. Terjemahan versi King James dapat dipercaya sebagai terjemahan yang “baik”. Perhatikanlah penjelasan-penjelasan oleh terjemahan-terjemahan yang anda sendiri tidak mengerti. Janganlah percaya kepada siapapun. 

“Maka ada tujuh orang raja : lima orang sudah jatuh, dan seorang masih ada, dan yang lainnya itu belum datang; maka apabila ia datang kelak ia harus meneruskan sedikit masa lamanya.” (Wahyu 17 : 10). “Raja” yang “ada” itu, adalah dia yang ada pada waktu sekarang ini, dan raja yang satu “belum datang” itu, harus ada di masa depan. Dengan sendirinya, maka lima orang raja yang “jatuh” itu, harus berada di masa silam. Ini akan merupakan satu-satunya pendirian yang adil bagi seseorang untuk diambil tanpa membuat kekeliruan terhadap Firman Allah. Karena ia itu menunjuk kepada keseluruhan sejarah dunia dalam dosa, maka kita harus meninjau bilangan dari kerajaan-kerajaan dunia, atau periode-periode, semenjak dari permulaan dunia. Ada satu kerajaan dunia sebelum air bah, seperti yang telah dijelaskan terdahulu; kerajaan yang kedua ialah Babil; yang ketiga, Medo-Persia; yang keempat, Yunani; dan yang kelima ialah kerajaan Romawi. Kelima kerajaan ini sudah jatuh. Kerajaan yang satunya yang “ada”, ialah peradaban yang ada sekarang semenjak dari keruntuhan Romawi di bawah lambang “binatang yang menyerupai macan tutul” dan binatang “merah kirmizi”, sampai kepada permulaan dari seribu tahun millenium itu, periode ini disebut dengan kata-kata Romawi dalam keadaannya yang terpecah-pecah, yang dilambangkan oleh kaki-kaki dan jari-jari kaki dari patung binatang Daniel pasal 2. Sekaliannya inilah enam orang raja itu. “Lima orang sudah jatuh” dan yang “satunya” “masih ada”. Raja yang lainnya yang “belum datang” itu, harus merupakan masa periode sesudah seribu tahun millenium, yang berkaitan dengan binatang yang akan naik dari dalam lubang yang tak terduga dalamnya itu. 

Ajaib sekali untuk dicatat bagaimana Allah melukiskan sejarah dunia kita ini dengan simbol-simbol yang sedemikian tepatnya, dengan menggunakan angka-angka bilangan kelengkapan dalam masing-masing contoh peristiwanya. Demikianlah rencana, peraturan, dan petunjuk Ilahi-Nya bagi semua umat-Nya, diungkapkan dari generasi kepada generasi. Berbicara mengenai raja yang ketujuh, yaitu raja setelah seribu tahun millenium itu, ayatnya mengatakan, “Apabila ia datang kelak ia harus meneruskan sedikit masa lamanya”, berkaitan dengan apa yang terdapat dalam Wahyu 20 : 3, “Maka sesudah itu ia (Setan) akan dilepaskan sedikit saja masa lamanya.”

Wahyu 17 : 11, “Maka binatang yang dahulu ada, dan yang sekarang tidak, ialah yang ke delapan, dan ia berasal dari yang ketujuh itu, dan ia masuk ke dalam kebinasaan.” Untuk membuka tabir rahasia ini, maka segala-galanya yang perlu, ialah menghitung binatang-binatang nubuatan yang melambangkan masa-masa periode dan bangsa-bangsa. Dimulai dengan binatang yang pertama dan karena kita tutup dengan binatang yang terakhir, maka ia itu tentunya adalah yang “ke delapan” dan “ia berasal dari yang ketujuh”. Singa (Babil) adalah yang pertama; beruang (Medo-Persia) ialah yang kedua; macan tutul berkepala empat (Yunani) ialah yang ketiga; binatang yang tak tergambarkan (Romawi)

mereka sekali lagi. Ia akan memimpin bala tentara dari segala bangsa pada akhir dari seratus tahun itu untuk melawan kota suci -- yaitu Yerusalem Baru, dan demikianlah ia berperang melawan Anak Domba itu : “Setelah masa seribu tahun itu berakhir, Setan akan dilepaskan dari penjaranya, maka ia akan pergi keluar untuk menipu segala bangsa yang berada pada seluruh empat penjuru bumi, yaitu Gog dan Magog, untuk menghimpunkan mereka bersama-sama untuk berperang : jumlah mereka adalah seperti pasir di pantai laut. Maka naiklah mereka itu ke atas luas bumi, lalu mengepung perkemahan orang-orang suci itu berkeliling, serta kota yang dikasihi itu : maka turunlah api dari Allah dari dalam surga, dan menelan mereka itu. Maka Iblis yang menyesatkan mereka itu dicampakkan ke dalam lautan api dan belerang, dimana terdapat binatang dan nabi palsu itu, maka mereka akan disiksa siang dan malam selama-lamanya.” (Wahyu 20 : 7 – 10). 

“Disiksa siang dan malam selama-lamanya”. Perhatikan bahwa yang dikatakan bukan “sedang disiksa” (bahasa Inggris : tormenting), melainkan disiksa (tormented); artinya, mereka itu dihukum sekali untuk selamanya. “Siang dan malam”, berarti bahwa mereka itu akan dihukum dan dibinasakan dengan cara yang sama seperti orang-orang jahat sebelum air bah yang lalu -- oleh hujan yang terus menerus, “siang dan malam”, — air di masa dahulu, dan oleh api di masa kemudian. 

Warna dari binatang itu (merah kirmizi) mengungkapkan, bahwa umat Allah sudah akan terlebih dulu dipanggil keluar oleh pekabaran dari “seruan keras”, dan dengan demikian terpisah dan menyolok berbeda dari dunia. Dengan demikian, meninggalkan binatang itu “merah kirmizi” (meluncur -- terpisah), suatu pertanda berada di bawah tuduhan bersalah, dibiarkan tanpa dimaafkan -- siap untuk binasa. “Penuh nama-nama dan hujat”, menunjukkan sekian banyaknya sekte-sekte agama dan kemunafikan. Tandingan dari pasal ini akan dijelaskan dalam penyelidikan yang lain. 

* * *

mereka sekali lagi. Ia akan memimpin bala tentara dari segala bangsa pada akhir dari seratus tahun itu untuk melawan kota suci -- yaitu Yerusalem Baru, dan demikianlah ia berperang melawan Anak Domba itu : “Setelah masa seribu tahun itu berakhir, Setan akan dilepaskan dari penjaranya, maka ia akan pergi keluar untuk menipu segala bangsa yang berada pada seluruh empat penjuru bumi, yaitu Gog dan Magog, untuk menghimpunkan mereka bersama-sama untuk berperang : jumlah mereka adalah seperti pasir di pantai laut. Maka naiklah mereka itu ke atas luas bumi, lalu mengepung perkemahan orang-orang suci itu berkeliling, serta kota yang dikasihi itu : maka turunlah api dari Allah dari dalam surga, dan menelan mereka itu. Maka Iblis yang menyesatkan mereka itu dicampakkan ke dalam lautan api dan belerang, dimana terdapat binatang dan nabi palsu itu, maka mereka akan disiksa siang dan malam selama-lamanya.” (Wahyu 20 : 7 – 10). 

“Disiksa siang dan malam selama-lamanya”. Perhatikan bahwa yang dikatakan bukan “sedang disiksa” (bahasa Inggris : tormenting), melainkan disiksa (tormented); artinya, mereka itu dihukum sekali untuk selamanya. “Siang dan malam”, berarti bahwa mereka itu akan dihukum dan dibinasakan dengan cara yang sama seperti orang-orang jahat sebelum air bah yang lalu -- oleh hujan yang terus menerus, “siang dan malam”, — air di masa dahulu, dan oleh api di masa kemudian. 

Warna dari binatang itu (merah kirmizi) mengungkapkan, bahwa umat Allah sudah akan terlebih dulu dipanggil keluar oleh pekabaran dari “seruan keras”, dan dengan demikian terpisah dan menyolok berbeda dari dunia. Dengan demikian, meninggalkan binatang itu “merah kirmizi” (meluncur -- terpisah), suatu pertanda berada di bawah tuduhan bersalah, dibiarkan tanpa dimaafkan -- siap untuk binasa. “Penuh nama-nama dan hujat”, menunjukkan sekian banyaknya sekte-sekte agama dan kemunafikan. Tandingan dari pasal ini akan dijelaskan dalam penyelidikan yang lain. 

* * *

raja di bumi adalah bersalah oleh persundalan rohani dengan “perempuan” itu (mabuk dengan ajaran-ajaran palsu), sehingga oleh karenanya terikat dalam jerat-jeratnya yang menarik itu.

Setiap organisasi yang disebut Kristen yang menangani ajaran-ajaran palsu di bawah selubung kebaikan, jelas diperintah oleh kuasa dari “perempuan” itu. Asal mula dari semua ajaran-ajaran sesat yang sedemikian ini dapat ditemukan jejaknya ke dalam cawan keemasan itu. Kata malaikat itu : “Adapun tujuh kepala itu ialah tujuh buah gunung, pada mana perempuan itu duduk.” Telah dijelaskan sebelumnya, bahwa kepala-kepala itu adalah melambangkan organisasi-organisasi gereja Kristen, dan karena perempuan itu duduk di atas mereka sekaliannya, maka ini menunjukkan adanya suatu persekutuan gereja-gereja di bawah suatu pimpinan -- yaitu “perempuan” itu. Angka bilangan Alkitab “tujuh” adalah berarti semua organisasi yang sedemikian ini.

Kalau saja semua gereja-gereja itu pada waktu sekarang ini telah dipimpin oleh Roh Suci, maka tidak akan mungkin ada kekacauan apapun di antara berbagai sekte agama Kristen yang ada. Karena tidak akan mungkin bagi sekaliannya untuk didapati benar sementara dua saja di antaranya tidak ada yang sama percaya, sehingga dapatlah dipastikan bahwa mereka itu yang sedang minum air anggur dari “cawan persundalan perempuan itu”, tidaklah sedikit jumlahnya, karena Ilham menegaskan : “Maka semua penduduk bumi telah dibuat mabuk oleh air anggur persundalannya. (Ayat 2, bagian terakhir).

Perhatikanlah bahwa “perempuan” itu duduk di atas “banyak air”, juga di atas “kepala-kepala”, dan di atas “binatang” itu. (Lihat Wahyu 17 : 1, 3, 9). Karena adalah tidak mungkin bagi seseorang untuk duduk di atas keseluruhan tiga objek pada waktu yang bersamaan, maka jelas simbol-simbol nubuatan itu mengungkapkan suatu penipuan rohani yang dilakukan dalam tiga masa periode yang berbeda. Demikianlah Yohanes mengatakan : “Aku tampak seorang perempuan duduk pada seekor binatang yang merah kirmizi”. Bukan di atas “banyak air”, bukan juga di atas “kepala-kepala”. Sebelum Yohanes melihat perempuan itu, malaikat itu mengatakan, Perempuan itu “duduk di atas banyak air”. Adalah malaikat itu juga yang telah menambahkan, bahwa “Adapun tujuh kepala itu ialah tujuh buah gunung, pada mana perempuan itu duduk.” (Lihat ayat 1, dan 9). Dengan demikian, Yohanes hanya menyaksikan perbuatan perempuan itu yang terakhir (yaitu duduk di atas binatang itu). Dengan sendirinya, lambang perempuan itu duduk di atas “banyak air” adalah perbuatannya yang pertama sekali, sesuai dengan khayal itu. 

Oleh sebab itu, keberhasilannya yang pertama (“duduk di atas banyak air”) telah terjadi di masa lalu mendahului simbol nubuatan ini diungkapkan. Kemudian, duduk di atas kepala-kepala akan menjadi keberhasilannya yang kedua, dan duduk di atas Binatang ialah keberhasilannya yang terakhir; pada waktu mana ia akan diadili.

Karena gereja-gereja Protestan adalah dilambangkan oleh kepala-kepala, maka ia belum mungkin berhasil duduk di atas mereka itu sebelum reformasi, sebab pada waktu itu mereka itu belum ada. Karena kepala-kepala itu pada mana “perempuan itu duduk” adalah tidak terluka, maka jelaslah bahwa simbol nubuatan ini akan menemui kegenapannya pada sesuatu masa sesudah luka parah binatang yang menyerupai macan tutul dari Wahyu 13 : 3, telah sembuh.

Simbol perempuan itu duduk pada kepala-kepala menunjukkan persekutuan gereja-gereja, karena ia duduk di atas mereka. 

Oleh sebab itu, apabila Katholikisme, Protestantisme, dan Spiritualisme saling bergandengan tangan satu sama lainnya melalui pembentukan suatu liga persekutuan, maka dapatlah dikatakan, bahwa “perempuan itu duduk di atas kepala-kepala”.

Simbol mengenai “perempuan itu duduk pada binatang itu”, akan menemui kegenapannya apabila federasi agama itu akan membentuk suatu aliansi dengan penguasa-penguasa dunia. Tidakkah yang sedemikian ini akan memberikan kepada perempuan itu pengawasan penuh atas keseluruhan binatang itu, tanduk-tanduknya dan kepala-kepalanya -- dunia. Pada waktu itu Firman yang berikut ini akan menemukan kegenapannya dengan tepat : “Maka ia memaksakan semua orang, kecil besar, kaya miskin, orang merdeka maupun hamba, untuk menerima suatu tanda pada tangan kanan mereka, atau pada dahi mereka : Dan supaya tidak seorangpun dapat berjual beli, terkecuali orang yang memiliki tanda itu, atau nama dari binatang itu.” (Wahyu 13 : 16, 17).

Demikianlah simbol mengenai “perempuan itu” duduk di atas “banyak air”, melambangkan masa periode sebelum reformasi. Ini benar terjadi selama periode kekuasaan kepausan, karena pada waktu itu paus menguasai dunia Romawi -- “beberapa kaum, dan orang banyak, dan bangsa-bangsa, dan beberapa bahasa”. Dengan demikian “perempuan” itu duduk di atas “banyak air” selama seribu dua ratus enam puluh tahun nubuatan dari Daniel 7 : 25, tetapi ia belum lagi duduk pada “kepala-kepala”, dan pada “binatang” itu. Kalau saja ia duduk pada binatang yang tak tergambarkan sebagai gantinya di atas “banyak air”, maka itu sudah akan keliru dilambangkan, sebab, “perempuan” itu, sebagai alat dari Katholikisme tidak memerintah atas seluruh dunia (binatang), melainkan hanya atas beberapa “kaum, dan banyak orang, dan bangsa-bangsa, dan beberapa bahasa” (banyak air). Oleh sebab itu, simbol mengenai “duduk di atas binatang merah kirmizi”, menunjuk kepada suatu organisasi agama-politik internasional.

SUDAH BERAPA LAMAKAH ADANYA PEREMPUAN ITU?

Pertanyaan ini dapat dijawab melalui kata-kata Injil berikut ini : “Maka aku tampak perempuan itu mabuk dengan darah orang-orang suci, dan dengan darah orang-orang yang mati sahid karena Yesus : Dan ketika aku tampak akan perempuan itu, heranlah aku dengan amat sangatnya.” (Ayat 6). Ini tepatnya dapat dikatakan terhadap gereja Romawi, sebab ia telah menganiaya orang-orang Kristen dan mereka telah mati sahid dalam tangannya. Oleh karena itu ia “mabuk” dengan darah mereka itu. Sesungguhnya, gereja Romawi telah mengikat hubungan melanggar hukum dengan “perempuan” itu; dahulu dan sekarang pun ia mabuk dengan air anggur persundalan perempuan itu.

“Perempuan itu” bukannya berasal dari gereja Romawi, melainkan ia justru yang melahirkan gereja itu. Oleh sebab itu, kita harus mengikuti jejaknya itu jauh sebelum adanya kepausan. Wahyu 18 : 24 menyinari masalah ini : “Dan di dalamnya (perempuan itu) terdapat darah dari para nabi, dan darah orang-orang suci, serta darah dari semua orang yang mati dibunuh di bumi.” Firman Allah yang suci menyatakan bahwa “perempuan” itu

bersalah atas darah semua orang yang mati sahid sepanjang segala zaman. Oleh sebab itu, “perempuan” itu mabuk dengan darah Habil, dan demikianlah darah “semua” orang yang mati sahid terdapat di dalamnya; membuktikan bahwa Kain adalah langganannya yang pertama yang mempersembahkan suatu korban yang palsu (ajaran palsu), dan karena membunuh adiknya. 

Ada banyak orang yang disebut Kristen, yang seperti Kain mengatakan, bahwa “Itu tidak ada apa-apa bedanya; semua perkara sama saja baiknya.” Tetapi Allah tidak mau menerima sesuatu penggantian apapun dan Allah tidak mau menerima agama ciptaan manusia apapun. Apa yang diciptakan oleh kepandaian manusia ialah kebenaran manusia, bukan kebenaran Kristus. Oleh sebab itu, itu adalah suatu kekejian pada pemandangan Allah. Sifat akhlak penurutan manusia kepada tuntutan-tuntutan Ilahi terus menjadi lemah, dan kecenderungan-kecenderungan dosa menjadi kuat dari generasi ke generasi, sifat alamiah manusia tidak dapat menjadi lebih baik pada waktu sekarang ini daripada sewaktu para murid dulu bertanya kepada Yesus : “Tahukah Rabi, bahwa orang-orang Farisi itu sakit hati, setelah mereka mendengar perkataan ini?” Orang-orang yang disebut Kristen, seperti halnya orang-orang Farisi itu, menjadi sakit hati apabila kepada mereka ditunjukkan kesalahan-kesalahannya, dan ditegur karena dosa-dosanya. “Tetapi jawab-Nya sambil mengatakan : “Setiap tanaman yang tiada ditanam oleh Bapa-Ku di surga, ia itu akan dicabut. Biarkanlah mereka itu. Mereka itu pemimpin-pemimpin buta yang berasal dari orang buta. Jikalau orang buta memimpin orang buta, keduanya akan jatuh ke dalam lubang.” (Matius 15 : 12 – 14). 

“Dan pada dahi perempuan itu tertulis suatu nama, yaitu Rahasia, Babil yang Besar, Ibu dari segala Sundal dan Kekejian-Kekejian di Bumi.” (Wahyu 17 : 5). Perempuan yang menunggangi binatang itu ialah ibu. Tujuh kepala di atas binatang itu adalah melambangkan anak-anak gadisnya (Segala Sundal Itu). Katholikisme ialah gadisnya yang pertama di dalam simbol ini, dan karena Protestantisme muncul dari Katholikisme, maka Protestantisme murtad yang terdapat dalam sekian banyaknya sekte-sekte agama yang ada, mereka pun adalah anak-anak gadisnya. Atau dapat juga dikatakan, bahwa “perempuan” itu ialah ibu dari Katholikisme, dan Katholikisme ialah ibu dari Protestantisme. Pewahyu mengatakan : “Aku tampak seorang perempuan duduk di atas seekor binatang merah kirmizi, yang penuh dengan nama-nama hujat.” (Ayat 3). Dengan demikian angka bilangan dari “kepala-kepala”, dan “penuh dengan nama-nama”, adalah meliputi juga semua pasilan (offshoots) yang muncul keluar dari Protestantisme dan Katholikisme. Kalau saja tidak ada sebutan “penuh dengan nama-nama”, yang lebih dari tujuh, dan sebutan “merah kirmizi”, yang menunjukkan bahwa umat Allah telah dipanggil keluar daripadanya, oleh karenanya, “merah kirmizi” -- tersaring -- di bawah kutukan siap untuk binasa, maka angka bilangan Alkitab “tujuh kepala”, sudah akan meliputi juga orang-orang yang sedang membawakan pekabaran Allah seperti dalam masa periode binatang yang menyerupai macan tutul dari Wahyu 13 : 1, pada waktu luka parahnya itu sembuh. Oleh sebab itu, sudah tidak akan diijinkan lagi kepada sidang yang “memeliharakan perintah-perintah Allah, dan Iman Yesus”, lalu dengan demikian itu bertentangan terhadap Firman berikut ini : “Maka naiklah amarah naga akan perempuan itu (sidang Allah), lalu pergi berperang dengan benih perempuan itu

yang lagi tinggal (Israel yang benar -- mereka yang 144.000 itu), yang memeliharakan perintah-perintah Allah, dan  yang memiliki kesaksian Yesus Kristus.” (Wahyu 12 : 17). 

Allah tidak pernah memiliki lebih dari satu pergerakan dalam suatu masa yang sama dan tidak akan mungkin terjadi sebaliknya sekarang karena Kristus tidak dapat dibagi-bagi. (Lihat 1 Korintus 1 : 13). Sidang Allah jelas ditandai pada setiap generasi oleh penurutannya kepada kebenaran sekarang. Faktanya sendiri akan membuktikan kebenaran pernyataan ini karena hanya ada satu sidang dalam masa periode binatang itu yang memiliki “Roh Nubuat” dan keseluruhan perintah itu seperti yang ditulis oleh jari Allah. Yesus mengatakan : “Sebab itu barangsiapa merombak salah satu dari perintah-perintah yang tersedikit ini, dan mengajarkan demikian kepada orang lain, ia akan disebut yang terkecil di dalam kerajaan surga; tetapi barang-siapa yang mematuhi dan mengajarkan semuanya, ia akan disebut besar di dalam kerajaan surga.” (Matius 5 : 19). Prinsip Ilahi inilah yang akan membagi dunia ke dalam dua kelas saja -- yaitu perintah-perintah Allah dan tradisi-tradisi manusia. Maka di hadapan-Nya akan berhimpun segala bangsa; dan Ia akan memisahkan mereka itu satu dari yang lainnya, seperti seorang gembala memisahkan domba-dombanya dari kambing-kambing. Maka Ia akan menempatkan domba-domba itu pada sebelah kanannya, tetapi kambing-kambing itu pada sebelah kirinya.” (Matius 25 : 32, 33). 

* * *

yang lagi tinggal (Israel yang benar -- mereka yang 144.000 itu), yang memeliharakan perintah-perintah Allah, dan  yang memiliki kesaksian Yesus Kristus.” (Wahyu 12 : 17). 

Allah tidak pernah memiliki lebih dari satu pergerakan dalam suatu masa yang sama dan tidak akan mungkin terjadi sebaliknya sekarang karena Kristus tidak dapat dibagi-bagi. (Lihat 1 Korintus 1 : 13). Sidang Allah jelas ditandai pada setiap generasi oleh penurutannya kepada kebenaran sekarang. Faktanya sendiri akan membuktikan kebenaran pernyataan ini karena hanya ada satu sidang dalam masa periode binatang itu yang memiliki “Roh Nubuat” dan keseluruhan perintah itu seperti yang ditulis oleh jari Allah. Yesus mengatakan : “Sebab itu barangsiapa merombak salah satu dari perintah-perintah yang tersedikit ini, dan mengajarkan demikian kepada orang lain, ia akan disebut yang terkecil di dalam kerajaan surga; tetapi barang-siapa yang mematuhi dan mengajarkan semuanya, ia akan disebut besar di dalam kerajaan surga.” (Matius 5 : 19). Prinsip Ilahi inilah yang akan membagi dunia ke dalam dua kelas saja -- yaitu perintah-perintah Allah dan tradisi-tradisi manusia. Maka di hadapan-Nya akan berhimpun segala bangsa; dan Ia akan memisahkan mereka itu satu dari yang lainnya, seperti seorang gembala memisahkan domba-dombanya dari kambing-kambing. Maka Ia akan menempatkan domba-domba itu pada sebelah kanannya, tetapi kambing-kambing itu pada sebelah kirinya.” (Matius 25 : 32, 33). 

* * *

pemerintahan Romawi. Ia akan bangkit berdiri “apabila para pendurhaka itu telah penuh kejahatannya”. Orang-orang Yunani itu belum pernah menjadi pendurhaka; oleh sebab itu, petunjuk di atas hanya dapat diaplikasikan kepada bangsa Yahudi, pada waktu mana bangsa yang pernah menjadi umat pilihan Allah itu akan mengungguli setiap rekor kebejatan moral dan Kerohaniannya sebelumnya. Bangsa Yahudi sampai pada kondisi itu pada masa kekuasaan Romawi, dan pada kedatangan Kristus yang pertama. Oleh sebab itu, raja yang “berwajah bengis” ini ialah raja Romawi, setelah “para pendurhaka” itu (orang-orang Yahudi) sampai “penuh” kejahatan mereka.

KEKUASAAN ROMAWI BUKAN MILIKNYA SENDIRI;

MENGERTI KALIMAT-KALIMAT GAIB

“Maka kuasanya akan menjadi hebat, tetapi bukan oleh kekuatan dirinya sendiri : dan ia akan membinasakan secara gemilang, dan ia akan berhasil, dan melakukannya, dan ia akan membinasakan umat yang kuat dan suci. Dan oleh kebijaksanaannya ia juga akan melakukan tipu supaya berhasil di dalam tangannya; maka ia akan membesarkan dirinya sendiri dalam hatinya, dan dengan damai ia akan membinasakan banyak orang; ia juga akan bangkit berdiri melawan Penghulu dari segala penghulu itu; tetapi ia akan hancur tanpa pertolongan tangan.” (Daniel 8 : 24, 25). 

“Ia akan memahami kalimat-kalimat gaib”, dan “kuasanya akan menjadi hebat, tetapi bukan oleh kekuatannya sendiri”. Keberhasilannya diselesaikan dengan damai; maka, jika dengan damai, Injil tidak dapat memiliki petunjuk apapun mengenai ambisi perebutan teritorial. Kuasanya akan diarahkan untuk melawan umat kesucian (orang-orang Kristen). “Ia juga akan bangkit berdiri melawan Penghulu dari segala penghulu itu” (Kristus). 

Agar supaya seseorang dapat memahami kalimat-kalimat gaib, ia harus menggunakan kekuatan gaib, maka kekuatan itu tidak mungkin merupakan kekuatannya sendiri. Pertanyaan akan timbul mengenai di mana ia akan memperoleh kekuasaannya yang hebat itu. Jika serangannya adalah melawan Kristus dan umat-Nya, maka tidaklah sulit untuk mengetahui jenis kekuasaan yang digunakannya. Tetapi, Yohanes memberikan kepada kita sumber dari kekuatan gaib ini.

“Maka kelihatanlah suatu keajaiban besar di langit; seorang perempuan bersalutkan matahari, dan bulan berada di bawah kakinya, dan di atas kepalanya terdapat sebuah mahkota berisikan dua belas bintang : adalah ia itu mengandung dan berteriak sebab kesakitan hendak melahirkan. Maka kelihatan lagi suatu keajaiban yang lain di langit; tengoklah seekor naga besar yang merah menyala, memiliki tujuh kepala dan sepuluh tanduk, dan tujuh mahkota di atas kepala-kepalanya itu. Maka ekornya itu menyeret sepertiga bagian dari bintang-bintang di langit, lalu mencampakkan semuanya itu ke bumi : lalu naga itu berdiri di hadapan perempuan yang siap hendak melahirkan itu, untuk menelan anaknya segera setelah ia lahir. Maka dilahirkan olehnya seorang anak laki-laki, yang akan memerintah segala bangsa dengan tongkat besi : maka anaknya itu pun dirampas dibawa kepada Allah, dan kepada tahta–Nya.” (Wahyu 12 : 1 – 5).

pemerintahan Romawi. Ia akan bangkit berdiri “apabila para pendurhaka itu telah penuh kejahatannya”. Orang-orang Yunani itu belum pernah menjadi pendurhaka; oleh sebab itu, petunjuk di atas hanya dapat diaplikasikan kepada bangsa Yahudi, pada waktu mana bangsa yang pernah menjadi umat pilihan Allah itu akan mengungguli setiap rekor kebejatan moral dan Kerohaniannya sebelumnya. Bangsa Yahudi sampai pada kondisi itu pada masa kekuasaan Romawi, dan pada kedatangan Kristus yang pertama. Oleh sebab itu, raja yang “berwajah bengis” ini ialah raja Romawi, setelah “para pendurhaka” itu (orang-orang Yahudi) sampai “penuh” kejahatan mereka.

KEKUASAAN ROMAWI BUKAN MILIKNYA SENDIRI; MENGERTI KALIMAT-KALIMAT GAIB

“Maka kuasanya akan menjadi hebat, tetapi bukan oleh kekuatan dirinya sendiri : dan ia akan membinasakan secara gemilang, dan ia akan berhasil, dan melakukannya, dan ia akan membinasakan umat yang kuat dan suci. Dan oleh kebijaksanaannya ia juga akan melakukan tipu supaya berhasil di dalam tangannya; maka ia akan membesarkan dirinya sendiri dalam hatinya, dan dengan damai ia akan membinasakan banyak orang; ia juga akan bangkit berdiri melawan Penghulu dari segala penghulu itu; tetapi ia akan hancur tanpa pertolongan tangan.” (Daniel 8 : 24, 25). 

“Ia akan memahami kalimat-kalimat gaib”, dan “kuasanya akan menjadi hebat, tetapi bukan oleh kekuatannya sendiri”. Keberhasilannya diselesaikan dengan damai; maka, jika dengan damai, Injil tidak dapat memiliki petunjuk apapun mengenai ambisi perebutan teritorial. Kuasanya akan diarahkan untuk melawan umat kesucian (orang-orang Kristen). “Ia juga akan bangkit berdiri melawan Penghulu dari segala penghulu itu” (Kristus). 

Agar supaya seseorang dapat memahami kalimat-kalimat gaib, ia harus menggunakan kekuatan gaib, maka kekuatan itu tidak mungkin merupakan kekuatannya sendiri. Pertanyaan akan timbul mengenai di mana ia akan memperoleh kekuasaannya yang hebat itu. Jika serangannya adalah melawan Kristus dan umat-Nya, maka tidaklah sulit untuk mengetahui jenis kekuasaan yang digunakannya. Tetapi, Yohanes memberikan kepada kita sumber dari kekuatan gaib ini.

“Maka kelihatanlah suatu keajaiban besar di langit; seorang perempuan bersalutkan matahari, dan bulan berada di bawah kakinya, dan di atas kepalanya terdapat sebuah mahkota berisikan dua belas bintang : adalah ia itu mengandung dan berteriak sebab kesakitan hendak melahirkan. Maka kelihatan lagi suatu keajaiban yang lain di langit; tengoklah seekor naga besar yang merah menyala, memiliki tujuh kepala dan sepuluh tanduk, dan tujuh mahkota di atas kepala-kepalanya itu. Maka ekornya itu menyeret sepertiga bagian dari bintang-bintang di langit, lalu mencampakkan semuanya itu ke bumi : lalu naga itu berdiri di hadapan perempuan yang siap hendak melahirkan itu, untuk menelan anaknya segera setelah ia lahir. Maka dilahirkan olehnya seorang anak laki-laki, yang akan memerintah segala bangsa dengan tongkat besi : maka anaknya itu pun dirampas dibawa kepada Allah, dan kepada tahta–Nya.” (Wahyu 12 : 1 – 5).

Perempuan itu adalah melambangkan sidang Allah; mahkota yang berisikan dua belas bintang ialah kekuasaannya atau pemerintahannya (dua belas rasul), dan anak itu ialah Kristus. Di dalam ayat sembilan kepada kita diberitahukan, bahwa naga itu ialah “Iblis, dan Setan”. Adalah dengan bentuk Herodes naga itu berdiri di hadapan perempuan itu, bersiap-siap untuk menelan anaknya segera setelah kelahirannya.

“Sepeninggal orang-orang majus itu, maka kelihatanlah kepada Yusuf dalam mimpi seorang malaikat yang mengatakan, Bangunlah engkau, ambillah anak itu bersama ibu-Nya, dan larilah ke Mesir, dan tinggallah kamu di sana sampai aku beritahukan lagi kepadamu; karena Herodes akan mencari anak itu untuk membinasakan Dia.”

Oleh sebab itu, kekuasaan yang Romawi gunakan dalam kekejamannya melawan “umat kesucian dan Penghulu dari segala penghulu itu” adalah kuasa dari naga itu, dan karena itulah raja-raja Romawi “memahami kalimat-kalimat gaib” dengan mana ia, yaitu Iblis, telah berketetapan hati untuk membinasakan Kristus dan semua pengikut-Nya. (Ikutilah gambar pada halaman 128, bahasa Inggris). 

TANDUK MENGUNGKAPKAN APA YANG BINATANG ITU GAGAL MELAKSANAKAN

Sebagaimana Medo-Persia dan Yunani masing-masing telah dilambangkan dengan dua simbol -- yaitu Medo-Persia pertama oleh domba jantan dan kedua oleh beruang; dan Yunani pertama oleh kambing jantan dan kedua oleh binatang macan tutul berkepala empat, maka demikian itu pula Romawi telah dilambangkan pertama oleh tanduk yang sangat besar pada kambing jantan itu, dan kedua oleh binatang yang tak tergambarkan. Tahap pertama dari binatang yang keempat melambangkan kekaizaran Romawi, tetapi tahap keduanya setelah tiga tanduknya itu tercabut, ini melambangkan Romawi kepausan. (Lihat halaman 56 – 59, bahasa Inggris). Binatang yang melambangkan kekaizaran Romawi itu tidak banyak memberikan informasi mengenai bentuk pemerintahan Romawi, tetapi apa yang tidak diungkapkan oleh binatang itu justru dapat diketahui dari tanduk kambing jantan yang besar itu. Oleh karena itu, kita harus meninjau kekuasaan dari tanduk yang besar itu berikut tindak tanduknya. 

MENGGUGURKAN BALA TENTARA DAN BINTANG-BINTANG 

Daniel mengatakan : “Oleh sebab itu, kambing jantan itu menjadi sangat besar : dan setelah ia menjadi kuat, maka tanduk yang besar itu patah; dan sebagai gantinya tumbuhlah empat tanduk yang terkenal yang mengarah ke empat mata angin di langit. Maka bertambah besarlah ia sampai kepada bala tentara langit; lalu ia menggugurkan beberapa dari tentara itu dan beberapa bintang ke tanah, lalu dipijak-pijaknya akan mereka itu.” (Daniel 8 : 8, 10).

“Bala tentara langit itu” tidak mungkin dimaksudkan kepada bangsa Yahudi pada waktu itu karena orang-orang Yahudi telah membunuh nabi-nabi, dan mereka telah menolak setiap pekabaran yang telah dikirim Allah kepada mereka melalui perantaraan hamba-hamba-Nya yang sederhana, sehingga tidak ada lagi penyembuhan bagi mereka. Dengan demikian mereka telah tinggal tanpa seorang nabi pun semenjak zaman Maleakhi. Kalau saja mereka mematuhi suara Allah melalui

perantaraan utusan-utusan-Nya, maka Ia tidak akan membiarkan mereka jatuh di bawah penjajahan Romawi.

Orang-orang Yahudi itu mengemukakan alasan seperti yang dilakukan kebanyakan orang Kristen pada waktu ini. Mereka mengikuti pendirian bahwa mereka adalah bijaksana dan bahwa mereka adalah berkenan kepada Allah, walaupun mereka menolak setiap sinar terang, dan sepenuhnya mereka meremehkan himbauan-himbauan dan kemurahan-kemurahan dari Allah. Kekeliruan mereka terhadap kebenaran Allah, dan keragu-raguan mereka terhadap terang yang menyinari Firman Allah, telah merampas dari mereka hikmah dan pengetahuan terhadap Yang Maha Tinggi, sehingga akhirnya mereka dibawa masuk ke dalam dosa dan tuduhan yang mengerikan. Pada waktu mereka menolak pekabaran yang dibawakan kepada mereka oleh para rasul yang dipenuhi dengan kuasa Roh Suci, maka berdosalah mereka itu melawan Rohulkudus, sehingga oleh karena itulah mereka telah menutup satu-satunya saluran melalui mana Allah berkomunikasi dengan mereka.

Oleh sebab itu, maka orang-orang Yahudi itu, dibawah tuduhan yang sedemikian ini, tidak mungkin disebut “bala tentara langit”, ataupun sedikitnya “bintang-bintang”. “Bahkan dibesarkan dirinya sampai kepada Penghulu dari bala tentara itu”. (Ayat 11). “Penghulu itu” ialah Kristus, dan “bala tentara itu” adalah orang-orang Kristen. Ini adalah satu-satunya aplikasi yang tepat yang dapat dibuat untuk ucapan kata-kata di atas.

“Bintang-bintang” itu tak lain adalah para rasul, sama seperti mereka itu telah dilambangkan oleh mahkota dari perempuan yang terdapat dalam Wahyu 12 : 1. Oleh karena itu, “bintang-bintang” yang telah digugurkan itu dimaksudkan kepada para rasul, dan “bala tentara” itu dimaksudkan kepada orang-orang Kristen sesudah penyaliban Kristus, pada waktu Romawi bersama-sama dengan orang-orang Yahudi, menganiaya dan membunuh (“menggugurkan sampai ke tanah”). “Bahkan ia membesarkan dirinya sampai kepada penghulu dari bala tentara itu”; artinya, kekuasaan Romawi itu membesarkan dirinya melawan Kristus — Penghulu dari orang-orang Kristen. 

YANG SEHARI-HARI ITU DAN TEMPAT KESUCIAN DIHEMPASKAN KE TANAH

“Dan olehnya korban yang sehari-hari itu ditiadakan, dan tempat kesuciannya itu dirubuhkan. Maka suatu tentara diserahkan kepadanya melawan korban yang sehari-hari itu karena alasan pendurhakaan, dan dihempaskannya kebenaran itu ke tanah, maka dalam segala yang dibuatnya itu beruntunglah ia.” (Daniel 8 : 11, 12).

Dalam mengomentari ayat ini Roh Nubuat mengatakan : “Kemudian aku tampak dalam kaitannya dengan “yang sehari-hari itu”, Daniel 8 : 12, bahwa perkataan “korban” itu telah disisipkan oleh kepintaran manusia, dan bukan merupakan bagian dari ayat itu.” -- “Early Writings”, halaman 74. Ini adalah benar, maka kita harus meninggalkan perkataan “korban” itu, tetapi berpegang kepada “yang sehari-hari” itu, walaupun perkataan “korban” itu tertulis miring, yang menunjukkan bahwa ia itu disisipkan, suatu khayal telah diberikan berkenaan dengan ayat ini, membuktikan bahwa suatu kebenaran penting adalah terkandung di dalam kata-kata “yang sehari-hari” dan “tempat kesucian”. Apapun juga “yang sehari-hari” itu, ia itu telah ditiadakan oleh “Tanduk Besar” itu.

Di dalam Daniel 11 : 31 terdapat petunjuk mengenai peristiwa yang sama :

“Dan tentara akan berdiri pada pihaknya, maka mereka akan menajiskan kekuatan tempat kesucian itu, dan mereka akan meniadakan yang sehari-hari itu, ..... dan mereka akan menempatkan kekejian yang membinasakan itu.” 

Ayat yang baru dikutip ini memperjelas pengertian bahwa baik “yang sehari-hari” itu maupun “tempat kesucian” itu harus merupakan sebagian dari kebenaran Allah. Pemikiran ini tidak mungkin salah diartikan tanpa merusak Injil. Perhatikanlah bahasa yang digunakan : “Maka mereka akan menajiskan kekuatan tempat kesucian itu dan mereka akan meniadakan “yang sehari-hari” itu. Sesudah menajiskan “tempat kesucian” itu dan menyingkirkan “yang sehari-hari” itu, kemudian dikatakan : “Mereka akan menempatkan kekejian yang membinasakan.” Itu artinya : “Tempat kesucian” itu dan “yang sehari-hari” itu diganti dengan kekejian. Kekejian itu harus merupakan sesuatu lembaga agama Kapir, dan bahwa ajaran Kapir itu (“kekejian”) yang akan membinasakan. Artinya, ia itu menghancurkan “tempat kesucian” itu, “yang sehari-hari” itu, dan “kebenaran” itu; atau seperti yang diucapkan di dalam Daniel 8 : 13 : “Diinjak-injak di bawah telapak kaki”. “Dan ia mencampakkan kebenaran itu ke tanah, dan dalam segala yang dibuatnya itu beruntunglah ia.” (Ayat 12). 

Berbicara mengenai peristiwa yang sama Yesus mengatakan : “Sebab itu, apabila kamu melihat kelak kekejian yang membinasakan itu, yang dibicarakan oleh nabi Daniel, berdirilah di tempat kudus, (barangsiapa yang membaca, hendaklah ia mengerti).” (Matius 24 : 15). 

Yesus menyebut “yang sehari-hari” itu dan “tempat kesucian” itu, “tempat kudus”. Tidak ada satupun tempat kesucian Kapir yang akan disebut Tuhan dengan kata-kata “tempat kudus”; bahkan ia itu pun tidak pernah dapat dinajiskan, sebab ia itu memang selalu najis. Tidak ada satupun hari-hari kepunyaan Kapir yang dapat disebut suci. Oleh sebab itu, “yang sehari-hari” dan “tempat kesucian” itu harus memegang kebenaran sebagai yang terpenting bagi gereja Kristen, dan nabi itu menyatakan, bahwa ia itu “diinjak-injak di bawah telapak kaki”. Perkataan “korban” itu dalam hubungannya dengan “yang sehari-hari” itu telah diperlihatkan disisipkan oleh akal manusia, seperti yang dikemukakan terdahulu. Telah juga ditunjukkan, bahwa perkataan “yang sehari-hari” itu adalah benar. Oleh karena itu, maka ia itu tidak dapat ditambah dengan perkataan lain; itu harus tetap saja sebagaimana adanya.

Sementara Daniel mengamat-amati dengan seksama pemandangan itu di dalam khayal, maka katanya : “Kemudian aku dengar seorang suci berkata-kata, dan seorang suci yang lain mengatakan kepada orang suci yang berkata-kata itu, Berapa lamakah kelak khayal mengenai yang sehari-hari itu, dan pendurhakaan yang membinasakan itu, untuk memberikan kepada tempat kesucian dan tentara-tentara itu untuk diinjak-injak di bawah telapak kaki? Maka katanya kepadaku, Sampai dua ribu tiga ratus hari; kemudian tempat kesucian itu akan disucikan.” (Daniel 8 : 13, 14).

Periode nubuatan dari 2300 hari (tahun) itu, suatu kebenaran Alkitab yang terkenal, pertama sekali diajarkan oleh William Miller sebelum tahun 1844. Oleh sebab itu, maka kami tidak akan memberikan penjelasannya di sini. Cukuplah untuk dikatakan bahwa periode nubuatan yang panjang itu berakhir dalam tahun 1844. Pertanyaan yang dikemukakan oleh seorang yang suci, Berapa lamakah kelak khayal

“Dan tentara akan berdiri pada pihaknya, maka mereka akan menajiskan kekuatan tempat kesucian itu, dan mereka akan meniadakan yang sehari-hari itu, ..... dan mereka akan menempatkan kekejian yang membinasakan itu.” 

Ayat yang baru dikutip ini memperjelas pengertian bahwa baik “yang sehari-hari” itu maupun “tempat kesucian” itu harus merupakan sebagian dari kebenaran Allah. Pemikiran ini tidak mungkin salah diartikan tanpa merusak Injil. Perhatikanlah bahasa yang digunakan : “Maka mereka akan menajiskan kekuatan tempat kesucian itu dan mereka akan meniadakan “yang sehari-hari” itu. Sesudah menajiskan “tempat kesucian” itu dan menyingkirkan “yang sehari-hari” itu, kemudian dikatakan : “Mereka akan menempatkan kekejian yang membinasakan.” Itu artinya : “Tempat kesucian” itu dan “yang sehari-hari” itu diganti dengan kekejian. Kekejian itu harus merupakan sesuatu lembaga agama Kapir, dan bahwa ajaran Kapir itu (“kekejian”) yang akan membinasakan. Artinya, ia itu menghancurkan “tempat kesucian” itu, “yang sehari-hari” itu, dan “kebenaran” itu; atau seperti yang diucapkan di dalam Daniel 8 : 13 : “Diinjak-injak di bawah telapak kaki”. “Dan ia mencampakkan kebenaran itu ke tanah, dan dalam segala yang dibuatnya itu beruntunglah ia.” (Ayat 12). 

Berbicara mengenai peristiwa yang sama Yesus mengatakan : “Sebab itu, apabila kamu melihat kelak kekejian yang membinasakan itu, yang dibicarakan oleh nabi Daniel, berdirilah di tempat kudus, (barangsiapa yang membaca, hendaklah ia mengerti).” (Matius 24 : 15). 

Yesus menyebut “yang sehari-hari” itu dan “tempat kesucian” itu, “tempat kudus”. Tidak ada satupun tempat kesucian Kapir yang akan disebut Tuhan dengan kata-kata “tempat kudus”; bahkan ia itu pun tidak pernah dapat dinajiskan, sebab ia itu memang selalu najis. Tidak ada satupun hari-hari kepunyaan Kapir yang dapat disebut suci. Oleh sebab itu, “yang sehari-hari” dan “tempat kesucian” itu harus memegang kebenaran sebagai yang terpenting bagi gereja Kristen, dan nabi itu menyatakan, bahwa ia itu “diinjak-injak di bawah telapak kaki”. Perkataan “korban” itu dalam hubungannya dengan “yang sehari-hari” itu telah diperlihatkan disisipkan oleh akal manusia, seperti yang dikemukakan terdahulu. Telah juga ditunjukkan, bahwa perkataan “yang sehari-hari” itu adalah benar. Oleh karena itu, maka ia itu tidak dapat ditambah dengan perkataan lain; itu harus tetap saja sebagaimana adanya.

Sementara Daniel mengamat-amati dengan seksama pemandangan itu di dalam khayal, maka katanya : “Kemudian aku dengar seorang suci berkata-kata, dan seorang suci yang lain mengatakan kepada orang suci yang berkata-kata itu, Berapa lamakah kelak khayal mengenai yang sehari-hari itu, dan pendurhakaan yang membinasakan itu, untuk memberikan kepada tempat kesucian dan tentara-tentara itu untuk diinjak-injak di bawah telapak kaki? Maka katanya kepadaku, Sampai dua ribu tiga ratus hari; kemudian tempat kesucian itu akan disucikan.” (Daniel 8 : 13, 14).

Periode nubuatan dari 2300 hari (tahun) itu, suatu kebenaran Alkitab yang terkenal, pertama sekali diajarkan oleh William Miller sebelum tahun 1844. Oleh sebab itu, maka kami tidak akan memberikan penjelasannya di sini. Cukuplah untuk dikatakan bahwa periode nubuatan yang panjang itu berakhir dalam tahun 1844. Pertanyaan yang dikemukakan oleh seorang yang suci, Berapa lamakah kelak khayal

Kebenaran-kebenaran mengenai tempat kesucian dan Sabat dikembalikan ke tempatnya yang patut dalam tahun 1844. Tetapi permasalahan mengenai kapan kedua pokok doktrin yang suci ini “dibuang ke tanah”, atau “diinjak-injak di bawah telapak kaki”, masih harus dijawab. Malaikat itu dalam pembicaraannya kepada Daniel dalam kaitannya dengan waktu itu, mengatakan : “Maka semenjak dari saat yang sehari-hari itu kelak ditiadakan, dan kekejian yang membinasakan itu ditegakkan, akan terdapat seribu dua ratus sembilan puluh hari. Berbahagialah orang yang menanti-nanti, dan yang sampai kepada seribu tiga ratus tiga puluh lima hari itu.” (Daniel 12 : 11, 12). 

Dapatlah dicatat bahwa tidak ada satupun berkat dijanjikan pada akhir dari 1290 hari nubuatan (tahun) itu, tetapi ada suatu berkat istimewa dijanjikan kepada orang-orang yang menanti-nanti sampai kepada 1335 hari (tahun) itu digenapi. Oleh sebab itu, maka pada akhir dari 1335 tahun itu “Yang sehari-hari” itu (Sabat) akan dikembalikan, dan berkat ini adalah bagi mereka yang akan hidup semenjak dari waktu itu dan seterusnya, jika mereka mengerti dan mau menerima kebenarannya. 

Untuk menentukan masa nubuatan kapan Sabat Hari Ketujuh (“yang sehari-hari”), dan “kebenaran” (“tempat kesucian”) telah diinjak-injak di bawah telapak kaki, dan pemeliharaan Hari Minggu berikut keimamatan Kapirnya ditegakkan sebagai gantinya, maka kita perlu mengurangi 1335 tahun dari tahun 1844, sehingga kita akan dibawa ke belakang ke tahun 508 TM, (dihitung dengan kalender Ibrani). Dalam tahun itu “Yang sehari-hari” itu (kebenaran Sabat) dan Kebenaran mengenai “Tempat Kesucian” telah “dibuang ke tanah”, dan “Kekejian” (Hari Minggu) “telah ditegakkan”. 

Untuk dapat memahami kebenaran mengenai 1290 tahun (“hari-hari”) itu, tambahkanlah angka itu kepada 508, maka kita akan dibawa kepada tahun 1798 TM, saat mana 1260 hari nubuatan dari Daniel 7 : 25 berakhir dengan tertawannya Paus Pius VI. Demikianlah penindasan nubuatan terhadap “tentara-tentara” itu berakhir dalam tahun 1798, tetapi kebenaran “tempat kesucian” dan kebenaran mengenai “yang sehari-hari” itu belum lagi dipulihkan dan ditempatkan di dalam sidang sampai genap 1335 hari (tahun) itu dalam tahun 1844. Kenyataan yang tak dapat dibantah ini membuktikan, bahwa pergerakan yang timbul dalam tahun 1844 adalah sidang Allah yang benar, yang telah diramalkan secara Ilahi. Sebab itu, ini menjernihkan kekacauan yang luas yang ada di dalam dunia Kristen mengenai mana gereja yang memiliki kebenaran bagi zaman ini. Ini juga mengikis habis semua kepalsuan lainnya, karena adalah hanya satu pergerakan yang memiliki kebenaran mengenai tempat kesucian itu.

Karena kebenaran mengenai dua pokok doktrin yang tak terpisahkan itu telah dibuang dalam tahun 508 TM mendahului berdirinya kepausan, maka demikian itu pula tertawannya paus dalam tahun 1798 merupakan persiapan bagi kembalinya kebenaran-kebenaran Alkitab itu diajarkan secara bersama-sama, yaitu kebenaran Sabat dan kebenaran Tempat Kesucian. Tanggung jawab yang terletak pada kepausan bukannya karena pemeliharaan dari hari, melainkan sebaliknya, karena keinginannya untuk merubah hukum Allah, seperti yang ditunjukkan dalam Daniel 7 : 25 : “Merencanakan untuk merubah masa dan hukum.” Kepausan merencanakan untuk menghapus Sabat Hari Ketujuh

itu dari hukum yang kekal, lalu memasukkan hari yang pertama dari minggu sebagai penggantinya. 

BAGAIMANA GEREJA DIKAPIRKAN? 

Adalah raja-raja Romawi yang telah mengkapirkan gereja, dan karena orang-orang kapir selalu menyucikan Hari Minggu, maka Sabat telah disingkirkan sejauh yang berkaitan dengan penguasa-penguasa gereja, imam-imam dan raja-raja. Orang-orang kapir sama sekali tidak menghiraukan Sabat itu. Kepada mereka tidak diajarkan mengenai kesuciannya, dan orang-orang Kristen yang sedikit jumlahnya yang mencoba untuk tetap memeliharakan hari yang suci itu telah hilang di dalam rombongan besar orang banyak itu. Segera upacara-upacara Sabat itu merupakan suatu perkara masa lampau. Ini berhasil terlaksana dalam tahun 508 TM yang lalu. Perbuatan Iblis ini membuka jalan, lalu kepausan ditegakkan dalam tahun 538. Paus telah dibuat menjadi pemerintah yang mutlak, raja atas segala raja, dan pengoreksi terhadap semua penentang pahamnya, karena kekuasaan ilahinya itu. Rencana itu adalah bagi kekekalan ajaran-ajaran palsunya, dan untuk tetap mempertahankan kebenaran selama-lamanya di bawah kakinya. Inilah suatu perkara yang sangat misterius, bagaimana caranya musuh bebuyutan manusia itu berhasil menipu orang-orang yang berinteligensia tinggi. Ia memagari mereka itu sampai kepada kehancuran mereka sendiri. Demikianlah telah terjadi pada segala zaman.

Seperti yang dijelaskan terdahulu, Romawi pertama sekali menganiaya orang-orang Kristen. Tetapi setelah ular naga tua itu melihat bahwa aniaya itu tidak dapat meruntuhkan iman mereka, maka ia merubah rencananya, lalu dibuatkan suatu rencana jahat yang lebih licik untuk membinasakan sidang. Sebagaimana biasanya, ia bekerja melalui perantaraan hati manusia biasa, dengan menggunakan alat manusia untuk membawakan suatu penipuan yang tidak terlihat oleh mata orang berdosa.

“Gibbon’s Rome”, Jilid 2, halaman 273, 274, mengatakan : “Dengan beberapa keputusan toleransi, maka ia (Constantine) telah menyingkirkan segala halangan yang bersifat sementara yang sampai pada waktu itu telah memperlambat kemajuan Kekristenan; maka para pendetanya yang banyak dan giat itu memperoleh suatu ijin bebas, yaitu suatu dorongan yang tidak terikat, untuk mengemukakan kebenaran-kebenaran wahyu yang terpuji dengan setiap argumentasi yang dapat mempengaruhi akal dan kepatuhan manusia. Keseimbangan yang betul-betul seimbang di antara dua agama itu (Kristen dan Kapir) berlangsung hanya sementara. ..... Kota-kota yang telah menunjukkan suatu semangat kemauan yang maju oleh membinasakan secara sukarela semua kuil-kuil (milik kekapiran) mereka telah diberi hak-hak istimewa sebagai warga kota, serta dihadiahi dengan pemberian-pemberian yang terkenal ..... Keselamatan dari orang-orang biasa telah dibeli dengan harga yang mudah, jika itu benar, maka dalam setahun saja, dua belas ribu pria telah dibaptiskan di Roma, disamping sejumlah yang sama wanita dan anak-anak, dan bahwa sebuah pakaian putih berikut dua puluh keping emas telah dijanjikan oleh kaizar kepada setiap orang yang bertobat ..... Ini adalah sebuah undang-undang dari Constantine, yang menganugerahkan kemerdekaan kepada semua budak yang akan memeluk Kekristenan.”

Dengan cara inilah, Romawi telah mengkapirkan sidang, maka apa yang telah gagal dilakukan melalui aniaya, kini melalui hadiah-hadiah dan penghargaan-penghargaan berhasil diselesaikan. Karena

orang-orang Kristen yang menang itu terus mendesak maju melawan tembok aniaya yang tak terkalahkan itu yang ditunjang sendiri oleh Iblis, maka Iblis tiba-tiba menarik diri, membiarkannya rubuh. Demikian inilah, maka karena aniaya itu berhenti, maka ia itu membuat mereka seolah-olah jatuh oleh dorongannya sendiri. Demikianlah apa yang kuasa Setan gagal melaksanakan melalui aniaya, ia ternyata berhasil menyelesaikannya dengan cara mengundurkan diri tiba-tiba. Apabila ular naga yang tua itu melihat bahwa ia tidak berhasil meruntuhkan rumah kerohanian dengan jalan aniaya, maka ia kemudian merubah rencananya lalu menggunakan kekuatannya untuk meruntuhkan pondasi rasul-rasul itu melalui pemberian hadiah-hadiah dan berbagai dorongan kepada orang-orang kapir dengan kemurahan hati orang-orang Kristen. Karena orang-orang kapir berduyun-duyun menggabungkan diri dengan sidang, maka aliran kemurtadan berbalik menghantam orang-orang Kristen. Gantinya sidang mengkristenkan dunia, maka dunialah yang mengkapirkan sidang. Dengan jalan inilah orang-orang Kristen jatuh ke bawah kekuasaan dari “ular naga” itu dan karenanya mereka ditelan oleh kepala-kepalanya (dikapirkan). Tetapi karena Setan merencanakan untuk menjamin sepenuhnya maksudnya, maka ia kembali mengarahkan aniayanya terhadap orang-orang kapir, ia takut kalau-kalau semangat Kristen yang benar itu akan hidup kembali jika kedua sekte ini, yaitu Kristen dan Kapir tetap ada. 

Gibbon mengatakan : “Di bawah pemerintahannya (pemerintahan Athanasius) Kristen memperoleh suatu kemenangan yang mudah dan lama; maka segera setelah senyuman dari perlindungan raja ditarik, kecerdasan paham Kekapiran yang telah dibina dan dipelihara dengan sepenuh hati melalui kesenian-kesenian Julian, lalu tenggelam untuk seterusnya di dalam debu.” -- “Gibbon’s Rome”, Jilid 2, p. 521. 

“Suatu jabatan khusus telah diberikan kepada Cynegius, polisi Preatoria dari sebelah Timur, dan kemudian kepada Counts Jovius dan Gaudentius, dua perwira dari barisan yang terkenal di sebelah Barat; oleh mana mereka diarahkan untuk menutup kuil-kuil, merampas atau membinasakan peralatan-peralatan penyembahan berhala, menghapuskan hak-hak istimewa dari para imam, dan menyita harta benda yang suci bagi kepentingan kaizar, gereja, atau tentara ..... Banyak dari kuil-kuil itu adalah monumen-monumen arsitektur Yunani yang sangat indah dan cantik; dan kaizar sendiri lebih senang untuk tidak merusak keindahan dari kota-kotanya, ataupun mengurangi nilai-nilai dari harta miliknya sendiri ..... Di Syria, Marcellus yang menakjubkan dan hebat itu, sebagaimana ia diberi corak oleh Theodoret, seorang bishop yang hidup dengan semangat kerasulan Paus, telah memutuskan untuk meruntuhkan kuil-kuil yang megah ..... Tetapi pada waktu sebuah keputusan penghancuran terhadap dewa-dewa Alexandria diumumkan, maka orang-orang Kristen lalu mengeluarkan seruan kegembiraan dan penuh sukacita sementara orang-orang Kapir yang malang itu, yang amarahnya telah mereda menjadi ketakutan, mereka dengan cepat mundur secara diam-diam ….. Theophilus maju keluar membinasakan kuil Serapis, ….. lalu memuaskan dirinya sendiri dengan mengurangi gedung itu sendiri sampai menjadi sebuah timbunan sampah, sebagiannya tak lama kemudian dibersihkan, untuk mempersiapkan tempat bagi sebuah gereja, yang didirikan sebagai penghargaan terhadap para martir Kristen.” -- Sda., Jilid 3, halaman 140 – 146.

orang-orang Kristen yang menang itu terus mendesak maju melawan tembok aniaya yang tak terkalahkan itu yang ditunjang sendiri oleh Iblis, maka Iblis tiba-tiba menarik diri, membiarkannya rubuh. Demikian inilah, maka karena aniaya itu berhenti, maka ia itu membuat mereka seolah-olah jatuh oleh dorongannya sendiri. Demikianlah apa yang kuasa Setan gagal melaksanakan melalui aniaya, ia ternyata berhasil menyelesaikannya dengan cara mengundurkan diri tiba-tiba. Apabila ular naga yang tua itu melihat bahwa ia tidak berhasil meruntuhkan rumah kerohanian dengan jalan aniaya, maka ia kemudian merubah rencananya lalu menggunakan kekuatannya untuk meruntuhkan pondasi rasul-rasul itu melalui pemberian hadiah-hadiah dan berbagai dorongan kepada orang-orang kapir dengan kemurahan hati orang-orang Kristen. Karena orang-orang kapir berduyun-duyun menggabungkan diri dengan sidang, maka aliran kemurtadan berbalik menghantam orang-orang Kristen. Gantinya sidang mengkristenkan dunia, maka dunialah yang mengkapirkan sidang. Dengan jalan inilah orang-orang Kristen jatuh ke bawah kekuasaan dari “ular naga” itu dan karenanya mereka ditelan oleh kepala-kepalanya (dikapirkan). Tetapi karena Setan merencanakan untuk menjamin sepenuhnya maksudnya, maka ia kembali mengarahkan aniayanya terhadap orang-orang kapir, ia takut kalau-kalau semangat Kristen yang benar itu akan hidup kembali jika kedua sekte ini, yaitu Kristen dan Kapir tetap ada. 

Gibbon mengatakan : “Di bawah pemerintahannya (pemerintahan Athanasius) Kristen memperoleh suatu kemenangan yang mudah dan lama; maka segera setelah senyuman dari perlindungan raja ditarik, kecerdasan paham Kekapiran yang telah dibina dan dipelihara dengan sepenuh hati melalui kesenian-kesenian Julian, lalu tenggelam untuk seterusnya di dalam debu.” -- “Gibbon’s Rome”, Jilid 2, p. 521. 

“Suatu jabatan khusus telah diberikan kepada Cynegius, polisi Preatoria dari sebelah Timur, dan kemudian kepada Counts Jovius dan Gaudentius, dua perwira dari barisan yang terkenal di sebelah Barat; oleh mana mereka diarahkan untuk menutup kuil-kuil, merampas atau membinasakan peralatan-peralatan penyembahan berhala, menghapuskan hak-hak istimewa dari para imam, dan menyita harta benda yang suci bagi kepentingan kaizar, gereja, atau tentara ..... Banyak dari kuil-kuil itu adalah monumen-monumen arsitektur Yunani yang sangat indah dan cantik; dan kaizar sendiri lebih senang untuk tidak merusak keindahan dari kota-kotanya, ataupun mengurangi nilai-nilai dari harta miliknya sendiri ..... Di Syria, Marcellus yang menakjubkan dan hebat itu, sebagaimana ia diberi corak oleh Theodoret, seorang bishop yang hidup dengan semangat kerasulan Paus, telah memutuskan untuk meruntuhkan kuil-kuil yang megah ..... Tetapi pada waktu sebuah keputusan penghancuran terhadap dewa-dewa Alexandria diumumkan, maka orang-orang Kristen lalu mengeluarkan seruan kegembiraan dan penuh sukacita sementara orang-orang Kapir yang malang itu, yang amarahnya telah mereda menjadi ketakutan, mereka dengan cepat mundur secara diam-diam ….. Theophilus maju keluar membinasakan kuil Serapis, ….. lalu memuaskan dirinya sendiri dengan mengurangi gedung itu sendiri sampai menjadi sebuah timbunan sampah, sebagiannya tak lama kemudian dibersihkan, untuk mempersiapkan tempat bagi sebuah gereja, yang didirikan sebagai penghargaan terhadap para martir Kristen.” -- Sda., Jilid 3, halaman 140 – 146.

Demikianlah orang-orang Kapir telah menggabungkan diri dengan gereja Kristen melalui paksaan dan penyuapan dan bukan oleh pengakuan dosa, maka karena itulah Kristen telah membuka jalan kepada penyembahan berhala. Gibbon mengatakan : “Kedua agama secara bergantian telah dibuat malu oleh pemeluk-pemeluk agama baru yang tidak sepatutnya yang tampaknya terus bertambah, oleh orang-orang penggemar agama yang berpakaian ungu-ungu yang dapat ke sana ke mari tanpa alasan, tanpa malu, dari sidang ke kaabah, dan dari mezbah-mezbah Jupiter ke meja yang suci dari orang-orang Kristen.” -- Sda., Jilid 2, halaman 522. 

Sidang dalam kesuciannya, yang dipenuhi dengan roh lemah lembut dan kerendahan hati dari Yesus, berperang melawan penindasan dan kekejaman. Mereka berdoa bagi orang-orang yang hendak merampas nyawa mereka, dengan mengatakan, “Tuhan, ampunilah mereka, karena mereka tidak mengetahui apa yang mereka perbuat.” Seperti halnya Stephanus, mereka bertelut di bawah lemparan-lemparan batu yang berjatuhan, sambil memohon : “Tuhan, janganlah bebankan dosa ini atas mereka”. Tetapi orang-orang Kristen yang tadinya sangat bersemangat mempertahankan standard yang murni dari sidang, mereka telah memakai mahkota penguasa sipil, lalu memaksa orang-orang Kapir untuk bergabung ke dalam barisan mereka. 

Karena orang-orang Kapir dan orang-orang Kristen sudah bersatu, maka ular naga itu lalu menggunakan kekuatan dan kekuasaannya yang besar ke dalam kepausan. Melalui pemusatan kerajaan agama ini ia menghapus Sabat Hari Ketujuh itu dari hukum Allah, lalu pada tempatnya dimasukkannya Hari Minggu kekapiran itu. Pada titik inilah ia mengendalikan kekuasaannya melawan setiap ketidaksetiaan kepada semua tuntutan kepausan. Kekuasaan kepausan ini terus menyengsarakan umat kesucian dari Yang Maha Tinggi, seperti yang terdapat di dalam Daniel 7 : 25. Sebagaimana Shadrakh, Meshakh, dan Abednego di Babilon, dan Daniel di Medo-Persia, telah mencegah berdirinya pemerintahan agama, dan meniadakan keputusan raja, maka demikian itu pula Luther telah menghapuskan kerajaan kepausan itu, dan mengakhiri kekuasaan dari paus. Karena pukulan Luther telah melemahkan kekuasaannya, dan Protestantisme terus menggganggu lukanya, maka oleh tangan Berthier, paus lalu dimasukkan ke dalam penjara. 

BAGAIMANA PENYEMBAHAN BERHALA MERAYAP MASUK KE DALAM SIDANG 

Beberapa baris lagi dari tulisan Gibbon, yang menggambarkan bagaimana penyembahan berhala dan penyembahan orang suci merayap masuk ke dalam sidang Kristen : “Mayat-mayat dari St. Andreas, St. Lukas, dan St. Timotius, telah terbaring hampir tiga ratus tahun di dalam kubur-kubur yang gelap, dari sana mereka itu telah diangkut, dalam upacara besar yang hikmah, menuju ke gereja dari para rasul, yang telah didirikan oleh kebesaran Constantine pada kedua tepi sungai Thracian Bosphorus. Kira-kira lima puluh tahun kemudian, kedua tepi sungai yang sama ini telah dimuliakan oleh kehadiran Samuel, yaitu hakim dan nabi dari umat Israel. Abunya, yang tersimpan di dalam sebuah bokor emas, dan yang tertutup dengan sebuah kerudung sutera, telah dibagi-bagikan oleh para imam senior ke dalam tangan sesamanya ..... Dalam jangka panjang selama seribu dua ratus tahun, yang terbentang antara pemerintahan

yang sempurna untuk menyelamatkan sidang, jika diikuti dengan seksama. Ia tidak memerlukan bantuan manusia, Ia juga tidak dapat menerima alat-alat ciptaan manusia. 

“Karena aku membuktikan kepada setiap orang yang mendengarkan segala perkataan nubuatan dari kitab ini, Jika seseorang kelak menambah kepada segala perkara ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya celaka-celaka yang tertulis di dalam kitab ini; Dan jika seseorang kelak mengurangi dari segala perkataan dari kitab nubuatan ini, Allah akan menghapuskan bagiannya dari dalam kitab hayat, dan dari dalam kota suci, dan dari segala perkara yang tertulis di dalam kitab ini.” (Wahyu 22 : 18, 19). 

Gereja Romawi telah menggantikan kesederhanaan kebenaran dengan kepintaran manusia dan tradisi-tradisi manusia. Atau sebagaimana yang dikatakan oleh Daniel : “Suatu bala tentara (air bah Kekapiran) telah diserahkan kepadanya melawan yang sehari-hari itu karena alasan durhaka, maka ia itu membuang kebenaran ke tanah; dan segala yang dibuatnya itu, berbahagialah ia.” (Daniel 8 : 12). “Bala tentara” yang melawan “yang sehari-hari” itu ialah orang-orang Kapir yang tidak bertobat yang dimasukkan ke dalam sidang; oleh sebab itulah, “karena alasan durhaka”. Betapa bedanya dari metode yang digunakan oleh Yohanes Pembaptis! “Tetapi setelah ia melihat banyak dari orang-orang Farisi dan Saduki datang kepada baptisannya, maka katanya kepada mereka itu, Hai keturunan ular, siapakah yang telah mengamarkan kepadamu untuk lari dari murka yang akan datang? Oleh sebab itu keluarkanlah olehmu buah-buah yang sepadan bagi pertobatan.” (Matius 3 : 7, 8).

Adalah mungkin bermanfaat untuk bertanya : Adakah sidang pada waktu ini sedang meniru Yohanes atau orang-orang Romawi itu? Adakah anggota-anggotanya orang-orang Kristen atau orang-orang Kapir? Tuhan menugaskan kepada hamba-Nya untuk mengamarkan kepada Israel kuno yang lalu terhadap suatu praktik berbahaya yang sama. Firman-Nya : “Maka hendaklah kamu mengatakan kepada orang durhaka itu, yaitu isi rumah Israel, Demikianlah firman Tuhan Hua; hai isi rumah Israel, cukuplah sudah bagimu segala perbuatanmu yang keji itu, karena kamu telah membawa masuk ke dalam tempat kesucian-Ku orang-orang asing, yaitu orang-orang yang tidak bersunat hatinya, dan tiada bersunat tubuhnya, untuk tinggal di dalam tempat kesucian-Ku, mencemarkannya, yaitu rumah-Ku.” (Yehezkiel 44 : 6, 7).

Sesungguhnya, adakah orang-orang sedang bekerja bagi Allah atau bagi dirinya sendiri? Malaikat itu, dalam memberikan petunjuk kepada Daniel, menyebutkan Sabat itu dan kebenaran tempat suci itu, ”Kebenaran”. (Lihat Daniel 8 : 12). Benar, itu memang kebenaran. Dengan memeliharakan Sabat kita memuliakan Allah dengan cara mengakui hari peringatan kejadian dunia milik Kristus yang suci itu.

“Allah, yang pada berbagai masa dan dengan bermacam cara di masa lalu telah berbicara kepada segala nenek moyang kita oleh mulut nabi-nabi, Di zaman akhir ini telah berbicara kepada kita melalui Putera-Nya, yang telah ditetapkan-Nya sebagai waris dari segala perkara, oleh-Nya juga Ia telah menjadikan segala dunia.” (Ibrani 1 : 1, 2).

Karena dosa telah memasuki keluarga manusia, maka Tuhan telah mengadakan kebenaran tempat kesucian, yang secara contoh melukiskan pengorbanan-Nya, kematian-Nya, dan kebangkitan-Nya – yaitu wahyu dari hal penebusan kita. Demikianlah, dalam memeliharakan Sabat dan kebenaran tempat kesucian itu, kita secara terbuka mengakui bahwa

Constantine dan reformasi Luther, penyembahan kepada orang-orang suci dan benda-benda peninggalan telah merusak kesederhanaan yang murni dan sempurna dari cara peribadatan Kristen : dan beberapa gejala kemerosotannya dapat dilihat juga dalam generasi-generasi pertama yang menganut dan memelihara pembaharuan yang jahat ini. ..... Orang-orang Kristen seringkali mendatangi kubur-kubur dari para martir, dengan harapan untuk memperoleh dari tugas perantara mereka yang kuat itu, setiap jenis berkat rohani, tetapi teristimewa berkat-berkat kebutuhan sekarang. Mereka memohon dengan sangat akan terpeliharanya kesehatan mereka, atau akan penyembuhan segala kelemahan mereka; kesuburan bagi isteri-isteri mereka yang mandul, atau keselamatan dan kebahagiaan bagi anak-anaknya.” -- Sda., Jilid 3, halaman 156, 157, 162. 

Kedua kelas orang-orang itu secara tidak sepatutnya dianjurkan, supaya orang-orang Kristen melupakan saja roh dari Injil, dan orang-orang Kapir supaya menghayati roh dari gereja. Ajaran agama yang luhur dan sederhana dari orang-orang Kristen primitif yang dahulu secara berangsur-angsur dikacaukan. Kekuatan Setan diperhambat. Walaupun ia tidak dapat mengalahkan operasi-operasi dari para penggerak Kristen dengan cara aniaya, namun ia berhasil dengan cara tipu. 

Karena aniaya yang tidak adil melawan orang-orang Kristen itu telah berhenti, maka sidang menempuh langkah menurun. Sungguh pun ada sebagian kecil orang-orang yang menghormati kesucian Sabat itu, mereka tidak diganggu sampai setelah kerajaan agama itu didirikan dalam tahun 538. Ular naga itu telah memutuskan dengan seksama untuk tetap mempertahankan kelangsungan agama nasional kombinasi itu, yaitu Kristen dalam nama tetapi Kapir dalam perbuatan. Setan bermaksud untuk menegakkan kepausan itu, dan “menyengsarakan orang-orang suci dari Yang Maha Tinggi”. Aniaya itu, pertama-tama terhadap sidang Kristen yang mula-mula, dan kedua, terhadap kekapiran dengan persetujuan Kristen, telah dibalik di bawah pemerintahan kepausan. Orang-orang Kristen yang sedikit jumlahnya itu yang menjunjung tinggi Sabat Hari Ketujuh, dalam beberapa hal telah dikejar-kejar bagaikan kelinci, dan telah dituntut dari mereka kepatuhan yang sungguh-sungguh kepada agama yang sah dari kepausan walaupun bukan agama Kristen.

Kembali kepada judul pembicaraan kita, -- “Tanduk yang sangat besar itu.” Romawi dalam keadaannya yang terbagi-bagi telah membuang kebenaran itu dan menginjak-injaknya. Tetapi ia itu tidak selesai dalam suatu cara tiba-tiba atau yang sewenang-wenang. Pemeliharaan Hari Minggu yang berangsur-angsur merayap masuk ke dalam sidang Kristen. Pada mulanya jam-jam paginya dianggap agak suci, sebab Tuhan telah bangkit pagi-pagi sekali pada hari itu. Setelah ia itu menjadi umum, maka lebih banyak lagi kesucian dikaitkan kepadanya, sehingga jam-jam itu dilanjutkan lagi sampai siang hari. Akhirnya, keseluruhan hari itu dipisahkan tersendiri sebagai suatu hari perbaktian.

Sementara Hari Minggu terus berkembang menjadi makin suci, maka Sabat Hari Ketujuh terus merosot, dan makin menjadi kurang suci. Di sinilah kita saksikan suatu contoh yang harus ditandai dengan seksama oleh semua orang Kristen. Menambah sesuatu kepada agama Kristus, walaupun ia itu secara lahiriah mungkin terlihat baik, akan kelak berakhir dengan suatu racun yang mematikan dari bawah. Allah kita telah merencanakan membuat suatu agama

Kristus ialah Pencipta dan Penebus. “Oleh sebab itu Anak Manusia ialah juga Tuhan atas Hari Sabat itu.” (Markus 2 : 28).

Alkitab ialah wahyu dari hal kejadian dunia dan penebusan dalam Kristus -- yaitu Pencipta dan Penebus. Oleh sebab itu, maka Sabat dan Tempat Kesucian membentuk “Kebenaran Itu”. (Lihat Ibrani 9 : 10; 4 : 4 – 10). Demikianlah kedua pokok doktrin ini merupakan pasangan, yang tidak dapat dipisahkan, dan keduanya mengandung keseluruhan kebenaran.

Bagaimanakah caranya kita memeliharakan kebenaran Tempat Kesucian itu? Ia itu dipelihara, bukan dalam contohnya, melainkan dalam contoh saingannya. Oleh iman kita percaya bahwa Kristus, Imam Besar kita itu, sedang bertugas membela kita di dalam tempat kesucian yang di dalam surga, sebagaimana telah diajarkan dalam contoh melalui tempat kesucian di bumi, yang dibangun oleh Musa. Sebagaimana Israel telah mengikuti semua persyaratan pelayanannya dalam contoh, maka demikian pula kita harus mengikutinya dalam contoh saingannya. Dengan demikian kita “memberitakan kebenaran (Sabat dan Tempat Kesucian) itu dengan lebih sempurna.” 

RINGKASAN

TANDUK ITU “MEMIKUL PEMERINTAHAN ATAS SELURUH BUMI”

Untuk sepenuhnya dapat memahami apa yang sedang diajarkan di dalam Bab ini, maka kami kembali mengundang perhatian kepada gambar bagan yang terdapat pada halaman 128, bahasa Inggris. Sekarang marilah kita ikuti bagan itu bersama-sama dengan bacaannya. Dalam penyelidikan sebelumnya telah terbukti, bahwa “tanduk yang sangat besar” dari “kambing jantan” itu tidak hanya melambangkan kekaizaran Romawi saja, melainkan juga kepausan Romawi, dan dunia yang ada sekarang; karena “tanduk” itu pertama sekali menganiaya Kristus dan pengikut-pengikut-Nya di bawah kekuasaan hukum kerajaan Romawi. Kebenaran yang diungkapkan oleh “Yang Sehari-hari” dan “Tempat Kesucian” itu telah diinjak-injak “karena alasan pendurhakaan” dalam masa periode Romawi yang terbagi-bagi sampai kepada tahun 508 TM; sebab pemerintahan kekaizaran itu berakhir dalam tahun 476. Lebih jauh, kuasa kepausan itu “menginjak-injak” kebenaran Allah di tanah sampai kepada akhir dari nubuatan 1260 tahun itu, dan berakhir dengan dipenjarakannya paus dalam tahun 1798. Tetapi “Tempat Kesucian” dan “Yang Sehari-hari” itu telah dihempaskan ke tanah oleh “Tanduk Besar” itu sampai tahun 1844. Pada waktu itulah ia kehilangan pengawasan atas mereka, maka kuasa dari “Pekabaran-Pekabaran Tiga Malaikat” mengangkat kebenaran itu dari tanah, atau dari “bawah telapak kaki” lalu menempatkannya di dalam sidang. Oleh sebab itu, “Tanduk Besar” itu adalah simbol dari keseluruhan periode Wasiat Baru sampai kepada kedatangan Kristus yang kedua kali -- sama hubungannya dengan kaki-kaki yang dari besi, dan telapak-telapak kaki dan jari-jari kaki dari patung besar Daniel pasal 2.

Semuanya ini adalah kenyataan-kenyataan yang tidak dapat dibantah. Tetapi, ada lagi suatu bukti lain yang memuat kenyataan yang sama. Kata nabi itu : “Maka sesudah tuanku (raja Babil) akan bangkit sebuah kerajaan yang lain yang lebih rendah daripada tuanku, dan sebuah kerajaan lain yang ketiga yang dari tembaga, yang akan memikul pemerintahan atas seluruh bumi.” (Daniel 2 : 39).

Kerajaan “tembaga” itu adalah diterima sebagai lambang Yunani, tetapi

yang sempurna untuk menyelamatkan sidang, jika diikuti dengan seksama. Ia tidak memerlukan bantuan manusia, Ia juga tidak dapat menerima alat-alat ciptaan manusia. 

“Karena aku membuktikan kepada setiap orang yang mendengarkan segala perkataan nubuatan dari kitab ini, Jika seseorang kelak menambah kepada segala perkara ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya celaka-celaka yang tertulis di dalam kitab ini; Dan jika seseorang kelak mengurangi dari segala perkataan dari kitab nubuatan ini, Allah akan menghapuskan bagiannya dari dalam kitab hayat, dan dari dalam kota suci, dan dari segala perkara yang tertulis di dalam kitab ini.” (Wahyu 22 : 18, 19). 

Gereja Romawi telah menggantikan kesederhanaan kebenaran dengan kepintaran manusia dan tradisi-tradisi manusia. Atau sebagaimana yang dikatakan oleh Daniel : “Suatu bala tentara (air bah Kekapiran) telah diserahkan kepadanya melawan yang sehari-hari itu karena alasan durhaka, maka ia itu membuang kebenaran ke tanah; dan segala yang dibuatnya itu, berbahagialah ia.” (Daniel 8 : 12). “Bala tentara” yang melawan “yang sehari-hari” itu ialah orang-orang Kapir yang tidak bertobat yang dimasukkan ke dalam sidang; oleh sebab itulah, “karena alasan durhaka”. Betapa bedanya dari metode yang digunakan oleh Yohanes Pembaptis! “Tetapi setelah ia melihat banyak dari orang-orang Farisi dan Saduki datang kepada baptisannya, maka katanya kepada mereka itu, Hai keturunan ular, siapakah yang telah mengamarkan kepadamu untuk lari dari murka yang akan datang? Oleh sebab itu keluarkanlah olehmu buah-buah yang sepadan bagi pertobatan.” (Matius 3 : 7, 8).

Adalah mungkin bermanfaat untuk bertanya : Adakah sidang pada waktu ini sedang meniru Yohanes atau orang-orang Romawi itu? Adakah anggota-anggotanya orang-orang Kristen atau orang-orang Kapir? Tuhan menugaskan kepada hamba-Nya untuk mengamarkan kepada Israel kuno yang lalu terhadap suatu praktik berbahaya yang sama. Firman-Nya : “Maka hendaklah kamu mengatakan kepada orang durhaka itu, yaitu isi rumah Israel, Demikianlah firman Tuhan Hua; hai isi rumah Israel, cukuplah sudah bagimu segala perbuatanmu yang keji itu, karena kamu telah membawa masuk ke dalam tempat kesucian-Ku orang-orang asing, yaitu orang-orang yang tidak bersunat hatinya, dan tiada bersunat tubuhnya, untuk tinggal di dalam tempat kesucian-Ku, mencemarkannya, yaitu rumah-Ku.” (Yehezkiel 44 : 6, 7).

Sesungguhnya, adakah orang-orang sedang bekerja bagi Allah atau bagi dirinya sendiri? Malaikat itu, dalam memberikan petunjuk kepada Daniel, menyebutkan Sabat itu dan kebenaran tempat suci itu, ”Kebenaran”. (Lihat Daniel 8 : 12). Benar, itu memang kebenaran. Dengan memeliharakan Sabat kita memuliakan Allah dengan cara mengakui hari peringatan kejadian dunia milik Kristus yang suci itu.

“Allah, yang pada berbagai masa dan dengan bermacam cara di masa lalu telah berbicara kepada segala nenek moyang kita oleh mulut nabi-nabi, Di zaman akhir ini telah berbicara kepada kita melalui Putera-Nya, yang telah ditetapkan-Nya sebagai waris dari segala perkara, oleh-Nya juga Ia telah menjadikan segala dunia.” (Ibrani 1 : 1, 2).

Karena dosa telah memasuki keluarga manusia, maka Tuhan telah mengadakan kebenaran tempat kesucian, yang secara contoh melukiskan pengorbanan-Nya, kematian-Nya, dan kebangkitan-Nya – yaitu wahyu dari hal penebusan kita. Demikianlah, dalam memeliharakan Sabat dan kebenaran tempat kesucian itu, kita secara terbuka mengakui bahwa

Kristus ialah Pencipta dan Penebus. “Oleh sebab itu Anak Manusia ialah juga Tuhan atas Hari Sabat itu.” (Markus 2 : 28).

Alkitab ialah wahyu dari hal kejadian dunia dan penebusan dalam Kristus -- yaitu Pencipta dan Penebus. Oleh sebab itu, maka Sabat dan Tempat Kesucian membentuk “Kebenaran Itu”. (Lihat Ibrani 9 : 10; 4 : 4 – 10). Demikianlah kedua pokok doktrin ini merupakan pasangan, yang tidak dapat dipisahkan, dan keduanya mengandung keseluruhan kebenaran.

Bagaimanakah caranya kita memeliharakan kebenaran Tempat Kesucian itu? Ia itu dipelihara, bukan dalam contohnya, melainkan dalam contoh saingannya. Oleh iman kita percaya bahwa Kristus, Imam Besar kita itu, sedang bertugas membela kita di dalam tempat kesucian yang di dalam surga, sebagaimana telah diajarkan dalam contoh melalui tempat kesucian di bumi, yang dibangun oleh Musa. Sebagaimana Israel telah mengikuti semua persyaratan pelayanannya dalam contoh, maka demikian pula kita harus mengikutinya dalam contoh saingannya. Dengan demikian kita “memberitakan kebenaran (Sabat dan Tempat Kesucian) itu dengan lebih sempurna.” 

RINGKASAN

TANDUK ITU “MEMIKUL PEMERINTAHAN ATAS SELURUH BUMI”

Untuk sepenuhnya dapat memahami apa yang sedang diajarkan di dalam Bab ini, maka kami kembali mengundang perhatian kepada gambar bagan yang terdapat pada halaman 128, bahasa Inggris. Sekarang marilah kita ikuti bagan itu bersama-sama dengan bacaannya. Dalam penyelidikan sebelumnya telah terbukti, bahwa “tanduk yang sangat besar” dari “kambing jantan” itu tidak hanya melambangkan kekaizaran Romawi saja, melainkan juga kepausan Romawi, dan dunia yang ada sekarang; karena “tanduk” itu pertama sekali menganiaya Kristus dan pengikut-pengikut-Nya di bawah kekuasaan hukum kerajaan Romawi. Kebenaran yang diungkapkan oleh “Yang Sehari-hari” dan “Tempat Kesucian” itu telah diinjak-injak “karena alasan pendurhakaan” dalam masa periode Romawi yang terbagi-bagi sampai kepada tahun 508 TM; sebab pemerintahan kekaizaran itu berakhir dalam tahun 476. Lebih jauh, kuasa kepausan itu “menginjak-injak” kebenaran Allah di tanah sampai kepada akhir dari nubuatan 1260 tahun itu, dan berakhir dengan dipenjarakannya paus dalam tahun 1798. Tetapi “Tempat Kesucian” dan “Yang Sehari-hari” itu telah dihempaskan ke tanah oleh “Tanduk Besar” itu sampai tahun 1844. Pada waktu itulah ia kehilangan pengawasan atas mereka, maka kuasa dari “Pekabaran-Pekabaran Tiga Malaikat” mengangkat kebenaran itu dari tanah, atau dari “bawah telapak kaki” lalu menempatkannya di dalam sidang. Oleh sebab itu, “Tanduk Besar” itu adalah simbol dari keseluruhan periode Wasiat Baru sampai kepada kedatangan Kristus yang kedua kali -- sama hubungannya dengan kaki-kaki yang dari besi, dan telapak-telapak kaki dan jari-jari kaki dari patung besar Daniel pasal 2.

Semuanya ini adalah kenyataan-kenyataan yang tidak dapat dibantah. Tetapi, ada lagi suatu bukti lain yang memuat kenyataan yang sama. Kata nabi itu : “Maka sesudah tuanku (raja Babil) akan bangkit sebuah kerajaan yang lain yang lebih rendah daripada tuanku, dan sebuah kerajaan lain yang ketiga yang dari tembaga, yang akan memikul pemerintahan atas seluruh bumi.” (Daniel 2 : 39).

Kerajaan “tembaga” itu adalah diterima sebagai lambang Yunani, tetapi

kenyataannya adalah bahwa Yunani tidak pernah memikul pemerintahan atas seluruh bumi. Titik penjuru bumi yang terjauh yang berhasil dicapai oleh Alexander Agung ialah sebagian dari India. Kekaizaran Romawi pun tidak pernah memerintah atas seluruh bumi. Jadi bagaimana? Mungkinkah Daniel keliru dalam menginterpretasikan mimpinya? Jika sekiranya terdapat sesuatu kekeliruan, maka Daniel tidak dapat dipersalahkan. Tanggung jawab itu dengan sendirinya terletak pada Allah yang adalah pengawas dari semua tulisan, dan semua hasil interpretasi dari Alkitab. Kalau saja Daniel telah membuat kekeliruan, maka adalah kewajiban Tuhan Allah sendiri untuk mengendalikan dia memperbaikinya. Tetapi karena Allah adalah sempurna dalam semua pekerjaan-Nya, maka Ia tak mungkin membiarkan adanya kekeliruan terdapat di dalam Firman-Nya yang Suci. Daniel adalah benar dalam interpretasinya dan kerajaan “tembaga” itu harus memikul pemerintahan atas seluruh bumi, karena segala-galanya yang lain mungkin saja gagal, tetapi Firman Allah akan tetap berdiri selama-lamanya. 

Ketika tanduk yang terkenal dari kambing jantan yang terletak di antara kedua matanya itu (Alexander) patah, maka empat tanduk lainnya telah muncul keluar menggantikannya (yaitu empat bagian dari Yunani). Kemudian daripada ini sepucuk tanduk kecil yang lain muncul keluar dari salah satu dari keempat tanduk itu, maka ia itu bertumbuh menjadi sangat besar, arah ke selatan, dan arah ke timur, dan arah ke tanah yang permai itu. (Daniel 8 : 9). Perhatikanlah bahwa tanduk ini bertumbuh menjadi sangat besar. Artinya ia adalah lebih besar daripada tanduk yang terdapat “di antara kedua matanya itu” (Alexander). Tanduk yang sangat besar ini menuju arah ke selatan, dan arah ke timur, dan arah ke tanah yang permai itu (Yerusalem) seperti yang terdapat di dalam Mazmur 106 : 24 dan Zakharia 7 : 14. Secara geografis, Babil, dimana Daniel memperoleh khayalnya itu, adalah terletak di sebelah timur dari Yerusalem. Dengan demikian, maka dalam khayal itu “kambing jantan” itu berdiri di Babil. Untuk membuat lingkaran itu, maka tanduk itu dengan sendirinya telah pergi arah keempat penjuru mata angin, atau, seperti yang dikatakan Daniel, yaitu “arah ke selatan, dan arah ke timur, dan arah ke tanah yang permai itu.” Simbol itu menunjukkan bahwa tanduk yang sangat besar itu akan memperluas kerajaannya meliputi seluruh bumi -- empat penjuru mata angin. Kenyataannya adalah, bahwa tanduk itu melambangkan Romawi dalam tiga tahap pembagiannya -- yaitu Kekaizaran Romawi, Romawi Kepausan, dan dunia yang tidak stabil sekarang ini. 

Alkitab adalah benar dalam membuat penegasannya mengenai kerajaan tembaga itu, “bahwa ia itu akan memikul pemerintahan atas seluruh bumi”, karena tembaga itu melambangkan “kambing jantan” itu. Demikianlah nabi itu menegaskan : “Bahwa seekor kambing jantan telah keluar dari sebelah barat pada permukaan seluruh bumi.” (Daniel 8 : 5). 

Kalau saja Daniel telah mengatakan dari hal binatang yang tak tergambarkan itu, yaitu simbol dari kekaizaran Romawi, dan Romawi Kepausan, bahwa ia akan memikul pemerintahan atas seluruh bumi, maka pernyataannya ini akan terbukti tidak benar. Binatang yang tak tergambarkan itu, pada tahap pertamanya, adalah melambangkan kekaizaran Romawi, dan pada tahap keduanya, melambangkan Romawi Kepausan sampai tahun 1798, pada waktu mana binatang itu menemui ajalnya bersamaan dengan tertawannya Paus Pius VI, lalu tempatnya diteruskan oleh “binatang yang menyerupai macan tutul” dari Wahyu 13 : 1 – 3.

Perhatikanlah betapa tepatnya ilham. Kalau saja nabi itu telah mengatakan, bahwa “kerajaan besi itu akan memikul pemerintahan atas seluruh bumi”, maka itu sudah akan benar sejauh mana besi memerintah, tetapi penegasan yang sedemikian ini sudah akan menodai pelajaran yang indah ini yang diajarkan oleh kambing jantan simbolis itu. Apa yang benar dengan besi dan tanah liat, juga benar dengan kambing jantan itu; maka yang satu sejalan dengan yang lainnya.

Tanduk itu meliputi waktu sampai melampaui tahun 1798, dan sampai kepada kedatangan Kristus yang kedua kali, sejalan dengan besi (kaki-kaki, telapak-telapak kaki dan jari-jari kaki) dari patung besar dalam Daniel 2. Dari hal “tanduk” itu kita baca, “Ia itu akan patah tanpa pertolongan tangan”. (Daniel 8 : 25). Kata-kata yang sama ini juga digunakan terhadap kaki-kaki dan jari-jari kaki dari patung besar dalam Daniel 2 : 45. “Pada zaman raja-raja ini”, demikian Daniel tegaskan, “Allah di surga akan mendirikan sebuah kerajaan yang tidak pernah akan binasa.” (Daniel 2 : 44). Oleh sebab itu, peradaban yang ada sekarang ialah hasil dari kambing jantan itu, atau kerajaan tembaga. Kalau saja Ilham telah mengatakan kerajaan besi akan memikul pemerintahan atas seluruh bumi, maka ia itu sudah akan menodai gambaran itu, sebab emas, perak dan tembaga (sejarah Wasiat Lama) itu berdiri di atas kaki-kaki yang dari besi (sejarah Wasiat Baru). Dengan demikian simbol itu membuktikan, bahwa periode Wasiat Lama berdiri di atas sejarah Kristen (Kristus); dan periode Wasiat Baru mendapat makanan dari sejarah Wasiat Lama.

Tubuh dari patung besar, menggambarkan suatu mahluk hidup yang berisikan semua organ hidup, sejalan dengan Alkitab, sebab Wasiat Lama itu adalah rumah perbendaharaan Firman Allah yang besar, maka Wasiat Baru mendapat makanan dari Wasiat Lama. Dalam sejarah Wasiat Lama Tuhan telah menghimpunkan Firman Allah itu ke dalam Alkitab untuk memberi makan kepada dunia dalam sejarah Wasiat Baru. Wasiat Baru adalah kegenapan dari Wasiat Lama. Firman Allah mengeja kesempurnaan dalam berbagai cara. 

SABAT ITU “DIINJAK-INJAK” HANYA SEKALI 

Kami sekali lagi meminta perhatian anda kepada “perempuan itu” (sidang) dari Wahyu pasal 12, dimana kepada kita dikatakan bahwa kepadanya telah dikaruniakan “Dua buah sayap dari burung garuda yang besar supaya ia dapat terbang ke dalam padang belantara ..... bahwa mereka akan memberi makan kepadanya di sana seribu dua ratus enam puluh hari lamanya.” (Ayat 14, 6). Karena sayap-sayap dari singa (Babil) dan macan tutul berkepala empat itu (empat bagian kerajaan Yunani), (Daniel 7 : 4, 6) melambangkan periode-periode sejarah dunia, (lihat halaman 33 – 42, bahasa Inggris), maka demikian itu pula sayap-sayap dari perempuan itu juga harus melambangkan dua periode sejarah sidang yang besar. Burung garuda merupakan raja dari burung-burung, sayap-sayapnya harus melambangkan yang terutama, kepala atau yang pertama. Oleh sebab itu, masing-masing sayap harus merupakan simbol dari salah satu dari dua periode besar ini semenjak dari permulaannya. 

Kalau saja Ilham tidak menekankan kepada kenyataan bahwa sayap-sayap itu adalah dari seekor burung garuda yang besar, maka kita mungkin dapat menyimpulkan bahwa salah satu dari padanya mungkin melambangkan periode Wasiat Lama, dan yang lainnya untuk sejarah

Kristen. Tetapi perkataan, besar, tidak memperbolehkan penyimpulan-penyimpulan sedemikian ini. Jadi, salah satu dari sayap-sayap itu harus melambangkan sejarah sidang semenjak dari kejadian dunia sampai kepada penyaliban Kristus, dan yang lainnya itu dari semenjak kebangkitan Kristus sampai kepada akhir sejarah dunia ini. Di sini, juga, adalah mungkin bagi kita untuk menyimpulkan, bahwa sayap yang satu dapat saja melambangkan periode sejarah sebelum Alkitab muncul, dan sayap yang lainnya itu melambangkan periode sejarah Alkitab sesudah eksodus. Tetapi kata-kata dari Pewahyu mengabaikan pendapat yang sedemikian itu, karena katanya : “Maka kepada perempuan itu telah dikaruniakan dua sayap dari seekor burung garuda yang besar, supaya ia dapat terbang ke dalam padang belantara, yaitu ke tempatnya, dimana di sana ia akan dipelihara selama satu masa, dua masa dan setengah masa, jauh dari hadapan ular itu.” (Wahyu 12 : 14). Oleh sebab itu, maka kepadanya diberikan sayap-sayap itu untuk terbang ke dalam padang belantara dalam sejarah Wasiat Baru.

Simbol itu mengungkapkan, bahwa Allah memiliki hanya sebuah sidang (kebenaran) dalam segala zaman, dan bahwa salib Kristus adalah satu-satunya pusat perhatian. Pelajaran itu mengajarkan, bahwa sidang Allah melarikan diri ke dalam padang belantara hanya sekali dalam keseluruhan sejarahnya, dan itu terjadi sejak tahun 538 sampai tahun 1798 Tarik Masehi. Selama masa periode ini kebenaran-kebenaran mengenai Sabat dan Tempat Kesucian itu telah “dibuang ke tanah”, atau “diinjak-injak”. Oleh sebab itu, maka kelanjutan dari kebenaran-kebenaran ini belum pernah sebelum tahun 538 dihalangi oleh kepemimpinan sidang. Walaupun kebenaran-kebenaran Ilahi ini mungkin tidak selalu dipatuhi oleh para anggota atau para pemimpin di dalam sidang, namun kebenaran-kebenaran ini tetap ada bagi mereka yang memerlukannya. Demikianlah, kebenaran Allah yang kekal telah dapat dipelihara oleh umat-Nya, secara terbuka, sepanjang segala zaman terkecuali dalam masa periode di bawah pemerintahan kepausan.

Kembali perhatikan, bahwa kebenaran itu telah dibuang, dan “perempuan” itu (sidang) telah melarikan diri ke dalam padang belantara. Ilham mengatakan : “Allah menyediakan suatu tempat baginya, supaya mereka kelak memberi makan kepadanya di sana”. (Lihat ayat 6, 14). Dengan begitu, maka sementara kebenaran “dibuang” oleh kepemimpinan sidang dalam masa periode itu, dan sementara “kekejian ditegakkan”, Allah memiliki sebagian orang yang tidak kelihatan yang tetap memeliharakan Sabat itu dan memiliki pengetahuan tentang kebenaran Tempat Kesucian itu sepanjang keseluruhan 1260 tahun perjalanan di padang belantara. Dengan demikian ia telah dipeliharakan (diberi makan), yang mengungkapkan bahwa ia kelak akan kembali. 

PERBAKTIAN RANGKAP DUA SEPANJANG ZAMAN 

Oleh memperhatikan gambar bagan itu, maka sejarah tentang pemeliharaan Sabat dan Hari Minggu, atau perbaktian yang benar dan palsu itu, akan dapat dicatat. Pada mula pertama Tuhan menciptakan Adam dan Hawa, lalu menempatkan pasangan yang suci itu di dalam taman Allah, tetapi para leluhur kita yang pertama itu telah mendurhaka melawan petunjuk dari Yang Maha Tinggi, sehingga dosa telah masuk ke dalam tempat kediaman Eden itu. Untuk tetap mempertahankan rencana-Nya yang semula bagi keluarga manusia, maka Tuhan terpaksa menyingkirkan para leluhur kita itu keluar dari tempat tinggal Eden mereka. Bagi mereka telah  lahir anak-anak laki-laki dan perempuan; lihat Kejadian 5 : 4. Kedua puteranya yang pertama telah dibawa kepada perhatian kita oleh Alkitab dalam

suatu perbedaan yang sangat menyolok, dan seorangnya yang seharusnya diperhatikan dengan seksama oleh setiap orang yang mengaku beragama. 

Pengorbanan dan peribadatan dari kedua anak yang pertama itu di dalam keluarga manusia, mengungkapkan bahwa Juruselamat dunia telah memberitahu rencana keselamatan Ilahi kepada keluarga Adam. Cara peribadatan mereka yang diciptakan oleh Khalik Sendiri, adalah sempurna, dan mampu untuk menyelamatkan orang berdosa dari dosanya. Kepatuhan beragama yang sungguh-sungguh dari Habil, yang sesuai dengan petunjuk dari Allah yang disembahnya, menunjukkan bahwa hanya peribadatan yang sedemikian, yaitu hormat dan pujian, yang dapat berkenan kepada Allah. Kain tidak menghiraukan perintah, sehingga dengan mempersembahkan barang yang tidak diminta oleh Allah, ia telah memulai mendirikan agama ciptaannya sendiri. Karena ia tak lama kemudian telah membunuh saudaranya maka ini hendaklah menjadi suatu contoh pelajaran bagi semua orang : bahwa sesuatu peribadatan yang sesuai dengan kecenderungan hati manusia, betapapun baik dan suci tampaknya sekalipun, ia itu tidak dapat menyucikan dan menyelamatkan penganutnya. Bahkan sebaliknya ia akan jatuh lebih dalam lagi dalam dosa dan akhirnya kebinasaan. Barangsiapa yang cenderung untuk menganiaya orang-orang yang tidak beribadah seperti mereka, ialah orang yang sedang menyembah sujud bersama-sama dengan Kain pada mezbah yang dibuat dari batu bata. Mezbah-mezbah yang sedemikian ini adalah buatan tangan manusia yang telah merubah bentuknya daripada yang aslinya; dan walaupun jauh lebih menarik daripada mezbah batu kelihatannya, tidak akan terdapat kuasa penyucian di dalamnya, dan peribadatan mereka itu adalah seperti racun yang mematikan. Kenyataannya tidak dapat dibantah bahwa kedua bentuk peribadatan itu (yang benar dan yang palsu) telah diperkenalkan pada kira-kira bersamaan waktunya, dan telah berjalan bersama-sama. Keduanya tampaknya suci dan telah diatur kira-kira dengan cara yang sama, dengan perbedaannya bahwa yang satu adalah sesuai dengan kitab dan hukum Allah, sedangkan yang lainnya tidak. 

Kedua garis jejak pada gambar itu, pada pihak Habil, adalah melambangkan kebenaran Allah yang kekal, yaitu Sabat dan Tempat Kesucian. Sabat itu berasal dari taman Allah. “Dan pada hari yang ketujuh Allah mengakhiri pekerjaan-Nya yang telah diperbuat-Nya; dan berhentilah Ia pada hari yang ketujuh itu dari segala pekerjaan-Nya yang telah diperbuat-Nya. Lalu diberkati Allah akan hari yang ketujuh itu dan disucikan-Nya dia : sebab di dalam Sabat Ia telah berhenti dari semua pekerjaan-Nya yang Allah ciptakan dan perbuat.” (Kejadian 2 : 2, 3). 

Karena dosa, maka kebenaran tentang tempat kesucian itu telah dipertambahkan sesudah kejatuhan Adam. Kedua kebenaran itu adalah sangat penting. Kita memelihara Sabat untuk menghindari dosa, tetapi kebenaran Tempat Kesucian itu adalah untuk menyelamatkan kita setelah kita berdosa. Yang satu adalah untuk memeliharakan kita dari kejatuhan, dan yang lainnya adalah untuk mengobati jika kita jatuh! Jika, setelah menerima pengetahuan dari hal kebenaran itu, kita melanggar Sabat, maka kita telah berdosa dan telah menyangkal Khalik, yang jauh lebih buruk daripada dosanya Adam. Karena tidak menyesuaikan diri dengan kebenaran Tempat Kesucian itu, maka kita menolak rencana Allah itu (atau obat), dan kita menolak Penebus dari Keselamatan kita. Bacalah buku “The Desire of Ages”, halaman 165. Sabat adalah sebagian dari Hukum Sepuluh

Perintah itu. (Keluaran 20 : 1 – 17). Kebenaran Tempat Kesucian itu ialah hukum bagi penyelamatan kita, sesudah kita berdosa. Adam telah berdosa karena memakan buah yang terlarang. Lucifer telah berdosa karena meninggikan dirinya seperti Allah. Katanya : “Aku hendak naik ke dalam surga, aku hendak meninggikan tahtaku di atas segala bintang Allah : aku juga hendak duduk di atas bukit perhimpunan, pada segala sisi dari sebelah utara : aku hendak naik di atas segala ketinggian awan-awan; aku ingin sama dengan Yang Maha Tinggi.” (Yesaya 14 : 13, 14). 

Oleh memakan buah yang terlarang, maka Adam telah melanggar hukum (makanan) kesehatan, dan karena berbuat demikian itu, ia juga, secara tidak langsung telah melanggar Hukum Sepuluh Perintah itu; karena oleh mendurhaka melawan Firman Allah ia telah mempermalukan-Nya seperti halnya seorang anak mempermalukan ayah duniawinya karena pendurhakaannya, sehingga dengan demikian ia melanggar perintah yang kelima. (Keluaran 20 : 12). Oleh sebab itu, Adam berdosa melanggar dua hukum, sebaliknya Lucifer hanya melanggar satu, yaitu Hukum Sepuluh Perintah, sebab ia tidak memakan apapun yang dilarang Allah. 

Pendurhakaan Adam telah membawa dirinya ke kubur (abu tanah); karena, sesudah makan buah yang terlarang itu, ia itu telah bereaksi pada keadaan fisiknya, sehingga dengan demikian kejahatan itu menurun dari ayah kepada anaknya. Tetapi karena Lucifer tidak mendurhaka melawan hukum kesehatan, maka kematian alami tidak berkuasa atas dirinya. Adam, oleh kepatuhannya kepada petunjuk-petunjuk yang telah disediakan bagi penebusannya -- menerima pengobatan -- akan dibuat hidup oleh kebangkitan kembali. Kepada Lucifer, karena menolak kesempatan yang sama dan karena menyesatkan keluarga manusia, maka Allah berfirman : “Engkau akan dicampakkan ke dalam neraka, ke segala sisi lubang yang dalam itu.” (Yesaya 14 : 15). “Engkau adalah sempurna dalam segala jalanmu semenjak dari hari engkau diciptakan, sampai kepada masa kejahatan ditemukan di dalam dirimu. ..... Aku akan membinasakan dikau, hai cherubium yang menaungi, dari antara segala permata yang gemerlapan itu. ..... Kamu telah mengotori segala tempat kesucianmu dengan begitu banyak kejahatanmu, dengan kejahatan perniagaanmu; maka sebab itu, aku akan menyuruh keluar api dari tengah-tengahmu, ia itu akan menelan kamu, dan aku akan membuat kamu menjadi abu di atas bumi di hadapan mata segala orang yang memandang akan dikau. Semua mereka yang mengenal kamu di antara segala bangsa akan tercengang akan dikau : engkau akan menjadi suatu kengerian, dan engkau tidak pernah akan ada lagi.” (Yehezkiel 28 : 15, 16, 18, 19).

Terdapat di sini suatu pelajaran yang patut mendapatkan perhatian kita. Hendaklah orang berdosa menempatkan jarinya atas dosanya. Oleh mengabaikan firman Allah dalam bentuk apapun, engkau akan melanggar salah satu atau lebih daripada hukum-hukum-Nya yang kekal. Ini adalah kesempatanmu yang terakhir untuk menerima atau untuk menolak keselamatan. Kemurahan sedang mengetuk pada pintu untuk yang terakhir kalinya. Maukah Saudara, dan Saudari, menyerahkan hatimu kepada Allah? 

Perhatian para pembaca sekali lagi diminta melihat kepada gambar bagan itu. Garis jejak rangkap dua yang melewati Habil dan mengelilingi salib itu menunjukkan, bahwa kebenaran-kebenaran Sabat dan Tempat Kesucian itu adalah kekal dan samawi, dan bahwa pengakuan akan kesucian kebenaran-kebenaran itu tidak pernah dibuang

keluar dari sidang Allah sampai setelah tahun 508 Tarik Masehi; pada waktu mana “kambing jantan” dengan tanduknya yang besar itu “membuang kebenaran itu ke tanah”. Tetapi dalam tahun 1844 oleh kuasa dari “Pekabaran-Pekabaran Tiga Malaikat”, kebenaran Allah kembali diterangi. Terbukti bahwa Sabat dan Tempat Kesucian itu, (hukum dan Injil) adalah tak dapat dipisahkan. Jika anda pernah tidak mematuhi firman Allah dalam setiap bentuknya, maukah anda sekarang, pada panggilan yang terakhir ini, mengatakan : “Tuhan, di sinilah hamba. Ambillah dari padaku hati batuku ini dan karuniakanlah kepadaku suatu hati daging.”  Malaikat sedang menunggu hendak memeteraikan anda dengan meterai Allah. Maukah anda memilih kegelapan daripada terang? Karena malaikat itu sedang menerangi bumi dengan kemuliaannya, maka maukah anda membiarkan dia menerangi hatimu? Hanya sebentar lagi dan kebenaran Allah akan menang, mengapakah engkau ketinggalan di belakang? Maukah anda berbakti dengan keras kepala, seperti Kain, dengan suatu agama yang tidak dapat menyelamatkan? Maukah anda mempermalukan Juruselamat yang telah mati bagimu, dan menghormati penentang dan musuh daripada jiwamu? Mengapakah anda hendak binasa sebentar lagi dalam seribu tahun millenium yang gelap itu? (Ikutilah gambar itu). Maukah anda bersedia apabila Yesus datang kelak menjemput orang-orang suci-Nya untuk dibawa ke tempat-tempat tinggal yang di atas? Catatlah bahwa pemeliharaan kebenaran ialah kereta yang menuju ke kota Allah. “Marilah kita dengarkan kesimpulan dari segala perkara itu : Takutlah akan Allah, dan peliharakanlah perintah-perintah-Nya : karena inilah keseluruhan kewajiban manusia.” (Pengkhotbah 12 : 13). 

Bahwa 1290 dan 1335 “hari” (tahun) itu, yang berkaitan dengan “yang sehari-hari” dan “tempat kesucian” dari Daniel 12 : 11, 12, adalah kini telah dapat dimengerti untuk pertama kalinya. Karena inilah waktunya dimana kebenaran-kebenaran itu diungkapkan, maka terbuktilah bahwa kita sedang menangani kebenaran sekarang. Oleh sebab itu, maka Firman ini sedang berbicara langsung kepada kita pada waktu sekarang ini. Dengan demikian, kutuk-kutuk maupun berkat-berkat yang disebutkan di dalam pasal ini berlaku terhadap generasi ini, dan kepada kita diberikan kesempatan istimewa untuk memilih salah satu dari keduanya itu. 

Adalah perlu supaya kita mengomentari dahulu ayat 10 dari Daniel 12, karena ia itu mengemukakan kenyataan bahwa pada masa Injil ini diungkapkan, “Banyak orang akan disucikan dan dibuat menjadi putih, dan dicobai; tetapi orang-orang jahat akan makin berbuat kejahatan dan tak seorangpun dari mereka akan dapat mengerti; tetapi orang-orang bijaksana akan mengerti.” Oleh sebab itu, adalah perlu supaya kita berpaling dari segala dosa dan memisahkan diri kita dari setiap jalan yang sesat, dengan demikian kita akan memiliki suatu pandangan yang jelas, sehingga kita dapat mengerti.

“Maka pada masa itu akan bangkit berdiri Mikhail, yaitu penghulu besar yang berdiri membela bani bangsamu : maka akan ada suatu masa kesusahan, yang sedemikian itu belum pernah terjadi semenjak berdirinya sesuatu bangsa sampai kepada masa itu : maka pada masa itu umatmu akan dilepaskan, yaitu setiap orang yang kelak didapati namanya tersurat di dalam kitab.” (Daniel 12 : 1). Nama “Mikhail”, berarti “yang sama dengan Allah”. “Kristus ialah bayangan yang nyata dari Bapa”, dan Penghulu besar dari umat-Nya.

Demikianlah gelar itu menunjuk kepada Kristus. Pada waktu ini, Kristus (Mikhail) akan bangkit berdiri bagi umat-Nya, maka setiap orang akan dilepaskan, yaitu mereka yang didapati tertulis namanya di dalam “Kitab Itu”. Dengan demikian umat Allah tidak perlu takut dalam masa kesukaran itu. 

“Maka banyak dari mereka yang tidur di dalam lebu bumi akan bangkit, sebagian kepada kehidupan yang kekal, dan sebagian kepada malu dan kehinaan yang kekal.” (Daniel 12 : 2). Dapatlah dicatat bahwa kebangkitan yang diramalkan dalam Firman ini adalah kebangkitan campuran — sebagian adalah orang-orang benar, sebaliknya yang lainnya adalah orang-orang jahat. Oleh sebab itu, ini adalah suatu kebangkitan istimewa, dan terlepas dari kebangkitan  yang dimaksudkan di dalam 1 Tesalonika 4 : 16, 17, karena ayat itu mengatakan dengan jelas : “Tuhan sendiri akan turun dari surga dengan suatu seruan keras, dengan suara penghulu malaikat, dan dengan sangkakala Allah : maka orang-orang mati dalam Kristus akan pertama-tama bangkit : kemudian kita yang hidup dan yang masih tinggal ini akan diangkat bersama-sama dengan mereka di dalam awan-awan, untuk bertemu dengan Tuhan di angkasa : dan demikianlah kita akan bersama-sama dengan Tuhan untuk selama-lamanya.” 

Yohanes juga menjelaskannya bahwa hanya orang benar yang akan dipanggil keluar pada saat kedatangan Tuhan, karena katanya : “Berbahagialah dan kuduslah orang yang mendapat bagian dalam kebangkitan yang pertama : terhadap mereka ini mati yang kedua tidak berkuasa.” (Wahyu 20 : 6). Dengan sendirinya, maka kebangkitan campuran itu harus mendahului kebangkitan yang terjadi pada saat kedatangan Kristus di dalam awan-awan. Mereka yang bangkit kepada “kehinaan yang kekal” adalah orang-orang yang telah menikam Kristus, dengan demikian menggenapi Firman yang berikut ini : “Tengoklah, Ia datang di awan-awan; dan setiap mata akan melihat Dia, dan juga mereka yang telah menikam Dia.” (Wahyu 1 : 7). 

“Maka mereka yang bijaksana itu akan bercahaya seperti cerahnya cakrawala; dan mereka yang membalikkan banyak orang kepada kebenaran itu seperti bintang-bintang selama-lamanya.” (Daniel 12 : 3). Mereka yang “bijaksana” adalah orang-orang yang akan “mengerti”, maka mereka akan membalikkan banyak orang kepada kebenaran; dengan demikian mereka akan bercahaya-cahaya seperti bintang-bintang “selama-lamanya”. Mereka ini bukanlah orang-orang yang telah dibangkitkan dalam kebangkitan istimewa itu, karena ia itu akan terjadi sesudah masa kasihan berakhir, dan kira-kira pada akhir dari bela yang ketujuh, sedikit waktu menjelang kedatangan Tuhan. Dengan demikian orang-orang yang bangkit itu tidak akan mempunyai kesempatan untuk membalikkan seseorang pun kepada kebenaran. Oleh sebab itu, mereka yang kelak bercahaya-cah `aya seperti bintang-bintang adalah 144.000 itu, berikut semua orang yang akan kelak mendapat bagian dalam pekerjaan Injil yang terakhir. Bayangkanlah betapa mulianya janji itu! Adakah sesuatu yang seperti itu di seluruh dunia? Apakah yang dapat anda perbandingkan dengan kebahagiaan surga di hadapan hadirat Allah? Kehidupan kekal, tanpa ada sakit atau air mata! Lihat Wahyu 7 : 17, dan Yesaya 11 : 6, 7; 65 : 25.

 “Tetapi akan dikau, hai Daniel, tutuplah segala perkataan ini, dan meteraikanlah kitab itu, sampai kepada akhir zaman : banyak orang akan berlarian pergi datang, dan pengetahuan akan dipertambahkan.” (Daniel 12 : 4). Bukti yang lebih jelas apakah yang dapat kita tanyakan untuk menginsyafkan kita, bahwa sekaranglah masa akhir

zaman itu? Sudahkah pengetahuan dipertambahkan? Adakah banyak orang sedang berlari-larian pergi datang? Jika Daniel tidak menceritakan bagaimana berlari-larian itu dilakukan, maka Nahumlah yang menceritakannya : “Kereta-kereta akan didapati dengan obor-obor yang bernyala-nyala pada hari persiapan-Nya ..... Kereta-kereta itu (mobil-mobil) akan melaju di jalan-jalan, mereka akan kejar mengejar di jalan-jalan raya : mereka akan terlihat seperti obor-obor, mereka akan berlarian seperti kilat.” (Nahum 2 : 3, 4). Nubuatan ini sudah dimengerti saat ini, membuktikan bahwa “kitab itu” telah diungkapkan, dan bahwa masa akhir zaman itu sudah ada dengan kita. 

“Kemudian aku Daniel melihat, tengoklah, ada berdiri dua orang yang lain, yang seorang pada tepi sungai sebelah sini, dan yang lainnya pada tepi sungai sebelah sana. Maka salah seorang mengatakan kepada orang yang berpakaikan kain kasah, yang berdiri di atas segala air sungai itu, berapa lama lagi kelak berakhir segala keajaiban ini? Lalu ku dengar orang yang berpakaikan kain kasah itu yang di atas segala air sungai itu, pada waktu ia mengangkat tangan kanannya dan tangan kirinya ke langit dan bersumpah demi Dia yang hidup selama-lamanya bahwa ia itu akan jadi selama satu masa, dan dua masa dan setengah masa; dan apabila ia kelak sudah selesai mencerai-beraikan kekuatan dari umat kesucian, maka semua perkara ini akan berakhir.” (Daniel 12 : 5 – 7). 

Pertanyaan yang dikemukakan : “Berapa lama lagi kelak berakhir segala keajaiban ini?” Jawabannya adalah, bahwa ia itu “akan jadi selama satu masa (satu tahun), dua masa (dua tahun), dan setengah masa (setengah tahun).” Satu bulan sama dengan 30 hari, satu tahun sama dengan 12 bulan, keseluruhannya sama dengan 1260 hari nubuatan (tahun). 

Masa periode nubuatan itu menunjuk ke belakang kepada kejayaannya kepausan, dan aniaya terhadap umat Allah dari tahun 538 sampai tahun 1798 Tarik Masehi yang lalu. (Lihat Daniel 7 : 25, dan Wahyu 12 : 6, 14; 13 : 5). Akhir dari masa periode nubuatan yang panjang itu dimana kepausan telah mencerai-beraikan kekuatan dari umat kesucian, ialah pada 130 tahun yang lalu. Malaikat itu menyatakan, dalam masa ini “semua perkara ini akan berakhir”. Bukankah semuanya ini membuktikan bahwa kita sekarang berada pada ambang dari kekekalan itu?

Maukah Saudara, maukah Saudari, memakaikan dirimu dengan kebenaran Kristus? Atau maukah anda menunggu lebih lama lagi, sampai setelah masa penuaian berlalu? Seseorang kelak akan mengucapkan kata-kata berikut ini dengan kekecewaan besar : “Penuaian telah berlalu, musim panas telah berakhir dan kita belum juga selamat.” (Yeremia 8 : 20). Siapakah kelak orang itu, Saudarakah, sayakah?

“Setelah ku dengar itu, tetapi tiada aku mengerti : lalu kataku, Oh Tuhanku, apakah kelak akhir dari segala perkara ini? Maka katanya : Pergilah, hai Daniel : karena segala perkara ini tertutup dan termeterai sampai akhir zaman.” (Daniel 12 : 8, 9). Masih tertutupkah semuanya itu sekarang? Jika tidak, maka bukankah sekarang ini waktu itu yang dimaksudkan oleh nabi itu? “Berbahagialah orang yang menanti-nanti, dan yang sampai kepada seribu tiga ratus tiga puluh lima hari itu.” (Daniel 12 : 12).

BINATANG (666), NABI PALSU, IBU SEGALA SUNDAL, ORANG DURHAKA ITU, SIAPAKAH MEREKA ITU? 

Angka bilangan mistik “666” dari binatang di dalam Wahyu 13 : 18, yang diaplikasikan kepada kepausan, terbukti tidak berdasarkan Injil dan bahkan tidak beralasan sama sekali. Jika huruf-huruf yang bersifat angka dari gelarnya Paus itu mengandung angka 666, maka masih ada banyak gelar lagi yang lain, maupun nama-nama perseorangan yang mengandung angka bilangan yang sama. Dengan hanya menghitung nilai angka dari huruf-huruf di dalam sesuatu gelar atau nama, kita akan menemukan banyak yang cocok, sebab itu kita harus mencarikan bukti Alkitab untuk membuat aplikasinya. Jika kita tidak membuktikan pendapat itu sedemikian ini, maka tidak akan tepat dan tidak adil mengaplikasikan simbol itu kepada seseorang pribadi.

Pendapat mengenai aplikasi simbolis dari nabi palsu pada Wahyu 19 : 20, perempuan yang mengendarai binatang merah kirmizi dari Wahyu 17, binatang yang menyerupai macan tutul dari Wahyu 13, binatang merah kirmizi dari Wahyu 17, dan binatang tak tergambarkan dari Daniel 7, yang dikatakan sebagai simbol-simbol dari kepausan, adalah tidak berdasarkan Alkitab dan juga tidak logis.

“Maka aku tampak seekor binatang lain datang keluar dari bumi; ia bertanduk dua seperti tanduk anak domba, dan ia berbicara seperti seekor naga. Maka ia melakukan semua kekuasaan dari binatang yang pertama yang mendahuluinya, dan menyebabkan bumi berikut semua orang yang diam di dalamnya supaya menyembah binatang yang pertama itu, yang luka parahnya telah sembuh. Dan ia melakukan berbagai tanda ajaib yang besar, sehingga ia menurunkan api dari langit ke atas bumi di hadapan mata orang banyak, Dan menyesatkan mereka yang diam di bumi dengan perantaraan segala tanda ajaib itu yang diberi kuasa kepadanya untuk dilakukan di hadapan binatang itu; sambil mengatakan kepada mereka yang diam di bumi, bahwa mereka harus membuat sebuah patung bagi binatang itu, yang sudah kena luka pedang, tetapi telah hidup kembali. Maka ia pun memiliki kuasa untuk memberi napas hidup kepada patung binatang itu, supaya patung binatang itu berkata-kata, dan membuat seberapa banyak orang yang tiada menyembah patung binatang itu harus dibunuh. Maka ia membuat semua orang, kecil besar, kaya miskin, merdeka ataupun hamba, supaya semuanya itu menerima suatu tanda dalam tangan kanan mereka, atau pada dahi mereka : dan supaya tiada seorangpun dapat berjual beli, terkecuali orang yang memiliki tanda itu, atau nama dari binatang itu, atau angka bilangan dari namanya. Di sinilah hikmat. Hendaklah orang yang mengerti menghitung angka bilangan binatang itu : karena ia itu adalah angka bilangan dari seseorang; dan bilangannya ialah enam ratus enam puluh enam.” (Wahyu 13 : 11 – 18).

“Dan ia menyesatkan mereka yang diam di bumi oleh perantaraan tanda-tanda ajaib itu yang mana ia telah memiliki kuasa untuk dilakukan di hadapan mata

__ GAMBAR __

binatang itu.” (Ayat 14). Binatang yang dibicarakan di sini ialah binatang yang bertanduk seperti tanduk anak domba. Tetapi ada seseorang yang lain yang telah  diperkenalkan dengan kata pengganti “dia” (he), yang “memiliki kuasa untuk melakukan berbagai keajaiban di hadapan mata binatang itu” (binatang yang seperti anak domba). Firman berikut ini akan memperjelas siapa orang itu yang melakukan berbagai keajaiban itu :

 “Maka binatang itu tertangkaplah dan bersama dengan dia nabi palsu itu yang telah mengadakan berbagai tanda ajaib di hadapannya (di hadapan binatang yang bertanduk dua itu) dengan mana ia telah menyesatkan mereka yang telah menerima tanda binatang itu, dan mereka yang telah menyembah patungnya. Keduanya ini dicampakkan hidup-hidup ke dalam lautan api yang bernyala-nyala yang bercampur belerang.” (Wahyu 19 : 20). Oleh sebab itu, maka tanda-tanda ajaib itu adalah dilakukan oleh nabi palsu itu di hadapan mata binatang yang bertanduk dua itu. 

Ada banyak binatang yang dibicarakan di dalam Alkitab, tetapi binatang yang bertanduk dua ini ialah satu-satunya yang dapat disebut dengan kata-kata “seseorang”. Dapatlah dicatat bahwa semenjak dari ayat 11 dan seterusnya, dari Wahyu pasal 13 itu, Injil terus berbicara mengenai binatang yang bertanduk dua dan mengakhiri dengan kata-kata : “Karena ia itu adalah angka bilangan dari seseorang; dan bilangannya ialah enam ratus enam puluh enam.” Oleh sebab itu, bilangan mistik ”666” itu, tak lain adalah kepunyaan binatang yang bertanduk dua itu. Tetapi bagaimanapun juga, kita tidak mungkin menyimpulkan begitu saja, bahwa tidak ada seorang- pun sebelumnya yang dapat memiliki sebuah angka bilangan yang sedemikian itu. 

Pendapat yang menyebut kepausan itu dengan binatang adalah sama sekali keliru. Kepausan telah dilambangkan dengan simbol-simbol pada dua binatang yang berbeda. Pertama, pada “binatang yang tak tergambarkan” dari Daniel 7, dilambangkan oleh “tanduk kecil yang memiliki mata seperti mata manusia, dan sebuah mulut yang membicarakan perkara-perkara besar”; kedua, pada “binatang yang menyerupai macan tutul” dari Wahyu 13, dilambangkan oleh kepala yang telah “terluka membawa mati”. Binatang-binatang ini adalah universal, melambangkan seluruh dunia dalam sejarah mereka, baik sipil maupun agama. Oleh sebab itu, tidak mungkin dapat dikatakan terhadap salah satu binatang itu dengan kata-kata, “ia itu adalah ..... seseorang”. Kepausan hanya merupakan sebagian dari kedua binatang (tanduk-kepala pada binatang yang satu, dan hanya sebuah kepala yang terluka pada binatang yang lainnya) tidak mungkin dapat disebut “binatang itu”. Binatang yang bertanduk dua itu adalah satu-satunya binatang yang melambangkan sebuah pemerintahan agama-politik setempat. Oleh sebab itu, maka dia sajalah yang dapat disebut dengan kata-kata, ia itu adalah “seseorang”. Dengan demikian siapapun saja yang kelak berdiri pada pucuk pimpinan dari kuasa penganiaya itu seperti yang digambarkan di dalam pasal ini, dan yang dilambangkan oleh binatang itu, maka dialah orang itu yang kelak membawa angka bilangan mistik 666 itu. Roh Nubuat juga menegaskan bahwa “Raja dari utara” yang dikemukakan di dalam Daniel 11 : 45, dan binatang bertanduk dua dari Wahyu 13, ialah penguasa yang sama dan bahwa ialah yang akan membawa angka bilangan mistik 666 ini. Kami mengutip : “Penguasa ini adalah yang terakhir yang menginjak-injak sidang Allah yang benar : maka sementara sidang yang benar itu masih diinjak-injak, dan dibuang oleh seluruh dunia Kristen, menyusul lagi bahwa kuasa penindasan yang terakhir itu belum ‘mencapai ajalnya’; dan Mikhail belum berdiri. Kuasa yang terakhir ini yang menginjak-injak umat kesucian adalah dikemukakan di dalam Wahyu 13 : 11 - 18.

Angka bilangannya ialah 666.” -- “A Word to the Little Flock”, pp. 8, 19. Kami telah membuktikan kebenaran angka bilangan itu dengan satu cara, maka kini kami akan membuktikannya dengan cara yang lain.      

KEBINASAAN DARI BINATANG DAN NABI ITU 

Kebinasaan dari “nabi palsu” dan “binatang” itu adalah jelas diramalkan : “Maka binatang itu tertangkaplah, dan bersama dengan dia nabi palsu itu yang telah melakukan berbagai tanda ajaib di hadapannya ..... Keduanya ini dicampakkan hidup-hidup ke dalam lautan api ..... Maka mereka yang lagi tinggal itu dibunuh dengan pedang dari dia yang duduk di atas kuda, pedang yang keluar dari dalam mulutnya : maka semua burung kenyanglah dengan daging mereka itu.” (Wahyu 19 : 20, 21). Nasib mereka yang terakhir adalah diselesaikan dengan cara dicampakkan hidup-hidup ke dalam suatu lautan api. Tetapi dunia selebihnya (“mereka yang lagi tinggal itu”) sekaliannya dibunuh dengan “pedang yang keluar dari dalam mulut-Nya : maka segala burung kenyang dengan daging mereka itu.”  

Lautan api ke dalam mana binatang dan nabi palsu itu dibuang, tidak mungkin terjadi pada kedatangan Kristus di dalam awan-awan, sebab orang-orang jahat itu bukannya dibinasakan oleh api pada waktu itu, melainkan “Dengan roh dari mulut-Nya, dan Ia akan membinasakan dengan cahaya kedatangan-Nya.” (2 Tesalonika 2 : 8). Binatang dan nabi palsu itu dibuang ke dalam lautan api sesudah bela yang keenam dan sebelum akhir dunia ini. Kebinasaan “mereka yang lagi tinggal” itu, yaitu orang-orang yang tertinggal setelah kebinasaan binatang dan nabi palsu itu, bukanlah sesudah seribu tahun millenium itu, karena orang-orang jahat pada waktu itu bukannya dibinasakan dengan pedang yang “keluar dari dalam mulut-Nya”, melainkan oleh api yang “turun dari Allah dari dalam surga yang menelan mereka itu”. (Wahyu 20 : 9). Sesudah seribu tahun millenium dan kebinasaan orang jahat tidak ada satupun mahluk hidup yang akan memakan sesamanya. (Lihat Yesaya 11 : 6 – 9). Oleh karena itu, maka binatang dan nabi palsu itu dibuang ke dalam lautan api pada sebelum seribu tahun millenium; dan bahwa lautan api itu menjadi sebuah contoh dari kebinasaan orang-orang jahat pada seberang sana dari seribu tahun millenium itu -- kematian yang kedua -- karena kebinasaan terakhir dari keseluruhan orang banyak itu adalah digambarkan dalam kata-kata : “Maka kematian dan neraka dicampakkan ke dalam suatu lautan api. Inilah kematian yang kedua. Maka barangsiapa yang tidak didapati namanya tersurat di dalam kitab hayat dicampakkan ke dalam lautan api itu.” (Wahyu 20 : 14, 15). Demikianlah kepada dunia akan diberikan suatu contoh mendahului seribu tahun millenium itu, mengenai kebinasaan yang terjadi sesudah berakhir masa seribu tahun itu. Contoh dari binatang dan nabi palsu itu akan menunjukkan, bahwa semua orang jahat kelak akan dicampakkan hidup-hidup ke dalam suatu lautan api, dan itulah kematian yang kedua. Berbicara mengenai kebinasaan kekal dari Iblis, Firman menegaskan : “Maka Iblis yang telah menyesatkan mereka itu dicampakkan ke dalam suatu lautan api dan belerang, di mana binatang dan nabi palsu itu berada.” (Wahyu 20 : 10). Artinya, binatang dan nabi palsu itu tidak akan bangkit keluar

dalam kebangkitan yang kedua, dan ini memberi contoh bahwa tidak ada kebangkitan apapun lagi dari kematian yang kedua. Kembali kita saksikan adanya sebuah contoh bagi setiap peristiwa, maka janganlah seorangpun meremehkan contoh-contoh, karena dimana tidak ada contoh, di sanapun tidak terdapat kebenaran. Angka bilangan 666 itu selanjutnya dibuktikan dengan 

KEBINASAAN DARI “ORANG DURHAKA” ITU 

Tandailah dengan seksama, sesuai dengan tulisan kesaksian berikut ini, kebinasaan dari kepausan adalah pada suatu kesempatan yang lain dan dengan proses yang berbeda. “Paulus mengatakan dengan jelas bahwa orang durhaka itu akan berlangsung terus sampai kepada kedatangan Yesus yang kedua kali. Sampai kepada menjelang akhir sejarah ia akan memajukan pekerjaan penipuannya.” -- “The Great Controversy”, p. 579. Dengan demikian kepausan akan tetap bertahan sampai kepada kedatangan Kristus yang kedua kali, pada waktu mana orang-orang jahat akan dibinasakan oleh cahaya kedatangan-Nya. Oleh sebab itu, maka kepausan adalah masalah tersendiri, dan nabi palsu itu adalah masalah lain, dan binatang itu masalah lain lagi. Binatang “666” dan nabi palsu yang akan dibuang ke dalam lautan api, adalah orang-orang yang akan mengembangkan patung dari binatang itu -- yaitu suatu ibadah yang sama dengan yang berlaku selama masa periode 1260 tahun yang lalu.

Zaman kesesatan yang menyeluruh itu sudah dekat sekali di ambang pintu. Untuk melepaskan diri dari jerat terkuat yang pernah dipasang oleh kebesaran penipuan Setan, maka diperlukan pengetahuan theologi luas yang lebih lagi. Tanda-tanda ajaib yang menakjubkan akan sangat meyakinkan, dan roh peribadatan yang terlihat murni akan menanamkan keyakinan yang mendalam pada diri orang-orang yang menjadi mangsa untuk disesatkan. Sementara orang-orang besar dunia menyatakan benar peribadatan dari ajaran palsu itu, maka beribu-ribu orang akan menyambut keputusan-keputusan mereka itu tanpa melakukan penyelidikan pribadi. Sebagai tambahan kepada semuanya ini adalah deklarasi dari penguasa-penguasa sipil berikut ini : “Seberapa banyak orang yang tidak mau menyembah patung binatang itu harus mati dibunuh”, maka kita memiliki suatu kuasa di atas segala-galanya yang kekuatan manusia tak dapat melawan barang sekejap pun. Hanya dengan memiliki suatu pengetahuan kebenaran nubuatan, disertai keyakinan dalam sesuatu “demikianlah firman Tuhan”, dan dalam kuasa Roh Suci, dapatlah seseorang melepaskan diri dari jerat-jerat Iblis yang licik itu. 

IBU DARI SEGALA SUNDAL BUKAN BINATANG ITU 

Telah dijelaskan bahwa kepausan akan tetap tinggal sampai kepada yang terakhir. Jika perempuan yang menunggangi binatang merah kirmizi itu (Babil yang besar) mencapai ajalnya pada suatu masa yang berbeda dan dengan cara yang lain, maka ia tidak mungkin merupakan simbol dari kepausan seperti yang disangka sebagian orang. Wahyu 17 : 16, dalam membicarakan perempuan itu dan tanduk-tanduk dari binatang merah kirmizi, mengatakan : “Maka sepuluh tanduk yang engkau lihat pada binatang itu, semuanya ini akan membenci perempuan sundal itu, dan mereka akan membuatnya sunyi dan bertelanjang, dan mereka akan makan dagingnya, dan membakarnya dengan api.”

Perhatikanlah, ia tidak dibuang ke dalam lautan api seperti halnya binatang dan nabi palsu itu, melainkan mereka (tanduk-tanduk) “akan membuatnya sunyi dan bertelanjang dan akan memakan dagingnya.” Dengan demikian kebinasaan perempuan itu adalah pada suatu masa yang berbeda, dan dengan cara yang lain daripada yang dialami kepausan, nabi palsu, dan binatang itu. Oleh karena apa yang telah dikatakan itu tidak mungkin dapat dibantah, maka jelaslah “binatang” itu adalah masalah tersendiri, “nabi palsu” adalah masalah lain, dan kepausan masalah lain lagi, dan “perempuan” itupun adalah masalah lain pula. Adalah penting sekali agar segala perkara ini dapat dipahami dengan tepat,  karena hanya oleh pengetahuan akan kebenaran, dapatlah Allah membawa umat-Nya sampai kepada kemenangan. 

SAAT DARI KEBINASAAN PEREMPUAN ITU 

Untuk menentukan saat dari kebinasaan Babil (perempuan itu), maka adalah perlu untuk menunjuk kepada Daniel 7 : 11, 12, “Kemudian daripada itu aku melihatnya karena bunyi perkataan-perkataan besar yang diucapkan oleh tanduk itu; aku melihat sampai binatang itu dibunuh, dan tubuhnya dibinasakan, dan diserahkah kepada api yang bernyala-nyala. Mengenai binatang-binatang yang lainnya, pemerintahan mereka itu telah dicabut : namun kehidupan mereka diperpanjang untuk selama satu musim dan satu masa.” Mengenai binatang-binatang yang lainnya itu -- yaitu singa, beruang, dan macan tutul, pemerintahan mereka itu telah dicabut, tetapi mereka masih tetap hidup, sebaliknya binatang yang tak tergambarkan itu telah sampai kepada ajalnya. Binatang-binatang yang masih hidup itu melambangkan keturunan-keturunan dari tiga kerajaan kuno itu. Sementara pemerintahan mereka dicabut, penduduk-penduduknya (binatang-binatang) yang ada di sini sekarang. Ajal dari sekalian binatang ini akan berarti berakhirlah dunia. 

Binatang yang tak tergambarkan itu bukanlah binatang yang terakhir dari sejarah dunia ini, karena ia diikuti oleh binatang yang menyerupai macan tutul dari Wahyu 13 : 1, dan binatang merah kirmizi dari Wahyu 17 : 3. Yang terakhir inilah merupakan simbol yang terakhir dari peristiwa-peristiwa sejarah, oleh mana dunia yang sekarang ini dan dunia sesudah seribu tahun millenium yang akan datang akan dibawa kepada ajalnya, sesuai yang dijelaskan terdahulu. Oleh sebab itu, kebinasaan binatang yang tak tergambarkan itu adalah sebelum kedatangan Kristus yang kedua kali. Jika kehidupan dari tiga binatang sebelumnya itu “diperpanjang”, maka masa hidup mereka itu tidak mungkin diperluas melewati kedatangan Kristus yang kedua kali. Daniel mengatakan : “Kehidupan mereka itu diperpanjang untuk selama satu musim dan satu masa.” Oleh sebab itu, maka semenjak dari saat tubuh binatang yang tak tergambarkan itu dibinasakan, akan terdapat “satu musim dan satu masa”, sampai kepada akhir dunia yang ada sekarang. 

Jika Daniel mengartikan “masa” dengan tahun, dan “setengah masa” dengan setengah tahun, di dalam ayat 25 dari pasal yang sama, maka ia harus mengartikan juga yang sama di dalam ayat 12. Jika interpretasi itu dipegang teguh pada ayat yang satu maka harus demikian pula dengan ayat lainnya. Oleh sebab itu, maka “satu masa” akan berarti satu tahun, dan satu “musim” berarti seperempat bagian dari setahun, sehingga dengan demikian berjumlah seluruhnya satu tahun dan tiga bulan. Tetapi, masa periode di dalam

ayat 25 itu memiliki suatu perkataan nubuatan dari 1260 hari (tahun), tetapi “masa” di dalam ayat dua belas tidak mungkin berupa perkataan nubuatan, sebab nanti akan berarti 450 tahun yang sebenarnya. Jadi jelaslah bahwa semenjak dari saat binatang itu dibinasakan sampai kepada akhir sejarah, akan terdapat lima belas bulan yang sebenarnya. 

Dapatlah dicatat bahwa kebinasaan dari “binatang” itu adalah bersifat nubuatan dari hal kebinasaan “perempuan” itu. Kami mengutip Injil yang menunjuk kepada keduanya itu : “Aku melihat sampai binatang itu dibunuh, dan tubuhnya dibinasakan, dan diserahkan ke dalam api yang bernyala-nyala.” (Daniel 7 : 11). “Maka sepuluh tanduk yang engkau lihat pada binatang itu, mereka ini akan membenci perempuan sundal itu, dan mereka akan membuatnya sunyi dan bertelanjang, dan mereka akan makan dagingnya, dan membakarnya dengan api.” (Wahyu 17 : 16). Kebinasaan itu adalah sama bagi keduanya (binatang dan perempuan itu). Selanjutnya, itu adalah periode di bawah simbol perempuan yang menunggangi binatang yang membuat sebuah patung dari binatang yang menyerupai macan tutul dalam tahap pertamanya (sebelum terluka) atau dari binatang yang tak tergambarkan itu dalam tahap keduanya; sebab, periode 1260 tahun itu telah dilambangkan oleh kedua binatang itu. Patung itu ialah suatu agama palsu yang didirikan secara internasional. Oleh sebab itu, yang satu adalah kesamaan dari yang lainnya. Dengan demikian kebinasaan dari yang asli (binatang yang tak tergambarkan) ialah suatu nubuatan tentang kebinasaan “perempuan” itu, maka kebinasaan dari yang satu, ialah kebinasaan dari yang lainnya. Ia itu menunjukkan secara nubuatan bahwa “patung” itu (perempuan yang menunggangi binatang itu -- gabungan dari bentuk organisasi agama-politik itu), akan binasa lima belas bulan (“musim dan satu masa”) mendahului “mereka yang lagi tinggal” itu (dunia selebihnya). Hendaklah diingat bahwa khayal dari Daniel ialah suatu nubuatan, dan khayal oleh Yohanes ialah suatu wahyu. Oleh sebab itu, maka kebinasaan binatang yang tak tergambarkan itu ialah nubuatan, dan kebinasaan perempuan itu ialah kegenapan dari nubuatan itu. 

Injil berikut ini yang menunjuk kepada saat dari kebinasaan “perempuan” itu, mengatakan : “Maka kemudian daripada segala perkara ini aku dengar suatu suara besar dari banyak orang di dalam surga, yang mengatakan, Halleluya; Selamat, dan kemuliaan, dan hormat, dan kuasa, bagi Tuhan Allah kita; sebab segala hukuman-Nya adalah benar dan adil : karena Ia telah menghukumkan sundal besar itu, yang telah merusak bumi dengan persundalannya, dan Ia telah membalas darah segala hamba-Nya ke dalam tangan perempuan itu. Lalu kembali mereka mengatakan, Halleluya. Maka asap apinya naik untuk selama-lamanya. Lalu dua puluh empat tua-tua itu dan empat binatang itu bersujudlah menyembah Allah yang duduk di atas tahta, sambil mengatakan, Amin, Halleluya. Dan kedengaranlah suatu suara dari dalam tahta, mengatakan, Pujilah Allah kita, hai kamu sekalian hamba-Nya, dan kamu yang takut akan Dia, baik kecil maupun besar.” (Wahyu 19 : 1 – 5). 

Perempuan itu dibinasakan dan asap apinya telah naik “untuk selama-lamanya”, sementara “para tua-tua” itu dan “binatang-binatang” itu berada di hadapan tahta. Ini membuktikan bahwa pehukuman di dalam tempat Yang Maha Suci itu belum berakhir, atau sedikit-dikitnya sidang pengadilan itu belum lagi

mengosongkan tempat pehukuman itu, (dijelaskan di dalam Bab yang lain) karena setelah orang-orang suci dihitung dan dimeteraikan, maka dosa-dosa mereka dihapuskan di dalam sidang pehukuman tersebut di atas, masa kasihan akan berakhir, dan tempat kesucian dimana pehukuman itu diadakan akan dikosongkan dari para tua-tua itu, dan dari binatang-binatang itu, maupun dari “Anak Domba” itu, berikut seluruh malaikat yang banyak itu. Sesudah itu “tidak seorangpun dapat memasuki kaabah itu, sampai kelak tujuh bela yang terakhir itu digenapi. (Lihat Wahyu 15 : 5 – 8). Dengan demikian jelaslah bahwa perempuan itu telah dibinasakan sebelum tujuh bela yang terakhir dituangkan ke bumi. 

Mengutip Wahyu 19 : 6, “Maka aku dengar seolah-olah bunyi suara orang ramai, dan seperti bunyi banyak air yang menderu, dan seperti bunyi guntur yang besar, mengatakan, Halleluya, karena Tuhan Allah yang maha kuasa memerintah.” Selagi Kristus berada di dalam tempat kesucian dan pehukuman berlangsung, Ia tidak memerintah, melainkan ia adalah seorang Imam dan Pembela, yang menghapuskan dosa orang-orang benar. Tetapi setelah Ia selesai mengikuti sidang pemeriksaan hukum itu, lalu Ia dimahkotai menjadi Raja atas segala raja dan Tuhan atas segala tuan. (Lihat ayat 16). 

Sesudah “asap api dari perempuan itu naik untuk selama-lamanya”, maka bala tentara surga yang banyak itu berserulah, “Halleluya : karena Tuhan Allah Yang Maha Kuasa memerintah”. Oleh karena itu, semua orang suci diadili mendahului kebinasaan dari “perempuan” itu, dan setelah ia dibakar dengan api, maka Kristus akan dimahkotai menjadi Raja atas segala raja dan Tuhan atas segala tuan; kemudian kaabah akan dikosongkan dan tujuh bela yang terakhir itu dituangkan ke bumi. 

Firman berikut ini membawakan bukti selanjutnya. Bala tentara surga yang banyak itu mengatakan : “Marilah kita bersukacita dan bergembira, dan hendaklah kita memberi Dia hormat, karena saat perkawinan Anak Domba itu sudah tiba, dan istrinya pun telah  mempersiapkan dirinya. Maka kepadanya telah dikaruniakan supaya ia boleh menghiasi dirinya dengan kain kasah halus, yang putih dan bersih; karena kain kasah halus itu ialah kebenaran dari orang-orang suci. Maka katanya kepadaku, Tuliskanlah, Berbahagialah segala orang yang diundang kepada perjamuan kawin Anak Domba itu.” Malaikat itu, selanjutnya menambahkan, “Marilah kemari, aku hendak menunjukkan kepadamu pengantin perempuan itu, yaitu istri Anak Domba itu ..... dan menunjukkan kepadaku kota yang besar itu, yaitu Yerusalem yang suci, yang turun dari surga dari Allah.” (Wahyu 19 : 7 – 9; 21 : 9, 10). Oleh sebab itu, maka istri dari Anak Domba itu ialah Kota Suci, dan bukan sidang, dan orang-orang yang diundang ke perjamuan kawin itu (orang-orang suci) ialah para tamu. (Lihat buku “The Great Controversy”, halaman 427). Mereka yang berada di hadapan tahta itu, mengatakan dari hal Yerusalem Baru : “Istrinya telah mempersiapkan dirinya. Dan kepadanya telah dikaruniakan (masuk ke kota itu) supaya ia boleh menghiasi dirinya dengan kain kasah halus, yang putih dan bersih ..... karena kain kasah halus itu ialah kebenaran dari orang-orang suci.” (Wahyu 19 : 7, 8). Oleh sebab itu, maka istri Anak Domba itu akan siap pada akhir masa kasihan pada waktu orang-orang suci dihitung jumlah bilangannya, karena mereka itulah “kain kasahnya”. Karena pada masa perempuan itu (Babil) dibakar, maka orang-orang suci (kain kasah) siaplah sudah. Kebinasaan perempuan itu akan merupakan suatu tanda, bahwa masa kasihan telah berakhir. Kemudian daripada itu sebagian orang akan

sadar akan nasib celakanya lalu mereka akan mengatakan, “Masa penuaian sudah berlalu, musim panas telah berakhir, dan kita belum juga selamat.” (Yeremia 8 : 20). Orang-orang lainnya akan “mengembara dari laut ke laut, dan dari utara sampai ke timur, mereka akan berlarian kesana-kemari mencari firman Tuhan, tetapi tidak akan menemukannya.” (Amos 8 : 12). Apabila umat Allah kelak mengakhiri tugas karunia Allah mereka, maka jawaban mereka kelak : “Kami tidak memiliki apa-apa lagi bagimu, penuaian telah berlalu, keselamatan telah berhenti, anda sudah sangat terlambat.” 

SIAPAKAH NABI PALSU ITU? 

Sebagaimana telah dijelaskan terdahulu nabi palsu itu bukanlah kepausan ataupun binatang yang bertanduk dua itu, ia juga bukan Iblis, sebab kita baca : “Maka Iblis yang menyesatkan mereka itu tercampaklah ke dalam lautan api dan belerang, di mana binatang dan nabi palsu itu berada.” (Wahyu 20 : 10). Oleh sebab itu, nabi palsu itu ialah seseorang yang akan mendahului munculnya Setan sendiri. Rasul itu mengatakan, “Maka janganlah heran; karena Setan sendiri akan menyamar sebagai seorang malaikat terang.” (2 Korintus 11 : 14). 

Karena ajaran-ajaran yang diajarkan oleh nabi palsu itu tidak mungkin sepenuhnya ditunjang oleh Alkitab, maka tanda-tanda keajaiban akan dipertunjukkan untuk menarik kepercayaan orang banyak. Oleh karena orang-orang besar dan para pemimpin agama menyatakan kepada umum bahwa apa yang disebut kebenaran yang benar itu benar adalah kebenaran dari Kristus, dan bahwa nabi palsu itu adalah hamba-Nya, maka beribu-ribu orang akan jatuh ke dalam jerat Setan. Ramalannya yang palsu mengenai kedatangan Tuhan, akan digenapi oleh Setan sendiri karena ia akan muncul seperti seorang malaikat terang. Cahayanya yang mempesona, dan kegenapan palsu dari ramalan nabi, ditambah lagi dengan penipuan-penipuan yang merajalela yang sudah ada, akan menjerat sejumlah besar orang-orang yang jauh lebih besar lagi daripada yang pertama. “Sambil muncul di depan anak-anak manusia sebagai seorang tabib besar yang dapat menyembuhkan segala macam penderitaan mereka, ia akan mendatangkan penyakit dan malapetaka, sehingga kota-kota yang padat penghuninya akan susut binasa dan menjadi sunyi.” -- “The Great Controversy”, halaman 589. 

PEREMPUAN ITU DUDUK DI ATAS KEPALA-KEPALA 

Kata malaikat itu : “Tujuh kepala itu ialah tujuh buah gunung, pada mana perempuan itu duduk.” (Wahyu 17 : 9). Telah dijelaskan sebelumnya bahwa kepala-kepala itu melambangkan dunia Kristen murtad yang ada sekarang, (Lihat halaman 88 - 96, bahasa Inggris). Mereka itu disebut “gunung-gunung” (organisasi-organisasi gereja), tujuh jumlahnya, yang berarti semua. Karena perempuan sundal itu duduk di atas semua tujuh kepala, maka simbol itu secara nyata yang tak mungkin keliru mengungkapkan bahwa Dunia Kristen akan menyerahkan dirinya untuk diperintah oleh satu pemimpin, yang dilambangkan oleh perempuan itu. (Lihat “The Great Controversy”, halaman 588).

Mendahului kuasa yang melakukan keajaiban-keajaiban itu, maka Protestantisme, Katholikisme, dan Spiritualisme, sudah akan terlebih dulu berjabatan tangan satu dengan yang lainnya oleh perantaraan sebuah federasi gereja. Perbedaan pendapat dalam masalah-masalah doktrin akan dianggap tidak lagi penting bagi keselamatan. Mereka akan menyaksikan di dalam penggabungannya yang terlihat suci itu suatu pergerakan besar baik bagi penyelesaian berbagai perbedaan maupun bagi pertobatan dunia. Dengan munculnya nabi palsu itu, dan dengan datangnya Setan sendiri, maka pengharapan-pengharapan mereka akan menjadi kenyataan, dan masuknya masa seribu tahun millenium yang penuh damai yang telah lama dinantikan itu akan diberitakannya segera terjadi. Demikianlah dari luar ia itu akan terlihat seolah-olah krisis dunia sudah akan berakhir. Tetapi sebagaimana umat Allah telah diberi amaran mengenai sekaliannya itu, mereka menolak menyembah patung binatang itu, yaitu suatu agama internasional palsu, maka mereka akan dituduh sebagai pemberontak, pengacau-pengacau ketertiban, dan pembuat gaduh. Hal ini akan mendatangkan aniaya besar seperti yang diramalkan di dalam Wahyu 12 : 17. 

Terhadap mereka itu akan dikatakan : “Engkaukah dia yang mengacau Israel?” Karena orang-orang suci itu menanggapi mereka menurut cara nabi Eliyah : “Tidak tetapi ..... karena kamu telah  meninggalkan perintah Tuhan, dan kamu telah mengikuti Baal”, maka ini akan menimbulkan kemarahan orang jahat lalu membuat mereka itu naik amarahnya melawan orang-orang yang tak bersalah itu. 

PEREMPUAN ITU DUDUK DI ATAS BINATANG 

Sementara Pewahyu menyaksikan dalam khayal binatang yang memiliki angka bilangan 666 itu, dan nabi palsu, yang memaksakan suatu agama palsu melalui hukum dan tanda-tanda keajaiban di dalam batas lingkungan pemerintahan yang dilambangkan oleh binatang bertanduk dua itu, ia telah memperlihatkan suatu pemandangan menarik yang lain lagi : “Maka aku tampak”, katanya, “seorang perempuan duduk di atas seekor binatang merah kirmizi, yang penuh nama-nama hujat, yang memiliki tujuh kepala dan sepuluh tanduk. Dan perempuan itu telah berhias dalam warna ungu dan merah kirmizi, dan dihiasi dengan emas dan batu-batu permata dan mutiara, sambil memegang sebuah cawan emas di dalam tangannya yang penuh dengan kekejian-kekejian dan kenajisan persundalannya.” (Wahyu 17 : 3, 4). Simbol ini mengungkapkan bahwa sesudah perempuan itu duduk di atas “kepala-kepala” (mempersatukan gereja-gereja) ia juga berhasil duduk di atas binatang itu. Binatang itu ialah simbol dari seluruh dunia yang ada sekarang – baik sipil (sepuluh tanduk) maupun agama (tujuh kepala). Karena duduknya perempuan itu di atas kepala-kepala menunjukkan gabungan gereja-gereja, demikian itu pula, duduknya dia di atas binatang itu melambangkan gereja dan pemerintah secara internasional yang diperintah oleh pemimpin yang sama (perempuan). Oleh sebab itu, suatu bentuk organisasi agama internasional dan suatu kombinasi gereja dan negara. Dalam bentuk organisasi yang sedemikian ini orang-orang besar dunia akan menyaksikan suatu gambaran penyelesaian berbagai krisis dunia, mendorong orang-orang dan bangsa-bangsa ke dalam suatu persaudaraan luas di seluruh dunia, yang kegenapannya melalui suatu perantaraan agama, 1 Tesalonika 5 : 3,

“Karena bilamana mereka itu kelak mengatakan, Damai dan sejahtera; maka tiba-tiba kebinasaan menimpa mereka itu, ..... dan mereka tidak akan dapat meloloskan diri.” Walaupun maksud mereka ialah untuk memperkecil kejahatan dan peperangan-peperangan, namun harapan mereka kelak akan sia-sia. 

CAWAN, PERHIASAN-PERHIASAN, DAN WARNA-WARNA YANG MENYOLOK 

Cawan di dalam tangan perempuan itu terbuat dari logam paling mulia, dan karena ia dihiasi dengan emas dan batu-batu permata, maka ini menunjukkan suatu godaan yang sangat menarik  -- sepenuhnya direalisasikan dalam kuasa melakukan tanda keajaiban oleh nabi palsu itu dan oleh Setan sendiri. Cawannya (buku-buku) berisikan ajaran-ajaran palsu, dan karena kelihatan “terbuat dari emas”, ia itu menunjukkan bahwa semuanya itu dilapisi dengan Kekristenan. Dengan demikian kata-kata nubuatan berikut ini akan menemukan kegenapannya : “Maka ia memiliki kuasa untuk memberikan nyawa kepada patung binatang itu, supaya patung binatang itu dapat berbicara dan membuat sebanyak mungkin orang yang tidak mau menyembah patung binatang itu harus dibunuh. Maka ia memaksa semua orang, baik kecil dan besar, kaya dan miskin, orang merdeka ataupun hamba, untuk menerima suatu tanda di dalam tangan kanan mereka atau di dalam dahi mereka; dan bahwa tidak seorangpun dapat berjual beli, terkecuali orang yang memiliki tanda, atau nama binatang itu, atau angka bilangan dari namanya.” (Wahyu 13 : 15 – 17).

“Sedemikian inilah kelak akan menjadi pengalaman-pengalaman umat Allah dalam perjuangan mereka yang terakhir melawan penguasa-penguasa jahat ..... Setan memimpin banyak orang untuk percaya, bahwa Allah akan mengabaikan kelalaian mereka dalam masalah-masalah kehidupan yang kecil; tetapi Tuhan menunjukkan dalam hubungan-Nya dengan Yakub, bahwa Ia sekali-kali tidak membenarkan ataupun mentolerir kejahatan. Semua orang yang berusaha untuk memaafkan atau menyembunyikan dosa-dosa mereka, lalu mengijinkan dosa-dosa itu tetap berada dalam buku-buku surga, tanpa diakui dan tanpa dimaafkan, mereka akan dikalahkan oleh Setan.” -- “Patriarchs and Prophets”, p. 202. “Barangsiapa yang berada tanpa perlindungan Allah tidak akan menemukan satupun tempat atau posisi yang aman di manapun juga.” -- “Testimonies for the Church”, Vol. 8, p. 50. Dari hal masa kesusahan itu Kristus mengatakan : “Barangsiapa yang memeliharakan nyawanya” demi untuk memenangkan restu manusia, “akan kehilangan nyawa : dan barangsiapa yang kehilangan nyawanya oleh sebab Aku akan mendapatkannya.” (Matius 10 : 39). Masa itu kelak akan mengungkapkan barangsiapa yang berbakti kepada Allah dan barangsiapa yang tidak berbakti kepada-Nya. Kemudian, dunia akan dibagi ke dalam dua kelas yang besar -- “Domba-domba pada sebelah kanan dan kambing-kambing pada sebelah kiri.” (Matius 25 : 33). Jelaslah terlihat kelak bahwa umat Allah harus binasa atau harus menyerahkan diri kepada tuntutan orang jahat, tetapi malaikat-malaikat perkasa yang unggul kekuatannya akan merubah aliran kebinasaan itu.

“Maka seorang malaikat perkasa mengangkat sebuah batu yang bagaikan sebuah batu kilangan besar, lalu mencampakkannya ke dalam laut, sambil mengatakan, Demikianlah dengan kekerasan kelak negeri Babil yang besar itu akan dilemparkan ke bawah, sehingga sekali-kali tiada ia akan ditemukan lagi. Maka bunyi orang yang bermain kecapi, dan para musisi, dan orang-orang yang meniup suling, dan trompet, sekali-kali tiada akan terdengar lagi di dalammu; dan tidak

seorangpun ahli kesenian atau apapun keahliannya akan ditemukan lagi di dalammu; dan bunyi kilangan tidak akan kedengaran lagi di dalammu. Dan cahaya lampu tidak akan lagi bersinar-sinar di dalammu, dan suara mempelai lelaki dan perempuan tidak akan kedengaran lagi di dalammu : karena segala pedangmu adalah orang-orang besar di bumi; karena oleh semua ilmu sihirmu segala bangsa telah disesatkan.” (Wahyu 18 : 21 - 23). 

Sementara orang banyak jatuh ke dalam jerat-jerat Iblis, dan karena ia sedang berusaha untuk menyapu bersih sidang, maka “Pekabaran Malaikat Ketiga” akan menerobos kemana-mana dengan kuasa besar dan dengan suatu “seruan keras” yang mengatakan, “Keluarlah dari padanya, hai umat-Ku, supaya tidak kamu terbabit dengan segala dosanya, dan supaya tidak kamu menerima segala celakanya.” (Wahyu 18 : 4). Dan karena “Seruan” malaikat itu (utusan) menggema di seluruh bumi suatu rombongan besar orang banyak dari segala bangsa akan meninggalkan sistem peribadatan palsu yang populer itu, lalu menentang semua restu duniawi dan mengambil pendirian yang berpihak kepada orang-orang suci di bawah lindungan kuasa Ilahi. Inilah yang akan menaikkan amarah ular naga itu. 

RINGKASAN

(IKUTILAH GAMBAR BAGAN PADA HALAMAN 150) 

Tabel peristiwa-peristiwa di dalam Bab ini sepenuhnya melukiskan kejadian-kejadian besar nubuatan yang akan terjadi dengan cepat secara berurutan seperti yang diperlihatkan di dalam gambar. Gabungan gereja-gereja yang dilambangkan dengan “perempuan” itu duduk di atas “kepala-kepala” harus terjadi sebelum kuasa kombinasi antara “binatang” dan “nabi palsu” itu sepenuhnya menjadi kenyataan. Simbol-simbol itu (“nabi palsu” dan “binatang itu”) mengungkapkan bahwa akan ada suatu aliansi nasional antara gereja dan negara. Tetapi perempuan yang menunggangi binatang itu menunjukkan suatu organisasi gereja dan negara internasional yang dipaksakan oleh undang-undang sipil, dan kekuasaan keajaiban. Pada saat berakhirnya masa kasihan, gabungan yang dilambangkan oleh simbol “binatang yang merah kirmizi” itu akan bubar karena binasanya “perempuan” itu atau pemimpin dari gabungan itu seperti yang digambarkan pada titik balik pada bagan itu. Dunia pada masa itu, seperti yang dilambangkan oleh tanduk-tanduk binatang itu, akan “membenci” perempuan sundal itu, mereka akan menurunkan perempuan itu dari kekuasaannya dan “membakarnya dengan api”; yang merupakan suatu revolusi melawan pemimpin dari organisasi agama-politik itu. Kemudian nubuatan dari Wahyu 16 : 19, akan menemui kegenapannya : “Maka negeri yang besar itu (Babil) dibagi menjadi tiga bagian.” Artinya, gabungan Protestantisme, Katholikisme, dan Spiritualisme itu akan bubar. Perhatikanlah akan kata kerja, “was”, karena tertulis dalam past tense, menunjukkan bahwa negeri Babil yang besar itu telah dibagi sebelum tujuh bela dituangkan; yaitu, pada penutupan masa

kasihan, pada waktu perempuan itu dijatuhkan dari kekuasaannya. “Dan negeri-negeri dari segala bangsa jatuh : dan Babil yang besar itu (dalam keadaannya yang terbagi-bagi) datang terkenang di hadapan Allah, untuk memberikan kepadanya cawan air anggur dari kehangatan murka-Nya.” (Ayat 19, bagian terakhir). Kehangatan murka Allah akan dituangkan ke atas Babil dalam keadaannya yang terbagi-bagi dalam masa tujuh bela. 

Kepala dari binatang yang tak tergambarkan dari Daniel tujuh, didalam api yang bernyala-nyala bersama-sama dengan “perempuan” itu sebagaimana digambarkan di dalam bagan, adalah melambangkan peristiwa yang sama. “Binatang itu” adalah sebuah nubuatan, dan “perempuan” itu ialah wahyu dari nubuatan itu. Kemudian empat malaikat dari wahyu tujuh, yang sedang “memegang empat mata angin di bumi (bangsa-bangsa dalam pengawasan), supaya angin itu tidak akan bertiup di bumi, atau di laut, atau pada sesuatu pohon kayu”, mereka akan membiarkan angin itu “bertiup”; maka karena tidak ada lagi apapun yang tinggal untuk menahan bangsa-bangsa dan orang banyak itu bersama-sama serta untuk mencegah berbagai permusuhan, maka pertikaian di dalam dan di luar akan berakibat dalam perang “Armagedon” yang terakhir. (Wahyu 16 : 14, 16). Dari titik itu pada bagan (berakhirnya masa kasihan) sampai kepada kedatangan Kristus yang kedua kali dan permulaan dari seribu tahun millenium itu, akan ada lima belas bulan -- yaitu “satu musim dan satu masa”. (Daniel 7 : 11, 12). 

Kira-kira pada masa bela yang ketujuh binatang dan nabi palsu itu akan dicampakkan ke dalam lautan api. Suatu peristiwa kegenapan yang sebenarnya, dan ini akan merupakan sebuah contoh dari kebinasaan terakhir orang-orang jahat sesudah seribu tahun millenium, yaitu kematian yang kedua. Kebinasaan perempuan yang menunggangi binatang merah kirmizi itu, dan nabi palsu bersama-sama dengan binatang bertanduk dua yang dicampakkan hidup-hidup ke dalam lautan api, menunjukkan bahwa badan organisasi agama-politik ini secara internasional akan dibubarkan.

Pada kedatangan Tuhan, orang-orang suci akan dihimpunkan (Matius 24 : 30), dan orang-orang jahat akan dibinasakan. (2 Tesalonika 2 : 8). Bangsa-bangsa dilambangkan oleh “binatang-binatang”, “orang durhaka” itu dilambangkan oleh “tanduk kecil yang memiliki mata manusia dan sebuah mulut yang membicarakan perkara-perkara besar.” (Daniel 7 : 25).

Patung besar dari Daniel dua, berkaitan dengan binatang-binatang dari Daniel tujuh. Binatang-binatang inipun dilambangkan oleh binatang yang menyerupai macan tutul dari Wahyu tiga belas -- mulutnya dari singa, kakinya dari beruang, tubuhnya dari macan tutul, dan sepuluh tanduk itu. Binatang merah kirmizi dari Wahyu tujuh belas ialah suatu kelanjutan dari binatang yang menyerupai macan tutul setelah lukanya yang mematikan itu sembuh kembali. Demikianlah ia digambarkan pada bagan itu menunjukkan bahwa ia memiliki ciri-ciri dari semua binatang yang mendahuluinya. Oleh sebab itu, kebinasaan dari binatang-binatang dari Daniel tujuh adalah juga kebinasaan dari binatang-binatang yang ditunjukkan kepada Yohanes dalam khayal; maka ajal dari semua binatang itu, berarti akhir sejarah dunia. 

Batu besar dari Daniel dua, yang menghantam patung itu pada

kakinya, ialah sebuah simbol tentang kedatangan Kristus; maka pecahnya patung itu menunjukkan pecahnya segala bangsa. Sebagaimana binatang merah kirmizi itu akan menghantarkan dunia yang ada ini kepada ajalnya, maka ia juga melambangkan dunia pada seberang sana dari seribu tahun millenium itu, yaitu setelah kebangkitan yang kedua. 

Api yang turun dari langit ke atas binatang itu, menunjukkan kematian yang kedua dari orang-orang jahat, yaitu seratus tahun sesudah kebangkitan yang kedua. Kemudian nubuatan dari Henok akan menemui kelengkapan kegenapannya : “Tengoklah, Tuhan datang, ..... hendak memutuskan hukum atas “semua orang”, dan untuk meyakinkan semua orang yang tidak beragama ..... terhadap semua perbuatannya yang fasik yang telah dilakukannya dengan jahatnya, dan terhadap semua pembicaraannya yang kasar yang telah  dibicarakan oleh orang-orang berdosa yang fasik itu melawan Dia.” (Yudas 14, 15). Jika ayat 14 dari Yudas itu berlaku terhadap kedatangan Kristus ke tempat Yang Maha Suci di dalam kaabah di surga, dan ayat 15 terhadap kedatangan-Nya yang kedua kali, maka kelengkapan dari kata-kata itu akan menemui kegenapannya sesudah seribu tahun millenium, karena hanya pada waktu itulah dapat Ia melaksanakan “pehukuman yang terakhir atas semua orang fasik”, semenjak dari Kain sampai kepada akhir dunia yang sekarang ini.        

Bagian pertama dari bagan itu, dari tahun 1929 sampai ke garis tikungan, yang ditandai Yehezkiel 9, ialah masa periode dimana 144.000 itu dimeteraikan -- yaitu pemisahan lalang-lalang dari gandum -- pembersihan sidang. Karena 144.000 itu adalah “buah-buah pertama”, maka kegenapan dari Yehezkiel 9 dan pemeteraian hamba-hamba Allah itu (144.000 itu), akan menandai permulaan dari penuaian yang terakhir, atau sebagaimana juga ia itu disebut, “Seruan Keras”. Pada waktu itu rombongan besar dari Wahyu 7 : 9, akan dikumpulkan di dalam sidang oleh hamba-hamba Allah (144.000 itu). (Lihat Yesaya 66 : 19, 20). 

Perkara-perkara dari semua orang yang dimeteraikan semenjak dari tahun 1929 sampai kepada penutupan masa kasihan yang terakhir akan diperiksa di depan tahta di dalam kaabah surga selagi masih hidup. Pemeriksaan itu dimulai setelah kegenapan Yehezkiel 9. Mereka yang dimeteraikan semenjak dari tahun 1929 sampai kepada kegenapan Yehezkiel 9 (berakhirnya masa kasihan bagi sidang), adalah orang-orang suci yang hidup, 144.000 jumlahnya, yang tidak pernah akan mati -- diubahkan tanpa merasai kematian. Kelas orang-orang yang melalaikan kesempatannya telah ditinggalkan tanpa meterai untuk binasa di bawah kehancuran dari Yehezkiel 9; Yesaya 63; dan Yesaya 66 : 15 – 17. Contoh kebinasaan orang-orang berdosa di dalam sidang ini, ialah sebuah contoh (type) dari kebinasaan orang-orang berdosa di dunia sesudah berakhir masa kasihan. Rombongan besar dari Wahyu 7 : 9. Mereka hidup pada masa penutupan masa kasihan bagi dunia, juga tidak akan pernah mati, karena mereka adalah contoh saingan dari 144.000 itu. Tetapi semua orang jahat yang telah ditinggalkan tanpa meterai, akan binasa. “Sampai di sinilah berakhir masalah itu”; “Takutlah akan Allah (bukan manusia) dan peliharakanlah semua perintah-Nya : karena inilah keseluruhan tugas manusia.” (Pengkhotbah 12 : 13).

MEREKA YANG 144.000 ITU

Wahyu Tujuh Dan Empat Belas 

Landasan dari pokok masalah yang terpenting ini secara luas telah dibicarakan di dalam buku “Tongkat Gembala” Jilid I. Oleh sebab itu, kami bermaksud untuk menguraikan hanya fase mana yang tidak terlihat di dalam Jilid yang pertama itu. Pertanyaan-pertanyaan berikut akan dijawab di dalam Bab ini : Pada waktu Tuhan memerintahkan malaikat untuk memeteraikan mereka (144.000 itu) apakah mereka itu ditemukan oleh pekabaran itu di dalam dunia atau di dalam sidang? Pada waktu yang manakah mereka itu dimeteraikan? Mengapakah mereka itu adalah “anak-anak dara”? Mengapa “tidak terdapat tipu di dalam mulut mereka”? Apakah mereka itu hanya kaum laki-laki atau kedua-duanya laki-laki dan perempuan? Mengapa mereka disebut “hamba-hamba Allah”? Mengapa mereka itu adalah Israel? 

Kami kutip dari tulisan-tulisan “Roh Nubuat” : ”Inilah masa kesukaran Yakub itu. Maka semua orang suci berseru dengan penuh penderitaan, lalu mereka dilepaskan oleh suara Allah. Mereka yang seratus empat puluh empat ribu itu berhasil menang. Wajah-wajah mereka bersinar-sinar dengan kemuliaan Allah.” -- “Life Sketches”, halaman 117. Perhatikanlah bahwa mereka yang 144.000 jumlahnya itu, ada dalam “masa kesukaran Yakub itu”. Menurut kutipan yang berikut ini, masa kesukaran itu dimulai segera setelah berakhir masa kasihan : “Bilamana kelak Kristus mengakhiri tugasnya sebagai perantara bagi manusia, lalu masa kesukaran ini akan dimulai.” -- “Patriarchs and Prophets”, halaman 201. Masa kesukaran itu adalah mendahului kebangkitan orang-orang suci, maka sebab itu mereka yang 144.000 itu tidak bangkit, melainkan mereka adalah orang-orang suci yang hidup yang tidak pernah merasai mati dan mereka akan diubahkan pada kedatangan Kristus yang kedua kali. 

MEREKA YANG 144.000 ITU DIMETERAIKAN SELAGI DI DALAM SIDANG 

Untuk menjelaskan hal ini maka kita harus mengomentari akan contoh hari grafirat itu. Hari yang terkenal itu dalam upacara bayangan adalah suatu hari penyucian, pehukuman, dan perlindungan. Perintah telah diberikan agar dalam bulan yang ketujuh dan pada hari yang kesepuluh dari bulan itu (hari grafirat), setiap orang Israel harus, menderita jiwanya, mengakui dosanya, dan membawakan suatu korban. Barangsiapa yang lalai mematuhi panggilan Ilahi ini akan dibunuh (dibinasakan) dari antara umat Allah. Oleh sebab itu, maka itulah hari pehukuman dan penyucian terhadap perkampungan Israel. Sementara orang berdosa binasa, maka orang-orang beriman dilindungi. Contoh yang hidup ini telah dikemukakan bagi keuntungan kita pada waktu sekarang ini, atas siapa hari grafirat contoh saingan itu akan datang. Gambaran ini yang terdapat di dalam tabernakel yang di bumi adalah dimaksudkan untuk menunjukkan pekerjaan yang berlangsung di dalam tabernakel surga.  

Pada waktu pehukuman dibuka dalam tahun 1844, seperti yang dijelaskan terdahulu, maka pemeriksaan itu dimulai terhadap orang-orang mati, dan apabila bagian dari pekerjaan itu selesai, lalu mulailah pehukuman terhadap orang-orang hidup. Sementara pemeriksaan terhadap perhimpunan orang-orang mati itu berlangsung, maka tidak mungkin ada pemisahan di antara perhimpunan orang-orang hidup. Tetapi apabila Imam Besar kita kelak memulaikan grafirat itu untuk orang-orang hidup, maka harus ada sebuah pekabaran kebenaran sekarang -- peniupan trompet -- yang menganjurkan kepada setiap orang untuk bergantung kepada Anak Domba Allah (Kristus) saja, yang hanya oleh, perantaraan-Nya dapatlah ia secara simbolis datang ke tempat kesucian itu, mengakui dosanya dan mendapatkan hidupnya. Jika akhir pehukuman terhadap orang-orang mati dan permulaan pehukuman terhadap orang-orang hidup itu tidak diberitahukan kepada kita, kita tidak akan memiliki sesuatu kebenaran sekarang apapun selagi pehukuman terhadap orang-orang hidup itu berlangsung. Pehukuman yang sedemikian ini tidak akan sah dan juga tidak adil. Barangsiapa yang lalai mematuhi undangan-undangan surga ini, akan dibiarkan tanpa meterai atau perlindungan Allah itu, dan karena itulah ia harus ditumpas keluar dari antara umat Allah, sebagaimana yang dilambangkan melalui upacara-upacara dalam contoh hari grafirat itu. 

Rasul itu mengatakan : “Karena masanya akan datang bahwa pehukuman harus dimulai terhadap rumah Allah.” (1 Petrus 4 : 17). Dari kenyataan bahwa hanya kepada gereja “Masehi Advent Hari Ketujuh” telah datang suatu pekabaran yang sedemikian ini seperti yang disebutkan di atas, yang telah disampaikan kepada mereka di dalam buku “Tongkat Gembala”, Jilid I, ialah suatu bukti tambahan bahwa gereja yang satu inilah rumah Allah itu. Masa pehukuman ini juga disebut “masa penuaian”. “Biarkanlah keduanya bertumbuh bersama-sama sampai kepada masa penuaian”, demikian kata Yesus, “maka dalam masa penuaian itu Aku akan mengatakan kepada para penuai, Kumpulkanlah dahulu olehmu lalang-lalang itu, dan ikatkanlah semuanya itu berberkas-berkas untuk dibakar : tetapi himpunkanlah gandum itu ke dalam lumbung-Ku.” (Matius 13 : 30). Kata-kata dari Tuhan kita itu adalah sesuai sekali dengan contoh hari grafirat itu, yang meramalkan bahwa itu adalah suatu hari pemisahan lalang-lalang dari gandum, atau penumpasan orang-orang berdosa yang tidak bertobat dari antara umat Allah (penyucian sidang). Oleh sebab itu, penuaian itu dimulai dengan pekerjaan penghabisan bagi sidang. Kristus mengatakan : “Biarkanlah keduanya bertumbuh bersama-sama sampai kepada masa penuaian.” Di dalam Wahyu 14 : 4, berbicara mengenai mereka yang 144.000 itu kita baca : “Mereka ini adalah buah-buah pertama bagi Allah dan bagi Anak Domba itu.” Oleh karena itu, jelaslah bahwa pada penyucian atau pemisahan lalang-lalang dari gandum di dalam sidang Allah, akan terdapat 144.000 orang yang telah mengakui dosa-dosa mereka; dan dengan demikianlah mereka dibuat menjadi putih dan bersih oleh darah Kristus yang mulia, karena mereka adalah “buah-buah pertama”. Ini juga dibuktikan oleh “Roh Nubuat”, karena kita baca : “Pemeteraian hamba-hamba Allah ini adalah sama dengan apa yang ditunjukkan kepada Yehezkiel dalam khayal.” -- “Testimonies to Ministers”, p. 445. Kami kutip dari “Testimonies for the Church”, Vol. 3, p. 266 : “Umat Allah yang benar, yaitu mereka yang memiliki roh pekerjaan Tuhan, dan roh penyelamatan jiwa-jiwa di dalam hati, akan senantiasa memandang akan dosa itu,

dalam tabiat dosanya yang sesungguhnya. Mereka akan selalu berdiri pada pihak penanganan yang jujur dan tegas terhadap dosa-dosa yang dengan mudah menguasai umat Allah. Terutama sekali dalam pekerjaan penghabisan bagi sidang, dalam masa pemeteraian mereka yang 144.000 itu. 

Sekali lagi pada halaman 267 : “Tandailah hal ini dengan seksama : Mereka yang menerima tanda kebenaran yang murni, yang dikerjakan di dalam diri mereka oleh kuasa Rohulkudus, yang dilambangkan oleh suatu tanda yang diberikan oleh orang yang berpakaian kain kasah, ialah orang-orang yang ‘berkeluh kesah dan menangis karena semua kekejian yang dibuat’ di dalam sidang ..... Bacalah pasal yang ke sembilan dari Yehezkiel. Tetapi pembantaian umum terhadap semua orang yang tidak melihat sedemikian ini betapa besarnya perbedaan di antara dosa dan kebenaran, dan yang tidak merasakan seperti orang-orang yang berdiri mematuhi petunjuk Allah dan menerima tanda itu, adalah digambarkan dalam perintah yang diberikan kepada lima orang yang memegang senjata-senjata pembantaian itu : “Pergilah kamu mengikuti dia ke dalam negeri itu, dan bunuhlah; janganlah matamu menaruh sayang, dan janganlah kamu menaruh kasihan; bunuhlah seluruhnya baik tua maupun muda, baik anak-anak gadis, anak-anak kecil maupun kaum perempuan : tetapi janganlah kamu menghampiri setiap orang yang padanya terdapat tanda itu; dan mulailah pada tempat kesucian-Ku.” 

Definisi dari kata “umum” ialah : “luas tetapi tidak universal”. Oleh sebab itu, maka itu bukan berarti kebinasaan dunia pada kedatangan Tuhan; melainkan ia itu menunjuk kepada orang-orang jahat di dalam sidang. Pembantaian ini adalah benar-benar akan terjadi; ia itu akan memisahkan dan melepaskan umat Allah dari dosa dan dari orang-orang berdosa; sebab jika tidak, maka pembubuhan tanda itu akan sia-sia saja. Persoalan yang sama inipun kembali dikemukakan di dalam “Testimonies for the Church”, Vol. 5, p. 211 : “Di sini kita saksikan, bahwa sidang -- yaitu tempat kesucian Tuhan -- ialah yang pertama sekali akan merasakan pukulan dari murka Allah.” Murka Allah tidak mungkin, dan tidak pernah mempunyai arti rohaniah. Kita kembali diingatkan bahwa mereka yang 144.000 itu adalah yang sisa : “Sekarang benar-benar mereka yang sisa itu adalah ‘orang-orang yang dikagumi’ ..... ‘Pada hari itu tunas Tuhan akan kelak indah dan mulia, dan buah dari bumi akan sempurna dan menarik bagi mereka yang luput dari Israel. Maka akan jadi kelak, bahwa barangsiapa yang tertinggal di Sion, dan barangsiapa yang menetap di Yerusalem, akan disebut suci, yaitu setiap orang yang tersurat namanya di antara orang-orang yang hidup di Yerusalem.’ ” -- Id. p. 476. Dengan demikian mereka yang 144.000 itu adalah orang-orang yang dimeteraikan dalam masa pehukuman bagi sidang, dan terhadap merekalah pehukuman bagi orang-orang yang hidup dimulai. Oleh sebab itu, maka mereka adalah buah-buah pertama. 

Apabila angka bilangan mereka ini dimeteraikan, masa kasihan akan berakhir bagi sidang, dan pehukuman bagi orang-orang yang ada di dunia akan dimulai. Sebagaimana “lalang-lalang” binasa pada saat bilamana masa kasihan berakhir bagi sidang, demikian itu pula kelak pada penutupan pehukuman bagi dunia orang-orang berdosa akan mencapai ajalnya; yang satu merupakan contoh bagi yang lainnya. Adalah dikatakan dari hal mereka yang 144.000 itu : “Inilah mereka yang tidak mencemarkan dirinya dengan perempuan-perempuan, karena mereka adalah anak-anak dara.” (Wahyu 14 : 4). “Perempuan-perempuan” yang disebutkan di dalam Firman ini adalah simbol-simbol dari gereja-gereja

yang tidak suci. “Perempuan-perempuan” ini adalah dikemukakan di dalam Wahyu 17, di bawah lambang perempuan itu yang duduk di atas binatang merah kirmizi. Kami mengutip ayat 5 : “Dan pada dahinya (perempuan itu) ada tertulis suatu nama, yaitu rahasia, Babil yang besar, ibu dari segala sundal dan kekejian di bumi.” Ibu ini berikut anak-anak gadisnya ialah “perempuan-perempuan” itu dengan siapa mereka yang 144.000 itu tidak mencemarkan diri, karena pekabaran tentang pemeteraian ini mendapatkan mereka itu di dalam sidang. Demikianlah karena berada di dalam sidang Allah pada waktu pemeteraian, maka mereka adalah “anak-anak dara” -- “tidak tercemar dengan perempuan-perempuan” (dengan gereja-gereja yang jatuh itu). 

HAMBA-HAMBA ALLAH DALAM MASA PENUAIAN 

Di dalam Wahyu 7 : 3, mereka yang 144.000 itu disebut “Hamba-hamba dari Allah kita”. Jika disebut hamba, maka mereka harus mempunyai tugas untuk dilaksanakan. Mereka kembali lagi dikemukakan oleh nabi Yesaya dalam kaitannya dengan penyucian sidang dan kebinasaan orang-orang jahat : “Maka aku akan menaruh suatu tanda di antara mereka itu, dan aku akan mengutus orang-orang yang luput (144.000 itu) dari antara mereka itu kepada segala bangsa ..... Maka mereka akan menghantarkan semua saudaramu bagi suatu persembahan kepada Tuhan keluar dari segala bangsa, ..... di dalam sebuah bejana yang suci ke dalam rumah Tuhan” -- Sidang. (Yesaya 66 : 19, 20). “Maka hasil dari bumi akan menjadi sempurna dan indah menarik bagi mereka yang sudah luput dari Israel.” (Yesaya 4 : 2). Oleh sebab itu, maka mereka yang 144.000 itu disebut “hamba-hamba”. (Untuk penyelidikan selanjutnya terhadap Yesaya 66, baca “Tongkat Gembala”, Jilid I, pp. 165 – 172, bahasa Inggris). 

Ada juga dikatakan mengenai rombongan yang mulia ini : “Dan di dalam mulut mereka tidak terdapat tipu”. (Wahyu 14 : 5). Firman ini mempertegaskannya bahwa Injil yang mereka beritakan itu sepenuhnya adalah Firman Allah yang benar. Oleh karena itu, pekabaran yang mereka sajikan kepada dunia itu tidak mungkin lagi diragukan kemurniannya. Nabi dari Patmos itu setelah berbicara mengenai pemeteraian mereka yang 144.000 itu mengatakan : “Sesudah ini aku tampak, dan heranlah, ada suatu rombongan besar, yang tak seorangpun dapat menghitungnya, mereka berasal dari segala bangsa, dan suku-suku bangsa, dan umat, dan berbagai bahasa, berdiri di hadapan tahta, dan di hadapan Anak Domba itu, dengan berpakaikan jubah-jubah putih, dan pelepah-pelepah kurma berada di dalam tangannya.” (Wahyu 7 : 9). Oleh sebab itu, maka rombongan besar ini dihimpun dari segala bangsa, sesudah pekerjaan penghabisan bagi sidang berakhir, dan dalam masa penuaian yang besar. Pelepah-pelepah kurma di dalam tangan mereka itu menunjukkan kemenangan mereka atas binatang itu dan patungnya, kematian dan kubur. Salah seorang dari para tua-tua yang berada di hadapan tahta itu mengatakan dari hal mereka itu : “Inilah orang-orang yang telah keluar dari masa kesusahan besar itu” (masa kesukaran Yakub itu). (Ayat 14). Hamba Tuhan juga menyaksikannya di dalam kutipan-kutipan berikut ini : “Dan langit itu lenyaplah seperti surat yang digulung, dan setiap gunung dan pulau telah berpindah keluar dari tempatnya. Dan segala raja di bumi dan orang-orang besar, dan orang-orang kaya, dan para penglima, dan orang-orang perkasa, dan setiap hamba dan orang merdeka; sekaliannya menyembunyikan diri di dalam gua-gua dan dicelah-celah batu karang; sambil mengatakan kepada

gunung-gunung dan batu-batu, Timpalah kami, dan sembunyikanlah kami dari hadapan wajah Dia yang duduk di atas tahta itu, dan dari murka Anak Domba itu : karena hari besar murka-Nya itu telah sampai; maka siapakah yang dapat tahan berdiri?” Wahyu 6 : 14 – 17.

“ ‘Sesudah ini aku tampak, dan heranlah, ada suatu rombongan besar, yang tak seorangpun dapat menghitungnya, mereka berasal dari segala bangsa, dan suku-suku bangsa, dan umat, dan berbagai bahasa, mereka itu berdiri di hadapan tahta, dan di hadapan Anak Domba itu, dengan berpakaian jubah-jubah putih, dan pelepah-pelepah kurma berada di dalam tangannya; maka mereka berseru dengan suatu suara besar, katanya : Selamatlah bagi Allah kita yang bersemayam di atas tahta, dan bagi Anak Domba itu .....  Inilah mereka yang telah keluar dari kesukaran besar itu; dan mereka telah  membasuh jubah-jubahnya dan membuatnya menjadi putih di dalam darah Anak Domba itu’ ..... ” Wahyu 7 : 9, 17.

Di dalam Firman ini ada dua rombongan yang dikemukakan. Rombongan yang satu telah membiarkan diri mereka disesatkan, dan mereka telah berpihak kepada orang-orang yang bermusuhan dengan Tuhan.” -- “Testimonies for the Church”, Vol. 9, pp. 267, 268. Sebagaimana diperlihatkan oleh Roh Nubuat kedua rombongan ini (yaitu mereka yang berseru-seru kepada batu-batu karang, dan mereka yang memiliki pelepah kurma di dalam tangannya) hidup dalam masa kesukaran dan murka Allah itu, adalah jelas bahwa rombongan besar orang-orang yang memiliki pelepah kurma di dalam tangannya itu adalah orang-orang suci yang hidup yang berhasil dimenangkan oleh Injil dalam masa penuaian oleh usaha mereka yang 144.000 itu. 

ADAKAH MEREKA YANG 144.000 ITU LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN? 

Perintah untuk membubuhi tanda pada rombongan ini supaya mereka tidak jatuh ke bawah senjata-senjata pembantai dari lima orang itu, adalah terbaca sebagai berikut : “Maka kata Tuhan kepadanya, Masuklah kamu melalui tengah-tengah kota itu, yaitu sampai ke tengah-tengah Yerusalem, dan bubuhlah suatu tanda pada dahi dari orang-orang yang berkeluh-kesah dan menangis karena segala kekejian yang dibuat di tengah-tengahnya.” (Yehezkiel 9 : 4). Karena Firman mengatakan : “Bubuhlah suatu tanda pada dahi dari orang-orang”, maka beberapa orang berpendirian bahwa seluruh rombongan itu terdiri dari hanya orang-orang laki-laki saja. Alasan kedua yang telah diberikan bagi pendapat yang kacau ini ialah, bahwa mereka akan menjadi raja-raja dan imam-imam sehingga karena itulah mereka harus terdiri dari kaum laki-laki saja. Pendapat yang dibawa oleh jalan-jalan pikiran yang sedemikian ini tidak mungkin ditunjang oleh bagian-bagian Alkitab lainnya. Dengan demikian kita terpaksa menyelidiki lebih dalam lagi masalah ini.

Jika Yehezkiel menyebut mereka itu “orang-orang” (bahasa Inggris : men), maka Yohanes mengatakan bahwa mereka itu adalah “anak-anak dara”. (Wahyu 14 : 4). Sekarang, jika kita hendak berpendirian bahwa yang dimaksudkan oleh Yehezkiel itu hanya kaum laki-laki (men) saja, maka dapat juga kita katakan, bahwa yang dimaksudkan oleh Yohanes itu hanya kaum perempuan saja. Mungkinkah itu bahwa penulis yang satu akan bertentangan dengan penulis yang lainnya? Tentu saja tidak. Jadi kita simpulkan dari Firman berikut ini bahwa mereka yang 144.000 itu adalah laki-laki dan perempuan : “Ia telah datang menjadi saksi, untuk memberi kesaksian mengenai terang itu, supaya semua orang (bahasa Inggris : men) oleh perantaraannya dapat percaya.” (Yohanes 1 : 7). “Semua orang”, harus meliputi laki-laki dan perempuan, sebab jika tidak maka keselamatan itu akan berlaku bagi kaum laki-laki saja. “Dan Aku, jikalau Aku

ini ditinggikan di atas bumi, Aku akan menarik semua orang (bahasa Inggris : men) kepada-Ku.” (Yohanes 12 : 32). Jika kata-kata semua orang di dalam ayat ini tidak meliputi laki-laki dan perempuan, maka kaum perempuan akan hilang. “Maka zaman kebodohan itu telah dibiarkan oleh Allah; tetapi sekarang Ia perintahkan kepada semua orang dimana-mana untuk bertobat.” (Kisah Para Rasul 17 : 30). Sekali lagi, jika kata-kata “semua orang” tidak meliputi laki-laki dan perempuan, maka berarti kaum perempuan tidak diperintahkan untuk bertobat. Jadi jelaslah bahwa kata benda orang-orang itu adalah suatu kata Alkitab kolektif mengenai laki-laki dan perempuan. Kata-kata inipun adalah benar dari kejadian, karena, Allah telah menjadikan perempuan dari laki-laki. Oleh sebab itu, ia adalah seorang perempuan. Kembali di dalam Galatia 3 : 28 kita baca : “Tidak ada laki-laki atau perempuan : karena kamu sekalian menjadi satu di dalam Kristus Yesus.” 

Karena tidak ada terdapat perbedaan di antara laki-laki dan perempuan di dalam Kristus, maka kita saksikan bahwa kaum perempuan maupun kaum laki-laki dapat menjadi raja-raja dan imam-imam. Pengertian yang sama ini dapat dibuktikan melalui pengalaman bangsa Yahudi : “Maka Debora, yaitu seorang nabiah (nabi perempuan), istri dari Lapidot, ia telah menghakimi Israel pada waktu itu ..... Dan bani Israel telah datang kepadanya bagi urusan hukum.” (Hakim-Hakim 4 : 4, 5). Perempuan ini menduduki suatu jabatan dari kaum laki-laki, yaitu menjadi seorang hakim atas umat Allah, yang mana adalah sejajar dengan seorang raja. Bukan hanya sebagai raja, tetapi ia juga adalah seorang nabiah. Kembali kita baca di dalam Lukas 2 : 36, 37, “Maka ada pula seorang nabiah, bernama Hana, anak dari Fanuel, berasal dari suku bangsa Asyer : ia sangat lanjut usianya, dan ia telah bersuami tujuh tahun lamanya semenjak dari masa perawannya; dan ia telah menjadi janda kira-kira umur delapan puluh empat tahun; maka tiada ia meninggalkan Bait Allah, melainkan berbakti kepada Allah dengan berpuasa dan berdoa siang dan malam.” Juga istri dari Shallum yang adalah seorang nabiah yang mengajar Israel dan yang mengatur sekolah. (Lihat 2 Raja-raja 22 : 14 – 16). Pilipus penginjil itu mempunyai empat anak perempuan yang juga bernubuat. (Lihat Kisah Para Rasul 21 : 8, 9). 

Dari pernyataan Paulus di dalam 1 Timotius 2 : 12, yang berbunyi : “Aku tiada mengizinkan seorang perempuan mengajar, atau mengambil kekuasaan atas orang laki-laki, melainkan supaya ia berdiam diri,” Saudara dapat mencatat pengertiannya di sini, yaitu bahwa perempuan harus tunduk kepada orang laki-laki sebagaimana yang telah ditentukan Allah, dan bukan bahwa ia dilarang untuk menduduki jabatan seorang guru. Kembali kami kutip, “Hendaklah semua perempuan berdiam diri di dalam gereja-gereja : karena tidaklah diijinkan bagi mereka itu untuk berbicara; melainkan mereka diperintahkan untuk tunduk, seperti juga yang dikatakan oleh hukum.” (1 Korintus 14 : 34). Bacalah pasal itu, maka Saudara akan melihat bahwa Paulus ingin menegakkan ketertiban di dalam gereja-gereja, karena terdapat banyak kekacauan karena berbicara dalam bahasa-bahasa yang tidak dikenal. Oleh sebab itu, maka untuk mendiamkan kekacauan itu ia mengatakan : “Hendaklah kaum perempuan berdiam diri di dalam sidang-sidang jemaat.” Ia tidak melarang mereka berbicara jika mereka mempunyai tugas untuk dilaksanakan. Jika ajaran ini dipatuhi dalam zaman ini maka akan terdapat suatu perubahan besar bagi yang lebih baik di dalam rumah Allah. 

Pada mula pertama Allah menciptakan laki-laki dan perempuan sama, bagaikan raja dan ratu. “Lalu Allah memberkati mereka, dan Allah berfirman

kepada keduanya, berbiaklah, dan bertambah-tambahlah, dan penuhilah bumi, dan taklukkanlah dia : dan berkuasalah atas segala ikan di laut, dan segala burung di udara, dan segala binatang hidup yang merayap di atas bumi.” (Kejadian 1 : 28). Perhatikanlah bahwa pemerintahan itu diberikan kepada mereka berdua. Tetapi sesudah mereka berdosa maka perubahan terjadi : “Kepada perempuan itu Tuhan berfirman : ..... kerinduanmu kelak kepada suamimu, dan ia akan memerintah atas kamu.” (Kejadian 3 : 16). Dengan begitu, maka setelah perempuan itu berdosa ia lalu jatuh ke bawah pemerintahan laki-laki. Tetapi apa yang telah lenyap dari Hawa karena penipuan itu, ia itu akan dikembalikan oleh penebusan. Demikianlah persamaan dari keduanya itu akan kembali ditegakkan sebagai raja-raja dan ratu-ratu. Oleh sebab itu, “maka tidak akan ada laki-laki ataupun perempuan di dalam Yesus Kristus.” Kristus sendiri mengukuhkan pendapat ini di dalam ucapan kata-kata berikut ini : “Karena apabila kelak bangkit mereka dari antara orang mati, tiadalah mereka kawin, atau dikawinkan, melainkan keadaan mereka itu seperti malaikat-malaikat yang di dalam surga.” (Markus 12 : 25).

Dengan demikian kata benda “orang-orang” (men) yang digunakan oleh Yehezkiel, dan kata benda “anak-anak dara” (virgins) yang digunakan oleh Yohanes ialah sebuah sebutan Alkitab kolektif yang mengandung arti kedua-duanya. Selanjutnya, jumlah keanggotaan gereja pada waktu ini adalah sedikit di atas 300.000 orang. Hanya kira-kira sepertiga dari mereka itu adalah laki-laki. Jika setiap laki-laki dimeteraikan dan diperhitungkan sebagai salah satu dari 144.000 orang itu, maka kita masih kekurangan untuk mencapai jumlah keseluruhan mereka itu. Kembali kita catat pada masa paskah di Mesir darah yang terdapat pada ambang pintu itu adalah merupakan contoh dari pembubuhan tanda atau pemeteraian. (“Tongkat Gembala”, Jilid I, halaman 96 – 98, bahasa Inggris).

Dalam malam itu di mana saja terlihat darah pada ambang pintu, anak sulung baik laki-laki maupun perempuan, tidak akan binasa; demikian pula halnya di waktu ini, mereka yang akan menerima pemeteraian, yaitu mereka yang telah memakaikan darah pada ambang pintu (dahi), dan sebagai anak sulung dari kedua kelas orang-orang, yaitu mereka yang mati dan mereka yang tidak, mereka merupakan sebuah contoh dari keimamatan yang ada sekarang (kependetaan), jelaslah, bahwa contoh ini menunjuk ke depan kepada suatu dinas kependetaan contoh saingan yang dibentuk terdiri dari laki-laki dan perempuan -- anak-anak sulung yang mati melambangkan kelas orang-orang yang akan jatuh ke bawah senjata-senjata pembantai dari lima orang itu; dan anak-anak sulung yang luput dari kematian, melambangkan kelas orang-orang yang akan menerima tanda dari orang yang membawa tinta penyurat itu dan yang berjalan melewati kematian kepada kehidupan. Demikianlah anak-anak sulung yang hidup dan yang berjalan lalu melewati laut Merah itu, adalah sebuah contoh dari mereka yang 144.000 itu. Buah-buah pertama dari penuaian itu, adalah hamba-hamba Allah yang berada dalam masa “seruan keras” dari Pekabaran Malaikat yang Ketiga.

Setelah penyucian sidang dan setelah pemeteraian hamba-hamba Allah itu, lalu pekabaran yang terdapat di dalam Wahyu pasal 18 akan mencapai puncaknya dengan sebuah “seruan keras” yang berbunyi : “Keluarlah dari padanya (perempuan itu), hai umat-Ku, supaya jangan kamu terbabit dengan segala dosanya, dan supaya tidak kamu menerima segala celakanya.” (Ayat 4). Karena orang-orang suci mendengar suara dari gembala yang baik dalam pekabaran Injil, maka mereka akan memisahkan dirinya dari dunia lalu menggabungkan diri kepada mereka yang 144.000 itu. Sementara proses penyaringan ini berlangsung dalam gereja-gereja yang jatuh itu, maka orang yang membawa

tinta penyurat itu akan memeteraikan mereka yang keluar memisahkan diri itu. Apabila semua umat kesucian kelak keluar meninggalkan Babil masuk ke dalam sidang, maka tugas orang yang membawa tinta penyurat itu akan berhenti dan masa kasihan akan berakhir. (Lihat “Early Writings”, p. 279). Oleh sebab itu, maka kegiatan dari lima orang pembawa senjata-senjata pembantaian itu akan terus berlangsung dan tugas mereka akan selesai apabila Kristus datang menjemput segala umat kesucian-Nya, karena adalah mereka itu yang memegang kuasa atas negeri itu -- sidang. (Lihat Yehezkiel 9 : 1; “The Great Controversy”, p. 656). Kemudian dunia yang ada ini akan berakhir, dan seribu tahun millenium kehancuran itu akan dimulai; dalam mana orang-orang suci akan mengadili orang-orang jahat.

Mereka yang 144.000 itu disebut Israel sebab pengalaman mereka adalah sama dengan pengalaman Israel kuno keluar dari Mesir untuk menguasai tanah perjanjian. Mesir kuno adalah lambang dari dunia. Perhambaan di Mesir adalah melambangkan perhambaan oleh dosa. Pergerakan eksodus ialah sebuah contoh dari sidang memisahkan diri dari dosa dan dari orang-orang berdosa. Kebinasaan anak-anak sulung di Mesir dan tenggelamnya para prajurit Mesir, di laut Merah menunjukkan kebinasaan orang-orang jahat dalam pemisahannya dari orang-orang suci. Padang belantara adalah melambangkan sidang berada terpisah dari dunia. Kebinasaan orang durhaka di padang belantara, ialah sebuah gambaran mengenai pemeliharaan terhadap sidang dalam keadaan bersih sesudah penyuciannya. Penguasaan atas tanah perjanjian ialah sebuah contoh dari Israel (orang-orang suci) menguasai dunia. Peperangan melawan orang-orang kapir di tanah perjanjian menunjukkan kebinasaan orang-orang jahat di dunia. Kita sedang berjalan melewati jalan itu sekali lagi, maka dalam berbuat sedemikian ini, kita harus menjauhi kekeliruan-kekeliruan yang pernah dibuat dalam pengalaman yang terdahulu. 

* * * 

PADA SAAT MASA KASIHAN BERAKHIR, KUBUR-KUBUR BERHENTI

Wahyu 14 Dan 15 

Wahyu 14 : 1, “Maka aku tampak, dan lihatlah, Anak Domba itu berdiri di atas gunung Sion, dan bersama-sama dengan Dia ada seratus empat puluh empat ribu orang, yang memiliki nama Bapa-Nya tertulis pada dahi mereka.” “Anak Domba” itu melambangkan Kristus, menunjukkan jabatan yang diduduki-Nya sebelum masa kasihan berakhir, selagi Ia masih bertindak sebagai perantara bagi umat-Nya; oleh sebab itu, sejumlah tertentu orang-orang suci berdiri bersama dengan Dia, di bumi selagi Ia masih berada di dalam tempat Yang Maha Suci. Gunung Sion yang terdapat di Yerusalem kuno ialah tempat lama dari kota itu, dan tempat dari istana Daud berikut para penerusnya. Oleh sebab itu, dari titik pandangan itulah kita harus menyajikan arti dari “Anak Domba” yang berdiri di atas gunung Sion. Oleh kata-kata Firman berikut ini kepada kita diberitahukan Tuhan telah membuat sebuah janji bahwa isi rumah Daud (Gunung Sion) telah merupakan sebuah terang baginya dan bagi semua anaknya sampai selama-lamanya. “Tetapi Tuhan

tidak mau menumpas seisi rumah Daud, karena sebab perjanjian yang telah dibuat-Nya dengan Daud, dan karena Ia menjanjikan untuk mengaruniakan sebuah terang kepadanya dan kepada semua puteranya sampai selama-lamanya.” (2 Tawarikh 21 : 7).  Janji itu bukan kepada Gunung Sion (isi rumah Daud) di Yerusalem kuno, karena keberadaan bangsa Yahudi adalah bersyarat.

“Kini kepada Abraham dan benihnya janji-janji itu telah dibuat : Ia bukan mengatakan, Dan kepada benih-benih, seolah-olah kepada orang banyak; melainkan seolah-olah kepada seorang, Dan kepada benihmu, yang adalah Kristus” -- “anak Daud”. (Galatia 3 : 16). Oleh sebab itu, Gunung Sion, seperti halnya di dalam Wahyu 14 : 1, adalah lokasi kerajaan yang terkenal di dalam Yerusalem samawi, seperti yang dikatakan oleh Daud sendiri : “Karena di sanalah ditaruh kursi-kursi pengadilan, yaitu kursi-kursi dari isi rumah Daud.” (Mazmur 122 : 5). Daud telah memandang ke depan kepada masa apabila pehukuman di dalam surga akan diselenggarakan : “Pada hari itu suatu pancaran air akan terbuka bagi isi rumah Daud dan bagi semua penghuni Yerusalem untuk membasuh semua dosa dan untuk semua kecemaran.” (Zakharia 13 : 1). 

Oleh sebab itu, maka khayal Yohanes mengenai mereka yang 144.000 sebagaimana mereka itu berdiri di atas Gunung Sion bersama-sama dengan Anak Domba, ialah suatu peristiwa sesudah rombongan istimewa orang-orang suci ini dimeteraikan, dan beberapa waktu sebelum masa kasihan berakhir. Pemeteraian mereka yang 144.000 itu adalah pada saat penutupan pehukuman terhadap orang-orang mati, dan pada permulaan pehukuman terhadap orang-orang hidup. Oleh sebab itu, mereka mempunyai suatu tugas besar untuk dilaksanakan di bumi dalam kaitannya dengan pehukuman. Pekerjaan mereka telah dicontohi oleh Israel kuno sewaktu mereka itu diwajibkan untuk menguasai Tanah Perjanjian. Nabi Zakharia telah  melukiskan dengan baik masa itu : “Pada hari itu Tuhan akan melindungi semua penduduk Yerusalem; maka yang lemah di antara mereka pada hari itu akan kelak jadi seperti Daud; maka isi rumah Daud akan jadi seperti Allah, seperti malaikat Tuhan di hadapan mereka itu. Dan akan jadi kelak pada hari itu, bahwa Aku akan mencari membinasakan segala bangsa yang datang melawan Yerusalem (sidang). Dan Aku akan menuangkan atas isi rumah Daud, dan ke atas semua penduduk Yerusalem, roh rahmat dan permintaan doa : lalu mereka akan memandang kepada-Ku, yang telah ditikamnya, (karena Ia telah mati bagi dosa-dosa mereka) dan mereka akan meratapi Dia seperti orang meratapi putera satu-satunya, dan mereka akan menangisi Dia tersedu-sedu, seperti orang menangisi anak sulungnya.” (Zakharia 12 : 8 – 11). Betapa indahnya pengalaman itu kelak nanti apabila kita sepenuhnya memahami akan kasih Allah dan harga yang telah dibayar bagi penebusan itu. 

Nabi Mikha menamakan mereka yang 144.000 itu, “mereka yang tersisa dari Yakub”. (Lihat “Tongkat Gembala”, Jilid I, halaman 102, bahasa Inggris). “Maka mereka akan menghabisi tanah Assiria dengan pedang, dan tanah Nimrod pada segala pintu masuknya : demikianlah kelak ia akan melepaskan kita dari orang Assiria, apabila ia datang ke dalam negeri kita, dan apabila ia berpijak di dalam daerah-daerah perbatasan kita. Maka mereka yang tersisa dari Yakub akan berada di tengah-tengah banyak bangsa bagaikan sebutir embun dari Tuhan, bagaikan curah hujan di atas rerumputan, yang tiada menantikan orang, ataupun yang tidak mengharap-

harapkan anak-anak manusia. Maka mereka yang tersisa dari Yakub itu akan terdapat di antara bangsa-bangsa Kapir di tengah-tengah banyak bangsa bagaikan seekor singa di antara segala binatang di hutan, bagaikan seekor singa muda di antara kawanan-kawanan domba : yang jika ia berjalan lalu, maka dipijaknya mangsanya dengan kaki maupun dicabik-cabiknya sampai hancur, dan tak satupun yang dapat lolos. Tanganmu akan ditinggikan atas segala pembencimu, dan segala musuhmu akan ditumpas ..... Maka Aku akan membalas dengan kehangatan murka-Ku terhadap orang kapir, sedemikian seperti yang tiada mereka itu mau dengar.” (Mikha 5 : 6 – 9, 15 -- KJV).

“Bagian Yakub itu tidaklah seperti mereka; karena ia adalah yang terdahulu daripada segala perkara : dan Israel ialah tongkat pusakanya : Tuhan serwa sekalian alam ialah namanya. Engkau adalah kampak perang-Ku dan senjata-senjata perang-Ku (144.000) : karena dengan dikau akan Ku hancurkan segala bangsa, dan dengan dikau akan Ku binasakan kerajaan-kerajaan; dan dengan dikau Aku akan menghancur-luluhkan kuda dan penunggangnya; dan dengan dikau Aku akan menghancur-luluhkan kereta dan pengendaranya; dan dengan dikau juga Aku akan menghancur-luluhkan laki-laki dan perempuan; dan dengan dikau Aku akan menghancurkan orang tua dan orang muda; dan dengan dikau Aku akan menghancurkan pemuda dan pemudi; dan Aku akan juga menghancurkan bersama dikau gembala berikut kawanan dombanya; dan dengan dikau Aku akan menghancurkan pengusaha kebun anggur berikut lembu pembajaknya, dan dengan dikau Aku akan menghancurkan para penguasa perang berikut para pemimpin pemerintahan.” (Yeremia 51 : 19 – 23). Oleh karena itu, pada kegenapan khayalnya Yohanes itu, mereka yang 144.000 itu “Berdiri di atas Gunung Sion”, bukanlah secara jasmani, melainkan dalam arti jabatan yang mereka duduki. Dalam cara yang sama seperti lima anak dara yang telah masuk bersama-sama dengan Dia ke perkawinan itu. (Lihat “The Great Controversy”, halaman 427). Sebagaimana halnya Israel kuno adalah pengacau teror terhadap orang-orang kapir yang tinggal di tanah perjanjian, demikianlah juga Israel Allah pada waktu ini akan menjadi suatu pengacau teror terhadap orang-orang berdosa di dunia, dan sebagaimana halnya Israel kuno sudah harus berperang dengan pedang untuk menguasai tanah itu, maka demikian itu pula Israel pada waktu ini harus berperang dengan “pedang dari Roh” untuk menguasai dunia (tanah perjanjian).

“Maka ku dengar suatu suara dari langit, seperti bunyi banyak air yang menderu, dan seperti bunyi suatu guruh yang besar : dan aku dengar bunyi suara orang pemetik kecapi memainkan kecapinya : dan mereka itu menyanyikan suatu nyanyian yang tampaknya baru di hadapan tahta, dan di hadapan empat  binatang, dan para tua-tua itu : dan tak seorangpun dapat mempelajari nyanyian itu terkecuali mereka yang 144.000 itu, yang telah ditebus dari bumi.” Wahyu 14 : 2, 3.

Nyanyian itu dinyanyikan di dalam surga oleh mahluk-mahluk surga di hadapan tahta, dan di hadapan binatang-binatang itu, dan para tua-tua itu. Oleh sebab itu, jelaslah bahwa persidangan hukum itu masih berlangsung. (Penjelasan selanjutnya akan menyusul). Perhatikanlah bahwa mereka yang 144.000 itu tidak menyanyi, namun mereka hanya dapat mempelajari “nyanyian” itu seperti yang dinyanyikan di dalam surga; artinya, mereka saja yang mengerti kebenaran samawi itu dalam masa yang istimewa itu dan kedudukan mereka dalam kaitannya dengan pekabaran yang harus mereka bawakan. 

“Maka aku dengar suatu suara dari langit yang mengatakan kepadaku, Tuliskanlah,

Berbahagialah segala orang yang sudah mati, yang mati dalam Tuhan semenjak dari sekarang ini : ya, kata Roh itu, bahwa mereka boleh berhenti dari segala pekerjaannya; dan segala perbuatannya mengikuti mereka itu.” (Wahyu 14 : 13). “Yang mati semenjak dari sekarang ini”, artinya, semenjak dari permulaan “seruan keras” itu. Dengan demikian firman itu menyatakan bahwa sebagian dari orang-orang suci akan meninggal selama masa penuaian itu (seruan keras). Kami mengutip dari “Counsels on Health”, halaman 375 : “Banyak orang akan ditidurkan (mati) sebelum siksaan masa kesusahan besar yang bernyala-nyala itu kelak datang menimpa dunia.” 

Sementara sebagian orang-orang suci kelak ditidurkan dalam masa “seruan keras” itu, adalah diperjelas oleh Wahyu 15 : 1, 2, bahwa semua orang yang hidup setelah masa kasihan berakhir dan sebelum permulaan dari curahan bela-bela itu, akan diubahkan tanpa merasakan kematian : “Maka aku tampak suatu tanda yang lain di langit, yang besar, dan menakjubkan, tujuh malaikat yang membawa tujuh bela yang terakhir itu; karena di dalam sekaliannya itu ada terisi murka Allah. Maka aku tampak seolah-olah suatu laut kaca yang bercampur dengan api : dan mereka yang telah  memperoleh kemenangan atas binatang itu, dan atas patungnya, dan atas tandanya, dan atas angka bilangan dari namanya, mereka berdiri di atas laut kaca, sambil memegang kecapi-kecapi Allah.” “Laut kaca” itu adalah melambangkan kehidupan yang kekal. (Dijelaskan di dalam Bab lain). Karena sebanyak sekalian mereka yang telah memperoleh kemenangan berdiri di atas laut itu, maka ini menunjukkan bahwa mereka telah melewati kematian sampai kepada kehidupan, dan tujuan akhir mereka sekarang adalah “Allah, Yerusalem baru.” 

Ayat 5 – 8 : “Maka sesudah itu aku tampak, dan, tengoklah, kaabah dari kemah kesaksian di dalam surga itu terbuka : lalu keluarlah dari dalam kaabah itu tujuh malaikat, yang memegang tujuh bela, mereka berpakaikan kain kasah asli dan putih, dan dada mereka dilapisi dengan cindai emas. Maka salah satu dari empat binatang itu memberikan kepada tujuh malaikat itu tujuh bokor emas yang penuh dengan murka dari Allah, yang hidup selama-lamanya. Maka kaabah itu dipenuhi dengan asap dari kemuliaan Allah, dan dari kuasa-Nya; dan tak seorangpun dapat masuk ke dalam kaabah itu, sampai tujuh bela dari tujuh malaikat itu digenapi.” Sesudah pemeriksaan hukum selesai dan setiap perkara diputuskan, kaabah kesaksian itu akan terbuka sama seperti pada waktu kaabah kesaksian contoh terbuka pada saat berakhirnya upacara korban : maka tirai yang memisahkan dua ruangan itu “tersobek menjadi dua dari atas sampai ke bawah.” (Lihat Matius 27 : 51).

Pintu yang dibukakan setelah masa kasihan berakhir ialah pintu masuk ke tempat suci yang tadinya tertutup dalam tahun 1844. Sesudah masa kasihan berakhir kaabah akan dipenuhi dengan kuasa dan kemuliaan Allah sehingga tidak seorangpun kelak dapat masuk sampai tujuh bela itu digenapi. Menunjukkan bahwa semua umat Allah berdiri di atas laut kaca (hidup kekal) dan kemudian pintu kasihan ditutup. Jadi sesudah Yesus meninggalkan tempat yang maha suci, hamba-hamba Allah tidak akan lagi mengucapkan khotbah-khotbah penguburan orang mati dan tidak ada lagi penginjilan bagi orang-orang berdosa. 

* * *

MATIUS PASAL DUA PULUH EMPAT, DAN TANDA-TANDA DARI KEDATANGAN KRISTUS 

“Tatkala Ia duduk di atas bukit Zaitun, murid-murid itu datang kepada-Nya secara diam-diam, lalu mengatakan, ‘Nyatakanlah kepada kami, kapankah segala perkara ini akan jadi? Dan apakah tanda kedatangan-Mu dan kesudahan dunia ini?’ Maka jawab Yesus kepada mereka itu, Berjaga-jagalah agar jangan seorangpun menyesatkan kamu. Karena banyak orang akan datang dalam nama-Ku, katanya, Aku inilah Kristus; maka mereka akan menyesatkan banyak orang. Maka kamu akan mendengar dari hal peperangan dan kabar-kabar peperangan : ketahuilah, janganlah kamu susah : karena segala perkara itu akan digenapi, tetapi itupun belum sampai kepada kesudahan itu. Karena bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan : maka akan terjadi bela kelaparan, dan wabah penyakit, dan gempa bumi, di beberapa tempat. Semuanya ini adalah permulaan dari segala kesusahan. Lalu pada masa itu kamu akan diserahkan orang untuk disiksa, dan kamu akan dibunuh orang, dan kamu akan dibenci oleh segala bangsa oleh sebab nama-Ku. Dan kemudian daripada itu banyak orang mendurhaka, dan mereka akan saling menghianati, dan saling membenci akan sesamanya. Maka banyak nabi palsu akan muncul, dan mereka akan menyesatkan banyak orang. Dan karena makin bertambah kejahatan, maka kasih dari banyak orang akan menjadi dingin. Tetapi barangsiapa yang bertahan sampai kepada akhirnya, ia akan diselamatkan. Dan Injil kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia untuk menjadi suatu kesaksian bagi segala bangsa; kemudian datang kesudahan itu.” (Ayat 3 – 14). 

Pertanyaan yang langsung disampaikan kepada Kristus dan jawaban-Nya yang memberi jaminan tentang kedatangan-Nya, dan akhir dari dunia yang sekarang ini, adalah cukup jelas dan sudah jelas dengan sendirinya, sehingga tidak mungkin dapat diragukan lagi. Ia tidak mengatakan bahwa akhir dari dunia berdosa yang sekarang ini tidak akan ada, tetapi ditegaskan-Nya dengan jelas bahwa ia itu akan terjadi. Tetapi bagaimanapun Ia mengatakan bahwa sebelum akhir dunia itu tiba, maka “Injil kerajaan ini (tanda-tanda kedatangan-Nya yang kedua kali seperti yang diramalkan di dalam pasal ini) akan diberitakan di seluruh dunia untuk menjadi suatu kesaksian bagi segala bangsa (bukan supaya semua bangsa kelak dapat ditobatkan, melainkan untuk menjadi suatu kesaksian) dan kemudian akan datang kesudahan.” Barangsiapa yang mengajar bertentangan dengan penegasan Tuhan yang jelas ini, adalah orang-orang yang dikatakan-Nya : “Banyak nabi palsu akan bangkit dan mereka akan menyesatkan banyak orang.” Selanjutnya, Tuhan mengatakan : “Karena seperti kilat memancar dari timur, dan bercahaya sampai ke barat; demikian itu pula kelak kedatangan Anak Manusia.” (Ayat 27). 

Sementara sebagian dari nabi-nabi palsu ini selengkapnya menyangkal akan kedatangan-Nya itu, orang-orang lainnya dengan berani mengatakan, “Ia sudah datang”. Yang lainnya lagi mengatakan bahwa tak seorangpun akan kelak melihat Dia pada kedatangan-Nya, tetapi, Ia akan mendirikan kerajaan-Nya di bumi, dan dunia ini tidak pernah akan sampai

kepada ajalnya, dan sebagainya. Kami ingin bertanya : Apakah Kristus sedang menceritakan sebuah cerita bohong, ataukah semua nabi palsu itu sedang menggenapi kata-kata ramalan-Nya dengan cara mencoba menyesatkan orang-orang suci mengenai kedatangan-Nya, lalu meruntuhkan kepercayaan mereka kepada kata-kata Firman Tuhan, lalu dengan demikian merampas dari mereka mahkota kehidupannya? Jika sekiranya mereka ini bukanlah para penyesat itu yang telah dibicarakan-Nya, maka siapakah sesungguhnya mereka itu?

Kalau saja para pelaku kejahatan yang sedemikian ini berani mencoba memutar-balikkan bahasa-Nya yang jelas itu seperti dalam contoh ini, maka tidakkah dapat diharapkan bahwa mereka juga akan kelak mencoba untuk meruntuhkan seluruh kebenaran Alkitab?

Apabila Kristus datang kelak “seperti kilat yang memancar keluar dari sebelah timur, lalu bercahaya sampai ke sebelah barat”, nabi-nabi palsu ini akan kelak malu. Pewahyu juga menyatakan : “Tengoklah, Ia datang dengan awan-awan; dan setiap mata akan memandang Dia, dan juga mereka yang telah menikam Dia : (Artinya, mereka yang dulu menikam Dia itu akan bangkit mendahului kedatangan-Nya. Lihat Daniel 12 : 2) dan semua suku bangsa di bumi akan meratap karena-Nya. Bahkan demikianlah, Amin.” (Wahyu 1 : 7). Ya, Kristus kita akan datang dan kita akan melihat Dia seperti ada-Nya, “Maka akan dikatakan pada masa itu, Inilah Allah kita : karena sudah lama kita menanti-nantikan Dia, maka Ia akan menyelamatkan kita; inilah Tuhan; sudah lama kita menanti-nantikan Dia, kita akan bergembira dan bersukacita dalam keselamatan-Nya.” (Yesaya 25 : 9).

Walaupun semua nabi palsu dan orang-orang berdosa ini tidak mau untuk menjumpai Dia pada kedatangan-Nya, mereka harus : “Dan segala raja di bumi, dan orang-orang besar, dan orang-orang kaya, dan para panglima, dan orang-orang perkasa, dan setiap hamba, dan setiap orang merdeka, sekalian mereka itu menyembunyikan dirinya di dalam gua-gua dan di dalam batu-batu gunung; sambil mengatakan kepada gunung-gunung dan batu-batu karang itu, Timpalah kami, lindungilah kami dari wajah Dia yang duduk di atas tahta itu, dan dari murka Anak Domba itu : Karena hari besar murka-Nya itu sudah tiba; dan siapakah yang dapat tahan berdiri?” (Wahyu 6 : 15 - 17). Maka demikianlah kelak akhirat itu tiba bagi orang-orang berdosa, tetapi bukan bagi umat Allah : “Karena Tuhan sendiri akan turun dari surga dengan suatu seruan, dengan suara penghulu malaikat, dan dengan sangkakala Allah : maka orang-orang yang mati dalam Kristus akan bangkit lebih dahulu. Kemudian kita yang hidup dan yang masih tinggal ini akan diangkat bersama-sama dengan mereka di dalam awan-awan, untuk menjumpai Tuhan di angkasa : maka demikianlah kita kelak tinggal bersama-sama dengan Tuhan untuk selama-lamanya.” (1 Tesalonika 4 : 16, 17)

Bagi orang–orang berdosa hari itu kelak merupakan suatu hari yang mengerikan, maka kepada mereka Ia akan datang “seperti seorang pencuri pada malam hari”, tetapi tidaklah demikian halnya bagi orang-orang yang menanti-nantikan kedatangan-Nya. Karena, berbicara mengenai aniaya besar yang telah menyekap umat-Nya dalam masa kegelapan selama 1260 tahun dari Daniel 7 : 25 itu, Ia berfirman : “Segera setelah masa sengsara itu matahari akan digelapkan, dan bulan tidak akan memberikan cahayanya, dan bintang-bintang akan gugur dari langit, dan segala kekuatan di langit akan digoncangkan : dan kemudian akan kelihatan Anak Manusia di langit : maka segala bangsa manusia di bumi akan meratap, dan mereka akan melihat Anak Manusia datang di dalam awan-awan

di langit dengan kuasa dan kemuliaan besar. Maka Ia akan mengutus malaikat-malaikat-Nya dengan suatu bunyi sangkakala besar, dan mereka akan menghimpunkan bersama-sama umat pilihan-Nya dari seluruh empat mata angin, dari ujung langit yang satu sampai kepada ujung langit yang lainnya.” (Matius 24 : 29 - 31).

Tuhan dalam memandang ke depan kepada generasi sekarang ini, mengatakan, “akan ada tanda-tanda pada matahari, dan pada bulan, dan pada bintang-bintang.” (Lukas 21 : 25). Dengan demikian, maka “segera sesudah masa kesusahan itu” (aniaya besar itu) matahari akan digelapkan. Pada tanggal 19 Mei 1780 nubuatan ini telah digenapi. Mengutip dari “The Great Controversy” : “’Hampir saja kalau boleh disebut sesuatu yang luar biasa yang sangat rahasia dan yang belum terpecahkan, ..... yaitu hari gelap pada tanggal 19 Mei 1780 -- yaitu suatu kegelapan yang sangat tidak dimengerti yang meliputi seluruh pandangan di semua langit dan atmosfir di New England.’” Seorang saksi mata yang tinggal di Massachusetts melukiskan peristiwa itu sebagai berikut : 

‘Pada pagi hari matahari naik dengan cerah, tetapi tak lama kemudian cuaca mendung. Awan-awan menjadi gelap, dan dari sekaliannya itu seperti yang tak lama kemudian tampak, yaitu hitam dan aneh, kilat sambar menyambar, guntur menderu-deru, dan sedikit hujan turun. Sampai jam sembilan, awan-awan itu menjadi makin tipis, lalu kelihatan berwarna merah kekuning-kuningan, maka tanah, batu-batu karang, pohon-pohon, bangunan-bangunan, air, dan orang-orang menjadi berubah, oleh cahaya aneh yang bukan dari bumi ini. Beberapa menit kemudian, sebuah awan tebal yang hitam membentang menutupi seluruh langit, terkecuali suatu tepi yang sempit di khatulistiwa, dan ia itu sama saja gelapnya seperti biasanya pada jam sembilan pada sesuatu malam musim panas .....

‘Ketakutan, kegelisahan, dan perasaan ngeri perlahan-lahan memenuhi pikiran orang banyak. Perempuan-perempuan berdiri di pintu, memandang keluar pada pandangan yang gelap itu; kaum pria kembali dari tugas-tugasnya di padang; tukang kayu meninggalkan peralatannya; tukang besi meninggalkan ruang kerjanya, para pedagang meninggalkan tokonya. Sekolah-sekolah dibatalkan, dan dengan gemetar murid-murid berlarian pulang. Orang-orang pejalan kaki berhenti pada rumah-rumah perkebunan yang terdekat. ‘Apakah yang akan terjadi?’ Bertanya-tanyalah setiap bibir dan hati. Tampaknya seolah-olah sebuah angin puyuh sedang akan menghembus melewati tanah itu, atau seolah-olah itu adalah hari kebinasaan dari segala perkara .....

‘Luasnya kegelapan ini adalah luar biasa. Ia itu terlihat sampai jauh di sebelah timur sampai di Falmouth. Arah ke sebelah barat ia itu sampai ke bagian yang terjauh di Connecticut, dan sampai ke Albany. Ke selatan, ia itu terlihat sepanjang pesisir pantai; dan ke utara adalah sejauh daerah-daerah kependudukan orang-orang Amerika.’

“Pekatnya kegelapan hari itu disusul, satu atau dua jam sebelum malam hari, oleh sebagian langit yang cerah, lalu matahari muncul, walaupun ia itu masih digelapkan oleh kabut pekat, yang gelap. ‘Setelah matahari masuk, awan datang kembali di atas kepala, dan ia itu meningkat menjadi gelap dengan cepat sekali.’ ‘Juga kegelapan malam itu tidak kurang anehnya dan menakutkan daripada kegelapan pada siang hari; walaupun pada waktu itu sudah hampir bulan penuh, tidak satupun objek yang dapat dilihat terkecuali dengan bantuan

sesuatu terang buatan, yang mana, apabila, terlihat dari rumah-rumah tetangga dan tempat-tempat lainnya pada sesuatu jarak, maka ia itu terlihat melalui sejenis kegelapan Mesir yang tampaknya hampir-hampir tidak tembus cahaya.’ Kata salah seorang saksi mata mengenai pemandangan itu : ‘Saya tidak dapat menolong menggambarkan pada waktu itu, karena kalaupun setiap badan pemberi cahaya di dalam alam ini telah diselimuti dalam bayang-bayangan yang tidak tembus, atau dibuang ke luar dari tempatnya, kegelapan itu belum juga mungkin melebihinya.’ Walaupun pada jam sembilan malam itu bulan telah naik mencapai penuh, ‘ia itu sedikitpun tidak ada efeknya untuk mengusir bayang-bayangan yang bagaikan kematian itu.’ Setelah tengah malam kegelapan itu berlalu, maka bulan, pada saat pertama kali terlihat, kelihatannya seperti darah.” 

“Tanggal 19 Mei 1780, tercatat di dalam sejarah sebagai ‘Hari Gelap’. Semenjak dari zaman Musa, belum ada satupun masa kegelapan yang sama pekatnya, sama hebatnya, dan sama lamanya, yang pernah ada tercatat. Gambaran dari peristiwa ini, seperti yang diberikan oleh para saksi mata, hanyalah sebuah gema dari kata-kata firman Tuhan, yang dicatat oleh nabi Yoel, dua ribu lima ratus tahun sebelum kegenapannya : ‘Matahari akan berubah menjadi gelap, dan bulan menjadi darah, sebelum datang hari Tuhan yang besar dan mengerikan itu.’ ” 

“Dalam tahun 1833, dua tahun sesudah Miller memulai menyampaikan di depan umum bukti-bukti kedatangan Kristus yang segera itu, yang terakhir dari tanda-tanda itu telah terlihat yang telah dijanjikan oleh Juruselamat sebagai tanda-tanda dari kedatangan-Nya yang kedua kali. Yesus mengatakan, “Bintang-bintang akan berjatuhan dari langit. Dan Yohanes dalam buku Wahyu mengatakan, sebagaimana yang ia saksikan dalam khayal pemandangan peristiwa-peristiwa itu yang akan memberitakan hari Allah itu, “Bintang-bintang di langit berjatuhan ke bumi, sama seperti sebatang pokok ara yang membuang buah-buahnya yang muda, bilamana ia itu diguncangkan oleh angin kencang.” Nubuatan ini telah digenapi dengan tepat dan mengesankan pada waktu hujan meteor yang hebat pada tanggal 13 November 1833. Itu adalah pertunjukan bintang-bintang jatuh yang ajaib dan sangat besar yang pernah dapat dicatat; “Seluruh langit, yang meliputi seluruh Amerika Serikat, pada waktu itu, berjam-jam lamanya, berada dalam kegemparan api! Belum pernah ada tanda keajaiban di langit yang pernah terjadi di negeri ini (Amerika Serikat), semenjak pertama kali negeri itu dihuni, yang telah disaksikan dengan sedemikian dalam perasaan kagum oleh kelas masyarakat yang satu, atau dengan sedemikian takut dan tegang oleh kelas masyarakat yang lainnya.” Kehebatan dan kengerian dari keindahannya itu masih tetap ada di dalam banyak ingatan orang ….. Belum pernah hujan turun dengan setebal itu seperti halnya hujan meteor yang berjatuhan ke bumi; baik di sebelah timur, di sebelah barat, di sebelah utara, maupun di sebelah selatan, sekaliannya sama saja. Dengan sebuah perkataan, seluruh langit tampaknya dalam keadaan genting ….. Pertunjukan itu, seperti yang dilukiskan di dalam majalah Professor Silliman, ia itu terlihat di seluruh Amerika Utara ….. Semenjak dari jam 2 sampai kepada siang hari, langit dalam keadaan tenang dan tidak berawan, sebuah permainan yang tak henti-hentinya dari sumber-sumber cahaya yang memancarkan cahayanya dengan gemerlapan berlangsung di segala langit.” 

‘Sesungguhnya, tidak ada bahasa yang dapat melukiskan keindahan dari pertunjukan yang besar itu; ….. tidak seorangpun yang tidak menyaksikannya dapat memberikan bentuk

konsep yang cukup mengenai kemuliaannya. Tampaknya seolah-olah seluruh langit yang berbintang-bintang itu telah berhimpun pada satu titik dekat kepada Zenith, lalu secara serentak memancarkan cahayanya, dengan kecepatan kilat, menuju ke seluruh bagian dari khatulistiwa; tetapi pun sekalian itu tidak berkurang kekuatannya — beribu-ribu menyusuli dengan cepatnya mengikuti jejak-jejak dari beribu-ribu yang mendahuluinya, seolah-olah diciptakan untuk kesempatan itu.’

“Di dalam New York Journal of Commerce terbitan 14 November 1833, telah muncul sebuah artikel yang panjang mengenai tanda keajaiban yang indah ini, yang berisikan pernyataan : “Saya pikir, tidak ada satupun ahli falsafah atau sarjana yang pernah menceritakan atau mencatat sesuatu peristiwa, yang seperti pada kemarin pagi itu. Seorang nabi seribu delapan ratus tahun yang lalu telah meramalkannya dengan tepat, jika kita akan kacau mengartikan bintang-bintang jatuh dengan kejatuhan bintang-bintang ….. dalam arti satu-satunya dimana mungkin ia itu dapat benar-benar terjadi.”

“Dengan demikian telah diperlihatkan tanda yang terakhir dari sekalian tanda-tanda kedatangan-Nya, terhadap mana Yesus telah  meminta perhatian para murid-Nya, ‘Apabila kamu kelak menyaksikan semua perkara ini, maka ketahuilah bahwa ia itu sudah dekat, bahkan sudah di depan pintu.’  Sesudah semua perkara ini, Yohanes melihat, sebagai peristiwa besar berikutnya yang akan datang, segala langit tergulung bagaikan sehelai kertas, sementara bumi bergempa, gunung-gunung dan pulau-pulau berpindah keluar dari tempatnya, dan orang-orang jahat dalam ketakutan berusaha lari dari hadapan Anak Manusia.” -- “The Great Controversy”, halaman 306 – 308, 333, 334.

Kristus telah menghimbau kepada umat-Nya supaya berjaga-jaga terhadap tanda-tanda kedatangan-Nya, dan supaya bersukacita sementara mereka memandang kepada tanda-tanda dari kedatangan Raja mereka. Ia katakan, “Maka apabila segala perkara ini mulai terjadi, maka pandanglah ke atas, dan angkatlah kepalamu, karena kelepasanmu sudah dekat.” (Lukas 21 : 28). Ia mengarahkan para pengikut-Nya kepada pohon-pohon yang bertunas dalam musim bunga, lalu kata-Nya : “Sekarang belajarlah sebuah perumpamaan dari pohon ara; Pada ketika carangnya masih lembut, dan mengeluarkan tunas, maka ketahuilah olehmu bahwa musim panas sudah dekat : Demikian juga kamu, apabila kamu kelak menyaksikan semua perkara ini, ketahuilah bahwa ia itu sudah dekat, bahkan sudah di depan pintu.” (Matius 24 : 32, 33). Sementara Penebus menunjukkan dengan jelas betapa dekatnya kedatangan-Nya kepada generasi yang kelak akan menyaksikan semua tanda keajaiban ini, Ia tidak membiarkan kita dalam kegelapan mengenai berapa lama jaraknya antara kegenapan tanda-tanda ini dan peristiwa besar dan mulia itu, karena Ia menambahkan lagi : “Generasi ini (generasi yang menyaksikan tanda-tanda) tidak akan berlalu, sebelum segala perkara ini digenapi.” (Ayat 34). Karena generasi yang dibicarakan oleh Tuhan itu sedang akan berlalu, dan kerajaan dari kehidupan kekal itu sudah dipersilahkan masuk, maka penyelidik kebenaran hendaknya tidak melalaikan kesempatan dengan membiarkan perkara-perkara yang kurang penting menguasai pikirannya, atau menguasai waktunya. 

DIPERUNTUKKAN BAGI GEREJA MASEHI ADVENT HARI KETUJUH 

Injil tentang kedatangan Kristus dalam generasi ini, dan tanda-tanda zaman seperti yang terdapat di dalam Matius 24, adalah diperuntukkan bagi

Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh sejak tahun 1844. Tidak ada satupun organisasi umat yang memiliki beban tanggung jawab pekabaran yang diajarkan di dalam Bab ini (Tanda-tanda dan akhir sejarah dunia), dan penyampaiannya yang mendesak dengan cepat dalam generasi ini. Oleh karena itu, apapun ujian atau hukuman yang telah dituliskan kepada “hamba” yang terdapat dalam Matius 24, ia itu tak mungkin berlaku bagi umat yang lain. Selanjutnya, karena dunia Kristen yang lainnya telah jatuh semenjak tahun 1844 karena mereka menolak pekabaran-pekabaran yang telah  dikirimkan kepada mereka, maka demikianlah Allah tidak mau membiarkan terang itu bercahaya melalui mereka semenjak dari waktu itu, sehingga jelaslah bahwa Injil dari Matius pasal 24 tidak mungkin dapat dikhotbahkan oleh sesuatu umat yang lain. Oleh sebab itu, ucapan mengenai hamba itu di dalam ayat berikut ini adalah hanya berlaku bagi sidang yang lalu.

“Siapakah kelak hamba yang setia dan bijaksana, kepada siapa telah ditetapkan oleh Tuannya menjadi pemimpin atas isi rumah-Nya, (isi rumah Tuannya), untuk memberi kepada mereka (kepada dunia) makanan pada waktunya” -- kebenaran sekarang? (Ayat 45). Perhatikan, bahwa ada sebuah pertanyaan mengenai siapa yang kelak menjadi hamba yang setia ini. Jika sekiranya umat itu kepada siapa Injil ini terutama diperuntukkan telah didapati setia, maka janji yang berikut ini sudah akan menjadi milik mereka : “Berbahagialah hamba itu, yang apabila Tuannya tiba, didapatinya sedang berbuat demikian itu, Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, bahwa Ia akan menetapkan dia menjadi pemimpin atas segala harta milik-Nya.” (Ayat 46, 47). Arti dari “segala harta milik-Nya” ialah penyelesaian Injil, membawakan kebenaran yang kekal, dan menghantarkan masuk kerajaan Kristus! Alangkah indahnya janji itu! Tetapi, perhatikanlah bagaimana bahayanya kehilangan kemuliaan yang kekal ini : “Tetapi dan jikalau hamba yang jahat itu berpikir dalam hatinya, Tuanku memperlambat kedatangan-Nya; lalu kelak mulailah ia memukuli teman-teman sesama hambanya, serta makan dan minum bersama-sama dengan orang pemabuk.” (Ayat 48, 49). “Hamba” itu (tunggal) yang kelak akan “mulai memukuli teman-teman sesama hambanya” (jamak) menunjukkan kepemimpinan -- yaitu “malaikat” dari sidangnya orang-orang Laodikea -- mereka yang berkuasa atas “isi rumah itu”.  Tetapi “hamba-hamba” (jamak) itu berlaku terhadap pihak pelayanan yang berada di bawah kepemimpinan itu. Karena kelalaian dari “hamba itu”, maka Injil telah tertunda; generasi ini sudah akan berlalu, sedangkan pekerjaan bertahun-tahun ketinggalan di belakang. Akibatnya ialah, bahwa keterlambatan itu bukan saja ditunjukkan melalui tindakan, tetapi ia itu juga diucapkan dengan kata-kata, “Tuanku memperlambat kedatangan-Nya”. Dan sebagaimana dosa yang satu membawa kepada dosa yang lainnya, maka ajaran “Reformasi Kesehatan”, telah dilanggar, mereka memakan makanan yang merusak kesehatan karena hasil-hasil ciptaan modern, yaitu “makanan-makanan lezat” dari Babil, dan sebagainya -- pemanjaan terhadap napsu-napsu daging, dengan demikian menggenapi kata-kata, “makan dan minum bersama-sama dengan orang pemabuk”. 

Ajaran Reformasi Kesehatan disebut sebagai ”tangan kanan dan lengan dari Pekabaran Malaikat Yang Ketiga”, dan bahwa pekerjaan obat-obatan ialah “tangan kanan dari pekabaran itu”. Pendapat mengenai Reformasi Kesehatan ialah suatu perkara masa lalu sejauh yang berkenaan kepada sidang sebagai sebuah

badan, dan pihak kepemimpinan sedikit sekali memperhatikannya. Tetapi itupun belum merupakan yang terburuk; hamba Allah yang tidak setia ini bahkan dengan beraninya merentangkan tangannya melewati selat untuk membentuk aliansi terlarang lembaga-lembaga medis gereja dengan lembaga-lembaga yang sama dari dunia, yaitu mereka yang dengan gigihnya menentang pendapat tentang Reformasi Kesehatan -– yaitu tangan kanan dan lengan dari “Pekabaran Malaikat Yang Ketiga”. Satu-satunya saluran yang telah dilembagakan untuk menegakkan dan meneruskan bagian dari pekerjaan itu, sedang berada terikat oleh suatu konfederasi; maka kini untuk mempertahankan aliansi ini ia itu terpaksa mengorbankan prinsip utamanya untuk mana ia telah  diorganisir. Dengan begitu, maka perwakilan dari Allah untuk menangani orang-orang sakit dan untuk mencegah penyakit melalui hidup yang sehat dan  penyembuhan secara Ilahi melalui penurutan kepada kebenaran, telah diganti dengan obat-obatan.

Dengan demikian Iblis telah memotong putus tangan kanan dan lengan dari Pekabaran Malaikat Yang Ketiga itu, lalu oleh perantaraan cara yang licik ini ia berhasil merampok sidang Allah dari lembaga-lembaga medisnya! Betapa celakanya! Alangkah hilangnya! Tidakkah umat Allah yang setia pada masa yang sedemikian ini mau datang kepada bantuan Tuhan melawan mereka yang berkuasa? Bagaimana mungkin sebuah organisasi umat dengan begitu banyaknya terang telah menjadi sedemikian buta melampaui paham pengertian manusia; inilah suatu rahasia!

Kalau saja mereka (orang-orang yang dibebani dengan tanggung jawab yang besar ini) telah didapati setia kepada kepercayaan yang telah diberikan kepada mereka, maka berkat-berkat yang kekal yang terdapat di dalam ayat yang berikutnya sudah akan menjadi milik mereka : “Bahwa Ia akan menjadikan dia pemimpin atas semua harta milik-Nya.” Tetapi kepada orang yang melalaikan tugas yang diberikan oleh Tuannya : “Tuan dari hamba itu akan tiba pada sesuatu hari yang tiada disangkakannya, dan pada sesuatu jam yang tidak diketahuinya, maka Ia akan menyesahkan dia teramat sangat, dan akan menetapkan bagiannya bersama-sama dengan orang-orang munafik : di sanalah kelak ada tangisan dan keretak gigi.” (Ayat 50, 51). Kalau saja mereka telah mematuhi pekabaran terakhir yang penting itu yang telah dikirimkan kepada mereka, yang memanggil mereka kepada perubahan-perubahan yang menentukan dalam semua perkara ini, maka pasal yang berikut ini (Matius 25) sudah akan berbeda secara nubuatan.

SEPULUH ANAK DARA ITU -- MATIUS 25

“Pada ketika itu kerajaan surga kelak seumpama sepuluh anak dara yang membawa pelita-pelitanya, lalu pergi keluar hendak mengelu-elukan pengantin laki-laki. Maka dari antara mereka itu ada lima orang yang bijaksana, dan lima orang yang bodoh. Mereka yang bodoh itu membawa pelita-pelitanya, tetapi tidak membawa minyak sertanya : tetapi mereka yang bijaksana itu membawa minyak di dalam botol-botol mereka bersama-sama dengan pelita-pelitanya. Sementara pengantin laki-laki itu memperlambat kedatangannya, maka sekalian mereka itu mengantuklah dan tertidur. Dan pada tengah malam kedengaranlah suatu suara yang menyerukan, Tengoklah, pengantin itu datang; keluarlah kamu menyambut dia. Kemudian sekalian anak dara itu bangun, lalu mempersiapkan pelita-pelita mereka. Maka kata yang bodoh itu kepada yang bijaksana, Berilah kepada kami minyakmu, karena pelita-pelita kami hendak padam. Tetapi jawab yang bijaksana itu, sambil mengatakan, Jangan begitu, sebab nanti tidak akan cukup bagi kami maupun kamu : tetapi kamu pergi kepada orang-orang yang berjualan, lalu belilah bagi dirimu sendiri. Maka sementara mereka itu pergi

membeli minyak, datanglah pengantin laki-laki itu; lalu mereka yang telah bersedia itu masuklah bersama-sama dengan dia ke perjamuan kawin itu; dan pintu pun tertutuplah. Kemudian daripada itu datanglah pula anak-anak dara yang lainnya itu, sambil mengatakan, Ya Tuan, Ya Tuan, bukakanlah kiranya kami pintu. Tetapi ia menjawab dan mengatakan, Sesungguhnya aku mengatakan kepadamu, Tiada aku kenal kamu. Oleh sebab itu berjaga-jagalah kamu, karena tiada kamu ketahui baik hari maupun jamnya apabila Anak Manusia akan datang.” (Ayat 1 - 13).

Perhatikanlah bahwa pasal 25 ialah kelanjutan dari pasal 24. Tandailah akan perkataan, “pada ketika itu”, yang berarti saat mereka itu mengenapi kata-kata nubuatan yang terkandung di dalam ayat-ayat 48 - 51. Anak-anak dara itu adalah simbol dari sidang. Angka bilangan “sepuluh”, memiliki arti simbolis terhadap keseluruhan (sidang sebagai suatu badan). Perhatikanlah bahwa sekalian mereka itu adalah “anak-anak dara”. Mereka yang 144.000 itupun ditunjukkan dengan kata-kata yang sama. (Lihat Wahyu 14 : 4). Kata-kata “anak-anak dara”, menunjukkan bahwa kelas orang-orang yang dilambangkan oleh mereka itu (sepuluh), bukanlah orang-orang yang dipanggil keluar dari Babil (gereja-gereja yang jatuh itu) pada masa “seruan” itu dibuat. Sebab, jika sekiranya mereka itu harus keluar dari Babil oleh panggilan “keluarlah dari padanya, hai umat-Ku” (Wahyu 18 : 4), maka mereka sudah akan tercemar dengan “Perempuan-perempuan” (gereja-gereja yang jatuh itu), dan karena itulah, mereka tidak mungkin dapat disebut “anak-anak dara”. Dengan demikian, maka pekabaran “Seruan Tengah Malam” harus mendapatkan mereka itu di dalam rumah Allah saja -- yaitu anak-anak dara itu.      

“Seruan Tengah Malam” pertama kalinya telah diberitakan sebelum tahun 1844, dan kedatangan “Pengantin Laki-Laki” itu ialah kedatangan Kristus ke tempat Yang Maha Suci di dalam tempat kesucian surga bagi pemeriksaan pehukuman orang-orang suci. Pemeriksaan itu adalah dalam dua bagian; pertama, pemeriksaan pehukuman terhadap orang-orang mati, dan yang kedua terhadap orang-orang hidup, maka “seruan” itu harus diulangi, sebab jika tidak, maka kita tidak akan memperoleh kebenaran sekarang bagi masa pehukuman terhadap orang-orang hidup. “Seruan” bagi orang-orang hidup itu adalah jauh lebih penting kepada dunia daripada seruan bagi orang-orang mati, dan sebagaimana halnya “anak-anak dara” itu adalah melambangkan sidang yang hidup, maka perumpamaan ini harus berlaku langsung terhadap sidang pada sekarang ini, — kedatangan pengantin laki-laki bagi pehukuman orang-orang hidup. Tetapi secara tidak langsung ia itu menunjuk ke belakang kepada permulaan dari “Seruan Tengah Malam” itu (pekabaran malaikat pertama -- pehukuman bagi orang mati. Pekabaran-pekabaran itu adalah mengenai peristiwa yang sama, yaitu pehukuman, baik (terhadap orang-orang hidup maupun terhadap orang-orang mati) keduanya disebut “Seruan Tengah Malam”. Seruan ini dibuktikan sendiri oleh perumpamaan itu.

“Sementara pengantin laki-laki itu memperlambat kedatangannya, maka sekalian mereka itu mengantuk dan tertidur. Dan pada tengah malam terdengarlah bunyi seruan, Tengoklah, pengantin itu datang; keluarlah kamu menyambut dia. Kemudian sekalian anak dara itu bangun, lalu mempersiapkan pelita-pelita mereka.” Perhatikanlah bahwa mereka itu “mengantuk dan tertidur” sebelum bunyi seruan itu datang. Dalam musim panas tahun 1844, di pertengahan jalan antara pertama kali masa 2300 hari itu disangka berakhir (pada tanggal 21 Maret), dan pada tanggal yang kedua (22 Oktober dari tahun yang sama), periode ini mereka aplikasikan sebagai “masa penundaan” itu. Tetapi tandailah bahwa “seruan” itu sudah keluar beberapa tahun

(pekabaran oleh Miller), dan masa penundaan itu telah diaplikasikan pada penutupannya, setelah mereka menemukan kekeliruan perhitungan mereka; yang mana adalah bertentangan dengan aplikasi yang sebenarnya dari perumpamaan itu; karena menurut perumpamaan itu mereka itu bertunda-tunda sebelum seruan itu datang. Oleh karena itu, maka waktu penundaan itu harus berupa pehukuman kepada orang mati, sebelum pengantin laki-laki itu datang ke pemeriksaan terhadap orang-orang hidup; dalam waktu mana “kesepuluh anak dara” itu berkembang. Dengan demikian, itulah waktu dimana mereka itu mengantuk dan tertidur. Pengaplikasian ini juga tepat sejalan dengan pekabaran kepada orang-orang Laodikea. (Lihat Wahyu 3 : 14 – 19; Yesaya 52 : 1, 2). 

Jika aplikasi yang terdahulu itu benar, maka pada akhir dari masa penundaan itu, atau tepatnya menjelang permulaan pehukuman terhadap orang-orang hidup, harus ada sebuah pekabaran -- “seruan”; dan jika “anak-anak dara” itu adalah melambangkan sidang sebagai sebuah badan organisasi dalam masa “seruan” itu, maka pekabaran itu harus diperuntukkan hanya bagi sidang saja. Ini pun dibuktikan di dalam buku “The Great Controversy”, halaman 425. Karena adanya suatu “seruan” yang sedemikian ini yang dikemukakan di dalam buku Tongkat Gembala Jilid I, maka ia itu tidak saja menunjukkan bahwa aplikasi dari perumpamaan itu adalah benar, tetapi juga membuktikan sidang itu sebagai “Rumah Allah”.

“Sekalian mereka itu mengantuk dan tertidur”. Ucapan ini dari Tuhan membuktikan bahwa sidang sebagai sebuah badan organisasi sudah tidur -- sejalan dengan penjelasan terdahulu terhadap Matius pasal 24. Lima orang adalah bodoh dan lima orang bijaksana. Angka bilangan “sepuluh” merupakan sebuah lambang dari sidang sebagai sebuah badan organisasi, angka bilangan lima dan lima, berarti setengah dan setengah. Jumlah keanggotaan gereja pada sekarang ini adalah sedikit di atas 300.000 jiwa; setengah dari jumlah ini ada kira-kira 150.000 jiwa. Jika sekiranya kita harus mengeluarkan beberapa materi yang mati (misalnya orang-orang murtad, tetapi namanya masih tetap terdaftar di dalam buku-buku sidang), maka angka yang ditemukan setelah pengurangan sedemikian ini, akan berkisar kira-kira 144.000 jiwa. Dengan demikian kembali lagi terbukti bahwa mereka yang 144.000 itu adalah lima anak dara yang bijaksana itu; dan lima anak dara yang bodoh itu ialah orang-orang yang akan jatuh ke bawah senjata-senjata pembinasa yang terdapat di dalam tangan “lima orang” itu. 

“Tetapi mereka yang bijaksana itu membawa minyak di dalam botol-botol mereka bersama-sama dengan pelita-pelita mereka.” “Minyak” adalah lambang dari Roh Allah dalam bentuk sebuah pekabaran (kebenaran); karena, ialah alat yang memberikan terang (nubuatan Firman Allah). Pelita harus merupakan lambang dari hati ke dalam mana Firman (minyak) akan ditampung. Penyiapan pelita-pelita mereka itu, ialah “penyiapan” hati mereka; artinya, dengan bangkitnya kesadaran mereka; mereka mulai memperlihatkan perhatian. Tetapi hanya lima, dari antara mereka itu yang memiliki tambahan persediaan minyak di dalam botol-botol mereka. Sementara mereka itu bergegas-gegas keluar hendak bertemu pengantin laki-laki, maka pelita-pelita dari mereka yang bodoh itu telah padam; dan karena mereka mendapatkan diri mereka dalam kegelapan, maka ini membuat kemajuan mereka menjadi tidak mungkin lagi. Sekarang, timbullah pertanyaan : Apakah yang membuat pelita-pelita mereka itu padam? Dan mengapakah mereka sampai berjalan kembali ke belakang, tetapi tidak maju ke depan? Karena pekabaran pehukuman bagi orang-orang mati telah

merupakan kebenaran sekarang semenjak tahun 1844, maka pada permulaan pehukuman bagi orang-orang hidup (apabila seruan itu datang), itu tidak lagi menjadi kebenaran sekarang. Dengan sendirinya pelita-pelita mereka itu padamlah. Mereka tidak lagi dapat bergerak maju karena mereka adalah bodoh; artinya, mereka tidak menerima terang itu -- pehukuman bagi orang hidup. Apakah “minyak” itu berada jauh dari jangkauan mereka? Kata-kata dalam perumpamaan membuktikan bahwa sekalian mereka itu mendengar akan “seruan” itu, sekalian mereka “bangkit, lalu menyiapkan pelita-pelita mereka”. Lima orang dari antara mereka gagal memperoleh tambahan minyak, sebab mereka adalah “bodoh”, — mereka tidak belajar bagi dirinya sendiri. Mereka membiarkan orang-orang lain berpikir bagi mereka; mereka memilih pihak yang mudah dan yang terkenal, lalu menerima saja keputusan-keputusan dari para pemimpin, mereka meniru kesalahan-kesalahan orang-orang lain, sehingga dengan demikian mereka dibiarkan tanpa suatu tambahan minyak, — mereka dirampas kebenarannya, mereka disesatkan oleh kemuliaan, dan tertinggal dalam kegelapan!

“Maka kata yang bodoh itu kepada mereka yang bijaksana, Berikanlah kami minyakmu; karena pelita-pelita kami hendak padam.” Pada akhirnya dara-dara yang bodoh itu menyaksikan diri mereka sendiri dalam kegelapan. Kemudian mereka pergi kepada dara-dara yang bijaksana itu lalu meminta minyak sebagai suatu hadiah; “Tetapi mereka yang bijaksana itu menjawab sambil mengatakan, Janganlah begitu; nanti tidak akan cukup bagi kami dan bagimu : tetapi sebaiknya pergilah kamu kepada mereka yang berjualan, dan belilah bagi dirimu sendiri.” Minyak itu dijual dan harus ada sesuatu diberikan sebagai pengganti untuk memperoleh tambahan minyak. Harga yang harus dibayar oleh mereka itu ialah “berkeluh kesah dan menangis karena segala kekejian yang dibuat di tengah-tengahnya”, berhenti berbuat dosa dan mematuhi kebenaran. Tanda terima mereka itu untuk nilai tukarnya nanti ialah meterai dari Allah yang hidup pada dahi-dahi mereka.

“Maka sementara mereka itu pergi membeli, pengantin laki-laki itu datang; lalu mereka yang sudah siap itu masuklah bersama-sama dengan dia ke pesta perkawinan itu : lalu pintu pun tertutuplah. Kemudian daripada itu datang pula anak-anak dara yang lain itu, sambil mengatakan, Ya Tuan, Ya Tuan, bukakanlah kiranya kami pintu. Tetapi ia menjawab sambil mengatakan, Sesungguhnya aku mengatakan kepadamu, Tiada aku kenal kamu.” Karena anak-anak dara yang bodoh itu pada akhirnya datang sampai ke pintu, maka jelaslah bahwa mereka telah memperoleh minyak itu (telah mengetahui pekabaran itu); tetapi sudah terlambat -- pintu sudah tertutup, dan mereka telah ditinggalkan. Sekarang, mengapakah mereka pada mulanya tidak menaruh perhatian, tetapi pada akhirnya mereka adalah sangat bersemangat? Pengalaman dalam contoh ini adalah kira-kira sama seperti pengalaman air bah dahulu. Sewaktu Nuh memberitakan kedatangan air bah itu, dunia telah menaruh sedikit sekali perhatian kepada pekabarannya; tetapi mereka yang percaya, mereka itulah yang masuk ke dalam bahtera pada saat yang ditentukan dan pintu pun tertutuplah. Tetapi tak lama kemudian, tanda-tanda dari ramalan Nuh itu mulai tampak; lalu sementara butir-butir hujan mulai berjatuhan rombongan besar orang jahat itu menjadi gempar lalu berlarian menyerbu bahtera itu, tetapi pintu telah tertutup sehingga mereka tertinggal di luar. Pintu yang “tertutup”, itu ialah sebuah lambang yang menunjukkan bahwa masa kasihan bagi sidang telah berakhir tak lama setelah anak-anak dara yang bodoh itu menjadi gempar. Pada akhirnya mereka rela untuk membayar harga dan membeli minyak itu; tetapi ia itu bukanlah suatu perubahan hati, melainkan hanya takut kehilangan. Perbuatan mereka itu telah meninggalkan mereka tanpa meterai -- “orang yang membawa botol tinta penyurat itu”

telah berjalan melewati mereka itu. Betapa bahayanya kesalahan mereka itu! Alangkah kecewanya! Hampir selamat, tetapi seluruhnya binasa!

“Kedatangan Kristus sebagai imam besar kita ke tempat yang maha suci, bagi pembersihan tempat kesucian itu, seperti yang dikemukakan di dalam Daniel 8 : 14; kedatangan Anak Manusia kepada Dia Yang Tiada Berkesudahan Hari-Nya itu, seperti yang dikemukakan di dalam Daniel 7 : 13; dan kedatangan Tuhan ke kabaah-Nya, yang diramalkan oleh Maleakhi, adalah gambaran-gambaran dari peristiwa yang sama; dan inipun dilambangkan oleh kedatangan pengantin laki-laki itu ke pesta perkawinan, yang digambarkan oleh Kristus dalam perumpamaan sepuluh anak dara dari Matius pasal 25.” -- “The Great Controversy”, p. 426.

Gambaran dari Daniel itu berlaku terhadap permulaan pehukuman terhadap orang-orang mati; tetapi gambaran oleh Maleakhi 3 : 1 – 3 adalah berlaku bagi pehukuman terhadap orang-orang hidup -- sekaliannya dari peristiwa yang sama -- yaitu hari grafirat (pengampunan dosa) -- pembersihan tempat kesucian.

“Kedatangan pengantin laki-laki itu, yang dikemukakan di sini, terjadi sebelum perkawinan. Perkawinan itu melambangkan penerimaan Kristus akan kerajaan-Nya. Kota suci, Yerusalem baru itu, yang mana adalah ibukota dan perwakilan dari kerajaan itu, adalah disebut ‘pengantin perempuan, yaitu istri dari Anak Domba itu’. Kata malaikat itu kepada Yohanes, ‘Marilah kemari, aku akan tunjukkan kepadamu pengantin perempuan itu, yaitu istri dari Anak Domba itu’. ‘Ia telah menghantarkan daku keluar dalam roh’, demikian kata nabi itu, ‘dan telah diperlihatkannya kepadaku kota yang besar itu, yaitu Yerusalem yang suci, yang turun dari surga dari Allah’. Maka jelaslah, bahwa pengantin perempuan itu melambangkan kota suci, dan anak-anak dara yang pergi keluar menyambut pengantin laki-laki adalah melambangkan sidang. Di dalam buku Wahyu umat Allah dikatakan menjadi tamu-tamu pada perjamuan kawin itu. Jika sebagai tamu-tamu, maka mereka tidak mungkin dilambangkan juga sebagai pengantin perempuan. Seperti yang dikemukakan oleh nabi Daniel, Kristus akan menerima dari Dia Yang Tiada Berkesudahan Hari-Nya itu di dalam surga; ‘pemerintahan, dan kemuliaan, dan sebuah kerajaan’; Ia akan menerima Yerusalem baru itu, yaitu ibukota dari kerajaan-Nya, ‘yang tersedia sebagai seorang pengantin perempuan yang dihiasi bagi suaminya’. Setelah menerima kerajaan itu, maka Ia akan datang dalam kemuliaan-Nya sebagai Raja atas segala raja, dan Tuhan atas segala tuan, bagi penebusan semua umat-Nya, yaitu mereka yang akan ‘duduk bersama-sama dengan Abraham, dan Ishak, dan Yakub’, di meja-Nya di dalam kerajaan-Nya, untuk mengambil bagian dalam perjamuan kawin Anak Domba.” -- “The Great Controversy”, pp. 426, 427.

Anak-anak dara itu dipanggil untuk menemui Dia, dan dengan demikianlah oleh iman mereka itu masuk bersama-sama dengan Dia untuk datang ke hadapan Bapa -- Hakim Yang Agung itu. Meterai ialah ijin; ia itu menempatkan nama-nama mereka di dalam kitab Hayat Anak Domba, dan dengan demikian ia itu menganugerahkan kepada mereka hak untuk datang ke hadapan Bapa di dalam pehukuman; bukan secara pribadi, melainkan secara simbolis; demikianlah dosa-dosa mereka itu dihapuskan. Matius 24 : 36, 50, adalah gambaran-gambaran mengenai peristiwa yang sama. “Sebab itu hendaklah kamu berjaga-jaga, karena tiada kamu ketahui akan hari ataupun jam kapan Anak Manusia akan datang.” (Matius 25 : 13). Ini menunjuk kepada masa pehukuman itu, dan bukan dari hal kedatangan-Nya ke bumi; sebab, orang-orang suci akan mengetahui hari dan jam

dari kedatangan Kristus di dalam awan-awan untuk menyambut orang-orang tebusan, karena ia itu akan diumumkan oleh Bapa tak lama menjelang kedatangan-Nya. (Lihat “The Great Controversy”, p. 640). 

RINGKASAN DARI SEPULUH ANAK DARA ITU 

Angka bilangan “sepuluh” adalah sebuah simbol dari universal, ia itu melambangkan sidang sebagai sebuah badan organisasi yang ada mendahului permulaan dari pehukuman terhadap orang-orang hidup — dalam masa pemeteraian mereka yang 144.000 itu, dan sebelum “Seruan Keras” dari Pekabaran Malaikat Yang Ketiga; merupakan masa periode dari buah-buah pertama hasil penuaian. Kelima anak dara yang bijaksana itu ialah mereka yang menaruh harap kepada Allah dan firman-Nya saja; mereka sama sekali tidak menaruh percaya pada manusia, dan yang lapar akan kebenaran, yang terus mencarikan terang, dan dengan gembira menyambut terang itu apabila ia itu datang. Dengan demikian mereka memperoleh meterai persetujuan Allah, dosa-dosa mereka dihapuskan, dan kehidupan mereka itu dibuat menjadi pasti -- mereka berjalan melewati hukuman dan kematian masuk ke dalam kemuliaan dan hidup kekal. Mereka adalah hamba-hamba Allah, raja-raja dan imam-imam -- berjumlah 144.000.

Kelima anak dara yang bodoh itu adalah orang-orang yang menaruh percaya kepada manusia; mereka dengan rela mengharapkan orang lain untuk berpikir dan belajar bagi dirinya. Cinta mereka kepada dunia ini berikut segala perkara yang ada di dalamnya, adalah melebihi cinta mereka kepada Kristus dan kepada dunia yang akan datang. Mereka tidak memiliki kesadaran yang sungguh-sungguh terhadap akibat yang mengerikan daripada dosa. Semangat mereka terhadap diri sendiri telah menenggelamkan semangat mereka terhadap rumah Allah dan kehormatan-Nya. Mereka telah merasa puas dengan pelita-pelita mereka yang menyala itu, walaupun hanya dengan sedikit saja minyak yang terisi di dalamnya. Mereka tidak lagi merasa perlu untuk mendapatkan lebih banyak lagi terang -- nabi-nabi, kebenaran atau pekabaran. Mereka mengatakan dalam hatinya, kami adalah kaya dan sudah bertambah kekayaan kami dan kami tidak memerlukan apa-apa lagi. Mereka menentang sebelum memeriksa terang yang menyinari firman Allah, dan tidak mau menyambut kebenaran, sebab kebenaran itu datang bukan melalui saluran pilihan mereka.

Pengetahuan akan kebenaran sekarang, yang dimiliki oleh kelima anak dara yang bodoh itu semenjak tahun 1844 ialah pehukuman terhadap orang mati, dan itulah satu-satunya minyak yang terdapat di dalam pelita-pelita mereka. Bilamana pehukuman terhadap orang-orang hidup dimulai, dan “seruannya terdengar”, mereka didapati tanpa minyak tambahan ini di dalam pelita-pelita mereka; mereka telah melalaikan perintah Tuhan mereka : “Sebab itu hendaklah kamu berjaga-jaga, karena tiada kamu ketahui akan hari dan jamnya di mana Anak Manusia akan datang.” Dengan demikian pada waktu kelima anak dara yang bijaksana itu mulai keluar menemui pengantin laki-laki, maka pelita-pelita dari dara-dara yang bodoh itu padamlah, sebab, pehukuman terhadap orang-orang mati telah berlalu. Oleh sebab itu, itu bukan lagi kebenaran sekarang, sehingga dengan demikian mereka tertinggal dalam kegelapan. Pada permulaan pemeriksaan-pemeriksaan hukum Allah terlihatlah oleh mereka akan kesalahan-kesalahannya lalu mereka berlarian menyerbu bahtera keselamatan, tetapi ia itu telah berada di luar jangkauan mereka, karena mereka sama sekali tidak mengetahui akan pekabaran itu, dan pada masa mereka memperolehnya (mengisi pelita-pelita mereka dengan minyak), hal itu telah terlambat, malaikat itu telah berjalan lalu “melalui negeri itu, melalui Yerusalem”, yaitu

sidang – pemeteraian telah selesai, dan masa kasihan bagi sidang telah  berakhir -- pintu telah terutup. Dengan demikian mereka tertinggal di luar. Kemudian datanglah mereka itu dengan kata-kata : “Ya Tuan, Ya Tuan, bukakanlah kiranya kami pintu, Tetapi Ia menjawab dan mengatakan, sesungguhnya Aku mengatakan kepadamu, tiada Aku kenal kamu”. “Tentukanlah bagiannya bersama-sama dengan orang-orang munafik : disana akan ada tangisan dan keretak gigi.” Alangkah kecewanya kelak nanti!

Dapatlah dicatat, bahwa berakhirnya masa kasihan bagi sidang dan berakhirnya masa kasihan bagi dunia adalah dua peristiwa yang berbeda. Peristiwa yang pertama itu adalah bentuk mini dari peristiwa yang kedua. Firman mengenai peristiwa yang pertama itu terdapat di dalam Matius 25 : 11, 12; tetapi firman mengenai peristiwa yang terakhir itu adalah terbaca : “Maka orang yang jahat biarlah ia terus melakukan kejahatan : dan orang yang cemar biarlah ia terus menjadi cemar : dan orang yang benar biarlah ia terus mengerjakan kebenaran, dan orang yang suci, biarlah ia terus menjadi suci. Maka, tengoklah, Aku datang segera; dan pahala-Ku ada bersama-Ku, untuk diberikan kepada setiap orang sesuai dengan perbuatannya kelak.” (Wahyu 22 : 11, 12). Pada waktu ini mereka yang sama seperti halnya kelima anak dara yang bodoh itu, akan mengatakan, “Penuaian telah berlalu, musim panas telah berakhir, dan kami tidak juga selamat.” (Yeremia 8 : 20). “Maka mereka akan mengembara dari laut yang satu ke laut yang lain, dan dari dari utara sampai ke timur, mereka akan berlarian kesana-kemari mencarikan firman Tuhan, tetapi tidak akan menemukannya.” (Amos 8 : 12). 

* * *

TUJUH METERAI DAN TEMPAT KESUCIAN 

Untuk mengaplikasikan secara tepat tujuh meterai itu, maka kita harus memiliki suatu pengertian yang lebih baik mengenai upacara di tempat kesucian surga, yang aslinya, dan mengapa adanya itu sebagaimana diajarkan oleh tempat kesucian bumi yang dibangun oleh Musa. (Ibrani 8 : 5).

Dalam pembangunan dan upacara tempat kesucian itu, telah  diungkapkan rencana penyelamatan. Ruangan yang pertama, disebut tempat suci, dalam mana imam besar bertugas setiap hari dengan korban-korban dan berbagai jenis persembahan dan pembasuhan, adalah suatu tempat bagi pengakuan dosa. Sekaliannya itu merupakan suatu bayangan dari perkara-perkara samawi, yang dengan jelas mengungkapkan rencana penyelamatan. Ruangan yang kedua, yang berada di balik tirai, disebut “tempat yang maha suci”, atau “yang tersuci dari sekaliannya”, ia itu terbuka hanya pada hari ke sepuluh dari bulan yang ketujuh pada setiap tahun; di sanalah penebusan dari tuntutan hukum ditentukan. (Imamat 23 : 27 – 30; 16 : 34). Ia itu disebut hari grafirat, pehukuman, atau pembersihan dari Tempat Kesucian. (Imamat 16 : 33; Daniel 7 : 10; 8 : 14). Ini adalah suatu hari bagi penghapusan dosa-dosa yang telah tertumpuk selama tahun itu, dan merupakan lambang dari hari grafirat yang besar itu; bukan dalam bentuk lambang, melainkan yang sesungguhnya. (Lihat Imamat 16 : 33. Juga “The Great Controversy”, halaman 485). Tempat duduk yang dibayangi oleh cherubium-cherubium itu yang disebut kursi pengampunan, membuktikan bahwa itu adalah suatu tahta kemurahan, dan sebab itulah suatu tahta pehukuman, dimana orang-orang berdosa dapat memperoleh kemurahan.

Keseluruhan acara itu yang terdiri dari imam, korban, dan upacara adalah merupakan sebuah contoh dari Kristus dan pelayanan-Nya di dalam tempat kesucian surga, yang didirikan oleh Tuhan sendiri dan bukan oleh manusia. (Lihat Ibrani 8 : 2, dan “The Acts of The Apostles”, halaman 14). Tempat suci itu adalah diperuntukkan bagi pengakuan dosa, tetapi tempat yang maha suci adalah bagi penghapusan dosa.

Sementara upacara-upacara di dalam tempat kesucian bumi berlangsung, maka tidak mungkin ada upacara apapun di dalam tempat kesucian surga sampai setelah Kristus naik dan menjadi Imam Besar kita. (Lihat Ibrani pasal 8). Oleh sebab itu, apabila upacara-upacara di dalam tempat kesucian surga dimulai, maka upacara-upacara di dalam tempat kesucian bumi sudah berakhir. Para pelaksana ibadah yang benar di dalam tempat kesucian bumi, yang oleh imannya memandang ke depan kepada pelayanan dari tempat kesucian surga itu, mereka dimasukkan ke dalam buku-buku surga sebagai pantas memperoleh hidup kekal. Catatan-catatan perbuatan mereka akan diperiksa apabila Kristus Imam Besar Kita masuk dibalik tirai itu ke dalam tempat yang maha suci untuk menghapuskan dosa. (Lihat Daniel 7 : 10). 

Roh Allah mengatakan : “Adalah tidak mungkin bahwa dosa-dosa manusia akan dihapuskan sebelum pehukuman pada saat mana

perkara-perkara mereka akan diperiksa.” -- “The Great Controversy”, halaman 485. Selagi upacara-upacara di dalam tempat kesucian bumi berlangsung, tempat kesucian surga bertindak sebagai tempat penampungan bagi dosa-dosa yang diakui. Inipun sama halnya di bawah pelayanan Kristus selagi Ia berada di dalam tempat suci, sebelum Ia masuk ke dalam tempat yang maha suci. 

RENCANA PENYELAMATAN MENDAHULUI KEJATUHAN

Tempat kesucian surga itu adalah bagi pengakuan dan penghapusan dosa. Ia itu tidak mungkin ada sebelum dosa masuk lalu menyebabkan perlunya suatu susunan yang sedemikian itu. Walaupun upacara tempat kesucian itu berasal pada mulanya setelah Adam berdosa, rencana penyelamatan senantiasa memang ada, dan telah diungkapkan dalam, dan oleh, upacara tempat kesucian itu. Dengan demikian rencana yang mendahului kejatuhan itu ada terdapat di dalam Kristus, di dalam Dialah senantiasa terdapat kuasa penebusan itu baik di masa lalu maupun di masa mendatang bagi semua orang. 

APAKAH TEMPAT KESUCIAN ITU TEMPAT YANG ABADI DARI TAHTA ALLAH?

Selagi tempat kesucian bumi itu berada, maka Allah telah menemui umat-Nya di dalam tempat yang maha suci, dimana kehadiran-Nya itu telah dinyatakan di antara cherub-cherub di atas kursi pengampunan. Oleh karena itu, maka sebagian orang telah mengambil pendirian bahwa tempat yang kekal dari tahta Allah itu berada di dalam “yang tersuci daripada sekaliannya itu” dari tempat kesucian surga, tetapi pendapat yang sedemikian ini adalah bertentangan dengan contoh maupun contoh saingannya. Alasan yang pertama adalah, bahwa tempat kesucian itu tidak selamanya ada, seperti yang dijelaskan terdahulu; kedua, tempat yang maha suci itu adalah tertutup selagi Kristus melayani di dalam tempat suci. Paulus mengatakan : “Bagi kita ada seorang Imam Besar yang demikian itu, yang duduk di sebelah kanan tahta dari Yang Maha Besar di dalam segala langit.” (Ibrani 8 : 1). Jika sekiranya tahta Allah itu terdapat di dalam tempat “yang maha suci” pada waktu Kristus naik ke atas, lalu Ia harus sudah segera memasuki “tempat yang tersuci dari sekaliannya itu”, dan bukan “tempat suci”. Pendirian yang sedemikian itu adalah bertentangan dengan Alkitab maupun dengan upacara itu. Allah telah menemui umat-Nya yang dahulu itu di dalam tempat yang tersuci dari sekaliannya itu, dimana di sana, secara lambang, dosa-dosa mereka telah dihapuskan. Demikianlah, ditunjukkan secara simbolis, bahwa Ia tidak dapat menemui umat-umat suci-Nya itu muka dengan muka sebelum Ia berhasil menemui mereka itu di dalam “tempat yang maha suci” -- setelah menghapuskan dosa-dosa mereka, bukan secara simbolis, melainkan yang sebenarnya pada hari grafirat contoh saingan. Kami akan kembali membuktikan hal ini dari segi yang lain.

Pewahyu, dalam suatu khayalnya pada kira-kira tahun 96 TM, telah diijinkan untuk memandang ke dalam kedua ruangan itu. Suatu suara dari langit mengatakan kepadanya : “Marilah kemari, maka aku akan menunjukkan kepadamu perkara-perkara yang harus terjadi kemudian kelak.” Kemudian ia menyaksikan sebuah tahta yang tersedia, dan seseorang duduk di atas tahta itu, dan di depan tahta itu terdapat suatu laut kaca yang bagaikan kristal. (Lihat Wahyu 4 : 1 - 6). Suara itu mengatakan kepadanya bahwa perkara-perkara yang dilihatnya itu akan terjadi “kemudian kelak”; artinya, di masa depan semenjak dari saat khayal itu. Oleh karena itu, jelaslah bahwa tidak terdapat tahta apapun pada waktu itu -- yaitu kira-kira 62 tahun setelah Kristus naik kepada

Bapa. Oleh sebab itu, Kristus duduk di sebelah kanan Allah, tetapi bukan di atas tahta di dalam tempat kesucian. Jadi bagaimana? Adakah Allah mempunyai lebih dari satu tahta? “Tahta” ialah sebuah tempat duduk, maka di mana saja Allah duduk, maka di sanalah terdapat tahta-Nya. Perhatikanlah bahwa “sekeliling dan di hadapan tahta” di dalam tempat kesucian terdapat “laut kaca”.

Sekarang kita akan baca dari hal sebuah tahta yang lain : “Lalu ia menunjukkan kepadaku sebuah sungai murni dari air kehidupan, yang jernih seperti kristal, mengalir keluar dari tahta Allah dan Anak Domba itu.” (Wahyu 22 : 1). Kembali, perhatikanlah bahwa dari salah satu tahta-tahta itu mengalir keluar “sungai hayat”, tetapi dari tahta yang lain, “laut kaca”. Oleh sebab itu, ada dua tahta. Kristus duduk pada sebelah kanan Allah di atas tahta dari mana mengalir keluar “sungai hayat”, karena inilah tahta itu yang disebut “tahta Allah dan Anak Domba itu”. Inilah tempat bersemayam Allah yang kekal itu; tetapi tahta yang terdapat di dalam tempat kesucian itu telah ditaruh hanya untuk selama waktu itu (Lihat Daniel 7 : 9, 10), yaitu selama Kristus bertugas di dalam tempat yang maha suci, dan itu adalah sebuah tahta pehukuman -- untuk menghapuskan dosa-dosa dan memberikan pahala-pahala. Tahta dari mana mengalir keluar sungai hayat itu ialah sebuah tahta kehidupan dan kekekalan. 

DI MANAKAH TAHTA ITU TERLIHAT OLEH YOHANES? 

Wahyu 4 : 1, 2, 4 - 6 : “Sesudah ini aku tampak, maka, tengoklah, sebuah pintu terbuka di surga : dan suara yang pertama sekali ku dengar itu adalah bagaikan bunyi sangkakala yang berbicara kepadaku; yang mengatakan, Naiklah kemari, maka aku akan menunjukkan kepadamu perkara-perkara yang harus terjadi kemudian kelak. Dan segeralah aku berada dalam roh; maka tengoklah, sebuah tahta diletakkan di surga, dan seseorang duduk di atas tahta itu ..... Maka sekeliling tahta itu terdapat dua puluh empat tempat duduk : dan pada tempat duduk-tempat duduk itu aku tampak dua puluh empat tua-tua sedang duduk, yang berpakaian putih-putih; dan di atas kepala mereka terdapat mahkota-mahkota emas. Maka keluarlah dari tahta itu kilat-kilat dan guruh-guruh dan suara-suara : maka adalah di sana tujuh buah pelita yang bernyala-nyala di depan tahta itu, yaitu tujuh roh Allah. Dan di hadapan tahta itu terdapat suatu laut kaca yang bagaikan kristal : dan di tengah-tengah tahta itu, dan sekeliling tahta, terdapat empat binatang yang penuh dengan mata di depan dan di belakang.”

Gambaran dari tempat itu adalah sedemikian rupa sehingga ia itu membuktikan keberadaannya di dalam tempat kesucian surga. Ini pun ditunjang oleh Roh Nubuat : “Seperti dalam khayal rasul Yohanes telah diijinkan melihat Kaabah Allah di dalam surga, maka ia telah menyaksikan di sana ‘tujuh buah pelita yang bernyala-nyala di depan tahta’. Ia melihat seorang malaikat ‘memegang sebuah pedupaan emas; dan telah dikaruniakan kepadanya banyak kemenyan, supaya ia mempersembahkannya bersama-sama dengan doa-doa dari segala orang suci di atas mezbah keemasan itu yang berada di depan tahta.’ Di sini nabi itu telah diijinkan untuk memandang ke ruangan yang pertama dari tempat kesucian di dalam surga; dan di sana ia melihat ‘tujuh buah pelita dengan api’ dan ‘mezbah

keemasan itu’ yang dilambangkan oleh kakidian emas dan mezbah pedupaan di dalam tempat kesucian di bumi. Kembali, ‘kaabah Allah itu telah terbuka’, dan ia telah melihat ke dalam di balik tirai itu, pada tempat yang maha suci. Di sini ia menyaksikan ‘tabut perjanjian-Nya itu’, yang dilambangkan oleh peti suci yang dibuat oleh Musa yang berisikan hukum Torat Allah.” — “Patriarchs and Prophets”, halaman 356.

Di dalam tempat kesucian bumi, hanya imam besar sendiri yang diperbolehkan bertugas di dalam ruangan yang kedua, di balik tirai, maka ini telah dipahami oleh sebagian orang bahwa tahta yang dilihat oleh Yohanes itu tidak mungkin telah berada di dalam tempat yang maha suci, sebab dua puluh empat tua-tua itu berada di depan tahta. Pendapat sedemikian itu adalah tidak benar, karena adalah tidak masuk akal untuk mengambil pendirian bahwa Allah akan memindahkan tahta-Nya dari “tempat yang tersuci daripada sekaliannya” itu, ke “tempat suci” itu, daripada bagi para tua-tua itu masuk ke dalam tempat yang maha suci itu di depan tahta. Selanjutnya, adalah justru tahta dari Dia Yang Kekal itulah yang telah membuat ruangan yang kedua itu menjadi maha suci. Oleh karena itu, jika kita mengambil pendirian demikian, jika sekiranya para tua-tua dan empat binatang, atau segala ciptaan itu memang tidak diperbolehkan berada di dalam ruangan yang kedua di depan tahta, mereka tentunya tidak akan diperbolehkan juga berada di dalam ruangan yang pertama di hadapan tahta. Oleh mengambil sesuatu pendirian apapun yang lain dari ini akan berarti mengatakan bahwa ruangan itu adalah lebih suci daripada Khalik dan tahta-Nya.

Menurut Paulus, upacara-upacara di balik tirai dari kemah perbaktian bumi itu tidak dapat menjelaskan semua yang terjadi di dalam tempat kesucian surga. Katanya : “Dengan ini Rohulkudus menyatakan, bahwa jalan ke dalam tempat yang maha suci itu belum lagi dinyatakan, sementara kemah perbaktian yang pertama masih berdiri. (Ibrani 9 : 8). Oleh sebab itu, maka kita harus mencarikan kebenaran dari hal upacara-upacara di dalam tempat kesucian surga itu dari segi pandangan yang lain. Kami mengutip Daniel 7 : 9, 10 : “Aku memandang sampai tahta-tahta itu didudukkan, lalu Dia Yang Tiada Berkesudahan Hari-Nya itu duduklah, pakaian-Nya putih seperti salju, dan rambut kepala-Nya bagaikan bulu domba yang murni; tahta-Nya adalah seperti nyala-nyala api, dan roda-roda-Nya seperti api yang bernyala-nyala. Maka suatu sungai api mengalir keluar dan muncul dari hadapan-Nya : beribu-ribu berbakti kepada-Nya, sepuluh ribu kali sepuluh ribu berdiri di hadapan-Nya : maka majelis pehukuman pun duduklah, dan buku-buku dibukakan.”

Kepada nabi itu diperlihatkan permulaan dari pehukuman (grafirat) itu, atau sebagaimana juga disebut, penyucian tempat kesucian, yang berlangsung di dalam tempat yang maha suci; karena katanya, “majelis pehukuman itu duduklah, dan buku-buku dibukakan.” Sekarang perhatikanlah, bahwa “beribu-ribu orang berbakti kepada-Nya dan sepuluh ribu kali sepuluh ribu berdiri di hadapan-Nya.” Dengan demikian kita saksikan bahwa Paulus adalah benar bahwa upacara di tempat kesucian surga itu belum sepenuhnya dinyatakan oleh upacara di tempat kesucian bumi. Walaupun hanya imam besar

saja yang diperbolehkan memasuki tempat yang maha suci di dalam tempat kesucian bumi, ternyata suatu rombongan yang tak terhitung banyaknya telah memasuki tempat kesucian surga. Oleh sebab itu di manakah bukti bahwa para tua-tua itu tidak mungkin berada di dalam tempat yang maha suci? Adalah tidak mungkin untuk mengaplikasikan kegenapan dari 2300 hari nubuatan atau tahun -- dari khayal Daniel di dalam pasal 8, ayat 14, kepada sesuatu masa yang lain daripada pehukuman dalam tahun 1844 itu.

Periode nubuatan ini dimulai semenjak keluarnya perintah untuk membangun kembali Yerusalem. (Daniel 9 : 25). Keputusan yang dikeluarkan oleh raja Persia itu telah dilaksanakan dalam tahun 457 STM. (Lihat Ezra 7). Oleh sebab itu ia itu berakhir dalam tahun 1844; pada waktu mana Kristus beralih dari “tempat suci” ke dalam “tempat yang maha suci”.  Untuk penyelidikan selanjutnya, bacalah “The Great Controversy”, halaman 486.

Kami akan berusaha membuktikan bahwa khayal dari Daniel itu adalah mengenai peristiwa yang sama dengan apa yang disaksikan oleh Yohanes. Daniel berbicara mengenai tahta-tahta (jamak), kemudian ia menunjukkan perbedaan tahta Allah itu (Yang Tiada Berkesudahan Hari-Nya itu) oleh adanya “sungai api” yang keluar dari hadapan-Nya. Buku Daniel adalah sebuah nubuatan, tetapi khayalnya Yohanes ialah sebuah wahyu. Daniel mengatakan bahwa ia melihat “tahta-tahta”, tetapi Yohanes memberikan kepada kita angka bilangannya -- yaitu 25 buah seluruhnya. (Wahyu 4 : 2, 4). Daniel mengatakan, “Suatu aliran api keluar dari hadapan-Nya”; Yohanes menceritakan kepada kita apa yang dimaksudkan dengan sungai itu : Yaitu “laut kaca yang bercampur dengan api”. (Wahyu 4 : 6; 15 : 2). Daniel mengatakan : “Beribu-ribu ..... dan sepuluh ribu kali sepuluh ribu berdiri di hadapan-Nya.” Yohanes menceritakan kepada kita siapa-siapa mereka itu : “Dan aku memandang, maka aku dengar suara dari banyak malaikat yang mengelilingi tahta itu dan binatang-binatang itu dan para tua-tua itu : maka bilangan mereka itu adalah sepuluh ribu kali sepuluh ribu, dan beribu-ribu.” (Wahyu 5 : 11). Daniel mengatakan, “Majelis pehukuman itu duduklah dan buku-buku dibukakan”. Yohanes menambahkan bahwa salah satu dari buku-buku itu terdapat di dalam tangan Dia Yang duduk di atas tahta dan sedang tersegel dengan tujuh meterai. (Wahyu 5 : 1). Dengan demikian Yohanes memberikan kepada kita wahyu yang lebih jelas mengenai peristiwa yang sama.

Pintu yang dilihatnya “terbuka” itu ialah tirai yang memisahkan “tempat suci” dan “tempat yang maha suci”, karena tidak ada lagi pintu yang lain yang tetap ditutup selain itu. Oleh sebab itu, maka perkataan “kemudian kelak” yang terdapat di dalam pasal 4, ayat 1, itu berarti semenjak dari masa khayal itu -- menuju ke depan sampai ke tahun 1844.

Walaupun imam dari tempat kesucian bumi telah memasuki tempat “yang maha suci” hanya sekali setahun, menurut Paulus, Kristus ternyata telah memasuki tempat “suci” itu sekali untuk selamanya. (Lihat Ibrani 9 : 12). Dan dari hal waktu itu rasul itu mengatakan, bahwa Ia akan “hadir ke hadapan hadirat Allah bagi kita”, di dalam “tempat yang maha suci”. (Ayat 24). Oleh sebab itu, Kristus tidak mungkin memasuki ruangan pertama itu sebagai imam sebelum kebangkitan-Nya dari kematian, pada waktu mana Ia telah menjadi Imam Besar kita. Juga tidak mungkin Ia memasuki tempat yang maha suci itu dalam jabatan itu sebelum hari pehukuman karena Paulus mengatakan, Ia “memasukinya hanya sekali”. Jadi nubuatan oleh Daniel dan Wahyu oleh Yohanes itu tidak mungkin mengenai

peristiwa lain selain daripada permulaan pehukuman pada  saat yang disebutkan itu (tahun 1844). 

Hanya mereka yang nama-namanya ada tersurat di dalam kitab hayat Anak Domba yang akan dibawa masuk ke hadapan hadirat Allah -- di dalam “tempat yang maha suci”. Kata rasul itu : “Jadi Saudara-Saudara, kita memiliki keberanian untuk masuk ke dalam tempat yang maha suci itu karena darah Yesus.” (Ibrani 10 : 19). Karena khayal yang sama ini masih berlanjut, maka kita melangkah ke pasal 5 dan 6 dari buku Wahyu. 

Mengutip pasal 5 : 1, 3, 5 – 7; 6 : 1, “Maka aku melihat di dalam tangan kanan Dia yang duduk di atas tahta itu ada sebuah buku yang ditulisi sebelah dalam dan sebelah luarnya, yang disegel dengan tujuh meterai. ..... Dan tak ada seorangpun di surga, ataupun di bumi, ataupun di bawah bumi, yang dapat membuka buku itu, ataupun memandang ke atasnya. ..... Maka salah seorang dari para tua-tua itu mengatakan kepadaku, Janganlah menangis : tengoklah, singa dari suku bangsa Yehuda, yaitu Akar Daud, telah menang untuk membuka buku itu, dan untuk melepaskan ketujuh meterainya. Lalu aku melihat, maka heranlah, di tengah-tengah tahta dan keempat binatang itu, dan di tengah-tengah para tua-tua itu, berdiri seekor Anak Domba yang seperti pernah tersembelih, memiliki tujuh tanduk dan tujuh mata, yaitu tujuh Roh Allah yang diutus ke seluruh bumi. Maka datanglah ia lalu mengambil buku itu dari dalam tangan kanan Dia yang duduk di atas tahta itu. ..... Maka aku tampak setelah Anak Domba itu membuka salah satu dari meterai-meterai itu.”

Buku yang tersegel dengan tujuh buah meterai itu, di dalam tangan kanan dari Hakim Agung itu, harus berisikan nama-nama dari mereka yang dosa-dosanya akan dihapuskan. Karena ini adalah satu-satunya buku yang “tidak seorangpun di surga maupun di bumi ..... dapat membukakannya, ataupun memandang ke atasnya”, terkecuali Anak Domba itu yang berdiri di hadapan tahta (Lihat pasal 5 : 1 –  9), maka jelaslah tak dapat dibantah bahwa buku dengan tujuh meterai itu ialah buku yang disebut “Kitab Hayat Anak Domba”. Dan bersamanyalah sidang pehukuman itu dibuka. Persidangan yang sama ini juga diulangi di dalam Wahyu 20 : 12, “Dan aku tampak orang-orang mati, kecil dan besar, berdiri di hadapan Allah; maka buku-buku dibuka : maka ada sebuah buku lain yang terbuka, yaitu buku hayat : maka segala orang mati itu diadili sesuai dengan segala perkara yang tersurat di dalam buku-buku itu, sesuai dengan perbuatan-perbuatan mereka.” (Lihat “The Great Controversy”, halaman 480). Oleh karena ini tidak mungkin dapat disangkal, maka jelaslah bahwa suatu landasan bagi pengaplikasian meterai-meterai itu telah  ditegakkan. 

Kami mengutip Injil mengenai empat meterai yang pertama : “Maka aku tampak, dan tengoklah, seekor kuda putih : dan dia yang duduk di atasnya itu memiliki sebuah panah; maka sebuah mahkota dikaruniakan kepadanya : lalu keluarlah ia dengan kemenangan dan untuk memenangkan. Dan setelah Ia membuka meterai yang kedua, aku dengar binatang yang kedua itu mengatakan, Marilah kemari dan lihatlah. Dan keluarlah seekor kuda yang merah warnanya : maka kepada orang yang duduk di atasnya itu dikaruniakan kuasa untuk mengambil perdamaian dari bumi, sehingga orang akan saling membunuh : dan sebilah pedang yang besar dikaruniakan kepadanya. Maka

 setelah Anak Domba itu membuka meterai yang ketiga, aku dengar binatang yang ketiga itu mengatakan, Marilah dan lihatlah. Dan aku tampak, adalah seekor kuda hitam; dan orang yang duduk di atasnya itu memiliki sepasang neraca timbangan dalam tangannya. ..... Maka setelah Ia membukakan meterai yang keempat aku dengar suara binatang yang keempat itu mengatakan, Marilah dan lihatlah. Maka aku tampak adalah seekor kuda kelabu : dan orang yang duduk di atasnya itu Maut namanya, maka alam maut itu mengikuti sertanya. Maka kuasa dikaruniakan kepada keduanya atas seperempat bumi, untuk membunuh dengan pedang, dan dengan kelaparan, dan dengan kematian, dan dengan segala binatang yang di bumi.” (Wahyu 6 : 2 – 5, 7, 8).

Sebagian orang telah mengaplikasikan tujuh meterai dari Wahyu pasal enam itu kepada sidang dalam sejarah Wasiat Baru, tetapi simbol-simbol itu adalah bertentangan terhadap pengaplikasian itu. Baik dalam sejarah Wasiat Lama maupun sejarah Wasiat Baru, sidang Allah telah dilambangkan oleh seorang perempuan yang suci. (Lihat Yeremia 6 : 2; Wahyu 12 : 1). Ilham tidak merubah apapun mengenai aturan bagi sesuatu lambang terhadap sesuatu sidang yang tidak benar, karena di dalam Wahyu 17 : 1, 4, 5, seorang perempuan sundal telah digunakan untuk menunjukkan sebuah sidang, atau sidang-sidang, yang jatuh atau tidak benar. Perubahan dari aturan ini, (dari “perempuan” menjadi “laki-laki” atau “kuda-kuda”) tidak mungkin ditemukan di manapun di dalam Alkitab.

Bukan saja tidak berdasarkan firman mengaplikasikan orang-orang dan kuda-kuda sebagai lambang-lambang bagi sidang, tetapi bahkan sama sekali adalah tidak cocok. Juga tidak ada satupun bukti yang dapat dikemukakan untuk menunjukkan bahwa meterai-meterai itu berlaku hanya terhadap sejarah Wasiat Baru. Oleh sebab itu, pengaplikasian simbol-simbol itu harus dicari di tempat lain. Dengan demikian kita ditantang untuk perlu melakukan penyelidikan mendalam terhadap masalah itu. Menurut nasehat dari hamba Tuhan, kita dianjurkan untuk menyelidiki hal ini, karena di dalamnya terkandung suatu kebenaran penting bagi orang-orang yang kelak mengambil bagian dalam pekerjaan Injil yang terakhir. Mengutip “Testimonies for the Church”, Jilid 9, halaman 267 : “Wahyu pasal lima harus diselidiki dengan seksama. Ini adalah sangat penting bagi orang-orang yang kelak mengambil bagian dalam pekerjaan Allah bagi zaman akhir ini.”

Kalau saja pasal itu sudah dapat dipahami, dijelaskan, dan diterbitkan dengan sepatutnya, sebelum kesaksian di atas ditulis, maka sudah tidak perlu lagi adanya desakan ini. Selanjutnya, jika sekiranya ia itu telah dijelaskan di masa lampau, mengapakah pelajaran itu adalah demikian besar pentingnya? Dan siapakah yang bertanggung jawab untuk penyampaiannya kepada dunia? Tetapi pasal lima itu, jika dipisahkan dari pasal empat dan pasal enam, maka ia itu tidak mungkin dapat dimengerti, sebab sekalian pasal itu berisikan satu pokok masalah; yaitu, tujuh meterai. Pasal lima telah  disebutkan sebab itu adalah inti dan kunci dari pokok masalah itu.

Adalah tidak mungkin untuk dapat memahami secara tepat pelajaran tentang meterai-meterai itu di dalam pasal enam saja, tanpa kita mengetahui sesuatu mengenai “para tua-tua” itu. “Buku” itu,  dan “binatang-binatang” itu dari pasal empat, dimana khayal itu telah dimulai. Bilamana kita mendapatkan sebagian pengetahuan dari hal kewajiban-kewajiban mereka itu di hadapan tahta, dan maksud dari adanya perhimpunan,

maupun kesempatan itu, maka hanya itulah baru dapat kita mengaplikasikannya dengan sepatutnya sehingga dapat tahan uji.

Jika arti dari setiap simbol itu tidak dijelaskan sampai cocok sehingga ia itu tidak lagi menimbulkan kontradiksi, dan jika sebuah pelajaran kebenaran sekarang dengan pengertian khusus tidak dapat diambil daripadanya, maka hasil interpretasi itu tidak mungkin dapat diharapkan dan tidak akan ada kebenaran di dalamnya. Allah tidak akan terus memberikan pengertian berulang-ulang secara sia-sia, Ia juga tidak akan menghabiskan waktu dari hamba-hamba-Nya untuk menuliskan semuanya itu. Oleh sebab itu, maka setiap simbol yang kecil pun memiliki artinya sendiri, dan mengungkapkan suatu kebenaran besar. 

PEHUKUMAN DAN METERAI-METERAI -- WAHYU PASAL 4 

Ayat 1 : “Sesudah ini aku tampak, tengoklah, sebuah pintu terbuka di surga : dan suara yang pertama sekali ku dengar itu adalah bagaikan bunyi sangkakala yang berbicara kepadaku; yang mengatakan, Naiklah kemari, maka aku akan menunjukkan kepadamu perkara-perkara yang harus terjadi kemudian kelak.” Pintu yang terbuka itu tidak mungkin lain daripada pintu yang memisahkan kedua ruangan itu juga; yaitu, yang memisahkan tempat suci dari tempat yang maha suci, di dalam tempat kesucian surga, seperti yang diperlihatkan oleh tempat kesucian bumi yang dibangun oleh Musa dahulu. Ruangan itu akan terbuka pada permulaan dari pehukuman, yang dicontohkan oleh hari grafirat seperti yang dijelaskan terdahulu. Jadi kita tidak akan keliru dalam menyimpulkan bahwa gambaran itu adalah sidang pehukuman yang sedang berlangsung, dan sebagaimana suara itu mengatakan kepada Yohanes, “Aku akan menunjukkan kepadamu perkara-perkara yang harus terjadi kemudian kelak”, maka jelaslah ia telah memandang ke depan dalam khayal kepada pembukaan sidang pehukuman dalam tahun 1844 itu.

Jika semua kesimpulan ini benar, dan khayal itu memang menggambarkan sidang pehukuman yang sedang berlangsung, hal yang sama ini harus dapat dibuktikan oleh perkara-perkara yang terlihat dalam khayal. Suatu sidang pehukuman yang berlangsung memerlukan seorang hakim, seorang pembela, seorang juri, dan wakil-wakil dari orang-orang yang akan diadili, sebab mereka itu tidak mungkin berada di sana (di surga) secara pribadi. Harus ada buku-buku yang berisikan nama-nama, dan catatan-catatan tentang perbuatan-perbuatan, dari mereka yang akan diadili; juga waktu dari sidang pehukuman itu, dan pahala yang disediakan. Kami mengutip Injil yang menggambarkan Hakim Agung itu : “Dan segeralah aku berada dalam roh : dan, tengoklah, sebuah tahta diletakkan di surga, dan seseorang duduk di atas tahta itu. Maka ia yang duduk itu rupanya seperti permata yasip dan akik : dan ada sebuah pelangi yang mengelilingi tahta itu, rupanya seperti zamrud.” (Ayat 2 dan 3).

Kemuliaan Allah dilambangkan sama seperti batu-batu mulia. Pelangi itu mengungkapkan janji Allah yang tak pernah gagal dan kemurahan-Nya yang besar. Allah mengatakan kepada Nuh : “Inilah tanda perjanjian yang Ku perbuat di antara Aku dengan kamu dan dengan setiap mahluk hidup yang ada bersama-sama kamu, bagi semua generasi keturunan sampai selama-lamanya : bahwa pelangi-Ku akan Ku taruh dalam awan-awan, maka ia itu akan menjadi suatu tanda perjanjian di antara Aku dan bumi.” (Kejadian 9 : 12, 13).

Ayat berikut ini menggambarkan juri itu : “Maka sekeliling

tahta itu terdapat dua puluh empat tempat duduk : dan pada tempat-tempat duduk itu aku tampak dua puluh empat tua-tua yang sedang duduk, yang berpakaian putih-putih; dan di atas kepala mereka terdapat mahkota-mahkota emas.” (Wahyu 4 : 4). Mahkota-mahkota emas itu menunjukkan kekuasaan mereka sebagai raja untuk bertindak terhadap perkara itu. Jubah-jubah putih menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang berasal dari bumi, yang telah ditebus oleh darah Kristus. “Dan sekeliling tahta itu terdapat empat binatang penuh dengan mata di depan dan di belakang.” (Ayat 6). “Maka setelah diambil-Nya kitab itu, sujudlah ke empat binatang itu dan dua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba, masing-masingnya memiliki kecapi, dan bokor emas yang penuh dengan bau-bauan, yaitu segala doa dari semua orang suci. Maka mereka menyanyikan sebuah nyanyian baru, yang bunyinya, Berlayaklah Engkau mengambil kitab itu, dan membuka meterainya : karena Engkau sudah tersembelih, dan sudah menebus kami bagi Allah oleh darah-Mu, dari setiap suku, dan bahasa, dan umat, dan bangsa.” (Wahyu 5 : 8, 9). Perhatikanlah binatang-binatang dan para tua-tua itu sekaliannya menyanyi, katanya : “Karena Engkau sudah menebus kami dari setiap suku, dan bahasa, dan umat, dan bangsa.” Dengan demikian, binatang-binatang itu maupun para tua-tua itu, sekaliannya telah ditebus dari bumi.

Sekali lagi, perhatikanlah bahwa binatang-binatang dan para tua-tua itu adalah berjumlah dua puluh delapan orang. Adalah tidak mungkin bagi hanya dua puluh delapan orang yang ditebus dari antara setiap suku bangsa, bahasa, dan umat, dan bangsa : karena jika sekiranya terdapat hanya satu orang ditebus dari setiap bangsa, maka jumlah itu sudah akan mencapai ribuan orang, bukan hanya dua puluh delapan orang. Oleh sebab itu, jelaslah bahwa “empat binatang itu” adalah simbol-simbol yang melambangkan empat rombongan orang-orang suci yang dihimpunkan dari segala zaman, dan dari setiap suku, bahasa, umat, dan bangsa. Dalam cara yang sama kerajaan-kerajaan dunia sesudah air bah adalah dilambangkan secara simbolis dengan binatang-binatang. Demikianlah dengan binatang-binatang itu telah dilambangkan orang-orang yang akan diadili.

 “Maka ke empat binatang itu masing-masingnya bersayap enam : dan adalah mereka itu penuh dengan mata di dalamnya : maka keempatnya tiada henti-hentinya baik siang baik malam, mengatakan, Suci, Suci, Suci, Tuhan Allah Yang Maha Kuasa, yang dahulu ada, dan sekarang ada, dan yang akan datang.” (Wahyu 4 : 8). “Penuh dengan mata”. Mata adalah untuk memberikan terang kepada tubuh. Oleh sebab itu, sekaliannya itu berdiri sebagai sebuah simbol, yang menunjukkan bahwa umat Allah telah memiliki cukup terang pada setiap zaman. “Di depan dan di belakang” menunjukkan terang nubuatan, yang mengungkapkan kepada mereka masa lampau, masa sekarang, dan masa yang akan datang; ini telah dimungkinkan oleh Roh Allah dan oleh malaikat-malaikat yang suci. Angka bilangan “empat” menunjukkan bahwa ada empat kelompok orang-orang suci untuk dipertimbangkan dalam sidang pehukuman itu. Dua dari antara kelompok-kelompok ini akan dibangkitkan; yaitu, orang-orang yang mati secara alami, dan orang-orang yang mati sahid. Dua kelompok lainnya itu adalah orang-orang yang akan diubahkan pada kedatangan Kristus yang akan datang; yaitu, mereka yang 144.000 dari Wahyu 7 : 1 – 8, dan rombongan besar orang-orang yang memegang pelepah kurma di dalam tangan mereka, seperti yang ditunjukkan di dalam ayat 9. (Lihat “Tongkat Gembala” Jilid I, halaman 41 - 51, bahasa Inggris). Karena sayap-sayap dari Singa, dan juga dari binatang macan tutul yang berkepala empat itu (Babil dan Yunani)

melambangkan jumlah masa-masa periode seperti yang dijelaskan terdahulu (pada halaman 33 - 42, bahasa Inggris), maka mereka harus melambangkan juga yang sama pada binatang-binatang ini. Mereka akan menunjukkan meterai di bawah mana sidang pehukuman dimulai -- meterai yang ke enam -- oleh karena itu enam sayap. “Tuhan Allah Yang Maha Kuasa, yang dahulu ada, dan sekarang ada, dan yang akan datang.” Artinya, Allah sebelum sidang pehukuman itu, dalam masa pehukuman itu, dan sesudah pehukuman itu.

Ayat 7 : “Dan binatang yang pertama itu adalah seperti singa, dan binatang yang kedua seperti anak lembu, dan binatang yang ketiga memiliki wajah seperti wajah manusia, dan binatang yang ke empat seperti burung nasar yang terbang.” Binatang-binatang itu secara alami juga melambangkan empat masa periode sidang. Binatang yang pertama adalah seperti singa. “Singa” ialah raja dari binatang-binatang, dan adalah dimaksudkan untuk menunjukkan periode yang pertama dari sidang mendahului bagian upacara bayang-bayangan dengan mana pehukuman itu telah dimulai. (Lihat gambar bagan di dalam “Tongkat Gembala” Jilid I, halaman 224, bahasa Inggris). Binatang yang kedua “seperti anak lembu”, jelaslah bahwa ia melambangkan bagian upacara korban, atau bagian yang merupakan contoh. Dengan demikian binatang yang memiliki “wajah seperti wajah manusia” itu harus melambangkan masa periode contoh saingan sesudah penyaliban Kristus. Dan binatang yang ke empat adalah seperti “seekor burung nasar yang terbang”. Ia melambangkan periode dalam masa penuaian. Periode yang terakhir adalah dilambangkan dengan burung nasar yang terbang untuk menunjukkan sidang yang akan diubahkan. “Burung nasar yang terbang” ialah raja dari burung-burung, seperti halnya singa adalah raja dari binatang, yaitu menandakan kemenangan dengan demikian telah membuat suatu simbol yang sempurna. Sebagaimana pehukuman terhadap orang-orang mati telah dimulai dengan binatang yang menyerupai singa, -- raja binatang, — demikian itu pula pehukuman terhadap orang-orang hidup akan dimulai dengan binatang yang menyerupai seekor burung nasar, — raja segala burung. Keseluruhan kebenaran dari “empat binatang ini” belum diungkapkan.

Sebagaimana binatang-binatang dan para tua-tua itu memuji-muji dan menyembah Allah, itu adalah kesaksian yang cukup bahwa seluruh mahluk ciptaan adalah puas bahwa Ia adalah adil, dan benar, dan Ia adalah khalik dari semua. Orang-orang yang nama-namanya ada tersurat di dalam buku dari “tujuh meterai” itu ialah mereka yang dosa-dosanya akan dihapuskan dengan darah Kristus yang mulia itu. Demikianlah, puji dan hormat dan kemuliaan, adalah milik Allah kita sampai selama-lamanya.

“Aku, bahkan Akulah, Dia yang menghapuskan segala pelanggaranmu karena kepentingan-Ku sendiri, maka tiada lagi Aku ingat akan segala dosamu.” (Yesaya 43 : 25). “Aku akan menanggung murka Tuhan, sebab aku sudah berbuat dosa melawannya, sampai dibela-Nya perkaraku, dan dilaksanakan pengadilan bagiku : Ia akan mengeluarkan daku kepada terang, dan aku pun akan melihat kebenaran-Nya. Bahwa Ia akan kembali, Ia akan mengasihani kami; Ia akan menutupi segala kesalahan kami; dan segala dosa mereka itu akan Kau campakkan ke dalam tubir laut.” (Mikha 7 : 9, 19). Maukah kita bersama-sama dengan rasul yang besar itu mengatakan : “Karena aku yakin, bahwa baik maut, ataupun hidup, baik malaikat ataupun penguasa, atau kekuatan-kekuatan apapun, baik perkara-perkara yang ada sekarang ataupun perkara-perkara yang akan datang, baik tinggi, ataupun dalam, atau sesuatu mahluk lainnya, tiada dapat menceraikan kita dari kasih Allah, yang terdapat dalam Kristus Tuhan kita?” (Roma 8 : 38, 39).

Sedemikian jauh perhatian kita telah dipanggil kepada Hakim Agung itu, kepada juri dari dua puluh empat tua-tua itu, kepada empat binatang yang melambangkan orang-orang yang akan diadili, dan kepada buku yang berisikan nama-nama -- yang tersegel dengan tujuh meterai. Sekarang perhatian kita beralih kepada pembela itu.

“Maka aku tampak, dan, heran, di tengah-tengah tahta dan keempat binatang, dan di tengah-tengah para tua-tua, berdirilah seekor Anak Domba, Ia itu bagaikan sudah tersembelih, memiliki tujuh tanduk dan tujuh mata, yaitu tujuh Roh Allah yang sudah diutus ke seluruh bumi. Maka datanglah Anak Domba itu mengambil kitab itu dari tangan kanan Dia yang duduk di atas tahta itu. Maka setelah diambil-Nya kitab itu, sujudlah keempat binatang dan dua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba itu, masing-masingnya memiliki kecapi, dan cawan emas yang penuh dengan bau-bauan, yaitu segala doa dari semua orang suci.” (Wahyu 5 : 6 – 8).

“Anak Domba” ialah simbol dari Kristus, yaitu pembela kita. Yohanes mengatakan : “Hai anak-anakku, segala perkara ini ku suratkan kepadamu, supaya jangan kamu berbuat dosa. Dan jikalau barang seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pembela bersama-sama dengan Bapa, yaitu Yesus Kristus yang benar itu.” (1 Yohanes 2 : 1).

Tujuh tanduk pada Anak Domba itu menunjukkan kelengkapan kekuatan dan kekuasaan, membenarkan kata-kata yang diucapkan oleh Kristus : “Segala kuasa dikaruniakan kepada-Ku baik di surga maupun di bumi.” (Matius 28 : 18). Kekuasaan yang tak terukur ini adalah bagi kebaikan kita, dan dengan bebas ditawarkan kepada kita. Yesus mengatakan : “Jikalau kamu mempunyai iman sebesar sebutir benih sesawi, maka kamu akan mengatakan kepada gunung ini, pindahlah engkau dari sini ke sana; maka ia itu akan berpindah; dan tak ada sesuatupun yang kelak tak mungkin bagimu.” (Matius 17 : 20). Saudaraku, semua perkataan ini mungkin benar atau tidak benar. Tidak mungkin ada setengah-setengah kebenarannya. Karena Kristus tidak mungkin berdusta, maka maukah anda mencoba perkataan-Nya yang tidak pernah gagal itu, dan membiarkan Dia memenuhi janji-Nya?

Tujuh mata dari Anak Domba itu menunjukkan kelengkapan pandangan; bukti bahwa tidak ada apapun juga yang tersembunyi dari pandangan Pembela kita, dan bahwa segala perkara adalah terbuka dan telanjang pada pandangan-Nya; demikian pula sama halnya terhadap Allah Bapa. Pemazmur melukiskan kuasa Allah dalam khayalnya dengan kata-kata berikut ini : “Kemana gerangan aku dapat lari dari Roh-Mu? Ataukah kemana gerangan aku dapat bersembunyi dari kehadiran-Mu? Jika kiranya aku naik sampai ke langit, maka Engkau ada di sana : Jikalau kiranya aku membentangkan tempat tidurku di dalam neraka, tengoklah, Engkau ada di sana. Jikalau kiranya aku mengambil sayap-sayap fajar pagi, lalu duduk pada ujung-ujung laut yang terjauh sekalipun; di sanapun tangan-Mu akan menyertai aku, dan tangan kanan-Mu akan memegang aku. Jikalau kiranya aku mengatakan, sesungguhnya kegelapan akan menudungi aku; bahkan malam pun akan menjadi terang mengelilingi aku. Sesungguhnya, kegelapan tidak dapat menyembunyikan dari pada-Mu; melainkan malam pun akan bersinar-sinar seperti hari siang : kegelapan maupun terang kedua-duanya adalah sama saja bagi-Mu.” (Mazmur 139 : 7 – 12).

Pewahyu mengatakan tanduk-tanduk dan sekalian mata dari Anak Domba itu “adalah tujuh Roh Allah yang telah diutus ke dalam seluruh bumi”. Semua kekuasaan ini, baik dalam kekuatan maupun dalam penglihatan, adalah dipersatukan lalu didemonstrasikan oleh Roh Allah. Yesus mengatakan, “Adalah perlu bagimu Aku pergi : karena jika tidak Aku pergi, maka Penghibur itu tidak akan datang

kepadamu; tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan menugaskan dia kepadamu.” (Yohanes 16 : 7). “Tetapi Penghibur itu, yaitu Rohulkudus, yang akan diutus Bapa dalam nama-Ku, ia akan mengajarkan kepadamu segala perkara, dan membawa segala perkara ke dalam ingatanmu, yaitu apa saja yang telah Ku katakan kepadamu.” (Yohanes 14 : 26).

“Tujuh pelita yang berisikan api yang bernyala-nyala di hadapan tahta itu, ia itu adalah tujuh Roh Allah.” (Wahyu 4 : 5). Pelita-pelita yang berisikan api itu, tujuh jumlahnya, terdapat di depan tahta, melambangkan kelengkapan kebenaran Allah – yaitu kebenaran sekarang yang diungkapkan kepada setiap generasi manusia semenjak dari kejadian dunia — oleh mana mereka akan diadili. Orang-orang yang patuh kepada semua terang dan kebenaran yang diberikan kepada mereka, telah memenuhi semua persyaratan   -- mereka telah dimeteraikan, dan telah dinyatakan bebas dari tuduhan hukum Allah.

“Tujuh pelita ..... yaitu tujuh Roh Allah”. (Wahyu 4 : 5). Firman ini membuktikan kenyataan bahwa terang dan kebenaran diungkapkan hanya oleh Roh Allah saja. “Tetapi Penghibur itu, yaitu Rohulkudus yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, ia akan mengajarkan kamu segala perkara, dan membawa segala perkara ke dalam ingatanmu, yaitu apa saja yang telah Ku katakan kepadamu.” (Yohanes 14 : 26). Penolakan terhadap terang dan kebenaran sekarang adalah dosa melawan Rohulkudus. “Maka barangsiapa yang mengucapkan sesuatu perkataan melawan Anak Manusia, ia itu akan diampuni : tetapi barangsiapa pun yang berbicara melawan Rohulkudus (kebenaran sekarang) ia itu tidak akan diampuni, baik di dunia ini, baik di dunia yang akan datang.” (Matius 12 : 32). Sikap kita terhadap kebenaran sekarang akan “Membuat pohon kayu baik, dan buahnya pun baik; atau sebaliknya membuat pohon kayu itu jelek, dan buahnya pun jelek; karena pohon kayu adalah dikenal oleh buahnya.” (Ayat 33). Dengan demikian, kebenaran sekarang mempunyai kuasa untuk merubah pribadi orang dan memantapkannya bagi hidup yang kekal, yaitu meterai dari Allah yang hidup itu. Kata Yesus : “Sesungguh-sungguhnya, Aku menegaskan kepadamu, Terkecuali seseorang dilahirkan oleh air dan oleh Roh, maka ia tak mungkin masuk ke dalam kerajaan Allah.” (Yohanes 3 : 5). 

LAUT KACA 

“Dan di hadapan tahta itu terdapat suatu laut kaca yang bagaikan kristal : dan di tengah-tengah tahta itu, dan sekeliling tahta, terdapat empat binatang yang penuh dengan mata di depan dan di belakang.” (Wahyu 4 : 6). Menurut tanda bacaan dalam ayat yang baru dikutip di atas, pengertiannya adalah bahwa binatang-binatang itu berada di tengah-tengah tahta dan sekeliling tahta itu. Adalah tidak mungkin bagi mereka itu berada di tengah-tengah, dan juga sekeliling tahta -- kursi pengampunan. Jika mereka itu berada di tengah-tengah tahta itu, mereka sudah akan mengambil tempat-Nya Allah, Hakim itu, dan Anak-Nya, yaitu Anak Domba itu. Dengan demikian, kami simpulkan bahwa kalimat pertama dari ayat itu telah  salah diberi tanda baca. Dengan menghilangkan titik koma maka Firman itu akan terbaca sebagai berikut : “Dan

di hadapan tahta itu terdapat sebuah laut kaca yang bagaikan kristal dan di tengah-tengah tahta itu.” Dengan demikian maka laut kaca itulah yang terdapat di tengah-tengah, dan di hadapan tahta itu; bukan binatang-binatang itu. “Laut kaca” itu mengalir keluar dari tahta, dan adalah melambangkan kehidupan kekal dengan cara yang sama seperti “Anak Domba” adalah melambangkan Kristus, Pembela kita.

Laut adalah sesuatu organ yang paling luas di atas bumi; dengan demikian ia itu telah digunakan untuk melambangkan kekekalan. “Jernih seperti kristal” menunjukkan kesempurnaan, bebas dari dosa dan berbagai cacat cela. Di dalam Wahyu 15 : 2, kita baca : “Maka aku lihat bagaikan suatu laut kaca yang bercampur dengan api.” Api merupakan satu-satunya simbol yang tepat yang dapat digunakan untuk melambangkan kehidupan. Oleh sebab itu, maka laut kaca itu mengalir keluar dari tahta Allah, dan melambangkan hidup kekal, yaitu pahala bagi orang-orang yang nama-namanya ada tersurat di dalam kitab hayat Anak Domba itu, di dalam tujuh meterai. “Maka sekali-kali tiada akan masuk ke dalamnya sesuatu yang keji, atau siapapun juga yang melakukan berbagai kekejian, atau yang berbuat dusta : melainkan hanyalah mereka yang tersurat nama-namanya di dalam kitab hayat Anak Domba.” (Wahyu 21 : 27). Di dalam sidang pehukuman itu akan diijinkan kepada orang-orang suci “yang telah menang atas binatang itu, dan atas patungnya, dan atas tandanya, dan atas angka bilangan namanya”, untuk berdiri di atas laut kaca   -- hidup kekal. (Wahyu 15 : 2).

Pengaturan dan pemandangan itu, sebagaimana yang dilukiskan oleh Yohanes, membuktikan bahwa itulah sidang pehukuman yang sedang berlangsung; karena ia itu berlangsung di dalam tempat “Yang Maha Suci” -- yang dilambangkan oleh tempat kesucian bumi berikut upacaranya, dimana Harun, imam besar itu, telah bertugas dalam bulan yang ketujuh, pada hari ke sepuluh dari bulan itu. Ia itulah yang disebut hari grafirat -- masa pehukuman; pembersihan tempat kesucian atau penyucian sidang -- yaitu pemisahan lalang dari gandum. Di sanalah kita memandang Hakim Agung itu (Allah Bapa), Pembela itu (Anak Domba -- Yesus Kristus kebenaran itu), suatu juri (dua puluh empat tua-tua -- yang berpakaikan kebenaran Kristus -- jubah-jubah putih); suatu perwakilan dari orang-orang yang akan diadili (empat binatang itu); terang dan kebenaran yang sudah mereka patuhi (tujuh pelita itu); pahala yang akan diberikan kepada orang-orang yang diadili itu (laut kaca); dan kitab yang berisikan nama-nama dari semua orang benar, dimulai dari Adam dan seterusnya sampai kepada penutupan masa kasihan -- yaitu berakhirnya Injil (tujuh meterai). “Maka aku tampak di dalam tangan kanan Dia yang duduk di atas tahta itu sebuah kitab yang bertuliskan di dalam dan di luarnya, yang tersegel dengan tujuh meterai.” (Wahyu 5 : 1). Oleh karena kitab itu berisikan nama-nama semua orang yang telah dimeteraikan dengan meterai Allah (kebenaran-Nya), maka ia itu disebut kitab dari meterai-meterai, juga disebut kitab hayat Anak Domba.

Dalam Injil berikut ini kita menyaksikan seluruh alam semesta mengamati dengan penuh perhatian semua persoalan dari keluarga manusia sementara gulungan surat terbuka mengungkapkan kepada mereka rahasia Allah : “Dan untuk memperlihatkan kepada semua orang bagaimana persekutuan rahasia itu, yang semenjak kejadian dunia telah tersembunyi dalam Allah, yang

telah menciptakan segala perkara oleh perantaraan Yesus Kristus.” (Efesus 3 : 9). Mengutip Wahyu 5 : 11 – 14, “Maka aku tampak, dan aku dengar suara malaikat yang banyak sekeliling tahta dan binatang-binatang dan tua-tua itu : maka banyaknya mereka itu adalah sepuluh ribu kali sepuluh ribu, dan beribu-ribu; Yang mengatakan dengan suara besar, Berlayaklah Anak Domba yang sudah tersembelih, menerima kuasa, dan segala kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan berkat. Maka setiap mahluk yang di dalam surga, dan di bumi dan di bawah bumi, dan sedemikian itu yang ada di laut, berikut semua yang ada di dalamnya, aku dengar mengatakan, Bagi Dia yang duduk di atas tahta, dan bagi Anak Domba itu adalah berkat, dan hormat, dan kemuliaan, dan kuasa, selama-lamanya. Maka keempat binatang itu mengatakan, Amin. Maka kedua puluh empat tua-tua itu sujudlah dan menyembah Dia yang hidup kekal selama-lamanya.” Injil yang dikutip ini membuktikan bahwa seluruh alam semesta merasa puas karena kasih Allah, dan kebenaran Kristus. Kami mengulangi lagi ayat 13 : “Maka setiap mahluk yang di dalam surga, dan di bumi, dan di bawah bumi, dan sedemikian itu yang ada di laut, berikut semua yang ada di dalamnya, aku dengar mengatakan, Bagi Dia yang duduk di atas tahta, dan bagi Anak Domba itu adalah berkat, dan hormat, dan kemuliaan, dan kuasa, selama-lamanya.” 

PEMBUKAAN KITAB ITU 

“Dan aku tampak seorang malaikat perkasa memberitakan dengan suara besar, Siapakah yang layak membukakan kitab itu, dan melepaskan semua meterainya? Maka tak seorangpun di dalam surga, ataupun di bumi, ataupun di bawah bumi, yang dapat membuka kitab itu, ataupun memandangnya. Maka sangatlah aku menangis, oleh sebab tiada seorangpun didapati layak untuk membukakan dan membacakan kitab itu, ataupun memandangnya. Maka salah seorang dari para tua-tua itu mengatakan kepadaku, Janganlah menangis : tengoklah, singa dari suku Yehuda, yaitu Akar Daud, telah menang untuk membukakan kitab itu, dan melepaskan semua meterai dari padanya. Maka aku tampak, dan heran, di tengah-tengah tahta dan keempat binatang itu, dan di tengah-tengah para tua-tua itu, berdirilah seekor Anak Domba yang bagaikan sudah tersembelih, memiliki tujuh tanduk dan tujuh mata, yaitu tujuh Roh Allah yang sudah diutus ke seluruh bumi. Maka datanglah Anak Domba itu mengambil kitab itu dari tangan kanan Dia yang duduk di atas tahta itu. Maka setelah diambil-Nya kitab itu, sujudlah keempat binatang dan dua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba itu, masing-masingnya memiliki kecapi dan cawan emas yang penuh dengan bau-bauan, yaitu segala doa dari semua orang suci.” (Wahyu 5 : 2 – 8).

Firman ini mengungkapkan, bahwa tidak ada satupun yang lain di dalam alam semesta Allah yang luas ini yang layak, atau yang dapat membukakan kitab itu, karena “Singa dari suku Yehuda, Akar Daud itu, telah menang”. Kristus memperoleh gelar di atas ini karena kelahiran-Nya, dan karena kemenangan-Nya di atas kayu salib bagi orang-orang yang percaya pada-Nya sebagai Penebus

dunia. Ia telah menang oleh korban darah-Nya di Golgotha; dengan demikian tidak ada orang lain yang dapat membuka kitab itu, karena hanya Dia yang telah mati bagi umat manusia. “Kitab” ini berisikan nama-nama dari orang-orang suci, dan “tujuh meterai” itu terdiri dari, setiap periode nubuatan, sejarah dunia, dalam mana saat orang-orang suci itu telah dimeteraikan. Tujuh periode sejarah yang belum digenapi inilah yang telah memeteraikan kitab itu, dan satu-satunya orang yang dapat membuka kitab itu -- yaitu melihat ke dalam masa depan -- adalah “Anak Domba itu”. Kitab itu “bertuliskan di dalamnya dan di belakangnya” -- “bertuliskan di dalamnya” ialah nubuatan firman Allah; “dan pada sebelah belakangnya”, ialah kegenapan sejarah dari nubuatan-nubuatan. “Maka semua orang yang diam di bumi akan menyembah dia, yaitu mereka yang nama-namanya tidak tersurat di dalam kitab hayat Anak Domba itu yang sudah tersembelih semenjak berdirinya dunia ini.” (Wahyu 13 : 8). “Siapa gerangan telah mengadakan dan melakukan itu, yang Memanggil generasi itu semenjak dari mula pertama?” (Yesaya 41 :  4).

Adalah Kristus yang telah mempersiapkan jalan bagi terlaksananya sidang pehukuman ini untuk membela umat-Nya, dan untuk menghapuskan dosa-dosa mereka. “Di dalam upacara contoh-contoh, hanya orang-orang yang telah datang ke hadapan Allah dengan pengakuan dosa dan pertobatan, dan yang dosa-dosa mereka, melalui persembahan darah dari korban dosa, telah dialihkan ke tempat kesucian, yang memperoleh bagian dalam upacara pada hari grafirat. Demikianlah dalam hari besar grafirat yang terakhir dan pemeriksaan hukum itu, yang akan dipertimbangkan hanyalah perkara-perkara dari mereka yang adalah umat Allah. Sidang pehukuman terhadap orang-orang jahat adalah suatu pekerjaan tersendiri yang terpisah, yang akan berlangsung pada suatu masa periode kemudian. ‘Pehukuman harus dimulai pada isi rumah Allah : dan jika ia itu pertama sekali dimulai terhadap kita, maka apakah kelak nasib mereka yang tidak mematuhi Injil?’ Sementara buku-buku catatan terbuka di dalam sidang pehukuman, kehidupan dari semua orang yang percaya pada Yesus muncul terbuka di hadapan Allah. Dimulai dengan orang-orang yang pertama sekali hidup di bumi ini, Pembela kita menyampaikan perkara-perkara dari masing-masing generasi secara berurutan, dan berakhir dengan orang-orang yang hidup.” -- “The Great Controversy”, halaman 480, 483.

Di samping buku yang terdapat di dalam tangan hakim itu, masih ada lagi buku-buku lainnya, tetapi buku yang satu ini tidak seorangpun yang lain di dalam surga ataupun di bumi layak membukanya, terkecuali “Anak Domba” itu, ialah buku yang disebut “Kitab Hayat Anak Domba”. Dan Pewahyu mengatakan bahwa hanya orang-orang yang nama-namanya ada tersurat di dalam kitab hayat Anak Domba itulah yang akan masuk ke dalam kota Allah. “ ‘Sebuah buku kenangan’ akan ditulis di hadapan Allah, dimana akan dicatat perbuatan-perbuatan baik dari ‘mereka yang takut akan Tuhan, dan yang menaruh harap pada nama-Nya.’ ” -- “The Great Controversy”, p. 481. 

METERAI- METERAI ITU SESUAI MASA-MASA PERIODENYA -- WAHYU PASAL 6 

Karena kenyataan yang dikemukakan tidak mungkin dapat dibantah bahwa bersama-sama dengan buku dari meterai-meterai itu sidang pehukuman dibuka, dan karena ia itu dimulai dengan orang-orang benar yang pertama hidup di bumi ini, dan berakhir dengan orang-orang benar yang terakhir, maka pastilah bahwa tujuh meterai itu menyebar meliputi seluruh sejarah

dunia. Dengan sendirinya, mereka itu termasuk juga setiap orang suci semenjak dari permulaan dunia. Angka bilangan “tujuh” membawakan kenyataan yang sama.

Karena adanya tujuh meterai secara berurutan, maka jelaslah bahwa sejarah dunia kita terbagi dalam tujuh masa periode yang berbeda. Sidang pehukuman itu dimulai terhadap masa periode yang pertama dan berakhir terhadap masa periode yang terakhir. Terbuktilah bahwa enam meterai yang pertama itu menyelesaikan perkara-perkara dari orang-orang yang telah mati mendahului sidang pehukuman itu, dan selagi sidang pehukuman itu berlangsung; tetapi periode pemeteraian yang ke tujuh, yang terakhir itu, harus berlaku terhadap orang-orang hidup.

Ada terdapat cukup bukti di dalam Injil, bahwa semua orang yang selamat dalam segala zaman dimeteraikan dengan meterai Allah; maka karena alasan inilah tujuh masa periode itu disebut “tujuh meterai”, dan nama-nama dari orang-orang yang dimeteraikan ada tersurat di dalam kitab itu; dengan sendirinya, maka kitab itu dimeteraikan dengan tujuh meterai. (Lihat Yohanes 6 : 27; Efesus 4  : 30; 1 : 13; 2 Timotius 2 : 19; 2 Korintus 1 : 22; Wahyu 9  :  4). 

ARTI DARI KUDA-KUDA DAN PARA PENUNGGANGNYA   

Wahyu 6 : 1 – 8, “Maka aku tampak apabila Anak Domba itu membuka salah satu dari meterai-meterai itu, lalu ku dengar, bagaikan suara guntur, salah satu dari keempat binatang itu berkata, Marilah dan lihatlah. Maka aku tampak, dan tengoklah seekor kuda putih : dan dia yang duduk di atasnya itu memiliki sebuah panah; dan sebuah mahkota dikaruniakan kepadanya : lalu keluarlah ia dengan kemenangan dan untuk memenangkan. Dan setelah ia membukakan meterai yang kedua, aku dengar binatang yang kedua itu mengatakan, Marilah dan lihatlah. Dan keluarlah seekor kuda lain yang merah warnanya : maka kepada orang yang duduk di atasnya itu dikaruniakan kuasa untuk mengambil perdamaian dari bumi, sehingga orang saling membunuh : dan sebilah pedang yang besar dikaruniakan kepadanya. Dan setelah Anak Domba itu membuka meterai yang ketiga, aku dengar binatang yang ketiga mengatakan, Marilah dan lihatlah. Dan aku tampak, adalah seekor kuda hitam; dan orang yang duduk di atasnya itu memiliki sepasang neraca timbangan di dalam tangannya. Maka aku dengar suatu suara di tengah-tengah dari keempat binatang itu mengatakan, Secupak gandum sedinar harganya, dan tiga cupak jelai sedinar harganya; tetapi perhatikanlah olehmu agar minyak dan air anggur jangan kau rusakkan. Maka setelah ia membukakan meterai yang keempat, aku dengar suara binatang yang keempat itu mengatakan, Marilah dan lihatlah. Maka aku tampak, dan tengoklah ada seekor kuda kelabu : dan orang yang duduk di atasnya itu Maut namanya, maka alam maut itu mengikuti sertanya. Maka kuasa dikaruniakan kepada keduanya atas seperempat bumi, untuk membunuh dengan pedang, dan dengan kelaparan, dan dengan kematian, dan dengan segala binatang yang di bumi.”

Kuda-kuda itu adalah melambangkan bumi, yang mengungkapkan empat perubahan besar semenjak dari permulaan dunia, dan para pengendaranya itu melukiskan keluarga manusia yang berada di bawah empat perubahan besar ini; demikianlah membuat suatu simbol yang sempurna, karena kita menunggang di atas bumi sama seperti halnya kita menunggangi seekor kuda. Kalau saja dosa tidak memasuki keluarga manusia, maka hanya akan ada seekor kuda saja. Tetapi karena dosa telah masuk dan telah menodai rencana Allah bagi anak-anak-Nya, maka bumi kena kutuk, dan demikianlah suatu perubahan

[halaman kosong]

__ GAMBAR __

besar telah datang; lalu karena dosa telah meningkat berlipat ganda, maka kutuk demi kutuk pun telah dipertambahkan. Oleh sebab itulah, maka kuda putih itu telah diganti oleh kuda merah, dan kuda merah kemudian diganti oleh kuda hitam, dan kuda hitam itu oleh kuda kelabu.

Pengendara kuda putih itu telah dikaruniakan sebuah mahkota, tetapi setelah dosa masuk ia telah kehilangan mahkota kerajaan dan kemuliaannya itu. Oleh sebab itu, maka pengendara kuda merah itu, gantinya ia memiliki sebuah mahkota, ia ternyata memiliki sebuah pedang yang besar; lalu kepada pedang itu telah ditambahkan sepasang neraca timbangan, dan kepada neraca timbangan itu ditambahkan maut.

METERAI PERTAMA -- KUDA PUTIH

Wahyu 6 : 2, “Maka aku tampak, dan tengoklah seekor kuda putih : dan dia yang duduk di atasnya itu memiliki sebuah panah; maka sebuah mahkota dikaruniakan kepadanya : lalu keluarlah ia dengan kemenangan dan untuk memenangkan.” ”Putih” merupakan sebuah simbol dari kesucian, menunjukkan bahwa kuda putih itu melambangkan permulaan dunia kita -- tidak berdosa, karena bumi berada dalam selubung keindahan dan kesempurnaan, dengan segala keajaiban di darat dan di lautan.

“ ‘Maka Tuhan Allah mendirikan sebuah taman di sebelah timur di Eden’; ..... Segala perkara yang sudah Allah ciptakan itu adalah indah sempurna, dan tidak ada sesuatu yang kelihatan kurang ..... Di dalam taman ini terdapat pohon-pohonan yang beraneka ragam besarnya, banyak dari antaranya sarat dengan buah-buahan yang lezat dan menarik. Di sana terdapat anggur-anggur yang cantik menarik ..... yang menyajikan bentuk yang sangat menggiurkan, dengan tangkai-tangkainya yang terkulai karena sarat dengan buah-buahnya yang mempesona, dan kaya disertai berbagai variasi warna yang sangat jelas.” -- “Patriarchs and Prophets”, halaman 46, 47.

Bumi dengan kembang-kembangnya yang cantik menarik serta hamparan permadani warna kehijau-hijauan yang hidup, atas mana segala langit yang biru membentangkan dirinya sebagai kubah, telah  memamerkan suatu pandangan kecantikan dan keelokan alamiah yang sedemikian itu belum ada bahasa dapat melukiskan. Hanya Artis Agung yang besar itu yang dapat mengadakan suatu keajaiban yang sedemikian itu tanpa sesuatu cacatnya.

PENGENDARA YANG PERTAMA

Sebagaimana kuda putih itu melambangkan permulaan dari bumi kita ini dalam keadaannya yang tak berdosa, maka pengendara itu tidak mungkin lain daripada Adam sendiri, terhadap siapa sidang pehukuman itu telah dimulai. Mahkota adalah lambang dari kekuasaan raja. “Maka Allah berfirman, Marilah kita menciptakan manusia menurut gambar kita, yang sama dengan kita : dan biarlah mereka itu memerintah atas segala ikan di laut, dan atas segala burung di udara, dan atas segala ternak dan atas seluruh bumi, dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” (Kejadian 1 : 26). Ini pun diucapkan dengan kata-kata, “Maka sebuah mahkota dikaruniakan kepada-Nya”. Oleh sebab itu, Tuhan telah menempatkan sebuah dunia yang sempurna dalam keadaan bergerak, dengan seorang raja yang diciptakan oleh tangan Allah, dan kita adalah anak-anak Kerajaan.

“Tengoklah seekor kuda putih : dan dia yang duduk di atasnya itu ..... keluar dengan kemenangan dan untuk memenangkan.” Kata-kata simbolis ini adalah

kegenapan dari kata-kata firman yang diucapkan oleh bibir Khalik sendiri : “Lalu Allah memberkati mereka itu (Adam dan Hawa), lalu Allah berfirman kepada mereka, Berbiaklah, dan bertambah-tambahlah kamu, dan penuhilah olehmu bumi itu, dan taklukkanlah dia.” (Kejadian 1 : 28). Adalah rencana Allah untuk memperlipat-gandakan keluarga manusia, dan membuat mereka itu supaya menaklukkan bumi. Oleh sebab itu, maka Adam telah keluar dengan kemenangan serta untuk memenangkan lagi. Walaupun dosa telah masuk, dan kematian telah meminta korban keluarga manusia, rencana Allah terus berjalan, dan bumi telah didiami. Demikianlah ia telah “keluar dengan kemenangan dan untuk memenangkan lagi”.

“Maka aku tampak, dan tengoklah seekor kuda putih : dan dia yang duduk di atasnya itu memegang sebuah panah”. Panah itu adalah suatu alat yang digunakan untuk menaklukkan (memenuhi bumi). Oleh sebab itu, maka kepada Adam telah dikaruniakan sebuah panah (Hawa) yang berkaitan dengan kata-kata : “Maka Tuhan Allah berfirman, Tidak baik manusia itu seorang diri; maka Aku hendak membuat baginya seorang penolong yang sepadan dengan dia. Lalu Tuhan Allah telah membuat Adam tertidur lelap, lalu tertidurlah dia : dan diambil Allah salah satu dari tulang-tulang rusuknya, lalu ditutupi-Nya kembali tempat itu dengan daging : Maka tulang rusuk, yang telah dikeluarkan dari Adam, diperbuat Tuhan seorang perempuan, lalu dibawa-Nya akan dia kepada Adam. Maka kata Adam, Inilah sekarang tulang yang berasal dari tulang-tulangku, dan daging daripada dagingku : maka ia akan dinamai Perempuan, sebab ia telah diambil keluar dari Laki-laki.” (Kejadian 2 : 18, 21 – 23). “Maka Adam memanggil nama istrinya itu Hawa : sebab ia adalah ibu dari semua yang hidup”. (Kejadian 3 : 20). Demikianlah lembaga yang suci ini telah berasal dari Khalik semesta alam sendiri. “ ‘Perkawinan adalah terhormat’; ini adalah salah satu karunia-karunia Allah yang pertama kepada manusia, dan inilah salah satu dari dua lembaga yang mana setelah jatuh dalam dosa, Adam telah membawa sertanya melewati pintu-pintu gerbang Firdaus.” -- “Patriarchs and Prophets”, halaman 46. Demikianlah Adam telah menang (mendiami bumi) dengan panahnya itu (Hawa). 

METERAI YANG KEDUA -- KUDA MERAH 

“Maka setelah Ia membuka meterai yang kedua, aku dengar binatang yang kedua itu mengatakan, Marilah dan lihatlah. Dan keluarlah seekor kuda lain yang merah warnanya : dan kepada orang yang duduk di atasnya itu dikaruniakan kuasa untuk mengambil perdamaian dari bumi, sehingga orang saling membunuh, dan sebilah pedang yang besar dikaruniakan kepadanya.” “Dan keluarlah seekor kuda lain yang merah warnanya”. Jika kuda putih itu melambangkan masa periode yang pertama, maka kuda merah itu harus menunjukkan masa periode berikutnya. “Merah” adalah sama dengan merah kirmizi, yaitu simbol dari dosa dan hukuman.

Setelah Adam berdosa, maka bumi telah dikutuk, sehingga keindahan yang sempurna menjadi tercemar. Demikianlah kuda putih itu telah berlalu, dan seekor kuda merah menggantikan tempatnya. Allah berfirman, “Terkutuklah tanah karena sebab engkau; dengan kesusahan kamu akan makan dari padanya sepanjang umur hidupmu.” Tetapi simbol ini berlaku lebih tepatnya sesudah air bah, karena seluruh permukaan bumi telah berubah oleh air bah itu. “Suatu kutuk ketiga

yang mengerikan berada di atasnya karena akibat dosa. Sementara air mulai surut, maka bukit-bukit dan gunung-gunung telah dikelilingi oleh lautan yang luas dan keruh. ..... Bumi menyajikan suatu bentuk kekacauan dan kehancuran yang tidak mungkin dapat dilukiskan. Gunung-gunung yang semula sedemikian cantiknya dalam keseimbangannya yang sempurna, telah menjadi hancur dan tidak teratur. Batu-batuan, tepi-tepian, dan batu-batu karang yang berantakan kini tersebar di permukaan bumi. Di banyak tempat, bukit-bukit dan gunung-gunung telah menghilang, tidak meninggalkan bekas sama sekali dimana mereka itu tadinya berada; dan lapangan-lapangan luas telah menjadi jajaran-jajaran gunung. Perubahan-perubahan ini lebih nyata terlihat di beberapa tempat daripada di tempat-tempat lainnya. Tempat-tempat dimana pernah tersimpan kekayaan-kekayaan bumi seperti emas, perak dan batu-batu mulia, terlihat mengalami kutuk yang terberat. Dan terhadap negeri-negeri yang tidak didiami, dan tempat-tempat dimana terdapat kejahatan yang tersedikit, kutuk itu didapati lebih ringan.” — “Patriarchs and Prophets”, halaman 108. Dengan demikian kuda merah itu melambangkan masa periode sesudah air bah. 

PENGENDARA PADA KUDA MERAH ITU 

“Dan kuasa telah diberikan kepada dia yang duduk di atasnya untuk mengambil perdamaian dari bumi, dan supaya mereka itu saling membunuh : maka telah diberikan kepadanya sebuah pedang yang besar.”  Segera setelah dosa memasuki keluarga manusia, maka ia itu berlipat ganda sedemikian cepatnya, bagaikan pohon buah-buahan. Betapa besarnya perbedaan di antara pengendara kuda yang pertama, dan yang kedua itu. Ia tidak lagi memiliki mahkota di atas kepalanya, tetapi sebagai gantinya, sebuah pedang yang besar terdapat di dalam tangannya. Habil yang benar itu adalah yang pertama sekali jatuh ke bawah pedang itu. Tetapi karena simbol itu mengaplikasikannya langsung setelah air bah, maka ditemukan kegenapannya yang tepat pada menara Babil.

Sementara penduduk bumi mulai meningkat dengan pesat setelah air bah itu, demikian pula halnya dengan dosa, sehingga walaupun mereka telah percaya akan ramalan Nuh dari hal air bah itu, mereka tidak percaya akan ramalan-ramalannya sesudah air bah. “Maka Allah telah memberkati Nuh dan anak-anaknya, lalu berfirman kepada mereka itu, Berbiaklah kamu, dan bertambah-tambah, dan penuhilah olehmu bumi itu ..... Maka Aku akan menegakkan perjanjian-Ku dengan kamu; kelak tidak lagi semua yang berdaging itu dibinasakan oleh air bah; dan tidak akan ada lagi sesuatu air bah yang akan membinasakan bumi. Maka Allah berfirman, Inilah suatu tanda perjanjian-Ku yang Ku perbuat di antara Aku dengan kamu dan dengan semua mahluk hidup yang ada bersama-sama dengan kamu, untuk generasi turun temurun sampai selama-lamanya; bahwa busur-Ku telah Ku taruh dalam awan-awan maka ia itu kelak menjadi suatu tanda perjanjian di antara Aku dengan bumi.” (Kejadian 9 : 1, 11 - 13).

Ketidak-percayaan mereka terhadap firman Allah yang diucapkan oleh Nuh, telah memaksa mereka, menentang Allah, yaitu bersepakat membangun menara Babil sebagai pertahanan melawan suatu bahaya air bah yang kedua. (Lihat Kejadian 11 : 3, 4). Murka Allah terhadap kebodohan mereka itu akan kuasa-Nya, dan ketidak-percayaan mereka itu kepada firman-Nya, telah mendorong-Nya membinasakan menara itu dan mengacaukan bahasa mereka. “Demikianlah Tuhan telah mencerai-beraikan mereka itu kemana-mana

ke seluruh permukaan bumi semenjak dari saat itu ….. Sebab itulah nama itu telah disebut Babil; karena di sana Tuhan telah mengacaukan bahasa dari seluruh bumi : dan semenjak itu Tuhan telah mencerai-beraikan mereka keluar ke seluruh permukaan bumi.” (Kejadian 11 : 8, 9). Kekacauan di menara Babil itu telah melahirkan berbagai suku bangsa dan bahasa-bahasa. Karena mereka telah berpisah dalam berbagai suku bangsa maka mereka yang saling bertetangga itu mulai bertengkar antar sesamanya. Sementara mereka terus bertumbuh menjadi bangsa-bangsa, maka pertikaian-pertikaian mereka kemudian berubah menjadi peperangan.

Demikianlah masa periode di bawah “kuda merah” itu telah  melahirkan kegelisahan di antara bangsa-bangsa. Oleh sebab itulah, maka kekuasaan telah diberikan kepadanya “untuk mengambil perdamaian dari bumi, dan supaya mereka saling membunuh : maka telah diberikan kepadanya sebilah pedang yang besar.” Demikianlah kenyataan membuktikan bahwa kuda merah itu melambangkan masa periode sesudah air bah; dan pengendaranya, yaitu para penduduknya, adalah berkaitan dengan “singa” (Babil), dan berikutnya “beruang” (Medo-Persia). Pada permulaan pemerintahan Persia, pertikaian-pertikaian yang dahulu itu telah pecah menjadi peperangan-peperangan berdarah, dengan demikian kata-kata oleh tulang-tulang rusuk di dalam mulut beruang itu berbunyi, “Bangkitlah, makanlah daging yang banyak” (Daniel 7 : 5) menemui kegenapannya dengan sempurna. Oleh sebab itu, maka perdamaian telah diambil dari bumi oleh pedang besar di dalam tangan pengendara yang duduk di atas kuda merah itu. 

METERAI YANG KETIGA -- KUDA HITAM 

Wahyu 6 : 5, “Maka setelah Anak Domba itu membuka meterai yang ketiga, aku dengar binatang yang ketiga itu mengatakan, Marilah dan lihatlah. Dan aku tampak, adalah seekor kuda hitam; dan orang yang duduk di atasnya itu memegang sepasang neraca timbangan di dalam tangannya.” Kuda putih adalah lambang dari kesucian, telah ditutupi oleh kuda merah yang melambangkan dosa, lalu kuda merah itu kemudian diganti oleh kuda “hitam” yang menunjukkan kegelapan rohani, atau kegelapan mental. Oleh karena itu, maka warna (hitam), menunjukkan salah pengertian terhadap kepribadian Allah.

Karena manusia terjerumus ke dalam dosa, maka kemampuan-kemampuan moral dan kerohaniannya telah menjadi lemah sampai sedemikian jauh sehingga penglihatannya terhadap kehadiran Allah yang tak terlihat telah hilang. Penyelewengan orang berdosa serta kecenderungan-kecenderungannya yang tidak bermoral memerlukan suatu dewa yang dapat dilihat untuk menebusnya dari kehancuran yang kekal. Dengan demikian penyembahan kepada Dia yang tak terlihat dan yang maha hadir itu lalu ditolak, dan diganti dengan pemujaan kepada dewa-dewa. Keadaan kerohanian yang gelap ini telah menguasai penduduk bumi kita di zaman Abram, hanya kira-kira tiga ratus tahun sesudah air bah.

Karena tidak ada catatan mengenai penyembahan berhala sebelum zaman itu, maka kuda hitam itu harus melambangkan masa periode semenjak dari saat itu sampai kepada sejarah Kristen. Jelaslah Israel badani muncul di bawah masa periode dari kuda hitam itu. Dalam setiap kesempatan, bilamana dunia telah mencapai puncak penipuan Setan, Allah, oleh kemurahan-Nya dan

karena kasih-Nya terhadap orang-orang berdosa, telah memaksanya untuk melakukan tindakan-tindakan tertentu untuk mempertahankan masa kasihan bagi manusia. Pada waktu itu Ia tidak dapat membinasakan orang-orang berdosa dari permukaan bumi tetapi tetap mempertahankan janji-Nya kepada Nuh. Untuk menjamin pemeliharaan janji-Nya itu Ia telah memanggil keluar Abram dari penyembahan berhala kepada perbaktian yang benar kepada Allah, memulai suatu bangsa yang terpisah oleh satu keluarga yang sama halnya dengan keluarga Adam dan keluarga Nuh; sehingga hasilnya ialah bahwa dua belas Kepala Suku bangsa Israel telah muncul, oleh siapa Allah telah membentuk suatu bangsa yang besar. 

NERACA-NERACA TIMBANGAN DI DALAM TANGAN PENGENDARANYA 

Ayat 5, bagian terakhir, “Maka aku tampak, dan heran seekor kuda hitam; dan orang yang duduk di atasnya itu memegang sepasang neraca timbangan di dalam tangannya.” Sebagaimana mahkota dan panah dari pengendara kuda putih itu menunjuk kepada hak-hak istimewanya, dan pedang yang besar di dalam tangan pengendara kuda merah menunjukkan kekuasaan istimewanya, maka demikian itu pula neraca-neraca timbangan di dalam tangan pengendara kuda hitam harus menunjukkan bangsa itu berikut sifat-sifat mereka, dalam masa periode itu.

Neraca-neraca timbangan adalah digunakan untuk maksud-maksud perdagangan. Oleh sebab itu, simbol ini menunjukkan perkenalan pertama dari suatu paham komersial. Mendahului zaman itu, kira-kira di zaman Abram, urusan-urusan dagang di antara bangsa-bangsa belum dikenal. Tetapi di masa periode yang dilambangkan oleh kuda hitam paham ini telah lahir. Bangsa Phenicia -- Zmith dikenal dengan penemuan-penemuan yang terus meningkat, bersama-sama Sidon dan Tsur sebagai pusat-pusat perdagangan utama mereka. “Siapakah yang telah memutuskan ini terhadap Tsur, kota yang bermahkota itu, yang para pedagangnya adalah pembesar-pembesar, dan saudagar-saudagarnya adalah orang-orang yang dihormati di bumi?” (Yesaya 23 : 8).

“Kita harus menyebut suatu bangsa ‘kecil’ yang lain dari keturunan Zmith ini yang pengaruh mereka terhadap dunia ini adalah jauh lebih kuat daripada pengaruh Mesir, atau Babilonia – yaitu orang-orang Phenicia. Negara mereka pun adalah salah satu yang terkecil yang antik ..... Dua kota mereka yang terutama ialah Sidon, dan, tak jauh daripadanya, adalah ratu dari kota-kota Phenicia, yaitu Tsur. Tetapi berangsur-angsur mereka menyebarkan daerah-daerah perdagangan mereka meliputi seluruh Laut Tengah, bahkan sampai masuk ke negeri-negeri yang lain, senantiasa mencarikan daerah-daerah Perdagangan yang baru dan pusat-pusat pasar. Mereka adalah bagaikan lebah-lebah dari dunia kuno yang lalu yang membawa butir-butir sari kebudayaan kemana saja mereka pergi. Kebutuhan-kebutuhan dagang dan jual beli telah mendorong mereka untuk menyempurnakan alphabet. Dan dari merekalah dunia barat telah memperolehnya. Dalam beberapa hal mereka adalah unik sekali dalam dunia kuno yang lalu, dan keadaan yang menonjol ini telah terkubur bersama-sama dengan mereka. Karena mereka tidak berminat dalam kemenangan-kemenangan perang, terkecuali perdagangan saja; maka mereka tidak peduli membayar upeti kepada penguasa-penguasa militer, selama penguasa-penguasa itu tidak mencampuri dalam hak-hak perdagangan mereka. Mereka memiliki suatu kemampuan yang sama seperti orang-orang Yunani untuk berasimilasi dengan siapa saja apakah itu Mesir, Babilonia, Assiria, Persia ataupun sesuatu fase peradaban

lain yang ditawarkan kepada mereka. Tetapi kesenangan utama mereka terletak dalam mencipta, keahlian teknik, kegiatan usaha, dan dalam bidang industri. Dalam pekerjaan besi, emas, gading, gelas, dan cat pewarna ungu, mereka dalam dunia kuno yang lalu itu tidak ada tandingannya.

“Kita diingatkan kembali sejarah Wasiat Lama mengenai keinginan Daud untuk mendirikan sebuah kaabah yang pantas bagi ibadah kepada Allah Israel. Telah diketahui secara mendalam olehnya bahwa pekerjaan itu lebih baik dibiarkan saja kepada anaknya Salomo. Demikianlah kita lihat Salomo telah mengikat suatu perjanjian dengan Hiram, raja dari Tsur. Hiram akan menyediakan kayu chedar dan kayu cypres, berikut tukang-tukang kayunya dan tukang-tukang batunya bagi bangunan itu, dan untuk mengapalkan bahan-bahan material itu di atas rakit-rakit ke Yehuda. Banyak kemegahan bagian luar dari peraturan Salomo yang brilian dan menyolok itu adalah hasil keahlian teknis para ahli pengukir Phenecia ini. Melalui kota-kota mereka mengalirlah barang-barang dagangan Arab dan Timur yang sangat menguntungkan : dan para penghasil barang-barang mereka itu terus sibuk memproduksi hasil-hasil mereka yang berupa barang-barang metal, gelas, dan cat pewarna ungu. Melalui lautan dan daratan mereka itu membuat perjalanan kemana-mana -- yaitu misi-misi dagang -- ahli-ahli tawar menawar dari Dunia Kuno yang lalu. Pada zaman Homer itu orang-orang Phenicia dikenal menjadi bajak-bajak laut -- perampok-perampok -- dan pedagang-pedagang hanya karena kebetulan. Mungkin sekali tidak lebih buruk dari dongeng saja, tetapi kepada kita diceritakan, bahwa mereka itu membawa perhiasan-perhiasan mereka, manik-manik, dan perhiasan-perhiasan murahan lainnya, yang dijualnya dengan harga-harga tinggi dan anak-anak lelaki dan perempuan yang diculik dijual di pasar-pasar bagian timur sebagai usaha sampingan.” -- Essential Knowledge, — “The Phenicians”, Vol. 1, pp. 69, 70. 

MINYAK DAN AIR ANGGUR JANGANLAH DIRUSAKKAN 

Ayat 6 : “Maka aku dengar suatu suara di tengah-tengah keempat binatang itu mengatakan, ..... tetapi perhatikanlah olehmu agar minyak dan air anggur jangan kau rusakkan.” Menurut Wahyu 4 : 6, keempat binatang itu berada pada sekeliling tahta. Oleh sebab itu, maka tahta itu terdapat di tengah-tengah binatang-binatang itu. Yohanes mengatakan : “Maka aku dengar suatu suara di tengah-tengah keempat binatang itu.” Salah satu dari perkara-perkara yang didengarnya ialah, “Perhatikanlah olehmu agar minyak dan air anggur jangan kau rusakkan.” Oleh karena itu, apapun yang dimaksudkan oleh simbol itu, ia itu bukan dari manusia, melainkan dari Allah, karena adalah Dia yang telah memerintahkan, “Minyak dan air anggur jangan kau rusakkan”.

Adalah suatu kenyataan yang telah diakui oleh hampir semua siswa Alkitab bahwa “minyak” biasanya digunakan oleh Injil sebagai simbol dari Roh Suci, seperti terdapat di dalam Mazmur 45 : 7; Yesaya 61 : 1 – 3; Zakharia 4 : 12. “Air anggur” telah digunakan sebagai simbol dari darah Kristus, dan karena “kehidupan terdapat di dalam darah”, maka air anggur menunjukkan kehidupan kekal, yang terdapat hanya di dalam “Anak Domba Allah yang menghapuskan dosa-dosa dunia.” Yesus mengatakan, “Segala perkataan yang Aku katakan kepadamu sekaliannya itu adalah Roh dan Kehidupan” -- “minyak” dan “air anggur”. Semua perkataan di dalam Alkitab ialah “Roh” dan “Kehidupan”. Oleh sebab itu, maka perintah, yang berbunyi, “minyak dan air anggur jangan kau

rusakkan”, adalah dimaksudkan kepada Alkitab -- yaitu Roh dan Kehidupan. Tetapi mengapakah perintah itu diberikan kepada pengendara yang istimewa ini? Mengapa tidak kepada salah seorang dari yang lain-lainnya? Satu-satunya jawaban yang dapat diberikan ialah bahwa masa periode di bawah lambang kuda hitam dan pengendaranya itu telah melahirkan Alkitab itu. Perintah itu telah dipatuhi sehingga Alkitab telah datang. Dalam masa penyembahan berhala dan kegelapan rohani yang begitu pekat, Allah oleh kasih-Nya yang tidak pernah gagal itu, telah memberkati keluarga manusia dengan hadiah Firman tertulis-Nya sebagai sebuah Terang kepada dunia. Suara dari tahta “Minyak dan air anggur jangan kau rusakkan”, ialah suara di dalam Alkitab dan kata-kata dari Yehovah. Bagian tersisa dari ayat 6 akan dijelaskan dalam penyelidikan yang lain. 

METERAI YANG KEEMPAT 

Ayat 7, 8 : “Maka setelah ia membuka meterai yang keempat, aku dengar suara binatang yang keempat itu mengatakan, Marilah dan lihatlah. Maka aku tampak, dan lihatlah ada seekor kuda kelabu : dan orang yang duduk di atasnya itu Maut namanya, maka alam maut itu mengikut sertanya. Dan kuasa dikaruniakan kepada keduanya atas seperempat bumi untuk membunuh dengan pedang, dan dengan kelaparan, dan dengan kematian, dan dengan segala binatang yang di bumi.”

Karena sejarah Wasiat Lama itu berakhir dengan meterai yang ketiga, maka sejarah Wasiat Baru dimulai dengan pembukaan meterai yang keempat. Dengan sendirinya, kuda kelabu itu dan binatang yang tak tergambarkan dari Daniel 7 : 7, 8, menempati masa periode yang sama. Jelaslah binatang yang satu harus menyamai binatang yang lainnya atau simbol itu tidak akan sempurna. Romawi telah dilambangkan oleh seekor binatang yang tak tergambarkan karena pemerintahannya adalah campuran dari undang-undang sipil dan agama, dengan ajaran-ajaran Kapir dan Kristen. Oleh sebab itu, maka ia itu adalah tak dapat digambarkan seperti yang dijelaskan terdahulu. Kuda kelabu itupun mempunyai arti yang sama, karena corak warna kulitnya samar-samar, kurang, tidak memiliki warna tertentu atau yang pasti. Kelabu — tak tergambarkan.

 Pengendara melambangkan kepala-kepala pemerintahan yang berkuasa. Namanya adalah Maut. “Kematian dan Neraka (neraka atau kubur sebagaimana terdapat di dalam salinan revised version yang disempurnakan) mengikuti dia.” Ini adalah suatu gambaran yang tepat mengenai penguasa Romawi penganiaya yang tidak adil itu, yang berkaitan dengan binatang seperti yang disaksikan oleh Daniel : “Ia itu menelan dan menghancur-luluhkan, dan memijak-mijak sisanya dengan kakinya.” Pada pembukaan meterai yang keempat, Romawi, di bawah simbol dari binatang yang tak tergambarkan itu dalam kedua tahapnya (kekaizaran dan kepausan) telah menganiaya rakyatnya karena kepercayaan agama mereka, sehingga berjuta-juta orang telah kehilangan nyawa mereka. Oleh karena itu, maka “Kematian dan Neraka (kubur) telah mengikuti dia”.

“Maka kuasa telah dikaruniakan kepada keduanya atas seperempat bumi : untuk membunuh dengan pedang, dan dengan kelaparan, dan dengan kematian, dan dengan binatang-binatang buas di bumi.” Di sini diberikan masanya yang tepat dalam mana kekaizaran Romawi dan kepausan Romawi akan berkuasa penuh meliputi seluruh bumi,

untuk membunuh para pengikut Kristus melalui cara-cara dari berbagai bentuk kekejaman. Kembali, perhatikanlah kesempurnaan Firman menggunakan kata pengganti orang “keduanya”, yang berarti kekaizaran Romawi dan kepausan Romawi, juga penguasa sipil dan agama. Perhatikan bagian pertama dari kalimat itu. “Dan kekuasaan dikaruniakan kepada keduanya atas seperempat bumi.” Bumi yang sekarang ini semenjak dari kejadian dunia sampai kepada akhirnya atau permulaan dari millenium itu, akan berjumlah enam ribu tahun. Pengendara kuda kelabu itu akan memperoleh kekuasaan meliputi seperempat bumi. Kita membagi enam ribu itu ke dalam empat bagian yang sama, maka kita akan memperoleh 1500 tahun. Oleh sebab itu, maka penganiayaan kejam dan tidak adil oleh Romawi itu akan kehilangan kekuatannya pada akhir dari 1500 tahun itu atau dari seperempat bagian itu. Dan memang itulah yang benar-benar terjadi. Pada waktu itu Martin Luther telah bangkit menentang Paus sehingga telah menimbulkan luka parah, dengan menggunakan kebenaran sebagai alatnya -- “Orang benar akan hidup oleh iman”. Dan sebagai hasilnya adalah Protestantisme telah naik ke atas pentas melawan Kepausan. Sampai kepada permulaan abad ke-15 Kepausan telah memerintah dengan penuh kekuasaan sebagai raja atas segala raja, dengan tangan besi dari negara dalam selubung apa yang disebut kekuasaan rohani; tetapi pada saat itulah kekuasaannya hancur.

Semenjak dari penyaliban Kristus sampai kepada “Augsburg Confession”, yaitu suatu dokumen yang disusun oleh Luther, telah meliputi suatu periode selama 1500 tahun. Dokumen ini telah ditandatangani oleh negara-negara Protestan dan diakui sebagai pernyataan kepercayaan mereka, dan merupakan suatu protes melawan Paus. Dengan demikian pada saat yang ditentukan, kekuasaan mereka itu, yaitu Kapir dan Paus, telah dihancurkan. (Lihat Buku “Tongkat Gembala”, Jilid I, halaman 209 – 222, bahasa Inggris). Demikianlah dengan tepatnya menggenapi lambang nubuatan bahwa “kekuasaan dikaruniakan kepada keduanya atas seperempat bumi”. Di sinilah terdapat suatu kebenaran yang meruntuhkan pendapat manusia bahwa bumi ini telah berada lebih lama dari 6000 tahun. Ini juga membuktikan pengaplikasian meterai-meterai itu benar-benar mutlak tepat.

Hanya empat ekor kuda yang diperkenalkan dan bukan tujuh ekor, atau, seekor kuda untuk sebuah meterai. Empat adalah suatu angka Alkitab lain lagi untuk menunjukkan bahwa lambang dari kuda-kuda itu adalah meliputi dunia secara luas (empat penjuru bumi). (Lihat halaman 54, bahasa Inggris). Sementara angka bilangan kuda-kuda itu melambangkan akibat dari kutuk dosa secara universal, angka bilangan meterai-meterai menunjukkan kelengkapan Injil dan pemeteraian dari orang-orang suci. 

METERAI YANG KELIMA 

Ayat 9 – 11 : “Maka setelah Ia membuka meterai yang kelima, aku tampak di bawah mezbah jiwa-jiwa dari mereka yang telah mati dibunuh karena Firman Allah, dan karena Kesaksian yang dipegangnya : Dan mereka itu berseru dengan suara nyaring, katanya, Berapa lamakah, lagi ya Tuhan, yang suci dan benar, tiadakah Engkau mengadili dan membalas semua darah kami ke atas mereka yang tinggal di bumi itu? Maka kepada masing-masing mereka dikaruniakan sebuah jubah putih; dan

dikatakan kepada mereka itu, bahwa mereka hendaknya bersabar dalam sedikit masa lamanya, sampai semua sesama hamba mereka pun dan semua saudara mereka, yang akan dibunuh seperti mereka itu, akan digenapi.”

Berakhirnya meterai yang satu dan pembukaan meterai yang lainnya telah memakan waktu 30 tahun. Dengan demikian meterai yang keempat itu berakhir dalam tahun 1530 TM, sampai kepada masa periode pengendara kuda kelabu itu kelak memperoleh kekuasaannya. Oleh karena itu, maka reformasi oleh Luther itu jatuh dalam masa meterai kelima; dan sesudah ia itu terbuka Yohanes menyaksikan “jiwa-jiwa dari mereka yang telah dibunuh karena Firman Allah”, di bawah meterai yang keempat. “Dan telah dikatakan kepada mereka itu (mereka yang dibunuh itu), bahwa mereka hendaknya beristirahat dalam sedikit masa lamanya sampai semua sesama hamba mereka pun, dan semua saudara mereka yang akan dibunuh seperti mereka itu, akan digenapi.” Kata-kata ini menunjukkan bahwa walaupun kelaliman itu telah kehilangan kuasanya, namun aniaya belum sama sekali berakhir, karena semua sesama hamba mereka itu dan juga saudara-saudaranya masih lagi akan dibunuh di bawah meterai yang kelima. Yohanes mengatakan : “Maka setelah Ia membuka meterai yang kelima, aku tampak di bawah mezbah jiwa-jiwa dari mereka yang telah mati dibunuh karena Firman Allah.” Oleh sebab itu, maka itulah orang-orang Kristen yang telah dibunuh.

Mezbah itupun adalah lambang; maka ia pun harus diperhatikan. Mezbah biasanya digunakan untuk berbakti; dan karena jiwa-jiwa mereka itu yang telah dibunuh karena Firman Allah terdapat di bawahnya, dapatlah kita ketahui bahwa itu adalah suatu mezbah dari perbaktian yang benar -- reformasi oleh Luther. 

METERAI YANG KEENAM 

Ayat 12, 13 : “Maka aku tampak setelah Ia membuka meterai yang keenam, maka heran, terjadilah suatu gempa bumi yang besar; dan matahari menjadi hitam seperti suatu kain karung dari rambut, dan bulan menjadi seperti darah, dan bintang-bintang di langit berguguran ke bumi seperti pohon ara meluruhkan buah-buah buruknya, apabila ia diguncangkan angin yang keras.” 

Meterai yang keenam dibuka dengan gempa bumi Lisbon pada tanggal 1 November 1755. Menyusul gempa bumi itu matahari telah digelapkan, pada tanggal 19 Mei 1780, dan bulan terlihat seperti darah pada malam berikutnya. “Kejatuhan bintang-bintang itu”, menunjuk kepada hujan meteor besar pada 13 November 1833. Sambil memandang ke depan kepada kegenapan dari semua tanda-tanda ini, maka Yesus mengatakan : “Segera setelah hari-hari sengsara itu matahari kelak akan digelapkan, dan bulan tiada akan memberi cahayanya, dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit, dan segala kekuatan dari segala langit akan bergoncangan.” (Matius 24 : 29). Oleh sebab itu, maka di bawah meterai yang keenam telah datang tanda-tanda dari akhir zaman -- gempa bumi besar dalam tahun 1755, hari gelap dalam tahun 1780, bintang-bintang berjatuhan dalam tahun 1833, dan permulaan pehukuman dalam tahun 1844.

Mengenai ayat-ayat 14 - 17, terdapat komentar di dalam “Testimonies for the Church”, Vol. 9, halaman 267, 268 : “ ‘Dan langit berlalu seperti suatu gulungan surat apabila ia itu tergulung; dan setiap gunung dan pulau

berpindah tempatnya. Maka raja-raja di bumi, dan orang-orang besar, dan orang-orang kaya, dan para panglima perang, dan orang-orang perkasa, dan setiap orang yang tertawan, dan setiap orang yang merdeka, sekalian mereka menyembunyikan diri di dalam lubang-lubang batu dan di bawah batu-batu karang dari gunung-gunung; sambil berkata kepada gunung-gunung dan batu-batu karang itu, Timpalah atas kami, dan sembunyikanlah kami dari wajah Dia yang duduk di atas tahta itu, dan dari murka Anak Domba itu; karena hari besar murka-Nya itu telah datang; maka siapakah yang mampu berdiri? (Wahyu 6 : 12 - 17). Sesudah ini aku tampak, dan, heran, suatu rombongan besar, yang tak seorangpun dapat menghitungnya, berasal dari segala bangsa, dan suku-suku bangsa, dan orang banyak, dan bahasa-bahasa, berdiri sekaliannya di hadapan tahta, dan di hadapan Anak Domba itu, berpakaikan jubah-jubah putih, dan pelepah kurma di dalam tangan mereka; sambil berseru dengan suara besar, katanya, Keselamatan bagi Allah kita yang duduk di atas tahta, dan bagi Anak Domba. ..... Inilah mereka yang keluar dari sengsara yang besar itu, dan mereka telah mencuci jubah-jubah mereka dan telah memutihkannya di dalam darah dari Anak Domba.’ .....  Wahyu 7 : 9 – 17.” 

Sesuai dengan kesaksian berikut ini, Wahyu 6 : 12 - 17 memiliki dua kali pengaplikasian; dan adalah jelas bahwa ayat-ayat ini juga menunjuk kepada masa pembersihan sidang Allah, karena hamba Tuhan mengatakan, ”Dalam Injil ini dua rombongan diperlihatkan. Rombongan yang satu membiarkan diri mereka disesatkan, lalu berpihak kepada orang-orang terhadap siapa Tuhan menentang. Mereka telah mengacaukan pengertian pekabaran yang telah dikirim kepada mereka, dan mereka telah memakaikan pada dirinya jubah-jubah kebenarannya sendiri. Dosa tidak lagi terlihat keji pada pemandangan mata mereka. Mereka mengajarkan kepalsuan sebagai kebenaran, dan karena merekalah banyak jiwa telah disesatkan.” -- “Testimonies for the Church”, Vol. 9, halaman 268. Dapatlah disimpulkan dari kesaksian yang baru saja dikutip itu, bahwa mereka telah mengajarkan kepalsuan. Kami mohon para pembaca memikirkan apa yang telah diajarkan dari simbol-simbol yang ditemukan di dalam buku-buku Daniel dan Wahyu. Misalnya, pikirkanlah kebenaran yang dikemukakan di sini, diperbandingkan dengan apa yang telah diajarkan bertahun-tahun lamanya. 

METERAI YANG KETUJUH, WAHYU 8 : 1 - 5 

Ayat 1, 3 – 5 : “Maka setelah Ia membuka meterai yang ketujuh, sunyi senyaplah di dalam surga kira-kira setengah jam lamanya. Maka seorang malaikat yang lain datang dan berdiri pada sisi mezbah itu, sambil memegang sebuah perukupan emas; maka telah diberikan kepadanya banyak kemenyan, supaya ia mempersembahkan itu bersama-sama dengan doa-doa dari segala orang suci pada mezbah keemasan itu yang ada di hadapan tahta. Maka asap kemenyan yang keluar bersama-sama dengan doa-doa dari segala orang suci itu naiklah ke hadapan Allah dari tangan malaikat itu. Maka malaikat itupun mengambil perukupan emas itu, lalu diisinya akan dia dengan api dari mezbah itu, lalu mencampakkannya ke bumi :  maka terdengarlah suara-suara, dan bunyi guruh, dan kilat, dan suatu gempa bumi.”

Kami telah mengabaikan ayat yang kedua, karena ayat itu menunjuk kepada tujuh trompet. Sunyi senyap di dalam surga selama kira-kira setengah jam lamanya tidak mungkin merupakan kedatangan Kristus yang kedua kali, seperti yang disangka sebagian orang, sebab kemudian daripada itu malaikat yang membawa perukupan emas dan kemenyan telah mempersembahkan doa-doa bagi segala orang suci dari mezbah keemasan itu. Mezbah itu berada di tempat suci, tepat berhadapan dengan tahta yang terdapat di dalam tempat yang maha suci. Kedua ruangan itu dipisahkan oleh sebuah tirai. Dalam hari grafirat, tirai atau pintu dari tabernakel bumi itu dibuka dan imam besar memasukinya. Tetapi hendaklah diingat, bahwa pintu itu (tirai) telah dibiarkan terbuka selama imam besar bertugas. Demikianlah kedua ruangan itu telah menjadi satu. Karena alasan inilah jemaat tidak diperkenankan berada di dalam tempat suci pada hari itu, seperti halnya mereka pada hari-hari lainnya, sebab tirai itu sedang diangkat, sehingga tempat suci itupun telah  menjadi maha suci. Dengan demikian, selagi pintu yang menuju ke tempat yang maha suci itu terbuka, maka jalan masuk ke tempat suci akan ditutup. Oleh sebab itu, maka hanya imam besar saja yang menggunakan kedua ruangan itu pada hari grafirat. (Lihat Imamat 16 : 17). Demikianlah mezbah keemasan di depan tahta, dari mana malaikat itu mempersembahkan doa-doa dari segala orang suci, dahulu digunakan, dan akan digunakan dalam kedua masa periode –- sebelum, dan dalam masa pehukuman. Karena keseluruhan persidangan hukum itu (Hakim, Pembela, para Tua-Tua, dan sebagainya) berada di dalam kaabah sesudah meterai yang ketujuh dibuka, maka jelaslah bahwa sidang pehukuman sedang berlangsung, dan masa kasihan belum lagi berakhir pada saat “sunyi senyap” itu. Karena sesudah sidang pehukuman berakhir dan pintu kasihan ditutup, maka tidak seorangpun dapat memasuki kaabah itu. (Lihat Wahyu 15 : 8). 

Kalau saja “sunyi senyap” selama “setengah jam” itu telah menunjuk kepada kedatangan Kristus, pada waktu mana Ia akan membawa serta umat kesucian-Nya bersama-sama-Nya, maka tidak akan perlu lagi bagi malaikat itu untuk mempersembahkan doa-doa mereka. Selanjutnya, tidak akan perlu lagi untuk “mencampakkan” api, yaitu Roh Allah, dari mezbah keemasan ke bumi. Dan juga, jika pembukaan meterai yang ketujuh itu berarti kedatangan Kristus, maka hanya orang-orang yang berada di bawah enam meterai itu saja yang sudah akan dipertimbangkan di dalam sidang pehukuman itu, dan tidak mungkin lagi adanya meterai yang ketujuh, yang akan menunjukkan kurang lengkapnya dan sempurnanya pehukuman itu, dan kurang lengkapnya Injil. Itupun akan bertentangan dengan bilangan meterai-meterai pada buku itu. Sebagaimana enam meterai itu menunjuk kepada enam masa periode dalam mana orang-orang suci dimeteraikan, maka meterai yang ketujuh itu harus juga berlaku terhadap suatu masa pemeteraian; jika tidak, maka itu tidak mungkin dapat disebut “meterai” yang ketujuh. 

Sekarang marilah kita pikirkan kebenaran yang diajarkan oleh meterai yang terakhir ini. Perhatikanlah dengan seksama urut-urutan dari masing-masing peristiwa. Meterai itu dibuka, lalu sunyi senyap menyusul, karena ia itu tertulis : “dan setelah Ia membuka meterai yang ketujuh terjadilah sunyi senyap”. Alkitab Revised Version, Weymouth, bahasa Yunani, dan Alkitab-Alkitab bahasa Bulgaria terbaca juga sedemikian. Sunyi senyap itu disusul oleh seorang malaikat yang datang ke sisi mezbah itu dengan perukupan itu, setelah ia mempersembahkan doa-doa orang-orang suci. Dan kemudian

ia mengisi perukupan itu dengan api, lalu mencampakkan api itu ke bumi, lalu kembali lagi suara-suara itu, dan guntur-guntur, dan kilat-kilat, dan gempa bumi. Inilah urut-urutan yang tepat dari setiap peristiwa. 

Apakah yang membuat sunyi senyap itu? Sementara sidang pehukuman itu dibuka, Yohanes mengatakan : “Maka keluarlah dari tahta itu kilat-kilat, dan guntur-guntur dan suara-suara”; dan keempat binatang itu “tiada henti-hentinya baik siang baik malam, mengatakan, Suci, Suci, Suci, Tuhan Allah Yang Maha Kuasa.” (Wahyu 4 : 5, 8). Suara-suara itu terus menerus berbunyi baik siang baik malam sementara sidang pehukuman itu berlangsung. Tetapi pada sesuatu saat setelah meterai yang ketujuh dibuka suara-suara ini berhenti untuk kira-kira setengah jam lamanya. Sesudah malaikat itu mempersembahkan doa-doa orang-orang suci dan mencampakkan api ke bumi, maka suara-suara itu kembali lagi menggema. “Maka terdengarlah suara-suara, dan guntur-guntur, dan kilat-kilat, dan gempa bumi.” Ternyata sidang pehukuman itu, karena sesuatu alasan, telah berhenti, dan setengah jam kemudian ia itu dimulai lagi. Ia itu tidak mungkin sebaliknya, karena, jika sidang pehukuman itu sedang berlangsung, dan binatang-binatang dan para tua-tua itu tetap diam, maka itu menunjukkan bahwa ada sesuatu yang salah -- sesuatu terhadap mana mereka belum dapat mengatakan “amin” dan memuji Allah. Oleh sebab itu, satu-satunya kesimpulan ialah, bahwa karena sesuatu alasan pehukuman itu berhenti untuk setengah jam lamanya. 

Apakah yang telah menyebabkan berhenti dan telah menimbulkan perubahan itu? Marilah pertama-tama kita menentukan dahulu lamanya setengah jam dari nubuatan itu. Dalam waktu nubuatan sehari adalah berarti setahun. (Yehezkiel 4 : 6). Satu jam ialah satu perdua-puluh empat bagian dari satu tahun nubuatan, dan jika sebulan dianggap tiga puluh hari, maka ia itu akan meliputi kira-kira dua minggu. Setengah jam akan berarti setengah dari dua minggu; jadi, tujuh hari yang sebenarnya. Tujuh hari lamanya akan digunakan bagi penyucian. (Lihat Keluaran 29 : 35, 37; Imamat 12 : 2; 13 : 4, 5; 1, 9, 11, 12, 14, 15, 21, dan sebagainya). Dari semua petunjuk ini kita mengambil kesimpulan bahwa “setengah jam” atau tujuh hari itu tersedia bagi pembersihan sidang, yaitu menunjuk ke depan kepada kegenapan Maleakhi 3 : 1 – 6. Tetapi kita masih mempunyai bukti yang lebih pasti lagi, yang akan menghapus semua keragu-raguan. 

Dalam melaksanakan Paskah, Tuhan telah memerintahkan kepada Israel untuk merayakan kesempatan upacara itu tujuh hari lamanya. (Lihat Imamat 23 : 5 – 8). Tentu saja tidak seorangpun akan mengatakan bahwa Allah memerintahkan umat-Nya memperingati peristiwa itu tujuh hari lamanya tanpa sesuatu tujuan apapun. Israel badani yang masuk ke Mesir, kemudian keluar dari Mesir menuju ke Gunung Sinai, paskah di Mesir pada malam sewaktu malaikat maut membunuh anak-anak sulung manusia dan binatang pada saat keberangkatan Israel, adalah contoh-contoh dari sidang pada waktu sekarang ini -- sidang keluar dari Mesir -- keduniawian, pembersihan sidang, yaitu pemisahan lalang-lalang dari gandum -- kegenapan dari Yehezkiel pasal 9. (Penjelasan yang lengkap dari masalah ini diberikan di dalam “Tongkat Gembala”, Jilid I, halaman 64 – 113, bahasa Inggris; lihat juga bagan pada halaman 224, bahasa Inggris). Roh Nubuat menyaksikan hal ini dengan pernyataan sebagai berikut : “Paskah itu di samping merupakan peringatan

juga merupakan contoh, bukan saja menunjuk ke belakang kepada kelepasan dari Mesir, tetapi juga ke depan kepada kelepasan yang lebih besar yang Kristus akan selesaikan dalam memerdekakan umat-Nya dari perhambaan dosa.” -- “Patriarchs and Prophets”, p. 277. 

Dengan demikian sunyi senyap setengah jam lamanya itu menunjuk ke depan kepada peristiwa besar ini bagi sidang Allah. Kegenapannya akan menghantarkan kita kepada masa penuaian itu, atau yang disebut, Seruan Keras dari Pekabaran Malaikat yang Ketiga dari Wahyu pasal 18 -- pekabaran yang terakhir bagi dunia. Dengan demikian, sementara lima orang yang membawa senjata-senjata pembantaian itu menyingkirkan keluar orang-orang yang dilambangkan oleh lalang-lalang di dalam sidang, maka akan terjadi sunyi senyap di dalam surga setengah jam lamanya (tujuh hari), setelah mana sidang pehukuman itu akan dimulai kembali bagi orang-orang yang akan dimeteraikan dalam masa dari penuaian yang besar, yaitulah akhir dunia. Yesus mengatakan : “Biarkanlah keduanya bertumbuh bersama-sama sampai kepada masa penuaian; maka dalam masa penuaian itu Aku akan mengatakan kepada para penyabit, Kumpul-kanlah dahulu olehmu lalang-lalang itu, dan ikatkanlah sekaliannya ke dalam berkas-berkas untuk dibakar : tetapi himpunkanlah gandum itu ke dalam lumbung-Ku” --  sidang. (Matius 13 : 30). 

Mereka yang akan dimeteraikan pada masa itu telah disaksikan oleh Yohanes sebagai suatu rombongan besar orang-orang yang memiliki pelepah kurma di dalam tangan mereka. (Lihat Wahyu 7 : 9). Karena itu gulungan surat itu telah mulai terbuka, dan pemeteraian orang-orang yang akan diadili selagi masih hidup itu, telah mulai. Seperti yang kami kemukakan sebelumnya, malam paskah di Mesir itu adalah suatu contoh dari pembersihan sidang, yaitu pemisahan lalang-lalang dari gandum. Penyeberangan Laut Merah oleh orang-orang Israel menunjuk ke depan kepada kegenapan dari Yesaya pasal 63. (Lihat “Tongkat Gembala”, Jilid I, halaman 96 – 103, bahasa Inggris). 

Oleh sebab itu, maka nabi itu memberitakan kata-kata Tuhan : “Karena hari pembalasan itu ada di dalam hatiku, dan tahun dari umat tebusanku ada datang.” (Yesaya 63 : 4). Kami kutip ayat 1 – 3, juga ayat 17, 18 : “Siapakah ini yang datang dari Edom, yang datang dari Bozrah dengan baju-baju berwarna merah? Siapakah ini yang bersemarak dengan pakaian-Nya, yang berjalan dalam kebesaran kekuatan-Nya? Aku yang berbicara dalam kebenaran, berkuasa untuk menyelamatkan. Mengapakah pakaian-Mu merah begitu, dan baju-baju-Mu seperti baju pengirik buah anggur? Aku seorang diri yang telah melakukan pengirikan itu; dan dari antara umat itu tidak seorangpun yang menemani Aku; karena Aku hendak mengirik mereka dalam murka-Ku, dan menginjak-injak mereka dalam kehangatan amarah-Ku, maka darah mereka itu akan terpercik pada baju-baju-Ku, dan Aku akan menodai semua pakaian-Ku ..... Ya Tuhan, mengapakah engkau membiarkan kami sesat dari jalan-jalan-Mu, dan membiarkan kami mengeraskan hati terhadap takut akan Dikau? Kembalilah Tuhan demi hamba-hamba-Mu, demi semua suku milik pusaka-Mu. Umat kesucian-Mu telah mempusakainya, tetapi hanya sementara : para lawan kami telah menginjak-injak tempat kesucian-Mu.”

Nabi itu menyaksikan Kristus sendiri yang kembali dari pembantaian orang-orang Edom -- kelas orang-orang yang menyesatkan umat Allah di dalam sidang, yaitu lalang-lalang, atau para musuh yang telah menginjak-injak tempat

kesucian-Nya. “Bozrah” berarti “kandang” -- yaitu sidang. Ia melihat baju-baju-Nya ternodai dengan darah dari lalang-lalang itu, karena melepaskan umat-Nya dari tangan-tangan mereka. Nabi itu menanyakan : “Mengapakah pakaian-Mu merah begitu, dan baju-baju-Mu seperti baju pengirik anggur?” Pembersihan sidang itu memerlukan Kristus untuk meninggalkan tempat sidang pehukuman dan turun untuk melepaskan umat tebusan-Nya (mereka yang 144.000 itu), dan inilah yang menyebabkan sidang pehukuman itu berhenti, dan suara-suara menjadi diam untuk kira-kira setengah jam lamanya -- yaitu tujuh hari. Roh Nubuat menyaksikan juga perkara yang sama. “Tuhan Yesus akan bangkit berdiri dari tugas pembelaan-Nya di dalam tempat kesucian surga, dan akan memakaikan diri-Nya dengan pakaian-pakaian pembalasan, lalu mengejutkan mereka pada pestanya yang tidak suci; maka mereka akan menemukan dirinya tidak siap bagi perjamuan kawin dari Anak Domba.” -- “Testimonies for the Church”, Vol. 5, halaman 690. Petrus, yang memandang ke depan kepada pembersihan sidang Allah ini, dan permulaan pehukuman bagi orang-orang hidup itu, mengatakan : “Karena masa itu akan datang bahwa pehukuman harus dimulai pada isi rumah Allah : maka jika ia itu pertama sekali berlaku terhadap kita, apakah kelak akhir dari mereka yang tidak mematuhi Injil Allah?” (1 Petrus 4 : 17). 

Kalau saja sidang sebagai sebuah badan, atau paling tidak para pemimpin dari Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh telah menyambut pekabaran reformasi seperti yang disampaikan kepada mereka itu di dalam “Tongkat Gembala”, Jilid I, maka tidak lagi perlu bagi kelas orang-orang itu untuk dibinasakan oleh lambang kelima orang yang membawa senjata-senjata pembantai itu. Adalah penyambutan atau penolakan pekabaran itulah yang akan menentukan nasib dari kedua kelas orang-orang itu seperti yang digambarkan di dalam kesaksian berikut ini : “Saya menanyakan arti dari keguncangan yang telah  saya saksikan itu, maka telah ditunjukkan kepada saya bahwa ia itu disebabkan oleh kesaksian yang tegas yang disampaikan oleh nasehat dari saksi yang setia kepada orang-orang Laodikea. Ini akan membawa pengaruh pada hati penerimanya, dan akan memimpinnya untuk meninggikan standard dan mengucapkan kebenaran yang tegas itu. Sebagian orang tidak mau menerima kesaksian yang tegas ini. Mereka akan bangkit berdiri menentangnya, dan inilah yang akan menyebabkan suatu keguncangan di antara umat Allah.” -- “Early Writings”, halaman 270. 

Di dalam tempat kesucian bumi, imam besar memasuki tempat yang maha suci sekali setahun, dan pada hari yang tertentu itu setiap orang Israel harus mengakui dosanya. Barangsiapa yang lalai mematuhi persyaratan-persyaratan Ilahi itu telah disingkirkan dari umat-Nya. (Lihat Imamat 23 : 29, 30). Dengan demikian hari grafirat contoh saingan, sidang pehukuman, atau penyucian tempat kesucian itu, seperti yang dikemukakan di dalam Daniel 8 : 14, ialah suatu hari pembersihan bagi perhimpunan Israel, sidang -- pembuangan dosa dan orang-orang berdosa. Tempat kesucian bumi telah merupakan sebuah gambaran dari tempat kesucian surga. (Lihat Ibrani 9 : 23, 24). Ia itu telah diadakan berikut dengan upacara bayangannya untuk menunjuk ke depan kepada tugas Kristus, Imam Besar kita di dalam tempat kesucian surga selama masa periode contoh

saingan -- sejarah Wasiat Baru. Sebagaimana tempat kesucian itu berikut semua pelayanannya, telah merupakan sebuah bayangan atau contoh dari tempat kesucian yang sesungguhnya, yaitu tempat kesucian surga, di bawah pelayanan Kristus, demikian jugalah hari grafirat contoh saingan itu harus menunjukkan kebenaran di dalam masa periode contoh saingan -- yaitu sejarah kita.

Sementara sidang pehukuman bagi orang-orang hidup masih berlangsung, maka setiap dosa harus diakui dan dibuang. Barang-siapa yang melalaikan kesempatan yang besar ini, akan menemukan dirinya sendiri terlibat dalam kebinasaan yang kekal -- disingkirkan dari antara umat-Nya. Melalaikan pokok masalah yang sangat penting ini tidak akan menguntungkan sedikitpun bagi kita. 

GAMBARAN REFORMASI 

Gambaran reformasi yang besar ini, yang dengan jelas dilambangkan oleh malaikat yang berdiri di sisi mezbah keemasan itu dengan doa-doa dari orang-orang suci, dan pencampakan api dari mezbah ke bumi, adalah diramalkan, juga, di dalam kesaksian berikut ini : “Dalam khayal-khayal pada malam hari gambaran-gambaran telah lewat di depan saya mengenai suatu pergerakan reformasi yang besar di antara umat Allah. Banyak orang sedang memuji-muji Allah. Orang sakit disembuhkan, dan berbagai tanda ajaib lainnya dibuat. Suatu roh pembelaan telah terlihat; bahkan seperti yang telah diperlihatkan sebelum hari Pentakosta yang besar dahulu. Beratus-ratus dan beribu-ribu telah terlihat mengunjungi keluarga-keluarga, dan membukakan ke hadapan mereka firman Allah. Banyak hati yang telah digerakkan oleh kuasa Roh Suci, dan suatu roh pertobatan yang sejati telah diperlihatkan. Pada setiap sisi jalan pintu-pintu telah  dibuka lebar-lebar untuk menyambut pemberitaan kebenaran. Dunia tampaknya diterangi dengan pengaruh surga. Berkat-berkat besar telah disambut oleh umat Allah yang benar dan sederhana.” -- “Testimonies for the Church”, Vol. 9, halaman 126.

Saudara-saudaraku, Tuhan sedang berbicara kepada kita. Tidakkah kita mau mendengarkan suara-Nya? Tidakkah kita mau mempersiapkan pelita-pelita kita lalu bertindak seperti orang-orang yang menunggui Tuhannya yang akan datang? “Waktunya telah datang yang menyerukan bagi pembawaan terang, dan untuk bertindak.” Saya mohon kepadamu, bangkitlah, dari tidur kematian. Janganlah membiarkan hari yang terakhir itu mendapatkan kamu dalam keadaan melarat akan kekayaan surga itu.

Apakah semua orang hidup diadili dan dimeteraikan di bawah meterai yang ketujuh? Ataukah sebagian orang telah dipertimbangkan sebelum pembukaan meterai itu? Untuk menjawab pertanyaan ini kami mengutip Wahyu 8 : 3, “Dan malaikat lain datang dan berdiri pada sisi mezbah itu, sambil memegang sebuah perukupan emas; dan telah dikaruniakan kepadanya banyak kemenyan, supaya ia mempersembahkan itu bersama-sama dengan doa-doa segala orang suci ke atas mezbah keemasan yang berada di depan tahta.” Perhatikan, doa dipersembahkan bagi semua orang suci. Tidak seorangpun, yang mengerti kebenaran Allah akan berani berdoa bagi orang mati, karena itu adalah kekejian dalam pemandangan Allah; bahkan malaikat pun tidak akan mau melibatkan dirinya dalam dosa yang sedemikian ini.

Pemazmur menyatakan bahwa doa-doa bagi orang mati adalah ciptaan orang-orang kapir, “Mereka juga menggabungkan dirinya kepada Baal Peor,

dan memakan korban-korban sembelihan bagi orang mati. Demikianlah mereka membangkitkan murka Tuhan dengan segala perbuatannya : sehingga celaka pecah atas mereka itu.” (Mazmur 106 : 28, 29). “Orang mati tiada akan memuji-muji Tuhan, juga tidak seorangpun yang turun ke dalam tempat yang sunyi.” (Mazmur 115 : 17). Jika orang mati tidak memuji-muji Allah, maka bagaimanakah dapat seorang malaikat mempersembahkan suatu doa bagi mereka ke hadapan Allah?

Kata-kata, “semua orang suci”, menunjuk kepada semua orang hidup yang akan diadili. Terbukti bahwa ini dilaksanakan di bawah meterai yang ketujuh. Jika “semua”, maka pastilah bahwa semua orang suci yang hidup akan dihitung di bawah meterai yang ketujuh. Dengan demikian, dengan dibukanya meterai yang ketujuh, mulailah sidang pehukuman itu bagi semua orang suci yang hidup. Janganlah membiarkan apapun mengacaukan Saudara dalam hal ini. Jika kita mengatakan doa-doa semua orang suci itu ada sesuatu hubungannya dengan orang mati, maka sekaliannya itu sudah harus dipersembahkan pada permulaan sidang pehukuman -- yaitu pembukaan meterai yang pertama, karena sesudah sidang pehukuman doa-doa itu tidak dapat bermanfaat bagi mereka.

Perhatikanlah kata-kata pada pembukaan pehukuman bagi orang-orang mati dalam tahun 1844 : “Dan setelah Ia mengambil kitab itu, maka keempat binatang itu dan dua puluh empat tua-tua tunduk bersujud di hadapan Anak Domba itu, masing-masingnya memegang kecapi dan cawan emas yang penuh dengan bau-bauan, yaitu doa-doa orang-orang suci.” (Wahyu 5 : 8). Tandailah bahwa tidak seorang malaikat pun mempersembahkan doa, tetapi doa-doa orang-orang suci itu disampaikan oleh binatang-binatang dan para tua-tua itu oleh perantaraan pujian dengan kecapi dan cawan emas yang penuh dengan bau-bauan itu; artinya, tidak ada suatu doa pun yang dipersembahkan bagi orang mati, tetapi doa-doa mereka yang sudah mereka ucapkan, yang telah dicatat selagi mereka masih hidup, itulah yang dipersembahkan ke hadapan tahta. Mereka yang  144.000 itu dimeteraikan sebelum sunyi-senyap “setengah jam”, atau pada pembukaan meterai itu, tetapi mereka diadili dalam masa periode dari meterai yang ketujuh, karena doa itu adalah bagi “semua” orang suci -- orang-orang hidup.

Adakah sesuatu cara dengan mana kita dapat menentukan saat dari pembukaan meterai itu, dan permulaan pehukuman bagi orang-orang hidup? Jika Allah begitu setia mengungkapkan kepada semua orang hidup permulaan pehukuman bagi orang-orang mati, maka tidak akan mungkin bahwa Ia akan tetap merahasiakan masa pehukuman bagi orang-orang hidup itu. Jika Ia tetap merahasiakannya, maka kita tidak akan memiliki kebenaran sekarang apapun dalam masa meterai yang terakhir; juga tidak akan ada keadilan dalam pengrahasiaan yang sedemikian ini, dan juga pehukuman  yang sedemikian tidak mungkin sah secara hukum. Oleh sebab itu, sebuah ungkapan tentang pehukuman bagi orang-orang hidup, adalah sangat penting sama seperti ungkapan Injil itu sendiri. Karena pehukuman itu (penghapusan dosa-dosa) ialah tindakan yang termulia di dalam Injil Kristus. Dengan demikian kita menyimpulkan bahwa apabila meterai itu dibuka, dan pehukuman bagi orang-orang hidup dimulai, maka kita harus mengetahuinya. Hari grafirat itu dalam contohnya membuktikan sama, karena orang-orang Israel telah diberitahu dengan sebaik-baiknya akan peristiwa itu, mengenai kewajiban-kewajiban mereka, dan akibat-akibatnya. 

Tanggal dari peristiwa termulia bagi orang-orang benar, tetapi sangat luar biasa bagi orang-orang jahat itu, akan diumumkan pada

kegenapan dari ayat yang berikut ini : “Maka malaikat itu mengambil pedupaan, lalu mengisinya dengan api dari mezbah itu, lalu mencampakkannya ke bumi; maka terdengarlah suara-suara, dan guntur-guntur, dan kilat-kilat dan gempa bumi.” (Wahyu 8 : 5). Pencampakan api dari mezbah itu ke bumi ialah penuangan Roh Allah. Kami telah menegaskan sebelumnya, bahwa buku Wahyu ialah suatu ungkapan dari nubuatan-nubuatan, dan bukan sebuah nubuatan sendiri. Oleh sebab itu, maka kita akan menemukan ramalan dari peristiwa yang mulia ini di dalam Yoel 2 : 28, 29. “Suara-suara, dan guntur-guntur, dan kilat-kilat itu”, menunjukkan pembukaan pehukuman bagi orang-orang hidup, seperti juga yang ditunjukkan olehnya terhadap pembukaan pehukuman bagi orang-orang mati (Lihat Wahyu 4 : 5). Gempa bumi akan merupakan pertanda dari peristiwa itu. 

RINGKASAN DARI PERMULAAN DAN BERAKHIRNYA METERAI-METERAI 

Meterai yang pertama meliputi seluruh masa periode semenjak dari Adam sampai kepada air bah; meterai kedua, semenjak dari air bah sampai kepada Abraham; meterai ketiga, semenjak dari Abraham sampai kepada Kristus; meterai keempat, semenjak dari Kristus sampai tahun 1500 TM; meterai kelima, semenjak dari tahun 1500 sampai tahun 1755; meterai keenam, semenjak dari tahun 1755 sampai kepada kegenapan nubuatan Yehezkiel pasal 9; meterai ketujuh, sampai kepada berakhirnya masa kasihan. 

Tetapi, meterai-meterai itu, dalam arti kata, sekaliannya itu tidak tertutup. Mereka terus terbuka dan saling meliputi satu dengan lainnya. Sebagai contoh, penduduk bumi masih terus berkembang (Adam -- “menang dan akan memenangkan lagi”); peperangan di antara bangsa-bangsa adalah terus meningkat, dan perdamaian telah lenyap dari bumi. Jadi, “pedang” itu masih tetap berada di dalam tangan pengendara kudanya. Perdagangan adalah terus bertumbuh (“neraca-neraca timbangan”), dan aniaya belum berhenti, melainkan akan hidup kembali, dan akan menimbulkan suatu masa kesusahan yang sedemikian ini belum pernah ada, seperti yang dilukiskan oleh Daniel nabi itu. (Daniel 12 : 1). Tanda-tanda zaman di bawah penutupan meterai yang keenam sedang berbicara dengan makin keras lagi. Tetapi segera setelah berakhirnya meterai yang ketujuh, maka setiap perkara di bumi akan berhenti selama seribu tahun. 

* * *

GANDUM DAN JELAI MASING-MASING SEDINAR HARGANYA

Dalam pelajaran kita mengenai “Tujuh Meterai” kita telah mencadangkan bagi penjelasan yang akan datang kata-kata firman berikut ini : “Dan aku dengar suatu suara di tengah-tengah empat binatang itu mengatakan, Secupak gandum sedinar harganya, dan tiga cupak jelai sedinar harganya.” (Wahyu 6 : 6). Kembali lagi kami mengarahkan perhatian pembaca kepada kenyataan bahwa bunyi suara itu telah keluar dari tahta. (Lihat pasal 5, ayat 11). Oleh karena itu, maka harga dari biji-bijian itu adalah ditentukan oleh Hakim Agung itu sendiri.

Harus ada sesuatu yang sangat penting dalam simbol-simbol ini, karena Yehovah Yang Agung Sendiri yang sedang berbicara. Apakah maksudnya? Terjemahan Weymouth terbaca sebagai berikut : “Suatu upah harian penuh untuk sepotong roti gandum, suatu upah harian penuh untuk tiga potong roti jelai.” Weymouth menterjemahkan uang dinar itu sebagai suatu upah sehari kerja. Kami yakin kata-kata Kristus akan membenarkan hal ini : “Karena kerajaan surga itu adalah bagaikan seorang tuan rumah, yang keluar pada pagi-pagi sekali hendak mengupah orang untuk bekerja di dalam kebun anggurnya. Dan setelah ia bersepakat dengan orang-orang upahan itu untuk sedinar sehari, maka disuruhnya mereka itu masuk ke kebun anggurnya.” (Matius 20 : 1, 2). Sedinar itu ialah upah harian yang tetap dari tuan rumah pemilik kebun anggur itu.

Perhatikanlah bahwa jelai itu hanyalah sepertiga dari harga gandum; dengan kata lain, seseorang masuk ke kebun dan mengumpulkan hanya secupak gandum lalu menerima upah sehari penuh, tetapi orang lain yang bekerja sepanjang hari mengumpulkan tiga cupak jelai, maka diterimanya tidak lebih daripada upah sehari – “sedinar”. Simbol-simbol itu berkaitan erat dengan perumpamaan ini yang diberikan oleh Kristus. Oleh sebab itu, hendaklah pembaca memusatkan perhatian pada masalah ini, karena di sinilah terdapat suatu kebenaran yang patut mendapatkan perhatian kita yang sungguh-sungguh.

“Dan keluarlah ia kira-kira jam tiga (jam sembilan pagi), maka dilihatnya orang-orang lain sedang berdiri menganggur di pasar, lalu katanya kepada mereka itu; Pergilah kamu juga ke kebun anggur itu, maka apapun yang pantas akan ku berikan kepadamu. Lalu orang-orang itupun pergilah. Dan kembali lagi ia keluar pada kira-kira jam enam dan jam sembilan (jam dua belas dan jam tiga petang), dan diperbuatnya demikian pula. Dan kira-kira jam sebelas (jam lima petang) ia kemudian keluar lagi, dan di dapatinya orang-orang lain berdiri menganggur, lalu katanya kepada mereka itu; Mengapakah kamu berdiri di sini sepanjang hari menganggur saja? Kata mereka kepadanya, Karena tak ada orang yang mengupah kami. Maka katanya kepada mereka itu, Pergilah juga kamu ke dalam kebun anggur itu; maka apapun yang pantas, itu akan kamu peroleh.” (Matius 20 : 3 – 7).

“Tuan rumah” itu dalam perumpamaan ini dimaksudkan kepada Allah Bapa, karena perumpamaan ini akan mengungkapkan kerajaan surga.

[halaman kosong]

__ GAMBAR __

Oleh karena itu, maka kebun anggur ialah dunia ini dan orang-orang yang dikirim untuk bekerja di dalamnya adalah sidang. Perumpamaan ini tidak mungkin menunjuk kepada satu hari yang sebenarnya yang terdiri dari dua belas jam, dimana Allah telah mengeluarkan lima panggilan kepada para pekerja untuk bekerja di dalam kebun anggur (dunia); sebab tidak ada catatan apapun dimana Allah telah membangun lima organisasi gereja dalam satu hari, dan menyuruh mereka itu sekaliannya bekerja pada waktu yang sama. Oleh sebab itu, maka panggilan-panggilan itu di dalam perumpamaan ini harus meliputi suatu masa periode dari sejarah dunia dalam kaitannya dengan sidang, dan masa periode itulah yang Yesus secara kiasan memperbandingkannya kepada satu hari dua belas jam ke dalam mana Ia telah mengupah pekerja-pekerja pada lima kesempatan yang berlainan. Jika kita dapat mengetahui waktu yang dimaksudkan oleh masing-masing panggilan ini, maka kita akan memahami sepenuhnya pelajaran ini dan waktu dimana kita hidup sekarang. Kami akan berusaha membuktikan bahwa perumpamaan itu menunjuk kepada “gandum dan jelai”, masing-masing “sedinar” harganya. 

Perhatikanlah bahwa tuan rumah itu hanya melakukan tawar menawar dengan orang-orang upahan yang pertama. Juga, supaya diperhatikan bahwa mereka itu pergi bekerja di pagi hari. Ia telah  mengupah pekerja-pekerja itu dalam lima giliran waktu. Empat dari antaranya adalah berjarak masing-masing tiga jam; tetapi panggilan yang kelima dan terakhir itu hanyalah dua jam kemudian daripada panggilan yang keempat yaitu pada jam kesebelas -- hanya satu jam menjelang matahari masuk.

PENUNJUK WAKTU ZAMAN DAHULU

Takut kalau-kalau sebagian orang mungkin tidak mengerti akan penunjuk waktu zaman dahulu itu, maka kami rasa bahwa suatu penjelasan singkat mungkin diperlukan. Untuk membuatnya lebih jelas dipahami kami mengundang perhatian pembaca kepada gambar bagan, yang terdapat pada halaman 22, bahasa Inggris. Di zaman Kristus, dan juga sekarang di beberapa negara, waktu diatur oleh matahari masuk pada jam dua belas. Dekat dengan khatulistiwa dimana siang dan malam senantiasa sama panjang, matahari masuk pada jam dua belas dan terbit juga pada jam dua belas. Oleh sebab itu, maka jam enam akan jadi pada tengah hari di bagian yang terang, sesuai dengan gambar bagan itu, dan jam enam pada bagian yang gelap, akan jadi pada tengah malam. Inilah jenis waktu yang Yesus gunakan dalam perumpamaan itu. 

Oleh sebab itu, maka panggilan pertama kepada orang-orang dengan siapa tuan rumah pemilik kebun anggur itu telah sepakat untuk upah sedinar sehari, ialah pada jam dua belas pagi -- matahari terbit. Panggilan kedua, yaitu pada “jam tiga”, adalah tiga jam sesudah matahari terbit. Panggilan ketiga, pada “jam enam”, ialah pada tengah hari. Panggilan keempat, pada “jam sembilan”, adalah tiga jam sesudah tengah hari, atau jam tiga menurut waktu masa kini. Panggilan kelima, dua jam kemudian, pada “jam sebelas”, ialah jam lima menurut waktu masa kini, dan hanya sejam sebelum matahari masuk.

Dengan penjelasan terdahulu mengenai Wahyu 6 : 6, (“secupak gandum sedinar harganya dan tiga cupak jelai sedinar

harganya”), kami akan berusaha membuktikan bahwa simbol-simbol itu menunjuk ke belakang kepada perumpamaan tentang tuan rumah pemilik kebun anggur itu, dan Yesus secara kiasan memandang ke depan kepada khayalnya Yohanes. Jika penjelasan ini benar-benar cocok dengan perumpamaan dan khayal itu, sejalan dengan buku dan hukum Allah, dan suatu pelajaran kebenaran sekarang dapat diambil dari padanya, maka patutlah kita menyambutnya sebagai kebenaran. 

PANGGILAN DI PAGI HARI 

Matius 20 : 1, 2, “Karena kerajaan surga itu adalah bagaikan seorang tuan rumah, yang keluar pada pagi-pagi sekali hendak mengupah orang untuk bekerja di dalam kebun anggurnya. Dan setelah ia bersepakat dengan orang-orang upahan itu untuk sedinar sehari, maka disuruhnya mereka itu masuk ke kebun anggurnya.” Yesus tidak mungkin menunjuk kepada sesuatu bangsa manapun yang lain daripada Israel badani, karena mereka itulah orang-orang dengan siapa Allah telah melakukan tawar-menawar dan telah menugaskan mereka ke dalam kebun anggur-Nya -- dunia. Tugas mereka terdiri dari mewakili Khalik atau tuan rumah, dan memberikan kepada kita Alkitab itu. Pemazmur membuat catatan tentang kesepakatan itu : ”Maka pada selama-lamanya Ia ingat akan perjanjian-Nya, yaitu firman yang diperintahkan-Nya kepada seribu keturunan. Perjanjian mana telah dibuat-Nya dengan Abraham, dan sumpah setia-Nya kepada Ishak; dan yang telah diteguhkan-Nya itu bagi Yakub menjadi suatu hukum, dan kepada Israel sebagai suatu perjanjian yang kekal.” (Mazmur 105 : 8 – 10). 

Perjanjian itu telah dibuat dengan Abraham, yang mana hanya sebuah janji kepadanya dan kepada benihnya, tetapi Abraham tidak menerima janji itu. “Sumpah setia-Nya kepada Ishak”; artinya mengatakan, Allah dengan sungguh-sungguh menyatakan bahwa Ia akan melaksanakan persetujuan-Nya. Tetapi seperti halnya bapaknya, Ishak pun, “tidak menerima perjanjian itu”. Ia “mengukuhkan” perjanjian itu kepada “Yakub”; artinya, Ia membukukan, menyelesaikan, atau meneguhkannya. Perjanjian yang dibuat dengan Abraham itu telah direalisasikan oleh Yakub sebagai suatu hukum. Tetapi “bagi Israel, menjadi suatu janji yang kekal”. Karena itulah Israel yang menerima janji itu. Oleh sebab itu, maka Israellah yang pergi bekerja di kebun anggur setelah mereka meninggalkan Mesir. “Sesuai dengan perkataan yang sudah Aku berjanji dengan kamu tatkala kamu keluar dari Mesir, maka demikianlah roh-Ku akan tetap tinggal di antara kamu : janganlah takut.” (Hagai 2 : 5 -- KJV). Yesaya berbicara tentang kebun anggur yang mana itu sendiri adalah lambang dari dunia. (Yesaya pasal 5). Oleh sebab itu, maka panggilan tuan rumah itu pada pagi-pagi sekali untuk mengupah orang bekerja di dalam kebun anggur-Nya, berlaku terhadap panggilan kepada Israel keluar dari Mesir. Mengapa ia itu dipanggil “pada pagi-pagi sekali?” Pada zaman itu Musa sedang menulis Alkitab, yaitu terang bagi dunia. Oleh karena itu, maka “pagi-pagi” sekali, karena Injil itu baru saja mulai ditulis. Dengan demikian, masa periode semenjak dari Alkitab datang adalah disebut siang hari, sesuai dengan perumpamaan itu. Yang menunjukkan bahwa firman Allah yang tertulis ialah terang dunia

PANGGILAN KEDUA PADA JAM TIGA

“Dan setelah ia bersepakat dengan orang-orang upahan itu untuk sedinar sehari, maka disuruhnya mereka itu masuk ke kebun anggurnya.” (Ayat 2). Upah yang disepakati oleh kedua belah pihak itu, ialah janji Allah kepada Israel. “Dan keluarlah ia kira-kira jam tiga, maka dilihatnya orang-orang lain sedang berdiri menganggur di pasar, Lalu katanya kepada mereka itu : Pergilah kamu juga ke dalam kebun anggur itu, maka apapun yang pantas akan ku berikan kepadamu. Lalu orang-orang itupun pergilah.” (Ayat 3, 4). Setelah mengukuhkan panggilan yang pertama maka tidak akan sukar lagi untuk menentukan panggilan yang kedua. Perhatikanlah bahwa panggilan-panggilan ini bukan terhadap rombongan orang-orang yang sama, melainkan terhadap “orang-orang lain”, yaitu mereka yang menganggur. Kalau bukan Israel, maka itu hanya para Rasul-Rasul dan Orang-Orang yang bukan Yahudi pada permulaan sejarah Kristen, sebagaimana yang tercatat di dalam Kisah Para Rasul 13 : 46 : “Maka Paulus dan Barnabas menjadi makin berani, lalu mengatakan, Adalah perlu firman itu diberitakan terlebih dulu kepada kamu : tetapi karena kamu menolaknya, dan menilai dirimu sendiri tiada berlayak bagi hidup yang kekal, maka, berpalinglah kami kepada orang-orang yang bukan Yahudi.”

Perhatikanlah bahwa tidak ada tawar menawar dengan rombongan yang kedua. Mereka itu langsung pergi, karena percaya pada kata-kata “Orang Baik itu” bahwa apa saja yang pantas ia itu akan mereka terima. Panggilan kepada orang-orang yang bukan Yahudi itu bukan didasarkan pada sesuatu kesepakatan khusus. Mereka menyambut, dengan percaya pada janji Allah yang murah hati itu kepada Israel, seperti yang tercatat di dalam Alkitab. Oleh sebab itu, maka panggilan kepada para Rasul-Rasul, dan orang-orang yang bukan Yahudi itu, telah dilambangkan dengan “panggilan jam tiga”.

PANGGILAN JAM ENAM DAN JAM SEMBILAN

“Dan kembali ia keluar kira-kira jam enam dan jam sembilan, lalu diperbuatnya demikian pula.” (Matius 20 : 5). Masing-masing panggilan itu adalah secara bergiliran, sampai meliputi seluruh hari, maka jelaslah bahwa mereka itu harus datang yang satu menyusul yang lainnya pada masa-masa periode yang berbeda. Pada setiap kesempatan harus terdapat suatu panggilan -- pekabaran. Jika demikian, maka ia itu tidak mungkin hanya berupa suatu panggilan reformasi -- patuh kepada suatu pekabaran yang terdahulu. Oleh sebab itu, maka reformasi oleh Luther tidak mungkin dapat dimasukkan di sini, karena ia itu hanya suatu pembangunan kembali kepada pekabaran yang sudah ada sebelum masa hidupnya. Luther mengatakan, ”Orang benar akan hidup oleh iman”.  Knox, Wesley, dan Campbell tidak mungkin masuk dalam perumpamaan ini, karena mereka pun hanya memiliki suatu panggilan bagi reformasi (patuh) kepada pekabaran (ajaran-ajaran) yang telah disampaikan kepada orang-orang yang bukan Yahudi -- Gereja Kristen yang mula-mula. Ajaran tentang Roh Suci oleh Knox, Kasih Karunia oleh Wesley, Baptisan secara diselamkan oleh Campbell telah diajarkan sebelumnya oleh para rasul. Kami akan memberikan bukti selanjutnya dari segi lain untuk menunjukkan bahwa para reformator yang disebutkan di atas tidak termasuk dalam perumpamaan ini.

Karena Israel dan orang-orang yang bukan Yahudi dalam panggilan yang pertama dan kedua adalah terdiri dari sidang Allah di dalam kebun anggur, maka panggilan-panggilan yang ketiga, keempat, dan kelima harus melambangkan juga sidang di dalam kebun anggur. Kami

mengarahkan perhatian pembaca kepada “perempuan” yang bermahkota dengan dua belas bintang dari Wahyu 12 : 1, 6, 14. Ia yang merupakan simbol dari sidang itu, telah dikaruniakan sayap-sayap dari burung garuda untuk terbang ke dalam padang belantara selama 1260 hari — tahun. Oleh sebab itu, selagi ia masih berada di padang belantara tidak mungkin ada sidang di dalam kebun anggur. Periode nubuatan yang panjang itu sudah pasti dan telah diterima merupakan masa periode semenjak dari tahun 538 TM sampai tahun 1798 TM. Oleh sebab itu, selama perjalanan “perempuan” itu di padang belantara, tidak mungkin ada panggilan apapun juga kepada orang-orang upahan untuk bekerja di dalam “kebun anggur”. Dengan demikian, maka tiga panggilan yang terakhir di dalam perumpamaan itu harus menemui kegenapannya sesudah tahun 1798, pada waktu mana “perempuan” itu akan kembali dari “padang belantara”. Dengan sendirinya pertanyaan berikut ini akan timbul : Jika sidang (“perempuan”) itu berada di padang belantara di antara tahun 538 dan tahun 1798, dalam periode mana para reformator tersebut di atas telah melakukan pekerjaan mereka yang sangat hebat menghasilkan reformasi oleh mematuhi Injil, bukankah mereka itu telah dipanggil keluar dan diutus oleh Allah? Jawabnya -- Memang mereka. Tidak mungkin diragukan lagi hal ini. Pekerjaan, sifat, dan pengorbanan mereka itu menjawab pertanyaan ini. Bayangkan saja Luther, bapa pendiri Protestantisme itu, ia telah mempertaruhkan hidupnya sama seperti kehidupan hamba-hamba Allah yang besar di masa lalu. Oleh tangan Luther, Allah, telah memecahkan semua pintu kegelapan, mengakhiri aniaya yang mengerikan itu dan pertumpahan darah orang-orang suci dari Dia Yang Maha Tinggi, dan menyebabkan terang di dalam firman tertulis-Nya itu bercahaya ke dalam hati orang banyak. Kalau bukan karena usaha yang bersungguh-sungguh dan penuh semangat dari para reformator yang saleh ini, maka perempuan itu (sidang) sudah akan tetap berada di padang belantara sampai kepada hari ini, dan tidak mungkin ada Protestantisme. Demikianlah, jasa mereka yang tidak mementingkan diri itu telah menghancurkan kuasa kelaliman sehingga dengan dipenjarakannya Paus berakhirlah periode nubuatan yang panjang itu. Oleh karena itu, oleh jasa orang-orang ini, Allah menghantarkan kembali “perempuan” (sidang) itu dari padang belantara lalu mempersiapkan jalan bagi panggilan yang ketiga, pada jam enam.

Panggilan-panggilan pada jam enam, jam sembilan, dan jam sebelas, harus sama dengan panggilan-panggilan yang terdahulu – dibuat oleh suatu pekabaran khusus, yang dikhotbahkan untuk pertama kalinya -- yang sudah akan membuatnya perlu pada setiap kesempatan bagi rombongan yang lain -- “orang-orang upahan”. Keadaan dari pekabaran-pekabaran inipun sudah harus meluas di seluruh dunia, sebab mereka itu dikirim ke dalam kebun “anggur-Nya” -- dunia. Oleh sebab itu, panggilan yang ketiga, yang dilambangkan oleh jam enam itu, sudah harus datang pada sesuatu waktu sesudah tahun 1798, pada waktu mana “perempuan” itu harus kembali. Justru suatu pekabaran yang sedemikian ini telah disampaikan kepada dunia setelah tahun 1798 dan mendahului tahun 1844 dalam khotbah-khotbah yang disampaikan oleh William Miller mengenai nubuatan 2300 hari dari Daniel 8 : 14. Oleh sebab itu, maka pekabaran oleh Miller itu telah dilambangkan oleh rombongan orang-orang upahan pada “jam enam”. 

“Dan kembali ia keluar kira-kira jam enam dan jam sembilan, maka diperbuatnya

demikian pula.” (Ayat 5). Perhatikanlah bahwa kata-kata ini menggabungkan secara erat panggilan-panggilan “jam enam dan jam sembilan” itu, sementara panggilan-panggilan yang lainnya adalah terpisah sendiri-sendiri. Menunjukkan bahwa kedua pekabaran ini yang dilambangkan oleh “jam enam dan jam sembilan”, akan erat tergabung satu dengan yang lainnya. Oleh sebab itu, panggilan jam sembilan harus datang sesudah tugas Miller berakhir. Itu adalah kebenaran tentang Tempat Kesucian, dan pemeriksaan hukum yang dikhotbahkan semenjak tahun 1844, yang tergabung dalam pekabaran-pekabaran malaikat pertama, kedua dan ketiga dari Wahyu 14 : 6 – 11. Oleh sebab itu, maka Pekabaran-Pekabaran Tiga Malaikat itulah yang membentuk panggilan itu dalam tahun 1844. 

PANGGILAN JAM KESEBELAS 

Panggilan jam kesebelas ialah yang terakhir pada catatan dan hanya sejam sebelum masuk matahari -- millenium. Masa bagi pelepasannya kepada dunia adalah lebih pendek daripada sesuatu pekabaran universal manapun yang pernah diberikan. Walaupun masanya itu adalah yang terpendek namun luas daerah jangkauannya di permukaan bumi adalah jauh lebih besar daripada setiap pekabaran lainnya. Kecepatan penyampaiannya adalah yang terpenting, karena olehnya juga dunia kelak akan diadili.

Hamba-hamba Allah kelak tidak mempunyai waktu atau kerinduan terhadap semua kepentingan dunia ini, karena ada sebuah kota yang tersedia bagi mereka yang pendiri dan pembuatnya adalah Allah sendiri. Karena kita kini memiliki cukup waktu untuk bersiap-siap bagi pengubahan, maka janganlah kita membiarkan musuh mencuri kesempatan-kesempatan kita yang berharga. Sebab tugas yang akan dikerjakan adalah demikian luasnya, dan kepentingannya adalah sedemikian besar, maka Allah telah mengilhami ilmu pengetahuan modern untuk menciptakan dan membangun peralatan yang cepat untuk segera menyelesaikan pekerjaan-Nya. “Tetapi akan dikau hai Daniel, tutuplah segala perkataan itu, dan meteraikanlah kitab itu, sampai kepada akhir zaman : banyak orang akan berlarian kesana kemari, dan pengetahuan akan dipertambahkan. Banyak orang akan disucikan, dan diputihkan, dan dicobai, tetapi orang-orang jahat akan makin melakukan kejahatan; dan tak seorangpun dari orang-orang jahat itu akan mengerti; tetapi orang-orang bijaksana akan mengerti.” (Daniel 12 : 4, 10).

Kenyataan dalam perumpamaan Kristus itu dengan jelas mengungkapkan suatu panggilan yang lain lagi bagi orang-orang upahan ke kebun anggur di antara panggilan dalam tahun 1844 itu, dan masa seribu tahun millenium; yaitu, pada jam kesebelas. Karena ini benar, mengapakah pergerakan yang dipanggil keluar pada jam sembilan (dalam tahun 1844) itu tidak mengamarkan kepada sidang bahwa masih banyak lagi kebenaran akan menyusul berikut sebuah pekabaran yang lain, “panggilan”, akan datang? Apakah Allah lalai memberikan amaran sehingga membiarkan umat-Nya dalam kegelapan? Kami menjawab pertanyaan ini dengan mengutip tulisan kesaksian-kesaksian berikut ini : “Melihat kepada hari yang besar itu, maka Firman Allah dalam bahasa yang sangat serius dan hikmat memanggil umat-Nya untuk bangun dari tidur rohani mereka itu, dan mencarikan wajah-Nya dengan pertobatan dan kerendahan hati : ‘Bunyikanlah olehmu nafiri di Sion, dan serukanlah suatu tanda bahaya di dalam gunung kesucian-Ku’!” -- “The Great Controversy”, halaman 311.

“Kemudian aku tampak seorang malaikat perkasa lainnya bertugas turun ke bumi, menggabungkan suaranya dengan malaikat yang ketiga, dan memberikan

kuasa dan kekuatan kepada pekabarannya ….. Pekabaran ini tampaknya merupakan suatu tambahan kepada pekabaran yang ketiga, yang bergabung dengannya seperti halnya seruan tengah malam bergabung dengan pekabaran malaikat yang kedua dalam tahun 1844.” -- “Early Writings”, halaman 277. Kembali kita baca, “Yakinlah bahwa akan datang pekabaran-pekabaran dari lidah-lidah orang, yang diilhami oleh Roh Suci. ‘Serukanlah dengan kuat, janganlah tahan ..... tunjukkanlah kepada umat-Ku segala pelanggaran mereka, dan kepada isi rumah Yakub segala dosanya’.” – “Testimonies to Ministers”, halaman 296. “Sebuah pekabaran Amaran yang lain dan petunjuk akan diberikan kepada sidang.” -- “The Great Controversy”, halaman 425. 

“Nubuatan harus digenapi. Tuhan berfirman : ‘Tengoklah, aku akan mengutus kepadamu Eliyah nabi itu sebelum datangnya hari Tuhan yang besar dan mengerikan itu.’ Seseorang akan datang dalam roh dan kuasa Eliyah, dan apabila ia muncul, orang-orang akan mengatakan : ’Kamu terlalu bersungguh-sungguh, kamu tidak menginterpretasikan Injil itu dengan cara yang sepatutnya. Marilah ku-ceritakan kepadamu bagaimana untuk mengajarkan pekabaranmu itu’.” -- “Testimonies to Ministers”, halaman 475. “Tengoklah, Aku akan mengutus kepadamu Eliyah nabi itu sebelum datangnya hari Tuhan yang besar dan mengerikan itu.” (Maleakhi 4 : 5). Bukankah Allah, oleh perantaraan “Roh Nubuat”, maupun oleh Injil, telah mengamarkan dengan jelas kepada umat-Nya bahwa mereka harus menantikan pekabaran-pekabaran pada setiap saat? “Sebagaimana belum pernah sebelumnya, kita hendaklah berdoa bukan saja agar orang-orang upahan dapat diutus ke dalam lapangan penuaian yang luas, melainkan supaya kita dapat memperoleh suatu pengertian kebenaran yang jelas, sehingga apabila utusan-utusan kebenaran itu kelak datang, kita boleh menyambut pekabaran itu dan menghargai juru-kabarnya.” -- “Testimonies for the Church”, Vol. 6, halaman 420. 

Jika amaran itu telah diberikan, maka mengapakah orang-orang dari atas mimbar sedemikian gigihnya menutup mata mereka terhadap Firman dari Dia Yang Maha Tinggi, lalu membuka mulut mereka membicarakan cerita-cerita dongeng kepada jemaatnya, oleh menyatakan bahwa mereka telah memiliki semua kebenaran sehingga tidak lagi memerlukan pekabaran ataupun nabi? Bukankah kebohongan dan kemunafikan yang besar ini telah membuka jalan bagi suatu kesesatan yang luas di dalam sidang oleh menguatkan keyakinan mereka bahwa mereka tidak memerlukan apa-apa lagi dan mereka sedang dalam perjalanan ke surga? Bayangkanlah syakwasangka dan kesentausaan yang palsu yang harus diterobos oleh pekabaran itu. Bayangkanlah betapa banyaknya jiwa yang hilang jika umat menerima saja keputusan dari para pemimpin. Bukankah justru jerat kesesatan yang mengerikan sedemikian inilah yang telah mengikat umat Allah dalam setiap pergerakan yang muncul? Menaruh harap pada para pemimpin, dan menerima saja keputusan-keputusan mereka tanpa menyelidiki telah menyesatkan umat dalam setiap zaman. Apakah yang merubah jalan itu kini? Betapa ngerinya pemikiran seperti itu dan betapa besarnya tanggung jawab! Kiranya Allah menolong umat-Nya untuk mencarikan terang dan kebenaran bagi diri mereka sendiri, dan kiranya semangat mereka tetap menuntut suatu penjelasan dan suatu perhitungan dari semua perkara ini. 

Apakah pekabaran itu? Pekabaran jam kesebelas adalah tak lain

dari Wahyu pasal 18 -- yaitu seruan keras dari malaikat yang ketiga. Mengutip “Testimonies to Ministers”, halaman 59 : “Pekabaran yang sama ini (Pekabaran Malaikat yang Ketiga) akan diberitakan pada kedua kalinya. ‘Dan setelah segala perkara ini aku tampak seorang malaikat lain turun dari langit, memiliki kuasa besar; maka bumi telah diterangi dengan kemuliaannya.’ Pekabaran ini adalah yang terakhir yang pernah akan diberikan kepada dunia; dan ia itu akan menyelesaikan tugasnya.” -- “The Great Controversy”, halaman 390.

“Demikianlah pekabaran malaikat yang ketiga itu kelak diberitakan. Karena waktunya akan datang baginya untuk diberitakan dengan kuasa besar, maka Tuhan akan bekerja melalui alat-alat sederhana, memimpin pikiran orang-orang yang menyerahkan diri mereka bagi pelayanan-Nya. Para pekerja itu akan dibuat menjadi cakap bukan melalui latihan-latihan pada lembaga-lembaga pendidikan, melainkan oleh dorongan Roh-Nya. Orang-orang yang beriman dan berdoa akan didorong untuk pergi keluar dengan semangat yang suci, memberitakan firman yang telah dikaruniakan Allah kepada mereka. Dosa-dosa dari Babil akan diungkapkan. Akibat-akibat yang menakutkan dari pemaksaan kepatuhan kepada gereja oleh penguasa sipil, serangan-serangan dari Spiritisme, kemajuan secara diam-diam tetapi cepat daripada kekuasaan kepausan, — semuanya akan ditelanjangi. Melalui amaran-amaran yang serius ini orang banyak akan dibuat gempar. Beribu-ribu orang akan memperhatikan, yaitu mereka yang belum pernah mendengar kata-kata seperti ini. Dengan keheranan mereka mendengarkan kesaksian bahwa Babil ialah gereja, yang telah jatuh karena kesalahan-kesalahan dan dosa-dosanya, karena penolakannya terhadap kebenaran yang disampaikan kepadanya dari surga. Sementara orang banyak itu pergi kepada guru-guru mereka yang semula dengan menanyakan secara serius, Benarkah segala perkara ini demikian? Maka para pendeta itu akan mengemukakan dongeng-dongeng, menubuatkan perkara-perkara yang menyenangkan, untuk menenangkan ketakutan-ketakutan mereka itu, dan untuk mendiamkan pikiran-pikiran yang sadar. Tetapi karena banyak orang menolak untuk dipuaskan dengan hanya kekuasaan manusia, lalu mereka menuntut mendapatkan sesuatu ‘Demikianlah firman Tuhan’ yang jelas, maka biasanya pihak kependetaan, seperti halnya orang-orang Farisi di masa lalu, lalu dipenuhi dengan amarah karena kekuasaan mereka telah diragukan, maka mereka akan menuduh pekabaran itu sebagai berasal dari Setan, dan mereka akan membangkitkan orang banyak pencinta dosa itu untuk menista dan menganiaya orang-orang yang memberitakannya.” -- “The Great Controversy”, halaman 606, 607.

Panggilan jam kesebelas itu, sesungguhnya, adalah sama dengan panggilan jam sembilan. Panggilan jam sembilan itu akan diulangi dengan tambahan sebutan mengenai penyelewengan-penyelewengan di dalam sidang-sidang; juga terang dan kekuatan akan dipertambahkan kepadanya. 

MENGAPAKAH KAMU BERDIRI SAJA MENGANGGUR? 

Orang-orang upahan itu disewa dari “pasar”. Pasar itu harus menunjuk kepada sidang dari mana Allah memanggil orang-orang upahan-Nya untuk bekerja. Perhatikanlah orang-orang yang diupah itu pada setiap kesempatan adalah menganggur. Pengertiannya ialah bahwa setiap pekabaran yang pernah datang ke dunia kita ini, tidak datang melalui orang-orang yang menduduki jabatan tinggi di dalam sidang. Ia itu disampaikan oleh orang-orang sederhana, yaitu mereka yang pelayanannya dianggap oleh kepemimpinan

sidang sebagai tidak banyak dibutuhkan. Dalam setiap keadaan pekabaran-pekabaran itu telah ditolak oleh orang-orang terkemuka di dalam sidang. Tandailah pertanyaan yang dikemukakan oleh tuan rumah pemilik kebun anggur itu, “Mengapakah kamu berdiri saja menganggur sepanjang hari?” Pengertiannya adalah bahwa mereka itu seharusnya bekerja. Mereka mengatakan kepadanya “Karena tidak seorangpun yang mempekerjakan kami”. Bilamana kepemimpinan sidang menyeleweng, maka pekerjaan akan diawasi oleh sesuatu kelas orang-orang, lalu suatu peraturan pembatasan akan digariskan kepada semua orang lainnya. Dengan demikian, orang-orang yang justru Allah hendak gunakan akan tersingkir sehingga tetap menganggur.

Para pekerja yang diupah oleh pemimpin-pemimpin yang sedemikian ini umumnya dipilih dari segi pandangan teknis pendidikan sebagai suatu ujian kualifikasi, dan bukan berdasarkan pengetahuan Alkitab, penyerahan, dan kepatuhan yang mutlak kepada seluruh kebenaran. Praktik-praktik yang sedemikian ini adalah bertentangan terhadap petunjuk Alkitab. Kami mengutip : ”Seorang pemimpin sidang harus tidak bercacad, suami dari seorang istri, seorang yang awas, sederhana, berkelakuan baik, suka memberi tumpangan, mampu mengajar; bukan seorang pemabuk, bukan orang yang suka berkelahi, bukannya orang yang ingin akan uang yang keji; melainkan orang yang sabar, bukan orang yang suka berbantah-bantah, bukan orang yang iri hati; Orang yang memerintah rumah tangganya sendiri dengan baik, dan yang memeliharakan anak-anaknya taat kepadanya dengan sopan; (Karena jika seseorang tidak tahu bagaimana memerintah rumah tangganya sendiri, bagaimanakah kelak ia mengawasi sidang Allah?)” (1 Timotius 3 : 2 - 5). Para rasul dalam memilih orang-orang bagi jabatan yang suci, mengatakan : ”Oleh sebab itu, hai Saudara-Saudaraku, pilihlah dari antara kamu tujuh orang yang terkenal baik, yang penuh Rohulkudus dan hikmat, yang dapat kita tunjuk untuk mengawasi pekerjaan ini.” (Kisah Para Rasul 6 : 3).

Musa telah menghabiskan empat puluh tahun dalam sekolah Kristus. Sementara memelihara domba-domba ia telah menggantikan pengalaman latihannya di Mesir itu dengan pengetahuan dan hikmat dari Yang Maha Kuasa. Dengan demikian ia telah disiapkan untuk memimpin umat-Nya keluar dari Mesir. Kepada Paulus telah diperlihatkan bahwa kepandaian dunianya yang diperolehnya dari sekolah-sekolah manusia adalah berbahaya, dan tidak bermanfaat dalam pekerjaan Kristus, sehingga rasul itu mengatakan : “Demikian aku pun, tatkala aku sudah datang kepadamu, hai Saudara-Saudaraku, bukannya aku datang dengan fasih lidah atau dengan kepintaran, dalam memberitakan kepadamu kesaksian Allah. Karena aku sudah memutuskan untuk tidak mau tahu apapun di antara kamu, terkecuali Yesus Kristus, dan Dia yang tersalib itu. Maka pembicaraanku dan pemberitaanku bukannya dengan kata-kata menarik orang pandai, melainkan dalam mendemonstrasikan Roh dan kuasa itu.” (1 Korintus 2 : 1, 2, 4). Paulus maksudkan bahwa ia telah memutuskan untuk mengkhotbahkan Alkitab dan hanya Alkitab saja, yang akan mengungkapkan Kristus dan Dia yang tersalib itu. Dikhotbahkan dengan kuasa Roh Allah, dan bukan oleh kepintaran manusia. Dengan demikian, maka rasul yang sangat terpelajar itu telah merendahkan diri sampai serendah para nelayan yang bodoh itu dalam pengetahuan manusia, pada waktu yang sama itupun ia naik bersama-sama sebelas rasul yang lainnya dalam pengetahuan Ilahi, yang jika diperbandingkan dengan kehormatan di bumi dan kebesaran manusia ia itu tenggelam menjadi tak berarti. Oleh karena itu, maka perkara yang suci tidak dapat dicampurkan dengan perkara biasa.

Tuan rumah itu mengatakan, “Pergilah juga kamu ke dalam kebun anggur itu; maka apa saja

yang pantas, ia itu akan kamu peroleh.” Allah minta dari orang-orang laki-laki dan perempuan supaya bangkit dan pergi bekerja di kebun anggur itu, dan menaruh harap pada nilai dari Firman-Nya. “Janganlah kamu membawa emas, atau perak, atau tembaga di dalam tasmu, atau sesuatu bekal bagi perjalananmu, ataupun dua helai baju, atau sepatu, ataupun tongkat : karena pekerja itu berhak mendapatkan upahnya. Dan apabila kamu masuk ke dalam kota atau kampung manapun juga, selidikilah siapa yang pantas di sana; maka tinggallah di situ sampai kelak kamu pergi dari sana.” (Matius 10 : 9 – 11). “Maka kata Yesus kepada mereka itu, Apabila Aku menyuruh kamu keluar dengan tiada membawa pundi-pundi, dan bekal, dan sepatu, adakah kamu kekurangan barang sesuatu? Maka jawab mereka, Tidak.” (Lukas 22 : 35).

Tandailah pokok berikut ini dengan seksama : Semenjak dari jam sembilan dalam tahun 1844, sampai kepada jam dua belas, atau berakhirnya masa kasihan, hanya ada tiga jam penuh. Jumlah jam-jam itu secara simbolis menunjukkan bahwa hanya ada cukup masa kasihan semenjak dari tahun 1844 sampai kepada akhirnya, untuk satu pergerakan — yaitu tiga jam. Firman dari Wahyu 10 : 6 berlaku di sini : “Bahwa tidak akan ada waktu lagi”. Setiap pergerakan yang Allah telah datangkan semenjak dari permulaan dunia, sedemikian jauh telah keluar, maka apabila Ia mengirimkan suatu pekabaran, atau terang baru atas Firman-Nya, para pemimpin telah menolaknya, sehingga perlu lahir lagi suatu pergerakan yang baru.

Jika para pemimpin di dalam sidang Allah sekarang ini mau menyambut panggilan jam kesebelas, maka ini kelak adalah di luar dari kebiasaan. Tetapi kalaupun mereka menolaknya, maka Allah tidak mungkin memulaikan lagi sesuatu pergerakan yang baru, sebab “tidak akan ada waktu lagi”. Pergerakan-pergerakan baru pada umumnya memulai dengan hanya sejumlah kecil orang-orang dan memerlukan bertahun-tahun lamanya untuk berkembang, dan sesudah suatu masa penyelewengan terjadi. Akibatnya, Ia tidak pernah berhasil menyelesaikan pekerjaan-Nya di bumi dengan rencana yang sedemikian ini. Kata-kata Tuhan itu menyatakan secara simbolis bahwa kepemimpinan dalam pergerakan yang dipanggil dalam tahun 1844 itu akan menolak pekabaran jam kesebelas, karena dikatakan-Nya bahwa orang-orang yang sedang akan diupahi itu, sedang “berdiri menganggur”; artinya, bukanlah mereka yang sedang bekerja itu yang akan diupahi-Nya.

Jika memang tidak ada waktu lagi bagi sesuatu pergerakan yang baru, maka hanya ada suatu pemecahan bagi masalah yang membingungkan ini, dan itu adalah memisahkan “gandum” dari “lalang” dengan cara membunuh kelas orang-orang yang sedang menguasai pekerjaan dan menahan umat Allah dalam perhambaan dosa. Oleh sebab itu, maka musuh-musuh Allah akan dikeluarkan dari perjalanan oleh lima orang itu yang disebut di dalam Yehezkiel pasal 9. Pokok masalah ini adalah dijelaskan di dalam buku “Tongkat Gembala”, Jilid I. 

YANG TERAKHIR MENJADI YANG PERTAMA DAN YANG PERTAMA MENJADI YANG TERAKHIR 

Kembali kepada ayat : “Secupak gandum sedinar harganya, dan tiga cupak jelai sedinar harganya.” (Wahyu 6 : 6). Mengapakah gandum itu disebut lebih dulu, dan jelai disebut kemudian? Mengapa tidak

sebaliknya? Mengapa jelai sebanyak tiga kali untuk sedinar harganya sama dengan gandum sebanyak hanya satu kali? Ataukah mengapa tidak sebaliknya? Injil adalah sempurna dan tidak satupun kesalahan terdapat di dalamnya. Oleh sebab itu, maka harus ada alasannya bagi urut-urutan susunan yang sedemikian ini, sama seperti juga terhadap jumlah takaran dari masing-masing biji-bijian itu. Jelai umumnya masak jauh lebih cepat daripada gandum. Oleh karena itu, maka orang-orang upahan yang pertama harus dilambangkan dengan jelai, sebab jika tidak, maka simbol ini akan tidak sempurna. Jadi, jelai itu, melambangkan bangsa Yahudi, karena merekalah yang dipekerjakan lebih dulu. Dengan sendirinya gandum itu harus melambangkan orang-orang yang dipanggil pada jam kesebelas. Adalah menakjubkan bagaimana sempurnanya Injil itu. 

Mengapa hanya dua jenis biji-bijian yang dikemukakan? Mengapa tidak lima? Kedua biji-bijian itu adalah cukup untuk melukiskan pemikiran itu dan menjernihkan pelajaran ini. Tetapi alasan yang terutama bagi adanya hanya dua ialah untuk menarik perhatian kita kepada panggilan-panggilan yang pertama dan yang terakhir, sebab petunjuk yang diberikan hanyalah mengenai dua Israel; yaitu, Israel badani (keturunan-keturunan Abraham), dan Israel rohani (144.000 itu). Tetapi tujuan dari pelajaran ini ialah bagi Israel yang kedua itu, yaitu orang-orang yang dipekerjakan pada jam kesebelas, karena kebenaran dari perumpamaan ini belum pernah dimengerti oleh rombongan manapun yang lain. 

Tandailah bahwa orang-orang yang dipekerjakan pertama itu telah bekerja sepanjang hari, tetapi orang-orang yang dipekerjakan terakhir bekerja hanya sejam saja lamanya. Karena alasan inilah suara itu mengatakan, “tiga cupak jelai” sebagai tandingan dari “satu cupak gandum” untuk sedinar harganya -- yaitu upah sehari. Jarak waktu di antara masing-masing panggilan adalah tiga jam. “Takaran” itu menunjukkan jam-jam simbolis yang dihabiskan selama bekerja. Jarak-jarak waktu selama tiga jam di antara setiap panggilan ialah suatu lambang dari jangka waktu penuh yang diberikan kepada setiap pergerakan, atau pekabaran, tanpa pengertian khusus mengenai jumlah tahun-tahunnya. Mereka yang dipanggil terakhir, bekerja hanya sejam lamanya, namun mereka juga menerima sama banyak upahnya. Kebaikan hati dari Orang Berbudi itu menunjukkan bahwa semua umat Allah adalah sama diberi pahala, bukan seimbang dengan perbuatan-perbuatan mereka, melainkan sesuai dengan kebajikan dari tuan rumah itu. 

Sekarang pertanyaan mengapa suara itu datang dari tahta mengatakan, “Secupak gandum sedinar harganya”, pertama, dan “tiga cupak jelai sedinar harganya”, terakhir, akan terjawab. Berbicara secara manusia ia itu seharusnya sebaliknya, karena oleh gandum dilambangkan pekabaran yang terakhir (panggilan jam kesebelas) dan oleh jelai dilambangkan pekabaran yang pertama (panggilan pada pagi-pagi sekali -- Israel keluar dari Mesir). Kalau saja suara itu menyebut sebaliknya urutan biji-bijian itu, maka ia itu sudah akan salah, karena Yesus mengatakan : “Ketika malam tiba Tuan pemilik kebun anggur itu mengatakan kepada hamba-Nya, Panggillah para pekerja itu, dan bayarkanlah upah mereka, mulai dari orang-orang yang terakhir masuk kerja sampai kepada yang pertama kali masuk. Maka bilamana mereka itu datang yang bekerja pada jam kesebelas itu, masing-masing mereka menerima sedinar. Tetapi ketika para pekerja yang pertama itu datang, mereka mengira bahwa mereka akan menerima lebih; tetapi mereka pun

menerima masing-masingnya sedinar. Dan setelah mereka menerimanya, bersungut-sungutlah mereka terhadap tuan rumah yang baik hati itu, sambil mengatakan, Mereka yang terakhir ini bekerja hanya sejam saja lamanya, dan tuan telah mempersamakan mereka dengan kami, yang telah menanggung beban dan panas matahari sepanjang hari. Tetapi jawab tuan itu kepada salah seorang dari mereka mengatakan, Hai Kawan, Aku tidak berbuat salah kepadamu : bukankah kamu telah sepakat dengan Aku untuk sedinar? Ambillah bagianmu itu, dan pergilah : Aku hendak memberikan kepada orang yang terakhir ini, sama seperti kepadamu juga. Salahkah bagi-Ku untuk berbuat apa yang Ku kehendaki dengan kepunyaan-Ku sendiri? Atau jahatkah pada pemandanganmu, sebab Aku ini baik? Demikianlah yang terakhir akan menjadi yang pertama, dan yang pertama akan menjadi yang terakhir : karena banyak yang dipanggil, tetapi hanya sedikit yang terpilih.” (Matius 20 : 8 - 16). Dengan demikian secupak gandum sedinar harganya, pertama, dan tiga cupak jelai sedinar harganya, terakhir. Mereka yang bersungut-sungut itu melambangkan sebagian dari bangsa Yahudi itu yang tidak patut, dan kata-kata yang berbunyi : “Hai Kawan, Aku tidak berbuat salah kepadamu ..... ambillah bagianmu, dan pergilah”, menunjukkan penolakan terhadap bangsa itu. 

BAYARKANLAH UPAH MEREKA 

Perhatikanlah bahwa orang-orang yang dipekerjakan terakhir adalah yang pertama sekali dibayar, dan orang-orang yang pertama sekali dipekerjakan adalah yang terakhir dibayar. Karena sekaliannya itu adalah sama dihargai, maka orang-orang yang pertama kali dipekerjakan itu telah bersungut-sungut, walaupun mereka telah dibayar penuh. Tindakan mereka yang tidak berterima kasih itu menunjukkan bahwa bangsa Yahudi adalah tidak patut untuk mendapatkan pembayaran mereka, sehingga Tuan rumah itu mengatakan kepada mereka, “Ambillah bagianmu, dan pergilah kamu”. Karena Israel kuno yang lalu itu dilambangkan oleh panggilan yang pertama, seperti yang dijelaskan terdahulu, maka kepada merekalah berlaku kata-kata ini, dan karena mereka adalah orang-orang yang bersungut-sungut itu, membuktikan bahwa perumpamaan ini adalah tepat.

Mengapakah mereka yang pertama, dibayar terakhir, dan mereka yang terakhir, dibayar lebih dulu? Jawabnya ialah -- upah yang diperoleh hamba-hamba Allah ialah hidup kekal, dan disamakan sifatnya dengan uang dinar. Oleh sebab itu, orang-orang yang pertama diberikan jaminan suatu kehidupan yang tidak pernah berakhir itu, ialah orang-orang yang dipekerjakan terakhir, dan sesuai dengan perumpamaan ini, mereka itu ialah orang-orang yang dipanggil pada jam kesebelas. Mereka adalah orang-orang yang dibubuhi tanda atau dimeteraikan oleh orang yang membawa pena tinta penyurat dari Yehezkiel pasal 9, atau seperti yang disebut oleh Yohanes, malaikat yang membawa meterai Allah itu; dan ia memeteraikan, atau membubuhi tanda, kepada mereka yang 144.000 itu. (Lihat Wahyu pasal 7). Rombongan orang-orang yang mulia ini adalah yang pertama sekali dikaruniakan jaminan tidak pernah merasai kematian. (Lihat “Tongkat Gembala”, Jilid I, halaman 22 – 24, bahasa Inggris). Demikianlah mereka itu telah dibayar pertama sekali, tetapi orang-orang yang dipanggil pada pagi-pagi sekali (Israel badani) akan dibangkitkan (orang-orang benar) apabila Kristus datang di dalam awan-awan, pada saat mana mereka akan dikaruniakan hidup yang kekal. “Demikianlah yang terakhir akan menjadi yang pertama, dan yang pertama akan menjadi yang terakhir.” Karena alasan inilah, maka orang-orang yang telah dimeteraikan dan diselamatkan oleh Pekabaran Malaikat yang Ketiga semenjak

dari tahun 1844, akan dibangkitkan dalam kebangkitan istimewa sebelum Kristus datang. (Lihat Daniel 12 : 2; “Early Writings”, halaman 285). 

MENGAPA PADA PAGI-PAGI SEKALI?

Kenyataan yang telah dikemukakan menunjukkan bahwa panggilan-panggilan (pekabaran-pekabaran) sebelum Israel keluar dari Mesir tidak dimasukkan dalam perumpamaan ini, dan bahwa panggilan kepada Israel itu adalah pada “pagi-pagi sekali”. Yesus telah membagi sejarah sidang dalam dua bagian yang sama yang masing-masing terdiri dari dua belas jam. Dalam perumpamaan itu ia menunjuk hanya kepada bagian yang disebut hari, — masa periode Alkitab. “Yesus menjawab, Bukankah ada dua belas jam dalam sehari? Jika seseorang berjalan pada siang hari, ia tidak akan terantuk, sebab ia melihat terang dari dunia ini.” (Yohanes 11 : 9). Oleh sebab itu, maka masa periode sebelum Alkitab datang adalah disebut malam. Bukan karena umat Allah telah dibiarkan dalam kegelapan terhadap firman-Nya, melainkan karena firman itu diteruskan hanya secara lisan dari bapa kepada anak, sedangkan firman tertulis ialah suatu wahyu yang langsung — terang. Demikianlah Ia telah menggambarkan sejarah dari sidang-Nya pada suatu putaran lonceng dua puluh empat jam. Dapatlah lebih baik kita memahami pelajaran ini melalui suatu perincian singkat sementara kita mengikuti gambar bagan pada halaman 224, bahasa Inggris.

Terdapat hanya lima panggilan dalam perumpamaan ini; Yang pertama, yaitu orang-orang yang dipanggil pada pagi-pagi sekali – Israel keluar dari Mesir; Kedua, orang-orang yang pergi bekerja di kebun anggur pada jam tiga -- sidang Kristen yang mula-mula; Ketiga, panggilan jam keenam — William Miller dan pembantu-pembantunya; Keempat, panggilan jam kesembilan — Malaikat yang ketiga dalam seruannya yang pertama sesudah tahun 1844; Kelima, panggilan jam kesebelas — Seruan Keras dari Pekabaran Malaikat Yang Ketiga. Karena angka bilangan “tujuh” digunakan dalam setiap kesatuan perbuatan Allah yang terakhir untuk menunjukkan kelengkapan, maka sudah harus ada dua panggilan yang sedemikian ini sebelum sejarah Israel, sebab jika tidak maka ini akan menunjukkan ketidak-lengkapan dalam pemberitaan Injil. “Dan juga Henok, keturunan yang ketujuh dari Adam, telah menubuatkan segala perkara ini, katanya, Tengoklah, Tuhan datang dengan sepuluh ribu umat kesucian-Nya.”
(Yudas 14). Karena Henok memiliki suatu pekabaran yang luas di seluruh dunia mengenai kedatangan Tuhan, maka pekabarannya itu ialah panggilan yang pertama. Panggilan Nuh ialah yang kedua semenjak dari kejadian dunia. Oleh sebab itu, maka seluruhnya, “tujuh” yang berarti sempurna, lengkap, berakhirnya Injil. 

TUJUH PERGERAKAN UNIVERSAL

Sedemikian jauh kami telah menunjuk hanya kepada panggilan-panggilan itu saja, tetapi sekarang kita mengalihkan perhatian kita kepada pergerakan-pergerakan itu. Permulaan dari pergerakan yang pertama ialah semenjak dari saat Adam berdosa sampai kepada pekabaran dari Henok; Kedua, semenjak dari Henok sampai kepada Nuh; Ketiga, semenjak dari Nuh sampai kepada Musa; Keempat, semenjak dari Musa sampai kepada rasul-rasul; Kelima, semenjak dari rasul-rasul sampai kepada Miller; Keenam, semenjak dari Miller sampai kepada Ellen G. White; Ketujuh, semenjak dari Ellen G. White sampai kepada akhir. Dari panggilan yang terakhir sampai kepada akhirat, karena hanya satu jam, maka ini membuktikan bahwa tidak ada waktu lagi bagi sesuatu pergerakan yang baru. Maka suatu

pergerakan baru akan membuang angka billangan tujuh itu keluar dari pengertiannya. Oleh sebab itu, pergerakan yang lama itu harus dimurnikan lalu maju terus.

Waktu yang disediakan bagi setiap pergerakan adalah ditandai pada putaran lonceng Allah sebagai tiga jam. Tiga jam yang pertama pada lonceng itu menunjuk kepada semenjak dari kejadian sampai kepada kejatuhan Adam; dengan sendirinya hanya tertinggal 21 jam simbolis lagi bagi masa pertobatan manusia. Tujuh kali tiga sama dengan dua puluh satu; maka sebab itu, kita mempunyai suatu alasan yang lain lagi mengapa malaikat itu mengatakan “tidak akan ada waktu lagi”.

ALASAN MENGAPA TIGA JAM BAGI SATU PERGERAKAN

Fakta berikut ini selanjutnya membuktikan bahwa sejarah sidang dalam contoh ini adalah dilambangkan oleh suatu putaran lonceng dua puluh empat jam. Jika panggilan itu datang kepada Israel pada pagi-pagi sekali, yaitu pada jam dua belas, dan hari itu berakhir pada jam dua belas berikutnya, disebut siang hari, karena firman Allah yang tertulis itu ada untuk terang kepada sidang, maka masa periode yang mendahului Alkitab itu secara simbolis disebut malam. 

Sebagian orang mungkin meragukan kenyataan ini karena menggunakan tiga jam untuk setiap peristiwa -- semenjak dari kejadian sampai kepada kejatuhan Adam, dan sekali lagi sampai kepada Henok dan Nuh. Jika Allah bekerja mengikuti rencana tiga jam itu terhadap penyaliban Kristus (Lihat gambar bagan pada halaman 22, bahasa Inggris), dan peraturan yang sama inipun diikuti dalam masa periode yang disebut ”hari”, maka Ia tentunya tidak akan mengikuti peraturan yang lain dalam masa periode yang disebut “malam”. Alasan mengapa Ia telah mengikuti peraturan yang satu itu ialah untuk menyampaikan kepada sidang-Nya waktu yang tepat dari sejarah sidang melalui periode-periode. 

Marilah kita memeriksa kenyataan ini dari segi yang lain. Manusia pertama yang berdosa disebut Adam yang pertama. Sekarang lihatlah pada putaran lonceng itu; semenjak dari jam tiga pada bagian yang gelap itu (kejatuhan Adam) menghadap kepada jam tiga pada bagian yang terang, maka kita akan melihat Adam yang kedua (Kristus disalib). Kembali lagi, lihatlah pada jam enam pada bagian yang gelap dari putaran lonceng itu (Henok menubuatkan dari hal kedatangan Kristus) berhadapan dengan jam enam pada bagian yang terang, dan di sanalah kita akan melihat juga Miller yang menubuatkan peristiwa yang sama (kedatangan Kristus). Inilah salah satu dari alasan-alasan mengapa Allah membiarkan Miller memberitakan kedatangan Kristus itu dalam tahun 1844. Sekarang lihatlah pada jam sembilan, Nuh meramalkan akhir sejarah dunia dalam generasinya, dan berhadapan dengan jam sembilan pada bagian yang terang, kita melihat Ellen G. White menubuatkan tentang akhir sejarah dunia dalam generasi ini. (Dan itu adalah dimana generasi ini mulai). Dan pada jam dua belas (Israel badani keluar dari Mesir) dan berhadapan dengan jam dua belas itu (matahari masuk), kita melihat Israel rohani keluar dari dunia (Mesir). Oleh sebab itu, tidak ada masalah terkecuali bagaimana kejatuhan Adam, nubuatan dari Henok, dan Nuh, datang pada jam-jam itu sebagaimana yang terlihat pada gambar bagan itu.

Di sini kita melihat suatu contoh yang lain. Kebenaran Allah kepada dunia sebelum Alkitab datang, jatuh bersamaan waktunya dengan kebenaran-Nya dalam sejarah Alkitab, menunjukkan bahwa Allah memiliki hanya satu kebenaran, satu Kristus, dan satu Injil pada segala zaman. Oleh karena itu, pendapat yang diajarkan oleh para pendeta injil ciptaan sendiri bahwa Allah mempunyai satu metode penyelamatan umat pada sebelum Alkitab datang, metode yang lain lagi dalam sejarah Wasiat Lama bagi keturunan-keturunan dari Abraham, dan masih metode yang lain lagi bagi sejarah Wasiat Baru dan orang-orang Kapir, dan sebagainya, adalah penipuan dari Iblis dan tidak ada kebenaran di dalamnya. Bukan saja perkara-perkara yang tertulis akan membuktikan kebenaran dan menelanjangi kesalahan, tetapi bahkan juga cara berpikir biasa akan menceritakan kepada kita bahwa tidak mungkin terdapat keadilan dalam metode penyelamatan yang terus berubah-ubah sedemkian itu –- “Karena Akulah Tuhan, Aku adalah tidak berubah”. 

Jam dua belas pada putaran lonceng itu, ke kiri, menunjukkan matahari naik dan pada sebelah kanan, matahari masuk. Jam enam pada bagian yang terang, adalah tengah hari, dan jam enam pada bagian yang gelap, ialah tengah malam. Pekabaran pada jam enam oleh Miller itu adalah disebut seruan Tengah Malam (lihat “Early Writings”, halaman 277) sebab ia itu berkaitan dengan pekabaran yang dari Henok. Yesus mengatakan : ”Maka pada tengah malam terdengarlah suatu seruan, Tengoklah, pengantin itu datang : keluarlah kamu menyongsong dia.” (Matius 25 : 6). Jam enam pada bagian yang terang berdiri juga sebagai siang tengah hari apabila matahari berada dalam kekuatannya yang penuh. Alkitab mulai muncul pada jam dua belas dan pada waktu pekabaran oleh Miller itu dikhotbahkan, yang dilambangkan oleh panggilan jam enam, kedua Wasiat Lama dan Baru itu sudah disusun dan diterbitkan; dengan demikian ia itupun menunjukkan siang tengah hari.

Pekabaran yang diberitakan oleh Henok merupakan sebuah nubuatan yang memandang ke depan ke tahun 1844 pada waktu Yesus masuk ke dalam tempat yang maha suci bersama-sama dengan umat kesucian-Nya bagi pemeriksaan hukum. Oleh karena itu, maka khotbah oleh Miller itu adalah kegenapan dari nubuatan Henok. Demikianlah ia itu telah disebut Seruan Tengah Malam. Karena pokok masalah pehukuman itu tidak akan dapat dimengerti sebelum sidang pehukuman itu dimulai, maka adalah tidak mungkin bagi Miller untuk dapat mengaplikasikannya dengan tepat terhadap peristiwa yang diharap-harapkan pada waktu itu. Perhatikanlah ungkapan gramatika yang digunakan oleh Kristus : “There was a cry made”. (Terdengarlah suatu seruan). Kristus menggunakan bentuk lampau, yang membuktikan kenyataan itu, bahwa arti yang sebenarnya dari pekabaran Miller itu akan dimengerti sesudah panggilan itu dibuat. Kristus mengatakan, There “was”, dan bukan, there shall be a “cry”.

Kenyataan dalam penyelidikan ini membuktikan keilahian Kristus, dan kuasa-Nya dalam khayal bahkan sampai kepada perincian-perincian yang sekecil-kecilnya, di masa lampau, sekarang, dan di masa depan. Jika suatu kebenaran sedemikian seperti ini, begitu jelas dan sederhana, begitu kuat dan pasti dalam pengungkapan keajaiban-keajaiban dari Firman tidak juga bisa mengubahkan hati pembacanya, maka kami berkesimpulan bahwa tidak ada lagi yang lebih besar daripada ini yang memiliki sesuatu nilai. Kalaupun orang mati akan bangkit dari kubur, atau bahkan jika seorang malaikat akan turun dari surga sekalipun, kelas orang-orang itu akan tetap tunduk kepada kuasa Iblis. Pemazmur melukiskan Kebesaran Firman Allah dalam bahasa berikut ini :

“Aku hendak menyembah sujud mengarah ke kaabah kesucian-Mu, dan memuji nama-Mu karena sebab kemurahan-Mu dan karena sebab kebenaran-Mu : karena Engkau telah membesarkan firman-Mu melebihi semua nama-Mu.” (Mazmur 138 : 2). Yesus mengatakan : “Jikalau mereka itu tidak mau mendengar akan Musa dan nabi-nabi, tiada juga mereka itu akan yakin, jika seseorang bangkit dari antara orang mati sekalipun.” (Lukas 16 : 31).

Jam yang satu itu dari Wahyu 17 : 12, dalam mana tanduk-tanduk dari binatang merah kirmizi menerima kuasa mereka sebagai raja-raja, ialah masa periode semenjak dari panggilan jam kesebelas sampai kepada akhir sejarah dunia ini -- dari jam sebelas sampai jam dua belas secara simbolis. 

* * *

MENGAPA MILLER KELIRU; APAKAH ARTI AIR BAH ITU BAGI KITA? 

Henok mengatakan : “Tengoklah Tuhan datang dengan sepuluh ribu umat kesucian-Nya.” (Yudas 14). Nubuatan dari Henok ini bukanlah mengenai kedatangan Kristus yang kedua kali di dalam awan-awan, karena ketika Ia muncul dalam kemuliaan Ia tidak datang “bersama-sama dengan umat kesucian-Nya”, melainkan Ia datang bagi umat kesucian-Nya. Juga tidak mungkin kedatangan-Nya itu bersama-sama dengan umat kesucian-Nya pada sesudah seribu tahun millenium, karena dalam hal yang sedemikian ini ia itu tidak mungkin merupakan sebuah pekabaran bagi dunia kuno yang lalu. Adalah tidak tepat dan tanpa tujuan, atau bukan merupakan pelajaran bagi umat di zaman itu, jika Henok mengkhotbahkan kepada dunia kedatangan Kristus yang ketiga kalinya sebelum ia mengkhotbahkan kedatangan Kristus yang kedua kali bagi umat kesucian-Nya. Jadi bagaimana? 

Henok menubuatkan tentang kedatangan Tuhan ke kaabah-Nya di dalam tempat yang maha suci di dalam tempat kesucian surga bersama-sama dengan umat kesucian-Nya secara bayangan (bukan secara badani) bagi pemeriksaan hukum untuk menghapuskan dosa-dosa mereka, peristiwa mana nabi Maleakhi menunjukkan : “Tengoklah, Aku akan mengirim utusan-Ku, maka ia akan menyediakan jalan di hadapan-Ku : maka Tuhan, Yang kamu cari itu, akan tiba-tiba datang ke kaabah-Nya, yaitu utusan perjanjian itu, Yang kamu senangi : tengoklah Ia akan datang, demikianlah firman Tuhan serwa sekalian alam. Tetapi siapakah yang dapat tahan pada hari kedatangan-Nya itu? Dan siapakah yang tahan berdiri apabila kelihatanlah Ia? Karena Ia adalah bagaikan api pembersih, dan seperti sabun pembersih : maka Ia akan duduk seperti seorang pembersih dan pemurni perak : dan Ia akan menyucikan bani Lewi, dan membersihkan mereka itu seperti emas dan perak, supaya dapat mereka mempersembahkan kepada Tuhan suatu persembahan dalam kebenaran.” (Maleakhi 3 : 1 – 3). “Tengoklah, Aku akan mengirim utusan-Ku, maka ia akan mempersiapkan jalan di hadapan-Ku : yaitu utusan perjanjian itu.” Utusan itu adalah bukan Tuhan sendiri, melainkan tandailah bahwa ia itu adalah seseorang yang akan menyediakan jalan bagi Tuhan. Ia disebut “utusan perjanjian” (persetujuan atau janji). Karena firman ini adalah diperuntukkan bagi akhir zaman, maka utusan perjanjian ini tidak mungkin lain daripada orang yang Tuhan telah janjikan : “Tengoklah, Aku akan mengirim kepadamu Eliyah nabi itu sebelum datang hari Tuhan yang besar dan mengerikan itu.” (Maleakhi 4 : 5). 

Tuhan datang ke kaabah-Nya di dalam tempat yang maha suci dalam tahun 1844 bagi sidang pehukuman terhadap orang-orang mati, ini adalah kegenapan dari Daniel 7 : 9, 10. Maleakhi menunjuk kepada pehukuman bagi orang-orang hidup, yaitu dari peristiwa-peristiwa yang sama itu juga (pehukuman). Karena dikatakannya : “Tetapi siapakah yang dapat tahan pada hari kedatangan-Nya itu? Dan siapakah yang dapat berdiri

apabila kelihatanlah Ia? Karena ..... Ia akan duduk sebagai seorang pembersih dan pemurni perak : dan Ia akan menyucikan bani Lewi, dan membersihkan mereka itu seperti emas dan perak, supaya mereka dapat mempersembahkan kepada Tuhan suatu persembahan dalam kebenaran.” (Ayat 2, 3). Karena orang mati tidak mungkin dapat disucikan, atau orang mati mempersembahkan pemberian-pemberian, maka jelaslah bahwa yang dimaksudkan itu ialah penyucian sidang, karena “Ia akan menyucikan bani Lewi” — imam-imam -- mereka yang 144.000 itu. Selanjutnya Tuhan mengatakan : “Aku akan mengirim utusan-Ku”, dan karena tidak mungkin utusan dikirim kepada orang mati, maka ini harus merupakan pekabaran kepada orang hidup. 

Kembali kepada nubuatan dari Henok : “Tengoklah Tuhan datang dengan sepuluh ribu umat kesucian-Nya”. Kata-kata “ribu” (bahasa Inggris : thousands) berada dalam bentuk jamak, bukan mengungkapkan angka bilangan orang-orang suci yang datang bersama-sama dengan Dia. Tetapi jika kata-kata “sepuluh ribu” itu sama sekali tidak mempunyai jenis pembatasan angka apapun, maka perkataan “sepuluh” itu akan merupakan sesuatu yang sia-sia saja terus diulangi dan asing bagi Injil. Oleh sebab itu, kita harus mencarikan suatu pembatasan simbolis dari hal perkataan itu. Angka bilangan “sepuluh” itu memiliki arti yang sama seperti halnya “sepuluh anak dara” dari Matius pasal 25, yang menunjukkan universal (sidang sebagai sebuah badan). Dengan demikian ia itu secara simbolis berarti orang-orang suci secara kolektif — yaitu semua orang yang selamat semenjak dari Adam sampai kepada akhir dunia. Oleh sebab itu, maka nubuatan dari Henok itu mulai kegenapannya dalam tahun 1844, pada waktu mana “Tuhan datang bersama dengan nama-nama dan catatan-catatan dari orang-orang yang sedang tidur di dalam kubur, dan setelah pemeriksaan terhadap orang-orang mati selesai, kemudian Ia datang dengan nama-nama dari orang-orang suci yang hidup. Pertama-tama dengan mereka yang 144.000 itu, dan kemudian bersama dengan “rombongan besar yang berasal dari segala bangsa, dan suku-suku bangsa, dan orang banyak, dan segala bahasa.” (Wahyu 7 : 9). Oleh sebab itu, maka kegenapan kata-kata nubuatan yang lengkap, “Tengoklah Tuhan datang dengan sepuluh ribu umat kesucian-Nya”, kelak akan nyata pada akhir masa kasihan. Mengenai kedatangan Tuhan ini (bagi orang-orang mati), William Miller adalah utusannya, dan pekabaran dari nabi Eliyah -- utusan perjanjian itu -- ialah pelopor bagi kedatangan-Nya bersama dengan orang-orang suci yang hidup, kedua-duanya mengenai peristiwa yang sama -- yaitu pehukuman. 

Di dalam “The Great Controversy”, halaman 426, yang menunjuk kepada kedatangan yang kedua kali, bagian dari ayat 14 telah dikutip bersama-sama dengan ayat 15, untuk melengkapi kalimat itu dengan perkataan “datang”; bagian dari ayat itu “dengan sepuluh ribu umat kesucian-Nya”, diaplikasikan kepada kedatangan-Nya ke kaabah di hadapan “Yang tiada berkesudahan hari-Nya itu”. Kata-kata “datang” dari ayat 14, bersama dengan ayat 15, diaplikasikan kepada kedatangan-Nya yang kedua kali, sama dengan Zakharia  13 : 6. Ayat (6) adalah diaplikasikan kepada kedatangan Kristus yang kedua kali dan ayat (7) adalah terhadap penyaliban-Nya. Juga perhatikanlah bahwa komentar ini adalah terhadap ayat lima belas, yaitu mengenai pehukuman-pehukuman terhadap orang-orang jahat dan bukan terhadap orang-orang suci.

Benar, Henok telah menubuatkan mengenai hari grafirat contoh saingan (sejarah kita), tetapi jika sekiranya pekabarannya itu tidak mengandung arti apa-apa bagi

dunia sebelum air bah dahulu, maka khotbahnya itu sudah akan berupa hanya pura-pura. Oleh karena itu, apa yang benar dari pekabarannya itu sekarang, ia itupun benar bagi orang-orang kuno dahulu; dan jika pernyataan ini adalah tepat, maka harus terdapat suatu perbandingan yang sama antara dunia pada zaman itu, dengan dunia yang ada sekarang. Khotbah dari Henok itu adalah disusul oleh khotbah dari Nuh. Sementara dunia kuno yang lalu itu tidak memiliki pengertian yang sempurna dari hal kedatangan Juruselamat, mereka juga, sama seperti generasi yang ada sekarang, terus memandang dan menunggui Dia yang akan menebus mereka dari dosa dan kematian, dan untuk membawa kembali mereka ke dalam taman Eden. Dengan bibir mereka menyatakan suatu kerinduan besar bagi-Nya Yang mereka harap untuk bertemu dalam kemuliaan-Nya, tetapi sikap mereka terhadap kabar-kabar gembira yang terkandung dalam pekabaran dari Henok : “Tengoklah Tuhan datang”, menunjukkan betapa dangkalnya apa yang terkandung di dalam hati mereka. Sebagaimana umumnya telah diharapkan bahwa Tuhan akan datang pada waktu itu, dan karena Henok belum dikaruniakan terang mengenai bagaimana cara kedatangan-Nya itu, maka ia telah memberitakan pekabarannya itu sesuai sekali dengan pendapat umum generasi di zaman itu. Sekarang masalahnya adalah, apa yang telah membuat mereka menolak pekabaran itu sepanjang pemberitaannya adalah sesuai dengan harapan-harapan mereka dan merekapun tidak dapat menyangkal kebenarannya? Pertanyaan ini dapat dijawab melalui pengalaman Yohanes Pembaptis. 

“Yohanes tidak sepenuhnya memahami keadaan dari kerajaan Mesias itu. Ia berharap Israel dapat dilepaskan dari musuh-musuh kebangsaannya; tetapi kedatangan dari Raja dalam kebenaran itu, dan penegakan Israel sebagai suatu bangsa yang suci, telah menjadi sasaran utama daripada harapannya.” -- “The Desire of Ages”, halaman 103. 

Adalah tidak masuk akal dan sesuatu yang tidak adil bagi umat pilihan Allah jika Ia membiarkan mereka dalam kegelapan mengenai saat dari peristiwa terpenting seluruh sejarah sidang itu -- yaitu kedatangan Kristus. Bagian dari periode nubuatan 2300 hari (tahun) dari Daniel 8 : 14 yang panjang itu, yang berkenaan dengan bangsa Yahudi; yaitu, tujuh puluh minggu itu, atau 490 tahun, mereka telah memahaminya dengan sempurna, sebab : “Telah diketahui umum bahwa tujuh puluh minggu dari nubuatan Daniel itu, yang meliputi kedatangan Mesias, sudah hampir berakhir; dan semua orang rindu sekali untuk memperoleh bagian dalam masa kemuliaan nasional yang telah diharap-harapkan pada waktu itu.” -- “The Desire of Ages”, halaman 133. 

Terang terus menerus bercahaya kepada bangsa Yahudi, dan mereka telah diberi informasi sepenuhnya dari hal Dia (terhadap siapa mereka telah membelanjakan berjuta-juta dollar dalam bentuk korban-korban, dan beratus-ratus tahun lamanya dalam upacara-upacara bayangan), saatnya Ia harus datang, dan keadaan dari kerajaan-Nya. Karena para pemimpin bangsa itu telah jatuh dalam dosa mereka meremehkan semua petunjuk dari para nabi. Dengan demikian sifat dari kerajaan yang dinanti-nantikan pada waktu itu telah disalah-tafsirkan, terkecuali waktu yang telah mereka pahami dengan benar dan telah diterima secara bangsa. Karena Yohanes belum diberikan terang mengenai apa yang akan terjadi sesudah Dia Yang Diurapi itu

datang, maka ia telah memberitakan pekabaran itu sesuai tepat dengan pendapat umum tentang waktu nubuatan itu, dan tentang kerajaan yang akan datang itu. Kini, karena tidak ada pertentangan di antara ajaran-ajaran Yohanes Pembaptis dan para pemimpin Israel, maka apakah yang telah membuat mereka itu menolak pekabarannya?

“Menurut peraturan pada umumnya, putera dari Zakharia itu seharusnya telah dididik bagi jabatan keimamatan. Tetapi latihan-latihan pada sekolah-sekolah pendeta Yahudi itu tidak akan berhasil mempersiapkannya bagi tugasnya. Allah tidak mengirimkannya kepada guru-guru theologia untuk belajar bagaimana menginterpretasikan Injil. Ia memanggilnya ke padang belantara, supaya ia dapat belajar dari alam, dan dari Allahnya alam.

“Adalah suatu daerah yang sunyi sepi dimana ia telah  menemukan tempat tinggalnya, yaitu di tengah-tengah bukit yang tandus, jurang-jurang yang menakutkan, dan gua-gua batu karang. Tetapi itulah pilihannya untuk menghindari kesenangan-kesenangan dan kemewahan-kemewahan hidup bagi disiplin yang ketat dari padang belantara.” -- “The Desire of Ages”, halaman 101.

Sebagaimana para Ahli Torat dan orang-orang Farisi mengatakan dari hal Kristus dan para rasul-rasul itu : Kami tidak mau orang-orang bodoh ini berkuasa atas kami, mereka menumpahkan pula tuduhan-tuduhan yang sama terhadap Yohanes, sehingga inilah yang membahayakan kebahagiaan mereka yang kekal itu. Halangan mereka yang kedua datang karena “Yohanes muncul seorang diri membawa pikiran-pikiran para pendengarnya kembali kepada para peramal zaman lalu. Dalam cara dan pakaiannya ia telah meniru nabi Eliyah. Dengan roh dan kuasa Eliyah ia menuduh penyelewengan bangsa itu, dan ia menegur dosa-dosa yang merajalela pada waktu itu. ..... Sebagai suatu lambang penyucian dari dosa, maka ia telah membaptiskan mereka itu di dalam aliran sungai Yordan. Dengan demikian melalui suatu maksud pelajaran yang penting ia menyatakan bahwa orang-orang yang mengakui dirinya umat pilihan Allah telah tercemar oleh dosa, dan tanpa penyucian hati dan kehidupan mereka tidak akan memperoleh bagian apapun di dalam kerajaan Mesias itu. ..... Yohanes menyatakan kepada para guru Israel itu bahwa kesombongan mereka, sifat mementingkan diri, dan kekejaman menunjukkan mereka menjadi suatu generasi ular berbisa, suatu kutuk yang mematikan terhadap bangsa itu, gantinya menyebut mereka sebagai anak-anak dari Abraham yang benar dan setia itu.” – Sda., halaman 104 – 106.

Demikianlah yang dilakukan oleh pelopor dari Kristus itu, karena ia melihat bangsanya tersesat, merasa kepuasan sendiri, dan tertidur dalam dosa-dosa mereka. Ia rindu untuk membangunkan mereka kepada suatu kehidupan yang lebih suci. Allah tidak mengutus juru-juru kabar-Nya untuk membujuk-bujuk orang berdosa. Ia tidak menyampaikan pekabaran damai untuk menenangkan orang-orang yang tidak suci itu ke dalam kesentausaan yang berbahaya. Karena Yohanes mengamarkan umatnya dari hal bahaya dan nasib celaka bangsanya, maka mereka semakin membencinya.

Sekarang, apakah yang membuat dunia kuno yang lalu menolak pekabaran dari Henok? Pekabaran Henok kepada dunia Tua itu adalah seperti dalam kesamaannya dengan penyambutan umum terhadap “kedatangan Tuhan”, tetapi karena pekerjaannya telah  membawakan teguran yang sama seperti yang dibawakan oleh Yohanes Pembaptis itu, maka ia pun telah menimbulkan kebencian dari bangsanya. Oleh berbalik dari pekabaran penyelamatan yang akan

menghapuskan dosa-dosa mereka (nubuatan Henok dari hal pehukuman itu), maka mereka telah menempatkan diri mereka di bawah hukuman yang lebih besar lagi. Oleh menolak satu-satunya usaha penyelamatan bagi mereka, maka mereka telah memutuskan diri mereka lepas dari Kuasa itu yang menegakkan segala perkara, sehingga karena itulah telah mengundang datangnya air bah yang mengerikan itu.

Allah, karena tidak rela seorangpun binasa, telah memerintahkan kepada Nuh untuk memberitakan bahaya itu sebelumnya, dan supaya mempersiapkan usaha dan fasilitas bagi orang-orang yang ingin melepaskan diri dari kebinasaan itu. Tetapi karena mereka menolak pekabaran dari Henok merekapun berbuat yang sama terhadap pekabaran dari Nuh. Karena pekabaran-pekabaran ini telah diilhami oleh Roh Suci, maka mereka telah berdosa melawan-Nya; oleh sebab itu, maka mereka tidak akan pernah dapat diampuni.

Demikianlah pekabaran dari William Miller adalah kegenapan dari nubuatan Henok -- juga suatu duplikatnya. Jika ini benar, maka harus terdapat suatu perbandingan yang tepat antara yang satu dengan yang lainnya. Sebagaimana Henok tidak sepenuhnya mengerti caranya “kedatangan Tuhan” itu, dan Yohanes Pembaptis tidak sepenuhnya mengerti akan sifat dari Kerajaan itu yang akan didirikan, maka demikian itu pula Miller telah salah menginterpretasikan “penyucian tempat kesucian”, sehingga telah memberitakan kedatangan Tuhan ke bumi gantinya kedatangan Tuhan ke tempat Yang Maha Suci di surga. Jika ada sebagian orang menuduh Miller sebagai seorang nabi palsu, mereka sama saja dapat menuduh Henok dan Yohanes demikian. Kebutaan dan penyimpulan-penyimpulan yang tergesa-gesa sedemikian ini adalah suatu usaha untuk menghancurkan seluruh Alkitab.

Kini timbul pertanyaan, Mengapa Allah membiarkan hamba-hamba-Nya tetap tinggal dalam kegelapan terhadap apa yang akan terjadi pada akhir dari pekabaran mereka itu? Ada beberapa alasan. Pekabaran Henok dan Pekabaran Miller adalah sama dengan pelopor dari kedatangan Kristus yang pertama. Pekabaran Yohanes adalah untuk mempersiapkan jalan bagi kedatangan Tuhan, dan bukan untuk menjelaskan keadaan dari kerajaan-Nya itu. Demikian pula halnya dengan Miller dan Henok. Alasan yang kedua. — Kalau saja kepada Yohanes telah diberikan terang bahwa kerajaan Kristus itu bukan berasal dari dunia ini, maka hal itu sudah akan menimbulkan perselisihan hebat di dalam di antara dia dan bangsanya. Oleh sebab itu, maka suatu masalah yang menimbulkan perdebatan seperti ini sudah akan menghancurkan pekerjaannya dan membuat pekabarannya itu menjadi tidak bermanfaat bagi umat Tuhan. Tetapi karena tidak ada argumentasi apapun terhadap apa yang telah diajarkannya kepada para pendengarnya maka ia itu telah meninggalkan para pemimpin Israel yang buta dosa itu tanpa dimaafkan lagi. Kalau saja mereka telah menyambut pekabarannya, lalu bertobat dari dosa-dosa mereka, maka pekabaran itu sudah akan membuka mata rohani mereka, sehingga kedatangan Dia yang Diurapi itu sudah akan menerangi sisa perjalanan mereka itu.

Di zaman Miller dunia Kristen tidak kurang bodohnya terhadap masalah tempat kesucian itu daripada bangsa Yahudi terhadap kerajaan Kristus. Oleh sebab itu kalau saja Miller telah diberikan terang mengenai tempat kemana Kristus akan datang pada akhir dari 2300 hari itu; yaitu, ke tempat Yang Maha Suci itu bagi sidang pehukuman terhadap orang-orang suci, pekabarannya sudah akan menimbulkan banyak argumentasi dan diskusi-

diskusi yang sia-sia. Dengan demikian waktu dan pemberitaan mengenai periode nubuatan itu sudah akan dilalaikan, dan semua usahanya dikacaukan. Tetapi dalam cara ia memberitakan pekabarannya itu ia tidak memberikan mereka kesempatan untuk bertengkar, sehingga karena musuh-musuh Allah tidak dapat menentang hasil interpretasinya terhadap Injil, dan karena mereka menolak untuk menaruh perhatian dalam apa yang diajarkannya, maka dibiarkanlah mereka itu tanpa maaf.

Demikianlah pekabaran malaikat yang kedua dari Wahyu 14 : 8, diberitakan segera setelah kekecewaan itu, Katanya, “Sudah rubuh, sudah rubuh Babil”. Artinya, dunia dalam tahun 1844 telah jatuh dalam keadaan yang sama seperti halnya dunia sebelum air bah. Dunia yang ada sekarang disebut Babil, sebab kerajaan Babil adalah kerajaan yang segera muncul sesudah air bah. Demikianlah Babil telah menjadi ibu dari segala bangsa.

Dunia kita berdiri pada waktu ini dalam tempat yang sama seperti halnya dunia menjelang air bah. Dunia Tua yang lalu itu dihukum karena menolak pekabaran dalam contohnya, demikian juga dunia Baru dalam contoh saingannya. Perhatikanlah betapa nyatanya kesamaan-kesamaan itu : Sesudah pemberitaan kabar-kabar baik itu (kedatangan Tuhan, oleh Henok) tegas-tegas dilalaikan oleh dunia Tua yang lalu dan persiapannya ditinggalkan, maka Nuh lalu mengumumkan dari hal akhir dunia dalam generasinya. Pekabaran oleh Miller telah disusul dengan pemberitaan yang sama seperti dari Nuh itu, sesuai yang diumumkan sesudah tahun 1844, yaitu “Akhir dunia dalam generasi ini”.

Sebagaimana telah dipahami bahwa Kristus akan datang ke bumi pada saat yang dinanti-nantikan, dan karena ajaran ini tetap tidak dapat dibantah bahwa kembalinya Anak Allah yang sudah lama diharapkan telah dekat, maka sudah seharusnya sangat menyenangkan bagi orang-orang yang mengakui nama Kristus sebagai satu-satunya Juruselamat dan Penebus mereka. Jika puji-pujian yang mereka ucapkan melalui bibirnya itu juga terdapat di dalam hati mereka, maka mereka sudah akan menyambut dengan gembira kabar-kabar baik itu lalu mempersiapkan segala-galanya bagi peristiwa yang termulia dalam segala sejarah itu. Tetapi karena mereka menolak untuk dipuaskan, mereka mengejeknya, dan dengan tegas menolak semuanya itu -- menunjukkan tabiat mereka yang sebenarnya dengan demikian menandai diri mereka sendiri sebagai kambing-kambing. Oleh karena kabar-kabar yang sangat ditinggikan dan yang sangat membesarkan hati dari hal kemuliaan surgawi itu ditolak, dan karena juru-kabarnya tidak disukai dalam kedua peristiwa itu (dunia Tua dan dunia Baru), adalah positif bahwa kebenaran apapun yang disampaikan, tanpa melihat luasnya ataupun kemuliaannya, para pengolok-olok ini yang ada sekarang tidak akan mau percaya, sehingga demikianlah mereka akan mendatangkan hukuman atas dirinya sendiri.

Sebagaimana Allah mengumumkan bahaya kepada dunia Tua yang lalu oleh khotbah-khotbah dari Nuh dalam generasi yang satu, demikian pula Ia mengumumkan kepada dunia dari hal nasib akhirnya dalam generasi ini. Sebagaimana jaminan telah disediakan sebelum air bah yang lalu bagi orang-orang yang ingin luput dari kebinasaan, maka demikian pula halnya Ia mengadakan usaha-usaha dan fasilitas-fasilitas bagi semua orang yang ingin menghindari diri dari bencana besar yang menantang dunia kita. Bukan untuk masuk ke dalam bahtera

yang dibangun oleh tangan-tangan manusia, bukan, bukan, karena itu hanyalah suatu lambang; tetapi ke dalam “banyak tempat tinggal” yang disediakan oleh Tuhan sendiri; bukan ke dalam sebuah bahtera yang mengapung-apung di atas air-air yang ganas; melainkan ke dalam rumah-rumah tinggal yang berdiri di atas pondasi-pondasi yang terdiri dari batu-batu yang berharga. Air bah yang mengerikan itu adalah contoh dari seribu tahun millenium yang gelap itu. Sebagaimana umat Allah yang setia telah diselamatkan di waktu itu, demikian pula mereka akan diselamatkan sekarang; tetapi orang-orang berdosa sekarang, kelak akan binasa seperti juga orang-orang berdosa di masa lalu. 

AIR BAH SUATU CONTOH DARI KEBINASAAN ORANG-ORANG JAHAT 

Jika air bah itu merupakan contoh dari millenium itu, dan generasi yang binasa pada waktu itu merupakan contoh dari generasi yang hidup sekarang, maka angka bilangan hari-hari yang terpakai dalam membinasakan dunia Tua yang lalu itu harus diperbandingkan terhadap pembinasaan dunia yang sekarang ini.

“Lalu Tuhan berfirman kepada Nuh, Masuklah engkau dan seluruh isi rumahmu ke dalam bahtera; karena engkau yang Ku lihat benar di hadapan-Ku dari antara generasi ini. Karena tujuh hari lagi, Aku akan menurunkan hujan kepada bumi ini empat puluh hari empat puluh malam lamanya; dan setiap mahluk hidup yang telah Ku jadikan itu akan Ku binasakan dari permukaan bumi. Maka Nuh melakukan segala perkara sesuai yang telah diperintahkan Tuhan kepadanya. Maka Nuh dan anak-anaknya, dan istrinya, dan istri-istri dari anak-anaknya, masuklah mereka ke dalam bahtera, karena air bah itu. Dan setelah tujuh hari berlalu, datanglah air-air dari air bah itu di permukaan bumi. Pada umur Nuh yang keenam ratus tahun, dalam bulan yang kedua, pada hari yang ketujuh belas dari bulan itu, pada hari yang sama itulah semua mata air dari tubir yang dalam pecahlah, dan segala pintu langit pun terbukalah. Maka hujan yang deras turunlah ke bumi empat puluh hari empat puluh malam lamanya. Maka adalah air bah itu di atas bumi empat puluh hari lamanya; dan segala air itupun bertambah-tambah, lalu diangkatnya bahtera itu, sehingga ia itu naik tinggi di atas bumi. Maka segala air itu menutupi bumi seratus lima puluh hari lamanya.” (Kejadian 7 : 1, 4, 5, 7, 10 – 12, 17, 24).

“Maka segala air itu baliklah dari atas bumi terus menerus : dan setelah akhir dari seratus lima puluh hari itu segala air itupun surutlah. Dan segala air itu terus menerus surut sampai bulan yang kesepuluh : dan dalam bulan kesepuluh, pada hari yang pertama dari bulan itu, kelihatanlah segala puncak gunung. Dan kemudian dari empat puluh hari, dibukalah oleh Nuh jendela bahtera itu yang telah dibuatnya sendiri : Lalu dilepaskannya seekor burung gagak, yang terbang pergi datang, sampai kekeringanlah air itu dari permukaan bumi. Juga dilepaskannya seekor burung merpati untuk melihat kalau-kalau air telah surut dari permukaan tanah; tetapi burung merpati itu tiada menemukan tempat bertengger, sehingga kembalilah ia kepadanya ke dalam bahtera, karena segala air itu masih ada pada permukaan seluruh bumi : lalu Nuh merentangkan tangannya, lalu diambilnya burung itu, dan dibawanya akan dia kembali

ke dalam bahtera. Lalu ia menunggu lagi tujuh hari lamanya; dan kembali ia melepaskan merpati keluar dari bahtera; Maka merpati itu kembali lagi kepadanya pada sore harinya; dan, heran, di dalam paruhnya terdapat sehelai daun zaitun yang dipetiknya : sehingga demikianlah diketahui oleh Nuh bahwa air sudah surut dari permukaan bumi. Lalu ia menunggu lagi tujuh hari lamanya; lalu dilepaskannya merpati itu, tetapi tiada burung itu kembali lagi kepadanya. Maka jadilah pada tahun yang keenam ratus satu, dalam bulan yang pertama, hari yang pertama dari bulan itu, keringlah segala air dari permukaan bumi : maka dibuka oleh Nuh tudung bahtera itu, lalu dilihatnya, dan sesungguhnya, permukaan tanah itu keringlah sudah. Lalu firman Allah kepada Nuh, katanya, Keluarlah dari bahtera itu, baik kamu, dan istrimu, dan anak-anakmu, dan istri-istri dari anak-anakmu itu sertamu.” (Kejadian 8 : 3, 5 – 13, 15, 16). 

Sesudah Nuh yang setia itu menyuarakan amaran kepada generasinya dan setelah ia menyelesaikan pembangunan bahtera itu, maka Allah memerintahkan kepada hamba-Nya untuk masuk ke dalam bahtera itu tujuh hari lamanya sebelum hujan mulai turun. Setelah ia, berikut semua yang akan pergi ke dalam bahtera itu memasuki kapal yang indah itu yang berada di atas tanah kering tanpa sedikitpun terlihat tanda-tanda bahwa kapalnya itu akan kelak memperoleh kesempatan mengapung, maka kemudian Tuhan menutup pintunya. 

Enam hari berlalu tanpa terlihat adanya tanda-tanda akan adanya sesuatu air bah, tetapi pada akhir dari hari yang ketujuh, maka curahan hujan dari atas dan desakan air dari mata-mata air dari bawah menghantam satu terhadap lainnya, maka ramalan Nuh itu mulailah dengan kegenapannya yang mengerikan dalam kehancuran terhadap tanah itu. Sementara segala air dari atas dan dari mata-mata air dari bawah menutupi permukaan bumi setinggi lima belas cubits (1 cubits = kira-kira 50 cm), dan membinasakan setiap benda yang hidup pada akhir dari empat puluh hari dan empat puluh malam itu, tiba-tiba sekaliannya itu berhenti; dari kegemparan menjadi tenang, dari amarah murka menjadi kedamaian, seolah-olah puas oleh penyelesaian kemenangan atas pendurhakaan melawan kebenaran dan keadilan. Selama seratus sepuluh hari air-air itu tidak naik dan juga tidak surut, tetapi tetap mempertahankan tingginya oleh suatu keajaiban. Setelah total keseluruhan seratus lima puluh tujuh hari digenapi semenjak dari hari Nuh memasuki bahtera, maka mulailah air-air itu surut; artinya, semua mata air dari tubir yang dalam membuka mulut-mulut mereka menelan air-air itu ke bawah ke dalam perut-perut bumi. 

Sekarang kita kembali untuk menjelaskan keruwetan Firman yang ternyata dalam pencatatan lamanya jangka waktu air bah itu dan terkurungnya mereka itu di dalam bahtera. “Pada tahun yang keenam ratus dari umurnya Nuh, dalam bulan kedua, pada hari yang ketujuh belas dari bulan itu, pada hari itu juga semua mata air dari tubir yang dalam pecahlah, dan segala pintu langit terbuka.” (Kejadian 7 : 11). Bulan kedua dan hari yang ketujuh belas dari bulan itu adalah tanggal dari tahun matahari (solar year) menurut kalender kuno dahulu sewaktu air bah yang mengamuk itu memulai hantamannya yang kejam terhadap setiap perkara yang hidup di atas bumi. Kemarahan alam yang sama inipun terus berlangsung dengan bengisnya empat puluh hari lamanya, dan setelah mencapai puncaknya dan menyapu bersih

semua penduduk tiba-tiba ia kembali tenang. Dengan menambahkan empat puluh hari kepada tanggal yang terdahulu itu akan terlihat bahwa hujan itu berhenti pada hari yang keduapuluh tujuh dari bulan yang ketiga. “Maka bahtera itu berhenti (tenang) dalam bulan yang ketujuh, pada hari yang ketujuh belas dari bulan itu, di atas pegunungan Ararat.” (Kejadian 8 : 4).

Oleh sebab itu, maka semenjak dari hari hujan mulai turun sampai kepada hari bahtera itu berhenti, (bukan di atas tanah, melainkan berhenti dari hanyut kesana-kemari) adalah tepat lima bulan. Inipun ada tercatat di dalam ayat tiga, “Dan segala air itu terus menerus kembali dari bumi : dan setelah akhir dari seratus lima puluh hari air-air itu surutlah.” Kenyataan ini membuktikan bahwa kalender bulanan kuno dahulu itu adalah terdiri dari tiga puluh hari untuk sebulan (5 x 30 = 150).

“Maka segala air itu surut terus menerus sampai bulan ke sepuluh : dan dalam bulan kesepuluh itu, pada hari yang pertama dari bulan itu terlihatlah puncak-puncak gunung.” (Ayat 5).  Artinya, sejak dari hari segala air itu surut sampai kepada hari gunung-gunung itu kelihatan, terdapat tujuh puluh empat hari. (13) untuk melengkapi bulan yang ketujuh, (30) dalam bulan kedelapan, (30) dalam bulan kesembilan, dan (1) hari sejak dari bulan kesepuluh = 74 seluruhnya. 

“Maka terjadilah dalam tahun yang keenam ratus satu, dalam bulan pertama, hari yang pertama dari bulan itu, keringlah segala air dari permukaan bumi.” (Ayat 13). Artinya, sejak dari hari puncak-puncak gunung terlihat sampai kepada hari segala air itu kembali ke tempatnya yang semula, terdapat sembilan puluh hari — (29) untuk melengkapi bulan kesepuluh, (30) dalam bulan kesebelas, (30) dalam bulan kedua belas, dan (1) hari sejak dari bulan pertama dari permulaan tahun baru itu, membuat seluruhnya berjumlah sembilan puluh hari.

Catatan berikut ini akan memberikan kepada kita angka bilangan hari-hari untuk mengeringkan permukaan bumi dan mengokohkannya dari pengaruh-pengaruh air : “Maka dalam bulan kedua, pada hari kedua puluh tujuh dari bulan itu keringlah bumi itu.” (Ayat 14). Oleh sebab itu, maka bumi telah menjadi kering dalam jangka waktu lima puluh enam hari sejak dari hari air-air itu diambil -- (29) hari untuk melengkapi bulan yang pertama, dan (27) dari bulan yang kedua, membuat keseluruhannya menjadi (56) hari.

Berikut ini adalah sebuah perincian dan suatu jumlah keseluruhan hari-hari itu : (40) selama hujan turun, 110 sampai kepada waktu air-air itu mulai surut, 164 hari bagi air-air itu masuk kembali ke dalam perut-perut bumi, dan (56) bagi bumi untuk mengering; menjadikan keseluruhan 370 hari; dan tujuh hari sebelum air bah itu mulai, mencapai jumlah keseluruhannya 377 hari -- dua belas bulan dan tujuh belas hari seluruhnya (30 hari untuk sebulan). 

Tentu saja tak seorangpun akan mengira bahwa pengaturan mengenai air bah ini berikut dengan jumlah hari-harinya yang tertentu itu bagi setiap tindakan telah disusun tanpa rencana oleh Allah yang adil dan penuh bijaksana itu. Mengapa Nuh dan keluarganya berikut semua mahluk hidup yang masuk ke dalam bahtera itu

[halaman kosong]

__ GAMBAR __

ditutup di dalamnya tujuh hari lamanya sebelum hujan dimulai? Itu tentunya tidak bijaksana dan kejam pada pihak Allah, juga terlalu mahal bagi Nuh, dan cukup berat bagi semua mahluk yang ada di dalam bahtera itu karena lamanya mereka terkurung di dalamnya jika ia itu tidak mempunyai objek pelajaran bagi generasi-generasi yang akan datang. Mengapa menghabiskan empat puluh hari untuk membanjiri bumi sementara Ia dapat saja melakukannya dalam waktu yang jauh lebih singkat? Mengapa memperpanjang kurungan mahluk-mahluk ciptaan-Nya itu di dalam bahtera, dengan menahan kebebasan air-air itu untuk kembali surut, dan memaksa segala air itu mempertahankan tingginya 15 cubits selama 110 hari? Atau mengapa tidak lebih atau kurang? Mengapa harus Ia membuat segala air itu naik ke atas dalam empat puluh hari, dan menghabiskan 164 hari (lebih dari empat kali lamanya) untuk kembali surut? Tidakkah ini bertentangan dengan alam? Bumi telah berada di bawah air selama lebih dari sepuluh bulan, dan karena derasnya tekanan air dari bawah dengan begitu keras telah membalikkan bentuk bumi ini, sehingga bumi telah menjadi tumpukan lumpur. Tetapi sesudah segala air itu turun ke dataran-dataran rendah, dan masuk ke dalam perut-perut bumi, maka Tuhan telah mengeringkannya hanya dalam lima puluh enam hari. Setiap perkara yang Allah lakukan dalam kaitannya dengan air bah itu adalah bertentangan dengan alam dan perhitungan maupun logika manusia. Adalah tidak dapat dibantah, bahwa demikian itulah telah direncanakan untuk menjadi sebuah objek pelajaran bagi orang-orang yang hidup di akhir zaman. 

Yang berikut ini tidak hanya akan membuktikan bahwa apa yang telah dikatakan itu benar, tetapi inipun akan menunjukkan bahwa tertutupnya pintu bahtera itu tujuh hari lamanya sebelum pembinasaan oleh air bah dimulai, adalah merupakan suatu contoh yang melambangkan jangka waktu sejak dari berakhirnya masa kasihan sampai kepada permulaan dari tujuh bela itu. Ini selanjutnya akan membuktikan bahwa hujan selama empat puluh hari dan empat puluh malam itu adalah sebuah contoh dari kebinasaan orang-orang jahat dalam bela-bela itu. 110 hari itu (sesudah hujan berhenti dan sebelum air-air itu surut) adalah sebuah contoh waktu dari orang-orang jahat, baik selama seribu tahun millenium maupun untuk selama seratus tahun kemudian. Juga bahwa bersihnya bumi dari segala air itu adalah merupakan contoh dari kebinasaan orang-orang jahat oleh api (kematian yang kedua) sesudah seribu tahun millenium itu, dan 56 hari itu dalam mana bumi telah menjadi kering ialah contoh dari pendinginan bumi setelah penyuciannya dari dosa dan orang-orang berdosa. 

Karena contoh-contoh yang disebut di atas itu adalah simbol-simbol dari enam periode peristiwa yang berbeda yang berkenaan dengan hari-hari, bulan-bulan dan tahun-tahun, tergantung pada kejadiannya, maka arti dari sekaliannya itu yang tepat tidak dapat ditentukan angkanya secara perbandingan, juga metode yang sedemikian ini tidak dapat membuktikan apapun juga dalam hal ini, juga belum menunjukkan Yang Maha Kuasa dalam menciptakan contoh itu. Oleh sebab itu, arti dari sekaliannya itu yang tepat akan didapat dengan cara memperkalikannya dengan angka-angka bilangan Alkitab yang mempunyai arti khusus untuk tepat dengan kejadian itu dan untuk memperluas gambaran itu. Juga pelajaran yang dapat ditarik melalui metode-metode yang sedemikian ini harus membuktikan tepat dan dalam keserasian yang sempurna dari setiap segi seseorang mungkin menggambarkannya; dengan demikian perkara yang satu menguatkan yang lainnya.

Oleh sebab itu, kita akan pertama-tama membicarakan tujuh hari itu (sejak dari Nuh memasuki bahtera sampai kepada permulaan air bah) yang mana telah kita tegaskan merupakan contoh (type) dari jangka waktu di antara berakhirnya masa kasihan dan permulaan dari bela-bela. Metode yang akan dipakai untuk mengungkapkan lamanya waktu pada periode tersebut adalah juga untuk menunjukkan bahwa masa kasihan bagi manusia, dan kelengkapan pemberitaan Injil telah berakhir. Satu-satunya angka bilangan Alkitab yang cocok yang dapat dipakai untuk menggambarkan kejadian-kejadian seperti ini maupun untuk mengungkapkan jumlah hari sejak dari peristiwa yang satu ke peristiwa lainnya, adalah angka bilangan tujuh. Oleh sebab itu, maka kita harus mengalikan contoh itu dengan angka bilangan Alkitab yang menunjukkan kelengkapan. Dengan demikian, maka 7 x 7 = 49 hari sejak dari berakhirnya masa kasihan sampai kepada permulaan bela-bela itu. Maka sebab itu, turunnya bela-bela itu akan merupakan pertanda kepada orang-orang jahat bahwa mereka sudah hilang! Oh, betapa besarnya kekecewaan itu bagi mereka, yang seperti halnya orang-orang zaman dahulu mengharapkan untuk diselamatkan, tetapi ternyata menemukan diri mereka hilang. 

Suatu hitungan dengan cara yang sama telah dipakai untuk menentukan tahun jobel. Tuhan berfirman : “Maka hendaklah kamu menghitung tujuh tahun sabat bagimu, yaitu tujuh kali tujuh tahun; maka jumlah tujuh tahun sabat itu kelak bagimu empat puluh sembilan tahun banyaknya.” (Imamat 25 : 8). Tahun yang kelima puluh selagi tanah itu diam juga merupakan contoh dari seribu tahun millenium (menunjukkan bahwa tanah itu akan memeliharakan satu sabat -- perhentian), suatu hitungan yang sama telah dipakai. Oleh sebab itu, pada permulaan dari seribu tahun itu ialah permulaan dari jobel (perayaan) dalam contoh saingannya. Dan karena tanah itu telah kembali kepada para pemiliknya yang sah dalam tahun jobel contoh itu, maka demikian itu pula kelak akan jadi dalam contoh saingannya -- dikembalikan kepada orang-orang suci. “Bangsamu juga akan menjadi benar; mereka akan mewarisi tanah itu selama-lamanya, yaitu tunas dari tanaman-Ku, hasil perbuatan tangan-Ku, supaya Aku kelak dimuliakan.” (Yesaya 60 : 21). 

Angka bilangan dan peristiwa berikutnya yang akan kita bicarakan ialah empat puluh hari dan empat puluh malam contoh selagi hujan turun, dalam perbandingan dengan contoh saingannya (kebinasaan orang-orang jahat selama masa bela-bela itu dan sampai kepada kedatangan Kristus yang kedua kali). Kebinasaan orang-orang jahat itu karena meliputi seluruh dunia kita harus mengalikan contoh itu dengan angka bilangan yang mengartikan universal, sehingga membuktikan bahwa kebinasaan itu akan meliputi empat penjuru mata angin. Telah dibuktikan sebelumnya, bahwa sepuluh adalah satu-satunya angka bilangan yang cocok; maka sebab itu, 40 x 10 = 400, dengan demikian menghasilkan jumlah seluruhnya 449 hari, atau satu seperempat tahun (lima belas bulan) sejak dari berakhirnya masa kasihan sampai kepada kedatangan Kristus menjemput umat kesucian-Nya. Kenyataan ini akan dibuktikan dari segi lain dalam kaitannya dengan penyelidikan yang lain. 

Karena dua bagian dari air bah itu (7 x 7 = 49 dan 10 x 40 = 400 hari) menghantarkan kita ke akhir dunia, maka bagian yang ketiga (110 hari itu selagi segala air itu mempertahankan tingginya lima belas

cubits di atas atau sejak dari saat hujan berhenti sampai kepada waktu segala air itu surut) harus diaplikasikan kepada seribu tahun millenium. Inipun karena meliputi universal, maka kembali kita wajib mengalikan angka sepuluh dengan contohnya, yaitu 110 x 10 = 1100. Millenium itu adalah 1000 tahun lamanya, dan 100 tahun pada seberang sananya (setelah kebangkitan orang-orang jahat sampai kepada kebinasaan mereka yang terakhir, lihat “Tongkat Gembala”, Jilid I, halaman 164, bahasa Inggris), membuat keseluruhannya menjadi 1100 tahun. Ini membuktikan bahwa 1100 hari yang berasal dari perkalian kita itu adalah secara nubuatan (sehari untuk setahun). Dengan demikian hari-hari contoh yang masih sisa dari air bah itu selagi air-air itu surut dan selagi bumi membersihkan dirinya dari air bah, harus berlaku terhadap kebinasaan yang terakhir orang-orang jahat dan terhadap penyucian bumi dengan api. 

Oleh sebab itu, jumlah hari-hari contoh itu secara nyata diaplikasikan begitu saja seperti halnya air bah itu sebagai berikut : Sejak dari hari air-air itu surut sampai kepada saat puncak-puncak gunung-gunung terlihat, terdapat tujuh puluh empat hari, dan sembilan puluh hari lagi sampai sekaliannya itu bersih, menjadikan seluruhnya 164 hari; dalam mana orang-orang jahat dan semua perbuatan mereka itu akan dibakar sampai menjadi abu. (Maleakhi 4 : 1). 

Sisa lima puluh enam hari (sementara bumi mengering) berlaku terhadap jangka waktu bumi mendingin; dan sebagaimana Nuh keluar dari bahtera, maka demikian itu pula orang-orang suci akan berjalan-jalan keluar dari Kota Suci itu lalu mewarisi bumi untuk selama-lamanya. “Maka kerajaan dan pemerintahan, dan kebesaran kerajaan di bawah seluruh langit, akan dikaruniakan kepada umat kesucian dari Dia Yang Maha Tinggi, yaitu yang kerajaan-Nya adalah kekal, dan semua pemerintahan akan berbakti dan mematuhi Dia. Sampai disinilah berakhir perkara itu.” (Daniel 7 : 27, 28). 

Tentu saja bahwa tak ada barang sesuatupun yang dapat cocok dengan sedemikian sempurnanya secara kebetulan. Tetapi bayangkanlah ramalan yang menakjubkan sedemikian ini dalam merencanakan suatu keajaiban seperti ini yang dapat mengungkapkan melalui suatu gambaran yang hidup masa depan yang beribu-ribu tahun jauhnya! Bukankah kenyataan-kenyataan seperti ini menunjukkan kasih Ilahi terhadap mahluk-mahluk yang sudah jatuh! Rasa syukur memancar keluar dari hati kita, kata-kata gagal mengungkapnya, kita hanya dapat mengatakan bersama-sama dengan Pemazmur : “Bahwa firman-Mu adalah pelita bagi kakiku, dan terang bagi jalanku. Aku telah bersumpah, maka aku akan melakukannya, bahwa aku akan memeliharakan segala hukum kebenaran-Mu.” (Mazmur 119 : 105, 106). 

Bukan hanya ajaib menciptakan sebuah pelita yang memancarkan terang dengan kemampuan lilin yang sedemikian mengherankan, tetapi juga adalah menakjubkan bagaimana mungkin Allah menyembunyikan keajaiban-keajaiban-Nya dari mata orang-orang bijaksana dan pandai. Kemudian pada saat pilihan-Nya sendiri Ia meletakkan sekaliannya itu di atas bukit-bukit yang tinggi dengan mana Ia dapat menerangi jalan dari para penyelidik kebenaran, dan oleh silau kekuatan cahayanya akan membutakan penglihatan orang-orang jahat. “Oleh sebab itu orang-orang yang tidak mengerti kelak akan jatuh.” (Hosea 4 : 14). “Bahwa terang ditaburkan kepada orang benar, dan kesukaan pun bagi orang yang tulus hatinya.” (Mazmur 97 : 11).

Allah kita dapat saja berbicara langsung kepada kita melalui perantaraan para nabi seperti di masa lalu, tetapi adalah tidak mungkin untuk meneruskan sama banyak terang kepada hanya satu generasi. Juga tidak mungkin kita dapat memahami pengertiannya seperti yang dapat kita pahami melalui sekalian contoh-contoh atau simbol-simbol ini. Juga karena mengetahui penipuan besar, ketidak- percayaan dan keragu-raguan orang-orang yang sombong yang akan bangkit, maka Ia telah menempatkan sekalian keajaiban ini di dalam Alkitab untuk menelanjangi kesalahan dan untuk mengungkapkan kebenaran, sehingga dengan demikian menjatuhkan musuh manusia itu; dan juga supaya membiarkan orang-orang munafik dan orang-orang yang tidak percaya tanpa suatu maaf. 

Sebagaimana setiap perkara yang hidup telah binasa dalam masa air bah yang lalu yang berada di luar bahtera, maka demikian itu juga dalam seribu tahun millenium yang gelap yang akan datang setiap perkara yang hidup akan kembali menjadi abu, terkecuali Iblis dan malaikat-malaikatnya. Walaupun orang-orang sedang mengajarkan suatu millenium yang penuh damai, namun ajaran mereka itu kelak akan sia-sia, dan mereka sendiri akan berada dalam kekecewaan besar terkecuali mereka bertobat. 

KESAMAAN AIR BAH DENGAN PASKAH DAN PENYALIBAN 

Allah kita telah memerintahkan kepada Nuh dan keluarganya, binatang-binatang, unggas-unggas, dan segala binatang melata supaya memasuki bahtera pada hari persiapan -- hari Jumat. “Pada hari yang sama itu juga Nuh masuk ..... seperti yang diperintahkan Allah kepadanya : lalu Tuhan menutup dia di dalam bahtera itu” karena Sabat sudah mulai, dan itulah hari kesepuluh dari bulan yang kedua. (Kejadian 7 : 13, 16). Tujuh hari kemudian, atau pada permulaan dari hari Sabat berikutnya, yaitu hari yang ketujuh belas dari bulan itu, maka “semua mata air dari tubir yang dalam pecahlah, dan pintu-pintu langit terbuka” lalu turunlah hujan ke atas bumi empat puluh hari empat puluh malam lamanya. Hujan itu berhenti pada hari yang kedua puluh tujuh dari bulan yang ketiga, dan hari yang keempat dari minggu itu — hari Rabu pada masuk matahari. Terdapat suatu kesamaan yang menyolok di antara air bah itu dan minggu paskah; juga dalam kaitannya dengan penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan Kristus. Oleh sebab itu, maka yang ditakdirkan Ilahi ini sepatutnya mendapatkan perhatian kita yang sungguh-sungguh. Orang-orang Israel diperintahkan untuk mengambil anak domba paskah itu lepas dari kawanannya pada hari yang kesepuluh dari bulan yang pertama, dan harus membunuhnya pada hari yang keempat belas dari bulan yang sama pada malam hari. (Keluaran 12 : 3, 6).

Karena Kristus telah disalibkan, dikubur, dan bangkit dalam minggu paskah, maka putaran mingguan itu dan kalender bulanannya terdapat kesamaan sebagai berikut : Hari kesepuluh dalam mana anak domba itu harus diambil dari kawanannya, jatuh pada Sabat hari yang ketujuh tahun itu; yang jatuh bersamaan dengan hari dari minggu dan bulan, dari hari pertama terkurungnya Nuh di dalam bahtera. Pada akhir dari hari ke empat belas dari bulan itu setelah Kristus melaksanakan perayaan paskah anak domba itu, Ia telah dibawa ke hadapan para imam; Ia mati pada hari Jumat hari yang keenam belas dari bulan itu, dikuburkan pada

permulaan hari yang ketujuh belas (Sabat), yaitu yang kesamaannya adalah dengan permulaan dari air bah, dan Ia bangkit pada hari yang kedelapan belas -- hari Minggu. Karena Ia telah naik ke surga empat puluh hari kemudian, maka ia itu jatuh pada hari Kamis hari yang kedua puluh tujuh dari bulan yang kedua; merupakan hari yang sama dari minggu itu, karena itulah yang menyusul setelah hujan empat puluh hari. Penjelasan kami sebelumnya telah menunjukkan, bahwa hari itu yang menyusul empat puluh hari hujan, dilukiskan dalam contoh (type), yaitu akhir dari dunia, yang disusul dengan berangkatnya orang-orang suci dari bumi. 

Kita mungkin saja tidak menduga bahwa Allah telah mengadakan semua peristiwa yang ada kesamaan-kesamaannya ini tanpa memikirkan sesuatu tujuan. Karena berhentinya hujan itu adalah suatu contoh waktu mengenai akhir dunia, demikian juga kenaikan Kristus bersama-sama dengan orang-orang yang dibangkitkan dengan Dia, adalah sebuah contoh dari kenaikan orang-orang suci pada kedatangan Tuhan. Inipun mengungkapkan bahwa kedatangan-Nya itu akan terjadi pada hari Rabu, dan kereta kemuliaan akan bertolak ke Surga segala langit itu pada hari Kamis. Kembali lagi diberitahukan kepada kita bahwa perjalanan orang-orang suci itu akan memakan waktu tujuh hari untuk sampai ke tahta Allah, dan bahwa kita akan beristirahat satu Sabat pada salah sebuah planet selama dalam perjalanan itu. Dari sini membuktikan bahwa Kristus akan datang di pertengahan minggu. Demikianlah kembali kita jumpai bahwa perkara yang satu membuktikan perkara yang lainnya. Kalkulasi-kalkulasi yang ketat sedemikian ini mengenai daftar rencana peristiwa-peristiwa yang tak lama lagi akan jadi itu, membuatnya menjadi nyata bahwa akhir dari segala perkara sudah dekat sekali; sebab jika tidak maka pemberitahuan ini belum akan dikeluarkan. 

Terang ini yang telah disampaikan melalui keajaiban-keajaiban dari peristiwa-peristiwa contoh (typical events), adalah suatu manifestasi yang jelas bahwa akan ada sebuah contoh (type) bagi setiap kejadian yang memiliki kepentingan utama bagi sidang Allah; yang merupakan satu-satunya pembuktian yang pasti dan penjelasan-penjelasan yang terang mengenai kejadian-kejadian takdir Ilahi. Karena tidak terdapat contoh bagi apa saja yang palsu, maka para guru yang memiliki teori-teori tanpa penyajian contoh bagi kebenaran-kebenaran Alkitab ajarannya, berikut orang-orang yang percaya kepada mereka itu, adalah bagaikan si buta memimpin yang buta. Contoh-contoh itu digunakan untuk membukakan kekeliruan dan mengungkapkan kebenaran. Orang-orang yang jujur akan meninggalkan Iblis dengan cara memeluk kenyataan-kenyataan, dan dengan cara berjalan dalam terang. 

Anak domba paskah yang dipisahkan dari kawanannya pada hari yang kesepuluh itu, ada kesamaannya dengan pemisahan orang-orang benar dari orang-orang jahat dalam dunia kuno yang lalu. Hari penguburan Kristus itu ada kesamaannya dengan hari permulaan dari air bah, juga dengan permulaan dari celaka-celaka itu; dan kenaikan-Nya ke surga ada kesamaannya dengan hari setelah hujan berhenti, juga dengan akhir dunia dan pengubahan orang-orang suci. Semua kesamaan ini adalah tepat dengan hari dari minggu dan dari bulan; tetapi yang satu adalah sebulan lebih dulu dalam musimnya daripada yang lainnya; paskah itu yang berada dalam bulan yang pertama, dan air bah itu dalam bulan yang kedua. Telah dijelaskan bahwa paskah itu merupakan contoh dari berakhirnya masa kasihan bagi

sidang, (lihat halaman 216 - 218, bahasa Inggris) dan penutupan pintu bahtera itu adalah contoh dari berakhirnya masa kasihan bagi dunia. Oleh sebab itu, maka terdapat tiga puluh hari contoh di antara berakhirnya masa kasihan yang satu dengan berakhirnya masa kasihan yang lainnya. Jika sekiranya kepada kita diberikan terang mengenai bagaimana menentukan angka dari sekalian 30 hari contoh ini, maka tampaknya akan terungkap jumlah-jumlah tahun yang tepat sejak dari kegenapan nubuatan Yehezkiel sembilan (Paskah), sampai kepada berakhirnya masa kasihan yang terakhir. Fakta ini barangkali tidak akan diberitahukan sampai sesudah pekerjaan Injil berakhir. Sebagai perincian singkat mengenai air bah itu dalam contoh dan contoh saingannya, kami meminta perhatian pembaca kepada gambar bagan pada halaman 250, bahasa Inggris. 

ARTI DARI BULAN PERTAMA DAN BULAN KEDUA 

Pekerjaan penghabisan bagi sidang adalah diartikan dengan bulan “pertama”, dan penuaian bagi dunia diartikan dengan bulan “kedua”. Karena kebenaran yang satu mengungkapkan yang lainnya, maka perhatian kita diarahkan kepada Yoel 2 : 23, 28, 29 : “Bersukacitalah kamu pada masa itu, hai anak-anak Sion, dan bergembiralah dalam Tuhan Allahmu : karena Ia telah mengaruniakan kepadamu hujan awal secukupnya, dan Ia akan menurunkan kepadamu hujan, yaitu hujan awal dan hujan akhir dalam bulan pertama. Maka akan jadi kelak sesudah itu, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku atas segala manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan anak-anakmu perempuan akan bernubuat, orang-orang tuamu akan memperoleh mimpi-mimpi, orang-orang mudamu akan melihat khayal-khayal : dan juga atas hamba-hamba laki-laki dan perempuan pada masa itu Aku akan mencurahkan Roh-Ku.” Perhatikanlah bahwa “hujan” itu datang lebih dulu dan curahan roh-Nya itu kemudian. Oleh sebab itu, maka hujan itu adalah masalah yang satu, dan curahan roh adalah masalah lain lagi. 

Dengan “hujan” dilambangkan terang besar atau Firman Allah yang akan mematangkan tuaian dan menerangi dunia dengan kemuliaannya — malaikat dari Wahyu 18 : 1. Curahan Roh ialah kuasa yang akan turun ke atas hamba-hamba Allah untuk memajukan pekerjaan yang dilambangkan oleh hujan awal dan hujan akhir itu. “Dan atas segala manusia” ialah Roh yang akan meyakinkan orang-orang yang jujur hatinya terhadap kebenaran dan membawa mereka itu ke dalam sidang, yang mana Pentakosta telah merupakan contohnya. “Maka lantai-lantai akan penuh dengan gandum, dan segala lemak akan mengalir bersama-sama dengan air anggur dan minyak” -- melambangkan suatu penuaian jiwa-jiwa yang besar yang akan dihimpunkan sebagai hasil dari “hujan” dan “Roh” itu. (Yoel 2 : 24).

“Hujan” itu turun dalam “bulan pertama”; yaitu, bulan yang dilambangkan oleh pekerjaan penghabisan bagi sidang -- masa pemeteraian mereka yang 144.000 itu. Oleh karena itu, maka dalam masa periode itulah (sebelum Yehezkiel 9) sebuah terang besar akan diungkapkan. Adalah penting sekali untuk dicatat tepatnya urut-urutan kata-kata itu pada masa pengaplikasiannya, yang membagi Firman kebenaran itu dengan jelas seolah-olah ia itu telah ditulis tepat pada waktu kata-kata nubuatan itu diungkapkan.

“Karena Ia telah mengaruniakan kepadamu hujan awal secukupnya” ialah terang kebenaran yang ditandai oleh hujan awal yang harus turun mendahului masa dari hujan akhir itu. Oleh sebab itu, maka hujan awal itu tak lain adalah tulisan-tulisan “Roh Nubuat”. Bukti selanjutnya dari hal ini akan diberikan pada bab yang lain. 

Tetapi catatlah bahwa turunnya hujan awal itu akan diulangi bersama dengan hujan akhir. “Dan Ia akan menurunkan bagimu hujan, yaitu hujan awal, dan hujan akhir dalam bulan yang pertama.” Oleh sebab itu, maka hujan awal (Roh Nubuat) akan turun pada kedua kalinya -- diungkapkan lebih sempurna lagi dalam masa “hujan akhir” -- pertama kali lepas dari hujan akhir, dan kedua kali bergabung dengan hujan akhir dalam “bulan pertama” (mendahului Yehezkiel 9). Pengertiannya adalah, bahwa kebenaran yang tercatat di dalam tulisan-tulisan “Roh Nubuat” itu belum sepenuhnya dipahami sampai pada masa hujan akhir. Demikianlah hujan awal itu datang kembali bersama-sama dengan hujan akhir, dan inilah yang akan menimbulkan “Seruan Keras” itu.

KAIN DAN HABEL

Suatu fakta yang menyolok lainnya seperti terlihat pada gambar bagan itu ialah kejahatan yang dibuat oleh Kain dalam membunuh adiknya Habel. Keduanya ini adalah dua bersaudara yang pertama dan pertikaian yang pertama mengenai agama, juga adalah pembunuhan yang pertama di dalam keluarga manusia, maka ini tentunya harus mengandung suatu pelajaran yang sangat penting. 

Menurut hukum Alkitab jabatan keimamatan harus dibentuk terdiri dari anak-anak yang pertama lahir di dalam setiap keluarga. Dengan demikian, oleh hak-hak hukum, Kain adalah imam. Tuhan sendiri telah menegaskan kenyataan ini sewaktu Ia berbicara kepada Kain dengan mengatakan : “Dan kepada engkau akan jadi keinginannya (bagian akhir, menjadi sasaran), dan engkau akan memerintah atasnya.” (Kejadian 4 : 7). Oleh sebab itu, maka kedua orang ini melambangkan dua kelas orang-orang. Karena kenyataan ini tidak mungkin dapat disangkal, maka Kain harus melambangkan suatu kelas kepemimpinan (imam-imam), dan Habel melambangkan keanggotaan sidang yang benar. Adalah Kain yang telah mendurhaka melawan Allah karena mempersembahkan suatu korban yang palsu, dan karena Habel mematuhi dan berbakti sesuai dengan cara yang diperintahkan oleh Khalik, maka ia telah menimbulkan kebencian kakaknya itu.

Jika pernyataan bahwa Kain dan Habel melambangkan dua kelas orang-orang ini benar, maka ini harus dibuktikan dari kenyataan-kenyataan sejarah. Kami telah menegaskan bahwa Kain yang melambangkan kepemimpinan itu telah menganiaya dia yang melambangkan keanggotaan sidang yang benar. Dengan demikian setiap bagian dari sidang Allah telah mendurhaka melalui kepemimpinan sidang yang tidak benar, dan setiap pekabaran yang menyerukan reformasi telah diperlakukan demikian, oleh mereka, yang melemparkannya keluar dari sidang. Dalam kebutaan mereka itu mereka telah berketetapan hati untuk tetap mempertahankan umat bodoh terhadap kebenaran

dan demikianlah mereka menganiaya semua utusan dan orang-orang yang memeluk pekabaran itu dan yang mematuhi kebenaran. Oleh sebab itu, maka telah timbul pergerakan demi pergerakan yang diperlukan. Betapa menakutkan pendapat ini bagi mereka yang memikul tanggung jawab yang besar ini! Dan betapa bahayanya bagi kelas orang-orang yang membiarkan orang-orang lain berpikir dan bertindak bagi mereka! Kelas orang-orang yang menyambut keputusan-keputusan orang-orang lain, apakah itu bagi kebenaran ataupun melawan kebenaran, mereka adalah tertipu dan terampas dari kehidupan kekalnya, karena mereka tidak mungkin memiliki pengalamannya sendiri, tidak mungkin memiliki pertobatan yang benar, tidak ada perubahan hati. Saudara-Saudaraku : kata-kata ini bukanlah melawan kamu, karena adalah Allah yang sedang berbicara melalui firman kebenaran-Nya untuk menyelamatkan kamu dari dalam lubang yang tak terduga dalamnya itu. Maukah Anda membiarkan Dia bekerja bagimu dan bagi umat-Nya? Tidak maukah Anda menjadi domba-domba-Nya?

* * *

KAABAH YANG PERTAMA DAN YANG KEDUA ---

CONTOH DAN CONTOH SAINGAN 

Rasul Paulus dalam berbicara memperbandingkan kaabah Salomo dengan sidang, ia menunjuk kepada Kristus sebagai “batu penjuru yang utama; dalam Dia seluruh bangunan telah dirangkai bersama-sama dengan kokoh” katanya “bagi suatu tempat tinggal Allah oleh perantaraan Roh”. (Efesus 2 : 20 – 22). Daud, yang memandang ke depan secara nubuatan kepada pembangunan kaabah yang pertama oleh anaknya, dan juga mengenai pengaplikasiannya kepada sidang Kristus, mengatakan : “Adapun Batu yang ditolak para tukang itu akan menjadi batu penjuru utama. Ini adalah perbuatan Tuhan; ia itu menakjubkan pada penglihatan kita.” (Mazmur 118 : 22, 23). 

Berbicara mengenai kaabah kuno itu Injil mengatakan : “Adapun rumah itu, pada waktu ia itu dibangun, telah dibangun dari batu-batu yang telah siap sebelum ia itu dibawa ke sana, sehingga tiada kedengaran bunyi pemukul atau kapak atau perkakasan besi dalam rumah itu, selama ia itu dibangun.” (1 Raja-Raja 6 : 7). Sebuah batu yang istimewa yang telah disiapkan untuk mengokohkan penjuru utama dari kaabah itu, telah ditolak; dan walaupun para tukang menolak “batu utama” rumah itu, Pemazmur mengatakan : “Ini adalah perbuatan Tuhan; ia itu menakjubkan pada pemandangan mata kita.” Oleh penolakan terhadap “batu” itu, maka Tuhan memberikan contoh (type), dan demikianlah dinubuatkan penolakan terhadap diri Kristus oleh bangsa Yahudi. (Lihat Kisah Para Rasul 4 : 10, 11). Karena Yesus mengatakan : “Batu yang ditolak oleh para tukang itu, batu yang sama itu menjadi (batu) penjuru utama.” (Matius 21 : 42). Oleh sebab itu, jika ia itu akan menjadi batu penjuru utama, maka jelaslah bahwa kaabah yang pertama itu merupakan lambang dari sebuah rumah Rohani, dan sebuah contoh dari sidang Kristen; Kristus sendiri dilambangkan oleh batu penjuru utama itu “yang ditolak oleh para tukang”, sebagai kepala maupun pendiri dari sidang Kristen. 

KAABAH YANG KEDUA 

Dalam mendirikan kaabah yang kedua itu, Hagai dan Zakharia menubuatkan dan menguatkan tangan-tangan orang banyak itu dengan Firman Allah. Tulisan-tulisan dari kedua nabi itu membuktikan dalam setiap baris, bahwa kegenapan yang tepat dari nubuatan mereka itu akan direalisasikan di akhir zaman dari sejarah dunia ini. Sebagaimana mereka telah menjalin

ramalan-ramalan ini dengan pendirian dari kaabah yang kedua itu, maka jelaslah bahwa model yang nyata dari bangunan yang megah itu mempunyai arti rohani bagi sidang dalam pekerjaan Injil yang penghabisan. Zakharia, yang memandang ke depan kepada masa dari kaabah rohani itu (bagian yang terakhir dari sidang) dan pembangunannya, mengatakan : “Tengoklah orang yang bernama pucuk itu; maka ia akan bertumbuh keluar dari tempatnya, dan ia akan membangun kaabah Tuhan : bahkan ia akan membangun kaabah Tuhan itu; dan ia akan memikul kemuliaan, dan ia akan duduk dan memerintah di atas tahtanya; dan ia akan menjadi imam di atas tahtanya : dan pembicaraan damai akan ada di antara keduanya. Maka mereka yang jauh akan datang dan akan membangun di dalam kaabah Tuhan, dan akan diketahui olehmu kelak bahwa Tuhan serwa sekalian alam telah mengutus aku kepadamu.” (Zakharia 6 : 12, 13, 15). 

“Ia akan memikul kemuliaan”. Kristuslah yang berhak atas kemuliaan penebusan bagi bangsa manusia yang jatuh. “Bagi Dia yang mencintai kita, dan yang telah membasuh kita dari dosa-dosa kita dalam darah-Nya ..... kepada-Nyalah kemuliaan dan pemerintahan sampai selama-lamanya.” (Wahyu 1 : 5, 6). Ia “akan duduk dan memerintah di atas tahta-Nya; dan Ia akan menjadi imam di atas tahta-Nya.” (Zakharia 6 : 13). “Kristus, yaitu saksi yang setia itu, dan yang sulung dari orang-orang mati, dan Penghulu atas segala raja di bumi.” (Wahyu 1 : 5). “Ia akan menjadi Imam di atas tahta-Nya”. Jelaslah bahwa masa yang diramalkan itu adalah pada sesuatu waktu sesudah penyaliban dan sebelum masa kasihan berakhir; karena Ia adalah “seorang imam”. Kristus, “pucuk itu”, “kelak akan tumbuh keluar dari tempat-Nya”; artinya, Ia akan muncul keluar dari bangsa Yahudi, “dan Ia akan membangun kaabah Tuhan”. Oleh sebab itu, maka kaabah yang “Ia akan bangun” itu tidak mungkin berupa kaabah biasa di Yerusalem kuno dahulu, karena itu adalah sebuah kaabah yang akan dibangun-Nya sesudah kelahiran-Nya. “Maka mereka yang jauh-jauh akan datang dan membangun di dalam kaabah Tuhan”. Karena ini adalah tidak benar bagi kaabah yang biasa, maka kata-kata itu harus berlaku terhadap kaabah contoh saingan. Pada waktu itu nabi mengatakan : “Maka banyak bangsa akan diikutsertakan kepada Tuhan pada hari itu, dan mereka akan menjadi umat-Ku.” (Zakharia 2 : 11). “Pada hari itu”; artinya, dalam masa “Seruan Keras”, suatu rombongan besar orang-orang akan bertobat kepada sidang. Di dalam pasal 13 ayat 8, dikatakan, bahwa sepertiga dari penduduk akan “datang”, dan mereka itu ialah orang-orang yang akan “membangun di dalam kaabah Tuhan”, yang contohnya ialah kaabah yang sebenarnya itu. 

Zakharia kemudian menyaksikan kekuatan-kekuatan yang telah  “mencerai-beraikan Yehuda, dan Yerusalem” (contoh juga contoh saingan), yang dilambangkan dengan “empat tanduk”. Segera kemudian daripada itu ia menyaksikan tanduk-tanduk yang sama itu juga bagaikan empat tukang kayu (bacalah Zakharia 1 : 18 – 21), yang melambangkan perantara-perantara yang digunakan Tuhan dalam mengembalikan umat-Nya dan rumah peribadatan-Nya, keduanya dalam contoh dan contoh saingan; artinya, orang-orang Kapir yang telah mencerai-beraikan sidang akan juga datang dan membangun sidang itu.

PERBEDAAN ANTARA BIASA DAN ROHANI DI ANTARA KEDUA KAABAH ITU

Upacara-upacara ibadah di dalam kedua kaabah itu telah dilaksanakan dengan cara yang sama, tetapi dalam keindahan susunan bangunan, baik sebelah dalam maupun di luarnya, kaabah Salomo secara perbandingan, adalah jauh lebih besar. Tetapi Tuhan melalui mulut nabi Hagai, telah bertanya kepada orang-orang yang pada masa itu terlibat dalam pembangunan rumah Allah itu : “Siapakah yang masih ada di antara kamu yang pernah menyaksikan rumah ini (kaabah Salomo) dalam kemuliaannya semula? Dan bagaimanakah kamu melihatnya sekarang? Bukankah pada pemandangan matamu sama sekali tak ada apa-apanya diperbandingkan kepada rumah itu? Kemuliaan dari rumah yang terkemudian ini akan menjadi lebih besar daripada yang semula, demikianlah firman Tuhan serwa sekalian alam : dan di tempat ini Aku akan memberikan perdamaian, demikianlah firman Tuhan serwa sekalian alam.” (Hagai 2 : 3, 9). 

Keindahan lahiriah dari kaabah yang kedua dalam perbandingannya terhadap kaabah yang pertama adalah “bagaikan tak ada apa-apanya”, tetapi Firman mengatakan : “Kemuliaan dari rumah yang terkemudian ini kelak akan menjadi lebih besar daripada yang terdahulu.” Sesungguhnya secara lahiriah ini tidak benar. Oleh sebab itu, maka kemuliaan dari kedua kaabah ini dalam perbandingan satu terhadap lainnya, bukanlah dalam keadaan sebenarnya, yaitu bentuk lahiriahnya, melainkan sebaliknya dalam contoh rohani berdirinya. Dengan sendirinya, maka kedua kaabah itu tidak mungkin merupakan contoh untuk masa periode yang sama dari sejarah Kristen, karena yang satu secara menyolok berbeda daripada yang lainnya. Karena memang demikian halnya, maka contoh itu menunjukkan bahwa sidang Kristen dalam peristiwa ini terbagi dalam dua bagian. Jadi dengan demikian, maka dalam contoh kaabah yang kedua menunjukkan bahwa bagian yang terkemudian dari sidang kelak akan menjadi jauh lebih besar, dan tak tertandingi oleh yang pertama itu. 

Kedua bagian ini dari sejarah sidang juga ditunjukkan dalam khayal di Patmos. Kepada Yohanes telah diperlihatkan Sidang Kerohanian Allah yang benar pada segala zaman dalam lambang seorang perempuan. Kepadanya telah dikaruniakan dua buah sayap burung garuda yang besar supaya ia dapat terbang ke dalam padang belantara 1260 hari (tahun) lamanya. Padang belantara itu melambangkan zaman kegelapan, selama mana ia tidak berperadaban (sejak dari tahun 538 TM sampai tahun 1798 TM). Oleh karena itu, masa periode nubuatan 1260 tahun ini telah membagi sidang yang benar itu dalam dua bagian; yaitu, semenjak dari penyaliban sampai tahun 538 TM dan semenjak dari tahun 1798 TM sampai kepada akhir sejarah. Dengan demikian bagian yang pertama, atau sebagaimana yang disebut sidang rasul-rasul itu, adalah dilambangkan dengan contoh kaabah yang pertama; dan bagian yang terakhir dengan contoh kaabah yang kedua. Ini bukanlah berarti bahwa Allah tidak mempunyai umat yang benar di antara tahun 538 TM dan tahun 1798 TM, karena Firman mengatakan, “Ia dipeliharakan selama satu masa, dan dua masa, dan setengah masa.” (Wahyu 12 : 14). Pelajaran yang diajarkan di sini adalah bahwa, bagian sidang yang pertama dalam beberapa abad yang pertama telah diberkahi dengan Sabat yang benar — “yang sehari-hari” — dan kebenaran tempat kesucian; tetapi menjelang tahun 538 TM kebenaran itu telah “diinjak-injak di bawah kaki”. (Daniel 8 : 12, 13). Bagian kedua dari sidang sesudah kegenapan masa periode 1260 tahun itu menunjukkan bahwa ia akan kembali diberkahi dengan kebenaran yang telah  “dicampakkan ke

tanah” itu, maka reformasi yang terjadi di antara kedua bagian sidang ini (sejak dari tahun 538 – 1798), atau “perempuan”, ialah untuk mempersiapkan jalan bagi perempuan itu kembali, atau bagi pengembalian kebenaran itu. Karena kedua kaabah, oleh mana kedua bagian ini dari sidang telah dilambangkan dengan contoh, adalah melambangkan suatu perbaktian dengan kebenaran Sabat dan kebenaran tentang tempat kesucian. 

KAABAH YANG PERTAMA SECARA LAHIRIAH ADALAH LEBIH BESAR, TETAPI KAABAH YANG KEDUA SECARA ROHANIAH ADALAH LEBIH BESAR 

Terdapat sesuatu kemuliaan bersama dengan kedua kaabah itu; dan kebesaran dari kaabah yang satu adalah “tak berarti” diperbandingkan dengan kaabah yang lainnya. Kaabah yang pertama secara lahiriah melebihi kaabah yang kedua, tetapi kaabah yang kedua secara rohaniah melebihi kaabah yang pertama; namun karunia kemuliaan bagi keduanya itu tidak ada tandingannya. Karena yang satu melambangkan sidang Kristen yang mula-mula, dan yang lainnya melambangkan bagian yang terakhir dari sidang yang sama, maka jelaslah bahwa kedua bagian itu diberkahi dengan kemuliaan besar; tetapi kemuliaan dari sidang yang mula-mula itu adalah secara lahiriah, dan kemuliaan sidang yang terakhir adalah rohaniah, sesuai dengan contoh-contoh itu.

Sidang Kristen yang mula-mula secara lahiriah adalah lebih besar, sebab Kristus, “batu penjuru Utama” itu, telah muncul pada waktu itu dalam bentuk manusia-Nya yang dapat dilihat. Dengan demikian kemegahan lahiriah dari kaabah Salomo itu merupakan simbol yang tepat! Tetapi contoh mengungkapkan bahwa kemuliaan dari sidang yang mula-mula itu adalah bagaikan tak ada apa-apanya dibandingkan dengan bagian yang terakhir dari sidang yang sama. Oleh sebab itu, maka kehadiran Kristus yang dapat dilihat (dalam bentuk manusia-Nya) dalam sidang yang mula-mula itu, adalah bagaikan tak ada apa-apanya dibandingkan dengan kehadiran-Nya yang tak kelihatan dalam pekerjaan penghabisan dari sidang Injil!

Kita memikirkan tentang keajaiban-keajaiban yang menakjubkan — pengusiran keluar segala Iblis, penyembuhan orang-orang sakit, dan dibangkitkannya orang-orang mati! Kita heran karena kita membayangkan akan kebangkitan-Nya, kenaikan-Nya, dan mengenai pertunjukan yang menakjubkan pada hari Pentakosta yang lalu! Tetapi semua keajaiban ini akan kelak bagaikan tak ada artinya diperbandingkan dengan manifestasi-manifestasi Ilahi yang lebih besar keindahannya dalam masa penuaian yang akan datang!

Janganlah kita mengira bahwa apabila Kristus kelihatan di dalam awan-awan segala kelemahan orang-orang suci akan disingkirkan. Pekerjaan ini harus sudah terlaksana mendahului masa itu, setelah mana hidup kekal akan dikaruniakan. “Barangsiapa yang percaya dalam Aku, maka segala perbuatan yang Ku lakukan, ia pun akan lakukan; maka pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari ini akan dilakukannya”, demikianlah kata Yesus. (Yohanes 14 : 12). Kegenapan yang sempurna dari semua kata-kata ini masih akan datang dan harus digenapi sebelum kedatangan-Nya yang kedua kali. “Karena keadaan yang akan binasa ini akan memakaikan keadaan yang tiada akan binasa, dan peri yang akan mati ini akan memakaikan peri yang tiada akan mati. Dengan demikian apabila keadaan yang akan binasa ini sudah memakai keadaan yang tiada akan binasa, dan peri yang akan mati ini sudah memakai peri yang tiada akan mati, maka kelak genaplah perkataan yang tertulis, Maut sudah ditelan dalam kemenangan”. (1 Korintus 15 : 53, 54).

Oleh sebab itu, maka selama masa “Seruan Keras” itu, keajaiban-keajaiban akan dibuat — orang-orang sakit akan disembuhkan, mata dari orang-orang buta dicelekkan, orang-orang tuli akan mendengar, lidah orang-orang yang bisu akan dilepaskan, dan orang-orang timpang akan meloncat-loncat kegirangan! Alangkah mulianya pemandangan itu! Orang-orang yang belum pernah sebelumnya melihat terang, akan memandang kemuliaan Tuhan! Mereka yang belum pernah sebelumnya mendengar sesuatu bunyi, kini mereka mendengarkan kemuliaan alunan bunyi kecapi malaikat-malaikat, dan suara nyanyian-nyanyian orang-orang suci! Betapa menggetarkan! Betapa bahagianya! “Maka Allah akan menghapuskan semua air mata mereka itu; dan tidak akan ada lagi kematian, ataupun kesusahan, ataupun tangisan, juga tidak akan ada lagi rasa sakit : karena segala perkara yang dahulu itu akan berlalu.” (Wahyu 21 : 4).

“Tengoklah, aku menunjukkan kepadamu suatu rahasia; bahwa kita tidak akan mati semuanya, tetapi kita sekalian akan diubahkan, dalam sesaat saja, dalam sekejap mata, pada bunyi sangkakala yang terakhir; karena sangkakala itu akan berbunyi, dan segala orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tiada akan binasa, dan kita ini akan diubahkan. Karena keadaan yang akan binasa ini harus memakaikan keadaan yang tiada akan binasa, dan peri yang akan mati ini akan harus memakaikan peri yang tiada akan mati ..... Maka kelak genaplah perkataan yang tertulis, Maut sudah ditelan dalam kemenangan.” (1 Korintus 15 : 51 – 54).

Setelah orang-orang suci yang hidup itu menyaksikan orang-orang mati dari segala zaman bangkit keluar dari tempat-tempat tidur tanah mereka, maka ia itu akan mendatangkan kesukaan yang tak tergambarkan. Kemudian memandang kepada teman-teman dan para kekasih sewaktu mereka saling bertemu satu dengan lainnya, yang berpakaikan kemuliaan yang tiada mati, sambil berbaris melalui angkasa melewati planet-planet yang tidak berdosa, dan akhirnya memasuki Surga dari segala langit itu! Betapa mulianya barisan orang-orang yang tidak berperi kematian itu -- orang-orang suci dan malaikat-malaikat, dan Raja atas segala raja, Tuhan atas segala tuan, “Bapa yang kekal, dan Penghulu perdamaian itu”, yang ada di tengah-tengah mereka itu! Secepatnya terbang dari bumi yang terkutuk dosa ini ke Pusat dari segala pusat itu hanya dalam “tujuh” hari lamanya, sementara ia itu akan memakan berjuta-juta tahun kecepatan “cahaya” untuk membuat perjalanan yang jaraknya sedemikian tidak masuk akal! Dapatkah anda memahami suatu objek yang bergerak dengan kecepatan yang sedemikian luar biasa! Dijauhkan Allah kiranya daripada kita agar tidak kita merampas dari diri kita kemuliaan yang sedemikian ini. Sejam saja lamanya tinggal di dalam surga, tanpa dosa, sakit atau air mata, takut ataupun kematian, adalah jauh lebih berharga daripada seribu tahun lamanya di dalam tenda-tenda yang penuh kejahatan.

Saudara-Saudaraku, untuk mematuhi Firman Allah, dan berlaku benar terhadap prinsip bagi kebaikanmu sendiri, adalah bukan permintaan yang terlalu banyak dari padamu. Maukah anda merelakan kepentingan diri sendiri dan dosa merampok dari padamu sebuah mahkota kehidupan? Kepintaran manusia anda dan pengetahuan dunia anda akan membuktikan sama hitamnya dengan kegelapan itu sendiri, jika anda membiarkan musuh yang penuh tipu itu merampok anda dari kebahagiaan surga itu yang seharusnya menjadi milik anda sepanjang segala zaman kekekalan.

Walaupun sidang Kristen yang mula-mula telah menderita aniaya yang begitu hebat, ia telah berkembang dengan menakjubkan. Tiga ribu orang yang bertobat pada hari Pentakosta “dari yang sedemikian yang akan diselamatkan”, adalah menakjubkan untuk dipandang. Tetapi kecepatan pertumbuhan dari bagian pertama dari sidang itu, diperbandingkan dengan bagian kedua yang terakhir itu akan tak berarti

apa-apa, sesuai dengan contohnya. Oleh sebab itu, maka inipun dibuktikan melalui nubuatan Firman Allah oleh perantaraan nabi Zakharia, dan karena ramalan ini telah dikaitkan dengan pembangunan kaabah yang kedua, atau dengan contoh dari bagian yang kedua dari sidang, yang sedang kita bicarakan pada waktu ini, maka pengaplikasian dari Firman berikut ini harus tepat :

“Bersorak-soraklah dan bersukacitalah, hai puteri Sion : karena, sesungguhnya, Aku datang, dan Aku hendak tinggal di tengah-tengahmu, demikianlah firman Tuhan. Maka pada hari itu banyak bangsa akan bergabung kepada Tuhan, dan akan menjadi umat-Ku : dan Aku akan tinggal di tengah-tengah kamu.” (Zakharia 2 : 10, 11). “Demikianlah, banyak orang dan bangsa-bangsa yang kuat akan datang mencari Tuhan serwa sekalian alam di Yerusalem (sidang tanpa menunjukkan tempat), dan untuk berdoa ke hadapan Tuhan.” (Zakharia 8 : 22). “Oleh karena itu segala pintu gerbangmu akan terbuka selalu : baik siang baik malam tiada ia itu tertutup; supaya dibawa masuk oleh orang-orang ke dalammu tentara-tentara (batas, kekayaan) dari orang-orang Kapir, dan supaya raja-raja mereka itu dapat dibawa.” (Yesaya 60 : 11). “Maka akan jadi kelak, bahwa di seluruh tanah itu, demikianlah firman Tuhan, dua bagian dari padanya akan ditumpas dan mati; tetapi bagian yang ketiganya akan tertinggal kepadanya. Maka sepertiga bagian itu akan Ku bawa melalui api, dan menyucikannya seperti akan perak yang dibersihkan, dan menguji mereka itu seperti emas yang sudah teruji : mereka akan memanggil nama-Ku, dan Aku akan mendengarkan mereka : Aku akan mengatakan, Inilah umat-Ku : dan mereka akan mengatakan, Tuhan adalah Allahku.” (Zakharia 13 : 8, 9).

Apalah artinya tiga ribu orang bertobat dalam sehari diperbandingkan dengan sepertiga orang banyak yang diselamatkan dari generasi yang ada sekarang ini! Yang dikumpulkan selama jam-jam terakhir dari masa kasihan! Maka benarlah dapat dikatakan, bahwa kemuliaan dari kaabah yang pertama, atau bagian pertama dari sidang itu, adalah tak ada apa-apanya diperbandingkan dengan yang kedua. Bagian yang terakhir dari sidang dalam masa “seruan keras” adalah benar-benar masa penuaian dan akhir dunia.

Sidang Kristen yang mula-mula adalah sebuah sidang yang benar yang bertobat; walaupun demikian, lalang-lalang dan gandum akan bertumbuh bersama-sama “sampai kepada penuaian”. (Matius 13 : 30). Kata-kata, “sampai kepada penuaian” itu, tidak mungkin keliru; oleh sebab itu, maka pada permulaan penuaian itu pemisahan akan terjadi. Dengan demikian sidang dalam masa “seruan keras” itu akan menjadi sebuah sidang yang suci dan murni, tiada bercacad, atau berkerut, ataupun sesuatu yang sedemikian ini : yaitu sebuah sidang yang tidak terdapat tipu di dalamnya. Jika pernyataan yang di atas ini benar maka yang sedemikian itu harus ditemukan di dalam nubuatan Firman Allah.

Saudara-Saudaraku saya menghimbau kamu supaya mendengarkan suara Gembala yang Baik itu : “Bangunlah, bangunlah; kenakanlah kuatmu, hai Sion; kenakanlah segala pakaianmu yang indah-indah, hai Yerusalem, kota suci : karena mulai sekarang (sejak dari sekarang dan seterusnya) tidak akan lagi masuk ke dalammu orang yang tidak bersunat dan yang najis. Kebaskanlah abu dari padamu; bangunlah, dan duduklah di atas tahtamu, hai Yerusalem : lepaskanlah dirimu dari tali-tali pengikat

lehermu, hai puteri Sion yang tertawan.” (Yesaya 52 : 1, 2; A.R.V). Karena semua perkataan ini adalah demikian jelasnya, maka bagaimanakah dapat kita meragukan, atau salah mengartikan pengertiannya? -- Ia itu tentunya adalah bahwa sidang Allah sedang tidur di dalam abu! Allahmu sedang memanggil kamu, hai Sion. Sidang Allah, “satu-satunya objek di bumi pada mana Ia menaruh perhatian-Nya yang tertinggi” sedang berada dalam tawanan; ia sedang terikat “leher”nya oleh “orang-orang yang fasih lidah dan yang berbicara menarik”. Dengarkanlah kata-kata Firman Allahmu, hai Sion; bangunlah dan duduklah di atas tahtamu karena kamu harus mengadili segala bangsa. Mengapakah menjadikan daging sebagai peganganmu? Tidakkah Allahmu mampu untuk menyelamatkan kamu? Bukankah “Firman Allahmu itu hidup, dan berkuasa, lebih tajam daripada pedang yang bermata dua, yang menusuk sampai membelah memisahkan jiwa dan roh, dan yang memperhatikan pikiran orang dan maksud-maksud hati?” “Karena sebab Sion tiada Aku hendak berdiam diri-Ku, dan karena sebab Yerusalem tiada Aku hendak berhenti beristirahat, sampai kebenarannya terbit seperti cahaya terang, dan keselamatannya seperti lampu yang bernyala.” Saudara-Saudaraku, “berjalanlah, berjalanlah melalui pintu-pintu gerbang; persiapkanlah olehmu jalan bagi orang banyak; bukalah, bukalah jalan raya; singkirkanlah semua batu; tinggikanlah sebuah panji-panji bagi orang banyak itu.” (Yesaya 62 : 1, 10). 

“Orang-orang Israel yang lagi tinggal (mereka yang 144.000 itu) tiada lagi akan berbuat jahat, ataupun berbicara bohong; dan lidah penipuan tiada lagi terdapat di dalam mulut mereka : karena mereka itu akan makan dan berbaring, dan seorangpun tiada lagi yang menakut-nakuti mereka itu.” (Zefanya 3 : 13). “Pada hari itu akan terdapat pada lonceng-lonceng yang tergantung pada kuda-kuda (mereka yang membawa Injil), kesucian bagi Tuhan; dan semua bejana (dalam pemilikan mereka ialah kebenaran) di dalam rumah Tuhan akan jadi seperti bejana-bejana yang di depan mezbah (suci dan tidak tercemar). Ya, setiap bejana di Yerusalem (sidang) dan di Yehuda (bagian terkemuka dari sidang) akan menjadi suci bagi Tuhan serwa sekalian alam; maka semua mereka yang mempersembahkan korban (persembahan) akan datang dan mengambil dari padanya, dan memandang di dalamnya (mereka yang melayani dalam perkara-perkara yang suci), dan pada hari itu tidak akan ada lagi orang Kanani (orang yang tidak bertobat) di dalam rumah Tuhan serwa sekalian alam.” (Zakharia 14 : 20, 21). Ini adalah sidang yang dilambangkan di dalam Wahyu 12 : 17, “Yaitu mereka yang memeliharakan hukum-hukum Allah, dan berpegang pada kesaksian Yesus Kristus.” “Perempuan” itu melambangkan sidang sebagai sebuah badan. “Yang tertinggal dari benihnya itu” adalah mereka yang 144.000 itu dengan siapa naga itu berperang. Peperangan itu dilakukan melawan mereka, karena mereka adalah para pemimpin di bumi dan para pendiri dari pergerakan itu. “Dari benihnya” menunjukkan bahwa mereka itu adalah bagian dari “perempuan itu” atau dengan perkataan lain, mereka yang 144.000 itu, dan rombongan besar orang-orang itu, adalah hanya satu pergerakan -- satu keluarga. 

Kepada orang-orang suci dari sidang yang suci ini puji syukur diucapkan : “Berbahagialah mereka yang melakukan hukum-hukum-Nya, bahwa mereka itu boleh memiliki hak atas pohon hayat itu, dan mereka boleh masuk melalui pintu-pintu gerbang ke dalam kota itu.” (Wahyu 22 : 14).

Yakub, bapa dalam contoh Israel yang sesungguhnya, telah bermimpi dalam perjalanan menuju ke Padan-Aram, “Dan tengoklah ada sebuah tangga terdiri di bumi, dan puncak tangga itu sampai ke langit : maka tengoklah malaikat-malaikat Allah naik turun pada tangga itu. Maka ketakutanlah ia lalu mengatakan, Betapa mengerikan tempat ini! Ini tak lain daripada rumah Allah, dan inilah pintu gerbang ke surga itu.” (Kejadian 28 : 12, 17). Mimpi Yakub itu adalah nubuatan mengenai suatu masa bilamana kelak akan ada suatu hubungan yang lengkap dan komunikasi yang tetap antara surga dan bumi -- “seruan keras” dari pekabaran malaikat yang ketiga -- masa penuaian. Bagi sidang yang mulia itu berlakulah kata-kata ini : “Inilah rumah Allah dan pintu gerbang dari surga”. Hanya oleh pemberitaan Injil melalui rumah Kerohanian itu dapatlah Allah menyelamatkan umat-Nya. Akan ada hanya Satu kandang, Satu Gembala, Satu Tuhan, Satu Kebenaran untuk dipeluk, Satu penyelamatan untuk disambut, Satu jalan untuk ditempuh, Satu pintu gerbang untuk dilewati, Satu kereta untuk dinaiki, dan Satu masa untuk berangkat, Satu Surga untuk dimasuki, Satu umat, dan Satu keluarga yang suci. Tidak mungkin ada jalan yang lain! 

“Adalah tidak mungkin untuk memberikan gambaran apapun mengenai pengalaman umat Allah yang akan hidup di bumi apabila kemuliaan langit dan suatu ulangan aniaya-aniaya masa lampau itu bercampur. Mereka itu akan berjalan dalam terang yang memancar keluar dari tahta Allah. Oleh perantaraan malaikat-malaikat akan ada komunikasi yang tetap di antara surga dan bumi.” -- “Testimonies for the Church”, Vol. 9, halaman 16. 

SAAT BAGI PEMBANGUNAN KAABAH CONTOH SAINGAN ITU (SIDANG) 

Kami telah menjelaskan sebagian bahwa kedua kaabah yang sesungguhnya itu, yang dibangun secara berturut-turut di Yerusalem kuno, telah merupakan contoh-contoh dari dua bagian sidang Kristen. Perbedaan besar kedua bangunan contoh ini antara yang sesungguhnya dan kerohaniannya dijelaskan perbandingannya dengan contoh dan contoh saingannya. Walaupun kami dapat memperluas masalah ini dengan lebih besar, namun kami telah menghilangkan bacaan-bacaan yang berlebihan dengan cara mengemukakan fakta-faktanya secara singkat, sambil berusaha memberikan suatu gambaran yang lebih berarti mengenai pelajaran yang sangat penting ini bagi dunia Kristen. 

Permasalahan di depan kita adalah, kapan contoh saingannya itu menemui kegenapannya secara tepat? Dalam paragraf-paragraf yang terdahulu telah dijelaskan bahwa bagian yang pertama dari sidang Kristen berakhir dalam tahun 538 TM, dan bagian keduanya harus mulai setelah tahun 1798, pada waktu mana “perempuan” itu diperkirakan kembali dari padang belantara.

Sebuah penyelidikan yang mendalam terhadap contoh adalah satu-satunya cara yang mungkin untuk memperjelas kebenaran, bukan saja terhadap persoalan yang terdahulu, melainkan juga mengenai persoalan-persoalan yang akan menyusul sebagai berikut : Jika “perempuan” itu akan kembali dari padang belantara ke kebun anggur (peradaban) sesudah akhir dari periode nubuatan 1260 tahun itu, apakah yang terjadi dalam tahun 1798 itu untuk membuktikan bahwa “ia” telah

kembali dalam tahun itu? Karena tertawan dan kematian paus menjawab salah satu segi dari persoalan itu dan memperjelaskan akhir dari periode nubuatan itu, maka dimanakah pertanda yang menunjukkan bahwa “perempuan” itu telah kembali dari padang belantara? Jika interpretasi “perempuan” itu yang dapat diterima adalah lambang dari sidang, dan jika ia telah berada di “padang belantara” sejak tahun 538 TM sampai tahun 1798, maka bagaimanakah dengan empat organisasi gereja besar yang telah  bangkit sebelum saat itu; yaitu, Lutheran, Presbyterian, Methodist, dan Christian? Bukankah mereka itu juga “perempuan” (sidang)? Siswa-siswa Alkitab telah gagal untuk memperjelaskan rahasia ini sebab mereka tidak memiliki terang atas Firman Allah. Sebuah lampu sorot yang besar oleh kuasa Roh yang bersinar-sinar melalui contoh-contoh, adalah satu-satunya perantara yang dapat menyingkirkan halangan dan memperjelaskan jalan menuju kepada suatu pemahaman terhadap kesemuanya ini dan banyak lagi rahasia-rahasia yang lain yang dianggap tidak dapat dimengerti dan yang membingungkan pikiran manusia. Oleh sebab itu, maka contoh kaabah dari sidang (perempuan) adalah satu-satunya saluran dengan mana sekalian permasalahan ini dapat dijawab. 

“Kaabah-kaabah” dan “perempuan” itu melambangkan sidang sebagai sebuah badan; atau dengan kata lain, simbol perempuan itu ialah ungkapan dari contoh-contoh itu (kaabah-kaabah), dan kaabah-kaabah itu sendiri adalah nubuatan-nubuatan simbolis dari “perempuan” itu — sidang. Dapatlah dicatat bahwa para anggota yang terpisah-pisah dari sidang itu adalah dilambangkan oleh campuran bahan yang membentuk kaabah itu : “Sebagaimana batu-batu yang hidup telah didirikan menjadi sebuah rumah rohani, yaitu suatu keimamatan yang suci, untuk mempersembahkan korban-korban rohani yang dapat diterima Allah oleh Yesus Kristus.” (1 Petrus 2 : 5). “Dengan demikian walaupun kita banyak, kita adalah satu tubuh dalam Kristus, dan setiap orang saling menjadi anggota dari sesamanya.” (Roma 12 : 5). “Dalam Dia seluruh bangunan dirangkaikan dengan kokoh menjadi satu bertumbuh menjadi suatu kaabah yang suci dalam Tuhan.” (Efesus 2 : 21). Oleh sebab itu, kedua kaabah ini melambangkan kedua-duanya -- sidang, dan Kristus. Kristus, Imam Besar kita, adalah dilambangkan oleh “batu penjuru utama”, dan pelayanan keimamatan-Nya melalui upacara bayangan atau upacara tempat kesucian dari kedua kaabah yang sebenarnya ini. 

Upacara tempat kesucian di bumi bagi penyelamatan umat manusia, dalam contoh-contoh dan simbol-simbol, mengungkapkan pelayanan Kristus di dalam tempat kesucian surga. Yaitu telah dibuat terdiri dari dua hukum; yaitu, “Sepuluh Perintah” itu dan hukum-hukum “upacara” bayangan. Log-log batu yang berisikan perintah-perintah itu ditaruh di dalam peti perjanjian, tetapi hukum upacara bayangan atau hukum Musa itu ditaruh pada sisi pinggir peti perjanjian. (Lihat Ulangan 10 : 2; 31 : 26). Mengapa dua hukum? Hukum moral itu menunjukkan dosa “karena dari hukum terdapat pengetahuan tentang dosa.” (Roma 3 : 20). “Karena dimana tidak ada hukum, di sanapun tidak ada pelanggaran.” (Roma 4 : 15). Tetapi hukum upacara bayangan itu “telah ditambahkan karena adanya pelanggaran-pelanggaran sampai kelak benih itu datang kepada siapa dijanjikan perjanjian itu.” (Galatia 3 : 19). Ia itulah obat untuk menyembuhkan orang berdosa dan untuk membebaskannya dari tuduhan hukum moral. Pada waktu Kristus

(benih itu) datang, maka diambil-Nya peraturan hukum ini (hukum Musa) “keluar dari kita, lalu dipakukan-Nya kepada salib.” (Kolose 2 : 14). Pelayanan peraturan hukum itu sendiri di bumi tidak dapat memberikan hidup, karena ia itu hanya sebuah bayangan daripada yang sebenarnya. Oleh karena itu, maka pada penyaliban Kristus berhentilah pelayanan itu, dan pelayanan di surga yang tadinya dibayangkan oleh pelayanan di bumi itu, mulailah. Upacara di tempat kesucian di bumi dari kedua kaabah itu adalah identik.

Oleh karena itu, maka kedua kaabah ini adalah contoh-contoh dari kedua bagian sidang Kristen berikut upacara tempat kesucian contoh saingan yang dibuat dari kedua hukum ini — moral dan upacara bayangan. Bagian sidang Kristen yang pertama, sejak dari penyaliban Kristus sampai kepada kira-kira tahun 538 TM telah diberkahi dengan hanya sebuah tempat kesucian sedemikian ini; artinya, mereka memiliki pengetahuan yang sempurna mengenai pekerjaan yang berlangsung di dalam tempat kesucian surga sampai kepada saat itu, dan iman mereka adalah berkaitan dengan upacaranya itu. Tetapi dalam tahun 538 TM iman terhadap pelayanan Ilahi ini telah dibuang keluar dari sidang, atau sebagaimana Daniel menyebutnya, “dipijak-pijak di bawah telapak kaki” (Daniel 8 : 13), lalu diganti oleh suatu keimamatan kapir, dengan hukum-hukum upacara kekapiran dan hukum-hukum moral, atau upacara kepausan, dan perbaktian hari Minggu. Oleh sebab itu, sebagaimana kaabah yang pertama itu merupakan contoh dari bagian pertama sidang Kristen yang mula-mula dengan iman dalam suatu upacara tempat kesucian yang benar, maka demikian itu pula kaabah yang kedua telah membayangkan bagian yang terakhir dari sidang yang sama berikut iman dalam upacara tempat kesucian yang akan identik dengan yang pertama.

Penjelasan yang di atas menjawab salah satu dari pertanyaan-pertanyaan kita. Gereja-gereja Protestan yang bangkit sebelum “perempuan” itu kembali dari padang belantara adalah sama sekali gelap terhadap upacara tempat kesucian itu. Oleh sebab itu, maka mereka tidak dilambangkan oleh “perempuan” itu, atau oleh “kaabah” itu, sebab, sebagaimana telah kami nyatakan sebelumnya, kaabah-kaabah contoh itu melambangkan kedua bagian dari sidang dengan dua hukum Ilahi; yaitu hukum moral dan hukum upacara bayangan. Dengan demikian “perempuan” itu melambangkan sebuah sidang yang memeliharakan “perintah-perintah Allah — hukum moral, dan berpegang pada kesaksian Yesus Kristus” — hukum upacara bayangan atau rencana penyelamatan yang diungkapkan dalam terang dari “Roh Nubuat”. (Wahyu 12 : 17). Para reformator, sebelum “perempuan” itu kembali dari padang belantara, telah memperoleh panggilan Ilahi untuk keluar sebagai suatu langkah persiapan untuk menghantarkannya kembali ke “kebun anggur”; artinya, untuk mendirikan suatu upacara kaabah contoh saingan yang benar — peribadatan sidang yang benar.

Sebagaimana kaabah Salomo telah dirampas bejana-bejana sucinya dan telah dibinasakan oleh Nebukadnezar, raja Babil, maka Babil kuno itu telah menjadi sebuah contoh; dan kalau saja tidak demikian itu halnya, maka tidak akan ada Babil modern — Babil contoh saingan. (Wahyu 18 : 2). Karena tidak ada pertentangan mengenai siapa kedua Babil ini, maka tidaklah sukar untuk mengungkapkan rahasia itu; dan bukti dari yang satu juga akan menjelaskan yang lainnya. Kalau saja pernyataan dalam penyelidikan ini benar bahwa kaabah Salomo

[halaman kosong]

__ GAMBAR __

adalah contoh dari bagian pertama sidang Kristen, maka harus ada suatu persamaan yang tepat dengan contoh dan contoh saingannya. 

Sebagaimana contoh telah membinasakan contoh, maka demikian itu pula contoh saingan harus sudah membinasakan contoh saingannya; artinya, Babil kuno (contoh dari kepausan) telah merampas dan membinasakan kaabah Salomo (contoh dari sidang Kristen yang mula-mula) dan telah membawa masuk Israel ke dalam tawanan. Nubuatan simbolis ini menemui kegenapannya secara tepat dalam tahun 538 TM pada waktu kepausan maju dan membinasakan sidang (orang-orang Kristen), merampas mereka dari kebenarannya, dan membawa masuk para pengikut Kristus itu ke dalam tawanan (tunduk kepada pemerintahan kepausan). Sebagaimana peribadatan tempat kesucian yang benar itu telah dihapuskan oleh Babil kuno pada waktu penawanan Israel, berikut kebinasaan kaabah itu, maka demikian itu pula kepausan telah menyingkirkan kebenaran lalu secara strategis menggantikan di sini di bumi, pengertian dari pekerjaan pembelaan Kristus di dalam tempat kesucian surga, yang mana upacara bayangan dari kaabah yang pertama merupakan contohnya dalam masa periode sebelum pehukuman dimulai. Dengan demikian kaabah yang kedua melambangkan masa selama sidang pehukuman itu berlangsung. Dan sebagaimana bejana-bejana yang suci itu telah dibawa pergi dari tempat kesucian lalu ditaruh di dalam sebuah kaabah kapir di tanah orang-orang kapir, demikian pula kepausan telah menginjak-injak “kebenaran” lalu menegakkan suatu keimamatan kekapiran dalam apa yang disebut sidang Kristen selama zaman kegelapan, selagi “perempuan” itu berada di padang belantara, yaitu yang contohnya tanah orang-orang kapir — Babil. 

Peristiwa kesamaan kita yang kedua ialah jatuhnya kerajaan Babil oleh kemenangan raja-raja Medo-Persia. Hendaklah diingat bahwa pada malam pesta mabuk-mabukan Belsyazar itu, Koresh, dan Darius telah merebut kerajaan itu dan membunuh rajanya. Kegenapan dari contoh dalam contoh saingannya, yang mana kesamaannya dengan dipenjarakannya Paus dalam tahun 1798, dan disusul dengan kematiannya. Oleh karena itu, maka kematian Belsyazar yang menentang Allah segala langit dan bumi itu, merupakan contoh dari paus yang menghujat Allah selama “satu masa, dua masa, dan setengah masa”, menggenapi Daniel 7 : 25 dan Wahyu 13 : 10. Pada waktu itulah nubuatan 1260 tahun “perempuan” itu mengembara di padang belantara berakhir. 

Sekali lagi kami menunjuk ke belakang kepada contoh itu. Dengan kematiannya Belsyazar itu maka penawanan umat Allah berakhir, lalu mereka dibebaskan; peristiwa ini sama dengan berakhirnya 1260 tahun aniaya melawan umat Allah oleh kepausan — gereja dan negara. Jatuhnya kerajaan Babil bukanlah hal mendirikan kaabah di Yerusalem, melainkan itu adalah langkah persiapan untuk pembangunan kaabah itu. Sebagaimana kematian Belsyazar telah merupakan langkah persiapan ke arah pendirian suatu peribadatan kaabah yang benar, demikian itu pula kematian paus telah merupakan langkah persiapan ke arah pendirian suatu peribadatan sidang yang benar. Jika demikian halnya, maka contoh itu jelas menunjukkan bahwa tak ada apapun yang dapat terjadi terhadap sidang itu dalam tahun 1798 untuk menunjukkan

“perempuan” itu telah kembali dari padang belantara. Hal ini akan membawa kita kepada peristiwa kesamaan yang ketiga.

Koresh adalah seorang penganut ibadah kekapiran pada masa ia mengalahkan Babil; tetapi perhatiannya telah berbalik kepada kegenapan daripada Injil, dan telah diperlihatkan kepadanya bahwa namanya ada tertulis di dalam buku suci itu bertahun-tahun lamanya sebelum ia lahir, dan bahwa ia telah menggenapi kata-kata nabi Yesaya : “Demikianlah firman Tuhan kepada yang diurapi-Nya itu, kepada Koresh, yang tangan kanannya telah Ku pegang, supaya ia mengalahkan bangsa-bangsa yang di hadapannya; maka Aku akan melepaskan ikat pinggang raja-raja, untuk membuka ke hadapannya kedua daun pintu gerbang; maka pintu-pintu gerbang itu tidak akan ditutup. Aku akan berjalan di hadapanmu, dan akan Ku luruskan tempat-tempat yang bengkok : Aku akan memecahkan berkeping-keping pintu-pintu gerbang tembaga, dan mematahkan pagar-pagar besi : dan Aku akan memberikan kepadamu perbendaharaan-perbendaharaan kegelapan, dan kekayaan-kekayaan yang tersembunyi dari tempat-tempat rahasia, supaya dapatlah kamu ketahui bahwa Akulah, Tuhan, yang memanggilmu sesuai namamu, Akulah Allah Israel ..... Aku telah menamakanmu, walaupun kamu belum mengenal Aku.” (Yesaya 45 : 1 – 4). “Dikatakan mengenai Koresh, bahwa ialah gembalaku, maka ia akan melakukan segala kehendakku : bahkan mengatakan kepada Yerusalem, kamu akan dibangun; dan kepada kaabah itu, Pondasimu akan diletakkan.” (Yesaya 44 : 28). 

Demikianlah hati kapirnya telah berubah, dan dengan bersyukur ia menuliskan kata-kata : “Demikianlah titah Koresh, raja Persia itu, bahwa Tuhan Allah di surga telah mengaruniakan kepadaku semua kerajaan di bumi; dan Ia telah menugaskan kepadaku untuk mendirikan bagi-Nya sebuah rumah di Yerusalem, yaitu di Yehuda.” (Ezra 1 : 2). Sesudah pertobatannya ia mengakui bahwa peribadatan kekapiran di Babil itu adalah palsu. Oleh sebab itu, maka diberitakannya kepada seluruh kerajaan Babil : “Tuhan Allah bangsa Israel, Ialah Allah, yang di Yerusalem ..... Juga raja Koresh telah membawa keluar bejana-bejana rumah Tuhan, yang oleh Nebukadnezar telah dibawa keluar dari Yerusalem dan telah ditaruh di dalam rumah dewa-dewanya; bahkan sekalian itu disuruh Koresh, raja Persia itu, dikeluarkan oleh tangan Mitredath bendahara negara, dan yang dihitung sekaliannya itu kepada Shesbashar penghulu dari Yehuda.” (Ezra 1 : 3, 7, 8). Demikianlah ibadah kekapiran Babil itu telah dinyatakan palsu tak lama kemudian setelah kematian Belsyazar dan keruntuhan kerajaannya. Oleh sebab itu, maka Koresh telah mengeluarkan suatu keputusan untuk membangun rumah Allah di Yerusalem. Sedemikian itulah contohnya, maka sekarang perhatian kita diarahkan kepada kegenapannya dalam contoh saingannya. 

Sesuai dengan contoh itu, kita harus mencari suatu pemberitaan pada suatu masa sesudah tahun 1798 yang akan mencap gereja-gereja yang disebut Kristen itu sebagai Babil dan peribadatan mereka sebagai palsu. Dan inilah yang justru terjadi. Segera setelah tahun 1844 pekabaran malaikat yang kedua dari Wahyu 14 : 8 telah diberitakan, dengan mengatakan : “Sudah rubuh, sudah rubuh Babil, negeri yang besar itu, karena ia telah membuat segala bangsa mabuk oleh air anggur napsu zinahnya itu.” Oleh sebab itu

jelaslah bahwa terang yang bercahaya melalui contoh-contoh adalah satu-satunya alat yang dapat menjelaskan rahasia-rahasia nubuatan ini di dalam Firman Allah. Dengan adanya pemberitaan tentang jatuhnya Babil itu, maka telah diumumkan bahwa yang disebut hari-hari raya Kristen, seperti pemeliharaan Hari Minggu, Hari Natal, dan Paskah, juga Baptisan secara percikan, berikut pula ajaran-ajaran palsu yang tidak berlandaskan Injil dan berasal dari kekapiran. Tetapi sebagaimana Babil kuno yang dahulu itu telah gagal untuk meninggalkan cara peribadatan kekapirannya, dan menganut peribadatan kepada satu-satunya Allah yang benar, maka demikian itu pula dunia Kristen yang ada sekarang telah menolak untuk bereformasi atau berbalik dari semua praktek perbuatan ini. Pelayanan pembelaan yang benar di dalam tempat kesucian surga, yang berkaitan dengan Sabat Hari Ketujuh sebagaimana yang telah diajarkan, pada waktu itu juga telah dilalaikan! 

TIGA KEPUTUSAN YANG DIKELUARKAN SEBELUM KAABAH DIBANGUN

Walaupun Koresh dengan cuma-cuma telah memberikan semua sumber kekayaannya untuk membiayai pembangunan rumah Allah itu berikut pelayanannya yang suci, dan walaupun ia secara kekuasaan telah memerintahkan agar ia itu harus dibangun, namun orang-orang Samaria itu, atau orang-orang Yahudi yang terpecah-pecah kelompoknya itu, telah mencegah kemajuan pembangunan itu dan telah menghalangi penyelesaiannya. Oleh sebab itu, walaupun pekabaran (keputusan) dalam tahun 1844 telah diberitakan untuk membangun rumah Allah itu dan mengembalikan peribadatan yang benar sesuai dengan Torat dan nabi-nabi, namun contoh mengungkapkan bahwa kemajuan itu telah dihalangi, dan penyelesaiannya telah diperlambat oleh orang-orang Yahudi yang terpecah-pecah secara kelompok-kelompok itu — orang-orang Masehi Advent Hari Ketujuh yang tidak benar. Kenyataan ini ditegaskan dengan jelas di dalam buku “Testimonies for the Church”, Vol. 5, p. 217 :

“Saya sangat sedih bilamana saya pikirkan keadaan kita sebagai suatu umat. Tuhan tidak menutup Surga dari kita, melainkan oleh kemunduran kita sendiri yang terus menerus yang telah memisahkan kita dari Allah. Kesombongan, gelojoh, dan cinta akan dunia ini telah hidup di dalam hati tanpa takut akan pembinasaan ataupun penghukuman ..... Sidang telah berbalik dari mengikuti Kristus Pemimpinnya, dan sedang terus menerus mundur menuju Mesir. Namun ada sebagian kecil saja yang waspada atau tercengang karena kebutuhan mereka akan kuasa rohani.” 

TUDUHAN-TUDUHAN PALSU DAN BERBAGAI ALASAN MAAF 

Orang-orang Masehi Advent Hari Ketujuh yang tidak bertobat ini apabila diberitahu mengenai kenyataan-kenyataan ini, bukan untuk mengeritik, atau mencari-cari salah mereka, melainkan untuk membangunkan mereka dari kebodohan dan kesesatan mereka yang parah dan dari kesentausaan mereka yang palsu itu, maka mulailah mereka mengemukakan alasan-alasan maafnya dengan mengatakan : “Kami adalah umat Allah”. “Ini adalah sidang Allah”. “Tidak ada lagi pergerakan yang lain untuk diikuti”. “Adalah kejahatan untuk menuduh-nuduh sidang yang berjuang”. “Anda sedang menetapkan waktu”. “Janganlah anda menghancurkan, melainkan supaya membangun”. “Tinggalkanlah mereka yang menimbulkan perpecahan”. “Tidak akan ada lagi nabi-nabi”. “Kami telah memiliki semua kebenaran”.

Saudara-Saudaraku, karena anda telah memulai mempersiapkan pelita-pelitamu, maukah anda mengambil bagi dirimu “minyak tambahan” (kebenaran), lalu bertindak sebagai orang-orang yang sedang menunggui Tuhan mereka yang hendak datang? Tak seorang- pun menyangkal akan kenyataan bahwa anda adalah umat Allah, tetapi ingatlah bahwa orang-orang Yahudi itupun pernah menjadi umat-Nya. Tidak seorangpun ingin untuk mempertahankan bahwa ini bukan sidang Allah, tetapi apakah hanya baru sekarang Ia memiliki sebuah sidang? Kami tidak mengatakan bahwa akan ada lagi pergerakan yang lain untuk diikuti. Tetapi bukankah Firman dari “Saksi Yang Benar” itu sendiri yang mengatakan, “Aku hendak meludahkan kamu keluar dari dalam mulut-Ku?” Jika mengundang sidang yang berjuang kepada suatu reformasi dengan cara mengoles mata mereka dengan salep mata supaya dapat mereka melihat, supaya malu ketelanjangan mereka itu tidak tampak, adalah merupakan kejahatan seperti anda katakan, maka terhadap siapakah anda berbicara? Lalu upaya-upaya apakah yang lainnya yang dapat Ia gunakan untuk mengundang kepada pertobatan orang Laodikea ini, yang keadaannya “kaya dan telah bertambah-tambah kekayaannya, sehingga tidak memerlukan apa-apa lagi?” “Padahal tiada diketahui bahwa engkaulah orang malang, dan sengsara, dan miskin, dan buta dan bertelanjang?” 

Adakah orang yang menganjurkan kepatuhan kepada kebenaran sesuai dengan Firman Allah itu sedang memecah belah, ataukah orang-orang yang telah menghancurkan setiap prinsip dari pekabaran yang kita bawa itulah yang memecah belah? Siapakah yang menyebabkan perpecahan? Apakah dia yang menganjurkan kepatuhan kepada Firman ataukah orang yang menolak untuk mendengar panggilan dari surga? Ingatkah anda, bahwa sidang Kristen terbagi dalam tujuh bagian pembaharuan karena pekabaran-pekabaran telah ditolak? Siapakah dia itu yang harus “ditinggalkan?” Apakah dia yang menyambut kebenaran tanpa memandang dari manapun datangnya, ataukah orang yang membiarkan syakwasangka menghalangi pikirannya supaya tidak menyambut kebenaran? Pengakuanmu bahwa telah memiliki semua kebenaran, dan bahwa tidak memerlukan apa-apa, adalah sedang menolak setiap firman yang telah ditulis bagi sidang. Ini berarti belum apa-apa anda telah lebih dulu menyangkal setiap pekabaran kebenaran, atau terang yang mungkin Allah pilih untuk dikirimkan. Ini berarti anda mengunci pintu dari Allah, dan memotong melepaskan sidang dari uluran tangan-Nya. Ini adalah suatu langkah persiapan yang menuju kepada berdosa melawan Roh Suci. Pernyataanmu bahwa tidak akan ada lagi nabi-nabi, berarti sebelumnya anda telah mengesampingkan hujan akhir dan “seruan keras” itu! Ini berarti menyangkal Firman dalam bentuk nubuatannya, karena kita baca : “Maka kemudian daripada itu akan jadi kelak, bahwa Aku akan menuangkan Roh-Ku atas segala manusia; maka semua anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, para orang tua-tuamu akan bermimpikan mimpi-mimpi, orang-orang mudamu akan melihat khayal-khayal.” Yoel 2 : 28. 

Saudara-Saudaraku adakah sesuatu yang demikian mengerikan seperti halnya praktek kekapiran ini yang melibatkan orang-orang yang dianggap sebagai pengawal-pengawal yang berdiri di atas tembok-tembok Sion? Jika anda merasa diri anda tidak lagi pantas bagi kerajaan yang kekal itu, tidakkah sebaiknya anda mengangkat tanganmu dari tanggung jawab atas sidang Allah? Tidakkah anda mau memberikan kebebasan beragama bagi domba-domba itu dan membiarkan saja mereka mengambil keputusannya sendiri? Mengapakah tidak anda berbuat seperti yang anda kehendaki orang lain berbuat terhadap anda? Adalah sulit sekali bagimu untuk menyakiti seseorang dengan perlawanan yang sia-sia

(kick againts the pricks). Maukah anda mengatakan, Tuhan, apakah kehendak-Mu supaya aku perbuat? Tahukah anda bahwa darah dari domba-domba yang hilang itu akan kelak dituntut dari tanganmu?

Tuduhan-tuduhanmu melawan penetapan waktu itu adalah bagaikan seseorang yang berbicara sewaktu berada di luar kesadarannya. Kepastian waktu manakah yang telah ditetapkan? Apakah yang dimaksud anda itu Yehezkiel, pasal empat? Jika demikian itu tidakkah anda mau mempelajari masalah itu lebih teliti lagi daripada yang anda miliki dan lihat apa yang dikatakannya? Tidakkah anda melihat bahwa periode nubuatan itu sudah berakhir sewaktu kata-kata itu diucapkan? Ataukah anda bermaksud untuk mengatakan bahwa Allah tidak mengetahui panjangnya waktu sejak dari peristiwa yang satu ke peristiwa yang lainnya, dan bahwa Ia seharusnya tidak memasukkan itu di dalam Alkitab? Tidakkah anda melihat bahwa peristiwa-peristiwa yang memiliki kesamaan itu yang tercatat di dalam buku “Tongkat Gembala” Jilid I, halaman 112 - 113, Bahasa Inggris, membuktikan interpretasi Yehezkiel pasal empat itu benar, atau sebaliknya kebenaran tidak akan datang? 

Anda akan juga memperhatikan pada halaman 222, bahasa Inggris, bahwa 430 tahun nubuatan itu asal mulanya berlaku terhadap Abraham dan benihnya, saling meliputi dengan 430 tahun dari Yehezkiel pasal 4. Empat ratus tiga puluh tahun dari Yehezkiel itu akan berakhir dalam tahun 1929 atau 1930, tetapi kegenapan yang tepat dari periode nubuatan Abraham itu dalam contoh saingannya masih di masa yang akan datang (keluar dari Mesir). Gambar bagan pada halaman 112, 113, bahasa Inggris, menunjukkan berakhirnya dalam tahun 1930, karena sebagaimana kami kemukakan sebelumnya, ia itu diuraikan secara garis besarnya oleh peristiwa-peristiwa yang sama yang cocok tepat dengan nubuatan Yehezkiel. Karena adalah tidak mungkin untuk membuat sebuah bagan waktu tanpa sesuatu tanggal untuk diikuti, maka kami telah menggunakan peristiwa-peristiwa kesamaan ini, dan telah dikemukakan bahwa tahun-tahun itu adalah tidak pasti tepat. (Lihat gambar bagan pada halaman 133, bahasa Inggris). Nubuatan Yehezkiel adalah dimaksudkan untuk menunjuk ke depan kepada pengumuman mengenai reformasi yang diramalkan itu, dan yang satunya oleh Abraham, sampai kepada kelengkapannya (Yehezkiel sembilan).

“Maka para pelihat itu akan malu, dan para petenung kena kutuk : ya, mereka sekalian akan menutup bibirnya; karena tidak ada jawaban apapun dari Allah. Tetapi sesungguhnya aku ini penuh dengan kuasa oleh Roh Tuhan, dengan keadilan dan kekuatan, untuk memberitahukan kepada Yakub kejahatannya, dan kepada Israel dosanya. Dengarlah ini, aku meminta padamu, hai pemimpin-pemimpin isi rumah Yakub, dan penghulu-penghulu isi rumah Israel, yang benci akan keadilan, dan yang memutar-balikkan segala yang benar. Mereka membangun Sion dengan darah, dan Yerusalem dengan kejahatan. Bahwa pemimpin-pemimpinnya memutuskan hukum dengan suap, dan para imamnya mengajar dengan mengambil upah, dan para nabinya bernubuat karena uang. Namun mereka mau bersandar pada Tuhan, dan mengatakan : Bukankah Tuhan ada di tengah-tengah kita? Tak satupun celaka dapat datang ke atas kita. Sebab itu demi karena kamu Sion akan dibajak bagaikan sebuah ladang, dan Yerusalem akan menjadi sebuah kerobohan batu, dan bukit rumah itu akan jadi bagaikan tempat-tempat yang tinggi di hutan.” (Mikha 3 : 7 - 12).

KEBERATAN-KEBERATAN MELAWAN SALURAN YANG MUNGKIN ALLAH GUNAKAN

Sejarah membuktikan bahwa banyak orang telah bangkit menentang saluran yang Allah telah gunakan untuk mengungkapkan Firman-Nya yang Suci. Sedemikian itu pula sekarang ini. Sebagian orang mengatakan :

”Jika Allah hendak berbicara kepada umat-Nya, dapatlah Ia melaksanakannya melalui salah seorang dari pemimpin-pemimpin kita.” Mungkin memang begitu, tetapi mana buktinnya bahwa Ia tidak dapat memanggil melalui suatu alat yang lebih sederhana dari antara kawanan domba-domba-Nya? Bukti-bukti sejarah membuktikan bahwa Ia jarang sekali mengungkapkan diri-Nya melalui orang-orang besar. Mengapakah Ia harus merubah metode-Nya sekarang ini? Orang-orang lainnya memandang remeh terhadap hamba-hamba Allah karena berbagai kekurangan lahiriah mereka, asal kelahirannya, atau kekurangan-kekurangan pembicaraannya, dan sebagainya. Saudara-Saudaraku, hendakkah anda membatasi Bapa dan Khalik dari bangsa manusia oleh pembatasan-pembatasanmu terhadap sesuatu bangsa, orang atau negeri asal, oleh pikiranmu yang picik dan kesombongan kepintaranmu itu? Hati yang menyusun ajaran-ajaran agama yang tidak masuk akal sedemikian ini melalui penghargaan diri sendiri, adalah bagaikan kesombongan Farisi diperbandingkan dengan pemungut cukai yang bertobat. Para penyusun ideologi yang pandai dan tinggi diri ini adalah orang-orang yang sangat bodoh, karena dengan berbuat begitu, mereka membiarkan bapak dari sifat meninggikan diri sendiri itu merampas dari mereka hidup, dan kekekalan. Sementara orang-orang yang sedemikian ini dibutakan dari kebinasaan mereka sendiri, mereka adalah agen-agen yang sangat pandai dan berguna bagi musuh jiwa-jiwa. Karena oleh perampasan kekuasaan mereka itu mereka membawakan suatu pengaruh yang tidak pernah berakhir bagaikan sebuah “batu kerikil yang dilemparkan ke danau; sebuah ombak terbentuk, dan sebuah lagi dan kemudian sebuah lagi, dan sementara sekaliannya itu meningkat bertambah, maka lingkaran makin melebar, sampai akhirnya ia itu mencapai tepi.”

Pengaruh apakah “kata-kata hidup” anda itu terhadap orang-orang lain jika anda berpikir bahwa kehormatan anda adalah begitu besar, dan kehormatan mereka itu adalah sangat tak berarti? Tindakan-tindakan anda sedang berbicara lebih nyaring daripada kata-kata anda, karena mengatakan kepada yang miskin dari kawanan domba itu : Pandanglah kepada kami, dan anggaplah dirimu sebagai tak berarti. Jika suatu tindakan keliru dilakukan terhadap seekor domba karena ia mengucapkan kebenaran yang tegas, orang-orang lain akan dilayani sedemikian juga. Kepada para gembala yang sedemikian ini kata-kata berikut ini telah diucapkan :

“Bahwa kamu mengenyangkan dirimu dengan susu, dan kamu memakaikan dirimu dengan bulu domba, dan kamu bantai yang tambun-tambun, tetapi tiada kamu memberi makan akan kawanan domba itu. Yang lemah tiada kamu kuatkan, dan yang sakit tiada kamu obati, dan yang luka tiada kamu bebati, dan yang terhalau tiada kamu bawa balik, dan yang sesat tiada kamu cari; melainkan dengan kekerasan dan kekejaman sudah kamu memerintah atas mereka itu.” (Yehezkiel 34 : 3, 4). 

KEPUTUSAN KEDUA UNTUK MEMBANGUN “KAABAH”

Melalui penindasan para penentang Allah itu telah menghentikan pekerjaan dari keputusan perintah yang pertama. Namun tepat pada waktunya keputusan Koresh itu diperbaharui oleh raja Darius, dan “Zerubabel anak Shealtiel dan Yosua anak Yozadak, lalu mulailah mereka membangun kaabah Allah yang di Yerusalem : dan bersama-sama mereka adalah para nabi Allah yang ikut membantu mereka.” (Ezra 5 : 2).

Tetapi walaupun keputusan perintah yang kedua ini telah  membawakan tambahan kekuasaan melawan musuh-musuh kaabah itu, namun mereka telah memberhentikan orang-orang Yahudi itu dengan kekuatan

senjata. Contoh dari keputusan perintah yang kedua secara jelas mengungkapkan bahwa harus ada lagi suatu pekabaran yang lain sesudah tahun 1844, yang dengan tambahan sebutan sudah akan menyatakan — majulah dengan iman, berusahalah mendirikan sebuah sidang yang suci dan suatu peribadatan yang benar oleh mematuhi Firman Allah (pembenaran oleh iman). Contoh itu juga mengungkapkan bahwa pekabaran yang kedua ini sudah akan dikalahkan dan pekerjaan dihalangi. Sekarang perhatikanlah betapa tepatnya contoh itu yang menemui kesamaannya, mengungkapkan kebenaran, dan menelanjangi rencana-rencana Iblis. Tepat dalam tahun 1888 demikianlah sebuah pekabaran (keputusan) telah keluar, tetapi para pemimpin pada waktu itu telah menolaknya sebagaimana dibuktikan oleh kesaksian-kesaksian berikut ini : ”Tuhan dalam kemurahan-Nya yang besar telah mengirim sebuah pekabaran yang sangat berharga kepada umat-Nya. Pekabaran ini akan membawakan dengan lebih menyolok ke hadapan dunia Juruselamat yang ditinggikan itu, yaitu korban bagi dosa-dosa seluruh dunia. Ia itu menyampaikan pembenaran oleh iman dalam Dia Yang Pasti itu; pekabaran itu mengundang umat untuk menerima pembenaran Kristus, yang dinyatakan dalam kepatuhan kepada semua perintah Allah. Banyak orang telah kehilangan pandangan terhadap Yesus.”— “Testimonies to Ministers”, halaman 91.

Pekabaran itu telah disampaikan dengan kuasa dari Roh, demikian kata juru kabarnya : ”Saya pikir, saya tidak akan pernah lagi dipanggil untuk berdiri di bawah pengendalian Roh Suci seperti halnya saya berdiri di Minneapolis itu. Kehadiran Yesus ada bersama-sama dengan saya. Semua yang hadir dalam pertemuan itu mempunyai kesempatan untuk menempatkan diri mereka pada pihak kebenaran oleh menerima Roh Suci, yang diutus Allah dalam suatu aliran kasih dan kemurahan yang sedemikian limpahnya. Tetapi di dalam ruangan-ruangan yang ditempati oleh beberapa orang Saudara kita terdengar ejekan-ejekan, kritik-kritik, cemoohan-cemoohan, tertawa-tertawa. Manifestasi-manifestasi Roh Suci itu telah dicap sebagai fanatikisme ..... Pemandangan-pemandangan yang terjadi pada pertemuan itu telah membuat Allah di surga malu untuk memanggil mereka yang terlibat di dalam itu sebagai saudara-saudara-Nya. Sekaliannya ini dicatat oleh Pemerhati surga itu, dan telah ditulis di dalam kitab peringatan Allah.” -- “Special Testimony to Review and Herald Office”, pp. 16, 17, ditulis dalam tahun 1896.   

“Mereka memulaikan pekerjaan Iblis ini di Minneapolis. Kemudian daripada itu, setelah mereka melihat dan merasakan perbuatan dari Roh itu, yang membuktikan bahwa pekabaran itu adalah dari Allah, maka mereka semakin membencinya, karena ia itu adalah suatu kesaksian yang menentang mereka ..... Sungguhpun orang-orang ini sedang menduduki jabatan-jabatan terpercaya, dan sedang membentuk pekerjaan itu sesuai keinginan mereka sendiri, sejauh kemampuan mereka.” -- “Testimonies to Ministers”, halaman 80.

“Tetapi jika ..... mereka memeliharakan roh yang sama yang menandai jalan tindakan mereka baik sebelum maupun setelah pertemuan Minneapolis itu, mereka akan mengisi sampai penuh perbuatan-perbuatan orang-orang yang dihukum Kristus semasa Ia berada di bumi. Bahaya-bahaya akhir zaman berada dengan kita. Bacalah Matius 25 : 14.” -- “Testimonies to Ministers”, halaman 79. Kami juga menyajikan sebuah kesaksian tertulis dari seorang saksi mata :

”Pekabaran tahun 1888 itu didukung oleh Sister White sebagai pekabaran dari hal jam ..... sedikit sekali dari para pemimpin mengenalinya sebagai sedemikian itu. Sebagai suatu kesatuan hampir saja mereka seluruhnya mendurhaka, bahkan mengatakan bahwa orang-orang itu telah mempengaruhi Sister White secara tidak sepatutnya untuk kepentingan mereka oleh sesuatu kuasa yang tidak kelihatan, dengan demikian mereka telah menolak Roh Nubuat ..... Kedua orang ini (Pendeta Jones dan Pendeta Wagoner) bersama-sama dengan Sister White ..... telah ditolak menggunakan tabernakel yang besar itu ..... Demikianlah anda lihat bukan saja (90%), melainkan hampir (95%) para pemimpin kita telah mendurhaka.” 

KEPUTUSAN KETIGA UNTUK MEMBANGUN “KAABAH” 

Karena keputusan-keputusan yang pertama dan kedua dari raja-raja Medo-Persia itu telah gagal menyelesaikan pembangunan kaabah itu dan memulihkan upacara contoh yang suci itu, sebuah keputusan yang ketiga telah dikeluarkan, kemudian raja menambahkan : ”Juga telah ku buat sebuah keputusan, supaya barangsiapa pun yang kelak merubah perkataanku ini, hendaklah dicabut sebatang tiang dari rumahnya, lalu ditegakkan, dan hendaklah ia digantung di atasnya; dan hendaklah rumahnya itu dijadikan sebuah reruntuhan karenanya. Maka Allah yang telah menyebabkan namanya untuk tinggal di sana membinasakan segala raja dan bangsa, yang hendak menaruh tangannya atas mezbah dan untuk membinasakan rumah Allah yang berada di Yerusalem. Bahwa akulah Darius yang telah mengeluarkan sebuah keputusan; hendaklah ia itu dilaksanakan dengan segera ..... Maka segala tua-tua orang Yahudi itupun membangunlah, maka berhasillah pekerjaan mereka itu melalui nubuatan dari nabi Hagai dan Zakharia anak Iddo itu. Maka mereka membangun dan menyelesaikannya sesuai dengan perintah Allah Israel, dan sesuai dengan keputusan Koresh, dan Darius, dan Artaxerxes raja Persia. Maka rumah ini selesai pada hari ketiga dari bulan Adar, yaitu dalam tahun keenam dari pemerintahan raja Darius.” (Ezra 6 : 11 - 15). 

Dapatlah dicatat bahwa keputusan perintah yang ketiga mengancam nyawa orang-orang dan bangsa-bangsa yang tidak setia, “Barangsiapa pun kelak merubah perkataanku ini”, demikian titah raja, “hendaklah rumahnya dijadikan sebuah kerobohan karena ini”. Demikianlah sebanyak ini bagi contohnya. Sekarang kita datang kepada contoh saingannya. Contoh itu mengungkapkan bahwa pekabaran tahun 1844 dan tahun 1888 akan disusul dengan sebuah pekabaran yang ketiga. Tetapi menurut contoh itu, pekabaran yang ketiga akan merupakan sebuah pekabaran yang keras. Sebuah pekabaran yang menuntut kepatuhan dan memaksakan pelaksanaan sanksi hukuman terhadap orang-orang yang menentang keputusannya. Dan menurut contoh itu, adalah pekabaran yang ketiga itulah yang akan menyelesaikan misinya. 

Dalam tahun 1929 tepat sebuah pekabaran yang sedemikian ini telah datang kepada sidang Masehi Advent Hari Ketujuh, dan ia itu telah disajikan secara tertulis dan diterbitkan dalam tahun 1930, berjudul “Tongkat Gembala”, Jilid I. Dan sebagaimana pekabaran itu telah menyebar kepada semua sidang-sidang (sejauh mungkin) di seluruh dunia, maka orang yang berpakaikan kain khasah itu, yang membawa tinta penyurat pada sisinya, telah diperintahkan : “Pergilah ke tengah-tengah

kota itu, yaitu di tengah-tengah Yerusalem (sidang), dan bubuhlah sebuah tanda pada dahi-dahi orang-orang yang berkeluh kesah dan menangis karena segala kekejian yang dibuat di tengah-tengahnya (di dalam sidang). Dan kepada yang lainnya itu katanya pada pendengaranku, Pergilah kamu mengikuti dia ke seluruh kota itu, dan bunuhlah : janganlah matamu menaruh sayang, ataupun menaruh kasihan : bunuhlah seluruhnya baik tua maupun muda, baik anak-anak gadis, anak-anak kecil, maupun kaum perempuan : tetapi janganlah kamu datang menghampiri setiap orang yang padanya terdapat tanda itu; dan mulailah pada tempat kesucianku (Conference). Kemudian mulailah mereka itu terhadap orang-orang bangsawan (para Pendeta) yang berada di depan rumah itu.” (Yehezkiel 9 : 4 - 6).

Pada kata-kata Firman inilah pekabaran itu berlandas, yang secara nubuatan menyatakan, bahwa mereka yang 144.000 itu akan dibubuhi tanda, dan mereka yang terbanyak di dalam sidang sekarang ini harus memikul akibat-akibatnya terkecuali mereka bertobat lalu maju terus bersama-sama dengan kebenaran Allah. Tetapi walau tidak seorangpun dari seluruh organisasi Gereja mampu menentang kebenaran dari hal mereka yang 144.000 itu keseluruhannya, ataupun sebagiannya, atau walaupun mereka tidak berani membantah tuduhan mengenai kekejian-kekejian yang dibina di tengah-tengah mereka itu, mereka ternyata telah bangkit menentang pekabaran itu dan lebih senang berpegang kepada kekejian-kekejian mereka sama seperti halnya musuh-musuh Allah dahulu menentang pendirian kaabah itu sampai kepada titik terakhirnya. Sebagaimana keputusan dari raja Medo-Persia telah menyatakan kepada musuh-musuh rumah Allah itu, bunyinya : “Barangsiapa pun kelak merubah perkataanku ini, hendaklah rumahnya dijadikan sebuah kerobohan batu oleh karena hal ini.” Sedemikian itu pula Firman Allah telah  menyatakan pada waktu ini, “Bunuhlah semuanya baik tua maupun muda, baik anak-anak gadis, dan anak-anak kecil, maupun kaum perempuan.” Jika pekabaran yang sedemikian ini kelak tidak juga               menginsyafkan umat Allah untuk berbuat yang lebih baik, maka apakah yang dapat diperbuat oleh pekabaran itu? Bagaimanapun juga, sebagaimana maksud Allah telah dilaksanakan dalam contoh, maka demikian itu pula ia itu akan jadi dalam contoh saingannya. Adalah nyata sekali untuk dicatat betapa tepatnya contoh saingan itu sejalan kejadiannya dengan contohnya.

Tidak ada perubahan apapun yang dibuat dalam keputusan-keputusan Koresh itu dan karena itu hanya merupakan suatu pembaharuan kembali dari waktu ke waktu, maka sedemikian itu pula halnya dengan contoh saingannya. Dengan demikian tidak mungkin terdapat perubahan apapun dengan Pekabaran Malaikat Ketiga, terkecuali terang besar dan kuasa yang kelak dipertambahkan kepadanya. “Menakutkan sekali pekerjaannya! Mengerikan sekali misinya. Ialah malaikat yang akan memisahkan gandum dari antara lalang-lalang, dan memeteraikan, atau mengikat, gandum itu bagi lumbung surga.” — “Early Writings”, p. 118. 

SAAT BAGI PENDIRIAN SIDANG YANG BENAR ITU 

Di dalam Hagai 2 : 23, dalam membicarakan pendirian “contoh” itu (kaabah yang kedua) terkecuali memandang secara nubuatan ke depan kepada kegenapan dari contoh saingannya (sidang dalam kesuciannya), Firman Allah melalui nabi ini telah datang kepada Zerubabel yang telah meletakkan pondasi dari contoh (kaabah) itu, dan dari hal siapa Firman menyatakan merupakan sebuah tanda kecil

atau tanda alamat bagi contoh saingannya. Kita baca dari hal apa yang Allah akan lakukan pada masa itu :

“Karena demikianlah Firman Tuhan serwa sekalian alam; sekali lagi, ia itu tak lama lagi, maka Aku hendak mengguncangkan segala langit, dan bumi, dan laut, dan tanah yang kering; maka Aku hendak mengguncangkan segala bangsa, maka keinginan segala bangsa itu akan datang : maka Aku hendak mengisi rumah ini dengan kemuliaan, demikianlah firman Tuhan serwa sekalian alam. Perak adalah milik-Ku, dan emas adalah milik-Ku, demikianlah firman Tuhan serwa sekalian alam. Kemuliaan dari rumah yang terakhir ini kelak akan lebih besar daripada yang terdahulu itu, demikianlah firman Tuhan serwa sekalian alam : maka di tempat inilah Aku hendak menganugerahkan perdamaian, demikianlah firman Tuhan serwa sekalian alam.” (Hagai 2 : 6 – 9).

“Dan Aku hendak meruntuhkan tahta segala kerajaan, dan Aku hendak membinasakan kekuatan segala Kerajaan bangsa kapir; dan Aku hendak meruntuhkan segala kereta, berikut semua mereka yang menumpang di dalamnya; dan segala kuda dan pengendaranya akan jatuh, masing-masingnya oleh pedang saudaranya.” (Ayat 22).

Nyatalah dari kata-kata Firman ini bahwa sidang yang mulia ini akan didirikan pada penutupan sejarah dunia ini apabila kerajaan-kerajaan bumi akan sampai pada ajal mereka. Sementara menginterpretasikan khayalnya Zakharia, maka malaikat itu berbicara kepada Zerubabel, katanya : “Tangan-tangan dari Zerubabel telah meletakkan pondasi rumah ini; maka tangan-tangannya juga yang akan menyelesaikannya.” (Zakharia 4 : 9). Artinya, para pendiri dari kaabah contoh saingan yang telah dilambangkan dengan contoh Zerubabel meletakkan pondasi dalam tahun 1844. Zerubabel yang merupakan “sesuatu tanda kecil” bagi contoh saingan itu (oleh meletakkan pondasi dan menyelesaikan rumah itu), menunjukkan bahwa penyelesaian rumah kerohanian itu (lengkapnya sidang Allah itu — terhitungnya orang-orang suci itu) akan diselesaikan dalam satu generasi saja (dalam masa hidup seseorang, yang dimulai dalam tahun 1844). 

KEKUASAAN UMAT ALLAH UNTUK MEMBANGUN RUMAH-NYA 

“Demikianlah firman Tuhan serwa sekalian alam; jika kamu hendak berjalan di dalam segala jalan-Ku, dan jika kamu hendak memeliharakan perintah-Ku, maka kamupun akan kelak mengadili isi rumah-Ku, dan juga akan memeliharakan semua istana-Ku, maka Aku akan mengaruniakan kepadamu tempat-tempat untuk berjalan di antara mereka ini yang hadir di sini. Dengarlah sekarang, hai Yosua, imam besar. Baik kamu, maupun segala orang yang berdiri di hadapanmu : karena mereka adalah orang-orang yang dikagumi : sebab, sesungguhnya, Aku hendak mendatangkan hamba-Ku pucuk itu.” (Zakharia 3 : 7, 8). “Maka mereka akan kelak jadi bagaikan orang-orang perkasa, yang menginjak-injak segala musuhnya di dalam lumpur di jalan-jalan dalam peperangan; maka mereka akan berperang : karena Tuhan menyertai mereka itu, maka segala penunggang kuda akan dipermalukan.” (Zakharia 10 : 5).

“Tiuplah olehmu sangkakala di Sion, dan bunyikanlah suara siaga di dalam gunung-Ku yang kudus : hendaklah segala penduduk negeri gementar : karena datanglah Hari Tuhan itu, sebab sudah dekat kedatangannya; suatu hari kegelapan dan hari yang suram, suatu hari yang penuh awan dan kegelapan yang pekat, bagaikan fajar pagi yang terbentang di atas gunung-gunung : suatu bangsa yang besar dan kuat;

yang belum pernah ada seperti itu, bahkan tidak akan ada lagi sesudah itu turun temurun pada masa yang akan datang. Di depan mereka api memakan habis; dan di belakangnya nyala api berkobar-kobar : negeri itu adalah bagaikan taman Eden di hadapan mereka, dan di belakangnya bagaikan suatu padang belantara yang sunyi; ya, dan tak akan ada yang dapat menghindari mereka. Rupa mereka itu adalah bagaikan rupa kuda-kuda; dan bagaikan pengendara-pengendara kuda, demikianlah mereka itu berlari. Bagaikan ramainya bunyi kereta-kereta di puncak-puncak gunung mereka itu akan melompat-lompat, bagaikan bunyi nyala api yang memakan habis jerami, bagaikan suatu bangsa yang kuat teratur barisannya untuk berperang. Terhadap wajah mereka segala bangsa akan menderita : segala wajah akan menjadi pucat. Mereka akan berlari bagaikan orang-orang kuat perkasa; mereka akan memanjat tembok bagaikan prajurit-prajurit tempur; dan mereka akan berbaris masing-masingnya pada jalan-jalannya, dan mereka tidak akan merusak barisannya : ataupun mendesak satu terhadap yang lainnya; mereka akan berjalan masing-masing pada jalannya : maka apabila mereka jatuh dimakan pedang, mereka tidak akan terluka. Mereka akan berlari kesana kemari di dalam negeri; mereka akan berlari di atas tembok, mereka akan memanjat ke atas rumah-rumah, mereka akan masuk melalui jendela-jendela seperti pencuri. Bumi akan berguncang di hadapan mereka, segala langit akan gementar : matahari dan bulan akan menjadi gelap, dan segala bintang akan menarik kembali cahayanya.” (Yoel 2 : 1 – 10). “Bumi”, “matahari”, “bulan”, dan “bintang-bintang” tidak ada kaitannya dengan Matius 24 : 29. Tanda-tanda nubuatan dari planet-planet yang disebutkan itu akan menemui kelengkapan kegenapannya sebelum permulaan seribu tahun millenium. 

HASIL DARI MEMATUHI FIRMAN ALLAH 

“Demikianlah firman Tuhan serwa sekalian alam; akan jadi kelak, bahwa akan datang bangsa, dan penduduk-penduduk dari banyak kota : maka penduduk dari kota yang satu akan pergi kepada yang lainnya, sambil mengatakan, Marilah kita segera pergi berdoa ke hadapan Tuhan, dan mencari Tuhan serwa sekalian alam itu : maka akupun hendak ke sana. Sesungguhnya, banyak umat dan banyak bangsa yang kuat akan kelak datang mencari Tuhan serwa sekalian alam di Yerusalem, dan untuk berdoa ke hadapan Tuhan. Demikianlah firman Tuhan serwa sekalian alam; maka pada hari-hari itu akan jadi kelak, bahwa sepuluh orang dari segala bahasa bangsa-bangsa akan berpegang pada punca kain dari dia yaitu seorang Yahudi, sambil mengatakan, Kami hendak berjalan sertamu : karena telah kami dengar bahwa Allah ada menyertaimu.” (Zakharia 8 : 20 – 23). 

Arti dari “sepuluh orang” itu adalah sama dengan “sepuluh anak dara” dari Matius 25 : 1. Sepuluh anak dara itu mengartikan sidang sebagai sebuah badan; dan “orang-orang” itu secara simbolis menunjukkan mereka yang akan ditobatkan kepada sidang, dan bahwa mereka itu akan datang dari segala bahasa, dan segala bangsa. “Mereka akan berpegang pada punca kain dari dia yaitu seorang Yahudi”; artinya, dia yang orang Yahudi itu adalah melambangkan Kristus dalam pribadi umat kesucian-Nya (mereka yang 144.000 itu), “punca kain-Nya”

melambangkan kebenaran atau sidang secara keseluruhan, oleh mana mereka yang 144.000 itu secara simbolis berpakaian.

“Maka akan jadi kelak, demikianlah firman Tuhan, bahwa di seluruh tanah itu, dua bagian dari padanya akan ditumpas dan mati; tetapi bagian yang ketiganya akan tertinggal di dalamnya. Maka sepertiga bagian itu akan Ku bawa melalui api, dan menyucikannya seperti akan perak yang dibersihkannya, dan Aku akan menguji mereka itu seperti emas yang teruji : mereka akan memanggil nama-Ku, dan Aku akan mendengarkan mereka : Aku akan mengatakan, Inilah umat-Ku : dan mereka akan mengatakan, Tuhan adalah Allahku.” (Zakharia 13 : 8, 9).

“Oleh karena itu segala pintu gerbangmu akan terbuka selalu; baik siang baik malam tiada ia itu tertutup; supaya dibawa masuk oleh orang-orang ke dalammu tentara-tentara dari orang-orang Kapir, dan supaya raja-raja mereka itu dapat dibawa.” (Yesaya 60 : 11). 

* * *

ZAKHARIA 4 

Simbol-simbol contoh saingan dari kaabah yang kedua itu (contoh), telah ditunjukkan kepada Zakharia dalam khayal, dan telah  dicatat dalam pasal yang keempat dari nubuatannya sebagai berikut : 

“Maka kembali lagi malaikat yang berbicara dengan aku itu, lalu dibangunkannya aku, seperti seseorang yang dibangunkan dari tidurnya. Lalu katanya kepadaku, Apakah yang kau lihat? Maka kataku, Aku telah melihat, dan tengoklah sebuah kakidian yang seluruhnya dari emas, dengan sebuah mangkok pada puncak kakidian itu, dan tujuh buah pelitanya terdapat padanya, dan ada tujuh buah pipa yang menuju ke tujuh pelita itu, yang berada di atas puncaknya : Dan ada dua pohon zaitun di sampingnya, yang satu pada sebelah kanannya, dan yang lainnya pada sebelah kirinya. Demikianlah telah ku jawab dan berbicara kepada malaikat itu yang telah berbicara dengan aku, sambil bertanya, Apakah artinya semuanya ini, Tuanku? Kemudian malaikat yang berbicara dengan aku itu menjawab dan mengatakan kepadaku, Tidakkah engkau ketahui arti dari sekaliannya ini? Maka kataku, Tidak, tuanku. Kemudian ia menjawab dan berbicara kepadaku, katanya, Inilah firman Tuhan kepada Zerubabel, kata-Nya, Bukan oleh kuat, dan bukan oleh keperkasaan, melainkan oleh Roh-Ku saja, demikianlah firman Tuhan serwa sekalian alam ..... Lalu kembali ku jawab, dan mengatakan kepadanya, Apakah arti kedua pohon zaitun ini yang dari keduanya telah mengalir keluar habis minyak keemasan? Maka jawabnya kepadaku, katanya, Tidakkah engkau mengerti artinya ini? Maka jawabku, Tidak, tuanku. Maka katanya, Mereka ini adalah kedua orang yang diurapi itu, yang berdiri di sisi Tuhan seluruh bumi itu.” (Zakharia 4 : 1 - 6, 12 - 14). 

Demikianlah firman Allah dilambangkan dengan simbol-simbol ini. Oleh sebab itu, maka interpretasi dari sekaliannya itu akan mengungkapkan bagaimana caranya mengkomunikasikan Firman Allah kepada Zerubabel. Tetapi bukan kepada Zerubabel yang telah ikut membangun kaabah contoh itu, sebab ia pada waktu itu diberi petunjuk secara lisan oleh nabi-nabi Zakharia dan Hagai. Oleh sebab itu, karena arti dari simbol-simbol nubuatan ini belum dimengerti oleh mereka pada zaman itu, maka sekaliannya itu harus berlaku bagi orang-orang yang akan ikut serta dalam pembangunan kaabah contoh saingan, atau kaabah rohani (sidang) seperti yang telah dijelaskan terdahulu. 

Masing-masing simbol ini harus diuraikan secara terpisah melalui kenyataan yang tidak bertentangan, sehingga sekalian pengertiannya itu harus dijadikan metode oleh mana Allah akan mengkomunikasikan Firman-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Telah ditegaskan sebelumnya bahwa semua buku Alkitab itu bertemu, dan berakhir di dalam buku Wahyu. Oleh sebab itu, maka ungkapan dari nubuatan Zakharia ini harus juga ditemukan di sana.  

Kami mengutip : “Tujuh bintang itu adalah malaikat-malaikat dari tujuh

sidang : dan tujuh kakidian yang engkau saksikan itu adalah tujuh sidang itu.” (Wahyu 1 : 20). Dapatlah dicatat bahwa pekabaran-pekabaran kepada tujuh sidang itu bukannya dialamatkan kepada kakidian-kakidian itu (sidang sebagai suatu badan), melainkan kepada malaikat-malaikat, katanya, “Dan kepada malaikat sidangnya orang-orang Laodikea tuliskanlah.” (Wahyu 3 : 14). Malaikat ini bukanlah seorang malaikat dari surga, karena ia sedang didapati bersalah -- sedang dituduh bersalah sehingga sedang akan diludahkan, terkecuali ia bertobat. Justru malaikat inilah yang berkuasa mengawasi kakidian itu (sidang). Oleh karena itu, maka ketujuh malaikat itu menunjukkan kepemimpinan dari tujuh sidang itu, dan kakidian-kakidian itu adalah melambangkan tujuh sidang itu. Dengan demikian, maka sidang-sidang dalam contoh ini telah  dilambangkan dengan kakidian-kakidian. Oleh sebab itulah, maka kakidian dalam khayal Zakharia itu menunjukkan sidang sebagai sebuah badan. 

Ungkapan mengenai pohon-pohon zaitun itu akan ditemukan di dalam pasal sebelas ayat empat : ”Ini adalah kedua pohon zaitun itu, dan kedua kakidian itu yang berdiri dihadapan Allah yang empunya bumi.” Pohon-pohon zaitun dan kedua kakidian itu adalah dua saksi. (Lihat ayat 3). Zakharia juga menegaskan bahwa “Ini adalah kedua orang yang diurapi itu, yang berdiri di sisi Tuhan seluruh bumi.” (Zakharia 4 : 14). Oleh karena itu, maka kedua pohon zaitun ini, dan kedua kakidian itu adalah tak terpisahkan, karena kedua mereka itu “berdiri di sisi Tuhan seluruh bumi”. Kedua kakidian itu dalam contoh ini melambangkan sidang Allah dalam dua bagiannya, dan masing-masing sidang mempunyai sebatang pohon zaitun. Malaikat itu mengiterpretasikan pohon-pohon zaitun itu kepada Zakharia sebagai Firman Allah yang disampaikan kepada Zerubabel. Oleh sebab itu, maka kedua kakidian itu melambangkan sidang-sidang Wasiat Lama dan Wasiat Baru (Yahudi dan Kristen). Dan kedua pohon zaitun itu adalah simbol-simbol dari Alkitab Wasiat Lama dan Alkitab Wasiat Baru (Firman Allah yang disampaikan kepada Zerubabel). Kedua saksi ini “akan bernubuat seribu dua ratus enam puluh hari lamanya (sejak dari tahun 538 TM sampai tahun 1798) berpakaikan kain goni.” (Wahyu 11 : 3). “Kedua Saksi itu melambangkan Firman dari Wasiat Lama dan Wasiat Baru.” -- “The Great Controversy”, p. 267. 

Dengan demikian kita memiliki sebuah kakidian bagi masing-masing dari kedua bagian sidang Allah itu sementara seluruh Firman itu ditulis. Satu kakidian dan satu pohon zaitun bagi sidang Yahudi, dan satu kakidian dan satu pohon zaitun bagi sidang rasul-rasul, dan tujuh bagi sejarah sidang sisanya sampai kepada masa pemisahan lalang-lalang dari gandum, atau sampai kepada permulaan penuaian itu. Dengan demikian kakidian (sidang) dalam khayal Zakharia ini ialah yang kesepuluh, menunjukkan sebuah sidang yang universal; melukiskan sidang yang hidup itu yang akan bergabung dengan semua orang suci semenjak dari permulaan dunia -- yang akan bergabung dengan sidang dari alam semesta kepunyaan Allah! Kakidian dalam khayal Zakharia ini adalah sebuah kakidian yang mulia, yang dalam perbandingan, sekalian yang lainnya itu “tak berarti” sama sekali -- tepat sesuai dengan kaabah yang kedua, yang dalam perbandingan kaabah yang pertama itu “sama sekali tak berarti”.

KEDUA PIPA KEEMASAN ITU 

Maka benarlah, bahwa kakidian itu melambangkan sidang, dan dua pohon zaitun itu melambangkan Alkitab Wasiat Lama dan Wasiat Baru. Sekarang, “Apakah artinya kedua pipa keemasan ini”, yang “mengalirkan keluar habis minyak keemasan dari keduanya?” Kami kutip dari buku “Testimonies for the Church”, Vol. 7, p. 249 : ”Bagian dalam pelita itu harus diisi dengan minyak yang mengalir dari utusan-utusan surga melalui pipa-pipa keemasan ke dalam mangkok keemasan. Komunikasi Tuhan ini tidak pernah datang kepada seseorang dengan sia-sia.” Oleh sebab itu, maka kedua pipa keemasan itu yang mengalirkan habis minyak keemasan ke dalam mangkok keemasan adalah utusan-utusan Allah yang diilhami melalui siapa kebenaran sekarang diungkapkan, dan hanya merekalah para pengungkap Injil yang benar itu. Minyak itu melambangkan Firman Allah dari Alkitab yang diungkapkan sebagaimana yang dijelaskan oleh perantaraan hamba-hamba-Nya yang ditunjuk, dan mangkok itu menggambarkan semua publikasi atau buku-buku yang di dalamnya terhimpun semua ungkapan ini. Inilah “Kesaksian Yesus” itu -- “Roh Nubuat”. (Wahyu 12 : 17; 19 : 10). Wahyu yang Yohanes peroleh adalah disebut “Kesaksian Yesus”. (Lihat Wahyu 1 : 9). Oleh sebab itu, maka kesaksian Yesus adalah juga Roh Nubuat, karena kesaksian-Nya diungkapkan hanya oleh Roh Suci melalui saluran manusia. Demikianlah Alkitab yang diinterpretasikan oleh Ilham itu ialah satu-satunya kesaksian yang dapat menjadi “kesaksian Yesus itu” – Kebenaran tanpa kekeliruan apapun.    

TUJUH PELITA 

Jika kakidian itu melambangkan sidang sebagai sebuah badan, maka tujuh pelita yang di atasnya itu harus menunjukkan sidang-sidang yang lebih kecil yang tersebar di seluruh organisasi. Angka bilangan Alkitab mengenai kesempurnaan memasukkan seluruh pergerakan sebagai suatu yang menyeluruh. Kenyataan ini juga terbukti dari kutipan berikut ini : “Bilamana mereka yang diurapi itu mengosongkan dirinya melalui pipa-pipa keemasan, maka minyak itu mengalir keluar dengan sendirinya ke dalam mangkok keemasan, untuk mengalir ke dalam pelita-pelita, yaitu sidang-sidang.” -- “Testimonies to Ministers”, p. 337. 

TUJUH PEMBULUH KEEMASAN 

Jika “mangkok keemasan” itu adalah tempat yang berisikan interpretasi Alkitab yang diilhami atau tulisan-tulisan Roh Nubuat, dan pelita-pelita atau sidang-sidang adalah dilengkapi dengan minyak dari mangkok melalui tujuh pembuluh keemasan itu, maka dinas kependetaanlah yang dilambangkan oleh pembuluh-pembuluh itu, yaitu mereka yang ditugaskan untuk memberi makan kepada seluruh sidang dengan hanya Firman Allah yang diilhami. Kenyataan ini juga dibuktikan oleh “Roh Nubuat”, sebagaimana yang kita baca : ”Minyak keemasan itu melambangkan Roh Suci. Dengan minyak inilah para pendeta milik Allah akan senantiasa dilengkapi, supaya mereka, pada giliran berikutnya dapat membagikan minyak itu kepada sidang.” -- “Testimonies to Ministers”,

p. 188. Perhatikanlah, bahwa tujuh pembuluh itu (dinas kependetaan) mengambil minyak dari mangkok keemasan, bukan langsung dari pohon-pohon zaitun itu (Alkitab).

Pelajaran lukisan samawi ini adalah sangat jelas sehingga tidak mungkin untuk salah ditafsirkan, ataupun diputarbalikkan pengertiannya. Satu-satunya cara yang aman oleh mana hamba-hamba Allah dan sidang-Nya dapat bebas dari kekeliruan, penuh keyakinan, tanpa tipu di dalam mulut mereka (semua mereka berbicara perkara yang sama), ialah penunjuk jalan yang tidak pernah salah -- “Roh Nubuat”. Apa yang diterima sebagai kebenaran, tanpa ilham, ialah jerat Iblis yang menyesatkan, maka mereka yang mengajarkan ajaran-ajaran yang keliru ini ialah orang-orang yang sangat keras dan yang tidak mungkin untuk dapat diselamatkan dari lubang Setan yang tak terduga dalamnya itu; karena ia membuat mereka itu percaya bahwa pengakuan kekeliruan-kekeliruan mereka akan membatalkan mereka menjadi guru-guru, dan akan mempermalukan kedudukan mereka yang tinggi.

Barangsiapa yang menyangkal interpretasi Alkitab yang diilhami ialah menyangkal pelayanan Roh Suci, sehingga ia sedang berdosa melawan-Nya -- sedang berdosakan dosa yang tidak dapat diampuni lagi!

Kakidian emas ini ialah simbol yang sangat terkenal di dalam Alkitab berkenaan dengan sidang Allah. Pengaturannya dengan angka bilangan yang lengkap mengenai pelita-pelita, mangkok, pembuluh-pembuluh, dan pipa-pipa, yang sekaliannya dari emas, berikut dua batang pohon zaitunnya yang mengosongkan dirinya dari minyak keemasan ke dalam mangkok keemasan, mengungkapkan bahwa bagian yang terakhir dari sidang Allah, akan menjadi sidang yang sangat mulia dalam segala zaman. ”Komunikasi yang berkelanjutan” ini oleh Roh Suci kepada sidang, yang dilambangkan oleh cabang-cabang zaitun yang mengosongkan “Minyak Keemasan keluar dengan sendirinya” ke dalam Mangkok Keemasan, dan seperangkat pembuluh-pembuluh pengisinya yang lengkap dari mangkok ke semua pelita-pelitanya, ialah untuk membawa setiap bagian dari seluruh badan itu ke dalam persekutuan yang sempurna; sebuah sidang tanpa cacad cela.

Simbol nubuatan ini dengan tepat menunjuk ke depan kepada suatu perantara samawi yang menghisap kelemahan dan ketidak- sempurnaan manusia ke dalam kemuliaan yang kekal. “Sebuah sidang yang mulia, yang tidak bercacad cela, atau kerutan, ataupun sesuatu perkara yang sedemikian ini; melainkan bahwa ia itu harus suci dan tanpa cacad.” (Efesus 5 : 27). Sebuah sidang yang akan memeliharakan “perintah-perintah Allah, dan memiliki kesaksian Yesus Kristus”. “Berpakaikan senjata kebenaran Kristus, sidang ini memasuki peperangannya yang terakhir. ‘Indah bagaikan bulan, cerah bagaikan matahari, dan hebat bagaikan sebuah bala tentara dengan panji-panjinya’, ia akan maju terus ke seluruh dunia dengan kemenangan dan untuk memenangkan.” -- “Prophets and Kings”, p. 725. (Kidung Agung 6 : 10). Kepada kakidian inilah dijanjikan : “Tengoklah, Aku hendak menjadikan dikau sebuah alat penumbuk baru yang tajam dan bergigi-gigi : engkau akan menumbuk gunung-gunung, dan memalu mereka itu sampai menjadi kecil, dan engkau akan membuat bukit-bukit itu bagaikan sekam.” (Yesaya 41 : 15).

“Sebuah batu” itu -- sidang -- akan memperoleh khayal yang lengkap mengenai kemuliaan samawi : “Karena tengoklah batu yang telah ku letakkan di hadapan

Yosua itu; pada sebuah batu akan ada tujuh mata : tengoklah, aku hendak mengukirkan ukirannya, demikianlah firman Tuhan serwa sekalian alam, dan aku hendak menyingkirkan kejahatan dari tanah itu dalam sehari jua. Pada hari itu, demikianlah firman Tuhan serwa sekalian alam, kamu akan menjemput seorang akan seorang di bawah pokok anggur dan di bawah pokok ara.” (Zakharia 3 : 9, 10). Kepada hamba-hamba Allah (sidang) akan dikaruniakan mewarisi bumi, dan mengembalikan tanah itu kepada orang-orang suci, kepada siapa ia itu semula berasal. Demikianlah, “Masing-masing mereka akan duduk di bawah pokok anggurnya dan di bawah pokok aranya; maka tak seorangpun akan membuat mereka itu takut : karena mulut Tuhan serwa sekalian alam telah mengucapkannya.” (Mikha 4 : 4). 

“Maka mereka akan jadi bagaikan orang-orang perkasa, yang menginjak-injak segala musuhnya di dalam lumpur di jalan–jalan dalam peperangan : maka mereka akan berperang, karena Tuhan menyertai mereka itu, dan segala penunggang kuda akan dipermalukan.” (Zakharia 10 : 5). “Bukan oleh kuat, dan bukan oleh keperkasaan, melainkan oleh Roh-Ku saja, demikianlah firman Tuhan serwa sekalian alam.” (Zakharia 4 : 6).

“Maka pada hari itu Aku hendak menjadikan Yerusalem sebuah batu tanggungan bagi segala bangsa : sekalian mereka yang membebani dirinya dengan batu itu kelak akan dipotong berkeping-keping, jikalau berhimpun segala bangsa di bumi melawannya sekalipun ..... Pada hari itu Tuhan kelak akan melindungi semua penduduk Yerusalem; maka barangsiapa yang lemah di tengah-tengah mereka pada hari itu akan jadi seperti Daud; maka isi rumah Daud akan jadi seperti Allah, seperti malaikat Tuhan di hadapan mereka itu.” (Zakharia 12 : 3, 8). “Maka akan jadi kelak, bahwa di seluruh tanah itu, demikianlah firman Tuhan, dua bagian dari padanya akan ditumpas dan mati; tetapi bagian yang ketiganya akan tertinggal kepadanya. Maka sepertiga bagian itu akan Ku bawa melalui api, dan menyucikannya seperti akan perak yang dibersihkan, dan Aku akan menguji mereka itu seperti emas yang sudah teruji : mereka akan memanggil nama-Ku, dan Aku akan mendengarkan mereka : Aku akan mengatakan, Inilah umat-Ku : dan mereka akan mengatakan, Tuhan adalah Allahku.” (Zakharia 13 : 8, 9).

“Perkara-perkara yang mulia dikatakan dari halmu, hai kota Allah.” (Mazmur 87 : 3). “Bertempiklah dan bersoraklah, hai kamu penduduk Sion : karena besarlah Yang Maha Suci orang Israel itu di tengah-tengah kamu.” (Yesaya 12 : 6). “Bersorak-soraklah dan bersuka-sukalah, hai puteri Sion : karena, sesungguhnya, Aku datang, dan Aku hendak tinggal di tengah-tengahmu, demikianlah firman Tuhan.” (Zakharia 2 : 10). 

MANA YANG DIILHAMI DAN MANA YANG TIDAK? 

Orang-orang cerdik yang dikendalikan oleh kuasa penipu yang besar itu, dengan menggunakan kata-kata manis dan khotbah-khotbah yang menarik telah berusaha untuk meruntuhkan iman orang-orang suci pada firman Allah dengan menggunakan interpretasi-interpretasi Alkitab yang hampir tak terhitung banyaknya, dan sekian banyaknya sekte-sekte agama; yang hampir-hampir tidak mungkin bagi seseorang untuk menemukan jalan keluarnya karena kebingungan, sehingga dengan demikian tetap mempertahankannya dalam kebodohan terhadap kebenaran. Karena mengetahui sebelumnya akan semua rencana-rencana yang cerdik ini, maka Allah, telah menggambarkan kebenaran itu secara nubuatan dengan memakai kakidian ini dalam bagian-bagian

kelengkapannya, yang secara simbolis menunjukkan bahwa kebenaran Alkitab itu diungkapkan hanya oleh Ilham saja. Firman-firman tertulis mungkin saja dapat disalah-artikan, tetapi simbol-simbol tidak mungkin. Dengan demikian memungkinkannya bagi baik orang-orang terpelajar, maupun bagi mereka yang tidak terpelajar, untuk segera dapat membedakan di antara mana yang benar dan mana yang salah. 

Pertanyaan mungkin timbul dalam diri sebagian orang, Bagaimanakah dapat saya tentukan mana yang diilhami, dan mana yang tidak diilhami? Nubuatan firman Allah mampu menjawab pertanyaan ini dan menjernihkan kebingungan yang ada, memisahkan yang satu dari yang lainnya seperti gandum dipisahkan dari sekam. Pertama-tama, ”Akan torat dan akan kesaksian : jika mereka berbicara tidak sesuai dengan perkataan ini, maka itu adalah karena tidak ada terang di dalam mereka” (tidak diilhami) (Yesaya 8 : 20). Kedua, gereja-gereja yang tadinya ada sebelum tahun 1844 itu, telah jatuh bersama-sama dengan pemberitaan dari pekabaran malaikat yang kedua (Wahyu 14 : 8), menunjukkan bahwa Allah tidak lagi menyatakan diri-Nya melalui saluran mereka itu. Oleh sebab itu, maka setiap teori, dan pasilan atau sekte yang telah muncul keluar dari gereja-gereja yang ada pada waktu itu, adalah palsu tanpa memiliki terang apapun di dalam mereka. Inipun terbukti dari kenyataan, bahwa hampir semua penguasa atau pendiri dari teori-teori dan pergerakan-pergerakan itu sama sekali tidak mengakui ilham apapun. 

Nubuatan Yehezkiel, pasal empat (yang dijelaskan di dalam buku “Tongkat Gembala”, Jilid I, halaman 115 - 133, bahasa Inggris), membuktikan bahwa Luther, Knox, Campbell, Miller, dan E. G. White telah dipanggil secara Ilahi. Juga telah dibuktikan oleh perumpamaan Matius 20 bahwa Luther, Knox, Wesley, dan Campbell tidak diberikan terang mengenai kebenaran nubuatan, melainkan telah diilhami untuk menyerukan panggilan bagi reformasi kepada kebenaran-kebenaran tertentu yang telah diungkapkan sebelum sejarah mereka, tetapi telah “dipijak-pijak di bawah kaki”. Selanjutnya telah dibuktikan melalui perumpamaan yang sama bahwa oleh perantaraan Miller dan White, kebenaran-kebenaran nubuatan telah diungkapkan yang sebelumnya belum pernah diajarkan. (Lihat halaman 227, 228, bahasa Inggris). Juga telah diperlihatkan oleh nubuatan Yehezkiel bahwa terang dan kebenaran atas Alkitab akan terus berlangsung selama 390 tahun; yaitu, semenjak dari tahun 1500 sampai tahun 1890; lalu kemudian ia itu akan berhenti selama empat puluh tahun lamanya. (Lihat buku “Tongkat Gembala”, Jilid I, halaman 114 - 133, bahasa Inggris). 

Dengan demikian, selagi pergerakan tahun 1844 itu memberitakan bahwa terang telah berhenti diungkapkan melalui semua sekte yang lain, maka telah ditunjukkan oleh nubuatan Yehezkiel bahwa terang akan terus berlanjut bersama dengan pergerakan yang terakhir, sampai tahun 1890. Kenyataan inipun terbukti dengan sendirinya, karena gereja Masehi Advent Hari Ketujuh tidak lagi memperoleh terang tambahan atas Alkitab selama dalam empat puluh tahun yang disebutkan itu. Oleh karena itu, maka setiap teori, atau apapun yang disebut kebenaran, yang mungkin telah diketemukan oleh beberapa orang di dalam organisasi (MAHK) ini yang belum diungkapkan sebelum tahun 1890, itu juga adalah palsu; walaupun ada beberapa perkara telah tertulis di dalam Roh Nubuat, sekalian itu tidak akan dapat dipahami sampai tahun 1929. Kebenaran-kebenaran yang diungkapkan sebelum tahun 1844, dan sampai pada tahun

1929, adalah terdapat di dalam tulisan-tulisan “Roh Nubuat”, maka apa yang tidak tertulis di sana, tidak akan bernilai apapun. Setelah pikiran-pikiran kita dibersihkan dari semua teori palsu ini baru dapat kita memahami kebenaran itu. Dengan perkataan lain orang-orang Laodikea harus mengakui bahwa tuduhan yang melawan mereka itu adalah benar -- “tiada terkasihan, sengsara, dan miskin, dan buta, dan bertelanjang”; dan oleh menyambut kebenaran itu mereka akan dapat menggosok mata mereka “dengan salep mata”; karena adalah “saksi yang benar itu sendiri yang berbicara, dan Firman-Nya harus benar”, Carilah penjelasan-penjelasan bagimu “di dalam Mangkok”, maka anda tidak akan sukar untuk mengerti kebenaran, ataupun untuk menghindar dari jerat penyesatan yang senantiasa siap mengancam. Demikian kesulitan dalam mengenali perbedaan di antara kebenaran dan kekeliruan telah dapat dihapuskan. 

* * *

SUNGAI DARI KHAYALNYA YEHEZKIEL 

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa nubuatan Zakharia itu adalah berlaku bagi sidang dalam masa “Seruan Keras”. Dengan demikian ia itu menjadi kebenaran sekarang. Kami mengutip dari Zakharia 12 : 8 : “Pada hari itu Tuhan akan melindungi semua penduduk Yerusalem; dan ia yang lemah di antara mereka pada hari itu akan jadi seperti Daud; maka isi rumah Daud akan jadi seperti Allah, seperti malaikat Tuhan di hadapan mereka itu” -- di hadapan rombongan besar orang banyak dari Wahyu 7 : 9. 

Sidang dalam kesuciannya disebut oleh Firman sebagai, “Rumah Daud”. Oleh sebab itu, maka sebutan ini akan menjadi salah satu dari nama-nama dari sidang dalam masa “Seruan Keras”. Dengan demikian sidang yang berada di bawah nama ini akan kelak jadi seperti Allah di hadapan semua umat. Pengertiannya di sini adalah sama seperti yang terdapat di dalam Keluaran 7 : 1, “Dan firman Tuhan kepada Musa Lihatlah, Aku telah menjadikan dikau allah bagi Firaun : dan Harun saudaramu akan menjadi nabimu” (hamba). Artinya, “Engkau harus mewakili diri-Ku, dan bertindak seperti Allah dengan cara memerintahkan kepatuhan mereka kepada perintah-perintahmu, dan oleh menghukum orang-orang yang mendurhaka dengan hukuman yang sedemikian rupa yang tak ada orang lain dapat melakukannya terkecuali Allah; untuk mana engkau akan memperoleh bantuan kekuatan-Ku yang maha kuasa.” Ini adalah tugas bagi sidang dalam masa penuaian. Rasul Petrus dulu dipenuhi dengan kuasa ilahi sedemikian ini sewaktu ia mengatakan : “Engkau bukan berdusta terhadap manusia, melainkan terhadap Allah. Maka Ananias, setelah mendengar semua perkataan ini, jatuhlah ia, lalu menghembuskan napasnya ..... Dan adalah kira-kira antara tiga jam kemudian, pada waktu istrinya, yang tidak mengetahui apa yang telah terjadi masuk. Kemudian kata Petrus kepadanya ..... tengoklah, kaki-kaki mereka yang telah menguburkan suamimu itu berada di depan pintu, dan merekapun akan membawamu keluar. Kemudian jatuhlah ia langsung pada kaki Petrus, lalu menghembuskan napasnya : maka orang-orang muda itu masuk, dan mendapatkannya telah mati, maka mereka membawanya keluar, dan dikuburkannya di samping suaminya.” (Kisah Para Rasul 5 : 4, 5, 7, 9, 10 ). 

“Pada hari itu akan ada kelak sebuah mata air yang terbuka bagi isi rumah Daud dan bagi semua penduduk Yerusalem bagi pencucian dosa dan kecemaran.” (Zakharia 13 : 1). Perhatikanlah bahwa mata air ini adalah mampu untuk mencuci bersih dua hal; pertama dosa, dan kedua kecemaran. Apakah perbedaan di antara yang satu dengan yang lainnya itu? “Dosa ialah pelanggaran terhadap hukum.” (1 Yohanes 3 : 4). Maka akibat dari dosa ialah rusaknya tubuh. “Berbicaralah kepada bani Israel, dan katakanlah kepada mereka itu, bahwa apabila seorang laki-laki mengeluarkan lelehan dari dagingnya, maka cemarlah ia karena lelehannya itu.” (Imamat 15 : 2). Sebutan Alkitab untuk sakit ialah “Kecemaran”. Juga, memasukkan

ke dalam tubuh bentuk makanan yang dilarang oleh Firman Allah, ialah pelanggaran hukum, dan penyelewengan terhadap tubuh (kecemaran). 

“Sebab itu keluarlah kamu dari antara mereka itu, dan berpisahlah, demikianlah firman Tuhan, dan janganlah menyentuh barang yang cemar; maka Aku akan menerima kamu.” (2 Korintus 6 : 17). “Untuk ini ketahuilah olehmu, bahwa tiada orang yang berzinah, ataupun orang yang cemar, atau orang yang tamak, yang adalah penyembah berhala, dapat memperoleh sesuatu warisan di dalam kerajaan Kristus dan kerajaan Allah itu. Janganlah membiarkan siapapun menyesatkan kamu dengan kata-kata yang sia-sia : karena sebab segala perkara ini datang murka Allah atas anak-anak durhaka. Sebab itu janganlah kamu berkawan dengan mereka. Sebab dahulu kamu gelap, tetapi sekarang kamu adalah terang dalam Tuhan : berjalanlah sebagai anak-anak terang ..... Dan janganlah kamu bersekutu dengan pekerja-pekerja kegelapan yang tidak membawa hasil, melainkan sebaiknya tegurlah mereka itu.” (Efesus 5 : 5 – 8, 11). Allah mampu untuk menyembuhkan jiwa dan tubuh; tetapi Ia tidak mau menyembuhkan tubuh sebelum Ia berhasil menyembuhkan jiwa -- “dosa” lebih dulu, kemudian baru “kecemaran”. “Aku juga hendak menyelamatkan kamu dari semua kecemaranmu : dan Aku hendak mengambil gandum, dan akan melimpahkannya, dan tiada Aku mendatangkan kelaparan atasmu.” (Yehezkiel 36 : 29). Kuasa yang mampu mencuci bersih kecemaran dari setiap orang itu, akan ”terbuka bagi isi rumah Daud dan bagi semua penduduk Yerusalem” dan adalah dilambangkan oleh “mata air” pada nubuatan Zakharia. 

Yehezkiel mengatakan : “Dalam tahun yang kedua puluh lima dari perhambaan kami”, dan “dalam tahun keempat belas sesudah kota itu dibinasakan, pada hari yang sama itu juga adalah tangan Tuhan di atasku, lalu dibawa-Nya akan daku ke sana.” (Yehezkiel 40 : 1). Sebagaimana yang tercatat di dalam pasal empat puluh tujuh, kepada Yehezkiel telah diperlihatkan dalam khayal hal-hal tertentu dari pembangunan kaabah itu beberapa tahun sebelum orang-orang Israel itu dibebaskan dari tawanan di Babil. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa kaabah yang didirikan sesudah perhambaan mereka itu adalah sebuah contoh dari sidang yang khusus ini dalam masa “seruan keras” -- “yaitu isi rumah Daud”. Oleh sebab itu, maka sungai yang keluar dari kaabah itu menurut khayal dari Yehezkiel adalah berlaku pada masa ini, dan hanyalah berupa perluasan dari “mata air” ini yang akan berada di dalam “rumah Daud” sidang itu. “Dari mata air ini mengalirlah keluar sungai yang besar itu yang terlihat dalam khayal dari Yehezkiel.” -- “Counsels on Health”, p. 210. Sejauh ini kami telah menjelaskan aplikasi dari “mata air” ini, tempat dan waktunya; juga bahwa sungai yang besar itu yang terlihat dalam khayal dari Yehezkiel akan mengalir keluar dari padanya. Sekarang kita akan mempelajari arti dari sungai yang besar ini. 

YEHEZKIEL 47 

Ayat 1 : “Setelah itu dibawanya kembali aku sampai ke pintu rumah itu; maka, tengoklah, air-air mengalir keluar dari bawah ambang pintu rumah itu arah ke timur : karena bagian depan rumah itu berdiri

arah ke timur, maka air-air itu mengalir dari bawah dari sebelah kanan rumah itu, pada sebelah selatan dari mezbah.” Karena air-air itu datang dari sebelah selatan mezbah itu, lalu kemudian pergi arah ke timur, maka ia itu menunjukkan dengan jelas bahwa sekaliannya itu keluar dari utara, yang secara simbolis menunjukkan bahwa apapun juga arti dari “air-air” itu, sekaliannya itu datangnya dari tahta Allah, karena Tahta itu berada “pada belahan-belahan utara (in the sides of the north).” (Yesaya 14 : 14; Mazmur 48 : 2; 75 : 6).

Sementara perhatian Yehezkiel diarahkan ke bagian dalam dimana ia pertama sekali menyaksikan air-air itu, maka katanya : “Lalu dibawanya akan daku keluar dari jalan pintu gerbang arah ke utara, dan dipimpinnya aku berkeliling jalan itu sampai ke pintu gerbang yang di luar melalui jalan yang memandang ke arah timur; maka tengoklah, di sana memancar keluar air-air pada sebelah kanan. Maka setelah orang yang memegang tali pengukur dalam tangannya itu berjalan keluar arah ke timur, diukurnya seribu hasta, lalu dibawanya akan daku melalui air-air itu; air-air itu adalah sampai ke mata kaki dalamnya. Kembali ia mengukur seribu hasta lagi, lalu dibawanya akan daku melewati air-air itu; air-air itu adalah sampai ke lutut dalamnya. Kembali lagi ia mengukur seribu, dan dibawanya aku melewatinya; maka air-air itu adalah sampai ke pinggang dalamnya. Kemudian ia mengukur lagi seribu; maka itulah sebuah sungai yang tak dapat ku arungi : karena air-air itu telah naik menjadi air-air untuk direnangi di dalamnya, yaitu suatu sungai yang tidak dapat dilewati. Maka katanya kepadaku, hai anak manusia, sudahkah engkau melihat ini? Lalu dibawanya akan daku, dan disuruhnya aku kembali ke tepi sungai itu. Sekarang setelah aku kembali, tengoklah, pada tepi sungai itu ada banyak sekali pohon-pohon kayu pada sisi yang satu dan pada sisi lainnya. Maka katanya kepadaku, Sekalian air-air ini mengalir keluar arah ke negeri timur, dan masuk ke dalam padang belantara, dan pergi masuk ke laut : yang karena dibawa masuk ke laut, maka air-air itu kelak akan disembuhkan. Maka akan jadi kelak, bahwa setiap mahluk yang hidup, yang bergerak, ke manapun saja sungai-sungai itu kelak datang, akan hidup : maka kelak akan ada sejumlah besar sekali ikan, sebab air-air ini akan datang ke sana; karena mereka akan disembuhkan; dan segala apapun akan hidup kemana sungai itu datang. Maka akan jadi kelak, bahwa para nelayan akan berdiri di atasnya mulai dari En-gedi sampai ke En-eglaim; keduanya itu akan menjadi suatu tempat untuk merentangkan pukat-pukat; ikan-ikan mereka akan terdapat sesuai dengan jenis-jenisnya, seperti ikan dari lautan yang luas, yang banyak sekali. Tetapi tempat-tempatnya yang berlumpur dalam dan tempat-tempatnya yang berawa-rawa tidak akan disembuhkan; sekaliannya itu akan dibiarkan menjadi garam. Dan dekat sungai itu pada tepinya, pada sisi yang ini dan pada sisi yang sana akan bertumbuh semua pohon bagi makanan, yaitu yang daunnya tidak akan layu, dan buah-buahnya pun tidak akan habis : ia akan mengeluarkan buah baru sesuai dengan bulan-bulannya, sebab air-airnya itu mereka pancarkan keluar dari tempat kesucian : maka buahnya itu akan berguna bagi makanan, dan daunnya bagi obat-obatan.” (Yehezkiel 47 : 2 – 12).

Dapatlah dicatat bahwa sebagaimana Yehezkiel pertama sekali menyaksikan air-air itu di sisi mezbah itu, sekaliannya itu sedikit saja artinya diperbandingkan

[halaman kosong]

__ GAMBAR __

dengan apa yang ia saksikan di luar pintu gerbang itu. Sebagaimana anak sungai kecil itu dengan begitu cepat berkembang menjadi suatu sungai yang besar, maka ia itu melambangkan sesuatu yang pertumbuhannya cepat sekali. Air-air ini menunjukkan hal yang sama seperti halnya air-air di dalam Wahyu 17 : 15, yaitu “Banyak umat, dan orang banyak, dan bangsa-bangsa, dan bahasa-bahasa.” Karena malaikat itu mengatakan kepada Yehezkiel : “Yang karena dibawa masuk ke laut, maka air-air itu akan disembuhkan.” (Ayat 8). Oleh karena itu, maka air-air ini adalah melambangkan suatu rombongan besar orang-orang yang banyak sekali “yang tak seorangpun dapat menghitungnya” yang kelak akan disembuhkan dari dosa dan penyakit, yaitu diselamatkan dalam masa “seruan keras” melalui pelayanan dari “isi rumah Daud” itu (sidang). Karena Yehezkiel tidak dapat berenang melewati sungai ini, maka simbol ini adalah sesuai tepat dengan Wahyu 7 : 9, yaitu “Suatu rombongan besar orang-orang, yang tak seorangpun dapat menghitungnya, berasal dari segala bangsa, dan suku-suku bangsa, dan umat, dan bahasa-bahasa ..... berpakaikan jubah-jubah putih, dan pelepah kurma di dalam tangan mereka.” 

Perhatikanlah bahwa alasan mengapa air-air itu disembuhkan, ialah karena mereka itu “dibawa masuk ke laut”. Jika sungai yang besar itu melambangkan orang-orang suci dari bumi, maka laut harus merupakan simbol dari dunia-dunia yang tidak berdosa (penduduk-penduduk) di dalam alam semesta Allah. Sebagaimana sungai itu dibawa masuk ke laut, maka itu menunjukkan bahwa orang-orang suci akan datang berhubungan dengan bangsa-bangsa yang kekal yang tidak mengenal dosa, dan karena “dibawa keluar”, kita harus “disembuhkan” sebelum masing-masing kita bertemu dengan yang lainnya! Kenyataan-kenyataan dari simbol ini membuktikan bahwa ini adalah bagian yang terakhir dari sidang Allah -- sidang yang akan diubahkan tanpa merasai kematian! Bersedialah, bersedialah, bersedialah, kita sedang berdiri sekarang pada sayap-sayap dari kekekalan itu -- kehidupan yang kelak tidak akan pernah berakhir. 

Air-air yang membentuk sungai yang besar ini melambangkan rombongan besar orang-orang suci yang dilengkapi dengan kuasa penyembuhan yang berasal dari tahta Allah; karena Firman mengatakan : “Dan segala-galanya akan hidup kemana saja sungai itu datang”. (Ayat 9, bagian terakhir). Penyembuhan ini bukanlah tidak tetap, melainkan tetap; karena kita baca : “Maka akan jadi kelak, bahwa segala-galanya yang hidup, yang bergerak, kemana pun sungai itu kelak datang, akan hidup” (selama-lamanya). 

Sesudah malaikat itu mengukur tiga kali seribu hasta, maka Yehezkiel mengatakan : “Maka katanya kepadaku, hai anak manusia, sudahkah engkau melihat ini? Lalu dibawanya akan daku, dan disuruhnya aku kembali ke tepi sungai itu. Sekarang setelah aku kembali, tengoklah, pada tepi sungai itu terdapat banyak sekali pohon-pohon pada sisi yang satu dan pada sisi yang lainnya. Dan dekat sungai itu pada tepinya,” demikian kata malaikat itu, “pada sisi yang ini dan pada sisi yang sana, akan bertumbuh semua pohon bagi makanan, yaitu yang daunnya tidak akan layu, dan buah-buahnya pun tidak akan habis : ia akan mengeluarkan buah baru sesuai dengan bulannya, sebab air-airnya itu mereka pancarkan keluar dari tempat kesucian; maka buahnya itu akan berguna bagi makanan, dan daunnya bagi obat-obatan.” (Ayat 6, 7, 12).

Nilai dari daun-daun dan buah dari pohon-pohon ini adalah sama identik seperti halnya pohon hayat menurut Wahyu 22 : 2, “Maka pada kedua tepi sungai itu, ada terdapat pohon hayat, yang berbuah dua belas macam, dan mengeluarkan buahnya setiap bulan; dan daun-daun pohon itu adalah bagi penyembuhan segala bangsa.” Yang sangat penting sekali adalah bahwa sidang Allah (rumah Daud) akan diberkahi dengan kuasa dari tahta untuk menawarkan kehidupan kekal tanpa merasai kematian bagi orang-orang yang menyambut kebenaran, dan yang rindu menjadi bagian dari sungai yang besar ini. Karena ini adalah satu-satunya bagian dari sidang Allah yang telah dikaruniai Injil kekuasaan bagi penyembuhan tetap dan kehidupan yang kekal, maka Firman menyatakan : “Ia yang lemah di antara mereka pada hari itu akan jadi seperti Daud; dan rumah Daud akan jadi seperti Allah, seperti malaikat Tuhan di hadapan mereka itu.” (Zakharia 12 : 8). 

“Maka kelak akan ada sejumlah besar sekali ikan, sebab air-air ini akan datang ke sana ..... Maka akan jadi kelak, bahwa para nelayan akan berdiri di atasnya mulai dari En-gedi sampai ke En-eglaim ….. Ikan-ikan mereka akan terdapat sesuai dengan jenis-jenisnya, seperti ikan dari lautan yang luas, yang banyak sekali.” (Yehezkiel 47 : 9, 10). Ikan-ikan itu melambangkan orang-orang yang akan bertobat bagi sidang — “sungai”. “Dan segala sesuatu akan hidup kemana pun sungai itu datang.” (Ayat 9). Dinas kependetaan adalah dilambangkan sebagai nelayan-nelayan, “Maka kata Yesus kepada mereka itu, Ikutlah Aku, maka Aku hendak menjadikan kamu nelayan-nelayan penangkap manusia.” (Markus 1 : 17). Para rasul pada sesuatu waktu telah meninggalkan pukat Injil dan berhenti menjadi nelayan-nelayan penangkap manusia, karena mereka itu pergi mencari ikan untuk mengejar keuntungan, “maka malam itu mereka tidak berhasil menangkap apapun. Tetapi setelah terbit fajar, berdirilah Yesus di pantai ..... Lalu kata Yesus kepada mereka itu, Hai anak-anak-Ku, adakah lauk padamu? Maka jawab mereka kepada-Nya, Tidak ada. Lalu kata Yesus kepada mereka itu, Labuhkanlah pukatmu di sebelah kanan perahu itu, maka kamu akan dapat. Lalu dilabuhkannya pukat itu, dan sekarang mereka tidak dapat menarik pukatnya karena terlalu banyak ikan yang masuk.” (Yohanes 21 :  3 – 6). Keberhasilan tidak pernah akan gagal bilamana perintah Tuhan dipatuhi. Kalau saja pihak kependetaan senantiasa bertanyakan pada Yesus di mana dan bagaimana melabuhkan pukatnya, maka sudah akan banyak “ikan” yang tertangkap -- orang-orang bertobat -- sehingga tidak pernah akan kekurangan “lauk” – uang. 

“Karena bagian depan rumah itu berdiri arah ke timur”. (Yehezkiel 47 : 1). Kedudukan rumah itu membuktikan bahwa ia itu melambangkan suatu peribadatan yang benar, karena demikianlah umat pilihan Allah telah diberi petunjuk untuk membangun kaabah-kaabah mereka. Israel menyembah Allah dengan punggungnya arah ke timur untuk mengingatkan mereka bahwa mereka tidak diperkenankan menaruh perhatian kepada penyembahan matahari dan penyembahan berhala. 

“Maka katanya kepadaku, Sekalian air-air ini mengalir keluar arah ke negeri timur, dan masuk ke dalam padang belantara, dan pergi masuk ke laut.” (Ayat 8). Adalah nyata sekali untuk diperhatikan betapa tepatnya simbol-simbol ini

yang terdapat dalam setiap contoh peristiwa. Arah kompas ini menunjukkan bahwa pekabaran “seruan keras” itu akan bertolak arah ke timur semenjak ia itu diungkapkan pada pertama kalinya. Keanggotaan gereja berada sebagian besar di sebelah timur California, dan di seberang Lautan Atlantik, dengan sendirinya pekabaran itu harus bertolak arah ke timur. Nubuatan simbolis ini mengungkapkan bahwa pekabaran “seruan keras” itu akan bersumber di California. Dengan demikian menggenapi kata-kata nubuatan dari “Roh Nubuat” di dalam sebuah surat yang ditujukan kepada Pendeta E.E. Andros : “Saya merasa yakin Pendeta Andros, bahwa saudara-saudara di California Selatan akan menemukan berkat dalam meninjau kembali ajaran-ajaran Injil mengenai mereka yang 144.000 itu sambil membawakan untuk menunjukkan hubungan ajaran-ajaran ini dengan terang apapun yang mungkin terdapat di dalam tulisan-tulisan Roh Nubuat yang telah diterbitkan, dan karena perhatian yang penuh doa telah diberikan terhadap masalah itu dalam segala persoalannya, maka saya percaya bahwa Allah kelak akan membuat kebenaran itu menjadi jelas sepenuhnya untuk sedapat mungkin menghindarkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak perlu dan tak bermanfaat yang tidak penting bagi keselamatan jiwa-jiwa yang berharga.” 

Timur adalah arah Alkitab mengenai penyembahan berhala, ia itupun mengartikan bahwa pekabaran itu adalah mengarah kepada pertobatan orang-orang berdosa dan pembasmian penyembahan berhala. “Maka akan jadi kelak pada hari itu, demikianlah firman Tuhan serwa sekalian alam, bahwa Aku hendak menghapuskan nama-nama dewa-dewa dari tanah itu, sehingga sekaliannya itu tidak lagi akan diingat : dan lagi segala nabi dan roh-roh yang najis akan Ku lalukan dari negeri itu.” (Zakharia 13 : 2). 

Malaikat itu mengukur empat kali seribu hasta menuju ke timur (seribu -- “sepuluh” kali seratus). Mengapa empat kali seribu? Mengapa tidak lebih ataupun kurang? Telah dijelaskan sebelumnya bahwa angka bilangan “sepuluh” ialah simbol dari universal, dan angka bilangan empat simbol dari kelengkapan dari bumi atau empat titik arah dari kompas. Dengan demikian ia itu secara simbolis menunjukkan bahwa pekabaran itu akan meliputi seluruh dunia; maka sementara ia itu bertolak arah ke timur, ia akan menyebar dari kutub-kutub, sehingga mengelilingi bumi selengkapnya (10 x 100 = 1000 -- empat kali). Adalah sama tepat dengan kata-kata Kristus : “Maka Injil kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia bagi suatu kesaksian kepada segala bangsa; lalu kemudian kelak datang kesudahan.” (Matius 24 : 14). 

“Tetapi tempat-tempatnya yang berlumpur dalam dan tempat-tempatnya yang berawa-rawa tidak akan disembuhkan; sekaliannya itu akan dibiarkan menjadi garam.” (Yehezkiel 47 : 11). “Tempat-tempat yang berawa-rawa” dan “tempat-tempat yang berlumpur dalam” melambangkan gereja-gereja dan sekte-sekte agama yang terpisah dari “sungai besar” itu, dan bahwa mereka itu tidak akan diselamatkan, atau disembuhkan. “Menjadi garam” berarti hilang untuk selama-lamanya, seperti halnya istri Lot dahulu. “Maka seperti halnya di zaman Nuh dahulu, demikian itu pula kelak pada zaman Anak Manusia ..... Sama pula halnya seperti di zaman Lot dahulu. ..... Ingatlah akan istri Lot.” (Lukas 17 : 26, 28, 32). 

“Maka akan jadi kelak, bahwa para nelayan akan berdiri di atasnya

mulai dari En-gedi sampai ke En-eglaim; keduanya itu  (kedua kota itu) akan menjadi suatu tempat untuk merentangkan pukat-pukat.” (Yehezkiel 47 : 10). Kedua kota ini mengungkapkan bahwa ikan-ikan itu ditangkap di dua tempat, yaitu En-gedi (Masehi Advent Hari Ketujuh) dimana mereka yang 144.000 itu dikumpulkan — yaitu buah-buah pertama, dan En-eglaim (Babil atau dunia) dimana rombongan besar orang banyak dari Wahyu 7 : 9 itu dikumpulkan. Gambar pada halaman 294, bahasa Inggris, melambangkan gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (En-gedi) sementara ia itu menjadi “Rumah Daud”, dan tempat dari sungai itu (En-eglaim) menunjukkan dunia. Aliran dari mata air dimana ia itu pertama sekali keluar menuju ke pintu gerbang sebelah timur, melambangkan mereka yang 144.000 itu, dan sungai itu melambangkan rombongan besar orang banyak itu. “Akan ada sebuah sungai, aliran-aliran airnya akan kelak menggembirakan kota Allah itu, yaitu tempat yang suci dari tabernakel-tabernakel dari Dia Yang Maha Tinggi. Allah ada di tengah-tengahnya; ia tidak dapat digoncangkan : Allah akan membantunya, dan itu adalah sejak fajar merekah.” (Mazmur 46 : 4, 5). 

* * * 

PEMBENARAN OLEH IMAN; APAKAH INI? 

SEMUA BERKAT YANG TERTULIS DALAM PASAL-PASAL TERDAHULU AKAN DIPAHAMI BERIKUT INI 

Walaupun pokok masalah yang terpenting ini adalah yang tersederhana dari semua kebenaran Alkitab, namun ia ini telah  dikacaukan secara luas, sehingga sebagian besarnya telah keliru dipahami. Contoh dari pengalaman seseorang dalam perkara-perkara Allah, berikut pembenaran oleh imannya, hendaknya menjernihkan kekacauan yang luas ini, dan menyingkirkan tirai yang telah  menutup mata orang-orang yang setia. “Tetapi juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham; yaitu bapa dari kita semua. (Seperti yang tertulis, Aku telah menjadikan dikau bapa dari banyak bangsa), di hadapan-Nya yaitu Dia yang ia percaya, yaitu Allah, Yang menghidupkan orang mati, dan yang menyebutkan perkara-perkara yang tidak ada seolah-olah sudah ada.” (Roma 4 : 16, 17).

Bilamana metode yang dianut oleh Abraham itu diikuti, maka, hanya itulah, dapatlah masing-masing kita dibenarkan; tidak ada lagi cara yang lain. “Dan jika kamu menjadi milik Kristus, maka kamu adalah benih Abraham, dan pewaris-pewaris yang sesuai dengan perjanjian itu.” (Galatia 3 : 29). “Jikalau kamu anak-anak Abraham, maka kamu akan melakukan juga segala perbuatan Abraham.” (Yohanes 8 : 39). Marilah kita mencatat mengenai iman Abraham, pengalamannya, dan pembenarannya. “Dengarlah akan daku, hai kamu yang mengejar kebenaran, kamu yang mencari Tuhan : pandanglah pada bukit batu tempat kamu sudah terpahat dari dalamnya, dan pada lubang penggalian dari mana kamu sudah menggali. Pandanglah kepada Abraham nenek moyangmu itu.” (Yesaya 51 : 1, 2).

 

Berikut ini dapatlah dicatat bahwa Abraham telah memberi jawaban tanpa ragu-ragu terhadap semua yang diperintahkan Allah kepadanya untuk dilaksanakan : “Kini Tuhan berfirman kepada Abraham, Keluarlah kamu dari negerimu, dan dari suku bangsamu, dan dari rumah bapakmu, pergilah ke suatu negeri yang akan Ku tunjuk kepadamu kelak. ..... Maka berangkatlah Abraham dari sana, seperti yang telah difirmankan Tuhan kepadanya. ..... Maka Tuhan menampakkan diri kepada Abraham, lalu firman-Nya, Tanah ini akan Ku anugerahkan kepada anak cucumu : Lalu di sanalah didirikannya sebuah mezbah bagi Tuhan, yang telah menampakkan diri kepadanya.” (Kejadian 12 : 1, 4, 7). “Maka kemudian setelah Lot berpisah dari Abraham, berfirmanlah Tuhan kepada Abraham demikian, Sekarang angkatlah matamu, lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke sebelah utara, dan ke sebelah selatan, dan ke sebelah timur, dan ke sebelah barat : karena semua tanah yang kau lihat itu, akan Ku berikan kepadamu, dan kepada anak-cucumu sampai selama-lamanya. Maka Aku akan menjadikan benihmu itu seperti lebu tanah banyaknya : jikalau kiranya dapat dihitung orang akan lebu tanah itu, barulah dapat dihitung akan benihmu juga. Bangkitlah, berjalanlah engkau melalui seluruh tanah itu dari bujurnya dan lintangnya; karena ia itu akan Ku berikan kepadamu. Maka Abraham lalu mengangkat kemahnya, lalu datanglah ia ke dalam lembah Mamre, yang di Hebron, lalu didirikannya di sana sebuah mezbah bagi Tuhan.” (Kejadian 13 : 14 – 18). 

“Dan lagi firman Allah kepada Abraham, Hendaklah engkau memeliharakan perjanjian-Ku, baik engkau, maupun benihmu yang kemudian dari padamu dalam semua generasi mereka itu. Maka inilah perjanjian-Ku, yang harus engkau peliharakan, di antara Aku dengan kamu dan dengan segala benihmu yang kemudian daripada kamu; setiap anak laki-laki di antara kamu hendaklah disunatkan. ..... Maka diambil Abraham akan Ismail anaknya itu, dan semua anak laki-laki yang telah lahir di dalam rumahnya, dan semua yang telah dibelinya dengan uang, yaitu segala orang laki-laki di antara mereka itu sekalian yang ada di dalam rumah Abraham, lalu disunatkannya daging kulup mereka itu pada hari yang sama itu juga, sesuai dengan firman Allah kepadanya.” (Kejadian 17 : 9, 10, 23). 

“Maka firman Allah kepada Abraham, Janganlah sakit hatimu karena anak itu, dan karena hamba sahayamu itu; dalam segala perkara yang telah dikatakan Sarah kepadamu, dengarlah akan suaranya; karena dalam Ishaklah benihmu akan dipanggil. Maka bangunlah Abraham pada pagi-pagi sekali, lalu diambilnya roti, dan sebuah botol air, lalu diberikannya itu kepada Hagar, dipikulkannya ke atas bahunya, dan anak itu, lalu disuruhkannya pergi.” (Kejadian 21 : 12, 14). “Maka terjadilah kemudian setelah segala perkara ini, bahwa dicobailah Allah akan Abraham, lalu firman-Nya kepadanya, Hai Abraham : lalu jawabnya, Lihatlah, saya Tuhan. Lalu firman-Nya, Ambillah olehmu sekarang anakmu, puteramu yang tunggal Ishak, yang sangat kau kasihi, bawalah akan dia ke tanah Moria; dan persembahkanlah dia di sana akan korban bakaran di atas sebuah bukit yang akan Ku tunjuk kepadamu nanti. Maka bangunlah Abraham pada pagi-pagi sekali, disiapkannya keledainya, lalu dibawa sertanya dua orang hambanya dan akan Ishak anaknya, lalu dibelahnya kayu bagi korban bakaran itu, dan berangkatlah ia, berjalan ke tempat yang telah dikatakan Allah kepadanya. ..... Maka di sana diperbuatlah Abraham sebuah mezbah, diaturkannya kayu-kayu itu, lalu diikatnya Ishak

anaknya itu, diletakkannya dia di atas mezbah, di atas kayu-kayu itu. Maka diulurkan Abraham tangannya, diambilnya pisau hendak menyembelih anaknya itu. Dan berserulah malaikat Tuhan dari langit kepadanya, mengatakan, Abraham, Abraham : Lalu jawabnya, saya Tuhan! Maka kata malaikat itu, Janganlah kamu menaruh tanganmu atas anak itu, dan janganlah kau apa-apakan dia : karena sekarang telah ku ketahui bahwa engkau sungguh takut akan Allah, karena anakmu itu, yaitu anakmu yang tunggal itupun tiada kau tahankan daripada-Ku. ..... Maka berserulah malaikat Tuhan kepada Abraham dari langit pada kedua kalinya, Katanya, Demikianlah firman Tuhan, demi diri-Ku juga Aku bersumpah, karena telah kau perbuat perkara ini dan tiada kau tahani anakmu, yaitu anakmu yang tunggal itu daripada-Ku : Bahwa dalam kebajikan Aku akan memberkati engkau, dan Aku akan memperlipat-gandakan benihmu seperti bintang-bintang di langit, dan seperti pasir di pantai laut; maka benihmu itupun akan menguasai pintu gerbang segala musuhnya; Maka dalam benihmu segala bangsa di bumi kelak akan diberkati; sebab engkau telah mematuhi suara-Ku.” (Kejadian 22 : 1 – 3, 9 – 12, 15 – 18).

“Abraham percaya pada Allah, maka ini telah diperhitungkan kepadanya bagi pembenaran : maka ia telah disebut sahabat Allah.” (Yakobus 2 : 23). Hanya karena melakukan segala perkara yang Allah telah minta kepadanya, maka ia telah memperoleh catatan ini : “Karena Abraham telah mematuhi suara-Ku, dan telah memeliharakan suruhan-Ku, perintah-perintah-Ku, syariat-syariat-Ku, dan hukum-hukum-Ku.” “Dalam benihmu segala bangsa di bumi kelak akan diberkati.” (Kejadian 26 : 5, 4). Oleh memiliki iman pada Firman seperti anak kecil, dan oleh melaksanakan semua yang Allah firmankan, ialah satu-satunya penyucian dan pembenaran milik Kristus. Yang sedemikian inilah anak-anak Abraham itu, dan bagi merekalah berlaku perjanjian itu. Mereka secara terbuka menyatakan bahwa darah Kristus berkuasa untuk menyelamatkan mereka dari ikatan dosa, dan dari tuduhan hukum.  Mereka akan mewarisi tanah itu untuk selama-lamanya. Inilah Israel milik Allah itu. Tidak ada lagi yang lain, maka hanya inilah pembenaran dan penyucian oleh iman itu.

----oOo----

INDEX ALKITAB

INDEKS ALKITAB

INDEKS ALKITAB

Gambar-gambar pada halaman: 22, 64, 74, 84, 128, 150, 204, 224, 250, 270 dan 294 dapat diperoleh sebagai hadiah yang sangat baik. Ukurannya kira-kira 18 x 22 inci. Cocok untuk pengajaran. Pesanlah kepada penerbitan.

“Demikianlah telah terlihat bahwa apabila tiba masanya setelah sidang sampai kepada keadaan yang digambarkan oleh Tuhan (Yehezkiel 3 - 9), maka rahasia dari khayal itu akan diungkapkan, dan pekabarannya itu telah dibawakan kepada sidang. Dan karena sidang sudah mencapai masa dan keadaan itu maka terbuktilah melalui tiga rangkap kenyataan bahwa bagian pertama dari “wahyu yang sangat mengejutkan” itu (telah diperluas di sini), telah diterbitkan dalam bulan Desember, 1930, dalam 255 halaman yang berjudul Tongkat Gembala, Jilid I; dan bagian keduanya telah diterbitkan dalam bulan September, 1932, sebanyak 304 halaman yang berjudul Tongkat Gembala, Jilid II; dan bagian yang ketiga -- adalah serial buku-buku kecil Traktat (yang mana ini adalah yang pertama) yang semenjak tahun 1933 bertambah sampai sekarang sebanyak 898 halaman -- terbagi dalam Jilid III.” -- Traktat No. 1, hal. 37 (bahasa Inggris). 

JILID TIGA 

TRAKTAT-TRAKTAT berukuran buku-buku saku mulai dari nomor satu sampai nomor lima belas, dan beraneka ragam Traktat lainnya.

AMARAN SEKARANG, Jilid satu, nomor satu sampai nomor lima puluh dua.

AMARAN SEKARANG, Jilid dua, nomor satu sampai nomor empat puluh enam. 

(Cetakan ulang ini adalah suatu duplikasi dari naskah aslinya, yang telah dicetak pertama sekali dalam tahun 1932).

 

Previous
1TGE
Tongkat Gembala Jilid 1
Next
1KS1
(Los Angeles, Calif.) Untuk Kepentingan Sidang Masehi Advent Hari Ketujuh